Previous
APA KAU TERLIBAT?"
"Luhan-…Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau ucapkan."
"Bajingan itu melakukan bisnis dengan anak kecil seusia putra kita sebagai bahan percobaan mereka. Mereka pembunuh dan aku tidak akan membiarkan pembunuh menyentuh anak-anak seusia putra kita lagi. Aku akan melakukan segala cara untuk-.."
"LUHAN!"
Kali ini Sehun yang berteriak, begitu ketakutan mendengar obsesi Luhan pada Mafia sekelas Youngmin yang tak akan segan membunuh siapapun yang menghalanginya. Membuat Sehun begitu ketakutan karena bisa kapan saja kehilangan Luhan jika dirinya lengah dan membiarkan Youngmi menyentuh prianya.
"huh? Kenapa berteriak?" gumam Luhan merasa begitu marah pada Sehun saat ini.
"Kau tahu? Aku sangat marah saat dia bilang kau yang membiayai semua percobaan mereka. Aku berusaha tidak percaya. Tapi apa yang aku lihat sekarang? Kau seperti terlibat dengan mereka."
"YA AKU TERLIBAT! KAU PUAS? SEKARANG AYO KITA PULANG." Katanya kembali berteriak dan mencengkram erat tangan Luhan sebelum
PLAK…..!
Luhan menampar marah wajah Sehun-..membuat warna merah begitu terlihat di kulit pipi Sehun yang berwarna putih pucat.
Mata Luhan memanas, tangannya mengepal erat dengan nafas tersengal yang begitu terdengar. Sedikit tertawa sengit dan kembali menatap suaminya berkilat.
"KAU TERLIHAT SEPERTI MONSTER OH SEHUN!"
Dan setelah melontarkan kalimat final yang menandakan kemarahan puncak pada suaminya. Luhan menyenggol kasar bahu Sehun dan
Brmmm…!
Seketika menjalankan mobilnya meninggalkan pria tampan yang kali ini merasa hatinya begitu diremat kencang saat kata-kata cacian yang begitu menggambarkan siapa dirinya terlontar tanpa keraguan dari bibir mungil pria cantiknya.
"aku harus bagaimana."
Sehun mendongakan wajahnya dan mengambil nafas sebanyaknya karena hatinya begitu sesak saat ini. Merasa begitu bingung dan putus asa saat dihadapkan pada pilihan antara istrinya dan pria yang membesarkannya.
Brak…
Lututnya pun tak bisa lagi menopang berat tubuhnya, membuatnya terjatuh dan tertunduk masih tak tahu harus melakukan apa agar Luhan mendengarkannya. Dan merasa semua itu tidak mungkin membuat Sehun harus kembali menyerah pada keadaan.
"aku harus bagaimana-" Katanya bergumam lirih dengan rasa sesak yang menghimpitnya. Mengepalkan erat tangannya dan
"AKU HARUS BAGAIMANA!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Entangled
Main Cast : Sehun & Lu Han
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Drrt…drtt…
Merasa terganggu dengan suara getaran ponselnya, membuat seorang pria cantik yang kerap kali disapa dengan sebutan dokter Oh sedikit menggeliat tak nyaman. Sedikit merogoh sakunya untuk mengangkat ponselnya yang sudah bergetar hampir sepuluh menit lamanya.
Drrt..drrtt..
Dan getarannya pun semakin terasa saat sang dokter menggenggam ponselnya, sedikit melirik ke layar sebelum akhirnya menggeser cepat slide ponselnya saat nama Baekhyun –sahabatnya- tertera di layar depan ponselnya.
"Baek?"
"Hey Lu- ..Maaf menghubungimu tengah malam seperti ini."
"Bagaimana? Apa hasil lab pasienku sudah keluar?"
"Sudah."
"Lalu bagaimana hasilnya?"
"Chanyeol yang akan bicara denganmu."
"Okay." Katanya mengusap lembut surai Taerin yang kini terlihat pucat dan terpaksa dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Ya-..Ini sudah memasuki hari ketiga Taerin harus kembali berbaring di rumah sakit. Sosok mungil yang merupakan teman dekat mendiang putranya terpaksa harus kembali menjalani perawatan karena kondisi tubuhnya yang semakin lemah dan terus merasakan sakit.
"Lu…"
Luhan yang sedang melamun sedikit tersenyum saat mendengar suara pria yang sudah ia anggap seperti kakaknya. Sedikit melirik ke sofa dan hanya bisa menatap lirih sosok Yujin yang terlihat sangat kelelahan dengan semua yang terjadi pada putrinya sebelum kembali fokus pada suara Chanyeol saat ini.
"Hey yeol. Bagaimana hasilnya?"
"Kau ada dimana?"
"Saat ini masih di ruang perawatan Sejong Hospital. Aku memberikan akses penuh tanpa biaya untuk pasien yang sedang aku tangani disini."
"Apa keluarga pasien ada di sampingmu?"
"Hanya ada ibunya. Dan dia sedang tertidur saat ini. Ada apa?" katanya bertanya menyadari perubahan suara Chanyeol yang terdengar serius untuknya.
"Keluarlah dari ruangan itu. Aku ingin kau mendengarkannya dengan benar."
"Ya tentu. Aku akan ke ruang tunggu."
Dan tak lama setelah mendengar permintaan Chanyeol. Luhan pun segera berjalan perlahan keluar dari ruangan dan sudah tak sabar mendengarkan hasil darah di laboratorium milik Taerin.
"Baiklah sekarang katakan padaku apa hasilnya?"
"Luhan dengarkan aku-…Siapapun yang kau tangani saat ini. Harapannya untuk bertahan hidup hampir tidak mungkin."
Luhan yang sedang menutup pintu kamar Taerin sedikit terdiam mencerna ucapan Chanyeol, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya "Apa maksudmu yeol?"
"Leukimia-…Hasil dari tes darahnya menunjukkan bahwa pasienmu mengidap kanker darah dan kondisinya sangat serius Lu."
Kaki Luhan seketika melemas dan hampir tak bisa menahan berat tubuhnya sendiri jika tidak ada kursi di depan ruang tunggu. "Katakan sekali lagi."
"Luhan-…"
"KATAKAN!"
Luhan memekik tertahan merasa nafasnya seketika sesak dan penglihatannya mulai tak fokus karena semua tebakannya tentang kondisi Taerin adalah benar.
"Tanpa kemoterapi-…Tanpa pengobatan-…Hasil diagnosa darah yang aku terima adalah-….Pasien yang kau tangani mengidap Leukimia."
"Tidak-..tidak mungkin."
"Luhan dengarkan aku. Aku memiliki beberapa kecurigaan dari hasil darah yang aku terima."
"….."
"Luhan?"
"Katakan."
"Hasil awal dari tes darah yang aku terima adalah normal. Namun kemudian kembali datang fax dari tempat mu memberikan sample darah. Mereka mengatakan pada percobaan terakhir. Darah yang mereka uji memberikan hasil yang sangat berbeda dari tiga percobaan sebelumnya."
"Apa hasilnya?"
"Jumlah Leukosit dalam darah pasienmu sangat tinggi dan jauh dari jumlah normal. Infeksinya sudah menyebar dan aku tebak kondisinya pasti sudah sangat kritis."
"Ya kondisinya kritis. Tapi kenapa kau mengatakan hampir mustahil untuknya bertahan hidup? Aku bahkan belum mencobanya."
Luhan mengusap wajahnya frustasi. Rasa takut, marah dan putus asa kini bergantian menari di pikirannya membuat seluruh tubuhnya menjadi dingin dan bergetar hebat.
"Aku menduga pasienmu tidak pernah melakukan Kemoterapi dan meminum obat secara rutin. Kadar sel darah putihnya terlalu tinggi yang menyebabkan sistem kekebalan tubuhnya hampir tak berfungsi Lu."
"Tapi bukankah operasi sumsum tulang belakang akan menghentikan leukosit dalam memproduksi sel nya sendiri?"
"Aku juga berpikir demikian sebelum-…."
"Sebelum apa? Apa lagi yang terjadi?"
"Luhan maaf harus mengatakan hal ini. Tapi pasienmu juga memiliki gangguan pada sumsum tulang belakang sehingga infeksi menyebar dengan cepat hampir ke seluruh organ vital. Luhan Pasienmu-…"
"Kau tahu yeol? Sedari tadi pasien yang kita bicarakan adalah seorang anak berusia enam tahun. Dia cantik dan masih sangat kecil. Tapi sudah kehilangan banyak berat badan dan sering merasakan sakit kepala hebat-….Usianya sama dengan usia putraku jika dia masih hidup Yeol."
"Luhan.."
"Apa tidak mungkin aku melakukan operasi untuknya? Aku percaya keajaiban akan datang pada malaikat kecil sepertinya. Aku akan memberikannya obat mulai hari ini. Dia akan menjadi lebih baik setelah meminum obat kan?"
"….."
"Yeol? Aku mohon jawab aku."
"Maaf Luhan."
"Aku harus bagaimana. Aku-…"
"Luhan aku ingin memberitahumu satu hal lagi."
"Aku tidak siap mendengarnya yeol."
"Ini mengenai sample obat yang kau kirimkan."
Diam-diam tangan Luhan mengepal erat, merasa semua ini bermula dari percobaan yang dilakukan Youngmin, Soojung bahkan suaminya pada malaikat kecil tak berdosa yang harus menanggung semua keserakahan orang dewasa "Apa yang kau temukan?" katanya bertanya dengan pandangan kosong namun menyimpan kemarahan teramat saat ini.
"Sample obat yang kau berikan mengandung bahan berbahaya pemicu kanker. Biasanya mereka melakukan uji coba pada pasien yang sudah terkena kanker stadium empat, namun merasa itu tidak efektif banyak penemu yang menyalahgunakan obat tersebut dan diuji coba pada sel sehat yang berpotensi terkena kanker."
"Apa semua ini berkaitan?"
"Jika kau bilang pada awalnya pasienmu sehat dan hanya mengalami demam-…Aku rasa semua berkaitan. Enam bulan sudah cukup untuk memicu kanker dan tanpa pengobatan apapun infeksi semakin menyebar dan Kanker akan menjalar semakin ganas."
"Tapi aku rasa obat ini belum sempurna, ada beberapa bahan Kimia yang dicampur dan dimaksudkan agar efek tidak terlihat terlalu cepat. Dan aku rasa itu masih menjadi pekerjaan mereka karena vaksin yang mereka buat masih menunjukkan kecacatan terlihat dari efek kanker masih terlalu cepat terdeteksi-…Jika vaksin mereka beredar di pasaran. Aku rasa kasus seperti pasienmu akan banyak terjadi."
Luhan mendengar semua penuturan Chanyeol dengan seksama, membuat sesuatu dalam dirinya kembali menggeram marah sebelum seseorang datang menghampirinya.
"Apa benar kau dokter yang bekerja di Seoul Hospital?"
Luhan sedikit mendongak dan mendapati seorang pemuda yang terlihat berusia sama dengan Taeyong –asisten dokter- nya tampak bertanya padanya.
"Yeol aku akan menghubungimu lagi." Gumam Luhan memberitahu Chanyeol dan tak lama mematikan ponselnya untuk menjawab pertanyaan seorang pemuda yang ia tebak adalah dokter muda di Sejong Hospital
"dokter Oh Luhan-..Seoul Hospital." Gumam Luhan seraya berdiri dan menjabat tangan pemuda yang menatapnya tak berkedip saat ini.
"Apa aku boleh bicara denganmu?"
"Dan kau adalah?"
"dr. Kim Taehyung-…Sejong Hospital."
"Baiklah dokter Kim. Ada apa ingin bicara denganku?"
Pemuda tampan yang terlihat masih sangat muda namun berpengalaman itu hanya melirik sekilas ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya kembali menatap Luhan "Ini mengenai dokter Jung Soojung dan seluruh pasien yang ia tangani."
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku adalah dokter pertama yang menangani Kim Taerin. Saat itu Taerin diharuskan dirawat karena mengalami dehidrasi ringan dan demam tinggi. Dua hari aku menanganinya semua baik-baik saja dan Taerin sudah hampir diperbolehkan pulang. Sampai-
Sampai apa?
Sampai ada surat pemberitahuan untukku dan dokter muda lainnya. Kami tidak diperbolehkan lagi menangani pasien dibawah usia lima belas tahun. Aku terus bertanya kenapa kami dilarang menangani pasien dibawah usia lima belas tahun. Terus bertanya sampai aku mendapat surat peringatan.
Surat peringatan?
Ya surat peringatan karena telah melanggar kode etik seorang dokter dan tidak mematuhi perintah yang telah diberikan.
Siapa yang memberi peringatan?
Seseorang yang belum lama aku ketahui adalah penyumbang dana terbesar di Sejong Hospital, Oh Sehun.
Oh Sehun?
Ya
Pikiran Luhan kembali dibuat kacau dan tidak fokus. Malam ini dia mendengar bahwa kemungkinan Taerin untuk bertahan hidup adalah hampir mustahil. Lalu kemudian datang seorang dokter muda yang memberitahukan awal mula keadaan Taerin memang hanya dehidrasi ringan dan demam. Namun saat nama suaminya kembali dibawa dan disangkut pautkan dengan semua kejadian mengerikan yang terjadi di Sejong hospital, sedikit banyak membuat Luhan kembali harus menelan bulat rasa kecewa atas apa yang telah dilakukan suaminya.
Entah nama Sehun hanya digunakan sebagai alasan atau benar Sehun yang memberikan sumbangan untuk semua percoban gila yang dilakukan wanita bernama Jung Soojung.
"Kenapa kau terus membuatku ragu Sehunna."
Tangan itu mengepal erat di stir kemudinya. Dengan kaki yang menginjak kencang gas mobilnya. Luhan sedang menuju ke suatu tempat saat ini –tepatnya- menuju ke tempat dimana suaminya berada.
Apa kau pernah melihat pria bernama Oh Sehun datang kesini?
Ya beberapa kali. Dia selalu berbicara dengan pengurus yayasan di rumah sakit ini.
Untuk apa?
Entahlah. tapi itu terjadi hampir tiga bulan yang lalu. Karena setelahnya, Oh Sehun tidak pernah terlihat lagi. Hanya beberapa anak buahnya yang kerap datang bersamaan datangnya dokter Jung
Jung soojung?
Ya
Dokter Jung baru datang tiga bulan yang lalu? Bukankah semua kejadian mengerikan ini sudah terjadi hampir enam bulan lamanya?
Adalah Kim Yewon-…Dokter pertama yang menangani seluruh kasus ini sebelum dokter Jung.
Lalu dimana keberadaannya?
Entahlah. dia menghilang begitu saja. Tanpa kabar dan tak ada yang membahasnya.
Apa kau ingin bilang-…..
Aku tidak ingin mengatakan apapun tentang hilangnya dokter Kim. Aku kesini untuk memintamu melakukan satu hal dokter Oh
Katakan
Kau harus mendapatkan posisimu untuk menangani Taerin di ruang operasi. Jika tidak-…
Jika tidak kenapa?
Itu akan sangat menyakitkan untuknya.
Apa kau mengetahui sesuatu?
Aku mengertahui segalanya.
Luhan kemudian mengambil cepat ponsel yang berada di bangku samping kemudinya dan tanpa menurunkan kecepatan mobilnya dia mencari nama kontak seseorang dan menekan tombol call secepatnya. Memasang terburu handsfree nya sebelum
"Luhan?"
"Max…Apa Sehun masih di tempat kalian yang biasa?"
"Ya… bos ada disini. Ada apa kau menca-…"
Pip!
Saat ini yang ada di pikiran Luhan hanya Sehun. Merasa satu-satunya orang yang bisa membuat keadaan berbalik hanya suaminya. Entah bagaimana caranya, Luhan masih memiliki sedikit rasa percaya pada suaminya. Karena alasan itulah Luhan memutuskan untuk segera bertemu dengan Sehun dan
Brrmm….!
Dia menginjak lebih dalam gas mobilnya, melaju dengan kecepatan di atas rata-rata untuk segera bertemu dengan suaminya.
Apa yang kau ketahui?
Apapun itu-…hal itu sangat mengerikan.
Katakan!
Didalam sana-…Mereka tidak berusaha untuk mengobati sebaliknya, yang mereka lakukan hanya mencari sel yang belum terinfeksi untuk dijadikan penelitian dan bahan percobaan.
Apa maksudmu?
Semua anak-anak yang menderita kanker-…Mereka meninggal dengan keadaan benjolan yang masih utuh dan tak tersentuh. Para dokter mengerikan itu hanya membuat rasa sakit pasien semakin menjadi bahkan saat mereka sudah meregang nyawa.
Apa mereka gila?
Mereka lebih dari gila dokter Oh. dan aku rasa Taerin akan bernasib sama jika bukan kau yang menanganinya di ruang operasi. Kau harus melakukan sesuatu atau kau kehilangan lebih banyak anak tak berdosa lagi seperti Kim Taerin!
Ckit!
Luhan memberhentikan paksa mobilnya, merasa mual mengingat semua rentetan kejadian yang diceritakan Taehyung padanya. Luhan menatap tajam ke sebuah gedung tua yang ia tebak dijadikan Sehun untuk dirinya dan seluruh anak buahnya berkumpul.
Tangannya mencengkram erat kemudi mobil, nafasnya tersengal hebat dan matanya begitu memanas tak tahan harus kembali bertengkar dengan suaminya –entah untuk yang keberapa kalinya- mengenai siapa yang tidak seharusnya terlibat dengan bisnis mengerikan yang dijalani suaminya.
Luhan masih berusaha menenangkan dirinya, namun semakin ia mencoba hanya kemarahan yang bisa dia rasakan. Menghela dalam nafas adalah satu-satunya pilihan sebelum
Blam…!
"Selamat malam Luhan."
Luhan membanting kasar pintu mobilnya, memasuki terburu gedung tua tempat suaminya berada dan mengabaikan sapaan dari beberapa anak buah Sehun yang mengenalnya.
Dan disinilah dia, didepan pintu tempat dimana Sehun berada didalamnya. Sedikit banyak mendengar percakapan didalam sana dan berusaha mengembalikan keberaniannya untuk berbicara dengan pria yang begitu ia rindukan.
BRAK..!
Semua mata menuju ke tempat dimana pintu terbuka. Beberapa diantaranya ada yang mengutuk karena merasa pintu dibuka dengan kasar. Dan kata umpatan terpaksa harus ditahan oleh anak buah Sehun saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu saat ini.
"Luhan?"
Seperti sihir-…saat nama istrinya disebut. Membuat sang pemilik pria cantik seketika menoleh ke arah pintu. Sedikit berdebar sebelum akhirnya tersenyum dan berniat menghampiri pria cantiknya.
"Aku ingin bicara denganmu."
Sehun pun mengangguk dengan cepat sebelum kakinya semakin mendekati dimana pria cantinya berada "Ya tentu saja. Kita akan bicara."
"Berdua."
"Baiklah berdua." Katanya mengulang membuat Luhan semakin jengah di tempatnya.
"Aku bilang berdua!"
Menyadari suara Luhan menjadi tinggi pun membuat Sehun menghentikan langkahnya. Menatap marah pada seluruh anak buahnya karena masih berada di tempatnya dan tak bergeming pergi
"Kenapa kalian masih berada disini? CEPAT PERGI!"
Teriakan Sehun pun tak kalah menakutkan dari teriakan Luhan, membuat seluruh anak buahnya mengangguk dan tak lama meningalkan ruangan satu persatu.
"Kau lihat? Kita sudah berdua." Gumam Sehun tersenyum bangga dan berniat mendekati istrinya sebelum
"Tetap disana dan jangan dekati aku!"
"Luhan-…Bukankah kita akan bica-…"
"AKU BILANG TETAP DISANA DAN JANGAN DEKATI AKU!
Sehun mau tak mau kembali terhenti di langkahnya. Dan menyadari kemarahan yang teramat dari kedua mata rusa pria cantiknya membuat Sehun sedikit tertampar dan merasakan rematan dihatinya begitu kuat karena masih dengan jelas membuat istrinya begitu terluka dan tersiksa.
"Aku memiliki satu permintaan untukmu."
Dan lagi-..Suara Luhan seolah mengalihkan segalanya. Membuatnya kembali terdiam sebelum akhirnya berusaha tersenyum dengan jarak sebagai pemisah keduanya.
"Apapun. Katakan padaku sayang-..Aku akan-..."
"Minggu depan Taerin akan menjalani operasi. Aku ingin Soojung dan seluruh rekannya pergi dan menyerahkan operasi Taerin sepenuhnya padaku."
Jika dalam kondisi seperti ini, Sehun akan selalu kalah langkah dari istrinya. Karena belum selesai dia mencerna satu ucapan akan terdengar kembali ucapan lain yang membuatnya begitu sulit untuk mengambil keputusan. Dan diam adalah hal yang selalu ia lakukan jika tak bisa memberikan jawaban untuk istrinya.
"Sehun aku sedang berbicara padamu. Jawab aku!"
Sehun hanya terus berdiam diri sampai terdengar langkah berat suara kaki Luhan mendekatinya "Sehunna. Aku mohon." Pintanya memohon dengan kedua tangan yang menyatu berharap Sehun akan memberikan sedikit rasa iba untuknya.
"Aku mohon sayang. Aku tahu kau bisa menolongku hmmm."
Luhan mencoba untuk mengusap sayang wajah suaminya. Begitu berharap mendapat jawaban yang diinginkan namun sedikit menggeram saat Sehun mengatakan
"Maaf."
"eh?'
"Kenapa kau meminta maaf Sehunna?"
"Aku tidak bisa membantumu. Aku tidak bisa mencampuri urusan Youngmin dan anak buahnya. Maaf Lu."
Luhan memejamkan matanya menikmati setiap balasan ucapan dari Sehun yang begitu membuat batinnya menggeram marah. Mengepalkan erat tangan yang hendak mengusap wajah tampan itu sebelum akhirnya kembali menjauh dan menatap marah pada suaminya.
"Tega sekali kau! Mereka melakukan hal mengerikan pada anak-anak seusia putra kita sayang-..Mereka menyakiti seluruh anak-anak hanya untuk uang. Apa kau tega melihat mereka disakiti seperti itu?"
"Aku tidak peduli. Mereka bukan putra kita. Mereka bukan Ziyu jadi aku tidak perlu-.."
"OH SEHUN!"
Dan kemarahan Luhan sudah pada batasnya. Dia tidak bisa lagi berhadapan dengan pria arogan yang tidak memiliki hati sepertinya suami. Merasa begitu marah dan tidak menyangka kalau Sehunnya benar-benar tidak memiliki hati seperti ini.
"Tidak bisakah aku memohon padamu. Tidak bisakah aku mendapatkan kembali suamiku yang memiliki sedikit hati nurani? JAWAB AKU OH SEHUN!"
"Lalu apa?"
Kini Sehun yang menginterupsi semua emosi Luhan. nada suaranya terdengar begitu dingin dan penuh ketakutan, menatap pria cantik yang sedari tadi menyalahkannya dengan tatapan begitu terluka dan merasa putus asa "Kau akan terluka jika aku membiarkanmu terlibat dengan pekerjaan yang dilakukan Youngmin-...PIKIRMU AKU AKAN MEMBIARKAN MEREKA MENYAKITIMU HAH!"
Keduanya kini saling menatap tajam dimana tatapan yang satu terlihat begitu marah sementara yang satu terlihat begitu putus asa. Mencoba menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan namun kata-kata seolah menjadi terbatas saat emosi menguasai kedua pasang suami istri yang sama-sama terlihat terluka saat ini.
"Aku terikat janji dengan pria tua itu Lu. Selama kita tidak mengusik pekerjaan yang dilakukan Youngmin. Dia juga tidak akan mengusik kita. Jadi bisakah kita berpura-pura semua ini tidak pernah terjadi? Kembalilah ke Seoul bersamaku sayang. Aku mohon." Katanya semakin memohon namun diabaikan Luhan yang menatapnya semakin dalam.
"Dengan atau tanpamu aku akan tetap bertemu dengan Young-..."
"LUHAN!"
Sehun benar-benar tidak tahu lagi harus berbicara menggunakan bahasa aopa agar Luhan mengerti maksudnya, mengerti ketakutannya. Dia pernah berhadapan dengan sifat Luhan yang begitu keras kepala sebelumnya. Tapi itu sudah lama berlalu-..Jauh sebelum mereka menikah. Dan menghadapi Luhan yang begitu keras kepala saat ini membuat kepala Sehun seperti akan pecah karena terlalu frustasi.
Luhan sendiri hanya bisa diam saat ini. Tak mengerti lagi kenapa dirinya seolah ditarik kedalam lingkaran setan yang tak pernah berujung. Menderita, sedih dan tak pernah bahagia seakan menjadi pola kehidupannya bahkan saat dia sudah membangun rumah tangga bersama Sehun.
Nafas itu terdengar begitu tersengal, matanya menyiratkan kemarahan yang dalam dengan bibir yang bergetar seolah mencari kesempatan untuk bernafas sebanyak-banyaknya. Dan setelah merasa tak bisa berkompromi dengan keadaan lagi, bibir itu malah menyiratkan seringaian yang menunjukkan kekecewaan terdalam yang sedang dirasakan oleh istri yang begitu terluka.
"Kadang aku bersyukur Tuhan mengambil Ziyu dari kita. Kau tahu kenapa huh?" Katanya menatap Sehun sedikit menggeram dengan tangan yang mengepal erat dan air mata kekecewaan yang jelas terlihat.
"Karena aku rasa Ziyu akan malu memiliki ayah sepertimu!"
Kalimat hinaan itu kembali Luhan lontarkan untuk menyerang Sehun. seolah tak memiliki cukup pertahanan diri untuk menunjukkan sisi kuatnya dan memutuskan untuk menyerang suaminya dengan kata-kata yang begitu kejam.
Dan berlari adalah pilihan satu-satunya yang Luhan miliki saat ini. meninggalkan keadaan kacau bersama suaminya dan tak berniat untuk memperbaikinya untuk sementara. Marah dan Murka menjadi satu-...dan neraka sedang dirasakan Oh Sehun saat ini.
Sementara pria yang baru saja kembali diserang karena status dan pekerjaan yang ia jalani hanya bisa tersenyum getir, merasa begitu hancur sampai kedua kakinya pun tak bisa lagi menopang berat tubuhnya sendiri.
Sehun bersandar di meja terdekat dan ucapan Luhan yang begitu menghancurkannya terus berputar seperti kaset rusak yang tak berujung. Mengulang bagian klimaksnya yang membuat hatinya berdenyut sakit dengan rematan yang begitu kencang setiap kali dia mencoba menghembuskan nafas "Ayah sepertiku?-...Apa aku begitu menakutkan untukmu dan putra kita Lu?"
Sehun menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya, merasa begitu marah pada Luhan dan merasa begitu bersalah karena membuat istrinya begitu kehilangan arah saat ini.
Sehun masih memandang sosok Luhan yang kini memasuki mobilnya dari jendela sedikit mengusap sayang sosoknya dari kaca jendela dengan air mata yang menyiratkan kerinduan namun terhalang ego yang keduanya rasakan.
"Maafkan aku sayang."
Sehun pembunuh dan Luhan penyembuh. Terkadang Sehun bertanya pada dirinya apa maksud Tuhan mempertemukan dirinya dengan Luhan. jika pada akhirnya mereka akan saling menyakiti seperti ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Entangled
.
.
.
.
.
.
.
"Kim Taerin….Lihat dokter membawa siapa?"
"Siapa dokter Oh?"
"umhh...Janji ini adalah rahasia." gumam Luhan menoleh ke kanan dan ke kiri lalu tak lama menunjukkan tangannya yang sedari tadi tersembunyi di balik jas putihnya.
"Ya Taerin janji "
"aigooo...Kim Taerin pintar sekali. Dan hadiah untuk anak pintar adalah…."
"taraaa…!."
Luhan mengeluarkan teman kecil Taerin dari jas putihnya membuat si gadis kecil yang sedang menikmati udara segar di halaman rumah sakit seketika berbinar dan memekik senang
"BUBU!" katanya menjerit histeris dan memeluk anjing peliharaannya terlampau erat.
"Bubu merindukan majikannya." katanya berjongkok dan mengusap lembut pipi Taerin yang terpaksa duduk di kursi roda karena kondisinya yang tak memungkinkan untuk kelelahan walau hanya sebentar
"Aku juga merindukan Bubu." katanya mengusap sayang anjing kecilnya "Maaf tidak bisa bermain seperti dulu lagi Bubu-ya" Taerin menambahkan kalimat terakhir dengan nada yang begitu sedih. Membuat Luhan tersenyum lirih sebelum akhirnya berjalan memutari kursi roda teman mendiang putranya.
"Kalau begitu dokter akan membawamu ke suatu tempat agar kau dan Bubu bisa saling melepas rindu."
"Benarkah?" katanya mendongak dan melihat Luhan dengan berbinar.
"Tentu saja cantik. Kita akan pergi ke balik pohon besar itu. Kau bisa bermain sepuasnya dengan Bubu disana."
Dan raut berbinar bocah beeusia enam tahun itu seketika menghilang saat Luhan menunjuk pohon besar yang akan menjadi tempatnya bermain bersama anjing kecilnya.
"Wae? Taerin tidak suka?"
Gadis berusia enam tahun itu hanya menggeleng sebagai jawaban. Sedikit mendongak menatap Luhan sebelum kembali memeluk teman kecilnya "Aku hanya ingin bermain di lapangan." katanya terdengar begitu lirih membuat Luhan hanya bisa diam tak menjawab.
Ya...Ini sudah memasuki hari ketiga Taerin harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Keadaan si gadis kecil semakin buruk seiring bergantinya hari. Wajah aerin sudah terlihat sangat memucat, tubuhnya sudah banyak kehilangan berta badan dan hampir tidak bisa mengangkat benda ringan atau hanya sekedar mengangkat tangannya sendiri. Dan jika sudah kelelahan. Taerin akan merasa sesak dengan darah di hidungnya yang terus keluar serta sulit dihentikan. Tubuhnya akan mengejang hebat karena sakit di kepala yang begitu menyiksanya. Membuat si gadis kecil sama sekali tak bisa lepas dari infus yang dan alat bantu pernafasan yang kini terpasang di tubuhnya.
Luhan pun hanya terus mendorong kursi roda Taerin. Sampai akhirnya mereka tiba dibalik pohon besar dan memutuskan untuk kembali tersenyum karena itu adalah satu-satunya hal yang bisa Luhan lakukan saat dirinya menghentikan dorongan kursi roda milik Taerin untuk menghibur gadis kecil yang terlihat begitu pucat saat ini "Bagaimana kalau kita keluar bermain setelah keadaan Taerin lebih baik?" katanya kembali berjongkok dan sedikit memeriksa cairan infus yang bertengger manis di sisi sebelah kanan tangan Taerin.
"Taerin mau kan?" katanya kembali bertanya dan mengusap lembut wajah cantik gadis kecil di depannya.
Taerin sendiri hanya diam dan menatap Luhan cukup lama. Sampai akhirnya tangan mungil Taerin mengusap sayang anjing peliharaannya dan memberikan Bubu kepada Luhan.
"Kenapa diberikan padaku nak?"
"Daripada diriku. Aku lebih suka jika dokter mengajak Bubu jalan keluar dan bersenang-senang."
"Kenapa begitu? Kita bisa berlibur bersama saat Taerin sembuh nanti."
Si gadis mungil itu hanya menggelengkan lemah kepalanya sambil tersenyum lirih menatap Luhan "Taerin tidak bisa lagi menemani Bubu. Rasanya sangat sakit."
Taerin kecil menunjukkan dimana rasa sakit yang sangat mengganggunya dan terus ia rasakan. Gadis kecil itu bahkan mengusap kasar kepalanya seolah memberitahu Luhan tempat dimana dirinya selalu merasakan sakit. Membuat sang dokter dalam seketika terdiam dengan mata yang memanas berharap tak ada air mata yang bisa kapan saja jatuh membasahi wajahnya.
"Bubu dan Vivi pasti akan menjadi teman dekat." katanya menambahkan membuat raut wajah Luhan semakin mengeras tak tahan mendengar celotehan Taerin yang terdengar seperti perpisahan untuknya.
"Karena eomma alergi pada hewan berbulu-...Jadi aku menyerahkan Bubu pada dokter Oh. Dokter mau kau menjaga Bubu untuk Taerin?"
Luhan berani bersumpah kalau saat ini dirinya sama sekali tak bisa bertatapan dengan Taerin. Merasa begitu bersalah pada malaikat kecil didepannya karena sedikit banyak keadaan Taerin saat ini disebabkan oleh bisnis yang suaminya lakukan.
"Dokter Oh..."
"Ah-...ya. Tentu aku akan menjaga-..."
"Eomma!"
Perhatian Taerin teralihkan saat tiba-tiba melihat ibunya membawa boneka favoritnya. Membuat Luhan tak membuang kesempatan untuk membalikan tubuhnya, membiarkan Taerin bicara berdua dengan ibunya semantara dia menenangkan diri selama mungkin agar bisa kembali berbicara dengan Taerin.
"Luhan.."
Mendengar Yujin memanggilnya pun membuat Luhan segera menoleh. Sedikit tersenyum sebelum akhirnya menatap ibu dan anak yang bahkan sama terlihat pucatnya. "Ada apa?"
"Taerin ingin melepas seluruh alat bantunya. Bolehkah?"
Luhan sedikit menaikkan kedua alisnya dan memandang Taerin yang kini balik menatapnya, menebak-nebak apa yang diinginkan si gadis kecil sebelum kembali melihat dan menatap ibunya "Apa kau yakin? Taerin bisa kembali mengalami shock dan kejang jika terlalu lelah."
Yujin pun hanya memandang wajah Luhan dengan tatapan kosong. Sedikit tersenyum lirih sebelum kembali menghapus air matanya "Dengan atau tanpa alat bantu putriku tetap kesakitan. Jadi biarkanlah dia bermain bersama Bubu tanpa menggunakan alat bantunya Luhan."
Luhan merasa sesuatu kembali menghujam jantungnya. Mendengar pernyataan merelakan Yujin dengan kondisi putrinya sedikit banyak mengganggu Luhan. membuatnya kembali menebak jika dirinya yang berada di posisi Yujin-...dia tidak akan pernah bisa setegar dan sekuat Yujin saat ini.
"Baiklah." Katanya memberikan persetujuan dan tak lama kembali berjalan mendekati Taerin lalu berjongkok didepan gadis kecilnya yang cantik "Kau ingin jarum dan slang infus ini dilepas?"
Taerin mengangguk cepat sebagai jawaban. Membuat Luhan hanya tersenyum lirih sebelum tangannya bergerak untuk menghentikan tetesan cairan elektrolit yang diberikan untuk Taerin.
"Ini akan sedikit sakit. Tahan seben-.."
"arghh.."
Bersamaan dengan suara ringisan Taerin, Luhan berhasil melepas alat infus dan alat bantu pernafasan yang dipasang di tubuh Taerin. "Selesai. Taerin boleh bermain dengan Bubu. Tapi ingat-..Jangan terlalu lelah. Ibu dan dokter memperhatikan darisini."
Taerin pun mengangguk cepat sebelum kaki mungilnya kembali menapak menginjak tanah. Merasa begitu terhuyung sebelum akhirnya memeluk Bubu yang kini sudah menjilati kakinya "Ayo kita main."
Dan setelahnya Luhan dan Yujin membiarkan Taerin bermain dengan Bubu. Taerin hanya duduk bersandar di pohon dengan Bubu yang berlarian menghiburnya dengan kedua pasang mata orang dewasa yang terus memperhatikan Taerin tak berkedip.
"Apa sudah tidak ada kemungkinan putriku bisa sembuh?"
Luhan yang sedang memperhatikan Taerin terpaksa harus menatap Yujin yang terlihat tak memiliki harapan. Kembali merasa bersalah sebelum akhirnya sedikit tersenyum menatap wanita single parent didepannya "Kau akan tetap bersama Taerin. Aku akan mengusahakan segala cara untuk membuat Taerin bertahan."
Yujin sama sekali tak bermaksud meremehkan ucapan Luhan. Namun melihat kondisi putrinya yang begitu kesakitan membuatnya tak berani berharap terlebih saat dia menyadari kondisi Taerin tak berbeda jauh dengan semua anak yang tak bisa diselamatkan hampir enam bulan lamanya. "Jangan mengatakan hal yang tidak mungkin terjadi."
"Yujin. Aku janji akan berusaha sebisa-..."
Guk...guk..!
Kedua orang dewasa itu seketika menoleh saat mendengar suara anjing Taerin menggonggong dengan kencang. Sedikit memicingkan mata mereka sebelum salah satu membelalak menyadari apa yang tengah terjadi "Taerin?" Luhan dan Yujin seketika berlari ke tempat Taerin berada saat ini. Diam-diam berdoa agar tidak terjadi sesuatu namun
"KIM TAERIN!"
Yujin seketika berteriak melihat kondisi tubuh putrinya yang begitu memilukan. Hidungnya terus mengeluarkan darah namun si pemilik darah terkulai lemas dengan mata terpejam "Taerin-hey nak-...Kim Taerin." Luhan seketika memangku Taerin dan mengusap darah dari hidung Taerin yang terus keluar.
Luhan secara refleks pun memeriksa denyut nadi Taerin. Sedikit menaikkan kedua alisnya menyadari denyut nadi Taerin yang begitu lemah nyaris tak terdeteksi. "Sial! Tubuhnya sangat dingin. Kita harus membawanya ke ruang operasi."
Dan tanpa berpikir lama, Luhan segera mengangkat tubuh kecil Taerin. Mengabaikan tatapan pasien lain yang tampak bertanya karena melihat darah di seluruh jas putih Luhan dengan Taerin yang tampak tak bergeming di pelukan Luhan.
Luhan meletakkan tubuh lemas Taerin ke troley tempat tidur pasien dan segera mendorong tempat tidur tersebut dengan terburu-buru. Meminta Yujin untuk menunggu di luar dan terus mendorong Taerin mendekat ke ruang operasi. "Dokter ada apa?"
"Bawa pasien ke ruang operasi. Kita harus segera melakukan operasi untuk pasien ini."
"Tapi pasien ini ditangani oleh dokter Jung."
"PASIEN KECIL INI SEKARAT! JADI PERSETAN DENGAN DOKTER JUNG! CEPAT BAWA DIA!"
Si perawat yang menyadari kondisi vital Taerin menurun dan hampir tidak menunjukkan kehidupan pun terpaksa mengangguk dan kembali menatap Luhan. Mengabaikan rasa takutnya dan lebih memilih untuk segera menolong pasien yang jelas sedang sekarat di hadapannya "Baik dokter!" katanya menjawab dan segera membawa masuk Taerin untuk ke ruang operasi meninggalkan Luhan yang sedang membaca prosedur yang harus dilakukan di ruang operasi Sejong Hospital.
Dan setelah sepuluh menit berkutat dengan segala prosedur dan persiapan operasi untuk Taerin, Luhan memakai perlengkapan operasinya. Dia tahu dia melanggar seluruh peraturan yang tertulis sebagai dokter bedah di Sejong Hospital. Pertama dia bukan dokter yang bertugas, kedua statusnya sebagai dokter memang sudah dipulihkan namun karena dirinya masih berada dalam masa cuti akan membawanya kedalam masalah yang lebih serius dan ketiga-...Luhan kehilangan fokusnya. Dia takut dan tidak siap. Dia tidak bersama dengan asisten dokter dan perawat senior yang biasa menemaninya. Dia sendirian disini dan apapun bisa terjadi di dalam sana.
Tapi mengingat semua kemungkinan terkecil berada di tangannya membuatnya terus mempersiapkan diri dan mencoba untuk fokus, sedikit menghela dalam nafasnya dan berdoa agar tidak ada gangguan selama operasi berlangsung
"Dokter Oh?!"
Luhan yang sedang memakai masker dan handscoon sedikit menoleh dan mendapati pria yang dia ketahui bernama Kim Taehyung tengah berlari mendekatinya "Dokter Kim?"
"Aku dengar Kim Taerin akan menjalani operasi? Benarkah?"
"Ya-...Organ vitalnya hampir tidak menunjukkan fungsinya. Aku harus melakukan sesuatu untuk memastikan keadaanya."
"Kalau begitu biarkan saya menjadi asisten anda dokter Oh."
Dibalik Maskernya, Luhan sedikit tersenyum lega menyadari ada bantuan untuknya. Namun tatapannya kembali berubah sendu tak ingin melibatkan dokter muda ini kedalam masalah yang lebih jauh "Terlalu beresiko jika kau berada di dalam sana."
"Saya mohon dokter Oh. Ijinkan saya membantu."
Merasa kesempatan tidak datang dua kali membuat Luhan menatap lama dokter muda didepannya sebelum akhirnya mengangguk menyetujui permintaan sang dokter "Baiklah."
Kim Taehyung yang mendapat persetujuan dari dokter yang sudah terkenal di kalangan rumah sakit tempatnya bekerja pun tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, dokter muda yang sedang mengambil jurusan spesialis bedah itu pun mengangguk bersemangat dan tak lama segera bersiap untuk masuk ke dalam ruang operasi "Terimakasih dokter Oh." Katanya membungkuk dan tak lama ikut bersiap untuk segera membantu Taerin menjalani operasinya.
"Bagaimana? Apa sudah siap?"
Luhan bertanya pada salah satu perawat yang sejak kedatangannya ke Sejong Hospital tampak selalu mendukung apapun yang dia lakukan "Semua siap. Hanya saja-..."
"Hanya saja?"
"Untuk operasi yang membutuhkan banyak tenaga seperti ini kita kekurangan jumlah dokter Oh."
Luhan kembali tersenyum di balik maskernya, sedikit menepuk pundak wanita yang ia tebak berusia sekitar 30-35 tahun yang terlihat begitu memukau walau senyumnya juga tersembunyi di balik masker hijaunya. "Jika kau dan dokter Kim yang membantu. Aku memiliki lebih dari segalanya. Kita harus segera masuk." Katanya memberitahu dan tak lama berjalan memasuki ruang operasi sebelum
"BERHENTI DOKTER OH! KAU PIKIR KAU BERADA DIMANA HAH?!"
Langkah Luhan kembali terhenti saat mendengar suara seorang wanita yang terdengar sangat marah mendekatinya. Membuatnya menoleh dan sama menatap marahnya pada wanita jahat tak berperasaan yang tega melakukan semua percobaan gila ini pada anak kecil seusia Taerin dan mendiang putranya.
"Harusnya itu kalimatku Jung Soojung!" katanya menggeram dan sebisa mungkin untuk tidak terprovokasi dengan seluruh ucapan dan tindakan yang digunakan Soojung untuk mengecohnya.
"Pasien itu milikku. Jadi sebelum kesabaranku habis. Lebih baik kau segera angkat kaki dari rumah sakit ini!"
"Dan jika aku tidak melakukannya?" gumam Luhan menantang membuat Soojung semakin geram karena sikap yang ditunjukkan Luhan.
"Kau akan mendapat masalah besar Luhan. Terlampau besar dan akan membuatmu sangat ketakutan."
"Sementara kau mencoba membuat masalah denganku-...Aku rasa aku akan masuk kedalam ruang operasi. Aku benar-benar tidak memiliki waktu untuk melayani iblis sepertimu!"
Soojung semakin mengepal erat dan tak tahan melihat seluruh ketakutan hampir tak terlihat di wajah Luhan. membuatnya menoleh ke seluruh anak buahnya yang berada di belakangnya dan
"JANGAN BIARKAN DIA MASUK KE RUANG OPERASI!"
Seluruh anak buah Soojung mengangguk membuat Luhan mempercepat langkahnya dan berniat segera masuk ke dalam. Namun dia sadar jika langkah kakinya kalah cepat karena saat ini suara langkah anak buah Soojun semakin mendekat dan sangat mengganggunya.
Luhan menebak setelah ini dirinya benar-benar akan berada dalam masalah. Bukan hanya dia tidak bisa menolong Taerin, tapi mungkin dia akan membuat seluruh dokter dan perawat yang berada didalam sana mendapat kesulitan karena ulahnya.
"Siapapun-...Siapapun aku mohon tolong aku."
Dan bersamaan dengan doa yang Luhan ucapkan terdengar suara yang begitu familiar terdengar . Membuat Luhan kembali menghentikan langkahnya dan bisa sedikit bernafas lega karenanya.
"Dokter Jung Soojung?-..." katanya berdiri tak jauh dari tempat Luhan berada. Sedikit mengepal erat dengan beberapa kertas yang berada di tangannya serta penjaga dan polisi yang ikut datang menemaninya
"Atau aku harus memanggilmu Krystal?"
Merasa nama samaran yang biasa ia gunakan saat bekerja untuk Youngmin terungkap membuat wanita muda yang memiliki kulit pucat terlihat semakin memucat. Menatap marah pada pria dan beberapa polisi yang berada di belakangnya. "Siapa kau?!"
"ah-...Aku Baekhyun-...Byun Baekhyun."
Dan apapun yang Baekhyun lakukan disini, tak bisa menyembunyikan raut wajah yang begitu lega yang kini ditujukan Luhan, membuatnya sedikit menoleh untuk memastikan kalau yang sedang berbicara adalah benar sahabatnya "Baek?"
Merasa namanya dipanggil pun membuat si pemilik nama menoleh, sedikit tersenyum menatap sahabatnya yang terlihat begitu berantakan sebelum kembali bersuara untuk memberikan perintah "Dokter Oh. Mulai hari ini kau memilili akses dan wewenang penuh mengenai pasien yang berusia dibawah lima belas tahun. Kau berhak mendapatkan catatan kesehatan mereka yang sebenarnya dan pengobatan apa yang mereka terima selama menjalani terapi di Sejong Hospital. Itu perintah langsung dari direktur Byun."
"Dan untuk saat ini. kau bisa melakukan operasi dengan penjagaan penuh. Jadi silahkan melakukan apa yang harus kau lakukan dokter Oh, semoga beruntung."
Luhan pun mengangguk antusias sebelum menatap sahabatnya yang selalu menjadi malaikat untuknya disaat terdesak seperti ini "Terimakasih dokter Byun. Saya permisi."
"DOKTER OH BERHENTI! CEPAT HENTIKAN DIA!"
Penjaga Soojung seketika dihadang oleh penjaga Baekhyun yang memiliki jumlah lebih banyak membuat sang putra pemilik rumah sakit semakin menggeram melihat tingkah wanita didepannya "Hari ini aku datang bukan sebagai seorang dokter. Tapi sebagai putra dari pemilik rumah sakit yang kewenangannya kau salah gunakan." Katanya berjalan mendekati Krystal yang masih menatap marah pada dirinya saat ini
"Aku mencari semua tentang dirimu nona Jung. Dan ada satu yang membuatku sangat penasaran. Namamu tidak pernah terdaftar di databese kepegawaian baik di Sejong maupun di Seoul Hospital-...Namun sebaliknya Jung Soojung yang biasa disapa Krystal adalah buronan nomor satu yang dicari di Jepang karena kejahatannya di bidang kesehatan. Dan jika aku tidak terlambat. Kau akan segera dipenjara setelah ini-...CEPAT TANGKAP WANITA INI"
"K-KAU!-...Kalian tidak bisa membawaku begitu saja!-...LEPAS! LEPASKAN AKU!" katanya meraung dan meronta saat beberapa polisi yang telah menerima laporan dari Baekhyun kini mencengkram erat tangannya, membuat si wanita muda menggeram marah karena seluruh penjaganya hanya diam dan tak melakukan apapun.
"IDIOT! KENAPA KALIAN DIAM SAJA?! CEPAT TOLONG AKU-...LEPAS!-...AKU BERSUMPAH AKAN MEMBALAS KALIAN BERDUA! CAMKAN ITU!"
Baekhyun sendiri hanya tersenyum getir mendengar anaman Soojung. Diam-diam memberi perintah pada penjaganya untuk membawa penjaga Krystal keluar dari ruang operasi.
Dan setelah penjaganya membuat penjaga Soojung pergi-...Baekhyun menatap nanar pintu ruang operasi yang lampunya sedang berwarna merah. Diam-diam berdoa karena sangat mengkhawatirkan keadaan Luhan yang sangat berantakan.
"Apapun yang terjadi di dalam sana. Kau harus bertahan Luhan."
Hanya itu yang bisa Baekhyun ucapkan untuk sahabatnya. Dia tahu didalam sana Luhan sedang berjuang keras menyelamatkan pasiennya. Tapi dia juga tahu kalau semua yang Luhan lakukan akan berakhir sia-sia karena apapun yang akan dilakukan Luhan tidak akan bisa menyelamatkan gadis kecil yang belum lama ini selalu ia bicarakan.
Lalu berapa besar kemungkinan pasien untuk bertahan hidup yeol?
Hampir mustahil mengingat infeksinya sudah menyebar ke saluran pernafasan dan menyerang saraf otaknya.
Lalu apa yang akan kau katakan pada Luhan?
Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Walau pada akhirnya Luhan akan tetap bersikeras melakukan operasi pada pasiennya.
Luhan pasti akan merasa sangat bersalah.
Dan saat dia sedang merasa berduka. Kau ada sebagai sahabatnya.
"Aku bisa apa jika kau kembali terluka Lu?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Blam….!
Terdengar suara mobil yang dibuka dengan tergesa. Menampilkan seorang pria tampan yang mengenakan kemeja dan jas serba hitam diikuti oleh keempat anak buahnya yang berpenampilan tak jauh berbeda dengan seorang Oh Sehun –pimpinan mereka.-
"Selamat malam direktur."
Mengabaikan beberapa penjaga yang kini tengah membungkuk menyapanya. Pria yang biasa dikenal dengan sifat keji dan tak berperasaannya hanya terus berjalan sampai akhirnya dia mendekati lift dan kembali berhadapan dengan beberapa anak buahnya yang lain "Dimana Presdir Park?"
"Di ruangannya direktur."
Dan setelahnya Sehun dan keempat anak buahnya memasuki lift, menekan lantai enam sebagai tempat yang dituju dengan wajah yang tak bisa dibilang akan berdamai dengan pria yang membesarkannya hari ini.
Cklek…!
"Selamat siang direktur."
Sehun kembali mengabaikan sapaan yang ditujukan untuknya. Berjalan lurus menuju meja tempat dimana pria tua yang sepenuhnya telah membuat karakteenya menjadi mengerikan tanpa belas kasih sedikit pun saat sedang menghabisi nyawa seseorang.
"Aku ingin bicara denganmu."
Park Youngmin –presiden direktur yang merupakan pria yang membesarkan Sehun- terpaksa menoleh dan tak bisa menyembunyikan rasa senangnya melihat Sehun yang sudah hampir lima tahun lamanya tak pernah ia temui lagi.
"Oh Sehun-….Putra kecilku." Katanya berdiri dan memeluk Sehun sekilas menatap dalam-dalam Sehun dan mengagumi kemampuannya dalam membentuk karakter mengerikan yang hampir sempurna dari seorang Oh Sehun, jika pria bernama Luhan tak pernah datang memasuki kehidupan Sehun.
"Tentu saja nak. Ayo kita bicara." Katanya membawa Sehun menuju ke sofa terdekat dan tak lama keduanya duduk berhadapan dengan mata yang saling menyiratkan pesan berbeda.
"Jangan berbicara seolah kau ayah yang baik."
Youngmin sendiri hanya tertawa sekilas sebelum meminum secangkir teh nya dan menyalakan cigarette favoritnya "Apa begini caramu menyapa ayah?"
"Kau bukan ayahku!" Tangan Sehun mengepal erat dengan tatapan muak melihat pria tua didepannya masih sama keji namun sangat berkuasa di dunia yang ia jalani.
"Kau benar-benar menyedihkan setelah bertemu dengan pria sialan itu!"
"Jangan pernah menghina priaku atau kau tahu-….Aku akan berbuat sesuatu diluar perkiraanmu." Katanya memperingatkan membuat Youngmin semakin membenci Luhan dengan hidupnya.
"Aku semakin tak mengenal dirimu. Jadi cepat katakan maksud kedatanganmu?"
"Aku ingin Krystal angkat kaki dari Sejong Hospital!"
"KAU!"
Kali ini Youngmin yang menggeram. Merasa begitu marah pada permintaan Sehun yang menurutnya omong kosong dan sangat merugikan untuk dirinya "Kenapa? Apa karena belum lama istrimu datang dan mengacau? Harusnya saat itu aku langsung membunuhnya agar kau-.."
"PARK YOUNGMIN!"
Sehun menggebrak kasar meja didepannya. Begitu marah dengan pernyataan Youngmin yang terus menerus mengatakan akan membunuh istrinya dari awal pertemuannya dengan Luhan.
"ck. Apa kau ingat aku selalu mengatakan padamu untuk tidak jatuh cinta atau mencintai seseorang . Cinta itu kejam. Cinta itu kebohongan. Cinta adalah sesuatu yang bisa membuatmu terlihat lemah, dan itu terbukti. Lihat dirimu sekarang!-…CINTA MEMBUATMU TERLIHAT MENYEDIHKAN DAN MUDAH DIHANCURKAN!"
Keduanya kembali saling menatap penuh kemarahan. Dimana yang satu merasa sangat marah dan membenci Luhan sementara yang satu menatap dengan pandangan memperingatkan untuk tidak pernah menyentuh pria yang menjadi alasan dirinya masih bertahan hidup saat ini.
"Persetan dengan ucapanmu. Luhan memiliki setengah hidupku –tidak- dia memiliki seluruh hidupku. jadi kau tidak bisa menyentuhnya selama aku masih menghembuskan nafas!"
"Kau benar. Aku tidak akan mengusiknya jika pria sialan itu tidak mengusik hal yang aku lakukan. Lagipula kau masih bekerja untukku, jadi jangan pernah berharap kau bisa keluar dari dunia yang membesarkanmu dan pergi begitu saja meninggalkan aku dengan seluruh kemampuanmu yang luar biasa. Kau terikat padaku sampai kau menghembuskan nafas terakhirmu Oh Sehun. Ingat itu!"
"Kau tahu akibat yang akan kau tanggung jika berani meninggalkan dunia kita hmm.." katanya menambahkan membuat Sehun semakin mengepalkan erat tangannya dan seketika tertawa marah menatap pada Youngmin.
"Satu-satunya yang membuatku menyesal karena mencintai Luhan adalah dirimu-….Karena mencintai Luhan dengan hidupku membuatmu memiliki alasan untuk semakin mengontrol dan menguasai diriku!"
"Ya…Itu suatu keuntungan sendiri untukku. Mengancam dirimu menggunakan nama Luhan terbukti efektif untukku" timpalnya membuat Sehun kembali menatap tajam pada pria yang membesarkannya dengan cara yang begitu gelap, dingin dan sangat kejam.
"Kalau begitu perintahkan Soojung untuk segera angkat kaki dari rumah sakit. biarkan Luhan yang menanganinya tanpa harus membuat keributan dengan kita."
"Dengan kita? Apa dengan kita yang kau maksud adalah "tidak membuat keributan denganmu?" gumam Youngmin mengulang seolah mengejek Sehun yang terlihat semakin putus asa saat ini.
"Selain kau-…Soojung adalah penghasil terbesar kedua untuk bisnisku. Jadi sama sepertimu-..Aku tidak akan membiarkan Soojung meninggalkan bisnisnya begitu saja karena akan sangat berbahaya untukku-…dan untukmu juga asal kau tahu." Katanya menyerigai dan tak lama mematikan cigaret nya dengan tatapan marah melihat Sehun "Jadi cepat pergi karena usahamu tidak akan membuatku merubah keputusanku." Katanya memberi perintah namun diabaikan oleh Sehun yang masih tak bergeming dari tempatnya.
"Presdir maaf mengganggu. Ada panggilan untukmu. Ini penting."
Youngmin yang sedang menatap marah pada Sehun pun terpaksa mengalihkan perhatiannya pada anak buahnya yang ingin menyerahkan ponsel padanya "Siapa?"
"Dari rumah sakit."
Sehun yang mendengar kata rumah sakit pun sedikit memicingkan matanya, berniat untuk mendengarka apa yang terjadi sampai
"APA KAU BILANG?"
Sampai dia melihat wajah Youngmin menjadi begitu marah saat ini. membuatnya bertanya-tanya dan sedikit berharap jika istrinya sama sekali tak terlibat dengan apa yang terjadi di rumah sakit saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Keadaan pasien?"
"Denyut jantung lemah, denyut nadi hampir tak terdeteksi dan seluruh anggota vital tubuh hampir tidak berfungsi dengan normal."
Rencana awal Luhan adalah melihat keadaan jantung Taerin, memastikan kalau jantung Taerin masih memompa aliran darah ke seluruh tubuh dengan normal dan memberikan cakupan oksigen yang cukup untuk gadis kecil yang sedang berjuang saat ini.
Luhan masih berusaha untuk tidak kehilangan fokusnya. Terus membuka dalam bagian tubuh Taerin sampai menemukan sesuatu yang begitu membuatnya terkejut "A-apa ini?" katanya bergumam membuat Taehyung dan perawat senior yang menemaninya sedikit menoleh dan juga terkejut mendapati apa yang Luhan temukan.
"Dokter Oh bukankah itu-.."
"Infeksinya sudah menyebar sampai menutup katup jantung. Berikan aku kateter spiens aku harus membukanya."
"Tapi kita tidak memiliki alat seperti itu dok. Penambal katup jantung hanya dimiliki rumah sakit besar pada umumnya."
Luhan merasa nafasnya tercekat saat ini. Merasa begitu marah pada siapapun yang membuat malaikat kecil seperti Taerin harus merasakan sakit yang teramat dengan kondisi vitalnya yang delapan puluh persen mengalami kerusakan.
"Tekanan darah menurun drastis."
Luhan berusaha mengabaikan pemberitahuan untuknya. Mencoba dengan segala cara untuk membuka katup jantung yang menutup dengan seluruh keterbatasan alat yang dimiliki. Masih terlalu fokus sampai dia melupakan kalau gadis kecil yang ia tangani memiliki masalah pada sistem kekebalan tubuhnya, membuat kondisi Taerin semakin menurun secara cepat dengan kesadaran yang hampir mustahil kembali didapatkan.
"Denyut jantung samar menghilang."
Luhan menoleh ke layar yang menunjukkan detak jantung Taerin, merasa begitu ketakutan melihat wajah Taerin yang terlalu tenang di tempatnya berbaring. "Taerin kau harus bertahan nak. Kau harus bertahan." katanya mengulang dan kembali fokus untuk menemukan sesuatu dalam tubuh Taerin yang mampu membuatnya bertahan hidup.
"Kesadaran pasien semakin menurun."
Luhan sudah kehilangan fokusnya merasa begitu sesak dan ketakutan karena hampir seluruh organ tubuh Taerin sudah tak ada yang berfungsi, dia berusaha mengabaikan seluruh peringatan untuknya sampai
tiiinnnnnnnnn~
Terdengar suara detak jantung Taerin yang sudah berubah lurus menandakan tak ada lagi kehidupan untuk Taerin. Luhan sendiri menolak menerima keadaan Taerin saat ini, dia tahu didalam genggamannya katup jantung itu tak lagi berdetak. Seluruh tubuh Taerin menjadi dingin seketika dan tak terdapat lagi tanda-tanda kehidupan.
"Dokter Oh-…Kita kehilangan pasien."
"Tidak-…Ini belum berakhir biarkan aku mencoba."
"Dokter Oh percuma, pasien tidak memiliki tanda kehidupan lagi."
"Siapkan alat kejut jantung."
"Tapi dokter Oh-.."
"SEKARANG!"
Luhan mengabaikan seluruh peringatan untuknya. Dia tahu ini adalah hal mustahil, tapi membiarkan Taerin menutup mata untuk selamanya adalah hal yang tak bisa dibiarkan. "Taerin-…Kau harus bertahan nak." Katanya membuka paksa sarung tangannya yang penuh darah lalu kemudian mengambil cepat alat kejut jantung yang telah disiapkan. Mengecek kekuatan volt yang diberikan sebelum
DEG!
Dia menempelkan alat kejut jantung ke dada Taerin, membuat tubuh kecil itu terlonjak namun-….Nihil. Taerin tidak menunjukkan tanda-tanda kesadarannya kembali.
"Taerinna aku mohon." Katanya bergumam dan tak lama
DEG!
Luhan kembali menempelkan alat kejut jantungnya ke dada Taerin, merasa begitu frustasi karena Taerin sama sekali tak merespon. Membuatnya terus mencoba sampai sebuah tangan menahan pergelangan tangannya.
"Hentikan dokter Oh. kau menyakiti tubuh kecilnya."
"Lepas!"
Taehyung yang memegang tangan Luhan pun terpaksa menggelengkan kepalanya, dan sebagai asisten dokter dia memberi instruksi untuk melepas seluruh alat bantu yang menempel di tubuh Taerin "JANGAN LEPAS OKSIGENNYA. TAERIN MEMBUTUHKAN OKSIGEN!"
"Dokter oh-.."
"APA YANG KALIAN LAKUKAN! PASANG KEMBALI SELURUH ALAT BANTU UNTUK-.."
"DOKTER OH!"
Luhan seketika terdiam saat Taehyung membentaknya. Menatapnya cukup lama sampai akhirnya pegangan Taehyung semakin menguat di pergelangan tangannya "Maaf harus mengatakan ini-..Tapi pasien sudah meninggal dan kau harus mengumumkan waktu kematiannya dokter Oh."
Luhan seketika terisak pelan dengan wajah tertunduk dan meerasa begitu marah namun tak bisa menghindari kenyataan kalau saat ini Taerin tak lagi bernyawa. "Dokter Oh anda harus-…"
"Waktu kematian Kim Taerin-…." Katanya melepas pegangan Taehyung dan menatap terluka ke wajah Taerin yang begitu damai. "Pukul tiga sore waktu setempat." Luhan menggigit bibirnya terlampau kencang. Dan dengan mata tertutup dia menikmati seluruh rasa sakit dan marah yang menguasai dirinya seolah mengejeknya dan terus mengingatkan dirinya kalau semua yang terjadi pada Taerin berkaitan dengan dirinya.
"Dokter Oh-.."
"Tinggalkan aku sendiri."
Mendengar permintaan Luhan pun membuat Taehyung mengangguk mengerti dan menginstrusikan semua pegawai untuk segera keluar meninggalkan Luhan "Aku yang akan mengatakan tentang keadaan Taerin pada keluarganya." Dan setelahnya Taehyung juga meninggalkan Luhan yang masih terlihat sangat terpukul dengan serangkaian kejadian yang terjadi hari ini.
Luhan masih memejamkan matanya erat. Menikmati keheningan yang begitu menyiksanya sampai
"KIM TAERIN!-….PUTRIKU-…KAU TIDAK BOLEH MENINGGALKAN EOMMA NAK!"
Sampai dia mendengar suara jeritan Yujin diluar sana. Merasa begitu hancur saat menyadari kalau dirinya telah merenggut satu-satunya alasan Yujin untuk bertahan hidup.
Perlahan Luhan membuka matanya –hancur dan marah- itulah yang tergambar jelas di raut wajah cantiknya. Entah dia harus menyalahkan siapa atas kejadian yang terjadi pada Taerin , yang jelas dia pernah berada di posisi Yujin sebelumnya. Saat Baekhyun mengatakan dia kehilangan putranya-..saat itulah Luhan kehilangan separuh hidupnya.
Luhan menatap kosong wajah cantik yang kini tertidur dengan damai didepannya. Berjalan mendekatinya sebelum memberanikan diri mengusap wajah Taerin yang terasa begitu dingin di tangannya "Maaf-…Maafkan aku Taerin-…Maaf tidak bisa membuatmu bertahan nak." Katanya tak kuasa menahan air mata dengan rasa bersalah yang mungkin akan terus menghantuinya mulai saat ini.
Luhan terus memperhatikan wajah Taerin, mengusapnya perlahan dengan senyum yang sangat dipaksakan. Matanya tak berkedip melihat wajah Taerin, sampai akhirnya bayang mendiang putranya menyeruak masuk ke benaknya. Saat itu Luhan enggan beranjak dari tempatnya. Dia bahkan berdoa agar Tuhan juga membawanya pergi dan butuh waktu yang lama bagi Luhan untuk melupakan tubuh putranya yang terbujur kaku. Dan melihat Taerin saat ini, rasanya seperti mengulang kenangan menakutkan untuknya. Membuatnya begitu marah dan bersumpah akan membalas siapapun yang telah melakukan hal mengerikan ini pada Taerin.
Tangan Luhan berhenti mengusap wajah Taerin, sedikit terdiam sampai
"KIM TAERIN!" Luhan menjerit tertahan memeluk tubuh Taerin yang terasa sangat dingin, terisak dalam disana dan membiarkan rasa bersalah memasuki hidupnya. Dia masih terus memeluk Taerin sampai akhirnya rasa marah kembali menguasainya.
"Beristirahatlah nak. Kau dan Ziyu-…Kalian akan bertemu dan saling menjaga disana." Katanya mencium lama kening Taerin sebelum akhirnya menutup sepenuhnya wajah Taerin yang sudah tak bernyawa.
"Aku akan membunuh kalian semua. AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA!" katanya menggeram tertahan dan tak lama pergi dengan rasa marah yang begitu menguasai dirinya menuju ke tempat semua orang yang harus bertanggung jawab atas kematian Taerin hari ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"BRENGSEK!" gumam Youngmin menggeram dan tak lama membanting kasar ponselnya. Membuat Sehun yang sedari tadi mempehatikannya begitu tergoda untuk bertanya
"Ada apa?"
"KAU! PRIA SIALANMU MENGIRIM KRYSTAL KE DALAM PENJARA. AKU BERSUMPAH TIDAK AKAN TINGGAL DIAM!"
"Shit!"
Sehun menggeram tertahan saat dugaannya tentang Luhan yang terlibat dengan kekacauan yang terjadi benar terbukti. Membuat wajahnya seketika memucat saat Youngmin terlihat begitu marah pada apapun yang dilakukan istrinya di rumah sakit.
"huh-…Aku sudah bilang jangan pernah mengusik apa yang aku lakukan. Lalu priamu dengan berani menghancurkan segala urusan yang aku mulai dari nol. Kau tahu-….Tidak peduli dia istrimu atau seseorang yang kau cintai. AKU AKAN TETAP MENGHABISINYA!"
"Presdir aku mohon tenanglah. Aku bisa membebaskan Soojung. Aku bisa mengeluarkannya dari penjara. Kau bahkan tidak perlu mengotori tanganmu untuk membereskan kekacauan ini. Aku-….Aku yang sepenuhnya bertanggung jawab!"
Merasa tawaran dari Sehun cukup menarik, membuat pria tua licik itu kembali duduk di kursinya yang nyaman. Memandang Sehun cukup lama sampai akhirnya seringaian terlihat di wajahnya "Dan bagaimana dengan kerugian yang aku terima?"
"Aku akan menggantinya. Hanya jangan dekati Luhan-….JANGAN PERNAH MENDEKATI ISTRIKU!" katanya begitu ketakutan dan terlihat sangat panik mengingat Youngmin begitu serius dengan ucapannya untuk menghabisi istrinya.
"Menarik! Kapan kau akan menyelesaikan semua kekacauan ini?"
"Hari ini aku akan mengurusnya. Kau hanya perlu duduk di kursimu dan semua akan kembali padamu."
Youngmin kembali tersenyum licik mengetahui Luhan adalah sepenuhnya kelemahan Sehun. dan membalas Luhan melalui Sehun adalah hal yang paling tepat daripada berhadapan langsung dengan pria yang Jika disakiti akan membuat seorang Oh Sehun murka dan akan membunuh siapa pun yang menyakiti prianya. "Waktumu dua puluh empat jam untuk menyelesaikan semua kekacauan ini. Kau tahu apa yang akan terjadi jika melewati batas waktu yang aku berikan."
"Ya-…Ya tentu saja aku mengerti. Aku akan menyelesaikan semuanya dalam waktu singkat. Aku akan segera pergi dan-….."
"PARK YOUNGMIN KELUAR KAU BAJINGAN!"
Ucapan Sehun terhenti saat mengenali suara yang begitu familiar di telinganya. Suara yang menunjukkan kalau dirinya dalam keadaan begitu marah dan begitu hancur. "PARK YOUNGMIN!"
"Luhan…"
Teriakan Luhan seketika terhenti saat menyadari suaminya juga berada di tempat yang sama dengannya saat ini. Sedikit bertatapan lama dengan Sehun sebelum akhirnya kembali fokus melihat ke arah Youngmin yang menatap meremehkan ke arahnya.
"Setelah mengacau di rumah sakit. Berani sekali kau datang menemuiku!"
"AKU DATANG UNTUK MEMBUNUHMU BAJINGAN!" katanya berteriak membuat Sehun membelalak dan melihat Kai yang kini berada di belakang Luhan.
"KAI!"
Kai yang berada paling dekat dengan Luhan pun seketika mencengkram lengan Luhan, menghentikan istri dari bosnya untuk bertindak gegabah sesuai instruksi dari Sehun "LEPASKAN AKU KAI!"
"Luhan aku mohon jangan seperti ini-…"
"LEPAS!"
Luhan kembali meronta menatap marah pada Sehun yang hanya diam di tempatnya dan tak melakukan apapun untuk menolongnya "Kai-…Bawa Luhan pergi!"
"BRENGSEK! AKU TIDAK MAU PERGI SEHUNNA! AKU TIDAK MAU PERGI-…"
Dan teriakan Luhan semakin terdengar saat Kai mulai membawanya pergi. Sungguh-..Kemarahan Luhan benar-benar mencapai puncaknya saat ini. Tidak bisa menyentuh Youngmin dengan Sehun yang berada di pihak berlawanan dengannya membuatnya merasa benar-benar dikhianati.
Luhan bersumpah tidak akan pergi secepat ini, matanya terus mencari sesuatu yang bisa membuat Kai melepaskannya. Dan saat melihat pistol yang berada di belakang tubuh Kai membuat Luhan memiliki satu kesempatan yang tak akan disia-siakan. Dengan satu gerakan cepat dia mengambil pistol di belakang tubuh Kai dan
Sret…!
Luhan mengambilnya terlalu cepat membuat Kai sedikit lengah sampai dia mendengar suara senjata di kokang dan
Ckrek…!
"LUHAN!"
Seluruh anak buah Youngmin mengarahkan senjatanya ke tempat Luhan berada sementara Luhan juga mengarahkan senjata yang ia ambil dari Kai tepat ke arah Youngmin.
Membuat Sehun tidak mempunyai pilihan lain selain ikut mengarahkan senjatanya ke Youngmin dengan Kai, Max, Yoochun dan Shindong membuat lingkaran untuk melindungi Luhan dengan senjata yang mereka arahkan ke seluruh anak buah Youngmin.
"Turunkan senjatamu Sehun-…KAU MEMBUATKU SANGAT MARAH!"
"Tidak-…Sampai anak buahmu berhenti mengarahkan senjatanya pada istriku!"
"PRIA SIALAN ITU PANTAS MATI!"
"DIAM!"
Salah satu anak buah Youngmin ada yang bergerak dan semakin mendekat ke arah Luhan, membuat Sehun yang melihatnya begitu geram dan
"MUNDUR!-…." Sehun berteriak memperingatkan namun diabaikan oleh penjaga Youngmin yang masih terus mendekat perlahan ke arah istrinya.
"sial!" gumamnya menggeram dan
Ckrek!
"AKU BILANG MUNDUR" katanya semakin berteriak dan mengarahkan senjatanya semakin dekat dengan Youngmin.
"Kau tahu kau dalam masalah jika membuatku terluka."
"Perintahkan pada mereka untuk menurunkan senjatanya."
"Pria sialan itu yang harus menurunkan senjatanya!"
Sehun sedikit menoleh untuk menatap Luhan, dan merasa begitu frustasi saat istrinya bahkan menolak tatapan yang ia berikan untuknya "Aku memastikan dia tidak akan melukaimu. Hanya perintahkan pada penjagamu untuk menurunkan senjata mereka-.."
"Dia terlihat marah. dan aku tidak lengah."
Sehun kemudian menurunkan senjatanya, sedikit menatap pria tua yang membesarkannya dengan frustasi dan
Brak..!
"OH SEHUN BERDIRI!"
Luhan begitu marah saat melihat suaminya berlutut memohon di hadapan pembunuh kejam seperti Youngmin, membuatnya bersumpah akan segera menarik pelatuknya jika Shindong tak menghalangi dirinya.
Dan mengabaikan teriakan kemarahan Luhan-….Sehun lebih memilih memohon agar pria tuda didepannya tidak menyakiti istrinya-…Dan untuk hal itu, Sehun rela melakukan apa pun agar Luhan bisa keluar dari sini tanpa satu gores kecil luka di tubuhnya.
"Aku mohon Presdir. Aku mohon perintahkan penjagamu agar menurunkan senjata mereka. Aku takut salah satu dari mereka ada yang tak sengaja menarik pelatuknya dan membuat istriku terluka. Aku mohon." Katanya memegang kedua kaki Youngmin dan sangat memohon agar keadaan menegangakan ini segera berakhir.
"Dan bagaimana jika dia tetap menembak?"
"Maka Luhan harus menembakku terlebih dulu sebelum menyakitimu."
"OH SEHUN!"
Luhan semakin menjerit saat mendengar suaminya memberi jaminan yang membuat Luhan semakin marah dan menggeram hebat.
"Luhan aku mohon." Katanya kembali menoleh dan menatap Luhan teramat frustasi.
"huh…Baiklah-…Tapi ingat! Jika dia menembak salah satu pengawalku atau bahkan diriku. Maka dia selamanya akan menjadi target yang harus dihabisi."
"Istriku tidak akan melakukannya. Aku janji."
Youngmin menatap Sehun cukup lama sebelum akhirnya menyeringai menatap Luhan yang terlihat begitu marah saat ini "TURUNKAN SENJATA KALIAN!"
Mendengar perintah dari Youngmin membuat seluruh anak buahnya menurunkan senjata. Dan satu-satunya yang masih menodongkan senjata adalah Luhan dengan penjagaan ketat keempat anak buah Sehun "Giliranmu."
Sehun pun mengangguk putus asa sebelum berdiri dan berjalan gontai menghampiri istrinya yang begitu marah saat ini
"JANGAN MENDEKAT! KAU BUKAN SUAMIKU!-….AKU BILANG JANGAN MENDEKAT!"
Luhan bisa saja berbuat nekat dengan menarik pelatuknya, namun saat matanya dan mata Sehun bertemu-…Dia tahu suaminya terluka-..bahkan lebih terluka darinya, membuatnya sedikit terdiam sampai dia merasa Shindong menggeser posisinya digantikan Sehun yang kini berdiri tepat di depannya.
"Aku tahu kau marah-…Aku minta maaf karena membuatmu marah dan begitu ketakutan sayang. Aku janji ini akan berakhir. Aku mohon buang senjatamu." Katanya meminta namun diabaikan Luhan yang semakin mengarahkan senjatanya pada Youngmin.
"Taerin-…HARI INI TAERIN MENINGGAL DAN ITU SEMUA KARENA BAJINGAN TUA DI BELAKANGMU! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANNYA HIDUP!"
Sehun memejamkan matanya mendengar kabar teman mendiang putranya juga harus pergi meninggalkan ibunya. Membuatnya sedikit memaklumi kemarahan Luhan namun tak bisa ia biarkan karena tempat ini sepenuhnya milik Youngmin, dan Luhan akan terluka jika berbuat sesuatu yang mengerikan pada pria yang membesarkannya.
"Aku minta maaf sayang-…Aku-.."
"AKU INGIN MEMBUNUHNYA! MINGGIR KAU OH SEHUN!"
Sehun kembali kehabisan cara menenangkan Luhan, membuatnya tak punya pilihan lain selain memegang tangan Luhan dan mengarahkan senjata yang Luhan pegang tepat di dadanya.
"Kalau begitu tarik pelatukmu sekarang-..Kau harus membunuhku terlebih dulu sebelum kau membunuhnya."
"KAU GILA…LEPAS!" Luhan berusaha meronta dari pegangan Sehun namun gagal karena Sehun memegang tangannya terlampau erat. Membuat Luhan sedikit takut jika tiba-tiba tangannya benar-benar menarik pelatuk dan menyakiti prianya yang begitu ia cintai.
"SEHUN LEPAS!-….KAU TIDAK TERLIBAT DALAM MASALAH INI. LEPASKAN AKU!"
"AKU YANG MELAKUKANNYA! -…MEREKA SEMUA MENDAPATKAN PERINTAH LANGSUNG DARIKU-…INI SEMUA TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN YOUNGMIN. JADI YA-…AKU TERLIBAT DAN BERHENTI MEMBUATNYA SEMAKIN SULIT LUHAN!"
Semua kalimat kebohongan itu akhirnya terucap dari bibir Sehun, merasa satu-satunya membuat kemarahan Luhan hilang adalah dengan membuat istrinya merasa kecewa. Dan benar saja-…Luhan seketika menurunkan senjatanya karena begitu terkejut mendengar pernyataan suaminya.
"tidak-..Tidak mungkin." Katanya begitu merasa mual mendapati pernyataan Sehun yang begitu membuat luka baru di hatinya.
Dia tahu Sehun bagian dari pekerjaan mengerikan ini, tapi dia tidak pernah menyangka suaminya akan begitu kejam membuat anak-anak seusia putra mereka meregang nyawa karena praktek ilegal yang dilakukan Soojung selama ini.
"K-kau pasti berbohong." Katanya bergumam dan menatap Sehun dengan wajahnya yang terluka "KATAKAN PADAKU KALAU KAU SEDANG BERBOHONG SEHUNNA!-…KATAKAN PADAKU KAU TIDAK TERLIBAT!"
Sehun merasa begitu sesak saat ini. Membuat luka baru untuk istrinya adalah hal biasa yang selalu ia lakukan. Namun menghancurkan hati Luhan-…Itu adalah sesuatu yang baru untuknya dan Sehun-..dia terpaksa melakukannya agar semua kekacauan menakutkan ini segera berakhir.
"KATAKAN PADAKU KAU TIDAK TERLIBAT! JAWAB AKU-.."
"maaf… Aku sepenuhnya terlibat. Aku minta ma-…"
Plak….!
Luhan kembali menampar Sehun dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Merasa muak dengan seluruh pernyataan Sehun yang membuatnya begitu menyesal telah dipertemukan oleh pria yang berstatus suaminya.
"PEMBUNUH!" katanya berteriak marah dan berlari sejauh mungkin meninggalkan tempat yang seperti neraka untuknya.
Dan lagi-...Sehun hanya bisa membiarkan Luhan pergi menjauh darinya. Merasa begitu kacau dan tak bisa menggerakan tubuhnya, bukan karena Luhan menamparnya, Tapi karena kalimat terakhir yang Luhan lontarkan begitu menghancurkan hatinya
Siapapun boleh mengatakan dirinya adalah pembunuh-...Siapapun kecuali Luhan. Karena saat Luhan mengatakan dirinya adalah pembunuh. Maka Sehun berada dalam masa krisisnya untuk bertahan hidup.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari ini hujan turun membasahi bumi dengan derasnya-…Dan hari ini pula, Luhan harus kembali menyaksikan tubuh mungil dari seorang malaikat kecil menyatu dengan tanah. Merasa seluruh kenangan menakutkan tentang kehilangan pelipur hatinya kembali menyeruak masuk menyentuh memori tak tersentuh yang paling ingin Luhan lupakan-…Namun Luhan sadar, semakin dia menolak kenangan itu, semakin menyakitkan pula rasa yang begitu membuatnya hancur dalam satu kedipan mata.
"Selamat beristirahat nak. Eomma menyayangi Taerin."
Luhan tidak berdiri di depan-…dia berdiri di paling belakang acara pemakaman yang Yujin buat untuk putrinya. Suara hujan yang deras tidak membuat Luhan tuli untuk tidak mendengar kalimat perpisahan yang Yujin lakukan. Membuatnya terpaksa memejamkan mata mengetahui benar bagaimana rasanya saat darah dagingmu harus pergi di usia yang begitu muda.
Tidak ada lagi suara isakan, yang terdengar hanya suara hujan yang begitu terdengar bersahutan di telinga Luhan. Dan setelah acara pemakaman untuk Taerin selesai dilakukan. Satu persatu kerabat yang hadir meninggalkan tempat pemakaman.
Begitupula dengan Yujin, dengan wajah tegarnya, Yujin berhasil melangkah pergi dari pemakaman putranya. Berjalan mendekat ke arah Luhan yang hanya berdiri seorang diri tanpa payung yang ia gunakan sehingga membuat seluruh tubuhnya basah kuyup.
"Aku benar-benar bersyukur Taerin menghembuskan nafas terakhirnya di tanganmu Luhan. sunggu-…"
Luhan pun hanya menatap kedepan tanpa berniat membalas seluruh ucapan Yujin-…Lebih berharap Yujin memakinya daripada berterimakasih padanya seperti ini.
"Aku percaya ini semua adalah Takdir Tuhan Lu. Tuhan sudah menuliskan cerita kita sampai akhir. Dan untuk Taerin serta Ziyu-….Sayangnya mereka tidak memiliki kesempatan lebih lama untuk menyusun akhir cerita mereka menjadi bahagia. Hanya itu yang aku sesalkan-…Selebihnya aku tahu ini yang terbaik. Terimakasih untuk segalanya Luhan. Aku pergi."
Yujin menyelesaikan kalimat terakhirnya dengan suara tercekat. Begitu terburu meninggalkan Luhan karena tahu dia tidak akan menjadi tegar jika melihat Luhan. karena setiap melihat Luhan-…Yujin masih bisa merasakan kehadiran putrinya. Taerin menyukai Luhan-… dan tawa Taerin masih sangat terngiang saat putrinya menceritakan Luhan dengan begitu bersemangat.
Sementara Yujin menahan kepedihannya. Maka Luhan akan menjadi yang paling tersiksa saat ini. Merasa bersalah dan gagal. Dua hal itu seolah menjadi santapan Luhan yang membuatnya terus merasa kesulitan bernafas.
Dia mengagumi kemampuan Yujin bertahan dan terlihat sangat tegar. Membuat dirinya ingin melakukan hal yang sama dengan berjalan mendekati makam Taerin yang persis terletak di samping makam putranya "Takdir Tuhan? Huh…Aku sangat membenci takdir Tuhan." Katanya tertawa sekilas mengingat ucapan Yujin dan membiarkan air hujan menyamarkan air mata kepedihannya. Berjalan gontai dan begitu tak terarah sampai akhirnya Luhan berhasil berdiri tepat di kedua makam malaikat kecil mereka.
"Kim Taerin-…Oh Ziyu…" gumam Luhan yang seluruh tubuhnya sudah menggigil dan terjatuh duduk di depan kedua makan malaikatnya "Nak…." Katanya mengusap batu nisan Ziyu dan rasa rindu semakin menjadi ia rasakan "Apa kau tidak bisa membawa eomma bersamamu? Eomma sudah tidak tahan nak. Rasanya sakit." katanya menyembunyikan wajahnya tepat di batu nisan Ziyu. Terisak kencang dengan memanfaatkan bunyi air hujan yang menyamarkan suara isakannya.
"OH ZIYU EOMMA BENAR-BENAR RINDU PADAMU NAK…arghhh !" Luhan meronta sejadinya di depan putranya. Pertahanan baik-baik saja dan merelakan kepergian Ziyu seketika ia lupakan. Dia sendirian dan rasanya begitu menakutkan. Sedikit berharap Tuhan mau berbaik hati membawanya pergi agar rasa takut dan sakitnya hilang dalam sekejap.
Luhan masih terus memeluk makam putranya sedikit tak mau melepasnya. Sampai akhirnya dia beralih ke makam Taerin dan kembali merasa begitu bersalah pada gadis kecil yang terpaksa harus meregang nyawa secepat ini "Taerinna-…Dokter janji akan menjaga Bubu. Kau tidak perlu takut." Katanya tersenyum dan mencium sayang makam Taerin yang bahkan masih terasa hangat karena baru saja dipasangkan.
"Kau juga harus janji akan berbahagia disana. Bermainlah bersama Ziyu dan janji akan selalu bersama." katanya menatap dalam makam Taerin dan sedikit berlama berada di antara makan putra dan putri kecilnya.
"Kita pulang. Kau kedinginan Lu-…"
Luhan tiba-tiba berhenti tersenyum saat menyadari hujan tak lagi membasahi tubuhnya disertai suara suaminya yang menginterupsi, mengingatkannya kembali pada apa yang dilakukan Sehun dan begitu murka karena sang suami bahkan masih memiliki wajah untuk bertemu dengannya.
Luhan kemudian bersusah payah untuk berdiri sebelum tubuhnya yang kedinginan berhasil menatap tak berkedip pria keji yang juga menatapnya tak berkedip saat ini. Membiarkan seluruh tatapan mereka bertemu sampai akhirnya Luhan menyeringai merubah tatapannya menjadi tatapan membenci yang teramat.
"Aku tidak berhubungan dengan pembunuh."
Ucapan yang Luhan lontarkan begitu dalam dan menyiratkan kemarahan yang teramat. Membuat Sehun secara refleks menutup matanya dan menikmati kebencian yang Luhan berikan untuknya.
Membiarkan tubuh mungil pria cantiknya menjauh, meninggalkannya sendiri di depan makam kedua malaikat kecil yang kematian mereka tak lepas dari hidup mengerikan yang baik dirinya maupun Luhan jalani.
Berdiri diam dengan mata memandang batu nisan bertuliskan nama putranya dan Taerin adalah satu-satunya hal yang bisa Sehun lakukan saat ini. Tanpa mengeluarkan satu patah kata pun sebagai pelengkap dari kegundahan dan kehancuran yang ia rasakan
Mengapa?
Sehun sangat mengingat pertama kali Luhan mengatakan dirinya pembunuh adalah saat mereka masih menjadi sepasang kekasih. Dan setelah mengetahui seluruh pekerjaan yang Sehun lakukan-…Luhan menghilang.
Dan butuh waktu lama untuk Sehun mendapatkan kembali cinta Luhan. Butuh kebesaran hati Luhan untuk menerima Sehun apa adanya. Awalnya mereka tidak yakin bisa saling melengkapi, saling mencintai dan menerima apa adanya.
Dan dengan seiring berjalannya waktu semua terjawab. Namun bukan mereka yang menjawab-…Kekuatan cinta mereka yang menjawab. Mereka tidak berusaha menjauh namun cinta yang terus membuat mereka bersama, saling bergantungan sampai akhirnya tak terpisahkan.
Dan hari ini Luhan kembali menunjukkan kemarahannya. Membuat Sehun menyadari satu hal-… bahwa untuk kembali mendapatkan Luhan dia harus memulainya dari awal. Sehun juga tahu kalau kali ini tidak akan mudah untuk kembali mendapatkan Luhan membuatnya berjanji untuk tidak menyerah di hadapan makan mendiang putranya "Ayah janji setelah hari ini-…Ayah dan ibu akan mengunjungimu bersama. Kami tidak akan mengunjungimu secara terpisah lagi. Itu janji ayah padamu nak." Katanya sedikit tertunduk sebelum akhirnya membiarkan suara hujan kembali mendominasi hatinya yang begitu merindukan putra dan istrinya secara bersamaan.
tobecontinued..
.
Panyas…panyas….geyrah..geyrah…berantem aja terus sampe Ziyunya hidup lagi kkkk. Kasian sehun serbasalah kaya raisa… gpp yekan? Daripada Luhannya yang gue utak atik lagi ;"D
.
Niways…ternyata banyak aral melintang makanya baru bisa apdet. Maapkan diriku :"
.
Yaudsss…Happy reading n review…Seeyasoon!
