Previous
"Kalau begitu tarik pelatukmu sekarang-..Kau harus membunuhku terlebih dulu sebelum kau membunuhnya."
"KAU GILA…LEPAS!" Luhan berusaha meronta dari pegangan Sehun namun gagal karena Sehun memegang tangannya terlampau erat. Membuat Luhan sedikit takut jika tiba-tiba tangannya benar-benar menarik pelatuk dan menyakiti prianya yang begitu ia cintai.
"SEHUN LEPAS!-….KAU TIDAK TERLIBAT DALAM MASALAH INI. LEPASKAN AKU!"
"AKU YANG MELAKUKANNYA! -…MEREKA SEMUA MENDAPATKAN PERINTAH LANGSUNG DARIKU-…INI SEMUA TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN YOUNGMIN. JADI YA-…AKU TERLIBAT DAN BERHENTI MEMBUATNYA SEMAKIN SULIT LUHAN!"
Semua kalimat kebohongan itu akhirnya terucap dari bibir Sehun, merasa satu-satunya membuat kemarahan Luhan hilang adalah dengan membuat istrinya merasa kecewa. Dan benar saja-…Luhan seketika menurunkan senjatanya karena begitu terkejut mendengar pernyataan suaminya.
"tidak-..Tidak mungkin." Katanya begitu merasa mual mendapati pernyataan Sehun yang begitu membuat luka baru di hatinya.
Dia tahu Sehun bagian dari pekerjaan mengerikan ini, tapi dia tidak pernah menyangka suaminya akan begitu kejam membuat anak-anak seusia putra mereka meregang nyawa karena praktek ilegal yang dilakukan Soojung selama ini.
"K-kau pasti berbohong."Katanya bergumam dan menatap Sehun dengan wajahnya yang terluka "KATAKAN PADAKU KALAU KAU SEDANG BERBOHONG SEHUNNA!-…KATAKAN PADAKU KAU TIDAK TERLIBAT!"
Sehun merasa begitu sesak saat ini. Membuat luka baru untuk istrinya adalah hal biasa yang selalu ia lakukan. Namun menghancurkan hati Luhan-…Itu adalah sesuatu yang baru untuknya dan Sehun-..dia terpaksa melakukannya agar semua kekacauan menakutkan ini segera berakhir.
"KATAKAN PADAKU KAU TIDAK TERLIBAT! JAWAB AKU-.."
"maaf…Aku sepenuhnya terlibat. Aku minta ma-…"
Plak….!
Luhan kembali menampar Sehun dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Merasa muak dengan seluruh pernyataan Sehun yang membuatnya begitu menyesal telah dipertemukan oleh pria yang berstatus suaminya.
"PEMBUNUH!" katanya berteriak marah dan berlari sejauh mungkin meninggalkan tempat yang seperti neraka untuknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Entangled
Main Cast : Sehun & Lu Han
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Luhan hampir tidak pernah mempersalahkan pekerjaan Sehun selama beberapa tahun mereka bersama. Berusaha untuk tidak ikut campur dan membiarkan suaminya terlibat semakin dalam ke dunia gelapnya.
Ya-….Luhan membiarkan suaminya melakukan apapun yang dia ingingkan dengan pekerjaannya tanpa batas waktu sebanyak yang Sehun inginkan. Namun tentu saja semua itu tidak terlepas dengan syarat yang di ajukan Luhan.
Luhan mengijinkan suaminya melakukan pekerjaan gelapnya dengan dua syarat. Pertama Sehun harus selalu baik-baik saja dan tak pernah terluka walau hanya satu goresan kecil. Kedua-…Sehun dan pekerjaannya tidak boleh mengusiknya. Entah dengan alasan apapun jika semua pekerjaan Sehun mulai mengusiknya. Dia tidak akan tinggal diam.
Hari itu semuanya terjadi-..Tepat satu minggu yang lalu Luhan harus berhadapan langsung dengan kenyataan mengerikan tentang bagaimana bisnis yang Sehun lakukan. Bisnis yang dengan teganya merenggut nyawa anak kecil tak berdosa seusia Ziyu jika putra mereka masih hidup.
Marah, kecewa dan merasa begitu dikhianati Luhan rasakan hari itu. Di hari yang sama saat dia gagal menyelamatkan Taerin di meja operasi. Mengira kalau suaminya akan membelanya didepan pria tua brengsek yang terus memanfaatkan Sehun hanyalah omong kosong yang membuat Luhan seketika muak begitu membenci suaminya sendiri.
Dan seperti kata Sehun, jika Luhan terlalu marah dan kecewa pada Sehun-…Dia menghilang.
Begitulah sepenggalan ucapan yang dilontarkan seorang Oh Sehun mengenai pria yang begitu ia cintai. Terlalu mengenal Luhan sehingga saat Luhan benar-benar pergi hanya rasa bersalah yang begitu menggerogoti dirinya di hari yang terus berganti.
"Apa kau sudah menemukan istriku?"
Yang ditanya hanya diam tak menjawab, merasa takut namun memiliki rasa iba yang begitu dalam pada pria yang selalu berkuasa namun terlihat hancur berkeping saat ini "Maaf bos. Kami benar-benar kehilangan jejak istri anda."
"….."
Sehun yang biasanya akan berteriak murka jika seluruh anak buahnya gagal menemukan keberadaan sang istri. Tidak seperti saat ini, sang pria yang begitu berkuasa hanya menatap lirih pada anak buahnya.
Lebih memilih untuk berjalan mendekati jendela di ruang kantornya. Bertanya-tanya tentang dimana keberadaan si pria cantik di tengah hujan lebat seperti malam ini.
Sehun hanya diam tak bersuara, nafasnya terasa berat dengan rasa yang begitu perih di setiap hembusan nafasnya. Memainkan jarinya di jendela yang berembun dengan nama Luhan tertulis di jendela kantornya.
Gerakan jari Sehun kemudian berhenti saat dia menuliskan penggalan terakhir dari nama istrinya. Merasa begitu khawatir dan ketakutan dalam waktu bersamaan. "Maafkan aku sayang." Batinnya menjerit sakit. raganya begitu tak berdaya karena tak bisa menemukan keberadaan belahan jiwanya. Sementara bibirnya terus mengucapkan kata maaf tanpa bisa bertatap muka dengan istrinya.
Dan satu yang bisa kita simpulkan dengan serangkaian kejadian di malam itu. Kejadian yang begitu menyayat hati untuk seorang Oh Sehun.
Jika Luhan menghilang-…Maka Sehun hancur menjadi serpihan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seoul, 23.00 KST
Melepas profesinya sebagai dokter dan tidak menggunakan marga milik suaminya adalah keputusan terberat yang pernah diambil seorang pria berparas cantik namun terlihat sangat hancur malam ini. pria yang kerap kali dikenal sebagai dokter yang menggunakan marga suaminya. Kini memutuskan untuk berdiri di atas namanya sendiri –Lu Han.
Menjadi Lu Han seutuhnya dan terikat dengan apapun –Baik profesi maupun marga suaminya- adalah keputusan tersulit yang pernah ia buat. Keputusan yang sudah ia buat sejak hari terakhirnya berada di Gangneung –tempat peristirahatan putranya- membuatnya mulai berdiri di atas kedua kakinya sendiri tanpa campur tangan atau perlindungan siapapun termasuk suaminya-… Oh Sehun. Dan semua kehidupa tak tentu arah ini sudah Luhan jalani satu minggu semenjak kejadian mengerikan yang terjadi di tempat putranya beristirahat.
"Hey…Apa kau butuh bantuan?"
Yang disapa hanya menoleh sekilas, sedikit mengernyit mendapati seorang pria tampan yang kini menyapa tersenyum padanya. Bertanya-tanya mengapa pria yang memiliki tinggi yang sama dengan suaminya terlihat menyapanya begitu akrab seolah telah mengenal dirinya cukup lama.
"Apa wajahku terlihat seperti membutuhkan uang?" katanya bertanya lalu kembali menatap gedung tua yang merupakan tempatnya dan Kyungsoo, Kris, Tao serta Chanyeol tumbuh bersama. gedung tua yang kini sudah menjadi serpihan karena kebakaran mengerikan yang terjadi beberapa tahun lalu kini tertimpa reruntuhan dinding yang terdapat di atasnya.
"Membutuhkan uang tidak. Membutuhkan bantuan-….Jawabannya Ya."
"Kenapa kau menebak asal seperti itu?"
"Terbaca dari caramu berpakaian namun wajahmu terus menatap kosong melihat bangunan runtuh didepanmu."
Penjelasan pria disampingnya pun membuat Luhan kembali mengernyit, sedikit bertanya-tanya sampai akhirnya merasa kalau pria ini sedikit banyak mengenal dirinya. "Siapa kau? Apa kau mengenalku?"
"Tidak."
"Lalu untuk apa kau disini?"
"Karena kau mendatangi wilayahku. Aku sudah melihatmu datang kesini tiap malam. Lalu sekitar pukul satu dini hari kau akan terdiam cukup lama disana dan berjalan pergi saat fajar tiba." Kata si pria menunjuk tempat dimana Luhan akan menghabiskan sepanjang malam.
"Kau mengikutiku?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kau tahu aku akan berada disana sepanjang malam?"
"Aku sudah bilang ini wilayahku. Kau mendatangi wilayahku hampir satu minggu ini."
Luhan tampak mengernyitkan dahinya, menyadari penampilan si pria dengan jaket hitam casual dengan tanda khusus seperti tato di pergelangan tangannya. Membuat Luhan seketika tersenyum getir lalu kembali menatap ke tempat yang pernah menjadi tempat tinggal untuknya "Kau mafia?" katanya menebak membuat si pria membelalak merasa puas dengan tebakan Luhan.
"Whoa…Darimana kau tahu? Aku yang mengikutimu satu minggu ini tapi kau yang menebak profesiku dengan benar."
"Entahlah. hanya menebak-…sepertinya hidupku di kelilingi oleh mafia." Katanya sedikit tertawa pahit membuat si pria menatapnya sedikit bertanya.
"Kau bilang apa?"
"Aku tidak mengatakan apapun."
Keduanya kini terdiam tak mengeluarkan suara apapun, menikmati dinginnya malam yang sungguh menusuk ke dalam tulang sampai Luhan merasa tak seharusnya dia berdiri dengan orang yang belum ia kenal sebelumnya.
"Apa kau tidak bisa membiarkan aku sendiri?"
"Ini wilayahku." Katanya mengingatkan Luhan membuat si pria cantik merasa menyesal menanggapi celotehan pria tampan disampingnya.
"Baiklah aku pergi."
"Hey-…Setidaknya biarkan aku tahu siapa namamu." Katanya menahan lengan Luhan membuat Luhan dengan cepat melepas pegangan si pria yang baru saja ia kenal
"Untuk apa? Aku rasa ini pertemuan pertama dan terakhir kita."
"Benarkah?-…huh sayang sekali. Padahal aku ingin memberimu pekerjaan."
"Pekerjaan?"
"Ya-…Menjual senjata gelap, menguasai wilayah, dan sebagainya. Itu menyenangkan."
"Menyenangkan? Aku hampir gila karena semua pekerjaan gelap yang kalian lakukan."
Kali ini si pria yang mengernyitkan dahi, merasa Luhan terlalu berani untuk seukuran pria yang baru pertama kali bertemu dengan mafia sepertinya "Kalian?"
"Lupakan. Aku tidak tertarik." Katanya melangkah pergi sebelum kembali berdiri di tempatnya dan menatap si pria bermata elang yang masih menatapnya "Apa aku boleh bertanya sesuatu?" katanya yang entah mengapa menjadi tertarik dengan pertemuannya dengan pria yang baru pertama kali ia temui.
"Karena aku sudah bertanya banyak hal padamu-…Jadi Ya. Kau boleh bertanya banyak padaku."
Luhan kemudian membalikan tubuhnya dan menatap si pria untuk menanyakan hal yang sangat membuatnya ingin tahu "Sudah berapa lama kau menjadi mafia?"
"Hampir seumur hidupku. pekerjaan ini sudah mendarah daging di tubuhku. Dan kau beruntung melihat sisi baikku. Karena biasanya aku sangat mengerikan." Katanya menjelaskan dengan bangga pada Luhan yang sama sekali tak memberikan ekspresi.
"Apa tidak mungkin untukmu berhenti menjadi seorang Mafia?"
Kali ini si pria yang terdiam. Menatap Luhan cukup lama sebelum tertawa renyah dengan tangan mengepal "Aku ingin-…Tapi aku tidak bisa."
Luhan sendiri semakin tertarik dengan percakapan ini. Merasa si pria memiliki kesamaan dengan suaminya yang membuatnya benar-benar ingin menggali lebih dalam "Kenapa?-…Bukankah kau berhak menentukan hidupmu sendiri?"
Si pria kembali tertawa renyah sebelum tatapannya berubah menjadi mengerikan menatap tajam ke arah Luhan saat ini "Di dunia kami ada satu perumpaan yang berbunyi seperti ini Jika kau sudah bergabung dengan dunia gelap maka akan sulit untukmu keluar dan mencari cahaya terang."
"Dan itu bukan hanya perumpamaan-..Itu adalah kenyataan menyakitkan yang harus kau jalani." Katanya memberitahu Luhan yang benar-benar terdiam kali ini.
"Kenapa kau tidak memberontak? Apa kau tidak memiliki seseorang yang kau cintai? Berjuanglah untuk orang yang kau cintai? Jangan menyakitinya hanya karena kau terjerat dalam lingkaran setan ini!"
Pria tampan itu hanya menatap Luhan cukup dalam, sedikit bertanya-tanya kenapa Luhan begitu tertarik dengan hidup yang ia jalani. Membuatnya kembali tersenyum sambil mengangkat tangannya dan menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. "Justru sebaliknya-…Aku sudah menikah."
Deg!
Jantung Luhan terasa begitu meremat saat ini, menyadari kalau cerita yang dimiliki pria didepannya begitu mirip dengan kehidupan pernikahan yang ia jalani. Yang membedakan hanya si pria mungkin yang berada di posisi Sehun-…Sementara dirinya berada di posisi si istri dari pria didepannya.
"Lalu istrimu?-…Apa dia tahu tentang pekerjaanmu?"
"Sepenuhnya tahu walau tak sepenuhnya mendukung. Dan kau tahu kenapa aku begitu berbaik hati menyapa dirimu dan menawarkan pekerjaan untukmu?"
Luhan menggeleng sebagai jawaban membuat si pria kembali tersenyum lembut ke arahnya "Karena kau mirip dengan istriku-…Dia pria cantik yang begitu terlihat mempesona bahkan disaat dirinya sedang terluka."
"Aku tahu kau sedang melarikan diri dari masalah. Sangat terlihat di wajahmu." Katanya menebak membuat Luhan hanya tertunduk mendengarnya.
"Kau benar." Gumamnya memberitahu si pria yang tersenyum menyadari Luhan mulai terbuka padanya.
"Ada yang mengganggumu?"
"Banyak hal menggangguku."
"Kalau begitu hadapi masalahmu. Semakin kau menghindar hanya akan membuatmu semakin tersesat lebih jauh."
Luhan kembali menatap si pria yang entah mengapa menjadi begitu menyenangkan untuknya. Melihatnya cukup lama sampai akhirnya kembali bertanya satu hal terakhir pada pria di depannya "Apa istrimu pernah berkata kasar dan memojokan dirimu karena pekerjaan yang kau lakukan?"
Si pria kembali menganalisa wajah Luhan, sedikit menebak kalau posisi Luhan adalah sama dengan istrinya, namun merasa tak ingin menggali terlalu dalam membuatnya memutuskan menjawab apapun yang Luhan lontarkan "Tidak pernah sama sekali."
Hati Luhan seketika mencelos menyadari perbedaan antara dirinya dan istri dari pria didepannya, sedikit bertanya bagaimana bisa ada seseorang yang berumah tangga dengan seorang Mafia tanpa mengeluh apapun. Kecuali jika istri pria didepannya memiliki pekerjaan yang sama dengan suaminya, maka itu wajar untuk kehidupan yang mereka jalani "Apa istrimu memiliki pekerjaan yang sama denganmu?"
"Tidak. Istriku seorang penulis."
"Tapi bagaimana bisa dia menerimamu secara utuh tanpa cela sedikitpun?"
Si pria hanya tersenyum sebelum kembali berjalan mendekati Luhan secara perlahan "Apa seseorang yang kau cintai memiliki pekerjaan yang sama denganku?" katanya menebak asal, membuat Luhan kembali tertunduk dan diam tak menjawab.
"Kau tahu apa yang selalu istriku katakan padaku?" katanya menambahkan berdiri tepat di depan Luhan membuat Luhan kembali mengangkat wajahnya sedikit penasaran. "Apa?"
"Dia bilang-…Aku mencintaimu sayang, aku tidak membenci apapun yang kau lakukan. Sebaliknya-…Aku mencintai apapun yang kau lakukan. Aku mencintai hidupmu dan aku mencintai pekerjaan yang kau lakukan."
Luhan hanya menatap si pria tak berkedip, merasa cinta yang ia berikan untuk Sehun belum ada apa-apanya dibandingkan dengan cinta yang diberikan oleh istri dari pria asing yang kini berdiri di depannya.
"Aku mencintaimu dan seluruh hidupmu termasuk pekerjaan yang kau lakukan-….Disaat aku merasa tak pantas menjadi pendampingnya. Dia selalu mengatakan hal itu padaku." Katanya menambahkan membuat Luhan merasa sangat iri pada cinta yang dimiliki di pria asing dengan istrinya.
Dan tak lama keduanya terdiam. Membiarkan semilir anging menerpa wajah masing-masing sampai akhirnya si pria asing sedikit mengusap kasar wajahnya "haaah~…Tiba-tiba aku merindukan istriku. Dan semua itu karena dirimu." Katanya sedikit tertawa memegang pundak Luhan "Baiklah aku pergi dulu. Aku akan membiarkanmu sendiri. Tapi jangan terlalu lama berdiri sendiri di tempat ini. Tempat ini sangat berbahaya." Katanya memberitahu Luhan yang kembali mengangkat wajahnya menatap bingung pria didepannya.
"Berbahaya? Dulunya aku tinggal disini. Jadi tidak mungkin tempat ini berbahaya."
"hmm..Pantas saja kau selalu berdiri disini." Gumamnya mengangguk menyadari alasan Luhan selalu berdiri dan memandang kosong gedung runtuh di depannya "Tapi aku serius-..Tempat ini berbahaya. Dan aku masih mencari bajingan yang membakar tempat favoritku."
"Membakar? Bukankah panti asuhanku kebakaran?" katanya bertanya sangat terkejut menyadari kenyataan baru untuknya.
"Tempat ini dibakar dengan keji. Membuat seluruh penghuninya meninggal di kebakaran mengerikan ini. Dan aku bersumpah akan menghabisi bajingan itu."
"Dibakar? Siapa yang melakukannya?"
Si pria itu kembali menatap Luhan cukup lama sampai akhirnya bibirnya menyeringai mengerikan menjawab pertanyaan Luhan "Seseorang bernama Wu Yifan."
Deg!
"tidak mungkin."
Si pria yang menyadari wajah Luhan seketika memucat hanya sedikit tersenyum sambil sedikit menahan lengan Luhan agar Luhan tak terjatuh, membuatnya semakin ingin menemukan Yifan dan tak berniat untuk membiarkannya kembali hidup jika mereka bertemu "Tidak heran jika kau mengenalnya. Aku dengar dia juga tinggal di tempat ini sewaktu kecil. Dan tenang saja aku akan membalaskan dendam kita padanya." Katanya membantu Luhan berdiri dan setelah memastikan Luhan baik-baik saja dia mulai mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Luhan.
"Jung Yunho." Katanya berusaha mencairkan suasana namun gagal karena wajah Luhan masih terlihat memucat "Baiklah. Hanya dengarkan ucapanku untuk tidak berdiri sendiri disini sendiri. Aku pergi." katanya memegang pundak Luhan dan tak lama berjalan meninggalkan Luhan yang masih terdiam dan begitu marah tak menyangka Kris akan berbuat sejauh ini pada tempat tinggal mereka sewaktu kecil
"Yunho-ssi."
Merasa namanya dipanggil membuat si pemilik nama mengentikan langkahnya, sedikit menoleh dan menatap Luhan yang seluruh pandangannya berubah menjadi begitu gelap dan terlihat marah "Apa aku masih bisa bekerja denganmu?"
Pria bernama lengakap Jung Yunho itu pun hanya tersenyum sebelum mengangguk dengan cepat "Tentu saja-…Dan namamu adalah?"
"Oh Lu-….Lu Han-…Namaku Luhan."
Yunho hanya mengangguk kecil sebelum kembali berjalan meninggalkan Luhan "Baiklah Luhan. Ikuti aku."
Luhan sendiri masih diam di tempatnya cukup lama. Merasa sedikit ragu sebelum kedua kakinya akhirnya melangkah mengikuti pria asing yang baru saja ia temui. Luhan memiliki dua alasan mengapa akhirnya dia memutuskan mengikuti Yunho. Pertama karena Kris, kedua karena dia mengingat perkataan istri Yunho yang mengatakan Aku mencintaimu dan seluruh hidupmu termasuk pekerjaan yang kau lakukan. Membuat Luhan ingin mencoba masuk ke dalam "dunia" yang suaminya jalani.
Dia tahu ini adalah kesalahan. Tapi saat ini dia bukan siapa-siapa. Bukan seorang dokter maupun seorang istri. Dia hanya Luhan yang sedang mencari jawaban kemana dirinya harus melangkah setelah ini. membuatnya memutuskan untuk menjadi berbeda dengan cara yang jelas adalah berbahaya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Blam…..!
"Ayo masuk. Aku akan mengenalkanmu pada seseorang."
Luhan yang selama perjalanan hanya diam tak berbicara sedikit merasa asing saat Yunho membawanya ke tempat yang ia tebak adalah sebuah gudang yang dirubah menjadi markas dengan seluruh anak buah bersenjata yang berjaga di depannya. Membuatnya hanya tersenyum getir menyadari semua ini tak berbeda dengan yang dilakukan suaminya.
"Luhan ayo cepat."
Luhan pun sedikit tersadar dari lamunannya. Membuat dirinya segera mengangguk dan tak lama mengikuti kemana Yunho pergi.
"Siapa dia?"
Dan baru saja melangkah masuk ke dalam markas Yunho, Luhan harus disambut dengan suara berat mengerikan yang bertanya tentang dirinya. "Yunho aku bertanya." Si pria yang memiliki postur tubuh lebih tinggi dan lebih mengerikan dengan Yunho datang mendekatinya, membuat Luhan sedikit memundurkan langkahnya merasa sangat takut saat ini.
"Dia anggota baru kita. Namanya Luhan."
Dan entah mengapa si pria mengerikan ini semakin tertarik mendengar pernyataan Yunho. Membuatnya semakin mendekati Luhan dan sedikit tertegun mengagumi wajah sempurna yang dimiliki si pria mungil walau ketakutan jelas terlihat di wajah cantiknya "Aku rasa kau salah tempat. Cepat pergi sebelum kau terlibat terlalu jauh." Katanya mengoreksi kesempurnaan wajah Luhan dengan tangannya.
"Jangan sentuh aku!"
Merasa mendapatkan perlakuan yang tak seharusnya, membuat Luhan menggeram marah dan menghempas kasar tangan pria di depannya. Menelan semua rasa takutnya agar tidak diremehkan oleh pria mengerikan yang sedari tadi terus menatapnya.
"Sialan! Kau pikir siapa dirimu?! Berani sekali kau-…"
"wow…Wow! Kau sudah melewati batas bro. tahan dirimu. Pria ini bersamaku dan tak ada yang bisa mengusirnya kecuali diriku. Jadi jaga jarak dengan anggota baru kita."
"Maaf membuatmu takut Luhan. Dia sepupuku-… Kim Woobin. Kami berdua yang memimpin disini. Tapi dibanding diriku, dia memang lebih mengerikan dan tempramen." Yunho yang kini berdiri di tengah-tengah Luhan dan Woobin, sedikit menoleh dan berbisik memberitahu Luhan. Membuat Luhan sedikit mengangguk mengerti ucapan Yunho tentan sepupunya.
"cih! Bisa apa pria sepertinya?"
Luhan sendiri berpikir keras tentang keahliannya di dunia menyeramkan seperti ini. Seolah tak ingin kalah langkah membuatnya segera mengeluarkan suara untuk menginterupsi keraguan sepupu Yuhho kali ini "Aku bisa menembak." Katanya berteriak membuat kedua sepupu itu kembali melihat dirinya yang terlihat seperti orang bodoh saat ini.
"Pernyataan macam apa itu." Gumam Woobin sedikit tertawa membuat Luhan meremang seketika mendengar suara tawanya. "Kau bergabung dengan Mafia sekelas kami. Jadi tentu saja kau harus bisa menembak. Pikirmu kami mau repot-repot menolong pria lemah sepertimu!"
"Aku tidak lemah sialan."
Dan keberanian Luhan sedikit banyak menarik perhatian pria bernama Woobin ini, membuat Woobin kembali menyeringai dan tak lama berjalan melewati sepupunya untuk bertatapan langsung dengan Luhan "Buktikan."
"ah-….Tapi sebelum kau membuktikannya. Aku juga membawa anggota baru untuk kita. Aku rasa kita akan tahu siapa yang terbaik." Katanya memberitahu Yunho membuat Luhan semakin tertantang karena pernyataan sepupu Yunho.
"Benarkah? Mana orang yang kau bawa."
"Kami tiba satu jam yang lalu. Mungkin mereka sedang melatihnya. Sebentar aku panggil-….DO Kyungsoo!"
Mendengar nama Kyungsoo disebut, membuat Luhan secara refleks menoleh. Berharap jika DO Kyungsoo yang dipanggil Woobin bukanlah DO Kyungsoo adiknya.
"Kyungie.."
Dan suara Luhan seolah tertahan mendapati Kyungsoo yang dipanggil Woobin adalah Kyungsoo yang sama dengan Kyungsoo nya. Membuat rona memucat sungguh terlihat di wajah Luhan saat ini.
Kyungsoo sendiri hanya menatap Luhan cukup lama, seolah tahu akan kedatangan Luhan hari ini membuat tatapannya terlihat seperti memelas memandang kakaknya.
"Kau mengenalnya?"
Luhan mengabaikan pertanyaan Yunho, kakinya berjalan cepat mendekati Kyungsoo dan
Sret..!
Luhan menarik kasar lengan Kyungsoo membawa adiknya ke tempat sepi tanpa banyak telinga yang akan mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Apa yang kau lakukan disini?" katanya mendesis sedikit menghempas kasar lengan Kyungsoo
"Aku yang harusnya bertanya padamu. Sedang apa kau disini?"
"Kyungsoo aku bertanya padamu. Jadi jangan mengalihkan pembicaraan!"
"Aku disini karena kau disini hyung!"
Luhan sedikit menaikkan kedua alisnya karena dua hal. Pertama merasa sangat familiar mendengar Kyungsoo memanggilnya hyung dan kedua karena pernyataan Kyungsoo yang mengatakan keberadaan dirinya disini karena dirinya.
"Apa maksudmu?"
"Hyung! Kenapa kau mudah sekali menyetujui bergabung dengannya? Dia pintar berbicara atau memang kau yang terlalu frustasi?!"
"Kyungie-..."
"Apa kau tahu kalau satu minggu ini pria itu memang mengikutimu. Dia mengikuti segala gerak gerikmu bahkan sampai ke panti asuhan kita. Dan saat merasa yakin kau tidak akan menolak tawarannya. Dia mendekatimu dan memintamu untuk bergabung karena mereka kekurangan orang untuk pekerjaan kotor mereka!"
"Kau tahu selama ini aku berada disini?"
Kyungsoo sendiri sedikit terdiam sebelum akhirnya memberanikan diri menatap Luhan yang terlihat bertanya "Ya aku tahu-...tepat setelah kepulanganmu dari Gangneun. Aku mengikuti kemanapun kau pergi. Tapi aku datang terlambat malam ini. Harusnya aku lebih awal menghampirimu sebelum Yunho mendekatimu. Harusnya aku datang lebih awal untuk mencegah pria itu mendekatimu dengan mudah." Katanya sedikit menggeram membuat Luhan semakin tak mengerti posisinya ada dimana saat ini.
"Lalu kenapa kau bergabung dengan pria mengerikan itu?"
"Itu karena aku yakin kau akan menyetujui bergabung dengan Yunho. Aku tahu mereka selalu mencari orang baru untuk dijadikan umpan. Dan anggap saja kita umpan baru untuk mereka."
"Aku tidak mengerti."
"Hyung percayalah padaku. Siapapun mereka. Mereka hanya memanfaatkan kita. Dan semua yang mereka lakukan hanya untuk membalas kematian adik mereka."
"Adik mereka? Apa hubungannya dengan kita?"
"Adik mereka meninggal di-..."
"Maaf mengganggu waktu kalian berdua. Tapi waktunya mencoba kemampuan kalian sebagai anggota baru kami."
Baik Woobin maupun Yunho masing-masing menginterupsi Luhan dan Kyungsoo. Membuat keduanya sedikit menoleh dan memutuskan untuk diam sejenak.
"Ikut kami."
Dan seolah tak bisa lagi keluar dari keputusan mereka membuat baik Kyungsoo maupun Luhan hanya bisa mengikuti kemana Yunho dan Woobin membawa mereka dan tak lama
Blam…!
Keduanya hanya bisa mengikuti kemanapun Yunho dan Woobin membawa mereka, sedikit berdebar saat Yunho dan Woobin membawa mereka ke tempat yang dibuat seperti arena tembak lengkap dengan papan tembaknya.
"Pakai pelindung telinga kalian dan segera tempati tempat masing-masing."
Mengingat keadaan Kyungsoo masih jauh dari kata baik. Luhan pun segera menoleh dan memperhatikan adiknya yang sedang menjalani masa penyembuhan dan semua ini, baik pistol yang berada di depan mereka, suasana maupun orang-orang yang kini mengitari mereka sudah pasti membuat Kyungsoo ketakutan.
Katakanlah Luhan sudah terbiasa dengan pistol, pisau atau bahan berbahaya lainnya. Tapi bagaimana dengan Kyungsoo?-...Adik kecilnya hanya pria normal yang menjalani hidup dengan tenang bukan dengan bahaya seperti ini.
"Sekarang tembakan pistol kalian mengenai target yang berada di tengah. Aku tidak ingin tembakan kalian meleset terlalu jauh."
"Apa aku boleh menggantikan posisi Kyungsoo? Dia sedang sakit."
"Dalam aba-abaku."
Dan mengabaikan permintaan Luhan, Woobin tetap menghitung waktunya dan memberi peringatan agar Luhan segera fokus karena sepertinya Kyungsoo sudah bersiap. "Satu.."
"Tuan Kim. Biarkan aku mengambil posisi adikku. Dia ketakutan."
"Dua.."
"sial!'
"Ti-..."
DOR! DOR! DOR!
Ketiga orang yang berada di arena tembak itu sedikit tercengang melihat Kyungsoo menembakan senjatanya. Bukan hanya karena hitungan Woobin yang bahkan belum mencapai angka tiga, namun hasil tembakan dari Kyungsoo nyaris sempurna dan hanya meleset sedikit dari target.
"Aku selesai." Katanya membuka pelindung telinga dan pergi meninggalkan ketiga orang yang masih menatapnya tak percaya. Dan untuk Luhan, dia sedikit bertanya-tanya darimana Kyungsoo mendapatkan kemampuan menembak hampir sempurna seperti yang ia lakukan belum lama tadi. Membuatnya begitu cemas dan menebak apapun yang dialami adiknya-...Pasti bukanlah sesuatu yang baik.
"Giliranmu."
Suara Woobin kembali menginterupsi, membuat Luhan sedikit ragu sebelum akhirnya memakai pelindung telinganya. Mencoba untuk fokus sambil mengarahkan senjatanyan dan
DOR! DOR! DOR!
Dan hasil tembakan Luhan jauh berada di bawah Kyungsoo. Jika perbandingan hasil tembakan Kyungsoo hanya berjarak beberapa milimeter, maka hasil tembakan Luhan berjarak terlalu jauh bahkan hampir sepuluh centimeter dari target.
"Ck. Lihat pria cantik itu! Dia bahkan tak mengenai satupun target. Milikku jelas lebih berpengalaman dan bisa dibanggakan." Ujar Woobin meremehkan kemampuan Luhan, membuat Luhan sedikit menggeram tak mengerti mengapa pria disampingnya begitu membenci dirinya.
"Luhan kau tetap diterima. Sekarang kau boleh istirahat."
Mendengar penuturan Yunho membuat Luhan mengangguk mengerti, karena daripada meladeni cemohan Woobin, Luhan lebih memilih berbicara dengan Kyungsoo "Aku pergi Yunho. Terimakasih." Luhan melepas cepat pelindung telinganya dan tak lama bergegas pergi menyusul kemana Kyungsoo pergi. Meninggalkan kedua sepupu yang masih menatap tak berkedip kepergian Luhan.
"Hey yun...Aku merasa familiar dengan dua orang itu. Terutama Luhan-...Aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat."
Yunho yang sedang bersiap untuk menembak pun sedikit mengangguk membenarkan ucapan Woobin, masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri dimana dia pernah melihat Luhan "Selama kita mengawasi mereka. Aku rasa semua akan baik-baik saja." Katanya memakai pelindung telinganya dan
DOR! DOR!DOR!
Ketiga peluru yang Yunho tembakan tepat mengenai sasaran tanpa meleset sedikit pun, membuatnya tersenyum puas dan membuka pelindung telinganya untuk memberitahu sesuatu pada sepupunya.
"Aku dengar Presdir Park datang ke Gangneun belum lama dan Sehun bertengkar hebat karena Soojung."
"Soojung? Krystal maksudmu?"
"Ya...Perempuan mengerikan itu. Aku dengar dia bereksperimen dengan nyawa anak kecil berusia enam sampai lima belas tahun. Namun semua percobaan gelapnya terungkap membuatnya harus mendekam di penjara saat ini."
"Terungkap? Apa Sehun yang melakukannya."
Yunho mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh, sedikit melepas peralatan menembaknya dan mengambil bir dari lemari pendingin yang tersedia di ruang latihan menembak mereka "Bukan Sehun." katanya membuka kaleng bir lalu meminumnya dalam sekali tenggak.
"Lalu siapa?"
"Istrinya yang membocorkan semua bisnis yang dilakukan Presdir Park di Sejong Hospital."
"Si dokter itu?"
"Ya. Aku sama sekali tidak mengenal istri Sehun. Tapi aku rasa dia orang yang sangat berani." Gumamnya terkekeh dan kembali menenggak isi kaleng birnya.
"Sama seperti Jaejoong."
"Ya kau benar sama seperti Jongie. Dan Jika Sehun rela melakukan apapun untuk istrinya. Maka aku akan melakukan hal yang sama untuk melindungi istriku. Siapa pun termasuk direktur Park tidak akan bisa menyentuh Jongieku."
Woobin yang memang belum mempunyai pasangan pun hanya tersenyum iri menyadari kedua pria yang dibesarkan bersamanya sudah memiliki belahan jiwa masing-masing. Bahkan keduanya rela mati untuk pria cantik yang telah dinikahi oleh Yunho maupun Sehun.
Ketiganya memang dibesarkan oleh Youngmin, namun Yunho dan Woobin sama sekali tidak menyukai kehadiran Sehun si anak emas yang selalu dibanggkan oleh Youngmin. Membuat keduanya muak bekerja dibawah perintah Sehun dan memutuskan untuk menjalankan bisnis mereka sendiri tanpa campur tangan Sehun dan Youngmin. Namun penghasilan yang mereka dapatkan, akan tetap diberikan tiga puluh persen pada Youngmin. Membuat kekayaan Youngmin semakin menggila sementara baik Sehun, Yunho maupun Woobin-...Ketiganya harus terus memutar otak agar penghasilan terus masuk ke dalam rekening mereka jika tidak ingin Youngmin datang mengganggu.
"Aku rasa Sehun dalam masalah besar saat ini." timpal Woobin yang juga mengambil kaleng bir nya dan menenggak cepat isinya.
"Aku rasa istrinya yang berada dalam masalah besar."
"Kau menjadi sensitif dengan perasaan semenjak menikah." Yunho pun hanya sedikit terkekeh mendengar penuturan Woobin yang sepenuhnya benar "Menikahlah dan mencintai sebanyak yang kau bisa. Dari situ kau akan tahu bahwa kebahagiaan orang yang kau cintai di atas segalanya."
"Dan bagaimana jika Sehun datang meminta bantuan kita?"
"Aku dengan senang hati akan membantu. Tapi ada satu syarat tentu saja."
"Katakan."
"Aku ingin dia berlutut memohon pertolongan padaku."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa hari kemudian...
Tap..tap..tap
Terdengar suara langkah kaki berlari menuruni tangga di sepanjang koridor rumah sakit, menampilkan seorang dokter spesialis jiwa yang terengah menyambut kedatanga sepupunya yang baru saja kembali dari Gangneun setelah mengurus masalah pelik di Sejong Hospital.
Pria yang merupakan orang nomor tiga paling berpengaruh di Seoul Hospital itu terus berlari mencari keberadaan sepupunya yang sudah tiba di rumah sakit. Sedikit menyunggingkan senyum melihat sepupunya datang dan segera berlari menghampiri orang nomor dua yang sangat disegani di rumah sakit tempatnya bekerja.
"Baek..!"
Yang dipanggil namanya hanya sedikit menoleh lalu kemudian memutuskan untuk kembali berjalan saat si sepupu memanggilnya berteriak.
"Astaga Byun Baekhyun. Aku memanggilmu!"
Kim Junmyeon –yang tak lain sepupu Baekhyun- tampak menggeram kesal karena si dokter spesialis anak ini hanya terus berjalan saat dia memanggilnya "Ada apa hyung? Aku juga merindukanmu, tapi aku lelah. Nanti saja kita bicara, yang jelas kita kalah karena bukti yang kita miliki kurang kuat untuk membuat si dokter sialan itu mendekam di penjara."
Pria yang biasa disapa Suho itu pun hanya mengernyitkan dahinya tak mengerti celotehan Baekhyun membuatnya harus kembali menghela dalam nafasnya menebak dirinya dan Baekhyun sudah miss communication sejak awal. "Aku istirahat di mansion dulu. sampai nanti." Katanya kembali melenggang pergi sebelum
"Luhan mengundurkan diri dari rumah sakit kita."
Sebelum langkahnya terhenti mendengar penuturan konyol sang sepupu. Merasa begitu mual dan bersumpah tidak akan memaafkan Suho jika memberikan berita palsu padanya "Kau bicara apa?" katanya membalikan tubuh dan menatap Suho yang kini menunjukkan selembar kertas pada Baekhyun.
"Aku menemukan ini di ruangan direktur Byun."
"Apa itu?"
"Luhan menandatangani surat pengunduran dirinya sebagai dokter bedah di Seoul Hospital. Dan setelah aku lihat, surat ini dibuat hampir satu minggu lamanya."
Baekhyun berjalan mendekati Suho dan
Sret..!
Dia mengambil paksa kertas tersebut lalu membacanya perlahan, dan semakin ke bawah tulisan yang ia baca semakin membuatnya marah. Secara refleks membuatnya meremat kertas tersebut dan menatap marah pada Suho "Apa ayahku sudah membacanya?"
"Beruntung direktur Byun sedang melakukan perjalanan seminar di Jepang selama tiga bulan kedepan. Jadi dia belum melihatnya."
"Kalau begitu anggap surat pengunduran Luhan tidak pernah ada. Dia tetap doker bedah di Seoul Hospital yang sedang mengambil cuti. Kau dengar kan hyung?"
"Ya tentu saja aku dengar."
"Bagus." Katanya meremat semakin kasar kertas pengunduran Luhan lalu tak lama kembali pergi meninggalkan Suho.
"Kau mau kemana Baek?"
"Menghubungi Sehun-...Aku rasa dia tahu kemana Luhan pergi!"
.
Tak lama kemudian...
Drrt...drrt..
Pria yang masih mencari keberadaan istrinya cukup tersentak mendengar ponselnya bergetar. Berharap jika Luhan yang menghubunginya atau siapa pun yang bisa memberitahu dimana keberadaan istrinya yang menghilang tanpa jejak saat ini.
Sedikit berlari menuju meja kerjanya dan menggeram kesal karena nama dokter Byun yang terpampang di layar depan ponselnya. Sehun sendiri merasa enggan untuk mengangkat panggilan dari sahabat istrinya. Merasa bersalah karena dirinya malah membantu melepaskan Soojung dari penjara dengan bukti-bukti palsu yang sengaja ia berikan pada pihak kepolisian.
Sehun masih memandang ponselnya yang terus bergetar, berperang batin dengan dirinya sendiri sampai akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan Baekhyun yang mungkin berkaitan dengan Luhan.
"Sehun?!"
"Ya ini aku. Ada apa dokter Byun?"
"cih. Aku ingin sekali menamparmu asal kau tahu. Bisa-bisanya kau membebaskan wanita yang jelas membunuh anak-anak seusia putramu."
Dan tebakan Sehun sepenuhnya benar mengenai maksud dan tujuan Baekhyun menghubunginya, membuat dirinya sedikit memijat kasar keningnya sebelum kembali menjawab ucapan Baekhyun "Aku tidak punya waktu meladeni kemarahanmu. Aku-..."
"Kau pikir aku sudi menghubungimu kalau bukan karena Luhan?!"
Mendengar nama istrinya disebut membuat Sehun sedikit merasa senang dan berharap Baekhyun memberi kabar gembira untuknya "Ada apa dengan Luhan?"
"Kita perlu bicara. Cepat datang ke rumah sakit. Ini penting!"
"Baiklah. Aku segera datang."
Pip..!
Dan setelahnya Sehun segera mematikan hubungannya dengan Baekhyun, mengambil cepat kunci mobilnya dan
Brrmm..!
Sehun menjalankan mobilnya dengan cepat. Benar-benar berharap jika Baekhyun memberitahu sesuatu tentang keberadaan Luhan yang jelas sedang bersembunyi darinya.
"sial!"
Tin!...Tin!...Tin!
Selama di perjalanan ke rumah sakit hanya umpatan dan makian kasar yang terlontar di bibir Sehun. Merasa begitu kesal karena tak biasanya jalanan akan padat seperti malam ini membuatnya terus menerus membunyikan klakson membuat beberapa pengemudi lain menatap marah padanya.
Tin!...Tin!...Tin!
Sehun masih terus membunyikan klaksonnya. Mengabaikan seluruh umpatan yang diberikan untuknya sampai
"DIAM!"
Tekanan tangannya di klakson mobil melemah karena melihat sesuatu yang membuatnya sedikit tertegun.
"Woobin?"
Dari arah berlawanan, Sehun bersumpah mendengar suara teriakan yang bahkan terdengar dalam keadaan lalu lintas padat seperti malan ini. Bukan karena suara teriakan dari mobil yang berasal dari arah berlawanan yang mengganggu Sehun. Tapi seseorang –tidak- dua orang yang berada di mobil itu. Dia bersumpah melihat Woobin mengemudikan mobilnya. Membuatnya menoleh ke belakang dan memperhatikan mobilnya yang baru saja berpapasan dengan mobil Woobin.
Tapi bukan Woobin yang membuatnya berdebar, melainkan pria yang berada di bangku samping kemudi yang ia yakini adalah istrinya. Dahinya mengernyit karena melihat sekilas si pria yang ia yakini adalah Woobin begitu pucat dengan tangan yang ia tebak berlumuran darah. Membuat jantungnya semakin cepat memacu takut jika penglihatannya tidak salah dan Luhan benar-benar berada di mobil yang baru saja berpapasan dengannya.
Tin!...Tin!...Tin!
Kali ini Sehun yang dibuat terkejut karena beberapa mobil menekan marah klakson nya membuatnya sedikit tertawa dan menyadari kemungkinan Luhan bersama Woobin maupun Yunho sekali pun hampir tidak mungkin mengingat mereka tidak saling mengenal.
Sehun pun kembali menjalankan mobilnya, namun kali ini tidak terburu-buru karena sedikit banyak bayangan Woobin dan istrinya sangat mengganggu. "Aku harus memastikan." Katanya bergumam pelan dan tak lama mengambil ponselnya untuk segera menghubungi Kai.
"Bos?"
"Kai... Aku ingin kau mencari tahu sebanyak mungkin tentang Yunho dan Woobin. Dan kau harus memastikan sendiri kalau Luhan tidak bersama mereka. Apa kau mengerti?"
"Direktur Jung dan Kim? Kenapa tiba-tiba bos?"
"Hanya lakukan yang aku perintahkan. Oke?"
"Baik bos. Aku akan memastikan sendiri-...Aku akan memberitahumu secepatnya."
"Bagus." Katanya merasa sedikit lega dan
Pip..!
Sehun memutuskan untuk tidak terlalu membuat pikiran baru sementara pikirannya tentang Luhan masih sangat membuatnya hilang arah. Masih berharap jika Baekhyun memberi kabar yang sedikit membuatnya lebih tenang dan tak ketakutan seperti saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hey kau terluka! Cepat hentikan mobilnya. Aku bisa mengobati pendarahan di perutmu."
"ck berisik! Pikirmu darimana aku mendapatkan luka tusukan ini. Demi Tuhan kau hanya perlu menusukkan pisau itu ke dadanya dan dia akan mati. Tapi kau malah diam dan membuatku harus bertindak."
Luhan dan Woobin baru saja melakukan transaksi pertama mereka sebagai partner tak jauh dari markas mereka berada. Dan semua transaksi mudah itu seketika gagal karena Luhan sama sekali tak bisa membunuh pria yang jelas-jelas bisa membuatnya terluka di gudang tua tempat mereka melakukan transaksi.
Membuat Woobin begitu marah dan terpaksa harus menerima luka tusukan karena kecerobohan Luhan yang sama sekali tak bisa melakukan apapun di lapangan "Aku mengaku salah. Semua terjadi begitu cepat dan aku ketakutan. Jadi biarkan aku mengobatimu. Aku mohon."
"APA KAU BISA DIAM? KAU MEMBUAT PENGLIHATANKU SEMAKIN KABUR!"
Luhan sedikit tertegun menyadari wajah Woobin yang semakin memucat, membuatnya sedikit takut karena saat ini kecepatan mobil yang dijalankan Woobin sangat tinggi dengan kesadaran pria disampingnya yang terlihat tak fokus karena mengeluarkan banyak darah.
"Kalau kau seperti ini kita berdua bisa mati. Cepat hentikan mobilnya!"
"Kenapa? Kau takut mati huh?"
Luhan tertawa geram mendengar penuturan Woobin, membuatnya sedikit marah lalu dengan paksa merebut kemudi mobil membuat laju mobil mereka tak beraturan "APA YANG KAU LAKUKAN?!"
"Ya aku takut mati-...AKU TIDAK BOLEH MATI. AKU TIDAK MAU MEMBUAT SESEORANG TERLUKA KARENA KEMATIANKU!"
Woobin yang sudah berada pada ambang batas kesadarannya pun hanya tersenyum mendengar teriakan Luhan, diam-diam kembali mengagumi wajah Luhan yang nyaris tanpa cela sebelum
Ckit..!
Luhan berhasil menginjak rem mobilnya, membuat mobilnya Woobin seketika berhenti di pinggiran jalan. "Apa yang sebenarnya kau lakukan?"
"Membuatmu bernafas lebih lama." Katanya menggeram dan menetralkan nafasnya sejenak sebelum
Blam...!
Luhan membuka cepat pintu mobilnya dan membuka pintu belakang mobilnya. Mengambil satu peralatan kotak obat yang selalu berada di tasnya sebelum berlari mengitari mobil untuk mengeluarkan Woobin dari mobil.
"Tahan sebentar."
Katanya memberi instruksi dan menyenderkan Woobin di balik pohon yang berada di pinggir jalan. Sedikit mencari posisi nyaman untuk Woobin dan
Sret...!
Luhan merobek paksa kemeja putih yang digunakan Woobin. Sedikit mempelajari luka tusuk pria asing yang baru dikenalnya selama tiga hari dan tak lama bernafas lega karena lukanya tidak terlalu dalam "Ini akan sedikit sakit. Tahan sebentar."
"arghh...!"
Woobin meringis saat Luhan menyiramkan alkohol ke lukanya. Membuatnya sedikit berjengit merasa Luhan terlalu kejam mengobatinya "Kau ingin membunuhku HAH"
"Kalau kau berteriak lukanya semakin membuka. Jadi diam dan jangan berbicara!"
Instingnya sebagai dokter pun kembali bekerja, kerinduannya di ruang bedah sedikit terobati karena saat ini dia sedang menjahit luka kecil yang dimilik Woobin "Kenapa tidak sakit lagi?"
"Aku memberimu obat bius. Tenang saja hanya bertahan sepuluh menit. Setelahnya kau akan merasa sangat kesakitan dengan benang jahit ini."
"cih. Kau bisa mengancamku sekarang."
"Aku bahkan bisa membuatmu sekarat saat ini."
"Kau tidak akan melakukannya."
"Ya benar. Aku tidak akan melakukannya."
"Dan kenapa kau tidak melakukannya?"
"Karena aku seorang dok-...hah lupakan. Sudah selesai." Katanya menarik jahitan terakhir di perut Woobin dan menunjukkan hasil jahitan yang begitu rapih walau dengan peralatan sederhana yang dimiliki Luhan saat ini.
"menjijikan sekali!"
"Terimakasih kembali." Gumam Luhan memasukkan peralatan sederhananya untuk dimasukkan kembali ke dalam tasnya. Dan setelah selesai dengan peralatannya dia kembali menghampiri Woobin untuk membantunya berdiri.
"Aku bisa sendiri."
Woobin yang menolak pun hanya kembali terjatuh duduk karena terlalu memaksakan diri, membuat Luhan menghela dalam nafasnya dan memaksa membantu Woobin untuk berdiri "Aku tidak pernah sesabar ini pada seseorang yang keras kepala. Jadi jangan pancing amarahku." Katanya memperingatkan membuat entah kenapa jantung Woobin berdebar kencang karena saat ini tangannya berada di pundak Luhan dengan tangan Luhan yang melingkar di pinggangnya.
"Aku yang mengemudi." Gumamnya membantu Woobin duduk dan tak lama kembali mengitari mobil untuk mengambil alih bangku kemudi.
"Apa sakit?" katanya kembali bertanya menyadari Woobin hanya terdiam saat ini.
"Tidak."
"Baguslah. Kau harus segera minum obat dan beristirahat." Katanya memberitahu dan tak lama menyalakan mesin mobil Woobin.
"Apa kau selalu baik pada semua orang?"
"eh?'"
"Lupakan. Hanya bertanya."
Luhan hanya tertawa sebelum menyadari warna muka Woobin berubah menjadi merah karena merona malu "Aku hanya selalu baik pada satu orang."
"Siapa?"
Luhan kembali menatap Woobin, sedikit tersenyum membayangkan wajah Sehun sebelum akhirnya kembali menatap ke depan "Suamiku." katanya memberitahu Woobin dan tak lama
Brrmmm...!
Luhan menjalankan mobil Woobin-...terlalu fokus menyetir sehingga tak menyadari kalau saat ini Woobin sedang memandangnya dengan tangan yang mengepal erat.
Woobin seharusnya tahu pria seperti Luhan pastilah sudah ada yang memiliki, membuat hatinya sedikit mencelos menyadari kesempatan untuk mengenal Luhan lebih dekat menjadi hampir mustahil. Pria tampan itu pun hanya terus memperhatikan Luhan.
Dan sialnya-...Semakin dia memperhatikan Luhan, dia tahu ada sesuatu pada diri Luhan yang terus membuat jantungnya berdebar cepat. Dan orang-orang biasa menyebutnya dengan jatuh cinta
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Apa kau bilang? Mengundurkan diri?"
"Ya. Ini surat yang ia tanda tangani. Disini jelas tertulis kalau Luhan mengundurkan diri."
"Tapi bagaimana bisa? Dia sangat menyukai pekerjaannya? Dia bahkan lebih memilih bekerja dan menolong banyak orang daripada harus tinggal di apartemen menemaniku."
"Kau melukai harga dirinya sebagai dokter. Jadi aku rasa ini adalah keputusan terburuk yang pernah Luhan ambil!"
Hati Sehun seolah diremat secara kuat menyadari kenyataan Luhan telah memutuskan semuanya terlalu jauh seorang diri. Membuatnya sedikit merasa marah namun kembali harus menelannya secara bulat mengingat dia adalah satu-satunya alasan Luhan membuat keputusan mengerikan yang ia buat. Masih sedikit tak percaya dan perlahan mengambil kertas yang sudah diremat tak berbentuk oleh Baekhyun.
"Aku tahu aku salah-..Tapi kenapa dia sejauh ini. Aku harus bagaimana Baek?"
"Cari dia dan bawa dia padaku. Selebihnya aku yang akan berbicara dengannya."
Sehun sangat berharap dia mengetahui dimana Luhan saat ini, berniat membawanya pada Baekhyun agar tak membuat keputusan mengerikan seperti ini. Pria tampan itu sedikit lama menatap sahabat istrinya dan tak lama tertawa lirih sebelum menyembunyikan wajahnya di antara meja kerja Baekhyun "Aku tidak tahu dia dimana."
"Apa maksudmu?"
Kali ini Baekhyun yang terkejut, dia mengira Sehun akan langsung mengatakan iya dan tak lama membawa Luhan ke depannya. Bukan seperti ini, terlihat hancur dan begitu frustasi memberitahu bahwa dia sama sekali tak tahu dimana istrinya berada.
"Dia pergi-...Aku tahu dia akan pergi. Tapi aku tidak tahu kemampuannya bersembunyi dariku sudah berada di atas rata-rata sekarang. Aku sama sekali tak bisa menjangkaunya Baek. Aku bingung dan takut. Aku bahkan merindukannya."
Baekhyun sendiri tak tahu harus berbicara apa, membuatnya kembali terdiam sementara Sehun terus bertanya hal yang sama sekali tak ia tahu jawabannya.
"Aku harus bagaimana Baek? KATAKAN PADAKU!"
Baekhyun kembali diam tak berbicara. Hanya menikmat kehancuran Sehun untuk dijadikan cerita memilukan jika suatu saat Luhan bertanya padanya. Ini kali pertamanya dia bicara empat mata dengan suami sahabatnya. Pria yang dikenal mengerikan dan terlampau menakutkan ini ternyata memiliki hati dan perasaan cinta yang begitu tulus pada sahabatnya. Membuatnya sedikit iba namun lagi-...Semua ini hanya masalah waktu sampai keduanya kembali bertemu.
Drtt..drtt...
Disaat Sehun masih terisak frustasi, rasa gundahnya terganggu dengan getaran ponselnya yang memang sedari tadi berbunyi, merasa begitu hampa karena Baekhyun sama sekali tak memberikan berita bagus untuknya dan tak berniat untuk menjawab apapun saat ini.
"Angkatlah. Kau tahu semua kemungkinan bisa terjadi."
Sehun masih diam tak bergeming, namun mencoba mendengarkan saran Baekhyun membuatnya diam-diam mengambil ponselnya dan mendapati nama Kai tertera di layarnya. Sehun bisa saja kembali mengabaikan panggilan dari Kai, namun seperti yang Baekhyun ucapkan semua kemungkinan bisa terjadi membuat jemarinya menggeser tombol slide dan
"BOS!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Blam...!
"Selamat malam direktur Oh."
Yang disapa hanya terus masuk kedalam gedung tua yang berada tak jauh dari panti asuhan istrinya dibesarkan. Merasa begitu marah dan dipermainkan saat Kai memberitahunya bahwa benar nama Luhan masuk kedalam daftar anggota tetap anak buah Yunho dan Woobin.
"JUNG YUNHO-...KIM WOOBIN! CEPAT KELUAR!"
"Direktur Oh-..."
Dan saat anak buah Yunho serta Woobin menghalaunya, maka saat itu pula keempat kaki tangan Sehun beserta anak buahnya datang untuk menjauhkan jangkauan anak buah Yunho dan Woobin.
"MINGGIR KALIAN!"
Sehun kembali menerobos pertahanan anak buah Yunho untuk segera bertemu dengan dua pria yang dibesarkan menjadi mosnster seperti dirinya oleh Youngmin "JUNG YUNHO-..KIM WOO-.."
"wow...Aku pikir aku bermimpi mendengar suaramu. Ternyata memang kau Oh Sehun. Ada apa kau datang mencariku?"
"Mana istriku?"
Yunho yang sama sekali tak tahu maksud kedatangan Sehun malan ini pun sedikit mengernyit, menatap Sehun dengan bingung sebelum perlahan menuruni anak tangga untuk berbicara lebih dekat dengan seseorang yang pernah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Istrimu? Siapa istrimu? Kenapa kau mencarinya kesini? Mungkin kau salah alamat. Bukankah belum lama istrimu membuat masalah dengan Presdir Park? Mungkin dia yang membawa istrimu."
"brengsek! Aku tidak memiki waktu melayani celotehanmu. CEPAT KATAKAN DIMANA ISTRIKU?" katanya menggeram mencengkram kemeja Yunho membuat seluruh anak buah Yunho maju mendekat ke arah Sehun.
Yunho sendiri mengisyaratkan pada anak buahnya untuk tetap tenang. Masih bertanya siapa istri yang Sehun maksud membuatnya sedikit tersenyum dan melepas kasar cengkraman Sehun "Aku tidak mengerti ucapanmu idiot! Lagipula kenapa istrimu bisa disini? Apa kau gila? Aku bahkan tidak sudi berususan denganmu lagi!"
"Aku bersumpah akan menyakiti Jaejoong jika kau terus menyembunyikan istri-.."
"OH SEHUN!"
Suasana seketika menegang saat ini, baik Sehun maupun Yunho kembali melontarkan tatapan memburu satu sama lain. Kedua pria tampan ini memang selalu sensitif jika topik tentang istri mereka di buka secara umum. Seolah itu adalah hal yang bisa membuat keduanya begitu lemah tanpa alasan yang pasti.
"Jangan pernah menyebut nama istriku dengan mulut kotormu. Jika kau mengancamku lagi. Aku juga bersumpah akan menyakiti istrimu dengan kedua tanganku sendiri. USIR MEREKA!"
Mendengar perintah Yunho, membuat seluruh anak buahnya mengerubungi Sehun dan seluruh anak buah Sehun, sedikit memaksa Sehun untuk keluar namun tentu saja tak berhasil untuk seorang Oh Sehun yang terlihat sedang di luar kendali saat ini.
Sehun mengambil cepat pistolnya dan
Ckrek..!
"JUNG YUNHO!"
Dia mengarahkan pistolnya tepat ke arah Yunho, dan Yunho tentu saja juga bergerak secara refleks dan mengarahkan senjatanya pada Sehun.
"Kau benar-benar membuat kemarahanku meluap Oh Sehun."
"Aku tidak akan mengancammu jika kau tak menyembunyikan istriku!"
"Sedari tadi kau terus mengatakan istriku istriku-...SEBENARNYA SIAPA ISTRIMU?!"
"Sehun?"
Belum sempat Sehun menjawab pertanyaan Yunho, dia mendengar suara yang begitu ia rindukan memanggil namanya. Membuatnya seketika menoleh dan menatap rindu sosok mungilnya yang terlihat berantakan dengan pakaian yang jelas bukan merupakan style nya.
Dan rasa rindu Sehun seolah lenyap begitu saja melihat sang istri merangkul pria yang jelas adalah Woobin didepan kedua matanya, membuat rasa panas seketika menjalar sampai ke pucuk kepalanya yang begitu terbakar melihat pemandangan di depannya.
"Sial!" ujarnya menggeram mendekati Woobin dengan wajah pucatnya dan
BUGH!
"SEHUN!"
Luhan memekik saat Sehun tanpa satu kata pun langsung menghampiri Woobin yang sedang terluka, membuatnya tersungkur begitu saja dan seketika membuat kemarahan Yunho benar-benar meluap malam ini.
"BERANI SEKALI KAU MENYENTUH MILIKKU! KAU BOSAN HIDUP KIM WOOBIN?" katanya kembali menggeram dan tak lama
BUGH!
Sehun secara membabi buta memukuli Woobin membuat seluruh anak buahnya dan anak buah Yunho otomatis terlibat dan saling memukul saat ini.
Sehun terus memukuli Woobin saat ini, membuat Yunho semakin menggeram murka pada kehadiran Sehun.
"Sehun..." Luhan memekik tertahan saat ini, suaranya seolah menghilang saat melihat Yunho menghampiri Sehun dengan sebilah pisau di tangannya. Membuat Luhan membelalak dan semakin bergetar ketakutan saat Yunho berteriak
"MATI KAU OH SEHUN!"
Membuat tubuhnya secara refleks berlari melindungi suaminya dan
JLEB!
Rasanya begitu menyakitkan saat benda tajam itu mengoyak tepat ke dalam perutmu, membuat rasa panas karena darah yang mengalir begitu terasa. Semuanya masih terdiam beberapa detik sampai Luhan dengan jelas mendengar
"LUHAAAAAN!"
Suara Kai memanggilnya begitu histeris, membuat seluruh yang berada di ruangan itu sedikit tercengang dan menoleh ke tempat dimana Luhan tengah menahan pisau yang ditusukkan Yunho padanya.
Jantung Sehun berdebar kencang menyadari suara teriakan Kai bukan pertanda baik untuknya. Membuat pukulannya pada Woobin semakin melemah dan tak sanggup menoleh ke belakang karena tatapan Woobin yang begitu menyiratkan memang benar terjadi sesuatu di belakangnya.
"Jangan Luhanku-.."
Sehun belum menoleh ke belakang, namun bibirnya tak sengaja bergumam pilu takut terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya dan saat melihat Kai dan Changmin berlari ke belakangnya, itu artinya-...memang telah terjadi sesuatu pada Luhan.
Dan dengan seluruh keberanian yang ia miliki Sehun membalikan tubuhnya, merasa nafasnya terputus saat melihat istrinya tergeletak lemah di lantai dengan suara Kai dan Changmin yang terus memohon agar Luhan tetap sadar.
"Lu-..."
Sehun seketika berlari ke tempat istrinya berada, mengambil alih tubuh mungil pria cantiknya yang kini terasa dingin dengan wajah yang begitu memucat. Hati Sehun begitu hancur melihat bagaimana pisau itu tertusuk dalam di perut istrinya. Membuat hanya air mata ketakutan yang menjadi bukti seluruh kelemahan Sehun ada pada pria yang kini berada di pelukannya.
"Jangan Luhanku. Aku mohon jangan buat Luhanku kesakitan." Katanya menciumi seluruh wajah pucat Luhan yang begitu memilukan didepannya. "Kenapa kau menyakiti Luhanku. Kenapa kau menyakitinya-...KENAPA KAU MENYAKITI ISTRIKU!" katanya berteriak begitu murka pada Yunho yang sama memasang wajah pucatnya saat ini-...Sungguh dia tidak bermaksud menyakiti pria yang sedari awal pertemuan mereka sangat ingin ia lindungi.
Bukan seperti ini-...Bukan membuat setengah hidup Sehun tergeletak hampir tak sadarkan diri saat ini. Yunho ikut terduduk dan berusaha menolong Luhan. Namun
"JANGAN SENTUH ISTRIKU!"
Namun tentu saja Sehun menghempasnya dengan cepat, dia terus memeluk istrinya yang begitu terlihat tak berkata dengan wajah memucat.
Luhan sendiri masih berusaha terus mempertahankan kesadarannya. Dia tahu Yunho tidak berniat menyakiti dirinya. Hanya saja jika Yunho menyakiti Sehun-...Itu akan lebih menyakitkan daripada keadaan dirinya saat ini. "aku baik.." ujarnya lirih berusaha mengusap wajah suaminya namun gagal karena tubuhnya benar-benar mati rasa saat ini.
"Sayang. Kau harus tetap membuka mata hmm. Kita akan segera mengobati lukamu. Hanya terus membuka mata. Kau mengerti?"
Luhan mengangguk sebagai jawaban saat Sehun bertanya padanya saat ini, berusaha terus menggapai wajah suaminya agar kesadarannya terus terjaga. Namun dia tahu kemampuan matanya untuk terus membuka hampir mustahil dengan keadaannya seperti ini. membuat perlahan kedua matanya menutup tak sadarkan diri.
"Tidak-...Jangan tutup matamu sayang-..Luhan dengarkan aku hmm...tidak Lu. Aku mohon buka matamu. TETAP BUKA MATAMU LUHAN!"
Dan suara teriakan terakhir yang di dengar Luhan adalah suara suaminya yang begitu terdengar memilukan. Merasa menyesal karena telah membuat suaminya begitu ketakutan sementara kalimat
Jangan menangis-...Aku akan baik-baik saja.
Gagal untuk ia sampaikan. Membuatnya ingin cepat melalui masa kritisnya, untuk membuat suaminya kembali bernafas dengan benar tanpa harus merasakan sakit di setiap hela nafas yang ia hembuskan
Aku janji akan segera membuka mataku sayang.
Dan setelahnya-...Luhan benar-benar kehilangan kesadarannya, begitu pasrah saat tubuhnya dibawa entah kemana saat ini.
.
.
"hyung...Kau harus segera membawa Jaejoong hyung pergi. Ini buruk-...Sehun pasti akan membalasmu lewat Jae hyung."
Yunho yang masih memucat di tempatnya, hanya bisa terdiam cukup lama. Tak bisa membayangkan bagaimana jika dirinya yang berada di posisi Sehun saat ini. Melihat tubuh istrimu tergeletak tak berdaya dengan darah yang terus mengalir di tubuhnya.
"HYUNG!"
Yunho sedikit menghapus air matanya sebelum mengangguk menyetujui permintaan Woobin untuk membawa Jaejoong pergi sejauh mungkin. Karena dia juga akan melakukan hal yang sama jika Jaejoong yang berada di posisi Luhan.
Mata dibalas mata. Nyawa dibalas nyawa. Darah orang yang kau cintai dibalas darah orang yang kau cintai.
Setidaknya itu adalah harga mati untuk hidup yang mereka jalani. Dan karena dirinya sudah menyakiti Luhan, sudah dipastikan Sehun akan membalasnya lewat Jaejoong menggunakan segala cara-..entah bagaimana. Yang jelas hal itu pasti akan lebih menyakitkan dan berkali-kali lebih mengerikan daripada malam ini.
.
.
Sementara itu...
Seorang pria bermata besar yang menyaksikan seluruh keributan di gedung tua itu sejak awal hanya terdiam tak berkata apapun. Bersembunyi di tempatnya, karena takut jika Sehun mengenalinya lebih awal dan kemudian membunuhnya secara keji.
Adalah Do Kyungsoo-...Pria yang sejak mengingat semua kejadian mengerikan yang telah ia lakukan tiba-tiba menghilang dari kehidupan Sehun dan Luhan. Bukan karena dia takut Sehun atau Luhan sekalipun akan membunuhnya jika mereka tahu dia adalah orang yang menyebabkan kematian putra mereka. Tapi karena dirinya harus melakukan sesuatu sebelum Kyungsoo mengakui segalanya pada Luhan maupun Sehun.
Ya-...menjadi seorang pembunuh pro bukanlah hal yang baru untuk Kyungsoo. Dia mengingat segalanya dan sudah dipastikan dia bahkan lebih mengerikan daripada Yunho, Woobin maupun Sehun sekalipun. Karena bekerja bersama Yifan-..Itu artinya kau meniadakan kata hati nurani di hidupmu.
"Hyung-...Aku akan segera menemuimu." Ujarnya begitu ketakutan melihat Luhan yang tak sadarkan diri karena Yunho tak sengaja melukainya. Membuatnya sedikit tertegun dan tak lama
Drtt..drtt...
Panggilan dengan unknown number terpampang di layar Kyungsoo. Membuatnya sedikit menggeram sebelum
Sret..!
Dia menggeser slide ponselnya dan
"Kau aman sampai saat ini."
"Ya. Aku akan terus memberitahukan kabar terbaru- Kris Hyung,"
.
.
.
tobecontinued..
ini ruwet. Ini mumet kan. Gumoh kan? Sama!
.
Betewe, gue rada serem ama Kyungsoo disini kkkk
Teru Gatahan kalo ga ngeluarin Yunho-..akhirnya di up deh :p
.
Ini yang nanya sampai chap berapa-..jawbannya ku tak tahu ya.
.
Okeylahh...seeyouveryverysoon!
.
Happy reading n review :D
