Previous
"Jangan Luhanku. Aku mohon jangan buat Luhanku kesakitan."Katanya menciumi seluruh wajah pucat Luhan yang begitu memilukan didepannya. "Kenapa kau menyakiti Luhanku. Kenapa kau menyakitinya-...KENAPA KAU MENYAKITI ISTRIKU!" katanya berteriak begitu murka pada Yunho yang sama memasang wajah pucatnya saat ini-...Sungguh dia tidak bermaksud menyakiti pria yang sedari awal pertemuan mereka sangat ingin ia lindungi.
Bukan seperti ini-...Bukan membuat setengah hidup Sehun tergeletak hampir tak sadarkan diri saat ini. Yunho ikut terduduk dan berusaha menolong Luhan. Namun
"JANGAN SENTUH ISTRIKU!"
Namuntentu saja Sehun menghempasnya dengan cepat, dia terus memeluk istrinya yang begitu terlihat tak berkata dengan wajah memucat.
Luhan sendiri masih berusaha terus mempertahankan kesadarannya. Dia tahu Yunho tidak berniat menyakiti dirinya. Hanya saja jika Yunho menyakiti Sehun-...Itu akan lebih menyakitkan daripada keadaan dirinya saat ini. "aku baik.." ujarnya lirih berusaha mengusap wajah suaminya namun gagal karena tubuhnya benar-benar mati rasa saat ini.
"Sayang. Kau harus tetap membuka matahmm.Kita akan segera mengobati lukamu. Hanya terus membuka mata. Kau mengerti?"
Luhan mengangguk sebagai jawaban saat Sehun bertanya padanya saat ini, berusaha terus menggapai wajah suaminya agar kesadarannya terus terjaga. Namun dia tahu kemampuan matanya untuk terus membuka hampir mustahil dengan keadaannya seperti ini. membuat perlahan kedua matanya menutup tak sadarkan diri.
"Tidak-...Jangan tutup matamu sayang-..Luhan dengarkan aku hmm...tidak Lu. Aku mohon buka matamu.TETAP BUKA MATAMU LUHAN!"
Dan suara teriakan terakhir yang di dengar Luhan adalah suara suaminya yang begitu terdengar memilukan. Merasa menyesal karena telah membuat suaminya begitu ketakutan sementara kalimat
Jangan menangis-...Aku akan baik-baik saja.
Gagal untuk ia sampaikan. Membuatnya ingin cepat melalui masa kritisnya, untuk membuat suaminya kembali bernafas dengan benar tanpa harus merasakan sakit di setiap hela nafas yang ia hembuskan
Aku janji akan segera membuka mataku sayang.
Dan setelahnya-...Luhan benar-benar kehilangan kesadarannya, begitu pasrah saat tubuhnya dibawa entah kemana saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Entangled
Main Cast : Sehun & Lu Han
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dia tahu saat ini dirinya sedang berada di tempat yang paling ia benci. Tempat dimana semua orang harus terlihat lemah tak berdaya atau menahan sakit karena sesuatu yang buruk terjadi pada tubuh mereka. Tempat dimana semua orang yang saling mencintai harus kehilangan karena keterbatasan usia dan ketidakmampuan seseorang untuk menahan sakit. Tempat dimana dirinya harus mendengar jeritan kesakitan atau tangis kehilangan. Tempat yang disebut dengan rumah sakit -yang sialnya- adalah tempatnya mencari uang untuk menyembuhkan beberapa orang dengan kemampuan medisnya.
Yah...Walaupun pekerjaan menuntutnya untuk berada disini hampir setiap hari tidak membuatnya menyukai jika sampai dirinya atau siapapun yang sangat ia cintai harus berbaring di salah satu ruangan yang mempunyai bau khas layaknya seseorang yang sedang lemah atau dalam keadaan kritisnya.
Mencium bau khas dari tempatnya berbaring saat ini, mendengar suara tetesan yang ia yakin berasal dari slang infus yang dipakaikan di tangan kananya serta bunyi jam yang begitu khas di ruangannya saat ini membuat pria cantik yang sudah tak sadarkan diri hampir dua puluh empat jam lamanya perlahan membuka mata.
Sedikit mengerjapkan matanya berulang sampai dia merasa tangannya di genggam terlampau erat oleh tangan seseorang yang sangat familiar untuknya. Matanya sedikit melirik ke arah tangan dan sedikit tersenyum mendapati seseorang bersandar tepat di samping tempat tidurnya dengan tangan yang menggengam erat tangannya.
"Sehun."
Suara parau jelas terdengar dari sang dokter yang belum lama memutuskan untuk meninggalkan profesinya membuat si pria yang dipanggil namanya sedikit terkesiap dan begitu berbinar melihat belahan jiwanya tengah membuka mata saat ini.
"Sayang?-...Astaga Luhan kau bangun." katanya sedikit berteriak mencium kening istrinya berulang dengan tangan yang terus menekan tombol kecil untuk memanggil tim medis agar segera memeriksa kembali keadaan istrinya.
.
"Kondisi Luhan stabil. Dia hanya perlu beristirahat agar luka jahitnya mengering. Setelahnya Luhan diperbolehkan pulang."
Mendengar penuturan dari pria yang tumbuh besar bersama istrinya membuat Sehun tak bisa menyembunyikan rasa leganya. Bibir yang sedari tadi tertutup rapat karena terlalu ketakutan kini bisa sedikit tersenyum sesekali mencium kening sayang istrinya yang masih terasa dingin di bibirnya "Terimakasih dokter Park." katanya bersungguh-sungguh berterimakasih pada pria yang memiliki profesi sama dengan Luhan.
"Tidak perlu. Itu sudah tugasku." katanya menjawab asal ucapan terimakasih Sehun dengan mata yang tak berkedip menatap Luhan.
Luhan sendiri menyadari kalau mata Chanyeol tengah menatapnya tak berkedip saat ini. Seolah menyampaikan rasa kecewanya karena keputusan sepihak yang Luhan buat dengan mengundurkan diri sebagai dokter beberapa waktu yang lalu. Membuat tangannya sedikit bergerak meraih tangan Sehun yang masih berbicara dengan Max saat ini.
Merasa Luhan menarik tangannya membuat sang suami segera menoleh dan menyudahi berbicara serius dengan Max dan Yoochun "eh? Ada apa sayang?"
"aku ingin pulang."
Suara Luhan terdengar seperti bisikan untuknya, membuat Sehun kembali mengernyit sebelum mendekatkan telinganya mendekat ke arah istrinya "Kau bicara apa Lu?"
"Aku ingin pulang." Katanya mengulang membuat suara tawa geram jelas terdengar dari Chanyeol yang mendengarnya.
"Ya tentu saja kita akan pulang. Tapi kau harus-.."
BRAK..!
Belum selesai Sehun berbicara, terdengar suara pintu ruangan Luhan dibuka dengan kasar, membuat semua yang berada di ruangan menoleh dan mendapati sang putra pemilik rumah sakit memasuki ruangan dengan wajah yang luar biasa pucat namun terlihat sangat marah dengan selembar kertas yang Luhan tebak adalah surat pengunduran dirinya berada di tangan sahabatnya "KAU!"
Luhan seketika menarik lengan Sehun semakin erat, menyembunyikan wajahnya agar tak terlihat Baekhyun yang memang sedang sangat marah saat ini "Dokter Byun, istriku baru sadarkan diri. Jadi sebaiknya tahan apapun yang membuatmu kesal pada Lu-.."
"DIAM!"
Jangankan Luhan-...Saat ini semua yang berada di ruangan dibuat diam seketika melihat sang putra tunggal pemilik rumah sakit yang bahkan tidak memiliki rasa takut sedikit pun pada mafia sekelas Sehun yang sedang memperingatkan dirinya.
"OH LUHAN!"
Luhan semakin menggenggam erat tangan Sehun, benar-benar tak menyangka Baekhyun akan semarah ini padanya, membuat Sehun mau tak mau membalas genggaman tangan istrinya yang mulai terasa dingin di tangannya.
"BERANI SEKALI KAU MENINGGALKAN RUMAH SAKIT DAN KEMBALI DENGAN KEADAAN TERLUKA SEPERTI TADI?! KAU INGIN MEMBUNUHKU HAH!?"
"Baek. Aku-..."
"Dengarkan aku-...Satu-satunya yang bisa memecatmu adalah aku. JADI SURAT PENGUNDURAN DIRI INI ADALAH OMONG KOSONG. APA KAU DENGAR?" katanya berteriak dengan merobek berkeping surat pengunduran diri Luhan tepat didepan mata sang dokter yang kini terus bersembunyi di belakang tubuh suaminya.
"Baekhyun."
Chanyeol yang baru pertama kali melihat Baekhyun seperti ini pun sedikit banyak bisa merasakan kekecewaan yang diberikan Baekhyun pada Luhan, membuatnya menggenggam lengan Baekhyun sebelum Baekhyun menghempas kasar pegangan tangannya.
"LEPAS!" katanya menjerit kasar membuat mata Luhan seketika berkaca kaca dengan tangan yang terus menggenggam erat lengan suaminya.
"Baekhyun maafkan aku."
Sehun sedikit menoleh saat mendengar istrinya kembali bergumam pelan, membuat dirinya sedikit tersenyum menyadari kalau istrinya memang tidak sepenuhnya ingin meninggalkan apa yang sudah ia tinggalkan sebelumnya.
"JIKA KAU TETAP BERSIKERAS MENGUNDURKAN DIRI DARI RUMAH SAKIT ATAU MELEPAS PROFESIMU SEBAGAI DOKTER, AKU BERSUMPAH AKAN MEMBENCIMU DENGAN HIDUPKU! KAU DENGAR!?-...JADI KATAKAN PADAKU KALAU KAU MEMBATALKAN PENGUNDURAN DIRIMU!"
"Aku-..."
"SEKARANG!"
Luhan hanya semakin diam tak berani bersuara, menyembunyikan wajahnya di punggung suaminya dan hanya menerima seluruh makian Baekhyun untuknya. Membuat sang dokter spesialis anak semakin tak bisa menahan emosinya karena takut Luhan akan tetap pada keputusannya untuk pergi.
"Baik jika itu yang kau mau. Aku tidak akan memintamu lagi. Aku pergi!"
Sehun sendiri sengaja menggenggam kencang tangan istrinya, seolah mengingatkan Luhan untuk segera menjawab sebelum keadaan semakin buruk. Membuat Luhan sedikit mendongak dan menatap frustasi suaminya yang terus memandang lembut padanya "Aku harus apa?"
"Untuk kali ini aku tidak akan ikut campur." Katanya mencium lama kening Luhan dan mengusap lembut wajahnya. Membuat wajah Luhan semakin memelas sebelum
"AKU MEMBATALKANNYA BAEK-...AKU AKAN TETAP MENJADI DOKTER DAN JIKA KAU MENGIJINKAN-...AKU AKAN TETAP BEKERJA DISINI."
Langkah kaki Baekhyun seketika terhenti. Memejamkan matanya erat merasa begitu lega dengan jawaban Luhan sebelum kembali membalikan tubuhnya dan
Grep...!
"Kenapa lama sekali membatalkan keputusan bodohmu? Aku nyaris membencimu Lu." Katanya memeluk erat sahabatnya yang kini merutuki keputusannya yang telah menyakiti orang-orang disekitarnya.
"Maafkan aku Baek-.."
"Jangan meminta maaf lagi. aku merasa sangat jahat padamu-..Dan Ya! Tentu saja kau akan tetap bekerja disini. Aku tidak akan melepas dokter yang bisa menghasilkan banyak uang untuk rumah sakit ayahku." Katanya sedikit tertawa dan memeluk Luhan semakin erat membuat sang suami dari si pasien mengernyitkan dahinya menyadari perubahan wajah sang istri yang terlihat meringis menahan sakit.
"Aku rasa cukup untuk melepas rindunya. Istriku sedang sakit." Katanya menarik pelan lengan Baekhyun untuk menjauh dari Luhan yang benar-benar masih harus beristirahat saat ini.
"ish! Kau menyebalkan sekali!" katanya menghempas tangan Sehun membuat Luhan dan Chanyeol hanya bisa tertawa kecil melihatnya.
"Sehun benar. Luhan masih harus beristirahat. Dia baru saja sadarkan diri." Timpal Chanyeol membuat Baekhyun mendengus semakin kesal.
"Baiklah..Baiklah! Cepat sembuh deer. Aku menunggu dokter Oh untuk segera kembali bekerja." Katanya memeluk Luhan sekilas sebelum meninggalkan ruangan Luhan diikuti Chanyeol yang berjalan tepat di belakangnya "Jika butuh sesuatu panggil aku."
Luhan mengangguk mengerti saat Chanyeol berbicara padanya, sedikit tersenyum melihat pria yang tumbuh besar dengannya terlihat semakin mengagumkan setiap harinya.
"Kalau begitu kami juga permisi bos."
Kali ini Max dan Yoochun yang berpamitan dan setelah mendapatkan anggukan dari Sehun keduanya berjalan menghampiri Luhan "Jangan membuat kami ketakutan lagi Lu. Jaga dirimu dan cepat sembuh."
Luhan sendiri hanya bisa tersenyum miris mengingat apa yang telah terjadi padanya beberapa saat lalu, mengingat betapa wajah suaminya dan seluruh anak buahnya yang begitu mencemaskan dirinya. Dan mengingat hal itu sedikit banyak membuat Luhan merasa bersalah dan mengangguk menjawab Max dan Yoochun "Maaf membuat kaliah khawatir. Aku akan berhati-hati lain kali."
Max dan Yoochun sedikit tersenyum mendengar pernyataan Luhan, sedikit menganggukan kepala sebagai respon menyetujui sebelum akhirnya berjalan keluar ruangan Luhan meninggalkan Sehun berdua dengan istrinya.
"Kau tidak pergi?"
Yang ditanya hanya memasang wajah memelas sebelum kembali menatap pria cantiknya yang terlihat sangat kelelahan sedikit tersenyum membantu Luhan untuk berbaring di tempat tidurnya "Aku akan pergi setelah kau tidur." katanya memberitahu mencoba menghilangkan suasana canggung antara dirinya dengan satu-satunya pria yang bisa membuatnya menggila setiap saat.
Menyadari Luhan tidak merespon ucapannya membuat Sehun sedikit salah tingkah, berdiri dari tempat tidur Luhan dan mulai mengambil barang-barangnya secara tergesa menebak Luhan tidak ingin melihatnya saat ini "Kau tidak perlu khawatir. Aku akan pergi seka-.."
Grep...!
Saat ini Luhan tengah menarik lengan suaminya, membuat si pria tampan kembali terduduk disampingnya dan memandang tak berkedip wajah Sehun yang jelas lebih terlihat kelelahan daripada dirinya sendiri "Temani aku."
Luhan hanya mengucapkan dua kalimat singkat. Tapi efeknya untuk seorang Oh Sehun adalah kelegaan luar biasa menyadari Luhan tidak lagi menolak kehadirannya. Membuatnya hampir melompat untuk memeluk erat pria mungilnya yang begitu ia rindukan.
"Aku akan menemanimu." Katanya menjawab permintaan istrinya, sedikit bermain dengan poni yang menutupi wajah cantik Luhan sebelum kembali mencium kening Luhan cukup lama "Terimakasih sudah baik-baik saja." Katanya berbisik dan menatap lama wajah Luhan, membuat deru nafas masing-masing begitu terasa menerpa wajah keduanya.
"Sekarang tidurlah. Aku menjagamu."
Merasa suasana akan semakin canggung jika mereka tetap berada di posisi saling menatap seperti tadi membuat Sehun kembali salah tingkah. Memutuskan duduk di kursi samping tempat tidur Luhan dan mulai menaikkan selimut agar Luhan segera tertidur.
Luhan sendiri menggeleng sebagai jawaban, menggeser tubuhnya agar tempat tidurnya menjadi lebih lega untuk dua orang sebelum menepuk bagian yang kosong meminta suaminya ikut berbaring disampingnya "Tidurlah bersamaku. Kau juga terlihat lelah."
"Tidak Lu. Aku baik-baik saja." Katanya berusaha menolak membuat raut wajah Luhan seketika diam menjadi tak berekspresi "Apakah boleh?" katanya kembali bertanya tak ingin membuat Luhan merasa kesal dan mencoba menuruti apapun yang diinginkan istrinya saat ini.
"Ya. Kau selalu memintaku berbaring menemanimu jika kau dirawat. Aku hanya melakukan hal yang sama."
Sehun sedikit tertawa sebelum menyibak lembut selimut Luhan dan mulai ikut berbaring disamping tubuh mungil istrinya "Kau adalah dokter yang menanganiku saat aku dirawat. Tapi jika statusmu sebagai pasien. Aku yakin mereka akan memarahi kita esok pagi."
"Tidak ada yang berani memarahi dokter tampan sepertiku."
"Kau cantik."
Ucapan Sehun seketika membuat wajah Luhan merona merah, mengedipkan matanya berulang sebelum Sehun mendekatkan diri menyatukan dahi mereka "Dan aku mencintaimu-...Sangat mencintaimu. Maafkan aku Luhan."
Luhan menggigit kencang bibirnya, merasa pertahanannya untuk berada lebih jauh dari suaminya seketika runtuh saat kedua mata itu menatapnya penuh cinta. Dia kembali mengedipkan matanya berulang merasa matanya begitu panas. Terus berkedip sampai akhirnya air mata itu jatuh cepat dari kelopak matanya "Aku merindukanmu."
"Kenapa rasanya lama sekali tidak melihat wajahmu." Katanya memberanikan diri mengusap rindu wajah prianya. Sedikit mengusap dahi sebelum akhirnya mengabsen satu persatu bagian wajah Sehun menggunakan jemarinnya "Kenapa kau terasa semakin jauh dari jangkauanku. Aku seperti tidak mengenali suamiku." katanya sedikit bergetar dengan jari telunjuk berhenti di bibir Sehun dan mata yang begitu lelah menatap pria yang juga terlihat lelah di depannya. Keduanya masih saling menatap sampai akhirnya bibir mungil Luhan menunjukkan senyum terindahnya dan menatap dalam pria yang sudah memiliki hampir seluruh hidupnya beberapa tahun ini "Aku merindukan ayah Ziyu."
Sehun hancur berkeping saat ini-..Mendengar pernyataan rindu Luhan dengan namamembawa nama putra mereka hanya menunjukkan bahwa Luhan kecewa pada dirinya yang sekarang. Dirinya yang nyaris tidak memiliki hati nurani sejak kecil terlebih saat putra mereka meninggalkan mereka untuk selamanya. "Aku merindukanmu Sehun, aku merindukan suamiku. Aku-..."
Kalimat rindu yang Luhan lontarkan tak terdengar lagi saat Sehun melumat lembut bibirnya berusaha tak mendengarkan kalimat yang membuat hatinya begitu merasa bersalah. Seolah menyampaikan permintaan maaf untuk pria mungilnya karena terus membuat Luhan begitu merindukannya. Sehun menghisap lembut bibir bawah Luhan membuat Luhan sedikit mengerang merasa begitu marah namun begitu merindukan prianya. Dan hal yang ia lakukan hanya membiarkan perasaan rindunya terobati sementara Sehun terus merasakan penyesalan karena telah membuat Luhan begitu merindukannya. Luhan istrinya dan perasaan rindu tak harusnya kedua rasakan disaat mereka telah terikat sebagai sepasang suami istri.
Suami istri yang seharusnya tinggal bersama, menghabiskan waktu bersama, dan beristirahat di ranjang yang sama seolah hanya menjadi lelucon untuk keduanya. Karena terakhir mereka tidur di satu ranjang yang sama adalah saat mereka tinggal dirumah yang diberikan Sehun sebagai hadiah pernikahannya dengan Luhan. Namun saat kepergian putra mereka, keduanya memutuskan untuk meninggalkan rumah yang dipenuhi kenangan tentang malaikat kecil mereka.
Mengapa?
Karena setelah kepergian Ziyu-...Sehun dan Luhan memiliki tujuan hidup yang berbeda. Dimana yang satu bersumpah untuk menghabiskan seluruh waktunya untuk mencari pembunuh putra mereka sementara yang satu hanya ingin menghabiskan waktu mereka sebagai pasangan normal pada umumnya agar kejadian mengerikan pada putra mereka tidak akan pernah terulang lagi. Namun Sehun menolaknya-...Dan semenjak malam itu keduanya hidup terpisah walau tak bisa dikatakan benar-benar berpisah.
"Maafkan aku." Katanya melepas lumatannya pada bibir mungil milik Luhan, kembali menatap dalam mata indah itu sebelum menghela dalam nafasnya dan mencium lama kening istrinya "Aku bersalah dan selalu kau yang menderita. Maafkan aku sayang."
Sehun menghapus cepat air matanya sebelum membawa Luhan ke dekapannya. Tak berani lagi menatap Luhan dan hanya membiarkan tubuh mungil itu berada di pelukannya. Sesekali mencium pucuk kepala Luhan secara berulang membuat Luhan sedikit merasa lebih baik karena dekapan inilah yang ia rindukan. Pelukan dari suaminya yang selalu bisa menenangkan hari mengerikan yang harus ia alami. Dekapan yang terasa terus menjauh tanpa tahu kapan akan memilikinya kembali secara utuh.
"Tidurlah sayang. Aku akan membuat semuanya lebih baik esok hari. Aku janji mereka akan membayar semua yang telah mereka perbuat pada keluarga kita. Aku janji."
Suara Sehun terdengar begitu marah, namun karena efek obat yang diberikan pada Luhan terlalu kuat hanya membuatnya terdengar menjadi samar. Dia hanya bisa mengusap perlahan dada bidang suaminya sebelum akhirnya benar-benar terlelap di pelukan Sehun saat ini.
Dan setelah memastikan Luhan tertidur. Sehun mengambil cepat ponselnya, mencari nama Kai di kontaknya sampai
"Bawa Jaejoong padaku."
Perintah itu mutlak. Terasa begitu menakutkan walau hanya terdengar dari sambungan telepon. Membuat siapapun yang mendengarnya akan meremang ketakutan melihat sosok mengerikan seorang Oh Sehun-...Siapapun termasuk Kyungsoo. Pria yang belum lama telah mendapatkan kembali seluruh ingatannya tengah berada di depan ruangan Luhan saat ini. Berniat untuk menjenguk kakaknya namun terhenti karena Oh Sehun jelas tidak akan beranjak dari sana. Bisa saja Kyungsoo berpura-pura belum mengingat semuanya dan berbicara seperti biasa dengan Sehun seperti sebelumnya.
Tapi dia takut-... Takut jika sebelum dia menyelesaikan tujuannya Sehun sudah mengetahui siapa dirinya dan apa yang telah ia perbuat pada keluarga kecilnya. Membuat tangannya yang dingin mengepal erat dan tersenyum getir menyadari satu hal.
"Sejauh apapun aku berlari. Aku akan tetap berakhir di tanganmu Oh Sehun."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Blam...!
Terdengar suara mobil ditutup kasar oleh pemilknya. Menampilkan Kyungsoo yang terlihat memucat setelah kepulangannya dari rumah sakit. Kakinya terus melangkah ke gedung yang merupakan markas keduanya. Sedikit memijat kepalanya sebelum
Cklek...
Dia membuka pintu ruangannya dan seketika duduk di meja kerjanya, mengabaikan tatapan dua orang yang kini menatap mencemoh ke arahnya.
"uri Dio sudah pulang. Bagaimana? Apa Luhan sudah mati?"
Mendengar nama Luhan disebut oleh bajingan sekelas Yifan, membuat kedua tangan Kyungsoo mengepal erat. Berusaha untuk tenang sebelum akhirnya memandang dua partner keji yang terlihat tertawa menantang ke arahnya.
"Luhan baik. Sayang sekali keinginan kalian akan sulit terwujud." Katanya dengan nada mendesis membuat baik Kris maupun Feilong merubah warna muka mereka menjadi terlihat emosi saat ini.
"Dan kenapa keinginan kami akan sulit terwujud? Apa susahnya membunuh satu orang seperti Luhan?"
"Karena akan ada banyak orang seperti Sehun dan diriku yang akan terus menjaga Luhan. kami tidak akan membiarkan bajingan seperti kalian menyentuhnya."
"DO KYUNGSOO!"
Kris jelas terpancing emosinya. Dia benar-benar menyesal tidak memastikan Kyungsoo dengan kedua matanya saat itu, mengingat seharusnya Kyungsoo sudah mati satu tahun yang lalu namun bertahan dan kini kembali ke markasnya hanya untuk mengancam akan menghancurkan chip berisi milyaran won yang kini ia sembunyikan membuat seorang Wu Yifan benar-benar ingin menghabisi penghianat didepannya saat ini.
"Kenapa? Kau takut?-...Jika Ya. Maka berhenti mengganggu Luhan atau kau akan menyesalinya." Katanya kembali mengancam membuat Kris berjalan menyeramkan mendekatinya.
"Kau pikir Luhan akan menerimamu huh?-...Apa kau lupa siapa dirimu? Kau pembunuh mengerikan adikku. Dan kau tahu apa yang lebih mengerikan? Kau penyebab kematian putra Sehun dan Luhan. Kau yang bertanggung jawab atas kematian putra Luhan. apa kau pikir-...APA KAU PIKIR LUHAN AKAN MENERIMA PEMBUNUH PUTRANYA. KAU PEMBUNUH DO KYUNGSOO. KAU-..."
"WU YIFAN!"
Kedua teriakan itu bersahutan, mata mereka memandang berkilat satu sama lain. Tangan keduanya pun mengepal seolah bersiap untuk menghabisi satu sama lain. Dan untuk Kyungsoo-..Ini semua adalah kenyataan mengerikan untuknya. Kenyataan dimana dirinya adalah pembunuh putra Sehun dan Luhan. Dan semua itu jelas tidak terlepas dari campur tangan Yifan. Dia bergabung di dunia gelap karena Yifan. Dia menjadi keji karena Yifan. Dia menjadi pembunuh karena Yifan-...Dan lebih buruknya dia bahkan diberikan tugas untuk membunuh tanpa tahu latar belakang dari korbannya juga karena Yifan. Dan ketika dia menolak, maka orang-orang terdekatlah yang akan menanggung seluruh penolakannya.
"Kau menjebakku brengsek." Katanya begitu sengit dengan nada suara penuh amarah didalamnya "Kau tidak pernah mengatakan kalau anak itu adalah putra Luhan dan Sehun. Kau terus mendesakku untuk membunuh malaikat kecil Luhan. Dan jika aku tidak melakukannya kau mengancam akan membakar panti asuhan kita. Dan dengan bodohnya aku tetap melakukan apa yang kau katakan. Lalu yang terjadi setelahnya adalah-...KAU TETAP MEMBAKAR PANTI ASUHAN BAHKAN MENCELAKAIKU DI HARI YANG SAMA SAAT AKU MEMBUNUH PUTRA SEHUN DAN LUHAN!"
Kyungsoo mengepalkan kedua tangannya terlampau erat, menatap berkilat Yifan dan Feilong lalu tak lama tertawa getir menatap keduanya tak berkedip "Dan aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Aku akan melakukan apapun untuk menjaga Luhan. Dan jika aku harus mati. Maka hanya Luhan yang bisa menghabisiku. CAMKAN ITU!" katanya berteriak dan
BLAM...!
Kyungsoo membanting kasar pintu ruangannya. Meninggalkan Yifan dan Feilong yang jelas tidak bisa mengabaikan keadaan Kyungsoo yang kini menjadi parasut untuk pekerjaan yang mereka lakukan "Kita melakukan kesalahan besar dengan menabraknya dan membuang tubuhnya ke dasar laut. Harusnya kita memastikan sendiri kalau dia memang sudah mati."
Kris sendiri hanya diam mendengar penuturan partner nya. Sedikit menggeram sebelum menatap Feilong penuh kekejaman di matanya "Kita tidak akan melakukan kesalahan lagi." katanya memberitahu dan berencana menghabisi Kyungsoo setelah chip yang berisi seluruh daftar pekerjaan kotor mereka serta password rekening yang berada di Kyungsoo jatuh ke tangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Luhan."
Mendengar seseorang menyapanya dengan berbisik, membuat si pemilik nama yang sedang berada di kursi roda sedikit menoleh, mencari asal suara sebelum akhirnya tersenyum mendapati sahabatnya datang dengan boneka besar yang menutupi seluruh wajahnya.
"Tidak lucu Baek." Katanya sedikit malas dan kembali melihat ke jendela kaca ruangannya. Memperhatikan beberapa anak yang sedang menjalani perawatan bermain bersama di halaman kecil yang khusus dibuatkan untuk bermain.
"ish. Kau sama sekali tidak seru Lu."
Sang dokter yang juga memiliki wajah cantik melebihi seorang wanita pun sedikit mendengus kesal dengan membuang boneka besarnya sebelum melipat kedua tangannya di atas dada memperhatikan temannya yang terus berwajah cemas sudah tiga hari terhitung saat dirinya sadarkan diri.
"Kau tetap tidak mau mengatakan apa yang mengganggumu?"
Luhan mau tak mau kembali menoleh ke arah Baekhyun, sedikit menjalankan kursi rodanya dan mendekati sahabatnya yang kembali memasang wajah menyebalkan "Satu-satunya yang menggangguku hanya kursi roda ini dan ruangan ini. Jadi kapan aku boleh keluar dokter Byun?" katanya mencoba mengalihkan perhatian Baekhyun yang masih terus mencurigai ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.
"Salahkan suamimu yang teramat protektif. Aku hanya menyetujui rencananya, dan semua terlihat bagus untukmu."
"Dan sejak kapan seorang Byun Baekhyun dekat dengan Oh Sehun?" katanya bertanya curiga sebelum
"YAK! Kau pikir aku selingkuh dengan suamimu? Awas kalau kau berani berpikir seperti itu. Sehun itu memang tampan –tidak- Sehun itu tua dan aneh. Aku tidak menyukainya."
"Dia seksi."
"Ya kau benar-...ASTAGA LUHAN!"
Baekhyun yang merasa dijebak Luhan pun mau tak mau membelalak kesal, mendengus saat sahabatnya tertawa terbahak sebelum akhirnya kembali memasang wajah kesalnya "ck. Kau tertangkap basah menyukai suamiku ByunBaek!-...Jadi berhenti mengaturku atau aku tidak akan berbaik hati pada istri kedua Sehun." ujarnya terkekeh dan
Pletak!
"Argh!-...sakit!" Luhan sedikit mengerang saat Baekhyun memukul kepalanya, membuat Baekhyun tersenyum puas sebelum mendorong kursi roda Luhan kembali mengarah ke jendela ruangannya "Aku tidak akan sudi menjadi istri muda jika istri tuanya menyebalkan sepertimu!"
"Aku rela berbagi."
"Dengan memotong nadimu?-..Tidak terimakasih. Kau tipe pencemburu berat Lu. Aku lebih memilih menjadi single selamanya daripada harus satu suami denganmu."
Luhan sedikit mendongak dan tak lama memegang lembut kedua tangan Baekhyun "Aku akan menjadi yang paling bahagia jika kau menikah nanti."
"Sudahlah. Aku sedang malas membicarakan hal itu." Ujarnya mengelak ikut menatap kosong pemandangan sepasang kekasih yang saling menjaga saat salah satu tak sempurna maka yang satu menjadi pelengkapnya "Terkadang aku bertanya dimana pasanganku. Tapi tidak pernah menerima jawabannya." Katanya memberitahu Luhan yang hanya tersenyum mendoakan dan semakin menggenggam erat tangannya.
"ah sudahlah-...Kenapa kita jadi membicarkan pasangan, jodoh dan menikah sih! Aku kesini untuk memberitahumu berita penting."
"Apa?"
"Lusa kau sudah boleh pulang, bekas jahitanmu sudah kering dan kondisimu sudah baik."
"..."
"Kenapa hanya diam? Kau tidak senang?"
Luhan menggelengkan kepalanya dan perlahan melepas genggamannya di tangan Baekhyun. Sedikit menghela nafasnya sebelum kembali pemandangan di bawah "Aku hanya tidak tahu harus memulai darimana setelah ini?"
"Hari senin kau sudah kembali bekerja. Kau janji padaku."
"Iya aku janji."
"Lalu apa yang kau khawatirkan?"
"Banyak hal."
"Luhan."
Baekhyun pun sedikit memutar kursi roda Luhan, menarik kursi agar tinggi mereka sejajar dan berusaha menenangkan sahabatnya yang memang terlihat kehilangan arah "Kau memulai segalanya disini. Jadi ini hidupmu, kau tidak perlu bingung hmm."
"Selama Byun Baekhyun disini. Maka posisi Oh Luhan akan selalu aman dan tak terusik, kau mengerti kan?"
Luhan hanya diam menatap lama sahabatnya. Sedikit termenung sampai akhirnya bibir kecil itu tersenyum mengangguk mengiyakan "Aku mengerti."
"Bagus! Sekarang aku harus memeriksa pasienku. Aku akan kembali pada jam makan siang." Katanya segera berdiri dan mulai berpamitan pada Luhan sebelum.
"Baek?"
Sebelum Luhan kembali memanggilnya, membuatnya sedikit tersenyum menyadari raut wajah Luhan yang sangat ingin bertanya padanya "Ada apa?-...ah. Kau ingin bertanya dimana Sehun?-...Suamimu menghubungiku dia bilang akan datang pada malam hari saat kau tidur. dia terdengar sibuk."
"Dia selalu sibuk." Gumam Luhan terdengar lirih sebelum menggeleng membuat dahi Baekhyun sedikit mengernyit "Bukan Sehun?"
"Bukan."
"Lalu apa?"
"Selama aku dirawat disini-...Apa Kyungsoo datang?"
"Kyungsoo?"
"hmmh-...Adikku."
"Tidak ada yang datang selain Sehun dan beberapa anak buahnya serta aku dan seluruh staff rumah sakit untuk menjengukmu. Jika ada yang tidak aku kenal pasti aku bertanya padamu-...Jadi selain yang aku sebutkan, tidak ada yang datang. Termasuk Kyungsoo."
"ah-..." Katanya mulai menampakkan wajah resah membuat Baekhyun kembali bertanya "Apa terjadi sesuatu? Kau tahu dimana adikmu?"
"Aku tidak tahu." Katanya berbohong membuat Baekhyun mengangkat kedua bahunya.
"Apa aku bisa meninggalkanmu dengan tenang saat ini?"
"Ya tentu saja. Kau banyak pasien Baek. Aku baik."
"Terimakasih untuk tidak membuatku khawatir kalau begitu. Kita bertemu di jam makan siang. Oke?"
Luhan kembali tersenyum dan mengangguk cepat menjawab ucapan Baekhyun "Oke." Katanya menyetujui membuat Baekhyun yang memang sedang terburu-buru segera pergi meninggalkan Luhan yang seluruh pikirannya kini berada pada keberadaan Kyungsoo dan takut jika adiknya berada dalam masalah mengingat Yunho dan Woobin sangat mengincar Yifan saat ini.
"Kau dimana Kyung." Katanya berujar lirih sebelum
Cklek...!
"Luhan?"
Luhan kembali menoleh dan cukup terkejut mendapati kedatangan pria yang baru ia kenal hampir satu belakangan ini datang mengunjunginya. Dan berbeda dengan wajah dingin yang biasa ditunjukkan-..Si pria kini terlihat sangat pucat dan tampak cemas menatap Luhan.
"Woobin?-... Ada apa?"
Ekspresi seorang Kim Woobin terlihat antara lega dan frustasi saat ini. lega karena melihat Luhan baik-baik saja dan frustasi karena keadaan di tempatnya tidak baik-baik saja akibat keberadaan Luhan di rumah sakit saat ini.
"Luhan...Aku butuh bantuanmu. Aku mohon!"
Luhan yang sama sekali tak mengerti keadaan pun hanya diam memucat sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya "Ada apa?"
.
.
.
.
.
.
"Ahjussi aku rasa ini tempatnya!"
Hari sudah malam, dan pria yang sedang menjadi pasien di rumah sakit tempatnya bekerja sudah terlihat kelelahan. Seharian ini dia mencari dan menebak dimana tempat suaminya berada. Sedikit frustasi karena tak kunjung menemukan keberadaan Sehun ditambah ponsel yang sengaja di matikan membuat emosinya kembali terpancing mengingat hal mengerikan yang sedang dilakukan suaminya saat ini.
Ada apa? Apa yang terjadi?
Luhan-...Aku tahu hyungku bersalah melukaimu. Tapi haruskah istrinya merasakan apa yang kau alami?
A-...Apa maksudmu?
Sehun membawa Jae hyung ke suatu tempat. Dia hanya memberitahu Yunho hyung, dan bersumpah akan menyakiti istrinya jika Yunho memberitahuku atau anak buahnya yang lain
"Kenapa aku semakin tak mengenalmu Sehunna."
Pria cantik itu bergumam lirih, sedikit kedinginan karena hanya memakai pakaian rumah sakit dengan mantel tipis yang menjadi jaketnya. Membuatnya sedikit meniup tangannya berharap ini adalah tempat mengerikan terakhir yang ia datangi hari ini.
Dan kenapa Sehun harus membawa istri Yunho?
Karena Yunho menyakitimu.
"Kau yang menyakitku Sehun." katanya menatap frustasi gedung tua yang terletak di dalam hutan. Menyusuri dinginnya malam dengan sedikit melirik ke kanan dan ke kiri merasa begitu takut sebelum mendengar
"HENTIKAAAN! JANGAN PUKUL SUAMIKU LAGI. AKU MOHON!"
Langkah Luhan seketika terhenti mendengar jeritan asing dari dalam gedung tua yang akan ia datangi. Menebak apapun yang terjadi di dalam sana pasti hal yang sangat mengerikan, dan merasa sangat keakutan mengingat ada seseorang yang tengah menunggu kedatangan Yunho dan istrinya.
Aku sudah mencari kemanapun keberaadan mereka. tapi hasilnya nihil. Keponakanku sakit dan dia membutuhkan orang tuanya.
Keponakanmu?
Putra Yunho dan Jaejoong. Mereka memiliki putra yang memiliki kelainan pada hati, dan malam ini keponakanku akan menjalani operasi pencangkokan hati. Jadi bisakah kau membawa kedua hyungku ke rumah sakit malam ini?-...AKU MOHON LUHAN!
Luhan sedikit berlari terhuyung mendekati gedung tua yang biasa Sehun gunakan untuk menyandera musuhnya. Merasa hatinya kembali panas dengan seluruh kekecewaan yang kembali harus ia telan secara utuh karena semua yang dilakukan suaminya.
Pukul berapa putra Yunho menjalani operasi
Tengah malam nanti.
Luhan melirik arloji, merasa waktunya terbatas membuatnya kembali kehilangan arah. Dia harus terus terjatuh terhuyung sebelum kembali bangun untuk menghentikan semua hal mengerikan yang dilakukan Sehun saat ini.
Katakan pada keponakanmu kalau kedua orang tuanya akan datang malam ini. Tepat waktu
"INI BELUM SEBERAPA DENGAN APA YANG KAU LAKUKAN PADA LUHAN. KAU MEMBUAT ISTRIKU HAMPIR MATI DAN AKU BERSUMPAH AKAN MEMBALASNYA LEBIH KEJI DARI YANG KAU LAKUKAN. KAU DENGAR JUNG YUNHO?!"
Bugh...!
Luhan semakin mempercepat langkahnya mendengar suara Sehun yang terdengar begitu mengerikan. Sedikit mengepalkan erat tangannya sebelum
Sret...!
Luhan membuka paksa pintu yang hanya ditutup sekedarnya. Merasa begitu mual melihat keadaan Yunho yang begitu mengenaskan dengan istrinya yang diikat dengan kedua tangan diatas di sebuah tiang yang membuatnya harus berjingkat.
Luhan masih terperangah dengan keadaan mengerikan ini, sedikit tak berkedip sebelum menyadari tangan Sehun yang membawa besi kembali diayunkan untuk memukul Yunho yang kini berlutut tak berdaya di depannya. "Sehun?"
Suasana hening untuk sesaat. Sehun yang sangat mengenali suara Luhan harus sedikit berdebar berharap itu bukan Luhan. namun saat matanya mencari asal suara, dia seperti kehilangan harapannya untuk bertahan hidup membiarkan Luhan melihat sosok mengerikan apa yang dimiliki dirinya saat ini. "Luhan?"
Dan untuk pertama kalinya pula Luhan sangat menyesal menyukai suara itu-..Suara yang selalu berkata lembut padanya namun selalu mengumpat kasar bahkan berkata keji di belakangnya. Merasa sangat takut karena untuk pertama kalinya melihat sosok Sehun yang benar-benar keji seperti seorang iblis saat ini.
"huh?-...Aku takut melihatmu seperti ini." katanya tertawa getir dan berjalan mendekat ke arah Yunho yang terlihat mengenaskan saat ini. merasa matanya memanas dan tanpa sadar air mata ketakutan itu sudah menetes berkali-kali mewakili perasaan kecewa dan perasaan marahnya. "Aku sedang membalas apa yang dilakukan bajingan ini padamu."
Luhan berhenti dilangkahnya, mencari tatapan suaminya dan saat pandangan mereka bertemu dia terpaksa memandang mata yang kini menatapnya memohon dengan berkilat marah saat ini "Jika kau terus menggunakan diriku sebagai alasan untuk membunuh. Kenapa tak kau biarkan saja mereka membunuhku selamanya? Akan mudah untukmu melampiaskan kemarahanmu kan?"
"Berhenti. Jangan mendekat."
Luhan memperingatkan Sehun saat kedua langkah suaminya berjalan mendekat. Merasa sangat takut dan membenci Sehun di waktu bersamaan membuatnya tak bisa bertatapan dengan prianya saat ini.
Sehun sendiri hanya bisa diam memperhatikan apapun yang dilakukan Luhan saat ini. Tidak ada air mata namun setiap kata yang dilontarkan Luhan-... sepenuhnya tersirat kebencian yang mendalam untuknya. Hatinya seketika berdenyut begitu sakit menyadari setelah ini dia harus kembali berhadapan dengan amarah seorang Luhan. Memperingatkan pada seluruh anak buahnya untuk tidak menentang apapun yang diinginkan Luhan saat ini.
"Yunho?"
Yunho yang masih terkapar di lantai mau tak mau menatap begitu lega melihat wajah Luhan, sedikit tersenyum sebelum menunjuk istrinya yang masih terisak hebat "Aku akan melepasnya." Gumam Luhan sedikit terjatuh membuat Sehun ingin segera menolong istrinya sebelum tatapan Luhan kembali memperingatkan padanya.
"Apa kau baik-baik saja?" katanya bertanya pada Jaejoong yang sepenuhnya masih menatap takut pada Luhan dan terisak cemas melihat suaminya begitu tak berdaya.
"Aku bertanya padamu."
"Ya-..Ya...Aku baik tuan. Aku mohon jangan sakiti suamiku lagi, lepaskan kami."
Luhan menggigit kencang bibir bawahnya, matanya mencari sesuatu yang bisa membuka ikatan di tangan Jaejoong sampai akhirnya melihat sebilah pisau yang tergeletak begitu saja tak jauh dari tempat Jaejoong.
"Aku mohon jangan sakiti aku." Katanya semakin ketakutan saat Luhan memegang pisau dan kembali berjalan ke arahnya.
"Aku Luhan." gumam Luhan berusaha mengalihkan pandangan Jaejoong. Sedikit berjinjit untuk membuka ikatan tangan Jaejoong yang diikat begitu kuat.
"Jangan sakiti suamiku lagi. aku mohon."
Suara itu begitu memohon membuat gerakan di tangan Luhan sedikit melemah dan begitu menyadari kalau dirinya dan Jaejoong benar-benar berada di posisi yang sama. Posisi dimana seharusnya mereka hidup dengan seseorang yang memiliki kehidupan normal namun berakhir harus mencintai seseorang yang mengerikan seperti suaminya maupun Yunho yang jelas tak bisa memberi mereka kehidupan normal.
"Maaf."
"huh?"
Luhan tersenyum masih terus membuka ikatan dan sedikit melirik Jaejoong saat ini "Suamiku kita memang mengerikan. Tapi suamiku jauh lebih mengerikan." Hati Sehun sedikit mencelos mendengar ucapan Luhan. Menyadari nada suara Luhan yang jelas menunjukkan kekecewaannya karena telah dipertemukan dengan dirinya.
"Tapi kau tahu apa yang menyedihkan dari diriku? Aku mencintainya-...Sangat mencintainya." Katanya tersenyum pahit dan
Sret..!
Tali di tangan Jaejoong seketika terlepas, membuat Jaejoong berlari ke arah suaminya yang masih terlihat tak bergerak karena banyak mengeluarkan darah "Dalam tiga puluh menit kau harus berada di rumah sakit. Pergilah-...Putra kalian menunggu."
Jaejoong terisak memeluk erat Yunho saat ini, sampai akhirnya Yunho berdiri dengan tenaga tersisa yang ia miliki dengan Jaejoong yang membantunya berjalan mendekat ke arah Luhan "Terimakasih Luhan. Aku berhutang padamu." katanya sedikit meringis membuat Luhan menggeleng sebagai jawaban "Aku tidak menerima hutang apapun. kalian pergi tanpa syarat. Cepat temui malaikat kecil kalian."
Keduanya pun mengangguk dan perlahan berjalan meninggalkan gedung dengan Luhan yang tak bergeming di tempatnya, melindungi Jaejoong dan Yunho agar bisa segera meninggalkan tempat mencekam ini dengan segera.
Dan setelah memastikan kepergian Yunho dan Jaejoong. Luhan harus kembali berhadapan dengan suasang tegang di gedung tua ini. Bertatapan dengan Sehun yang juga menatapnya sebelum akhirnya tertawa pahit berjalan mendekat ke arah suaminya. "Kenapa kau seperti ini?" katanya bertanya putus asa menatap Sehun yang terus memandangnya tak berkedip
"ini semua untukmu."
"Untukku?" katanya tertawa lirih sebelum kembali menatap tajam suaminya
"Karena pekerjaanmu aku kehilangan putraku. Karena pekerjaanmu aku kehilangan suamiku-...apa kau tahu?-...APA KAU TAHU KAU MENGAMBIL TERLALU BANYAK DARIKU?" katanya mendorong kasar tubuh Sehun. Terlalu menyalahkan Sehun membuat Sehun hanya diam tak menjawab.
"Kau penyebab semua kehilangan kita Sehun. KAU!" katanya kembali meraung membuat Sehun benar-benar terluka saat ini.
Luhan kehilangan kendali emosinya saat ini. Menyalahkan semua yang terjadi pada Sehun tanpa tahu bahwa Sehun sama sekali tak terlibat dengan apa yang terjadi pada putra mereka. Sehun tentu saja tidak akan membiarkan Luhan mengetahui tentang apapun yang sesungguhnya terjadi pada putra mereka. Menerima seluruh kesalahan yang dituduhkan padanya tanpa bisa membela diri. Luhan terus berteriak menyalahkan Sehun sampai akhirnya suaranya melemah dan perlahan kembali berjalan mendekati Sehun "Kenapa kau hanya diam?"
"..."
"JAWAB AKU OH SEHUN!"
"Aku ingin kau tenang. Kau sedang emosi sayang." katanya menjawab setenang mungkin walau hatinya sepenuhnya terluka karena makian dan hinaan yang dilontarkan Luhan saat ini.
"cih. Ingin aku tenang?-...ah-..Aku tahu apa yang bisa membuatku tenang. Apa kau mau tahu?"
"Apapun itu-...Katakan padaku."
Luhan menatap lama suaminya. Mengagumi ketenangan Sehun yang membuatnya muak di situasi seperti ini. Sedikit tertegun sebelum akhirnya meniadakan jarak dengan Sehun "Aku ingin kita berpisah. Tidak bisakah?"
Deg..!
Harusnya Sehun tahu perpisahan adalah satu-satunya keinginan Luhan yang bisa membuat prianya bahagia. Harusnya Sehun tahu membawa Luhan ke lingkaran setan di hidupnya adalah kesalahan. Harusnya Sehun menyetujui untuk berpisah lebih awal dengan Luhan. Harusnya Sehun tahu kalau akhir bahagia tidak akan pernah menjadi miliknya dan Luhan. Harusnya Sehun lelah bertahan sementara Luhan terus menginginkan perpisahan.
Ya... Jika Sehun menyadarinya lebih awal mungkin Luhan tidak akan terluka sedalam ini. Dan karena semua hal itu-...Membuat Sehun sedikit berpikir. Dia enggan mengatakan iya. Namun jika dia terus mempertahankan Luhan. Maka rasa sakit yang mereka rasakan akan semakin dalam. Matanya terus menatap ke mata istrinya. Sedikit mengusap lembut wajah Luhan yang memucat sebelum tersenyum dengan air mata yang jatuh dengan cepat membasahi pipinya "Kau mendapatkannya Lu. Kita akan berpisah."
Bibirnya mungkin tersenyum, tapi hatinya terasa dicabik karena pada akhirnya mengucapkan kalimat yang menyatakan dia merelakan hubungan mereka berakhir. Keduanya memejamkan mata mereka erat, menikmati rasa sakit akan perpisahan yang akan segera terjadi sampai akhirnya Sehun kembali membuka matanya sedikit tersenyum dan mencium lama kening Luhan untuk terakhir kalinya "Aku akan segera mengurusnya. Yang perlu kau lakukan hanya beristirahat hmm" katanya masih terus berusaha tersenyum dengan hati yang begitu terkoyak hancur menjadi serpihan.
"Aku mencintaimu. Selamat tinggal."
.
tobecontinued
.
Selamat lebaran.
Maaf lahir batin. Maapin gue belon apa2 udah bikin emosi lagi kkk :v
yang mengalami gejala dongkol akut, kesel sampe ke ubun, bacanya entar aja udin. daripada merong2 kan serem :"
.
Happy reading n review...
