Previous

"Kenapa kau seperti ini?" katanya bertanya putus asa menatap Sehun yang terus memandangnya tak berkedip

"ini semua untukmu."

"Untukku?" katanya tertawa lirih sebelum kembali menatap tajam suaminya

"Karena pekerjaanmu aku kehilangan putraku. Karena pekerjaanmu aku kehilangan suamiku-...apa kau tahu?-...APA KAU TAHU KAU MENGAMBIL TERLALU BANYAK DARIKU?" katanya mendorong kasar tubuh Sehun. Terlalu menyalahkan Sehun membuat Sehun hanya diam tak menjawab.

"Kau penyebab semua kehilangan kita Sehun. KAU!" katanya kembali meraung membuat Sehun benar-benar terluka saat ini.

Luhan kehilangan kendali emosinya saat ini. Menyalahkan semua yang terjadi pada Sehun tanpa tahu bahwa Sehun sama sekali tak terlibat dengan apa yang terjadi pada putra mereka. Sehun tentu saja tidak akan membiarkan Luhan mengetahui tentang apapun yang sesungguhnya terjadi pada putra mereka. Menerima seluruh kesalahan yang dituduhkan padanya tanpa bisa membela diri. Luhan terus berteriak menyalahkan Sehun sampai akhirnya suaranya melemah dan perlahan kembali berjalan mendekati Sehun "Kenapa kau hanya diam?"

"..."

"JAWAB AKU OH SEHUN!"

"Aku ingin kau tenang. Kau sedang emosi sayang." katanya menjawab setenang mungkin walau hatinya sepenuhnya terluka karena makian dan hinaan yang dilontarkan Luhan saat ini.

"cih.Ingin aku tenang?-...ah-..Aku tahu apa yang bisa membuatku tenang. Apa kau mau tahu?"

"Apapun itu-...Katakan padaku."

Luhan menatap lama suaminya. Mengagumi ketenangan Sehun yang membuatnya muak di situasi seperti ini. Sedikit tertegun sebelum akhirnya meniadakan jarak dengan Sehun "Aku ingin kita berpisah. Tidak bisakah?"

Deg..!

Harusnya Sehun tahu perpisahan adalah satu-satunya keinginan Luhan yang bisa membuat prianya bahagia. Harusnya Sehun tahu membawa Luhan ke lingkaran setan di hidupnya adalah kesalahan. Harusnya Sehun menyetujui untuk berpisah lebih awal dengan Luhan. Harusnya Sehun tahu kalau akhir bahagia tidak akan pernah menjadi miliknya dan Luhan. Harusnya Sehun lelah bertahan sementara Luhan terus menginginkan perpisahan.

Ya... Jika Sehun menyadarinya lebih awal mungkin Luhan tidak akan terluka sedalam ini. Dan karena semua hal itu-...Membuat Sehun sedikit berpikir. Dia enggan mengatakan iya. Namun jika dia terus mempertahankan Luhan. Maka rasa sakit yang mereka rasakan akan semakin dalam. Matanya terus menatap ke mata istrinya. Sedikit mengusap lembut wajah Luhan yang memucat sebelum tersenyum dengan air mata yang jatuh dengan cepat membasahi pipinya "Kau mendapatkannya Lu. Kita akan berpisah."

Bibirnya mungkin tersenyum, tapi hatinya terasa dicabik karena pada akhirnya mengucapkan kalimat yang menyatakan dia merelakan hubungan mereka berakhir. Keduanya memejamkan mata mereka erat, menikmati rasa sakit akan perpisahan yang akan segera terjadi sampai akhirnya Sehun kembali membuka matanya sedikit tersenyum dan mencium lama kening Luhan untuk terakhir kalinya "Aku akan segera mengurusnya. Yang perlu kau lakukan hanya beristirahathmm"katanya masih terus berusaha tersenyum dengan hati yang begitu terkoyak hancur menjadi serpihan.

"Aku mencintaimu. Selamat tinggal."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Entangled

Main Cast : Sehun & Lu Han

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

.

.

.


be ready...this chapter gonna take your time!


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"DOKTER OH!"

Langkah kakinya terhenti saat seorang perawat memanggilnya dengan nada panik. Membuat si pemilik nama menoleh dan sedikit menautkan kedua alisnya melihat bagaimana dua orang perawat berlari menghampiri dirinya dengan terburu "Ada apa?"

"Tolong ikut kami dokter Oh. Ini darurat."

Melihat kedua perawat senior yang selalu bisa menguasai situasi dan kondisi terburuk pasien mengatakan "Ini darurat." Maka tak ada alasan untuk Luhan menunda melihat keadaan pasien mengingat dirinya selalu bisa mengandalkan Perawat Kim dan Han yang selalu membantunya selama dirinya ditugaskan di Unit Gawat Darurat.

Ya…Ini sudah memasuki hari ketujuh Luhan menjadi Kepala Bagian Unit Gawat Darurat. Dipindahkan dari poli bedah syaraf dan berada di unit yang mengharuskan tubuhnya stand by selama dua puluh empat jam jelas bukan karena keinginannya. Luhan dipindahkan ke unit gawat darurat adalah sebagai bentuk sanksi yang harus ia terima mengingat dalam waktu kurang dari tiga bulan dia telah melakukan dua kesalahan fatal. Pertama dia bertugas saat statusnya sebagai dokter dinonaktifkan. Kedua karena Luhan mengambil cuti tanpa izin resmi dari Manajemen di rumah sakit untuk jangka waktu yang terlalu lama. Membuatnya harus menerima Konsekuensi yang diberikan rumah sakit untuknya tanpa penolakan atau penjelasan mengenai kekacauan yang telah ia buat.

Jika Luhan menerima keputusan pemindahan sementara dirinya ke Unit Gawat darurat tanpa pembelaan sedikit pun. Maka berbeda dengan seorang dokter berparas cantik namun terkesan tampan yang melayangkan protes garis kerasnya mengenai pemindahan yang dilakukan Management Rumah sakit pada sahabatnya.

Adalah Byun Baekhyun –dokter sekaligus sahabat Luhan- yang secarajelas dan tegas menolak keras hukuman yang diberikan untuk Luhan. Dia sudah melayangkan suara yang menentang keputusan Management yang dengan bodohnya memindahkan dokter spesialis bedah sekelas Luhan ke unit gawat darurat yang hampir setiap harinya harus menangani pasien dengan keadaan kritis yang bisa ditangani oleh dokter umum atau residen tanpa harus melibatkan dokter spesialis seperti Luhan yang sudah terlalu berpengalaman di bagian gawat darurat.

Namun semua yang diusahakan Baekhyun untuk Luhan terasa sangat sia-sia. Bukan hanya karena ayahnya tak menyetujui suaranya namun karena Luhan sendirilah yang menyetujui tanpa memprotes apapun mengenai pemindahan sementara dirinya ke unit gawat darurat. Keduanya sempat bertengkar hebat satu minggu yang lalu. Tapi saat Baekhyun mengetahui alasan Luhan menerima unit yang akan membuat dirinya kelelahan adalah karena masalah serius yang sedang dirinya dan Sehun hadapi-….Baekhyun diam.

Baekhyun bahkan harus mati-matian menahan rasa gundahnya saat mendengar langsung pernyataan dari sahabatnya mengenai perceraian yang akan segera dirinya dan Sehun lakukan. Membuatnya ingin sekali memaki dan membentak pada sepasang suami istri yang begitu saling mencintai namun terus menjauh dengan alasan tak bisa bersama lebih lama lagi –hell- tentu saja itu hanya omong kosong yang dilontarkan baik dari pihak Luhan maupun dari pihak Sehun. Keduanya hanya terus menerus saling menyakiti dan tak berpikir dengan matang jika emosi sudah menyulut pikiran masing-masing.

Baekhyun tahu benar bagaimana perjalanan kisah cinta Sehun dan Luhan yang begitu sulit dan rumit. Keduanya bahkan bisa mengakhiri hubungan mereka lebih cepat agar tidak saling menyakiti lebih jauh. Tapi apa yang terjadi?-…Keduanya memutuskan untuk tetap bersama dengan ikatan yang menyebut mereka sebagai pasangan kekasih.

Sehun dan Luhan bahkan pernah menghadapi cobaan yang lebih berat dari saat ini. Saat dimana mereka memutuskan untuk saling membuka hati namun kehidupan yang begitu berbeda menjadi penghalangnya. Saat keduanya memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih dan tiba-tiba Tuhan memberikan keajaiban pada Luhan yang bisa mengandung benih cinta Sehun untuknya. Saat melalui pertimbangan yang begitu menyakitkan keduanya akhirnya memutuskan menikah untuk menjadi orang tua seutuhnya dari putra kecil mereka. Dan seolah tak berhenti sampai disitu-…Tuhan dengan teganya mengambil satu-satunya kebahagiaan Sehun dan Luhan. Membuat kehidupan pernikahan mereka merenggang namun memutuskan untuk terus hidup bersama dan menguatkan satu sama lain.

Sehun dan Luhan telah mengalami banyak kehilangan dengan luka yang begitu menyayat di sepanjang kehidupan pernikahan mereka. keduanya masih terus bertahan hingga hari dimana keduanya menyerah tiba dan memutuskan untuk berpisah seperti saat ini.

Membuat siapapun yang mengenalnya hanya bisa diam dan tak berani menyuarakan rasa kecewa mereka pada keputusan yang dibuat Sehun maupun Luhan. Begitupula yang dialami Baekhyun saat Luhan menceritakan rencana perceraiannya dengan Sehun yang sedang diproses di pengadilan. Diam dan tak berbicara. Hanya itu yang bisa Baekhyun lakukan pada keputusan penuh emosi yang diambil oleh sahabatnya.

"Dokter Oh."

Semua perawat dan residen yang melihat kedatangan Luhan tampak menghela nafas lega, dan Seohyun selaku dokter yang berjaga malam ini langsung menghampiri Luhan sementara Taeyong masih mencoba melakukan tindakan cepat pada pasien yang ditanganinya.

"Ada apa?"

"Pasien ini datang dengan keluhan sesak dan lemas. Dan setelah kami periksa catatan medisnya, lima hari yang lalu pasien mengalami serangan nyeri dada kurang lebih hampir setiap tiga puluh menit dengan rasa nyeri yang hebat disertai muntah-muntah dan keringat dingin." Ujar Taeyeong selaku partner Seohyun yang mulai menjelaskan keadaan pasien yang sedang mereka tangani.

"Kalian sudah melakukan EKG?"

"Sudah."

"Hasilnya?"

"Ini." timpal Seohyun memberikan selembar gulungan kecil yang menggambarkan irama jantung pasien pada Luhan. Dan sementara Luhan melihatnya, Seohyun mulai menerjemahkan hasilnya pada dokter spesialis yang menjadi ketua tim dari instansi nya saat ini

"Irama sinus, laju jantung 98x/menit, aksis normal, elevasi segmen ST : II, III, aVF, V3R, V4R, V7-V9, Depresi segmen ST : V2-V4, I, aVL. Dan pada grafik ketiga, susunan detak jantungnya mulai putus dan jauh dari irama normal." Katanya menunjukkan gambaran detak jantung pasien pada Luhan.

Luhan pun segera mengembalikan gulungan kertas itu pada Seohyun. Mendekati pasien dan menggunakan senter kecilnya untuk memeriksa kondisi kesadaran pasien "Hasil darah?"

"Hasil darah dari laboratorium menunjukkan Hb : 14,2; Ht : 42, Leukosit : 12.800; Ck : 249; MB : 51, αHBDH = 1203"

"Baiklah. Dugaan sementara ini adalah Infark Miokard ventrikel kanan memasuki hari kelima. Pasien juga mengalami syok Kardiogenik. Berikan suplai oksigen dengan nitrat intravena untuk kejangnya."

Seohyun dan Taeyong mengangguk mengerjakan perintah Luhan. sementara Luhan terus memastikan denyut nadi pasien yang masih tidak beraturan akibat kejang yang dialami "Siapkan petidin." Katanya memberi perintah pada perawat.

"Ini dok."

"Miringkan tubuhnya. Aliran pernafasannya tersumbat. Dalam hitunganku. Satu-..Dua-. Sekarang."

Tubuh pasien pun mulai terbaring miring. Dengan Taeyeong dan Seohyun yang masih memasangkan oksigen pada pasien yang mulai menunjukkan peningkatan oksigen dalam tubuh. "Tingkat kejenuhan oksigen delapan puluh persen."

Luhan mengangguk dan mulai menyuntikkan injeksi penghilang rasa nyeri ke tubuh pasien. Sementara Seohyun hanya memperhatikan bagaimana tenangnya Luhan menangani pasien di ruang tindakan. "Bagaimana dengan Morfin dokter Oh?"

"Hindari Morfin dalam keadaan infark Miokard. Pemberian Morfin hanya menyebabkan tekanan darah menurun dan denyut jantung menjadi sangat lambat. Dan jika kalian tetap memberikan Morfin pada kasus infark miokard seperti ini, Potensi gagal jantung yang akan dialami pasien semakin besar. Kalian mengerti?" katanya bertanya pada dua residennya yang terlihat mengangguk baru menyadari kesalahan pengobatan yang hampir mereka lakukan.

"Baik dok."

"Denyut nadi?" katanya bertanya pada perawat yang bertugas memantau monitor jantung diruang tindakan saat ini

"Denyut nadi dan jantung menuju angka normal dokter Oh."

Luhan meletakkan jarum suntiknya di tempat khusus. Meletakan stetoskop nya di saku jas putihnya sebelum melihat Seohyun dan Taeyong bergantian. "Tetap awasi kondisi pasien. Jika pasien mengalami serangan kedua. Akan sangat berbahaya untuknya."

"Baik dokter Oh."

"Jika tekanan darah menurun. Kalian bisa memberikan atropin dengan cairan infus sebanyak 50 cc setiap 10 menit. Berikan secara bertahap. Oke?"

"Bagaimana jika denyut jantung melemah?"

"Berikan nitrat bersamaan atropin. Itu akan membantu mengembalikan keadaan pasien menjadi normal secara bertahap. Apa sudah jelas?"

"Jelas dokter Oh. Terimakasih."

"Beritahu aku jika terjadi sesuatu. Untuk sementara kalian yang mengawasi."

Baik Taeyong maupun Seohyun hanya mengangguk mengerti. Keduanya pun membungkukan badan saat Luhan pergi meninggalkan ruangan tindakan. Merasa sangat bersyukur karena saat ini Luhan menjabat menjadi kepala ruang Unit Gawat darurat. Karena jika bukan Luhan, keduanya berani menebak kalau bukan dalam keadaan terdesak, tidak akan ada kepala Unit Gawat Darurat yang mau turun untuk melihat kondisi pasien di tengah malam seperti ini.

Sementara Luhan masih harus pergi menuju ruang kerjanya. Melupakan niatnya untuk beristirahat karena selain tubuhnya sudah sangat terlalu lelah, pikirannya juga bercabang. Dan jika sudah seperti itu-..dipastikan kalau percuma dirinya segera pergi tidur karena hanya akan berakhir termenung terbayang wajah suaminya.

Ting…!

Luhan segera melangkahkan kakinya keluar saat pintu lift terbuka. Merasa begitu kosong dan hampir tidak bisa merasakan apapun seminggu lamanya. Dan tidak perlu bertanya apa yang menyebabkan seorang spesialis bedah seperti dirinya terlihat menyedihkan walau senyum jelas terlihat di wajahnya yang rupawan.

Luhan masih melangkahkan kakinya ke ruangan yang berjarak empat lantai dari Unit Gawat Darurat. Masih tidak memperhatikan apapun sampai langkah kakinya terhenti melihat seseorang berdiri di depan ruangannya dengan membawa sebuah map yang tidak perlu lagi ia tebak apa isinya "Kai?"

Yang disapa hanya membenarkan posisi berdirinya, membungkuk untuk menyapa istri dari bosnya dengan senyum yang sangat dipaksakan di wajah tampannya "Selamat malam Luhan. Maaf mengganggu waktu istirahatmu."

Luhan sendiri hanya menatap Kai cukup lama, terdiam memperhatikan betapa berubahnya sikap pria yang selalu ditugaskan menjaganya, membuat bibirnya tersenyum pahit menyadari bahwa Sehun sudah mulai menjadikan semua normal seperti sebelum mereka bertemu "Kau tidak mengganggu Kai. Ada apa?" katanya bertanya dan mendekati Kai yang masih bersikpap terlalu formal padanya "Ada yang ingin aku sampaikan."

Luhan masih menimbang kalimat yang diucapkan Kai. Bukankah harusnya dia mengatakan aku ingin menyampaikan pesan dari Sehun. Bukan kalimat yang mengatasnamakan dirinya sendiri adalah alasan utama mengapa dia berada di rumah sakit malam ini "Kalau begitu masuk ke ruanganku. Kita bicara di dalam."

Kai sendiri tak berani menatap Luhan, hanya menjawab seperlunya dan mengikuti apa yang Luhan perintahkan untuknya "Duduk Kai. Jangan menyulut emosiku karena sikapmu." Ujar Luhan sedikit menggeram tak tahan dengan perubahan Kai yang sedikit banyak membuat hatinya begitu mencelos kehilangan.

Dan setelah melihat Kai menarik kursi di depannya. Luhan kembali mendegus marah karena pria suruhan suaminya sama sekali tak mengeluarkan suara. Membuatnya harus kembali memijat keningnya yang terasa berat sebelum menghela dalam nafasnya untuk menenangkan diri "Ada apa?"

"Aku tahu kau sudah menebak alasan kedatanganku menemuimu malam ini." katanya mulai membuka suara dan menyerahkan dokumen dengan map berwarna cokelat kepada istri dari bosnya. Membuat Luhan sendiri sedikit ragu menerima map berwarna cokelat tersebut. Sedikit menimbang apakah dirinya sudah siap melihat isi didalam map cokelat tersebut atau meminta Kai datang lain waktu disaat dirinya sudah siap menerima apapun yang menjadi keputusannya malam itu bersama Sehun.

"Luhan?"

Mata Luhan mengerjap beberapa kali, bersyukur karena kesadarannya kembali datang dan tak membuat Kai harus melaporkan pada Sehun kalau dirinya sedang dilanda keraguan luar biasa dalam hidupnya malam ini "Ya. Aku tahu." Katanya menerima map cokelat tersebut, sedikit mendiamkannya cukup lama sampai akhirnya memutuskan untuk membaca dokumen yang terdapat didalam map cokelat yang diberikan Kai. Membukanya perlahan dan cukup tersayat saat membaca Surat permohonan gugatan perceraian yang tertera di dalam dokumen tersebut.

Tangannya tanpa sadar mencengkram erat dokumen tersebut. Matanya terasa begitu panas ketika melihat dengan jelas tanda tangan Sehun sudah tertera di permohonan perceraian mereka. membuat bibirnya tersenyum sangat terluka menyadari kalau kali ini perceraian mereka akan benar-benar berjalan sesuai prosedur karena kedua belah pihak sudah memutuskan untuk berpisah.

"Dimana aku harus tanda tangan?" katanya bertanya pada Kai yang hanya menatapnya tak berkedip "Disini?" Luhan kembali bertanya namun Kai tetap tak menjawab pertanyaannya.

"ah benar-...Aku harus tanda tangan di-.."

"Bisakah kau memikirkannya lagi?"

Luhan sedikit menatap marah pada Kai yang mencengkram erat pergelangan tangannya. Mencoba mencegah Luhan untuk menandatangani selembar kertas yang akan merubah status Sehun dan Luhan secara keseluruhan "Dan kenapa aku harus memikirkannya lagi?"

Kai kembali menatap Luhan terlalu putus asa, mencoba untuk mencoba meyakinkan Luhan dengan harapan akan adanya keajaiban yang membuat sepasang suami istri yang begitu ia kagumi berhenti saling menyakiti satu sama lain "Karena jika kau menandatanganinya malam ini juga. Maka proses pengabulan perceraian kalian akan terjadi lebih cepat."

"Itu yang kami berdua inginkan Kai!"

"Kalian tidak menginginkannya. Kalian terluka Luhan!"

Keduanya saling menatap tak berkedip saat ini. Dimana Kai menatap Luhan sangat memohon sementara Luhan merasa sangat tersinggung ketika Kai memintanya memikirkan ulang perceraiannya dengan Sehun sementara Sehun dengan mudahnya membubuhkan tanda tangannya di selembar kertas mengerikan didepannya "ck. Kenapa aku harus memikirkannya? Kenapa aku harus sementara Sehun tidak?-...Apa kau tidak lihat kalau bosmu sudah menandatangani surat perceraian kami. Apa kau-..."

"DIA TERPAKSA LUHAN!"

Luhan sedikit tersentak saat tiba-tiba Kai berteriak padanya. Merasa begitu takut dan bertanya di waktu bersamaan. Mungkin bibirnya sudah akan bergerak memberikan pertanyaan kalau Kai tidak kembali berbicara mengatakan apa yang sama sekali tidak Luhan ketahui "Dia terpaksa karena kau terus memintanya Lu." Katanya mencoba memberitahu bukan sebagai Kai si bodyguard yang ditugaskan menjaganya. Tapi sebagai Kai yang sudah Luhan anggap sebagai sahabatnya sendiri seperti Baekhyun "Tidak bisakah kau memikirkannya lagi?"

"Sehun sudah menandatanganinya. Jadi untuk apa aku memikirkannya lagi?"

"Sepuluh hari-...Aku mohon pikirkan untuk menandatangani surat perceraian kalian sepuluh hari. Setelah sepuluh hari aku akan datang kembali untuk mengambill dokumennya. Entah kau menandatanganinya atau tidak-...Aku tidak akan ikut campur lagi. Aku janji. Tapi aku mohon pikirkan lagi malam ini."

Luhan menatap lama pria didepannya yang entah mengapa terlihat sangat memohon. Membuatnya teringat akan Baekhyun yang juga memintanya untuk berpikir selama sepuluh hari. Luhan merasa sepuluh hari tidak akan membuat dirinya merubah keputusan. Dan Entah apa yang akan terjadi sepuluh hari kedepan-...Tapi Luhan yakin kalau dirinya akan tetap menandatangani surat perceraiannya dengan Sehun.

Dia kembali menatap Kai berpikir sampai akhirnya mengangguk menyetujui permintaan teman yang selalu menjaganya dan rela terluka karenanya "Baiklah sepuluh hari-...Setelah sepuluh hari kau haru berjanji untuk tidak mencampuri urusanku dan Sehun lagi."

Kai sendiri tidak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya. Dia menggengam tangan Luhan sekilas sebelum berdiri dari kursinya untuk segera pergi dari ruangan Luhan "Terimakasih banyak Luhan. Terimakasih. Aku permisi." Katanya membungkun dan perlahan berjalan meninggalkan ruangan Luhan sebelum langkah kakinya kembali terhenti.

"Luhan..." katanya memanggil Luhan membuat si pemilik nama sedikit bertanya karena Kai kembali memasang wajah memohonnya "Kau harus tahu satu hal." ujarnya menambahkan membuat Luhan menatapnya semakin bertanya-tanya "Ada apa?"

Kai sendiri hanya bisa tersenyum lirih sebelum sedikit menghela dalam nafasnya "Sehun menangis saat menandatangani surat perceraian kalian. Dia benar-benar tersiksa dengan keputusan perceraian ini. Dan untukku-...Ini kali pertama aku melihatnya menangis. Aku bahkan tidak melihatnya menangis saat Ziyu meninggal setahun yang lalu. Tapi malam ini dia menangis-...Dia menangis hanya karena selembar kertas dan dia menangis-...Dia menangis karena terlalu merindukanmu Luhan. Aku permisi."

Entah Luhan harus bersikap seperti apa saat ini. Dia merasa Kai terus menyerangnya tanpa henti, menceritakan bagaimana Sehun terlihat sangat menderita membuat sebagian respon tubuhnya menggeram marah. Hatinya begitu sakit. Dan rasa rindu itu-...Luhan juga merasakannya. Membuat tanpa sadar air mata jatuh membasahi surat perceraian mereka.

Katakanlah Luhan egois, karena disaat tangannya sudah memegang ponsel dan hatinya sudah menjerit meminta semua rasa sakit ini dihentikan. Dia dengan angkuhnya menolak semua respon hatinya untuk kembali pada Sehun. Menghapus cepat air matanya lalu meletakkan surat perceraiannya di laci kerja adalah hal yang terakhir Luhan lakukan sebelum pergi meninggalkan pikiran-pikiran yang begitu menginginkan pembatalan akan perpisahannya dengan Sehun "Aku akan tetap pada keputusanku."

Luhan dengan seluruh keyakinan yang ia miliki. Dia tidak mengubah apapun. dia hanya ingin hidup sebagai Luhan tanpa campur tangan Sehun didalamnya. Luhan yang bebas dan Luhan yang tak perlu mengalami ketakutan. Katakanlah Luhan sangat egois. Tapi semua yang dia lakukan semata-mata karena kapasitasnya untuk bertahan dengan kehidupan mengerikan Sehun sudah mencapai batasnya. Dan seperti yang ia katakan pada Sehun hari itu-...Sehun sudah mengambil terlalu banyak darinya. Dan Luhan tak bisa kehilangan lebih banyak lagi.

.

.

.

Cklek...!

Setelah berdebat dengan logika dan perasaanya sendiri. Luhan merasa sangat kelelahan. Dan setiap kali pria yang masih menyandang status sebagai istri yang sah dari seorang Oh Sehun terlalu kelelahan. Dia akan mengalami sakit kepala tak tertahankan yang membuatnya memutuskan untuk pergi ke tempat tidur yang disediakan di rumah sakit untuk sekedar memejamkan mata dan berharap bisa benar-benar terlelap setelahnya.

Luhan masih berjalan memasuki ruang tidur yang disediakan tanpa memperhatikan apapun sampai langkah kakinya terhenti melihat sosok yang tumbuh besar bersamanya tengah bersandar di tepi ranjang miliknya "Yeol?"

Yang disapa hanya tersenyum sebelum menghampiri Luhan dan menggenggam tangan Luhan membawanya untuk segera duduk di tempat tidur miliknya "Hey-...Aku sudah menunggumu hampir setengah jam." Katanya berjongkok di depan Luhan dengan kedua tangan yang terus menggenggam Luhan "Ada apa yeol?"

Chanyeol hanya menggeleng cepat dengan senyum yang tak bisa disembunyikan dari wajahnya "Aku senang kau mengambil keputusan yang tepat."

"Keputusan yang tepat?"

"humhh...Kau memutuskan untuk bercerai. Itu adalah keputusan paling tepat Luhan."

"ah-..."

Cklek...!

Belum selesai Luhan menjawab, pintu kembali terbuka dan kali ini menampilkan Baekhyun yang terlihat salah tingkah melihat bagaimana posisi Luhan dan Chanyeol saat ini "y-YAK! Apa yang kau lakukan? Cepat keluar!"

Baekhyun tanpa alasan yang jelas kini memaki Chanyeol yang masih berjongkok di depan Luhan. Merasa Chanyeol begitu egois karena terus mengambil kesempatan untuk mendekati Luhan yang sedang menjalani proses perceraian dengan Sehun "Aku ingin tidur disini-...Bersama Luhan."

"yeol..Tidak perlu. Sungguh aku baik-baik saja."

"Kau terlihat kelelahan Lu. Aku akan menemanimu malam ini."

"Jika semua dokter spesialis tidur disini. Lalu dimana residen harus tidur? Cepat pergi. Aku yang akan menemani Luhan."

"Kau yang harusnya pergi dokter Byun. Memangnya kau bisa tidur di tempat tidur sempit dan gelap seperti ini?"

"PARK CHANYEOL!"

"Baekhyun yang akan menemaniku. Dia sudah tidur bersamaku hampir seminggu ini. Kau pergilah dan cepat beristirahat."

Luhan menyela semua umpatan dan teriakan yang dilontarkan Baekhun dan Chanyeol bergantian. Membuat keduanya terdiam dan menyadari kalau mereka hampir saja membuat Luhan kesal. Dan karena alasan itupula. Chanyeol sebagai pihak yang tidak dipilih hanya bisa menghela dalam nafasnya sebelum berdiri bersiap meninggalkan kamar yang sudah beberapa hari ini ditempati oleh Luhan "Baiklah aku pergi. Aku hanya sangat bahagia mendengar kau memutuskan untuk berpisah dari pria mengerikan itu."

"Sehun tidak mengerikan." Katanya menyela dan jelas menunjukkan nada tersinggungnya mendengar ucapan Chanyeol yang menghina Sehun di depannya "Ish! Mulutmu benar-benar mengerikan. Cepat pergi!"

Kali ini Baekhyun yang menyindir Chanyeol, berusaha membuat suasana tidak menjadi canggung dengan menyalahkan Chanyeol dan membela Luhan yang terlihat sudah lebih tenang saat ini. Chanyeol sendiri sedikit menatap Baekhyun berterimakasih dan menatap Luhan sedikit menyesal "Aku tidak bermaksud berbicara kasar Lu."

"Lupakan. Cepat istirahat-...Kau ada operasi penting esok pagi."

"hmm...Kau juga segera beristirahat. Aku pergi." Katanya berpamitan melewati Baekhyun yang menolak menatapnya "Kau juga beristirahatlah Baek. Sampai besok."

Baekhyun hanya mengangguk sebagai jawaban. Masih menolak menatap Chanyeol dan segera duduk di samping Luhan yang kini berganti menatap khawatir padanya "Kau baik?"

"eh? Aku kenapa?" katanya bertanya dan menatap sekilas sahabatnya "Kau seperti menjauhi Chanyeol?"

"ah-...Aku hampir menyerah padanya. Hanya menjaga jarak dan tidak mau terlalu berharap."

"Kenapa?"

"Rasanya sakit." Katanya tersenyum lirih memberitahu Luhan dan tak lama berbaring di samping tempat tidur Luhan. Mengabaikan tatapan mengasihani yang diberikan Luhan untuknya dan lebih memilih untuk menarik selimut untuk segera beristirahat "Selamat malam Lu."

Luhan masih terdiam tak menjawab. Memperhatikan sahabatnya yang hanya berpura-pura baik walau ia tahu perasaannya sangat hancur jika menyangkut masalah hatinya. Mungkin Baekhyun memiliki segalanya yang bisa membuatnya bahagia. Tapi kembali lagi jika menyangkut masalah perasaan. Sahabatnya adalah seseorang yang terlihat sangat kesepian dan membutuhkan seorang teman bicara yang bisa menghiburnya. Membuat Luhan hanya bisa tersenyum lirih dan berjanji akan selalu ada untuk Baekhyun sampai sahabatnya memiliki teman pendampingnya sendiri

"jja-...Kita tidur. Selamat malam cantik." Katanya ikut berbaring disamping Baekhyun. Menggoda sahabatnya yang terlihat kesal dan menggeliat tak mau dipeluk dari belakang seperti yang Luhan lakukan saat ini "Ambil cermin dan lihat siapa yang paling cantik!" katanya menggerutu membuat Luhan tertawa mendengarnya

"Selamat malam Baek. Aku menjagamu."

Baekhyun sedikit tersenyum dan mulai memeluk lengan Luhan yang melingkar di pinggangnya "Apa kau baik?" katanya bertanya serius pada Luhan yang beberapa hari ini sengaja membuat dirinya sibuk agar tidak ada yang mengganggu pikirannya.

"Kenapa bertanya seperti itu?" katanya membalas dan mengeratkan pelukannya pada Baekhyun "Apa kau merindukan Sehun?"

Senyum di wajah Luhan seketika menghilang. Seharian ini dia sudah berusaha agar tidak mendengar nama suaminya. Karena setiap kali nama Sehun disebut, hati Luhan berdegup kencang merasa begitu khawatir dan merindukan suaminya sevara berlebihan. Membuatnya hanya bisa menghela dalam nafasnya dan mengangguk di punggung Baekhyun "Aku merindukannya."

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan seperti dugaan Luhan sebelumnya. Dia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Hatinya resah dan begitu merindukan suaminya. Berniat menghubungi Sehunnya namun kembali ia batalkan karena takut niatnya berpisah akan kembali gagal setiap kali dia bertemu atau berbicara dengan suaminya.

Luhan bangun dari tidurnya, sedikit melirik sahabatnya yang terlihat sangat kelelahan namun tak pernah meninggalkannya disaat yang begitu sulit untuk Luhan hadapi sendiri "Terimakasih untuk semuanya Baek. Aku menyayangimu." Luhan membenarkan selimut yang digunakan untuk menghangatkan tubuh teman kecilnya. dan setelah memastikan Baekhyun tidur tanpa terganggu, kakinya mulai mencari sandal yang biasa ia gunakan dan segera bergegas keluar kamar di asrama untuk mencari udara segar di malam dingin seperti saat ini,

"Selamat malam dokter Oh."

Luhan hanya tersenyum mengangguk saat beberapa perawat yang mendapatkan shift malam menjaganya. Memutuskan untuk terus berjalan sampai

"Hey apa kau sudah dengar berita terbaru?"

"Berita apa?"

"Aku dengar dokter Oh akan bercerai dengan suaminya yang tampan."

"Omo! Benarkah? Apa mereka bertengkar hebat?"

"Aku rasa seperti itu."

"Sayang sekali. Padahal mereka terlihat sangat cocok bersama. Lagipula suaminya sangat tampan dan sangat suka tersenyum."

Luhan sendiri hanya bisa menikmati gosip yang dengan cepatnya beredar di tempatnya bekerja. Membuat dirinya kehabisan pilihan karena tidak tahu harus menangani dengan cara apa jika sesuatu bernama gosip sudah mulai tersebar dan menjadikannya artist of the week minggu ini. Mengangkat kedua bahunya adalah pilihan untuk Luhan, kembali tersenyum pahit dan melanjutkan tujuannya mencari udara segar sampai

"Hey. Jika mereka bercerai kita harus memanggil dokter Oh dengan sebutan apa? Setahuku Oh adalah marga suaminya kan?"

"ah-...Kau benar. Oh adalah marga suaminya. Jika mereka bercerai mungkin kita harus bersiap dengan panggilan baru. Seperti dokter Lu atau dokter Han mungkin."

"Aku tidak akan terbiasa dengan panggilan itu-...Hey itu dokter Oh."

Kedua petugas yang sedang bergosip itu pun seketika memucat menyadari keberadaan Luhan didekat mereka. Dan berpura-pura kembali bekerja adalah satu-satunya pilihan mencoba mengabaikan kehadiran Luhan yang masih terdiam di tempatnya dengan wajah memucat seolah tak rela jika panggilan dokter Oh yang selama ini melekat padanya harus tiba-tiba direnggut darinya.

"ah-...Kau benar. Oh adalah marga suaminya. Jika mereka bercerai mungkin kita harus bersiap dengan panggilan baru. Seperti dokter Lu atau dokter Han mungkin."

"Aku tidak akan terbiasa dengan panggilan itu-.."

Luhan masih terngiang dengan percakapan yang baru saja ia dengar. Membuat kepalanya tambah merasakan sakit dan memutuskan untuk pergi ke kafe tempat dimana dirinya dan Sehun sering menghabiskan waktu bersama.

Tring...

Luhan membuka pintu kafe tersebut, dan dengan pikiran yang masih sangat kosong. Dia melangkahkan kaki ke tempat favoritnya jika dia dan Sehun memiliki janji di kafe ini. Sedikit tersenyum lirih sebelum

Sret...!

Dia menarik kursi favoritnya. Dan mulai termenung dengan segala kemungkinan yang akan terjadi setelah perpisahannya dengan Sehun nanti. Masih menatap kosong ke jendela luar sampai suara dari pemilik kafe berteriak membuat Luhan sedikit menoleh.

"PERMISI APA ANDA MEMESAN CAFFE LATTE TANPA SUGAR?"

"YA/YA!"

Dua suara bersahutan itu sedikit membuat pemilik kafe kebingungan. Dan setelah Luhan cermati, pemilik kafe tidak bertanya padanya melainkan pada pria yang duduk saling membelakangi dengan dirinya. Luhan terlalu mengenal suara pria yang berada di belakangnya. membuat tangannya perlahan mengepal dengan bibir yang digigit terlalu kencang "Tidak mungkin-... itu bukan Se-..."

"Ini sudah larut. Kenapa kau belum tidur?"

Luhan memejamkan erat matanya saat suara pria yang begitu ia sukai bertanya padanya. Sedikit menoleh ke belakang dan merasa begitu berdebar ketika punggungnya dan punggung yang selalu terlihat begitu kokoh untuknya bersentuhan. Suara pria itu terdengar saat kelelahan membuat Luhan semakin merindukan pria yang terus berada di pikirannya hampir satu minggu ini"Kau juga belum tidur Sehun. Ini sudah larut." Luhan membalas pertanyaan prianya. Dia masih enggan menoleh dan pria yang jelas adalah suaminya juga tak bergeming dari tempat duduknya. Dan tetap memilih untuk duduk saling membelakangi seperti ini.

"Satu minggu ini aku tidak tidur. Aku tidak bisa tidur karena tidak ada tubuh mungil yang aku peluk seperti biasanya."

"Kita sudah hidup terpisah selama satu tahun. Dan selama satu tahun itupula kau baik-baik saja. Jangan menyiksa tubuhmu."

"Aku tidak-..."

"Permisi ini pesanan anda tuan." Luhan yang sedang marah karena pola hidup suaminya menjadi tak beraturan sedikit memandang kesal pada pemilik kafe yang datang tidak tepat waktu, membuat suara Sehun seketika tak terdengar karena pesanan mereka yang sama persis tengah disajikan saat ini "Ini juga pesanan anda tuan" katanya beralih ke meja sebelah dan memberikan pesanan yang sama persis pada Sehun "Terimakasih paman."

"Ya..Silakan menikmati kopi anda. Umhh-...Tapi bukankah kalian sepasang suami istri? Kenapa duduk terpisah?"

"Ya aku suaminya. Kami hanya sedang bertengkar kecil."

"Ah-...Maaf kalau begitu. Silakan menikmati pesanan anda." Sehun hanya tersenyum kecil saat pemilik kafe membungkuk permisi padanya. Sementara Luhan mencengkram kuat cangkir kopinya mendengar celotehan suaminya dengan suara yang jelas dipaksakan untuk tertawa.

"Kau belum menjawab pertanyaanku."

"Aku baik Lu."

"Bohong! Suaramu terdengar saat kelelahan. Biarkan aku melihatmu!"

Luhan yang sudah berdiri terpaksa harus kembali duduk karena tangan Sehun meraih lengannya dan memaksanya untuk duduk kembali di tempatnya. membuatnya sedikit bertanya-tanya mengapa Sehun tidak mengijinkan dirinya untuk berpindah tempat sehingga mereka tak perlu duduk saling membelakangi seperti ini. "Tetap duduk di tempatmu Lu."

"Kenapa?" kali ini suara Luhan melemah, mencoba untuk tenang dan tak membuat Sehun semakin terluka karenanya "Aku sangat merindukanmu."

Luhan kembali mencengkram kuat cangkir kopinya, kali ini karena dia merasa begitu jahat telah membuat pria sekuat Sehun begitu menderita hanya karena merindukan dirinya. Matanya sudah berkaca-kaca namun ia halau dengan helaan nafas dalam berusaha untuk membujuk Sehun agar bersedia ia periksa "Kalau kau merindukan aku. Biarkan aku duduk di depanmu. Aku harus memastikan kau baik-baik saja dan saat aku memeriksamu kau bisa melihat wajahku."

"Hanya melihat?"

"eh?"

"Aku selalu melihatmu setiap malam Luhan. Aku diam-diam selalu melihatmu. Dan hanya melihatmu tidak bisa mengobati rasa rinduku. Sebaliknya-...Aku semakin gila hanya karena melihatmu. Setiap kali aku melihatmu tanpa melakukan apapun aku selalu teringat dengan perceraian yang akan kita lakukan. Rasanya aku ingin mati saja."

"Sehun-..."

"Kau bilang aku hidup baik selama satu tahun ini tanpamu. Ya-..Mungkin aku memang hidup dengan baik. Kau tahu kenapa?-...Karena kau masih istriku. Aku percaya cepat atau lambat kau akan memaafkan aku lagipula selama kau masih berstatus istriku. Aku masih memiliki hak penuh sebagai suamimu. Sebagai satu-satunya pria yang bisa menyentuhmu."

"Berbeda dengan saat ini. Seminggu ini bahkan lebih buruk dari satu tahun yang aku jalani. Aku masih bisa melihatmu tapi aku tidak bisa menyentuhmu. Kita bahkan harus berpisah dan aku harus membiarkanmu bahagia dengan orang lain. Aku tidak tahan." Katanya dengan suara yang semakin berat membuat air mata Luhan menetes begitu saja mendengarnya.

"Lebih baik kita berada pada posisi kita sekarang. Aku tahu ini juga sulit untukmu. Jadi bisakah kita mengulang percakapan kita seperti seorang teman?-...Seperti dulu."

"Kita bukan teman Sehun. Kau suamiku"

"Aku tahu. Hanya agar suasana tidak menjadi canggung untuk kita. Lagipula sebentar lagi aku hanya akan menjadi pria yang pernah mengisi hidupmu. Aku tidak akan berarti apa-apa lagi untukmu."

Luhan sedikit menoleh ke belakang, menatap punggung Sehun yang masihh terlihat kokoh walau sedari tadi suaminya terus meracau tak jelas seolah menunjukkan ketidakberdayaan dirinya menghadapi Luhan "Kenapa kau berbicara seperti itu?"

"Karena aku tahu surat perceraian kita sudah sampai di tanganmu. Aku tahu kita sudah semakin dekat dengan perpisahan. Apa kau senang?"

Luhan bergerak resah di tempat duduknya. Ingin mulutnya mengatakan kalau ia belum menandatangani surat perceraian mereka dan masih memikirkan tentang perceraian yang akan mereka lakukan. "ah-...Aku setuju. Lebih baik kita tidak membahas hal-hal yang terlalu sensitif saat ini. Kau ingin bertanya apa padaku?"

Sehun hanya tersenyum pahit menyadari Luhan menolak membicarakan perceraian mereka. membuatnya benar-benar tahu kalau waktunya menjadi suami Luhan hanya tinggal menunggu hitungan jari karena istrinya jelas telah menandatangani surat perceraian mereka dan Kai sudah menyerahkannya ke pengadilan agar proses perpisahan mereka terjadi lebih cepat

"umhh-...Aku." Tangan Sehun mencengkram erat dadanya. Merasa begitu sakit karena hanya bisa mendengar suara istrinya tanpa bisa menyentuhnya sedikit pun. Membuat Sehun kembali tertawa lirih menyadari kalau tidak seharusnya dia menjadi egois seperti ini "Aku-...Aku melihatmu termenung saat memasuki kafe ini. Aku sudah memperhatikanmu saat kau membuka pintu tapi kau sama sekali tak menyadari kehadiranku. Apa ada yang mengganggumu." Katanya begitu kesakitan dengan nada suara yang dibuat seolah dirinya baik-baik saja.

"Banyak yang menggangguku." Katanya menjawab membuat Sehun yang menoleh kali ini. melihat punggung istrinya yang biasa berada di pelukannya membuat hatinya ingin menjerit karena tak bisa melakukan apapun saat ini "Kau bisa cerita padaku."

"Sehun-..."

"hmmm.."

"Setelah kita bercerai nanti. Apa aku boleh tetap menggunakan margamu?"

"eh? Apa maksudmu?"

"Tadi sepanjang perjalananku ke kafe ini. aku mendengar seluruh staff membicarakan tentang perceraian kita. Awalnya aku tidak menghiraukan celotehan mereka. Tapi saat mereka mengatakan aku bukan dokter Oh lagi jika bercerai denganmu. Itu membuatku kesal. Jadi bolehkah?" katanya meminta membuat Sehun semakin tak tahan dengan percakapan yang terus menerus membahas tentang perceraian mereka.

"Sehun.."

"..."

"Tidak boleh ya?" katanya menebak karena Sehun sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.

"Kau tahu aku tidak mempunyai orang tua. Aku-...Aku merasa bahagia saat pertama kali menikah denganmu. Karena untuk kali pertamanya aku memiliki marga dan keluarga. Dan saat mereka tahu aku menikah dengan seorang pria tampan. Mereka terus bertanya siapa namamu-..aku dengan bangga mengatakan suamiku bernama Oh Sehun. Dan semenjak hari itu-..Aku dikenal sebagai dokter Oh. Itu hari yang sangat membanggakan untukku." Katanya kembali bercerita dengan wajah yang sangat terluka namun masih memainkan sandiwaranya dengan baik didepan Sehun.

"Tapi jika kau keberatan-..."

"Aku merasa sangat terhormat jika kau tetap menggunakan nama margaku. Karena sepertimu-...Aku juga tidak memiliki orang tua. Aku tidak tahu orang tuaku adalah orang yang baik sepertimu atau orang tua yang jahat sepertiku."

"Sehunna.."

"Jika dia orang jahat sepertiku. Aku tidak malu menggunakan nama marga mereka, karena memang inilah kami. Tapi jika mereka orang baik-...Mereka pasti akan malu padaku. Jadi mereka pasti akan sangat berterimakasih pada menantu mereka karena telah membuat nama marga kami begitu dihormati. Huh-...Aku sedang membayangkan bagaimana reaksi mereka jika tahu mereka memiliki menantu seorang dokter."

"Sehun.."

"Kau boleh menggunakan margaku sampai kapanpun kau mau Lu. Setidaknya sampai kau menemukan pria baru yang lebih baik dan menikah dengan pria itu." Katanya dengan suara yang semakin berat dan terlihat begitu hancur dengan ucapannya sendiri.

"Kau boleh berhenti menggunakan margaku saat kau memiliki pria yang lebih baik. Untuk sementara kau tetap akan menjadi dokter Oh." Katanya memberitahu Luhan dan tak lama berdiri dari tempat duduknya.

"Haah-...Aku rasa aku tidak kuat lagi berbicara dengamu Luhan. hatiku terus berdenyut sakit. Jadi aku rasa cukup sampai malam ini. Kembalilah ke asrama dan segera beristirahat. Aku pergi."

Sehun berdiri dari tempat duduknya dengan terburu-buru, berjalan terhuyung menuju pintu keluar dan meninggalkan Luhan yang tengah menangis sejadinya saat ini. Luhan tahu dia sudah sangat keterlaluan pada Sehun. tapi dia tidak tahu kalau suaminya bisa sangat hancur seperti ini. Membuatnya sedikit berpikir dan memutuskan untuk tidak membiarkan Sehun merasa kesepian saat ini.

"Sehun"

Luhan sedang berlari cepat menghampiri dimana suaminya berada. Sedikit menoleh untuk mencari keberadaan Sehun dan sedikit khawatir saat melihat Sehun yang terus berjalan terhuyung seolah tak bisa menahan berat tubuhnya sendiri.

Kembali berlari adalah satu-satunya pilihan Luhan saat melihat Sehun membuka pintu mobilnya. Dia menggelengkan kepalanya cepat dan tidak bisa membiarkan Sehun membawa mobil dalam keadaan kacau seperti ini.

"SEHUN!"

Luhan memegang kencang lengan suaminya. Mencegah Sehun memasuki mobil membuat si pemilik mobil sedikit mengernyit bertanya-tanya mengapa istrinya terengah dan berlari ke arahnya.

"Luhan?"

"hmm.."

"Kenapa kau mengejarku?"

Luhan sedikit bergerak resah di tempatnya saat ini. memikirkan jawaban yang tepat agar tidak membuat suaminya kembali terluka namun juga tidak membuat Sehunnya terlalu berharap "Aku-.." katanya menggigit kencang bibirnya dan seketika terdiam menyadari Sehun begitu kacau dan sama sekali tidak mempedulikan dirinya sendiri. "Aku seorang dokter, dan kewajibanku adalah memeriksa pasien yang sakit. Aku tahu kau sakit, jadi biarkan aku memeriksa kondisimu." Katanya yang mulai menangkup wajah Sehun. merasa jantungnya berdegup kencang karena sangat merindukan prianya namun harus menyadari batasan antara dirinya dan Sehun yang sedang menjalani proses perceraian mereka saat ini.

Sehun sendiri membiarkan tangan lembut istrinya menyentuh wajahnya, menikmati setiap sentuhan yang diberikan Luhan sampai batinnya kembali memberontak karena tak bisa merasakan lebih selain sentuhan dari tangan lembut istrinya. Membuatnya berusaha kembali sadar pada pemikirannya dan menggenggam tangan Luhan untuk menghentikan usapan yang diberikan Luhan padanya "Aku baik. Kau tidak perlu khawatir." Ujarnya melepas tangan Luhan dari wajahnya. Kembali berniat memasuki mobil sebelum Luhan kembali menarik lengannya dan kembali menyentuh wajahnya dengan lembut

"Kau tidak baik-baik saja Sehunna. Kau pucat. Lihat dirimu begitu menyedihkan, biarkan aku merawatmu aku mohon. Bagaimanapun aku masih istrimu. Aku harus-..."

Grep...

Semua ucapan Luhan terhenti saat tiba-tiba Sehun memeluknya. Sedikit meringis karena dekapan Sehun terlalu kuat membuatnya hampir menggila karena sangat ingin membalas pelukan suaminya "Kau benar. Aku sakit-..Aku tidak baik-baik saja. Aku sangat merindukan istriku dan sangat ingin menyentuhnya. Aku sangat ingin menyentuhmu Luhan. Bisakah? Hmm? Aku-...Anggap ini permintaan terakhirku sebagai suamimu. Aku takut esok gugatan perceraian kita disetujui dan kau bukan istriku lagi. Aku hanya ingin-..."

"Baiklah. Kau boleh menyentuhku. Aku masih istrimu dan tugasku adalah melayanimu. Tapi kau janji harus baik-baik saja setelah ini hmm?" katanya menangis putus asa melihat wajah suaminya yang begitu kelelahan. Mengabaikan wajah Sehun yang sedikit terkejut tak menyangka Luhan akan mengabulkan keinginannya yang sangat ingin menyentuhnya. "Apa benar kau-..."

"Kita membuang-buang waktu Sehunna. Aku akan melayanimu. Hanya biarkan aku merawatmu malam ini." katanya menggenggam tangan Sehun dan membawa suaminya mengitari mobil dan memaksanya duduk di bangku samping kemudi. "Luhan biarkan aku-..."

Blam...!

Luhan menutup kencang pintu mobil suaminya. Kembali berlari mengitari mobil dan

Blam...!

"Aku yang menyetir. Kau hanya perlu duduk tenang dan beristirahat." Katanya memakaikan seatbelt pada Sehun. Lalu tak lama menjalankan mobil dengan apartemen Sehun sebagai tujuannya.

.

Blam...!

Setelah melewati keheningan hampir dua puluh lima menit lamanya. Luhan dan Sehun akhirnya sampai di basement apartemen Sehun. Tak ada yang berbicara selama perjalanan mereka berlangsung. Hanya Luhan yang fokus menyetir dengan Sehun yang terus memandangnya tak berkedip. "Kita sampai."

Itu adalah kalimat pertama yang terucap setelah dua puluh menit berada dalam mobil. Luhan yang memecah keheningan, sedikit menatap suaminya sebelum kembali membuka mobil dan mengitari mobil Sehun untuk membukakan pintu pada Sehun "Ayo masuk." Katanya mengulurkan tangan membuat Sehun kembali tertegun tak bisa berkata.

Jujur saja-...Sehun selalu memiliki trauma berlebihan saat Luhan memperlakukan dirinya layaknya seorang raja. Karena terakhir kali Luhan memperlakukannya dengan sangat baik adalah sekitar enam tahun yang lalu. Saat keduanya mulai mencoba membuka hati dan mulai menyetujui untuk menjadi sepasang kekasih. Luhan bertindak sangat aneh dengan sikapnya. Membuat Sehun sangat bahagia namun yang terjadi keesokan harinya adalah Luhan menghilang entah kemana hampir enam bulan lamanya.

Dia menatap lama uluran tangan Luhan. sedikit menimbang apakah harus menyambutnya atau meminta Luhan menghentikan tindakan manisnya jika hanya akan membuangnya esok hari. Membuat Sehun semakin ragu dan tak berniat melakukan apapun sampai Luhan bersuara

"Aku tidak akan pergi-... Aku janji kau akan melihatku saat kau bangun esok hari."

Seolah mengetahui isi pikirannya. Luhan kembali meyakinkan Sehun, membuat Sehun kembali mengerjap cukup lama sebelum akhirnya membuka suara meyakinkan ucapan Luhan "Kau janji?"

"Aku janji."

"Jika kau pergi sebelum aku bangun. Aku tidak tahu hal mengerikan apa yang akan aku lakukan."

"Aku tahu-...Aku mengenalmu lebih baik daripada dirimu sendiri. Begitu juga sebaliknya. Kau mengenalku lebih dari diriku sendiri. Jadi kau tidak perlu khawatir. Ayo kita masuk."

Entah bagaimana caranya Luhan benar-benar mengatakan hal yang membuat Sehun mempercayainya dalam satu helaan nafas. Membuat Sehun kembali mendesah marah membayangkan bagaimana dia akan menjalani hidupnya tanpa Luhan yang selalu menenangkannya seperti saat ini.

"Sehun..."

Dan sekali lagi-...Suara Luhan bagai candu untuknya, membuatnya memutuskan untuk meraih genggaman tangan Luhan dan membiarkan pria cantiknya menuntun kemana mereka akan pergi setelah ini. "Selamat malam paman." Luhan menyapa petugas keamanan apartemen Sehun yang sudah mengenalnya. Membuat si pria tua yang melihat Luhan sedikit membungkuk menyapa Luhan yang terus menggandeng Sehun seperti menuntun suaminya berjalan saat ini "Selamat malam Tuan Oh. Kalian terlalu sempurna untuk dilihat." Katanya memuji kedua penghuni apartemen tempatnya bekerja. Melihat Luhan memasuki lift dengan Sehun yang hanya diam mengikuti kemanapun istrinya pergi.

Ting..!

Bersamaan dengan suara pintu lift yang terbuka, Luhan kembali menuntun Sehun menuju kamar apartemen miliknya. Menekan password suaminya sebelum

Klik...

Terdengar pintu terbuka secara otomatis. Dan tanpa banyak berkata Luhan kembali membawa Sehun masuk kedalam apartemennya sendiri. Dan tanpa berbasi basi pula, tujuan utamanya adalah kamar yang biasa keduanya gunakan untuk menghabiskan malam bersama.

"Kau bersiaplah. Aku akan membuka bajuku." Katanya membawa Sehun duduk di tepi ranjang lalu membalikan badannya untuk membuka pakaiannya dengan Sehun yang hanya menatapnya tak berkedip. Merasa Luhan terlalu memaksakan diri membuatnya hanya bisa tertawa lirih dengan memalingkan wajahnya tak berniat melihat Luhan lebih lama lagi

"Sudahlah. Kau boleh pulang Lu. Aku baik-baik saja."

Gerakan tangan Luhan yang sedang membuka kemeja tidurnya pun seketika terhenti saat entah mengap ucapan Sehun terdengar menolak kehadirannya "Kenapa kau memintaku pulang? Bukankah kau bilang ingin menyentuhku?"

"YA! Tapi kau terpaksa melakukannya. Aku tidak menerima rasa ibamu Luhan. Aku-..."

"SEHUN CUKUP!"

Kali ini Luhan yang berteriak. Dengan kondisi yang sudah melepas setengah kancing kemejanya dia terlihat begitu marah. Menatap Sehun putus asa lalu berusaha menenangkan diri agar semua kesalahpahaman ini tidak berlanjut lebih lama "Dengarkan aku sayang." katanya mendekati Sehun dan memaksa Sehun berdiri untuk menatapnya.

"Kenapa aku harus terpaksa melayani suamiku jika aku sendiri menginginkan sentuhan suamiku?" katanya berujar frustasi dengan tangan yang membuka satu persatu kancing kemeja Sehun.

"Seperti katamu. Aku masih istrimu. Dan kau masih suamiku. Jadi bagaimana mungkin aku terpaksa melayani suamiku sendiri. Bagaimana mungkin aku menolak sentuhan dari satu-satunya pria yang terus membuatku berdebar secara menggila." Ujarnya masih fokus membuka kancing kemeja Sehun. Sampai akhirnya dia membuka kancing terakhir kemeja Sehun dan selalu menatap terpesona pada dada bidang suaminya yang selalu membuatnya iri dan bangga dalam waktu bersamaan.

"Aku juga menginginkanmu Sehun. Aku ingin merasakan sentuhan suamiku. Aku mohon." Katanya meminta penuh harap dengan tangan yang sudah menjelajah bebas di dada bidang Sehun. Mengusapnya dengan lembut membuat sensasi berbeda dirasakan oleh Sehun.

"Jangan menolakku Sehun. Jangan-..."

Hmphhh...

Inilah yang Luhan inginkan. Sehunnya yang selalu kehilangan akal sehatnya jika mereka sedang merasakan gairah menggebu yang tak bisa keduanya tahan lagi. Sehun merengkuh pinggang Luhan begitu cepat. Menyatukan kedua bibir mereka agak kasar dan melumatnya seakan bibir Luhan adalah sesuatu yang jika dilewatkan adalah sebuah kesalahan.

Sehun melumat dan menyesap bibir indah istrinya yang begitu ia rindukan, sementara Luhan bergerak seirama menyamakan kecepatan intensitasi ciuman yang diberikan Sehun melumat dan menyesap seolah tak cukup karena ciuman ini benar-benar membuat candu bagi keduanya. Keduanya diam-diam tersenyum dengan air mata kerinduan yang dibiarkan terjatuh seolah mengingatkan keduanya tentang perpisahan yang sebentar lagi mereka jalani.

"Sehun-...nghhh." Sehun mengabaikan desahan tertahan yang dikeluarkan istrinya. Dia lebih memilih melepas baju Luhan dengan cepat sehingga tubuh indah istrinya terpampang sangat jelas di depan matanya saat ini. Merasa tak mau kalah dengan suaminya. Luhan melakukan hal yang sama dengan meneruskan pekerjaannya melepas seluruh kancing kemeja suaminya. Masih saling fokus pada tubuh pasangan masing-masing namun tak berniat melepas lumatan panas mereka hingga keduanya tanpa sadar benar-benar tak terbalut sehelai benangpun sekarang.

"Ngghh…" Keduanya melenguh nikmat saat dengan sengaja menggesekan kejantanan yang memiliki ukuran sangat berbeda. Membuat suasana semakin memanas dan berakhir dengan salin mencium semakin dalam dan menuntut.

Lidah Sehun menjelajah mulut Luhan dan Luhan mengalungkan lengannya di leher Sehun sehingga membuat ciuman mereka semakin mendalam dan semakin panas. Setelah puas berciuman, perlahan Sehun mulai membaringkan tubuh mungil istrinya ke tempat tidur. Menatap intens mata rusa favoritnya sebelum kehilangan kesabaran untuk segera mencium leher dan bahu Luhan penuh nafsu.

Luhan sendiri dibuat menggelinjang resah di tempat tidurnya. Mencari pelampiasan pada apapun karena jilatan lidah Sehun, gigitan kecil dan hembusan nafas yang mengenai kulit Luhan membuat Luhan mendesah kenikmatan dan semakin menggila menginginkan sentuhan suaminya.

"mmmhhhh…"

Dan desahan yang lolos dari bibir mungil Luhanlah yang membuat seorang Oh Sehun semakin mabuk menggila dan tak bisa mengontrol diri. Terus mencium intens sampai bibir tipisnya tersenyum menyeringai menandakan bahwa dia akan melakukan yang lebih pada bagian bawah tubuh istrinya.

Sehun mulai merangkak ke bawah, menuju nipple Luhan. Merasa begitu gemas pada dua tonjolan kecil yang selalu menjadi rebutannya dengan Ziyu saat putranya masih hidup. Membuat kenangan itu begitu menohok perasaannya sesaat, namun ia abaikan karena tak mau membuat Luhan bertanya padanya.

Dan tak butuh waktu lama bagi Sehun untuk memberikan kenikmatan yang lebih lagi untuk Luhan. Sehun menyesap dan menggigit nipple Luhan terlampau kencang dengan intensitas yang sama nikmatnya di kedua nipple berwarna pink yang dimiliki istrinya. membuat Luhan menggelinjang resah dan menjambak kencang rambut Sehun sebagai pelampiasan.

"Aaanngghhh.. Hunnnmmmmhhhh…" Desahan Luhan terdengar lebih seperti erangan frustasi. Mengapa? Karena saat ini sang suami tidak terburu-buru menyentuhnya. Suaminya menyukai percintaan dengan menikmati bagian-bagian sensitif istrinya terlebih dulu membuat desahan demi desahan selalu Luhan keluarkan dan itu membuat Sehun semakin bersemangat.

Gerakan Sehun semakin turun ke bawah, dia mulai berpindah menuju perut Luhan. membuat si pemilik tubuh mengangakat pinggulnya seolah menyambut ciuman maha dahsyat yang diberikan di sekitar bagian bawahnya. Luhan semakin mendesah frustasi menggigit kencang bibirnya saat Sehun memberikan kissmark di perut dan pinggangnya.

"Sayanghmpph-...berhenti bermain disana-..hmpph."

Sehun kembali mengabaikan permintaan istrinya. Masih sibuk dengan kegiatan kesukaannya dengan terus menjilat dan mengigit kecil perut Luhan. sensasi tersebut membuat junior Luhan semakin menegang dan menyentuh dada Sehun. Sehunpun tersenyum, sudah saatnya memberikan perhatian pada Junior Luhan.

"Argghhh…" Luhan benar-benar merasa kehangatan yang begitu nikmat saat Sehun mengulum juniornya. Prianya bahkan menyesap dan menggerakkan maju mundur junior Luhan dengan tempo yang sengaja dibuat cepat agar membuat dirinya menggila.

"Ougghh… mmmpphhh… aanngghhh…" Luhan terus mendesah tak terkendali.

Dia sangat menyukai Perlakuan Sehun yang sudah tak bisa mengendalikan dirinya. Karena jika Sehun tak bisa mengendalikan diri. Itu artinya kenikmatan akan ia rasakan sesaat lagi, Dan tepat seperti dugannya-..Luhan tak perlu menunggu waktu lama untuk mencapai klimaks pertamanya. Karena apapun yang Sehun lakukan itu adalah hal yang terlampau nikmat dan tak bisa Luhan abaikan.

"Aku memujamu Luhan."

Dan setelah menelan cairan yang kenikmatan istrinya-...Sehun kembali merangkak keatas, menatap Luhan yang terengah setelah klimaks pertamanya. Sedikit tersenyum membenarkan poni Luhan karena peluh membasahi keningnya, dan dengan lembut Sehun mengusap peluh Luhan.

Luhan memandang Sehun dan Sehun pun tersenyum. Perlakuan seperti ini yang selalu Luhan sukai dari Sehun. Sehun yang selalu memujanya, Sehun yang selalu tersenyum padanya dan Sehun yang selalu memperlakukannya dengan sangat lembut dan terus membuatnya berdebar setiap kali mereka bertatapan penuh cinta seperti malam ini. Membuat diam-diam Luhan tersenyum lirih menyadari semua yang ia diberikan Sehun perlahan akan menghilang dan tidak akan menjadi miliknya lagi.

Luhan menggelengkan cepat kepalanya. Berniat kembali fokus pada Sehun dengan mata mereka yang masih saling menatap, nafas keduanya begitu terasa tak beraturan karena degup jantung masing-masing yang membuat mereka menggila dan semakin saling menginginkan.

Luhan kemudian menutup matanya, mencoba sesegera mungkin menormalkan nafas. Namun hal itu justru membuat Luhan begitu seksi dimata Sehun. Mata tertutup dengan bibir kemerahan yang sedikit terbuka-...sungguh adalah pemandangan terindah bagi Sehun. Ia sangat bersyukur memiliki Luhannya. Masih berharap bahwa perpisahan yang sedang mereka jalani hanyalah mimpi buruk yang harus ia lewati tanpa harus merasa sakit lagi esok hari.

Sehun menundukkan kepalanya mencoba menenangkan pikirannya. Dan saat nafas Luhan kembali menerpa wajahnya, dia menyadari bahwa Luhan adalah satu-satunya hal yang begitu ia puja dengan hidupnya "Kau begitu indah…" katanya berbisik membuat Luhan secara refleks menutup kedua matanya dan mengeluarkan sedikit desahan, saat Sehun mulai kembali mengecup singkat bibir dan lehernya "nghh..."

Sehunpun tersenyum. Ia tak bisa menyia-nyiakan pemandangan indah yang ada didepannya ini. dengan segera Sehun melumat bibir Luhan. Luhan pun berusaha mengimbangi gerakan bibir Sehun pada bibirnya. Merasa kembali menguasai permainan sebelum

"Nggghhh…Luu…" dia terpaksa mengerang nikmat disela ciumannya saat Luhan memainkan nipplenya.

Dan seolah puas dengan reaksi sang suami-...Luhan semakin bersemangat memainkan nipple Sehun. Membuat si pria tampan semakin melumat bibir pria cantiknya. Menyesap, menjilat dan memainkan lidah Luhan. Keduanya tak ingin berhenti hingga akhirnya mereka kehabisan nafas.

Sehun meletakkan keningnya pada kening Luhan, nafas terengah mereka saling beradu, mulut mereka tak ada yang tertutup sempurna, mencari oksigen sebanyak mungkin untuk kegiatan yang semakin mendebarkan yang akan segera mereka lakukan.

Luhan tersenyum dengan jemari yang bermain di sekitar dada dan tengkuk suaminya, Sehun membalasnya dengan melakukan hal yang sama-...tersenyum dan menciumi bibir dan leher istrinya bergantian.

"Sehunna-...Aku menginginkanmu sekarang." Gumam Luhan disela kegiatannya menormalkan nafas membuat Sehun yang sedang mengecupi bibirnya sedikit menggigit gemas bibir Luhan sebelum

"Sehunnn..!"

Luhan sedikit tersentak saat Sehun tanpa peringatan memasukkan jarinya kedalam lubangnya. Namun tentu saja tak butuh waktu lama untuk membuat Luhan terbiasa dengan jari Sehun. Karena selain terbiasa dengan jari yang sering menumbuk kedalam dirinya. Luhan sangat merindukan dan menginginkan semua tentang Sehun.

Menyadari perubahan raut wajah istrinya yang sedang merasakan nikmat, membuat Sehun diam-diam tersenyum. Dia terus mengeluar masukkan jarinya kedalam lubang Luhan yang mulai terasa menyempit membuat gairahnya semakin menjadi.

Luhan sendiri menarik tubuh suaminya mendekat. Merasa begitu menggila karena Gerakan jemari Sehun yang sangat lembut ditambah dengan Sehun yang sedang mengulum nipplenya sekarang membuat Luhan hanya bisa mendesah nikmat dan segera menginginkan tubuhnya dan tubuh Sehun bersatu.

"Ougghhh…mmmphh….arrghhh…"

Luhan kembali mengerang nikmat merasakan tiga jari Sehun sudah berada di lubangnya. Membuatnya semakin menggila saat Sehun menggerakkan jemarinya keluar masuk dengan tempo yang semakin cepat dan menumbuk tepat pada bagian terdalamnya yang terasa sangat nikmat.

"ArrgghhSehunnaahhmphh...mmm…aahhh…" Tubuhnya bergerak liar merasa Sehun benar-benar membakarnya dengan sempurna. Dan merasa semakin menggila saat Sehun mencium dan menjilat telinganya dengan dengan jari yang masih melakukan aktivitasnya bergerak liar di lubangnya saat ini.

"Sehunn… Aku mohon-...Sekaranghmpph-...ahhhh" katanya meminta frustasi dengan jemari yang perlahan turun untuk menyentuh kejantanan suaminya yang sudah sangat siap memasuki dirinya "AgghhhLuuuhhhmphh…" desah Sehun ketika Luhan dengan sengaja memijat sensual kejantanannya. Seolah menantang dirinya untuk tidak mengulur lebih lama lagi kenikmatan yang semakin menggila untuk keduanya malam ini.

Sehun pun mengangguk. Diam-diam melumat lembut bibir Luhan, berusaha mengalihkan rasa sakit yang akan dirasakan Luhan sebentar lagi.

Bibirnya kembali tersenyum melihat Luhan sudah mulai terbuai dengan ciuman dan lumatan yang diberikannya. Kembali tak membuang kesempatan dengan mengarahkan kejantanannya pada lubang Luhan secara perlahan dan

"Arrgghhh…" Luhan sedikit mengerang sakit ketika mulai merasakan junior Sehun memasuki holenya. Sementara Sehun terus mencium bibir Luhan sambil menyentakkan juniornya agar lebih masuk kedalam tubuh istrinya dan segera bergerak mencari kenikmatan duniawi mereka saat ini.

Keduanya masih memasang wajah sedikit menahan sakit. Sampai akhirnya Sehun mencium lama kening Luhan-... memutuskan untuk menghentak kuat kejantanannya dan

"ARRGGGNNNHHHH…" keduanya berteriak saat kejantanan Sehun tertanam sempurna di lubang Luhan. Tak ada yang berbicara saat ini. keduanya masih saling menatap dengan nafas memburu dan membiasakan diri dengan sensasi yang begitu keduanya rindukan. Sehun yang mulai melihat wajah Luhan sudah mulai terbiasa kembali menatap istrinya, membenarkan poni yang menganggu mata indah istrinya dengan tatapan seolah bertanya "sekarang?"

Luhan tidak menjawab-...Tangannya melingkar di leher suaminya dan mengangguk sebagai persetujuan. Dan seiring dengan anggukan Luhan maka keduanya kini bergerak seirama, Sehun memperlakukan Luhan dengan lembut, sementara Luhan menggigit pelan bibirnya mulai merasa kenikmatan yang menyerang seluruh sarafnya.

Desahan yang keluar dari kedua mulut mereka saling sahut menyahut sejalan dengan gerakan keduanya yang semakin cepat. Luhan semakin erat mengalungkan tangannya di leher Sehun dan memberikan kissmark di bawah telinga dan bahu Sehun sedangkan Sehun sedang berusaha memberikan kenikmatan untuk pria cantiknya dibawah sana.

"Arrghhh.. Luuuhan… ougghh.." katanya meracau dengan tempo hentakan yang semakin cepat dan dalam. Membuat si pria cantik hanya bisa melampiaskan rasa nikmatnya dengan menggigit atau mencakar bahu pria tampannya "Annggh… hunnhh…mmpphhh…aarrggghhhh…"

Luhan membalas desahan suaminya tak kalah erotis, membuat suara desahan dan suara khas dari penyatuan tubuh mereka terdengar berlomba menuntut suara siapakah yang lebih terdengar. Keduanya bergerak liar menggila di tempat tidur yang mungkin sudah terbiasa merasakan percintaan kedua majikannya.

Terus menghentak kuat sampai Sehun merasa dinding rektum Luhan semakin sempit membuat kejantanannya terasa dipijat kuat sementara junior Luhan sudah berkedut tanda bahwa dia akan segera mendapatkan klimaks keduanya.

Sehun mengeluarkan sebatas kepala juniornya. Menatap sekilas Luhan yang tampak kenikmatan dan tak lama

"ARRGHHH…" keduanya berteriak mengerang nikmat saat mencapai klimaks secara bersamaan. Sehun menggerakan tubuhnya yang masih mengeluarkan sperma dengan tangan yang membantu Luhan memijat juniornya yang juga sedang mengeluarkan spermanya.

Luhan mengusap peluh Sehun yang mengalir deras di pelipisnya. Mengagumi bagaimana kejantanan Sehun selalu berhasil membuatnya merasa sangat puas. Dan saat keduanya kembali bertatapan, Luhan menarik cepat tengkuk Sehun dan

CUP

Luhan mencium telak bibir suaminya agak kasar. Kembali mengusap tengkuk Sehun dan tersenyum menatap pria tampannya "Kau selalu yang terhebat sayang…" katanya bernada manja membuat Sehun menaikkan kedua dahinya.

"Kau menggodaku?" katanya bertanya dengan nafas yang masih terengah.

Luhan tertawa sekilas dan semakin mendekatkan wajah Sehun ke wajahnya, "Kau selalu membuatku puass" bisik Luhan semakin seduktif. Sengaja menggoda Sehun yang mulai kembali terlihat resah saat ini "Apa aku boleh kembali menyentuhmu?" katanya bertanya penuh harap pada Luhan yang memang sengaja menggodanya.

"Menurutmu?" Luhan kembali bertanya dengan memainkan jemarinya di dada Sehun. "Aku takut membuat dokter Oh tidak bisa berjalan dengan benar esok pagi!" katanya tertawa dengan menciumi gemas wajah istrinya.

"Kalau begitu suamiku yang perkasa akan menggendongku seharian." ucap Luhan sambil menepuk pelan bahu Sehun, sedikit tersenyun nakal dan memberikan kerlingan pada suaminya

"Kau benar-benar akan menyesal Oh Luhan"

"Buat aku menyesal kalau begitu." Katanya menantang Sehun dan semakin menggoda suaminya. Membuat kejantanan Sehun kembali bereaksi karena saat ini Luhan sedang menggesekan kembali kejantanan mereka.

"Aku akan."

Dan seiring dengan jawaban Sehun-...Keduanya kembali memulai percintaan mereka. menjadi Sehun dan Luhan yang saling mencintai tanpa mau memikirkan proses perpisahan menyakitkan yang sedang mereka jalani.

Keduanya memilih untuk menjadi egois malam ini-...Saling membagi hangat tubuh dan melupakan semua hal yang membuat mereka begitu terluka. Bersenang-senang tanpa ingin mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.

Keduanya bahkan diam-diam berdoa agar waktu tak berganti, dan hanya membiarkan mereka berdua seperti ini-...saling mencintai dan melengkapi tanpa harus berpisah karena ketidaksanggupan yang menjadi alasan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Luhan?!"

Merasa namanya dipanggil membuat si pria cantik yang tengah sibuk menyiapkan sarapan pun menoleh ke arah kamarnya dan sang suami. Sedikit berjinjit untuk melihat suaminya sebelum menjawab berteriak menyahut panggilan Sehun yang terdengar panik saat ini "Aku disini Sehunna."

Dan si pria tampan yang sudah menggunakan kemeja dengan dasi yang dipasangkan asal mau tak mau tersenyum lebar mendengar suara pria cantiknya. Sedikit menoleh ke arah dapur sebelum berjalan cepat ke dapur untuk melihat Luhannya di pagi hari

"Hey-..Kau terlihat tampan sayang." Luhan kembali menoleh saat merasa Sehun berada di dekatnya. Memuji si pria tampan yang sedang berjalan ke arahnya dengan dasi dan kancing kemeja yang dipasangkan dengan asal. "Duduklah di meja makan-...Sebentar lagi-.."

Grep...

Belum selesai Luhan berbicara. Kedua lengan kokoh suaminya kini kembali melingkar sempurna di pinggangnya. Dan masih dengan posisi memeluk Luhan dari belakang. Sehun mulai meletakkan dagunya di bahu Luhan dan mencium sekilas leher Luhan yang sangat jenjang dan begitu menggodanya "Aku pikir kau pergi." Katanya begitu ketakutan dengan tangan yang semakin memeluk Luhan

"Aku sudah bilang tidak akan pergi sampai kau melihatku di pagi hari. Jadi cepat duduk agar kita bisa sarapan bersama." Gumamnya sedikit mengecup pucuk kepala Sehun yang masih bergelayut manja di tubuhnya.

Sehun sendiri semakin enggan melepaskan pelukan Luhan. Menebak kalau hari ini adalah hari terakhir dia bisa membuka mata dengan Luhan yang berada di sekitarnya. Hatinya meremat begitu sakit saat membayangkan tak bisa lagi memeluk tubuh mungil Luhan. membuatnya sedikit egois tak mau melepas pelukan Luhan dan lebih memilih semakin memeluk tubuh istrinya.

"Sehunna jangan seperti ini."

Sehun menggeleng di pelukan Luhan. membuat Luhan hanya bisa menghela nafas memaklumi seluruh sikap Sehun hanya karena keduanya saling merindukan saat ini "Sehun-..."

"Aku tidak percaya kita akan bercerai."

Luhan kehilangan kata-katanya saat ini. Dia tahu dirinya melakukan kesalahan dengan memanjakan Sehun disaat keduanya sedang menjalani proses perceraian seperti saat ini. Dia juga tahu dirinya melakukan kesalahan dengan memberikan harapan pada Sehun dengan semua sikap yang ia tujukan pada suaminya dari malam tadi hingga pagi ini. membuatnya begitu merasa bersalah namun tak bisa kembali mengubah keputusannya untuk hidup terpisah dari suaminya.

"Tidak bisakah kau memberiku kesempatan lagi?"

YA-...AKU AKAN MEMBERIKANMU SERIBU KESEMPATAN SEHUNNA!

Rasanya ingin sekali Luhan meneriakan kalimat persetujuan itu. Tapi kemudian pikiran egoisnya kembali menguasai. Jika dia kembali lagi pada apa yang akan terjadi? Kembali dikecewakan? Kembali kehilangan? Kembali terluka atau kembali menangis?-... Luhan sendiri masih terlalu mencintai Sehun tapi dia tidak mau lagi merasakan kehidupan yang menyakiti dirinya.

Membuatnya tersenyum pahit dan mematikan api yang menyala. Melepas tangan Sehun dari pinggangnya sebelum membalikan tubuhnya untuk menatap pria tampannya "Jangan seperti ini sayang." katanya meraih dasi Sehun dan mulai memakaian dasi suaminya dengan benar. Gerakannya teramat perlahan merasa begitu ingin menangis karena hari ini mungkin adalah hari terakhirnya bisa memakaikan dasi untuk suaminya.

"Kau akan baik-baik saja tanpaku. Kau akan segera bertemu dengan pengganti diriku sayang. Siapapun wanita atau pria yang akan bersamamu kelak-...Dia harus membuat Sehunku bahagia." Katanya tersenyum dengan hati yang begitu hancur karena ucapannya sendiri.

Sehun sendiri hanya menatap tak berkedip pria cantiknya. Memperhatikan dengan seksama apakah Luhan benar-benar mengatakannya karena dia ingin atau hanya karena dia terpaksa. Dan semua omong kosong yang diucapkan Luhan sedikit banyak membuat Sehun marah. Digenggamnya jemari Luhan yang sedang memakaikan dasi untuknya dan menatap berkilat pria cantiknya menyadari satu hal yang membuatnya sangat terusik "Apa kau akan mencari penggantiku?"

"huh?"

"Apa kau akan mencari pria lain untuk kau cintai? Apa-...APA KAU AKAN MENCINTAI ORANG LAIN SELAIN DARIKU?"

Saat ini Luhan hanya bisa mengutuk kasar dirinya sendiri. Entah sudah berapa banyak kalimat yang ia ucapkan yang membuat goresan di hati suaminya. Entah sudah berapa perlakuan kasar yang ia berikan pada Sehun untuk menyakitinya. Membuat matanya memanas dan berjanji untuk tidak memberikan harapan lagi pada Sehunnya "JAWAB AKU!"

Luhan sedikit tersentak mendengar teriakan Sehun yang dikuasai emosinya. Membuatnya hanya bisa terdiam sesaat sebelum akhirnya memberanikan diri menatap Sehun dan memutuskan untuk tidak mengusik suaminya lebih jauh lagi "y-Ya-..Tentu saja aku akan mencari penggantimu. Aku akan mencoba membuka hatiku. Dan kau tahu-..Jika beruntung. Mungkin aku akan menikah lagi dengan-..."

"CUKUP!"

Kedua hati itu begitu terasa sakit saat ini. Malam hangat dan manis yang baru saja mereka lalui beberapa jam lalu seketika sirna digantikan dengan sikap dingin dan kemarahan di pagi ini. Semua ucapan dan tindakan yang dikeluarkan keduanya jelas untuk saling menyakiti satu sama lain. Dan kali ini. Sehun menjadi yang paling terluka sementara Luhan berperan egois di kehidupan pernikahan yang mungkin akan segera berakhir dalam hitungan hari.

Sehun masih menatap marah pada istrinya. Kecewa dan begitu tersakiti adalah dua hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Dia selalu menjadi sosok yang begitu jahat tanpa harus terlihat menyedihkan sebelum bertemu Luhan. Membuatnya terkadang menggeram marah karena takdirnya harus berkata bahwa Luhan harus mengisi bagian dari cerita hidupnya.

Keduanya bertatapan saling menyerang saat ini. dan Sehun-...dirinya juga sudah mencapai batas seseorang untuk disakiti. Dengan tangan mengepal dia kemudian tertawa menakutkan dan mengusak kasar wajahnya sebelum kembali menatap Luhan "Baiklah-...Baiklah jika itu yang kau mau. Aku tidak akan meminta kesempatan lagi. Kita akan segera bercerai agar kau segera menemukan lelaki lain yang kau cintai" katanya tertawa pahit dan menolak sentuhan tangan Luhan di wajahnya saat ini.

"Sehun."

"Jangan mendekat." Sehun memundurkan langkahnya. Menolak berdekatan dengan Luhan tak mau lagi merasakan sakit baik karena ucapan maupun perbuatan istrinya "Kita akan bercerai." Katanya mengulang membuat Luhan sangat ketakutan dan menangis saat ini.

"Sehun-..Aku mohon. Bicarakan baik-baik denganku hmm. Aku tidak ingin berpisah dengan cara seperti ini. Aku-..."

"APA HANYA PERPISAHAN YANG KAU INGINKAN DARIKU? KAU TERUS MENGUCAPKAN PERPISAHAN SECARA BERULANG. AKU MUAK MENDENGARNYA!" katanya berteriak begitu tersinggung dengan seluruh pikiran Luhan yang sangat ingin berpisah darinya.

"Sehun tenanglah. Aku minta maaf. Aku janji tidak akan mengucapkannya lagi. hanya bicara denganku. Sebentar saja." Katanya memohon namun Sehun semakin memundurkan langkahnya untuk menjauh.

"ani-...Kita tidak perlu bicara. Aku rasa semuanya sudah jelas. Terlalu jelas untukku."

"Apa maksudmu?"

"Kau ingin kita berpisah kan?-...Baiklah. Aku setuju. Aku tidak akan membuatmu sulit dengan permintaanku. Tapi satu hal yang harus kau tahu Luhan-..." katanya berucap dengan kemarahan dan air mata yang sudah menjatuhi pipinya dengan cepat.

"Selain dirimu-...Aku tidak akan pernah mencintai siapapun. JADI BERHENTI MENDOAKAN KEBAHAGIAANKU YANG TERDENGAR SEPERTI OMONG KOSONG!-.. AKU SAMA SEKALI TIDAK BAHAGIA JIKA BUKAN DENGAN DIRIMU!"

Sehun merasa kesulitan bernafas saat ini. Kemarahan terlalu menguasai dirinya membuat sesuatu dalam dirinya terus merasakan sakit berlebih. Awalnya Sehun bersumpah untuk tidak terpengaruh dengan semua sikap dan ucapan Luhan yang berusaha membuat dirinya marah dan menyerah.

Tapi saat Luhan bersikap seolah semuanya baik-baik saja-...Itu adalah cara yang sangat Sehun benci. Membuatnya lagi-lagi harus mengakui kemampuan Luhan dalam menghancurkan pertahanan dirinya. Luhan menang-...Dan Sehun kalah. Itu adalah situasi di pagi ini, dan kedua insan yang sedang saling menatap itu akhirnya benar-benar menyerah pada takdir cinta mereka yang memang hanya sampai disini.

Pandangan marah Sehun perlahan berubah menjadi tatapan sendu yang sangat tersakiti. Kembali mengusak kasar wajahnya sebelum melihat Luhan adalah pilihan yang ia buat untuk mengatakan kalimat yang menyatakan bahwa semua tentang mereka adalah benar telah berakhir.

"Aku tidak akan pernah bisa menang darimu. Hatiku-...Hidupku. kau memiliki semuanya. Jadi saat kau menghancurkan aku. Kau akan selalu menang. Dan aku janji-...Aku janji tidak akan membuatmu mengalah lagi. Kau mendapatkan apa yang kau inginkan." Katanya berujar dengan air mata yang tak coba ia sembunyikan. Sedikit mengepal erat tangannya sebelum

BLAM...!

Sehun membanting kencang pintu apartemennya. Meninggalkan Luhan yang hanya bisa terdiam dan tersenyum lirih menikmati kemenangannya dalam menghancurkan satu-satunya pria yang ia cintai.

Bibir mungilnya memang tersenyum, tapi tangannya bergetar hebat tak mampu menyembunyikan rasa takut dan penyesalan yang tengah ia rasakan saat ini "huh-...Bukankah ini yang kau inginkan Luhan? membuat Sehun marah dan tak mempersulit proses perpisahan kalian." Katanya bergumam begitu lirih menyindir diri sendirinya. Dan dengan wajah yang masih tersenyum, Luhan berusaha berjalan ke meja makan. Berniat menghabiskan sendiri sarapan yang telah ia buat sebelum

BRAK...!

Sebelum kedua kakinya tak sanggup untuk bertahan lebih lama. Tak mau lagi berpura-pura seakan akan semua baik-bai saja namun ternyata begitu hancur melukai dua perasaan yang mulai saling merelakan kata perpisahan pagi ini.

Luhan masih tidak memberikan ekspresi pada wajahnya. Otaknya sedang merekam memori yang begitu menyakitkan dan terus menerus berputar berulang di benaknya. Membuat tangannya mengepal erat sebagai pelampiasan karena hatinya terus terasa sakit. Sampai bibir yang terus mengatakan semua akan bail-baik saja itu akhirnya membungkam dengan kuat. Berniat untuk tidak mengatakan apapun sampai

Tes...!

Air matanya mewakili seluruh kemarahan akan perbuatan egoisnya. Luhan bahkan mencengkram erat dadanya tak tahan mengingat bagaimana wajah terluka Sehun beberapa saat lalu. Membuatnya terisak lirih sebelum akhirnya tertawa mengerikan meremehkan dirinya "Kau mengerikan Luhan-...KAU SANGAT MENGERIKAN!" katanya berteriak marah memaki dirinya sendiri.

Ingin sekali mengejar Sehun, namun pikiran egoisnya terus menerus berhasil membuatnya tak berkutik. Luhan egois dan Sehun kecewa. Itu adalah dua alasan kuat yang bisa membuat sepasang suami istri menderita bahkan berpisah seperti keduanya saat ini.

Drrt...drtt...

Dan disaat Luhan sedang menikmati rasa sakitnya. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Luhan bahkan berniat membuang ponselnya sampai nama Woobin tertera dilayarnya. Membuat Luhan menghapus cepat air matanya dan mengambil ponsel yang tergeletak tak jauh darinya. Menghela dalam nafasnya sebelum

"yeboseyo? Woobin-ssi."

"Hey Lu. Tidak perlu terlalu formal padaku."

Luhan masih berusaha menenangkan dirinya. Berusaha untuk berdiri dan mulai bersandar pada kursi meja makan yang berada di depannya "Aku tidak." Katanya menjawab Woobin dan tak lama kembali bertanya "Apa kau membaca pesanku?"

"Ya-..Maaf baru bisa menghubungimu Lu."

"Tidak apa-..Lalu bagaimana dengan adikku? Apa kau tahu dimana Kyungsoo? Aku sudah tidak melihatnya semenjak aku dirawat di rumah sakit."

"Sama denganmu. Terakhir aku melihat Kyungsoo adalah saat kau dirawat di rumah sakit. Setelahnya-...Aku tidak pernah melihatnya lagi."

"Aku harus mencarinya kemana."

Woobin mendengar suara putus asa Luhan. membuatnya sedikit tidak sampai hati untuk menutupi apa yang ia ketahui. Dan dengan sekali nafas, Woobin mulai memberitahu informasi yang ia ketahui tentang Kyungsoo "Kau mungkin akan tertarik dengan apa yang akan aku beritahu padamu Luhan."

"Ada apa?"

"Aku belum yakin tentang kebenaran berita ini. Tapi anak buahku mengatakan kalau Kyungsoo mengunduh semua file dan berkas mengenai Kris dan membawanya pergi. Apa kau tahu kenapa Kyungsoo melakukan hal itu?"

Luhan sangat terkejut mendengar berita mengenai apa yang dilakukan Kyungsoo untuk menemukan Kris. Membuatnya begitu cemas dan menggelengkan cepat kepalanya "Aku tidak tahu-...Woobin, Aku harus segera menemukan Kyungsoo. Aku-..."

"Tenanglah Luhan. Aku akan membantumu mencari Kyungsoo. Tapi tidak sekarang. Aku masih di Jepang dan kemungkinan akan kembali ke Seoul lima hari kemudian. Apa kau mau menungguku untuk mencari adikmu?"

"Kau di Jepang?"

"Ya. Aku mengikuti pertemuan tahunan dengan seluruh anggota. Sehun juga akan berada disini selama lima hari. Yunho sudah berniat bicara dengan suamimu saat mereka bertemu nanti."

"Sehun?"

"hmm...dia tidak memberitahumu?"

Luhan mengabaikan pertanyaan Woobin kali ini. perutnya merasa mual menyadari satu hal tentang keberadaan Sehun dan seluruh organisasinya di Jepang yang jelas akan membahas bisnis gelap dan ilegal yang mereka lakukan "Apa Youngmin juga berada disana?"

"..."

"Woobin?"

"Presdir Park tentu akan berada disini."

Tangannya seketika mengepal membayangkan wajah menjijikan pria tua yang selalu menyakiti dan membunuh tanpa hati. Membuat amarahnya kembali terpancing dan merasa putus asa membiarkan Sehun pergi begitu saja belum lama tadi. "Woobin."

"YA?"

"Apa aku boleh bertanya padamu?"

"Tentu saja."

"Apa tidak mungkin untuk kalian keluar dan berhenti bekerja untuk Youngmin."

"…"

"Kim Woobin-ssi?"

"Kecuali dia mati-...Jawabannya adalah mustahil untuk kami beranjak pergi dari pengawasannya. Lingkaran setan ini tidak bisa terputus. Tidak-...sampai salah satu dari kami mati. Karena jika kami pergi-...Orang-orang sepertimu dan Jaejoong hyung yang akan menanggung semua kemarahan organisasi."

"Jadi kau ingin mengatakan kalian harus terus bekerja untuknya. Walau kalian ingin keluar dan berhenti?"

"Ya-...Seperti itu Luhan."

"ck. Kalau begitu aku yang akan membunuhnya." Katanya menggeram dan tak lama

Pip...!

"LUHAN?"

Panggilan Woobin jelas terputus begitu saja. Luhan mematikan pembicaraan yang begitu membuatnya begitu marah. Dan terimakasih pada Youngmin-...Karena untuk pertama kalinya dalam hidup yang ia jalani.

Luhan tidak ingin menyembuhkan seseorang, sebaliknya-...Kemarahan membuatnya bertekad untuk membunuh seorang pria tua yang harus bertanggung jawab atas hancurnya kebahagiaan yang ia miliki. Dan hal itu tidaklah main-main. Luhan menginginkan Youngmin mati dan akan melakukan segala cara untuk membuat hal itu menjadi mungkin.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Beberapa hari kemudian…..

Termenung dan menatap kosong entah kemana menjadi kebiasaan baru seorang pria cantik yang merubah sikapnya secara drastis. Menyendiri dan tak mau banyak berkomunikasi dengan orang di sekitarnya juga menjadi sikap arogan yang baru-baru ini ditunjukkan oleh dokter berjuluk angel of the death yang diberikan baik dari pasien maupun staff yang sering bersama dengannya.

Dan semua perubahan sikap dari pria yang biasa disapa dokter Oh ini tak lain karena proses perceraian yang sedang dijalani sang dokter dengan suaminya. Bukan karena perpisahan dan perceraian yang menjadi beban pikiran spesialis bedah namun karena sikap dan keberadaan pria yang masih berstatus suaminya yang hilang tanpa kabar yang bisa ia dengar.

Marah dan kesal jelas ia rasakan. Namun hatinya tak bisa memungkiri kalau perasaan bersalah dan khawatirlah yang lebih mendominasi. Bertanya-tanya dimana keberadaan Sehun setelah pertengkaran hebat mereka lima hari yang lalu. Apakah Sehun makan dengan baik? Tidur dengan nyaman? Dan seluruh perasaan khawatir yang khas ditujukan oleh seorang istri untuk suaminya.

Sehun mungkin masih berada di Jepang hari ini-…Tapi saat Kai memberitahu rapat bersama Youngmin hanya dilaksanakan selama tiga hari. Membuat Luhan sedikit bertanya dimana keberadaan Sehun, karena hanya Kai, Changmin dan Shindong yang kembali ke Seoul.

"Apa Sehun bersama kalian?"

"Tidak."

"Lalu dimana Sehun?"

"Bos melakukan pekerjaan dengan Presdir Park. Dia bersedia untuk kembali menjadi kaki tangan presdir Park, mengingat tak ada lagi seseorang yang harus ia jaga. Dia hanya merasa lelah menahan diri dan hanya ingin kembali seperti Sehun yang dulu."

"Sehun yang dulu?"

"Ya-….Sehun yang begitu berkuasa tanpa harus merendahkan dirinya mengemis cinta dari seseorang yang jelas membuangnya."

Tangan Luhan secara refleks kembali mengepal erat. Merasa begitu marah dengan keputusan yang diambil Sehun untuk kembali menjadi kaki tangan pria tua bajingan sekelas Youngmin.

"Aku harus apa?" katanya menyembunyikan wajahnya diantara meja kerjanya. Berusaha mengambil nafas sebanyak mungkin dengan pikiran yang entah sudah berlari dan menguasai penuh dirinya.

Bos melakukan pekerjaan dengan Presdir Park. Dia bersedia untuk kembali menjadi kaki tangan presdir Park

Sebaris kalimat yang menyatakan Sehun kembali bekerja untuk Youngmin sangat mengusik dan mengganggu pikiran Luhan, membuatnya sedikit menggeram marah sebelum membuka lacinya dan mengeluarkan dokumen yang sudah ia telantarkan hampir satu minggu lamanya.

Menatap lama selembar kertas yang akan merubah statusnya dan Sehun dari sepasang suami istri menjadi orang asing untuk selamanya. Luhan sudah memegang pena di tangan kanannya. Merasa bahwa pada akhirnya bahwa perpisahan adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan saat ini. berniat membubuhkan tanda tangannya di surat persetujuan perceraiannya dengan Sehun sebelum

Sepuluh hari-...Aku mohon pikirkan untuk menandatangani surat perceraian kalian sepuluh hari. Setelah sepuluh hari aku akan datang kembali untuk mengambill dokumennya. Entah kau menandatanganinya atau tidak-...Aku tidak akan ikut campur lagi. Aku janji

Sebelum permintaan Kai kembali terngiang di benaknya. Membuatnya hanya bisa tersenyum lirih sebelum membulatkan hatinya untuk mengakhiri semua kehidupan mengerikan yang ia jalani bersama Sehun "Aku tidak bisa menunggu selama sepuluh hari. Maaf Kai. Maaf Sehunna." Katanya bergumam begitu lirih sebelum akhirnya menandatangani surat perstujuan perceraiannya dengan Sehun saat ini.

"Selamat tinggal Sehun." katanya menghapus cepat air mata yang begitu saja membasahi pipinya. Menatap terluka pada selembar kertas yang kini berisi tanda tangannya dan Sehun, karena secara tidak langsung dirinya dan Sehun sudah bercerai. Keduanya hanya perlu menunggu keputusan dari pengadilan yang akan meresmikan status Sehun dan Luhan sebagai mantan suami dan istri.

Hkss

Tetesan air mata Luhan berubah menjadi isakan pelan. Begitu pilu mengingat apa yang telah Sehun dan dirinya perjuangkan berakhir begitu saja dengan selembar kertas yang merubah segalanya. Luhan masih ingat dengan jelas bagaimana sentuhan terakhir Sehun saat menciumnya. Terasa begitu hangat dan tulus. Luhan juga masih mengingat dengan jelas bagaimana Sehun membesarkan putra mereka. begitu bijak dan penuh kasih sayang. Namun apa balasan dari Tuhan untuk semua yang sedang Sehun perjuangkan? Tidak ada-….Tuhan bahkan terus menerus membuat keadaan semakin rumit dan tak mendukung apapun yang sedang Sehun perjuangkan.

Sampai hari ini tiba-…Hari dimana secara tidak langsung Luhan dan Sehun telah resmi bercerai. Membuat Luhan begitu sesak tak bisa membayangakan bagaiamana jika Sehun melihat seluruh proses perceraian menyakitkan yang tengah mereka jalani.

Hksss

Luhan terus tertunduk dengan tangan yang mencengkram erat dadanya. Berharap rasa sakitnya hilang namun percuma karena semakin ia coba semuanya terasa semakin menyakitkan. Membuat dirinya mengumpat kecil karena merasa terlalu lemah pada dirinya sendiri

Drrttt..drrtt..

Luhan sedikit melirik ponselnya yang berada di atas mejanya. Berniat mengabaikan panggilan untuknya namun secara tak sadar tangannya mengambil cepat ponsel di mejanya sebelum

HYUNG!

Kedua mata Luhan membelalak mendengar suara Kyungsoo yang begitu familiar. Membuatnya merasa begitu lega namun sangat khawatir mengingat adiknya terdengar begitu ketakutan dan tak tahu harus pergi kemana saat ini "Kyungsoo?"

"Ya hyung-..Ini aku."

"Astaga Kyungie kau dimana? Apa kau baik-..."

"Hyung dengarkan aku. Apapun yang akan terjadi nantinya. Aku hanya minta kau tidak mempercayai siapapun kecuali Sehun. Apa kau mengerti?"

"Kyungie. Apa yang kau bicarakan?"

"Hyung hanya dengarkan aku dan-..."

Pip!

"Kyungsoo!"

Suara Luhan jelas menunjukkan kepanikan teramat saat tiba-tiba sambungan Kyungsoo terputus dengan keadaan adiknya yang berbicara dengan suara terengah menyiratkan ketakutan. Membuatnya terus memanggil nama Kyungsoo. Namun jelas percuma karena Kyungsoo sudah berada entah dimana.

Kepala Luhan berdenyut begitu sakit saat ini. Memikirkan bahwa adiknya berada dalam bahaya membuatnya begitu marah karena tak bisa melakukan apapun. Dan meminta bantuan Yunho adalah satu-satunya hal yang terpikirkan oleh Luhan saat ini.

Sang dokter pun melepas cepat jaket putihnya, berniat untuk segera meminta bantuan Yunho dan Woobin sebelum

Drrt...drtt

Gerakannya terhenti karena ponselnya kembali begetar. Kali ini sebuah pesan yang menunjukkan notifikasinya. Seolah tak ingin membuang waktu, Luhan mengambil cepat ponselnya dan

Sret…!

Hyung tolong aku

Hati Luhan terasa mencelos membaca pesan Kyungsoo yang terlihat dalam keadaan mendesak. Membuatnya begitu gemetar dengan pikiran yang tidak-tidak menghantuinya.

Dia mungkin akan tetap pada niatnya untuk meminta bantuan Yunho dan Woobin. Namun saat kakinya melangkah pesan kedua kembali diterima. Dan kali ini Kyungsoo memintanya untuk datang ke suatu tempat seorang diri. Luhan terdiam cukup lama di tempatnya-...sedikit mencurigai pesan yang sepertinya bukan milik Kyungsoo. Jantungnya berdegup kencang menyadari satu hal bahwa telah terjadi sesuatu pada adiknya.

"Kyungie."

.

.

Dan disinilah Luhan-...di tempat Kyungsoo memintanya untuk datang. Tempat yang terlihat seperti gedung tua dan hanya ada dirinya sendiri di tempat sepi ini. Luhan terus melangkah masuk ke dalam gedung tua yang entah mengapa menjadi sangat familiar untuknya. Bukan hanya karena dia sering menemui suaminya di tempat sejenis seperti ini. Tapi juga karena dia beberapa kali pernah merasakan ketakutan berada di tempat semacam ini dengan orang-orang mengerikan yang berusaha menyakitinya.

Suatu kesalahan jika dia datang ke tempat seperti ini seorang diri. Dan katakanlah dirinya dijebak atau ada yang berusaha membohonginya menggunakan nama Kyungsoo. Luhan bahkan bisa mengabaikan pesan singkat yang memintanya datang sendiri malam ini.

Namun bagaimana jika itu benar-benar pesan dari adiknya? Bagaimana kalau benar sesuatu telah terjadi dan adiknya dalam kesulitan?-... membuatnya tak mempunyai pilihan lain selain memastikannya sendiri. Dia bahkan sudah siap untuk segala resiko yang bisa membahayakannya malam ini.

"Kyungsoo."

Luhan semakin melangkah masuk kedalam gudang usang yang terasa sangat mengerikan. Meniadakan rasa takutnya dan hanya terus masuk kedalam sampai

Krekk..!

Luhan mendengar suara patahan kayu yang jelas diinjak oleh seseorang. Membuatnya segera menoleh dan kembali harus menikmati ketakutannya menyadari tak ada siapapun di belakangnya. "Kyungsoo?" katanya masih mencoba memanggil namun hanya keheningan yang menjawabnya.

"Aku tidak sendiri ya?" katanya tertawa getir mulai mencurigai bahwa dirinya tak sendiri di tempat ini. Membuatnya tak mempunyai keberanian lebih lama lagi untuk bertahan sendirian. Luhan memgambil cepat ponselnya. Mencoba mencari kontak Kai dan menghubunginya.

"Jangan Kai." katanya mematikan panggilan pada Kai. Sedikit ragu meminta bantuan anak buah suaminya yang hampir tak memiliki kepentingan lagi dengannya. "Aku tidak bisa membuat Kai dalam masalah lagi." katanya berganti mencari kontak yang lain. Sekilas dia memiliki keinginan untuk menghubungi Sehun. Menjadikan Kyungsoo sebagai alasan agar keduanya bisa bertemu. Namun yang terjadi adalah Luhan terus membohongi dirinya sendiri dan lebih memilih meminta bantuan pada Yunho yang mungkin bisa membantunya.

"Luhan?"

Luhan tersenyum begitu lega mendengar suara Yunho menjawab panggilannya. Membuatnya sedikit tersenyum dan bergegas memberitahu dimana dia dan apa yang sedang ia lakukan pada pria yang baru ia kenal selama satu bulan ini. "Yunho! Aku-..."

Pip..!

Luhan baru saja ingin mengatakan niatnya menghubungi Yunho. Namun belum sempat ia berbicara, seseorang menarik cepat ponselnya dan membantingnya kasar begitu saja.

Hmphhh...

Dan yang terjadi selanjutnya adalah pemandangannya kabur karena hirupan zat yang ia sangat ia ketahui adalah obat bius. Membuat seluruh tubuhnya seketika melemas tak bisa gerakkan. Luhan masih bisa mendengar dengan jelas suara Yunho memanggilnya. Namun tentu saja ia tak bisa melakukan apapun karena setelahnya semua berubah menjadi gelap membuatnya tak sadarkan diri hanya dalam hitungan detik.

Luhan?-...Jawab aku. LUHAN?!

Sret..!

Seseorang memungut ponsel Luhan. Menggeram marah melihat sosok yang kini tak sadarkan diri berhasil menghubungi seseorang yang bahkan lebih berbahaya dari dirinya "Luhan?-...yeboseyo? Lu-..."

Pip!

Pria itu seketika mematikan ponsel Luhan. Membantingnya sampai hancur sebelum memberi perintah pada anak buahnya.

"Bawa dia!"

.

.

"Apa kau yakin dia akan datang?"

"Tenang saja. Kita memiliki little Lu. Aku sangat mengenalnya-...Dia tidak akan membiarkan pria brengsek ini mati konyol di tanganku."

Entah apa yang terjadi saat ini sungguh Luhan tidak mengetahui apapun. Dia hanya bisa merasakan sakit kepala yang teramat dengan seluruh badan yang tidak bisa digerakkan. Tangannya terasa ditarik ke belakang dengan kaki yang diikat di sebuah kursi membuat pergerakannya sangat terbatas.

Dia menggelengkan pelan kepalanya sebagai respon bahwa dirinya telah sadarkan diri. Namun dia tahu benar kalau Kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Yang dia tahu dia mendengar beberapa suara yang bersahutan penuh kebencian mengelilingnya.

"Lihat dia sudah sadar!"

Dan dari beberapa suara itu-...Luhan sangat mengenali salah satu suara yang berbicara Dia tahu pria itu adalah pria yang sama yang selalu mengancam akan menyakiti Sehunnya. Membuat Luhan dan seluruh tenaganya berusaha untuk sadarkan diri.

Pandangannya masih kabur. Namun saat dia mengerjapkan beberapa kali matanya semua semakin jelas untuknya. Sedikit mengerjapkan berulang matanya sebelum

"Kris?"

Yang dipanggil namanya pun hanya tersenyum sangat jahat. Dia bahkan tertawa menyeramkan berjalan mendekati seseorang yang tumbuh besar bersamanya. Berjongkok untuk menyamakan posisi tubuh mereka. Sebelum mengusap lembut pipi teman kecilnya dengan setiap kemarahan yang ia rasakan "ck. Luhanku semakin cantik setiap harinya." Katanya memuji namun terdengar sangat menjijikan di telinga Luhan. Membuat Luhan dengan cepat memalingkan wajahnya tak sudi bertatapan dengan pria yang menjadi sangat kejam di hidupnya.

"Tatap aku saat aku bicara!" katanya menggeram dan menarik kasar dagu Luhan karena Luhan memalingkan wajahnya. Sedikit mencengkram kencang pipi Luhan membuat warna kemerahan jelas terlihat di wajah flawless Luhan.

Luhan sendiri memberanikan diri menatap pria yang jelas sedang menyekapnya. Kemarahan dan kebencian sangat terlihat di matanya. Membuatnya sedikit tersenyum menakutkan sebelum

Cuh!

"Aku tidak sudi berbicara denganmu!" katanya meludahi wajah Kris begitu saja. Membuat sang pemilik wajah secara refleks membersihkan air ludah yang dikeluarkan Luhan. Mengusapnya perlahan dengan wajah yang begitu menyeramkan sebelum

BUGH!

Dia menampar keras wajah Luhan. Membuat darah di tepi bibir Luhan jelas terlihat saat ini "ck. Kau tersinggung di perlakukan secara sampah? BAJINGAN SIALAN-...CEPAT LEPASKAN AKU SEBELUM KAU MATI DITANGAN SUAMIKU!"

Kris sedikit terdiam mendengar suara teriakan Luhan. Membuatnya tersenyum menangkap suara Luhan yang sangat ketakutan namun tertutup karena keberanian yang berusaha ia tunjukkan. Membuat pria yang memiliki wana rambut blonde itu semakin tertawa kencang sebelum kembali mencengkram kasar pipi Luhan membuat sudut bibirnya semakin mengeluarkan darah "Apa kau yakin hanya aku satu-satunya sampah disini?-...Apa kau belum bercermin? Kau juga sampah Luhannie sayangku." Katanya menatap keji wajah Luhan yang terlihat bertanya-tanya saat ini.

"Apa kau yakin ingin aku mati?-..Apa kau siap melihat aku mati? Karena jika kau siap-...Maka kau juga harus menyaksikan kematian Kyungsoo didepan kedua matamu!"

"TIDAK ADA KYUNGSOO DISINI! KAU JELAS MENJEBAKKU SIALAN!"

"aku tidak menjebakmu-... Awalnya Kyungsoo memang benar-benar ada disini bersamaku. Tapi aku tidak menyangka kemampuannya melarikan diri sudah berada di atas rata-rata. Dia benar-benar mengerikan." Katanya memberitahu Luhan yang semakin berdebar tak mengerti dengan seluruh celotehan Kris tentang Kyungsoo saat ini.

"Apa maksudmu?"

"Luhanna. Kyungsoo benar-benar menghubungimu-...Tapi selebihnya. Aku yang menguasai. Aku yang mengirim pesan dan aku yang memintamu datang ke jebakan yang khusus aku buatkan untukmu." Katanya mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menunjukkan ponsel yang jelas adalah milik Kyungsoo. "Kyungie kita sudah sangat mengerikan asal kau tahu." Katanya memberitahu Luhan. membuat kedua tangan Luhan yang sedang terikat di belakang kursi mengepal erat ingin sekali menampar mulut kejam pria yang tumbuh bersamanya.

"Entah omong kosong apa yang kau bicarakan!-...Aku beritahu satu hal padamu-...APAPUN YANG COBA KAU LAKUKAN PADAKU. SEHUN TIDAK AKAN PERNAH DATANG KESINI! KAU TIDAK AKAN BISA MENYAKITI SUAMIKU!"

Kris kembali terdiam setiap kali Luhan dengan bodohnya berteriak membicarakan Sehun. membuatnya tahu kalau situasi saat ini sepenuhnya adalah miliknya. Tersenyum menakutkan dengan menempelkan paksa dahinya dan dahi Luhan adalah cara untuk menggertak Luhan yang jelas sudah sangat ketakutan saat ini "Tenang saja-...Belum saatnya Sehun mati. Aku akan membalas kematian Tao dengan sangat perlahan." Katanya menyeringai dengan jarak tiga centimeter dengan wajah Luhan.

"Lagipula." Katanya berdiri dan mengitari kursi tempat Luhan diikat. Berdiri tepat di belakang Luhan sebelum sedikit menunduk dan berbisik mengerikan di telinga Luhan "Bukan Sehun yang aku inginkan tapi-..."

"HYUNG!"

Bersamaan dengan bisikan Kris terdengar suara teriakan dari suara yang sangat familiar untuk Luhan. membuatnya yang sedang memejamkan mata perlahan membukanya dan begitu terkejut mendapati Kyungsoo berada di depannya saat ini "Kyungie?" katanya bergumam melihat Kyungsoo dengan wajah pucat dan terengah sedang menatap cemas padanya.

"Aku menginginkan dia-...Kyungie kita." Gumam Kris memberitahu Luhan jika Kyungsoo yang dia inginkan. Membuat Luhan benar-benar merasa begitu mual tak tahan membayangkan apa yang akan terjadi pada adik kecilnya jika terus berada di sini seperti sekarang.

"Kris-...Lepaskan Kyungsoo. Dia sedang sakit dan tidak mengingat kita. HANYA LEPASKAN DIA DAN BAWA DIRIKU SEBAGAI GANTINYA."

"Ck. Jangan khawatir Luhanna. Uri Kyungie-...dia sudah mengingat segalanya. Terlalu mengingat segalanya." Katanya menatap Kyungsoo penuh arti dan memberitahu Luhan yang semakin kebingungan "Apa maksudmu?"

"Kau akan tahu sebentar lagi." katanya memberitahu Luhan dan kembali menatap marah Kyungsoo yang memiliki benda kecil bernilai milyaran won di tangannya "Tapi untuk saat ini-...Aku sedang ingin menyakitinya."

"KYUNGIE CEPAT PERGI!"

Kyungsoo mengabaikan teriakan Luhan yang begitu ketakutan saat ini. Mata bulatnya sedikit menatap mata rusa Luhan dengan tatapan menyesal sebelum kembali menatap marah pada Kris. Keduanya kini bertatapan penuh kemarahan yang dirasakan keduanya. "Aku tahu kau akan datang. Terimakasih untuk hyungmu." Katanya tertawa menyeringai mencengkram bahu Luhan terlampau erat seolah memberitahu Kyungsoo bahwa Luhan akan terluka jika dia tidak memberikan apa yang diinginkannya.

"BRENGSEK!-...JANGAN LIBATKAN LUHAN-...LEPASKAN LUHAN!"

"Whoaa Do Kyungsoo. Kau benar-benar membuatku marah." Katanya tertawa kejam sebelum kembali menatap seluruh anak buahnya dan memberikan perintah pada seluruh anak buahnya yang sudah bersiap menyambut kedatangan Kyungsoo "HAJAR DIA!"

Dan bersamaan dengan perintah Kris-...Seluruh anak buahnya mulai mendekati Kyungsoo. Membuat wajah Luhan begitu memucat dengan tangan memerah karena ikatan yang diberikan padanya terlalu kuat.

BUGH..!

"KYUNGSOO!"

Teriakan keceemasan Luhan seolah tidak artinya. Karena saat ini bukan Kyungsoo yang dipukuli, melainkan seluruh anak buah Kris yang mencoba menyerangnya tengah terkulai tak berdaya di lantai, membuat nafas Luhan semakin memburu-..bertanya-tanya darimana Kyungsoo mendapatkan kemampuan memukuli seseorang dengan keji layaknya seorang yang pro. Seperti Kai bahkan suaminya.

Semua kecemasan Luhan semakin tidak beralasan karena saat ini Kyungsoo hampir memenangkan keadaan. Dia beberapa kali terkena pukulan. Namun beberapa kali pula Kyungsoo membalasnya dengan keji. Luhan bahkan melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana adik kecilnya membunuh tanpa perasaan beberapa orang yang mencoba menyakitinya.

"brengsek!"

Luhan mendegar Kris menggeram marah karena Kyungsoo mulai menghabisi satu-persatu anak buahnya. Dan sekilas dia bahkan melihat wajah Kris yang memucat melihat bagaimana Kyungsoo kecil mereka mulai menghabisi anak buah dengan jumlah yang jelas tidak sebanding dengan dirinya sendiri. Dan untuk alasan tertentu-...Luhan sangat menyukai wajah ketakutan Kris, membuatnya tersenyum sekilas sebelum

"DO KYUNGSOO!"

Luhan merasa kepalanya ditarik kencang dan kini ada sebilah pisau yang ditekankan Kris di lehernya. Membuat Kyungsoo yang sedang menghabisi anak buahnya mau tak mau berhenti dan merubah warna mukanya menjadi ketakutan saat Kris mulai menggunakan Luhan sebagai kelemahannya "Luhan tidak perlu terlibat dalam urusan kita-...Jadi lepaskan Luhan atau aku akan bertindak di luar kendali." katanya memperingatkan membuat Kris semakin tertawa kejam dan mulai membuat leher Luhan sedikit tergores dan mengeluarkan darah.

"ishhh.."

"HYUNG!"

"JANGAN MENDEKAT!"

Kris semakin menekankan pisaunya saat Kyungsoo berusaha berjalan mendekat. Membuatnya tak memiliki pilihan lain selain mengikuti permainan Kris saat ini.

"HAJAR DIA-.."

Ini adalah perintah kedua yang diberikan Kris. Awalnya anak buahnya yang tersisa nampak enggan berurusan dengan Kyungsoo. Namun saat Kris memastikan kalau Kyungsoo tidak akan melawan membuat seluruh anak buah Kris tertawa menyeringai begitu senang dan

BUGH..!

"KYUNGSOOO!"

Kali ini Luhan berteriak begitu memilukan. Dia melihat dengan jelas bagaimana seluruh anak buah Kris membuat Kyungsoo seketika terkulai tak berdaya dan menerima seluruh pukulan di tubunnya. "Jangan-...JANGAN PUKUL ADIKKU!"

BUGH...!

Kedua mata Luhan membelalak begitu terkejut melihat bagaimana Kyungsoo dipukul berulang menggunakan balok kayu. Membuatnya menggeliat di kursi yang mengikatnya seolah ingin lepas dan membantu adiknya yang terlihat tak sadarkan diri saat ini.

BUGH..!

"KRIS HENTIKAN! DEMI TUHAN DIA ADIK KITA!"

Seringai di wajah Kris sedikit menghilang mendengar bagaimana Luhan mengingatkan dirinya tentang siapa Kyungsoo untuk mereka. Membuatnya tertawa sangat marah sebelum kembali berjongkok di depan Luhan "Daripada adik-...Dia lebih seperti mesin pembunuh untukku."

Luhan benar-benar tidak mengerti dengan semua ucapan Kris yang terdengar sangat membenci Kyungsoo membuatnya memberanikan menatap Kris sedikit bertanya "Apa maksudmu?"

"Kau ingin tahu?-..ah. baiklah akan aku beritahu." Katanya menatap Kyungsoo dan

"HENTIKAN!"

Dia memberi perintah anak buahnya dan pukulan di tubuh Kyungsoo secara otomatis dihentikan. Kris memandang Kyungsoo sebelum kembali menatap Luhan yang sudah menangis didepannya "Kyungsoo adalah diriku.ah-... bukan seperti itu kalimatnya." Katanya mengoreksi dan kembali mengusap perlahan wajah Luhan.

"Dia pembunuh sepertiku. Dia bekerja untukku."

"tidak-...TIDAK MUNGKIN!"

Luhan langsung memberikan reaksinya atas pernyataan Kris. Membuatnya begitu marah dan terluka menyadari semua orang yang ia sayangi memiliki kehidupan mengerikan yang begitu ia benci.

"Kenapa tidak mungkin? Kau mengelaknya?-...Pikirmu darimana dia bisa menjadi keji seperti saat ini? Aku memberikan semua untuk Kyungsoo-...AKU YANG BERADA DI DEKATNYA SEMENTARA KAU SIBUK DENGAN URUSAN PERCINTAANMU DAN CHANYEOL SIBUK DENGAN KARIRNYA-...AKU ADALAH SATU-SATUNYA ORANG YANG PEDULI PADA PRIA YANG KAU PANGGIL ADIK. AKU LUHAN-..AKU!"

Sekali lagi-...Luhan merasa begitu ditampar hebat mendengar apa yang diucapkan Kris. Luhan memang menjadi egois saat mengenal Sehun. Dia tidak bertemu dengan Kyungsoo untuk beberapa waktu karena kesibukannya menjadi dokter dan urusan percintaannya dengan Sehun-...Luhan menangis hebat saat ini. dia tahu tidak ada yang bisa membalikan waktu. Tapi sekali saja dalam hidupnya. Dia berdoa untuk tidak menyakiti seseorang yang ia cintai dengan hidupnya.

"Dia kesepian dan datang padaku. Dia bilang "hyung...ayo kita cari Luhan dan Chanyeol hyung. Aku merindukan mereka." dan kemudian aku tertawa mendengar celotehan adik kita. Aku membujuknya dengan menyertakan fakta bahwa kalian sama sekali tidak pernah mencari Kyungsoo." Katanya tertawa untuk melihat Kyungsoo sekilas sebelum kembali menatap Luhan

"Dan dia percaya-...Dia menangis hebat begitu marah pada kalian. Dan aku-...Aku memanfaatkan kemarahannya untuk menjadikannya mesin pembunuhku. Aku memanfaatkannya untuk menyakitimu Luhan. Aku-..."

"BRENGSEK!-...KAU BENAR-BENAR BRENGSEK WU YIFAN-..TEGA SEKALI KAU MELAKUKAN HAL MENGERIKAN PADA KYUNGSOO!"

"easy Lu-..Easy. Aku akan memberitahukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehmu."

Kyungsoo yang masih setengah sadar bereaksi mendengar ucapan Kris, membuatnya sedikit mengumpulkan kesadarannya mencegah Kris memberitahu apapun mengenai apa yang telah dia lakukan pada putra Luhan "Kyungsoo yang mengerikan. Apa kau tidak tahu kalau dia adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian-..."

"WU YIFAN!"

Kyungsoo tiba-tiba berlari ke arah Kris. Berniat menghabisi Kris sebelum

BUGH!

"KYUNGSOO!"

Dirinya harus kembali tersungkur saat anak buah Kris menghadangnya dan memukul kencang tengkuknya menggunakan balok "ck. Benar-benar menyedihkan." Katanya meremehkan dan berniat kembali memberitahu Luhan sebelum

BRAK..!

"KRIS-...YUNHO DAN WOOBIN BERADA DISINI! KITA HARUS PERGI."

"Sial!" katanya menggeram marah dan kembali menatap Kyungsoo yang tersungkur tak berdaya "GELEDAH DIA!"

Feilong –partner Kris- adalah pria yang mulai menggeledah Kyungsoo. Mencari sesuatu di saku Kyungsoo sampai

"Dapat!-...KITA PERGI SEKARANG!"

Kris tersenyum begitu senang melihat chip yang selama ini disembunyikan Kyungsoo jatuh ke tangannya. Membuatnya tak ingin berlama-lama di tempatnya sekarang mengingat dua orang yang paling mencarinya tengah berjalan mendekati gudan tua tempatnya menyekap Luhan.

"huh sayang sekali kita harus berpisah Lu-...Tapi apa kau tahu?." Katanya bertanya memegang pisaunya dan mulai berjalan mendekati Kyungsoo yang sudah tak sadarkan diri

"Kris hentikan-...Jangan sakiti Kyungsoo. Aku mohon."

"Aku sangat puas melihat wajah putra kecilmu meregang nyawanya hari itu."

Deg!

Luhan merasa ada sesuatu didalam tubuhnya yang dicabut secara paksa saat mendengar ucapan Kris. Membuat Luhan seketika tidak bisa merasakan apapun lagi termasuk nafasnya sendiri "Apa maksudmu?"

"ah-...Apa Oh Sehun belum memberitahumu?" katanya menjambak rambut Kyungsoo dan mulai menatap penuh benci mahluk sialan yang berada didepannya.

"Memberitahu apa?-...APA YANG KAU KATAKAN?"

Perhatian Kris sedikit teralihkan saat mendengar suara Luhan yang jelas belum mengetahui apapun. Membuat dirinya begitu senang menyadari kalau dia adalah orang pertama yang akan membunuh mental Luhan secara keseluruhan "Tentang siapa yang membunuh putramu?-..Apa kau tidak tahu?"

"WU YIFAN APA YANG KAU BICARAKAN?" Luhan terus meronta di kursi yang mengikatnya. Sedikit takjub saat rasa sakit di tubuhnya seketika menghilang dan digantikan rasa yang begitu sakit di hatinya "LEPAS! ATAU AKU AKAN-..."

"AKU YANG MEMBERIKAN PERINTAH UNTUK MEMBUNUH PUTRAMU LUHAN!"

Gerakan meronta Luhan di kursinya seketika menghilang digantikan raut pucat dengan air mata kemarahan dan ketakutan mendengar apa yang di ucapkan Kris padanya "A-..Apa yang kau bicarakan?"

"Aku?-..aku sedang memberitahumu kalau aku adalah pria yang memberikan perintah untuk membunuh putramu. Kau tahu kenapa?-...Karena kau membunuh Tao! KAU MEMBUNUH KEKASIHKU DAN AKU BERSUMPAH AKAN MEMBALASMU SERIBU KALI LEBIH KEJAM!"

Luhan tidak bisa bernafas dengan benar saat ini. Kenyataan yang dibicarakan Kris terlalu sempurna untuk disebut kebohongan. Nafasnya sudah terputus karena hatinya begitu diremat dengan kenyataan baru untuknya. Dia menatap Kris cukup lama sebelum akhirnya menggeleng tidak mempercayai pendengarannya "tidak mungkin-..Kau tidak."

"Apa aku perlu menjelaskan bagaimana indahnya melihat tubuh kecil putramu terhempas ke trotoar jalan? Apa aku perlu menjelaskan bagaimana jeritan pilu saat Sehun memanggil nama putranya? Ck. Bahkan kau lebih mengerikan dari kami Luhan-..Kau pembunuh Luhan-...Kau tidak hanya membunuh kekasihku-...Kau juga membunuh putramu sendiri."

"TIDAAAAAAK!"

Mental Luhan benar-benar rusak saat ini. hatinya hancur berkeping dan dia rasa dia tidak akan bisa menjalani hidupnya setelah ini. bayangan terakhir saat Ziyu tertawa serta wajah hancur Sehun saat putra mereka di makamkan berputar bergantian di ingatannya. Membuat Luhan benar-benar menikmati kehancuran dirinya sendiri yang telah membuat ayah dan anak terpisah karena kesalahan yang tak sengaja ia buat di masa lalu.

"Nyawa dibayar nyawa. Jika kau membuat kekasihku mati. Maka aku membalasnya dengan membunuh putramu-...dan aku akan semakin mematikan mentalmu saat kau mengetahui kebenaran tentang siapa yang melakukan pembunuhan keji atas perintahku-...dan setelah ini. perlahan aku akan menyakiti Sehun-...aku akan mengambil semua milikmu yang berharga." Katanya semakin menyeringai menyadari dirinya sudah berhasil merusak mental Luhan secara keseluruhan.

"KRIS CEPAT!"

Kris pun mengangguk mendengar partnernya berteriak. Sedikit menatap menyeringai Luhan sebelum kembali menatap Kyungsoo penuh kemarahan "Dan untuk kau-...Aku tidak akan memberitahukan lebih banyak lagi pada Luhan. Anggap aku sedang mengasihanimu. Sebagai gantinya. Kau harus sedikit merasakan sakit adik kecil." Katanya menjambak Kyungsoo dan

JLEBB...!

"KYUNGSOO!"

Luhan melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana Kris dengan kejinya menusuk Kyungsoo yang sudah tak bertanya. Membuat Luhan yang nyaris sudah tak bisa merasakan keberadaan dirinya sendiri terpaksa menjerit sangat ketakutan melihat darah Kyungsoo yang kini mengucur deras tanpa henti.

"Aku bersumpah akan terus mengambil kebahagiaanmu selama aku hidup. Dan satu hal yang harus kau ingat Luhan-...KAU ADALAH PENYEBAB KEMATIAN PUTRAMU LUHAN-..KAU!"

Setelah menusuk Kyungsoo sebagai pengalihan. Kris begitu saja berlari meninggalkan Luhan. Membuat Luhan kembali tak bisa dibuat berbicara dengan tudingan yang dilontarkan Kris. Hatinya begitu sakit bahkan hanya untuk sekedar berteriak meminta tolong. Membuat pandangannya sedikit kabur dengan Kyungsoo yang merintih kesakitan di bawahnya.

Semua terlalu banyak Luhan terima dalam satu waktu-...Kenyataan kalau dirinya adalah penyebab kematian putra tunggalnya membuat cerita lain dalam hidupnya. Luhan selama ini selalu menyalahkan semuanya pada Sehun. tapi apa yang dilakukan suaminya?-...Sehun bahkan tidak pernah mencoba sedikitpun membela diri dan hanya menerima semua tuduhan tak beralasan yang dirinya tudingkan.

"Sehun..."

Nama Sehun adalah hal yang sangat ingin ia ucapkan saat ini. Jika fisik Kyungsoo hancur dengan tergeletak di lantai-..Maka Luhan merasakan kehancuran secara menyeluruh pada jiwanya. Membuat kesadaran bahkan enggan untuk bersamanya "Kyungie-...Maafkan hyung." Katanya mencoba meraih Kyungsoo namun sia-sia karena dia tidak bisa melakukan apapun. Jiwanya benar-benar rusak dengan seluruh perasaan hancur yang ia rasakan.

Luhan sudah hampir sepenuhnya kehilangan kesadarannya sebelum

"LUHAN!"

Dia mendengar beberapa suara datang berlari ke arahnya. Dia juga sekilas melihat tubuh Kyungsoo diangkat pergi sebelum akhirnya menyerah dan ikut tak sadarkan diri di depan dua pria yang ia tebak adalah Yunho dan Woobin.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"LUHAN!"

Suara yang begitu ia rindukan akhirnya terdengar lagi malam ini. Membuat Luhan yang baru sadarkan diri dan memaksa untuk berada di depan ruang operasi Kyungsoo sedikit menoleh dan begitu hancur melihat suaminya tengah berlari ke arahnya dengan wajah yang jelas menunjukkan kalau ia sangat ketakutan dan cemas mengkhwatirkan dirinya.

Hatinya begitu memanas merasa sangat bersalah telah melampiaskan seluruh kemarahannya pada pria tampan yang memiliki batas kesabaran seorang manusia di atas rata-rata. Membuatnya merasa sangat malu bahkan sangat tidak berani untuk berbicara atau menatap pria tampannya yang semakin mendekat ke arahnya.

Kau pembunuh Luhan-...Kau tidak hanya membunuh kekasihku-...Kau juga membunuh putramu sendiri.

"Ziyu." Katanya begitu sesak mendapati kenyataan yang begitu membunuh karakternya dalam sekejap.

Nyawa dibayar nyawa. Jika kau membuat kekasihku mati. Maka aku membalasnya dengan membunuh putramu-...dan aku akan semakin mematikan mentalmu saat kau mengetahui kebenaran tentang siapa yang melakukan pembunuhan keji atas perintahku-...dan setelah ini. perlahan aku akan menyakiti Sehun-...aku akan mengambil semua milikmu yang berharga.

"Tidak-..tidak lagi."

Luhan menutup kencang kedua telinganya dengan kepala yang terus menggeleng seolah mengusir ucapan Kris yang terasa begitu membunuhnya perlahan. Menolak mendengar semua suara karena hatinya begitu terluka saat ini.

"Luhan..."

KAU ADALAH PENYEBAB KEMATIAN PUTRAMU LUHAN

"Anakku-."

"Luhan."

"Ziyu-...Anakku."

"LUHAN!"

Suara Sehun tiba-tiba menerobos masuk ke indera pendegarannya. Membuat Luhan perlahan membuka kedua matanya dan begitu tenang melihat Sehunnya tengah berjongkok didepannya dengan wajah yang jelas menunjukkan kecemasan luar biasa saat ini.

"Sehun?"

"Sayang apa yang terjadi-...SIAPA YANG MEMBUATMU SEPERTI INI."

Sehun tidak bisa menyembunyikan ketakutannya melihat Luhan yang begitu hancur saat ini. hatinya terasa disayat dengan pisau tajam melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana pria cantiknya begitu memucat dan bergetar ketakutan.

Sehun mendekap erat Luhan yang masih tak mau berucap saat ini. Berusaha menenangkan tubuh istrinya yang terus bergetar sampai

"Maaf."

Sehun mendengarnya dengan jelas-...dia mendengar bagaimana Luhan mengatakan kata maaf di telinganya. Membuatnya bertanya-tanya dan perlahan melepas pelukannya dari Luhan "Luhan ada apa. Kenapa-..."

"Maaf Sehunna. Aku minta maaf padamu."

Kedua telapak tangannya menyatu seolah meminta ampunan pada Sehun-..Dan iringan isakannya seolah mewakili seluruh perasaan bersalahnya pada Sehun.

"Luhan? apa yang terjadi? Kenapa kau terus mengucapkan maaf?" katanya bertanya dan mulai meletakkan tangannya di atas tangan Luhan yang terlihat meminta maaf padanya. "Ada apa? Kau membuatku takut sayang."

"kau-...Ziyu. Aku-..."

Sehun semakin menaikkan dahinya benar-benar tak mengerti dengan apa yang Luhan coba untuk sampaikan "Ada apa dengan-..."

"MAAF MEMBUATMU HARUS TERPISAH DENGAN PUTRAMU-...MAAFKAN AKU TERUS MENYALAHKANMU ATAS KEMATIAN PUTRA KITA SEMENTARA KENYATANNYA ADALAH DIRIKU YANG MENJADI ALASAN KENAPA ZIYU HARUS PERGI. MAAF SEHUNNA!-...MAAFKAN AKU!"

Luhan tiba-tiba berlutut memohon ampun pada Sehun. dan Sehun-...Dia sudah mengerti keamana arah pembicaraan Luhan. Matanya terpejam begitu erat tak tahan mendengar kehancuran satu-satunya pria yang ia cintai. Dia menatap sekilas pada Yunho yang berdiri tak jauh darinya. Mengangguk berterimakasih dan membiarkan Luhan terus berlutut dan mengucapkan maaf padanya.

"Aku minta maaf Sehun-...Aku mohon jangan membenciku."

Teriakan kesedihan Luhan berubah menjadi isakan yang begitu memilukan. Membuat Sehun hanya bisa mendongakan kepalanya mencegah terlihat terluka di depan istrinya yang sedang hancur "Aku bersalah Sehun. Aku bersalah padamu dan Ziyu. Maaf memisahkanmu dari putramu."

"Luhan."

Sehun sendiri seketika berjongkok menyamakan posisinya dengan Luhan. Menangkup wajah Luhan dan mulai menciumi wajah istrinya yang terlalu berharga untuknya "Kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang Kris-..." katanya terisak menatap wajah Sehun yang sama terluka dengan dirinya.

"Kenapa kau tidak pernah mengatakan apapun tentang Kris Sehunna-...KENAPA KAU HANYA DIAM SAAT AKU MENYALAHKANMU ATAS KEMATIAN PUTRA KITA? KENAPAAAA?"

Grep...!

Sehun tidak tahan lagi mendengar betapa hancurnya Luhan saat ini. Dia membawa istrinya ke dekapannya begitu erat. Menciumi kepala dan tengkuk Luhan berharap kalau Luhan akan sedikit lebih tenang dan berhenti menyalahkan semua yang terjadi pada dirinya sendiri "Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku Sehunna. Kenapa-..."

"Karena aku tidak ingin kau terluka seperti saat ini. Aku lebih memilih kau membenciku daripada kau membenci dirimu sendiri. Aku mencitai Ziyu-...Tapi Demi Tuhan Luhan-...Aku lebih mencintaimu. Aku bisa bertahan hidup tanpa Ziyu. Tapi tanpamu-...Aku mati. Jadi berhenti menyakiti dirimu sendiri. Itu melukaiku." Katanya terisak tak kalah hebat membiarkan Luhan mengetahui kalau pembunuh sepertinya hanyalah seorang pria biasa yang juga bisa mencintai seseorang begitu tulus dan terluka saat seseorang yang ia cintai terlihat begitu hancur berkeping.

"Aku mencintaimu Luhan. Aku sangat mencintaimu."

Tangan Luhan mencengkram erat pundak Sehun saat prianya terus mengatakan cinta sementara dirinya terus menyakiti Sehunnya. Membuat semua perasaan bersalah dan menyesal menjadi satu terus Luhan rasakan. Dia berharap Sehun memukulnya bukan memeluknya seperti saat ini. Dia bahkan berharap Sehun mencaci maki dirinya bukan mengatakan cinta seperti saat ini.

Sehun tidak membuat keadaan Luhan lebih baik-...Sebaliknya keberadaan Sehun hanya membuat mental Luhan semakin hancur berkeping. Bagaimana bisa seseorang begitu mencintai dirinya seperti yang Sehun lakukan?-...Sehun bahkan harusnya sudah berlari dari monster egois mengerikan seperti dirinya. Bukan mendekapnya erat seperti yang ia lakukan saat ini. Membuat Luhan tersadar kalau daripada Sehun-...dirinya lebih membutuhkan Sehun dan tak bisa kehilangan pria yang masih mendekapnya erat saat ini.

.


tobecontinued


.

I Just Wanna All Of You to know. That i love you all! *Luhanquote :p

.

kkk...Gue pemasaran ini bakal kaya gimana endingnya.

.

terimakasih yang sudah membaca dan mau repot-repot membaca. terimakasih yang sudah menunggu dan repot-repot mau menunggu. klo gue apdet lama itu artinya gue lagi nulis dengan jumlah words lebih dari 10k. Klo cuma 3k. tiap dua hari juga gue bisa apdet. Tapi tenang-..Jarang2 chapter panjang begindang eyke tulis. Tapi sekarang emg butuh kisaran 3-4 hari ;p

.

udah kan gumohnya? yowis...Next ketemu di MFC yak :)

.

Happy reading review!