Previous

"Maaf Sehunna. Aku minta maaf padamu."

Kedua telapak tangannya menyatu seolah meminta ampunan pada Sehun-..Dan iringan isakannya seolah mewakili seluruh perasaan bersalahnya pada Sehun.

"Luhan? apa yang terjadi? Kenapa kau terus mengucapkan maaf?" katanya bertanya dan mulai meletakkan tangannya di atas tangan Luhan yang terlihat meminta maaf padanya. "Ada apa? Kau membuatku takut sayang."

"kau-...Ziyu. Aku-..."

Sehun semakin menaikkan dahinya benar-benar tak mengerti dengan apa yang Luhan coba untuk sampaikan "Ada apa dengan-..."

"MAAF MEMBUATMU HARUS TERPISAH DENGAN PUTRAMU-...MAAFKAN AKU TERUS MENYALAHKANMU ATAS KEMATIAN PUTRA KITA SEMENTARA KENYATANNYA ADALAH DIRIKU YANG MENJADI ALASAN KENAPA ZIYU HARUS PERGI. MAAF SEHUNNA!-...MAAFKAN AKU!"

Luhan tiba-tiba berlutut memohon ampun pada Sehun. dan Sehun-...Dia sudah mengerti keamana arah pembicaraan Luhan. Matanya terpejam begitu erat tak tahan mendengar kehancuran satu-satunya pria yang ia cintai. Dia menatap sekilas pada Yunho yang berdiri tak jauh darinya. Mengangguk berterimakasih dan membiarkan Luhan terus berlutut dan mengucapkan maaf padanya.

"Aku minta maaf Sehun-...Aku mohon jangan membenciku."

Teriakan kesedihan Luhan berubah menjadi isakan yang begitu memilukan. Membuat Sehun hanya bisa mendongakan kepalanya mencegah terlihat terluka di depan istrinya yang sedang hancur "Aku bersalah Sehun. Aku bersalah padamu dan Ziyu. Maaf memisahkanmu dari putramu."

"Luhan."

Sehun sendiri seketika berjongkok menyamakan posisinya dengan Luhan. Menangkup wajah Luhan dan mulai menciumi wajah istrinya yang terlalu berharga untuknya "Kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang Kris-..." katanya terisak menatap wajah Sehun yang sama terluka dengan dirinya.

"Kenapa kau tidak pernah mengatakan apapun tentang Kris Sehunna-...KENAPA KAU HANYA DIAM SAAT AKU MENYALAHKANMU ATAS KEMATIAN PUTRA KITA? KENAPAAAA?"

Grep...!

Sehun tidak tahan lagi mendengar betapa hancurnya Luhan saat ini. Dia membawa istrinya ke dekapannya begitu erat. Menciumi kepala dan tengkuk Luhan berharap kalau Luhan akan sedikit lebih tenang dan berhenti menyalahkan semua yang terjadi pada dirinya sendiri "Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku Sehunna. Kenapa-..."

"Karena aku tidak ingin kau terluka seperti saat ini. Aku lebih memilih kau membenciku daripada kau membenci dirimu sendiri. Aku mencitai Ziyu-...Tapi Demi Tuhan Luhan-...Aku lebih mencintaimu. Aku bisa bertahan hidup tanpa Ziyu. Tapi tanpamu-...Aku mati. Jadi berhenti menyakiti dirimu sendiri. Itu melukaiku." Katanya terisak tak kalah hebat membiarkan Luhan mengetahui kalau pembunuh sepertinya hanyalah seorang pria biasa yang juga bisa mencintai seseorang begitu tulus dan terluka saat seseorang yang ia cintai terlihat begitu hancur berkeping.

"Aku mencintaimu Luhan. Aku sangat mencintaimu."

Tangan Luhan mencengkram erat pundak Sehun saat prianya terus mengatakan cinta sementara dirinya terus menyakiti Sehunnya. Membuat semua perasaan bersalah dan menyesal menjadi satu terus Luhan rasakan. Dia berharap Sehun memukulnya bukan memeluknya seperti saat ini. Dia bahkan berharap Sehun mencaci maki dirinya bukan mengatakan cinta seperti saat ini.

Sehun tidak membuat keadaan Luhan lebih baik-...Sebaliknya keberadaan Sehun hanya membuat mental Luhan semakin hancur berkeping. Bagaimana bisa seseorang begitu mencintai dirinya seperti yang Sehun lakukan?-...Sehun bahkan harusnya sudah berlari dari monster egois mengerikan seperti dirinya. Bukan mendekapnya erat seperti yang ia lakukan saat ini. Membuat Luhan tersadar kalau daripada Sehun-...dirinya lebih membutuhkan Sehun dan tak bisa kehilangan pria yang masih mendekapnya erat saat ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Entangled

Main Cast : Sehun & Lu Han

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

.

.

.

"Bagaimana?"

"Demamnya mencapai suhu tiga puluh sembilan derajat. Jika dalam dua jam suhunya belum juga turun. Aku sarankan untuk segera membawa Luhan kerumah sakit Sehunna."

Yang dijelaskan hanya bisa menatap hancur sosok cantiknya yang terkulai tak berdaya di tempat tidur mereka saat ini. Sang dokter yang selalu terlihat baik-baik saja bahkan ketika masalah pribadinya meminta perhatian lebih darinya-…istrinya selalu tersenyum menyelesaikannya. Bukan seperti saat ini-….Saat dimana dia mengetahui kebenaran mengenai masa lalunya-…Luhan tak bisa lagi bersikap seolah tak ada yang terjadi dan menjadikan dirinya lemah begitu saja.

"Baiklah. Aku mengerti."

Sehun memberi kalimat persetujuan dengan mata yang tak berkedip menatap sosok cantiknya serta tangan yang terus mengusap dahi istrinya yang berkeringat.

"Kalau begitu aku permisi dulu. Pastikan istrimu meminum obatnya saat dia bangun nanti."

"hmmm."

Dan seiring dengan gumaman Sehun- ..Cho Kyuhyun yang merupakan dokter pribadi keluarga Oh itu pun berjalan mendekati Sehun. Sedikit menatap iba pada Sehun yang terlihat lebih kesakitan dibanding dengan Luhan yang jelas sedang terbaring di tempat tidurnya dengan infus yang dipasangkan di tangan kirinya.

"Luhan akan baik-baik saja Sehunna." Katanya menepuk pundak Sehun sebelum berjalan meninggalkan kamar Sehun dan Luhan.

"Dia harus baik-baik saja hyung." Katanya menjawab ucapan Kyuhyun sedikit menghela dalam nafasnya berusaha untuk tetap tenang sebelum berjalan mendekati sang istri yang sudah tak sadarkan diri sejak pagi tadi saat Chanyeol keluar dari ruang operasi setelah menangani Kyungsoo. Mengingat dengan jelas bagaimana Luhan pingsan saat Chanyeol memberitahu kondisi Kyungsoo kritis adalah hal yang membuat Luhannya begitu ketakutan.

Dan seolah tak hanya sampai situ. Semua ketakutan Luhan semakin menjadi saat bajingan bernama Yifan memberitahukan tentang hal yang seharusnya tak pernah ia katakan pada Luhan. Membuat Sehun menyesal tak langsung menghabisi bajingan itu saat dia memiliki kesempatan untuk melakukannya.

Hatinya masih begitu marah ingin sekali menghancurkan Yifan dengan tangannya sendiri. Tapi disaat yang sama hatinya begitu terkoyak hancur melihat Luhan mulai menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada putra mereka. Membuat Sehun bisa menebak dengan baik sekelebat skenario yang akan terjadi setelah Luhan sadarkan nanti.

"Cepat sembuh sayang. Aku mohon jangan sakit seperti ini." katanya bergumam begitu lirih. Mengecup sekilas kening Luhan dan menatap istrinya cukup lama dengan tangan yang terus mengusap sayang dahi Luhan yang berkeringat.

.

.

Tik tok…tik tok…

Dua jam sudah berlalu dengan waktu yang menunjukkan pukul sebelas malam. Dan suasana di kamar yang begitu besar itu terasa sangat sepi dengan seorang pria cantik yang masih terbaring lemah di tempat tidurnya.

"unghh…"

Dan suara lenguhan itu seolah menjadi tanda kesadaran sang dokter yang mulai membuka kedua matanya. Mengerjap berulang untuk mendapatkan kesadarannya dan sedikit bertanya dimana dirinya saat ini. Dan saat dirinya sedang bertanya-tanya tak sengaja matanya melihat foto pernikahannya dengan Sehun-…Foto yang selalu terpasang dengan ukuran besar di dinding kamar Sehun dimanapun dirinya berada. Foto dengan putra kecil mereka yang berada di tengah-tengah mereka dan tertawa bahagia dengan pernikahan yang kedua orang tuanya lakukan.

"Nak…"

Suara Luhan terdengar begitu lirih diiringi air mata yang kembali menetes saat ucapan Kris kembali terngiang dibenaknya. Terlalu jelas membuatnya begitu terluka saat Kris dengan jelas mengatakan bahwa dirinya adalah penyebab dua pria tercintanya di dalam foto kehilangan satu sama lain. Kenyataan bahwa dirinya adalah penyebab Sehun hidup dalam rasa bersalah yang tak sama sekali ia lakukan membuat Luhan begitu hancur. "Maaf." Tangannya mencoba menggapai wajah Sehun yang berada di dalam foto. Sedikit tak berani menatapnya sampai

Cklek…!

Luhan secara refleks kembali memejamkan mata saat pintu kamar Sehun terbuka. Sangat bisa menebak bahwa seseorang yang sedang berjalan menghampirinya adalah sang suami. Tercium dari aromanya yang begitu khas disertai dengan tatapan yang juga Luhan tebak tak berkedip memandangnya.

"Aku tahu kau sudah bangun sayang. Cepat buka matamu. Kau harus makan dan meminum obatmu."

Tangan Luhan sedikit mengepal erat menyadari suara suaminya begitu kelelahan. Membuatnya merasa bersalah namun jujur tak berani untuk menatap wajah Sehun saat ini. Selain rasa bersalah, Luhan merasa sangat malu pada suaminya. Kenyataan bahwa dirinya tak pernah menceritakan tentang masa lalunya ternyata berakibat buruk untuk kehidupan pernikahan mereka "Luhan…"

Luhan semakin memejamkan erat matanya. Menolak kuat-kuat keinginannya untuk membuka mata. Dia hanya perlu berpura-pura tidur sampai Sehun meninggalkan kamarnya dan tak menjaganya lagi seperti saat ini.

"Baiklah jika kau tidak ingin melihatku-…Hanya makan bubur yang aku buat dan minum obatmu hmm." Katanya mengecup lama kening Luhan. Kembali menatap lama istrinya berharap Luhan membuka matanya dan tak berpura-pura tidur seperti saat ini. Jemarinya masih mengusap lembut dahi istrinya sedikit tersenyum menyadari kalau dirinya tak kunjung pergi, maka kemungkinan Luhan meminum obatnya adalah tidak mungkin "Aku pergi."

Sehun sudah membesarkan hati untuk melangkah pergi. Sampai sentuhan dingin di lengannya begitu terasa "Aku lapar." Suara Luhan memberitahu suaminya sangat datar. Membuat Sehun tetap bersyukur dengan menghela lega nafasnya menyadari sang istri tak lagi menolak kehadirannya.

Sehun kembali membalikan tubuhnya. Menatap Luhan yang masih enggan bertatapan langsung dengan dirinya. Membuat hatinya kembali memelas namun tak mau menjadi egois memaksakan hal yang tidak Luhan sukai.-….menatapnya misalnya.

Lain Sehun maka lain Luhan. Jika Sehun mengira Luhan tak mau menatapnya karena masih marah dan kecewa padanya. Maka semua hal yang dipikirkan Sehun sama sekali tak beralasan. Karena jauh didalam hati Luhan-….Luhan ingin sekali menatap pria tampannya tapi dia tidak bisa. Tidak-…Karena setiap kali Luhan menatap Sehun dia hanya akan merasa begitu jahat atas semua hal mengerikan yang dialami Sehun sebagian besar karena dirinya.

"Lihat siapa yang terlihat begitu cantik walau wajahnya sangat pucat dan berkeringat." Katanya sedikit tertawa berusaha mencairkan suasan namun gagal karena Luhan sama sekali tak merespon apapun yang Sehun coba lakukan. Sedikit menatap lama Luhan sebelum duduk di tepi tempat tidurnya. Mengusap lembut pipi istrinya dengan hati yang begitu memelas karena Luhan sama sekali tak menatapnya dan hanya menatap kosong kedepan.

Sehun kembali menghela dalam nafasnya. Bersabar adalah satu-satunya pertahanan yang bisa ia lakukan dengan semua pikiran bodoh istrinya. Dia kembali mengecup sayang kening Luhan sebelum membantu Luhan bersandar di kepala ranjang dan mengambil bubur yang telah ia buat "Bilang aaaa.." katanya memberi aba-aba. Dan seolah tak ingin membuat Sehun khawatir lebih lama lagi, Luhan membuka cepat mulutnya. Masih dengan pandangan menatap kedepan dia mulai mengunyah bubur yang Sehun buatkan untuknya.

"Apa enak?"

Bukan hanya enggan menatap. Luhan juga enggan membuka suaranya. Si pria cantik hanya mengangguk membalas seluruh pertanyaan Sehun. "Kau tahu Lu…" Sehun kembali mencoba berusaha berinteraksi dengan Luhan. Mengusap lembut sudut bibir Luhan sebelum terdiam menatap putus asa pria cantiknya "Rasanya sakit jika kau hanya diam tanpa menjawab."

Gerakan mengunyah Luhan terpaksa terhenti menyadari perubahan suara suaminya. Hatinya kembali merasa begitu perih mendengar bahwa si pria paling kejam di dunianya harus kembali tersakiti oleh pria egois seperti dirinya.

"Kalau begitu kenapa masih berada disini?"

"eh?"

"Kenapa kau masih mempedulikan pria sepertiku? Kenapa kau masih berada disini? Harusnya kau pergi dan membenciku. Bukan membuatkan aku semangkuk bubur dan terus tersenyum seperti seorang idiot. Harusnya kau-…"

Luhan terengah dengan emosi yang tak tahan lagi ia simpan dalam diam. Dia kembali menyerang Sehun dengan ucapannya. Berharap Sehun mengeluarkan emosinya dan hanya pergi meninggalkannya seorang diri. Bukan menemaninya seperti ini.

Dan Sehun-….dia juga sangat mengetahui kalau Luhannya sedang menyerang. Menggunakan kata-kata kasar yang harusnya menyakitinya. Tapi daripada menyakitinya-…Luhan terlihat menyakiti dirinya sendiri. Membuat Sehun tersenyum pahit dan mulai meletakkan mangkuk bubur Luhan ke atas meja tidur "Ya kau benar. Harusnya aku meninggalkanmu. Harusnya aku meninggalkan pembohong sepertimu. Bukannya berada disini dan menangisi kondisimu yang lemah karena kau menginginkannya!"

Ucapannya begitu tenang. Tapi setiap ucapan yang Sehun keluarkan mampu membuat Luhan hancur dalam hitungan detik. Dia bahkan mulai menatap suaminya dengan air mata yang membasahi wajahnya. "Apa aku sudah berhasil menyakitimu? Atau aku harus mengatakan hal yang lebih kejam? Atau aku harus mendorongmu agar kau merasa puas dan tak lagi merasa bersalah?"

"Sehun…."

"Ya. Aku marah padamu. Aku bahkan membencimu. Tapi bukan karena entah ucapan apa yang bajingan itu katakan padamu. Tapi karena dirimu sendiri. Kau pembohong Luhan. Kau dengar? Kau adalah pembohong mengerikan yang membuatku hampir gila hanya karena dirimu!"

"Kenapa kau tidak mengatakan apapun tentang masa lalumu? Bagaimana bisa aku menyebut diriku sebagai suami jika hal yang bisa membuat istriku terluka tidak aku ketahui? Bagaimana bisa kau menyembunyikan masa lalu mengerikanmu tanpa memberitahuku sama sekali? Kenapa kau tidak bisa mempercayaiku? Sekali saja Luhan-…Sekali saja. Kenapa kau tidak pernah mempercayaiku. Apa sulit?"

Air mata Luhan sudah terus menerus jatuh bersamaan dengan seluruh curahan hati Sehun yang begitu kecewa padanya. Ingin sekali Luhan memeluknya dan menjelaskan semua alasannya. Tapi sungguh-…Seluruh tubuh Luhan mendadak tak bisa digerakkan bersamaan dengan rasa kecewa yang Sehun rasakan padanya.

"Kau bertanya kenapa aku disini? Kenapa aku tidak membencimu? Kenapa aku masih mempedulikanmu. Jawabannya akan selalu sama-…Karena aku mencintaimu. Apa kau dengar?-….AKU MENCINTAIMU LUHAN. HARUS BERAPA KALI AKU MENGATAKAN AKU MENCINTAIMU DAN TAK BISA HIDUP TANPAMU. APA AKU HARUS MATI DIDEPANMU AGAR KAU TAHU KALAU HANYA KAU YANG BISA MEMBUATKU MATI!-….Arghhhh!-…KENAPA KAU SULIT SEKALI LUHAN!"

Sehun menjauh seiring dengan teriakannya. Menyadari Luhan kembali berhasil memancing emosinya dan berakhir berteriak pada istrinya yang jelas sedang sakit dan butuh istirahat. Nafasnya tersengal hebat dengan mata yang begitu memerah menahan tangisannya sendiri. Sedikit mengusak kasar wajahnya sebelum

BLAM…!

Sehun membanting kasar pintu kamarnya. Mengabulkan keinginan Luhan untuk berada seorang diri tanpa ada yang mengganggunya. Membuat Luhan semakin terisak dengan wajah yang tersembunyi di kedua telapak tangannya. Jika dia tidak mengejar Sehun-…Itu adalah kesalahan. Tapi jika dia mengejar suaminya. Bukankah hanya akan membuat keadaan semakin rumit untuk keduanya. "Idiot!-…Kau idiot menjijikan Luhan. Mati saja kau-..MATI!" Luhan bahkan memukul kencang kepalanya berulang kali merasa semua pertengakaran tak berguna ini terjadi karena keegoisan dirinya. Membuatnya menggeleng cepat dan mencabut paksa jarum infusnya. Memutuskan untuk membiarkan dirinya kembali egois dengan mengejar Sehun dan menjadikan prianya sebagai miliknya-..sekali lagi.

BLAM…!

"Bos?"

Sehun mengabaikan Max dan Yoochun yang berjaga didepan rumah mewahnya. Hanya melihat emosi kedua kaki tangannya sebelum menatap keduanya dengan tatapan memohon "Jaga Luhan. Jangan biarkan dia pergi kemanapun sendiri. Hanya ikuti dia kemanapun istriku pergi."

"Tapi kau mau pergi kemana bos. Kami bisa-…"

"JAWAB AKU JIKA AKU MEMBERI PERINTAH!"

Keduanya sontak terdiam sebelum mengangguk sebagai jawaban "Baik bos. Kami akan menjaga istri anda."

"Bagus." Katanya bergumam lirih sebelum berjalan gontai meninggalkan rumah dan berniat untuk segera pergi entah kemana.

Sehun bahkan sudah berjalan ke garasi rumahnya. Dia sudah membuka cepat pintu mobilnya sebelum seseorang menarik kencang lengannya dan

Mmphhh…

Sebelum kedua matanya melebar merasakan bibir mungil yang menjadi candunya kini tengah melumat bibirnya. Bibir yang masih terasa sangat dingin milik istrinya kini bergerak liar menyapu seluruh bibirnya hangatnya. Saling membagi rasa sampai kedua tangan Sehun secara refleks memberikan bantuan pada pinggang pria mungilnya yang terlihat kelelahan berjinjit dengan tangan yang terus menarik tengkuknya semakin dalam.

Entah apa yang sedang Luhan lakukan. Tapi semua ini begitu membahagiakan untuk Sehun. Dan dalam sekejap, Sehun merubah tempo ciuman mereka. Dia menguasai keadaan saat ini. Perlahan dia menunduk untuk menyamakan tinggi istrinya agar Luhan tak perlu berjinjit. Dia kemudian mengalungkan kedua tangan Luhan di lehernya. Menghisap lembut lidah sang istri saat Luhan tak sengaja mengambil nafas. Membuat sudara desahan itu semakin menjadi dan keadaan semakin bergairah untuk keduanya saat ini.

Namun seolah tak ingin larut dalam gairah. Sehun mencoba kembali pada kenyataan bahwa ciuman yang sedang mereka lakukan adalah ciuman kerinduan dengan semua rasa lelah yang mewakili keduanya. Lelah berpura-pura tidak saling membutuhkan disaat sentuhan masing-masing adalah yang paling mereka butuhkan.

Luhan merasa sangat tak sabar dengan tempo Sehun yang begitu lembut, membuatnya kembali berjinjit dan mulai mendorong kasar tubuh Sehun bersandar ke mobil. Baiklah-….Sehun juga merasa semua permainan lembutnya hanya semakin membuat keduanya menggila. Dia kemudian membuat semua percintaan mereka menjadi lebih panas dan bergairah. Ditangkapnya tubuh mungil Luhan kedalam gendongannya. Dan Luhan menyambutnya dengan kedua kaki yang melingkar di pinggang suaminya. Kembali saling menyesap dan melumat sampai kebutuhan oksigen menuntut dan membuat keduanya dengan tak rela melepas ciuman panas mereka. Mengambil nafas sebanyak-banyaknya dengan mata yang tak berkedip mengagumi satu sama lain "Aku-….."

"sssstt…Jangan berbicara sayang. Hanya biarkan seperti ini." Sehun menyatukan dahinya ke dahi Luhan. Menutup pintu mobilnya dengan perlahan sebelum membawa istrinya kembali kedalam rumah dan berniat melanjutkan gairah yang sudah keduanya rasakan malam ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tok…Tok…

Sinar mentari pagi mulai masuk melewati celah-celah jendela di kamar dua insan yang terlihat kelelahan dengan rona bahagia yang jelas terlihat di wajah masing-masing. Pria yang lebih mungil berada di atas tubuh pria jantannya. Sementara pria yang merupakan suami dari pria mungilnya terus mendekap erat pinggang sang istri yang tidak mengenakan apapun sama seperti dirinya. Keduanya bahkan terlihat kelelahan karena percintaan tak berkesudahan yang mereka lakukan hingga pukul tiga dini hari.

Lelah dan menguras tenaga adalah hal sebanding dengan betapa banyaknya desahan dari Luhan saat Sehunnya mengeluarkan semua cairan kenikmatannya didalam dirinya. Bahkan kalimat aku yakin setelah ini akan kembali menjadi seorang ayah membuat Luhan terus menerus merona bahkan di mimpinya sampai

Tok…Tok…

Suara ketukan di pintu kamar mereka sedikit banyak mengganggu kedua tuan rumah yang masih berpelukan dan masih bermimpi indah saat ini.

Tok…Tok…

Luhan yang pertama kali memberikan reaksi akan suara ketukan di pintu kamarnya. Membuatnya sedikit menggeliat dan mengangkat kepalanya sebelum wajah tampan milik suaminya lagi-lagi berhasil membuat jantungnya seperti ingin lompat keluar karena Sehunnya selalu sangat tampan bahkan saat dirinya sedang terlelap seperti sekarang "Tuhan sungguh tidak adil kau tahu?" katanya sedikit terkekeh sebelum mengusap lembut hidungnya di hidung Sehun

Tok…Tok…

"Iya sebentar."

Luhan menjawab panggilan ketukan di pintunya. Sedikit kesulitan untuk melepas pelukan sang suami mengingat bukan hanya tangan Sehun yang memeluknya namun kakinya bahkan mengapit kencang di paha Luhan saat ini. Luhan masih berusaha melepas pelukan suaminya sampai

"Sehun!"

Dirinya harus kembali terkejut karena Sehun kembali menggodanya bahkan di pagi hari seperti ini. Bahkan karena usahanya melepaskan pelukan sang suami, posisinya menjadi sangat tak menguntungkan dengan berada di bawah kungkungan si pria tampan yang terus mengendus dan menjilat lehernya "Se-aah-….Sehunnah."

"hmhhh."

"Ada yang mengetuk pintu."

Sehun menghentikan kegiatan mengendus leher istrinya dan melihat ke arah pintu "Abaikan mereka." katanya menjawab asal dan mulai menjamah sesukanya tubuh mulus istrinya yang masih dalam keadaan polos tanpa sehelai kain menutupinya.

Tok…Tok…

"Ish. PERGI!"

"Jangan! Aku akan segera membukanya."

Perintah berlawanan di teriakan kedua tuan rumah. Membuat si pengetuk pintu pastilah dalam kondisi bingung tidak tahu harus menuruti perintah sang tuan rumah atau si nyonya rumah. Dan sementara si pengetuk merasa kebingungan. Kedua tuan rumahnya saat ini sedang saling memandang tak mau kalah. Sedikit memicingkan mata mereka sebelum akhirnya tertawa merasa sangat rindu pada keadaan pagi seperti ini.

"Araseo…Nyonya rumah menang. Kau boleh membuka pintunya." Gumam Sehun menyingkir dari atas Luhan dengan tangan yang masih melingkar sempurna di pingang Luhan. Luhan sendiri bersorak menang saat Sehun mengalah padanya. Berniat mencari piyama tidurnya sebelum

"Sehun!-….ahmph…hmmh.."

Sehun kembali menindih tubuhnya. Bahkan tak tanggung-tanggung si pria tampan kini sedang menyesap nipple si nyonya rumah layaknya bayi yang kehausan di pagi hari "Astaga sayang! Apa yang kau laku-…lakukann..hmphh-…..Sehunna! jangan dihisap terlalu kuat ini masih sangat sensitif." Katanya berusaha menjauhkan wajah suaminya namun berakhir dengan sang suami yang semakin menyesap kuat serta memelintir nipple yang tak ia hisap dengan tanganya yang bebas.

Si pria cantik hanya bisa menggeliat resah saat ini. Menyadari jika dia terus membiarkan Sehun bergerak bebas di tubuhnya. Maka sudah dipastikan pagi ini akan berakhir seperti malam tadi-…Malam penuh cinta dan gairah. Luhan bahkan tergoda untuk membiarkan Sehun melakukan apapun pada tubuhnya. Kalau tidak mengingat bahwa tepat di depan pintu kamarnya ada seseorang yang sedang mengetuk pintu. Membuatnya terus menghindar dari Sehun yang semakin mengungkungnya dan

"OH SEHUN!"

Si bayi besar cukup terkejut saat istrinya berteriak. Membuatnya melihat Luhan dengan mata memelas persis seperti bayi yang tidak mendapatkan jatah susu paginya "oh tidak-….Jangan wajah itu." Gumam Luhan menatap horor suaminya yang masih memasang wajah khas sama seperti dulu saat dirinya dan Ziyu merebutkan perhatian darinya. "araseo! Kau boleh melakukannya lagi. Tapi buka pintu agar tidak ada yang mengganggu kita. Oke?"

Sehun menatap lama istrinya. Sedikit memicingkan matanya sebelum menunjukkan sederetan gigi putihnya "Okey eomma!"

Sehun lompat dari tempat tidurnya. Memakai asal piyama tidurnya dan meninggalkan Luhan yang tertawa tak percaya bahwa hampir setahun berlalu tapi Sehunnya masih bisa bersikap kekanakan dengan begitu menggemaskan "Dasar bayi besar!" katanya mencibir dan membiarkan Sehun menemui siapa yang mengetuk pintu kamar mereka.

Cklek…!

"Ada apa?"

Katakanlah Sehun memiliki dua kepribadian yang cukup membuat seseorang merasakan sakit kepala. Jika didepan Luhan dia bisa sangat lembut, penurut dan menjadi sangat patu bahkan menggemaskan. Maka didepan anak buahnya dan seluruh orang lain dia hanyalah Sehun si Mafia yang begitu mengerikan.

"Maaf mengganggu tidur anda bos. Tapi kami punya berita baik untuk Lu-…maksudku istri anda."

Max membungkukan badannya berulang. Bahkan pria yang biasanya memanggil Luhan dengan namanya segera merubah panggilannya saat sang bos menaikkan dahinya tanda dia tidak menyukai cara Max memanggil istrinya, membuat suasana antara bos dan kaki tangan ini terasa begitu canggung sampai Sehun kembali membuka suaranya.

"Kai baru saja menghubungiku. Dia mengatakan jika Kyungsoo sudah sadarkan diri."

Entah mengapa hati Sehun begitu lega mendengarnya. Sedikit menoleh ke tempat tidurnya untuk memberitahukan Luhan sebelum dirinya kembali berpikir untuk menggunakan Kyungsoo sebagai keuntungan karena diluar dugaan-…Adik yang tumbuh besar bersama istrinya adalah mantan anggota mafia yang pernah bekerja bersama si bajingan yang paling ingin ia bunuh dengan kedua tangannya sendiri.

"Aku ingin berbicara pada Kyungsoo terlebih dulu. Jadi katakan pada Kai untuk tidak memberitahu Luhan sebelum aku menemui Kyungsoo."

Max dengan cepat mengangguk mengiyakan permintaan Sehun padanya "Aku akan memberitahu Kai. Aku permisi bos." Katanya membungkuk berpamitan pada Sehun dan meninggalkan Sehun yang masih memikirkan rencana selanjutnya untuk menemukan Kris dan berharap Kyungsoo bisa membantunya.

.

.

.

.

.

.

"Bos?"

Sehun menanggapi sapaan Jongin. Sedikit melihat ke sekitar sebelum kembali menatap pria yang selalu ia tugaskan untuk menjaga istrinya "Apa ada seseorang yang sedang mengunjungi Kyungsoo?"

Kai yang memang sudah menjaga Kyungsoo sejak operasi dilangsungkan hingga saat Kyungsoo mengalami masa kritis sampai akhirnya Kyungsoo sadarkan diri hanya menggeleng menjawab pertanyaan Sehun. Sedikit bertanya kepada sikap bosnya yang terlihat ingin melakukan sesuatu pada Kyungsoo "Terakhir Dokter Park yang datang mengunjunginya. Dan menurut jadwal-…Dokter Park akan kembali dua jam terhitung saat ini untuk memeriksa kondisi Kyungsoo."

"Bagus. Pastikan tidak ada yang masuk saat aku berbicara dengan Kyungsoo. Terutama istriku. Mengerti?" Katanya memberi perintah pada Kai dan tak lama

Cklek…!

"Kyungsoo…"

Yang dipanggil namanya dengan cepat menoleh mencari asal suara. Sedikit memicingkan matanya melihat siapa yang datang mengunjunginya sebelum matanya melebar dengan jantung yang berdegup berlebihan melihat Sehun yang entah mengapa menghampirinya dengan wajah yang nyaris tak berekspresi. "Sehun?"

"Bagaimana keadaanmu?"

Kyungsoo mencoba menghilangkan rasa takutnya menghadapi Sehun. Sedikit merasa lega menebak bahwa jati dirinya yang mati-matian ia sembunyikan sepertinya masih aman mengingat Sehun bertanya tanpa rasa marah padanya "Aku baik-….Dan tak perlu berbasa-basi. Ada apa mengunjungiku?"

"Whoa. Aku seperti berbicara dengan Kyungsoo yang sesungguhnya."

"Apa maksudmu?"

"Kyungsoo yang membenciku." Katanya memberitahu Kyungsoo yang terlihat hanya diam saat ini "Jadi apa benar kau sudah mendapatkan seluruh ingatanmu?"

Kyungsoo menolak menatap Sehun. Merasa begitu bersalah dan tak bisa membayangkan jika pada akhirnya Sehun dan Luhan mengetahui siapa Kyungsoo yang sebenarnya cepat atau lambat. Membuatnya tersenyum sangat miris sebelum kembali menatap sekilas suami dari kakaknya yang berharga "Seluruhnya-….Aku bahkan mengingat bahwa daripada kau-…aku adalah monster sesunggunya."

"Eh? Kau berbicara apa?"

"Kau akan tahu nanti." Katanya membalas dengan suara bergetar yang nyaris tak bisa disembunyikan kalau saja Sehun tak menatapnya dengan tatapan meminta tolong saat ini "Dan maksud kedatanganmu menjengukku adalah?"

"Tidak ada maksud. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu."

"Untuk apa?"

"Luhan-…. Kau melakukan segala yang kau bisa untuk membuat Luhanku baik-baik saja. Dan tak ada yang lebih membuatku merasa begitu berterimakasih padamu. Terimakasih adik ipar." Katanya tertawa berusaha mencairkan suasana namun tentu saja berakhir gagal total mengingat Kyungsoo adalah satu dari sekian banyak orang yang dilahirkan tanpa memiliki ekspresi.

"Aku melakukannya karena Luhan adalah hidupku."

"Sama sepertimu-….Luhan juga hidupku." timpal Sehun tak mau mengalah bila menyangkut bagaimana mendeskripsikan Luhan untuk hidupnya.

"Lega rasanya mengetahui kau sangat menyayangi Luhan."

Kyungsoo kembali menaikkan dahinya. Menebak bahwa kedatangan Sehun menjenguknya bukan tanpa maksud. Dia tidak pernah melihat Sehun selunak ini padanya. Sehun yang biasanya akan memandang tak suka pada dirinya. Menjadikannya saingan karena bisa merebut Luhan kapan saja. Bukan Sehun yang terus menerus mengucapkan terimakasih dengan wajah ragu yang jelas ingin mengatakan sesuatu. "Aku tanya untuk terakhir kalinya. Ada apa kau datang mengunjungiku?"

Sehun juga menyadari kalau dirinya terlalu banyak membuang-buang waktu. Membuatnya sedikit ragu mengatakan maksudnya sebelum matanya menatap mata Kyungsoo seolah bisa melihat bagaimana ketulusan Kyungsoo yang akan melakukan apapun agar Luhannya terus dalam kedaan baik dan bahagia. Sedikit mengepalkan tangannya sebelum menatap Kyungsoo dengan memohon "Aku membutuhkan bantuanmu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Apa Kyungsoo benar-benar telah mendapatkan semua ingatannya hyung?"

Sehun dan Luhan memang tengah berada di rumah sakit saat ini. Tapi keduanya bahkan tidak mengetahui keberadaan satu sama lain walau mereka berada di tempat yang sama. Jika Sehun datang ke rumah sakit untuk menemui Kyungsoo secara langsung. Maka Luhan datang untuk memastikan keadaan adiknya baik-baik saja melalu beberapa dokter yang merawat adiknya.

Dan disinilah Luhan-... Di ruangan Junmyeon selaku dokter spesialis syaraf otak yang menangani adiknya. Memastikan kalau kondisi Kyungsoo benar-benar pulih dengan mendengarkan seluruh penjelasan sepupu dari sahabatnya ini yang terlihat serius menjelaskan keadaan Kyungsoo pada Luhan.

"Ya-...Seperti yang kau lihat. Aku sudah melakukan MRI untuk memeriksakan kondisi memar di lobus temporalnya. Dan hasilnya?-... Memar adikmu sudah berangsur membaik. Aku juga bisa menyimpulkan bahwa adikmu cenderung mengalami Retrogade Amnesia."

"Ketidakmampuan mengingat karena depresi yang berlebihan?"

"hmm... Kurang lebih seperti itu."

"Tapi kau bilang memar itu disebabkan oleh benturan hebat?"

"Itu hanya dugaanku Lu-... Jika dilihat dari kondisi awal, aku berani menebak dia mengalami benturan hebat karena kecelakaan. Tapi mengingat kondisinya mengalami kemajuan yang begitu cepat-... Aku juga berani bertaruh kalau sesuatu membuatnya terpaksa mengingat kenangannya. Bukan karena dia ingin. Lebih seperti karena dia merasakan penyesalan terlalu besar dan tak mengijinkan dirinya untuk melupakan hal tersebut."

Wajah Luhan menunjukkan ekspresi terpukulnya. Dia tidak tahu apa yang dialami Kyungsoo selama mereka terpisah. Berusaha menjadi egois untuk tidak memikirkan adiknya namun berakhir menelan perasaan bersalah saat mendengar pernjelasan Junmyeon tentang keadaan adiknya yang begitu tertekan dan merasa bersalah akan sesuatu.

"Adikku akan baik-baik saja kan hyung?"

"Dia sudah bersama hyung nya. Tentu dia akan baik-baik saja." Timpal Junmyeon merangkul pundak Luhan. Membuat Luhan sedikit tertohok mendengar kalimat Kyungsoo akan baik-baik saja bersamanya hanya terdengar seperti omong kosong untuknya.

.

.

.

"Apa rencanamu?"

"Sebelumnya biarkan aku tahu alasan mengapa bajingan itu ingin sekali menyakiti Luhan. Apa kau tahu alasannya?"

Kyungsoo kembali terdiam mendengar pertanyaan Sehun. Merasa semua yang Sehun tanyakan untuknya adalah sebuah paksaan untuk mengingat hal pahit menyedihkan yang pernah terjadi padanya dan seluruh hyungnya. Membuat rona wajah itu memucat dengan tatapan kosong yang menyertainya.

"Entahlah. Aku juga tidak tahu mengapa kami semua menjadi seperti ini. Awalnya aku, Luhan, Chanyeol, Kris dan Tao-...kami semua sangat dekat dan saling menyayangi."

"Tao?"

"Dia kekasih Yifan-... Huang Zi Tao."

"Lalu dimana dia? Aku rasa aku perlu berbicara dengannya dan memintanya agar berbicara pada Yifan untuk berhenti menganggu istriku."

Kyungsoo menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat ini. Merasa tak kuat dengan apa yang terjadi dan hanya ingin melupakan semua kejadian mengerikan yang pernah terjadi padanya. Masih mengusak kasar wajahnya sampai akhirnya dia mnghela dalam nafasnya menatap Sehun cukup terluka "Dia sudah meninggal"

"Huh?"

"Dan kau tahu apa yang membuat Yifan sangat ingin menyakiti Luhan?-.. Karena menurutnya. Luhanlah yang bertanggung jawab atas kematian kekasihnya. Sama sepertimu-... Kami juga menggunakan cara yang sama yang sering kalian gunakan untuk membalas orang-orang yang menyakiti orang terdekat kalian. Mata dibayar mata. Darah dibayar darah dan nyawa dibayar nyawa." Katanya memberitahu Sehun yang jelas terlihat memucat saat ini

"Apa yang terjadi?"

"Banyak yang terjadi."

"Kau memiliki banyak waktu untuk menceritakannya."

"..."

"Kyungsoo

"..."

"JIKA KAU TETAP DIAM-... KAU HANYA AKAN MENEMPATKAN LUHAN DALAM BAHAYA!" Katanya berteriak marah membuat Kyungsoo sedikit terdiam mendengarnya. Tak berniat menjelaskan apapun yang semakin membuat Sehun marah padanya "DO KYUNG-.."

"Kris dan Tao hyung memulai bisnis gelap mereka saat keduanya menginjak usia delapan belas tahun. Mereka muak hidup sebagai anak yang dikasihani. Memutuskan untuk menjadi kuat dengan cara yang salah. Berbanding terbalik dengan Luhan dan Chanyeol yang memutuskan untuk mengubah nasib mereka dengan belajar dan bekerja sungguh-sungguh. Mereka berempat memiliki tujuan hidup yang sangat berbeda. Sementara aku?-..." Katanya terengah dengan nada suara yang menyampaikan ketidakberdayaan dirinya saat itu "Aku akan selalu menjadi penyebab semua hal yang mengerikan terjadi."

"Apa maksudmu?"

"Kris dan Tao memaksaku bergabung dengan mereka sementara Luhan dan Chanyeol terus membujukku agar aku tidak hidup di dunia mengerikan yang mereka jalani. Dan saat itu aku memilih Luhan dan Chanyeol. Aku percaya hidup dengan cara yang baik akan membuahkan hasil yang baik. Aku mempercayai mereka. Terlalu mempercayai mereka sampai aku tak sadar kalau aku ditinggalkan." Suara itu terdengar begitu terluka diiringi dengan warna muka yang jelas sangat kehilangan dan kehilangan arah.

"Luhan sudah mengenalmu saat itu. Dia bahkan datang padaku setelah berbulan-bulan hanya untuk menceritakan dirimu. Aku tidak pernah melihatnya begitu bahagia sebelumnya membuatku memutuskan untuk merestui hubungan kalian sampai aku menyadari kalau kau merebutnya secara utuh-...KAU MENGAMBIL LUHAN DARIKU DAN AKU SANGAT MEMBENCIMU UNTUK ITU!"

"Luhan marah karena aku dengan jelas mengatakan tidak menyukaimu. Aku mencoba menghubungi Chanyeol tapi dia bilang tidak ada waktu untukku. Dan disaat aku merasa marah dan ditinggalkan. Kris dan Tao datang dan berteriak aku adalah sampah menyedihkan jika terus menunggu Luhan dan Chanyeol yang jelas egois saat itu. Mereka terus menghasut diriku dan memintaku untuk bergabung. Tidak-... Mereka tidak memintaku untuk bergabung. Mereka-..." Kyungsoo kembali menampilkan wajah ketakutannya. Membuat Sehun menebak apapun ketakutan yang dirasakan Kyungsoo. Pastilah dirasakan pula oleh istrinya. Membuatnya nyaris tak tahan mendengarkan kalau bukan ingin mengetahui siapa bajingan ini lebih banyak.

"Apa yang mereka lakukan?"

Kyungsoo masih terdiam tak bicara. Sampai akhirnya helaan nafas itu terdengar dan memutuskan menatap Sehun saat ini "Mereka menjualku pada bos mereka. Mereka menjualku untuk dijadikan budak pemuas nafsu bejat bos mereka. Mereka juga memaksaku meminum obat terlarang. Aku-..."

"Aku hampir mati saat itu. Aku bahkan sempat meronta minta dilepaskan. Terlalu mengingat dengan jelas saat bibirku berteriak memanggil Luhan. Aku marah karena dia tidak datang dan Kris menarik paksa diriku. Mereka terus memaksa diriku pergi sampai-..."

"Sampai apa?" Ujar Sehun bertanya melihat perubahan wajah Kyungsoo yang tersenyum saat ini.

"Sampai aku mendengar Luhan berteriak memanggil namaku. Sungguh-... Aku sangat bahagia melihat kedatangan mereka saat itu. Tapi kemudian yang terjadi selanjutnya lebih buruk dari yang aku bayangkan. Yang terjadi selanjutnya adalah mimpi buruk untuk kami semua. Untuk Luhan khususnya."

"Istriku?"

"Hmmm... Semua terjadi begitu cepat. Tao membawa diriku pergi sementara Kris dan Chanyeol sudah saling memukul. Luhan tidak membuang kesempatan untuk mengejarku. Dia bahkan sempat berhasil membawaku pergi sebelum Tao memukulnya dengan benda tajam yang selalu ia bawa. Keduanya kemudian saling memukul hingga entah darah siapa sulit ditebak. Setelahnya aku tidak sadarkan diri. Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai Luhan menangis memberitahuku. Dia menjerit mengatakan bahwa dialah yang bertanggung jawab atas kematian Tao."

"Itu kecelakaan."

Dia bahkan belum bercerita bagaimana Tao kehilangan nyawanya. Tapi dengan raut marah Sehun mengatakan itu sebuah kecelakaan. Dan Ya-... Itu memang kecelakaan. Tapi darimana Sehun tahu bahkan sebelum dirinya bercerita?-... Membuat Kyungsoo sedikit menatap bertanya pada Sehun. "Kau tahu?"

"Ya... Chanyeol sudah memberitahuku sebelumnya."

"Lalu untuk apa kau memintaku bercerita?"

"Aku hanya ingin memastikan kalau Chanyeol mengatakan yang sebenarnya. Lagipula bukan itu yang membuatku ingin tahu akan sesuatu." Katanya menarik kursi semakin mendekat pada Kyungsoo. Membuat Kyungsoo tertawa tak percaya dengan sikap Sehun yang selalu berbuat sesukanya.

"Apa yang ingin kau ketahui?"

"Mengapa kau memutuskan untuk bergabung dan bekerja untuk Kris?"

Mengapa?-... Kyungsoo juga tidak tahu jawabannya. Yang jelas hari itu dia kehilangan tujuan hidup. Dia tidak tahu harus bergantung pada siapa dan tak tahu harus melakukan apa. Sampai akhirnya Kris datang dan menawarkan sesuatu yang membuatnya tak bisa mengatakan tidak.

Kyungsoo hanya bisa terdiam memikirkan jawaban yang tepat. Sampai akhirnya bibirnya menyunggingkan senyum terluka menatap sekilas pada suami kakaknya "Aku terpaksa." Katanya menjawab memberitahu Sehun yang jelas menaikkan dahinya saat ini.

"Tidak pernah ada kata terpaksa di dunia yang kita jalani. Harusnya kau tahu itu-... Kau tidak terpaksa karena sebelum bergabung kau memiliki pilihan untuk pergi. Jadi cari jawaban lain agar aku tidak menekan dirimu."

"cih! Kau benar-... Aku tidak terpaksa. Aku mengatakan Ya dalam keadaan sangat sadar dan sangat tahu hal buruk apa yang terjadi padaku jika aku bergabung."

"Lalu apa alasanmu sebenarnya?"

"Bagaimana jika aku katakan seperti ini-... Kau adalah alasan diriku masuk kedalam lingkaran setan yang sama denganmu!"

"aku?"

"Kau adalah bajingan sialan yang membuatku harus kehilangan satu-satunya pria yang bisa membuatku hidup lebih baik. Kau adalah egois sialan yang membuat Luhan harus melahirkan darah dagingmu. Kau membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain tinggal disisimu selamanya. Kau bahkan menikahinya dan menjadikannya milikmu seutuhnya. Semua ini karena kau Oh Sehun-...KAU!"

Sehun menangkap beberapa kalimat makian Kyungsoo yang ditujukan padanya. Namun ada satu kalimat yang membuat jantungnya berdegup tak beraturan. Membuatnya menyadari kalau pria yang belum lama menolong istrinya adalah orang yang sama yang berkerja dengan bajingan sialan yang telah merenggut nyawa putranya. Sehun bahkan mencoba menghela dalam nafasnya agar tetap tenang sebelum kembali menatap Kyungsoo yang terlihat emosi saat ini "Kau tahu kami memiliki seorang putra?"

Dan pertanyaan Sehun seolah menjadi boomerang untuk Kyungsoo, membuat pria bermata lebar itu sedikit terkejut karena dari sekian banyak makian yang ia lontarkan. Hanya masalah putranya yang Sehun tanyakan. Kyungsoo tahu dia telah menggali kuburannya sendiri-... Dan kali ini sulit untuknya menghindar.

"Ya aku tahu."

Mata Sehun memanas dengan jantung yang berdebar secara tak normal. Sesuatu dalam dirinya akan bereaksi secara berlebihan setiap kali topik tentang malaikat kecilnya dibahas. Dan sungguh-... Dia sama sekali tidak menyangka bahwa niatnya untuk berterimakasih pada Kyungsoo akan berakhir mencurigai pria yang tumbuh besar bersama istrinya.

Sehun bahkan sudah menyimpulkan bahwa sedikit banyak Kyungsoo mengetahui rencana Kris yang akan menyakiti putranya. Membuat kedua tangan itu mengepal penuh emosi berharap Kyungsoo sama sekali tak terlibat atau-...atau dia tidak tahu akan melakukan hal mengerikan apa pada Kyungsoo saat ini.

"Apa kau tahu kalau putra kecilku telah tiada?"

"..."

"Jawab aku."

"..."

"JAWAB AKU!"

"Ya... Aku tahu."

Sehun membuat gerakan memukul udara saat ini. Entah karena alasan emosinya sudah merasuki pikirannya saat ini. Dia bisa saja memukul Kyungsoo dan mengatakan sebanyak apa dia mengetahui rencana Kris menyakiti putranya. Tapi jika dia bertindak gegabah maka Luhan akan kembali marah dan membenci dirinya. Dan berada dalam situasi seperti ini adalah yang terburuk untuk seorang Mafia keji seperti dirinya.

"Kalau begitu jawab pertanyaanku. Aku tidak akan mengulanginya." Katanya begitu resah dan melihat Kyungsoo begitu putus asa. Berharap kalau pria yang jelas adalah hidup Luhan tidak berkaitan sama sekali dengan hal mengerikan yang membuatnya harus kehilangan malaikat kecilnya.

"Dimana kau saat kejadian mengerikan yang merenggut nyawa putraku terjadi? Apa kau tahu Kris akan menyakiti putra kecilku? Apa kau-... APA KAU TAHU SIAPA BAJINGAN YANG MEMBUAT TUBUH MUNGIL PUTRAKU TERHEMPAS BEGITU KENCANG DI TROTOAR JALAN. APA KAU TAHU SIAPA BAJINGAN YANG MEMBUAT PUTRA MUNGILKU KESAKITAN-... JAWAB AKU DAN JANGAN HANYA DIAM DO KYUNGSOO!"

Kyungsoo hanya diam menikmati seluruh luka tak terobati yang dirasakan Sehun. Tak berani merespon apapun dan hanya memejamkan mata menikmati hasil pekerjaannya. Kyungsoo diam bukan karena ingin. Tapi karena semua kemarahan dan luka yang Sehun rasakan juga dialami oleh dirinya yang tak lain adalah sang pelaku. Sang pelaku yang membuat luka yang teramat dalam atas kehilangan yang dirasakan oleh sang ayah saat putra mungilnya direnggut di depan kedua matanya. Sang pelaku yang bahkan bersembunyi mengatasnamakan keluarga dengan istri pria di depannya. Sang pelaku yang bahkan untuk mengakui kebenarannya saja dia tak sanggup.

Bukan karena Kyungsoo tak ingin mengakui kebenarannya. Kebenaran menyakitkan bahwa dirinya adalah si pelaku yang dengan tega menghempas kencang tubuh mungil keponakannya ke trotorar jalan. Tak hanya itu, dirinya bahkan membuat si balita mungil dalam sekejap meregang nyawa. Membuat kehilangan tak termaafkan jelas dirasakan Sehun dan Luhan.

Hari itu pasti akan datang. Hari dimana Kyungsoo akan mengakui semua kebenarannya. Tapi dia tidak berharap hari itu datang saat ini. Dia rela mengakui segalanya pada Sehun dan Luhan di saat semua rencananya sudah terpenuhi. Rencana dimana dirinya akan membawa Kris ke akhir hidup mereka agar tak menyakiti siapapun. Dan saat itu terjadi-... Kyungsoo akan tersenyum mengakui kesalahan tak termaafkannya pada Sehun dan Luhan. Dia bahkan rela mati di tangan Sehun ataupun Luhan untuk membayar dosa terbesarnya sebagai manusia.

Tapi nanti-... Untuk saat ini biarkanlah dia menjadi pembohong. Pembohong tak berperasaan yang secara berulang merobek dan menggores hati orang-orang yang begitu putus asa mencari kebenaran. Biarkanlah dia bersembunyi sementara agar semua rencananya terpenuhi. Dan saat itu dia berjanji-...Dirinya milik Sehun dan Luhan seutuhnya.

"Tidak-... Aku tidak tahu." Katanya menjawab lantang membuat raut hancur kembali terlihat di wajah Sehun.

"Apa kau yakin? Aku mohon beritahu semua yang kau tahu Kyungsoo-ya. Aku mohon."

"Percuma kau bertanya padaku. Aku sedang diberi tugas lain saat itu-... Aku tahu putramu meninggal satu minggu setelah kejadian terjadi. Dan setelah itu aku tidak mengingat apapun." katanya berbicara tak menatap Sehun. Merasa dadanya begitu sesak hingga tak ingin berucap menyakiti kehancuran hati seorang ayah di pagi hari ini seperti ini.

"Ingatlah sesuat Kyungsoo-...AKU PUTUS ASA MENCARI BAJINGAN ITU-... AKU MOHON INGATLAH SESUATU DO KYUNGSOO!"

Tes...!

Adalah Kim Jongin yang meneteskan air mata. Si penjaga tampan yang sedang berjaga di depan ruangan adik dari istri bosnya tak sengaja mendengarkan seluruh percakapan penuh luka yang diucapkan baik oleh bosnya maupun pria yang diam-diam ia kagumi.

Merasa begitu tak menyangka bahwa pria semungil Kyungsoo adalah Mafia tak berperasaan sepertinya. Merasa begitu kesakitan karena semua alasan, jawaban dan pertanyaan yang dilontarkan Sehun dan Kyungsoo dengan jelas membuat hati nuraninya tergores.

Rasanya ingin sekali dia masuk dan mengganggu percakapan antara Kyungsoo dan Sehun. Namun semua keinginannya seolah tertahan oleh rasa sakit membayangkan bagaimana jika berada di posisi Sehun maupun Kyungsoo. Kai bahkan membiarkan keduanya saling berteriak sampai

"Kai?"

Merasa namanya dipanggil membuat pria tampan itu menoleh. Sedikit menghapus cepat air matanya sebelum membungkuk menyapa si dokter menawan yang terlihat berjalan mendekati kamar Kyungsoo "Luhan..."

"Kenapa berdiri di luar? Kau tidak masuk?"

"Aku akan. Hanya sedang berjaga disini."

"Berjaga? Ada apa?"

"Suamimu sedang berbicara dengan Kyungsoo."

Mata Luhan sedikit membelalak. Perutnya merasa begitu mual tiba-tiba. Membayangkan dua orang yang saling membenci berada dalam satu ruangan dengan keadaan yang satu sedang terkulai lemas membuatnya merasa begitu gugup dan tak membayangkan keadaan macam apa yang sedang terjadi didalam sana.

"A-Apa kau bilang?" katanya bertanya pada Kai. Sedikit menyenggol kencang bahu Kai sebelum

Cklek...

Matanya cukup terkejut melihat pemandangan saat ini. Pemandangan dimana suaminya terus mengusak kasar wajahnya sementara Kyungsoo hanya menatap kosong ke depan. Sedikit ragu melangkah sebelum

"Sehun? Kyungsoo?"

Kedua orang yang dipanggil namanya sedikit menoleh. Merasa kedatangan Luhan begitu tak tepat disaat seperti ini. Jika Kyungsoo tersenyum dipaksakan menyapa kakaknya. Maka Sehun dengan segala cara menolak menatap Luhan saat ini. Sedikit membalikan wajahnya ke arah berlawanan untuk menghapus cepat air matanya "Sehun."

Sehun terus mengabaikan panggilan Luhan berjalan cepat melewati istrinya dan meninggalkan ruangan Kyungsoo begitu saja.

Luhan sendiri bersumpah melihat sisa air mata di sudut mata suaminya. Bisa saja dia berlari mengejar Sehun dan bertanya ada apa pada suaminya. Tapi langkahnya tertahan saat mendengar suara isakan adiknya yang entah mengapa terdengar sangat memilukan. Membuatnya berjalan cepat menghampiri Kyungsoo yang jelas tidak boleh merasakan sakit untuk sementara ini "Aku minta maaf padamu hyung."

"Eh?"

Luhan semakin tak mengerti dengan situasi ini. Awal dia membuka pintu. Dia bersumpah melihat Kyungsoo sama sekali tak berekspresi sementara suaminya terlihat putus asa. Dan saat Sehun pergi. Keadaan menjadi berbalik-... Adiknya terisak hebat sementara Sehun entah pergi kemana denga raut wajah hampanya. Membuat Luhan berani menebak apapun yang mereka bicarakan, jelas bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

"Kenapa kau meminta maaf? Apa yang Sehun lakukan? Apa dia menyakitimu Soo." Katanya mendekati Kyungsoo dan membawa Kyungsoo ke pelukannya. Sedikit bertanya saat Kyungsoo menggelengkan kepalanya tanda ia menjawab pertanyaan yang diajukan Luhan untuknya.

"Jika bukan itu. Kenapa kau menangis? Apa yang terjadi?"

"Aku minta maaf hyung."

"sstt.. Kau membuatku takut Soo. Ada apa hmm? Ceritakan padaku."

"MAAFKAN AKU LUHAN!"

Entah untuk alasan apa Luhan merasa permintaan maaf Kyungsoo memiliki maksudnya sendiri. Membuat dirinya menolak untuk bertanya ada apa jika hanya hal buruk yang akan ia ketahui. Mengusap lembut punggung adiknya serta memeluk erat punggung Kyungsoo adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan Luhan untuk menenangkan Kyungsoo saat ini.

Sementara Luhan mencoba menenangkannya. Kyungsoo semakin menggila dengan pikirannya sendiri. Sedikit ingin menjadi egois dengan tidak mengatakan kebenaran apapun pada kakaknya. Ingin hidup bersama Luhan untuk selamanya tanpa rasa bersalah yang perlahan menggerogoti hatinya. Dia bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika Luhan mengetahui kebenarannya.

Sungguh dia ingin semua ini berakhir. Tapi rasanya sulit untuk hidup dihantui perasaan bersalah. Menjadikan Kris alasan agar tidak segera memberitahu kebenarannya pada Sehun dan Luhan. Mengulur sebanyak-banyaknya waktu agar bisa bersama lebih lama dengan Luhan. Berharap Luhan bisa terus melindunginya seperti dulu-... dulu saat dia masih menjadi Kyungsoo adik Luhan seutuhnya.

"Hyungggg!" Kyungsoo menggigit kencang lengan Luhan. Merasa sangat egois tidak ingin Luhan melepaskan pelukannya. Walau dia tahu kenyataannya akan menjadi seperti ini-... Kedua tangan yang begitu hangat tengah memeluknya erat saat ini akan menjadi kedua tangan yang terasa sangat dingin yang akan menghabisi dirinya kelak.


.

tobecontinued..


no words just share! :*

.

Happy reading and review :*