Previous..

Sehun? Kyungsoo?"

Kedua orang yang dipanggil namanya sedikit menoleh. Merasa kedatangan Luhan begitu tak tepat disaat seperti ini. Jika Kyungsoo tersenyum dipaksakan menyapa kakaknya. Maka Sehun dengan segala cara menolak menatap Luhan saat ini. Sedikit membalikan wajahnya ke arah berlawanan untuk menghapus cepat air matanya "Sehun."

Sehun terus mengabaikan panggilan Luhan berjalan cepat melewati istrinya dan meninggalkan ruangan Kyungsoo begitu saja.

Luhan sendiri bersumpah melihat sisa air mata di sudut mata suaminya. Bisa saja dia berlari mengejar Sehun dan bertanya ada apa pada suaminya. Tapi langkahnya tertahan saat mendengar suara isakan adiknya yang entah mengapa terdengar sangat memilukan. Membuatnya berjalan cepat menghampiri Kyungsoo yang jelas tidak boleh merasakan sakit untuk sementara ini "Aku minta maaf padamuhyung."

"Eh?"

Luhan semakin tak mengerti dengan situasi ini. Awal dia membuka pintu. Dia bersumpah melihat Kyungsoo sama sekali tak berekspresi sementara suaminya terlihat putus asa. Dan saat Sehun pergi. Keadaan menjadi berbalik-... Adiknya terisak hebat sementara Sehun entah pergi kemana denga raut wajah hampanya. Membuat Luhan berani menebak apapun yang mereka bicarakan, jelas bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

"Kenapa kau meminta maaf? Apa yang Sehun lakukan? Apa dia menyakitimuSoo." Katanya mendekati Kyungsoo dan membawa Kyungsoo ke pelukannya. Sedikit bertanya saat Kyungsoo menggelengkan kepalanya tanda ia menjawab pertanyaan yang diajukan Luhan untuknya.

"Jika bukan itu. Kenapa kau menangis? Apa yang terjadi?"

"Aku minta maafhyung."

"sstt..Kau membuatku takutSoo.Ada apahmm?Ceritakan padaku."

"MAAFKAN AKU LUHAN!"

Sungguh dia ingin semua ini berakhir. Tapi rasanya sulit untuk hidup dihantui perasaan bersalah. Menjadikan Kris alasan agar tidak segera memberitahu kebenarannya pada Sehun dan Luhan. Mengulur sebanyak-banyaknya waktu agar bisa bersama lebih lama dengan Luhan. Berharap Luhan bisa terus melindunginya seperti dulu-... dulu saat dia masih menjadi Kyungsoo adik Luhan seutuhnya.

"Hyungggg!" Kyungsoo menggigit kencang lengan Luhan. Merasa sangat egois tidak ingin Luhan melepaskan pelukannya. Walau dia tahu kenyataannya akan menjadi seperti ini-...Kedua tangan yang begitu hangat tengah memeluknya erat saat ini akan menjadi kedua tangan yang terasa sangat dingin yang akan menghabisi dirinya kelak.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Entangled

Main Cast : Sehun & Lu Han

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

.

Cklek...!

Kyungsoo kembali membuka matanya saat mendengar suara pintu kamar terbuka. Merasa harus waspada karena setiap kali dia berada seorang diri di kamar tempatnya di rawat dia akan merasa ketakutan mendengar suara pintu terbuka. Entah siapa yang datang-... Dia hanya tidak siap jika itu Kris atau lebih buruknya Sehun yang sudah mengetahui semua tentang latar belakangnya.

"Apa aku mengganggu?"

Kyungsoo mengenali suara bas yang terdengar berat namun lembut di telinganya. Sedikit membenarkan posisinya bersandar di kepala tempat tidur sebelum tersenyum melihat seorang pria berkulit tan yang kini berjalan mendekati tempat tidurnya.

"Kai?"

"hmmh... Ini aku. Aku hanya ingin memeriksa keadaanmu pada awalnya. Maaf kalau aku mengganggu tidurmu." Katanya meletakkan beberapa buah segar di meja Kyungsoo. Sedikit merapikannya sebelum kembali melihat pria mungil yang seperti menyimpan banyak rahasia di depannya. "Apa sudah merasa lebih baik?"

Kyungsoo mengangguk lemah menjawab pertanyaan Kai. Sedikit tersenyum lirih sebelum menundukkan dalam kepalanya "Aku baik."

Aku baik-... Tapi suaranya jelas bergetar. Membuat Jongin sedikit cemas dan memutuskan untuk bertanya pada Kyungsoo yang terisak saat ini"Kenapa kau menangis?" katanya menarik kursi dan mulai memegang kedua tangan Kyungsoo. Memaksa pria mungil bermata besar itu untuk melihatnya langsung dan tak memalingkan wajahnya "Soo? Apa yang salah?"

Isakan Kyungsoo bahkan semakin menjadi saat Kai memanggil nama kecilnya. Diam-diam merasa sangat bahagia karena pria yang ia sukai terlihat sangat peduli padanya. Kyungsoo bahkan bisa saja berpura-pura melupakan hal jahat yang telah ia lakukan. Ingin mencari kebahagiannya sendiri namun berakhir harus kembali menelan pil pahit yang begitu menggerogoti perasaannya "Aku takut Kai. Aku-..."

Kali ini Kai benar-benar bertindak sebagai pria yang bisa menenangkan. Dia bahkan tak ragu untuk membawa Kyungsoo ke dekapannya dan mulai mengusap lembut surai yang entah mengapa terlihat sangat tertekan untuk alasan yang sepertinya disembunyikan.

Kai bahkan membiarkan Kyungsoo menangis hebat di pelukannya. Tidak berniat bertanya apapun lagi sampai Kyungsoo kembali membuka suaranya "Aku monster." Lirihnya membuat Kai sedikit menoleh dan mencium sayang pucuk kepala Kyungsoo "Tidak ada monster semungil dan semanis dirimu soo."

Harusnya Kyungsoo tertawa saat Kai menggodanya. Tapi semakin Kai peduli padanya maka semakin sakit pula perasaannya yang begitu tertekan untuknya. Isakannya bahkan semakin kuat menyadari kalau selamanya dia tidak memiliki hak untuk berbahagia dengan orang terdekat Sehun maupun Luhan "ah-...Tidak lucu ya? Maaf."

Kyungsoo menggeleng cepat merespon pernyataan Kai. Semakin menyandarkan kepalanya di pelukan Kai dan mulai mencari posisi nyaman untuknya "Sebaliknya-...Aku sangat bahagia."

"Kalau bahagia kenapa menangis?"

"Tidak pernah ada yang peduli padaku sebelumnya. Mereka memperlakukanku seperti monster dan sampah. Kalau akan membenciku jika tahu hal mengerikan yang telah aku laku-.."

"Aku tahu."

Mata Kyungsoo melebar cemas saat ini. sedikit mendongak menatap wajah Kai yang sepertinya memang mengetahui sesuatu tentang dirinya "Aku tahu kau melakukan hal yang sama denganku. Aku berani bertaruh kemampuanmu melukai seseorang sudah berada di atas rata-rata. Atau aku harus memanggilmu bos? Kau terlihat keren untukku."

"Kai..."

"Hanya karena kau membunuh banyak orang kau tidak bisa mengatakan dirimu monster. Kau terpaksa soo. Begitu pula dengan diriku, Sehun, dan beberapa temanku -... Kita semua terpaksa melakukan semua pekerjaan kotor ini. Jadi jangan katakan dirimu monster. Kita hanya bertahan hidup di dunia kejam ini-...Aku sama sepertimu. Tapi aku tidak mau dikatakan Monster. Monster adalah mereka yang melakukan semua pekerjaan kotor kita hanya untuk kesenangan. Monster adalah mereka yang dengan sengaja menyakiti atau membunuh keluarga kita hanya untuk menyakiti diri kita."

Kyungsoo memejamkan mata mendengar penuturan terakhir yang Kai ucapkan. Sedikit tersenyum lirih menyadari bahwa dirinya benar masuk dalam kategori Monster yang Kai ucapkan. Dia menyakiti keluarga lawan. Dia bahkan membunuh keluarga lawan –ani-... bukan lawan. Itu Luhan-...Kakaknya. Dia mengambil satu-satunya malaikat kecil Luhan dengan keji. Lalu bagaimana bisa dirinya bukan Monster?-..Dia adalah monster sesungguhnya. Melebihi Kris atau siapapun orang terkeji yang memiliki pekerjaan sama dengannya. Kyungsoo semakin terisak hebat saat ini. Mencengkram kuat kemeja Kai sebelum kembali mendongak pria yang diam-diam sangat ia kagumi didepannya.

"Kai aku-..."

"Ssttt..." Kai menekankan jari telunjuknya di bibir Kyungsoo. Meminta si pria mungil untuk tidak berkata apapun sementara kedua mata mereka saling bertatapan dengan gejolak aneh yang keduanya rasakan saat ini.

Kai semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Kyungsoo. Masih menatap tak berkedip kedua mata Kyungsoo yang terasa membuatnya ketagihan. Keduanya bahkan mulai bernafas berat satu sama lain. Sampai akhirnya Kai menundukkan wajahnya dan mulai memberanikan diri menempelkan bibirnya ke bibir Kyungsoo.

Awalnya hanya berniat mengecup. Namun jangan salahkan respon tubuh mereka yang berbeda dari keinginan mereka. Suasana menjadi panas saat ini membuat gairah bahkan dirasakan keduanya. Dengan perlahan namun pasti. Kai tidak membuang kesempatan untuk menggerakan bibirnya di atas bibir Kyungsoo. Menyesap dalam bibir bawah Kyungsoo sedikit kencang sehingga terdengar suara lenguhan di atas tempat tidur Kyungsoo saat ini.

Untuk Kyungsoo ini adalah kali pertamanya dia merasakan sesuatu menari di perutnya. Membuat sensasi aneh namun begitu menyenangkan bisa dirasakan olehnya. Dibawah sana perutnya masih memberikan rasa sakit karena luka basah akibat tusukan. Tetapi dibawah sana pula perutnya terasa digelitik dengan sensasi begitu menyenangkan yang bisa ia rasakan.

"nghhh.."

Dan mengabaikan jarum infus yang bertengger manis di tangan kirinya. Kyungsoo mulai melingkarkan kedua tangannya di leher Kai membuat keduanya semakin bersemangat untuk menjadi semakin dekat satu sama lain.

"brengsek!"

Didalam kamar rawat Kyungsoo. Dua insan mungkin sedang memadu kasihnya. Namun tepat di depan pintu kamar rawat Kyungsoo. Terlihat seorang dokter muda yang memiliki tinggi sama dengan pria berkulit tan tengah mengepalkan erat tangannya. Merasa begitu marah melihat adegan menjijikan dimana Kyungsoo rela membagi dirinya pada pria mengerikan seperti Kai saat ini.

"aku membiarkanmu kali ini!"

Adalah Park Chanyeol-... Dokter sekaligus kakak Kyungsoo yang terdengar menggeram marah. Merasa begitu tak terima pada kenyataan pahit yang selalu ia dapatkan dalam hidupnya. Awalnya Luhan yang direbut dari pelukannya oleh si bajingan Sehun. Kali ini? –shit!- dia bahkan bersumpah untuk tidak membiarkan Kyungsoo bersama dengan seluruh pria yang berhubungan dengan seorang Oh Sehun-..tidak akan.

.

.

Sementara itu...

Masih di rumah sakit yang sama namun berbeda ruangan. Kali ini terlihat seorang dokter yang biasa disapa dengan sebutan dokter Oh sedang memangku dagunya menggunakan kedua tangannya. Berpikir tentang banyak hal dan masih tidak mengerti mengapa dia selalu memiliki perasaan yang mengganjal di hatinya.

Kenyataan tentang kehidupan kecilnya adalah yang paling banyak menguras pikiran sang dokter bedah. Bagaimana takdir mempertemukan mereka sebagai keluarga kecil namun takdir pula yang menjadikan mereka begitu berbeda dalam memilih jalan hidup. Jika dirinya dan Chanyeol berada di tempat mereka saat ini. Maka Kris terutama Kyungsoo harus terpaksa menjalani pekerjaan yang begitu bertolak belakang dengan apa yang Luhan dan Chanyeol kerjakan.

"Aku minta maaf hyung."

"sstt..Kau membuatku takut Soo.Ada apa hmm?Ceritakan padaku."

"MAAFKAN AKU LUHAN!"

Nafas Luhan kembali terasa berat saat ini. Bayangan tentang wajah hancur suaminya yang tengah berbicara dengan Kyungsoo serta teriakan memilukan Kyungsoo terus bergantian meminta perhatian lebih darinya. Membuat rasa takut tiba-tiba ia rasakan dengan dugaan tak beralasan yang berkali-kali terlintas olehnya "Sebenarnya ada apa?"

Luhan masih berfikir keras menebak apa yang sebenarnya terjadi antara Sehun dan Kyungsoo. Berkali-kali ingin bertanya langsung pada keduanya namun berakhir harus menahan diri menyadari situasi tak terlalu mendukung maksudnya. Membuatnya harus kembali termenung, termenung dan termenung sepanjang malam ini. Luhan bahkan memutuskan untuk termenung lebih lama lagi sebelum

Tok..tok..

Lamunannya terganggu karena suara ketukan pintu di ruangannya. Mengusak lembut wajahnya adalah hal yang ia lakukan sebelum mempersilahkan si pengetuk pintu untuk masuk kedalam ruangannya di tengah malam seperti ini "Ya..."

Cklek...

"Dokter Oh."

Luhan mengangguk menjawab sapaan perawat Kim. Sedikit tersenyum dan membiarkan sang perawat mendekat ke ruangannya "Ada apa?"

"Maaf menggangu anda dokter Oh. Tapi saya memerlukan tanda tangan persetujuan pemindahan pasien dari bagian bedah ke bagian orthopedi. Jika semua prosedur sesuai. Pasien yang baru saja anda tangani bisa segera dipindahkan ke bagian terapi orthopedi."

Luhan membaca dokumen perosedur pemindahan pasien. Sedikit mempelajarui keputusannya sebelum mengangguk menyetujui "Baiklah. Pasien memang harus segera melakukan terapi pengobatan." Katanya memberi persetujuan dan mulai membuka laci kerjanya sebelum

Sret...!

Luhan terdiam lama melihat sebuah amplop cokelat berada di laci kerjanya. Sedikit bertanya apa yang ada di dalam amplop cokelat tersebut sebelum nafasnya tersengal hebat mengingat dengan jelas kertas macam apa yang berada di dalam amplop cokelat tersebut.

"Dokter Oh?"

"..."

Seluruh tubuh Luhan melemas saat ini. Bagaimana bisa dia melupakan pertengkarannya dengan Sehun sebelum Kris datang kepadanya. Pertengkaran dengan segala emosinya adalah hal yang paling buruk yang pernah terjadi selama kehidupan pernikahannya dan Sehun. Dan hasilnya?-...Tepat di dalam amplop cokelat itu terdapat surat perceraiannya dengan Sehun yang telah resmi ditanda tangani keduanya.

Pikiran Luhan benar-benar kosong saat ini. Dia ingin merobek cepat surat itu. Tapi bagaimana jika suatu saat Sehun bertanya. Dia harus menjawab apa. Membuat tangannya begitu gemetar bahkan hanya untuk mengangkat amplot tersebut.

"Dokter oh?"

"..."

"Dokter Oh. Apa anda baik-baik saja?"

Luhan sedikit mengerjap saat perawat Kim memanggil kencang namanya. Melihat cepat si perawat dan tersenyum gugup menjawabnya "y-Ya-.. Ya tentu aku baik-baik saja." Katanya menutup laci kerja dan mengambil pena yang berada di meja. Menandatangani prosedur pemindahan dan segera memberikannya pada perawat Kim "Ini ambil dan segera urus kepindahan pasien."

Perawat Kim yang masih bertanya-tanya tentang perubahan sikap Luhan hanya bisa mengangguk mengerti. Sedikit membungkuk sebelum berjalan meninggalkan ruangan Luhan "Saya permisi dokter Oh."

Luhan mengangguk resah di tempatnya. Memastikan sang perawat benar-benar pergi sebelum

Sret...!

Dia kembali membuka laci kerjanya dan mengambil cepat amplop yang berada di dalamnya. Mengeluarkan selembar kertas putih sebelum merematnya kasar dan membuangnya asal ke dalam tong sampah.

Harusnya Luhan merasa tindakannya adalah tindakan tepat. Dari awal dia memang tidak ingin bercerai dengan suaminya. Salahkan emosi dalam dirinya yang selalu meminta hal menyakitkan pada Sehun. Membuat sang suami tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan apa yang menjadi keinginannya.

Matanya terus memperhatikan tong sampah yang berada di ruang kerjanya. Menimbang apakah perbuatannya sudah benar atau dia kembali bertindak egois?-...Bagaimana jika ternyata Sehun ingin berpisah darinya. Bagaimana kalau keegoisannya kembali membuat Sehunnya menangis. Membuatnya sangat putus asa dan berakhir mengusak kasar wajahnya sebelum

"Sial!"

Luhan kembali menggeram marah pada dirinya. Berjalan mendekati tong sampah dan mengambil kertas yang sudah kusut karena ulahnya. Luhan bahkan membenarkan kertas kusut tersebut dengan tangannya dan memasukkan kertas tersebut kedalam amplop cokelat.

"Sehun..."

Satu-satunya hal yang benar disini adalah bertanya langsung pada Sehun. Berusaha membujuk Sehun agar melupakan kebodohan dirinya. Luhan sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Entah Sehun memakinya atau memandang rendah dirinya-...Dia tidak peduli.

Dia akan melakukan segala cara agar kertas sialan di tangannya batal diserahkan ke pengadilan. Luhan bahkan sudah bertekad untuk mengemis jika ternyata Sehun memang ingin berpisah darinya. Dia juga bersumpah tidak akan terpengaruh dengan apapun yang Sehun katakan tentang sikap kekanakan yang menjadi ciri khasnya. "Baiklah...tenang dan bicarakan dengan Sehun." katanya menguatkan diri dengan tangan yang mencari kunci mobil. Bergegas mendekati pintu ruangannya dan

Blam...!

Luhan membanting kencang pintu ruangannya. Membuat beberapa perawat yang sedang melewati ruangannya kembali membungkuk menyapa Luhan "Perawat Song." Katanya memanggil perawat yang kebetulan berjaga di instasi gawat darurat bersamanya

"Ya dokter Oh."

"Ada berapa residen yang mendapatkan shift malam ini?"

"Empat dokter residen bersama dua perawat senior standby di gawat darurat dokter Oh."

"Baguslah. Aku akan pergi sebentar. Hubungi aku jika terjadi sesuatu yang mendesak, sementara ini serahkan semua pada residen dan perawat yang berjaga. Oke?" katanya memberi perintah sebelum berlari menuju ke lift. Meninggalkan perawat Song yang sedang mengangguk mengerti instruksi dari Luhan "Baik dokter Oh." Katanya menjawab namun sedikit tersenyum menyadari kalau dokter paling populer di rumah sakitnya memang sedang terburu-buru saat ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

"nghmmphhh.."

Dan seiring malam yang semakin larut. Kai dan Kyungsoo memutuskan untuk menyudahi gairah mereka yang terasa begitu membakar. Sedikit bertatapan lama dengan benang saliva yang jelas terlihat seiring dengan berakhirnya ciuman panas keduanya "Maaf terlalu memaksamu." Kai mengusap lembut bibir Kyungsoo yang terlihat membengkak. Masih begitu bergairah namun sangat menyadari kalau dia tidak bisa memaksa Kyungsoo melakukan hal gila bersamanya lebih jauh lagi.

Kyungsoo sendiri hanya tersenyum dan ikut mengusap bibir Jongin yang juga terlihat membengkak. Menggelengkan kepalanya menjawab ucapan Jongin adalah hal tengah ia lakukan saat ini "Aku menyukainya. Kau lelaki pertamaku Kim Jongin." Katanya berucap sungguh-sungguh memberitahu Jongin. Membuat si pria tampan yang merupakan kepercayaan Sehun itu sedikit bangga mendengarnya.

"Kyungsoo-ya.." Katanya memanggil nama Kyungsoo. Sedikit mencium lama kening Kyungsoo sebelum memutuskan untuk kembali duduk di kursi mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi jika dia berada dengan jarak sedekat ini dengan Kyungsoo.

"hmm." Kali ini Kyungsoo yang menjawab sedikit berdebar karena kegiatan yang baru saja dia dan Kai lakukan.

"Aku menyukaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?"

"..."

"Aku tahu ini terlalu terburu-buru. Aku juga tidak menyadari ini sebelumnya-... Tapi Luhan pernah mengatakan padaku. Jika kau berdebar secara tak normal saat berada di dekat seseorang. Itu artinya kau menyukai orang itu. Dan aku sedang merasakannya saat ini. Dari awal aku mengenalmu-...Aku selalu berdebar saat melihatmu. Tapi aku selalu mengelaknya. Sampai malam ini baru aku menyadari kalau perasaanku benar-benar tulus untukmu. Maukah?"

"..."

"Kau tidak perlu terburu-buru menjawabnya. Hanya pikirkan apa yang aku katakan dengan baik. Aku berharap bisa memilikimu dan menjadi pendampingmu." Katanya sedikit memelas karena Kyungsoo sama sekali tak meresponnya. "Kau harus kembali beristirahat. Aku pergi dulu." katanya mencium kembali mencium kening Kyungsoo dan berniat pergi sebelum

"Aku juga menyukaimu. Tapi aku takut kau akan membenciku suatu saat nanti."

Kedua dahi Kai mengernyit tak mengerti dengan ucapan Kyungsoo. Dia bahagia perasaan cintanya terbalas. Tapi kemudian dia mendengar kalimat Kyungsoo yang mengatakan takut dia membencinya suatu saat nanti. "Untuk alasan apa aku membencimu?"

"..."

Kai kembali menghela dalam nafasnya. Sedikit tersenyum sebelum kembali menarik kursinya "Kau diam lagi?" katanya mengusap kening Kyungsoo yang terlihat mengerut saat ini "Baiklah begini saja. Aku akan bertanya langsung padamu. Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak. Oke?"

Kyungsoo melirik sekilas pria tampan disampinya sebelum mengangguk menyetujui permintaan Kai. "Oke."

"Kau menyukaiku? Ya atau tidak?"

Kyungsoo menggigit kencang bibirnya sebelum mengangguk lemah membenarkan "Ya."

Kai semakin bersemangat dengan permainan yang ia buat. Menarik kursi semakin mendekat sebelum menyerang Kyungsoo dengan pertanyaan final nya "Kalau begitu apa kau mau menjadi kekasihku? Ya atau tidak?"

"Kai..."

"Hanya menjawab Ya atau tidak. Itu perjanjian kita soo."

Kyungsoo benar-benar bingung saat ini. Dia tidak tahu akan menjadi apa hubungannya dengan Kai jika sesuatu yang mengerikan benar-benar terungkap. Dia ingin mengatakan maaf aku tidak bisa. Tapi hatinya melarang untuk mengatakan kebohongan itu. Bisikan setan pun terasa begitu terdengar di telinganya. Mencoba membujuknya untuk mengatakan Ya disaat batinnya benar-benar tersiksa dengan semua masa lalu yang masih ia rahasiakan.

"Ya atau tidak Do Kyungsoo?"

Kyungsoo meremat kasar kedua tangannya. Kembali menggigit kencang bibirnya sebelum

"Ya-... Aku mau menjadi kekasihmu."

Dia menyerah pada kata hatinya. Sedikit menjadi egois dan hanya menginginkan kebahagiaan tulus yang diberikan untuknya. Entah untuk berapa lama kebahagiaan singkat itu ia rasakan. Tapi yang jelas-... Kyungsoo tidak mau membohongi hatinya. Dia juga manusia yang bisa mencintai dan merasakan sakit. Dan kali ini dia membiarkan rasa cinta dan rasa sakit itu berasal dari pria yang baru saja menyatakan cinta padanya. Karena mulai malam ini. kyungsoo sudah bertekad untuk merasakan sakit dan bahagia hanya dari prianya-.. Kim Jongin

"Astaga! Aku benar-benar berdebar. Rasakan ini." Kai sedikit memekik terlalu bahagia. Membawa tangan Kyungsoo ke dadanya. Agar Kyungsoo merasakan detak jantung Kai yang berdegup secara tidak normal.

Keduanya benar-benar menunjukkan wajah bahagia malam ini. Hampir tidak ingin saling melepaskan sebelum

Drtt...drrtt..

Ponsel Kai bergetar mengganggu moment romantisnya. Membuatnya sedikit mendengus sementara Kyungsoo hanya bisa tersenyum melihat tingkah pria yang baru saja menjadi kekasihnya "Pergilah. Aku tahu kau harus pergi."

"Aku bisa mengabaikannya."

"Dan Sehun akan memukulmu. Aku tidak terlalu menyukainya."

"Kau akan menyukainya nanti."

"ck. siapa kekasihmu? Aku atau bosmu?"

Kai tertawa kencang mendengar kekasih barunya merajuk. Membuatnya benar-benar bahagia dan bersumpah akan selalu bersama dengan Kyungsoo mulai malam ini "Tentu saja kau mungilku." Katanya menarik kencang hidung Kyungsoo, sedikit mencium lama bibir kekasihnya sebelum mengusap lembut dahi Kyungsoo "Aku akan datang besok pagi."

Kyungsoo mengangguk mengerti dan menyetujui ucapan kekasihnya "Aku menunggu."

"Aku benar-benar akan datang pagi-pagi buta."

"Aku tahu. Pergilah."

Kai kembali mencium kening Kyungsoo sebelum menatap lama kekasih barunya "Aku pergi." Katanya berpamitan dan mulai berjalan meninggalkan kamar Kyungsoo. Sedikit menoleh dan tersenyum sebelum

"Kai..."

Langkah kaki Kai terpaksa berhenti saat Kyungsoo memanggilnya. Membuatnya kembali menoleh dan bertanya-tanya mengapa sang kekasih kembali memasang raut wajah sedihnya "Ada apa sayang?"

"Katakan pada Sehun aku akan membantunya."

"eh?"

"Yifan. Katakan pada Sehun untuk tidak terlalu fokus mencari Yifan. Hanya pasang alat pelacak di ponselku. Bajingan itu pasti menghubungiku."

"Kenapa dia bisa menghubungimu?"

"Aku memiliki sesuatu yang mereka cari. Aku menipu mereka dan mereka pasti akan datang menemukanku. Kalian hanya perlu menjadikanku umpan untuk menemukan Yifan. Hanya katakan pada Sehun aku bersedia memberikan semua informasi tentang Yifan"

"soo..."

"Aku akan baik-baik saja. Aku memilikimu Kai."

Tangan Kai mengepal begitu erat saat ini. Mendengar suara Kyungsoo berubah menjadi sangat berat adalah hal yang ia tebak sebagai bahaya. Dia tahu Kyungsoo menyembunyikan banyak hal. Dan Kai berjanji akan memaksa Kyungsoo untuk berbagi rasa sakit dengannya. Perlahan tapi pasti-...Dia hanya ingin melihat pria yang ia cintai selalu berbahagia

Dan mengingat semua hal mengerikan yang telah Yifan lakukan pada Sehun, Luhan maupun kekasihnya. Membuat amarah Kai benar-benar berada di puncaknya. Kai sendiri hanya menatap ke dalam mata Kyungsoo dengan tangan yang mengepal erat. Sedikit tersenyum sebelum mengangguk menyetujui permintaan kekasihnya "Ya. Aku akan mengatakan rencanamu pada Sehun. Tidurlah sayang. Aku pergi." Katanya menjawab permintaan Kyungsoo dengan suara berbeda. Membuat Kyungsoo hanya bisa tersenyum lirih melihat punggung kekasihnya hilang dibalik pintu.

"jika suatu hari nanti aku membuatmu terluka. Aku minta maaf Kai." Katanya berujar lirih dan berusaha memejamkan erat matanya. Kyungsoo tidak berani memikirkan apa yang akan terjadi di hari berikutnya. Yang dia inginkan hanya bahagia di sisa waktu tanpa cela dan dosa yang ia miliki. Membuatnya memutuksan untuk diam lebih lama dan tidak mengatakan apapun tentang siapa dirinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Blam...!

Luhan keluar dari mobilnya. Sedikit berlari ke arah markas Sehun sebelum beberapa penjaga membungkuk hormat menyapanya "Selamat malam Luhan."

Luhan hanya mengangguk menjawab sapaan anak buah suaminya. Kembali berjalan masuk dan berniat menaiki tangga sebelum berpapasan dengan dua kaki tangan Sehun yang lain "Max.."

Yang dipanggil segera menoleh. Sedikit mengerjapkan matanya berulang sebelum memekik terkejut melihat siapa yang memanggilnya "Luhan?"

"Kenapa kau terkejut seperti itu?"

"Kenapa kau bisa ada disini?"

Luhan sedikit kesal saat pertanyaan mengapa dirinya ada di kantor suaminya dipertanyakan. Membuatnya melipat kedua tangannya di atas dada dengan amplop cokelat yang masih ia genggam. Luhan bahkan memicingkan kedua matanya menatap curiga pada pria kurus namun memiliki postur sempurna di wajah dan tubuhnya "Dan kenapa aku tidak bisa ada di tempat kerja suamiku?"

Max sendiri menyadari kesalahannya berbicara. Sedikit menggelengkan kepalanya sebelum tertawa dipaksakan menatap Luhan "Maksudku bukan seperti itu Lu. Siapa yang mengantarmu kesini?"

"Aku datang sendiri."

"SENDIRI?"

"YAK! KENAPA BERTERIAK?!"

Luhan memandang marah pada Max. Membuat Max kembali merutuk dirinya sendiri karena terus-terusan membuat istri dari bosnya menggeram dan mulai merubah nada suaranya menjadi sedikit lebih lembut "Jangan marah Lu. Aku hanya takut Sehun membunuhku."

"Kenapa Sehun harus membunuhmu?"

"Instruksi terbaru adalah seperti ini-... Jangan pernah membiarkan istriku berkeliaran sendiri di luar atau mengendarai mobil sendiri. Ikuti dia kemanapun dia pergi. Kalian harus mengantarnya kemanapun dan jam berapapun istriku ingin pergi. Jika aku sampai tahu dia membawa mobilnya sendiri maka nyawa kalian adalah taruhan untuk setiap hal yang dilakukan atau terjadi pada istriku. Hal itu berlaku jika aku tidak berada disampingnya-... Seperti itu bunyi perintah terbaru dari Sehun untuk kami Lu."

"Ah... Begitukah?"

Luhan sedikit mengusap tengkuknya perlahan. Merasa tak enak hati pada Max yang terlihat takut Sehun akan memarahinya jika tahu dia datang tanpa pengawalan dari salah satu anak buahnya "Kalau begitu ambil kunci mobilku. Jika Sehun bertanya aku akan menjawab kau datang menjemputku? Bagaimana?"

"Sehun melihatku sepanjang hari disini. Jadi aku rasa ini tidak akan berhasil. Dia tetap akan memaki dan paling buruk memukulku." Katanya tertawa pasrah membuat Luhan semakin tak enak hati karena ulahnya. "Tapi Lu... Bukankah aku sudah menempatkan beberapa penjaga di rumah sakitmu? Kenapa kau bisa lolos dari jangkauan mereka?"

"Aku tidak tahu ada seseorang yang mengikutiku."

"Bukan seseorang Lu. Tapi enam orang."

Mata Luhan melebar hebat menyadari berapa jumlah penjaga yang diam-diam mengikutinya. Membuat kepalanya tiba-tiba merasa sakit dan menatap tak percaya kaki tangan suaminya "Ini berlebihan-... Benar-benar berlebihan."

"Tidak untuk Sehun-... Dia bahkan berencana menambah penjaga dan pengawalan ketat untukmu. Kai akan dibantu dua belas orang penjaga yang akan selalu berada di sekitarmu."

"MWO? DUA BELAS?"

"Ssstt..."

Max melihat ke lantai dua tempat ruang kerja Sehun berada. Sedikit membawa Luhan menjauh dari lantai dua dan terpaksa membekap mulut Luhan agar seseorang yang sedari tadi berada di ruangannya tidak mendengar. "Kenapa kau membekap mulutku."

"Maaf Luhan. Tapi aku tidak bisa membiarkan Sehun mendengar suaramu yang menjerit. Moodnya sedang luar biasa buruk. Suamimu bahkan terlihat sensitif entah untuk alasan apa."

"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"

"Tidak terjadi apapun. Sehun sudah seperti itu saat selesai menjenguk dan keluar dari kamar Kyungsoo sore tadi."

"Seperti itu bagaimana?"

"Diam dan melamun. Lalu jika kami mengganggu dia akan berteriak marah."

"Apa menurutmu terjadi sesuatu?"

"Aku rasa ada yang mengganggu pikiran Sehun."

Luhan secara refleks menyembunyikan map cokelat yang dia bawa di belakang kedua tangannya. Sedikit menatap ragu pada Max yang terlihat sangat ingin tahu isi dari map cokelat yang dibawa Luhan. "Apa yang kau sembunyikan?"

"Apa aku harus memberitahumu juga?-... Hey Max... Apa menurutmu Sehun akan berteriak marah padaku jika aku datang ke ruangannya?"

Max terlihat memandang lama wajah Luhan sebelum tertawa tak percaya menatap istri dari bosnya "Semua pengecualian hanya untukmu."

"Apa maksudnya?"

"Hanya kau yang bisa melihatnya tersenyum disaat dirinya berteriak marah pada semua orang. Hanya kau yang akan bertahan hidup disaat Sehun membunuh semua orang. Dan hanya kau yang bisa merasakan cinta dari seorang Oh Sehun disaat semua orang merasakan kebencian dan kemarahnnya. Hanya kau dokter Oh."

Hati Luhan menghangat mendengar penuturan dari orang terdekat suaminya. Membuat keraguan yang hampir kembali menguasai dirinya seketika hilang digantikan dengan tekad untuk menyelesaikan hal yang begitu mengganggunya malam ini. "Baiklah aku harus segera bicara dengan suamiku." Katanya bergegas menaiki tangga sebelum langkahnya kembali terhenti karena Max memegang cukup kuat lengannya "eh? Ada apa?"

"Apapun hal yang akan kau bicarakan dengan suamimu-...Bisakah kau tidak bertengkar dan membuatnya sedih malam ini?"

Luhan mengerti maksud ucapan dari kaki tangan suaminya. Semua perasaan sedih dan kacau yang Sehun rasakan hampir seluruhnya berasal dari dirinya. Membuatnya sedikit menampilkan senyum lirihnya sebelum mengangguk menyetujui untuk tidak memberikan rasa sakit lagi pada pria tampannya. "Aku akan mencobanya."

Max sendiri tersenyum mendengar penuturan Luhan. Membuatnya tersenyum senang sebelum melepas perlahan genggaman tangannya di lengan Luhan "Terimakasih Luhan"

Luhan hanya mengangguk sebagai jawaban. Sedikit tersenyum menyadari begitu banyak orang-orang yang menjaga suaminya. Merasa terlalu lega walau ada sedikit perasaan iri mengangumi betapa seluruh anak buah Sehun sangat menjaga dan peduli pada suaminya.

.

Sementara dibawah sana Luhan sedang bertanya-tanya apakah harus berbicara dan mengganggu suaminya. Maka di atas sini-..tepatnya di lantai dua markas Sehun. Terlihat sang pemilik tempat sedang melamun melihat keluar jendela kerjanya.

Matanya memang menatap gelap gulitanya malam diluar sana. Tapi pikirannya kosong entah berada dimana. Beberapa kalimat percakapannya dengan Kyungsoo terus berulang seperti kaset rusak yang tidak mau dihentikan. Sehun memutuskan untuk mempercayai semua yang diucapkan Kyungsoo. Namun semakin ia meyakinkan dirinya sediri maka perasaan mengganjal tentang sosok seorang Do Kyungsoo terus menghantuinya sejak keduanya bertemu siang ini.

"Kau tahu kami memiliki seorang putra?"

"Ya aku tahu."

"Apa kau tahu kalau putra kecilku telah tiada?"

"..."

"Jawab aku."

"..."

"JAWAB AKU!"

"Ya... Aku tahu."

"Kalau begitu jawab pertanyaanku. Aku tidak akan mengulanginya." Katanya begitu resah dan melihat Kyungsoo begitu putus asa. Berharap kalau pria yang jelas adalah hidup Luhan tidak berkaitan sama sekali dengan hal mengerikan yang membuatnya harus kehilangan malaikat kecilnya.

"Dimana kau saat kejadian mengerikan yang merenggut nyawa putraku terjadi? Apa kau tahu Kris akan menyakiti putra kecilku? Apa kau-... APA KAU TAHU SIAPA BAJINGAN YANG MEMBUAT TUBUH MUNGIL PUTRAKU TERHEMPAS BEGITU KENCANG DI TROTOAR JALAN. APA KAU TAHU SIAPA BAJINGAN YANG MEMBUAT PUTRA MUNGILKU KESAKITAN-... JAWAB AKU DAN JANGAN HANYA DIAM DO KYUNGSOO!"

"Tidak-... Aku tidak tahu."

Tangan Sehun mengepal erat mengingat percakapan tak terduganya dengan Kyungsoo. Entah mengapa hatinya merasa begitu tidak tenang dan tidak puas dengan jawaban yang diberikan Kyungsoo. Dan entah untuk alasan apa-... Dirinya bahkan memiliki dugaan bahwa Kyungsoo mengetahui siapa bajingan yang mengeksekusi putra kecilnya saat itu.

Sehun memang mengetahui bahwa Yifan adalah dalang dari semua pembunuhan keji yang dilakukan pada putranya. Tapi tentu bajingan itu tidak bermain seorang diri karena di setiap tindak kejahatan akan selalu ada seseorang yang harus bertanggung jawab.

-Tapi siapa? Siapa bajingan sialan yang dengan keji menabrak tubuh mungil putraku? Kenapa semua terasa abu-abu untukku? Kenapa perasaanku begitu mengganjal? Kenapa aku merasa melewatkan sesuatu yang penting?-

Semua itu adalah pertanyaan yang terus berlarian di benak orang kedua paling berpengaruh dari organisasi hitam yang ia geluti, membuat si pria tak terkalahkan tiba-tiba mejadi lemah hanya karena masalah yang seperti tak memiliki ujung penyelesaian untuknya. Mengusak marah wajahnya adalah hal yang terus ia lakukan sepanjang hari ini. Dia tahu ada sesuatu yang tidak benar dari semua hal yang berkaitan dengan istrinya -Tapi apa?- membuat matanya kembali memanas dengan tangan yang mengepal erat sebelum

Tok...Tok...

"HARUS BERAPA KALI AKU BILANG JANGAN MENGGANGGUKU!"

Tok...Tok...

"PERGI!"

Tok...Tok...

"brengsek! Kubunuh kalian!" katanya menggeram terlalu marah. Mengambil asal tongkat pemukulnya sebelum

Cklek...!

"BAJINGAN SIAL-...Luhan?"

Makian Sehun terhenti saat melihat siapa yang berdiri di depan ruang kerjanya. Membuang cepat tongkat pemukul yang berada di tangannya adalah pilihan kedua sebelum kembali menatap bingung mendapati kedatangan sang istri di markasnya di tengah malam seperti ini "Apa aku mengganggumu?"

Pada awalnya Sehun inging mengatakan tentu saja tidak. Tapi menyadari waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari membuatnya tergoda untuk memarahi sang istri yang jelas berkeliaran sendiri di tengah malam seperti ini "Ya kau mengganggu."

"Sehun..."

Si pria tampan pada awalnya benar-benar berniat bersikap "tidak mudah" pada istrinya. Namun melihat tubuh mungil pria cantiknya menggigil dengan wajah berharapnya membuat seluruh pertahanan Sehun untuk bersikap "tidak mudah" pada istrinya menguap entah kemana.

Sehun masih menatap memperingatkan pada Luhan. kembali tak berkedip sebelum menghela dalam nafasnya dengan mata terpejam dan

"Kemari..." Katanya menyerah dengan seluruh sikap dingin yang awalnya ingin ia berikan pada Luhan. Bermaksud untuk menggertak sang istri agar tidak berkeliaran di tengah malam seperti ini sebelum semua niatnya melebur menjadi satu dengan rasa khawatirnya yang begitu berlebihan untuk pria cantiknya.

"Apa yang kau lakukan di tengah malam seperti ini hmm? Kenapa belum tidur?" katanya mendekap erat tubuh Luhan. Mengusap berulang punggung rapuh istrinya dan bermaksud menghangatkan tubuh Luhan sebelum berakhir menanyakan hal yang seharusnya sudah ia tanyakan sejak awal.

"Aku tidak bisa tidur. Aku perlu bicara denganmu."

"Apa tidak bisa menghubungiku dari ponsel? Atau tunggu sampai besok pagi. Tidak bisakah?"

Luhan menggeleng didekapan suaminya. Membuat Sehun sedikit menaikkan dahinya sebelum melepas pelukannya dan memaksa Luhan untuk bebicara padanya "Apa terjadi sesuatu?"

Luhan kembali menggeleng saat ini. Menerobos masuk ke dalam ruang kerja Sehun adalah hal yang ia lakukan saat sang suami terus memberi tatapan mematikan untuknya. Sehun sendiri semakin menautkan dahinya saat ini. Menoleh ke belakang dan terus memperhatikan si pria cantik yang kini sudah duduk manis di kursi ruang kerjanya.

Sehun mengangkat kedua bahunya sejenak. Menutup pintu ruang kerjanya lalu kemudian berjalan mendekati Luhan yang terlihat hanya menunduk saat ini "Jadi hal penting apa yang ingin kau bicarakan Lu?" katanya menarik kursi di depan Luhan dan mulai bertanya menyelidik untuk mengetahui alasan kedatangan istrinya di tengah malam seperti ini.

Luhan mengangkat wajahnya sekilas. Menatap Sehun cukup lama sebelum kembali menatap amplop cokelat yang berada di pangkuannya. Dia benar-benar sangat takut saat ini. Menebak apakah Sehun akan tetap pada keputusan bercerai atau Sehun masih memberikan kesempatan lagi untuknya.

"Sayang..."

Hati Luhan melemah saat mendengar kalimat sayang yang Sehun tunjukan untuknya. Menggigit kencang bibirnya dan sesekali mencuri pandang pada Sehun adalah hal yang ia lakukan sebelum menyerahkan amplop sialan yang bisa benar-benar merubah statusnya dengan sang suami.

"eh? Apa ini?"

Sehun mengambil amplop yang diberikan Luhan. Sedikit membukanya dengan cepat sebelum matanya membaca isi dokumen yang berada di dalamnya. Awalnya senyum masih terlihat dengan jelas di wajah tampan yang ia miliki. Namun semakin ia membaca isi dokumen tersebut maka semakin mengerut pula dahi yang kini terasa berat. Dia bahkan sempat tertawa tak menyangka maksud kedatangan Luhan hanyalah untuk membahas hal yang kini merubah keseluruhan mood baiknya menjadi sangat buruk-... Bahkan terlalu buruk sampai Sehun tak bisa menyembunyikan senyum yang dipenuhi kemarahan di dalamnya.

"Apa maksudnya?"

Luhan menyadari perubahan suara Sehun menjadi begitu berat dan penuh kekecewaan. Membuatnya begitu gugup sampai satu suara pun tak berhasil lolos dari bibirnya

"Jadi maksud kedatanganmu malam ini hanya dokumen sialan ini?" katanya melempar isi dokumen tersebut ke depan Luhan. Sedikit menggeram frustasi sebelum kembali tertawa lirih tak mau menatap wajah Luhan sama sekali.

"Sehun-..."

"Baiklah..."

Tubuh Luhan seketika menegang saat Sehun mulai pada keputusannya. Suaranya berat dengan tatapan yang sama sekali tak mau melihatnya, membuat Luhan bertaruh apapun yang akan di ucapkan suaminya sudah pasti berakhir buruk untuk keduanya

"Jika kau tetap pada pendirianmu untuk berpisah. Aku akan menurutinya, kau tidak perlu datang di tengah malam seperti ini hanya untuk meminta berpisah dariku. Aku sudah berjanji akan menuruti semua keinginanmu Lu."

Tangan Luhan mencengkram erat pahanya sendiri. Merasa begitu marah pada dua hal. pertama karena Sehun yang terus berbicara sesukanya dan kedua karena suaranya sama sekali tak mau keluar. Membuat keadaan menjadi semakin kacau dengan kesalahpahaman yang jelas menguasai keduanya malam ini.

"Tapi maaf-... Aku tidak akan pernah terlibat dengan perpisahan ini. Kai yang akan mengurusnya. Kau hanya perlu menunggu pengadilan meresmikan perceraian-..."

"SEHUN CUKUP!"

Nafas Luhan tersengal hebat saat ini. Dia menatap suaminya dengan tatapan yang sama dengan yang Sehun berikan untuknya. Tatapan yang menyiratkan kemarahan dan kekecewaan di masing-masing pandangan yang diberikan.

Luhan bahkan mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk membantah seluruh tebakan idiot suaminya. Berdiri cepat dari kursinya sebelum memandang marah pada Sehunnya "Kenapa kau terus mengatakan aku ingin kita bercerai?"

"Karena kau memang ingin."

"AKU TIDAK!"

Sehun benar-benar tidak mengerti arah pembicarannya dengan Luhan saat ini. Membuat raut wajah bingung dan bertanya jelas terlihat di wajah tampan miliknya "Lalu apa yang kau inginkan?"

"Kenapa kau tidak bertanya seperti ini Luhan kenapa kertas perceraian –tidak- kertas sialan ini kusut?-.. Kenapa kau tidak bertanya seperti itu!" katanya menuntut menyalahkan pada Sehun. Dan jika Luhan tidak memberitahunya bahwa kertas sialan itu kusut-... Maka Sehun tidak akan pernah menyadarinya jika kertas sialan itu memang kusut.

"Kau merematnya?"

"YA-.. DAN KAU TAHU KENAPA?"

"Kenapa?"

"KARENA AKU SUDAH MEMBUANGNYA KE TEMPAT SAMPAH SEBELUM AKU DATANG KEMARI."

Entah perasaan senang macam apa yang Sehun rasakan saat Luhan mengatakan sudah membuang surat perceraian mereka ke tempat sampah. Membuat raut wajah bahagia jelas terlihat di wajahnya. Namun setelah dia pikirkan kembali-... Jika Luhan benar telah membuangnya lalu kenapa dia kembali memungutnya. Membuat seketika pikiran buruk dan bodoh menguasai dirinya.

"Lalu kau merubah keputusanmu lagi kan? Jadi kau menyesal telah membuangnya dan tetap ingin bercerai. Seperti itu kan?"

Luhan tertawa frustasi saat ini. Menatap ke samping kanan sebelum kembali menatap wajah Sehun yang benar-benar diluar dugaan malam ini "Kau benar-benar idiot sialan Oh Sehun!"

"Dan kenapa aku idiot?"

"Apa kau tidak bisa berfikir lebih rasional?"

"Suami macam apa yang bisa berfikir rasional saat istrinya datang tengah malam untuk minta bercerai. Aku masih mencintaimu dan kau-..."

"AKU LEBIH MENCINTAIMU SIALAN-... AKU MENCINTAIMU APA KAU DENGAR?!"

"Eh?"

Sehun kembali menatap lama wajah Luhan. Memastikan sang istri tidak mabuk dan benar-benar dalam keadaan sadar mengatakan cinta padanya –hell- Sehun tahu Luhan mencintainya. Namun siapa yang akan percaya jika seseorang mengatakan cinta namun disaat yang sama juga menyerahkan surat yang bisa membuat keduanya berpisah. Bahkan orang tidak waras sekalipun tahu-.. Bahwa sekali kau menandatangani surat laknat itu. Selamanya kalian akan berpisah dan hidup sebagai dua orang asing.

Namun saat melihat dan memastikan bahwa Luhan dalam keadaan sadar. Wajah Sehun kembali merona merah, membuat hatinya memekik tertahan karena begitu bahagia saat ini "Kau tidak mabuk kan?"

"OH SEHUN!"

"araseo aku salah. Lalu kenapa kau datang tengah malam dengan membawa surat ini sayang?"

"Makan ucapan sayangmu! Kau sama sekali tidak menyayangiku!"

"Aku menyayangimu lebih dari apapun di dunia ini. Aku bahkan lebih menyayangimu daripada aku menyayangi diriku sendiri. Kau tahu hal itu Lu."

"Ya aku tahu! Jadi berhenti menebak semua hal gila yang ada di kepalamu."

Sehun sedikit terdiam sebelu mengusap kasar wajahnya. Benar-benar tak tahan menebak maksud kedatangan Luhan malam ini. Membuatnya sedikit menghela dalam nafasnya sebelum

"Aku tanya sekali lagi-.. Suami macam apa yang tidak akan berfikir gila jika istrinya datang di tengah malam seperti ini dengan surat cerai di tangannya."

"Kenapa kau tidak berfikir seperti ini –Luhan datang ke markasku malam ini dengan membawa surat cerai. Tapi kenapa surat cerai ini kusut seperti ingin dirobek. Apakah Luhan berniat membatalkan perceraian kami-.. Kenapa kau tidak bisa berfikir seperti itu."

"Dan saat aku berfikir seperti itu kau akan menjatuhkan harapanku ke dasar jurang. Terimakasih untuk tawaranmu sayang. Tapi aku lebih memilih menelan duri di awal daripada harus merasakan sakit yang berlebihan nantinya. Aku tidak sanggup."

"yeah.. Kalau begitu teruslah berpikiran bodoh dengan otakmu-... Karena kenyataannya adalah aku memang meremat serta hampir merobek surat sialan itu. Aku berharap kau lupa dan sudah membuangnya ke tempat sampah. Tapi kemudian aku merasa bersalah jika tidak bertanya padamu."

"Bertanya padaku?"

"Dengarkan aku Oh Sehun. Aku tidak akan mengulangi ucapanku yang terasa sia-sia malam ini." katanya kembali menarik kursi di depan suaminya. Sebelum menatap antara frustasi, marah yang bercampur rasa takut menghadapi kebodohan pria tampan di depannya

"Alasanku datang tengah malam seperti ini dan memaksa berbicara denganmu adalah karena aku ingin bertanya-... Aku ingin bertanya apa kau bersedia membatalkan perceraian kita? Aku menyesal memaksamu untuk menggugat cerai diriku. Terlalu menyesal hingga aku berharap kau memberiku kesempatan lagi. Jadi apa jawabanmu?"

Sehun benar-benar tak tahan dengan rasa bahagianya saat ini. Terlalu bahagia sampai tidak bisa berkata-kata menjawab pertanyaan Luhan saat ini.

"Sehun? kenapa kau tidak menjawab?"

"..."

"Sehun..."

Suara Luhan mulai menunjukkan rasa cemasnya saat ini. Membuat matanya memanas karena Sehun sama sekali tak meresponnya. Membuat dirinya begitu hancur karena harus menyerah dengan keheningan tanpa jawaban di ruangan dingin suaminya.

"Baiklah. Aku tahu jawaban apa yang kau berikan. Aku akan menunggu proses selanjutnya di pengadilan. Maaf mengganggumu Sehunna." Katanya berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan suaminya. Berharap Sehun mengejarnya namun percuma karena sang suami benar-benar tak merespon saat ini.

Blam...!

Dan barulah saat pintu tertutup Sehun menyadari kesalahannya. Kebahagiannya terlalu banyak sampai dia tidak bisa berkata-kata. Dia pikir dia dan Luhan sudah resmi kembali bersama kali ini. namun saat mengingat ucapan terakhir yang Luhan lontarkan membuat keringat begitu saja jatuh ke dahinya "Aku akan menunggu proses selanjutnya di pengadilan"

"eh? Proses apa? Jangan bilang proses-..."

Sehun langsung berlari seperti orang gila ke luar ruang kerjanya. Berniat mengejar Luhan dan tidak akan memaafkan dirinya jika Luhan sampai pergi dan bencana buruk terjadi pada rumah tangganya.

"Luhan?"

Max mencoba menyapa Luhan yang terlihat menangis. Namun disaat yang sama Luhan mendorong kasar tubuhnya dan pergi begitu saja menuju ke luar markasnya.

Max mencoba berdiri dan membersihkan celana yang kotor karena Luhan mendorongnya. Sedikit tak memperhatikan situasi sampai bunyi debam di tangga sangat terdengar di telinganya "eh? Bos?"

Kali ini Max menyapa Sehun-... Dan persis seperti yang dilakukan istrinya. Sehun juga mendorong kasar tubuhnya membuat si pria tinggi yang malang harus rela terjatuh dua kali karena ulah pasangan suami istri di depannya.

"Selamat malam Presdir Oh."

Beberapa pengawal menyapa dan membungkuk pada Sehun sementara pandangan Sehun hanya tertuju pada sosok mungilnya yang terus berjalan gontai menuju mobil yang ia hadiahkan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka. Sedikit tertawa gemas sebelum berlari mendekati si pria cantik dengan kecepatan yang tak perlu ditanyakan sampai terdengar suara

"YAK!-... TURUNKAN AKU! SEHUN?-...TURUNKAN AKU IDIOT!"

Luhan memekik terkejut saat tubuhnya di angkat seperti seseorang yang memikul beras. Membuat kakinya digerakkan tak menentu namun percuma karena tubuh yang menggendongnya jelas lebih kuat dan tak terkalahkan.

"Bos? Kenapa kau menggendong Luhan seperti itu?"

"SHIM CHANGMIN!"

Changmin segera berlari ke belakang Sehun. menjawab panggilan Luhan yang terlihat kesal karena Sehun benar-benar memikulnya seperti karung beras saat ini "Ada apa Lu?"

"Katakan pada bos idiotmu untuk segera menurunkan aku. Ini perintah."

"Kau tahu suamimu mengerikan Lu." Katanya menggeleng dan menolak halus perintah Luhan. membuat Luhan menggeram frustasi dan terus menggerakan tubuhnya meminta turun "Max.."

Kali ini dia kembali berlari ke hadapan Sehun. sedikit menatap takut bosnya sebelum menjawab panggilan Sehun untuknya "Ya bos.."

"Pastikan tidak ada yang masuk ke kamar istirahatku. Aku ingin menghukum rusaku agak lama malam ini."

Untuk seorang bujang seperti Changmin ini adalah prerintah awam. Membuatnya sedikit berfikir sebelum mengangguk mengerti menyadari kata ingin menghukum yang diberikan Sehun berarti melakukan kegiatan dewasa. Membuatnya kembali mengangguk cepat sebelum membiarkan Sehun menaiki tangga dengan Luhan yang masih meronta di pelukannya

"Jangan terlalu sakit menghukum Luhan bos." Katanya memberitahu Sehun. namun sama sekali tak mengerti apa arti ucapannya sendiri.

.

Sementara itu...

BRAK...!

Setelah menutup kencang pintunya. Kali ini Sehun membanting agak kasar tubuh Luhan ke tempat tidurnya yang super nyaman. Mengukung cepat tubuh mungil istrinya dengan tepat berada di atas sang istri yang daripada marah lebih terlihat merona saat ini.

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Kau tahu apa yang akan aku lakukan."

Perlahan Sehun pun mulai untuk mendekatkan wajahnya pada wajah Luhan. Sedikit memiringkan kepalanya, sebelum melumat bibir mungil yang begitu ia rindukan. Perasaan luar biasa bahagia itu pun keduanya rasakan. Dimana yang satu sangat rindu menjamah tubuh mulus istrinya. Sementara yang satu begit rindu belaian suaminya.

Dan karena alasan itu pula Luhan segera menutup kedua matanya itu. Menikmati setiap lumatan yang terasa seperti percikan listrik yang diberikan Sehun untuknya. Sehun bermain pelan saat ini-.. Terlalu pelan hinggan membuat Luhan tak bisa menahan diri dan mulai menarik tengkuk suaminya agar mulai bermain "agak" kasar padanya. Membuat seringaian Sehun jelas terasa di bibir Luhan yang mulai sedang tak sabar meraup bibir seksi ssuaminya.

"hmphh...." suara lumatan penuh nafsu titu pun sudah mulai terdengar. Keduanya bahkan tersenyum senang merasakan bahwa bibir mereka sekarang sudah benar-benar basah terkena air liur masing-masing karena keduanya terus melumat bibir atas dan bawah secara bergantian dan penuh dengan tempo yang begitu cepat dan menggairahkan. Membuat entah fantasi liar macam apa yang kini menguasai Luhan yang semakin menginginkan Sehun menyentuhnya lagi dan lagi.

Dan saat Luhan sedang berfikir dengan fantasinya. Maka Sehun terlalu mabuk dengan bibir mungil yang menjadi candunya. Berusaha menggigit kecil bibir bawah Luhan seperti memberikan "tanda" agar Luhan membuka mulutnya.

"Nghhhhh."

Dan benar saja-.. Tidak perlu menunggu waktu lama seketika itu pula bibir Luhan terbuka mengijinkan benda lunak nan memabukkan milik suaminya mengusik pertahanannya. Membuat Sehun tak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung memasukkan lidahnya kedalam mulut Luhan. Lidah Sehun pun sudah terasa bermain dalam rongga mulut Luhan. Luhan merasakan itu. Membuat lidah Luhan secara refleks dan senang hati bergerak membalas ciuman Sehun padanya. Saliva mereka pun saling bertukar satu sama lainnya.

Keduanya masih terus saling melumat. Sampai Sehun sengaja memutuskan ciuman panas mereka disambut dengan dengusan kecewa istrinya "Jangan terlalu kecewa. Aku akan membuatmu merasakan nikmat sebentar lagi." katanya mengecup sayang kening Luhan sebelum kembali menatap dalam ke mata istrinya.

"Lalu kenapa berhenti? Cepat kita lanjutkan." Katanya sengaja menggoda Sehun agar langsung "menerkam" nya dan tak membuang-buang waktu.

"Aku akan segera melanjutkannya. Hanya jawab pertanyaanku." Katanya mulai memaksa Luhan menatapnya dan hanya fokus pada dirinya.

"Apa?"

"Apa kau benar-benar membatalkan perceraian kita?"

"hmm.. Aku menyesal Sehunna. Maafkan aku."

Ibarat seorang penggoda. Ucapan dan tindakan Luhan sangat berbeda. Jika dia mengatakan menyesal dengan ucapannya. Maka tindakannya sama sekali tidak mencerminkan dia menyesal. Terang saja Luhan terlihat sama sekali tak menyesal. Karena sedari tadi yang dia lakukan hanya membuka kancing kemeja Sehun agar keduanya bisa segera merasakan malam panas yang begitu ia rindukan.

"Jangan menggodaku dan jawab pertanyaanku dengan benar." Katanya tak tahan dengan perbuatan Luhan pada kancing kemejanya. Sedikit menahan tangan istrinya sebelum memaksa Luhan untuk menatapnya.

Luhan sendiri tertawa menyadari wajah suaminya juga sudah tak bisa menahan gairah lebih lama lagi. membuatnya mengalah untuk tidak menjahili kancing baju Sehun dan membalas tatapan penuh pertanyaan dari mata suaminya "Aku menyesal Sehun. Aku bodoh pernah memaskamu menceraikan aku. Maafkan aku." Katanya terdengar serius membuat Sehun merasakan kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan "Benar-benar menyesal?"

"Sangat menyesal." katanya menjawab lantang membuat hati Sehun benar-benar berdebar saat ini "Aku juga menyesal sayang. Maafkan aku."

"Kau sama sekali tidak bersalah. Aku yang mendesakmu. Jadi cepat desak aku untuk mendesahkan namamu malam ini." katanya kembali mengerling suaminya sebelum menarik tengkuk Sehun saat ini. Kembali berpagutan mesra dan

"nghh..."

Keduanya siap menyambut malam panas dengan desahan dan teriakan mendamba yang akan mereka rasakan sebentar lagi.

.

.

.

.

.

.

Tok...tok...

Sehun menaikkan selimut yang harus menutupi tubuh polos istrinya saat ini. Melarang keras bahkan mengutuk siapapun yang mengambil kesempatan untuk melihat tubuh seksi istrinya usai percintaan panas mereka beberapa saat lalu. Membawa tubuh mungil istrinya ke dekapannya adalah hal kedua yang ia lakukan sebelum

"Masuk..."

Cklek...!

Max segera memasuki ruang istirahat Sehun yang terlihat berantakan dengan seluruh pakaian yang bertebaran di lantai serta barang-barang di kamar Sehun yang tak tersusun di tempatnya. Membuat pikiran liar Max kembali menebak sebelum suara Sehun menginterupsi pikirannya "Apa kau membawa yang aku minta?"

Max segera menoleh dan berjalan mendekat ke arah Sehun. Sedikit melirik Luhan yang terlihat sangat kelelahan dan kini berada di pelukan Sehun.

"Aku akan mencongkel matamu jika kau terus memandang wajah istriku."

"ah... Maafkan aku bos. Aku hanya merasa Luhan sangat kelelahan."

"Dia melayaniku selama dua jam. Jadi Ya-... Istriku kelelahan." Katanya mengambil cepat dokumen perceraian yang ia minta dari Max .

"Whoaa.. Luhan pasti sangat kesakitan bos."

"Jika kau membahasnya lagi aku tidak akan segan-..."

"Aku permisi bos."

Max memotong cepat ucapan Sehun. Berlari cepat meninggalkan ruangan Sehun sebelum

BLAM!

Sebelum menutup kencang kamar Sehun-... Meninggalkan sang bos yang hanya bisa tersenyum mengecupi pundak seksi istrinya yang terekspos bebas di depan matanya.

Luhan sedikit menggeliat saat bagian private nya kembali diremas oleh tangan besar yang tidak perlu ia tanya milik siapa. Sedikit membuka matanya sebelum menatap memperingatkan pada pria tampannya "Aku benar-benar lelah sayang."

Sehun tertawa kencang mendengar keluhan Luhan. sedikit menarik tubuh mungil istrinya sebelum mengecup telak bibir Luhan yang terlihat membengkak "Aku tahu. Tidurlah sayangku." Katanya mengecupi pundak Luhan dan membiarkan Luhan berbaring diatasnya.

Luhan sendiri kembali tertidur nyaman di pelukan suaminya. Sedikit mencari posisi nyaman sebelum akhirnya benar-benar tertidur di pelukan hangat nan kokoh yang hanya bisa diberikan pria bernama Oh Sehun yang sudah menjadi suaminya selama lima tahun dan akan berlanjut ke tahun berikutnya sampai rambut mereka memutih.

Luhan bahkan hampir mendengkur halus jika tidak merasakan pergerakan dari tubuh Sehun yang memindahkannya ke samping tempat tidur. membuatnya dengan berat hati membuka matanya dan melihat bahwa suaminya sedang membakar sesuatu di tempat sampah kecil yang tersedia di kamarnya.

"Sayang apa yang kau lakukan?" katanya bertanya serak dan memperhatikan sang suami yang terlalu fokus dengan kegiatannya "Sehun..."

Kali ini Sehunnya menoleh. Sedikit tersenyum sebelum kembali berjalan mendekati tubuh mungil istrinya "Apa yang kau lakukan?" katanya kembali bertanya saat Sehun kembali menarik tubuhnya berbaring dipelukannya.

"Hanya membakar surat sialan itu."

"eh? Surat perceraian kita?"

"Ya."

Terdengar suara desahan lega yang dikeluarkan Luhan. Membuatnya kembali berbaring di dada Sehun sebelum kembali memejamkan kedua matanya erat. Sehun terus memberikan kecupan hangat yang terasa seperti sengatan listrik di pundaknya.

Membuat si pria yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil hanya bisa tersenyum sangat lega mengetahui semua akan baik-baik saja mulai malam ini. Dan dengan mata tertutup Luhan melingkarkan tangannya di pinggang Sehun. Sedikit mengecup dada bidang suaminya sebelum

"Baguslah kau sudah membakarnya."

.


tobecontinued..


.

Mau dibawa kemana hubungan Kaisoo *nyanyi!

.

Biar ga ribut2 sesoo muluk. Nih gue kasi kaisoo. Jadian pulak! Next chap gue kawinin aja kali yak kkkk. Tapi abis itu bunuh2an seru yee *eh.. :'v

.

Oia selain HH kutakbisaa bikin cerita lain. Maapkan yang request pair ini itu :". Chemistry belum ada yang sekuat HH soalnya. Bayangin aja udah tiga tahun pisah gue masih kepelet mereka zzzzzz... capek? Ohnoooooo! kkkk

Bayseeyou di...

.

Happy reading n review mmuaachh.