Previous..

"Sayang apa yang kau lakukan?" katanya bertanya serak dan memperhatikan sang suami yang terlalu fokus dengan kegiatannya "Sehun..."

Kali ini Sehunnya menoleh. Sedikit tersenyum sebelum kembali berjalan mendekati tubuh mungil istrinya "Apa yang kau lakukan?" katanya kembali bertanya saat Sehun kembali menarik tubuhnya berbaring dipelukannya.

"Hanya membakar surat sialan itu."

"eh? Surat perceraian kita?"

"Ya."

Terdengar suara desahan lega yang dikeluarkan Luhan. Membuatnya kembali berbaring di dada Sehun sebelum kembali memejamkan kedua matanya erat. Sehun terus memberikan kecupan hangat yang terasa seperti sengatan listrik di pundaknya.

Membuat si pria yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil hanya bisa tersenyum sangat lega mengetahui semua akan baik-baik saja mulai malam ini. Dan dengan mata tertutup Luhan melingkarkan tangannya di pinggang Sehun. Sedikit mengecup dada bidang suaminya sebelum

"Baguslah kau sudah membakarnya."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Entangled

Main Cast : Sehun & Lu Han

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

.

Beberapa hari kemudian...

"Bagaimana keadaanmu Soo?"

Yang ditanya hanya bisa tersenyum melihat kedatangan pria yang memiliki postur tubuh paling tinggi dari dirinya dan Luhan. Sedikit membenarkan posisi tidurnya sebelum menjawab pria kedua yang lebih tua darinya setelah Luhan.

"Kyungsooku sudah lebih baik Yeol."

Luhan yang menjawab. Dokter spesialis yang juga merupakan wali dari Kyungsoo sang adik sedang menyuapi adik kecilnya untuk memakan sesuatu. Sedikit mengusap lembut surai Kyungsoo dan membiarkan adik kecilnya berbaring sejenak agar merasa nyaman.

"Baguslah."

Nada suara Chanyeol berubah menjadi dingin. Sepertinya kedatangan Chanyeol pagi ini hanya sebagai dokter yang menangani Kyungsoo. Bukan seseorang yang bersikap layaknya kakak untuk adiknya.

Kyungsoo yang menyadari perubahan Chanyeol. Membuatnya sedikit menyenggol bahu Luhan dan memberi isyarat pada kakak tertuanya "Ada apa?"

Kyungsoo melirik Chanyeol. Luhan mengikuti kemana Kyungsoo melihat. Dia kemudian paham situasi macam apa yang terjadi pagi ini. Membuatnya menghela nafas dan mulai meletakkan mangkuk bubur milik Kyungsoo untuk berdiri dan mencoba berbicara pada Chanyeol.

"Yeol.."

"Ada apa?"

"Kenapa kau hanya mengatakan Baguslah dan ada apa? Apa tidak ada hal lain yang ingin kau sampaikan untuk Kyungsoo?"

"Hal lain?"

Luhan berdiri mendekati Chanyeol sedikit menyenggol bahu seniornya di rumah sakit sebelum memberikan isyarat pada pria tampan didepannya "Ada apa?"

"Katakan hal lain pada Kyungsoo. Jangan terlalu formal padanya."

Chanyeol mengerti kemana arah pembicaraan mereka saat ini. Membuat matanya menatap lama pada Kyungsoo sebelum tertawa menjengkelkan ke arah Kyungsoo "Lalu aku harus mengatakan apa? Apa aku harus mengucapkan selamat padamu?"

"Selamat untuk apa? Apa kau buta? Adikmu sedang sakit!" Luhan bahkan tak berniat menutupi kekesalannya pada Chanyeol. Sedikit mengencangkan suaranya agar Chanyeol mengerti bahwa ucapannya sudah sangat keterlaluan.

"Tanyakan saja pada Kyungsoo!"

Luhan benar-benar mendengus marah pada Chanyeol saat ini. Kembali menatap pada Kyungsoo dan semakin bingung karena Kyungsoo juga menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan ucapan Chanyeol.

"Aku melakukan apa hyung?"

"Ck. Jangan mengelak lagi! Aku yakin kau sudah resmi berkencan dengan Jongin!"

"Dengan siapa?"

Luhan sedikit menaikkan suaranya saat Chanyeol menyebut nama Jongin. Memastikan kalau Jongin yang disebutkan Chanyeol adalah Jongin yang sama dengan Jonginnya.

"Kim Jongin. Pria yang selalu mengekori kemanapun kau pergi! Aku melihat mereka berciuman semalam." Katanya menggeram penuh marah menatap Kyungsoo. Membuat Kyungsoo hanya bisa tertunduk pasrah menyadari kalau Chanyeol memang benar terganggu dengan apa yang dirinya dan Kai lakukan.

Reaksi berbeda diberikan oleh Luhan. Dokter spesialis itu hanya diam tanpa memberikan suara. Dirinya sedang berpikir keras apakah hal yang Chanyeol beritahukan padanya adalah berita buruk atau sebaliknya.

Melihat Chanyeol memandang marah pada Kyungsoo serta Kyungsoo yang memandang takut padanya dan Chanyeol adalah hal yang sering terjadi saat mereka kecil dulu. Membuat Luhan diam-diam tersenyum sangat merindukan seluruh kenangan dengan kedua saudaranya.

Dan saat Chanyeol marah pada Kyungsoo, maka yang bisa dilakukan Kyungsoo hanya diam membuat Luhan tertawa pelan dengan kedua bola mata yang diam-diam melihat Chanyeol kemudian melihat Kyungsoo lalu kembali pada Chanyeol dan kemudian kembali pada Kyungsoo.

"Apa yang kau tertawakan?"

Merasa menjadi tertuduh membuat Luhan menggeleng cepat. Kembali tertawa sebelum berjalan duduk disamping Kyungsoo "Aku benar-benar merindukan kalian Yeol. Hanya itu." Katanya memberitahu Chanyeol yang sama sekali tak merubah warna mukanya.

"Dan kau-... Apa benar kau berkencan dengan Kai?" Katanya kembali bertanya pada Kyungsoo dan mengabaikan wajah menyebalkan seniornya di rumah sakit.

Kyungsoo hanya menatap cemas pada Luhan. Takut Luhan tidak merestui hubungannya dengan Kai mengingat Chanyeol dengan jelas menentang keras hubungannya dengan Kai.

"Soo... Aku bertanya padamu."

"Hyung. Aku-..." Katanya kembali menggigit kencang bibir bawahnya. Kembali menunduk dan sama sekali tak berani menjawab apapun pertanyaan Luhan.

"Do Kyungsoo. Kau berkencan dengan Kai? Ya atau tidak?"

Luhan mengangkat dagu Kyungsoo. Memaksa Kyungsoo untuk menatapnya dan tak menyembunyikan apapun darinya.

Kyungsoo bahkan tak memiliki pilihan lain saat mata rusa Luhan menatapnya begitu lembut. Dan seolah terhipnotis dengan kelembutan tatapan Luhan-... Kyungsoo mengangguk membenarkan bahwa saat ini dirinya dan Kai sudah berada dalam hubungan sepasang kekasih.

Luhan sendiri cukup terkejut saat Kyungsoo mengangguk membenarkan. Membuat dirinya terdiam sesaat sebelum tersenyum memeluk erat tubuh rapuh pria yang sedari kecil tumbuh besar dengannya.

"Hyung... Apa kau tidak marah?" Kyungsoo bertanya bingung saat Luhan memeluknya cukul erat. Merasa sedikit khawatir saat Luhan tak memberikan respon apapun dan hanya terus memeluknya dengan erat. "Hyung. Jika kau tidak setuju aku bisa bicara dengan Jongin. Aku akan mengakhiri hubungan kami sebelum semuanya terlambat."

Luhan cukup merespon ucapan Kyungsoo kali ini. Melepas cepat pelukan sang adik sebelum menatap menyelidik ke arahnya "Apa yang kau bicarakan hmm?" Katanya menyentil pelan dahi Kyungsoo dan kembali memeluk sekilas adiknya sebelum menatap kedua mata besar Kyungsoo saat ini.

"Aku takut kau marah padaku. Aku-..."

"Kenapa aku harus marah? Karena kau berkencan dengan Kai?"

Kyungsoo mengangguk perlahan dan terus menatap Luhan. Membuat Luhan sedikit tertawa dan mengusap sayang surai adiknya "Jangan bodoh. Justru sebaliknya, aku merasa sangat senang pada akhirnya ada seseorang yang akan menjagamu. Aku tidak menjagamu dengan baik. Dan aku sangat menyesal untuk itu. Aku bahkan baru berniat untuk mengembalikan seluruh waktu berharga kita yang terlewat sia-sia. Tapi saat aku ingin memulainya-.. Adik kecilku sudah memiliki kekasih. Selamat untukmu baby soo..." Katanya menarik kencang hidung Kyungsoo sebelum kembali memeluk erat tubuh Kyungsoo.

Kyungsoo sendiri hampir menangis bahagia saat ini. Dia bahkan tidak menyangka bahwa Luhan akan merestui hubungannya dengan Kai secepat ini. Membuat rasa haru terlalu menguasainya hingga keduanya lupa bahwa ada satu orang yang masih memperhatikan dan mendengar seluruh percakapan mereka dengan tangan yang mengepal erat.

"Hyung. Apa kau benar-benar menyetujui hubunganku dengan Kai?"

Luhan menangkap nada suara Kyungsoo masih cemas dan takut saat bertanya padanya. Membuat kilasan senyum kembali terlihat di wajah Luhan yang kini memandang serius pada adiknya. "Aku bahkan sudah menebak cepat atau lambat kalian akan saling menyukai. Aku sudah melihatnya di hari pertama kalian bertemu. Jadi jangan berfikir macam-macam. Hanya berbahagialah dengan hidup barumu. Aku bahkan berharap kau dan Jongin bisa bebar-benar serius menjalin hubungan hingga ketahap yang lebih serius seperti pernika-..."

"LUHAN CUKUP!"

Baik Kyungsoo dan Luhan sedikit tersentak di tempatnya masing-masing. Kedua mata itu bahkan bersamaan melihat ke arah Chanyeol yang berteriak. Membuat Kyungsoo kembali tertunduk takut sementara Luhan memandang marah pada pria yang jelas lebih muda darinya.

"Kenapa berteriak?" Katanya menantang membuat Chanyeol mengusak kasar wajahnya sebelum menatap marah pada Luhan "Apa kau gila? Kenapa kau merestui hubungan Kyungsoo dengan bajingan itu?"

Amarah Luhan benar terpancing saat ini. Luhan bahkan sangat mengetahui kebencian Chanyeol untuk semua orang yang berkaitan dengan suaminya sangatlah tidak wajar. Membuat tangannya mengepal dengan helaan nafas yang jelas benar terdengar dari Luhan "Siapa bajingan yang kau bicarakan?"

"Bagaimana bisa kau membuat adik kita memilih jalan yang salah seperti yang kau buat. Bagaiamana bisa kau membiarkan adik kita masuk kedalam lingkaran setan yang akan terus mengganggu dan membuat hidupnya terancam seperti hidup yang kau jalani?" Katanya menyalang menyalahkan Luhan sebelum menatap marah pada Kyungsoo

"Dan kau Do Kyungsoo!" Katanya menunjuk kasar ke wajah Kyungsoo. Membuat Kyungsoo yang awalnya terdiam kini mulai memberanikan diri menatap Chanyeol dengan segala kemurkaan yang ia rasakan.

"Bagaimana bisa kau berubah menjadi mengerikan seperti ini? Lihat dirimu! Kau berubah menjadi monster mengerikan yang gemar membunuh orang. Aku bahkan takut saat melihat wajahmu. Kemana Do Kyungsoo adik kecilku HAH?!"

"Chanyeol..."

Luhan mendesis mulai memperingatkan Chanyeol untuk berhenti dengan seluruh ucapan dan mulutnya yang sudah sangat keterlaluan. Luhan bahkan melihat perubahan wajah Kyungsoo menjadi sangat pucat. Dan jelas-... Ini bukanlah sesuatu yang baik mengingat Kyungsoo masih dalam masa pemulihan.

"Aku bahkan mendengar kemampuan membunuhmu sudah seperti profesional yang tidak memiliki hati nurani. Jadi bagaimana bisa kau berubah menjadi mengerikan seperti ini?!"

"Chanyeol..."

"APA AKU DAN LUHAN MEMBESARKANMU UNTUK MENJADI SEORANG PEMBUNUH? APA KAMI TIDAK CUKUP LAYAK MENJADI KAKAKMU! APA KAMI-..."

"KALIAN MENINGGALKANKU HYUNG!"

Makian Kyungsoo singkat. Namun pesan yang disampaikan begitu menggores terlalu dalam baik di hati Luhan maupun Chanyeol yang seketika terdiam saat ini. Keduanya menatap bertanya pada Kyungsoo yang kini menatap marah pada mereka. Sedikit menggeram sebelum kembali terisak pelan dalam rasa sakitnya

"Aku tidak memiliki pilihan lain saat itu. Aku terus mencari kalian. Tapi kalian sibuk dengan dunia kalian sendiri. Aku mencarimu hyung! Tapi kau terus mengatakan kau sibuk. Hanya Kris yang datang untukku. Dia terus bersamaku dan menunujukkan padaku jika kau dan Luhan hyung sudah benar-benar melupakan diriku. Jadi jangan katakan-... JADI JANGAN KATAKAN SEMUA INI SEPENUHNYA SALAHKU! KALIAN BERJANJI AKAN MENJAGAKU TAPI NYATANYA KALIAN TERLALU SIBUK DAN MEMBUANGKU BEGITU SAJA. HARI ITU SAAT AKU MULAI BERGABUNG DENGAN KRIS-... AKU MENDERITA MENJADI DO KYUNGSOO. AKU TAKUT DAN TAK ADA SATUPUN DARI KALIAN YANG DATANG UNTUK MENOLONGKU! Arghhhhhh!"

Sungguh Kyungsoo tidak berniat menyerang kedua kakaknya dengan ucapannya yang terdengar menyalahkan. Awalnya dia ingin menyimpan semuanya seorang diri. Tapi batinnya memberontak saat Chanyeol terus menyalahkan dirinya tanpa mengetahui apa yang terjadi. Membuatnya terpaksa menumpahkan seluruh rasa gundahnya kepada dua orang yang jelas adalah hidupnya.

"Maaf hyung... Maafkan aku mengecewakan kalian."

Isakan itu kini berubah menjadi penyesalan. Menbuat hati Luhan yang begitu diremat kencang semakin terasa sesak tak kuat membayangkan hidup mengerikan macam apa yang terpaksa Kyungsoonya jalani. Membuat air mata terus menetes di matanya disaat dia mengira semua baik-baik saja "Maaf hyung. Maaf."

"Kyungsoo.."

Luhan tak tahan lagi mendengarnya. Dia kembali berlari mendekati Kyungsoo dan memeluk erat tubuh mungil adiknya. Bersama-sama terisak menumpahkan rasa penyesalan masing-masing dengan Chanyeol yang terus menatap tak berkedip dua sosok mungilnya yang sedang terluka karena dirinya.

Dia tidak menolak saat Kyungsoo menyalahkan dirinya. Dia juga tidak menolak jika Kyungsoo memintanya untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi di hidupnya. Chanyeol bersedia menerima semua makian dan kebencian Kyungsoo untuknya. Tapi satu yang tidak bisa Chanyeol terima-... Hubungan Kyungsoo dan Kai adalah kesalahan. Membuat emosinya kembali meluap tak tahan jika kembali harus berdiam diri dengan kisah percintaan keluarganya denga mafia sekelas Sehun maupun Jongin.

"Tapi kenapa kau harus jatuh ke pelukan Jongin?" Katanya kembali bersuara membuat baik Luhan maupun Kyungsoo sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk yang akan dilontarkan Chanyeol.

"Apa kau tidak melihat Luhan? Dia menderita dengan kehidupan pernikahannya dengan Sehun. Mereka tidak bisa berpisah tapi juga tidak bisa bersama. Mereka tidak bahagia soo." Kepalan tangan Luhan mengerat di punggung Kyungsoo. Berusaha untuk tidak terpengaruh dengan segala ucapan Chanyeol yang menjadikan pernikahannya dengan Sehun sebagai contoh pernikahan yang mengerikan. Luhan masih berusaha menahannya sampai

"Luhan bahkan harus kehilangan putranya karena pria itu."

Luhan tak tahan mendengar ucapan tentang kejadian yang menimpa putranya dengan menyalahkan Sehun sepenuhnya tanpa alasan. Chanyeol tidak mengetahui apapun. Jadi bagaimana bisa dia berbicara menyalahkan Sehun seolah Sehunlah yang membunuh darah dagingnya sendiri.

"Luhan bahkan harus hidup dengan ketakutan saat orang yang tidak dia kenal datang dan mengganggu hidupnya karena pria sialan itu."

Luhan masih berusaha tenang dan tak terpancing. Dia bahkan berniat untuk tidak menghiraukan ucapan Chanyeol sampai Chanyeol mengucapkan kalimat yang begitu membuatnya marah tak bisa menahan diri.

"Dia tidak bahagia tapi terus memaksakan diri untuh hidup bersama pembunuh seperti Oh Sehun!. Dia bahkan harus rela berbagi Sehun dengan wanita jalang yang mungkin setiap hari mengelilingi bajing-…."

Luhan melepas pelukan Kyungsoo. Berjalan cepat menghampiri Chanyeol dan

Plak!

Habis sudah kesabaran Luhan.

Sebagai seorang dokter, Luhan masih bisa menahan makian dari pasien atau professor yang terus menyalahkan dirinya tanpa alasan. Tapi sebagai seorang istri, dia tidak bisa membiarkan seseorang atau siapa pun menghina atau lebih parahnya menyakiti Sehunnya.

Chanyeol bukan hanya menghina suaminya tapi mulai mengatakan omong kosong sialan tentang bagaimana Sehun menjalani hidupnya.

Tamparan Luhan di wajahnya tidak seberapa dengan rasa sakit di hati yang timbul setelahnya. Membuat Chanyeol menatap tak percaya pada Luhan dan mulai menggeram marah melihat betapa dirinya tak mengenal Luhan sejak hari dimana dia dan Sehun bertemu "Apa yang kau lakukan?" katanya mendesis marah menatap pada Luhan.

"Jangan pernah mengatakan hal buruk tentang suamiku?"

"cih. Kenapa apa kau malu memiliki suami seorang pembunuh. Apa kau-.."

"PARK CHANYEOL!"

Luhan berteriak marah dengan air mata kekecewaan di matanya. Mengepalkan erat tangannya sebelum

"Aku rasa ini masih terlalu pagi untuk membuat istriku berteriak dokter Park."

Keduanya menoleh saat Sehun dan Jongin memasuki ruang perawatan Kyungsoo. Membuat Luhan seketika menundukkan kepalanya tak mau Sehun melihat air matanya. Karena sungguh-... Jika Sehun melihat air matanya sepagi ini. itu hanya akan membuat Chanyeol berada dalam masalah besar lainnya.

"Soo...!"

Luhan melihat raut wajah khawatir Jongin yang melihat Kyungsoo menangis. Membuatnya diam-diam tersenyum menyadari bahwa Jongin memang pria yang tepat yang akan selalu melindungi Kyungsoonya.

"Luhan..."

Luhan menolak menatap suaminya. Sedikit mengangkat wajahnya sebelum berjalan melalui Sehun untuk segera keluar dari ruangan Kyungsoo.

Sehun sendiri bisa merasakan kemarahan di wajah Luhan. Sedikit menatap murka pada Chanyeol sebelum mencengkram erat kemeja Chanyeol dengan tatapan memburu khas seorang Oh Sehun ketika sedang menghabisi seseorang "Sekali lagi kau membuatnya menangis. Aku tidak akan segan untuk mematahkan tangan berhargamu dokter Park." Katanya mendesis sebelum mendorong kasar tubuh Chanyeol dan mulai mengejar kemanapun istrinya pergi.

.

Luhan berjalan entah kemana saat ini. Yang dia tahu dia harus pergi sejauh mungkin agar keadaan tidak semakin memburuk. Semakin lama dia berada di ruangan Kyungsoo maka semakin besar pula kemungkinan Chanyeol akan mendapatkan masalah jika berurusan dengan suaminya.

Dan setelah merasa tenang dia akan mencoba berbicara pada Sehun dan membujuknya agar melupakan apa yang dikatakan Chanyeol dan hanya memaafkan teman kecilnya –shit!- Bagaimana bisa Sehun melupakan ucapan Chanyeol jika dirinya saja tidak bisa. Luhan bahkan masih terlalu marah pada Chanyeol dan seluruh ucapan yang ia lontarkan tentang suaminya. Membuat langkahnya semakin cepat untuk berjalan semakin menjauh entah kemana sampai dia merasa lengannya di tarik dan dalam sekejap dia sudah berada di pelukan paling nyaman dalam hidupnya.

"Jalanmu masih sangat cepat sayang."

Suara itu terdengar sangat menghibur untuk Luhan. membuatnya enggan melepaskan pelukan suaminya dan hanya menumpahkan rasa sakit di hatinya di pagi hari seperti ini "Sehun-..hkss."

Sehun hanya membiarkan Luhan mengeluarkan semuanya pagi ini. mengecupi pucuk kepala istrinya dengan tangan yang melingkar sempurna adalah hal yang paling membuat Luhan nyaman disaat dirinya merasa sangat tersiksa. "Sehunnn..."

Semakin Sehun berusaha membiarkan Luhan menangis. Maka semaki sakit pula hatinya. Membuat si pria tampan ini sedikit menghela dalam nafasnya sebelum melepas pelukannya pada istri cantiknya "Kenapa menangis? Ini masih sangat pagi." Katanya menarik kencang hidung Luhan sedikit tertawa dengan tangan yang mengusap air mata istrinya berharap Luhan terhibur.

"Kenapa mereka terus mengatakan hal jahat tentangmu?"

"Aku tidak peduli."

"Tapi aku peduli." Katanya membantah membuat Sehun kembali tersenyum mencium sedikit lama kening Luhan sebelum menatap wajah cantik istrinya. "Dengarkan aku Oh Luhan." katanya mencium gemas bibir Luhan sebelum melanjutkan hal yang ingin ia sampaikan. "Aku tidak peduli dengan apa yang orang-orang katakan padaku. Mereka hanya mengatakan apa yang mereka lihat. Jadi wajar jika Chanyeol mengatakan aku pembunuh. Karena menurutnya aku memang pembunuh."

"Sehun.."

"Banyak orang yang menghakimiku lebih dari Chanyeol dan aku tidak mempedulikannya. Selama bukan kau yang mengatakannya aku tidak peduli. Karena jika kau menghakimiku sama seperti mereka-…Aku hancur. Aku bahkan-.."

Grep…!

Kali ini Sehun yang merasa begitu tenang karena tubuh mungil Luhan memeluknya erat. Sedari tadi dirinya cukup hancur menjabarkan bagaimana dia bisa bertahan hidup dengan seluruh makian dan ucapan yang ditujukan padanya. Dia bahkan nyaris meneteskan air mata jika Luhan tak menghentikan ucapannya yang semakin lama semakin terdengar menyedihkan untuk didengar.

"Jangan berbicara lagi Sehunna. Aku sudah mengerti-…Selama bukan aku yang mengatakannya kau akan baik-baik saja. Jadi aku tidak akan mengatakan apapun agar kau bisa hidup dengan baik. Aku menjagamu sayang. Aku menjagamu Sehunna." Katanya memberitahu Sehun dan mulai berjinjit menciumi seluruh wajah tampan suaminya. Membuat Sehun merasa begitu bahagia dan bersumpah akan melakukan apapun untuk membuat Luhan terus berada di sampingnya.

"Kau memang harus menjagaku dokter Oh. Aku kesakitan tanpamu."

Luhan memicingkan matanya sekilas sebelum tertawa dan kembali menghambur ke dekapan Sehun. Melingkarkan tangannya erat di pinggang kokoh suaminya sebelum bersandar nyaman di dada bidang kesukaannya "Aku akan menjagamu dengan baik Tuan Oh-…Aku benar-benar akan menjagamu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Hey..."

Pria berlesung pipi yang tengah berdiri di atap rumah sakit hanya menoleh melihat putra pemilik rumah sakit tempatnya bekerja sedang berjalan menghampirinya. Membuat hanya senyuman kecil yang ia keluarkan sebelum kembali melihat pemandang di langit atau melihat kerumunan orang yang terlihat kecil di bawah dari atas sini.

"Ada apa?"

Baekhyun sedikit terdiam saat Chanyeol bertanya padanya. Melirik sekilas pria yang sampai hari ini masih ia kagumi sebelum ikut memandang kosong ke depan "Aku mendengar pertengkaranmu dengan Kyungsoo dan Luhan pagi ini."

Suara kekehan terdengar dari bibir Chanyeol, tertawa walau sebenarnya hatinya masih sangat marah mengingat apapun yang terjadi pagi ini "Jika kau hanya ingin menyalahkan diriku. Sebaiknya kau pergi-… Kau tidak mengetahui apapun tentang aku, Luhan maupun Kyungsoo."

"Aku memang tidak tahu masa lalu apa yang begitu membuat kalian terluka seperti saat ini. Yang aku tahu-… jika kau terus bersikap seperti ini, kau akan kehilangan Luhan dan Kyungsoo selamanya."

Deg…!

Hati Chanyeol meremat sakit mendengar ucapan Baekhyun. Bagaimana bisa dia mengatakan hal mengerikan seperti itu tanpa berpikir lebih dulu. Dirinya memang tidak menyukai semua hubungan yang berkaitan dengan Sehun, tapi apakah dia harus kehilangan Kyungsoo dan Luhan. Apakah itu harga yang pantas setelah semua yang telah ia lakukan. "AKU BILANG JANGAN IKUT CAMPUR!"

Baekhyun sedikit tertegun saat Chanyeol berteriak padanya. Sungguh dia tidak bermaksud berkata kasar seperti itu pada Chanyeol. Tapi sampai kapan pria yang ia cintai itu akan bersikap egois dan arogan mengatur kehidupan Luhan? Harus berapa banyak rasa sakit yang Chanyeol rasakan karena sikapnya? Entahlah….Hanya Chanyeol yang tahu kapan semua kebodohannya akan berakhir.

"Aku tidak ikut campur dokter Park. Aku hanya mengatakan apa yang harus aku katakan. Kau tidak bisa mengusik hubungan seseorang hanya karena kau ingin. Karena jika kau terus seperti itu. Kau akan kehilangan segalanya."

Chanyeol menatap marah pada Baekhyun. Entah apa yang ada di pikiran Baekhyun saat ini. tapi yang jelas ini mengganggu dan Chanyeol sama sekali tak menyukainya.

Baekhyun sendiri menyadari tatapan marah itu-.. Tatapan yang biasa Chanyeol berikan padanya jika dia mulai mengganggu seluruh aktivitas Chanyeol. Membuatnya berfikir untuk mengalihkan pembicaraan dengan merogoh saku jas dokternya dan mengambil sesuatu dari dalamnya "Ah-…sebenarnya tujuanku datang kesini karena ingin mengembalikan ini padamu.-..Id Card mu terjatuh di kamar Kyungsoo." Katanya berusaha tersenyum pilu mengembalikan id card Chanyeol. Menahan suara gemetarnya sampai Chanyeol mengambil id card dari tangannya.

"Aku akan melakukan operasi penting pada putri Professor Kang. Doakan aku agar semuanya berjalan lancar. Jika tidak-.. Mungkin hari ini hari terakhirku menjadi dokter." Katanya membungkuk berpamitan pada Chanyeol. Sedikit tersenyum dipaksakan sebelum kembali berjalan meninggalkan Chanyeol seorang diri saat ini.

Chanyeol ingin sekali bertanya apa maksud ucapan Baekhyun. Namun suaranya seolah tertahan di kerongkongan karena menyesal berteriak pada pria yang begitu sabar padanya. Dia tahu Baekhyun hampir tidak pernah menunjukkan sisi terpuruk dirinya. Bahkan disaat dirinya sedang ragu seperti ini-… Punggung kecilnya tetap terlihat tegap walau jelas ada sesuatu yang ia sembunyikan.

.

.

.

.

.

.

.

.

Beberapa jam kemudian….

"DOKTER OH!"

"Kita bicara pada keluarganya setelah pasien dipindahkan ke ruang perawatan."

"Baik dokter Oh saya permisi."

"hmm.. Beristirahatlah."

Luhan baru selesai melakukan operasi setelah hampir lima jam berada di dalam ruang operasi. Harusnya dia segera menuju ruang istirahatnya untuk sekedar merenggangkan badan atau mengajak Sehun makan siang bersama kalau saja perawat senior yang biasa menjadi asisten Baekhyun menjalani operasi tak berjalan mendatanginya. Membuatnya sedikit menoleh dan bertanya-tanya mengapa perawat Lee terlihat panik dengan wajah pucatnya.

"Ada apa?"

"Dokter Oh-… Dokter Byun sedang dalam masalah serius."

Gerakan Luhan yang sedang memakai jas putihnya langsung terhenti saat mendengar nada ketakutan dari perawat Lee dengan nama Baekhyun disebut sedang berada dalam masalah. Membuat rasa cemas seketika menghinggapinya mengingat satu minggu ini sahabatnya memang bertingkah sangat aneh. " A-apa yang terjadi?"

"Professor Kang sedang menuntut dokter Byun atas kelalaian yang terjadi selama operasi putrinya berlangsung-… Dokter Oh, sebaiknya anda ikut dengan saya."

Luhan berlari mengekori perawat senior di rumah sakit tempatnya bekerja. Sedikit berharap jika sahabatnya baik-baik saja sampai dia mendengar dan melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Baekhyun jauh dari kata baik.

"KAU HAMPIR MEMBUNUH PUTRIKU! APA KAU SADAR KESALAHAN YANG KAU BUAT!"

"Itu bukan kesalahan Professor Kang. Aku melakukannya sesuai prosedur."

"PROSEDUR KAU BILANG?! KAU HAMPIR KEHILANGAN PUTRIKU DENGAN PROSEDURMU YANG SANGAT AMATIR ! BAGAIMANA BISA KAU MENYEBUT DIRIMU SEBAGAI SPESIALIS ANAK JIKA KAU MEMPERLAKUKAN SEORANG ANAK SEPERTI BONEKA. KAU HAMPIR MEMBUNUH PUTRI-…."

"AKU TIDAK!"

Suasana seketika menjadi tegang saat Baekhyun berteriak pada orang nomor dua yang berpengaruh di rumah sakit. Membuat beberapa karyawan serta pasien yang melihatnya tampak berbisik menebak apapun yang terjadi selanjutnya adalah hal yang tidak menguntungkan untuk Baekhyun.

"Apa yang sedang terjadi sebenarnya?"

Luhan sedikit menyenggol lengan perawat Lee. Bertanya tentang sesuatu yang menurutnya ganjil dan sama sekali tidak masuk akal melihat orang nomor dua di rumah sakit menyalahkan putra kandung orang nomor satu di rumah sakit tempatnya bekerja. Luhan tahu akan sia-sia jika dia bertanya selain pada Baekhyun. Tapi yang terjadi selanjutnya cukup membuatnya terkejut karena mendengar apa yang dikatakan perawat Lee padanya.

"Belakangan ini beredar isu tentang rencana pemecatan Direktur Byun sebagai pemilik rumah sakit. Entah apa yang sedang terjadi-.. Tapi sepertinya Professor Kang sedang menyerang seluruh dokter ataupun staff yang memiliki hubungan dengan Direktur Byun."

"Darimana kau mendengarnya?"

"Berita itu sudah beredar hampir satu bulan ini dokter Oh." katanya melihat sekilas pada Luhan sebelum kembali fokus melihat Baekhyun yang mulai terpancing emosinya "Benarkah?"

"hmm… Dan belum lama ini dokter Kim menjadi sasaran Professor Kang. Apa kau tidak tahu jika dokter Kim sedang dalam masa pengawasan?"

"Kim Junmyeon?"

"Ya dokter Oh. Dokter Kim sedang-…"

"APA KAU MENGANGGAP DIRIMU HEBAT? HANYA KARENA KAU PUTRA PEMILIK RUMAH SAKIT INI BUKAN BERARTI KAU BISA MELAKUKAN APAPUN YANG KAU MAU. APA KAU DENGAR?!"

"oh ayolah… Ini sudah keterlaluan!"

Luhan mulai berjalan mendekat ke arah Baekhyun. Berusaha untuk berdiri di samping sahabatnya walau dia tahu berada disana berarti melibatkan dirinya dalam masalah.

"Aku tahu kau berharap aku gagal melakukan operasi pada putrimu. Jangan sungkan mengatakannya professor."

"Apa maksudmu?"

"Maksudku?-..Kau tahu maksudku. Kau marah karena tak bisa menemukan kesalahanku. Kau sengaja memaksakan putrimu melakukan operasi dalam keadaan kritis hanya karena mengira aku gagal. Tapi ternyata aku bisa-… Dan kau terlihat tidak senang. Kenapa?-.. Apa kau tidak senang melihat putrimu sehat? Apa kau-.."

"CUKUP!"

Baekhyun sudah memejamkan matanya saat tangan professor Kang hendak menampar wajahnya. Namun yang dia rasakan hanya hembusan angin yang melewati dirinya dan memaksa kakinya mundur beberapa langkah karena seseorang berdiri di depannya.

"Aku rasa kau sudah keterlaluan professor Kang."

Baekhyun mengenal suara yang tengah mendesis di depannya. Suara khas dengan nada berat yang selalu ia sukai. Matanya pun tergoda membuka secara perlahan dan begitu panik melihat Chanyeol tengah berdiri di depannya dengan tangan yang mencengkram erat tangan professor Kang yang hendak menampar Baekhyun.

"Dokter Park."

Baekhyun langsung bereaksi mengguncang tubuh Chanyeol agar melepas cengkramannya. Dia tidak ingin situasi menjadi semakin rumit untuk Chanyeol. Tapi lihat apa yang dilakukan dokter spesialis bedah di depannya. Dia menantang orang nomor dua di rumah sakit tempatnya bekerja tanpa sedikitpun rasa takut.

"Kita melihat dengan jelas bahwa dokter Byun melakukan prosedurnya dengan benar. Kau dan aku ada disana-.. Jadi berhenti mencari kesalahan dokter Byun karena dia tidak melakukan kesalahan dalam operasi yang ia lakukan."

"ck! Lepas dokter Park."

Dengan senang hati Chanyeol menghempas kasar tangan professor Kang. Dia bahkan sempat melirik ke arah Baekhyun untuk memastikan Baekhyun sama sekali tidak terluka walau hanya tatapan cemas yang ia terima.

"Aku rasa kau juga sudah melewati batasmu sebagai dokter spesialis dokter Park."

"Benarkah? Kalau begitu aku tanya satu hal padamu Professor Kang. Sebutkan satu saja kesalahan yang dilakukan dokter Byun saat melakukan operasi pada putrimu?"

"KAU!"

"Kenapa? Kau tidak bisa mengatakannya karena dokter Byun memang tidak melakukan satu kesalahan pun di dalam sana. Dokter Byun-…"

"Dia membuat putriku mengalami pendarahan di Bronkusnya."

Chanyeol terdiam sesaat. Sama sekali tak menyangka professor yang selama ini ia kagumi adalah orang yang begitu menyeramkan bahkan tak berperasaan mencari seluruh kesalahan kecil hanya untuk menghancurkan seseorang "Kau bilang itu pendarahan?"

"YA-.. Kita semua itu tahu itu pendarahan!"

"Aku menyebutnya pembersihan total."

"Chanyeol.."

Luhan bahkan berhenti di tempatnya saat ini. Dengan tangan terlipat dia sedikit tersenyum bangga melihat Chanyeolnya berada disana untuk sahabatnya. Luhan tahu ini akan mempengaruhi karir Chanyeol. Tapi melihat bagaimana dia membela Baekhyun disana adalah hal jarang yang nyaris tak pernah Luhan lihat. Membuatnya sedikit berjanji apapun yang terjadi disana nantinya-… Luhan akan selalu berada untuk Chanyeol maupun Baekhyun.

"Dan aku juga berani bertaruh kalau kau tahu itu adalah pembersihan total. Putrimu mengidap penumonia akut disertai radang pada bronkusnya yang hebat. Kita bahkan tidak boleh melakukan operasi secepat ini mengingat terapi yang ia jalani belum sempurna-… Tapi kenyataan yang terjadi adalah kau memaksakan jadwal operasi yang begitu mendesak. Lalu aku tanya-.. Apakah kau pikir mudah untuk mengoperasi seseorang dengan pneumonia akut tanpa pembersihan total?-.. Jawabannya tidak Professor Kang."

"Dokter Park…"

Chanyeol kembali menghiraukan panggilan Baekhyun. Mendadak begitu tertarik dengan perdebatan tak bersalah yang diajukan Professor Kang untuk pria yang kurang dari lima jam lalu datang untuk menghiburnya.

"Jika kita tidak melakukan pembersihan total pada bronkus pasien. Kemungkinan besar suplai oksigen ke otak akan berkurang. Dan jika kita terus melanjutkannya maka jelas pasien akan mengidap meningitis awal karena bakteri yang terbawa hingga ke otak, jadi katakan padaku bagaimana bisa itu disebut pendarahan. Itu adalah pembersihan total untuk meningkatkan suplai oksigen ke otak."

Professor Kang dibuat diam tak bisa berkata. Chanyeol secara tidak langsung memenangkan perdebatan ini. Tapi melihat bagaimana raut marah Professor Kang terlihat. Itu hanya menjadikan masalah semakin besar dan membuatnya mau tak mau terseret pada persoalan yang jelas sedang mengganggu Baekhyun.

"Dan lagi-… Kau tidak bisa memaki dokter Byun di depan seluruh staffnya. Mau bagaimana pun dokter Byun adalah dokter spesialis dengan pengalaman yang luar biasa di bidangnya. Jadi bagaimana bisa seorang spesialis direndahkan di depan residen nya?"

"KAU!-….BERANI-BERANINYA KAU BERBICARA SEPERTI ITU PADAKU! BERANI-…"

"Mencari kesalahan dan mengatakan kesalahan prosedur tanpa alasan dan bukti pada teman sejawat ada pada pasal tiga tentang pelanggaran kode etik seorang dokter."

Chanyeol, Baekhyun dan Professor Kang menoleh mencari asal suara yang kini menginterupsi. Si pemilik suara bahkan menyeringai menatap Professor Kang masih dengan tangan terlipat. Membuat Baekhyun kembali membulatkan matanya saat menyadari tak hanya Chanyeol yang terlibat namun Luhan juga mulai berbicara hal yang membuat kepalanya mendadak sakit karena merasa begitu ketakutan.

"Apa aku perlu menjabarkan prosedur ulang seperti yang dokter Park katakan atau dokter Byun lakukan? Aku bisa menjelaskan secara detail bagaimana kesalahanmu dalam menganalisa prosedur yang dilakukan dokter Byun. Aku bahkan bisa-.."

"DOKTER OH!"

Luhan bahkan menyeringai saat berhasil memancing kemarahan pria tua di depannya. Dan tanpa rasa takut sedikitpun dia mulai berjalan mendekati tempat dimana Baekhyun berada "Maaf ikut campur masalahmu professor. Tapi jika kau tidak keberatan, aku juga bisa memastikan kalau putrimu baik-baik saja. Atau kau mau aku melihat record prosedur operasi yang dilakukan dokter Byun? Aku dengan senang hati melakukan apapun untukmu-… Hanya berhenti mencari kesalahan dokter Byun. Aku yakin dia tidak melakukan miss selama prosedur yang ia lakukan."

"Aku akan melakukan hal yang sama." Timpal Chanyeol membuat wajah professor Kang semakin memerah karena marah dan tak tahan dengan serangan dadakan untuknya. Membuat orang nomor dua di rumah sakit itu menatap geram baik pada Luhan maupun Chanyeol untuk menunjukkan pada keduanya dengan siapa mereka berhadapan.

"Kalian tidak akan lolos dari masalah ini. Tunggu hukuman apa yang pantas kalian terima!"

"Aku siap."

"Aku juga."

"brengsek!"

Professor Kang diam-diam menggeram saat melihat bagaimana Chanyeol dan Luhan begitu kompak melawannya. Dan dengan deruan nafas hebat, orang nomor dua itu kalah oleh dua orang spesialis di tempatnya memimipin rumah sakit. Membuatnya kalah dengan memalukan dan pergi meninggalkan kerumunan dengan harga diri yang begitu terinjak. "Aku akan memberi pelajaran pada kalian!"

Kalimat itu terdengar menuntut dan penuh kebencian. Membuat baik Luhan maupun Chanyeol lebih dari siap menerima segala resiko yang akan mereka dapatkan. Mereka bahkan tidak peduli jika pada akhirnya mereka di tendang dari rumah sakit yang telah membesarkan nama mereka.

"Kau masih Chanyeol." Gumam Luhan memeluk sekilas pria yang baru saja bertengkar dengannya pagi tadi namun sudah begitu kompak dengannya siang ini. Hatinya bahkan memekik bahagia karena setidaknya Chanyeol mulai belajar untuk peduli pada Baekhyun.

"Dan kau masih Luhan." timpalnya mengusak rambut Luhan sekilas. Tak menyangka bahwa keputusannya untuk datang menolong Baekhyun menjadi begitu berbalik untuk hubungannya dan Luhan yang pagi tadi merenggang. Dia bahkan diam-diam berjanji akan berterimakasih pada Baekhyun sebelum

"Apa yang kalian berdua coba lakukan?"

Luhan dan Chanyeol pun menoleh ke arah Baekhyun. Sedikit bertanya mengapa Baekhyun terlihat marah dengan wajahnya yang memucat disertai suaranya yang terlampau bergetar

"Baek?"

"APA YANG KALIAN LAKUKAN HAH?"

"Baekie… kenapa berteriak?"

Luhan berjalan mendekati sahabatnya. Berusaha untuk memeluk Baekhyun namun gagal karena Baekhyun berjalan mundur untuk menghindar dan menatapnya penuh kemarahan "Kau tahu kau berhadapan dengan siapa Lu?-… DIA MONSTER YANG BISA MENGHANCURKAN KALIAN BERDUA HANYA DENGAN KEDIPAN MATA. JADI KENAPA KALIAN BERTINDAK GILA UNTUK MEMBUATNYA MARAH?"

Kali ini Chanyeol yang bereaksi. Entah mengapa ada nada tak suka saat Baekhyun berteriak menyalahkan tindakannya dan Luhan –hell- dia tidak mengharapkan posisinya aman setelah ini. Tapi bukankah harusnya Baekhyun berterimakasih? Bukan berteriak marah seperti ini padanya dan Luhan.

"Kau pikir aku akan diam saja melihatmu direndahkan?"

"YA!-.. KAU HARUSNYA HANYA DIAM DAN TAK MENGATAKAN APAPUN! BAGAIMANA BISA KAU MENGHINANYA DI DEPAN BANYAK ORANG SEPERTI INI? APA KALIAN SUDAH GILA? APA KALIAN TIDAK BERPIKIR LEBIH JAUH? APA KALIAN-.."

"BAEKHYUN!"

Jika satu-satunya cara memenangkan suara yang berteriak dengan berteriak –maka Chanyeol melakukannya dengan benar- dia ikut berteriak begitu marah dan terluka dengan seluruh tuduhan yang dilontarkan Baekhyun. Bahkan daripada ucapan Professor Kang, dia lebih merasa sakit hati pada ucapan emosi yang sedang dikeluarkan pria manis yang selalu tersenyum padanya.

Sementara Baekhyun dan Chanyeol saling berteriak. Maka Luhan kembali dalam posisi yang serba salah, dia tahu Chanyeol bukan tipe yang bisa bersabar. Sama dengan Baekhyun yang sama sekali tak bisa bersabar jika dirinya di ganggu. Membuat seluruh suasana menjadi tegang karena tatapan tajam yang saling dilemparkan Baekhyun dan Chanyeol saat ini "Baekhyun…"

Luhan mulai memanggil sahabatnya dengan suara parau khas miliknya. Membuat Baekhyun yang sedang menatap tajam Chanyeol terpaksa berkedip dan kini melihat menyesal ke arah Luhan "Maaf Lu. Aku hanya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirimu dan Chanyeol."

"Kami akan baik-baik saja."

"Kalian tidak akan baik selama monster itu mengincar ayahku, dia akan mencari seluruh kesalahan ayahku dan kali ini akan ditujukan pada dua spesialis paling berpengaruh di rumah sakit ini."

"Kami tidak peduli."

"AKU PEDULI-…"

Baekhyun kembali berteriak marah saat ini. Meninggalkan Luhan dan Chanyeol begitu saja tanpa kembali menoleh. Keduanya pun saling memandang saat ini. Tak mengerti kesalahan apa yang mereka buat hingga membuat Baekhyun begitu marah.

"Yeol…."

Chanyeol yang masih menatap punggung Baekhyun menjauh hanya melihat Luhan sekilas sebelum memastikan kalau Baekhyun benar telah pergi menjauh saat ini "Ada apa?"

"Apa Baekhyun baru saja berteriak padaku?"

Chanyeol tertawa sekilas sebelum berjalan mendekati Luhan "Ya. Dan berhenti memasang wajah bodoh itu. Cepat kejar sahabatmu dan cari tahu apa yang membuatnya tersinggung." Katanya mengusak rambut Luhan sebelum ikut berjalan menjauh.

"Baiklah…Aku akan mengikuti kemanapun Baekhyun pergi hari ini."

Luhan bergumam kecil pada dirinya sendiri. Mengabaikan seluruh tatapan bertanya para staff rumah sakit dengan berjalan tak menoleh agar tak ada pertanyaan yang harus ia jawab.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam hari…

"Anda mau tambah minuman anda?"

Yang ditanya terus melamun memandang kosong ke depan. Barulah saat pelayan club mendekatinya dia sedikit terkesiap dan mulai menganggukan kepalanya yang mulai terasa berat karena minuman beralkohol yang terus ia minum hampir setengah jam lamanya "Ya."

"Baiklah tuan."

Byun Baekhyun –pria yang kembali memesan minuman- hanya mengangguk saat pelayan club malam tempatnya minum kembali menuangkan minuman beralkoholnya. Sedikit mengerling berterimakasih sebelum menenggak habis minumannya dalam satu kali teguk

"sshhh.."

Rasa pahit yang begitu panas mengoyak kerongkongannya. Dia bahkan harus memejamkan mata untuk menetralisir rasa panasnya sebelum merasa seseorang menarik kursi disampingnya

"Aku juga pesan satu-..Yang sama sepertinya."

Baekhyun membuka matanya dengan cepat. Segera menoleh dan menatap tak berkedip pria cantik yang sudah berstatus sebagai istri seorang mafia tengah menatapnya tersenyum, senyumnya bahkan menunjukkan sederetan gigi putihnya, membuat Baekhyun mau tak mau terkekeh menyadari bahwa sahabatnya memang akan melakukan apa saja untuk terus mengganggunya. Khususnya hari ini.

"Kau disini?"

Pria yang berada disampingnya hanya berpura-pura tak mendengar ucapan Baekhyun. Menggoyangkan kepalanya mendengar musik club dan terus mengabaikan pertanyaan dari dirinya. Baekhyun bahkan harus kembali terkekeh melihat betapa konyolnya pria yang dikenal dengan tangan dinginnya di ruang operasi.

"Lu.."

"ah-.. Kau bicara padaku."

"ish…!"

Luhan menghindar dari pukulan Baekhyun. Menatap mendelik pada sahabatnya sebelum tertawa kencang merangkul bahu sahabatnya "Aku mengikutimu."

"Dasar penguntit!"

"Aku mengkhawatirkanmu baek…"

Kini Baekhyun yang mendelik menatap sahabatnya. Sedikit menatap mencurigai Luhan sebelum membalas rangkulan sahabatnya "Aku baik Luhannie." Katanya menarik hidung Luhan dengan kencang dan mulai mengusak kasar seluruh wajah sahabatnya.

"Kau baik tapi berteriak padaku!"

Luhan menggeliat dan menghindar dari usakan Baekhyun. Sedikit menginterograsi sahabatnya yang terlihat memucat saat ini. "Aku memiliki alasan Lu."

"Dan aku memiliki banyak waktu untuk mendengarkan." Katanya memberitahu Baekhyun sebelum

Glup…!

Luhan meneguk cepat gelas alkoholnya sebelum meringis karena rasa pahit dan terbakar yang kini kerongkongannya rasakan. "Sehun bisa memarahimu jika tahu kau minum."

"sstt.. Jangan bawa nama suamiku. Dia akan membakar club ini jika dia tahu aku kesini."

"Dasar kau ini!"

"Katakan apa yang terjadi Baek?"

Luhan kembali bertanya serius menatap sahabatnya. Sedikit menatap wajah sendu Baekhyun yang ditutupi dengan wajah ceria yang ia miliki. Baekhyun bahkan berusaha mengelak menatap Luhan dan berakhir dengan kembali menenggak minumannya.

"Mereka sedang memeriksa ayahku dan seluruh staff yang berhubungan dengan ayahku. Belum lama ini mereka membawa Junmyeon hyung dan tak lama mereka pasti akan membawa diriku."

"Mereka?"

"Tim audit dan investigasi yang diminta datang untuk menyelidiki kasus ayahku."

"Kenapa ayahmu harus diselidiki?"

"Mereka mengatakan ayahku melakukan penggelapan dana untuk membangun tempat hiburan di sejumlah tempat."

"Dan kau percaya?"

Baekhyun menoleh sekilas sebelum tersenyum lirih kembali menatap kosong ke depan "Entahlah. Beberapa minggu ini aku seperti tidak mengenal ayahku. Aku selalu bertanya ada apa dan dia terus berteriak marah padaku. Jadi menurutmu apa yang harus aku lakukan?"

Kali ini Luhan yang tersenyum lirih. Sedikit mengangkat bahunya dan mulai kembali menenggak minumannya "Aku tidak memiliki orang tua. Jadi aku tidak bisa menebak tindakan yang ayahmu lakukan semata-mata untuk melindungimu atau menutupi kesalahannya. Tapi Sehun selalu berteriak marah jika aku mulai terlibat pada urusannya. Dia selalu mengatakan takut aku terluka. Dan caranya melindungiku adalah dengan berteriak dan menjauhiku."

Semua sikap yang Sehun lakukan adalah hal yang sama dengan yang ayahnya lakukan. Membuat Baekhyun melihat Luhan dan mulai bertanya-tanya apakah benar ayahnya bersikap seperti orang asing hanya untuk melindunginya.

"Apakah bisa disamakan?"

"Seseorang melindungi orang yang mereka cintai dengan segala cara. Dan aku-.. Aku selalu merasa iri melihat hubunganmu dengan ayahmu. Kalian adalah contoh dari sedikit banyak keharmonisan keluarga yang ingin aku jadikan contoh. Jadi aku berani bertaruh ayahmu hanya berusaha melindungi hidupnya-... dirimu."

Baekhyun kembali bereaksi tak wajar. Hatinya begitu sesak dengan rasa panas di matanya. Mengingat bagaimana ia bersikap jahat pada ayahnya adalah hal yang begitu membuatnya bersalah saat ini.

"Benarkah? Kenapa aku tidak menyadarinya? Aku hanya sibuk membenci ayahku Lu."

"Aku melakukan hal yang sama saat Sehun melakukan cara bodoh melindungiku. Hanya sibuk membencinya dan tak menyadari kalau daripa diriku, dirinya lebih –tidak- sangat terluka."

Keduanya saling menatap cukup lama. Melemparkan penyesalan masing-masing sampai akhirnya mereka tertawa dengan kebodohan yang jelas mereka lakukan. "Harusnya kau menikah denganku bukan dengan Sehun. Dasar keras kepala!"

"Kemudian kita hanya akan bercerai karena aku pasti berselingkuh dengan Sehun!"

"Dasar kau!"

Luhan mengelak dari pukulan Baekhyun. Sedikit tertawa sebelum menatap serius sahabatnya "Jangan terlalu memikirkannya. Semua akan baik-baik saja."

"Awalnya semua memang baik. Tapi saat kau dan Chanyeol ikut campur. Aku rasa semua tidak akan baik."

"Kenapa?"

"Beruntung jika hanya surat peringatan yang kalian terima. Kemungkinan paling buruk kalian dikeluarkan."

"Kami memulai masalah yang sudah kami ketahui resikonya, jadi aku rasa tidak masalah."

Baekhyun menenggak cepat minumannya. Sedikit tertawa sebelum menatap gusar pada Luhan "Kalian memulainya dari nol Luhan!"

"Kau juga!"

"Aku tidak-... Aku menjadi dokter karena ayahku."

"Aku bahkan baru mengetahui kau anak seorang professor di tahun terakhir kita kuliah. Jadi bagaimana bisa kau menjadi dokter karena ayahmu?"

"Lu... Kau tidak mengerti."

"Apa yang tidak aku mengerti?"

"Kita bertiga mungkin akan dikeluarkan."

"Hey Baek... Apa kau ingat keinginan kita bertiga saat menjadi residen?l

"Hmm tentu saja aku ingat."

"Katakan bersama."

Baekhyun tertawa kecil melihat semangat Luhan yang entah mengapa bersemangat mengingatkannya pada janji mereka. Membuat mau tak mau semangat yang dulu pernah mereka ucapkan sebagai residen tingkat akhir teringat kembali.

"Suatu saat nanti aku Byun Baekhyun..."

"Dan aku Luhan-... Kami akan membangun pengobatan bersama untuk orang tua dan anak-anak. Bersumpah akan melakukan pelayanan terbaik dengan meminimkan rasa sakit agar tidak perlu ada tangisan dan rasa ketakutan dari kerabat yang menemani."

"Aku akan menikah dengan seseorang yang membuat hatiku menggila."

"Dan aku akan menjaga suamiku yang selalu membuatku gila." Timpal Luhan menjawab permintaan Baekhyun. Keduanya kembali salin menatap sampai

Hahahhahahaha

Suara gelak tawa mengingat bagaimana janji yang pernah mereka ucapkan terasa seperti flashback yang begitu indah bagi keduanya. Untuk Luhan-... Keinginannya menikah jelas tak perlu disebutkan lagi. Dia sudah menemukan belahan jiwanya, nafas dan hidupnya. Berbanding terbalik dengan Baekhyun yang masih terus mencari seseorang yang tulus mencintainya.

"Jika kemungkinan terburuk aku, kau dan Chanyeol dikeluarkan. Maka hal baik yang terjadi adalah kita dokter yang tidak terikat dengan instansi. Bukankah itu berita baik untuk kita?"

"Kau benar."

"Jadi jangan dipikirkan. Hanya hadapi yang harus kau selesaikan. Selebihnya tetap menjadi Baekhyunku. Oke?"

Baekhyun mencibir mendengar ucapan Luhan. Sedikit menyandarkan kepalanya di pundak Luhan sebelum mengangguk menyetujui "Oke."

"Ish! Jangan menjawab seperti itu. Kau harus semangat!"

"Aku harus bagaimana?"

"Ummhh... Bagaimana kalau kita minum sepuasnya?"

"Jika mabuk?"

"Jangan pikirkan itu! Pasti ada seseorang yang akan menolong kita-..Seperti dulu."

Seperti dulu yang dimaksud adalah saat mereka duduk di tahun pertama mereka sebagai residen. Begitu banyak cacian yang mereka terima hanya karena menolak mengikuti prosedur yang salah. Baekhyun, Luhan maupun Chanyeol hampir tidak bisa menerima gelar spesialis mereka hanya karena kemampuan mereka yang hampir setara dengan senior mereka. Dicaci, diremehkan dan tak dianggap adalah hal-hal yang membuat mereka sering pergi ke club malam untuk menenangkan pikiran. Dan hasilnya?-….Mereka selalu terbangun di tempat asing entah dimana. Membuat Baekhyun dengan segera mengangkat wajahnya. Dan setelah mengerling Luhan dia pun mulai mengambil gelasnya "Seperti dulu!" Katanya mengangkat gelas miliknya sebelum

Glup...

Tegukan pertama Baekhyun memulainya tanpa Luhan. Membuat Luhan mencibir kesal dan tak mau kalah dengan segera menuangkan minumannya ke dalam gelas "Kau akan kalah dariku." Katanya mengangkat gelas dan

Glup..

Luhan juga memulai tegukan pertamanya. Sedikit membiasakan diri dengan rasa panas dan pahit di kerongkongannya sebelum tertawa dengan Baekhyun yang mengikutinya "Tambah lagi!"

Baekhyun mulai menuangkan minuman kedalam gelasnya dan gelas Luhan. Keduanya sudah bersiap bersulang sebelum

Drrrt... Drrrt...

Perhatian keduanya sedikit teralihkan saat ponsel Luhan bergetar. Luhan sendiri bergegas mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja sebelum mendapati nama Baby Soo tertera di layar ponselnya "Siapa?"

Luhan menoleh sekilas menjawab sahabatnya "Kyungsoo.."

"Bukankah dia masih di rumah sakit?"

"Dia sudah diperbolehkan pulang dan sedang berada di apartemenku saat ini-..tunggu sebentar."

Baekhyun kembali menenggak minumannya saat Luhan menjawab panggilan Kyungsoo. Berniat mencuri dengar percakapan Luhan dan Kyungsoo namun harus berakhir menyerah mengingat rasa sakit kepalanya disertai dengan suara musik yang terlampau kencang dan kuat.

Luhan sendiri harus menutup satu telinganya untuk menjawab panggilan Kyungsoo. Sedikit memainkan tangannya di botol minuman dan berusaha fokus menjawab panggilan adiknya.

"Soo?"

"hyung?"

"DISINI BERISIK SEKALI SOO. ADA APA MEMANNGILKU?"

"HYUNG KAU DIMANA? KENAPA BERISIK SEKALI?"

"Ah-… Aku sedang minum bersama Baekhyun di club yang terletak tak jauh dari rumah sakit."

"SEDANG APA?"

"AKU SEDANG MINUM BERSAMA BAEKHYUN . AKU AKAN MENGHUBUNGIMU LAGI NANTI. BYE SOO!"

Luhan menaikkan asal bahunya. Kembali meletakkan asal ponselnya sebelum merebut botol minuman yang sedari tadi di pegang oleh Baekhyun "Giliranku!" katanya berujar dengan nada kesal sebelum menenggak cepat minumannya.

"ish! aku juga mau!"

Dan keduanya berniat untuk menjadi Baekhyun dan Luhan yang seperti dulu-…bebas dan tak terikat. Mencoba untuk melupakan masalah yang begitu membelit diri mereka dengan menjadi bebas dan tak mau memikirkan apa yang akan terjadi nantinya.

"cheerssss!"

.

.

.

.

.

.

Jika Luhan dan Baekhyun sedang menikmati minuman mereka. Maka Kyungsoo sedang dibuat cemas dengan keberadaan Luhan yang sedang berniat untuk mabuk. Tangannya bahkan sudah bersiap untuk menghubungi Sehun atau kekasihnya dan meminta salah satu dari mereka menjemput Luhan.

Namun yang terjadi adalah kebalikan dari yang Kyungsoo pikirkan. Jika dia berpikir untuk memberitahu Sehun atau Kai. Maka kenyataan yang sedang terjadi adalah dirinya tengah mencari kunci mobil Luhan dan mulai meninggalkan apartemen kakaknya.

Drrt…drttt..

Kyungsoo yang sedang mengendarai mobil Luhan pun sedikit menoleh ke kursi samping pengemudi, melihat nama Kai memanggilnya adalah hal yang membuatnya ragu untuk mengangkat atau hanya mengabaikan panggilan kekasihnya.

Jika ini berkaitan dengan Luhan-.. Maka harusnya Kyungsoo tidak menjawab panggilan Jongin. Tapi bukankah mereka sepasang kekasih saat ini. membuat helaan nafas terdengar sementara dirinya memasangkan headset dan mulai menggeser panggilan masuk kekasihnya.

"hey sayang. Apa aku mengganggumu?"

"Tidak sayang-.. Kau tidak menggangguku tentu saja."

"benarkah? Aku hanya ingin memastikan kau sudah berbaring di tempat tidur. Apa kau sudah makan dan minum obatmu?"

"Aku sudah melakukan semuanya sayang."

"Bagus. Sekarang cepat tidur dan mimpi indah. Besok aku akan menemuimu."

"Umhh. Baiklah."

"Aku tutup panggilannya. Selamat malam baby soo. Aku mencintaimu."

Pegangan tangan Kyungsoo bahkan melemas di stir kemudinya. Membuat hatinya yang sedang berdebar menjadi semakin berbunga dengan pernyataan cinta dari kekasihnya. Ini bukan kali pertama Kai mengatakan cinta, tapi rasanya selalu berhasil membuatnya terus lemas bahkan rasa lemasnya melebihi saat dia sedang terbaring di rumah sakit.

"Aku juga mencintaimu Kai."

"Sampai bertemu besok soo. Dah."

"KAI!"

Kai mungkin sudah menekan tombol end di ponselnya. Panggilannya dan Kyungsoo juga pasti sudat terputus sebelum suara kekasihnya berteriak memanggil dirinya.

"Ada apa sayang? Kau baik kan?"

"Aku baik. Hanya saja-…"

"Hanya saja apa?"

"Aku sedang dalam perjalanan ke club malam saat ini."

Ckit….!

Kyungsoo bahkan bisa mendengar suara rem dadakan yang diinjak kekasihnya. Membuatnya mau tak mau ikut menepi jika tak ingin gemetar karena merasa bersalah telah membohongi Kai saat ini.

"Kau apa?"

"Aku sedang dalam perjalanan menjemput Luhan hyung di club malam sayang. Aku minta maaf tidak memberitahumu sebelumnya."

"Luhan?"

" dan Baekhyun hyung sedang berada di club. Aku rasa mereka berencana untuk minum sampai mabuk."

"Bukankah Luhan mendapat shit malam hari ini?"

"entahlah. tapi yang jelas dia sedang berada di club saat ini. Hey sayang-.. Aku janji akan segera pulang saat bertemu dengan Luhan hyung. Oke?"

"Soo… biarkan aku yang menjemput Luhan. kau harus beristirahat."

"Aku baik Kai. Aku akan memberitahumu dua puluh menit dari sekarang. Sampai nanti sayang."

"Soo aku-.."

Pip!

Kekasihnya begitu saja mematikan panggilan yang ia berikan. Membuat Kai kembali menyalakan mobilnya dan berputar arah untuk segera menyusul dimana Luhan dan kekasihnya berada.

.

.

Sementara itu…

"Perawat Lee.."

"Ya dokter Park?"

"Panggilkan dokter Byun. Apa dia sibuk?"

Perawat yang merupakan asisten Baekhyun pun menggeleng sebagai jawaban. Membuat entah mengapa hati Chanyeol merasa sangat senang mengetahui keberadaan Baekhyun yang masih berada di rumah sakit.

"Kenapa kau masih disini?"

"umhh…Aku rasa dokter Byun belum kembali."

"huh?"

"Satu jam yang lalu aku datang ke ruangannya. Dan saat aku memberitahu konsultasi pasien yang dijadwalkan dengannya-.. Dokter Byun hanya pergi begitu saja."

"Apa dia mengatakan akan pergi kemana?"

"Aku rasa dokter Byun pergi untuk minum."

"Minum?"

"Aku hanya menebaknya dokter Park. Dia terlihat kacau beberapa saat yang lalu."

Chanyeol bahkan bereaksi terlalu cepat. Dia bisa menebak kemana Baekhyun akan pergi. membuatnya tak berlama-lama untuk tinggal di rumah sakit dan berniat menjemput Baekhyun, Meyakini bahwa Baekhyun menghabiskan waktu di tempat yang ia tebak adalah tempat yang sama saat mereka masih menjadi residen beberapa tahun lalu.

.

.

.

.

.

.

Blam…!

Beberapa menit kemudian Kyungsoo sampai di club malam yang Luhan beritahukan. Berniat untuk segera membawa Luhan pulang sebelum matanya melihat dan sangat mengenali dua sosok yang sudah terkapar di atas meja.

Kyungsoo bahkan tertawa melihat bagaimana Luhan dan Baekhyun tak sadarkan diri. Membuat kakinya berjalan mendekat sebelum langkahnya terlihat melihat beberapa pria tua yang mulai mendekati kedua kakaknya.

"Ternyata benar mereka seorang pria. Cantik sekali."

Yang satu mulai mengusap wajah Baekhyun. Membuat Kyungsoo tertawa tak percaya melihat kemungkinan terburuk jika dirinya tak datang adalah kedua pria tua itu akan mati mengenaskan di tangan Sehun dan dirinya tentu saja.

"Aku akan membawa temannya. Kau bawa dia!"

Tangan Kyungsoo bahkan mengepal erat saat pria tua yang lain mulai memapah tubuh Luhan, membuat deru nafasnya terdengar begitu mengerikan diiringi langkah kaki menuntut yang memastikan bahwa tak ada satupun dari kedua pria itu yang keluar dalam keadaan baik.

"Cepat bawa mereka. aku rasa mereka hanya sendiri. Aku benar-benar tak tahan melihat wajah mereka yang-…"

"LEPAS!"

Suara Kyungsoo terdengar mengalahkan suara musik yang diputar saat ini. membuat kedua orang yang tengah berusaha membawa Luhan dan Baekhyun sedikit terkesiap mengira bahwa Kyungsoo adalah pria bertubuh besar yang menakutkan. Keduanya bahkan tertawa meremehkan saat mengetahui suara yang diteriakan Kyungsoo sangat tidak berbanding dengan ukuran tubuh yang dia miliki. Membuat si pria yang terus memegang Luhan kembali tertawa dengan nada sangat meremehkan.

"Apa mereka temanmu?"

"Mereka kakakku." Katanya semakin mendekat dengan nada luar biasa tenang namun mematikan yang Kyungsoo miliki.

"ah-.. Pantas saja. Kau juga terlihat cantik. Apa kau ingin bergabung?"

"Siapa yang kau bilang cantik?"

"Kau tentu saja!"

"Dan siapa yang ingin bergabung dengan bajingan seperti kalian?"

"cih! Lalu apa tujuanmu datang menghampiri kami jika tidak ingin bergabung?"

"Aku?-…Ah-..Bagaimana kalau aku bilang aku ingin membunuh kalian."

"Ingin apa?" katanya bertanya dengan nada mengejek khas seseorang yang tengah meremehkan.

Kyungsoo sendiri hanya tersenyum menakutkan saat ini. Entah mengapa ada bagian dalam dirinya yang sangat merindukan membunuh dan membuat seseorang terlihat kesakitan. Dan kerinduan itu pula yang tak segan ia sembunyikan. Kyungsoo bahkan mulai meregangkan kedua tangannya sebelum

Arghhh…!

Kyungsoo hanya menggunakan sebagian kecil tenaganya. Namun efek yang terjadi adalah kedua orang yang baru saja meremehkannya harus mengerang kesakitan karena dia menggenggam pergelangan tangan kedua orang tua itu terlampau erat. Bahkan sangat erat sehingga terdengar bunyi patahan yang begitu seimbang dengan cengkraman tangan kanan maupun tangan kirinya.

"Jika kalian tidak pergi dalam hitungan ketiga. Aku bersumpah akan membuat kalian menetap di ICU selama kurang lebih dua bulan. Ah-… Atau kalian tidak akan pernah bangun mengingat dua pria yang sedang tak sadarkan diri di depan kalian adalah seorang dokter. Akan lebih mudah bagi seorang pembunuh dan penyembuh untuk melukai seseorang." Katanya menyeringai kejam sebelum mendorong kasar kedua pria tua yang kini tak bisa berkata apapun.

"Satu….."

"Dua…"

"Ti…."

Dan dalam hitungan belum sampai tiga. Dua pria tua itu tengah berlari terbirit meninggalkan Kyungsoo yang benar-benar puas dengan hasil kerjanya. Dia bahkan berniat berterimakasih pada Luhan dan Baekhyun karena setidaknya sudah memberikan dirinya kesempatan melepas sisi "liar" nya untuk sesaat.

"nghh..tam-hix-tambah lagi baek…"

Suara racauan Luhan terdengar bersamaan dengan suara getaran ponselnya. Membuat Kyungsoo berjalan menghampiri kedua kakaknya dengan berdiri di tengah keduanya sementara ponsel Luhan terus bergetar menampilkan nama "suamiku" di layar ponselnya.

"Ayo kita pulang."

Kyungsoo mengabaikan getaran ponsel Luhan. berniat untuk membawa kedua kakaknya pergi sebelum berakhir kembali terduduk karena baik Luhan maupun Baekhyun-.. Keduanya sengaja memaksanya duduk dan ikut bergabung minum dengan mereka.

"Lu…Aku rasa dia Kyung-hix-Kyungsoo."

Luhan mengangkat wajahnya dan langsung menempelkan dahinya dengan dahi Kyungsoo. Menghembuskan nafas yang sangat berbau alkohol sebelum tertawa menarik hidung Kyungsoo "Kau benar baek. Dia baby-hix-soo ku." Katanya menarik pipi Kyungsoo sebelum kembali tergeletak di mejanya saat ini,

Drtt..drtt..

Kyungsoo masih menikmati tarikan di wajahnya sampai perhatiannya kembali teralihkan karena ponsel Luhan. membuatnya tak berada dalam pilihan lain selain mengangkat panggilan Sehun agar Luhan dan Sehun tak perlu bertengkar esok hari.

"Kyung-hix-Ayo minum! Hyung trak-hix yang bayar!"

Kali ini Baekhyun yang memaksa Kyungsoo untuk minum. Membuat Kyungsoo sedikit kesulitan menghindari dua orang yang sudah sangat mabuk "Ayo minum Kyungie –hix-"

"Iya aku minum. Biarkan aku mengangkat panggilan Sehun terlebih dulu." Katanya mengelak dari cengkraman Baekhyun dan

Sret…!

"Sayang…kenapa kau baru menjawab panggilanku. Apa kau sibuk?"

"…."

"Kenapa hanya diam? Aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit membawa strawberry cheese cake kesukaanmu. Tunggu disana hmm."

"Sehun?"

Sehun terkejut menyadari bukan suara Luhan yang menjawabnya. Membuatnya segera menepikan mobil merasa ingin membunuh siapapun yang berani mengangkat ponsel istrinya.

"Siapa kau?"

"Aku Kyungsoo."

"Kyungsoo?"

"Hmm.."

"Apa Luhan tidak di rumah sakit?"

"Tidak."

"Apa kalian berada di apartemennya?"

"Tidak."

"Lalu dimana kalian-….tunggu. Mengapa suara disana berisik sekali?"

"Luhan mabuk."

"MWO?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Blam…!

Blam…!

Blam..!

Ketiga mobil itu parkir berdekatan di depan club. Ketiga mobil itu pun di tutup kencang oleh pemiliknya. Membuat masing-masing pemilik mobil sedikit terkejut melihat siapa yang berdiri tak jauh dari mereka saat ini.

"Bos/Dokter Park?"

"Kai?"

"Kalian?"

Ketiganya bahkan saling bertatapan dalam diam. Tak ada yang berbicara sampai Sehun mengerti situasi saat ini. Di dalam sana-…. Istrinya tidak mabuk sendirian. Alasan mengapa dirinya harus datang menjemput Luhan di club malam adalah karena istrinya tidak mabuk sendirian melainkan bersama dengan pasangan dari kedua pria yang berdiri di depannya.

Membuat seringai jelas terlihat di wajah Sehun sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam diskotik diikuti oleh Kai dan Chanyeol di belakangnya sampai langkahnya kembali terhenti dan segera menoleh menatap dua pria di belakangnya.

"Jika pasangan kalian membuat istriku mabuk. Aku bersumpah tidak akan berbuat baik pada mereka." katanya memperingatkan sebelum kembali masuk dan mulai mencari keberadaan Luhan.

Ketiganya bahkan sudah mulai berpencar mencari keberadaan pria mereka. Untuk Sehun-… dia bahkan sudah memukul tiga orang yang berani menghalangi jalannya. Membuat beberapa dari mereka harus meringis kesakitan tanpa alasan yang jelas menerima pukulan telak dari Sehun.

"LUHAN!"

Sehun masih berteriak memanggil nama istrinya. Memeriksa hampir seluruh ruangan sampai

"BOS DISINI!"

Kai yang pertama kali menemukan kerumunan. Membuat baik Sehun maupun Chanyeol berlari menghampiri Kai yang terlihat tak berkedip saat ini "Dimana Luhan?"

Kali ini giliran Sehun yang dibuat terdiam. Matanya hanya terfokus pada sosok mungil yang terlihat sangat mempsona walau sedang tak sadarkan diri seperti saat ini. Wajahnya bahkan sudah berubah berwarna merah dengan racauan kecil yang terus ia gumamkan

"Baek-hix- dimana Kyungie."

"Aku disi-hix-disini hyung."

Kali ini Kai yang tersenyum gemas menyadari bahwa kalimat aku akan pulang setelah menjemput Luhan hanya terdengar sebagai lelucon untuknya. Dan bagaimana tidak ia tersenyum gemas jika untuk kali pertamanya selain Luhan-… Dia mengakui bahwa seseorang bisa begitu mempesona bahkan saat dirinya tak sadarkan diri.

"Appa..Mian-hix-mianhae appa."

Berbeda dengan Luhan dan Kyungsoo yang meracau banyak hal. Untuk Chanyeol-.. Racauan Baekhyun terdengar sangat memilukan. Ini bahkan pertama kalinya dia melihat Baekhyun terlihat sangat menyedihkan dan begitu kehilangan arah. Senyum yang biasa terlihat di wajah cerianya hilang entah kemana digantikan dengan kesedihan yang jelas terlihat. Membuat matanya tak bisa berkedip selain melihat Baekhyun sebelum tubuh Sehun menghalangi penglihatannya.

"Apa yang kau lakukan?"

"Menjual istriku!." Katanya yang mulai memanggul Luhan seperti memanggul beras sebelum melewati Kai dan Chanyeol yang hanya memperhatikan kemana Sehun membawa Luhan malam ini.

"Hey…Apa Luhan akan baik-baik saja?"

"Daripada Luhan yang berteriak, Sehun lebih takut menghadapi Luhan yang mabuk. Jadi jangan khawatirkan Luhan. cepat bawa dokter Byun pergi." katanya memberitahu Chanyeol dengan Kyungsoo yang sudah berada di gendongannya. "Aku pergi."

Dan tak lama Kai berpamitan tinggalah Chanyeol berdua dengan Baekhyun disana. Suasana canggung jelas terasa bahkan disaat Baekhyun tak sadarkan diri seperti ini. Chanyeol merasa ada yang aneh pada dirinya. Dia tahu Baekhyun sangat memukau tapi dia tidak pernah tahu rasanya berdebar saat melihat seseorang adalah seperti saat ini tangannya gemetar dengan wajah yang begitu berkeringat. Dia bahkan tak henti-hentinya mengagumi wajah cantik Baekhyun, membuat lesung pipi jelas terlihat saat Chanyeol tersenyum memandang Baekhyun.

"appa…"

Chanyeol melihat air mata Baekhyun membasahi pipinya. Dan secara naluriah dia berjalan mendekati Baekhyun dan membawa teman semasa kuliahnya itu berada di dekapannya "appa.."

"Ssst…Jangan menangis Baek. Kau baik-baik saja."

Ucapan Chanyeol adalah sebuah mantra untuk Baekhyun. Karena saat Chanyeol mengatakan untuk tidak menangis. Maka secara naluriah pun Baekhyun mulai mengikuti suara yang terdengar di kepalanya. Dia bahkan mulai bisa memejamkan mata dan benar-benar tertidur dengan Chanyeol yang terus mendekapnya.

"Aku bersamamu. Tidurlah baekhyunna." Katanya mulai menggendong Baekhyun dan meninggalkan club berniat untuk membawa Baekhyun pulang agar pria cantik di depannya bisa segera beristirahat.

Chanyeol adalah orang terakhir yang meninggalkan club. Dan setelah kepergiannya, ada seseorang yang sedari awal kedatangan Kyungsoo terus memperhatikan seluruh kegiatan yang dilakukan Sehun dan lainnya. Senyumnya bahkan menunjukkan seringaian tanda bahwa dia berhasil melaksanakan tugas yang diberikan.

Pria misterius itu bahkan mengambil ponselnya dan tak lama

"Aku menemukan Kyungsoo. Dan sesuai perintahmu. Aku berhasil memasang penyadap di ponsel Luhan. Kau sudah bisa menyerang kapanpun kau mau-… Yifan."

.

.

.

.

.

.

"Ish. Turunkan-hix-turunkan aku! Siapa kau? Apa kau ahjussi me-hix- mesum?"

"Sayang…diam dan jangan memberontak. Coba buka matamu dan lihat aku."

Sehun terpaksa menurunkan Luhan dari gendongannya. Memaksa si pria cantik yang terus memberontak untuk membuka mata sampai

"Se-hix-Sehun?"

"Iya aku Sehun. Jadi jangan memberontak lagi. Oke?"

"Se-hix-Sehuuuuuun….Suamikuuuu yang tam-hix-tampaaan!"

Sehun bahkan harus menyembunyikan wajahnya saat Luhan berteriak dengan mengecupi wajahnya. Membuatnya ingin sekali tertawa kalau tak mengingat banyak mata yang kini melihat ke arah mereka.

"Tentu saja aku tampan. Ayo kita pulang."

Sehun kembali menggendong Luhan. kali ini bridal. Membuat Luhan sedikit nyaman dan bersender di dada suaminya sampai

Blam…!

Sehun meletakkan Luhan di bangku samping kemudi. Segera menutup pintu mobilnya dan berlari mengitari mobil untuk masuk kedalam mobil sebelum

"Aku akan memasak sup-….Luhan?"

Sehun sedikit memekik melihat Luhan tak berada di sampingnya dengan pintu mobil yang kembali terbuka lebar. Membuatnya mau tak mau ikut bergegas keluar dan tertawa kecil melihat istrinya berjalan terhuyung entah kemana.

"Sehun-hix- sehun…sehun…"

Luhan masih meracau tak jelas dengan berjalan ke arah berlawanan dengan jalan pulang. Dia bahkan harus beberapa kali terjatuh sampai

"y-YAK! turunkan aku!"

Dia kembali meronta di gendongan suaminya. Kali ini lebih kuat dan terdengar menangis tak suka.

Sehun bahkan menyadari perubahan teriakan Luhan yang begitu marah. Membuat dirinya tak memiliki pilihan lain selain mendudukan istrinya di trotoar jalan dan ikut berjongkok dengan tangan yang menghapus air mata istrinya.

"Aku tidak-hix- mau naik mobil." Katanya menangis dan sedikit memukul kencang dada suaminya. Membuat Sehun kembali mengutuk dirinya karena terus memaksakan sesuatu yang tak disukai Luhan.

"araseo. Lalu kau ingin pulang dengan apa?"

Luhan tersenyum menang mendengar tawaran suaminya. Membuat dirinya bergegas bangun dengan terhuyung sebelum memeluk punggung Sehun yang selalu terasa lebar dan kokoh untuknya "Kau ingin naik ke punggungku?" Katanya menoleh ke belakang dan melihat wajah Luhan yang mengangguk bersemangat.

"Baiklah. Sehun's train siap membawa nyonya pulang." Katanya membenarkan posisi Luhan sebelum berdiri dengan kedua tangan menyangga pinggang Luhan yang berada di belakangnya.

"Kita pergi."

Luhan kembali mengangguk sebagai jawaban. Kali ini bersembunyi di perpotongan leher Sehun dan mengangguk berkali-kali di belakang Sehun.

"Apa kau senang?"

Sehun menoleh ke belakangnya. Memastikan Luhan sudah tertidur namun yang terjadi hanya berakhir mendengar racauan dari istrinya yang sedang mabuk berat.

"Sehun-hix-Sehunna."

Awalnya Luhan meracau dengan bernyanyi atau mengucapkan lelucon yang sama sekali tak lucu. Dan tugas Sehun hanya merespon seperlunya agar istirnya senang. Tapi saat suara Luhan mulai terdengar berat, saat itulah Sehun bertugas untuk menoleh dan memastikan kalau pria cantik yang sedang berada di punggungnya baik-baik saja.

"Ada apa sayang?" katanya membenarkan posisi gendongan Luhan agar istrinya merasa nyaman.

"Apa kau-hix- tidak ingin memiliki anak lagi?"

"Tentu saja aku ingin. Aku akan memiliki banyak anak darimu."

Terdengar suara tawa di belakang telinga Sehun. membuatnya sedikit lega karena setidaknya Luhan memang baik dan hanya sedikit mabuk tidak sadarkan diri. "Aku juga ingin." Sehun hanya mengecup tangan Luhan yang melingkar di lehernya sebagai jawaban. Kembali berjalan menikmati udara malam sampai Luhan kembali berbicara dan dirinya kembali menjadi pendengar.

"Tapi aku takut."

"Takut?"

"Jika kau masih menjadi dirimu yang sekarang-… Aku takut."

"Tidurlah sayang. Kau kelelahan. Besok kita lanjutkan apa yang ingin kau-.."

"Aku takut mereka akan menyakiti buah hati kita lagi seperti mereka menyakiti Ziyu."

Deg…!

Langkah Sehun terhenti bersamaan dengan rasa jantungnya yang begitu meremat tak wajar –sakit dan sesak- adalah dua hal yang tak pernah bisa Sehun hilangkan setiap kali topik tentang putranya dibicarakan.

"Aku takut akan ada banyak musuhmu yang menjadikan aku dan buah hati kita sebagai kelemahanmu. Aku takut Seh-hix- Sehunna." Katanya kembali meracau dan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Sehun.

Sehun sendiri masih tak bergeming dari tempatnya saat ini, dia tahu ke arah mana pembicaraan yang Luhan takutkan saat ini. Membuatnya hanya bisa tersenyum pahit mengira Luhan sudah benar-benar menerima apa yang dia kerjakan namun nyatanya masih menyimpan banyak ketakutan di dalamnya.

"Selamanya Yifan tidak akan membiarkan aku hidup tenang, dia akan terus mencari cara untuk membalas dan menyakitiku. Dan selamanya pula-…Youngmin tidak akan pernah melepaskan dirimu."

Dan tanpa sadar Luhan menitikkan air matanya di leher Sehun. Air matanya bahkan mampu menghangatkan hati Sehun yang sedang membeku saat ini. Keduanya menyadari bahwa takdir menyeret terlalu jauh cerita kehidupan mereka. Terkadang mereka sangat yakin bahwa takdir mempermainkan kisah cinta yang mereka rasakan dan jalani.

Terkadang ada perasaan ingin menyerah satu sama lain. Namun karena terlalu marah pada takdir-….Keduanya memutuskan untuk bergenggaman tangan erat dan menunjukkan bahwa apapun yang terjadi nantinya. Mereka ada untuk saling melengkapi.

"Tidak bisakah kau berhenti dan menjadi pria normal seperti kebanyakan seorang suami dan ayah pada umumnya? Aku tidak bisa kehilanganmu Sehunna. Aku takut kau terluka"

Dan itu adalah gumaman terakhir Luhan sebelum benar-benar tak sadarkan diri. Sebaris kalimat racauan dengan harapan di sepanjang kehidupan pernikahan yang mereka jalani. Harapan bahwa dirinya tak perlu lagi melihat suaminya membunuh. Harapan bahwa dirinya tak perlu lagi merasa ketakutan saat berada jauh dari suaminya. Harapan bahwa Sehunnya menjadi pria normal seperti kebanyakan pria pada umumnya.

Harapan yang nyaris tak mungkin terjadi bahkan ketika Sehun ingin mengakhirinya. Sehun beberapa kali sudah mencoba keluar. Namun yang terjadi selanjutnya adalah dia akan terseret semakin jauh dan semakin gelap.

Dan yang menjadi pertanyaan terpenting adalah apakah Sehun bisa hidup layaknya pria normal seperti yang Luhan inginkan?-….jawabannya tidak.

.

.

.

.

.

.


.

.

tobecontinued…

.


.

Walau badai menghadang gosip menerjang…Jadwal mingguan gue mah tetep di apdet ….ga mau kalah sama berita2 yang lagi bikin capek hati gr2 punya hp .. :v

.

Ketemu di next apdetan ya… :*

.

Happy readings n reviews

.

Yang tabah ya…yang kuat ya… yang tau mah pasti ga nanya :* mmuach!