Previous
"Tidak bisakah kau berhenti dan menjadi pria normal seperti kebanyakan seorang suami danayah pada umumnya? Aku tidak bisa kehilanganmu Sehunna. Aku takut kau terluka"
Dan itu adalah gumaman terakhir Luhan sebelum benar-benar tak sadarkan diri. Sebaris kalimat racauan dengan harapan di sepanjang kehidupan pernikahan yang mereka jalani. Harapan bahwa dirinya tak perlu lagi melihat suaminya membunuh. Harapan bahwa dirinya tak perlu lagi merasa ketakutan saat berada jauh dari suaminya. Harapan bahwa Sehunnya menjadi pria normal seperti kebanyakan pria pada umumnya.
Harapan yang nyaris tak mungkin terjadi bahkan ketika Sehun ingin mengakhirinya. Sehun beberapa kali sudah mencoba keluar. Namun yang terjadi selanjutnya adalah dia akan terseret semakin jauh dan semakin gelap.
Dan yang menjadi pertanyaan terpenting adalah apakah Sehun bisa hidup layaknya pria normal seperti yang Luhan inginkan?-….jawabannya tidak.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Entangled
Main Cast : Sehun & Lu Han
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
"Nghhh...Sehunn..."
Inilah yang paling Sehun benci jika istrinya pergi minum dan pulang dalam keadaan mabuk. Wajah mungilnya akan berubah menjadi berkali-kali lebih menggoda. Pipi dan bibirnya akan berwarna merah marun dengan suara yang terdengar mendesah. Membuat kedua tangan yang sedang terlipat di atas dada masih tak bergeming dari kursinya yang sedang memperhatikan sang istri.
"Sehun apo... Sehunnnhh..."
"Ck! Aku akan memberi pelajaran pada siapapun yang berani mengajakmu minum!" Katanya tertawa menyeramkan. Kembali melipat tangannya dengan posisi yang masih enggan beranjak dari kursinya dan mata yang tak berkedip melihat tingkah istrinya yang masih setengah sadar.
"Ngghh.."
Dengan kepala yang luar biasa berputar dan rasa mual yang teramat. Luhan perlahan membuka matanya. Bertanya-tanya dirinya ada dimana sampai tak sengaja matanya menatap sang suami dengan wajah stoic nya tengah menatap tak berkedip ke arahnya.
"Sayang?"
"Sudah sadar?"
"Sadar? Memangnya aku kenapa?" Katanya berpikir keras sebelum matanya kembali menatap sang suami dengan mata memelas "ah benar... Aku mabuk ya?" Gumamnya terkekeh dan tak lama kembali merebahkan tubuhnya. Menikmati rasa sakit kepala serta mualnya dan bersiap untuk mendengar kemarahan sang suami.
"Bibi Kim membuatkan sup untukmu. Makan sup itu lalu kembali tidur. Aku pergi."
"Eh?"
Luhan tahu suaminya marah. Dia juga tahu alasan Sehun bersikap sangat dingin adalah karena dirinya mabuk tanpa izin dari Sehunnya. Membuat kepala Luhan yang memang sedang berputar dipaksa berfikir keras sebelum kemarahan Sehun semakin menjadi. "Berpikir Luhan... Jangan biarkan Sehun pergi." Katanya bergumam senang dan tak lama
"ARRGHHH PERUTKUUUUU! SEHUN PERUTKU SAKIT...argghh.."
Langkah Sehun mau tak mau terhenti tepat di depan pintu. Menebak bahwa sang istri sedang bermain drama adalah satu-satunya yang hal ia yakini saat ini. Sehun bisa saja tetap pada sikap tegasnya dan meninggalkan Luhan yang selalu bermain drama setelah mabuk. Namun jika dia meninggalkan si pria mungil begitu saja-... Sudah dipastikan bahwa Luhan akan menangis dan berbalik menyalahkan dirinya.
"SEHUNNNIE TOLONG AKU!"
Sehun kembali memutar tubuhnya. Matanya memicing dan hampir menerkam sang istri jika tidak ingat dia sedang bersikap tegas. Dan saat mata Luhan melihat suaminya merespon-.. Maka drama yang dimainkan pun semakin menjadi miris dan terlihat mengenaskan.
"Kau tidak peduli pada istrimu? Aku kesakitan Sehunna. Kepalaku sakit." Katanya setengah merengek dan mulai merajuk menyalahkan Sehun. "Kau jahat hksss.."
"Haaah..."
Sehun menghela dalam nafasnya. Sekali lagi untuk entah ke berapa kalinya dia kalah-... Dan satu-satunya orang yang bisa membuat Sehun mengalah dan mengaku salah hanya pria mungil yang hampir lima tahun ini memakai nama marganya. Satu-satunya pria yang bisa membuat seorang Oh Sehun begitu marah, begitu bahagia dan begitu bergantung padanya. Dan pria itu adalah pria yang sama yang pernah membuatnya merasakan dipanggil ayah oleh mendiang malaikat kecil mereka.
"ssshh…Sakit sekali." Katanya merengek semakin mencari perhatian Sehun. membuat tawa kecil terlihat di wajah dinginnya sebelum duduk di tepi ranjang tempat tidurnya. "Mana yang sakit?"
"Kepalaku sakit-..argh!"
Luhan tiba-tiba memekik saat Sehun memukul dahinya, menatap marah pada sang suami yang hanya menunjukkan wajah menyeringai saat ini "Kenapa memukulku?"
"Dasar kepala batu! Bagaimana bisa kau sakit kepala jika sedari tadi kau terus memegangi perutmu."
"eh?-…ah benar! Aku sakit kepala." Gumamnya membenarkan posisi dan kali ini memegang kepalanya yang memang masih terasa sangat sakit dan berputar.
"Sudah jangan berpura-pura. Tidak apa memegangi perutmu. Aku senang jika kau hamil lagi sayang." Katanya mengambil sup di meja makan sebelum kembali tertawa saat Luhan memukul lengannya "wae? Kau benar sedang hamil?"
"ish..! tidak lucu!"
"Aku tidak sedang menggodamu. Cepat bilang aaa.."
Sehun mengarahkan suapan sup nya pada Luhan. Baunya terlalu menyengat, membuat Luhan berniat menutup rapat mulutnya sebelum berakhir membuka karena sang suami menatap memperingatkan padanya "aaa…" katanya membuka mulut dan
Glup…
"Sup nya mengerikan." Katanya bergumam dengan mata terpejam. Sedikit menyesal membuka matanya karena hanya tatapan dingin Sehun yang kembali ia dapatkan walau empat puluh menit telah berlalu.
"Kau yang mengerikan!"
"Aku kenapa?"
"Bisa-bisanya kau mabuk malam tadi."
Luhan masih memasang wajah tak mau disalahkan. Melipat tangan di dada sebelum mendengus kesal melihat wajah suaminya "Aku hanya menemani Baekhyun."
"Apa begitu caranya menemani teman?"
"Kami sering melakukannya sewaktu kuliah."
"Dulu dan sekarang jelas tidak bisa disamakan."
"Kenapa tidak?"
"Dulu kau belum bertemu denganku. Sekarang kau milikku. Jelas?"
Luhan terdiam saat Sehun mengatakan siapa dirinya dulu dan sekarang, membuat hatinya sedikit mencelos mengingat kalimat yang pernah ia dengar berbunyi seperti ini jika kau memutuskan untuk menikah maka dirimu sepenuhnya bukan milikmu. Tapi milik pasangan yang kau pilih. Membuatnya sedikit merasa bersalah sebelum menatap memelas pada suaminya "Baiklah… Maafkan aku."
"Jangan meminta maaf. Habiskan sup nya dan kembali tidur. Aku harus pergi." katanya meletakkan sup di meja kamarnya. Mencium kening istrinya agak lama dan berniat pergi sebelum lengannya kembali ditarik oleh istrinya "Ada apa?"
"Kau masih marah."
"Kau bertanya atau menebak?"
Cengkraman Luhan di lengan Sehun semakin kuat. Berniat untuk tidak membiarkan Sehun pergi sebelum kemarahan suaminya mereda "Aku tahu kau masih marah."
Sehun menatap lama pria cantiknya. Ketegasan yang awalnya ingin ia tunjukkan pada istrinya kembali menguap entah kemana. Dia tahu Luhan akan selalu sensitif pada sikap yang dia berikan. Entah itu sikap dingin atau perhatian yang ia berikan-…Luhan akan tahu dan merasakan dengan cara yang berbeda. Dan mengingat hal itu membuat Sehun sedikit merasa bersalah, membalas genggaman Luhan dan mulai menatap si pria cantik adalah hal kedua yang Sehun lakukan agar Luhan merasa lebih baik "Baiklah aku tidak marah lagi. Jangan memasang wajah sedih itu."
Luhan mengangkat cepat wajahnya, sedikit menatap berbinar sang suami sebelum senyum cantiknya menghiasi wajah merah yang jelas masih mabuk "Benarkah?"
"Ya tentu saja."
"Kalau begitu cium aku." Luhan menarik agresif kemeja suaminya. Hampir berhasil menempelkan kedua bibir mereka sebelum tangan Sehun membekap erat mulutnya "Hmmhhh.." katanya mengerang saat Sehun membekap mulutnya. Antara marah dan kesal saat ini bercampur menjadi satu karena sang suami menolak untuk melakukan kontak fisik dengannya.
"y-YAK! kenapa membekap mulutku?" katanya berteriak keras saat Sehun melepaskan tangannya. Menatap semakin marah pada si pria tampan yang bukannya mendekat malah berdiri menjauhinya dengan suara tawa yang tak kunjung berhenti.
"Aku tidak mencium istriku saat dia sedang mabuk. Sampai nanti sayang." Katanya bergegas ke luar pintu. Meninggalkan Luhan yang masih menatap bingung suaminya sebelum
BLAM…!
Sehun benar-benar pergi meninggalkannya. Membuat tawa pahit terlihat di wajah si rusa cantik yang kini kembali berbaring menutupi wajahnya dengan selimut "ck. Aku tidak percaya ini! Apa aku baru saja ditolak? Oleh suamiku sendiri? Astaga ini menyebalkan-…Ini.." Luhan menggerutu di balik selimutnya. Mengusak kasar tempat tidurnya sebelum
"OH SEHUN KAU BENAR-BENAR MENYEBALKAN!"
Selamat pagi untuk Luhan dan Selamat pagi penolakan manis memelas yang ia terima di pagi buta seperti ini oleh suaminya sendiri –catat- oleh seorang Oh Sehun yang jelas merupakan suaminya yang sah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Selesaikan sisanya."
"Baik dokter Oh."
Luhan memberikan instruksi pada dokter muda yang menjadi asistennya pada operasi siang ini. Sedikit terburu-buru menginstrusikan perawat untuk membukakan jas operasinya sebelum berjalan keluar setelah lima jam berada di ruang operasi.
"Aku benar-benar tidak akan mabuk lagi. Tidak akan mabuk lagi! Ini bencana."
Memegangi kepalanya yang masih sedikit sakit adalah hal yang Luhan lakukan sepanjang perjalanannya menuju ke ruang istirahat. Dia bahkan tidak memperhatikan jalan sampai langkahnya terhenti karena seseorang menghalangi jalannya sambil menempelkan sesuatu yang dingin ke dahinya.
Luhan pun mengangkat wajahnya, menebak siapa yang menempelkan kaleng minuman dingin di dahinya sebelum mata rusanya melihat seorang pria tersenyum dengan kedua lesung pipi yang terlihat jelas di wajah tampannya "yeol?"
Yang disapa hanya mengerling Luhan, semakin menempelkan kaleng minuman ke dahi Luhan dengan harapan rasa sakit dikepala pria cantiknya segera menghilang "Mau ke atap? Aku akan memberikan minuman kaleng ini jika kau ikut denganku."
Awalnya Luhan berniat menolak ajakan Chanyeol, namun saat teman kecilnya mengatakan akan memberikan kaleng minuman dingin itu padanya-... Kepala Luhan mengangguk tanpa ragu. Yang dia tahu minuman itu sangat menyegarkan. Dan dirinya memang butuh sesuatu yang menyegarkan pikirannya.
.
.
"Ada apa tiba-tiba memintaku menemanimu ke atap? Biasanya ini adalah tempat private untukmu."
Chanyeol membukakakan kaleng minuman yang ia janjikan untuk Luhan. Sedikit tertawa sebelum menyerahkan kaleng tersebut pada Luhan "Biasanya kan... Anggap saja hari ini tidak biasa." Katanya memperhatikan Luhan menenggak soda ringan yang ia berikan sebelum
"Sshhhh... Ini sangat menyegarkan." Katanya memberitahu Chanyeol yang kini mengusak kasar kepalanya.
"Kau baik kan?"
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Semalam kau mabuk berat dan si bajingan -ah- maksudku Sehun terlihat sangat marah." Ujarnya memberitahu Luhan dan sedikit mengencangkan suaranya untuk mengoreksi panggilan pada Sehun. Chanyeol bahkan menghindari tatapan Luhan yang terlihat akan berteriak marah padanya jika ia terus menghina Sehun di depannya.
"Sehun memang selalu marah jika aku mabuk. Dia tidak suka saat orang-orang melihatku jika aku mulai meracau."
"Sudah lama sekali aku tidak melihatmu mabuk."
Luhan sedikit menghela dalam nafasnya sebelum melipat kedua tangannya di atas dada "Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Kenapa berbelit seperti ini?"
"Aku ketahuan ya?"
"Tentu saja! Kau selalu menggaruk tengkukmu jika ragu ingin mengatakan sesuatu. Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?"
Chanyeol menghela dalam nafasnya. Sedikit tertawa karena tak menyangka Luhan akan menebaknya dengan cepat disaat dirinya masih ingin membicarakan hal lain. Dan merasa tak memiliki pilihan lain, Chanyeol mulai menatap ke kosong ke depan dan memberitahu hal yang sedikit mengganggunya sejak malam tadi.
"Aku membawa Baekhyun ke apartemenku malam tadi."
"Kau apa?"
Chanyeol tersenyum dan mulai merangkul pundak Luhan agar mendekat "Aku membawa Baekhyun ke apartemenku."
Luhan mengenal Chanyeol hampir seumur hidupnya. Dan selama dia mengenal Chanyeol, Pria berlesung pipi di sampingnya tidak pernah mengijinkan siapapun memasuki rumah atau apartemennya. Chanyeol tidak suka jika seseorang memasuki daerah privasinya, dan selain Luhan-... Maka sudah dipastikan tidak ada yang tahu bagaimana Chanyeol mendekorasi apartemen atau tempat tinggalnya.
Dan mendengar kalimat Chanyeol membawa Baekhyun ke apartemennya adalah hal baru untuk Luhan. Terlalu baru hingga rasanya dia ingin memekik senang namun tetap menahan diri agar pria tinggi disampingnya bercerita lebih banyak.
"Kenapa kau tidak membawanya pulang kerumah?"
Luhan memulai dramanya lagi kali ini. Setelah pagi tadi gagal mengelabui sang suami, dia kembali berniat untuk memulai drama dengan Chanyeol sebagai targetnya -tenang dan fokus- begitulah aktor Lu mengontrol dirinya saat ini.
"Aku sudah berada di depan rumahnya malam tadi. Tapi saat aku berniat membawanya keluar dari mobil, Baekhyun menjerit menolak untuk masuk kedalam rumah. Dia tidak mau membuat direktur Byun sedih karena melihatnya mabuk. Dan karena itu pula aku tidak memiliki pilihan lain selain membawanya ke apartemen."
"Kau bisa membawanya kembali ke asrama kita dirumah sakit atau mungkin ke hotel terdekat."
Chanyeol tahu Luhan sedang memancingnya. Membuat perasaan gemas dan lucu benar-benar sedang ia rasakan tiap kali berbicara dengan pria yang pernah menjadi seorang ibu hasil pernikahannya dengan Sehun. "Terlalu beresiko."
"Apa yang beresiko?"
"Professor Kang akan mempunyai alasan untuk menyerang direktur Byun jika melihat Baekhyun berkeliaran di rumah sakit dalam keadaan mabuk."
Luhan berfikir sejenak sebelum mengangguk setuju "Kau benar. Lalu kenapa kau tidak membawa Baekhyun ke hotel? Kau bisa meninggalkannya disana."
Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya di pundak Luhan. Sedikit mengecup sayang pucuk kepala Luhan sebelum mengangkat kedua bahunya sendiri "Aku tidak tega."
"Kau apa?"
"Baekhyun sangat mabuk dan terlihat sangat kacau Lu. Aku tidak tega dan memutuskan untuk membawanya ke tempatku."
Luhan mendongak menatap Chanyeol sesaat. Melihat raut khawatir yang biasanya hanya ditujukan Chanyeol untuk dirinya atau Kyungsoo kini ia tunjukkan juga untuk Baekhyun "Aku senang kau mulai melihat Baekhyun. Dia pasti senang saat aku bercerita nanti." Katanya menyenggol dada Chanyeol dan tertawa menatap pria tingginya "Atau jangan-jangan kau mulai menyukainya." Katanya semakin menggoda Chanyeol dan mulai bersandar di pundak teman kecilnya.
Keduanya hanya terdiam untuk beberapa saat. Menikmati semilir angin yang menerpa sampai Chanyeol kembali membuka suaranya "Aku melakukannya dengan Baekhyun malam tadi."
"Eh? Melakukan apa?"
Chanyeol menggigit resah bibir bawahnya. Tak berani menatap Luhan sampai Luhan sendiri yang memaksa untuk ditatap olehnya "Kenapa kau mencurigakan sekali yeol?" Katanya semakin memicingkan mata sebelum mendekati Chanyeol yang terlihat gugup "Kau melakukan apa dokter Park?"
"Luhan sungguh-... Aku rasa kami berdua mabuk malam tadi. Aku tidak bermaksud untuk berbuat kurang ajar pada Baekhyun."
"Memangnya kau melakukan apa?"
Chanyeol semakin salah tingkah menatap Luhan. Dan disaat seperti ini menghindari tatapan Luhan adalah hal yang jelas mustahil "Aku tidur dengan Baekhyun malam tadi. Aku benar-benar-..."
"KAU APA?"
"Luhaan..."
"Bicara dengan jelas Yeol!"
"Awalnya aku hanya berniat menciumnya. Tapi entah setan mana yang merasuki diriku. Aku-..."
"Whoaaaaaa... Park Chanyeol akhirnya kau menjadi lelaki sejati seutuhnya."
Tubuh Chanyeol sedikit terdorong saat Luhan tiba-tiba menghambur memeluknya. Bukan seperti ini reaksi yang Chanyeol bayangkan. Dia mengira Luhan akan berteriak marah atau mencaci dirinya karena telah tidur dengan sahabatnya. Bukan memeluknya dan bahkan terlihat gembira melebihi dirinya sendiri seperti saat ini. "Luhan..."
"Tidak perlu dilanjutkan lagi. Aku sudah menebak yang selanjutnya terjadi ahhhhhhh-.. Baekhyun pasti sedang merona bahagia saat ini. Gomawo yeol!"
"Kau tidak berteriak?"
"Kenapa aku harus berteriak?"
"Aku pikir kau akan-..."
"Aku akan marah jika kau terus mengabaikan sahabatku. Sekarang aku berterimakasih karena setidaknya kau membuka hati untuk seseorang. Ish! Kenapa lama sekali!" Katanya memukul kencang lengan Chanyeol, sedikit tertawa lega sebelum kembali melihat kerumunan di bawah.
"Haaah syukurlah...Pada akhirnya kita bertiga menemukan seseorang yang mencintai kita apa adanya." Katanya tersenyum sangat cantik. Membuat Chanyeol mau tak mau kembali menunjukkan lesung di pipinya sebelum berjalan ke belakang Luhan dan meletakkan dagunya di atas kepala si pria cantik.
"Yeol..." Luhan bergumam risih namun Chanyeol menahan dagunya lebih kencang agar Luhan tak bisa bergerak menghindar.
"Ssst... Aku hanya ingin memastikan satu hal."
"Memastikan apa?"
"Kalau aku sudah tidak berdebar lagi saat berada dengan jarak sedekat ini bersamamu."
Luhan terkekeh mendengarnya. Dia kira Chanyeol mulai memaksakan dirinya lagi untuk mencintai seseorang yang tak mungkin membalas perasaannya, namun saat dia mengatakan ini hanya untuk memastikan semua perasaan khusus Chanyeol untuk dirinya telah berakhir-... Maka Luhan membiarkan posisi ini untuk sementara.
"Bagaimana? Apa masih berdebar?"
"Ini semakin menggila Luhan."
"Ish!" Luhan memukul dada Chanyeol dengan sikutnya. Sedikit menggeliat sebelum Chanyeol melingkarkan tangannya di pinggang Luhan dan mencium sekilas pucuk kepala Luhan "Hanya menggodamu Lu. Ini sudah tidak berdebar lagi, biasanya aku akan menggila jika kau memeluk diriku tapi aku rasa semua perasaanku sudah kembali menjadi perasaan yang seharusnya untukmu. Perasaan kakak menjaga adiknya." Katanya mengecup pucuk kepala Luhan berulang. Semakin mengeratkan pelukannya sebelum suara protes dileluarkan Luhan saat ini.
"Aku lebih tua darimu."
"Omong kosong!"
"Aku serius."
"Aku tahu! Tapi bagiku-... Luhan dan Kyungsoo akan menjadi adik kecil menggemaskan untukku."
"Terserahmu saja! Sekarang lepas. Bagaimana kalau ada yang melihat?"
"Bukan urusanku. Aku hanya ingin memeluk adik kecilku sepanjang hari."
"Yeooll.."
"Terakhir kali Luhan-... Biarkan seperti ini untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak akan memelukmu lagi setelah ini. Bolehkan?"
Luhan sedikit menoleh ke belakang menatap Chanyeol. Matanya mempelajari raut wajah Chanyeol yang terlihat serius saat memberitahunya. Membuat sebaris senyum menawan ia tunjukkan sebagai persetujuan untuk dipeluk seseorang yang selalu dan akan menjaganya selama mereka saling mengenal. "Baiklah. Aku akan memberikan sepuluh menit untukmu."
Chanyeol mengangguk setuju sebelum membawa Luhan kembali melihat ke depan. Menatap langit cerah dengan angin semilir yang kembali menerpa wajah mereka "Gomawo Luhannie."
Rasanya sudah sangat lama tidak mendengar Chanyeol memanggil nama kecilnya. Luhan bahkan tidak berniat menghitungnya tapi dia rasa itu sudah terlalu lama hingga hanya kalimat canggung yang biasa mereka gunakan. Dan saat nama Luhannie kembali disebutkan Chanyeol. Maka Luhan berani bertaruh bahwa Chanyeolnya memang sudah kembali menjadi Chanyeol yang menganggapnya entah sebagai kakak atau adik.
"Lu..."
"Ada apa?"
Chanyeol sedikit tersenyum saat Luhan mendongak. Kembali meletakkan dagunya di kepala Luhan sebelum melanjutkan apa yang ingin ia katakan "Aku ingin mengajak kau dan Kyungsoo makan malam diluar malam nanti. Hanya kita bertiga. Bisakah?"
Luhan merasa berdebar saat mendengar tawaran dari Chanyeol. Makan bertiga bersama Kyungsoo seolah menarik semua keinginan kecil yang sudah lama terpendam dirinya. Dan saat Chanyeol mengatakan ingin makan malam bersama dirinya dan Kyungsoo-.. Maka Luhan mendapatkan makan malam bersama keluarga kecilnya setelah sekian lama. Membuat kepalanya mengangguk tanpa ragu "Tentu saja!" Katanya mendongak memberitahu Chanyeol dan disambut dengan senyum tampan dari pria yang memiliki tinggi sama dengan suaminya.
"Baguslah! Aku benar-benar butuh pergi keluar. Telingaku panas mendengar kabar tentang sanksi yang akan diberikan pada kita berdua Lu."
Luhan terkekeh mendengarnya, mengangguk menyetujui ucapan Chanyeol sebelum mengangkat kedua bahunya tidak peduli "Aku tidak menyesal mencaci si professor tua itu."
"Aku bahkan tidak peduli jika mereka mengeluarkan surat peringatan terakhir. Aku bosan bekerja secara terikat."
"Kita bertiga bisa menjadi dokter yang tak terkalahkan di luar sana."
"Terdengar bagus untukku."
Keduanya kembali diam menikmati angin yang menerpa wajah mereka berniat untuk berada dalam posisi saat ini lebih lama sampai terdengar suara seseorang mengingerupsi dan terdengar sangat kesal
"Kemarin malam aku melihat istriku mabuk bersama temannya. Apakah siang ini aku juga harus melihat istriku berselingkuh?"
Mata Luhan membesar saat mendengar suara familiar yang selalu menjadi candu untuknya. Membuatnya menoleh ke samping dan begitu terkejut mendapati sang suami tengah berjalan mendekatinya saat ini "Sehun?" Katanya bergumam terkejut dan secara refleks mendorong Chanyeol yang terlihat menahan tawa saat ini.
"Sehun aku bisa jelaskan. Ini hanya salah paham sayang. Aku dan Chanyeol hanya membicarakan hal kecil. Benarkan Yeol?"
Yang ditanya hanya terus menahan tawa. Tidak menjawab atau memberikan respon, hal sama juga di tunjukkan oleh sang suami yang daripada marah lebih terlihat menahan tawa dengan raut wajah marah yang dibuat-buat.
Dan Luhan bukan tipe orang bodoh yang tak bisa menebak keadaan. Dia jelas dijebak oleh Sehun maupun Chanyeol membuat matanya memicing dan mulai bisa membaca situasi saat ini "Kenapa kalian berdua menahan tawa?"
"Aku tidak."
"Aku juga tidak." Timpal Sehun membuat suara tawa kesal terdengar dari Luhan. "Whoaa.. aku tidak percaya ini! Sejak kapan kalian berdua menjadi dekat seperti ini?!"
"Kami tidak."
"Bohong!"
Chanyeol yang merespon kekesalan Luhan saat ini. Sedikit tertawa sebelum berjalan mendekati teman kecilnya "Kami tidak bisa dan tidak akan pernah menjadi dekat. Kau tahu kenapa? Karena aku tetap tidak menyukainya sebagai suamimu. Tapi aku mulai menyukainya sebagai-… ummh bagaiamana aku mengatakannya. Sebagai teman mungkin." Katanya mengusak rambut Luhan sebelum berjalan mendekati Sehun "Aku selesai."
Sehun hanya mengangguk sebagai jawaban, membiarkan Chanyeol pergi dan mulai fokus pada istrinya yang terlihat masih tercengang.
"Rusa cantik tidak boleh melamun seperti itu!" Katanya mengecup bibir Luhan sekilas sebelum membawa istrinya berada pada posisi yang sama saat bersama Chanyeol.
"Ish lepas!"
Sehun pun semakin mengukung istrinya di posisi mereka. Merasa sedikit cemburu karena Luhan bahkan tidak menolak saat Chanyeol memeluknya namun meronta saat suaminya sendiri memeluk tubuh yang hanya boleh disentuh olehnya. "Diam dan jangan meronta sayang." Katanya meletakkan dagu di pundak Luhan. Membuat gerakan menolak dari pria cantiknya terhenti dan hanya semilir angin yang keduanya rasakan saat ini.
"Kapan kau datang?"
Luhan memutar kepalanya untuk melihat sang suami yang bersandar di pundaknya. Sedikit tersenyum saat wajah tampan Sehun terlihat sangat menggemaskan sangat tak sesuai dengan siapa sebenarnya sang suami. "Sehun.."
"Aku sudah berada disini pukul sembilan pagi." Katanya merasa terganggu dengan pertanyaan Luhan membuat kedua tangannya semakin melingkar sempurna di pinggang Luhan dengan dagu yang ia tekankan semakin dalam di pundak istrinya.
"Sembilan pagi?"
"Hmmm.."
"Aku datang pukul sembilan."
"Aku tahu."
"Ck! Jangan bilang kau mengikutiku sampai kesini."
"Aku memang mengikutimu."
Luhan kembali menoleh menatap Sehun yang masih memejamkan matanya. Kali ini mencium gemas hidung suaminya sebelum ikut membawa tangan Sehun semakin melingkar di pinggangnya "Kenapa mengikutiku?"
"Aku merasa bersalah karena menolak mencium dirimu pagi tadi."
"Kau memang menyebalkan pagi tadi dan kau berhutang satu ciuman pagi ini!"
"Oh Sehun memang seperti itu. Maklumi saja sayang."
Luhan terkekeh mendengar betapa arogannya sang suami. Membuat daripada rasa marah Luhan lebih merasa pria tampannya begitu menggemaskan "Kalau begitu kau juga harus memaklumi Luhan si tukang mabuk itu tuan Oh." Katanya membalas namun hanya cubitan kecil yang ia rasakan di pinggangnya "Sekarang dia menjadi Oh Luhan! Itu artinya dia tidak boleh mabuk tanpa izin dari suami tampannya. Kau dengar?"
Mencibir adalah satu-satunya hal yang Luhan lakukan saat ini. Merasa Sehunnya benar-benar posesif dan sangat menyebalkan adalah hal yang paling Luhan rindukan saat mereka berjauhan atau ketika mereka sedang tidak berbicara "Kau dengar kan?" Sehun mengulangi pertanyaannya. Membuat Luhan mengangguk dan mencium kedua telapak tangan suaminya sebagai jawaban "Aku dengar sayang. Jadi jangan marah lagi padaku. Oke?"
Sehun mengangguk di pundak Luhan. Mengecup dan menggigit sekilas leher istrinya adalah kesempatan yang tak boleh ia lewatkan sebelum kembali bersandar di pundak istrinya "Oke."
"Aku kan hanya mabuk bukan pergi bersama pria lain! Kenapa kau sangat marah?"
"Aku lebih memilih kau pergi bersama pria lain daripada kau pergi mabuk."
"Benarkah?"
"Aku tahu kau bisa menjaga dirimu saat kau dalam keadaan sadar. Berbeda saat kau sedang mabuk. Semua orang bisa mengambil kesempatan untuk mendekati milikku."
"Ah... Jadi itu alasannya."
"Tapi pria yang boleh pergi bersamamu adalah pria-pria yang sudah mendapat izin dariku tentu saja!"
Luhan kembali dibuat terkekeh saat ini. Menarik kencang hidung suaminya sebelum kembali menikmati udara sore hari ini. "Tidak ada bedanya." Katanya menggumam kecil sebelum kembali bertanya pada Sehun "Lalu apa kau tahu Chanyeol berniat mengajak diriku makan malam di luar malam nanti?"
"Tentu saja."
"Dan kau tidak melarang diriku?"
"Aku sudah memastikan dia Park Chanyeol saudaramu. Bukan Park Chanyeol yang menyukai istriku."
"Darimana kau tahu?"
"Pria tahu segalanya sayang."
"Lalu kau anggap aku apa? Aku kan juga pria."
"Kau pria yang agak sensitif dan..."
"Dan apa?"
"Sedikit cerewet."
"Ish! Pagi tadi kau menolakku. Sekarang kau menghina istrimu sendiri. Jelas kau tidak mencintaiku Oh Se-..."
Nghmmphh..
Segala kekesalan dan rasa marah Luhan seolah dibuat menghilang entah kemana. Tubuhnya di tekan di pembatas balkon dengan tangan sang suami yang melingkar sempurna di pinggangnya seolah menjaga agar Luhan selalu merasa aman berada di pelukannya.
"sehun-..hmphh"
Dan saat Luhan meminta sedikit oksigen untuk dihirup, maka semakin dalam pula ciuman yang diberikan Sehun untuknya. Saat lidah Luhan meminta untuk keluar dan mencuri sedikit oksigen maka lidah Sehun akan memaksanya kembali masuk untuk sekedar dihisap dan digigit kecil memberikan sensasi yang begitu membuat seluruh tubuh Luhan melemas seketika. "sehunn…."
Luhan yang biasanya akan bisa mengimbangi gairah sang suami. Namun Luhan siang ini adalah Luhan yang kelelahan karena aktivitasnya sebagai dokter dan jangan lupakan kalau kepalanya masih sakit akibat kebodohannya mabuk bersama Baekhyun malam tadi.
Dan Sehun bukan seorang pria yang tidak bisa mengendalikan diri. Dia tahu dia tidak pada waktunya untuk mengganggu Luhan, membuat senyum terlihat di bibirnya sebelum perlahan melepas lumatannya pada sang istri. Keduanya terdiam sesaat sampai Sehun menempelkan dahinya di dahi Luhan. "Aku tidak berhutang apapun lagi padamu kan." katanya mencium sayang kening Luhan sebelum kembali mencium bibir istrinya.
Luhan mengangguk sebagai jawaban. Sekilas tertawa sebelum memeluk erat tubuh suaminya "Kau tidak memiliki hutang apapun lagi hari ini." katanya bersandar di dada Sehun. Kembali menikmati semilir angin dengan kecupan bertubi yang diberikan Sehun di pucuk kepalanya.
"Sehunn.."
"hmhh…"
"Kau ingin ikut makan malam denganku malam nanti?"
"Itu acara keluargamu sayang. Aku tidak akan mengganggu kali ini."
"Kau keluargaku."
"Aku suamimu."
"Bukankah sama saja?"
"Keluarga bisa terdiri dari beberapa orang untuk orang sepertimu. Dan untuk menjadi satu-satunya orang yang berharga untukmu aku harus memakai statusku sebagai suami kan?"
Luhan sedikit mendelik sebelum kembali memeluk erat tubuh suaminya "Meski tidak menggunakan status sebagai suamiki, kau akan tetap menjadi yang paling berharga untukku." Katanya memberitahu si pria tampan yang terlihat merona jika Luhan melihat wajahnya saat ini.
"Aku tahu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Triiing~
"Kyungsoo disini!"
Yang dipanggil namanya segera menoleh saat suara sang kakak memanggil. Kyungsoo bahkan melambaikan tangannya sebagai jawaban lalu berjalan mendekat ke arah Luhan yang terus tersenyum menatapnya. "Apa aku terlambat hyung?"
"Tidak-.. Kau datang tepat waktu baby soo."
Bukan Luhan yang menjawab. Melainkan seorang pria tinggi dengan nada khas suaranya yang kini berdiri di belakang Kyungsoo. Membuat Kyungsoo menoleh dan sedikit salah tingkah saat melihat Chanyeol berdiri di belakangnya untuk mempersilahkan dirinya duduk.
"hyung?"
"Ini aku. Jangan memandangku seperti melihat hantu. Cepat duduk."
Chanyeol memegang kedua bahu Kyungsoo dan memaksanya duduk. Sedikit mencium pucuk kepala Kyungsoo sebelum berjalan menarik kursi di samping Luhan "Baiklah. Aku akan meminta mereka mengeluarkan hidangan terbaik mereka."
Kyungsoo hanya memandang tak berkedip kedua kakaknya. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, yang jelas Kyungsoo sama sekali tak menyangka bahwa malam ini akan menjadi malam seperti sepuluh tahun yang lalu. Malam dimana Luhan dan Chanyeol selalu duduk di depannya dan makan malam bersama. Malam dimana mereka bisa berbincang tentang banyak hal akhirnya terulang lagi malam ini. Membuat sejumput rasa haru seketika ia rasakan namun terpaksa menahannya saat Chanyeol kembali menyapa dirinya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?"
Kyungsoo mengangguk sekilas sebagai jawaban, memberi senyum terbaiknya adalah hal yang ia lakukan agar tak membuat kedua orang yang begitu berarti untuknya terus menatap khawatir padanya "Sudah jauh lebih baik hyung."
"Baguslah. Kau harus baik-baik saja." Katanya mengusak sayang rambut Kyungsoo. Kembali ingin berbicara namun terpaksa berhenti karena beberapa pelayan sudah meletakkan makanan terbaik mereka di meja "Whoaa.. Sepertinya enak yeol."
"Ini semua masakan favoritmu dan Kyungsoo. Kalian harus makan yang banyak." Katanya memberitahu Luhan yang sudah benar tak berkedip melihat makanan, berbeda dengan Kyungsoo yang hanya tersenyum menatap makanan dan Luhan secara bergantian. Kyungsoo bahkan masih menikmati ekspresi Luhan yang sangat menggemaskan sebelum Chanyeol mengambilkan spagetti ke piringnya.
"Jangan hanya diam soo. Coba pasta kesukaanmu, aku sengaja memesan ukuran large." Katanya kembali mengusak kepala Kyungsoo yang terlihat semakin tegang saat ini.
"Cepat ma-hmm-makan Kyungie…Ini en-hmpph- ini enak-..uhuk!"
"Makan yang benar dan jangan berbicara saat mengunyah."
Chanyeol sedikit terburu mengambilkan air untuk Luhan, membantu Luhan meminum airnya sampai dia Luhan memberi aba-aba kalau dia sudah baik-baik saja "Ini enak sekali yeol. Kau harus sering-sering mentraktir kami berdua! Iya kan soo?"
"Aku akan memastikan kalau kalian berdua makan dengan baik dan cukup." Katanya membalas celotehan Luhan sebelum kembali menatap Kyungsoo yang masih terdiam "Kenapa kau tidak makan soo? Apa tidak enak? Atau kau ingin memesan yang lain?"
Kyungsoo menggeleng cepat sebagai jawaban. Dia terus diam bukan karena dia tidak suka. Sebaliknya-… Dia merasa malam ini adalah malam paling membahagiakan hampir seumur hidupnya. Duduk satu meja makan dengan keluargamu adalah hal yang tidak pernah terjadi untuk mereka bertiga. Saling berbagi tawa, bercerita banyak hal, menjanjikan untuk lebih sering berkumpul adalah sesuatu yang membuat ketiganya seolah terseret ke kecil mereka yang begitu membahagiakan. Dan untuk Kyungsoo-… Dia berniat untuk menjadikan malam ini sebagai malam yang tak akan pernah ia lupakan di sisa hidupnya.
"Bagaimana soo. Apa enak?"
"hmmhh…Ini enak hyung..hkss.."
Mata Kyungsoo begitu panas saat ini. Membuat sebutir air mata jatuh cepat ke pipinya. Sungguh dia tidak bermaksud untuk merusak suasana bahagia mereka malam ini. Dia hanya terlalu bahagia sampai tidak berani bangun jika ini semua hanya mimpi.
Dan untuk Luhan maupun Chanyeol. Ini adalah sebuah kegagalan saat melihat adik kecil mereka menangis. Entah Kyungsoo menangis karena dia terlalu bahagia atau adik kecil mereka terluka –air mata tetaplah air mata- membuat sesuatu yang tak berwujud seperti menusuk terlalu dalam ke hati mereka masing-masing.
"soo…"
Luhan meletakkan garpunya. Sedikit menepuk pundak Kyungsoo yang memakan makanannya terlalu lahap dan tanpa jeda "Ini enak –hkss- ini enak hyung. Sungguh." Katanya masih tak berani menatap Luhan maupun Chanyeol. Kembali mengambil spagetti nya dalam porsi banyak sebelum tangan Chanyeol menghentikan gerakannya.
"Kenapa hyung? Aku ingin makan, sudah lama sekali aku tidak makan makanan enak seperti ini."
"Maaf."
Awalnya Kyungsoo berniat untuk tidak menatap Luhan maupun Chanyeol, namun saat suara berat Chanyeol meminta maaf padanya maka saat itu pula Kyungsoo mengangkat wajahnya dan tak mempedulikan air mata yang semakin jatuh di wajahnya "hyung…" ujarnya begitu lirih tak tega melihat kedua wajah kakaknya yang terlihat lebih tertekan daripada dirinya. "Maaf karena membuatmu menjalani hidup mengerikan yang terlihat sangat berat untuk dilalui. Jika kami tahu kau masih hidup aku bersumpah akan terus mencarimu soo. Tapi berita tentang kematianmu adalah alasan mengapa aku dan Luhan berhenti mencarimu."
Kyungsoo tidak mengerti apa yang dibicarakan Chanyeol, membuar raut wajah bingung begitu terlihat di wajahnya namun tak terlihat menyalahkan kedua kakaknya "Kalian pikir aku sudah tiada?"
"Kebakaran di panti asuhan-…. Mereka mengatakan kau terjebak didalam sana soo."
Luhan yang berbicara memberitahu Kyungsoo. Nadanya begitu lirih dan tersirat kemarahan pada suaranya, membuat Kyungsoo sedikit tersenyum pahit mengakui bahwa dirinya memang berada disana saat kebakaran terjadi. Begitu berharap hari itu tidak pernah terjadi dan tak pernah ia ingat –mengapa?.." Karena di hari yang sama, dirinya diperintahkan membunuh seorang anak kecil berusia lima tahun yang merupakan malaikat kecil Sehun dan Luhan.
"Maafkan kami soo."
Tangan Kyungsoo hampir mati rasa karena mengepal terlalu erat. Bayangan dimana tubuh kecil Ziyu terpental diiringi jeritan memilukan dari Sehun dan Luhan seakan membunuhnya secara perlahan. Bagaimana bisa dia terus bersembunyi seperti ini dan tidak memberitahu kebenarannya pada Luhan. Bagaimana bisa dia menjalani hidupnya jika hanya rasa bersalah yang terus menggerogotinya setiap detik.
Dia berniat mengatakan kebenarannya pada Luhan. Tapi setiap kali dia ingin mengatakannya, maka saat itu pula ketakutan dan rasa egoisnya selalu menghalangi. Dia bahkan tidak berniat sedikit pun untuk melewatkan waktu bersama kedua kakaknya. Hanya menikmati waktunya yang tersisa sampai nanti Luhan tahu siapa Do Kyungsoo yang dengan kejinya telah merenggut malaikat kecilnya dan Sehun.
"Harusnya kami memastikan sendiri jika itu dirimu, bukan mempercayai ucapan orang asing yang bahkan tak mengijinkan kami melihat tubuhmu saat itu."
Kyungsoo kembali mengangkat wajahnya, tersenyum sangat terluka sebelum menggenggam kedua tangan kakaknya dengan erat "Hyung…" katanya mengusap tangan Luhan dan Chanyeol dengan bersamaan. Memberanikan diri menatap keduanya sampai senyum penuh kebohongan itu kembali ia tunjukkan "Terimakasih masih menjadi hyung untukku. Sungguh tidak ada yang begitu membahagiakan selain hidup bersama kalian. Terimakasih hyung."
"Soo…"
"Aku salah memilih jalan hidupku. Harusnya aku tumbuh menjadi seperti kalian, menjadi orang baik, menolong banyak orang dan hidup dengan bahagia. Aku menyesal menjalani hidup seperti ini, tapi demi Tuhan aku tidak pernah menyalahkan kalian. Sebaliknya-… Aku sangat berterimakasih karena kalian tetap menerimaku meskipun aku tumbuh menjadi seseorang yang mengerikan."
Kyungsoo menikmati rasa sakit di setiap ucapannya. Menyesali jalan hidup yang ia pilih saat dia memutuskan untuk menjadi "monster" dan bergabung dengan Yifan. "Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang aku ingin makan dan menghabiskan waktu dengan kalian. Bisakah?"
Baik Chanyeol dan Luhan kembali memandang Kyungsoo dengan perasaan bersalah. Namun kali ini mereka menahan diri, sedikit menenangkan diri mereka sendiri sebelum mengangguk menyetujui permintaan adiknya "Tentu saja. Benar kan Lu?"
Luhan menghapus cepat air matanya, menahan rasa sakit yang entah mengapa masih dirasakan hatinya. Dia menunduk untuk beberapa saat sebelum mengangguk menatap kedua saudaranya "Tentu saja. Aku juga tidak ingin menangis lagi. Terlihat sangat cantik kata Sehun." katanya tertawa kecil membuat Kyungsoo dan Chanyeol mau tak mau ikut tertawa.
"ck! Kau bilang kau manly! Sekarang kau mengakui kau cantik?"
"Aku bilang kata Sehun. Jadi hanya Sehun yang boleh mengatakan aku cantik."
"Terserahmu saja! Ayo baby soo. Sekarang coba sup nya. Ini sangat enak."
Kyungsoo kembali mengangguk saat Chanyeol mengambilkan sup untuknya. Mengabaikan Luhan yang masih cemberut dan terlihat sangat kesal karena tak didengarkan "ish! Ambilkan juga untukku Yeol!"
"Suruh saja Sehunmu yang melakukan!"
"Baiklah aku ambil sendiri! Awas kalau kau menggangguku." Katanya mengambil seluruh sup yang tersisa di mangkuk. Memakannya dengan lahap dan tak membiarkan Chanyeol dan Kyungsoo mencicipi sup lezatnya.
"slurppp….Ini enak!"
Niat awal Luhan ingin membuat Kyungsoo dan Chanyeol merasa iri karena dia memakan sup seorang diri, namun yang terjadi hanya berakhir menyedihkan untuk Luhan saat tak sengaja melihat leher Kyungsoo yang tidak tertutup syal dan menemukan tanda bekas ciuman berwarna ungu di lehernya. Membuat mata Luhan membulat dan
Uhuk!
"Hati-hati Lu….Minum ini."
Luhan mengabaikan segelas air yang diberikan Chanyeol. Lebih tertarik pada syal yang dikenakan Kyungsoo sebelum menarik syal yang dikenakan adiknya.
"hyung!"
Kyungsoo sedikit memekik saat Luhan menarik syalnya. Hampir membuat gerakan menahan tangan Luhan namun berakhir membiarkan kakaknya yang terlihat mencurigai dirinya saat ini.
"Tanda apa di lehermu? Kenapa berwarna ungu."
Chanyeol ikut melihat ke leher Kyungsoo. Sedikit menebak apa yang dimaksud Luhan sampai senyum menggoda jelas terlihat di wajahnya "Hey Lu… Adikmu sudah dewasa." Katanya berbisik membertitahu Luhan yang terlihat tak suka.
"Jangan bilang Kai yang melakukannya. Apa kalian sudah tidur..oh tidak. Aku seharusnya lebih tegas pada siapa pun yang mendekati adikku." Katanya bertanya menyeramkan membuat Kyungsoo mengusap tengkuknya yang terasa meremang.
"Bukan Kai yang membuat tanda di lehermu kan?" katanya kembali menyelidik. Sedikit menatap ragu pada Luhan sebelum matanya tak sengaja menatap Chanyeol yang hanya menatapnya seolah mengatakan katakan saja yang sebenarnya pada hyungmu. Kyungsoo semakin menggaruk tengkuknya karena pertanyaan Luhan semakin mendetail di tengah makan malam mereka.
"Baiklah itu pasti Kai! Kapan kalian melakukannya? Jangan katakan tadi malam-… Astaga Do Kyungsoo! Jawab pertanyaanku!" Luhan menggeliat resah di kursinya. Kyungsoo pun ikut menggeliat resah di kursinya sementara Chanyeol-… Chanyeol hanya tertawa melihat Kyungsoo seperti diinterograsi oleh seorang nenek tua.
"Kyungsoo jawab hyung. Hyung-…."
"Kai yang membuatnya hyung."
"oh tidak…." Celotehan Luhan tertelan di kerongkongannya. Tangannya panas dingin saat mendengar pengakuan sang adik "Kapan Kai melakukannya? Bukan malam tadi kan?"
"Kami melakukannya malam tadi hyung. Aku pikir aku sedang mabuk, tapi saat kami melakukannya aku sudah tidak terlalu mabuk dan ya-.. Kami melakukannya malam tidak. Kau tidak marah kan?"
"huwaaaaa ini memalukan sekali….Sangat memalukan."
Luhan menyembunyikan wajahnya di atas meja. Tangan kanannya mengetuk meja menggunakan sendok sementara tangan kirinya mengusak meja seperti anak kucing yang sangat menggemaskan "Apanya yang memalukan Lu?" Chanyeol mengusak rambut Luhan dengan asal, sementara yang sedang merana hanya menggumam semakin tak jelas
"Berarti hanya aku yang ditolak? Ish! ini benar-benar memalukan!"
"Siapa yang menolakmu hyung?"
"SEHUN!-… Dia yang menolakku. AKU ISTRINYA DAN AKU DITOLAK MENTAH-MENTAH OLEH SUAMIKU SENDIRI! INI MEMALUKAN-..ishhh menyebalkan!"
"Sehun menolak dirimu? Kenapa Sehun menolak dirimu? -..ah…tidak jadi. Aku sudah tahu maksudmu."
Chanyeol sengaja menggoda Luhan, sedikit mengerling Kyungsoo yang diam-diam kembali memakai syal nya sementara dirinya dan Chanyeol benar-benar tertawa melihat tingkah Luhan saat ini.
"Ah sudahlah! Dia akan menyesal menolakku!" katanya bergumam marah dan kembali melahap cepat makanannya.
"Pelan-pelan Lu. Kau bisa menceraikannya jika dia bosan."
"ish…!"
Kyungsoo benar-benar dibuat tertawa oleh kedua hyungnya. Chanyeol selalu mengambil kesempatan saat Luhan sedang kesal pada Sehun, namun disaat yang sama pula Luhan selalu marah jika ada yang berkata kasar atau menjelek-jelekkan suaminya.
"Kenapa lucu sekali hmm."
Mata Kyungsoo sama sekali tak berkedip menatap Chanyeol dan Luhan bergantian. Berniat untuk tertawa bersama kedua kakaknya sebelum menyadari sesuatu yang mengganggu penglihatannya.
Ckit….!
Blam….!
Blam…!
Mata Kyungsoo tak berkedip saat melihat pemandangan di luar jendela. Pemandangan dimana beberapa mobil hitam terparkir tak jauh di restaurant. Sedikit tak menghiraukan keberadaan mobil hitam itu sampai sesuatu membuat warna mukan menjadi pucat dan begitu ketakutan
"tidak…" Katanya menggumam takut saat melihat siapa orang-orang yang keluar dari mobil hitam itu. Beberapa pria yang membawa senjata dan menampilkan wajah-wajah tak asing yang Kyungsoo kenali adalah mantan anak buahnya saat dirinya bekerja bersama Yifan.
"Tidak mungkin." Katanya semakin ketakutan saat mantan anak buahnya berjalan lurus persis menuju tempat dirinya dan kedua hyungnya sedang makan malam.
Pikiran Kyungsoo menjadi gelap saat ini. Tangannya mengepal erat dengan mata yang terus memperhatikan kerumunan yang jelas sedang menuju ke arahnya. Kyungsoo tidak bisa berfikir jernih saat ini. Dia tidak peduli jika diserang seorang diri, tapi hal yang paling Kyungsoo takutkan adalah jika mereka menggunakan Chanyeol dan Luhan sebagai sandera untuk menangkapnya.
Kyungsoo bergerak semakin resah saat ini, matanya terus memperhatikan gerak gerik beberapa orang yang tanpa ragu mendekatinya sampai
"HYUNG!"
Baik Chanyeol maupun Luhan menatap Kyungsoo saat ini. Raut wajah konyol mereka pun berubah menjadi cemas melihat wajah adik mereka begitu pucat dengan mata yang tak berkedip melihat sesuatu di belakang keduanya.
"Soo? Ada apa-.."
"Jangan menoleh."
"Kenapa?" Kali ini Luhan yang berusaha menoleh namun seperti Chanyeol-... Kyungsoo mencengkram tangannya terlampau erat.
"AKU BILANG JANGAN HYUNG!-...Dengarkan aku." Katanya melepas cepat syal yang melilit lehernya. Mencari sesuatu dilehernya sebelum
Sret...
Kyungsoo merampas kasar kalung yang berada di lehernya. Memberikan cepat pada Luhan sebelum mengambil senjata yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya "Kalian harus cepat pergi darisini." Katanya berdiri dari kursinya dengan mata yang melihat memburu ke arah di belakang Luhan dan Chanyeol
"Soo..."
"Dan kau hyung! Berikan kalung itu pada Sehun. Dia akan tahu apa yang terjadi saat melihat kalung itu!" katanya menatap Luhan sekilas sebelum
"DO KYUNGSOO!"
"Sial!"
Awalnya Kyungsoo berniat pergi begitu saja. Namun seluruh mantan anak buahnya telah melihat dirinya bersama Chanyeol dan Luhan, membuat dirinya semakin tersudut tatkala seluruh pria berbaju hitam berjalan mendekat ke arah tempatnya berada.
Kyungsoo melihat beberapa di antara mereka membawa senjata. Dan satu-satunya cara untuk membuat kerumunan itu menjauh adalah dengan membuat keributan agar "ya…Aku harus membuat keributan" katanya menggumam panik. Sedikit mencari cara sebelum kembali melihat ke arah Luhan dan Chanyeol.
"Hyung…Maafkan aku." Katanya bergumam menyesal dan
BRAK…!
Kyungsoo membalik kasar meja makan di depannya. Membuat tak hanya kedua kakaknya yang terlihat panik namun seluruh pengunjung dibuat memekik dan menghambur ketakutan. Dan kesempatan ini yang tidak bisa dilewatkan Kyungsoo. Disaat semua mulai panik, maka dia diam-diam berlari menjauh sebelum suara senjata di tembakkan sangat terdengar di memenuhi restaurant malam ini.
"KYUNGSOOO!"
Luhan memekik memanggil Kyungsoo saat melihat adiknya dikejar oleh kerumunan pria berbaju hitam menyeramkan. Membuatnya berniat mengejar Kyungsoo sebelum tangan Chanyeol mencengkram erat tangannya terlampau kuat.
"KYUNGSOO! YEOL-..LEPAS TANGANKU!"
"Setelah mereka semua pergi kau juga harus pergi. Aku yang akan mengejar Kyungsoo. Oke?" katanya membawa Luhan bersembunyi di samping meja makan. Memastikan Luhan mengangguk mengerti sebelum mengejar Kyungsoo yang sudah melaju jauh menggunakan mobil yang entah milik siapa.
Sementara Chanyeol mengejar Kyungsoo di luar sana, maka di dalam restaurant Luhan begitu bergetar ketakutan. Matanya melihat dengan jelas bahwa Kyungsoo menyembunyikan senjata tajam di tubuhnya. Tapi bukan itu yang mengganggu pikiran Luhan. Kenyataan bahwa Kyungsoo memberikan sebuah kalung kecil yang terlihat seperti usb adalah hal yang sangat mengganggu pikirannya. Berikan kalung itu pada Sehun. Dia akan tahu apa yang terjadi saat melihat kalung itu!
"Sehun.." Luhan tahu satu-satunya orang yang harus ia hubungi adalah suaminya. Bukan karena Kyungsoo yang memintanya, tapi karena memang hanya Sehun yang terus bermunculan di kepala dan pikirannya saat ini. Luhan mulai merogoh saku jaketnya. Mencari nama kontak Sehun dan menekan tombol call dengan cepat sebelum
"argghhhhh…"
Luhan memekik saat seseorang menginjak kasar jemari tangannya. Luhan bahkan bersumpah mendengar suara patahan dari tangannya saat sepatu besar itu menginjak tangannya terlampau kencang "Sakiiithh.."
"aw-… Luhannie sakit? ah baiklah kalau begitu. Aku akan membuatmu semakin sakit malam ini."
Luhan tahu siapa pemilik suara itu. Suara yang bisa membuatnya begitu ketakutan dan benci dalam satu waktu. Membuat tangannya yang sedang diinjak semakin kasar itu tanpa sadar mengepal. Sedikit mendongak untuk menatap benci pada pria yang jelas bertanggung jawab atas kematian putra kecilnya "Yifan…" katanya mendesis kasar dan menatap terlalu benci pria yang sedang menginjak kencang telapak tangan kanannya.
"Aku sudah bilang kita akan segera bertemu lagi. Dan disinilah kita. Bertemu untuk saling membunuh." Katanya berbalik mendesis menatap Luhan. semakin menginjak tangan kanan Luhan membuat seluruh ringisan terdengar dari Luhan yang sedang menahan sakit.
Luhan mencari cara untuk meminta tolong, tapi dia tahu jika dia berteriak bajingan ini akan membawanya ke tempat asing yang tak bisa dilacak, dan menurut Luhan itu sebuah kerugian.
Mencoret daftar berteiak dan lebih memilih cara lain adalah hal yang sedari tadi Luhan pikirkan. Harusnya dia panik dan ketakutan berada dalam posisi ini, tapi mengingat tak hanya sekali dirinya berada dalam situasi ini, membuat Luhan mulai terbiasa menjalani hidup yang jauh dari kata tenang dan bahagia mengingat seluruh yang berhubungan dengannya hanya ketakutan dan darah.
Luhan masih berfikir bagaimana cara untuk memenangkan situasi, dia jelas tidak bisa mengirim pesan apalagi membuat panggilan telepon. Membuat rasa sakit di tangannya semakin terasa namun tetap memaksakan diri untuk berpikir sampai
"itu saja!"
Dan tanpa sepengetahuan Kris, Luhan diam-diam mendekatkan ponselnya yang tergeletak tak jauh darinya, membukanya cepat lalu mencari tombol yang bisa menghubungkannya langsung dengan Sehun. ya-… Dia tidak bisa mengirim pesan apalagi menghubungi Sehun. Tapi bukankah dia memiliki alat pelacak yang dipasangkan sang suami di ponselnya. Membuat tangan kirinya bebas bergerak mencari sebelum tersenyum menang menemukan aplikasi yang digunakan untuk memberitahu keadaan dirinya dalam keadaan darurat.
Luhan menekan cepat tombol merah yang dipasangkan Kaidi ponselnya, sedikit menunggu respon sampai
Pip…!
Pandangan Yifan teralihkan pada ponsel Luhan. Membuat kedua matanya membulat sebelum mengambil ponsel Luhan dan
BRAK…!
Yifan membanting kencang ponsel Luhan, menginjaknya hancur sampai berkeping hingga suara pip menghilang begitu saja. "BRENGSEK!" Kris menjambak kasar rambut Luhan. Menatapnya penuh benci sebelum
BUGH…!
Dalam satu kali tendangan, Kris menghantam kencang perut Luhan. membuat Luhan meringis begitu kesakitan sebelum kepalanya kembali dijambak oleh Kris "Jangan pernah bermain denganku Lu… Kau tahu aku membencinya." Gumamnya menjilat pipi Luhan, semakin menjambak kasar rambut Luhan sebelum menatap penjaga yang datang bersama dengannya "Bawa dia ke markas."
"Tapi kita sedang mencari Kyungsoo bos."
"Berhenti mencari Kyungsoo. Kita sudah mendapatkan umpan untuk memancing kedatangannya." Katanya menggeram marah sebelum
BUGH!
Sekali lagi Kris menendang perut Luhan, merasa begitu puas sebelum memutuskan untuk bermain lebih mengerikan lagi di markasnya sendiri.
.
.
.
"Jangankan biarkan Presdir Park ikut campur kali ini. Dia tidak akan datang jika tidak ada salah satu dari kalian yang-…."
Pip…
Pip..
Sehun yang sedang memimpin rapatnya seolah dibuat membeku menyadari nada yang selalu ia harapkan tak pernah terdengar dari ponselnya. Bersumpah tak berniat melihat ponselnya sebelum dua ponsel di tempat berbeda juga terdengar suara peringatan yang sama
Pip…
Pip…
Max yang pertama kali mengambil ponselnya. Dan dia bersumpah tidak ada yang lebih membuat ketakutan seolah berhasil membuatnya mati selain melihat peringatan yang bertuliskan Luhan in danger tertera di notifikasi ponselnya. Dia berniat memberitahu Sehun sebelum
BRAK….
"BOS! LUHAN!"
Shindong terlihat panik memberitahu Sehun. Dahinya kemudian mengernyit saat melihat Sehun tak merespon, dia melihat Kai dalam keadaan yang sama. Membeku dan terlihat memucat, sampai matanya menatap Max yang kini membuat keputusan menyadari benar apa yang sedang Sehun maupun Kai rasakan.
"PERINTAHKAN PENJAGA UNTUK MENCARI LUHAN! KEBERADAAN TERAKHIRNYA DI RESTAURANT SEKITAR MYEONGDONG. CEPAT!"
Beberapa kaki tangan Sehun mengangguk cepat merespon perintah Max. Segera berlari untuk mencari Luhan dan meninggalkan Max serta Shindong dengan Sehun dan Kai yang masih tak bergeming di tempat mereka masing-masing.
"Bos.. Kita juga harus mencari Luhan, akan berbahaya jika itu Yifan. Dia akan mendapatkan Kyungsoo melalui Luhan."
"Kyungsoo…"
Kai memberikan reaksi saat nama Kyungsoo disebutkan. Mematikan notifikasi yang tertera di ponselnya sebelum mencari nama pria yang baru menjadi kekasihnya hampir dua minggu terhitung saat ini.
"Angkat baby…Kau harus baik-baik saja. Aku mohon. Aku-….BRENGSEK!"
Kai menendang kencang kursi yang berada di depannya. Dia tahu ada yang tidak beres saat ini, membuatnya memutuskan untuk mencari Luhan dan Kyungsoo atas kemauannya sendiri mengingat Sehun yang masih tak bergeming di tempatnya
"JONGIN!"
"BOS!"
Max hampir berteriak memaki Sehun, namun yang terjadi hanya Sehun yang menatap kosong ke depan, matanya tak berkedip dan nafasnya terdengar sangat berat. Dia tahu harusnya dia segera memerintahkan seluruh penjaganya untuk mencari Luhan. Tapi yang terjadi adalah setengah jiwanya terasa dicabut paksa dari tubuhnya.
Dia tidak bisa berpikir dengan baik. Pikirannya begitu kosong dan hanya ada suara hati yang begitu menyelahkan keadaan saat ini Bukankah seharusnya sang istri bersenang-senang dengan dua orang yang tumbuh besar dengannya? Bukankah mereka harusnya membicarakan banyak hal tentang apa yang telah mereka lalui? Bukankah mereka harusnya tertawa hingga mabuk? Tapi kenapa Tuhan seolah tak pernah ingin memberikan istrinya kebahagiaan? Kenapa setiap istrinya akan merasakan bahagia dia harus kehilangan lebih banyak lagi? Mengapa?
Drrt…drtt…
Pikirannya sedikit terusik saat mendengar suara ponsel Max bergetar. Tak berniat bertanya namun diam-diam telinganya mencuri dengar percakapan Max dengan anak buahnya yang lain.
"Hancur bagaimana maksudmu?"
"Lalu bagaimana dengan Luhan? apa kalian menemukannya?"
"Sial! Tetap cari Luhan dan tanya pada seluruh orang yang melihat kejadian. Mengerti?" Max mengakhiri perintahnya. Sedikit memberikan suara cemas sebelum
Pip…
Dia mematikan ponselnya dan kembali menatap cemas pada Sehun "Mereka mengatakan ada banyak pria berbaju hitam yang mengacaukan restarurant. Dan salah satunya membawa seorang pria dengan mobil mereka. Maafkan aku bos. Aku rasa itu Luhan."
Kedua mata Sehun tertutup rapat saat ini, mengingat bagaimana bahagianya sang istri saat bercerita akan makan malam bersama Kyungsoo dan Chanyeol namun harus berakhir ketakutan dan berusaha meminta tolong pada dirinya.
Hati Sehun tak kuat membayangkan betapa ketakutannya Luhan malam ini, seluruh nafasnya terasa begitu menyakitkan membayangkan bahwa Luhan mungkin diperlakukan kasar sementara dia menjaganya bagai seseorang yang tak bisa disentuh. Tangannya mengepal erat menebak bagaimana usaha Luhan untuk menyalakan alat pelacak di ponselnya. Membuat seluruh tubuhnya mati rasa sebelum mengangkat wajahnya dan menatap Max dengan seluruh kekosongan yang ia rasakan
"Hubungi Yunho. Markasnya di sekitar Myeondeong-… akan lebih mudah jika mereka bisa menemukannya sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi pada Luhan. Katakan padanya aku meminta tolong agar dia menemukan istriku. Cepat hubungi Yunho-….CEPAT!"
Max mengangguk mengerti. Begitupula dengan Shindong. Keduanya segera mengambil ponsel masing-masing untuk menghubungi Yunho dan beberapa kaki kanannya. Meninggalkan Sehun yang kembali membeku menikmat pikiran buruk dan rasa ketakutan yang hampir tak pernah ia rasakan sebelum bertemu dengan Luhan.
.
.
.
Sementara itu….
Ckit…
Beberapa kali Kyungsoo membanting stirnya ke kiri, maka bebera kali pula dari arah yang berlawanan mobil disamping kanan dan kirinya secara bergantian menghimpitnya. Dan jangan lupakan beberapa mobil di belakangnya terus menembakan senjata yang mengincar ban mobilnya. Dia bahkan bisa saja membalas kalau tak mengingat ini masih berada di keramaian umum.
Dan saat melihat sebuah gang kecil di depan, Kyungsoo sengaja menginjak cepat gas mobilnya, membuat kedua mobil disamping kanan kirinya juga menaikkan kecepatan sampai akhirnya
Ckit…!
Dia mengerem kencang mobilnya, membuat mobil di belakangnya menabrak trotorar jalan dan tak lama mengarahkan mobilnya ke gang kecil tersebut.
DOR!
Kyungsoo tersentak saat mendengar suara tembakan, membuat tangannya mengepal erat dan tak sabar mengambil senjata yang diam-diam ia letakkan di mobil Luhan
DOR!
"Brengsek! Pikir kalian siapa yang membuat kalian menjadi pro seperti ini." katanya menggeram marah. Sedikit mempercepat mobilnya sebelum
Ckit…!
Kyungsoo sengaja berhenti mendadak, membuat dua mobil di belakangnya saling bertabrakan sebelum
DOR!
Tembakan pertamanya berhasil mengenai ban mobil mantan anak buahnya. Membuatnya sedikit menyeringai karena memiliki waktu untuk menghindar dan segera kembali melewati gang kecil untuk mencapai jalan besar.
Kyungsoo masih menjalankan mobilnya dengan cepat. Menelusuri gang kecil sampai matanya berbinar melihat jalan besar di depannya. Dia bahkan masih bisa tersenyum sampai kedua matanya membulat melihat satu mobil tiba-tiba berada di ujung jalan. Berniat menghalangi jalannya namun persetan dengan semua ini. Tangan Kyungsoo kembali mengepal erat. Berniat untuk menabrakan mobilnya dengan mobil yang menunggunya di ujung jalan. Dia tahu kemungkinannya untuk sadarkan diri sangat kecil, namun dia terdesak dan satu-satunya cara hanya menabrakan mobilnya dengan mobil yang menunggunya.
"Baiklah….Kita lihat siapa yang bertahan." Katanya menggumam terlalu marah, menginjak dalam gas mobilnya dengan mata yang tak berkedip menatap mobil di depannya. Kyungsoo bahkan berniat langsung menabrakan mobilnya. Ya-…Dia sudah hampir menabrakan mobilnya sampai jendela mobil itu terbuka dan menampilkan seseorang yang keberadaannya paling tidak ia inginkan saat ini
"hyung?" katanya bergumam panik sebelum
Ckit…!
Kyungsoo menginjak remnya dengan sekuat tenaga yang ia miliki, namun karena kecepatannya terlalu tinggi, rem yang ia injak seolah tak berfungsi. Membuat satu-satunya pilihan agar mobilnya tidak menabrak mobil di depannya hanya membanting stirnya ke arah berlawanan.
Ckit….!
Ban mobil Kyungsoo berputar, keseimbangannya nyaris tak bisa ia sesuaikan. Mobilnya bahkan berputar ke arah berlawanan namun segera ia banting ke kanan. Hingga posisinya benar dan berada di pinggir trotoar jalan.
Haah…haah….
Nafasnya benar-benar tersengal. Wajahnya bersembunyi di kemudi mobilnya sendiri, kemarahan dan ketakutannya kembali menjadi melebur menjadi satu. Dia bahkan berniat memaki Chanyeol sebelum pintu kemudinya terbuka dan Chanyeol memaksanya untuk bergeser ke bangku samping kemudi.
"Hyung…"
"Pindah." Katanya memberi perintah pada Kyungsoo. Dan menyadari suara Chanyeol menjadi berat. Kyungsoo tidak memiliki pilihan lain selain bergeser ke samping bangku kemudi.
"Sebenarnya siapa mereka?"
Chanyeol bertanya setenang mungkin. Tidak menyiratkan kemarahan namun tak pula berniat berbicara memakai hati. Dia tidak tahu siapa orang-orang yang hampir membunuh adik kecilnya, yang dia tahu mereka seorang pro dan tak ada yang tidak Kyungsoo ketahui mengenai hal itu.
"Hyung… Dimana Luhan hyung?"
"SIAPA MEREKA!"
Kyungsoo tersentak Chanyeol berteriak padanya, membuat dirinya tak memiliki pilihan lain selain memberitahu Chanyeol siapa orang yang mengejar dirinya "Dulu mereka bekerja untukku sekarang mereka menggigitku."
Chanyeol menoleh menatap Kyungsoo yang terlihat sangat marah namun tak bisa menyembunyikan rasa takutnya, tak sengaja melihat wajahnya yang berkeringat dengan pistol yang berada di tangan adiknya "Apa maksudmu?"
"Aku yang memimpin setiap tugas yang diberikan pada mereka. Aku bahkan melindungi mereka saat mereka terdesak. Sekarang mereka mengejarku bahkan berniat membunuhku. Aku takut hyung." Katanya tertawa pahit sebelum menundukkan kepalanya sedikit terisak.
"Mereka anak buahmu?"
"Mantan anak buahku." Katanya mengoreksi ucapan Chanyeol. Tangannya semakin mengepal erat dengan pistol yang sepertinya enggan ia lepaskan.
"Jadi kau mengatakan Yifan yang memberi perintah pada mereka?"
Kyungsoo mengangguk sebagai jawaban. Tidak berniat membalas apapun lagi karena tahu telah menyeret banyak orang tak bersalah bersamanya.
"soo…"
Kali ini Chanyeol sedikit berbaik hati, membawa Kyungsoo ke pelukannya dan mulai menenangkan adiknya yang luar biasa gemetar ketakutan. Kyungsoo bahkan tak berniat menolak pelukan Chanyeol. Sebaliknya-… Dia membiarkan dirinya terisak dengan mencengkram erat punggung kakaknya "Aku takut hyung…"
"sstt… Kau sudah bersamaku. Kau akan baik-baik saja." Katanya menenangkan Kyungsoo walau sama sekali tak yakin dengan ucapan.
Kyungsoo sudah merasa lebih baik karena Chanyeol menenangkannya. Tidak berniat melepas pelukan Chanyeol sebelum mendengar suara tembakan di belakangnya bersamaan dengan suara ponselnya yang bergetar.
Drtt…drrt…
"Kita harus pergi." Chanyeol mulai menyalakan mobil Kyungsoo berniat menginjak gas mobilnya sebelum tangan Kyungsoo menahan lengannya
"Ada apa Soo? Mereka semakin mendekat."
"Maaf hyung. Tapi kita tidak bisa pergi. Mereka mendapatkan Luhan."
"Mereka apa?"
"Mereka mendapatkan Luhan." katanya mengulang dengan wajah yang sangat pucat. Mengangkat ponselnya dan menunjukkan foto Luhan yang sedang disekap dengan tulisan Kau tahu harus menemukan kami dimana dan waktumu satu jam untuk datang kepadaku. Lewat dari waktu yang kuberikan, hyung tersayangmu akan mati di tangan hyung yang paling kau benci. Jika kau berani lari dan menghubungi Sehun atau siapapun. Aku bersumpah Luhan akan kesakitan.
Mata Chanyeol membelalak melihat gambar dan membaca pesan dari nomor tak dikenal. Membuat matanya menatap takut sebelum melihat kedalam mata Kyungsoo "Apa itu Yifan?"
"Ini Yifan." Katanya mengulang dan segera mengambil sesuatu dari dashboard mobilnya. Mencarinya cepat diiringi suara tembakan di luar sana yang semakin mendekat.
"Ambil ini hyung. Entah apa yang akan terjadi pada kita setelah ini, aku hanya ingin kau melindungi diri." Katanya memberikan pistol dan pisau kecil pada Chanyeol. Memaksa Chanyeol menyimpannya dan membantu meletakkan pisau di lengan baju Chanyeol "Soo."
"Maaf hyung."
BRAK…!
Dan bersamaan dengan suara Kyungsoo yang terdengar menyesal. Keduanya ditarik paksa keluar dari mobil. Dipukuli dengan keji hingga seluruh tubuh mereka mati lemas. Chanyeol melihat adiknya sama sekali tak membalas saat dua pria memukulinya dengan keji. Membuat kesadarannya semakin menghilang dengan tangan mengepal sebelum tak sadarkan diri dan bersumpah akan membalas apa yang mereka semua lakukan pada Kyungsoo maupun Luhan.
.
.
.
.
BYUR….!
Haaahh….~
Kyungsoo mengambil nafas sebanyak-banyaknya saat air disiramkan kasar ke wajahnya. Meringis merasakan sakit di setiap jengkal tubuhnya sampai tak sengaja menatap Luhan dan Chanyeol yang disekap tepat di depannya. "Hey adik kecil. Apa kau sudah bangun?"
Suara menjijikan milik Kris yang pertama kali ia dengar, membuat kemarahan bahkan sudah ia bisa rasakan disaat kesadarannya belum sepenuhnya kembali. "bajingan."
Kris mendengar umpatan Kyungsoo. Membuatnya tertawa marah sebelum menjambak kencang rambut Kyungsoo "Arghh.."
"Jaga mulutmu atau aku akan membunuhmu dengan sangat dan teramat menyakitkan."
"Kalau begitu lakukan."
Merasa tertantang dengan ucapan Kyungsoo, Kris mulai menjambak kencang rambut Kyungsoo. Memandangnya dengan keji sebelum
BUGH…!
"KRIS!"
Suara marah terdengar dari Luhan maupun Chanyeol. Membuat rasa sakit yang Kyungsoo rasakan semakin menjadi tak berani membayangkan jika Kris menyentuh salah satu dari Luhan atau Chanyeol.
"Ah-… Aku lupa ada kalian disini." Katanya berjalan menghampiri Luhan dan Chanyeol yang terikat di kursi. Berdiri di tengah-tengah sebelum memandang bergantian tiga pria yang pernah hidup dan tumbuh besar bersamanya.
"Aku merasa senang berkumpul dengan keluargaku. Apa setelah ini kita perlu berpesta? Aku rasa itu ide cemerlang." Katanya berbicara asal dan begitu menjijikan membuat Chanyeol tertawa marah dengan mata yang tak mau berkedip menatap benci pada Kris,
"cuh! Keluarga kau bilang? Aku lebih memilih mati daripada menjadi keluargamu!" Katanya meremehkan membuat Kris sedikit terusik dan mengerling penjaganya untuk memberi pelajaran pada Chanyeol. "Dan entah mengapa aku ingin sekali membunuhmu keparat. Aku-…."
BUGH!
BUGH!
"YEOL / HYUNG!"
Tongkat pemukul itu lagi-lagi di hantamkan pada tubuh Chanyeol. Membuat dokter spesialis itu bahkan sudah dalam keadaan kritis untuk tetap membuka matanya. Namun daripada merasa kesakitan, dia lebih memilih tertawa menatap seseorang yang jelas adalah pembunuh dengan tatapan meremehkan "Pengecut! Hadapi aku dengan tanganmu sendiri!"
Kris menggeram marah pada tantangan Chanyeol. Membuatnya berjalan menghampiri Chanyeol sebelum
BRAK…!
"Kris! Kita harus cepat. Sudah banyak penjaga yang berdatangan ke restaurant tempat mereka makan malam. Mereka akan segera menemukan kita jika kita tidak bergegas."
Kepalan tangan Kris seolah terhenti di tempatnya. Seolah tergoda untuk tetap memukul Chanyeol sebelum bertatapan dengan Feilong "CEPAT DESAK KYUNGSOO!"
"Haaaah~…Sayang sekali aku tidak memiliki waktu bermain denganmu Kris." Katanya memukul kencang wajah Chanyeol sebelum membalikan tubuhnya dan kembali berjalan mendekati Kyungsoo dengan kondisi tangan terikat ke atas dan kaki yang tak bisa menopang tubuhnya lagi.
"Dimana chip aslinya? Aku sudah muak kau permainkan DO Kyungsoo!"
Kyungsoo mendongak samar melihat wajah Kris. Sedikit menyeringai sebelum "F*ck you!"
Kris mendongak tertawa menatap Kyungsoo. Merebut paksa tongkat pemukul dari tangan penjaganya sebelum
BUGH!
"Brengsek! KATAKAN DIMANA CHIP ITU KAU SEMBUNYIKAN-….KATAKAN!"
"KRIS HENTIKAN! APA KAU GILA? ITU KYUNGSOO ADIK KITA!"
"DIA BUKAN ADIKKU…. DIA HANYA PEMBUNUH MENGERIKAN YANG PERNAH BEKERJA UNTUKKU!" Katanya membalas teriakan Luhan. Kembali mengangkat tongkat pemukulnya dan kembali memukulkan telak keseluruh tubuh dan wajah Kyungsoo.
"KYUNGSOOO!"
Jeritan Luhan semakin menjadi. Chanyeol bahkan bersumpah akan membunuh Kris jika ikatan di tangannya lepas, dia menggeliat marah di kursinya. Mencari cara agar ikatannya terlepas sampai dia teringat kalau beberapa saat lalu Kyungsoo meletakkan pisau di antara lengan kemejanya.
Chanyeol bahkan bisa merasakan pisau kecil di lengannya. Diam-diam mengeluarkan pisaunya dan mulai menggores perlahan ikatan di tangannya.
"KATAKAN DIMANA KAU MENYEMBUNYIKANNYA SIALAN!"
Chanyeol terus membuka ikatannya perlahan. Menatap nanar pada sosok Kyungsoo yang sama sekali tak mengeluarkan suara dengan suara Luhan yang terus berteriak dan terdengar menyakiti kerongkongannya sendiri.
"Aku rasa pisau ini akan membuat lidahmu berbicara Kyung… Aku benar-benar akan merobek mulutmu jika kau terus diam." Katanya mencengkram mulut Kyungsoo. Mengarahkan pisau tepat di depan bibir pria yang pernah bekerja untuknya. "Bicaralah adikku sayang." Katanya mencengkram kasar bibir Kyungsoo. Berniat menggoresnya sebelum
"WU YIFAAAAAAN!"
Chanyeol begitu saja menghambur mendekati Yifan, mencengkram kasar lengan pria yang memiliki tinggi sama dengannya sebelum
BUGH…!
Chanyeol memukul telak di wajahnya. Membuat Kris yang tak memiliki persiapan seketika tersungkur di lantai. Chanyeol bahkan memeriksa keadaan Kyungsoo terlebih dulu, hampir menangis saat melihat adiknya nyaris tak sadarkan diri "Bertahan sebentar lagi hmm.. hyung akan membawamu pergi." katanya memaksa Kyungsoo untuk tetap sadar.
"BERANI SEKALI KAU!"
Tak kalah marah dengan Kris-… Chanyeol pun kembali menghampiri Yifan. Sedikit memenangkan situasi sebelum beberapa penjaga Yifan kembali menangkapnya dan mencegahnya untuk memukul Kris lebih jauh lagi.
"Brengsek!" Kris menggeram marah menatap Chanyeol. Kembali mengambil tongkat pemukulnya dan mulai memukuli Chanyeol dengan penjagaan ketat untuknya "Berani sekali kau memukulku? BERANI SEKALI KAU BERTINGKAH TOLOL SEPERTI INI. AKU AKAN MEMBUATMU MENYESAL! KAU DENGAR HAH!?" katanya berteriak marah. kembali mengangkat tongkat pemukulnya dan mulai memukuli Chanyeol tanpa henti hingga
"hentikan….BERHENTI MEMUKUL CHANYEOL! HANYA HABISI AKU DAN JAUHI KEDUA KAKAK KU!"
Gerakan Kris terhenti saat mendengar teriakan Kyungsoo. Sedikit tertarik pada usaha Kyungsoo untuk berteriak mengingat kondisinya hampir mustahil untuk sadarkan diri apalagi berteriak. Dan seolah tak membuang kesempatan-… Kris mengeluarkan senjatanya. Mengokangnya penuh kemenangan sebelum menempelkan pistol tepat di dahi Chanyeol dengan mata yang menatap Kyungsoo tak berkedip.
"Hitungan ketiga. Beritahu dimana chip itu berada sampai di hitungan ketiga. Jika kau tetap diam aku tak segan menarik pelatuknya."
Kyungsoo menggeleng frustasi, matanya menatap memohon pada Kris namun dengan kejamnya Kris menggeleng dan semakin menekankan senjatanya pada Chanyeol
"Satu…."
"Chanyeol." Luhan menggeliat hebat di tempatnya saat ini. Tangannya sudah mati rasa karena diikat terlalu kencang. Hatinya bahkan berdebar sangat ketakutan mendengar Kris memulai hitungannya dengan senjata yang ia tempelkan di dahi Chanyeol.
"Dua."
"Katakan dimana chip itu sebelum kau melihat Chanyeol mati di depanmu soo." Katanya menyeringai menang menatap Kyungsoo frustasi. Namun saat melihat Kyungsoo masih enggan memberitahukan chip yang berisi data kriminal organisasi mereka serta uang dengan jumlah milyaran won yang berada di tangannya. Membuat kemarahan Kris berada di puncaknya.
"KATAKAN DIMANA KAU MENYEMBUNYIKAN BENDA ITU?! ATAU AKU BERSUMPAH AKAN SAMPAI PADA HITUNGAN KETIGA DAN MENARIK PELATUKNYA."
Kris bahkan tak berbaik hati pada Chanyeol. Dia semakin menekankan pistolnya dengan mata penuh kebencian yang menatap Chanyeol tak berkedip saat ini "Katakan selamat datang pada malaikat maut yang menjemputmu yeol." Katanya begitu marah dan berniat mendesak Kyungsoo dengan cara lain. Tidak berniat berbaik hati pada Chanyeol dan
"tiga…"
Kris sudah akan menekan pelatuknya sebelum
"AKU TAHU DIMANA BENDA YANG KAU CARI KRIS!-… AKU TAHU DIMANA BENDA ITU!"
Luhan tidak tahu sama sekali benda yang dimaksud Kris seperti apa. Tapi saat Kyungsoo menggeleng frustasi padanya, dia seolah menebak bahwa benda yang Kris cari adalah benda yang sama dengan kalung yang diberikan Kyungsoo padanya. Kalung yang sengaja ia jatuhkan di gang kecil saat anak buah Kris membawanya. Dia bahkan begitu senang menyadari jika itu benda yang Kris cari. Membuatnya memiliki alasan untuk mengulur waktu dan percaya bahwa diluar sana-…Sehun sedang mencari keberadaan dirinya.
"Jangan menipuku Lu."
"Aku tidak Kris-… Sungguh. Aku tahu keberadaan benda yang kau cari. Kyungsoo memberikannya padaku saat di restaurant dan aku menyembunyikannya di gang kecil di belakang restaurant. Aku bersumpah benda itu masih disana."
"Lalu bagaimana jika kau berbohong?"
"Kau bisa membunuhku disana. Aku akan menunjukkannya tempatnya padamu. Kau bisa-…"
"CUKUP HYUNG!"
Awalnya Kris ragu mendengar Luhan mengetahui keberadaan chip yang ia cari. Namun saat Kyungsoo berteriak cemas menatap Luhan-… Maka chip itu benar berada di Luhan. Membuat tangannya menghempas kasar tubuh Chanyeol sebelum berjalan mendekati Luhan "Jika kau berani berbohong. Aku pastikan kau akan melihat mayat Chanyeol dan Kyungsoo saat kau kembali nanti." Katanya melepas ikatan pada kursi Luhan dan memaksa Luhan untuk berdiri
"FEILONG!"
Yang dipanggil namanya segera mendekati Kris. Menangkap tubuh Luhan yang didorong oleh Kris sebelum menunggu intruksi selanjutnya dari pria kejam di depannya "Bawa Luhan ke restaurant tempat kita menangkapnya."
"Apa kau gila? Disana banyak orang-orang suaminya yang berkeliaran mencari keberadaan dirinya!."
"Chip nya berada disana. Hanya jangan menarik perhatian dan segera kembali setelah mendapatkan chip nya."
Feilong tak memiliki pilihan lain selain mengangguk. Terpaksa membawa Luhan bersamanya walau dia tahu kemungkinan dirinya akan bertemu dengan orang-orang Sehun akan lebih besar mengingat Luhan sedang dalam pencarian "Baiklah. Aku akan membawa beberapa penjaga untukku." katanya membawa Luhan dengan kasar. Meninggalkan Kris yang memperhatikan keberadaan mereka sebelum
"Luhan…"
Feilong mencengkram kasar lengan Luhan. membalikan paksa tubuhnya sehingga mata Luhan dan mata Kris kembali bertemu "Waktumu empat puluh lima menit dari sekarang. Jika kau tidak kembali dalam waktu yang aku berikan. Aku tidak berjanji akan berbuat baik pada Chanyeol dan Kyungsoo." Katanya mengancam Luhan dan tak lama melihat Feilong kembali mencengkram lengan Luhan. Membawa Luhan pergi sementara dirinya memerintahkan penjaga untuk mengikat Chanyeol persis di samping Kyungsoo.
.
.
.
.
.
BLAM….!
"CEPAT BERITAHU DIMANA KAU MENYEMBUNYIKANNYA!"
Luhan kembali dipaksa keluar dengan tangan terikat. Namun kali ini tangannya dipakaikan jaket agar tak terlalu menarik perhatian banyak orang. "Disana." Luhan menunjuk gang kecil tempat penjaga Kris membawanya. Dan tanpa berbaik hati Feilong mencengkram erat lengan Luhan. Mendorong kasar tubuh Luhan ke tempat yang dimaksud oleh Luhan. "Disini?" Luhan mengangguk membenarkan. Membuat Feilong memberi perintah pada anak buahnya "Cari dan temukan chip nya. Bajingan itu menyimpannya dalam bentuk liontin."
Dan tanpa menunggu waktu lama, beberapa penjaga Feilong mulai mencari kedalam lubang tempat Luhan menjatuhkan kalung yang diberikan Kyungsoo.
"Bagaimana? Apa kalian menemukannya?"
Luhan mengambil kesempatan saat fokus Feilong berada pada liontin yang dia jatuhkan. Melihat ke sekitar restaurant berharap mengenali seseorang namun harus berakhir mendesah menyadari tak ada satupun yang bisa ia harapkan. "Apa kau yakin menyembunyikannya disini?"
"….."
"LUHAN!"
Luhan tersentak saat Feilong berteriak padanya. Sedikit mengangguk melihat ke arah Feilong sebelum matanya kembali melihat ke belakang. Mengenali seseorang yang tengah berada dalam mobilnya dan sedang terlihat mencari seseorang diikuti beberapa mobil hitam di belakangnya "yunho?"
Luhan menggumam terlampau pelan. Entah rasa senang atau takut yang Luhan rasakan, yang jelas ini satu-satunya kesempatan yang ia miliki untuk bisa pergi dari situasi menakutkan ini. Perlahan dia memundurkan langkahnya dengan tangan Feilong yang masih mencengkram erat lengannya.
"Kami menemukannya bos!"
"Benarkah?"
Seolah mendapat jawaban atas kepanikannya. Luhan tersenyum saat Feilong tanpa sadar melepas cengkramannya. "Apa benar ini yang kita cari."
Feilong membuka cepat liontin tersebut, mematahkan satu sisinya. Sebelum tersenyum mendapati chip kecil yang ia cari berada di tangannya "Ya. Ini benar yang kita cari." Katanya tersenyum menang. Berniat melihat ke arah Luhan sebelum matanya membulat melihat Luhan tengah berlari menuju keramaian.
"LUHAAAAN!"
Luhan terus berlari menerobos keramaian. Matanya terus menatap mobil Yunho yang semakin menjauh, dia bahkan berharap bisa langsung berada di sebrang jalan agar setidaknya Yunho bisa melihat keberadaanMatanya terus menatap mobil Yunho yang semakin menjauh, dia bahkan berharap bisa langsung berada di sebrang jalan agar setidaknya Yunho bisa melihat keberadaan dirinya.
"tidak tidak…Yunho jangan naikkan kecepatan mobilmu."
Dan seolah tak sampai sini penderitaan Luhan, matanya membulat tatkala melihat mobil Yunho pergi dengan kecepatan tinggi. Dia melihat ke belakang dan begitu ketakutan saat anak buah Kris mengejarnya dari segala arah. Luhan kesulitan berlari dengan tangan yang terikat, namun saat melihat mobil Yunho berhenti di sebrang jalan. Dia merasa memiliki kesempatan dan
"YUNHO!"
Luhan berteriak memanggil teman suaminya. Berharap Yunho mendengar walau mustahil di tengah keramaian seperti ini.
"YUNHO!"
Luhan terus berlari dan berteriak. Dia sudah kehilangan suara dan tenaganya untuk terus berlari. "Sedikit lagi…" Katanya memekik senang saat berhasil menyebrang jalan. Beberapa langkah lagi dirinya berhasil mendekati Yunho sebelum
"YUN-…hmppph."
Tangan Luhan ditarik kencang saat melewati pinggiran jalan. Dia bahkan berniat menjerit sebelum ponsel di tempelkan paksa ke telinganya "Jika kau terus berlari. Aku benar-benar akan membunuh Chanyeol Lu-…LUHAN JANGAN HIRAUKAN KAMI TERUSLAH-…arghhh!"
Kaki Luhan sudah tidak bisa lagi menahan berat tubuhnya. Dia terjatuh di cengkraman penjaga Kris dengan Feilong yang tak lama berdiri di depannya "BERANI SEKALI KAU!" katanya berteriak tertahan sebelum
BUGH…!
Feilong memukul telak wajah Luhan. membuat Luhan yang sudah sangat kelelahan harus pasrah kehilangan kesadaran saat pukulan kencang kembali harus ia terima.
"BAWA DIA!" katanya memberi perintah pada anak buahnya. Melewati jalan yang tak terlalu mencolok sebelum membawa paksa Luhan untuk masuk kedalam mobil yang telah menunggu mereka dan
Brrmmm….!
Tak jauh dari tempat Feilong membawa Luhan-.. Yunho menoleh. Tangannya mengepal erat dengan wajah yang jelas menunjukkan rasa murka yang harus ia tahan dari awal dirinya melihat Luhan dibawa paksa oleh pria yang kematiannya adalah hal yang sangat Yunho inginkan.
Yunho merasa begitu jahat pada Luhan saat Luhan berteriak memanggil namanya namun terpaksa harus ia abaikan. Membuat rasa bersalah harus kembali ia rasakan sebelum memerintahkan beberapa penjaganya yang telah berada pada posisi mereka masing-masing "Ikuti mereka."
Alasan Yunho berpura-pura tak mendengar panggilan Luhan adalah karena Feilong harus kembali selamat ke markas mereka. Karena jika dia sampai membunuh Feilong saat ini juga. Maka banyak orang tak bersalah yang harus menerima kemurkaan Kris. Dan rencananya adalah mengikuti Feilong hingga pria berdarah China itu menuntun dirinya ke tempat dimana dimana Kris berada serta tempat dimana mereka membawa Luhan.
Yunho mengambil ponselnya sedikit mencari nama Sehun sebelum
"Aku menemukan Luhan."
.
.
.
.
.
.
.
"BAJINGAN SIALAN!"
Feilong mendorong kasar tubuh Luhan ke tanah. Membuat Luhan yang baru sadarkan diri terpaksa harus menahan mual merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Dia bahkan merasa lehernya kembali dicekik erat dan mulai menerima kenyataan bahwa hari ini mungkin adalah hari terakhirnya bisa melihat wajah Sehun
Uhuk…!
"LUHAN / HYUNG!"
Luhan menggeliat saat tangan Feilong mencekik kuat lehernya. Nafasnya sudah tersengal sampai suara Kyungsoo dan Chanyeol terdengar samar di telinganya. Sepuluh detik lagi mungkin dia akan kehilangan nyawanya kalau saja suara Kris tak menggema di gudang tua tempatnya menyekap Luhan.
"CUKUP!"
Feilong masih enggan melepaskan cekikannya pada Luhan. dia bahkan berniat menghabisi nyawa Luhan sebelum menghempas kasar tubuh Luhan ke tanah.
Uhuk! Haaahhh~…
Luhan terkapar di tanah. Tak bisa lagi menggerakan tubuhnya karena semua terasa begitu menyakitkan di tubuhnya.
"Kau mendapatkannya?"
Feilong mengeluarkan liontin yang diberikan Kyungsoo pada Luhan. melemparnya pada Kris hingga seringai jelas terlihat di wajah Kris. "Aku akan memeriksanya. Dan jika salah satu dari kalian membohongiku lagi. Aku bersumpah tidak akan berpikir dua kali untuk menghabisi kalian semua! Terutama kau!" katanya menyeringai pada Kyungsoo yang terlihat frustasi. Berjalan ke arah laptop nya untuk memastikan kali ini dia tidak dibodohi lagi oleh Kyungsoo.
"Bagaimana?"
Feilong berjalang mendekati Kris. Memastikan sendiri kalau chip kali ini adalah asli sampai Kris tersenyum ke arahnya "Kali ini kita mendapatkannya." Katanya memberitahu Feilong yang terlihat sangat senang namun tak bisa menutupi wajah kejinya.
"Lalu bagaimana dengan mereka?"
Kris mencabut paksa chip tersebut dari laptop. Sedikit mengangkat bahunya sebelum memberi perintah pada Feilong dan seluruh penjaganya "Habisi mereka sesuai urutan."
"brengsek!"
Luhan mendengar perintah Kris dengan jelas. Dia juga mendengar suara umpatan kemarahan Chanyeol yang terdengar sangat marah. Entah apa yang terjadi padanya setelah ini. Yang jelas seluruh pikirannya hanya bisa tertuju pada Sehun. Begitu takut tak bisa melihat suaminya lagi hingga hanya sneyum lirih yang terlihat di wajahnya "Selamat tinggal sayangku."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BLAM….!
"Yunho!"
Kai adalah orang kedua yang sampai di tempat yang diberitahukan Yunho dan Woobin. Menatap marah pada seluruh anak buah yang entah bagaimana caranya telah terkapar tak sadarkan diri "Apa benar ini tempatnya?"
"Itu mobil Luhan yang digunakan Kyungsoo kan?"
Kai melihat ke arah mobil yang dimaksud Yunho. Sedikit membenarkan sebelum menghambur kedalam tanpa berpikir "KAI"
Yunho berteriak memanggil Kai yang mulai tak mendengarkan perintahnya. Membuat dirinya mengerling Woobin yang masih berada dalam mobil untuk mengikuti apa yang dilakukan Jongin "Apa ini giliranku?"
Yunho mengangguk membenarkan. Membiarkan Woobin menyusul Kai sementara dirinya menunggu kedatangan Sehun.
.
.
.
.
.
.
.
"Kita mulai dari kau saja dokter Park."
Dan seolah tak ingin membuang waktu. Feilong tak sabar membunuh ketiga sanderanya sesuai urutan yang telah di tentukan Kris. Dimulai dari Chanyeol lalu kemudian Luhan dan terakhir Kyungsoo dengan maksud agar hanya penyesalan dan ketakutan yang Kyungsoo rasakan bahkan disaat dirinya tak lagi bernyawa.
Feilong mulai mencari jarak yang sesuai. Sedikit mengokang senjatanya sebelum mengarahkannya tepat ke wajah Chanyeol "Kau tidak bisa melakukannya Fei!" Kyungsoo berteriak memperingatkan namun hanya seringaian yang ia tunjukkan pada Kyungsoo "Kita lihat saja!" katanya menyeringai dan nyaris menekan pelatuknya sebelum
BRAK….!
Baik Feilong maupun Kris menoleh ke arah pintu terbuka. Tatapan terkejut dan takut jelas terlihat di wajah kedua orang yang memang tak sepadan bila dibandingkan oleh kekuatan Yunho maupun Sehun. Membuat Kris dengan cepat menutup laptopnya sementara Feilong berusaha melarikan diri namun
DOR…!
Namun sialnya kakinya harus terkena tembakan dari Woobin. "Jangan terlalu terburu-buru. Aku dengar kalian ingin bermain. Jika kalian ingin bermain. Carilah lawan yang sepadan dengan kalian." Katanya menyeringai memberitahu Feilong yang terlihat kesakitan saat ini Membuat Kris menggeram marah dan tak lama
"HABISI MEREKA SEMUA!"
Keributan pun terjadi seketika. Tangan Kai yang sedari tadi mengepal erat seolah tak sabar untuk membunuh satu persatu bajingan yang membuat keadaan Luhan dan kekasihnya begitu mengenaskan. Membuat dirinya mengeluarkan pistol dan tak lama menembak mati siapapun yang menghalangi langkahnya menuju Kyungsoo.
"Luhan…"
Sementara Kai mengambil alih Kyungsoo. Maka Woobin segera membawa tubuh Luhan yang terkapar tak berdaya bersandar di belakang tumpukan besi. "Apa kau baik?"
Antara sadar dan tidak Luhan mengangguk. Tangan lemasnya menunjuk ke arah Kyungsoo dan Chanyeol yang sudah dibebaskan Kai satu persatu "Bertahanlah sebentar lagi. Sehun akan datang hmm." Gumam Woobin mengusap lembut wajah Luhan. Merasa begitu tak tega pada keadaan Luhan yang terlihat sangat mengenaskan.
"Hey sayang. Aku disini."
Kai melepaskan ikatan di tangan Kyungsoo dengan tak sabar. Membuat tubuh Kyungsoo seketika terjatuh di pelukannya dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan yang ia tunjukkan "Kai…" katanya bergumam lirih sebelum merasa tubuhnya terangkat dan Kai meletakannya tak jauh dari tempat Luhan berada.
"Tunggu disini." Kai kembali bergegas menuju Chanyeol. Membantu Chanyeol duduk disamping Kyungsoo sebelum memastikan Luhan juga telah aman di tempatnya.
"Kita akan segera keluar dari sini. Aku hanya perlu meminta kalian untuk bertahan sedikit lagi. Oke?"
Kyungsoo dan Chanyeol mengangguk mengerti. Keduanya mengambil kesempatan untuk beristirahat sementara Kai dan Woobin masih menghabisi seluruh anak buah Kris yang terus berdatangan tanpa henti.
"Hyung. Kau baik-baik saja kan?"
Chanyeol tertawa mendengar pertanyaan Kyungsoo. Menoleh sekilas sebelum kembali harus meringis merasakan seluruh sakit di tubuhnya "Rasanya aku sudah mati. Tapi sepertinya aku melihat malaikat bersamaku." Katanya tersenyum menggoda Kyungsoo sebelum matanya tak sengaja melihat Kris yang diam-diam melarikan diri melewati jalan rahasia.
"Sial!"
Chanyeol kembali menggeram marah. Memaksakan diri untuk berdiri sebelum mengambil tongkat pemukul yang digunakan Kris untuk memukuli mereka belum lama tadi
"hyung? Apa yang kau lakukan?"
Kyungsoo bertanya namun Chanyeol mengabaikannya. Langkahnya masih gontai dengan seluruh rasa sakit di tubuhnya. Dia bahkan berhasil memukul beberapa penjaga yang menghalangi jalannya. Matanya hanya fokus pada Kris yang terlihat terburu-buru. Membuat langkahnya semakin cepat sebelum mengangkat tongkat pemukulnya dan
BUGH….!
Chanyeol memukul kencang punggung Kris. Membuat Kris terkejut dan tak sengaja menjatuhkan laptop serta chip yang sedari tadi berada di tangannya "KAU PIKIR KAU AKAN PERGI KEMANA!" katanya berteriak dan tak lama
BUGH…!
Kali ini Chanyeol memukul telak wajah Kris, membuat pria yang pernah menjadi teman dekatnya tersungkur nyaris tak berdaya namun tetap memasang wajah menyeringainya.
"Bunuh aku yeol! BUNUH AKU!"
Kris berteriak marah. membuat Chanyeol sedikit terdiam sebelum
TRING…!
Chanyeol membuat tongkat pemukulnya. Berjalan menduduki Kris dan tak lama mencengkram kasar leher pria di depannya "Dengan senang hati." Katanya memberitahu Kris dan tak lama Chanyeol memukuli wajah Kris berulang. Membuat Kyungsoo sedikit tersenyum melihat Chanyeol seolah mewakili perasaan marahnya pada Kris.
Dan selagi Kyungsoo memperhatikan Kris. Matanya tak sengaja melihat ke arah Feilong. Pria yang pernah menjadi partnernya memang tertembak di kaki. Namun seolah tak menyerah Feilong menjadikan Luhan sebagai targetnya saat ini membuat Kyungsoo ingin berteriak memberitahu Kai namun sial-… Suaranya hilang dan tertahan di kerongkongannya.
"hyung…."
Kyungsoo juga memaksakan diri untuk berdiri. Mengambil cepat pistol yang tergeletak di lantai sebelum fokus menargertkan Feilong sebagai targetnya. Penglihatan Kyungsoo semakin kabur. Namun matanya tetap berusaha fokus sampai
DOR…!
Senjata yang dipegang Feilong terjatuh begitu saja. Tembakan yang dikeluarkan Kyungsoo pun berhasil melukai tangannya dan membuat Feilong menatap marah pada Kyungsoo. Keduanya bahkan sudah bersiap untuk saling membunuh sebelum
"LUHAAAAN!"
Terdengar suara panggilan yang begitu menyiratkan kemarahan di suaranya. Semua yang berada di ruangan itu menoleh. Melihat betapa seorang Oh Sehun sungguh mengerikan jika miliknya disentuh. Dia bahkan bisa membunuh seseorang dengan tatapan mengerikan yang hanya dimiliki seorang Oh Sehun.
"LUHAN!"
Sementara Sehun berteriak memanggil namanya, maka si pemilik nama merasa seperti ditarik ke dunia nyata, membuat perlahan matanya membuka dan mencari dimana suara yang sangat ingin ia dengar tengah memanggil namanya.
"LUHAN!"
"sehun…"
Dengan bertumpu pada dinding, Luhan berusaha untuk berdiri. Sedikit berjalan gontai untuk mencari suaminya yang terasa sangat jauh walau mereka berada di tempat yang sama.
"Sehun…."
Langkah Sehun terhenti saat suara pria cantiknya terdengar. Membuat dirinya menoleh dan begitu tersayat melihat penampilan Luhan yang jauh dari kata baik. Kakinya terluka. Tubuhnya di penuhi darah dengan wajah yang penuh goresan dan ketakutan terlihat dari pria mungil yang selalu ia jaga dengan baik. Membuat nyawa Sehun seolah dicabut melihat bagaimana terlukanya Luhan yang masih tersenyum berjalan ke arahnya.
"Sayang." Katanya berjalan gontai menghampiri Sehun. sedikit bertanya kenapa Sehun tak berlari ke aranya sebelum
BRAK…!
Luhan terjatuh tepat didepan mata Sehun, namun Sehun tak membantunya. Luhan kembali harus berdiri susah payah dengan menahan sakit sebelum kembali berjalan tertatih mendekati suaminya "Sehun." Katanya tersenyum penuh ketakutan. Hampir terjatuh lagi namun kali ini Sehun menangkap tubuhnya dan memeluknya sangat erat.
"syukurlah kau datang Sehunna." Katanya bergumam pelan menikmati pelukan Sehun. sedikit merasa kecewa saat Sehun melepas cepat pelukannya dan kini melihatnya intens dari atas kepala ke ujung kakinya.
"Sehun kenapa kau hanya diam."
Air mata Sehun jatuh sekilas. Dia tidak menghapusnya dan hanya membiarkan rasa bersalah kembali ia rasakan. Tak ada satupun suara yang Sehun keluarkan. Tangannya hanya mengabsen satu persatu bagian tubuh Luhan. memastikan tak ada cacat sedikit pun walau luka gores dan memar berada di seluruh tubuh istrinya.
"Kau pasti lelah." Katanya mengusap lembut pipi Luhan. membuat Luhan mengangguk dan menikmati sentuhan suaminya "Iya aku lelah sayang."
"Aku akan menyelesaikan ini untukmu sayang. Tunggu aku dirumah."
Luhan menggeleng tak menyetujui. Sedari tadi yang dia inginkan hanya Sehun. maka hanya Sehun pula yang bisa membawanya pulang kerumah "Aku akan pergi jika kau pergi."
Sehun tersenyum sangat terluka. Mencium lama kening Luhan sebelum mengerling Max untuk mendekat "Kalau begitu aku terpaksa melakukan ini."
"Melakukan apa sayang. Aku tidak-…nghhmpph.."
Luhan dibuat pingsan oleh obat bius yang diberikan Max padanya. Membuat Sehun dengan segera memeluk tubuh istrinya yang nyaris terjatuh sebelum memberi perintah pada Shindong.
"Bawa dan obati istriku. Pastikan tidak ada yang menyentuhnya lagi. Aku tidak mau melihat darah di tubuhnya lagi, kau mengerti?"
Shindong mengambil alih tubuh mungil Luhan. Menggendong bagian hidup bosnya sebelum menngangguk mengerti ucapan Sehun "Aku permisi bos."
Sehun dengan tak rela melihat Luhan terkulai lemas atas perintahnya. Membuat sedikit perasaan sakitnya hilang dan digantikan rasa marah yang nyaris tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Matanya menatap tak berkedip pada Kris yang sudah terkapar di lantai. Memakai cepat kedua sarung tangan hitamnya bergantian sebelum menatap luar biasa menakutkan pada Kris saat ini "Sekarang giliranmu."
.
.
.
.
.
.
.
"nghh…"
Luhan membuka matanya perlahan. Efek menyengat dari obat bius yang diberikan Max masih sungguh membuatnya mual.
"Shindong?"
Dan saat dirinya sedikit demi sedikit mendapatkan kesadarannya-… Luhan memberontak. Dia tahu dia sedang berada dalam mobil saat ini, membuat matanya menoleh memastikan kalau jaraknya dibawa pergi belum terlalu jauh dari tempat Kris membawanya.
"ngh… Kenapa kau mengikatku?" katanya begitu marah saat melihat tali kembali diikat di pergelangan tangannya yang masih terasa sakit
"Maaf Luhan. Aku hanya mengikuti perintah direktur Oh."
Luhan meronta di tempatnya. Berniat melepas ikatan pada tangannya namun percuma karena Shindong mengikatnya terlalu kuat "Bawa aku kembali kesana." Katanya tiba-tiba berteriak, membuat Shindong hanya menoleh sekilas sebelum menatap Luhan menyesal "Perintahnya adalah membawa kau kembali ke markas Lu. Maaf aku tidak bisa."
"BAGAIMANA BISA AKU MENUNGGU SEMENTARA SUAMIKU DISANA?" katanya masih meronta semakin marah. tak tahan membayangkan apa yang akan terjadi pada suami, teman serta saudaranya di gudang mengerikan yang belum lama menyekapnya. "APA KAU TULI? LEPASKAN AKU SHINDONG!"
"…"
"SHIN DONG HEE!"
"Maaf Luhan."
Luhan menetralkan nafasnya sejenak. Masih memikirkan cara agar bisa kembali pada suaminya sebelum suara beratnya mengganggu pendengara Shindong "Putar balik atau aku bersumpah akan memotong nadi ku dengan pisau ini." katanya mengancam Shindong yang jelas panik melihat Luhan entah darimana mendapatkan pisau kecil dan menekan kuat nadinya.
"Luhan jangan seperti ini aku mohon. Aku tidak bisa-…"
"PUTAR BALIK ATAU AKU BENAR-BENAR AKAN MEMOTONG NADIKU SAAT INI JUGA!" katanya berteriak frustasi dengan tangan yang semakin erat menekan nadinya. Membuat Shindong tak memiliki pilihan lain selain
Ckit…
Dia mengerem mobilnya secara mendadak. Segera memutar balik mobilnya agar Luhan bisa kembali ke tempat dimana suaminya berada.
Blam…!
Tak beberapa lama kemudian Shindong terpaksa membawa Luhan kembali ke gudang tua itu. Membuka pintu belakang Luhan sebelum meminta pisau yang sedari tadi di cengkram erat oleh Luhan "Aku akan melepas ikatanmu." Katanya memberitahu Luhan dan mulai memotong tali yang ia pasangkan menggunakan pisau kecil Luhan.
"Sehun!"
"Luhan tenanglah. Biar aku memeriksa keadaan di dalam terlebih dulu."
"Tidak! Aku tidak mau!"
"Lima belas menit Luhan. berikan aku waktu lima belas menit. Setelah lima belas menit. Entah aku keluar atau tidak kau boleh masuk. Oke?"
Luhan sedikit mengalah kali ini. mengangguk sebagai jawaban sebelum mengernyit melihat Shindong mengambil pistolnya "Ini-… Gunakan seperti ini." katanya mencontohkan cara mengokang pistol pada Luhan. memastikan Luhan melihatnya dengan benar sebelum mengembalikan posisi pistol ke posisi semula "Gunakanlah jika ada yang mendekatimu. Aku akan segera kembali." Katanya memberitahu Luhan sebelum mengokang senjatanya sendiri. Menutup perlahan mobil dalam posisi menyala sebelum meninggalkan Luhan seorang diri di mobilnya.
.
.
.
.
.
Lima belas menit telah berlalu dengan cepatnya. Dan setelah lima belas menit itu pula tak ada tanda-tanda kedatangan Shindong. Membuat Luhan memutuskan untuk menunggu sedikit lebih lama lagi sebelum
DOR!
Dirinya tersentak saat mendengar suara tembakan di dalam gedung. Membuat pikiran kacau kembali mengusainya dan memutuskan untuk segera berjalan masuk ke arah gedung.
Luhan masih mengendap perlahan memasuki gedung tua itu. Sampai akhirnya dia berada di depan pintu masuk dan mendengar suara suaminya berteriak
"KATAKAN SIAPA YANG MEMBUNUH PUTRAKU?"
Luhan menutup erat mulutnya. Tak berniat mengeluarkan suara terlebih saat mendengar suaminya berteriak begitu terluka. Dia masih berada dalam posisinya dan memutuskan untuk sedikit melihat kedalam sebelum matanya kembali di buat membulat dengan posisi yang ia lihat saat ini.
Tangan kiri suaminya jelas tertembak dan terus mengeluarkan darah. Chanyeol terduduk lemas di sudut ruangan dengan Kyungsoo yang terus berada di pelukan Kai. Luhan bahkan harus melihat wajah Yunho terkena goresan pisau sementara Woobin berdiri tepat dimana tubuh Feilong yang Luhan tebak sudah tak bernyawa berada.
Dan yang paling membuatnya berdebar adalah posisi Kris yang diikat di tempat yang sama dengan Kyungsoo dan Chanyeol diikat saat ini. wajahnya sudah babak belur dengan darah yang mengalir di seluruh tubuhnya. Dan entah mengapa-… Untuk kali pertamanya Luhan sangat menginginkan kematian seseorang. Sedikit bertanya mengapa suaminya masih membiarkan Kris hidup sementara tangan kirinya terus mengeluarkan darah.
"KATAKAN PADAKU SIALAN!"
"Ck. Kenapa kita tidak bertanya pada Kyungsoo. Mungkin dia tahu siapa yang membunuh putramu. Ah-.. kau benar. Kyungsoo tidak mengetahui apapun,"
Kyungsoo yang nyaris tak sadarkan diri hanya bisa menatap Kris dengan frustasi. Dia bahkan sudah mempersiapkan diri jika dia sadarkan diri nanti, dia rela menghadapi kemarahan Sehun jika tahu yang sebenarnya. Hatinya terus memohon agar setidaknya bukan Kris yang memberitahu siapa dirinya sendiri. Terus memohon sampai rasanya dia ingin menertawakan dirinya sendiri karena entah dirinya memohon pada siapa.
"brengsek. KUBUNUH KAU!"
"BUNUH AKU DAN KAU TIDAK AKAN PERNAH TAHU SIAPA PELAKU YANG MENABRAK TUBUH PUTRA KECILMU. BUNUH AKU DAN KAU AKAN MENYESAL SEUMUR HIDUP OH SEHUN!"
"Jangan menggertakku bajingan."
"ck. Aku bahkan akan terus menggertak agar kau tak bisa membunuhku."
"Kalau begitu tidak akan ada yang membunuhmu sampai kau mengatakan yang sebenarnya. Tapi biarkan aku menyakitimu agar kau segera membuka mulut." Sehun mengerling anak buahnya. Dan tak lama genangan air itu menyengat hebat di tubuh Kris. Membuat Luhan yang sedang melihat begitu dibuat mual oleh semua yang terjadi malam ini.
"Katakan!"
"Baiklah akan aku katakan! Aku akan mengatakan apa yang aku ingat. Aku ingat saat tubuh putramu terpental mengenai trotoar jalan. Aku bahkan mengingat kau dan Luhan sedang menerima telepon seolah memberi umpan manis kepada pembunuhku."
Kaki Luhan kembali tak bisa menopang tubuhnya. Dia terduduk lemas dengan seluruh kemarahan menguasai hatinya. Bagaimana bisa dia mengenal dan bertemu dengan pria sekeji Yifan. Bagaimana bisa Yifan setega itu pada dirinya. Luhan tahu dia membuat kesalahan dengan merenggut nyawa kekasihnya. Tapi bukankah itu suatu ketidaksengajaan? Dan jika Yifan marah. mengapa harus Ziyu yang menanggung kemarahan Yifan.
Hksss..
Luhan terisak hebat saat mengingat bayangan terakhir wajah putra kecilnya saat itu. Merasa begitu gagal menjadi seorang ibu yang menjadi penyebab kematian putrany sendiri. Luhan menutup kencang mulutnya. Berusaha menulikan pendengarannya namun ucapan Kris terus terdengar menghina seorang malaikat kecil yang telah tiada satu tahun yang lalu.
"Aku tidak peduli apapun yang ucapkan. Hanya katakan siapa yang membunuh putraku?"
"Ziyu kecil bahkan memekik memanggil eomma saat tubuhnya terpental. Namun sang eomma hanya sibuk menerima telepon dan wussh… Ziyu kecil kehilangan nyawanya dalam hitungan detik."
"JANGAN PERNAH MENYEBUT NAMA PUTRAKU!"
Sehun berteriak marah dan tak lama terdengar suara erangan dari Kris yang kembali harus merasakan sengatan listrik. Keduanya bahkan masih berniat dalam posisi saling menyiksa sementara Luhan hancur diluar sana.
"naak…"
Hati Luhan terasa diremat begitu sakit mendengar omong kosong yang Yifan ucapkan. Dia berusaha berdiri namun harus kembali terjatuh karena rasa sakit dan lemas di tubuhnya begitu menyiksa. Hkss… Luhan menyerah pada rasa sakitnya. Dia membiarkan tak hanya tubuh namun hatinya begitu sakit. mendengarkan seluruh omong kosong Yifan yang membuat hati nuraninya menghilang entah kemana.
"Naikkan tegangannya."
"Kau dan Luhan bukan orang tua yang baik Oh Sehun. Kau membiarkan putra kalian meninggal di depan kedua mata kalian sendiri."
Luhan mengangkat wajahnya. Tak tahan mendengar penuturan Kris yang terdengar semakin meracau seolah menyalahkan Sehun dan dirinya sebagai penyebab kematian putra kecil mereka.
"Kalian adalah yang terburuk Oh Sehun."
Luhan kembali mencoba berdiri dengan pistol yang berada di genggamannya. Sedikit membenarkan nafas sebelum berdiri tepat di depan pintu masuk dengan posisi berada di belakang Sehun dan berada tepat di depan Yifan.
"Sudah siap bos."
"Nyalakan."
"AKU AKAN MENGATAKANNYA OH SEHUN!"
Sementara Kris mulai akan mengatakan yang sebenarnya. Maka tak jauh dari tempatnya Luhan sudah mengangkat pistol yang ia bawa.
"KATAKAN!"
"Aku bahkan ingin tertawa mengingat wajah putramu saat meregang nyawa hari itu. Dia begitu kesakitan. Namun percuma memiliki ibu seorang dokter yang tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan putranya."
Cengkraman Luhan di pistolnya semakin menguat. Dia benar-benar akan menembak Kris jika posisi Sehun tidak menghalanginya. Menulikan pendengarannya untuk tidak mendengar segala omong kosong yang diucapkan Kris dan hanya berniat membuat mulutnya diam untuk selamanya.
"KATAKAN!"
Sehun menggeser posisinya. Membuat Luhan sedikit tersenyum dan berjanji tidak akan menyesali keputusannya untuk menghabisi Kris dengan kedua tangannya sendiri.
"NYALAKAN!"
"PEMBUNUH PUTRAMU ADALAH D-…"
Mata Kris dan mata Luhan sempat bertemu. Membuat teriakannya tersangkut di kerongkongan tatkala melihat Luhan mengarahkan pistol ke arahnya. Luhan bahkan sempat menyeringai saat kedua mata mereka bertemu sebelum
DOR…!
"siapa yang berani membunuhnya tanpa seizinku."
Keadaan menjadi hening sesaat. Tembakan itu berhasil membuat Kris kehilangan nyawanya dalam hitungan detik. Membuat raut wajah marah jelas terlihat di wajah Sehun yang tak lama lagi bisa mengetahui pembunuh putranya setelah gagal mencari hampir setahun lamanya. Membuat tangannya mengepal erat dan
"BERANI SEKALI KAU MENEMBAK TANPA IZIN DARIKU." Katanya berteriak marah pada seseorang yang berada di belakangnya. Sehun bahkan sudah mengarahkan senjatanya berniat untuk membunuh si penembak sebelum tangannya secara refleks menjatuhkan pistolnya sendiri.
"Luhan…?"
Luhan masih dalam posisi menembak Kris saat ini. Tangan dan tubuhnya mati rasa setelah untuk kali pertamanya membunuh seseorang dengan sengaja. Biasanya Luhan akan kehilangan nyawa seseorang di ruang operasi. Bukan merenggutnya langsung seperti ini. Membuat sesuatu dalam dirinya memberontak marah sementara yang lain mengatakan kerja bagus pada dirinya.
Trang…!
Luhan menjatuhkan pistol yang berada di tangannya. Melihat kedua tangan yang baru saja membunuh tanpa ekspersi.
Bagaiamana bisa tembakan dari seorang yang amatir bisa membuat nyawa seseorang melayang dalam hitungan detik?
Itu adalah pertanyaan yang berada di benak semua orang termasuk Sehun saat ini. Dan jika mereka bertanya langsung pada Luhan. Maka Luhan akan menjawab
"Mungkin aku bukan bagian dari organisasi gelap yang kalian jalani. Aku juga bukan mafia tingkat profesional seperti kalian. Aku tidak bisa berkelahi. Aku juga tidak bisa menembak. Tapi bukankah aku seorang dokter? Ya-….Aku seorang dokter. Dan kau tahu apa keuntunganku menjadi seorang dokter?"
"Jawabanku adalah-… Aku tahu bagian vital dari tubuh manusia. Aku tahu bagian mana saja yang jika terluka akan membuatmu mati seketika. Aku bahkan bisa menyiksamu jika aku mau. Jadi katakan padaku mana yang lebih mengerikan? Menjadi mafia seperti kalian atau menjadi dokter yang menyalahgunakan wewenangnya sepertiku? Ah-… Aku rasa aku lebih mengerikan daripada kalian."
Luhan masih tak berekspresi menatap kedua tangannya. Antara rasa bersalah dan puas berkecamuk menjadi satu di dalam dirinya. Matanya kemudian menatap mayat Kris yang menggantung disana, terlalu menatap benci pada pria yang pernah menjadi saudaranya sampai tak sengaja matanya menatap Sehun.
Dan kekuatannya seolah menghilang saat mata Sehun menyiratkan kekecewaan padanya. Nafasnya mendadak sesak sampai akhirnya kakinya kembali menghianatinya.
"sayang"
Tubuh Luhan kembali terjatuh jika Sehun tak berlari menangkapnya. Kedua mata mereka kembali bertatapan menyampaikan segala perasaan yang menghimpit dada mereka. Luhan tahu Sehun kecewa padanya. Namun wajah tampan itu terus tersenyum, membuat sebuah isakan kecil keluar dari mulut Luhan "Sehun."
.
.
.
.
tobecontinued…
.
.
Rinduuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu deh
.
Btw… yifan beres tinggal kakek tua beserta jajarannya yak kkkkk. Maapin pens nya abang naga gue buat ngenes gini. Ga maksud kok :""""
.
Maapkeun aku yang lagi sibuk persiapan audit jadinya ngaret lagi jadwal apdetnya.
Mungkin kedepan ngaret lagi tapi tetep diusahain apdet kok ya…
.
See you di MFC. Buy buy
,
Happy reading n reviews
