Previous

"KATAKAN SIAPA YANG MEMBUNUH PUTRAKU?"

Luhan menutup erat mulutnya. Tak berniat mengeluarkan suara terlebih saat mendengar suaminya berteriak begitu terluka. Dia masih berada dalam posisinya dan memutuskan untuk sedikit melihat kedalam sebelum matanya kembali di buat membulat dengan posisi yang ia lihat saat ini.

Tangan kiri suaminya jelas tertembak dan terus mengeluarkan darah. Chanyeol terduduk lemas di sudut ruangan dengan Kyungsoo yang terus berada di pelukan Kai. Luhan bahkan harus melihat wajah Yunho terkena goresan pisau sementara Woobin berdiri tepat dimana tubuh Feilong yang Luhan tebak sudah tak bernyawa berada.

Dan entah mengapa-… Untuk kali pertamanya Luhan sangat menginginkan kematian seseorang. Sedikit bertanya mengapa suaminya masih membiarkan Kris hidup sementara tangan kirinya terus mengeluarkan darah.

Cengkraman Luhan di pistolnya semakin menguat. Dia benar-benar akan menembak Kris jika posisi Sehun tidak menghalanginya. Menulikan pendengarannya untuk tidak mendengar segala omong kosong yang diucapkan Kris dan hanya berniat membuat mulutnya diam untuk selamanya.

"KATAKAN!"

Sehun menggeser posisinya. Membuat Luhan sedikit tersenyum dan berjanji tidak akan menyesali keputusannya untuk menghabisi Kris dengan kedua tangannya sendiri.

"NYALAKAN!"

"PEMBUNUH PUTRAMU ADALAH D-…"

Mata Kris dan mata Luhan sempat bertemu. Membuat teriakannya tersangkut di kerongkongan tatkala melihat Luhan mengarahkan pistol ke arahnya. Luhan bahkan sempat menyeringai saat kedua mata mereka bertemu sebelum

DOR…!

"siapa yang berani membunuhnya tanpa seizinku."

Trang…!

Luhan menjatuhkan pistol yang berada di tangannya. Melihat kedua tangan yang baru saja membunuh tanpa ekspersi.

Bagaiamana bisa tembakan dari seorang yang amatir bisa membuat nyawa seseorang melayang dalam hitungan detik?

Itu adalah pertanyaan yang berada di benak semua orang termasuk Sehun saat ini. Dan jika mereka bertanya langsung pada Luhan. Maka Luhan akan menjawab

"Mungkin aku bukan bagian dari organisasi gelap yang kalian jalani. Aku juga bukan mafia tingkat profesional seperti kalian. Aku tidak bisa berkelahi. Aku juga tidak bisa menembak. Tapi bukankah aku seorang dokter? Ya-….Aku seorang dokter. Dan kau tahu apa keuntunganku menjadi seorang dokter?"

"Jawabanku adalah-… Aku tahu bagian vital dari tubuh manusia. Aku tahu bagian mana saja yang jika terluka akan membuatmu mati seketika. Aku bahkan bisa menyiksamu jika aku mau. Jadi katakan padaku mana yang lebih mengerikan? Menjadi mafia seperti kalian atau menjadi dokter yang menyalahgunakan wewenangnya sepertiku?Ah-… Aku rasa aku lebih mengerikan daripada kalian."

Dan kekuatannya seolah menghilang saat mata Sehun menyiratkan kekecewaan padanya. Nafasnya mendadak sesak sampai akhirnya kakinya kembali menghianatinya.

"sayang"

Tubuh Luhan kembali terjatuh jika Sehun tak berlari menangkapnya. Kedua mata mereka kembali bertatapan menyampaikan segala perasaan yang menghimpit dada mereka. Luhan tahu Sehun kecewa padanya. Namun wajah tampan itu terus tersenyum, membuat sebuah isakan kecil keluar dari mulut Luhan "Sehun."

.

.

.

.

.

.

.

.

Entangled

Main Cast : Sehun & Lu Han

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

"Ini akan sedikit sakit."

Luhan menatap sekilas suaminya yang masih diam tak mengeluarkan suara. Menebak bahwa Sehun benar kecewa padanya adalah hal yang membuat hatinya begitu sakit hingga hanya rasa takut dan canggung yang ia rasakan di apartemen yang biasanya menjadi saksi bahwa kedua penghuninya benar saling mencintai dan tak akan saling berdiam diri jika tidak ada sesuatu yang mengerikan telah terjadi.

Sret….!

Luhan merobek paksa lengan kemeja Sehun yang berlumuran darah. Menatap luka tembak di lengan kiri Sehun untuk beberapa saat sebelum memalingkan wajahnya untuk menenangkan diri karena sama sekali tak pernah bisa mengendalikan diri jika darah Sehun berada di kedua tangannya.

Luhan tahu ini adalah bagian dari pekerjaannya. Darah dan luka adalah sesuatu yang sudah menjadi bagian hidup dan pekerjaannya. Dia bisa berada selama beberapa jam di ruang operasi hanya untuk berkutat dengan darah dan luka. Dan selama beberapa jam itu pula dia akan selalu menjadi dokter Oh yang profesional yang bisa melakukan tugasnya tanpa rasa takut atau cela sedikit pun.

Ya-… Luhan tentu saja memiiki alasan mengapa tangannya bergetar saat ini. Alasan yang begitu kuat yang bisa menjelaskan mengapa dia tak terlihat seperti dirinya sendiri saat ini.

Pertama dia tidak berada di ruang operasi. Kedua jika berada di depan Sehun dia bukanlah seorang dokter bedah yang profesional, karena hanya di depan seorang Oh Sehun-… Luhan adalah seorang istri yang sangat takut jika suaminya terluka. Ketiga bagaimana bisa Luhan bersikap tenang jika sang suami nyaris tak berekspresi bahkan saat dia sedang kesakitan dan terakhir…. Luhan bisa menangani semua darah dan luka. Tapi jika itu berhubungan dengan darah dan luka suaminya. Maka Luhan menjadi lemah, nyaris tidak bisa melakukan apapun jika tidak mengingat peluru sialan itu masih melukai lengan suaminya.

"Apa sakit?"

"…"

Luhan benar-benar ingin berteriak marah pada Sehun. Sehun yang biasa akan berteriak dan merengek hanya dengan luka goresan kecil di jari telunjuknya. Tapi saat luka itu begitu dalam dan sangat menyakitkan, suaminya justru tak mengatakan appaun dan hanya diam seolah ingin memberitahunya bahwa Sehun benar-benar kecewa padanya.

"Sehun…."

"…"

Luhan kembali terisak pelan di tempatnya. Mengusak kasar wajahnya sebelum mengambil antiseptik dan menuangkannya ke lengan Sehun yang terus mengeluarkan darah. "Harusnya kau merasa sakit. Kenapa hanya diam? Kau membuatku takut."

Luhan tidak bisa menghapus air matanya dengan kedua tangan yang sudah berlumuran darah. Dan karena alasan itu pula dia hanya bisa menggunakan lengan kanan untuk menghapus air mata sialan yang tak mau berhenti disaat dirinya yang harusnya marah dan bukan Sehun.

"Tahan sedikit."

Suara Luhan sudah bergetar hebat. Dia kembali menggunakan lengannya untuk menghapus air mata dan keringatnya sementara tangannya mulai kembali mengoyak lengan Sehun untuk mencari peluru yang bersarang di lengan suaminya.

Sehun sedikit memberi pergerakan saat Luhan menekan lukanya terlalu kuat. Membuat tangan Luhan berhenti mencari sebelum berjongkok tak tahan karena merasa tak berguna "Kenapa sulit sekali…hkss…"

Sementara istrinya terisak menyesal berjongkok tak jauh dari tempat tidur mereka. Maka Sehun hanya bisa diam memperhatikan. Dia tentu tidak meragukan kemampuan sang istri di ruang operasi. Dia bahkan terlalu mengetahui seberapa tenang Luhan saat berada di ruang operasi.

Tapi istrinya tidak berada di ruang operasi saat ini. Istrinya juga tidak berada dalam kondisi terbaiknya. Sehun menyadari kalau pikiran Luhan masih berada di tempat dimana Luhan menembak mati bajingan sialan itu. Tapi Luhan terus menutupinya. Bersikap tenang yang jelas dibuat-buat sementara dirinya hancur karena merasa bersalah dan tertekan saat ini.

"Jika kau tidak bisa menyelesaikannya. Aku akan memanggil dokter pribadiku."

Luhan mendongak menatap suaminya. Merasa begitu tersinggung sebelum kembali menghapus air matanya dan duduk di tepi ranjang untuk melanjutkan pekerjannya

"Kenapa harus memanggil dokter pribadimu jika kau memiliki dokter tepat didepan matamu.?" Katanya berbicara setenang mungkin namun tak bisa menyembunyikan rasa gugup dan sedikit rasa tersinggungnya karena ucapan sang suami yang mengatakan dokter sekelas dirinya tak bisa menyelesaikan pekerjaan yang biasanya bisa ia selesaikan dalam lima belas menit.

Membuat Luhan berniat menunjukkan pada Sehun siapa dirinya dengan kembali fokus mengerjakan luka di lengan Sehun sebelum kedua tangannya kembali berhenti karena darah Sehun benar-benar mengacaukan seluruh pikiran Luhan.

Sehun sendiri tidak berniat mengatakan hal yang bisa menyinggung perasaan istrinya. Tapi dia sangat mengetahui siapa istrinya. Karena kelemahan Luhan adalah semua hal yang terjadi pada dirinya. Dan tak berbeda dari Luhan-….Semua kelemahan Sehun adalah hal-hal yang berkaitan dengan pria cantiknya.

"Ada apa?"

Luhan tersadar saat suara Sehun bertanya padanya. Kembali menggeleng sebelum membuka dengan forceps untuk mencari peluru di lengan suaminya sebelum

"Sshhhh.."

Sehun mengerang saat Luhan tak sengaja menekan pelurunya. Membuat wajah Luhan berubah menjadi pucat dan sedikit lega karena berhasil menemukan dimana peluru yang bersarang di lengan Sehun "Aku akan mengeluarkannya."

Luhan memberikan aba-aba pada Sehun. Menyuntikkan obat bius yang efeknya sudah mulai menghilang sebelum mengelap keringat di wajah suaminya "Maaf membuatmu harus terluka." Katanya kembali mengusap air matanya dan mulai mengambil pinset untuk bersiap mengambil pelurunya.

Sehun sendiri hanya kembali diam tak membalas racauan sang istri. Memperhatikan bagaimana Luhan sangat berhati-hati mengeluarkan peluru di lengannya sebelum meringis hebat saat sesuatu seperti penjepit menarik paksa peluru dari lengannya.

"Aku mendapatkan benda sialan ini."

Luhan meletakkan peluru yang ia dapatkan ke sebuah mangkuk kecil. Bergegas menekan lengan suaminya yang terus mengeluarkan darah merah segar yang kini ditutup menggunakan tangannya "Pendarahanmu akan hilang dalam dua menit sayang. Bertahanlah."

Sepertinya bukan Sehun yang harusnya bertahan. Karena saat Luhan mengatakan untuk bertahan wajahnya sangat kontras berbanding terbalik dengan warna merah darah yang kini mengotori tempat tidur mereka. Dan jika Sehun yang banyak mengeluarkan darah, maka wajah Luhanlah yang terlihat begitu pucat. Membuat Sehun tak tahan lagi melihatnya dan berusaha menenangkan sang istri dengan memeluknya erat mengabaikan rasa sakitnya

"Sehun!"

"ssst…Aku sudah baik-baik saja. Tarik dalam nafasmu dan jangan panik sayang. Wajahmu sudah sangat pucat."

Luhan bahkan nyaris tak sadarkan diri saat Sehun mendekapnya erat. Tapi yang terjadi kemudian dia seolah mendapatkan kembali tenaganya ketika Sehun mengatakan dirinya sudah baik-baik saja. Dan semakin Luhan mencoba meronta maka semakin kuat pula dekapan Sehun memeluknya. Sehun seolah enggan melepas pelukan Luhan sebelum Luhan mengikuti apa yang ia katakan.

"Tarik nafasmu sayang. Aku sudah jauh lebih baik."

Luhan mengerti keinginan suaminya. Membuatnya mengangguk dan mencoba menarik dalam nafasnya namun berakhir gagal karena hatinya begitu sesak untuk beberapa alasan yang begitu mengacaukan perasaannya "Haaa-…..Aku tidak bisa.hkssssss"

Luhan meracau di pelukan Sehun. Menyembunyikan dalam wajahnya sebelum menangis hebat untuk beberapa alasan. Pertama karena dia masih begitu kacau. Kedua karena Sehun benar sudah baik-baik saja dan ketiga karena Sehun berbicara padanya. Membuat rasa lega dan kacau itu benar menyatu menjadi satu untuk Luhan rasakan saat ini.

"Kau bisa. Coba perlahan sayangku."

Sehun mencium berulang tengkuk istrinya. Tangannya mengusap sayang punggung Luhan sebelum membantu sang istri untuk menarik nafas dan menenangkan dirinya. "Lakukan sekali lagi."

Luhan mencoba fokus mendengar ucapan suaminya. Dia juga mencoba untuk tidak terlalu tertekan walau pikiran kacau masih menari bebas di benaknya. Mungkin dia akan kembali gagal menenangkan diri jika Sehun tidak membisikan kata yang begitu Luhan butuhkan. Membuatnya mencengkram erat dada sang suami sebelum menarik dalam nafasnya dan merasakan semua rasa sesak yang menghimpitnya begitu kuat.

"Haaahhhh~"

Luhan berhasil menghembuskan nafasnya. Merasa jauh lebih baik namun tak bisa menghilangkan sengatan-sengatan kecil yang menyerang hati dan pikirannya bersamaan. Dia bisa bertahan karena pria yang mendekapnya saat ini, dia bisa bernafas karena Sehun terus membuatnya menjadi kuat. Dan terimakasih untuk Sehun karena selalu mengalah disaat yang tepat. Mengalah disaat Luhan sudah mencapai batasnya untuk bersikap seolah semuanya baik dan tak menghancurkan dirinya.

"Sudah merasa lebih baik?"

Luhan mengangguk di pelukan suaminya. Semakin melingkarkan sempurna tangannya sebelum bersandar sejenak di dada yang selalu bisa membuat hatinya berdebar tanpa alasan.

"Kau harus segera pergi tidur dan beristirahat sayang."

Kali ini Luhan menggeleng menjawab ucapan Sehun. Sedikit melepas pelukan suaminya sebelum kembali fokus pada lengan Sehun yang sudah tak mengeluarkan banyak darah.

"Aku akan mengobati lenganmu."

"Ini sudah lebih baik."

Luhan mengabaikan ucapan Sehun. Dengan cekatan ia mengambil kasa steril di kotak obatnya. Mencucinya dengan antiseptik sebelum mengusap perlahan ke lengan Luhan "Kau akan mengalami infeksi jika ini tidak dijahit."

"Kau akan menjahitnya?"

Sehun sedikit tercengang saat ini. Dia pikir saat peluru dikeluarkan maka penderitannya berakhir, tapi saat mata Luhan menatap memperingatkan padanya. Maka dia tahu penderitannya belum benar-benar berakhir "Baiklah."

"Kau tidak akan merasakan apapun Sehun. Hanya percaya padaku." Katanya memohon dan kembali mengusap antiseptik serta menyuntikan penghilang rasa sakit dan obat biusnya.

Sehun sendiri tertawa kecil mendengar penuturan Luhan. Menarik tengkuk Luhan untuk mencium bibir istrinya sebelum mengusap keringat di wajah Luhan yang masih terlihat memar karena ulah bajingan sialan yang menyekapnya "Sejak kapan aku tidak percaya padamu?"

Luhan berfikir sejenak sebelum tersenyum canggung menatap suaminya "Kau selalu percaya padaku." Timpalnya tak menemukan celah sedikitpun mengenai kepercayaan Sehun padanya. Karena selama hampir sepuluh tahun Luhan mengenal Sehun maka selama sepuluh tahun itu pula Sehun selalu mempercayai semua yang ia katakan dan ia lakukan. Membuat rasa cinta dan sayang itu semakin dalam Luhan rasakan untuk suaminya.

"Kalau begitu lakukan apapun yang menurutmu harus dilakukan. Aku hanya akan diam dan mempercayai istriku."

Luhan tersenyum sangat cantik menatap suaminya. Mencium jemari tangan kanan Sehun sebelum mengambil semua peralatan sederhana yang ia siapkan di apartemen suaminya "Aku akan menyelesaikannya dengan cepat."

Sehun mengangguk mengerti ucapan Luhan. Kembali membiarkan sang istri mengurus lukanya dan terlihat sangat fokus tak ingin diganggu. Tangan Luhan menarik benang jahit itu dengan begitu cekatan dan sangat rapih. Menunjukkan bahwa dirinya memang seorang profesional yang kemampuannya tak perlu diragukan lagi.

Dan saat Luhan mengatakan bahwa jahitannya tidak akan terasa sakit, maka semua yang diucapkan Luhan adalah kebenaran. Karena daripada rasa sakit, Sehun lebih merasa iri dan bangga pada istrinya. Pria cantik yang memiliki kemampuan menyelamatkan nyawa adalah orang yang sama yang sudah menjadi istrinya hampir lima tahun ini. Pria yang bisa membuat seseorang merasa lebih baik dengan kedua tangannya adalah pria yang hanya menjadi miliknya terhitung hari ini, esok dan seterusnya.

Luhan miliknya dan itu adalah mutlak. Jadi jika kau berani membuat Luhan terluka, maka kematianmu adalah hal mutlak pula untuk Sehun. Membuat siapapun yang mengenal Sehun dan Luhan enggan untuk dekat secara berlebihan jika ingin hidup lebih lama.

"Selesai sayang. Aku sudah menutup lukamu."

"huh? Sudah selesai?"

"hmmm… Sudah selesai." Gumam Luhan mengikat perban pada lengan Sehun sebelum menatap suaminya sedikit lega dengan wajah pucatnya saat ini.

Sementara Luhan bisa bernafas lega, maka Sehun kembali harus dibuat merasa takjub saat ini. Jemari lentik istrinya benar-benar bisa membuat seseorang merasa lebih baik dalam hitungan menit. Membuatnya mau tak mau melihat ke lengan kirinya dan cukup mengagumi kerapihan dari jahitan dan perban yang diberikan Luhan untuknya "Aku berniat memiliki luka jahit ini selamanya."

Luhan tertawa mendengarnya. Jujur saja dia masih gugup dan gemetar. Namun saat Sehun terus mengucapkan lelucon padanya, maka hanya rasa bahagia yang bisa ia rasakan "Selama tiga hari kau tidak boleh banyak bergerak. Aku sendiri yang akan mengganti perban dan memeriksa luka jahitmu. Apa kau mengerti?"

Sehun mengangguk setuju menatap Luhan. Sedikit berdiri dari tempat tidurnya sebelum menggendong Luhan dengan tangan kiri yang masih memliki luka jahit basah di lengannya "Sehun! Aku bilang jangan banyak bergerak."

"Aku mendengarmu dokter Oh."

"Astaga apa yang kau lakukan? Turunkan aku Sehunna!"

"Kau sudah merawatku. Kali ini giliranmu yang harus dirawat. Wajahmu masih pucat dan aku benci melihat memar di tubuh dan wajahmu." Katanya memberitahu Luhan dan membawa istrinya ke kamar kedua di apartemennya. Sedikit mengerling Max untuk membukakan pintu sebelum membaringkan Luhan di kamar kedua mereka yang sama besar dan sama nyamannya dengan kamar pertama.

"Aku tidak perlu dirawat sayang."

"Kau harus." Katanya mengulang dan tak lama memberi perintah pada Max "Biarkan dokter Kim masuk."

Tak lama terlihat seorang dokter paruh baya memasuki kamar kedua Sehun dan Luhan. Sedikit membungkuk pada keduanya sebelum berjalan mendekati Luhan yang terkekeh menyadari bahwa Sehun masih menggunakan kakek tua sebagai dokter pribadinya "haraboji. Kenapa kau masih bekerja untuk mafia sepertinya."

"Karena jika bukan aku. Suamimu akan menyakiti dokter muda tampan yang bisa memegang tanganmu seperti ini." Katanya mengambil tangan Luhan sebelum memasukkan jarum infus ke pergelangan tangan kiri Luhan "Aku bosan melihat wajahmu haraboji."

"Kalau begitu jaga diri kalian berdua dengan baik. Aku hanya akan datang jika kalian terluka dan sungguh-…Aku membencinya."

Luhan tertawa kecil mendengarnya. Sedikit mengangguk dan membiarkan tubuhnya beristirahat sebelum menyadari bahwa pandangannya mulai meredup dengan tubuh yang terasa ringan dan sangat nyaman "Kau mencampur cairan infusku dengan obat tidur?"

Dokter Kim tertawa karena tak berhasil mengelabui dokter sekelas Luhan. Sedikit menepuk pergelangan tangan Luhan sebelum mengusapnya lembut agar Luhan merasa semakin nyaman "Sehun ingin kau beristirahat nak."

Luhan tersenyum sekilas memandang wajah tampan suaminya. Menikmati efek obat tidur yang diberikan sebelum akhirnya benar-benar terlelap dan menyerah dengan rasa kantuk yang begitu nyaman dan membuatnya tenang. "Aku tahu." Katanya bergumam lirih sebelum benar-benar tidur dalam hitungan detik.

"Berapa lama efek dari obat tidur yang kau berikan?"

"Luhan akan tertidur paling tidak selama dua jam. Dan setelah bangun dia akan merasa lebih baik."

Sehun mengangguk mengerti dan mulai berjalan mengantar dokter Kim keluar dari kamarnya "Terimakasih sudah membuat istriku beristirahat."

"Tidak perlu. Luhan memang harus beristirahat."

Sehun mengangguk setuju sebelum kembali memanggil Max yang berjaga di depan pintu "Panggilkan supir untuk mengantar dokter Kim pulang."

"Saya akan mengantar anda ke mobil dokter Kim."

Pria tua itu pun mengangguk sebelum kembali menatap Sehun "Apa lukamu sudah baik-baik saja?" katanya bertanya melihat lengan Sehun yang terluka.

"Aku memiliki dokter pribadi yang mengurusnya. Kau tidak perlu khawatir haraboji."

Kakek Kim pun tertawa karena mengerti ucapan Sehun. Membuatnya mengangguk setuju sebelum mengikuti Max menuju ke mobil "Aku pikir aku dokter pribadimu."

"Istriku akan cemburu jika aku memilihmu sebagai dokter pribadiku."

Semua yang mendengar penuturan Sehun mau tak mau tertawa menyetujui ucapan Sehun. Karena mereka tahu benar betapa sensitifnya nyonya rumah dengan semua hal yang berkaitan dengan kebutuhan dan pendapat tuan rumah.

Jika Sehun mengatakan makanan restaurant A lebih enak dari masakan Luhan. Maka Luhan akan melakukan segala cara untuk memboikot restaurant A sampai Sehun mengatakan kalau makanannya lebih baik. Dan jika Sehun mengatakan seorang wanita lebih cantik darinya maka Luhan akan melakukan segala cara untuk menjelekan si wanita sampai Sehun mengatakan Luhanlah yang lebih cantik.

Selalu seperti itu sampai semua penjaga Sehun tahu bahwa satu-satunya cara menyenangkan Luhan hanyalah dengan mengatakan bahwa Sehun memujanya. Dan jika Luhan mendengar kalimat Sehun hanya memuja dirinya maka bisadipastikan kau mendapatkan bonus dari Sehun mengingat Luhan akan mati-matian mempromosikan dirimu sebagai bodyguard of the week versi Luhan tentu saja. Dan Sehun-…Sehun tentu saja tidak mempunyai pilihan selain memberikan bonus pada penjaga yang berhasil membuat istrinya memekik bahagia.

"Sampai jumpa Sehunna."

"Hati-hati dokter Kim."

Sehun melambai pada dokter yang sudah seperti kakeknya. Tersenyum menatap si pria tua sebelum kakinya kembali melangkah masuk kedalam kamar tempat dimana istrinya tertidur lelap.

Sehun terus mendekati tempat tidurnya. Duduk di tepi ranjang dengan mata yang tak berkedip memuja betapa berharganya sosok yang tengah terlelap di depannya. Wajah memarnya bahkan tak menutupi betapa sempurna pria mungil yang kebahagiannya adalah hal mutlak untuk Sehun. Membuat sesuatu dalam diri Sehun begitu bergairah walau hanya bisa menatap sosok mungilnya.

Dan untuk menutupi gairah yang membakar dirinya. Sehun mulai menundukkan kepalanya. Mencuri nafas si pria cantik dengan mengecup dan melumat lama bibir istrinya. Bermain dengan bibir bawah sang istri sebelum suara erangan yang menyatakan terganggu dikeluarkan oleh Luhan yang terlihat kehabisan nafas.

Sehun sendiri dibuat berdebar oleh ulahnya sendiri. Kembali mengecup bibir Luhan sebelum mengusap bibir mungil itu menggunakan ibu jarinya. Mengusapnya perlahan dan untuk kesekian kalinya mengakui bahwa iblis seperti dirinya bear-benar jatuh kedalam perangkap malaikat cantik yang merupakan istrinya.

Pria tampan itu kembali tertawa kecil dan semakin menggila mengagumi istrinya. Memutuskan berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengganti pakaiannya yang berlumuran darah dan berniat memilah piyama yang layak untuk istrinya sebelum tatapannya tergoda pada kemeja putih tipis milknya yang ia tebak kebesaran jika dipakaikan di tubuh sang istri.

Sehun pun tersenyum licik sekilas sebelum mengambil kemeja putih tipis itu. Kembali berjalan mendekati sang istri dan menggantikan pakaian Luhan dengan kemeja tipis yang ia inginkan. Luhan jelas tidak menolak mengingat efek obat tidur yang diberikan masih bekerja mempengaruhi kesadarannya.

"Aku memujamu Lu."

Sehun bergumam bangga pada dirinya. Dengan mata yang bergairah dia menatap puas pada hasil pekerjannya. Mengagumi lekuk tubuh Luhan yang terlihat seksi dengan paha mulus Luhan yang terekspos bebas mengingat kemejanya akan menjadi pendek jika dalam posisi tidur. Dia bahkan memasukkan tangannya ke paha dalam Luhan. Bermain cukup lama didalam sana sebelum tertawa merasa benar-benar tingkahnya seperti seorang maniak yang ingin dipuaskan.

"Cepat bangun sayang. Aku benar-benar menginginkanmu."

Sehun hampir tidak bisa mengendalikan dirinya jika tidak mengingat bahwa istrinya benar-benar membutuhkan istirahat saat ini. Membuat bibirnya sedikit menyeringai sebelum memakai asal singlet putihnya dan berjalan ke luar kamar untuk meredakan rasa panas yang membakar gairahnya.

Sehun menutup perlahan pintunya, memastikan suara apapun tak mengganggu tidur Luhan sampai matanya tak sengaja melihat Max yang masih berada di apartemennya "Max?"

Yang dipanggil segera menoleh melihat ke arah suara yang memanggilnya. Sedikit tergesa menghampiri Sehun sebelum membungkuk menyapa pria yang sangat ia hormati hampir seumur hidupnya "Kau belum tidur bos?"

"Bagaimana bisa kau tidur jika ada malaikat yang berbaring disampingmu."

"huh?" Gumam Max tak mengerti sebelum "ah-….Luhan" katanya tertawa getir mengingat lelucon Sehun sudah tidak berada pada zamannya.

Sehun tertawa mengangguk membenarkan tebakan Max. Merasa gagal menjadi pembual sebelum kembali menatap anak buahnya "Kau belum pulang?"

"Aku akan berjaga disini."

Sehun kembali tertawa kecil sebelum menepuk bahu pria yang sudah menjadi kaki tangannya selama bertahun-tahun "Pulanglah." Katanya memberitahu Max sebelum berjalan ke dapur dan mulai menuang air ke dalam gelasnya.

"Aku tidak akan pulang bos."

Sehun kembali menatap Max sebelum memintanya untuk mendekat "Aku akan menambah luka di wajahmu kalau begitu." Katanya mengancam Max sebelum mengambil dua kaleng bir dari lemari pendingin.

"Tapi bos…"

"Temani aku minum sebentar lalu kau boleh pulang."

Max merasa nada suara Sehun berubah menjadi putus asa. Membuatnya tak memiliki pilihan lain selain mendengarkan dan menuruti apapun yang menjadi perintah dari bosnya. "Cepatlah."

Max mempercepat langkahnya dan menarik kursi di depan Sehun. memperhatikan wajah putus asa Sehun yang kini menenggak cepat bir yang berada di tangannya "haaah-….Ini sangat menyegarkan." Katanya mengerang nikmat sebelum membukakan kaleng bir yang lain dan menyerahkannya pada Max.

"Bersulang."

Max pun mengangkat kaleng bir nya. Menyatukan kedua kaleng tersebut sebelum menenggak cepat birnya mengikuti apa yang Sehun lakukan "Bagaimana?"

Max masih meringis dengan sensasi bir yang begitu panas di tenggorokannya. Mengangguk cepat menjawab pertanyaan Sehun dan mengiyakan apa yang ingin Sehun dengar "Ini sangat menyegarkan bos."

Sehun kembali tertawa dan mulai menenggak dalam jumlah banyak bir di kalengnya. Sedikit meringis sebelum menatap kosong ke depan. Terlalu kosong hingga membuat Max merasa ada yang salah dengan sikap pria nomor dua di organisasi tempatnya bekerja.

"Bos? Kau baik-baik saja?"

"…"

"Bos!"

"huh?" Sehun tersadar dari lamunannya sebelum kembali menatap pada Max "Kau bertanya padaku?"

"Apa kau baik-baik saja?"

Wajah Sehun jelas menunjukkan raut terlukanya. Mengangkat bahu sebagai jawaban sebelum minuman yang membakar kerongkongan itu yang teguk secara kasar "ssshh…."

"Bos?"

"Entahlah. Aku hanya merasa begitu kosong." Katanya tertawa miris dan membuka kaleng keduanya malam ini. "Bagaimana keadaaan Kyungsoo dan Chanyeol?"

Max hanya diam sesaat memperhatikan bosnya. Merasa sesuatu benar-benar menghancurkan pria mengerikan di depannya dan membuat Sehun terlihat sangat menyedihkan saat ini

"Kenapa kau hanya diam?"

Max menggelengkan kepalanya dan ikut menenggak cepat bir yang berada di tangannya "Kai menjaga kekasihnya di rumah sakit. Sementara dokter Park-… Aku rasa dia juga sudah ditangani dengan baik mengingat dia adalah bagian dari rumah sakit tempatnya dirawat."

"Kau benar." Katanya menyetujui ucapan Max dan kembali menenggak banyak bir keduanya.

Dan setelahnya hanya keheningan yang menemani dua pria yang tidak berada dalam kondisi terbaik mereka malam ini. Sehun hanya terus menghabiskan kaleng bir nya sementara Max menjaga bos nya agar tidak sampai minum secara berlebihan mengingat nyonya rumah sedang berada di apartemen bosnya saat ini.

"ssshhh…"

Sehun kembali meringis meminum kaleng ketiganya. Dia bahkan berniat membuka kaleng keempatnya sebelum tangan Max memegang tangannya dan menghentikan gerakannya membuka galeng "Ada apa?"

"Kau sudah minum terlalu banyak bos."

"Aku akan minum sebanyak yang aku mau." katanya berusaha menyingkirkan tangan Max namun Max juga bersikeras pada posisinya untuk membuat Sehun berhenti minum malam ini.

"Lepas."

"Maaf bos aku tidak bisa."

"ck! Berani sekali kau! AKU BILANG LEPAS!"

"ISTRIMU SEDANG SAKIT BOS. KAU HARUS MENJAGANYA!"

Tangan Sehun yang sudah mengepal terlepas begitu saja saat Max mengingatkannya bahwa ada Luhan yang sedang berbaring di dalam kamarnya saat ini. Membuat rona wajah yang sudah siap membunuh itu kembali berubah menjadi wajah khas seorang Oh Sehun yang selalu terlihat lemah jika semua itu berkaitan dengan istrinya-….Luhan.

"Kau benar." Katanya tertawa pahit sebelum menyembunyikan wajahnya di atas meja. Menikmati rasa sakit di kepala dan hatinya yang seolah sedang berlomba meminta perhatian dari Sehun. "Buang minuman sialan itu."

Max kembali menghela dalam nafasnya. Mendekati Sehun dan kembali menarik kursi di depan bosnya. Membiarkan suasana hening terasa semakin membunuh hingga akhirnya dia memutuskan untuk bertanya pada Sehun "Kau bisa berbicara apapun padaku bos. Kau bisa bercerita, memaki atau bahkan berteriak padaku. Katakan sesuatu yang bisa membuatmu lebih baik bos."

Sehun tertawa marah mendengar ucapan Max yang terdengar omong kosong untuknya. Bagaimana bisa dia menjadi lebih baik jika hal yang sangat ingin ia ketahui hilang tepat di depan kedua matanya begitu saja? Bagaimana bisa seorang ayah hidup lebih baik jika pembunuh putranya masih berkeliaran di luar sana? Membuat hati Sehun mencelos hebat sebelum mengangkat wajahnya menatap hancur pada pria yang sudah bekerja dengannya hampir seumur hidup "Lebih baik katamu? Aku bahkan ingin mati saat ini." katanya tertawa pahit dan kembali menyembunyikan wajahnya di atas meja.

"Aku hampir menemukan pembunuh putraku beberapa jam yang lalu. Aku hampir bisa membalas bajingan yang membunuh putraku beberapa jam yang lalu." Katanya meracau menyesali tak membuat Kris lebih cepat berbicara. "Tapi beberapa jam yang lalu pula aku kehilangan kesempatan untuk mengetahui siapa yang membunuh putraku. Jadi katakan bagaimana bisa aku merasa lebih baik?"

Sehun mulai menggila mengingat kemungkinan yang terbuang begitu saja malam ini. membuat antara rasa marah dan putus asa bercampur menjadi satu dan membuatnya sesak dalam hitungan detik. "Bagaimana bisa aku merasa lebih baik jika satu-satunya hal yang bisa membuatku lebih baik kini menjadi sia-sia?" katanya setengah berteriak namun berusaha mati-matian untuk menahan teriakannya.

"Bos…."

"Apa yang harus aku lakukan Max?-…..Apa yang harus aku lakukan?" katanya mengangkat wajahnya dan menatap Max putus asa, Sedikit tertawa lirih melihat Max tak bisa memberi jawaban sebelum kembali menempelkan dahinya di meja makan "Apa yang harus aku lakukan?"

Max sudah mengenal Sehun selama lima belas tahun dan selama lima belas tahun itu pula dia nyaris tidak pernah melihat Sehun merasa putus asa bahkan mengeluarkan air mata seperti saat ini. Awalnya dia berpikir tengah bekerja dengan seorang iblis yang tak memiliki hati nurani. Namun semua pikiran buruknya tentang Sehun seolah dihancurkan begitu saja sejak kedatangan Luhan. Karena setelah kedatangan Luhan di hidupnya-…Sehun terlihat seperti manusia. Manusia yang memiliki perasaan cinta terlampau besar untuk istri dan putranya. Manusia yang bisa terluka jika orang yang dikasihinya merasa sakit atau disakiti.

Sehun memang hanya menjadi manusia untuk Luhan dan mendiang putranya. Tapi semua yang berkaitan dengan Luhan seolah membuat sifat manusiawi Sehun lebih mendominasi daripada sifat iblisnya. Karena Sehun yang biasanya akan membunuh siapapun yang menghalangi semua rencana yang telah ia buat. Sehun yang biasanya akan menyalahkan siapapun yang menggagalkan rencananya.

Tidak seperti Sehun yang sedang meraung frustasi saat ini. Dia jelas ingin membunuh dan menyalahkan seseorang. Tapi kemudian dia harus menelan pahit untuk dirinya sendiri mengapa? Karena orang yang membuatnya kehilangan kesempatan untuk mengetahui pembunuh putranya adalah orang yang sama yang menjadi alasan mengapa Sehun masih bertahan hidup sampai saat ini.

Ya-….Sehun tidak bisa menyalahkan Luhan. Dan karena alasan itu pula dia hanya bisa menyiksa dirinya sendiri. Menelan pahit semua rasa bersalah, menyesal dan marah hanya untuk dirinya sendiri tanpa berniat melampiaskannya pada orang lain.

"Apa yang harus aku lakukan?"

.

.

.

.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Dan seolah tak merasa lelah bertarung dengan waktu, pria yang merupakan orang kedua paling berbahaya di dunianya itu lebih memilih menikmati udara dingin di balkon apartemennya. Menatap kosong pemandangan yang disajikan alam dini hari ini dengan mengabaikan rasa dingin yang menggerogoti kulitnya.

Entah apa yang sedang ia lakukan. Yang jelas dia butuh menenangkan dirinya. Berniat untuk tidak terlihat menyedihkan atau kecewa di depan wajah cantik sang istri. Pria yang terkenal keji dan tak berperasaan itu pun bahkan harus berkali-kali menghapus air matanya merasa begitu marah untuk beberapa alasan yang tidak bisa ia ucapkan bahkan untuk ia lampiaskan pada siapapun.

"Haah~….Ayah benci terlihat lemah nak."

Pria tampan itu mengusap lembut selembar foto favoritnya. Foto yang menampilkan wajah mungil mendiang putranya yang sedang tersenyum persis seperti ibunya. Tangannya mengusap bergantian wajah Luhan dan Ziyu membuat raut wajahnya yang sedang tersenyum kembali harus terlihat sendu karena terlalu merindukan sosok malaikat kecilnya "Apa kau bahagia disana nak? Ayah ingin sekali menemanimu."

Sehun kembali bergumam kecil. Menatap Ziyu tak berkedip, lalu menciumnya begitu dalam. Menikmati rasa rindu dan menyesal itu bersamaan dengan kegagalan yang ia alami hari ini. "Maaf putraku sayang. Ayah janji akan membalas orang yang menyakitimu. Ayah hidup hanya untuk itu nak." Katanya mencium sayang wajah Ziyu. Mengabaikan rasa dingin yang menyengatnya dan hanya menikmati waktu berdua dengan putranya saat ini.

Tes…!

Sementara Sehun sedang menikmati quality time nya dengan sang putra. Maka tak jauh dari tempatnya berada terlihat seorang pria cantik yang merupakan istri dari pria tampannya yang sedang terlihat hancur tengah menutup kencang mulutnya saat ini. Melarang sedikit pun suara keluar dari bibirnya yang tengah terisak pilu saat ini.

Luhan selalu merasa daripada Sehun dirinyalah monster sesungguhnya. Dia selalu membuat Sehun terluka dan kecewa melebihi siapapun yang sudah bersama dengan suaminya sejak awal. Dia bahkan merasa tidak pantas menerima rasa cinta Sehun yang begitu besar jika pada akhirnya dia adala satu-satunya orang yang bisa menyakiti pria tak terkalahkan di dunia gelapnya.

Luhan mendengarnya-….Mendengar semua ucapan Sehun yang terasa begitu menampar wajahnya. Dia tahu Sehun sedang merasakan kekecewaan yang teramat besar pada dirinya. Tapi apa Sehun marah dan menyalahkannya?-..jawabannya tidak-...Sebaliknya. Sehun hanya diam sebagai pelampiasannya. Menyimpan rasa marah, kesal dan kecewanya seorang diri. Menelannya secara utuh dan tak tersentuh, Sehun bahkan tidak membiarkan siapapun tahu bahwa dia sedang marah dan kecewa saat ini. Siapapun-…termasuk dirinya.

"Ayah merindukanmu nak."

Hkssss..

Luhan semakin menutup rapat bibirnya. Mencoba untuk menenangkan diri dan menemani Sehun yang terlihat sangat hancur. Dia bahkan berkali-kali telah menghela nafasnya, mencoba menenangkan hatinya sampai akhirnya rasa tenang itu ia rasakan.

Luhan tak tahan melihat punggung kokoh suaminya bergetar karena merindukan putra mereka. Dia juga tidak tahan jika suara berat Sehun berubah menjadi tertahan karena menahan rasa sakit di hatinya. Membuat pria yang berprofesi sebagai dokter itu menghela dalam nafas terakhirnya sebelum memutuskan untuk menemani dan mendekati pria tampannya.

"Sehun.."

Luhan menguatkan dirinya sekali lagi, menghapus air mata yang jelas telah membuat bengkak di kelopaknya sebelum mengambil asal jaket tebal milik suaminya. Berjalan mendekati Sehun dan

Sret….

Luhan memakaikan jaket pada tubuh Sehun. Menyembunyikan wajahnya di punggung Sehun dengan tangan melingkar sempurna di pinggang suaminya. Luhan menikmati aroma khas yang menguar dari tubuh suaminya. Menahan Sehun agar tidak berbalik karena tak berniat membuat Sehun semakin sedih dengan melihatnya terisak.

Sehun sendiri sedikit terkesiap merasakan dua gerakan di belakangnya. Pertama dia merasa seseorang memakaikan jaket padanya dan kedua seseorang yang jelas adalah pria mungilnya tengah memeluk erat dirinya dari belakang saat ini.

"Sayang?"

Sehun berniat berbalik dan melihat Luhan yang memeluknya terlampau erat saat ini. Namun sayangnya saat Sehun ingin berbalik tangan Luhan menahannya. Si pria mungil seolah tidak mengijinkan dirinya berbalik dan menahan posisi mereka agar tetap seperti ini untuk sementara. "Kau terbangun hmm?"

Sehun mengambil kedua jemari Luhan yang memeluknya erat, menciumnya bergantian sebelum kembali mendekap erat jemari istrinya "Sayang?" Sehun sedikit menoleh namun Luhan menggeleng memberi jawaban.

"Kenapa kau belum tidur?"

Luhan balik bertanya dengan suara yang ia buat sebaik mungkin untuk tidak terdengar bergetar membuat Sehun sedikit tertawa dengan mendekap kedua tangan istrinya semakin erat agar si pria mungil tidak merasakan dingin yang menyengat di saat ini "Aku menunggu kau membuka mata."

Luhan benar-benar mengambil kesempatan untuk menenangkan dirinya saat ini. Menarik dalam nafasnya dan mengeluarkannya perlahan. Luhan percaya bahwa satu-satunya cara membuat dirinya tenang adalah dengan memeluk suaminya. Dan itu terbukti karena saat Sehun mendekap erat kedua tangannya. Luhan merasa jauh lebih baik dan merasa jauh lebih tenang. Membuat bibir mungilnya tersenyum dan semakin bersandar di punggung suaminya "Kenapa menungguku membuka mata?-….Sehun!"

Seolah tak membuang kesempatan, Sehun memutar cepat tubuh Luhan. Menghimpitnya ke balkon dengan tangan yang melingkar sempurna di pinggang istrinya. Niat awal Sehun adalah menggoda istrinya, namun saat melihat mata Luhan sedikit merah dan terlihat basah, membuat dahinya terangkat. Sedikit bertanya-tanya mengapa Luhan menangis sebelum tertawa lirih menyadari satu-satunya kemungkinan yang terjadi adalah Luhan mendengar semua yang ia katakan dan itu jelas menyakiti hati istrinya.

"Kenapa bayi besarku menangis?"

Luhan tertawa kecil sebelum memukul pelan dada suaminya. Menatap Sehun mencibir dan menghapus sisa air mata yang tertinggal di matanya "Aku tidak menangis dan aku bukan bayi besar." Katanya terdengar bergetar sebelum menarik tubuh Sehun agar memeluknya.

Jujur saja Luhan belum siap untuk bertatapan langsung dengan suaminya. Semua perasaan bersalah itu masih ia rasakan. bukan karena dia merasa bersalah karena membunuh Kris, namun perasaan bersalah karena membuat usaha Sehun selama hampir dua tahun ini terbuang sia-sia hanya karena emosinya yang tidak stabil beberapa jam lalu.

Sehun sendiri mengerti akan tingkah dan seluruh tindakan Luhan hanya untuk melindungi dirinya. Dia juga tahu Luhan tak ingin disalahkan dan memang-… Sehun tidak akan menyalahkan Luhan. Karena apapun yang Luhan lakukan, katakan dan sebesar apapun kesalahan yang Luhan perbuat. Sehun akan berakhir menjadi orang pertama yang selalu memeluknya, menenangkan pria mungilnya dan mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Ya-….Akan seperti itu dan selalu seperti itu.

Sehun pun menuruti keinginan Luhan. Membiarkan Luhan bersembunyi di pelukannya sementara dirinya melakukan tugas untuk menenangkan sang istri. Mencium berulang pucuk dan tengkuk Luhan adalah hal yang selalu membuat Luhan merasa lebih baik. Dan Sehun tengah melakukan hal itu saat ini. membuat Luhan semakin tenang dan tak memikirkan hal bodoh yang bisa menyakiti dirinya sendiri "Semua akan baik-baik saja sayang."

Luhan memejamkan erat matanya, sengaja mencengkram erat singlet tipis suaminya sebelum mengeluarkan suara untuk memastikan satu hal "Sehun.."

"hmmm."

"Aku minta maaf."

Gerakan mengusap Sehun di punggung istrinya terhenti. Membuat Luhan merasa bersalah adalah hal yang paling ia benci. Karena apapun yang mengusik pria mungilnya, secara tak langsung juga mengusik dirinya. Sehun mendekap Luhan semakin erat berniat untuk tidak menjawab seluruh ucapan bodoh istrinya.

"Maaf karena sudah membuat semua yang kau usahakan hancur begitu saja. Aku tidak bermaksud seperti itu sayang. Aku-….hmphhh…."

Ucapan Luhan tertahan di bibirnya saat bibir Sehun membungkan agak tak sabar bibir mungil istrinya, melumatnya dengan tempo pelan dan mencegah suara apapun keluar dari bibir mungil istrinya. Sehun sengaja menekan agak kencang ciuman mereka, memaksa Luhan membuka mulut sementara dirinya menjelajah semakin dalam ke mulut istrinya. Lidah mereka menari bebas di mulut Luhan. Entah saliva siapa yang keluar di sudut bibir Luhan saat ini, yang jelas Sehun memang berniat memblock nafas Luhan dan terus mengecupi seluruh permukaan bibir Luhan dengan cepat dan kasar hingga membuat Luhan tak memiliki kesempatan untuk berbicara.

Sehun sama sekali tak berniat memulai percintaan mereka seperti ini, tapi saat Luhan dan otak bodohnya mulai berbicara maka saat itu pula Sehun harus bertindak, karena jika dia terus membiarkan Luhan memikirkan banyak hal tanpa alasan maka semua hanya akan berakhir menyedihkan untuk istrinya. Luhan sendiri tahu bahwa Sehun sengaja menciumnya kasar saat ini. Dia bahkan tahun bahwa Sehun tak sampai hati membuatnya merasa bersalah dan mulai menyalahkan dirinya sendiri.

Membuat pegangan Luhan di dada Sehun semakin kencang sebelum akhirnya Sehun melepas ciuman mereka dan menempelkan dahinya di dahi Luhan. Bernafas terengah dengan mata yang memperingatkan untuk tidak merasa bersalah atau lebih buruknya terus menyalahkan dirinya sendiri. Kali ini Luhan membalas tatapan suaminya, menatapnya penuh arti sebelum sebuah kalimat kembali terucap dari bibirnya "Sehun aku-…"

"Ssst…Jangan merusak suasana. Aku benar-benar sedang panas saat ini."

"huh?"

Sehun tersenyum kecil melihat perubahan wajah polos istrinya, kembali melumat bibir Luhan sebelum kembali menempelkan dahi mereka agar tak ada jarak diantara keduanya "Jawab aku. Ini penting."

Luhan mulai merasa tegang saat suara Sehun berubah serius. Menyiapkan kemungkinan terburuk untuk pertengkaran mereka sebelum Sehun kembali bertanya padanya "Sudah berapa lama kita tidak berhubungan?"

"huh?"

"Kenapa kau terus mengatakan huh huh? Jawab aku sayang." Katanya dengan suara merengek dan semakin menarik pinggang Luhan mendekat padanya "Kita selalu berhubungan sayang."

"oh ayolah!"

Luhan membalasnya terlalu polos membuat Sehun mendesah frustasi dan meremas kuat bokong Luhan "Sudah mengerti berhubungan yang aku maksud?"

Luhan meringis tertawa saat tangan besar suaminya tak hanya meremat tapi juga mulai meraba seluruh bagian bawahnya "ah-…Aku mengerti sayang." Katanya mencoba untuk tidak mendesah agar tak membuat suaminya semakin bergairah.

"Jadi jawab aku sudah berapa lama kita tidak berhubungan?"

"Entahlah aku lupa. Aku-…Sehun!"

Luhan memekik saat tangan Sehun tiba-tiba meremat juniornya. Mengusapnya lembut namun begitu perlahan membuat Luhan sedikit tersiksa karenanya. "Coba berfikir sayang. Sudah berapa lama?"

"ungghh-…"

Luhan ingin sekali mengumpat saat tangan Sehun benar-benar mengerjai tubuh bagian bawahnya. Dan bagaimana bisa dia berfikir jika Sehun sedang memberikan kenikmatan hanya dengan menggunakan satu tangan besarnya. Luhan bahkan ingin berteriak jangan bertanya dan hanya ambil aku jika Sehun tak terus memaksanya untuk menjawab pertanyaan konyol darinya "Jawab aku dan jangan mendesah sayang."

Sehun mulai bermain di kedua belahan bokong Luhan. Jari telunjuknya menggoda ke antara belahan membuat Luhan semakin menahan nafas tak sabar merasakan kesenangan yang akan ia dapat hanya dengan tangan suaminya yang selalu bisa membuatnya merasa tegang dan berdebar "Sehun…."

"Jawab aku atau aku akan berhenti menggodamu." Katanya mengancam Luhan dan mulai berhenti menggoda bagian bawah tubuh Luhan saat ini.

"Kenapa terlihat kecewa? Hanya jawab aku dan aku akan kembali membuatmu mendesah."

Luhan menatap tak percaya pada suaminya. Melingkarkan tangan Sehun ke pinggangnya sebelum memberanikan diri menjilat sensual leher Sehun "Aku lupa dan siapa yang peduli?"

"Aku peduli dan coba berpikirlah sayang." Katanya menjauhkan diri dari godaan yang Luhan lakukan dengan menahan Luhan agar tak bisa mendekati dirinya saat ini. Luhan kembali dibuat tercengang dengan sikap jual mahal Sehun membuatnya mengalah dan mencoba berfikir sebelum mantap menjawabnya "Tiga hari."

"Lebih dari tiga hari." Timpal Sehun membuat Luhan mencoba berpikir lebih serius saat ini "Satu minggu."

Sehun kembali berulah dengan mengecup leher Luhan. Tangannya hanya bermain di sekitar pinggang tanpa berniat bergerak lebih jauh membuat Luhan semakin frustasi dan kembali menebak lagi saat ini "Dua minggu?"

Sehun berhenti mengecup leher Luhan. Kembali menempelkan dahinya di dahi Luhan sebelum menatap penuh arti pria mungilnya "Coba tebak lagi."

"Apa kau tahu sudah berapa lama kita tidak berhubungan?"

"Tentu saja aku tahu. Aku menghitungnya dan aku kesal karena tak bisa menyentuhmu setiap hari."

Luhan terkekeh mendengar ucapan sang suami. Kali ini benar-benar mengingat kapan terakhir mereka bercinta sampai raut wajahnya berubah seperti orang bodoh mengingat sudah berapa lama dirinya dan Sehun tak berhubungan. "Jangan bilang satu bulan?" katanya bertanya memastikan kalau satu bulan bukanlah jawaban yang benar. Karena jika benar satu bulan Luhan tidak melayani suaminya. Sudah dipastikan hari-harinya akan dipenuhi rengekan dari Sehun yang terus meminta untuk dilayani. Dan melihat Sehun diam tersenyum maka benar jawabannya memang satu bulan "Apa benar satu bulan?"

"hmmhh.."

"Satu bulan?"

"Satu bulan." Timpal Sehun dengan wajah kesalnya. Luhan sendiri sedang berfikir keras mencari alasan untuk menenangkan suaminya "Mungkin kau yang sibuk. Aku tidak mungkin tidak melayani dirimu kan?"

"Kemungkinan yang paling benar adalah kau sedang marah padaku dan tidak membiarkan aku menyentuhmu."

"Sekalipun aku marah kau pasti akan tetap menyentuhku."

"Dan kau akan semakin marah padaku. Terimakasih untuk tawaranmu dokter Oh."

Luhan tertawa kecil mendengar kekesalan sang suami. Sedikit merasa bersalah karena membuat Sehun menderita selama satu bulan ini dan berusaha menjadi salah agar Sehun memaafkan dirinya "Jadi semua ini karena diriku?"

"Ya."

"hehehe…Kalau begitu aku minta maaf."

"ck! Hanya maaf?"

"Lalu aku harus apa?"

"Harus apa katamu? Whoaa…. Aku benar-benar tak percaya ini!"

"Sehuuuun…"

"Baiklah jangan merengek. Yang perlu kau lakukan hanya berhenti memikirkan hal bodoh dan…."

"Dan?"

"Dan kau harus mendesah sepanjang malam ini." Katanya mengangkat tubuh Luhan seperti mengangkat beras dengan satu tangan. Membuat mata Luhan membulat sebelum

"Sehun!"

Sehun mengabaikan seluruh panggilan istrinya. Sedikit tak sabat menendang pintu kamar mereka sebelum

BRAK…!

Dia menjatuhkan Luhan di tempat tidur super nyaman miliknya. Menarik lengan Luhan yang hendak menghindar sebelum mengukung si rusa cantik tepat di bawahnya "Kau mau kemana sayang?"

"Aku hanya ingin-…"

"Ingin apa?"

Luhan tertawa kecil menyadari idenya untuk melarikan diri dari Sehun adalah hal paling bodoh saat ini. Membuatnya membalas tatapan Sehun sebelum menarik cepat leher suaminya "Aku ingin kau." Katanya menggoda Sehun dan

Hmpphh….

Ciuman itu kembali dirasakan keduanya. Kali ini Luhan bertindak sedikit agresif, memaksa masuk ke dalam mulut Sehun sementara lidahnya bermain di lidah suaminya. Perlahan tapi pasti dia juga mulai mendorong tubuh suaminya. Membuat Luhan berada di pangkuan suaminya dengan tangan yang melingkar sempurna di leher Sehun serta bibir yang terus menyerang bibir suaminya.

Sehun sendiri sengaja membiarkan Luhan menguasai situasi mereka saat ini. Membiarkan Luhan bergerak liar dengan tangan yang sudah melepas perlahan singlet putih dari tubuhnya saat ini. Sehun sedang mencari tahu seberapa besar Luhan ingin bercinta dengannya dan berakhir menyeringai karena sang istri jelas menginginkan dirinya. Namun saat tempo ciuman Luhan melemah begitu saja membuat si pria tampan tertawa kecil menyadari istrinya sudah termakan gairahnya sendiri saat ini. Terlihat dari ciuman yang tiba-tiba dilepaskan dan saat ini dan bersandar di pundaknya dengan nafas terengah.

"Ingin dimanjakan?"

Sehun membuat tawaran yang sangat menyenangkan untuk Luhan. Membuat Luhan yang sedang beristirahat dengan bersandar di pundak suaminya mengangguk menyatakan menyerah karena terlalu lemas dengan ulahnya sendiri.

"Baiklah. Aku akan memanjakan bayi besarku." Katanya kembali membaringkan Luhan dan mulai melumat lembut bibir Luhan. Dan ini yang Luhan sukai jika Sehun sudah mengambil alih. Dia tidak perlu melakukan apapun selain mendesah dan menikmati dan jika sudah seperti ini maka sudah dipastikan pula bahwa dibanding Sehun dirinyalah yang terus menginginkan untuk di sentuh setiap hari.

"Sayangngghhh"

Luhan mengerang sambil meremas rambut Sehun saat bibir suaminya turun dan mengecup kejantanan Luhan dari luar celana dalamnya. Sementara Luhan menggeliat resah Sehun tidak mengubris rontaan istrinya sama sekali. Dia bahkan lebih berniat membuat menggoda istrinya dan segera mengangkat kepalanya. Menatap pria cantik yang paling dia cintai di hidupnya. "Wajahmu memerah dokter Oh. Sangat cantik"katanya mendesis mmeberitahu Luhan membuat Luhan secara refleks memalingkan wajahnya .

"Dan aku paling benci jika kau memalingkan wajah cantikmu dokter Oh."

Sehun membawa kedua tangan Luhan di atas kepala sebelum kembali menjelajahi tubuh mulus sang dokter yang sudah pasrah di bawah kanan Sehun melingkari pinggang ramping Luhan sedangkan tangan kirinya mengusap-usap punggung pria mungilnya dengan tangan miliknya yang besar serta sedikit kasar.

"Aku benar-benar menggilai seluruh bagian tubuhmu sayang," puji Sehun dengan suara yang mirip desisan di telinga Luhan. Membuat Luhan sedikit menggeliat tidak nyaman di dalam pelukan suaminya.

Tangan Sehun yang awalnya asyik mengelus-elus punggung Luhan perlahan turun ke bawah dan menyelinap masuk ke dalam underwear yang Luhan gunakan. Ia mengelus bongkahan pantat Luhan sebelum meremasnya sedikit kasar. Kedua tangan Luhan yang awalnya terdiam, bergerak melingkari leher Sehun saat tangan kedua tangan itu meremas berulang bokongnya. Luhan mendesah tertahan dan sedikit mengangkat pinggangnya ke atas agar Sehun bisa lebih leluasa meremas bagian intimnya.

"Wajahmu saat terangsang adalah favoritku sayang. "

Luhan juga tidak mau diam saja kali ini, dengan susah payah dia berusaha meraih wajah Sehun dan segera memberikan lumatan dalam pada bibir tipis milik suaminya dengan menghisap bibir bawah Sehun dan membiarkan Sehun menikmati bibir atasnya. Bahkan tangan kanan Luhan bergerak ke belakang dan membantu tangan Sehun agar semakin dalam meremas pantatnya.

"nghhh.."

Luhan mendesah kecil saat Sehun mengeluarkan kedua tangannya dari dalam celananya. Menyuarakan suara protesnya yang tentu saja diabaikan oleh Sehun.

"Sabar sebentar rusa kecil." Katanya mencubit hidung pria cantik yang sudah mengisi hari dalam hidupnya hampir sepuluh tahun ini. "Mohon padaku untuk melanjutkan." Katanya memaksa Luhan untuk memohon. Dan Luhan tentu saja akan menolak jika tangan Sehun tidak bermain bebas di dua tonjolan kecilnya. "Tidak mau? Baiklah kita berhenti."

Sehun berniat mengeluarkan kedua tangannya dari dada Luhan sebelum

Grep…!

Luhan menahan tangan suaminya. Menatap memelas dengan kedua mata rusa yang membulat sempurna dan berakhir harus memohon pada suaminya "Lanjutkan sayang. Aku ingin kau menyentuhku."

"Sial…..!"

Dan untuk Sehun ini adalah sebuah serangan balik dari Luhan. Karena hal yang paling tidak bisa membuat Sehun bertahan adalah mata Luhan. Mata Luhan saat dia memohon adalah kelemahan Sehun. Sehun tahu Luhan mengeluarkan kartu AS nya. Membuat dirinya kalah telak dan berakhir mudah menuruti kemauan sang istri "Baiklah aku tidak akan bermain lagi." Katanya memberitahu Luhan sebelum kembali mencium bibir istrinya.

Ciuman Sehun begitu menuntut di bibir Luhan dan kecupan liar itu kembali terjadi. Bunyi Sehun menyedot bibir Luhan yang terbuka atau bunyi Luhan yang mengerang menggema di kamar yang entah sudah berapa kali menjadi saksi kedua pemiliknya dalam memadu kasih.

Sehun mengelus nipple Luhan yang awalnya sudah dia hisap terlebih dahulu. Elusan lembut di nipple sensitif itu membawa desahan tertahan serta geliatan tubuh mungil di bawahnya. Dan seolah tak mau membuang waktu Sehun menundukan kepalanya dan menjilati dada sang istri dengan menggoda "nghhh….Sehunn.."

Luhan kembali menggeliat resah saat Sehun kembali meraup nipple nya dengan kasar. Menjilat, memelintir hingga menghisap kuat membuat tubuh Luhan terangkat karena sensasinya.

Dan untuk merespon Sehun, Luhan melingkarkan kedua kaki jenjangnya di pinggang Sehun. Menarik pria yang masih menggunakan celana boxernya itu semakin jatuh ke atas tubuhnya. Jujur saja Luhan sudah tidak tahan mengingat bahwa dia dan Sehun memang sudah lama tidak berhubungan. Membuatnya sangat mendamba sampai

"Nngghhh... !"

Luhan memekik keras saat tangan Sehun dengan tiba-tiba mengocok penisnya dengan cepat. Membuat mata Luhan tak fokus dengan seluruh tubuh yang bergetar nikmat. Sementara Luhan sedang merasakan nikmat karena pekerjaan Sehun. Maka Sehun juga tidak membuang kesempatan melewatkan pemandangan indah di depannya. Pemandangan dimana edua mata istrinya terpejam dan bibirnya terbuka dan terus mendesah nikmat .

"Aku mencintaimu sayang"

Katanya berbisik dengan tangan yang masih mengocok pelan junior istrinya. Dan sekali lagi Sehun menyatakan bahwa dirnya terlalu memuja pria yang tengah menggeliat di bawahnya saat ini. Sehun mencengkram kedua kaki Luhan yang melingkari tubuhnya. Membuka lebar kedua paha istrinya sebelum benar-benar menikmati pemandangan di depannya.

"Aku benar-benar memujamu Luhan."

"Aku benar-benar tidak sabar." Katanya memberitahu Luhan sebelum

"Ah….~"

Luhan mendesah tanpa sadar saat Sehun mengeluarkan penisnya. Besar dan sangat tegang. Dia tidak bisa membayangkan betapa nikmat penis itu kembali merobek rectumnya dan menghujam titik nikmatnya untuk kesekian kalinya. "Cepat sayang…nghh" desis Luhan sambil menggerakan tubuhnya kebawah dan membuat penis Sehun menekan bagian luar rectumnya.

Sehun menyeringai. Dia memegang pangkal penisnya sendiri dan mengarahkan penis tegangnya untuk menggesek bagian luar rectum Luhan yang berkedut dan terbuka serta menutup dengan lapar.

"Aku akan mulai"

Luhan mengangguk sebagai jawaban. bersiap untuk merasakan sensasinya sebelum

Jleb

"Nghhhhh!" Luhan menjerit keras sambil mencengkram bantal. Dadanya membusung ke depan sebagai reaksi dari bagian bawahnya yang terasa penuh.

"Sehunn….Sehun..ini gila…ini nikmat" Luhan terus mendengungkan nama Sehun saat suaminya menekan penisnya semakin dalam dan menekan titik nikmatnya.

"Kita mulai hukumanmu sayang…nghhh"

Sehun menarik penisnya dengan cepat hingga hampir keluar. Tetapi detik berikutnya pria itu segera menghujam rectum Luhan dengan kasar. Dan berkali-kali Sehun mengulang kegiatan itu. Dia menikmati bagaimana rectum Luhan semakin menyempit seolah-olah hendak menelan penisnya begitu saja.

Luhan mengacak rambutnya sendiri, mengerang tertahan karena sensainya yang begitu tak bisa digambarkan "Ini nikmat…terlalu nikmat!

Kedua belah bibir Luhan terbuka dan terus mendengungkan desahan serta nama Sehun berkali-kali. Betapa dia benar-benar terbuai dengan sentuhan milik pria yang terkenal sangat mengerikan di dunianya. Tangan Luhan bergerak mencengkram pundak Sehun . Cengkraman Luhan di pundak itu semakin erat seiring mata Luhan yang mulai terbuka dan menampilkan kenikmatan.

Sehun tersenyum senang. Dia menggerakan pinggangnya semakin liar membuat Luhan memekik berkali-kali. Pria ini sangat berisik saat bercinta. Dia akan mengekspresikan segala rasa nikmatnya dengan desahan!

Luhan sendiri seolah terhipnotis saat Sehun membuat gerakan keluar masuk di rektumnya, pria nya begitu tampan dan sangat menggairahkan. Membuat pikiran nakalnya kembali menguasai dan tak sabar untuk merasakan hentakan Sehun yang lebih dan lebuh sebelum kedua matanya membulat saat merasakan penisnya berkedut kencang karena memikirkan hentakan dari Sehun. Membuat dia kesal pada dirinya sendiri namun harus berakhir mendapatkan cepat klimaksnya terlebih dulu. Luhan sempat menggelengkan kencang kepalanya sebelum

"SEHUNNNNNN-…Angghhhhhh"

pekikan keras Luhan keluarkan seiring dengan sperma hangat yang membasahi tangan Sehun dan perut suaminya. Tubuh Luhan bergetar keras dan rectumnya mencengkram penis Sehun lebih erat lagi. Membuat Sehun sedikit merasakan kejang karena otot rectum Luhan seolah-olah hendak menempel di penisnya.

"Nghhh…"

Luhan masih menikmati rasa klimaksnya. Nafasnya tersengal hebat dengan sensasi luar biasa yang sangat menyenangkan. Namun seolah tak dibiarkan mengambil waktu untuk beristriahat lebih lama, saat itu juga Luhan mulai merasakan bagian tubuhnya kembali terhentak. Membuat matanya sedikit membulat sebelum menyadari kalau suaminya belum mencapai klimaks Ah benar-….Ini akan berlangsung lama.

Luhan kembali menggeliat karena hentakan dari Sehun. Menutup Rasanya dibanding Sehun, dialah yang kembali merasakan nikmat dan menginginkan lebih. Rectumnya kembali dihujam kuat ditambah dengan tatapan tajam sang suami membuat Luhan semakin mendesah tidak terkendali.

"Ahhh-….Sayanggghh,"

Luhan mendesah pelan menikmati gesekan-gesekan kasar yang kembali Sehun berikan. Penis Sehun yang berada di dalam tubuhnya bisa bergerak lebih leluasa karena pria itu telah mengeluarkan precum-nya dengan deras di dalam rectum Luhan.

Luhan mendesah di dalam kecupan mereka saat pinggang Sehun bergerak semakin cepat dan liar. Hentakan Sehun sangat kasar dan tidak teratur namun selalu tepat mengenai titik nikmatnya. Membuat Luhan untuk kesekian kalinya kembali merasakan nikmat yang selalu berhasil diberikan Sehun untuknya.

Sementara Luhan sedang memuja betapa tangguhnya sang suami maka Sehun kembali melumat bibir Luhan dengan kasar. Dia menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Luhan dan mulai menikmati rongga mulut Luhan yang hangat.

"Ah-ah-ah...haaah" tubuh Luhan terlonjak-lonjak begitu saja karena kecepatan genjotan Sehun berubah menjadi sangat liar seolah-olah hendak mengoyak rectumnya.

"Ngggh...Luuu"

Kali ini Sehun yang melenguh pelan saat merasakan nikmat yang semakin besar.

Luhan menoleh ke arah samping dan mendesah keras. Penis Sehun membesar di dalam rectumnya membuatnya secara refleks menyempitkan otot-otot yang melingkar erat di sekeliling kejantanan Sehun.

"ssshhh… Sayang kau-….ngghhh"

Luhan hanya menyeringai melihat wajah Sehun berubah menjadi merah dan sangat ingin mengeluarkan hasratnya. Membuatnya semakin menyempitkan rectumnya dan tentu saja itu membuat Sehun semakin menggila.

Sehun menggerakan tangannya untuk mencengkram pinggang Luhan. Dia menggerakan pinggang Luhan menjauh saat penisnya dia gerakan keluar, dan pria itu menarik pinggang Luhan mendekat saat dia menghujamkan penisnya ke dalam rectum Luhan.

"Akh!"

Sehun sudah semakin dekat dengan klimaksnya. Namun seolah tak ingin kehilangan sensasinya, dia terus menghujam Luhan semakin kencang, kasar hingga keduanya benar-benar mengerang nikmat diiringi dengan suara khas seperti plop! saat Sehun mengeluar masukkan kejantanannya ke dalam rectum Luhan

"Luuuuuu... Ah... AAAH!"

Luhan menjerit keras sambil mencengkram tangan Sehun yang memegangi pinggangnya. Aliran sprema hangat memenuhi rectumnya membuat sensasi nikmat yang tidak bisa dia uraikan.

Tubuh Luhan mengejang hebat saat cairan sperma Sehun bergerak memasuki tubuhnya lebih dalam.

"Haaahhh!!"

Bibir Luhan kembali mengeluarkan desahan sementara Sehu masih terus megeluarkan cairan spermanya ke dalam rectum istrinya. "Lelah?"

Luhan hanya mengangguk perlahan sebagai jawaban. Dia tahu ini belum berakhir mengingat dibawah sana tepatnya di dalam rectumnya. Kejantanan Sehun bahkan masih membesar walau suaminya sudah mencapai klimaksnya. Membuatnya sangat dan terlalu pasrah jika Sehun memulai ronde kedua dan seterusnya mereka.

"Baiklah. Aku akan mengeluarkannya sebentar."

Sehun sedikit berbaik hati kali ini, perlahan mengeluarkan juniornya hingga membuat desahan tertahan kembali terdengar dari bibir mungil istrinya. Awalnya Luhan mengira Sehun akan memberikannya sedikit waktu sebelum memulai ronde kedua mereka, namun yang terjadi saat ini sang suami menarik selimut dan membawa tubuh mereka yang bermandikan peluh untuk beristirahat.

Hal itu membuat Luhan sedikit mendongak dan bertanya. Dan seolah mengetahui seluruh isi kepala Luhan, Sehun hanya tertawa dan mengecup lama kening istrinya "Aku akan membiarkanmu istirahat setelah ini."

"Tidak ada ronde selanjutnya?"

"Jika kau ingin aku bisa memberikannya."

Luhan mendekap erat dada Sehun. Menyembunyikan wajahnya disana seperti anak kucing yang takut dimandikan oleh majikannya. Sehun sendiri mengerti kalau Luhan kelelahan dan kali ini dia benar-benar akan membiarkan istrinya beristirahat tanpa meminta lebih "Setelah hari ini kita akan melakukannya setiap hari. Kau mengerti?"

Luhan mengangguk menjawab keinginan Sehun. Membuat Sehun kembali tertawa dan semakin mendekap erat tubuh polos istrinya "Aku ingin mendengar suaramu."

"Aku mengerti sayang."

"Seperti itu." Gumam Sehun mencium pucuk kepala Luhan sebelum memejamkan kedua matanya sendiri "Sekarang tidurlah sayang. Hari ini terlalu berat untukmu." Katanya menggumam pelan dan bersiap untuk terlelap sebelum suara istrinya kembali terdengar

"Daripada diriku-…Aku rasa hari ini jauh lebih berat untukmu sayang."

Sehun terpaksa kembali membuka matanya. Jujur saja dia sudah lelah membahas hari ini. Dia sudah kehilangan kesempatan yang selama ini ia cari. Jadi setidaknya dia berharap tidak ada siapapun yang membahasnya. Siapapun termasuk istrinya.

"Ya sedikit berat untukku."

Dan inilah Sehun-… Menyuarakan sedikit isi hatinya. Bukan karena dia tidak ingin menyalahkan siapapun tapi dia tidak bisa. Bagaimana bisa dia menyalahkan Luhan jika hanya rasa bersalah yang akan dirasakan istrinya. Membuat dirinya benar-benar tak sampai hati menyinggung pria kecilnya. "Tapi itu bukan karena dirimu."

Luhan tersenyum pahit mendengar kebohongan Sehun. Sedikit menatap Sehun dan memaksa suaminya untuk berbicara "Aku akan merasa lebih baik jika kau mengutarakan perasaanmu tentang apa yang aku lakukan pada Kris. Jangan hanya diam dan beritahu aku jika kau marah."

Sehun tahu percakapan ini akan dibahas oleh Luhan. Membuatnya tersenyum getir dengan tangan yang melingkar sempurna di pinggan kecil istrinya "Apa kau marah?"

"Jika itu orang lain tentu aku akan sangat murka. Tapi jika itu dirimu aku sama sekali tidak marah."

"Kenapa?"

"Bagaimana bisa aku marah jika ibu dari putraku yang melakukannya. Bukan hanya aku yang memiliki hak atas Ziyu, kau juga memilikinya sayang. Dan jika menurutmu dengan membunuh Kris adalah hal terbaik. Maka aku tidak memiliki alasan untuk marah."

"Tapi kau kecewa padaku."

"Luhan aku mohon jangan bahas lagi…"

Luhan menyembunyikan wajahnya di dada Sehun, dan Sehun harus kembali mengumpat karena merasakan dadanya basah dan itu jelas adalah air mata istrinya. Membuat tangannya mengepal erat sebelum mengusap perlahan punggung istrinya "Aku hanya berharap kau bertahan sedikit lebih lama malam ini. Aku sudah menunggu saat ini begitu lama. Dan Kris akan mengatakannya jika kau sedikit menunggu lebih lama."

"Aku tahu Kris sayang. Dia hanya akan mempermainkan pikiranmu."

"Atau mungkin akan mengatakan yang sebenarnya padaku."

Luhan mendengar nada harapan itu di suara suaminya. Membuat perasaan bersalah semakin menjadi ia rasakan untuk suaminya "Maaf membuat rencanamu berantakan. Aku bersalah."

"Aku bilang cukup untuk hari ini sayang. Jangan biarkan pikiran bodohmu menguasai emosimu. Aku hanya ingin kau tahu aku sudah merelakan kematian bajingan itu. Aku akan mencari pembunuh putra kita dengan caraku sendiri. Walau aku harus memulainya dari awal akan memakan banyak waktu. Aku tidak peduli-…. Aku akan tetap mencari pembunuh itu."

Dan setelahnya hanya keheningan yang menyelimuti ruangan yang beberapa menit lalu menjadi saksi percintaan Sehun dan Luhan. Seolah tak ingin membahas hari menyakitkan ini, keduanya memutuskan untuk diam. Setidaknya Luhan tahu Sehun tidak marah padanya, dan setidaknya Sehun tahu kalau Luhan akan baik-baik saja. Membuat kedua pasangan ini menelan pahit seluruh kekecewaan mereka dan memutuskan untuk tidak saling meninggalkan apapun yang akan terjadi setelah malam ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seminggu telah berlalu. Dan selama seminggu itu pula keadaan menjadi seperti sebelumnya. Luhan pergi ke rumah sakit dan bekerja seperti biasa. Sehun juga mulai kembali menjalani pekerjaannya sebagai orang nomor dua yang memiliki penghasilan terbesar di organisasinya meski Luhan masih dan selalu akan keberatan dengan pekerjaan yang Sehun jalani.

Dan untuk kejadian malam itu tak ada lagi yang membahasnya. Tidak Luhan maupun Sehun. Keduanya seolah memiliki cara masing-masing untuk mengatasi kejadian malam itu. Hubungan Sehun dan Luhan bahkan bisa dikatakan sangat baik.

Keduanya sudah kembali tinggal bersama. Entah di apartemen Sehun atau apartemen Luhan. Yang jelas dimana Luhan berada pada malam hari disana akan ada Sehun sebaliknya pun seperti itu dimana Sehun berada Luhan akan selalu terlihat di pelukannya. walaupun perbedaan pendapat selalu hampir terjadi, tapi keduanya sudah memutuskan untuk tidak saling melepaskan satu sama lain. Sehun akan bekerja sewajarnya mulai saat ini. Dia juga berjanji akan banyak meluangkan waktu untuk Luhan. Tidak membuat si pria cantik menunggu, marah, mengkhawatirkan dirinya dan yang paling buruk adalah menangis.

Sementara Sehun melakukan segala cara untuk membuat Luhan bahagia. Maka dari Luhan juga melakukan hal yang sama untuk suaminya. Namun jika Sehun melakukannya dengan tindakan, maka Luhan lebih menjaga pada sikap dan cara berbicaranya pada Sehun. Dia sangat menyadari kalau selama ini ucapan dan sikapnya adalah dua hal yang sering membuat Sehun merasa sedih dan kesakitan.

Dan karena hal itu pula Luhan mulai memperbaiki diri sama seperti Sehun yang sedang memperbaiki dirinya sendiri. Tidak mudah memang mengingat keinginannya agar Sehun berhenti menjalani pekerjaan mengerikannya belum terpenuhi. Tapi Luhan mencoba untuk tidak menyinggung semua yang dilakukan suaminya. Walau seluruh sikap khawatirnya yang berlebih belum hilang. Setidaknya mereka sudah mencoba untuk menjadi lebih baik mulai saat ini.

Cklek...!

Luhan menoleh saat pintu kamarnya dan Sehun terbuka. Melihat si pria tampan yang sudah mengenakan kemeja putih berjalan mendekat padanya dengan wajah yang jelas menunjukkan bahwa dia sedang kesal-... terlihat dari mata dan bibirnya yang mengerucut hebat.

"Ada apa lagi bayi besar?"

Sehun mengabaikan ejekan kecil dari istrinya. Terus berjalan mendekati Luhan untuk mematikan pemanas di dapur dan dengan cepat membalikan tubuh Luhan sebelum

Hmphhh...

Sehun melumat kasar bibir istrinya, memberitahu betapa kesal dirinya karena setiap pagi harus bangun tanpa Luhan disampingnya. Baiklah ini masalah konyol, tapi Sehun sudah berkali-kali memberitahu Luhan kalau dia tidak suka ditinggalkan sendiri saat tidur. Namun seolah menggodanya, sang istri secara berkali-kali pula sengaja bangun lebih dulu dengan alasan menyiapkan air hangat, pakaian dan sarapan untuknya. -omong kosong!- Sehun bahkan lebih memilih untuk kedinginan dan kelaparan daripada harus bangun tanpa tubuh mungil Luhan di pelukannya.

"Sehun!-..hmmpphh.."

Sehun benar-benar tidak bermain lembut kali ini. Dia seolah ingin memberitahu Luhan bahwa dia benci ditinggalkan sendiri saat membuka mata. Membuatnya begitu kesal dan memutuskan untuk memberi hukuman kecil di pagi hari untuk istrinya.

"Sehunn..."

Luhan mendorong agak kencang tubuh suaminya. Membuat jarak terjadi untuk sepersekian detik diantara mereka sebelum dia mengambil kesempatan untuk mulai berbicara "Aku minta maaf sayangku. Aku benar-benar harus menyiapkan sarapan untukmu."

"Alasan."

"Itu bukan alasan."

"Terserah! Kau meninggalkan aku lagi dan kesabaranku habis. Asal kau tahu dokter Oh. Aku hanya memiliki sedikit pengertian jika itu menyangkut urusan ranjang." Katanya memberitahu sang istri sebelum

"Astaga Sehun!"

Luhan memekik saat Sehun mengangkat tubuhnya. Menendang asal kursi meja makan sebelum membaringkan Luhan tepat di atas meja makan "Kau tidak ingin aku melewatkan sarapan pagi kan? Baiklah aku beritahu padamu dokter Oh. Mulai saat ini sarapan pagiku hanya dirimu." Katanya menyeringai menang. Hendak membuka paksa celana Luhan sebelum

Cklek...!

"Luhan aku sudah menyiapkan mobil yang kau-..."

"Omo!"

Sehun segera menarik Luhan ke pelukannya. Mengutuk keras mata Max yang mungkin melihat paha mulus istrinya. Sehun bahkan hampir menghajar Max jika Luhan tidak menahan dan memeluknya semakin erat.

"Astaga bos. Aku tidak tahu jika kau ingin sarapan. Aku pergi."

"MAX CHANGMIN KAU-...!"

.

.

.

.

.

"Ayolah bos! Berhenti menatapku seperti itu. Aku benar-benar tidak melihat apapun."

Max benar ketakutan saat ini. Bagaimana dia tidak takut jika sedari tadi mata Sehun terus menatap marah padanya melalui kaca spion. Dan jika bukan karena Luhan berada di sampingnya, mungkin saat ini dirinya sudah berakhir di rumah sakit dengan jarum suntik menghiasi seluruh tubuhnya.

"Apa kau yakin tidak melihat apapun."

"Dia tidak melihat apapun sayang. Berhenti membuat seseorang ketakutan karena suaramu."

"Max…."

"Aku tidak melihat apapun selain tanda di paha dalam Luhan. Sepertinya itu-…mati aku."

Max benar-benar kelepasan berbicara saat ini. Membuat Sehun hampir memukul kepalanya jika lagi-lagi Luhan tak menahannya "Sayang tanda itu tidak ada di paha dalamku. Itu berada di bawah lutut. Kau tidak ingat?"

"Iya benar dibawah lutut bos." Katanya membenarkan ucapan Luhan. Membuat Sehun mendelik pada dua orang yang berada di mobilnya saat ini "Jika kau masuk tanpa menyembunyikan bel lagi, aku pastikan kau akan berakhir di kamar mayat."

"Kau akan menangis jika Max berakhir di kamar mayat."

Luhan berniat menyindir suaminya sebelum tatapan seram juga diberikan kepadanya. Membuat tawa kecil ia keluarkan sebelum

Ckit…!

"yey!"

Luhan bersorak senang saat Max berhenti di depan rumah sakitnya di saat yang tepat. Membuat Luhan segera memakai jas putihnya sebelum mencium paksa bibir Sehun "Aku akan pulang malam. Sampai nanti sayang." Katanya kembali mengecup bibir Sehun sebelum

Blam…!

"Luhan…Kau meninggalkan aku dengan serigala menyeramkan."

Max bergumam pelan melihat kepergian Luhan. Merasa keberuntungannya telah habis mengingat Luhan sudah berlari ke dalam rumah sakitnya saat ini "B-bos? Aku sudah memilih rumah sakit ini jika kau hendak menghabisiku."

"Diam dan cepat jalan!"

"huh?"

"CEPAT!"

"Kau tidak akan memukulku?"

Sehun sedikit memajukan dirinya sebelum

Pletak…!

"Aku bilang cepat jalan!"

Max meringis merasakan betapa nyeri kepalanya. Kembali menyalakan mobil sebelum mencibir perlahan pria yang jelas hanya tunduk pada istrinya "Aku akan mengadukannya pada Luhan."

"Kau apa?"

"Aku tidak mengatakan apapun bos. Sungguh." Gumam Max terkekeh sebelum memutuskan untuk diam dan

Brrmmm…

Dia memutuskan untuk mengantar Sehun secepat mungkin ke markas mereka agar pria di belakangnya tidak terus menggonggong.

.

.

.

.

.

.

"Selamat pagi dokter Oh."

Luhan hanya mengangguk saat beberapa petugas di rumah sakit menyapanya. Bertanya-tanya mengapa rumah sakit terlihat ramai dengan kunjungan beberapa orang yang mengenakan jas sementara beberapa wajah dokter dan perawat serta seluruh karyawan rumah sakit terlihat tak bersemangat dan kebingungan.

"Perawat Lee. Ada apa? Kenapa ramai sekali di ruang staff khusus dokter?"

"Luhan…"

Perawat yang ditanya Luhan baru akan menjawab pertanyaan Luhan sebelum melihat dokter Zhang dari departemen bedah syaraf mendekati Luhan

"hyung? Ada apa?"

"Ini buruk."

"Ada apa?"

"Mereka sudah mengeluarkan surat peringatan untukmu dan Baekhyun."

"huh?"

"Kejadian beberapa minggu lalu dengan Professor Kang. Apa kau ingat?"

Luhan sedikit berfikir keras sebelum "Ah-….Dia benar-benar serius dengan ucapannya?"

"Terlalu serius Lu. Dia bahkan membawa beberapa dokter baru untuk menggantikan posisi Chanyeol dan Junmyeon."

"Menggantikan? Apa maksudmu hyung?"

Pria yang kerap kali disapa dengan panggilan Yixing itu pun berjalan ke ruang staff dokter. Membuat Luhan yang masih tak mengerti keadaan dan mengikuti pria yang dicintai Junmyeon itu dengan terburu-buru "hyung."

"Professor Kang juga sudah mengeluarkan surat skorsing selama satu bulan untuk Chanyeol dan Junmyeon."

"Mwo? Kenapa mendadak seperti ini."

"Entahlah Lu. Aku rasa dia memiliki rencana dengan keputusannya." Gumam Yixing memberitahu Luhan sebelum

Pip…!

Yixing menggunakan ID Card nya untuk membuka akses ke dalam ruang direksi. Diikuti Luhan yang seluruh mood nya telah menjadi buruk saat ini. "Kemana mereka semua pergi?"

"Dokter Zhang."

Yang ditanya hanya menyapa Yixing lalu kemudian menyapa Luhan saat melihat Luhan berdiri di belakang Yixing "Dokter Oh."

"Kemana mereka pergi?"

"Professor Kang sedang mengajak berkeliling dokter baru yang menggantikan posisi dokter Park dan dokter Kim. Saya rasa mereka ada di departemen bedah dan umum saat ini."

Yixing kembali memutar arahnya, diikuti Luhan yang terlihat sangat marah, keduanya kini menaiki lift untuk menuju departemen bedah saat ini."

"Kau pasti tidak akan menyukai dokter yang menggantikan Chanyeol."

"Aku rasa Chanyeol tidak keberatan dengan keputusan ini. Kami sudah mempersiapkan diri sebelumnya hyung."

Yixing mengusap kasar wajahnya sebelum kembali menatap Luhan "Tunggu sampai kau melihat siapa yang menggantikan Chanyeol."

"huh? Apa aku mengenalnya?"

"Kau membencinya." Katanya menjawab Luhan sebelum

Ting…!

Pintu lift terbuka. Yixing dan Luhan kembali berjalan menuju departemen bedah. Dan seperti perkiraan mereka, terlihat Professor Kang sedang bersama dengan beberapa tenaga medis baru yang ia rekrut dan beberapa pria yang menggunakan jas. Jelas sekali jika dia sedang bermain dengan bisnis rumah sakit saat ini.

"Professor Kang."

Pria tua itu menoleh saat Yixing memanggilnya. Sedikit tersenyum menyeringai sebelum menyapa Yixing dan Luhan "Disini kalian rupanya. Mendekatlah dokter Zhang aku akan mengenalkan pada kalian tenaga medis kita yang baru."

Jujur saja Luhan sendiri tidak berminat bertengkar dengan pria tua sialan di depannya. Membiarkan Yixing yang mendekati Professor Kang sementara dirinya hanya mengekori pelan di belakang "Kau juga dokter Oh. Aku akan mengenalkan pada atasanmu yang akan menggantikan dokter Park."

Luhan tertawa kesal mendengarnya. Sedikit menyamakan langkah dengan Yixing sebelum berdiri tepat di belakang anggota direksi dan tim medis yang baru.

"Direktur Park. Aku akan mengenalkanmu pada dua dokter spesialisku. Dokter Zhang Yixing dari departemen syaraf dan Dokter Oh Luhan dari departemen bedah."

Pria yang dikenalkan pada Yixing dan Luhan pun perlahan membalikan tubuhnya. Membuat Luhan dan Yixing terpaksa membungkuk untuk menyapa mengingat tata krama dan sopan santun harus tetap ditegakkan walau keduanya marah saat ini "Dokter Zhang Yixing." Yixing mengenalkan dirinya dan menatap pria yang mungkin akan berpengaruh di rumah sakitnya.

Diikuti Luhan yang mulai mengenalkan dirinya "Dokter Oh Lu-….."

Suara Luhan tercekat di kerongkongannya. Kakinya melangkah mundur dengan mata yang membulat sempurna tak mempercayai penglihatannya "K-Kau?"

Semua terasa kabur untuk Luhan saat ini. Bagaimana bisa pria sialan yang membuat suaminya terjerat dunia mengerikan bisa berada di rumah sakitnya. Bagaimana bisa pria yang kematiannya adalah hal yang sangat Luhan inginkan tengah berdiri di depannya dengan senyum yang jelas mengatakan kalau dirinya telah berada satu langkah di depan Luhan. Membuat seluruh tubuhnya menjadi lemas dengan kemarahan luar biasa memakan dirinya saat ini.

"Hey Luhan. Aku tidak menyangka akan bertemu kau disini."

"Anda mengenalnya?"

"Ya…. tentu saja aku mengenalnya."

.

.

.

.

.

Sementara itu….

"KAAAIIII….!"

Yang dipanggil segera menoleh ke asal suara. Menatap bingung pada Baekhyun yang berlari terengah mendekatinya.

"hyung? Ada apa?"

Kyungsoo yang sedang bertanya. Jujur saja kedatangannya ke rumah sakit pagi ini untuk memeriksakan kondisi kepalanya yang sering terasa berdenyut hebat secara tiba-tiba. Dan karena paksaan serta bujukan kekasihnya, maka disinilah Kyungsoo ditemani Kai untuk melakukan check up terakhir mengenai kondisi luka di kepalanya.

"Syukurlah kalian disini. Aku rasa ini akan menjadi buruk untuk Luhan."

"Luhan?"

Baik Kyungsoo maupun Kai bertanya hampir bersamaan. Dan saat nama Luhan di sebutkan maka kecemasan jelas pula terlihat di wajah Kyungsoo dan Kai.

"Kita tidak punya waktu. Cepat ikut aku."

Baekhyun benar-benar membuat jantung Kyungsoo dan Kai memacu tak beraturan. Bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi walau berakhir harus mengikuti kemanapun Baekhyun pergi saat ini "Kai…"

"Tenang saja sayang. Luhan akan baik-baik saja."

Kai menggenggam erat tangan Kyungsoo. Merasa tidak yakin dengan ucapannya sendiri namun harus tetap bersikap tenang mengingat sesuatu memang telah terjadi saat ini.

.

.

"Anda mengenalnya?"

"Ya…. tentu saja aku mengenalnya."

Adalah Park Youngmin yang kini tengah tersenyum menyeringai menatap Luhan. Merasakan kemenangannya begitu dekat berada satu tempat dengan pria yang jelas dicintai oleh pria yang ia besarkan dengan kedua tangannya. Pria yang jelas-jelas mengatakan akan membunuhnya jika ia berani menyakiti pria mungil di depannya. Youngmin mungkin tidak akan membenci Luhan sebesar ini jika Sehun tidak memberontak. Tapi karena "putra bungsu" nya memberontak maka dia tidak memiliki pilihan lain selain bermain aman dan selangkah lebih dulu dari gerakan Sehun dan anak buahnya.

Suasana tegang itu kembali dikuasai Youngmin. Pria tua itu tiba-tiba tertawa membuat suasana benar-benar menegangkan saat ini "Bagaimana mungkin aku tidak mengenali pria yang membuat putraku menjadi anak pembangkang? Bagaimana mungkin aku tidak mengenali pria yang telah membuat putraku lupa siapa dirinya? Aku sangat mengenalnya. Bahkan terlalu mengenalnya hingga rasanya aku ingin menyakitinya."

Luhan mengepalkan erat tangannya, berusaha untuk tidak terpancing pria sialan di depannya sebelum Youngmin kembali membuka mulutnya "Tapi aku berjanji akan merebut putraku darinya. Aku akan membuat putraku menjadi "Putraku" sebelum dia bertemu dengan pria sepertinya."

"Brengsek!"

Habis sudah kesabaran Luhan. Dia bahkan sudah menyerang Youngmin jika anak buah Youngmin tidak menghalaunya, membuat kemarahan benar dirasakan Luhan dan bersumpah akan membunuh pria tua didepannya secepat mungkin.

"Kau tidak akan pernah mendapatkan Sehun! TIDAK AKAN PERNAH SIALAN!"

"Dokter Oh! Jaga mulutmu!"

"Sebenarnya apa yang kau pikirkan Professor? Kenapa kau meminta pembunuh untuk bekerja di rumah sakit kita? Kenapa Kau-…!"

"DOKTER OH!"

Luhan hampir kehilangan kendalinya jika Yixing tidak menahan lengannya. Membuat Professor Kang nyaris memecatnya jika tidak mengingat dia masih membutuhkan Luhan untuk proyek yang sedang ia kerjakan bersama Presdir Park. "Aku tidak tahu jenis hubungan apa yang kau miliki dengan Presdir Park. Dan aku tidak peduli apapun yang akan kau lakukan selama itu tidak merugikan diriku dan rumah sakit. Jadi berhenti mengacau dan biarkan aku mengenalkan siapa atasanmu yang menggantikan dokter Park untuk sementara."

Luhan melepas cengkraman Yixing di lengannya. Emosinya belum stabil dan rasa marahnya masih belum bisa ia kendalikan. Luhan bahkan masih menatap marah pada Youngmin sebelum si tua Kang kembali berbicara.

"Dokter Oh… Kenalkan wanita cantik ini adalah atasanmu yang menggantikan dokter Park untuk sementara."

Seluruh perhatian Luhan tertuju hanya untuk pria tua di depannya. Dia tidak peduli siapapun yang menggantikan Chanyeol saat ini. Yang ia pedulikan dan satu-satunya hal yang sangat ia pedulikan adalah memikirkan cara bagaimana menghabisi pria di depannya sampai

"Perkenalkan aku dokter pengganti dokter Park untuk departemen bedah.-….Jung Soojung."

Telinga Luhan mendadak berdengung saat mendengar wanita di sampingnya mengenalkan diri. Membuatnya mau tak mau dirinya menoleh sampai matanya dan mata wanita itu bertemu. Dan tak berbeda dengan cara Youngmin menyapanya, maka si wanita yang jelas melakukan praktik percobaan pada beberapan anak kecil di Sejong Hospital itu menyeringai padanya. Praktik sialan yang membuat Yujin -gadis kecil yang meninggal di tangan Luhan karena tak bertahan dengan efek obat yang diberkan Soojung untuknya- Membuat beberapa kenangan menyakitkan itu memaksa masuk kedalam kepala Luhan hingga membuat kemarahan Luhan semakin tak terkendali dan

"PEMBUNUUUUUUH!"

Kali ini Luhan menyerang Soojung, namun yang terjadi adalah beberapa anak buah Youngmin kembali menghalaunya. Luhan bahkan terus meronta agar bisa menyentuh salah satu dari Youngmin dan wanita yang kerap kali dipanggil Krystal, membuat rasa putus asa karena tak bisa menyentuh salah satu dari mereka semakin menggila. Luhan bahkan berhasil memukul satu penjaga Youngmin, membuat penjaga yang lain hampir memukul Luhan jika Kai tak segera sampai dan melihat kejadian mengerikan di depannya.

"Luhan…"

"LEPAAAAS!"

Luhan terus meronta hebat menghalau penjaga Youngmin, membuat kesabaran para penjaga itu hilang dan berniat memukul Luhan sebelum

Sret…!

"Mundur….!"

Kai membawa Luhan berdiri di belakangnya. Menatap marah pada penjaga Youngmin yang nyaris melukai pria paling berharga untuk kehidupan Sehun "AKU BILANG MUNDUR!"

"Sayang…"

Kai melarang Kyungsoo mendekat. Memberinya instruksi untuk mengambil Luhan yang masih meronta marah dan mulai menangani situasi yang sedang terjadi.

"Kim Jongin. Sudah lama sekali aku tidak melihatmu."

Kai sedikit gugup saat Youngmin menyapanya. Membuat dirinya mau tak mau membungkuk jika tidak ingin membuat keadaan semakin kacau "Selamat pagi Presdir Park." Katanya menyapa Youngmin yang terlihat geram saat ini.

"Kau membela pria itu?"

"Dia istri dari direktur Oh. Dan kewajibanku adalah menjaga semua yang berhubungan dengan direktur Oh."

"ck! Sekali anjing peliharaan hanya akan tetap menjadi anjing peliharaan. Apa kau berniat menggigitku juga?"

"Tidak Presdir Park."

Youngmin menatap marah pada Kai. Sedikit berjalan mendekati Luhan yang berada di pelukan Kyungsoo sebelum matanya bertemu dengan mata Kyungsoo. Menatap agak lama Kyungsoo sebelum beralih pada Luhan "Kau tidak akan bisa melawanku dokter Oh. Selamanya Sehun akan berada di bawah perintahku."

"BRENGSEK!"

"hyung / Luhan!"

Kai kembali berdiri di depan Luhan. Mencegah Luhan memukul Youngmin dan hanya menjadikan punggungnya sebagai pelampiasan untuk kemarahan Luhan "Maafkan kami Presdir Park. Harap anda memiliki hari yang baik saat ini." Katanya mencoba menenangkan Youngmin yang tertarik pada Kyungsoo saat ini.

"Siapa dia?"

Kai tidak mengerti mengapa Youngmin bertanya tentang Kyungsoo membuatnya sedikit mengernyit sebelum menatap kembali pada Youngmin "Dia kekasihku."

"ah-…..Soojungaa… Apa kau dengar? Jongin sudah memiliki kekasih. Dan Jongin memiliki selera yang sama buruknya dengan bosnya. Ayo kita pergi."

Youngmin masih menatap penuh arti pada Kyungsoo. Dan Kyungsoo sendiri tidak bisa memungkiri kalau dia mengenal pria tua yang terus memperhatikannya. Ya-…Kyungsoo mengenal Youngmin-.. Pria tua itu beberapa kali datang ke markasnya untuk berbisnis dengan Kris, dan Kyungsoo berani bertaruh bahwa semua rencana Kris untuk melukai putra Sehun dan Luhan tak lepas dari campur tangan pria tua yang kini berjalan pergi meninggalkan rumah sakit. Membuatnya ingin mencari tahu sebelum terdengar suara seorang wanita berbicara pada Kai dengan marah.

"Kekasih kau bilang? JADI KAU MENINGGALKAN AKU HANYA UNTUK PRIA MURAHAN SEPERTINYA?"

"Sebaiknya kau menjaga mulutmu Jung Soojung-ssi."

"KIM JONGIN!"

"Lagipula aku tidak pernah memiliki hubungan dengan psikopat pembunuh anak kecil sepertimu. Jadi berhenti berteriak dan cepat pergi dari sini!"

PLAK…!

Soojung menampar kencang wajah Kai. Membuat Kai tak segan mencekik Soojung hingga warna muka dokter sialan di depannya berubah menjadi merah. "Kai…"

Kyungsoo berlari mendekati kekasihnya. Mencoba menenangkan Kai dengan memeluknya sementara Luhan kembali menghampiri Soojung "Aku bersumpah akan membunuhmu jika kau melakukan sesuatu mengerikan di tempat ini." Katanya memperingatkan Soojung sebelum berlari pergi meninggalkan Soojung yang seluruh matanya menatap Kai dan Kyungsoo saat ini.

"Aku tidak akan membiarkan kalian bersama. KAU DENGAR KIM JONGIN? AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN KAU BERSAMA PRIA MURAHAN DI DEPANMU! AKU AKAN MEMBUNUHNYA DENGAN KEDUA TANGANKU SENDIRI!"

"JUNG SOOJUNG!"

"Kai tenanglah…"

Kyungsoo semakin memeluk erat Kai. Membuat Soojung benar-benar muak dan meninggalkan Kai dan Kyungsoo berdua saat ini.

BLAM…!

Soojung memasuki mobilnya. Menghapus cepat air matanya karena Youngmin tengah menatapnya marah saat ini "Menangis?"

"Maaf Presdir Park. Aku benar-benar ingin membunuh kekasih Jongin." Katanya menggeram marah membuat Youngmin tertawa keji mendengarnya.

"Kau tidak perlu repot-repot mengotori tanganmu. Jongin sendiri yang akan membunuh kekasihnya kelak."

"huh? Apa maksud anda direktur?"

"Jalan…!"

Youngmin tersenyum keji sebelum memerintahkan supirnya untuk segera menjalankan mobil "Aku tahu siapa pria itu dan keuntungan untuk kita adalah karena Luhan dan pria itu memiliki hubungan yang sangat dekat. Bukan hanya kau yang akan bahagia tapi aku juga."

"Aku tidak mengerti maksud anda Direktur."

"Entah Jongin atau Sehun-… Salah satu dari mereka pasti akan membunuh pria itu. Kau tenang saja. Dan jika Sehun yang melakukannya. Maka Luhan akan sepenuhnya kalah dariku." Katanya menyeringai penuh kemenangan. Merasa semua keberuntungan ini berada di pihaknya. Pertama karena berhasil masuk dan menjalankan bisnis di tempat yang sama dengan tempat Luhan bekerja. Dan kedua-… Tanpa diduga dia bertemu dengan pria yang kematiannya paling Sehun inginkan di dunia ini. Pria yang merupakan pembunuh putra kecilnya adalah pria yang sama yang memanggil Luhan dengan sebutan hyung. Membuat dirinya menebak bahwa apapun yang sedang terjadi disana. Sehun belum mengetahui siapa pria yang hidup bersamanya selama ini.

"Aku tak sabar menanti hari itu terjadi."

.

.

.


tobecontinued..

.


.

Goddd…. Gue geregetan sendiri ama ini ep ep..kkkk..

Yang jelas keberuntungan Kyungsoo udah tipis. Dinantikan saja dari siapa Sehun Luhan tau itu si kyungsoonya Kai yang mereka cari.

.

oiaaaaa ga ada paksaan buat ngikutin ini cerita. yang ga suka boleh di skip yang kepalang tanggung baca boleh diikutin kkkk...karena kalian ga ada kewajiban buat baca tapi gue harus nyelesein yang udh tlanjur gue tulis...sooooo ...jangan tanya ini berapa chap..karena ga ada jawaban dari gue :v. gue juga gatau kan

.

Sekian dan sampai ketemuuu!

.

Happy reading review..