Previous
"Aku tidak akan membiarkan kalian bersama. KAU DENGAR KIM JONGIN? AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN KAU BERSAMA PRIA MURAHAN DI DEPANMU! AKU AKAN MEMBUNUHNYA DENGAN KEDUA TANGANKU SENDIRI!"
"JUNG SOOJUNG!"
"Kai tenanglah…"
Kyungsoo semakin memeluk erat Kai. Membuat Soojung benar-benar muak dan meninggalkan Kai dan Kyungsoo berdua saat ini.
BLAM…!
Soojung memasuki mobilnya. Menghapus cepat air matanya karena Youngmin tengah menatapnya marah saat ini "Menangis?"
"Maaf Presdir Park. Aku benar-benar ingin membunuh kekasih Jongin." Katanya menggeram marah membuat Youngmin tertawa keji mendengarnya.
"Kau tidak perlu repot-repot mengotori tanganmu. Jongin sendiri yang akan membunuh kekasihnya kelak."
"huh?Apa maksud anda direktur?"
"Jalan…!"
Youngmin tersenyum keji sebelum memerintahkan supirnya untuk segera menjalankan mobil "Aku tahu siapa pria itu dan keuntungan untuk kita adalah karena Luhan dan pria itu memiliki hubungan yang sangat dekat. Bukan hanya kau yang akan bahagia tapi aku juga."
"Aku tidak mengerti maksud anda Direktur."
"Entah Jongin atau Sehun-… Salah satu dari mereka pasti akan membunuh pria itu. Kau tenang saja. Dan jika Sehun yang melakukannya. Maka Luhan akan sepenuhnya kalah dariku." Katanya menyeringai penuh kemenangan. Merasa semua keberuntungan ini berada di pihaknya. Pertama karena berhasil masuk dan menjalankan bisnis di tempat yang sama dengan tempat Luhan bekerja. Dan kedua-… Tanpa diduga dia bertemu dengan pria yang kematiannya paling Sehun inginkan di dunia ini. Pria yang merupakan pembunuh putra kecilnya adalah pria yang sama yang memanggil Luhan dengan sebutanhyung.Membuat dirinya menebak bahwa apapun yang sedang terjadi disana. Sehun belum mengetahui siapa pria yang hidup bersamanya selama ini.
"Aku tak sabar menanti hari itu terjadi."
.
.
.
.
.
.
.
.
Entangled
Main Cast : Sehun & Lu Han
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
BRAK….!
"BOS!"
Yang dipanggil melihat marah pada anak buah yang sedari pagi mengganggu harinya, hampir berniat memukul pria jangkung di depannya. Sebelum matanya melihat ada sesuatu yang mengganjal yang membuat kaki tangannya harus terlihat pucat dan terengah seperti saat ini.
"Ada apa? Kau berniat melakukan hal gila lagi?"
Pria yang biasa dipanggil Max itu menggeleng cepat. Menatap bos yang sangat ia hormati dengan ketakutan luar biasa tak bisa menceritakan informasi yang baru saja ia dapat. Pria yang memiliki tinggi 180 cm itu bahkan enggan untuk menceritakan apa yang terjadi jika tidak mengingat bahwa pria mungil yang paling dicintai bos nya terlibat dengan sesuatu mengerikan pagi ini.
"Sesuatu terjadi bos."
Merasa Max terlalu berbelit membuat Mafia keji yang pernah merasakan menjadi seorang ayah itu kembali fokus pada dokumennya. "Kau tahu aku sangat membenci sesuatu yang bertele-tele kan?"
"Ini tentang Presdir Park bos."
"Ada apa dengan pria tua itu? Apa dia masih memintaku untuk datang?" katanya tertawa marah mengingat Youngmin terus memaksanya untuk datang ke Tiongkok. Pria tua itu bahkan mengancam akan mendekati Luhan jika ia terus mengabaikan seluruh keinginannya tentang tidak menetap di Seoul untuk waktu yang lama.
"Ini lebih buruk."
"Benarkah? Bagaimana kalau aku tidak peduli."
"Ini berkaitan dengan Luhan."
Gerakan tangan Sehun terhenti bersamaan dengan nama sang istri disebut. Membuat seketika perasaannya menjadi luar biasa buruk dengan rasa takut yang mulai mengendalikan emosinya.
Perlahan namun pasti Sehun meletakkan bolpoint nya di meja. Berusaha untuk tenang sebelum kembali menatap Max yang terlihat panik saat ini "Luhan?"
"Kau harus melihat ini bos."
Max memberikan ponselnya pada Sehun. Awalnya Sehun hanya akan berteriak marah tak peduli pada apapun yang berada di ponsel Max kenapa? Karena seluruh pikirannya hanya berada pada Luhan. Dia hanya ingin memastikan kalau istrinya dalam keadaan baik dan tidak tersentuh. Sehun bahkan berniat untuk membanting ponsel Max sebelum matanya menangkap gambar yang terasa sangat familiar untuknya.
"Luhan?"
Sehun mengambil cepat ponsel Kai. Melihatnya dengan jelas sebelum matanya membulat melihat Luhan berada di satu tempat dengan pria yang telah menjadikan dirinya dan Yunho tumbuh menjadi pembunuh keji seperti saat ini.
Tangannya bergetar hebat hampir tak bisa merasakan tenaganya sebelum kembali menatap Max dengan hati dan pikiran yang begitu ketakutan saat ini "Kapan foto ini diambil?"
Max terlihat sama resahnya dengan Sehun, mencoba untuk tidak membuat bosnya mati cemas dengan menjawab setenang mungkin "Pagi tadi bos."
"BRENGSEK!"
Sehun menggebrak kasar mejanya. Dan tak perlu memakan waktu lama dia berjalan meninggalkan ruangannya diikuti Max yang setengah berlari menyamai langkahnya dengan Sehun.
"Bos kau mau kemana?"
"Rumah sakit."
"Kai berada disana dan memastikan Luhan baik bos."
"Kalau begitu aku akan menemui bajingan sialan itu."
"BOS!"
Max berteriak dan memblock jalan Sehun. Bermaksud mengutarakan maksudnya agar Sehun tak kembali membuat keputusan bodoh yang dapat membahayakan istrinya sendiri.
"Minggir."
"Tidak bos! Kau tahu kau selalu kalah menghadapi Presdir Park jika menggunakan emosi. Kau harus tenang bos."
"AKU BILANG MINGGIR SIALAN!"
Sehun mencengkram marah kemeja Max. Nyaris memukul kaki tangannya namun Max memberanikan diri untuk melawan dirinya.
"MAX CHANGMIN!"
"LUHAN AKAN SELALU MENJADI KORBAN DARI EMOSI YANG KAU RASAKAN BOS! TENANGLAH!"
Sehun kembali merasakan lemas di tubuhnya, melepas begitu saja cengkraman di kemeja Max sebelum bersandar di dinding markas untuk menopang berat tubuhnya sendiri. Dia bahkan tertawa lirih dengan mengusak kasar wajahnya "Kau benar Max."
"Bos.."
Max berusaha mendekati Sehun namun bos nya terus berjalan gontai entah kemana "Luhan akan selalu merasakan sakit jika itu berhubungan dengan bajingan tua itu."
"Bos tenanglah."
"Aku kalah dan akan selalu kalah jika dia terus menggunakan Luhan. Aku-…"
"KALAU BEGITU KITA HARUS MENANG KALI INI!"
Lagi-…. Max memblock jalan Sehun, membuat Sehun mencoba mendengarkan segala kemungkinan yang bisa ia dapat dan berusaha mempercayai apa yang dikatakan oleh Max kali ini. "Apa yang harus aku lakukan?"
"Gertak dan temui Presdir Park. Kau harus menjadi Sehun yang menakutkan jika Luhanmu disentuh. Bukan menjadi Sehun yang merengek ketakutan karena Luhanmu disentuh!"
Sehun merasa ucapan Max adalah bunuh diri. Membuatnya menggeleng tak mau mengambil resiko mengingat Luhanlah taruhan dari semua yang diinginkan Youngmin padanya "Dia tahu kelemahanku Max."
"Jadikan kelemahanmu sebagai kekuatan tak terbatas yang kau miliki bos. Percayalah hanya ini satu-satunya cara agar Presdir Park tak seutuhnya menyentuh Luhan."
Kali ini Sehun merasa tertarik pada rencana Max, membuat wajahnya terangkat dan memastikan bahwa semua kemungkinan yang dikatakan adalah yang paling tepat untuk saat ini.
"Kau tidak menjaga Luhan sendiri bos. Aku dan Kai juga mempertaruhkan nyawa kami untuk Luhan. Jadi angkat wajah dan tegakkan bahumu. Kau tidak boleh membiarkan mereka menyentuh Luhanmu bos!"
Sehun kembali terdiam. Mencerna seluruh ucapan Max yang terdengar tepat untuknya saat ini. Dan karena semua ucapan kaki tangannya itu pun-…Sehun memutuskan untuk melakukan apa yang Max katakan. Apapun yang bisa menjauhkan Luhan dari pria tua sialan itu adalah hal yang patut untuk dicoba mengingat keselamatan pria cantiknya adalah hal mutlak untuk Sehun.
"Kau benar…"
Sehun menyetujui ucapan Max. Sedikit menatap berterimakasih pada Max sebelum berjalan menuruni tangga dengan cepat "Bos?"
"Siapkan mobil. Kita akan menggertak sesuai rencanamu " Katanya memberitahu Max yang terlihat senang dengan perintah yang diberikan. Kaki tangannya itu bahkan berjalan mendului dirinya untuk menyiapkan mobil yang diminta Sehun untuknya.
.
.
.
"Apa kalian berhasil menghubungi Sehun dan Yunho?"
Saat ini Youngmin sampai di markas utama miliknya dengan Soojung dan seluruh anak buah serta kaki tangan mengikutinya di belakang. Terlihat marah namun puas mengingat pertemuannya dengan Luhan pagi ini membuat dirinya menang satu langkah dari sang dokter.
"Aku sudah mencoba menghubungi mereka."
"Lalu?"
"Mereka tetap tidak menjawab."
Adalah Choi Seunghyun. Kaki tangan sekaligus Si sulung dari tiga bersaudara yang Youngmin besarkan selain Sehun dan Yunho. Pria yang kerap dipanggil TOP itu memiliki perawakan yang tidak berbeda dengan kedua adiknya. Jika Sehun dan Yunho sesekali terlihat bisa tertawa maka Seunghyun adalah ketidakmungkinan yang bisa dilakukan oleh Sehun dan Yunho.
Pria yang paling loyal pada Youngmin itu sebenarnya bersikap netral. Dia tidak membenci Youngmin tidak juga membenci kedua adiknya yang membelot karena menikahi pria-pria pilihan mereka. Namun berada di posisinya adalah hal yang paling sulit pula. Terkadang dia harus melakukan perintah Youngmin. Namun disaat yang sama dia juga harus melindungi kedua adik yang tumbuh bersamanya.
Seperti saat ini adalah contoh yang paling nyata dari pemberontakan yang dilakukan Sehun dan Yunho. Bisnis yang harus melibatkan kedua adiknya itu diabaikan saja oleh mereka. Membuat Youngmin begitu marah sementara Seunghyun masih mencoba untuk menenangkan pria tua yang telah membesarkannya. "Aku akan bicara dengan mereka Presdir Park. Aku yang akan memastikan mereka ber-.."
Brak...!
"OMONG KOSONG! Kedua adikmu adalah PENGHIANAT DI BISNIS KITA!"
"Tidak Presdir Park. Mereka masih menjalankan bisnis kita."
"Mereka hanya menjalankan tanpa menghormatiku! Bajingan sial-..."
"Apa aku mengganggu perdebatan kalian?"
Suasana tegang di markas itu pun seolah dibuat diam untuk sementara. Baik Seunghyun maupun Youngmin. Keduanya menoleh melihat seseorang yang sedang mereka bicarakan terlihat berjalan santai memasuki ruangan dengan aura mematikan di wajahnya.
"Hyung..."
Si bungsu dari tiga bersaudara itu tampak menyapa kakak tertuanya. Melemparkan pandangan berarti dimana yang satu memperingatkan untuk tidak macam-macam
Sementara yang satu seolah tidak peduli dan hanya terus berjalan mendekat padanya.
"Bisakah aku duduk di tempatmu."
"Oh Sehun-... Jaga sikapmu!"
"Sikap? Apa ada yang salah dengan sikapku hyung?"
Ya-... Seorang Oh Sehun yang didampingi oleh Max dan beberapa anak buahnya terlihat tak peduli dan takut saat ini. Kelompok termuda di bisnis gelap yang mereka jalani ini seolah menantang induk dari semua bisnis yang mereka jalani. Membuat Seunghyun beberapa kali harus menggeram melihat sikap arogan si bungsu yang terlihat sangat kejam bahkan melebihi dirinya.
"Oh Sehun kau-.."
"Tenanglah anak-anakku. Melihat kedua putraku bertengkar sungguh menyakiti hati ayah. Jadi jangan bertengkar dan kau Seunghyunna-... Adikmu baru saja pulang ke rumah. Jangan marah padanya. Biarkan adikmu duduk."
Seunghyun dan Sehun diam dengan pertengkaran mereka. Mendengar bagaimana Youngmin mengatakan kalimat "anak dan ayah" pada mereka adalah hal yang sangat menjijikan dan untuk Sehun…. Ini adalah sebuah lelucon mengingat betapa kejinya Youngmin membesarkan mereka sewaktu mereka kecil.
"Anak kau bilang?" Katanya tertawa keji menatap pria tua di depannya. Sedikit menarik kursi di depan Youngmin sebelum duduk berhadapan dengan sang "ayah" versi pria tua bangka di depannya.
"Ya tentu saja nak. Aku ayahmu."
"Ini benar-benar menjijikan."
Senyum di wajah Youngmin sedikit menghilang. Si pria tua itu mulai terpancing dengan sikap dan ucapan Sehun namun masih berusaha tenang menghadapi si bungsu.
"Daripada anak-.. Kau membesarkan kami seperti anjing penjaga Presdir Park. Jadi aku katakan untuk entah sudah ke berapa kalinya. Jangan pernah mengibaratkan hubungan kita sebagai ayah dan anak. Karena aku bukan anakmu! Dan satu lagi-..."
Katanya bersandar nyaman di kursi Youngmin sebelum tubuhnya condong mendekat ke si pria tua yang masih menatap berusaha sabar padanya.
"Jangan berbicara seolah kau pernah menjadi ayah karena kau tidak pernah dan memang tidak akan pernah menjadi seorang ayah Presdir yang agung." Katanya meremehkan Youngmin dengan kemarahan tersirat di ucapannya.
Membuat tangan Youngmin mengepal erat sementara berusaha mencari kalimat serangan untuk pembangkang di depannya. "Kenapa kau berbicara seperti itu nak? Apa karena kau pernah menjadi ayah yang gagal? Ayah yang membiarkan putra tercinta meninggal tepat di depan kedua matanya sendiri? Ck! Sungguh malang nasib anakmu. Aku rasa dia malu memiliki ayah ceroboh seperti-..."
"PARK YOUNGMIN!"
Max menahan bahu Sehun saat bosnya hendak menyerang Youngmin. Jujur saja mendengar kalimat serangan dari Youngmin juga membuatnya sangat murka. Tapi bukankah ini bunuh diri jika menyerang Youngmin di kerajaannya? Lagipula tujuan mereka kesini untuk menggertak bukan untuk membuat keributan yang akan berakibat fatal setelahnya.
"Bos ingat tujuan kita. Aku mohon jangan terprovokasi."
Max berbisik sangat pelan. Membuat Sehun tetap berniat menyerang sebelum mendengar nama Luhan diucapkan Max setelahnya "Luhan-... Kita kesini untuk memastikan Luhan tidak pernah disentuh. Tenanglah bos. Aku mohon."
Kepalan di tangan Sehun perlahan membuka, nafasnya juga mulai teratur. Membuat Max melepas cengkramannya di bahu Sehun sementara Youngmin masih tersenyum menang saat ini.
"Wae? Kenapa kau melihat ayah seperti itu?"
"Cih! Menjijikan. Daripada seorang ayah kau terlihat seperti pelatih anjing jalanan Presdir Park."
Dan saat Youngmin hampir kembali terpancing. Seunghyun memulai perannnya sebagai penegah. Dia mengambil dokumen yang harus di tanda tangani Sehun sebelum
Blam...!
Perhatian Sehun teralihkan saat melihat dokumen di depannya. Bertanya-tanya jenis dokumen apa yang ada di depannya sampai matanya mendongan menatap pria yang selalu menjadi favoritnya dulu-... Ya dulu... sebelum beberapa hal membuat hubungan mereka renggang. Dan alasan utama adalah karena istrinya.
"Apa ini?"
"Tanda tangani bisnis baru kita dan pergi dari sini setelahnya!"
"Bisnis macam apa?"
"Kita akan menjual virus. Target pemasaran adalah China dan Rusia. Alasan mengapa kau berada disini adalah karena kau bertanggung jawab di pemasaran China."
Sehun mengusap kasar wajahnya. Sedikit menenangkan diri dengan rencana gila ini sebelum menatap marah pada Seunghyun dan Youngmin. "Virus macam apa yang sedang kita bicarakan?"
"Kau tidak perlu tahu terlalu banyak. Yang harus kau lakukan hanya memastikan pemasaran di China sesuai dengan target penjualan kita."
"Lalu siapa yang akan membuat dan menguji virus yang akan kita jual?"
"Kita memiliki The Great Jung Soojung disini. Selagi dia bekerja kita akan menyiapkan penjualan tertinggi untuk virus yang kita ciptakan."
"Kita?"
Sehun tertawa marah mendengar penuturan Seunghyun. Membuat tangannya mengepal erat sebelum menatap memperingatkan pada Seunghyun maupun Youngmin "Apa yang membuat kalian sangat yakin bahwa kedatanganku kesini untuk menandatangani surat sialan itu?"
"Karena ini bagian dari pekerjaan kita."
"Dengan kata lain kalian memintaku melawan Luhan? Istriku? APA KALIAN GILA?"
Kali ini Youngmin yang bereaksi. Sungguh dia tidak pernah menyangka bahwa pria biasa seperti Luhan masih bisa mengendalikan seorang Oh Sehun hingga saat ini. Tak pernah berkurang. Sebaliknya-... Dia merasa pengaruh Luhan semakin besar pada Sehun. Membuat tangannya mengepal dengan kemarahan luar biasa menatap si bungsu "Kau tidak bisa terus membantah perintahku Oh Sehun. Kau tahu itu dengan jelas!"
"Aku akan terus membantah selama itu berkaitan dengan Luhan. Jadi jangan pernah berfikir kalau aku akan menyakiti Luhan demi kalian. Aku bahkan tak segan menyakiti siapapun dari kalian, jika kalian mendekati istriku. Siapapun-... Termasuk kau Presdir Park. Aku bersungguh-sungguh." Katanya menantang sang Presiden direktur. Membuat suasana semakin tegang sementara Sehun sangat menikmati gertakan pertama yang ia lakukan pada Youngmin.
"Kau tidak akan berani melawanku."
"Coba dan buktikan. Aku memiliki setengah dari semua kekayaanmu. Dan jika kau berani menyentuh istriku, maka aku dengan senang hati akan menghancurkanmu. Aku bahkan tak segan menghancurkan semua yang telah kau bangun dengan hidupmu Presdir Park. Aku-..."
"OH SEHUN!"
Sehun tertawa menang saat ini. Berdiri dari kursinya sebelum berniat untuk pergi meninggalkan Youngmin.
"Kedatanganku untuk memperingatkan kalian agar tidak menyentuh Luhan. Terutama kau Jung Soojung. Jika kau atau siapapun berani membuat istriku terluka merasa sakit atau menderita. Aku bersumpah akan membalas kalian berkali-kali lebih kejam. Camkan itu!" Katanya memberi peringatan pada seluruh anak buah Youngmin terutama Soojung. Sudah melangkah untuk pergi sebelum suara Youngmin kembali terdengar
"Apa kau sudah menemukan siapa pembunuh putramu?"
Langkah Sehun mau tak mau kembali terhenti. Bertanya mengapa Youngmin tiba-tiba tertarik membicarakan mendiang putranya sebelum kedua mata mereka kembali bertemu saat ini "Apa yang kau bicarakan?"
"Tidak ada. Aku hanya bertanya apa kau sudah menemukan siapa bajingan yang menabrak putramu?"
Sehun tertawa marah dengan mata berkilat kembali menghampiri Youngmin dan memperingatkannya dengan satu helaan nafas "Dengarkan aku Presdir Park. Jangan pernah bertanya tentang putraku seolah kau peduli padanya. Jangan pernah. Kau dengar?-… Hanya lakukan yang biasa kau lakukan tanpa menyebut nama Luhan atau putraku." Katanya memperingatkan Youngmin dengan tegas. Hampir memukul pria tua di depannya. Karena daripada mengerti, Youngmin justru tertawa kencang saat ini.
"hahahaha… Malang sekali nasibmu nak. Jadi kau belum menemukan siapa pembunuh putramu? Kau sungguh-…."
"AKU SUDAH MENEMUKANNYA!"
"Benarkah? Siapa? Yifan?-….ah… Bahkan pria yang kau cintai adalah penyebab hilangnya kesempatanmu untuk mengetahui segalanya ya? Jika aku adalah dirimu. Aku tidak akan segan membunuh siapapun yang membuatku kehilangan kesempatan. Karena jika aku adalah dirimu. Aku sudah membunuh Luhan malam itu juga. Kenapa? Karena dia membuat semua yang aku usahakan hilang dalam hitungan detik. Apa kau pernah berniat menyakiti Luhan? Jika kau tak sanggup aku bisa melakukannya untukmu nak. Aku-…"
"DIAAAAMMM!"
Sehun muak mendengar omong kosong Youngmin yang terdengar memprovokasinya. Membuat Sehun mengambil cepat pistol yang berada di bagian belakangnya sebelum
Ckrek….!
"SEBAIKNYA KAU DIAM SIALAN!"
Sehun menodongkan senjatanya pada Youngmin. Membuat Seunghyun secara otomatis menodongkan senjatanya pada Sehun sementara Max tak kalah cepat menodongkan senjatanya pada Seunghyun. Membuat suasana mencekam begitu terasa mengingat jumlah Sehun dan anak buahnya jelas kalah dengan jumlah Youngmin
"Sehunna. Turunkan senjatamu."
Seunghyun berusaha memberitahu si bungsu. Nada suaranya begitu tenang namun terdengar begitu memohon agar Sehun tak melakukan hal gila saat ini.
"Sehun…"
Sehun semakin bersiap menarik pelatuk. Dia merasa sudah gelap mata dan hampir menembakan pelurunya jika Youngmin tak kembali berbicara.
"Selamanya kau tidak akan tahu siapa pembunuh putramu jika kau membunuhku."
Sehun masih tak bergeming mendengar racauan Youngmin. Benar-benar berniat menarik pelatuknya sebelum
"Aku tahu siapa pembunuh putramu."
Mata Sehun membulat sempurna saat ini. Dia sudah meniadakan kemungkinan Youngmin terlibat pada kematian putranya adalah nol persen. Namun saat pria sialan di depannya mengatakan tahu siapa yang membunuh malaikat kecilnya. Maka dugaan keterlibatan Youngmin berubah dari nol persen menjadi tujuh puluh persen untuk situasi saat ini.
"Omong kosong!"
"Tidak-… Aku benar-benar tahu siapa yang melakukannya. Aku pernah bekerjasama dengan Yifan. Dan dia hanya mempercayakan hal penting seperti membunuh putramu pada orang yang berkaitan dengan Luhan atau orang di sekitarmu."
"Brengsek! Sebenarnya apa yang ingin kau katakan."
Youngmin tertawa renyah saat ini. Melihat Sehun ingin membunuhnya namun terlihat ingin tahu adalah hal yang benar-benar menyenangkan. Dia bahkan berniat membuat permainan ini semakin menyenangkan sebentar lagi. "Santailah Sehunna. Turunkan senjatamu nak. Kita tidak ingin berakhir saling membunuh kan?" katanya meyakinkan Sehun sebelum
Sret..!
Sehun membuang senjatanya ke meja. Kembali menarik kursi di depan Youngmin sebelum menatap gusar antara percaya dan tidak pada pria di depannya.
"Katakan."
"Begitu baru benar." Katanya menyeringai menatap Sehun. Merasa benar-benar memegang kartu AS saat ini sebelum mempermainkan kesabaran Sehun lagi kali ini.
"KATAKAN!"
"Aku selalu mengajarkan untuk berusaha jika ingin mendapatkan sesuatu. Jadi berusahalah menyenangkan hatiku agar kau mendapatkan apa yang kau inginkan."
Mata Sehun memburu menatap pria tua di depannya. Tergoda untuk kembali mengambil pistolnya sebelum berakhir memejamkan mata dan kembali menatap Youngmin yang masih tersenyum menjijikan saat ini "Apa yang kau inginkan?"
"hahahhaa… Aku senang mendengar kau bertanya anakku." Katanya tak membuang kesempatan dengan mengambil dokumen di bawah meja dan menyerahkannya pada Sehun.
"Aku ingin kau melakukan perjalanan ke Beijing selama lima hari. Kau berangkat lusa pukul sebelas malam. Bagaimana?"
"Beijing?"
"Akan ada jamuan dari pemerintah khusus yang menyewa kita. Aku tahu kau tidak ingin berurusan dengan virus yang kita jual. Tapi setidaknya datang kesana dan lakukan tugasmu untuk memantau bahwa kita tidak diawasi. Pastikan kita tidak diawasi baik oleh pihak kepolisian atau organisasi mafia lainnya. Mengerti?"
"Lalu apa keuntungannya untukku?"
"Kau akan mendapatkan sebuah nama dariku."
"Nama?"
"Nama yang akan aku sebutkan adalah nama pembunuh mendiang putramu. Nama yang kau cari hampir satu tahun lamanya."
Tangan Sehun kembali mengepal erat saat ini. Nafasnya sedikit tercekat tak mengerti harus mempercayai ucapan Youngmin atau hanya mengabaikannya begitu saja. Sehun tahu Youngmin akan melakukan segala cara agar dia melakukan apapun yang diinginkan Youngmin. Sehun juga tahu bahwa semua ini hanya jebakan untuknya. Namun saat suara hatinya memilih untuk percaya dan mendegarkan maka pertanyaan yang selanjutnya Sehun tanyakan adalah pertanyaan yang menyatakan bahwa dia bersedia.
"Dan bagaimana jika kau membohongiku. Bagaimana jika semua ini hanya omong kosong?"
"Kau tahu siapa aku nak. Kau melebihi siapapun tahu bahwa aku memang keji dan tak berperasaan-…. Tapi aku tidak pernah berbohong terutama pada anak-anakku."
Jawaban Youngmin jelas menjadi godaan untuk Sehun. Ya-…Youngmin memang keji bahkan melebihi dirinya. Tapi selama Sehun hidup dan bekerja untuknya, Youngmin memang tak pernah sekalipun berbohong padanya. Pria tua sialan ini selalu mengatakan apapun padanya tanpa dikurangi atau dilebihkan. Membuat Sehun merasa ini adalah satu-satunya kesempatan mengingat dia nyaris putus asa dan merasa lelah jika harus kembali memulainya dari awal seorang diri.
"Bagaimana? Aku tidak memintamu untuk mengawasi. Aku hanya ingin kau memastikan bahwa saat transaksi dilakukan semua berjalan lancar."
Sehun kembali berfikir sejenak. Menebak apakah kepergian yang diinginkan Youngmin akan memberinya kesempatan dan celah untuk menyakiti Luhannya. Membuatnya kembali berfikir sebelum tak sengaja matanya menatap Max dan Seunghyun bergantian. Dan melihat kedua orang yag bisa ia percaya mau tak mau memberinya rasa percaya diri pada keputusan yang akan ia buat sebentar lagi.
"Bagaimana Sehunna?"
Sehun tersadar dari lamunannya. Kembali berdiri dari kursi sebelum mengancingkan jas hitamnya dan menatap Youngmin yang masih menunggu jawaban darinya.
"Baiklah. Tapi aku memiliki satu keinginan."
"Apapun untukmu nak. Katakan."
Sehun melihat Max lalu Seunghyun bergantian sebelum kembali menatap Youngmin "Aku tidak akan membawa anak buahku. Tidak Kai. Tidak Max. Tidak satupun anak buahku. Jadi berikan aku orang terbaikmu untuk ikut denganku ke Beijing. Bagaimana?"
"Deal."
Tanpa ragu Youngmin memenuhi keinginan Sehun. Membuat Sehun tersenyum puas sebelum membalas kesanggupan pria yang telah menyeretnya terlampau jauh ke dunia gelap yang sudah ia jalani hampir seumur hidupnya.
"Deal." Katanya membalas sebelum pergi melenggang meninggalkan ruangan Youngmin. Membuat raut wajah Youngmin tersenyum sangat puas. Berbanding terbalik dengan Seunghyun yang kini membungkuk dan mulai mengejar adiknya meninggalkan Soojung dan Youngmin berdua di ruangannya.
"Presdir Park. Apa kau memiliki rencana selama kepergian Sehun nanti?"
Youngmin hanya tertawa keji mendengar pertanyaan Soojung. Mengepul asap rokoknya sebelum mengangguk membenarkan tebakan Soojung saat ini "Tentu saja. Ini kesempatan kita mendekati Luhan. Atau jika kita beruntung-….Kita juga bisa menghabisi pria sialan itu." Katanya memberitahu Soojung yang terlihat tak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat ini.
"Hanya mulai lakukan eksperimenmu mulai besok. Aku tidak ingin mendengar kau gagal lagi kali ini."
Soojung membungkuk mengerti. Kembali mengangkat wajahnya sebelum berjanji untuk tidak mengecewakan Youngmin saat ini "Aku tidak akan mengecewakanmu lagi Presdir Park." Katanya membungkuk berpamitan sebelum meninggalkan Youngmin seorang diri. Pria tua itu bahkan masih mengingat pertemuannya dengan Luhan pagi tadi. Membuatnya merasa terusik dan berniat untuk menyingkirkan Luhan secepatnya.
.
Sementara itu….
"SEHUN!"
Sehun kembali menoleh saat suara Seunghyun terdengar. Membuat Max yang sudah membukakan pintu terpaksa meninggalkan orang nomor dua dan empat di tempatnya bekerja dengan masuk lebih dulu ke mobil milik Sehun saat ini.
"Ada apa?"
"APA KAU GILA HAH?"
Seunghyun mencengkram erat kemeja Sehun. Membuat Sehun sedikit terkejut dan segera mendorong tubuh Seunghyun menjauh darinya "Apa yang kau lakukan?" katanya mendesis menatap Seunghyun yang terlihat gusar saat ini.
"Apa kau gila menyetujui rencana Presdir Park untuk pergi ke Beijing. Kau bodoh atau memang kau sudah gila? Dimana pikiranmu saat kau menyetujui untuk pergi dan meninggalkan Luhan seorang diri? Demi Tuhan Sehunna-… Soojung bahkan berada di rumah sakit yang sama dengan Luhan. Jadi apa yang sebenarnya kau pikirkan?"
Ya-… Sehun sudah mengatakan di awal bahwa salah satu penyebab renggangnya hubungan Seunghyun dan dirinya adalah karena Luhan.
Luhan?
Ya Luhan-… Luhan yang dibicarakan disini adalah Luhan yang sama yang telah menjadi istri Sehun hampir lima tahun lamanya. Luhan yang telah memberikan Sehun seorang malaikat kecil dan Luhan yang sangat dicintai oleh Sehun.
Namun sayangnya seseorang juga mengklaim dirinya mencintai Luhan sebanyak yang Sehun lakukan. Membuat Sehun sedikit menggeram karena orang tersebut kini berada di tepat kedua matanya.
Dia adalah Choi Seunghyun. Kakak tertua sekaligus rivalnya dalam memperebutkan Luhan. Pria yang juga mencintai istrinya tak lain adalah orang yang dibesarkan dengannya. Membuat Sehun selalu merasa terusik jika Seunghyun mulai menunjukkan perhatiannya pada Luhan secara berlebih.
Memang benar Seunghyun bertemu dengan Luhan jauh sebelum dirinya bertemu dengan Luhan. Karena saat itu Seunghyun dan Luhan memang sudah berteman lama. Namun hubungan mereka hanya sebatas friend zone. Tak lebih dan tak kurang. Luhan hanya menganggap Seunghyun temannya. Berbanding terbalik dengan Seunghyun yang memiliki perasaan cinta yang begitu besar untuk Luhan. Terlalu besar hingga terkadang membuat Sehun takut Luhan akan berpaling darinya dan memilih hidup bersama sang kakak.
Namun tentu saja pemikiran bahwa Luhan akan memilih Seunghyun adalah hal kekanakan yang selalu Luhan katakan padanya. Kenapa?. Karena Luhan sudah mengatakannya dengan jelas dan berulang bahwa satu-satunya pria yang akan dicintai Luhan hanya dirinya. Ya-…. Luhan sudah sering mengatakannya. Terlalu sering hingga membuat kepercayaan Sehun begitu kuat akan cinta Luhan padanya.
Namun kenyataan lain dia hanyalah pria normal yang bisa merasakan cemburu hebat. Dan rasa cemburu itu terkadang datang karena si pria yang berstatus sebagai suami dari pria cantiknya merasa terusik mengetahui ada seseorang yang begitu menghkawatirkan sang istri selain dirinya.
"Apa kau dengar? Itu sangat membahayakan Luhan, OH SEHUN!"
Sehun tertawa menyeringai mendengar ucapan Seunghyun. Sedikit memijat kepalanya sebelum melipat tangan di atas dadanya dengan tatapan memburu menatap kakak tertuanya "Perasaanku saja atau kau memang terdengar mengkhawatirkan istriku?"
Seunghyun sempat terdiam saat Sehun mengatakan istriku. Membuatnya sedikit sadar bahwa statusnya dengan Luhan memang selamanya tidak akan bisa lebih dari status seorang teman.
Jika Sehun adalah seorang pria normal yang bisa merasakan cemburu. Maka Seunghyun juga hanya seorang pria normal yang bisa memiliki perasaan cinta begitu tulus pada seseorang yang sangat ingin ia lindungi. Membuatnya bersikap seperti seorang lelaki sejati dan menjawab tanpa ragu pertanyaa adiknya. "Ya. Aku mengkhawatirkan Luhan. Aku sangat mengkhawatirkan pria yang sampai saat ini masih aku cintai dengan begitu besar."
Sehun bahkan nyaris memukul wajah tampan Seunghyun jika tak mengingat bahwa suatu saat nanti dia akan membutuhkan Seunghyun. Membuatnya menghela dalam nafas sebelum menatap bertanya pada kakaknya "Apa kau masih mencintai Luhan."
"YA. Aku masih mencintai Luhan dengan begitu besar." Katanya mengulang tanpa ragu membuat Sehun berjalan mendekat dan meniadakan jarak di antara mereka.
"Berhenti mencintainya. Luhan hanya milikku."
"Aku memiliki caraku sendiri untuk mencintai Luhan. Jadi jangan memintaku berhenti mencintainya karena aku tak akan melakukan hal itu. Aku akan tetap mencintai Luhan seumur hidupku!"
"CHOI SEUNGHYUN!"
"SEMAKIN KAU MEMAKSAKU UNTUK MELUPAKAN LUHAN. SEMAKIN BESAR PULA PERASAAN CINTA YANG AKU RASAKAN. JADI BERHENTI MENGURUS PERASAANKU DAN HANYA FOKUS PADA ISTRIMU OH SEHUN!"
Sehun kembali dibuat diam dengan ucapan Seunghyun. Dia benar-benar ingin menghajar pria di depannya sebelum berniat mengabaikan seluruh omong kosong Seunghyun dan memutuskan untuk pergi sebelum suara berat Seunghyun kembali terdengar.
"Jangan membuatku menyesal telah menyerahkan Luhan padamu."
Sehun kembali menutup pintu mobilnya dan memandang marah pada kakaknya "Apa yang kau bicarakan?"
"Aku bicara tentang siapa yang harusnya menikah dan hidup bahagia bersama Luhan. Karena jika kalian tidak bertemu saat itu. Aku bisa memastikan Luhan telah menjadi istriku saat ini."
"Benarkah?"
"Aku bisa menjamin hal itu. Jadi jangan buat aku menyesal karena telah menyerah pada Luhan."
Sehun kembali tertawa sebelum menatap sengit pada Seunghyun "Bagaimana jika aku mengatakan seperti ini-… Seandainya aku tidak bertemu dengan Luhan saat itu. Aku akan bertemu dengannya dengan cara yang lain. Dan seandainya kau yang menikah dengan pria mungilku. Maka aku bisa memastikan akan membawanya pergi tepat di hari pernikahan kalian. Kenapa? Karena sebesar apapun cintamu pada Luhan. Tidak akan bisa menyaingi rasa cinta Luhan yang begitu besar untukku. Kita semua tahu itu adalah kenyataan yang paling benar. Luhan sangat mencintaiku dan rasa cintanya begitu besar. Jangan mengelaknya dan hanya terima kenyataan itu Choi Seunghyun!"
Sehun menatap murka pada Seunghyun. Berniat kembali menggertak orang nomor dua di organisasinya dan memaksa Seunghyun untuk melupakan Luhan selamanya.
"Entah seberapa banyak cintamu pada Luhan, tapi semakin banyak kau mencintainya maka semakin banyak pula kau akan merasakan sakit. Jangan terlalu banyak mencintai Luhan." Katanya memberitahu Seunghyun sebelum
BLAM…!
Sehun masuk ke dalam mobilnya. Membuka jendela kaca mobilnya sebelum menatap Seunghyun yang terlihat terpukul saat ini "Dan satu lagi-… Jangan terlalu mencemaskan Luhan. Aku bukan orang bodoh yang mudah masuk ke dalam perangkap. Kau tahu siapa aku lebih baik daripada orang lain. Jadi kau tahu benar bahwa keselamatan Luhan akan selalu menjadi prioritasku." Katanya memberitahu Seunghyun sebelum
"Jalan."
Dan setelah memberi perintah pada Max, Sehun meninggalkan markas utama organisasinya. Memperhatikan Seunghyun dari kaca spion sebelum mendesah begitu frustasi karena daripada Youngmin-… Kenyataan Seunghyun masih begitu mencintai istrinya membuat seorang Oh Sehun begitu takut. Terlalu takut hingga semua kecemasan terlihat di wajahnya saat ini.
"Bos? Apa kau baik-baik saja."
Max bertanya karena melihat wajah Sehun begitu tertekan. Sedikit menoleh melihat bosnya sebelum terdengar suara Sehun menjawab "Tidak-… aku tidak baik. Kepalaku terasa ingin pecah."
"Apa karena Presdir Park?"
"…."
"Atau karena perjalanmu ke Beijing lusa nanti?"
"…."
"Hey Max…"
"Ya bos. Ada apa?"
"Apa menurutmu Luhan akan terus mencintaiku? Apa menurutmu perasaan cinta istriku tidak pernah berkurang sedikit pun untukku?"
"huh?"
"Lupakan."
Sehun kembali memijat kepalanya yang berdenyut sakit. Nyaris berteriak karena pertanyaan gilanya sebelum suara Max terdengar menjawab pertanyaannya.
"Ya tentu saja bos. Kita semua tahu kalau cinta kalian begitu kuat. Jadi jika kau bertanya apa Luhan akan terus mencintaiku atau perasaan cinta Luhan tidak pernah berkurang sedikit pun? Maka jawaban dariku adalah TENTU SAJA!"
"Kenapa kau begitu yakin?"
"Jika Luhan tidak mencintaimu dia sudah pergi menjauh darimu bertahun-tahun yang lalu. Saat dia tahu siapa dirimu, dia bisa saja pergi menjauhi, membenci atau menghilang dari hidupmu. Tapi nyatanya dia terus berlari mendekat dan menjeratmu begitu kuat. Jadi katakan padaku jika bukan cinta lalu apa yang Luhan lakukan?" katanya melihat Sehun dari kaca spion sebelum kembali meneruskan ucapannya.
"Bisa saja Luhan menolak untuk mengandung anakmu. Tapi nyatanya dia tetap memilih untuk mengandung bahkan melahirkan bayi mungil kalian. Aku bahkan terkadang bertanya cinta siapa yang lebih kuat. Kau atau Luhan. Tapi semakin aku memikirkannya maka tak ada jawaban yang bisa aku dapatkan bos"
"Kenapa?"
"Karena cinta kalian sama kuat. Aku tidak meragukannya. Dan terkadang aku merasa iri karena kau memiliki seseorang untuk dicintai, untuk dilindungi. Seseorang yang juga bersedia melakukan hal yang sama untuk mencintai dan melindungimu. Jadi jangan pernah meragukan Luhan atau kau akan menyesal seumur hidupmu bos."
Sehun bersumpah akan memenuhi semua keinginan Max saat ini atau mengenalkannya pada seorang pria atau wanita yang bisa membuatnya bahagia selamanya. Karena saat mendengar Max menjabarkan bagaimana dirinya dan Luhan bertahan pada kisah cinta mereka. Maka Sehun tak memiliki alasan untuk merasa takut atau ragu mengingat Max adalah saksi cinta bagaimana sulitnya kehidupan pernikahan yang dia dan Luhan jalani hingga saat ini. Sehun bahkan merasa bodoh karena mempertanyakan cinta Luhan. Membuatnya nyaris berteriak sebelum suara Max kembali menyela
"Jadi bagian mana lagi yang kau ragukan pada Luhan bos?"
Sehun tertawa kecil menggaruk tengkuknya. Merasa sangat bersalah pada sang istri karena telah meragukan perasaan cintanya "Tidak ada-…Tidak akan pernah ada. Aku tidak akan pernah meragukan istriku."
Max melihat ekspresi Sehun dari kaca spion. Membuatnya ikut tersenyum melihat perubahan raut sang majikan sebelum kembali bertanya pada Sehun "Apa kau ingin segera pulang dan bertemu Luhan?"
"Ya tentu saja."
"Baiklah kita ke rumah sakit sekarang.
"Kita akan ke rumah sakit nanti."
"Nanti?"
"Ya."
"Lalu kemana kita akan pergi bos?"
"Yunho-… Aku ingin bertemu Yunho dan memastikan bahwa kalian semua memiliki bos pengganti saat aku pergi nanti. Aku ingin memintanya secara langsung untuk mengawasiku istriku selama lima hari"
"Kami bisa menjaga Luhan tanpa campur tangan Direktur Jung dan Choi."
"Aku tahu. Hanya berjaga-jaga saja."
"Baik bos."
Dan seolah tak ingin membantah Sehun. Max segera menjawab keinginan bosnya dan
BRRMM…!
Dia mempercepat laju mobilnya. Mengabaikan Sehun yang kini hanya menatap dengan pandangan kosong ke luar jendela.
.
.
.
.
Sementara itu di rumah sakit….
Cklek…!
"YEOL!"
Yang dipanggil terlihat sedang merapikan barang-barangya. Sedikit tersenyum melihat kedatangan Luhan yang tampak terusik dan marah karena berita yang ia dengar. "Hey Lu." Katanya menyapa Luhan cukup tenang. Namun yang memanggil hanya sibuk menatap seseorang yang juga berada di ruangannya.
"Baek? Kau disini?"
Perhatian Luhan cukup teralihkan saat melihat Baekhyun menatap Chanyeol yang sedang berkemas tak berkedip. Bertanya-tanya mengapa mata sahabatnya terlihat merah dengan gerakan berulang yang sesekali mengusap hidungnya lalu kembali mengusap kasar matanya. "Baek?"
"Jangan ganggu Baekhyun Lu. Dia sedang menangis."
"Aku tidak menangis sialan!"
Dan gerutuan Baekhyun membuat tawa renyah terdengar dari Chanyeol. Si pria tinggi bahkan menghentikan gerakannya mengemasi barang sebelum berjalan mendekati Baekhyun. Menghapus air mata Baekhyun sebelum mencium lama kening pria yang diam-diam menyukainya cukup lama. "Aku tidak apa-apa sayang. Jangan menangis hmmm."
"Sayang?"
Telinga Luhan mendengar sapaan berbeda yang ditujukan Chanyeol untuk Baekhyun -terlalu intim dan terlalu mesra- itu menurut dugaan Luhan. Membuatnya secara refleks bertanya dan menatap kedua sahabatnya dengan tatapan menuntut "Sejak kapan kau memanggil Baekhyun dengan sebutan sayang?"
Chanyeol tertawa melihat ekspresi Luhan. Dia berani bertaruh awal kedatangan Luhan ke ruangannya adalah untuk menanyakan tentang masa skorsing yang ia dapatkan. Dia juga berani bertaruh awalnya Luhan berniat untuk datang menghiburnya. Namun semua kata-kata hiburan yang sudah Luhan siapkan, nampaknya menguap entah kemana saat melihat adegan yang membuatnya terkejut namun tak bisa menyembunyikan raut senang di wajahnya.
"Sejak malam tadi-….Kami sudah resmi menjadi sepasang kekasih."
"astaga.."
Jantung Luhan yang berdebar kencang. Dia seperti melihat oasis di tengah gurun. Karena saat pikirannya sedang kacau dan frustasi, maka berita bahwa kedua orang yang sangat ia cintai telah menjadi sepasang kekasih adalah kesenangan sendiri yang bisa membuatnya begitu bahagia.
, Luhan bahkan bertindak sangat bodoh dengan menutup mulut menggunakan kedua tangannya, seolah dirinyalah yang mendapatkan pernyataan cinta. Wajahnya merona, jantungnya berdebar dengan tatapan berbinar menatap kedua temannya sebelum
"ASTAGA PARK CHANYEOL-BYUN BAEKHYUN! AKHIRNYA-…..! ASTAGAAA AKU SENANG SEKALI!"
Dan sekali lagi Chanyeol berani bertaruh, bahwa daripada dirinya yang terhibur. Luhan adalah yang paling terhibur dan senang saat ini. Terlihat sangat bahagia bahkan menitikkan air matanya. Luhan bahkan menghambur memeluk Baekhyun dan Chanyeol. Terisak haru karena pada akhirnya Baekhyunlah yang memenangkan kisah cintanya dengan Chanyeol.
Luhan tahu bagaimana perjuangan Baekhyun menarik perhatian Chanyeol. Luhan juga tahu seribu penolakan yang diterima Baekhyun saat mencoba mendekati teman kecil yang tumbuh besar bersamanya. Berkali-kali Baekhyun ditolak, Berkali-kali Baekhyun memelas karena cinta Chanyeol dan berkali-kali pula dia memutuskan bangun untuk merasakan ditolak dan memelas secara berulang.
Yaaa… Baekhyun memutuksan untuk bertahan-….Selalu bertahan. Dia kembali secara terus menerus walau seribu kalimat tidak selalu Chanyeol gumamkan. Dan hari ini seolah menjadi hari kemenangan untuk sahabatnya. Karena setelah berjuang hampir lima tahun lamanya, Baekhyun akhirnya memenangkan kisah cintanya bersama Chanyeol.
Membuat Luhan -si saksi hidup perjalanan cinta Baekhyun- kini menangis haru memeluk saudara dan sahabatnya.
Luhan bahkan menatap Chanyeol begitu bahagia. Sangat bersyukur karena pada akhirnya Chanyeol menyerah pada ego nya. Mencoba untuk membuka hati dan membiarkan Baehkyun masuk ke hatinya. Sungguh-…. Tak ada yang bisa membuat Luhan lebih bahagia selain kenyataan bahwa Chanyeol dan Kyungsoo-…..Kedua saudaranya telah menemukan seseorang yang bersedia menerima mereka apa adanya. Tanpa syarat dan tulus mencintai keduanya. Dan terimakasih pada Baekhyun maupun Kai. Tanpa mereka, Chanyeol dan Kyungsoo mungkin tidak akan terlihat sangat bahagia seperti saat ini.
"Selamat untukmu yeol…"
Luhan bergumam nyaris berbisik memberitahu Chanyeol. Membuat Chanyeol tersenyum mengannguk dengan mengusak lembut tengkuk Luhan "Gomawo Lu."
Luhan sendiri masih tersenyum melihat Baekhyun yang terlihat sangat nyaman berada di pelukan kekasihnya. Sedikit merasa iri dan tiba-tiba merindukan suami tampannya sebelum
"ASTAGA!"
Sebelum Luhan memekik mengingat tujuannya datang ke ruangan Chanyeol. Membuat Baekhyun sedikit tersentak dan menatap kesal pada sahabatnya "Y-YAK!"
"Maaf Baekkie sayang…"
Luhan menarik gemas pipi sahabatnya sebelum raut wajahnya berubah cemas menatap Chanyeol "Yeol…Masa skorsing mu. Apa kau-…."
"Aku baik Lu."
Chanyeol menyela ucapan Luhan. Jujur saja dia tidak sudah muak dan nyaris tidak peduli dengan nasibnya di rumah sakit yang sudah membesarkan namanya. Dia bahkan tidak berniat kembali ke rumah sakit sialan ini jika tidak mengingat dua orang yang paling penting dalam hidupnya masih bekerja dan berhubungan dengan orang-orang licik yang sangat menyukai uang. Membuat nada marah jelas terdengar dari Spesialis bedah yang sudah menyandang gelar professor di Seoul Hospital.
"Ini tidak adil! Kenapa mereka memberikan skorsing padamu?!"
"Kita sudah membicarakan ini sebelumnya. Dan aku tidak peduli berapa lama mereka memberikan skorsing untukku."
"Ini membuatku sangat kesal! Kau tahu siapa yang menggantikan posisimu menjadi kepala departemen bedah?"
"Ya aku tahu."
"Dan kau Baek? Apa kau tahu?"
Baekhyun kembali mengangguk di pelukan Chanyeol. Memutar tubuhnya hingga berada di depan Chanyeol sebelum membawa kedua tangan kekar sang kekasih melingkari pinggangnya "Ya tentu saja. Jung Soojung."
"Cih! Aku terlalu marah mendengar namanya. Baek-… Tidak bisakah kita melakukan sesuatu?"
"Aku sudah mencoba segala cara Lu. Tapi koneksi Professor Kang dengan pemegang saham terlalu kuat. Dan aku rasa pria bernama Park Youngmin juga turut andil membuat ayahku tak berguna di depan pemegang saham. Aku sudah melakukan segalanya tapi percuma. Aku bahkan tidak bisa mencari cara agar masa skorsing untuk Chanyeol dan Junmyeon hyung dibatalkan. Aku ingin membalas tapi aku bukan siapa-siapa tanpa ayahku dan Junmyeon hyung. Aku-…"
"Cukup sayang. Tidak apa-apa."
Chanyeol menciumi pundak kekasihnya. Mencoba membuat kedua pria cantiknya tenang namun terlihat mustahil mengingat wajah Luhan begitu gusar saat ini "Lu…."
Luhan menoleh saat Chanyeol memanggilnya. Sedikit menatap lama pria tampan yang kini menjadi kekasih sahabatnya sebelum tertawa frustasi mengusak wajahnya.
"Apapun yang akan mereka lakukan disini adalah jelas kejahatan. Aku tidak bisa membiarkannya."
"Untuk itulah kau bertahan Lu. Kau harus mengawasi mereka."
"Kau tahu aku tidak bisa melakukannya sendiri Yeol." Katanya mengerang frustasi dan dengan wajah yang tersembunyi di kedua tangan.
"Kau tahu kau tidak sendiri Lu."
"Apa maksudmu?"
"Aku, Baekhyun dan seluruh dokter serta perawat yang mempercayai kemampuan seorang Dokter Oh akan selalu menemanimu. Ini rumah kita, dan suatu kesalahan jika kau menyerah satu rumah yang berisikan keluarga lengkap. Seperti kita dulu."
Chanyeol mengingatkan pada Luhan tentang bagaimana cara mereka bertahan hidup di panti asuhan. Beberapa kali panti asuhan mereka akan dihancurkan, namun beberapa kali itu pula rencana itu harus gagal. Mengapa? Karena saat itu semua penghuni panti asuhan termasuk Yifan-…Mereka semua membela rumah mereka. Melakukan segala cara untuk mempertahankan tempat tinggal hingga semua orang jahat yang ingin menghancurkan mereka mundur satu persatu.
Dan mengingat hal itu membuat Luhan tersenyum bersemangat. Benar kata Chanyeol bahwa Youngmin dan anak buahnya salah memilih tempat untuk bermain. Dia juga tidak akan membiarkan mereka semua bermain di rumahnya dengan mudah. Membuat wajah Luhan terangkat dan mau tak mau menatap sepasang kekasih yang tersenyum padanya saat ini.
"seperti dulu." Timpal Luhan dan tak lama bergegas meninggalkan ruangan Chanyeol sebelum Chanyeol memanggilnya.
"Luhan."
"Ada apa?"
"Kau mau pergi?"
"Aku ingin menemui suamiku."
"Bukankah kalian baru saja bertemu. Jadi untuk apa kau menemui Sehun?"
Luhan tertawa pahit dengan tangan mengepal. Chanyeol tidak tahu dengan siapa dia berurusan. Pria tua yang memiliki segala cara untuk menyakiti seseorang atau bahkan membuat seseorang berpihak padanya. Dan seolah ingin memastikan sesuatu-… Luhan harus bertemu dan melihat Sehun dengan kedua matanya sendiri saat ini.
"Untuk memastikan bahwa pria tua itu tidak menyentuh dan mendekati suamiku-….tidak lagi." Katanya menggeram marah. Mengingat ancaman Youngmin yang mengatakan akan kembali mendapatkan Sehun. Luhan terlalu sensitif pada hubungan Youngmin dan Sehun. Terlalu takut bahwa suatu saat nanti Sehunnya akan kembali pada Youngmin dan meninggalkannya begitu saja.
Huek…
Memikirkannya saja sudah membuat Luhan mual. Maka untuk mencegah pikirannya menjadi kenyataan dia harus memastikan sendiri bahwa Sehun dan Youngmin tidak akan pernah bertemu lagi-…Selamanya.
.
.
.
.
.
.
Blam…!
"BOS!"
Dan malam harinya terlihat Kai menyapa Sehun yang baru keluar dari lift apartemennya. Menyamakan langkah Sehun menuju apartemennya dengan wajah yang panik dan terlihat takut saat ini.
"Dimana Luhan?"
"Luhan di dalam bos. Hanya saja keadaannya kacau."
"Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba dia berteriak marah? Apa ada yang mengusiknya?"
Sehun semakin mempercepat langkahnya menuju apartemen. Begitu merasa cemas mendapat kabar bahwa sepanjang hari ini sang istri meraung dan berteriak marah memaki dirinya. Sehun bahkan tidak tahu apa yang membuat Luhan menjadi tidak stabil seperti ini. Karena saat Kai berhasil menghubunginya dia tidak bisa menangkap kalimat apapun selain Luhan menjerit mencarimu atau Luhan terus menangis memanggil namamu.
Karena apapun yang terjadi hari ini. Jelas itu mengusik ketenangan Luhan yang merubah sikapnya seperti saat ini "Kai? Aku bertanya apa yang mengusik istriku?"
"Aku sudah mengatakannya padamu bos."
"Aku tidak fokus saat kau bicara."
Kai kemudian menghalangi langkah Sehun. Membungkuk berkali-kali sebelum menyesal menatap bosnya. "Maafkan aku bos. Aku benar-benar tidak tahu Luhan akan murka seperti ini."
"Maaf? Murka? Ada apa sebenarnya?"
Sehun semakin dibuat bingung dengan ucapan Kai. Membuatnya hampir memukul sang kaki tangan sebelum secara refleks Kai memundurkan langkahnya agar Sehun tak bisa menjangkaunya.
"KIM JONGIN!"
"Pagi tadi Luhan datang ke kantormu. Dan saat dia tidak menemukanmu disana, dia bertanya padaku kemana kau pergi."
"Lalu?-….brengsek! Jangan bilang kau mengatakannya."
Kai kembali membungkukan badannya. Merasa begitu bodoh karena memberitahu Luhan bahwa Sehun pergi menemui Youngmin pagi tadi. Dia tahu Luhan akan selalu berteriak marah jika Sehun menemui Youngmin. Tapi dia tidak pernah menyangka bahwa Luhan bisa sangat murka untuk waktu yang sangat lama. Dan sialnya-… Kai baru bisa menghubungi Sehun satu jam yang lalu. Membuatnya begitu takut melihat Sehun saat ini. Dia berani bertaruh bahwa Sehun tak akan segan memukul atau bahkan membunuhnya karena kelalaian yang ia buat "Kim Jongin.." Katanya memperingatkan Jongin sebelum
"YA BOS-… AKU MEMBERITAHU LUHAN BAHWA KAU MENEMUI PRESDIR PARK."
"SIAL!"
Sehun menggeram marah. Menabrak kencang bahu Kai sebelum menekan id password apartemennya. Dia tahu Luhannya selalu sensitif jika itu berkaitan dengan Youngmin. Luhan bahkan beberapa kali mengancam akan mengakhiri hidupnya jika Sehun memilih Youngmin. Dan mengingat semua ancaman Luhan padanya hampir delapan tahun mereka bersama-… Sehun panik. Dia bahkan salah menekan id Password apartemennya sendiri sebanyak dua kali dan berteriak marah pada Kai yang masih berdiri di belakangnya.
"BERAPA ID PASSWORDKU?!"
"120420 bos."
Sehun menekan angka password nya. Sedikit terburu-buru sampai
Pip…!
Apartemen Sehun terbuka dengan cepat. Membuatnya terburu melangkah masuk sebelum menahan Kai yang masih mengikutinya di belakang "Ada apa bos?"
"Jangan masuk jika tidak ingin mati konyol di dalam." Katanya memberitahu si kaki tangan kanan sebelum
Blam…!
Kai sendiri bergerak resah di tempatnya. Berharap kesalahannya memberitahu Luhan tidak berakibat buruk untuk bos nya. Dia bahkan berkali-kali menggigit bibirnya sebelum memutuskan untuk pergi menemui Kyungsoo dan meninggalkan Sehun yang harus menghadapi kemarahan Luhan saat ini.
.
Dan pemandangan di dalam apartemennya saat ini sungguh membuat Sehun begitu cemas. Barang-barang berserekan, piring dan gelas serta benda pecah belah mengotori lantai dengan seluruh kursi di setiap ruangan yang tak berada pada tempatnya. Membuat pikiran si tuan rumah semakin kacau menyadari apartemennya begitu sepi tanpa suara istrinya terdengar sedikit pun.
"Luhan?"
"…."
Sunyi senyap tak ada suara. Sehun mencoba mencari Luhan dikamarnya. Berharap sang pria mungil sudah tertidur lelap namun-…nol. Luhan jelas belum berniat memejamkan matanya malam ini.
Dengan langkah perlahan dia menutup pintu kamar mereka. Kembali menyusuri apartemennya yang luas dengan berhati-hati dan berharap segera menemukan dimana Luhan berada.
"Sayang?"
"…."
Masih belum ada jawaban dari Luhan. Dia melangkah sangat berhati-hati mengingat pecahan gelas dan kaca bertebaran di lantainya. Membuat pikiran kacau sesekali menakuti Sehun sebelum berusaha tenang dan berjalan menuju ke ruang makan.
"Sayang?"
Krieeet….
Sehun pun melangkah cepat saat mendengar suara dari ruang santai. Langkah kakinya bahkan terdengar sangat tergesa sampai akhirnya dia berdiri di ruang santai yang biasa digunakan Luhan untuk menunggunya jika dia pulang larut malam.
"Luhan?"
Sehun mendekat menuju saklar lampu. Sedikit meraba dinding apartemennya sebelum
Klik…
Penerangan ini terasa sangat menyilaukan. Membuat baik Sehun maupun seseorang yang tengah duduk di sofa dengan keadaan menyedihkan sedikit memejamkan mata. Dan saat Sehun mulai terbiasa dengan cahaya lampu. Matanya mulai bergegas mencari keberadaan Luhan sebelum
"Luhan."
Mata Sehun membulat sempurna saat melihat apa yang terjadi di depannya saat ini. Pemandangan yang membuat hatinya pilu melihat bagaimana sang istri terlihat kacau. Matanya bengkak, pakaiannya berantakan dan sang istri jelas masih menangis dengan hampir sepuluh kaleng bir menemaninya. Enam kaleng itu sudah di remat oleh Luhan. Itu artinya Luhan sudah meminum enam kaleng bir selagi menunggu kedatangannya. Luhan bahkan berniat membuka kaleng ke tujuhnya jika Sehun tak segera berlari mendekati Luhan dan
Sret….!
"Kemba-hix-Kembalikan!"
"Sudah cukup sayang. Kenapa kau minum sebanyak ini?"
Luhan meronta di pegangan Sehun. Berniat mengambil kalengnya sebelum Sehun membuang seluruh kaleng bir itu jauh ke arah yang berbeda.
"APA YANG KAU LAKUKAN?"
"LUHAN CUKUP!"
Gerakan memukul Luhan di tubuh dan wajah Sehun terhenti saat sang suami berteriak padanya. Dia bahkan menatap takut pada Sehun sebelum mengangkat kedua kakinya ke atas sofa dan mulai menyembunyikan wajahnya di antara dua lututnya. "brengsek. Ambilkan minumanku. Kepalaku sakit hkss"
"Kepalamu sakit karena kau terlalu banyak minum sayang."
"Aku tahu."
Sehun dibuat ingin berteriak saat Luhan menjawabnya terlampau tenang. Membuat ketakutan Sehun semakin menjadi mengingat Luhan yang tenang disaat dia marah adalah Luhan yang sama yang merasakan kecewa begitu besar. Sehun bahkan harus kembali memejamkan erat matanya dengan hati yang begitu sakit saat Luhan tak menolak untuk disentuh.
Bukan begini…
Ya-… Bukan seperti ini harusnya reaksi Luhan. Luhan yang biasanya akan berteriak dan meraung hebat seperti yang Kai katakan padanya beberapa menit lalu. Memang reaksi wajar Luhan harus seperti saat dia tahu bahwa dirinya dan Youngmin bertemu. Bukan seperti ini reaksi yang harusnya Luhan tunjukkan. Tenang dan tak berteriak adalah suatu kejanggalan untuk Sehun saat sang istri sedang ketakutan seperti ini.
"Sayang…"
Sehun mengusap lembut kepala istrinya. Membuat Luhan mengangkat wajahnya dan tak tahu harus senang atau marah melihat suaminya tengah berjongkok di depannya dengan wajah lelah namun terlihat begitu tampan untuknya "hmmm."
"Kau baik-baik saja kan?"
Luhan hanya menatap Sehun cukup lama. Menggelengkan kepalanya kuat sebelum kembali menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya. "hksss…."
"Sayang…"
Sehun memeluk tubuh Luhan yang bergetar hebat. Menenangkan sang istri yang mulai terlihat cemas namun bertingkah seolah semuanya baik-baik saja.
Dan untuk beberapa saat Luhan tidak menolak saat Sehun mendekapnya. Sampai akhirnya dia merasa tenang lalu mendorong tubuh Sehun menjauh secara perlahan. "Luhan…"
Kali ini Luhan mengangkat wajahnya. Menahan rasa sakit di hati dan pikirannya sebelum menatap ke dalam mata suaminya "Jadi bagaimana? Apa kau akan kembali pada Youngmin?"
"Kenapa kau bicara seperti itu sayang?"
Sehun bahkan mengerang frustasi saat ini. Dia berusaha kembali mengambil Luhan ke pelukannya namun sang istri menolaknya kali ini "Bukankah kau datang menemui bajingan tua itu?" katanya terdengar frustasi namun masih berusaha menyembunyikannya.
"Aku memang menemuinya. Tapi bukan untuk-…"
"Lalu apa kau akan meninggalkan aku lagi?"
"Apa kau akan memilih bersamanya dan melupakan aku?"
"Apa aku akan kehilanganmu lagi? Hksss…"
Sehun tidak tahan dengan omong kosong ini. Hatinya begitu hancur mendengar penuturan Luhan yang terasa membunuhnya. Dia bahkan tidak peduli jika Luhan meronta dan mendorong tubuhnya. Karena yang saat ini diperlukan Luhan adalah ketenangan –tidak- Sehun juga membutuhkan ketenangan itu. Membuatnya menarik cepat lengan Luhan sebelum mendekap semakin erat tubuh mungil istrinya.
"Aku mohon hentikan ucapanmu sayang. Itu menyakitimu. Menyakiti kita berdua."
Sehun menciumi tengkuk Luhan. sementara Luhan mulai kembali terisak dan kini meraung seperti Luhan yang seharusnya. "KENAPA KAU PERGI MENEMUINYA SEHUNNA. KENAPA KAU PERGI MENEMUI BAJINGAN ITU LAGI. KENAPA-…Hksss."
Luhan menyembunyikan wajahnya di dada Sehun. Memukul kencang punggung suaminya dengan suara yang jelas menunjukkan dia sudah lelah berteriak hari ini "Kau pembohong sialan Oh Sehun. Kau terus membohongiku. Tega sekali kau padaku."
Pukulan Luhan di punggung Sehun semakin melemah. Racauannya semakin tak jelas sementara isakannya semakin kuat "Jangan tinggalkan aku Sehunna. Aku tidak bisa hidup jika kau tidak berada di sekitarku. Aku membutuhkanmu sayang. Aku mohon. Aku tidak mau-…."
"sssttt… Luhanku."
Kali ini Sehun yang menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Luhan. Begitu menyesal karena telah membuat Luhannya ketakutan seperti ini. Sehun benci saat Luhan memohon padanya. Karena setiap Luhan memohon rasa sakit yang Sehun rasakan akan jauh lebih besar dari yang Luhan rasakan. Membuat pria menakutkan itu seolah dibuat tunduk hanya dengan mendengar pria mungilnya memohon.
"Sayang…"
Sehun berujar lirih saat ini. Menatap istrinya begitu menyesal dengan tangan yang menghapus air mata istrinya "Bagaimana bisa aku meninggalkanmu jika pada akhirnya aku akan mati karena merindukanmu? Bagaimana bisa aku meninggalkanmu jika kau memegang separuh hidupku? Aku yang seharusnya memohon agar kau tidak meninggalkan aku sayang-…Aku. Maafkan aku sayang. Maaf."
"Sehunna."
Luhan dengan cepat menarik Sehun ke pelukannya. Melihat Sehun yang terlihat lebih kesakitan darinya adalah hal yang menyakitkan untuk Luhan. Membuat segala pikiran buruknya hilang begitu saja dan digantikan dengan perasaan cinta yang semakin besar untuk suaminya.
"Maafkan aku Sehunna. Aku benar-benar minta maaf sayang."
Dan rasa marah itu entah pergi kemana. Karena pada dasarnya yang diinginkan Luhan hanya Sehun. Jadi ketika suaminya sudah berada di dekapannya. Maka Luhan tak memiliki alasan lagi untuk marah dan membenci Sehun. Sebaliknya-…Yang harus ia lakukan adalah terus mencintai Sehun hingga Sehun tak mampu lari darinya. "ssstt…Sayangku." Luhan duduk di pangkuan suaminya. Mencium tengkuk suaminya berulang sebelum memaksa Sehun menatapnya.
"Yang perlu kau tahu aku sangat mencintaimu. Dan yang harus aku tahu bahwa kau memiliki perasaan cinta yang lebih besar dariku. Jadi maafkan aku karena terus meragukanmu sayang. Aku mencintaimu." Katanya mengusap air mata Sehun. Menempelkan dahinya ke dahi Sehun sebelum wajahnya sedikit turun mencari bibir Sehun sebelum melumatnya lembut. Memaksa Sehun untuk membuka bibirnya agar lidah keduanya bertemu dan saling menukar perasaan gundah yang sedang keduanya rasakan saat ini.
"Aku mencintaimu Oh Sehun."
Sehun tersenyum sangat tenang. Membawa tubuh mungil istrinya ke pelukannya sebelum membalas ucapan cinta sang istri "Aku lebih mencintaimu Oh Luhan." Katanya membalas ucapan cinta Luhan sebelum
BLAM…!
Sehun membawa Luhan ke kamar. Berniat untuk menjamah tubuh mungil sang istri sebelum akhirnya suara desahan terdengar menyatu di ruang kamar mewah milik seorang Oh Sehun. Ketika tubuhnya menghentak ke dalam tubuh sang istri. Maka tubuh Luhan hanya bisa merespon dengan pinggul yang melengkung indah menyambut sperma suaminya yang terus memasukinya secara berulang.
"Sehunnn…ngghhhmphh…"
Dan bersamaan dengan desahan Luhan. Maka dua jam yang panas telah dilalui pasangan suami istri tersebut. Pakaian mereka berserakan di bawah tempat tidur. Bentuk selimut dan bantal mereka yang menjadi korban percintaan panas itu tak lagi beraturan. Peluh membasahi keduanya dengan posisi si mungil masih berada di atas tubuh sang suami yang juga masih menetralkan nafasnya.
"Kau lelah sayang?"
Luhan bergerak pindah ke samping Sehun. Namun dengan cepat lengan kekar Sehun menahan tubuh mungil itu menjauh darinya. Sebaliknya-…Sehun semakin mendekap tubuh Luhan dan menarik asal selimut untuk menutupi kedua tubuh polos mereka.
"Aku merasa sangat lengket di bagian bawahku sayang."
Sehun terkekeh mendengarnya. Dia mengira bahwa sperma nya bahkan kurang banyak untuk memasuki tubuh sang istri, namun saat Luhan mengeluh lengket-… Itu artinya Sehun secara menggila sudah mengeluarkan spermanya secara berlebihan di tubuh isrinya.
"Aku adalah suami yang ingin sekali memiliki anak kedua. Jadi jangan salahkan aku."
Kali ini Luhan yang terkekeh, dengan mata tertutup dia menciumi dada Suaminya yang dipenuhi peluh dari kegiatan bercinta mereka "Rasanya nyaman saat kau mengeluarkannya di dalam sayang."
Sehun dengan bangga mencium pundak istrinya. Sedikit meremas bokong Luhan yang terasa mati rasa sebelum tertawa menyelimuti tubuh rusa cantiknya "Aku akan melakukannya satu minggu lagi dari sekarang."
Jujur saja Luhan merasa terusik saat Sehun mengatakan satu minggu untuk percintaan mereka. Karena suaminya yang biasa akan terus menjamahnya setiap hari tanpa mengenal waktu seperti yang dia bicarakan saat ini. Membuat matanya yang sudah kelelahan terpaksa membuka dan mendongak untuk menatap suaminya.
"Satu minggu? Kenapa lama sekali."
Sehun tahu Luhannya akan protes dengan ide gila ini. Membuatnya tertawa gemas sebelum mencium telak bibir mungil istrinya "Aku akan melakukan perjalanan bisnis ke Beijing sayang."
"Beijing? Kapan?"
Tubuh Luhan menegang mendengar suaminya akan pergi. Merasa sangat takut jika kepergian Sehun adalah karena perintah dari Youngmin.
"Besok malam. Aku akan pergi selama lima hari."
Raut wajah tak suka di tunjukkan oleh Luhan saat ini. Dia bahkan berniat melepas dekapan Sehun sebelum lengan suaminya semakin erat mendekap pinggangnya yang sudah mati rasa.
"Aku pergi karena bisnisku. Bukan karena Youngmin sayang."
"Bohong."
Sehun tersenyum lirih karena terpaksa membohongi Luhan. Membuatnya merasa bersalah namun kembali memikirkan bahwa semua ini untuk Luhan pada akhirnya. Dia tidak ingin membuat Youngmin merasa dikhianati. Karena jika Youngmin sudah merasakan hal itu-… Maka Luhanlah yang akan menanggung semua kemarahannya.
"Aku tidak bohong sayang."
"Bagaimana mungkin aku mempercayaimu? Kau pergi tepat setelah kau menemui pria sialan itu!"
"Aku tidak membawa seluruh anak buahku. Max, Kai bahkan Shindong-….Semuanya akan berada disini untuk menemanimu. Jadi bukankah aku melakukan perjalanan yang cukup aman dan singkat?"
"Benarkah?"
"Tentu saja."
Luhan tampak menimbang ucapan Sehun. Menebak apakah Sehun sedang membohonginya atau tidak. Dia bahkan berniat memulai perang lagi dengan suaminya. Tapi saat mendengar seluruh anak buah dan kaki tangan Sehun tidak ikut serta-…Itu artinya Sehun memang hanya melakukan perjalanan singkat yang aman. Membuat rasa cemasnya tak beralasan dan kembali bersandar di dada suaminya.
"Lima hari?"
"Ya. Hanya lima hari."
"Pastikan kau kembali padaku tepat waktu."
"Aku akan kembali tepat waktu sayangku."
Luhan mendengus dan menghela dalam nafasnya. Sedikit tidak rela sebelum berakhir mengusap dada seksi milik suaminya "Baiklah kau boleh pergi."
Kali ini Sehun yang tersenyum. Mengecup lama pucuk kepala istrinya sebelum membenarkan selimut dan semakin mendekap erat tubuh mungil istrinya "Terimakasih sayang." Katanya mengecupi pucuk kepala Luhan sebelum ikut tertidur bersamaan dengan suara dengkuran halus yang Luhan keluarkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dua hari setelahnya…
Drrt…drrrtt…
Pemilik ponsel yang baru saja menyelesaikan operasinya terlihat begitu kelelahan. Namun saat satu-satunya penghubung dirinya dengan sang suami yang berada di Beijing bergetar. Rasa lelahnya menguap entah kemana. Dia bahkan bergegas melepas masker dan pelindung tangannya sebelum
Sret…
"Hey sayang."
"Hey juga sayang. Kenapa baru menghubungiku?"
"Aku tahu kau sibuk. Jadi aku sengaja menghubungimu malam hari."
"Alasan."
Luhan mencibir mendengar alasan suaminya. Membuatnya tertawa dan meletakkan ponsel di antara pundak dan telinganya sementara dia mencuci tangan setelah melakukan operasinya beberapa menit yang lalu.
"Aku tidak."
"Baiklah aku percaya. Sekarang kau dimana?"
"Aku sedang bersandar di jembatan jalan. Sedang melihat laut dibawahnya dan tiba-tiba merindukan istriku."
Luhan mengelap asal tangan yang basah. Kembali memegang ponselnya dengan wajah tersenyum membayangkan apa yang dilakukan Sehun saat ini.
"Kau tidak berniat untuk lompat kan?" katanya menggoda Sehun disana. Membuat suara protes terdengar dari sang suami yang terdengar kesal saat ini.
"Aku sedang mencoba romantis saat ini."
"Aigooo… Suamiku lucu sekali."
"Aku tampan bukan lucu. Kau yang lucu."
"Baiklah…baiklah. Aku minta maaf mengganggu aksi romantis suamiku."
"Sudahlah. Aku sudah tidak berminat merayumu lagi. Aku rasa kau sudah kebal dengan rayuanku."
"Kau salah. Aku berdebar setiap kali kau merayuku."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Aku berdebar membayangkan situs apa yang kau gunakan untuk merayuku. Aku takut situs ini milik orang terkenal yang akan menuntutmu karena merayuku menggunakan kalimatnya."
"Ishh…!"
Luhan benar-benar tertawa saat ini. Mendengar Sehun mendengus adalah hal yang sangat langka untuknya. Jadi saat dia berhasil membuat Sehun kesal. Maka bayangan wajah menggemaskan Sehun sangat menghibur dirinya disaat penat seperti ini.
"Kau pasti sangat menggemaskan seperti Ziyu saat ini."
"huh? Kenapa begitu?"
"Karena Ziyu kita akan selalu memasang wajah menggemaskannya jika aku menggodanya."
"Aku berharap kau dan Ziyu disini sayang. Disini begitu tenang dan nyaman. Aku akan sangat senang jika kalian disini dan bersamaku."
Niat Luhan kembali menggoda Sehun hilang begitu saja. Suara suaminya berubah menjadi berat. Membuatnya menebak sedari awal Sehun menghubunginya bukan karena dia ingin berbicara dengannya. Tapi karena pria tampannya sedang merindukan malaikat kecil mereka disaat mereka berjauhan seperti ini.
Mata Luhan sudah berkaca-kaca. Jika dia membuka mulutnya sekarang, maka suaranya akan serak dan Sehun akan tahu bahwa setiap nama Ziyu disebutkan, maka pertahanan Luhan sebagai Luhan yang kuat hancur begitu saja. Membuatnya diam dan lebih memilih menenangkan diri sebelum suara Sehun kembali terdengar.
"Sayang?"
Luhan menghela dalam nafasnya. Sedikit terbatuk agar suaranya tak serak sebelum berusaha menjawab Sehun dengan wajar "hmmm…"
"Kenapa kau diam?"
"Aku sedang cemburu."
"Cemburu? Pada siapa?"
Luhan bahkan ingin tertawa saat nada suara Sehun berubah panik. Mendengar Luhan cemburu adalah hal yang paling Sehun takutkan dan benci kenapa? Karena setiap Luhan cemburu maka sudah dipastikan mereka tak akan bertemu untuk waktu yang lama.
"Pada dirimu tentu saja, Memangnya aku boleh cemburu selain padamu?"
"TIDAK-… maksudku. Tentu saja tidak boleh. Tapi aku melakukan apa? Kenapa kau cemburu?"
"Ck. Masih tidak mau mengaku?"
"Lu….."
"Aku atau Ziyu yang sedang kau rindukan. Cepat jawab!"
"huh?"
"Wae? Kau bingung? Kalau begitu aku tutup telepon-…"
"Aku merindukan Luhanku tentu saja. Heisss..bagaimana mungkin aku tidak merindukan si perengek kelas atas."
"Siapa perengek yang kau bicarakan."
"Luhaaann…Berhenti menjebakku sayang."
"hahahaha. Wajahmu pasti pucat saat ini."
"Kau benar-benar membuatku takut dokter Oh!"
"Mianhae. Direktur Oh."
"Aku merindukanmu."
"Aku tahu."
"Dan Ziyu…"
"Sehun…"
"haah….aku harus segera pulang dan benar-benar membuatmu hamil kali ini." katanya berusaha menggoda Luhan yang masih terdiam di tempatnya saat ini. Entah apa yang sedang Sehun lakukan sekarang. Tapi mendengarnya terus mengatakan merindukan Ziyu sedikit banyak membuat Luhan cemas saat ini.
"Sehun kau benar-benar baik kan?"
"Tentu saja sayang. Maaf aku bersikap aneh. Aku hanya terbawa suasana."
"Cepat kembali padaku. Tidak terlambat. Kau mengerti kan?"
"Tentu saja. Aku sudah bilang akan membuatmu benar-benar hamil kali ini."
"Lakukan sebanyak yang kau mau. Hanya cepat kembali padaku."
"Lu…Aku tidak apa-apa sayang. Jangan tegang seperti itu."
"Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu sayang."
"Selama kau baik-…Aku akan baik-baik saja."
"Janji?"
"Aku janji Lu."
Perasaan Luhan sedikit baik saat Sehun berjanji padanya. Membuat kakinya kembali melangkah menuju ruangannya sebelum kembali terpaksa berhenti melihat sesuatu yang menjengkelkan berada di penglihatannya saat ini.
"Lu?"
"Sayang…Aku akan menghubungimu lagi nanti. Bisakah?"
"eh? Kenapa mendadak? Apa sesuatu terjadi?"
"Tidak terjadi apapun sayang. Aku hanya dipanggil untuk operasi darurat." Katanya memejamkan erat matanya saat ini. Luhan tidak bermaksud membohongi Sehun, namun saat matanya melihat Soojung memberi perintah untuk beberapa staff asing yang tak pernah Luhan kenal. Saat itu pula dirinya menggeram marah. Penyihir itu bahkan membawa pasien yang terlihat koma secara tergesa. Membuat seluruh kemarahan dirasakan Luhan saat ini.
"Baiklah kalau begitu. Hubungi aku setelah kau selesai."
"Aku akan. Sampai nanti sayang."
"Sampai nanti. Aku mencintaimu Lu."
"Aku juga mencintaimu sayang." Gumamnya membalas sang suami sebelum
Pip…
Luhan memasukan ponselnya ke dalam jas putih yang ia kenakan. Sedikit terburu-buru mendekati lift sebelum melihat dua perawat senior yang biasa menemaninya operasi berada tak jauh darinya.
"Perawat Kim. Perawat Han."
Kedua perawat yang dipanggil Luhan pun menoleh. Segera mendekati Luhan yang terlihat memanggilnya sebelum bertanya pada dokter spesialis bedah senior di rumah sakit tempat mereka bekerja.
"Ada apa dokter Oh?"
"Ikut aku." Katanya memberi perintah sebelum kembali berjalan mendekat pada Soojung yang masih menunggu lift terbuka. Sedikit mengepalkan erat tangannya sebelum
Sret…!
Luhan mengambil alih troli pasien yang dibawa oleh Soojung dan staffnya. Membuat Soojung dan beberapa anak buahnya segera menoleh dan begitu marah melihat Luhan mulai ikut campur lagi kali ini.
"Dokter Oh! Apa yang kau lakukan?" katanya menggeram marah melihat Luhan membuat Luhan semakin menjauhkan troli tempat tidur pasien dari jangkauan Soojung dan anak buahnya.
"Itu yang harusnya aku tanyakan padamu dokter Jung! Apa yang sedang kau lakukan dimalam seperti ini dengan pasienku?"
"Pasienmu? Ini jelas adalah pasienku!"
"Benarkah?"
Luhan sedikit menantang Soojung kali ini. Tertawa meremehkan sebelum melihat kedua perawat yang ia panggil sebelumnya.
"Perawat Han."
"Ya dokter Oh."
"Sebutkan status pasien ini."
"Baik."
Perawat Han yang diberi perintah sedikit melihat id pasien yang berada di bawah troli tempat tidur. Mencocokan dengan daftar pasien sebelum memberitahu Luhan.
"Nyonya Kim Han Wo. Usia lima puluh empat tahun. Terdaftar di bangsal empat perawatan umum dokter Oh."
"Diagnosa pasien."
"Kanker hati stadium akhir. Operasi terakhir dilakukan satu minggu yang lalu. Namun pasien dinyatakan koma dari kondisi semula karena tanda vital tidak stabil semenjak operasi selesai dilakukan."
"Dokter yang bertanggung jawab atas operasi?"
"Operasi dilakukan oleh Dokter Park pada selasa minggu lalu."
"Dokter yang bertugas memantau tanda vital?"
"Dokter Park Chanyeol menjadi dokter penanggung jawab operasi serta dokter yang bertugas memantau tanda vital." Katanya memberitahu Luhan sebelum menemukan catatan terakhir di status pasien.
"Namun semenjak dua hari yang lalu. Semua tanggung jawab dilimpahkan oleh anda dokter Oh."
Luhan menyeringai menang saat ini. Membuat Soojung benar-benar marah terlihat dari wajah cantiknya yang memucat saat ini.
"Kau dengar? Aku adalah dokter penanggung jawab seluruh pasien dokter Park."
"Brengsek! bagaimana bisa seluruh pasien dokter Park menjadi tanggung jawabmu? Aku adalah pengganti dokter Park di rumah sakit ini!"
"Statusmu adalah dokter kepala departemen bedah. Bukan dokter yang berhubungan dengan masa pemulihan pasien. Jadi berhenti mendekati pasienku atau kau akan terus berhadapan denganku dokter Jung."
"KAU!"
"Bawa pasienku kembali ke bangsal. Dan awasi seluruh pasien yang secara paksa di bawa oleh dokter Jung. Jika ada salah satu dari kalian yang melihat dokter Jung secara paksa membawa pasien. Laporkan padaku atau dokter Byun. Kalian mengerti?"
"Ya dokter Oh."
Kedua perawat itu mengangguk menjawab Luhan. Segera mengambil alih pasien lalu meninggalkan Luhan bersama Soojung dan seluruh anak buahnya.
"Selamat datang dirumahku dokter Jung." Katanya menyeringai penuh kemenangan memberitahu Soojung. Bergegas meninggalkan Soojung yang terlihat sangat marah dan mengambil ponselnya saat ini.
"Presdir Park. Aku butuh izinmu untuk menyingkirkan dokter sialan itu!"
"siapa yang sedang kau bicarakan? Luhan?"
"Ya. Luhan. Dia menganggu uji coba pada pasien pertama yang aku rasa cocok dengan eksperimen kita. Jadi aku mohon berikan izin untuk menyingkirkan Luhan."
"wow…tenang Soojunga…cepat atau lambat pasti kita akan menyingkirkan pria sialan itu. Hanya tunggu waktu yang tepat. Untuk saat ini kau diijinkan menggertaknya. Ingat-…Hanya menggertak tidak menyakitinya."
Soojung tersenyum mendengar izin dari Youngmin. Membuat kepalan di tangannya sedikit terbuka dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya "Terimakasih Presdir Park." Katanya tertawa senang sebelum
Pip…!
Soojung menutup ponselnya. Melihat ke seluruh anak buahnya sebelum menyeringai memberi perintah pada anak buahnya "Habisi dia."
Soojung memberi perintah berlawanan dengan Youngmin. Membuat seluruh anak buahnya membungkuk mengerti sebelum bergegas meninggalkan Soojung yang tersenyum keji tak sabar membayangkan wajah sialan itu kesakitan.
.
.
Sementara itu…
Drrtt…drrtt…
Luhan sedang berada di luar rumah sakit saat ini. Berniat ke kafe terdekat untuk membeli americano sebelum ponselnya kembali bergetar dan kali ini nama Kai terpampang di layar ponselnya. Luhan segera menggeser slide nya sebelum menjawab panggilan kekasih adiknya
"Hey Kai."
"Hey Lu… Max sedang dalam perjalanan menjemputmu."
"Baiklah. Aku sedang berjalan menuju kafe terdekat. Katakan pada Max untuk menungguku di tempat biasa."
"Jangan berjalan sendiri Lu. Setidaknya kau harus menunggu Max datang."
"Kai…."
"haaaah… Baiklah. Aku hanya cemas mengingat Soojung berada di tempat yang sama denganmu."
"Aku baik-baik saja."
Wussshh~
Dan bersamaan dengan kalimat baik-baik saja-… Langkah Luhan terhenti. Dia yakin seseorang sedang mengamatinya saat ini. Entah orang itu berada dimana, yang jelas ini adalah perasaan seseorang yang sedang dibuntuti. Dan Luhan sangat berpengalaman menebak bahwa dirinya sedang diawasi saat ini.
"Lu?"
"Kai-… Bisakah kau memberitahu Max untuk menjemputku di kafe tempat biasa aku membeli americano?" katanya melangkah cepat mendekati kafe. Mempertahankan suaranya agar tak berubah agar Kai tak menangkap rasa paniknya saat ini.
"Tentu saja. Aku akan memberitahu Max. segera datang ke apartemen Baekhyun. Kita akan makan malam bersama disini."
"Oke. Aku akan segera datang."
"Berhati-hatilah Lu. Sampai nanti."
"Sampai nanti." Katanya membalas ucapan Kai sebelum
"KAI!"
Tut..tut…tut…
Niat Luhan adalah mengajak Kai berbicara sampai ia masuk ke dalam kafe. Namun saat Kai menutup panggilannya. Maka saat itu pula kecemasan melanda Luhan. Dia memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Namun tak ada apapun selain pepohonan yang sengaja di biarkan tumbuh di sekitar rumah sakit.
Lalu setelahnya Luhan memutuskan untuk kembali berjalan. Posisinya sudah berada di tengah-tengah antara kafe dan rumah sakit. itu artinya dia tidak bisa berlari cepat ke salah satu tempat yang ia tuju. Yang bisa ia lakukan hanya berjalan cepat menuju keramaian.
Namun secepat apapun kakinya melangkah maka perasaan diintai yang ia rasakan semakin kuat. Membuatnya bersiap kembali menghubungi Kai atau Max sebelum
Grep…!
Luhan hampir memekik saat seseorang menarik lengannya dan mendekap erat. Dia bahkan sudah berusaha mendorong seseorang yang mendekapnya sebelum suara berat orang itu terdengar di pendengaran Luhan.
"Ada seseorang yang sedang menjadikanmu target tepat dua ratus meter di belakangmu. Orang itu berniat menembakmu. Hanya percaya padaku Lu. Aku tidak akan menyakitimu."
Luhan merasa suara yang sedang mendekapnya begitu familiar. Entah suara siapa yang sedang berbicara saat ini. Yang jelas ini adalah suara seseorang yang ia kenal. Suara yang Luhan tebak pernah berada di sekitarnya untuk waktu yang lama. Dan karena merasa begitu nyaman dengan suara yang sedang menenangkannya. Luhan memberanikan diri untuk mendongak, mempelajari wajah siapa yan sedang mendekapnya sebelum matanya membulat tanda bahwa ia benar mengenali pria yang sedang mendekapnya saat ini.
"Seunghyun?"
Merasa namanya disebut oleh pria yang jelas masih ia cintai itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri oleh si pemilik nama. Bertahun-tahu sudah dia tidak mendengar Luhan memanggil namanya. Dan saat penantian itu akhirnya sampai pada malam ini-…Seunghyun tersenyum. Membalas tatapan Luhan dengan tangan yang semakin mendekap erat istri dari adiknya.
"Hey Lu…Senang kau masih mengenaliku." Katanya menatap Luhan sekilas sebelum menoleh ke belakang. Mencari dimana si penembak berada dan memerintahkan anak buah Soojung itu untuk segera mundur. "Jangan bergerak Lu. Mereka masih mengincarmu."
Sementara Luhan meringkuk takut di dekapan Seunghyun. Maka Seunghyun sedang memberi tatapan luar biasa membunuh pada anak buah Soojung. Matanya memperingatkan dengan menakutkan hingga akhirnya seluruh anak buah Soojung mundur setelah mengetahui Seunghyun yang kini berada bersama Luhan.
"Aku rasa mereka sudah pergi. Ayo kita masuk ke dalam kafe."
Seunghyun tetap mendekap Luhan. Berjaga-jaga jika anak buah Soojung berbuat nekat sampai akhirnya dia dan Luhan memasuki kafe yang menjadi tujuan Luhan sebelumnya.
.
.
"Ini…Minumlah Lu. Kau sudah aman sekarang."
Tangan Luhan masih gemetar hebat saat ini. Jujur saja mengetahui seseorang ingin menembaknya bukanlah hal baru untuk dokter bedah itu. Hanya saja ini berbeda-… Dia berada di tempat sepi sendiri tanpa Sehun yang berada di dekatnya. Membuat perasaan takut itu semakin menjadi membayangkan bagaimana jika Seunghyun tak datang menolongnya.
"Luhan…"
Luhan sedikit tersadar saat ini. Matanya menatap mata Seunghyun sesaat sebelum tersenyum mengambil secangkir americano yang Seunghyun pesankan untuknya. Meniup pelan americano hangat sebelum menyesapnya perlahan.
"Gomawo Seughyunna."
Seunghyun sendiri hanya tersenyum melihat Luhan. Memperhatikan Luhan dengan tangan terlipat dan tak bisa menyembunyikan betapa bahagianya dia malam ini. "Tidak perlu berterimakasih Luhan. Mereka menyalahi aturan."
"Mereka?"
"Ya. Mereka anak buah Soojung. Maaf membuatmu harus merasa takut."
"ah…Penyihir itu." Katanya tertawa lirih menyadari bahwa menggertak Soojung itu artinya kau harus bersiap disakiti setelahnya. "Dia benar-benar menakutkan." Katanya mengulang membuat Seunghyun tertawa.
"Kenapa kau tertawa?"
"Kau masih sama dan tidak berubah sedikitpun Lu."
"huh? Apa maksudmu?"
"Aniya-… Aku tidak bermaksud apapun. Apa aku boleh bertanya padamu?"
"Ya. Tentu saja."
"Kau masih mengenal diriku? Umhh-…Maksudku kita sudah lama tidak bertemu. Jadi bagaimana bisa kau masih mengenaliku."
Luhan tertawa sekilas saat ini. ketakutannya sudah perlahan menghilang dan kini digantikan rasa nyaman karena berbicara dengan teman lamanya. Teman yang juga membohonginya di awal. Pada saat mereka berteman Seunghyun mengatakan dirinya seorang mahasiswa seni. Namun tak lama setelahnya. Luhan bertemu dengan Sehun. Dan saat itu Luhan mengetahui baik Sehun maupun Seunghyun-….Keduanya saling mengenal dan bekerja untuk sebuah organisasi.
"Tentu saja aku mengenalimu. Kau temanku Seunghyunna."
Mendengar kata teman keluar sendiri dari mulut Luhan adalah hal yang begitu membahagiakan untuk Seunghyun. Membuatnya menatap berterimakasih pada Luhan karena tak pernah benar-benar membencinya.
"Lagipula kau kakak suamiku. Jadi mana mungkin aku tidak mengenalimu." Timpalnya membuat raut wajah Seunghyun berubah sedikit sendu saat Luhan dengan jelas mengatakan bahwa dirinya telah menjadi milik Sehun seutuhnya.
"Kau benar. Aku kakak dari suamimu." Katanya mengulang dengan suara yang dibuat begitu tenang. Membuat Luhan kembali menyesap kopi hangatnya "Kalau aku boleh tahu, apa yang sedang kau lakukan di sekitar rumah sakit Seunghyunna? Apa kau sakit?"
Seunghyun salah tingkah saat ini. Membuatnya menggeleng cepat tak tahu harus menjawab apa. Karena jujur saja dia juga tidak tahu apa yang dia lakukan di sekitar rumah sakit Luhan malam ini. Awalnya dia hanya berniat mengawasi Luhan dari jauh. Tapi ternyata kesempatan berkata lain, dia bukan hanya bisa mengawasi Luhan tapi diluar dugaan dia juga bisa berbicara dengan Luhan dari jarak sedekat ini.
"Seunghyun?"
"huh?"
"Kenapa kau diam? Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak. Tidak apa. Aku hanya-…Entahlah. Aku juga tidak tahu apa yang aku lakukan disini."
Luhan tersenyum sekilas sebelum meletakkan cangkir kopinya "Apapun yang kau lakukan disini. Aku sangat berterimakasih padamu." Katanya memberitahu Seunghyun sebelum melihat Max keluar dari mobilnya saat ini.
"Seunghyun."
Luhan terburu-buru memanggil Seunghyun. Membuat Seunghyun sedikit bertanya sebelum menatap Luhan yang terlihat cemas saat ini
"Ada apa?"
"Berjanjilah kalau kau tidak akan mengatakan apapun dan pada siapapun tentang anak buah Soojung yang hampir menembak diriku."
"huh?"
"Berjanjilah Seunghyunna."
Seunghyun mau tak mau mengangguk menuruti permintaan Luhan. Terus memperhatikan pria yang selalu berhasil membuatnya berdebar sebelum bersuara menyetujui permintaan Luhan "Baiklah. Aku berjanji."
"Gomawo Seunghyunna."
Luhan tersenyum berterimakasih sebelum
"Luhan…"
"Max disini."
Luhan melambai saat Max berjalan mendekatinya. Membuat Seunghyun segera menyadari bahwa keinginan Luhan untuk tidak memberitahu siapapun adalah karena Luhan tidak ingin membuat Sehun atau anak buahnya murka mendengar kejadian yang hampir membuatnya celaka.
"Kau sudah selesai?"
"Aku sudah." Katanya menjawab Max sebelum Max menyadari bahwa pria yang berada di depan Luhan adalah Seunghyun.
"Direktur Choi?"
Katanya menyapa dengan membungkuk melihat Seunghyun tengah tersenyum padanya. Sedikit sedikit bertanya-tanya mengapa Seunghyun berada bersama Luhan saat ini "Hey Max…"
"Anda disini?"
"Ah-… Aku tak sengaja bertemu dengan Seunghyun disini. Jadi selagi menunggumu aku memutuskan untuk berbincang dengan Seunghyun. Benarkan?"
Luhan kembali menatap Seunghyun. Meminta bantuan Seunghyun yang terlihat mengangguk membenarkan "Ya-..Ya tentu saja. Kami tak sengaja bertemu dan berbincang." Katanya membenarkan membuat Max terlihat bingung saat ini.
"Baiklah. Jika sudah selesai kau harus segera pergi Lu. Dokter Byun sedang menunggumu di apartemennya."
"Oke. Ayo kita pergi. Seunghyun terimakasih untuk minumannya. Sampai jumpa."
Luhan melangkah pergi meninggalkan Max dan Seunghyun. Membuat Max sedikit salah tingkah karena harus berhadapan langsung dengan orang nomor dua di organisasi tempatnya bekerja. "Kalau begitu saya permisi direktur Choi. Sampai nanti." Katanya membungkuk pada Seunghyun. Seunghyun sendiri hanya mengangguk sebagai jawaban. Membiarkan Max pergi sebelum
"Max…"
"Ya Direktur. Ada apa?"
"Hanya pastikan kau terus bersama Luhan. Oke?"
Kerutan di dahi Max pun semakin dalam. Membuatnya mengangguk dengan cepat sebelum menjawab permintaan Seunghyun "Tentu saja direktur Choi. Luhan adalah tanggung jawab kami selama direktur Oh pergi melakukan perjalanan bisnis." Katanya memberitahu Seunghyun sebelum kembali melangkah pergi meninggalkan Seunghyun yang terus memperhatikan Luhan tak berkedip.
Sedikit tersenyum saat Luhan melambai padanya. Sebelum benar-benar harus menerima kenyataan bahwa selamanya Luhan hanya akan mencintai Sehun. "Aku benar-benar iri padamu Oh Sehun."
Seunghyun pun mengambil americano yang Luhan tinggalkan. Menenggaknya habis sebelum mengancingkan jaketnya dan meninggalkan kafe yang mulai saat ini menjadi kafe favoritnya.
.
.
.
"Lu…."
Max melihat Luhan dari kaca spionnya. Membuat Luhan yang sedang membalas pesan suaminya sedikit menoleh dan menatap penjaga favoritnya setelah Kai. "Ada apa?"
"Apa benar tidak terjadi sesuatu antara kau dan Direktur Choi? Apa dia mengancammu?"
"Tidak sama sekali. Sebaliknya-…Dia menolongku malam ini."
"Menolong? Apa yang terjadi?"
Luhan tertawa kaku sebelum menggelengkan kepalanya sementara Max menghentikan mobilnya tepat di apartemen Baekhyun "Tidak terjadi apapun Max. Sungguh." Katanya bersiap untuk turun sebelum kembali bertanya pada Max.
"Kau tidak ikut makan malam?"
"Tidak. Aku akan menjemputmu setelah kau selesai."
"Tidak perlu Max. Aku akan bermalam di apartemen Baekhyun. Kau hanya perlu pulang dan beristirahat."
"Apa bos sudah memberikan izin padamu."
"Sudah. Jangan khawatir."
Luhan menunjukkan ponselnya pada Max. sedikit bersiap-siap sebelum
BLAM…!
"Aku akan menjemputmu besok pagi."
"Oke."
Luhan mengangkat ibu jarinya pada Max. Segera berlari memasuki apartemen dan meninggalkan Max yang hanya bisa tertawa melihat tingkah nyonya rumahnya.
"haah-…Selaamat bersenang-senang Luhan." Katanya berniat pergi sebelum
Drrtt…drrtt..
Ponsel Max bergetar di sakunya. Membuat si pemilik segera mengambilnya sebelum melihat nama Shindong tertera di layarnya. Max pun segera menggeser slide ponselnya sebelum
"Ada apa hyung? Apa-…."
"MAX CEPAT DATANG KE MARKAS!
"Oh shit!"
Tanpa berlama-lama. Max segera menyalakan mobilnya. Kembali menginjak gas nya sebelum
Brrrmmm…!
Apapun yang sedang terjadi saat ini pastilah sangat penting. Karena Shindong tidak pernah berteriak panik seperti ini. Jadi saat hyungnya berteriak. Maka artinya sesuatu telah terjadi.
.
.
BLAM….!
"HYUNG?"
Max memasuki markasnya dengan tergesa. Sedikit bertanya-tanya mengapa Shindong berteriak karena sepertinya semua baik-baik saja. Semua penjaga tetap berjaga seperti seharusnya. Dan Max tidak menemukan sesuatu yang mengganjal kecuali kenyataan bahwa Shidong tak berada di ruangannya.
"Dimana Shin hyung?"
"Hyungnim berada di lantai dua Max."
Max berlari cepat ke lantai dua. Sedikit menebak dimana Shindong berada sebelum pilihannya jatuh di ruang penelitian tempat mereka biasa menggeledah barang bukti milik lawan.
"Hyung?"
Shindong fokus pada komputernya. Mengabaikan panggilan Max sampai langkah kaki Max terus mendekat.
"HYUNG!"
Dan barulah saat Max berteriak. Perhatian Shindong teralihkan. Dia menekan tombol pause lalu menatap cemas pada Max saat ini "Max…"
"Kenapa wajahmu pucat? Apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku sedang menggeledah barang milik Kris. Mencari semua data yang berhubungan dengan bisnisnya sampai tak sengaja aku menemukan susunan organisasi miliknya beserta sebuah video mengerikan di dalamnya."
"Apa yang kau temukan?"
Max semakin penasaran dengan apa yang ditemukan Shindong. Membuatnya melihat ke layar komputer sebelum Shindong memperlihatkan apa yang dia temukan "Kau tidak akan mempercayai ini. Lihatlah." Katanya memberi ruang pada Max sebelum menekan tombol play di layar komputernya.
Max sendiri tak mengerti video apa yang sedang ia lihat. Yang jelas itu seperti sebuah rekaman kegiatan organisasi Kris saat itu. Dan merasa itu tidak penting dia berniat bertanya pada Shindong sebelum wajah bocah lima tahun terasa familiar untuknya. Dan semakin ia lihat dia semakin mengerti apa yang sedang Shindong tunjukkan padanya.
"Hyung? Bukankah ini?-…"
"Perhatikan terus."
Max semakin fokus saat ini. Dia tahu benar ini adalah video yang sama dengan apa yang terjadi pada malaikat kecil Sehun dan Luhan setahun yang lalu. Video yang seluruh rekamannya telah dihapus kini berada di depan kedua matanya.
Shindong terus memperlihatkan bagian yang penting pada Max, sampai pada akhirnya Max memekik melihat seseorang yang tengah bersiap tak jauh dari keluarga kecil Sehun berada.
"Kau lihat pria ini?"
Shindong kembali menekan tombol pause. Memperbesar gambar di layar komputer dan membiarkan Max melihatnya "Dia pembunuh yang Sehun cari selama ini. Kita mendapatkannya hyung." Katanya berbinar senang sebelum suara cemas Shindong kembali terdengar.
"Kau benar. Tapi entah ini akan menjadi berita baik atau bencana untuk kita."
Max menoleh pada Shindong dan menatap bingung pada hyungnya "Apa maksudmu hyung?"
Tangan Shindong gemetar memegang mouse disampingnya. Sedikit mengelap keringatnya sebelum menatap Max ragu saat ini "Perhatikan ini." Katanya kembali menekan tombol play. Mencari angle yang berbeda. Sehingga wajah si pembunuh semakin dekat dan terlihat jelas.
Shindong membiarkan video itu berputar sampai beberapa detik. Membiarkan si pembunuh membuka masker hitamnya sebelum kembali menekan tombol pause. "Max…. Aku rasa ini bencana." Katanya terdengar begitu ketakutan. Kembali memperbesar gambar yang memperlihatkan wajah si pembunuh kali ini.
Max sendiri sama sekali tak mengerti ucapan Shindong. Lebih memilih fokus melihat siapa bajingan keji yang selama ini mereka cari sebelum
"Tidak mungkin."
Jantungnya berdegup kencang. Nafasnya nyaris tak berhembus saat wajah sang pembunuh terlihat begitu familiar untuknya. Max bahkan memperbesar gambar di layar komputernya. Berharap jika pembunuh itu bukanlah orang yang sama dengan pria yang selama ini berkeliaran di sekitar mereka-….di sekitar Luhan.
Namun semakin dia memperbesar gambar maka semakin jelas pula wajah yang terlihat. Membuat tangannya berkeringat dingin dan berhenti memperbesar gambar sebelum menatap Shindong begitu ketakutan.
"Kyungsoo?"
Shindong menarik kursi disamping Max. mengusak kasar wajahnya sebelum memperlihatkan dokumen yang menguatkan bahwa benar Kyungsoo adalah pembunuh yang selama ini mereka cari.
"Aku berusaha menyangkalnya. Namun semakin aku menyangkal maka semakin kuat bukti yang menunjukkan bahwa Kyungsoo adalah si pembunuh." Katanya membuka dokumen dengan tangan gemetar. Melewatkan halaman demi halaman sampai data diri Kyungsoo muncul disana. "Ini...Lihat ini Max!"
Max pun ikut melihat ke dokumen yang ditunjukkan Shindong. Berniat fokus membaca identitas Kyungsoo yang kini ditunjukkan padanya.
Name : Do Kyungsoo
Age : 25 years old
Speciality : Sniper and killer
The last target : Oh Ziyu.
Mata Max membulat membaca nama Ziyu merupakan target dari Kyungsoo. Perasaan marah, takut dan murka bahkan menguasainya dalam sedetik. Tunggu-… Ini baru reaksi dari Max yang sama sekali tak memiliki hubungan dekat dengan Ziyu maupun Kyungsoo.
Lalu bagaimana reaksi Luhan jika Luhan tahu? Sehun tahu? Atau bahkan Kai? Bagaimana reaksi mereka jika mengetahui orang yang selama ini mereka cari berada di depan kedua mata mereka. Bagaimana jika semua ini berpengaruh pada Luhan. Membuat Max menutup cepat dokumennya sebelum melihat takut pada Shindong.
"Hyung. Jangan beritahu ini pada siapapun. Hanya kau dan aku yang tahu. Jangan sampai Sehun, Luhan terutama Kai tahu tentang ini. Apa kau dengar?"
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Kita akan memastikannya sendiri, hanya janga beritahu siapapun terutama Sehun dan Kai. Mereka tidak boleh-…."
"Apa yang tidak boleh aku dan Sehun ketahui?"
Kedua pria itu semakin lupa cara bernafas saat suara berat Kai terdengar memasuki ruangan. Keduanya bahkan tak bisa memberikan reaksi saat Kai yang entah darimana sudah berada di markas mereka. Membuat Kai merasa bingung melihat dua rekannya terlihat ketakutan dengan wajah mereka yang sangat pucat.
"Kai?"
"Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian terlihat ketakutan."
"Tidak ada apapun. Kami hanya-…."
Kai menyeruak di posisi kedua temannya. Merasa begitu curiga pada apapun yang ditemukan Max dan Shindong sebelum dirinya mengambil alih layar di depan komputer. Dan tanpa ragu Kai menekan tombol play.
Entah apa yang sedang dilakukan kedua rekannya. Yang jelas pasti itu adalah sesuatu yang penting. Membuat Kai menonton apapun yang berada di dalam video itu sebelum menyadari video macam apa yang dilihat kedua temannya.
"Bukankah ini video yang kita cari."
"Kai aku mohon jangan melihatnya."
Daripada senang Kai lebih merasa tersinggung. Bagaimana bisa kedua temannya menyembunyikan hal penting seperti ini. Membuatnya begitu bersemangat melihat si pembunuh melepas maskernya sampai sesuatu mengganggu penglihatannya dan
Deg…!
Kai menekan tombol rewind sebelum kembali mellihat sesuatu yang mengganggunya. Kembali menekan pause lalu kemudian rewind dan tak lama gerakan tangannya menjadi lambat karena saat ini matanya melihat sesuatu yang begitu menghianatinya.
Dan pada saat si pembunuh membuka maskernya. Kai menekan pause memperbesar layarnya lalu kembali memutarnya. Dia bahkan melihat sampai selesai adegan tubuh mungil Ziyu terhempas ke trotoar jalan. Kembali menekan rewind lalu berhenti di gambar pembunuh sampai
"KAI CUKUP!-…. KAU SUDAH TAHU SIAPA PELAKUNYA!"
"Aniya…. Aku belum tahu." Kai meronta di pegangan Max. kembali duduk di layar komputer dan mulai lagi melihat video yang kini menghancurkan hatinya.
Berbanding terbalik dengan ucapannya. Suara Kai kini sudah berubah serak. Air mata bahkan sudah menetes di pipinya. Dia terus mengulang video itu dan berharap bahwa bukan pria yang dicintainya yang berada disana. Dia terus mengulangnya namun hasilnya sama-….Wajah Kyungsoo tetap menjadi wajah yang selama ini mereka cari.
"tidak mungkin…"
Kai berusaha tersenyum. Mencoba menenangkan diri dan kembali melihat wajah Kyungsoo secara berulang menabrak dengan keji malaikat kecil Luhan dan Sehun. Kembali mengulangnya hingga tangannya gemetar dengan air mata ketakutan dan kemarahan menetes pada keyboard.
"aku pasti salah lihat."
Kai kembali mengulang dan memegang mouse. Menekan tombol pause, rewind dan play secara terus menerus. Berharap bahwa dia salah lihat dan bukan kekasihnya yang menabrak tubuh mungil Ziyu.
"sekali lagi." Katanya mencoba kembali memperbesar wajah pembunuh lalu memutarnya sampai akhirnya wajah Kyungsoo terlihat begitu jelas di layar komputernya.
"Sekali lagi. Aku yakin itu bukan dia. Aku yakin-…."
"KAI AKU MOHON SUDAH CUKUP!-…DO KYUNGSOO ADALAH PEMBUNUH YANG SELAMA INI KITA CARI. KEKASIHMU ADALAH PRIA YANG SEHUN CARI SELAMA INI!"
Gerakan tangan Kai berhenti bersamaan dengan teriakan Max. Membuatnya tersadar dari mimpi buruk ini sebelum berakhir hancur melihat ke gambar yang jelas menunjukkan bahwa kekasihnya adalah orang yang sama yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecil Sehun dan Luhan.
"Kai mau pergi kemana?"
Max memegang lengan Kai. Namun Kai menghempasnya kasar dan berjalan gontai menuju ke luar ruangan.
"tidak mungkin itu Kyungsoo. Kyungsooku." Katanya bergumam lirih sebelum
BRAK…!
Seluruh tubuh Kai mati rasa saat ini. Membuatnya tak sanggup untuk berdiri saat bayangan wajah Kyungsoo berputar di benaknya. Senyum dan tawa Kyungsoo. Kebaikan Kyungsoo bahkan tangisan kekasihnya terus berputar di benak Kai secara menggila.
Membuat Kai menggelengkan kasar wajahnya sebelum berakhir terduduk lemas di lantai dengan isakan memilukan yang ia rasakan. Tangannya mengepal erat berusaha untuk menyangkal namun kenyataan kembali menyadarkan kehancurannya saat ini. "Itu kau Soo...Itu memang dirimu." Katanya tertawa lirih dengan air mata kemarahan dan kekecewaan melebur menjadi satu.
Kai bahkan mencengkram kuat rambutnya. Membenarkan bahwa Kyungsoo adalah Pria yang dengan tega membunuh Ziyu. Bukan hanya Ziyu-...Kyungsoo dengan tega menghancurkan hatinya-...Hati Luhan kelak. Lalu apa yang harus mereka lakukan?
Memikirkan hal itu membuat Kai semakin tersiksa. Ketakutan menggerogotinya dengan tangan yang mengepal begitu erat "Kenapa kau tega membuatku mencintai pembunuh sepertimu. Kenapa kau tega membunuh Ziyu sayang. Kenapa kau-….DO KYUNGSOOOO—AARRRRGGHHHHHH!"
.
.
.
Tobecontinued…
.
.
.
Yawlaaaaa…Kaisoo gue tragis banget :{.
Njirrr gue baperaan sama entangled taeeee..
.
Ini gimana chap besok ini? Abis Kai…Semua juga bakalan tau. Abis ituuuu….tunggu gue nyusunnya gimana di next chap.
.
Happy reading review ya…
.
Seeyou di lastchap nya ICY. Gue butuh napasss gara2 Entangled sama MFC kwkwkwk
.
soon lagi ya mudah2an :)
