Previous
"KAI AKU MOHON SUDAH CUKUP!-…DO KYUNGSOO ADALAH PEMBUNUH YANG SELAMA INI KITA CARI. KEKASIHMU ADALAH PRIA YANG SEHUN CARI SELAMA INI!"
Gerakan tangan Kai berhenti bersamaan dengan teriakan Max. Membuatnya tersadar dari mimpi buruk ini sebelum berakhir hancur melihat ke gambar yang jelas menunjukkan bahwa kekasihnya adalah orang yang sama yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecil Sehun dan Luhan.
"Kai mau pergi kemana?"
Max memegang lengan Kai. Namun Kai menghempasnya kasar dan berjalan gontai menuju ke luar ruangan.
"tidak mungkin itu Kyungsoo. Kyungsooku."Katanya bergumam lirih sebelum
BRAK…!
Seluruh tubuh Kai mati rasa saat ini. Membuatnya tak sanggup untuk berdiri saat bayangan wajah Kyungsoo berputar di benaknya. Senyum dan tawa Kyungsoo. Kebaikan Kyungsoo bahkan tangisan kekasihnya terus berputar di benak Kai secara menggila.
Membuat Kai menggelengkan kasar wajahnya sebelum berakhir terduduk lemas di lantai dengan isakan memilukan yang ia rasakan. Tangannya mengepal erat berusaha untuk menyangkal namun kenyataan kembali menyadarkan kehancurannya saat ini. "Itu kau Soo...Itu memang dirimu."Katanya tertawa lirih dengan air mata kemarahan dan kekecewaan melebur menjadi satu.
Kai bahkan mencengkram kuat rambutnya. Membenarkan bahwa Kyungsoo adalah Pria yang dengan tega membunuh Ziyu. Bukan hanya Ziyu-...Kyungsoo dengan tega menghancurkan hatinya-...Hati Luhan kelak. Lalu apa yang harus mereka lakukan?
Memikirkan hal itu membuat Kai semakin tersiksa. Ketakutan menggerogotinya dengan tangan yang mengepal begitu erat "Kenapa kau tega membuatku mencintai pembunuh sepertimu. Kenapa kau tega membunuh Ziyu sayang. Kenapa kau-….DO KYUNGSOOOO—AARRRRGGHHHHHH!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Entangled
Main Cast : Sehun & Lu Han
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
"ngghHah!~…."
Dilain tempat-…Tepatnya di sebuah apartemen mewah milik kakaknya. Seorang pria bermata besar terbangun dengan seluruh mimpi buruk yang terus dialaminya. Mimpi buruk yang secara bersamaan terus merenggut mimpi indahnya. Nafasnya tersengal hebat dengan keringat memenuhi wajahnya. Bayangan wajah kakaknya serta sang suami dan anak lima tahun itu terus bergantian muncul dalam mimpinya. Sehun yang membunuhnya dengan keji, Luhan yang berteriak marah serta bayangan putra Sehun dan Luhan yang menangis tersedu seolah meminta Kyungsoo untuk tidak merenggut nyawanya.
"haahh~."
Kyungsoo masih belum bisa menetralkan nafasnya. Matanya melihat kedua tangan yang bergetar hebat saat ini. Keringat bahkan membasahi seluruh tangannya. Membuat Kyungsoo mencengkram kuat kepalanya tak tahan dengan mimpi-mimpi yang terus mengingatkan dirinya tentang hal keji yang ia lakukan.
Hkssss…
Dia menyembunyikan kepalanya diantara lutut. Terlalu panik mengingat mimpi mengerikan yang ia alami. Karena jika malam sebelumnya hanya wajah Sehun dan Luhan yang datang. Maka malam ini wajah sang kekasih juga terlihat di mimpinya. Kai bahkan menatap marah melebihi tatapan benci Sehun untuknya. Semua itu terasa menjadi nyata untuk Kyungsoo, dia mendengar Kai berteriak marah padanya. Dan itu adalah alasan mengapa dia membuka kedua matanya malam ini.
"KAU PEMBUNUH DO KYUNGSOO! / MATI KAU BAJINGAN SIALAN! / KENAPA KAU MEMBUATKU MENCINTAIMU PEMBUNUH!"
Kali ini Kyungsoo menutup erat telinganya. Teriakan Luhan, Sehun serta Kai bergantian memenuhi kepalanya. Membuat dirinya panik dan mulai mencari laci kecil di samping tempat tidurnya sebelum
Sret…!
Saat membuka laci kecil itu, Kyungsoo terjatuh di lantai. Tangannya panik mencari pil penenang yang selalu ia konsumsi. Dan setelah menemukannya Kyungsoo membuka asal wadah pil tersebut. Mengeluarkannya dalam jumlah banyak sebelum
Glup…!
Dia menenggak habis pil penenangnya. Terjatuh di sisi tempat tidur dengan menjambak kencang rambutnya "Kai…Lu..Maaf….Maafkan aku hyung. Aku bersalah. Aku-…..arrgghhhhhh!"
Kyungsoo meraung ketakutan seorang diri. Yang paling mengganggunya adalah kenyataan bahwa Kai juga akan membencinya. Ingin membunuhnya. Karena sebelumnya-…Kyungsoo sudah sangat mempersiapkan diri jika pada akhirnya dia berakhir di tangan Sehun ataupun Luhan sekalipun. Namun saat bayangan wajah Kai yang menghabisinya-…Sungguh hanya ketakutan dan penyesalan karena telah membuat Kainya begitu kesakitan.
"Kai….hkss…"
Kyungsoo terus meraung, memanfaatkan kesunyian apartemen Luhan untuk menangis dan meminta maaf sebelum
Drrtt…drrt…
Dia melirik ponsel yang berada di aas meja kecilnya. Berniat untuk mengabaikan panggilan masuk sebelum melihat nama Luhan tertera disana. Dan seolah menjadi obat untuk segala ketakutan Kyungsoo. Dia meraih cepat ponsel di atas meja sebelum menggeser slide untuk menjawb panggilan Luhan-..Dia membutuhkan Luhan. Dan satu-satunya cara agar dirinya menjadi tenang adalah dengan meminta Luhan untuk datang.
"soo… Apa aku mengganggumu? Aku hanya ingin bilang malam ini aku akan menginap di tempat Baek-…"
"Hyung…Pulanglah."
"soo? Ada apa? Kau baik-baik saja?"
"Pulanglah hyung….Aku takut."
"ara-..araseo. Aku akan segera pulang. Hyung akan segera pulang."
Kyungsoo tersenyum lega mendengarnya. Mengangguk berharap sebelum
Pip…!
Dia kembali bersandar di sisi tempat tidur. Diam dan tak melakukan apapun. Kyungsoo hanya membiarkan ketakutan menguasai pikirannya. Dia lelah mengelak dan saat batinnya dihancurkan maka dia sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk setelahnya.
"Aku monster mengerikan ya?"
Dia tertawa melihat kedua tangannya. Mengingat bagaimana tangan ini menuntun dirinya menabrak tubuh mungil Ziyu-…Membunuh banyak orang dan yang paling buruk membuat banyak orang kehilangan orang yang mereka cintai. Mungkin terasa adil jika Kyungsoo merasakan apa yang mereka rasakan. Kehilangan seseorang yang begitu berharga. Dibuat menderita seumur hidup dan merasakan sakit yang sama dengan orang-orang yang telah ia sakiti.
Dan saat kegilaan ini semakin menjadi. Tiba-tiba wajah Kai kembali terlintas. Merasa tidak rela jika semua kebahagiaan singkatnya harus berakhir dalam waktu cepat. Kyungsoo menyembunyikan dalam kepalanya di antara lutut. Menjambaknya semakin kuat dan terisak begitu ketakutan. Membuat Kyungsoo terus terisak dengan mengucapkan nama Kai terus berulang. "Kai…Kai…KAAAAIII"
Ting Tong…
Ting Tong…
Dan bunyi bel di apartemen Luhan mengiringi geraman frustasi yang Kyungsoo teriakan. Membuatnya diam sejenak sebelum berlari terhuyung membukakan pintu untuk Luhan. Entah karena alasan apa dia begitu bahagia saat Luhan datang begitu cepat. Berniat memeluk kakaknya sebelum
Cklek…
"Hyungkau sudah-….Kai?"
Itu bukan Luhan. Itu adalah Kai yang berdiri di depan pintu –terlihat hancur dan berantakan-. Itu adalah Kai pria yang membuatnya ketakutan tanpa alasan beberapa menit lalu. Itu adalah Kai-… Sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak pernah Kyungsoo dapatkan sebelumnya. Dan entah perasaan macam apa yang membuat seluruh tubuh Kyungsoo meremang melihat kekasihnya. Bibirnya bahkan terasa sangat kaku tak bisa mengucapkan sepatah kata pun melihat Kai berdiri di depannya. Tatapan Kai saat ini persis seperti tatapan yang biasa Kyungsoo berikan saat ingin membunuh targetnya.
"Sayang? Ada apa? Kenapa kau-…"
"Pem-bu-nuh!"
Kai mengatakannya terlalu jelas. Menggunakan penekanan di setiap katanya adalah hal yang membuat Kyungsoo ketakutan dan kehilangan kata-katanya. Kyungsoo berharap dia hanya salah mendengar . Berusaha untuk tenang sebelum kembali bertanya pada kekasihnya. "Kai? Apa yang kau bicarakan? Kau membuatku-….."
"TEGA SEKALI KAU MEMBUNUH PUTRA SEHUN DAN LUHAN LALU KEMUDIAN BERSEMBUNYI DI BELAKANG MEREKA. KAU ADA BEGITU DEKAT DENGAN KAMI TAPI BEGITU LICIK BERSEMBUNYI-….KAU BENAR-BENAR PEMBUNUH MENGERIKAN DO KYUNGSOO!"
BUGH…!
Dalam satu pukulan kasar. Kyungsoo terhuyung. Sudut bibirnya mengeluarkan darah sementara matanya memejam begitu erat. Dia tahu hari ini akan datang, tapi dia tidak menyangka akan secepat ini. Dan yang paling menyakitkan adalah-….Bukan Luhan ataupun Sehun yang mengetahui siapa dirinya untuk kali pertama. Bukan kedua orang tua dari malaikat kecil yang ia bunuh melainkan sang kekasihlah yang pertama kali mengetahui monster mengerikan macam apa dirinya.
Kai kembali mendekati Kyungsoo. Memaksa kekasihnya bangun dengan mencengkram kasar piyama tidurnya. Kai bahkan tak segan menghimpit tubuh Kyungsoo ke dinding-…Mencekiknya kuat
"Kenapa kau melakukannya. Kenapa kau membunuh malaikat kecil kami? Kenapa kau-….BUGH!"
Sungguh yang bisa dilakukan Kai hanya berteriak dan memukul. Isi kepalanya sudah dipenuhi dengan kebencian. Walau hatinya menjerit memohon untuk tidak menyakiti pria mungilnya, namun ia abaikan. Karena saat ini hanya pikiran gelap yang menguasai dirinya.
BUGH!
Kyungsoo sudah tidak bisa menopang tubuhnya lagi saat ini. Rasa sakit yang dirasakan tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Pada akhirnya dia hanya bisa tersenyum lirih merasakan bagaimana rasanya berada di posisi semua orang yang dia bunuh dengan kedua tangannya sendiri.
Sementara Kyungsoo pasrah dengan semua yang dilakukan Kai. Maka rasa iba sedikit terbesit di benak pria berkulit tan tersebut. Dia mencoba memakai akal sehatnya, dia mencoba menghilangkan emosinya dan berharap bahwa Kyungsoo mengatakan yang sebenarnya kali ini-…Tanpa kebohongan dan hanya mengatakan kebenaran padanya.
"Katakan padaku bukan kau yang melakukannya. KATAKAN!"
Katanya berada di atas Kyungsoo. Masih mencekik leher Kyungsoo untuk menggertaknya bukan menyakitinya seperti di awal.
"Kenapa kau diam? Jawab aku-…Katakan bukan kau yang melakukannya. JAWAB AKU DO KYUNGSOO!"
Kyungsoo hanya bisa mengeluarkan air matanya. Tidak terisak tidak pula berbicara, hatinya begitu sakit dan ketakutan. Sakit karena melihat kekasihnya begitu marah dan hancur. Takut karena dia tahu ini adalah hari terakhirnya berstatus sebagai Do Kyungsoo kekasih Kim Jongin. Karena setelah malam ini. Dia adalah Do Kyungsoo yang diburu oleh Sehun dan seluruh kaki tangannya.
"KENAPA KAU HANYA DIAM!"
"Mianhae…"
Cekikan di tangan Kai mengendur seutuhnya. Hatinya begitu tersayat saat melihat bagaimana Kyungsoo tanpa rasa belas kasih mengatakan maaf. Maaf? Seolah maafnya bisa membuat Ziyu kembali hidup. Seolah maafnya bisa menghentikan Sehun untuk tidak membunuhnya. Kai terlalu mengenal siapa Sehun dan sungguh-…Dia adalah pria terkeji yang pernah ada di muka bumi. Dia tidak segan menyakiti siapapun yang mengusiknya-..Mengusik Luhan dan putranya. Dan jika dia tahu Kyungsoo si pembunuh. Maka sudah dipastikan bahwa semua rasa sakit adalah hal yang harus Kyungsoo rasakan.
"Mianhae Kai. Aku-…."
"Kau harus mati Kyungsoo-ya…Kau benar-benar harus mati."
"KAAAIIII…"
Kyungsoo terisak memohon ampunan. Namun nyatanya Kai mengeluarkan senjata dari balik sakunya. Tatapannya penuh dengan luka. Katakanlah ini bentuk pengampunan yang dia berikan untuk kekasih –mantan kekasihnya-…Karena daripada Sehun. Dia berniat untuk membuat Kyungsoo mati tanpa rasa sakit.
"Sehun tidak akan mengampunimu sayang. Dia hanya akan memberikan rasa sakit untukmu. Kau tahu? Kemarahanku tidak akan sebanding dengan kemarahan Sehun. Jadi aku akan mengakhirinya dengan cepat."
Ckrek..!
Kai mengokang senjatanya dan menempatkan tepat di dahi Kyungsoo. Kedua mata mereka saling menatap seolah mengucapkan selamat tinggal. Jika dibandingkan, mungkin Kyungsoo lebih kuat daripada Kai. Bisa saja dia melawan dan menyakiti kekasihnya. Namun dia terlalu lelah untuk melawan. Terlalu lelah untuk berlari apalagi menyakiti orang-orang yang dia cintai lebih lama. Dia tidak menyangka akan berakhir di tangan satu-satunya pria yang ia cintai. Satu-satunya pria yang bisa membuatnya berdebar dan terus ingin merasakan hidup lebih lama. Satu-satunya pria yang menjadi alasan Kyungsoo tidak menceritakan apapun dan bertahan dengan egois untuk bisa merasakan cinta.
Dan hari ini semua berakhir. Semua kebahagiaan yang dia inginkan seolah hanya menjadi mimpi yang begitu indah untuknya. Dan karena hal itu saat Kai menekan senjatanya semakin kuat.-…Kyungsoo memejamkan matanya. Menyesal karena pergi dengan menyisakan luka untuk Luhan, untuk Kai dan dirinya sendiri. Dia sangat ketakutan namun bersiap untuk mati di tangan kekasihnya. Tidak akan ada penyesalan karena setidaknya dia tidak perlu membohongi Kai lagi. Wajahnya tersenyum namun air mata tak mau pergi dari wajahnya.
Membuat hati Kai menjerit memohon untuk berhenti. Namun pikiran Kai mengatakan hal sebaliknya. Karena jika Sehun sampai mengetahui siapa Kyungsoo. Maka hanya rasa sakit yang akan Kyungsoo rasakan. Karena sejauh apapun Kyungsoo berlari. Dia hanya akan berakhir mati di tangan Sehun.
"selamat tinggal….Selamat tinggal sayangku."
Kai bahkan sudah nyaris menarik pelatuknya sebelum
"KIM JONGIN APA YANG KAU LAKUKAN!"
Sebelum tubuh Kai ditarik menjauh oleh seseorang. Dan seseorang itu adalah Luhan –ibu Ziyu dan istri Sehun-… Membuat ketakutan jelas terlihat di masing-masing Kai dan Kyungsoo. Luhan bahkan berdiri melindungi Kyungsoo dan menatap geram pada Kai.
"APA KAU GILA? DIA KYUNGSOO-…ADIKKU DAN KEKASIHMU. KENAPA KAU MENYAKITINYA!"
"Hyung…"
Luhan menoleh sekilas pada Kyungsoo. Menatap cemas pada memar parah yang dialami adikknya. Entah apa yang sedang Kai lakukan saat ini. Yang jelas pria yang selalu ditugaskan untuk menjaganya terlihat tak menyerah dan sadarkan diri. Sebaliknya-…Kai kembali berjalan mendekatinya dan Kyungsoo. "K-kai turunkan senjatamu. Kai…"
"Minggir Lu. Kau tidak tahu monster macam apa yang selama ini bersembunyi di belakangmu."
"Apa yang kau katakan? Dia Kyungsoo kita Kai. Kai aku mohon jangan seperti ini. Kita bisa-…KIM JONGIN HENTIKAN!"
Luhan merangkak mendekati Kyungsoo. Memeluk adiknya erat dan menyembunyikan Kyungsoo di dekapannya. Dia tahu Kai tidak akan menyakitinya. Menggunakan kemungkinan itu untuk melindungi Kyungsoo dengan seluruh ketakutan terlihat di wajah Luhan.
"Minggir Lu. Biarkan aku membunuhnya. Jika Sehun yang melakukannya-…Itu akan sangat menyakitkan untuk Kyungsoo."
"Baiklah…Baiklah kau boleh membunuh Kyungsoo. KAU BOLEH MEMBUNUH KYUNGSOO TAPI KAU HARUS MEMBUNUHKU TERLEBIH DULU."
"Kau tahu aku tidak akan pernah menyakitimu Lu."
"KALAU BEGITU HENTIKAN!"
"Kau tidak tahu monster macam apa yang bersembunyi dibalik pelukanmu Lu. Lepaskan dia dan aku akan mengurus dia untukmu dan Sehun."
"KAI KAU MEMBUATKU –hksss-…DEMI TUHAN KAU MEMBUATKU TAKUT! APA YANG SEDANG KAU BICARAKAN!"
"Hanya dengarkan aku dan lepaskan dia Lu."
"KAU YANG HARUSNYA MELEPASKAN KYUNGSOO! JANGAN SEPERTI INI KAI. AKU TAKUT hksss…."
Luhan semakin mendekat erat tubuh Kyungsoo yang mulai tak merespon. Menciumi pucuk kepala adiknya dengan tatapan memohon pada Kai. "Aku mohon Kai. Jangan menyakiti adikku. AKU MOHON PADAMU."
"Aku harus menyakitinya Lu. Aku harus membalas pria yang membuatmu dan Sehun kehilangan Ziyu."
Tatapan Luhan memanas disertai tubuh Kyungsoo yang menegang. Kyungsoo memang sudah tidak bisa merespon, tapi dia bisa mendengar ucapan Kai dan bisa merasakan ketegangan yang Luhan rasakan. Nafas Luhan bahkan tersengal hebat seolah tak mempercayai kalimat Kai yang membawa nama Ziyu saat ini.
"A-apa yang kau katakan Kai? Apa yang kau-…"
"KYUNGSOO ADALAH PRIA YANG DENGAN KEJI MEMBUNUH PUTRAMU. DIA PRIA YANG SELAMA INI KITA CARI-…SEHUN CARI LU! JADI CEPAT MINGGIR DAN BIARKAN AKU MEMBUNUHNYA."
"M-mwo?"
Kai menarik kasar tubuh Luhan. Menjauhkannya dari Kyungsoo sementara dirinya kembali mencengkram erat tubuh pria yang sampai malam ini masih menjadi kekasihnya.
"EOMMAAA!"
Dan untuk Luhan-..Ini seperti mimpi yang sangat buruk untuknya. Teriakan Ziyu dan bagaimana tubuh kecil putranya terhempas keras di jalan tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam ingatannya. Luhan bahkan mendengar jeritan Sehun yang begitu kesakitan. Membuat sesuatu terasa dicabut paksa dari tubuhnya. Sesuatu yang bisa membuatnya berhenti bernafas karena lelucon mengerikan yang ia dengar.
"aku bersumpah akan mencari pembunuh putra kita sayang. Aku akan membunuhnya berkali-kali lebih keji dan lebih menyakitkan. Aku bersumpah."
"Maafkan aku Lu. Maaf belum bisa menemukan bajingan keji itu."
"KENAPA KAU MEMBUNUH KRIS? KITA HAMPIR MENGETAHUI SIAPA PEMBUNUH PUTRA KITA."
Teriakan marah, sedih dan putus asa sang suami terus berulang bagai kaset rusak di pikiran Luhan. Mendapati kenyataan bahwa pembunuh yang suaminya cari adalah orang yang dengan orang yang sangat Luhan lindungi begitu menampar batinnya. Dan saat Luhan merasakan sakit-…Itu artinya Sehun akan berkali lipat merasakan sakit. Dan jika Luhan marah. Sehun akan jauh lebih murka.
"tidak…Tidak mungkin. Itu bukan kau Kyungsoo. Katakan itu bukan kau."
Matanya memandang mata Kyungsoo yang sedang dicekik Kai saat ini. Dia terlihat seperti hewan yang akan disembelih. Hanya diam dan menatap pasrah. Luhan mencari kesempatan untuk mencari jawaban di mata adiknya. Dan lagi-….Rasanya begitu perih saat Kyungsoo menitikkan air mata. Mengangguk seolah mengatakan maaf padanya.
Luhan terpuruk. Tak bisa bernafas dan begitu sesak saat ini. Dia menjambak kasar rambutnya sebelum
"APA SALAH PUTRAKU? KENAPA KAU TEGA MEMBUNUH PUTRAKU-…KEPONAKANMU. KENAPA KAU TEGA DO KYUNGSOO?"
Luhan berteriak begitu murka. Dan Kyungsoo serta Kai-…Keduanya hanya bisa memejamkan mata mendengar rasa sakit seorang ibu untuk pembunuh putranya. Luhan tidak pernah terlihat marah. Dia adalah sosok tenang yang selalu menyelesaikan masalahnya dengan kepala dingin. Jadi saat dirinya terluka. Pertahanan yang bisa dia lakukan hanya mencari jawaban yang seolah telat untuk dikatakan.
Dan jujur-…Ini adalah kali pertama Kai melihat Luhan begitu terluka. Rasanya bahkan lebih menyakitkan saat ini dibandingkan saat Luhan menghadiri pemakaman Ziyu satu tahun yang lalu. Dan karena hal itupula-…Kemarahan Kai kembali berada di puncaknya. Dia menatap murka pada Kyungsoo dan
BUGH!
Pukulan telak kembali ia layangkan sebelum senjata kembali ia todongkan di dahi Kyungsoo "Bunuh aku Kai. Aku mohon. Ini terlalu sakit."
Keadaan Kyungsoo sungguh mengenaskan. Kesadarannya sudah nyaris menghilang bersamaan dengan teriakan Luhan yang begitu marah padanya. Dan seolah tak memiliki alasan untuk hidup. Dia memohon untuk mati di tangan kekasihnya. Dan Kai-….Dengan berat hati akan melakukan permintaan Kyungsoo saat ini.
"Kau benar Soo. Ini terlalu sakit-…Jadi selamat tinggal."
Kai menatap kekasihnya untuk terakhir kali. Berniat menarik pelatuknya sebelum Luhan kembali menarik Kyungsoo dan membawa pembunuh putranya menjauh dari jangkauan Kai.
"Lu…"
"aku tidak bisa Kai. Aku tidak bisa membiarkan Kyungsoo mati. Aku sungguh tidak bisa."
Suaranya begitu memelas. Memeluk Kyungsoo begitu erat dan memohon ampunan pada kaki tangan suaminya.
"Luhan apa kau gila? Dia…DIA MEMBUNUH ZIYU LU!"
"Aku tahu. AKU TAHU KAI!-….AKU HANYA TIDAK BISA MELIHATNYA TERLUKA. AKU MOHON BERHENTI MENYAKITINYA!"
"KAU MENYAKITI SEHUN JIKA MEMBIARKANNYA HIDUP!"
"SEHUNKU TIDAK AKAN MERASA SAKIT JIKA DIA TIDAK TAHU SIAPA KYUNGSOO!"
"LUHAAAAAN!"
"aku mohon Kai. Aku mohon jangan beritahu Sehun tentang Kyungsoo hkss…AKU MOHON KAI!"
Kai membanting kencang senjatanya, membanting seluruh benda kaca di apartemen Luhan sementara Luhan melindungi Kyungsoo di pelukannya. "Kita harus bagaimana Lu. Aku tidak bisa menghianati Sehun."
Kai terduduk di tepi sofa. Keadaannya sangat berantakan dan menyedihkan. Luhan bahkan harus dibuat menangis melihat penjaganya. Dia tidak biasa melihat Kai begitu menyedihkan seperti ini, Kai yang biasanya selalu terlihat tenang dan kuat. Bukan seperti ini –hancur dan begitu terluka- membuat Luhan tak bisa membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi Kai. Di satu sisi dia harus tetap loyal pada Sehun namun di sisi lain-…Dia harus berdebat dengan hatinya untuk membunuh atau membiarkan pria yang dia cintai tetap hidup.
"AKU TIDAK BISA MENGHIANATI SEHUN…!"
"Kau tidak menghianati Sehun…Kita hanya akan merahasiakan ini pada suamiku. Aku-…Aku sendiri yang akan mengatakannya pada Sehun. Aku sendiri yang akan membujuknya untuk berhenti mencari pembunuh putra kami. Aku akan melakukannya Kai."
Tak ada jawaban dari Kai. Penjaganya hanya diam dan tak menjawab saat ini. Membuat Luhan berharap agar Kai mengampuni Kyungsoo, walau sesungguhnya rasa marah, hancur dan kecewa juga dirasakan sang dokter malam ini. Dan untuk beberapa saat Luhan mengira Kai berada dipihaknya. Namun saat Kai mengangkat wajahnya, maka saat itupula hanya kemarahan yang terlihat. "Kai? A-Apa yang kau lakukan?"
Kai berdiri perlahan. Berjalan gontai mengambil senjatanya sebelum kembali mengokang dan mengarahkannya pada Kyungsoo "Maaf Lu. Tapi aku tidak bisa menghianati Sehun. Dan dia-… dia harus mati." Katanya mengarahkan senjata pada Kyungsoo. Membuat Luhan memeluk Kyungsoo semakin erat dengan ketakutan yang terlalu nyata untuknya "Kai…"
"Maafkan aku Lu."
"TIDAK KAI!-…TIDAK ADA YANG HARUS MATI MALAM INI."
"DIA HARUS MATI!"
Kai menggeram marah. Hampir tidak berfikir jika tembakannya akan menyakiti Luhan sebelum
BRAK…!
"Luhan? / KAAAI!"
Max menghambur mendekati Kai sementara Shindong melindungi Luhan. Keduanya benar-benar dibuat terperangah dengan kekacauan yang dibuat Kai malam ini. "KAI APA KAU GILA? KAU BISA MENYAKITI LUHAN!"
Max menarik tubuh Kai menjauh. Membuat Kai berusaha mendekat dan mulai menggila menghajar Max yang seketika terhuyung "BIARKAN AKU MEMBUNUH BAJINGAN INI!"
"Kalian semua-….KALIAN SEMUA BAWA KAI PERGI! INI PERINTAH!"
Luhan menggunakan ultimatumnya sebagai istri dari seorang Oh Sehun. Membuat seluruh anak buah yang ikut bersama Max menodongkan senjatanya pada Kai dan berusaha membawa Kai pergi.
Max yang baru saja mendapat pukulan telak dari partnernya segera berdiri. Menghampiri Kai dengan ragu sebelum berusaha membujuk satu-satunya pria yang selalu dipercayakan Sehun untuk menjaga istrinya "Aku mohon tenanglah Kai. Ikut aku dan kita selesaikan ini bersama." katanya menggenggam lengan Kai. Berusaha membawa Kai pergi sebelum Kai menghempas kasar pegangan Max di lengannya "Lepas."
Dan Max tentu saja membiarkan pegangannya terlepas. Mengantisipasi gerakan Kai dan mulai berdiri di depan Luhan-…Berjaga-jaga jika Kai berbuat nekat.
"Kau sudah memilihnya Lu?"
"huh?"
"Kau lebih memilih pembunuh putramu daripada suamimu sendiri."
"Kai aku mohon hkss bukan seperti ini maksudku."
"KAU MELINDUNGI PEMBUNUH PUTRAMU LU!"
Max menghalau tubuh Kai yang mulai mendekati Luhan. Menatap marah pada sosok mungil yang dulu begitu ia cintai namun saat ini begitu ingin ia bunuh. "Kau menyakiti Sehun jika kau membiarkannya hidup."
"Kai…"
"Baiklah. Aku rasa aku tidak bisa lagi bekerja bersamamu-…Bersama kalian." Ujarnya menyalang menatap Luhan, Max, Shindong dan seluruh anak buahnya. Membanting kasar senjatanya sebelum menatap sendu sosok yang selalu dijaga Sehun dengan hidupnya "Aku keluar. Selamat tinggal!"
"tidak Kai. Kau tidak boleh pergi-..Kai?"
Kai mengabaikan panggilan Luhan. Rasa sakitnya begitu terasa saat Luhan memanggilnya begitu memohon. Namun Luhan sudah memilih untuk melindungi Kyungsoo. Maka Kai tak memiliki alasan untuk bekerja pada seseorang yang memiliki tujuan berbeda dengannya.
"Kaii….hkss…Kai jangan pergi! CEPAT KEMBALI! INI PERINTAH!"
Langkahnya terus menjauh. Tak mengindahkan panggilan Luhan sebelum
"KIM JONGIINNN!"
Dan teriakan Luhan seolah menandakan akhir menyedihkan dari semua yang telah mereka lalui bersama sebagai teman. Membuat keadaan berbeda dan tak akan pernah sama mulai hari ini.
.
.
.
.
Cklek…!
Luhan menoleh saat pintu kamarnya terbuka. Menatap Max dengan tatapan berharap walau dia tahu apa yang diharapkannya adalah mustahil mengingat wajah Max menatap sendu padanya.
"Dimana Kai?"
Saat ini keadaan sudah lebih baik. Yeah-... walau hanya sedikit lebih baik. Setidaknya tak ada lagi teriakan marah dan isakan. Yang ada hanya rasa sakit di masing-masing hati penghuni. Luhan adalah yang paling terluka saat ini. Namun hati kecilnya meminta pengampunan agar emosi tidak menguasainya disaat genting seperti ini.
Profesi sebagai dokter memaksanya untuk bersikap tenang. Walau suaranya jelas terluka namun nalurinya sebagai dokter tetap mengobati pria mungil yang ternyata adalah si monster pembunuh. Tangannya memasang infus untuk pria itu. Namun matanya terus menatap terluka tak menyangka hubungan mereka akan berubah status menjadi terlalu mengerikan untuk seorang kakak dan adik.
"Kai pergi."
Gerakan tangan Luhan terhenti. Dia sedang mengatur kecepatan tetesan infus milik Kyungsoo. Matanya bahkan memanas dalam hitungan detik saat kalimat Kai pergi terucap begitu saja.
"Pergi? Kemana?"
"Entahlah Lu. Kami belum bisa menghubunginya."
"Tapi dia akan kembali kan?"
Max menatap menyesal pada Luhan. Merasa kemungkinan Kai kembali adalah mustahil mengingat apa yang terjadi malam ini jelas membuat partnernya begitu marah dan terluka. "Entahlah Lu. Kau tahu ini semua pasti sangat menyakitkan untuk Kai. Dia belum pernah mencintai seseorang sebelumnya. Dan disaat dia mulai membuka diri untuk mencintai. Dia hanya berakhir dibohongi dan dibuat terluka. Aku tidak yakin Kai kembali, tapi aku akan terus mencari tahu dan mencoba berbicara dengannya."
Tatapan Luhan sangat kosong. Dia hanya bisa memandang iba pada Kyungsoo dan Kai. Ikut merasakan betapa pedihnya jika berada di posisi mereka. Kemarahan itu masih terlihat di wajah Luhan. Namun saat melihat wajah Kyungsoo tak berdaya. Ada sedikit rasa belas kasih untuk kisah cintanya dengan Kai.
Bukan Kyungsoo yang Luhan kasihani. Bukan Kyungsoo yang membuatnya cemas. Sungguh-... Perasaan sayang Luhan pada pria di depannya seolah hilang begitu saja. Bahkan untuk menganggapnya adik adalah hal sulit untuk Luhan. Bagaimana bisa Luhan menganggap adik pada pembunuh putranya. Bagaimana bisa Luhan bersikap seperti semula jika teriakan kesakitan Ziyu akan selalu tergambar jelas setiap kali dia menatap Kyungsoo. Bagaimana bisa-...
"Luhan!"
Suara Max menyadarkan kerapuhan Luhan. Membuat Luhan sedikit menoleh dan tanpa sadar dirinya sudah terjatuh di tepi ranjang Kyungsoo saat ini.
"Kau baik-baik saja?"
Luhan menggeleng lemah. Wajahnya begitu kesakitan walau fisiknya terlihat baik. Dia bahkan terus meremat kencang dadanya seolah sesuatu telah dirampas darinya. Dan saat kehancuran bagai puih itu dia rasakan maka hanya tangisan pilu yang keluar sebagai jawaban. "Aku tidak baik Max. Aku hancur. Hatiku hancur-...hkss." Luhan meraung hebat disana. Menjambak kuat dirinya sementara Max hanya bisa diam tak melakukan apapun.
Dia bukan Kai yang bisa menghibur Luhan. Dia bukan Sehun yang bisa menenangkan Luhan. Dia juga bukan Shindong yang bisa memberikan lelucon pada Luhan. Dia hanya Max-... pria biasa yang hanya bisa ikut merasakan sakit tanpa bisa membantu menghilangkan rasa sakit dari orang terdekatnya.
Dan karena alasan itu pula Max diam-... Diam dan hanya memperhatikan Luhan sampai wajah Luhan kembali terangkat. "Max.."
"Mmmhh...."
Suara Luhan tercekat habis. Setiap nada yang ia keluarkan terdengar lirih dan bergetar. Matanya sudah tak bisa mengeluarkan air mata lagi. Dia lelah menangis dan dia lelah mengasihani dirinya. Membuatnya mencoba menenangkan diri saat bertanya pada orang kedua yang selalu Sehun perintahkan untuk menjaganya.
"Kapan Sehun kembali?"
"Lusa. Pukul sebelas malam Sehun tiba di Incheon."
Luhan menghapus cepat air matanya. Kembali berdiri sebelum membenarkan jarum infus di tangan kiri Kyungsoo.
"Kalau begitu cepat bereskan semua kekacauan ini. Aku tidak mau Sehun melihat kekacauan ini. Kau juga harus membersihkan wajahmu. Pastikan lusa nanti mata kalian tidak terlihat kacau. Hanya buat semuanya terlihat normal. Oke?"
Max mengangguk. Berniat pergi sebelum suara Luhan kembali terdengar. "Max..."
"Ya."
"Selain diriku-... Tidak ada yang boleh mengatakan siapa Kyungsoo pada Sehun. Aku sendiri yang akan mengatakan semua kebenarannya pada suamiku. Kau dengar?"
Max kembali mengangguk. Memutuskan untuk. berada di pihak Luhan dan mempercayai apapun rencana yang Luhan katakan. "Ya. Aku dengar Lu. Aku bersamamu."
Dan setelahnya Max benar-benar pergi meninggalkan Luhan. Dia tahu Luhan sedang dalam keadaan marah. Tatapannya bahkan terlihat ingin membunuh Kyungsoo. Namun sebanyak apapun Luhan membenci dan ingin menyakiti Kyungsoo, dia berani bertaruh jika Luhan akan terus melindungi Kyungsoo. Dia tidak akan membiarkan Kyungsoo disakiti entah oleh Kai, Sehun atau bahkan dirinya sendiri. Karena pada dasarnya Luhan benci kehilangan orang yang dia cintai. Dan karena alasan itupula dia akan selalu berakhir melindungi Kyungsoo.
Jika Max berfikir Luhan tidak akan menyakiti Kyungsoo maka di detik yang sama pemikiran berbeda ditunjukkan oleh Luhan. Karena untuk beberapa detik Luhan sangat tergoda untuk membalas hal keji yang dilakukan Kyungsoo padanya. Tergoda untuk membuat Kyungsoo menjerit pilu namun di detik berikutnya rasa marah itu seolah terkubur jauh di dalam hatinya.
Dia tahu kehidupan macam apa yang dijalani Kyungsoo. Terlalu kejam dan begitu menakutkan. Dia bahkan harus berubah menjadi seorang pembunuh untuk bertahan hidup.
Dan jikalau hari itu Luhan dan Chanyeol tidak meninggalkan Kyungsoo. Mungkin ceritanya akan berbeda. Mereka semua akan hidup bahagia bersama. Memiliki pasangan yang begitu mencintai mereka dan mungkin-...Mungkin Ziyu masih hidup dan tumbuh besar saat ini.
Membuat Luhan kembali menangis menyadari bahwa dia tidak bisa menyalahkan Kyungsoo sepenuhnya. Karena hidup mengerikan yang dijalani Kyungsoo. Sedikit banyak terjadi karena dirinya meninggalkan Kyungsoo seorang diri. Kyungsoo ketakutan dan kehilangan arah. Kris bahkan dengan tega membesarkan Kyungsoo menjadi mesin pembunuhnya. Dan setiap kali mengingat wajah Kris maka setiap saat pula Luhan ingin membunuhnya secara berulang.
Pikiran Luhan masih kosong dan bercabang. Entah apa yang akan dia katakan pada Sehun nantinya. Entah bagaimana dia berbicara dengan Kyungsoo setelah ini. Luhan tidak tahu. Sama sekali tidak tahu membuatnya terus diam sampai suara yang terdengar sangat parau memanggilnya.
"H-hyung."
Saat kedua mata mereka bertemu. Luhan kembali terdiam, sesaat dirinya bahkan tergoda untuk mencekik pria di depannya. Memberitahu bahwa dirinya begitu kesakitan, marah dan terluka dan tak bisa lagi melihat Kyungsoo sebagai seorang adik mengingat pria di depannya adalah orang yang sama yang telah membunuh membunuh putranya dengan keji.
"Hyung..."
Dan saat tangan dingin Kyungsoo memegang lengannya. Maka khayalan keji itu menghilang seketika, digantikan dengan tatapan iba namun tetap tak bisa bersikap seperti dulu lagi.
"Syukurlah kau sudah sadar. Bagaimana keadaanmu?"
Kyungsoo menangkap nada dingin dilontarkan untuknya. Sekelibat rasa bersalah dan takut kembali mencekiknya saat Luhan mulai bersikap asing dan berbicara tidak seperti Luhan kakaknya.
"Mianhae."
Luhan tertawa getir mendengar ucapan maaf Kyungsoo, hatinya terasa dicabik saat permintaan maaf itu seolah tak bermakna. Bagaimana bisa Kyungsoo meminta maaf setelah semua yang dilakukan padanya? Pada Sehun? Pada putranya? Bagaimana dia hisa meminta maaf jika semua kepedihan keluarga kecilnya terjadi karena tangan pria yang sedang menggenggam lengannya saat ini.
Membuat Luhan menghapus cepat air matanya dan melepas pegangan tangan Kyungsoo, berniat mengabaikan apapun yang diucapkan Kyungsoo saat ini.
Kyungsoo sendiri sangat tersiksa melihat sikap Luhan. Dan dari semua kemungkinan, inilah yang paling dia benci. Saat dimana rasa benci lebih buruk dari rasa sakit ditubuh, dan jika boleh memilih Kyungsoo lebih memilih mati saat ini juga daripada harus menerima kebencian Luhan. Membuat wajah memarnya yang begitu sakit terpaksa bertambah nyeri saat dia mencoba untuk berbicara pada Luhan.
"Kenapa kau membiarkan aku hidup hyung? Kenapa kau tidak membiarkan Kai membunuhku? Aku bersalah dan aku pantas menerima hukuman."
Luhan menatap marah pada Kyungsoo. Tertawa begitu jahat sebelum duduk di samping pria yang tiga jam lalu masih ia anggap sebagai adik namun tak lagi setelah tiga jam berharga itu telah berlalu dan kenyataan baru seolah menamparnya telak sebagai seorang kakak.
"Jadi benar kau melakukannya? Membunuh putraku?"
Tangan Kyungsoo mengepal bersamaan dengan pertanyaan Luhan yang menyayat hati. Suara kakaknya bahkan sangat bergetar. Antara marah dan kecewa berbaur satu di pendengaran Kyungsoo. Membuat keberaniannya untuk menatap Luhan hilang dan hanya digantikan dengan tatapan kosong tak berani menjawab Luhan.
"Soo... Kenapa kau tidak mengatakan sesuatu? Katakan padaku kau bukan orang itu? Kau bukan pembunuh putraku?"
"Soo!"
Luhan memaksa Kyungsoo berbicara, mendesak Kyungsoo untuk mengatakan kalimat pembelaan namun harus berakhir hancur karena Kyungsoo terus bungkam tak menjawab-...Seolah membenarkan bahwa dia adalah pembunuh Ziyu.
"Mianhae…"
"BERHENTI MENGATAKAN MAAF!"
Luhan menendang meja kecil di depannya. Menjambak kasar rambutnya dan tak berniat menahan emosinya lebih lama "KENAPA KAU MELAKUKANNYA? APA SALAH PUTRAKU? JIKA KAU MARAH PADAKU HANYA BUNUH AKU DAN JAUHI PUTRAKU SOO!"
"hyung…"
"ARRGGHHH…!"
Luhan terduduk di tepi ranjang, menghancurkan apapun yang berada di dekatnya. Terus berteriak kesakitan dengan rasa marah terlalu menguasai. Dan jika hati kecilnya tidak melarang. Mungkin Luhan sudah membunuh Kyungsoo sama seperti saat dia membunuh Kris beberapa waktu lalu.
Keadaan semakin mencengkam untuk Kyungsoo. Dia tidak bisa menjelaskan apapun, hanya menangis memohon untuk dibunuh agar Luhan tidak perlu kesakitan seperti ini. Kesalahannya adalah yang terburuk bahkan untuk dimaafkan. Membuat Kyungsoo menangis diam disana sementara Luhan masih berteriak sangat menakutkan di dekatnya. Dan saat tangisan Luhan melemah, saat itu pula Kyungsoo mengambil kesempatan untuk berbicara diiringi dengan isakan pelan kakaknya.
"Aku tidak tahu jika targetku adalah putramu."
Kyungsoo mulai berbicara sementara Luhan mulai mencoba untuk membesarkan hati mendengar penuturan Kyungsoo untuknya "Aku hanya mesin pembunuh yang berniat memberontak saat itu. Aku mengatakan tidak akan bekerja lagi untuknya dan hanya ingin mencari dimana kau dan Chanyeol hyung berada. Namun saat mendengar rencanaku-..Kris murka."
Nada itu penuh luka yang teramat dalam. Penuh ketakutan tanpa penyelesaian yang terus mengikuti kemanapun Kyungsoo pergi. Disaat dia mencoba baik-baik saja, maka ketakutannya semakin jelas terdengar. Membuat Luhan mulai mendengarkan berganti dengan Kyungsoo yang terdengar serak saat ini.
"Dan setelah aku mendesak. Kris setuju untuk membiarkan aku pergi, syaratnya hanya satu. Selesaikan korban terakhir dan kau bebas. Itu yang dikatakan Kris padaku, dan aku dengan senang hati mengatakan Ya. Tapi sungguh, aku tidak menyangka bahwa korban terakhirku adalah seorang anak kecil berusia lima tahun. Dan lebih buruknya lagi aku tidak tahu kalau malaikat kecil itu adalah-…. Putramu."
"Kris hanya memberikanku nama tanpa memberitahu status dan usia. Dan saat aku tahu korban terakhirku berusia lima tahun, aku menolak. Kris murka dan mengancam akan membakar panti asuhan kita. Aku terpaksa melakukannya. Barulah lima menit sebelum aku melakukan hal keji itu-…Aku melihatmu dan putra kecilmu. Aku melihat korban terakhirku berada di pelukanmu. Aku menjerit ketakutan namun suara kris tertawa terdengar sangat jahat. Dia terus mengatakan habisi korban terakhirmu sekarang! Aku menolak namun dia terus membunuh adik-adik kecil kita di panti asuhan dan saat itu-…."
"Saat itu semuanya terjadi begitu cepat. Aku mendengar tiga jeritan yang terus membunuhku setiap malam. Jeritan milikmu adalah yang paling menyakitkan. Dan saat itu aku tahu-…Selamanya aku akan menjadi pembunuh dan tak bisa kembali lagi padamu."
Keduanya begitu kesakitan saat ini. Dimana yang satu terus menceritakan kejadian sebenarnya sementara yang satu terus mendengar kenyataan yang begitu merenggut jiwanya. Terasa dicabik dan begitu panas. Luhan menangis dalam dia sementara cerita menyakitkan itu jelas telah membunuh Kyungsoo perlahan.
"Lalu apa kau berpura-pura tidak mengingat apapun untuk kembali padaku?"
Kyungsoo menggeleng memelas. Bayangan kejadian keji itu kembali teringat. Membuat untuk pertama kalinya dia memohon untuk mati daripada harus mengulang kejadian mengerikan malam itu.
"Di hari yang sama-…Kris mencoba membunuhku. Dia menyewa sniper terbaiknya untuk membunuhku. Namun beruntung hanya mengenai lenganku. Dan yang terjadi selanjutnya tubuhku juga terpental jauh ke jalanan. Kris melakukan cara yang sama dengan caraku melakukan hal keji pada putramu. Menabraknya kencang hingga tak bernyawa."
"Namun lagi-…Aku terus merasakan keberuntungan yang tak pernah pantas aku dapatkan. Tubuhku dibuang ke dasar jurang, tapi aku tetap bertahan. Dan detik berikutnya aku terbangun dan tak mengingat apapun. Disaat itulah kau datang menemukanku."
Luhan menghela dalam nafasnya. Merasa cukup mendengar kesakitan ini dan hanya berusaha tenang untuk menghadapi siapa pria di depannya "Setidaknya kau bertahan sementara putraku tidak." Katanya tertawa pahit membuat goresan menyayat kembali dirasakan Kyungsoo. Begitu bersalah dan sangat tak pantas dengan hidupnya saat ini.
"Lalu kenapa kau tidak membiarkan Kai membunuhku?"
"Karena itu terlalu mudah untukmu."
"huh?"
Luhan tersenyum dingin sebelum menatap Kyungsoo penuh kemarahan "Jika kau mati begitu saja kau tidak akan merasakan sakit. Pikirmu aku menyelamatkan dirimu dari kematian? Kau salah soo…Aku justru membawamu pada kematian yang sesungguhnya. Kematian dimana setiap kali kau melihatku kau akan kesakitan. Kematian dimana setiap kau melihatku kau menjerit meminta untuk dibunuh. Karena setiap kali kau melihatku kau akan mengingat perbuatan keji yang telah kau lakukan pada anak berusia lima tahun. LIMA TAHUN DO KYUNGSOO!"
Luhan menjerit marah sementara Kyungsoo terisak hebat. Hatinya begitu sakit mengira Luhan akan sedikit memaafkannya. Namun bukan maaf yang ia terima namun kebencian seorang ibu yang nyawa putranya telah direnggut dengan keji. Kyungsoo tahu dia pantas menerima semua kebencian ini. Tapi saat Luhan mengatakannya dengan jelas-…Hidupnya hancur. Dan benar ucapan Luhan. Ini adalah kematian Kyungsoo yang sesungguhnya.
"mian-haaarngghhhh-Mianhae hyung."
Kyungsoo terisak begitu memilukan. Namun Luhan yang sedang berdiri di depannya bukanlah Luhan yang akan memaafkan semuanya. Luhan yang berdiri di depannya adalah seorang ibu yang hatinya sedang terluka parah. Tidak akan memaafkan dan hanya akan membalas sebanyak dan sesakit mungkin dengan seluruh kemampuannya sebagai seorang ibu yang terluka.
"Mianhaaee hyungg…!"
"Aku bilang berhenti meminta maaf. Maafmu tidak akan bisa mengembalikan putraku. Maafmu tidak akan bisa mengobati rasa sakit yang aku dan Sehun rasakan selama satu tahun ini. maafmu hanya akan membuatku kesakitan. Jadi -…JADI BERHENTI MENGATAKAN MAAF . KAU DENGAR?!"
"hyungghmpphhh…"
Kyungsoo menggigit kencang bibirnya. Dia bahkan tidak bisa berkutik dengan kebencian Luhan. Hanya berusaha meminta maaf sebanyak mungkin walau sebanyak itu pula permintaan maafnya tak berarti apapun untuk Luhan.
"Soo…"
Kyungsoo mulai terlihat tenang saat Luhan berbicara lembut padanya. Mengira penyiksaan Luhan telah berakhir seolah menjadi harapan terbesar Kyungsoo saat ini.
"Ya hyung."
"Janggan panggil aku hyung lagi. Kau bisa memanggilku Luhan-…Hanya Luhan."
"aniya-…Hyung…"
"Jangan! Aku bilang jangan!."
Luhan membentak kasar adiknya. Hampir memukul Kyungsoo sebelum pandangan marah miliknya lebih menyakitkan daripada sebuah pukulan "Hyung.."
"KAU!-…Bagaimana bisa kau memanggilku hyung sementara kau adalah pembunuh putraku? Jadi berhenti mengatakan omong kosong padaku."
Luhan tak mempedulikan jeritan Kyungsoo. Menahan diri untuk tidak memeluk adik kecilnya dan hanya terus sibuk memeriksa denyut nadi Kyungsoo "Jangan terlalu banyak bergerak. Beristirahatlah. Jika kau membutuhkan sesuatu beritahu penjaga diluar. Aku pergi!"
"hyungg-…"
"JANGAN PANGGIL AKU HYUNG!"
Luhan kembali berteriak, menatap memperingatkan pada Kyungsoo sebelum mengatakan kalimat terakhirnya "Jangan pernah mencoba melarikan diri atau memutuskan semuanya sendiri! Mulai hari ini aku yang mengatur hidupmu. Hanya jalani hidupmu seperti sebelumnya-…Berpura-pura tidak melakukan apapun dan hanya bersembunyi di belakangku. Kau akan menyesal jika pergi atau melakukan hal bodoh. Mengerti?"
Dan setelahnya Luhan benar-benar pergi. Pergi dengan luka yang begitu menyakitkan di setiap hembusan nafasnya. Dia marah. Terlalu marah pada Kyungsoo, namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia tidak ingin siapapun menyakiti Kyungsoo. Tidak Sehun, Tidak Kai atau siapapun. Mereka semua tidak bisa menyakiti Kyungsoo tanpa izin darinya. Karena seperti yang Luhan katakan pada Kyungsoo Mulai hari ini dialah yang mengatur bagaimana Kyungsoo bisa menjalani hidupnya.
.
.
.
.
Lusa, 22.10 KST-…Incheon Airport
.
.
"Apa kau yakin ini cara terbaik untuk menyembunyikan Kyungsoo dari Sehun?"
Yang ditanya tersenyum lirih memandang putus asa pada Penjaganya. Tak tahu harus memberikan jawaban apa dan hanya mengangguk perlahan seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa rencananya adalah cara terbaik untuk mengulur waktu sebanyak mungkin.
"Entahlah Max. Aku juga tidak yakin."
"Kau pingsan enam kali dalam empat puluh delapan jam. Jadi aku rasa cara terbaik adalah memberitahu Sehun secepatnya. Kau kelelahan menanggung semua ini seorang diri Lu."
Ya-…Dua hari ini Luhan terlihat seperti mayat hidup. Tidak berekspresi dan hanya terus menangis, terkadang dia menjerit jika mengingat hal mengerikan. Lalu diam seketika dan berakhir tak sadarkan diri saat rasa lelah yang ia rasakan berada pada keterbatasan seseorang untuk bertahan dari semua rasa sakit dan lelah yang dirasakan secara bersamaan.
Dan mendengar Max mengingatkan betapa rapuh dirinya. Luhan tersenyum kecil, memandang kosong ke depan dengan wajah Sehun yang terus menghantui dirinya "Hey Max…"
"Ada apa Lu?"
Luhan terus menatap kosong ke depan. Menyembunyikan kedua tangan di saku mantel dan tersenyum lirih "Apa kau tahu? Saat aku memberitahu Chanyeol siapa Kyungsoo. Dia begitu marah, dia bahkan berniat untuk menyakiti adik kami sendiri."
"Dokter Park?"
"Mmhh…Park Chanyeol. Dia tidak pernah peduli pada Ziyu sebelumnya, Namun dia bereaksi diluar dugaan. Dia benar-benar akan menyakiti Kyungsoo jika Baekhyun tidak menahannya."
"Kenapa kau memberitahuku tentang dokter Park?"
"Karena aku ingin kau mengetahui satu hal. Jika seorang Park Chanyeol yang tidak pernah mempedulikan putraku terlihat begitu marah pada Kyungsoo. Lalu bagaimana dengan Sehun? Dia ayah dari putra kami. Dan aku rasa selain kemarahan, dia akan merasakan sakit yang begitu hebat dan berulang. Aku tidak siap melihatnya."
Max memandang Luhan yang masih menatap ke depan. Mengerti dengan sangat luka macam apa yang sedang dirasakan istri dari seorang Oh Sehun. Dia bisa menebak dengan baik jika kemarahan dan rasa ingin melindungi Kyungsoo sama besar untuk Luhan. Jadi wajar saja jika Luhan terkadang ingin menghabisi Kyungsoo namun terus berakhir dengan melindungi mantan kekasih Kai yang tak lain adalah pembunuh putranya.
Dan seolah tak ingin berdebat dengan Luhan. Max diam. Hanya terus memperhatikan tempat kedatangan Sehun sampai akhirnya sosok itu terlihat. Sosok kuat dengan aura kejamnya begitu terlihat saat pria itu melangkah. Membuat Max tersenyum kecil sebelum memberitahu Luhan yang masih mencari dimana arah kedatangan sang suami dengan tatapan kosong.
"Luhan…."
"hmmm.."
"Itu Sehun."
Deg!
Dan entah untuk alasan gila apa jantung Luhan berdebar sangat cepat. Mengikuti kemana arah Max menunjuk sampai akhirnya dia melihat sosok yang begitu ia rindukan. Sosok tampan yang terus berjalan tanpa mempedulikan sekitarnya.
Sehun menggunakan mantel panjang berwarna hitam sampai selutut. Mata musangnya tertutup kaca hitam legam yang ia gunakan dengan kaki jenjang bak model profesional terus melangkah menyusuri keramaian bandara.
Luhan tersenyum menyadari kesempurnaan fisik yang dimiliki suaminya. Membuatnya tanpa sadar ikut berjalan mendekat ke arah Sehun hingga langkah Sehun terhenti. Si pria tampan membuka kacamata hitamnya dan secara refleks tersenyum mendapati sang istri tengah berjalan mendekat padanya. Keduanya bahkan saling melempar tatapan lembut disertai dengan rasa rindu yang menggebu.
Tak sengaja Sehun menabrak seorang anak kecil saat keduanya sedang berjalan saling mendekat. Membuat si pria tampan mau tak mau berhenti berjalan dan membantu anak kecil berusia lima tahun itu untuk berdiri. Keduanya bahkan terlihat berbincang akrab sementara Luhan mati di langkahnya melihat pemandangan yang begitu familiar di depannya.
Pemandangan saat Sehun sedang membujuk Ziyu agar tidak menangis disertai tawa bulan sabit khas milik suaminya. Luhan bahkan tidak pernah melihat Sehun tertawa pada anak kecil lagi hampir satu tahun ini. Dan saat pemandangan indah itu tersaji di depannya. Maka rasa rindu bercampur emosi itu melebur menjadi satu dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Luhan tertawa mencibir ketidaksesuaian Sehun dengan pekerjaannya. Karena nyatanya mafia kejam itu hanya terlihat kejam diluar, Sosok Sehun adalah sosok seorang pria yang begitu mencintai keluarganya. Karena disaat Luhan ragu untuk mempertahankan kehamilan pertamanya, maka disaat itu pula Sehun berteriak dan bersikeras mempertahankan kehamilan Luhan. Dia bahkan terus menemani Luhan di masa kehamilan Luhan yang begitu sulit.
Disaat Luhan ragu maka Sehun ada untuk menguatkan. Disaat Luhan ketakutan maka Sehun ada untuk membuatnya berani. Dan saat keduanya memutuskan untuk menjadi orang tua bagi putra mereka. Maka mereka berdua adalah orang tua idaman untuk semua anak yang dilahirkan saat itu. Membuat Luhan menitikkan air mata begitu merindukan rasanya menjadi seorang ibu.
"Sayang?"
Dan saat suara berat Sehun terdengar. Maka rasa rindu Luhan semakin menjadi untuk prianya. Secara naluriah langkahnya pun menjadi cepat. Semakin cepat sampai
Grep…!
Luhan melompat ke pelukan Sehun. Membuat Sehun sedikit terhuyung namun tentu itu hanya goncangan kecil mengingat tubuh istrinya begitu mungil "Sehun…."
Luhan menggumamkan seluruh rasa rindunya pada Sehun. Namun diatas semua rasa rindu ada ketakutan begitu besar yang berusaha disembunyikan Luhan. Ketakutan mengenai bagaimana mereka menjalani hidup setelah ini jika Sehun tahu apa yang sedang Luhan sembunyikan.
"SEHUUUNNhhkksss…"
Membuat tanpa sadar Luhan menangis kencang sementara Sehun menatap Max dengan tatapan bertanya. Namun Luhan segera menenangkan diri saat merasakan Sehun memeluknya terlampau erat. Suaminya bahkan terus mengucapkan kalimat "tidak apa-apa" seolah mereka sedang bertengkar saat ini. Dan karena itu pula Luhan dengan cepat memutar otaknya. Mencegah pertanyaan "kau kenapa?" dari sang suami dengan terus memikirkan alasan sampai akhirnya dia mendongak menatap Sehun.
"Kenapa menangis sayang?"
Luhan tertawa kecil menjawab pertanyaan Sehun. Sedikit berjinjit untuk mengecup bibir Sehun sebelum melingkarkan kedua tangannya di leher si pria tampan "Aku tidak menangis. Aku sedang merengek."
"Merengek?"
"mmhh…"
"Tapi kenapa?"
"Tentu saja karena kau terlambat pulang."
"Aku pulang setelah lima hari sayang. Dan hari ini belum terlambat." Katanya mengingatkan Luhan dan mulai membalas kecupan dari si pria cantik. Memaksa Luhan untuk berterus terang sebelum Luhan membalasnya. "Aku tahu. Tapi kau terlambat sepuluh -ani- Kau terlambat lima belas menit."
Sehun pun terkekeh mendengar penuturan Luhan. Tidak menaruh rasa curiga sedikitpun dan hanya menghapus air mata tersisa di mata cantik istrinya.
"Maaf karena sudah pulang terlambat. Jangan menangis lagi sayang."
Luhan mengangguk cepat. Hampir kembali menangis saat Sehun dan seluruh perhatiannya kembali membuatnya jatuh cinta secara berulang "Aku sudah memelukmu. Jadi aku tidak akan menangis lagi."
"Benar. Aku bahkan sudah menciummu."
Dan bersamaan dengan pernyataan Sehun. Si pria tampan mulai merengkuh pinggang ramping istrinya. Mengeksplor bebas bibir sang istri dengan melumatnya lembut dan nyaris kehilangan kendali jika Luhan tak sedikit mendorong tubuhnya.
"Aku merindukanmu Lu."
"Aku jauh merindukanmu sayang." Timpal Luhan melingkarkan kedua tangannya di leher Sehun. Memaksa sang suami menunduk untuk menyatukan kedua dahi mereka. "Sehun…."
"mmhh…"
"Aku ingin honeymoon."
"Ingin apa?"
"Ingin honeymoon sayang. Apa kau tidak dengar."
"Aku dengar. Hanya saja ini hal baru mendengar kau menginginkan honeymoon. Kau selalu menolak sebelumnya." Katanya mengecup bibir sang istri sebelum merengkuh pinggang ramping istrinya "Sehuuuunn…."
"Baiklah kita akan segera honeymoon." Katanya menyetujui keinginan Luhan. Semakin merengkuh tubuh mungil Luhan sebelum Luhan mengelak dan mendorong tubuh tegap suaminya. "Ada apa?"
"Aku ingin honyemoon sayang."
"Tentu saja kita akan segera pergi honyemoon."
"Tidak segera…Tapi sekarang. Max bawakan koperku?"
Luhan mengerling Max yang berdiri di belakangnya. Melenggang memasuki ruang check in dan meninggalkan Sehun yang dibuat takjub oleh kekuasaan istrinya.
"Sekarang?" katanya bertanya pada Max. Dan Max tentu saja hanya bisa tertawa lucu melihat ekspresi Sehun yang jelas tak bisa menolak keinginan istrinya.
"Sekarang bos." Timpal Max membuat Sehun mengangkat kedua tangannya seolah menunjukkan dia tidak memiliki persiapan apapun "Tapi aku belum menyiapkan apapun."
"Nyonya besar sudah mengurus semuanya. Hotel dan pakaianmu semua sudah siap."
Max menepuk koper besar yang sengaja dibawa Luhan. Membuat Sehun tertawa kecil menyadari bahwa selamanya dia hanya mengikuti kemauan satu orang di dunia ini-…istrinya.
"Kemana Luhan ingin pergi."
Kali ini Max mengangkat dua tiket yang berada di tangannya. Membuat Sehun sedikit bertanya sebelum suara Max terdengar memberitahunya "Jeju."
"Jeju? Pulau Jeju?"
"mmhh… Luhan bilang ingin membuat adik Ziyu disana-..ah mulutku-"
Max merasa aneh dengan kalimat membuat adik. Karena memang dia belum pernah melakukan hal-hal yang berkaitan dengan dua orang yang saling berhubungan intim. Membuat rasa canggung di mulutnya begitu terasa sebelum
Sret..!
Sebelum Sehun mengambil dua tiket di tangan Max. Dia bahkan mengambil alih koper yang dibawa anak buahnya dan menukar dengan kopernya selama dia berada di Tokyo. "Cepat cari kekasih dan buatlah anak sebanyak mungkin. Aku rasa aku tidak keberatan jika anakku yang akan menjadi seorang raja berteman dengan anakmu."
Dan selangkah berikutnya, Sehun meninggalkan Max. Membuat si kaki tangan mencibir karena daripada menasihati, bosnya terdengar menyindir tentang status forever single untuknya "Dasar sombong."
Max tertawa kecil mendengar cibiran yang ia lontarkan untuk Sehun. Merasa begitu iri pada kisah cinta Sehun dan Luhan dengan mata yang terus menatap sosok terkuat di tempatnya bekerja. Dia terus melihat sosok Sehun yang semakin menjauh, kali ini tersenyum seolah mendoakan. Berdoa untuk kehidupan rumah tangga Sehun dan Luhan agar terus bertahan sampai rambut keduanya berubah warna. Sampai mereka memiliki anak dan cucu yang begitu menyayangi mereka hingga maut datang dan memisahkan kedua insan yang begitu Max hormati.
Karena entah apa yang akan terjadi setelah semua mimpi buruk ini datang menghampiri Sehun. Mimpi buruk dimana cepat atau lambat Sehun akan tahu mengenai kebenaran pahit yang akan menyakitinya. Dan karena alasan itu pula Luhan memaksakan diri untuk membuat perjalanan manis untuk suaminya.
Perjalanan yang bertujuan mengulur waktu mengingat Kai belum kembali dan tanpa kabar hingga malam ini. Dia takut Kai tiba-tiba datang lalu memberitahu Sehun tentang Kyungsoo Luhan tidak menyukai hal itu. Karena satu-satunya orang yang bisa memberitahu Sehun tentang Kyungsoo hanya dirinya. Dan karena alasan itu pula Luhan membawa suaminya menjauh dari Seoul, menjauh dari keramaian-…dan menjauh dari kenyataan yang akan membuat suaminya merasa begitu kesakitan.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
Di CUT disini pemirsah….en egen!
Jangan negatifan sama Entangled. Ini ga serumit cinta fitri. Serius deh. Dan berita bagusnya ini tinggal beberapa chap kkkk.
.
Okey! Ketemu di chap selanjutnya. Mudah2an ga smpe dua minggu :"
Bubaaay..
.
Happy reading review :*
