Previous….
Karena entah apa yang akan terjadi setelah semua mimpi buruk ini datang menghampiri Sehun. Mimpi buruk dimana cepat atau lambat Sehun akan tahu mengenai kebenaran pahit yang akan menyakitinya. Dan karena alasan itu pula Luhan memaksakan diri untuk membuat perjalanan manis untuk suaminya.
Perjalanan yang bertujuan mengulur waktu mengingat Kai belum kembali dan tanpa kabar hingga malam ini. Dia takut Kai tiba-tiba datang lalu memberitahu Sehun tentang Kyungsoo Luhan tidak menyukai hal itu. Karena satu-satunya orang yang bisa memberitahu Sehun tentang Kyungsoo hanya dirinya. Dan karena alasan itu pula Luhan membawa suaminya menjauh dari Seoul, menjauh dari keramaian-…dan menjauh dari kenyataan yang akan membuat suaminya merasa begitu kesakitan.
.
.
.
.
Entangled
Main Cast : Sehun & Lu Han
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
Jeju-…Satu jam kemudian
.
"Astaga sayang. Aku sudah memesan hotel. Lalu untuk apa kita di cluster mewah ini?"
Yang diprotes hanya terus memeluk tubuh mungil istrinya. Sengaja membuka pintu belakang cluster yang langsung menghubungkan keindahan pantai dengan tempat tinggal mereka. Sehun tersenyum kecil melihat eskpresi Luhan yang begitu menggemaskan. Sengaja melingkarkan kedua tangannya di pinggang Luhan dengan dagu yang bertumpu di pundak istrinya. "Kau suka?"
Luhan seolah takjub dengan pemandangan malam di depannya. Pandangan yang begitu temaram khas suasana desa dengan bunyi ombak yang begitu menenangkan. Membuat mau tak mau dirinya terhipnotis dan memeluk tangan Sehun yang tengah mendekap erat dirinya "Ini sempurna."
"Hanya kau yang paling sempurna untukku."
Luhan mencibir mendengar bualan suaminya. Sedikit tertawa sebelum menoleh ke belakang untuk mengecup bibir tipis suaminya "Berhenti membual."
"Aku tidak."
Luhan kembali tertawa sebelum menyandarkan kepalanya di dada bidang Sehun. Menikmati semilir angin dengan lengan Sehun yang terus mendekapnya erat seolah tak menginginkan rasa dingin menyakiti kulitnya "Kau menyewa tempat ini?"
"ani-….Aku membelinya."
"Astaga! Lalu kapan kau menyiapkan semua ini?"
"Lima menit setelah kita mendarat di bandara."
"Ck…! kau terdengar seperti Oh Sehun."
"Kenapa? Kagum padaku?"
"Selalu sayang. Aku selalu mengagumimu. Kau tahu kenapa?"
"Kenapa?"
Luhan kembali melirik suaminya. Kali ini membalikan tubuhnya sebelum melingkarkan kedua tangan di leher Sehun. Menatapnya penuh cinta sebelum kembali berbicara "Karena sebanyak apapun aku berusaha untuk membuatmu bahagia. Kau akan selalu berakhir mengejutkan dan lebih banyak membuatku bahagia. Aku menyukainya Sehun. Sangat menyukainya."
Sehun tersenyum lirih sebelum menatap Luhan dengan menggoda "Jadi apa kita akan membuat adik Ziyu sekarang?"
"hell-….YA!."
Dan tanpa menunggu lama. Luhan memulai terlebih dulu pemanasan percintaan mereka. Sedikit berjinjit untuk menggapai bibir suaminya dengan tangan yang melingkar sempurna di leher Sehun "Sayang…."
Sehun sengaja mendongakan kepalanya. Membuat erangan tertahan terdengar dari bibir sang istri yang marah karena Sehun dengan sengaja membuatnya menunggu. "Ada apa lagi." Tukasnya tak sabar. Sehun kembali tertawa sebelum menutup pintu balkon dari cluster yang sengaja ia beli untuk honeymoon kali ini. "Siapa saja bisa lewat jika kita bercinta di luar."
"Aku tidak peduli!"
"Sayangnya aku peduli-…Tubuhmu hanya milikku"
Sehun sengaja mengangkat tubuh Luhan. Membuat kaki Luhan secara refleks melingkar di pinggul suaminya. Dia bahkan terus mengecupi leher Sehun sementara Sehun masih sibuk menutup pintu cluster mereka. Membuat Luhan kembali mengerang kesal karena Sehun tak kunjung membalas ciumannya "Sayang ayolah!"
"araseo…Kenapa baby tidak sabar hmmm."
"Berisik!"
Dan saat Sehun membaringkannya di ranjang super mewah dan nyaman itu. Tangan Luhan mulai bergerilya, melepas satu persatu kancing kemeja suaminya sementara kali ini Sehun yang mengecupi leher istrinya. Keduanya bahkan tidak mempedulikan peluh yang membasahi mereka. Yang mereka inginkan hanya menyatu dan saling merasakan nikmat.
Dan karena alasan itupula Luhan bertindak agresif malam ini, berusaha untuk menjadi dominant walau akhirnya harus mendesah di bawah kungkungan pria tampannya.
"nghh…."
Jika Luhan kesulitan dengan kemeja Sehun. Maka hal berbeda di tunjukkan oleh "Si perobek pakaian". Karena tanpa kesulitan sama sekali Sehun berhasil membuat sang istri bertelanjang dada, dan tak hanya itu Sehun bahkan dengan lihainya membuat seluruh tubuh si pria cantik mati rasa hanya karena jilatan dan kecupan bertubi di sekitar leher dan pundak bak kaca porselen milik istrinya. "My Goddess.."
Luhan merasa tersanjung mendengar pujian dari suaminya-…Calon ayah dari anak-anaknya kelak. Membuat rasa percaya diri seketika dirasakan si pria cantik yang mulai membalas kecupan demi kecupan di pundak kekasr suaminya "Aku benar-benar ingin menyatu denganmu sayang."
Suaranya terbata dengan nafas berat sarat dengan nafsu. Dia bahkan sengaja menghembuskan nakal nafasnya berulang berharap Sehun tak lagi menggodanya dan hanya menjalankan kewajibannya sebagai suami yang akan membuatnya kembali menjadi seorang ibu.
"Dua minggu aku tidak menjamahmu. Jadi bersabarlah sedikit karena aku tidak ingin melewatkan apapun sayang."
Balasan yang begitu menggairahkan diucapkan oleh Sehun. Membuat tubuh sempurna Luhan menggeliat tak sabar sesekali sengaja menekankan dua kejantanan mereka agar menimbulkan sensasi luar biasa yang bisa membuat keduanya menggila dalam hitungan detik.
"Perasaanku saja atau dua tonjolan kecil ini semakin menggemaskan-…mmmhhh.."
Luhan nyaris memekik saat dua tonjolan kecilnya dihisap kuat oleh Sehun. Hampir berteriak bahwa dia kalah karena sensasi bergairah ini sebelum mengendalikan diri dan menantang Sehun untuk menghisapnya semakin kuat "Ini semakin kenyal." Timpalnya menekan kepala Sehun semakin dalam. Sengaja memberi akses pada Sehun agar kedua nipple nya secara bergantian dimainkan, dihisap dan dijilat oleh bibir tipis suaminya. "Kau benar…Ini semakin kenyal dan nikmat."
Dan dengan senang hati Sehun kembali berganti menghisap tonjolan kesukaannya. Menghisapnya semakin kuat hingga membuat Luhan tersiksa terlihat dari caranya menjambak rambut Sehun namun semakin kuat menekan ke dalam.
"Sayang…nghhh.."
Dan tak ada yang membuat Luhan semakin bergedik selain tangan kekar suaminya yang mulai mengeksplor dan bergerak semakin ke bawah. Mengusap paha dalam kali ini, tangan besar itu bahkan dengan sengaja melewati junior yang tengah berdiri sempurna dan hanya terus meraba paha dalam secara bergantian "Sabar hmm… Sebentar lagi aku akan memanjakanmu sayang."
Sehun menjawab kegelisahan Luhan. Dibukanya lebar paha sang istri namun tetap mengabaikan penis tegang menggemaskan yang menjerit meminta untuk segera dijamah. "Apa aku harus mengulumnya? Atau-…Haruskah aku tidak menyentuhnya?"
Sehun kembali menggoda Luhan. Perhatiannya pada nipple yang tegang itu kini teralihkan pada pusar Luhan. Dia terus mengecup di bawah perut Luhan namun terus mengabaikan penis istrinya yang terlihat sangat ingin dijamah "Sehun….!"
"Wae?" katanya bertanya polos namun tidak dengan tangannya. Jika bibirnya terus bertanya bodoh maka tangannya sudah melakukan tugasnya sedari tadi. menjamah dan menggoda. Dua hal itu terus dilakukan jemari tangan Sehun yang besar dan kekar. "Cepat aku-hhhh…"
"Kau kenapa sayang?"
"Nggh-ahh!"
Tubuh Luhan terangkat saat tangan besar Sehun memegang penisnya yang telah terangsang. Sensasi tak nyaman namun nikmat ia rasakan saat tangan suaminya mulai bergerak seirama dengan ciuman yang semakin menuntut di kedua nipple nya "Ziyu pasti iri padaku."
"Oh Sehun kau!-…Bisa-bisanya kau membawa nama putramu di saat seperti ini-haah"
"Memangnya tidak boleh?"
Sehun sengaja menghentikan gerakan tangan dan bibirnya, mengerjap dibuat polos hingga membuat raut tak sabar terlihat di wajah Luhan yang kian semakin dibuat tak tahan dengan cara Sehun menggodanya.
"Boleh…Tentu saja boleh! Hanya cepat lakukan yang harus kau lakukan."
Luhan kembali menekan kepala Sehun. Membuat Sehun dengan senang hati mengecup dua tonjolan kecil milik istrinya dengan rakus. Menghisapnya kuat, memelintirnya dengan lidah sebelum menggigit gemas dengan tangan yang bebas bergerak ke seluruh tubuh mulus istrinya.
Namun kali ini Sehun sedikit tidak sabar menurunkan boxer yang masih ia gunakan. Hingga terlihatlah kejantanan yang memiliki ukuran berbeda jauh dengan sang istri. Membuat Luhan untuk kesekian kalinya hanya bisa memuja betapa perkasa pria yang telah menjadi suaminya ini.
"ck…"
"Kenapa? Iri?"
"Omong kosong! Cepat masukkan."
Luhan bahkan terdengar merengek, terlihat sangat tidak sabar membuat kekehan mengejek terdengar dari Sehun "Jika tidak sabar harus memohon bukan mengumpat sayang." Katanya menyatukan dahi mereka dengan tangan yang meraba ke bawah. Sehun memegang penisnya sebelum mendekatkan ke penis Luhan. Dan dengan tangan besarnya dia mulai membuat gerakan naik turun pada dua penis yang berada di genggamannya.
"nghhh….Sayang."
Keduanya meracau menikmati sensasinya. Untuk Luhan dia sebenarnya tidak terlalu menyukai saat Sehun menggunakan tangannya untuk menangkup penisnya dengan tangan besarnya, seolah menyatakan bahwa ukuran mereka memang sangat berbeda dan menurut Luhan ini menjengkelkan walau rasanya sungguh luar biasa "Aku tidak ingin tanganmu. Aku ingin-..AH!"
Sehun tidak mengindahkan protes dari istrinya. Tangannya terus mengocok miliknya dan milik sang istri dalam tempo dan gerakan yang sama, hingga akal sehat tak lagi dirasakan keduanya. Sementara tangan Sehun terus mengocok cepat maka bibirnya kembali meraup rakus bibir mungil sang istri, tak membiarkan suara protes kembali terdengar dengan mencium dalam sedikit memutar lidah Luhan agar bertaut dengan lidahnya.
Seluruh rasa panas di cluster mewah ini begitu nikmat untuk keduanya. Luhan tidak bisa menggambarkan bagaimana dia memuja cara Sehun dalam memanjakannya. Mafia keji yang merupakan suaminya ini bahkan sangat berhati-hati, memastikan bahwa semua yang ia lakukan membuatnya merasa bahagia.
Tentu saja Luhan bahagia. Walau semua kenyataan pahit menunggu setelahnya, setidaknya saat ini Sehun berada di pelukannya. Setidaknya dia memastikan sendiri bahwa tak ada yang membuat sang suami terluka. Karena hanya di pelukannya Sehun selalu merasa aman dan bahagia dan karena alasan itu pula Luhan memutuskan untuk selalu mencampuri apapun yang Sehun lakukan mulai saat ini.
Dan semua ketakutan Luhan seolah hilang begitu saja saat kenikmatan tak terucap menunggunya detik ini, membuat cengkramannya menguat di pundak kekar milik suaminya sebelum "Sehunnggggghhh!"
Luhan mencapai klimaks pertamanya hanya karena Sehun memegangnya dengan tangan besar miliknya. Rasa malu itu bahkan menghilang digantikan dengan tatapan menginginkan lebih dari mata rusanya.
Sehun mengerti keinginan Luhan. Dia bahkan sengaja membersihkan sisa-sisa klimaks Luhan dengan menjilatnya menggoda membuat Luhan sedikit kesal sebelum menarik lengan Sehun dan mulai duduk di atas suaminya "Wae? Ingin bermain on Top?"
"Ani. Aku ingin mengulum lolipop miliiku." Katanya membuat Aegyo sebelum merangkak ke bawah hingga wajahnya dan penis yang tengah tegak menantang itu bertemu pandang. Luhan menatap antara bernafsu, iri dan takut. Bernafsu karena tak sabar merasakan penis besar itu menghujam ke dalam dirinya. Iri karena ukuran mereka benar-benar berbeda dan takut membayangkan bagaimana penis sebesar dan setegang itu bisa menerobos masuk ke rektumnya yang sempit. Membuat Luhan sedikit bertanya-tanya sebelum tangan Sehun mendorong kepalanya agar cepat mengulum penisnya.
"Jangan hanya dilihat sayang. Dia liar." Katanya berbisik bangga membuat Luhan sedikit mencibir sebelum membuka mulutnya bersiap memakan "lolipop" nya.
Luhan semakin menundukkan kepalanya, menjilat penis sang suami hingga terdengar desahan tertahan Sehun yang terlihat menikmatinya. Dilumuri penis besar itu dengan salivanya hingga terlihat basah dan semakin menggoda. Mulut mungilnya berusaha "memakan" sebanyak-banyaknya penis milik suaminya. Namun seberapa keras dia mencoba dia hanya akan bisa melahap setengah dari penis Sehun yang begitu panjang dan besar. "Lu…ngghhh"
Luhan tersenyum mendengar desahan suaminya. Membuat hisapannya semakin kuat semantara giginya juga ia gunakan untuk memanjakan suaminya. Sesekali ia menggunakan giginya untuk menggesek penis Sehun hingga otot-otot di penis suaminya semakin terlihat tegang dan berwarna merah tanda bahwa Sehun akan segera mencapai klimkasnya.
Sementara Luhan sibuk dengan "lolipop" nya. Maka di atas sana Sehun mengumpat tak tahan dengan sensasi yang begitu membuatnya gila. Dia bahkan memperhatikan sendiri bagaimana lihainya Luhan mengeluar masukkan penisnya ke dalam mulut mungilnya. Membuatnya benar-benar bergairah tak tahan dan memutuskan untuk menyudahi permainan Luhan di bawah sana.
"Sayang! Aku belum selesai." Luhan menyuarakan suara protesnya yang diabaikan begitu saja oleh sang suami. "Aku sudah tidak bisa menahan lagi." Katanya memegang penis besarnya yang masih berkedut hebat, tak sabar ingin memanjakannya dengan mendekatkan ke lubang kecil yang sedang ia persiapkan sementara Luhan kembali harus menggeliat saat kali ini ketiga jari suaminya sedang bergantian keluar masuk ke dalam lubangnya.
"hmmhh…"
Luhan sudah kembali terbawa suasana, menikmati tusukan jari suaminya sampai sesuatu yang lebih besar dan keras menggantikan ketiga jari suaminya "SEHUN!"
"Maaf sayang. Tapi seperti ini lebih nikmat."
Sehun tertawa pelan melihat ekspresi Luhan saat menahan sakit, dan seolah tak ingin lebih lama membuat istrinya kesakitan dia mulai bergerak mengabaikan rasa tak nyaman yang masih terlihat di wajah si pria cantik.
Awalnya bergerak tak beraturan, masih mencari posisi nyaman untuk penisnya yang menumbuk lubang istrinya. Wajah Luhan juga masih meringis tak nyaman dengan tangan yang mencakar pundak suaminya. Keduanya masih mencari kenikmatan di setiap gerakan mereka sampai akhirnya Sehun menumbuk tepat mengenai sesuatu yang membuat Luhan menggelinjang-…Mengangkat tubuhnya.
"Ahhh….."
"Disanakah?"
"Sayangghhhh…Deepeerr…"
Seringai puas juga terlihat di wajah tampan yang kini penuh dengan peluh. Seolah tak berbaik hati, Sehun mengeluarkan seluruh penisnya sebelum membalikan tubuh Luhan. Meminta Luhan untuk menungging dan dengan senang hati Luhan bertumpu di kedua lututnya. Tak sabar ia pun menoleh ke belakang, begitu berdebar saat melihat adegan erotis saat Sehun mengocok penisnya sendriri sebelum kembali mendekatkan ke lubangnya dan
"AHhhh….."
Keduanya memekik berlawanan, jika Luhan harus kembali merasakan sakit maka Sehun hanya bisa merasakan kenikmatan luar biasa saat penterasi ia lakukan. Penisnya terasa di jepit begitu beraturan dan setiap ia melakukan pergerakan maka sensasi nikmat selalu terasa setiap dia menghujam kuat.
Sleb…!
"mmhhh…Baby…Sehunn—AHH!"
"Sudah merasa nikmat baby?"
"aahhhh….hmmmhh…"
Dagu Sehun bertumpu di pundak Luhan, berbisik erotis sementara penisnya bergerak semakin liar di bawah sana. Luhan ingin sekali menjawab bisikan suaminya, namun sungguh-…Rasa panas yang dirasakan lubangnya membuat hanya desahan yang bisa ia keluarkan untuk menjawab semua pertanyaan Sehun.
"Call me daddy Lu."
"Huh?"
"Anak nakal tidak mau memanggil daddy?"
"Daddy? Kenapa harus dad-..AHH-.."
Luhan menggelengkan kuat kepalanya. Tangannya mencengkram seprai di bawahnya. Nafasnya semakin memburu tatkala Sehun memajukan pinggal Luhan bersamaan dengan saat ia menghujamkan penisnya. Membuat Luhan benar-benar terbakar dengan gairah yang diberikan suaminya.
"Call me daddy sayang. Lulu masih tidak mau-…"
"DADDY! Ahh-…Dadddy!"
"aw…So cheessy!"
Sehun memekik senang dan mulai membenarkan posisi Luhan, dia mengangkat tinggi bokong istrinya dan mulai memukul kedua bongkahan kembar hingga terlihat warna merah di kedua sisi bokong seksi milik istrinya.
Slap!
"Ish…Daddy appo—Aahh..'
"Sebentar lagi akan nikmat sayang." Katanya semakin menghujam dalam lubang istrinya. Penisnya terus berkedut tak sabar mengeluarkan lahar panas yang bisa membuat dirinya dan Luhan kembali menjadi orang tua sesungguhnya.
Suara khas percintaan mereka bersatu dengan deru ombak di laut, semilir angin bahkan bisa Luhan rasakan jika Sehun tak bersikeras menutup jendela pemandangan indah di cluster yang suaminya pesan. Sungguh-….Honeymoon mereka bisa dikatakan dadakan. Namun semua terasa begitu sempurna saat seorang Oh Sehun turut campur tangan. Liburan mereka kali ini bahkan lebih indah dari liburan saat pertama kali mereka resmi menjadi sepasang suami isteri.
"Hmmm…deeeper sayang."
"Daddy Lu. Bukan sayang."
"Ah benar-…dad-…Sehunna~ahhh."
Kenikmatan kembali Luhan rasakan saat tangan besar Sehun menangkup penisnya yang sudah berkedut tak sabar mencapai klimaks keduanya. "Apa yang kau lakukan daddy—hmmhhh"
"Membuat putra daddy mendesah hebat."
"Aaaahh….Sayang ini sangat-…aah"
Dan bukan seorang Oh Sehun jika tidak bisa memanjakan istrinya. Gerakannya menghujam dan mengocok memiliki tempo yang sama cepat dan menuntut. Membuat Luhan begitu lemas dan merasa ada berbagai kupu-kupu di perutnya. Sensasi geli saat dua bagian tubuhnya dijamah adalah hal yang menyenangkan ditambah sesekali Sehun menghisap nipple nya hingga hanya rasa nikmat yang Luhan rasakan.
"Sayanghhh deep…hard….Aahhh…"
Cengkraman Luhan di seprai nya semakin melemah. Tangannya tak bisa lagi menopang posisi menungging jika tangan kiri Sehun tak melingkar sempurna di perutnya-..Menahan agar posisi Luhan tetap menungging.
Dan mengerti akan kebutuhan istrinya. Sehun pun semakin mempercepat dua gerakannya. Dan jujur saja, sensasi saat Luhan ingin mencapai klimaks adalah hal yang paling membuatnya merasakan nikmat karena jepitan dinding rektum istrinya semakin menguat seiring dengan hujaman keras yang ia berikan.
"Sehun aku sampai—Aaahhh Sehunnaa."
Bersamaan dengan mendesahkan nama suaminya. Luhan mencapai klimaks keduanya tepat di tangan Sehun. Membuat Sehun semakin menggila saat Luhan dengan sengaja mengetatkan lubangnya menjerat sensasi nikmat untuk penis Sehun yang berkedut.
Sehun sengaja menahan tubuh Luhan agar tetap pada posisinya. Melingkarkan tangannya di perut Luhan dan berniat mencapai klimaks pertamanya dengan sempurna. Memastikan bahwa posisi Luhan akan menerima cairan sperma nya tanpa keluar berceceran sedikitpun.
Luhan sendiri hanya pasrah saat Sehun memposisikan dirinya, masih terbuai dengan klimaks yang baru ia rasakan sebelum
"Aaahh..Sehunna.."
Dia kembali menoleh ke belakang. Melihat mata Sehun terpejam erat tanda ia sedang menikmati klimaksnya sementara rasa panas ia rasakan saat sperma sang suami masuk jauh ke dalam tubuhnya. Sehun menggoyangkan sedikit tubuhnya, memastikan seluruh spermanya telah membasahi sang istri sebelum membuka mata dan kali ini terjatuh tak bisa lagi menopang tubuhnya dan tubuh Luhan.
"Kau lelah?"
Luhan tertawa gemas saat nafas terengah Sehun begitu terasa di lehernya. Dia bahkan harus pasrah saat tubuh kekar itu kembali menindihnya masih belum mengeluarkan kejantanan yang masih terasa membesar di dalam lubangnya. "Sayang. Aku tahu kau lelah."
Luhan mencoba membalikan tubuhnya, namun si pria tampan enggan berbalik, hanya menggeser tubuhnya namun tak mau mengeluarkan penisnya yang masih terasa berkedut "Aku tidak lelah."
Luhan tertawa mendengar ucapan suaminya. Memaksakan diri untuk menatap suaminya hingga terdengar erangan protes karena Sehun masih enggan mengeluarkannya "Kemari." Katanya membawa Sehun bersandar di dadanya. Menaikkan selimut hingga menutupi tubuh polos mereka sebelum mendekap erat suaminya besar ke pelukannya "Kita bisa melanjutkan besok pagi sayang." Katanya mencium pucuk kepala Sehun.
Si mafia tampan menolak pada awalnya. Tapi saat tangan lembut Luhan mengusap kepalanya, maka Sehun menyerah pada rasa lelah dan nikmat yang baru saja ia rasakan. "Aku masih merindukanmu."
"Aku juga sayang. Tapi kita bisa melanjutkannya besok. Hari kita masih panjang disini hmm."
"Baiklah…."
Dan setelahnya Sehun bersandar semakin dalam di dada istrinya, mencari posisi nyaman hingga akhirnya terdengar suara dengkuran halus. Dan untuk Luhan ini bukan hal sulit membuat suaminya tertidur, yang perlu ia lakukan hanya mendekap dan mengusap lembut punggung serta kepala Sehun. Jika dua hal tersebut sudah ia lakukan, maka Sehun akan menyerah dengan rasa nyamannya. Lebih memilih untuk memejamkan mata daripada melewatkan rasa nyaman yang hanya bisa diberikan oleh istrinya.
"Aku tahu kau lelah, maaf memaksamu untuk datang kesini sayang. Aku terpaksa."
Luhan bergumam sangat kecil. Terus mengusap punggung suaminya dengan pikiran kosong yang kembali ia rasakan, entah apa yang akan terjadi setelah hari ini dia selalu bertanya. Luhan hanya tidak ingin Sehunnya terluka, dan karena alasan itu pula dia akan melakukan segala cara untuk melindungi Sehun-… Segala cara termasuk mengulur waktu dan menjauhkan Sehun dari jangkauan Kyungsoo.
"Aku hanya ingin kau bahagia lebih lama lagi."
.
.
.
.
.
.
Cklek…!
"Kyungsoo…!"
Yang dipanggil hanya menatap samar pada sosok yang datang berkunjung ke apartemen Luhan. Jika di dengar dari suaranya pria cantik yang memanggilnya dengan nada cemas itu pun terlihat begitu menghkhawatirkan dirinya. Berbanding terbalik dengan pria tampan yang mengikuti si pria cantik-…Terilhat marah dan tidak peduli padanya.
"Baek Hyung…"
"Astaga…Apa yang kau lakukan? Dan obat apa ini?"
Baekhyun membuang kotak obat yang digenggam Kyungsoo. Mencoba membantu Kyungsoo berdiri namun gagal karena tak cukup kuat menahan berat tubuh adik Luhan dan kekasihnya. "Soo….Sayang cepat angkat Kyungsoo!" Baekhyun berteriak pada Chanyeol. Namun alih-alih membantu, si pria berlesung pipi hanya terus diam tak melakukan apapun.
"Kenapa kau harus membantunya sayang? Dia ingin mati jadi biarkan dia-…"
"PARK CHANYEOL!"
Dan saat Baekhyun berteriak marah, saat itupula Chanyeol tak berniat lagi membuat masalah semakin besar, dia mengambil alih Kyungsoo dari kekasihnya, sedikit iba menatap adiknya sendiri sebelum ingatan akan tangisan Luhan kembali memenuhi kepalanya. Tangisan penuh luka saat menceritakan siapa Kyungsoo padanya "hyungg…"
Kyungsoo memanggil Chanyeol begitu lirih. Berharap Chanyeol membalas panggilannya namun hanya kemarahan yang bisa ia lihat di wajah tegas kekasih Baekhyun di depannya "ck! Aku bukan hyungmu!"
Setelah mengatakan kalimat menyakitkan itu, Chanyeol mengangkat bridal tubuh Kyungsoo. Membawanya ke tempat tidur terdekat dan membaringkannya begitu saja "Kau harusnya tahu betapa menderitanya Luhan saat hal mengerikan itu terjadi. Kenapa kau melakukannya soo? Kenapa kau tega-…"
"Sayang! Kita sudah membuat kesepakatan untuk tidak membicarakan hal ini. Luhan meminta kita untuk menjaga Kyungsoo. Bukan menyakitinya."
Baekhyun menarik kasar lengan kekasihnya. Nyaris berteriak kalau dia tidak ingat betapa terlukanya Luhan dan Chanyeol karena kenyataan mengerikan tentang adik mereka. Baekhyun menyesal berteriak pada kekasihnya, berniat menghampiri Chanyeol sebelum Chanyeol melangkah jauh darinya "Sayang…Kau sudah berjanji untuk-…"
"Aku tahu. Tapi ini masih sulit untukku dan Luhan. Hanya berikan kami waktu untuk menerima monster macam apa yang sedang kau lindungi!" katanya berjalan menjauh sebelum
BLAM….!
Chanyeol membanting kasar pintu kamar Kyungsoo. Meninggalkan Baekhyun yang terlihat ingin menjerit putus asa sementara Kyungsoo hanya bisa merasakan luka lebih dalam mengetahui bahwa tiga orang yang menjadi alasannya bertahan hidup begitu membencinya di waktu bersamaan. "Kau harusnya membiarkan aku mati hyung."
Baekhyun mendengar ucapan lirih dari Kyungsoo. Berada di posisinya adalah hal yang membingungkan, disatu sisi dia ingin mengejar sang kekasih namun di sisi lain dia begitu tidak tega melihat keadaan Kyungsoo yang begitu lemah dan tak berniat hidup. Membuat sisi lainnya sebagai dokter menuntut untuk tetap berada di sana dan membuat keadaan Kyungsoo menjadi lebih baik.
"Aku akan memasang infus padamu."
Kyungsoo mengelak saat Baekhyun menggenggamnya. Tak mau menerima pengobatan apapun sampai tangan Baekhyun kembali memaksa menggenggamnya, kekasih Chanyeol itu bahkan tanpa ragu menyuntikkan jarum sebelum memasang infus yang sengaja ia bawa saat penjaga Luhan memberitahu keadaan Kyungsoo beberapa saat lalu.
"Aku baik-baik saja. Kekasihku dan kedua kakakku yang terluka."
"Berhenti bicara Soo. Kau harus segera tidur." Baekhyun mengabaikan racauan Kyungsoo, terus memeriksa denyut nadi adik kekasihnya sebelum suara pintu terbuka. Kali ini Max yang terlihat datang mendekati mereka.
"Bagaimana keadaannya?"
"Kondisinya sangat buruk. Jika cairan infus ini tidak membuatnya lebih baik kita harus segera membawanya ke rumah sakit."
Max tak sengaja bertatapan dengan Kyungsoo, menatapnya sedikit iba sebelum kembali melihat pada Baekhyun "Baiklah. Hubungi aku jika dia harus di rawat di rumah sakit."
"Aku akan memberitahumu. Mmhh..Bagaimana Luhan? Apa dia sudah pergi?"
"Luhan dan Sehun mungkin sudah berada di Jeju saat ini. Keputusannya tepat untuk membawa Sehun menjauh dari Seoul. Situasi kami juga sedang buruk." Katanya tertawa pahit mengingat kepergian Kai sedikit banyak membuat beberapa bisnis mereka mengalami kerugian dalam jumlah banyak.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Bukan aku yang harus dikhawatirkan tapi mereka."
Max menatap Kyungsoo penuh arti. Tidak tahan membayangkan apa yang akan terjadi sebelum memutuskan untuk pergi "Aku akan kembali besok pagi."
"Baiklah. Aku akan bermalam disini."
"Terimakasih untuk bantuanmu dokter Byun."
"Aku hanya melakukan apa yang Luhan inginkan."
Max mengangguk mengerti. Kembali membungkukan tubuhnya dan melangkah pergi sebelum suara lirih Kyungsoo memanggilnya "Max…"
"Ada apa?" katanya berbalik arah dan menatap Kyungsoo yang terlihat memiliki banyak pertanyaan "Kyungsoo?"
"mmhh.. Kai."
"huh?"
"Apa Kai sudah kembali?"
Terkadang Max bersyukur karena tidak bisa merasakan cinta atau tidak memiliki seseorang yang kehadirannya sangat ia butuhkan. Karena saat cinta itu mengalami cobaan dia tidak tahu bagaimana rasanya, sepertinya sakit atau bahkan terasa begitu membunuh? Entahlah-… yang jelas melihat bagaimana Sehun dan Luhan memperjuangkan cinta mereka saja sudah begitu rumit untuk dirinya, sekarang dia juga harus menebak bagaimana terlukanya Kyungsoo dan Kai karena sulitnya kisah cinta mereka.
"Max…"
Max kembali menatap Kyungsoo, merasa sedikit tidak tega namun tak berniat pula untuk mengatakan kebohongan pada Kyungsoo "Kai-….Aku rasa dia tidak akan pernah kembali lagi."
Mata Kyungsoo terpejam erat mendengar jawaban Max. Hatinya begitu hancur karena rasa rindunya jauh lebih membunuh dari rasa bersalahnya. Dia begitu merindukan kekasihnya, tapi kenyataan yang harus dia terima adalah satu persatu semua pergi dan tak ada yang kembali setelahnya. "Begitukah?"
Kyungsoo memaksa membalikan tubuhnya ke arah berlawanan. Bertumpu pada tangannya yang tak diinfus sebelum kembali memejamkan matanya kali ini. "Kyungsoo."
Baekhyun mencoba memegang pundak Kyungsoo namun Kyungsoo menolaknya, dia bergerak tak nyaman dan hanya ingin berada sendiri saat ini "Aku akan beristirahat hyung, kau boleh pulang. Aku akan baik-baik saja."
"Tapi kau-…"
"Aku kehilangan semuanya hyung. Semuanya-…Kai, Luhan dan Chanyeol. aku kehilangan mereka, aku bahkan kehilangan diriku sendiri. Aku-…Hksss…Rasanya aku harus segera mati agar mereka tidak terluka. Aku tidak tahan."
"Kyungsoo tenanglah."
"Ini balasan karena menjadi pembunuh di hampir seumur hidupku hyung. Ini balasan karena terlalu banyak membuat orang menangis kehilangan yang mereka dia cintai. Ini balasanku untukku hkss hksss..Aku merasakan yang mereka rasakan. Aku-…"
Kyungsoo menjerit tertahan di tidurnya. Berharap ini semua hanya mimpi buruk walau pada akhirnya dia tidak perlu tidur untuk merasakan mimpi buruk nyata baginya. Max dan Baekhyun hanya bisa memperhatikan betapa hancurnya seorang pembunuh yang terlihat merasakan karmanya sendiri. Mereka marah namun rasa marah mereka tak sebesar rasa iba mereka. Keduanya bahkan mempercayai bahwa Kyungsoo dipaksa melakukan hal tak termaafkan yang telah ia lakukan.
"Maafkan kami Soo. Maaf."
Dan jika sebelumnya dia membentak marah. Maka saat mendengar betapa kehilangannya sang adik-…Chanyeol ikut terisak. Begitu menyesal namun belum bisa mempercayai bahwa adiknya adalah orang yang sama yang dengan tega membunuh putra Luhan dan Sehun. Karena sama seperti Luhan-…Chanyeol juga menyadari kenyataan bahwa Kyungsoo tumbuh menjadi mengerikan tak terlepas dari keegoisannya dan Luhan ketika berjalan menjauh dan tak pernah kembali untuk Kyungsoo.
.
.
.
.
.
It feel so hurt…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan sampai dua hari di Jeju berganti. Luhan masih tidak bisa menyembunyikan rasa cemas dan takutnya. Beberapa kali kenyataan mengenai Kyungsoo masih terus membuatnya terdiam. Antara marah dan cemas selalu bergantian mengusiknya. Terkadang dia bahkan tak berani menatap Sehun. Takut jika pada akhirnya Sehun tahu siapa Kyungsoo dan mengetahui bagaimana cara Luhan melindungi pembunuh putra mereka.
Matanya tak berkedip menatap sosok tampan yang masih memejamkan matanya. Mengagumi betapa sempurna pria yang begitu memujanya khas dengan raut tegas yang menunjukkan betapa kuat dan tak terkalahkan dirinya. Walau semua orang memandang takut atau benci pada sosok tampan yang hanya menjadi miliknya-... Luhan tidak peduli. Karena satu-satunya orang yang bisa melihat betapa rapuh dan lemahnya seorang Oh Sehun hanya dirinya. Dan karena hal itu pula Luhan mengikat janji seumur hidupnya untuk menjaga kebahagiaan dari Sehun-...Suaminya.
"Jangan terlalu terluka jika kau tahu apa yang terjadi hmm... Aku akan selalu menjagamu sayang."
Hatinya bergemuruh hebat ingin menangis. Ingin menceritakan suaminya pada Sehun tapi tak berani membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Semua ketakutan ini seolah membunuhnya perlahan, menyisakan trauma dan luka yang begitu dalam baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk pria yang begitu mencintai putra mereka.
Luhan bahkan hampir meneteskan air matanya jika mata elang di depannya tak membuka. Menatapnya bingung dengan dahi berkerut sebelum membenarkan posisinya dan mulai saling berpandangan dengan mata innocent milik istrinya.
"Kau menangis?"
Luhan memejamkan matanya menikmati usapan tangan kekar Sehun saat mengusap lembut wajahnya. Ingin sekali dia mengangguk membenarkan bahwa dia menangis sebelum akhirnya memegang tangan besar sang suami dan tersenyum begitu cantik "Aku hanya kesal."
"Kesal? Pada siapa?"
"Padamu tuan Oh!"
"Kurang dari enam jam yang lalu aku terus membuatmu mendesah. Lalu kenapa sekarang kesal padaku."
"Ish!"
Saat tangan mungil istrinya ingin memukul. Maka kesempatan tak dibuang oleh master pervert Oh Sehun. Dia menarik tangan istrinya hingga berakhir dengan posisi si pria mungil duduk tepat di atasnya. "Jadi katakan pada daddy kenapa Lulu kesal?"
Menggoda istrinya dipagi hari adalah hal yang begitu menyenangkan untuk Sehun. Dan saat tubuh polos istrinya menekan tubuh polosnya maka tak ada sensasi yang lebih menyenangkan dari hal ini.
"Daddy jahat!" Katanya memukul kencang dada Sehun. Membuat Sehun sedikit terperangah dan berani bertaruh bahwa tingkah sang istri bahkan lebih menggemaskan dari kebanyakan anak balita pada umumnya. Dan kekehan itu kembali terdengar sebelum drama Daddy-Son ini kembali berlanjut "Kenapa daddy jahat?"
"Lulu bosan di kamar tapi daddy terus memaksa Lulu bermain."
"Bermain? Apa yang daddy mainkan?"
"Mmhhh..."
Luhan menundukkan kepalanya sedikit menjilat telinga Sehun sebelum berbisik menggoda "Bermain untuk membuat adik bayi-...Sehun!"
Sehun bahkan tidak berniat "menyerang" istrinya pagi ini. Tapi saat Luhan mengatakan hal-hal yang membuatnya bergairah. Maka berakhir pula pagi tenang yang Luhan inginkan "Tepat sekali. Daddy dan Lulu akan terus bermain membuat adik bayi." Katanya dengan posisi menindih sang istri. Berniat kembali menyatukan tubuh mereka sebelum Luhan mendorong menjauh tubuh suaminya.
"Wae?"
"Aku benar-benar ingin keluar. Aku bosan di kamar. Boleh ya? Setelah ini kita kencan ya? Ya? Ya?"
Sehun tidak menggubrisnya. Jujur saja saat Luhan memanggil Daddy hanya ada gairah menggebu yang ia rasakan, jadi dia tidak mau membuang waktu mendengarkan rengekan istrinya dan lebih memilih memasukkan penisnya ke lubang Luhan dan memulai "morning sex" mereka.
Tangannya bahkan sudah memposisikan penisnya untuk masuk sebelum Luhan mengelak dan memsasang wajah kesalnya "sehunnaaaa..."
"Baiklah nyonya oh. Kita kencan setelah kau membiarkan aku menjamahmu." Katanya membuka lebar paha istrinya. Jari tengahnya bahkan tengah melesak kedalam membuat Luhan menggigit cemas bibirnya namun bersikeras menampilkan wajah tegasnya.
"Wow mhhh...Tahan dulu Tuan Oh."
"Ayolah sayang!"
"Jangan merengek. Janji padaku setelah ini kita kencan?"
"Aku janji."
"Kau akan membelikan apapun yang aku mau?"
Sehun tidak fokus dengan pertanyaan Luhan. Bibirnya terus menyusu di nipple istrinya sesekali menggigit gemas dengan jari tengah yang keluar masuk di bawah sana. "Sehunnghhh.."
Luhan terpaksa menarik rambut suaminya. Memaksa mereka bertatapan sebelum memastikan bahwa setelah morning sex ini mereka benar-benar berkencan.
"Apalagi sayang?"
"Berjanji akan membelikan apapun yang aku mau?"
"Baiklah. Apapun."
Luhan tersenyum menang dan melepas tarikannya di rambut Sehun. Beralih melingkarkan tangannya di tengkuk Sehun dan mulai mendekatkan tubuh mereka "Kalau begitu keluarkan jarimu. Segera masuki aku sayang."
Terkadang ucapan nakal Luhan adalah bonus yang begitu menyenangkan untuk Sehun. Membuat jantungnya berdebar sementara gairah terus menuntut untuk menjamah lebih dan lebih. "Dengan senang hati."
Setelah melakukan kesepakatan. Sehun kembali membuka lebar paha istrinya. Melihat lubang sempit yang begitu menggoda sebelum memegang penisnya dan memposisikan masuk kedalam lubang yang akan memberikan kenikmatan tak ternilai untuknya.
Sehun sempat menggoda di awal. Hanya menempelkan kejantanan berurat itu ke dinding luar rektum Luhan tanpa menekannya kedalam. Membuat Luhan bergeliat resah dan memajukan tubuhnya tanda bahwa ia sangat tak sabar dipenuhi dengan penis suaminya.
"Sehun cepat…-AAKHHH!!"
Erangan kesakitan bercampur nikmat itu akhirnya terdengar. Luhan mendesah lega saat Sehun mulai bergerak di bawah sana. Tugasnya hanya menikmati dan mendesah. Oleh karena itu saat bunyi khas tumbukan penis Sehun di lubangnya terdengar-... Luhan pasrah. Dia hanya bisa memejamkan mata sesekali meminta suaminya untuk mencium bibirnya.
Dan tak ada yang membuat seorang suami memiliki kebanggan selain menggagahi tubuh mungil istri mereka dengan suara desahan terdengar dari bibir mungil istri yang mereka kasihi.
Untuk Sehun ini adalah hal yang begitu membahagiakan. Berkali-kali Luhan mencapai klimaksnya maka berkali-kali pula dia mengeluarkan spermanya tepat di lubang Luhan. Berharap beberapa minggu dari sekarang Luhan akan memberitahu kabar bahagia untuknya.
.
.
.
.
.
.
"Sayaaaang apa kau sudah siap?"
Pria cantik itu terlihat siap dengan kencannya siang ini. Dan setelah melayani sang suami hampir dua jam lamanya, kini dia meminta hak nya untuk berkencan sekaligus membeli barang-barang yang dia inginkan.
Dia bahkan sudah bersiap lebih cepat dibanding Sehun. Untuk kategori kencan biasa yang mereka lakukan, Sehun terlalu lama bersiap. Membuat si pria cantik tak sabar dan bergegas membuka pintu kamarnya sebelum
Cklek!
"Sayang ayo kita-...YAK!"
Si pria tampan sedang mengagumi ketamampanannya di cermin terpaksa tersentak. Gerakannya mengancingkan kemeja hitam favoritnya bahkan terhenti saat mendengar teriakan sang istri.
Membuatnya segera menoleh sebelum melihat Luhan berjalan mendekatinya dengan raut wajah luar biasa kesal padanya "Sayang kenapa berteriak? Sebentar lagi aku-..."
"KAU!"
Katanya menunjuk kesal pada Sehun. Nyaris kembali berteriak sebelum memutuskan mendekati koper yang ia siapkan untuk suaminya "Aku tidak percaya ini! Aku yakin tidak membawa kemeja hitam tapi kenapa suamiku memakai kemeja hitam. Ish!"
"Sayang kau kenapa?"
"Diam!"
Luhan masih menggerutu kesal. Mencari kaos casual yang dia cari sebelum berbinar mendapati kaos yang lebih layak untuk kencan mereka. "Ini dia." Katanya bergumam senang dan kembali mendekati suaminya.
"Lepas kemejamu."
"Huh?"
"Ish! Aku bilang lepas."
Luhan mendekati Sehun. Membuka kancing kemeja suaminya dengan tergesa sementara si pemilik kemeja hanya bisa meringis memelas saat kemeja favoritnya dibuang ke lantai begitu saja "Kenapa kau melepas kemejaku Lu?"
"Kita mau kencan atau pergi membunuh orang?"
"Kencan tentu saja."
"Kalau begitu pakai ini dan lupakan kemeja menakutkanmu itu!"
"Tapi aku tampan memakai kemeja hitam-..."
"Pakai ini!"
Luhan memaksa Sehun mengambil kaosnya sementara dia menungut kemeja hitam yang selalu digunakan Sehun untuk membunuh atau melakukan pekerjaan mengerikannya.
"Tapi Lu..."
"Ada apa lagi?"
"Kaos ini berwarna pink muda."
"Lalu?"
"Aku lelaki sejati mana mungkin menggunakan pink muda."
"Ah-..."
Luhan kembali dengan nada nenek sihirnya. Memicingkan mata pada suaminya sebelum membuka mantel yang ia gunakan "Jadi aku bukan lelaki sejati karena memakai pink?" Katanya menunjukkan kaos yang sama persis. Bedanya milik Luhan bermodel V-neck. Sementara dirinya kaos lelaki pada umumnya.
"Kau kan memang bukan lelaki sejati. Aku tidak menikahi lelaki sejati tapi lelaki cantik yang menggemaskan."
"Oh Sehun kau benar-benar...!"
Sehun segera memakai kaos pink yang diberikan Luhan. Dia tahu geraman itu-.. Geraman yang bisa membuatnya kehilangan jatah sampai satu minggu hanya karena kaos pink. Hell-... Mereka sudah menikah hampir lima tahun lamanya dan selama lima tahun itu pula Sehun selalu kalah saat Luhan mulai mengancam dan memaksanya melakukan sesuatu, oleh karena itu tak ada alasan untuk Sehun menolak kali ini. Karena seperti hari yang sudah-sudah, Sehun mengalah dan hanya mengikuti kemauan Luhan di hari kencan mereka siang ini.
"Lihat aku sudah siap.. Ayo kita kencan sayang." Katanya mengecup lama bibir Luhan. Segera mengambil mantelnya sebelum berjalan canggung meninggalkan sang istri yang kini tersenyum gemas. "Ck! Aku belum selesai bicara. Aku ingin mengatakan-.. Oh Sehun kau benar-benar tampan!"
.
.
.
.
.
.
Dan disinilah mereka. Di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Pulau Jeju. Awalnya Luhan meminta Sehun membawanya ke taman hiburan atau wisata, namun pada dasarnya Sehun tidak suka berpergian jauh dia menyarankan istrinya hanya untuk pergi berbelanja di pusat perbelanjaan mewah di Jeju.
Luhan kesal pada awalnya, tapi saat Sehun benar-benar membawanya ke tempat berbelanja, maka "jiwa" nya sebagai seorang maniak barang mewah dan unik terus bermunculan di setiap toko.
Dan kali ini Sehunlah yang sedikit menyesal membawa sang nyonya pergi berbelanja. Karena dalam hitungan menit dia sudah harus mengeluarkan hampir sepuluh juta won untuk semua pakaian, parfum, sepatu dan topi yang kini masing-masing berada di tangan kanan dan kirinya.
"Sayang! Disana jual juice. Aku akan membelinya."
Luhan begitu bersemangat berjalan di depan sementara Sehun sibuk dengan seluruh belanjaan istrinya di belakang, sesekali dia menjatuhkan belanjaan istrinya disambut dengan tatapan kesal dari Luhan. "Baiklah kau beli juice sayang. Aku akan membawa semua belanjaan ini ke mobil.Tunggu aku sampai aku datang. Oke?"
Luhan bersorak senang sebelu "Oke." Katanya bersemangat dan berlari menuju kedai juice membeli dua juice untuknya dan Sehun. Dan sementara Luhan memesan juice nya maka Sehun bisa sedikit bernafas ketika barang belanjaan istrinya sudah diletakkan di dalam mobil. "Awas jika kalian hanya menjadi pajangan!" katanya menggerutu sebelum
BLAM…!
Sehun menutup kencang mobilnya. Kembali mencari sosok sang istri sebelum menyadari ada dua orang berpakaian hitam berjalan mendekati istrinya. Awalnya dia pikir hanya dua orang pria yang juga ingin membeli juice di tempat yang sama dengan istrinya.
Katakanlah Sehun terlalu berpengalaman dalam masalah mengikuti seseorang dan menyakiti targetnya. Karena jika itu dirinya, maka dia akan melakukan hal sama dengan dua orang pria itu. "LUHAAAN!"
Dia mencoba memanggil istrinya, namun sang istri sibuk berbicara dan tertawa dengan penjaga kedai. Keadaan juga tidak memungkinkan Luhan mendengar mengingat jarak mobil Sehun dan tempat kedai juice itu berada adalah di sebrang jalan.
"Lu-…Tidak…"
Nafas Sehun tercekat habis, benar seperti dugaannya dua pria itu memang mengincar Luhan. Salah satunya bahkan mengeluarkan sebilah pisau dengan langkah yang terus mendekati Luhan sesekali melihat ke kanan dan ke kiri seolah mengikuti perintah yang entah dari siapa.
"tidak…Jangan Luhanku." Katanya memaksa menyebrang jalan sebelum
TIN…TINN!
"LUHAN!"
Suara klakson dari mobil yang lewat membuat Sehun terpaksa memundurkan langkahnya. Dan karena hal itu pula Luhan perhatian Luhan sedikit teralihkan. Dia bisa melihat Sehun yang seperti berteriak namun suaranya sama sekali tak terdengar "Sayang ada apa-…" katanya bertanya-tanya. Berniat menghampiri Sehun sebelum seseorang menepuk pundaknya. Membuat Luhan menoleh dan
SLEB…!
Sebuah kesalahan saat Luhan menoleh pada orang asing yang menepuk pundaknya. Karena setelahnya dia merasa ada sesuatu yang ditancapkan begitu kasar di perutnya. Awalnya dia tidak merasakan apapun. Sampai sesuatu berwarna merah mengucur deras di perutnya, secara refleks Luhan memegang perutnya yang berdarah dan di saat yang sama dia tahu bahwa seseorang telah menusukkan pisau padanya. "LUHAAAAAAAN!"
Ini adalah kali kedua Sehun melihat orang yang dia cintai dilukai di depan kedua matanya. Ini adalah kali kedua nafasnya seolah di renggut saat dua orang yang paling dia cintai terlukan di depan matanya. Jantungnya berdegup kencang nyaris tak mengantarkan oksigen saat kedua matanya melihat bagaimana mata rusa itu terlihat kesakitan dan memandang khawatir padanya. Seluruh wajahnya sudah berwarna pucat sementara suara teriakan mulai terdengar dari beberapa orang yang berada di dekat istrinya. Kejadiannya hanya beberapa detik dari jarak dia meletakkan belanjaan Luhan ke mobil tapi semua sudah berakhir mengerikan untuk istrinya saat ini.
"Sehun…"
Pandangan Luhan mulai kabur untuk beberapa saat. Bukan rasa sakit yang mengganggunya tapi wajah ketakutan Sehunlah yang paling mengganggunya. Dia mengutuk siapapun yang menyakitinya di depan Sehun, Luhan bahkan tidak mempersalahkan bagaimana dia disakiti hanya saja jangan lakukan di depan suaminya. Jangan pernah-….Karena itu hanya akan membuat prianya semakin terluka dan Luhan membencinya. Dia tidak ingin Sehun mengalami lebih banyak kenangan buruk mengenai bagaimana dia terluka di depan kedua mata suaminya.
Ingin rasanya Luhan mengatakan dia baik-baik saja. Menghapus raut ketakutan di wajah Sehun dan hanya melanjutkan kencan mereka, namun apa daya seluruh rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Pandangannya semakin kabur dan pegangannya di tepi kedai tak bisa lagi menopang kedua kakinya.
Brak…!
"Luhan…."
Luhan jatuh tepat di pelukan suaminya. Berusaha tersenyum namun nyatanya hanya rasa sakit yang bisa ia rasakan. Awalnya hanya rasa sakit tusukan yang ia rasakan, namun saat mendengar isakan Sehun begitu terluka maka hatinya menjadi lebih sakit daripada pisau sialan yang masih tertinggal di perutnya. "Sayangku…Kita akan ke rumah sakit hmm.. Tetap buka mata-..ARGHHH…Tetap buka matamu sayang hkss. Aku mohon."
Dengan gemetar Sehun mencoba menggendong Luhan namun gagal karena kakinya begitu lemas, matanya begitu takut melihat pisau yang masih tertinggal di tubuh istrinya. Rasa takutnya mengalahkan rasa marahnya, Mau bagaimana pun dia adalah suami dari seorang dokter. Dia tahu jika pisau itu dicabut maka pendarahan akan semakin banyak Luhan alami, maka istrinya harus segera menjalani perawatan agar tidak ada kejadian fatal setelah ini.
.
.
.
.
Walaupun dia berhasil membawa Luhan ke rumah sakit terdekat tapi rasa takut tak bisa hilang menghantuinya sebaliknya-…Waktu terasa begitu lambat untuk Sehun. Sudah hampir tiga jam dia menunggu tapi dokter-dokter sialan itu tak kunjung keluar dari ruang operasi. Jika itu Luhan yang menangani, mungkin hanya membutuhkan setengah jam untuk berada di ruang operasi. Istrinya bukan dokter yang suka membuat keluarga pasien menunggu lama.
Pikirannya kosong dengan darah Luhan yang telah mengering di kaos kencan mereka serta di kedua tangan Sehun. Kemarahannya kini bertambah pada dirinya sendiri, harusnya dia tidak pernah meletakkan belanjaan Luhan ke dalam mobil, harusnya dia tidak pernah membiarkan si pria mungil berjalan sendiri kemanapun mereka pergi. Harusnya dia-…
Pip…
Ketakutan Sehun semakin terlihat saat pintu operasi itu terbuka. Kakinya terlalu lemas berjalan dan hanya menunggu dokter datang menghampirinya "Apa anda keluarga dari pasien?"
"Aku suaminya."
Sehun hanya menjawab seperlunya, tak berani bertanya lebih dan hanya membiarkan sang dokter kembali melanjutkan kalimatnya "Istri anda masih dalam keadaan kritis. Pasien mengalami syok hipovelemik karena pendarahan saat operasi di lakukan. Pasien akan dipindahkan ke ruang ICU setelah ini."
"berhenti."
Sehun menutup kencang telinganya, membuat sang dokter mengerti posisi Sehun dan hanya berusaha mengatakan kejujuran saat ini "Tuan Oh. Istri anda sudah bertahan sejauh ini untuk calon bayinya. Istri anda sangat kuat."
Dan saat mendengar satu kalimat janggal untuknya. Sehun mendongak, berusaha untuk berdiri sebelum akhirnya bertatapan dengan sang dokter "Bayi?"
"hmhh.. Kami mendeteksi ada janin yang tumbuh di rahim istri anda. Menurut dokter kandungan yang kami panggil masa kehamilan istri anda sudah memasuki minggu keenam."
"Benarkah?"
"Sepertinya anda dan istri anda belum mengetahui tentang bayi ini. Jadi secara pribadi saya ucapkan selamat untuk anda Tuan Oh. Dan anda tidak perlu khawatir, calon bayi yang dikandung istri anda terlihat sehat dan kuat di dalam rahim ibunya. Saya permisi."
Harusnya Sehun berteriak gembira mendengar kabar kehamilan istrinya. Harusnya dia dan Luhan saling memeluk dan membagi kebahagiaan mereka bersama. Tapi bahagia seolah jauh untuknya dan Luhan. Sangat miris mendengar kabar bahwa mereka akan kembali memiliki malaikat kecil dari kejadian mengerikan hari ini.
"Aku bukan ayah dan suami yang baik untuk kalian. Maafkan aku Lu…"
Sehun kembali terduduk di kursinya. Menyembunyikan kedua wajahnya tak tahan membayangkan bagaimana Luhan dan Calon bayinya berjuang di dalam sana. Dan sekali lagi entah untuk ke berapa kalinya. Sehun menangis kuat seorang diri. Rasanya begitu sulit bernafas menyadari dia nyaris kembali kehilangan istri dan calon malaikat kecilnya.
Sehun terlihat begitu rapuh dan marah saat ini, masih terus terisak sampai tubuh Luhan dibawa melewati dirinya. Kakinya secara refleks mengikuti Luhan, ingin rasanya berteriak memberitahu Luhan bahwa mereka akan segera kembali memiliki malaikat kecil, namun harus berakhir sesak menyadari wajah Luhan yang terlihat sangat pucat masih berbaring disana.
.
.
.
"Aku ingin menemani istriku."
"Baiklah Tuan. Kami akan berjaga diluar, panggil kami jika sesuatu terjadi."
Sehun mengangguk lemah. Melihat bagaimana mereka memindahkan tubuh istrinya yang tergeletak lemah adalah hal yang kembali membuat hatinya tergores. Dia tidak berniat meninggalkan Luhan sendirian lagi kali ini, hanya menemani sang istri sampai nanti kedua mata cantik itu kembali menatapnya "Baiklah."
Dan setelahnya tiga perawat itu meninggalkan Sehun bersama Luhan seorang diri. Kaki Sehun mendekat ke tempat tidur, bibirnya terisak pilu melihat alat-alat bantu menempel di dada serta tangan istrinya. "Lu…Sayangku."
Suaranya tercekat habis memanggil nama Luhan. Sehun mengecup lama kening Luhan berdoa agar kedua mata cantik istrinya segera terbuka sebelum menatap sendu wajah pucat yang masih memakai selang oksigen saat ini "Maaf." Katanya mengusap kening Luhan dan mulai duduk di tepi ranjang istrinya.
"Maaf selalu membuatmu hidup dalam bahaya. Maaf tidak bisa menjagamu bahkan disaat kau berada di depan kedua mataku. Maaf hksss Maafkan aku sayang."
Sehun kembali mencium kening Luhan, kali ini air matanya menetes bersamaan dengan kecupan sayang yang ia berikan untuk istrinya. Ingin rasanya dia berbaring disana dan menggantikan semua rasa sakit yang dirasakan istrinya. Namun semua hal buruk terus terjadi dan yang paling mengerikan dia tidak bisa melakukan apapun untuk melindungi istrinya.
Tak tahan melihat wajah pucat Luhan, Sehun mulai mengalihkan pandangannya. Kali ini ke perut yang baru saja dihujam keji oleh bajingan yang akan menjadi target Sehun setelah ini. Tak membayangkan bagaimana terkejutnya mahluk mungil yang sedang tumbuh besar di dalam sana.
Dan untuk kali pertamanya setelah lima tahun-…Sehun membawa kedua tangannya ke perut Luhan. Mengusapnya berputar sebelum mencium dalam perut istrinya yang masih terlihat datar "Terimakasih sudah bertahan anakku." Katanya mencium semakin dalam perut Luhan. Berharap malaikatnya tenang dan merasakan bahwa Sehun-…ayahnya. Akan selalu ada untuknya mulai saat ini.
"Beritahu ibumu untuk bertahan .Ayah tidak bisa kehilangan ibumu nak."
Sehun memejamkan matanya mencium perut Luhan. Terus berbicara pada calon bayinya dan memohon agar sang bayi adalah hal yang bisa membuat Luhan membuka matanya. sehun masih mencium perut Luhan sebelum beralih kembali menatap istrinya.
"Kau dengarkan sayang? Kita akan kembali memiliki malaikat kecil. Kau hamil sayang-… Hksss Aku tahu ini menakutkan dalam keadaan seperti ini. Tapi kau benar-benar hamil sayang. Kau mengandung anakku-…anak kita."
Dan setelahnya hanya keheningan yang Sehun rasakan. Alat bantu Luhan seolah mengingatkan betapa gagalnya dia menjaga malaikat di hidupnya. Betapa gagalnya karena Sehun dengan kebodohannya membiarkan Luhan terluka tepat di kedua matanya. keheningan ini bahkan mengingatkan Sehun bahwa Luhan akan selalu berada dalam bahaya jika dia masih hidup dengan dunia mengerikan yang selama ini ia jalani.
Tangannya menggenggam erat tangan Luhan. Berharap istrinya segera membuka mata dan mengatakan Sehunna semua baik-baik saja.
.
.
.
.
tobecontinued…
.
.
I do Love HunHan too much :*
.
Yeeey akhrnya jadi bapak lagi..walopun tragis tapi ini adalah bagian dari rencana "keENDingan" wkwkwk..siapapun yang buat Luhan koma…ada Kyungsoo Sehun sama Kai tenang *anggep ini spoiler…
Seeyousoon di MFC
.
Happy reading n review :*
