Previous
"Beritahu ibumu untuk bertahan .Ayah tidak bisa kehilangan ibumu nak."
Sehun memejamkan matanya mencium perut Luhan. Terus berbicara pada calon bayinya dan memohon agar sang bayi adalah hal yang bisa membuat Luhan membuka matanya. sehun masih mencium perut Luhan sebelum beralih kembali menatap istrinya.
"Kau dengarkan sayang? Kita akan kembali memiliki malaikat kecil. Kau hamil sayang-…HksssAku tahu ini menakutkan dalam keadaan seperti ini. Tapi kau benar-benar hamil sayang. Kau mengandung anakku-…anak kita."
Dan setelahnya hanya keheningan yang Sehun rasakan. Alat bantu Luhan seolah mengingatkan betapa gagalnya dia menjaga malaikat di hidupnya. Betapa gagalnya karena Sehun dengan kebodohannya membiarkan Luhan terluka tepat di kedua matanya. keheningan ini bahkan mengingatkan Sehun bahwa Luhan akan selalu berada dalam bahaya jika dia masih hidup dengan dunia mengerikan yang selama ini ia jalani.
Tangannya menggenggam erat tangan Luhan. Berharap istrinya segera membuka mata dan mengatakanSehunna semua baik-baik saja.
.
.
.
.
Entangled
Main Cast : Sehun & Lu Han
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
Empat jam sudah berlalu sejak dokter selesai menangani Luhan. Empat jam itu bahkan sudah merubah status Sehun dari seorang suami menjadi calon ayah. Sungguh-... Hatinya bersorak sangat bahagia saat ini, penantiannya selama satu tahun akhirnya berbuah manis.
Dirinya akan menjadi ayah paling tampan sementara Luhan akan menjadi ibu paling sempurna yang dimiliki buah hati mereka kelak.
Membayangkannya saja sudah sangat menggelitik haru hatinya apalagi saat dia benar kembali merasakan menjadi ayah. Pastinya Sehun akan menjadi pria yang paling beruntung dan sangat bahagia. Karena terlepas dari wajah Luhan yang begitu cantik. Sehun sangat beruntung karena memiliki istri yang begitu kuat dan hebat. Dan karena alasan itu pula di yakin anak-anaknya kelak akan menjadi sekuat dan sehebat sang ibu.
Tangan Sehun masih membelai wajah cantik sang istri. Mengagumi raut pucat yang masih terlihat mempesona dengan penyesalan karena tak bisa menjaga dengan baik pria yang memiliki hidupnya. Harusnya mereka merayakan kabar kehamilan Luhan, namun kenyataan sang istri tak kunjung membuka matanya adalah hal yang begitu membuat Sehun ketakutan. Dia bahkan terlalu takut menyapa calon bayinya, karena jika dia melakukannya maka Sehun yang yakin sang calon bayi akan merasa kecewa padanya.
"Cepat buka matamu. Aku tidak tahan lagi melihatmu seperti ini."
Sehun menundukkan wajahnya, berbisik penuh harap pada sang istri sebelum
Cklek...!
"Bos!"
Lega rasanya mendegar suara yang bisa membantunya menjamin keselamatan Luhan. Kenyataan sudah ada enam orang yang berjaga di depan pintu kamar Luhan tidaklah membuat Sehun tenang. Namun saat sang kaki tangan terdengar maka kelegaaan luar biasa bisa Sehun rasakan mengingat hanya orang-orang dengan hitungan jari yang bisa ia percaya untuk menjaga Luhannya.
"Luhan..."
Max memekik lirih melihat Luhan terbaring lemah disana. Masih jelas teringat di ingatannya bahwa Luhan mempersiapkan liburan ini begitu detail, begitu bahagia dan begitu berharap bahwa setelahnya dia akan kembali hamil.
Bukan terbaring lemah dengan sang suami yang menunggu hancur dan terlihat kehilangan nyawanya. Sungguh-... melihat kedua orang yang begitu dia hormati terluka membuat Max sangat marah. Tangannya bahkan mengepal otomatis begitu marah pada siapapun bajingan yang berani menyakiti sang dokter.
"Bos apa yang terjadi? Apa Luhan baik-baik saja?"
Sehun tidak bergeming di tempatnya. Tidak menjawab tidak pula menoleh. Dia hanya terus menggenggam tangan sang istri dan menciumi tangan yang terasa dingin itu berulang kali.
"Bos-.."
"Tugasmu menemukan kedua bajingan itu sebelum Luhan dan aku kembali ke Seoul. Tugasmu memastikan bahwa rasa sakit yang mereka berikan pada istriku akan berjuta-juta kali lebih sakit dan mengerikan yang mereka rasakan. Kau dengar?"
Max mengangguk tanpa ragu, dengan atau tanpa perintah Sehun, Max memang akan mencari bajingan itu. Memastikan seperti kata Sehun, bahwa bajingan sialan itu akan merasakan sakit berjuta-juta kali lebih menyakitkan dari yang Luhan rasakan.
"Baik bos. Aku akan-..."
"BOS!"
Kali ini pintu terbuka kencang, menampilkan suara teriakan menuntut dengan Kai yang berada disana. Berlari terengah menghampiri Sehun, hatinya begitu tercabik melihat pria yang jelas adalah tanggung jawabnya terbaring lemah dengan wajah teramat pucat disana.
"Kai..."
Max bergumam sangat pelan. Rasanya begitu senang melihat Kai kembali setelah hampir satu bulan menghilang. Matanya terus menatap sang partner tak berkedip sampai terdengar suara Sehun yang kembali memberi perintah "Kau sudah datang?"
Kai mengangguk tanpa ragu menolak menatap Max dan hanya terus mendengarkan perintah Sehun "Kumpulkan semua orang-orang kita yang berada di Jeju. Pastikan mereka membantu kalian menemukan kedua bajingan itu." Katanya memberi perintah. Membuat kedua kaki tangannya bergegas pergi sebelum Sehun kembali berbicara "Satu hal lagi-..."
Ucapan Sehun membuat Kai dan Max berhenti. Sekilas saling menatap sebelum kembali melihat pada Sehun "Aku tidak ingin kalian membuang waktu kali ini. Cepat temukan bajingan yang nyaris membunuh istri dan calon bayiku."
"Huh?"
Keduanya bergumam bingung, tak mau terlalu berharap dengan apa yang mereka dengar sebelum suara Sehun kembali terdengar. "Luhan sedang mengandung anakku. Jadi cepat temukan bajingan yang nyaris melukai priaku dan calon bayiku. Kalian dengar?"
Harusnya Max dan Kai bersorak bahagia karena setelah sekian lama akhirnya mereka mendengar kabar kehamilan Luhan untuk kedua kalinya. Harusnya mereka merayakan bersama Luhan seperti janji Luhan yang mengatakan aku akan mentraktir kalian makan dan minum sepuasnya jika aku kembali dinyatakan hamil. Bukan seperti ini, disaat harusnya Luhan bersorak senang, pria yang memiliki setengah jiwa Sehun itu justru terbaring lemah di depan kedua mata mereka. Membuat kemarahan begitu dirasakan Max dan Kai yang kini sama-sama mengepalkan erat tangannya.
"Sial!"
Keduanya menggeram marah. Dan seolah merasa gagal telah menjaga Luhan, baik Kai maupun Max pergi dengan hati yang begitu marah. Bersumpah bahwa siapapun yang menyakiti Luhan. Mereka akan merasakan sakit yang berkali-kali lipat lebih menyakitkan dari yang mereka lakukan pada Luhan.
.
.
.
.
.
.
Malam harinya Sehun kembali menjalani aktivitas yang sama hampir tiga puluh enam jam ini. Hanya duduk termenung dengan tangan menggenggam sang istri yang masih belum kunjung membuka mata. Dokter mengatakan kondisi Luhan sudah baik, namun entah mengapa sang istri masih belum membuka matanya. Membuat Sehun nyaris menyakiti dokter yang menangani Luhan jika Max atau Kai sekalipun tidak mengingatkan dirinya untuk tetap tenang dan tidak membuat keributan mengingat Luhan masih dalam masa pemulihan.
Yeah-…Setidaknya Sehun mendengarkan nasihat kedua kaki tangannya, karena jika tidak mungkin keributan benar akan terjadi di rumah sakit nomor satu yang terdapat di Jeju. "haah-….Sampai kapan kau tidur sayang? Aku perlu mendengar suaramu. Aku perlu menatap matamu dan aku perlu menciummu. Cepat bangun dan buka matamu. Aku kesepian."
Sehun menggenggam erat kedua tangan Luhan, menatap lama istrinya sebelum kembali pasrah harus menunggu dengan sabar sampai seluruh tubuh Luhan bersedia untuk membuatnya membuka mata. Dan tanpa berkata lagi-..Kepala Sehun berbaring di sisi tempat tidur, masih menggenggam tangan Luhan yang terasa dingin. Tidak berniat berbicara lagi dan hanya berbaring memejamkan mata berharap Luhan akan membuka matanya esok hari "Cepat buka matamu sayang. Besok malam natal dan bagaimana bisa kau terus tertidur seperti ini." ujarnya bergumam lirih. Matanya hampir terpejam karena begitu lelah sebelum merasa tangan seseorang mengusap lembut kepalanya.
Sehun bahkan merasa nyaman saat seseorang mengusap kepalanya, hampir tertidur pulas karena usapannya begitu lembut sebelum kedua matanya membuka dan
"Sayang?"
Hatinya luar biasa bersorak saat kedua mata cantik itu menatapnya begitu lembut, kelegaan itu bahkan begitu dirasakan Sehun saat bibir mungil sang istri tengah tersenyum begitu cantik menatapnya "Hey sayang.."
Luhan berujar begitu lirih, merasa begitu lega karena Sehunnya terlihat baik. Sang suami bahkan terlihat normal karena daripada cemas Sehun justru terlihat begitu kesal karena suatu alasan dan benar saja tak perlu waktu lama Luhan mendengar suara menyindir Sehun untuknya "Sudah bangun? Sudah selesai membuatku ketakutan? Sudah puas menjahiliku? Astaga Lu-…Kau bilang kita honyemoon dan kau malah terbaring di tempat tidur sialan ini? Harusnya kau mendesah di tempat tidur kita yang super nyaman bukan-…hksss."
Awalnya Luhan menikmati suara Sehun yang begitu cerewet dan terus memarahi dirinya, sangat senang karena Sehun terdengar seperti suaminya, sebelum suara suaminya perlahan berubah bergetar dan berakhir terisak menggenggam tangannya begitu kuat "Sehunna."
"Terimakasih sudah membuka matamu sayang. Aku sangat takut."
Luhan berusaha membawa tangan Sehun ke dekat bibirnya, mengecup sayang jemari tangannya menikmati ketakutan Sehun adalah benar nyatanya. Andai Luhan bisa mengatakannya, tapi daripada Sehun, mungkin dialah yang begitu ketakutan. Takut saat itu adalah saat terakhirnya melihat sang suami. Takut jika pada akhirnya dia tidak bisa melihat Sehun lagi dan hanya menyisakan kepedihan mendalam untuk suaminya.
Luhan terus menciumi jemari tangan Sehun, sampai air mata juga membasahi matanya, merasa begitu bersyukur karena masih bisa melihat sang suami dan masih bisa merasakan cinta yang begitu besar yang diberikan Sehun untuknya "Aku disini sayang, aku sudah membuka mata dan akan menjagamu. Aku janji."
Sehun secara refleks memeluk Luhan. Menyembunyikan wajahnya di tengkuk Luhan dan terisak hebat disana, dia begitu bangga pada istrinya. Karena sebanyak apapun hal buruk terjadi padanya, sebanyak apapun dia disakiti maka sebanyak itu pula dia akan bertahan, dan terlepas dari semua kejadian buruk yang menimpanya. Luhan adalah sosok yang begitu kuat dan selalu mencintainya dengan tulus tanpa pernah menyalahkan dirinya sedikit pun "Jangan terluka lagi. Aku takut Lu."
Seperti anak bayi yang merindukan ibunya, maka begitulah wajah suaminya saat ini. Begitu menggemaskan karena terus terisak di tengkuknya. Luhan bahkan tidak akan mempercayai bahwa suaminya adalah mafia keji jika tidak melihat langsung betapa rapuhnya Sehun hanya karena dirinya. "Aku tidak akan terluka lagi sayang. Aku janji."
Luhan memegang tengkuk suaminya, mencium kepala Sehun berulang dan terus menenangkan Sehun sampai sang suami melepas pelukannya dan mulai kembali menjadi "Sehun si dingin" dengan aura menakutkan yang terlihat di wajahnya.
"ck. Cepat sekali berubahnya. Kau ini Iron Man?"
"Bukan."
Sehun menghapus cepat air matanya sebelum
Chu…~
Dia mencium telak bibir Luhan. Menciumnya semakin dalam dan nyaris tidak bisa menahan diri mengingat rasa bibir istrinya begitu manis dan membuatnya terus menerus menginginkan melumat bibir yang selama delapan tahu ini terus menjadi candu untuknya. "haah-…Tunggu disini aku akan memanggil dokter."
Luhan mendengus tak rela sebelum menarik kerah kemeja suaminya "Tapi aku dokternya."
"Kau pasien sayang." Katanya mengecup Luhan dan tak lama berjalan pergi untuk memanggil dokter yang bisa memastikan bahwa istrinya benar-benar baik tanpa cacat dan luka sedikit pun.
.
.
.
.
"Jadi bagaimana? Aku baik-baik saja kan?"
"Sayang kau mengganggu konsentrasi dokternya."
"Aku juga dokter dan aku tahu keadaanku sendiri."
"Lihat nyonya ini. ck. Sombong sekali sebagai dokter."
"Aku bukan nyonya dan aku bukan dokter yang sombong."
"Kau nyonya dan kau dokter yang sungguh dan sangat sangat sombong."
"Dasar pria berwajah zombie."
"Tidak ada Zombie berwajah tampan sepertiku nyonya cantik."
"Oh Sehun kau-…"
"ekhem!"
Belum setengah jam Luhan sadarkan diri tapi pertengkaran sudah bsisa terdengar dari seorang mafia dan seorang dokter yang entah bagaimana bisa menjadi sepasang suami istri. Membuat sang dokter yang bertanggung jawab atas kesehatan Luhan hanya bisa tersenyum maklum mengingat hormon pasiennya memang belum stabil karena pengaruh bayi yang dikandungnya. Dan jujur saja berada di tengah pertengkaran pasiennya membuatnya tidak nyaman, bukan karena pertengkaran mereka serius tentu saja tapi karena keduanya begitu kekanakan hingga menengahi adalah hal yang paling benar saat ini.
"Anda tenang saja Tuan Oh. Istri anda baik-baik saja." Katanya mengerling Sehun yang terlihat mendengus lega sebelum kembali melihat pada pasiennya "Anda dan bayi anda baik-baik saja dokter Oh."
"Aku dan siapa?"
Dokter Kim yang sudah mengetahui Luhan juga seorang dokter hanya tersenyum kecil merasa keluarga kecil pasiennya begitu menyenangkan. Sedikit tersenyum penuh arti sebelum kembali memberitahu Luhan "Anda dan bayi anda Dokter Oh."
"Bayi?"
"Untuk memastikan kandungan anda saya akan meminta dokter spesialis kandungan untuk memeriksa anda secara langsung. Saya permisi."
Dan saat sang dokter menjauh pergi maka raut wajah Luhan berubah menjadi ingin tahu. Terlalu ingin tahu sampai nyaris berteriak memanggil sang dokter jika wajah Sehun tidak berada tepat di depannya saat ini "Sehun…Dokter itu mengatakan sesuatu yang aneh. Panggil dia sayang, kita harus memastikan sesuatu."
Sehun tertawa kecil mengusap wajah istrinya, menikmati wajah berharap sang istri sebelum menggoda adalah hal yang lebih menarik saat ini "Memastikan apa?"
"Yang dikatakan dokter Kim. Tentang-…hah sudahlah. Aku yakin aku salah mendengar."
"Mendengar apa?"
"Mendengar kalau aku-…"
"Kau hamil?"
"Ya itu! Astaga bagaimana bisa dia mengatakan hal menggembirakan itu dengan wajah datar, dia pasti tidak ikut sekolah etika saat kuliah dulu."
"Dia berekspresi saat memberitahuku."
"Memberitahu kau apa-…" Luhan yang sedang bingung berhenti di ucapannya. Segera menatap Sehun dengan wajah memerah terlihat sangat berharap "Oh tidak, jangan bilang-…"
Kali ini Luhan terlihat tidak mengerti situasi sama sekali. Dia semakin mengerutkan dahinya, tidak paham arah pembicaraannya dengan Sehun sampai ekspresi Sehun mengatakan segala harapan mereka berdua selama satu tahun ini.
"Sehunna…Jangan bilang jika aku sedang hamil?"
"Dan sayangnya aku harus mengatakan ini-…Selamat sayang. Kau sedang mengandung calon malaikatku-…anak kita."
"Astaga…"
Luhan memekik menutup kencang mulutnya. Rasanya luar biasa menyenangkan saat dua kalimat itu diucapkan sendiri oleh sang suami. Hatinya seolah ingin meledak karena terlalu bahagia. Telinganya seolah tidak ingin mempercayai ucapan sang suami namun berbeda dengan matanya.
Karena saat matanya menatap mata elang Sehun, maka kebahagiaan juga jelas terlihat di wajah sang suami. Sehun menatapnya sangat lembut, penuh cinta bahkan seperti tak berkedip saat memberitahukan berita yang selama ini keduanya nantikan "hkssss.."
Luhan terisak sangat bahagia, Tangannya masih membungkan mulutnya sampai tangan Sehun memaksa agar Luhan berhenti membungkam mulutnya "Kenapa menangis sayang. Aku tidak bohong. Kau benar-benar hamil dan akan segera membuatku kembali menjadi seorang ayah." Katanya mengecup lama kening Luhan sebelum melihat dua mata rusa yang selalu menjadi candunya selama delapan tahun kebersamaan mereka "gomawo."
Luhan merasa begitu sempurna menjadi seorang istri saat Sehun mengucapkan terimakasih padanya. Terimakasih yang menandakan bahwa dirinya bisa menjadi pasangan sempurna untuk Sehun adalah hal yang begitu membahagiakan. Dia menangis terisak sangat bersyukur karena bisa memberikan keturunan untuk Sehun. Dan jujur-…berita kehamilan yang sedang ia jalani adalah hal yang lebih membanggakan dari pengumuman kelulusan dokter untuknya. Membuat isakan Luhan semakin menjadi sebelum
"Sehun aku hamil!"
Mengabaikan infus di pergelangan tangan kirinya. Luhan melompat-…Melompat ke dekapan sang suami dan menyampaikan rasa bahagianya disana. Rasa trauma dan ketakutan itu masih sangat Luhan rasakan, tubuhnya gemetar hebat jika mengingat bagaimana dua orang itu menusuk perutnya dengan sang calon bayi yang berada di dalam sana.
"mmhh… Aku tahu sayang. Aku tahu kau hamil dan aku sangat bahagia. Terimakasih Lu. Sayangku."
"Aku juga sangat baha-hkssss-Bahagia sayang. Aku sangat bahagia. Terimakasih sudah membuatku kembali mengandung anakmu sayang. Aku sangat bahagia."
Luhan melingkarkan erat tangannya di leher Sehun, mengecup tengkuk sang suami tak berniat melepasnya. Semua ketakutan Luhan seolah menghilang saat Sehun menatapnya seperti mengatakan semua akan baik-baik saja. Dan karena hal itu pula Luhan menjadi kuat seiring berlalunya cobaan untuk pernikahan mereka.
Luhan berharap banyak pada calon bayinya. Dia berharap dengan kehadiran sang bayi Sehun bisa melupakan siapa pembunuh putra pertama mereka. Dia juga berharap dengan kehadiran sang bayi bisa merubah sikapnya pada Kyungsoo menjadi lebih baik. Karena sesungguhnya Luhan sangat menyayangi Kyungsoo. Terlepas dari kenyataan bahwa sang adik adalah pemunuh putranya. Luhan tetaplah seorang istri dan kakak yang harus memastikan bahwa suami dan adiknya bisa hidup berdampingan tanpa dendam di antara mereka.
Walau kemungkinannya kecil-….Tapi Luhan sangat berharap pada calon malaikat kecilnya. berharap jika malaikat kecilnya kali ini benar-benar bisa membuat kebahagiaan untuk keluarga besar mereka. Dan karena harapan itu pula Luhan memeluk Sehun semakin erat, merasakan bagaiamana sang suami memeluknya dengan kuat adalah hal yang begitu membahagiakan untuk Luhan.
Suara isakaannya kini digantikan senyum yang begitu cantik. Tidak sabar menanti kedatangan darah dagingnya dan Sehun dengan sejuta harapan yang ia miliki. Perlahan Luhan melepas pelukannya pada Sehun. Mencium kening Sehun cukup lama seolah mengatakan terimakasih sebelum kembali menatap pria tampannya "terimakasih sayang, aku sangat bahagia."
.
.
.
.
Keesokan paginya Sehun kembali menemani Luhan melewati masa pemulihannya. Tak jarang keduanya bertengkar kecil mengenai nama anak mereka kelak. Jika Sehun mengatakan ingin memberikan nama A maka Luhan dengan cepat mengatakan nama B. Terus seperti itu sejak satu jam lalu tepat setelah Luhan membuka matanya dan menghabiskan sarapan ditemani sang suami.
"Tapi aku tidak suka nama yang kau berikan."
"Menurutku itu bagus sayang."
"Sehun ini anakku."
"Aku yang membuatnya jika kau tidak lupa."
Sehun bersumpah menggoda Luhan ada pada urutan pertamanya sebagai hobi. Entah apapun yang membuat wajah Luhan kesal adalah sesuatu yang sangat menghibur untuknya. Karena jika sedang kesal Luhan akan berkali-kali lipat terlihat menggemaskan dan Sehun menyukainya.
"Bilang aaaa-…"
"ish! Lupakan. Aku tidak mau makan lagi."
"Baiklah aku juga tidak akan memaksa. Semakin kau menolak semakin lama kau menetap disini. Aku tidak akan membiarkanmu pulang jika kau terus menolak untuk makan."
"Aku membencimu."
"Kau yakin?"
"Ya!"
"Baiklah. Aku akan mencari ibu baru untuk-…"
"OH SEHUN!"
Sehun terpaksa menutup telinganya saat Luhan berteriak, dia bahkan nyaris tertawa kencang jika tidak segera menoleh dan melihat pintu kamar Luhan terbuka dan menampilkan beberapa wajah asing "Si tukang rebut" perhatian istrinya.
"LUHAAAAAN…!
Kali ini Luhan yang menutup telinga saat suara sembilan oktaf milik sahabatnya terdengar. Tangannya bahkan secara refleks menggenggam tangan Sehun saat wajah menyeramkan milik Baekhyun menatap marah namun jelas cemas melihatnya "Minggir kau!"
Dengan tak sopan Baekhyun menarik kencang lengan Sehun, membuat pegangan Luhan terlepas dan secara gamblang keduanya bertatapa sat ini "KAU!"
Luhan beringsut ngeri di tempat tidurnya, berniat menarik selimut hingga atas kepala sebelum tangan Baekhyun mencegahnya "APA YANG TERJADI? KAU BILANG PERGI HONEYMOON TAPI KENAPA BERAKHIR DI RAWAT DI RUMAH SAKIT? SIAPA YANG MELUKAIMU."
"ssst…Baek jangan berteriak…"
"KENAPA AKU TIDAK BOLEH BERTERIAK HAH?!"
Sehun tertawa melihat wajah istrinya sudah seperti tersangka di ruang tahanan. Dia juga menolak saat Luhan menatap memohon bantuannya, karena sekali lagi-…Membuat Luhan kesal adalah hal yang paling menggemaskan yang pernah Sehun lihat selamat hidupnya. Dan karena alasan itu pula dia mendukung kemarahan Baekhyun dan hanya berjalan menghampiri dua orang yang kini berdiri tak jauh darinya.
"Kalian juga datang?"
Sehun menyapa Chanyeol dan Kyungsoo yang berdiri di depannya. Sedikit menyadari bahwa wajah Chanyeol terlihat takut melihatnya dengan tangan Kyungsoo yang terus dia genggam dan dibawa bersembunyi di belakang tubuh tingginya.
"Kenapa? "
Luhan menyadari perubahan suara suaminya, membuat dirinya yang sedang memeluk Baekhyun buru-buru menatap Chanyeol seolah mengatakan bersikaplah seperti biasa…Sehun belum mengetahui apapun. Dan terimakasih untuk tatapan Luhan, karena setidaknya Chanyeol memiliki keberanian untuk membawa Kyungsoo berhadapan dengan Sehun tanpa perlu merasa takut Sehun akan menyakiti Kyungsoo.
"ah-…Tidak apa. Kyungsoo hanya sedikit tidak enak badan saat kami sampai di bandara." Katanya menjabat tangan Sehun. Membuat kali ini Kyungsoo yang harus bertatapan dengan suami kakaknya "Luhan pasti senang melihatmu." Katanya berbicara pada Kyungsoo yang hanya terus menunduk tak berani menatap Sehun. "Kenapa kau hanya diam?"
"Baek…"
Luhan berbisik lirih pada sahabatnya, dan seolah mengetahui keinginan Luhan-…Baekhyun bergegas menghampiri Kyungsoo dan
Sret…!
"Hyungmu menunggu. Cepat lihat dia."
Kyungsoo ditarik paksa oleh Baekhyun. Membuat Sehun menatap maklum sebelum berdiri bersampingan dengan Chanyeol dan melihat bagaimana Luhan benar-benar bahagia bertemu dengan keluarganya.
"Terimakasih sudah membawa Kyungsoo dan Baekhyun menjenguk Luhan."
"Terimakasih sudah memberitahu kondisi Luhan padaku. Apa Luhan sudah baik-baik saja?"
Chanyeol menyadari perubahan Sehun yang sedikit lebih terbuka malam tadi. Suami Luhan itu bahkan terdengar memohon saat meminta dirinya untuk membawa Baekhyun dan Kyungsoo ke Jeju malam tadi. Dan menyadari sedikit demi sedikit perubahan Sehun membuatnya mau tak mau juga sedikit demi sedikit menyukai pria yang memiliki pekerjaan mengerikan seumur hidupnya.
"mmhh… Luhan dan calon bayiku sudah sangat baik."
Chanyeol mengerutkan dahinya dalam hitungan detik. Mencoba mencari kebenaran dari ucapan Sehun dengan menatap si mafia sedikit memaksa "Calon bayi?"
"Ya. Luhan sedang-…"
"ASTAGA BENARKAH? BENARKAH KAU LU? KAU HAMIL?"
Sepertinya Chanyeol tidak perlu mencari kebenaran tentang apa yang dia dengar beberapa detik lalu, karena nyatanya saat ini kekasihnya kembali menjerit –agak histeris- kali ini saat bertanya tentang kehamilan Luhan. Dan saat Chanyeol melihat Luhan mengangguk yakin maka tak ada yang bisa dia lakukan selain tersenyum ikut berbahagia dengan kabar yang hampir setahun ini Luhan tunggu "haah-…Aku tidak percaya mengatakan ini. Tapi selamat untukmu. Kau pasti sangat bahagia."
Sehun tertawa kecil membenarkan ucapan Chanyeol dengan kembali menjabat tangan pria yang tumbuh besar bersama dengan istrinya "Aku sangat bahagia." Timpalnya memberitahu Chanyeol sebelum
Cklek…
Kedua pria tampan itu menoleh saat pintu terbuka, melepas dengan cepat jabatan tangan Chanyeol adalah hal yang Sehun lakukan saat menebak bahwa pria ber jas putih yang masuk ke ruangan istrinya adalah dokter yang akan memeriksa kandungan Luhan.
"Apa kau dokter yang akan memeriksa calon bayiku?" katanya mencoba menjabat tangan sang dokter yang terlihat tampan dengan rupanya "Dokter Cho." Katanya memperkenalkan diri pada Sehun "Oh Sehun." timpal Sehun dan membiarkan sang dokter mendekati istrinya.
Dokter yang memiliki tinggi sama dengan Sehun itu pun mendekati Luhan. Sedikit fokus memeriksakan kandungan Luhan sebelum Baekhyun mendekati sang dokter dan mulai memicingkan matanya "Sunbae?"
"huh?"
Dan saat Baekhyun menyapanya. Sang dokter yang awalnya fokus memeriksa Luhan terpaksa mengangkat wajahnya, mempelajari wajah pria cantik yang memanggilnya sebelum "Baekhyun?"
"oh sial! Ternyata benar dia!"
Sehun melihat Chanyeol menggerutu. Membuatnya penasaran sebelum tingkah sang istri juga membuatnya tak suka karena memekik bersamaan dengan Baekhyun "omo! Kyuhyun Sunbae!"
"Astaga jadi aku memeriksa dokter ternama disini?"
Dokter bernama Cho Kyuhyun itu terlihat senang melihat dua hoobae nya. Memeluk Baekhyun dan Luhan bergantian tanpa menyadari ada dua wajah kesal yang tengah berdiri tepat di belakangnya "Hey dokter Park."
Chanyeol menoleh saat Sehun memanggilnya dengan nada mematikan. Membuat sang dokter bahwa si mafia sedang merasakan hal sama dengan yang dia rasakan. Dan "hal" yang Chanyeol maksud adalah kalimat yang biasa disebut "cemburu" tanpa alasan yang jelas "Ada apa?"
"Siapa dokter itu?"
"Kau belum pernah bertemu dengan sainganmu kan?"
"Apa maksudmu?"
"Pria yang berdiri disana adalah saingan kita berdua. Kau tahu kenapa?"
"Cepat katakan padaku."
"Karena Cho Kyuhyun adalah cinta pertama Baekhyun dan Luhan sewaktu kami kuliah. Mereka bahkan sempat bertengkar memperebutkan siapa yang akan dinikahi pria menyebalkan itu di waktu lalu."
"ha ha ha…. Yang benar saja!"
Sehun tertawa begitu panas saat ini. tangannya membuat gerakan menepuk dada sebelum berjalan mendekati kerumunan dokter dan kisah cinta pertama istrinya di depan kedua matanya saat ini.
"Jadi bagaimana keadaan ISTRIKU dokter Cho?"
Sehun menjauhkan Baekhyun dari Kyuhyun. Dengan sengaja bertanya menekankan kalimat "istri" dan mencium bibir Luhan telak di depan cinta pertamanya. "Sayang ada apa denganmu?"
Luhan sedikit kewalahan saat Sehun mencium bibirnya terlampau dalam, nyaris mendorong tubuh kekar suaminya sebelum Sehun menatap sengit padanya "Kenapa? Aku tidak boleh menciummu?"
"Boleh tentu saja. Hanya saja-…lupakan. Sayang kenalkan ini seniorku saat kuliah dulu." Katanya mencoba menarik tangan Sehun yang terlihat menyombongkan diri saat ini.
"Sunbae kenalkan dia-.."
"Aku SUAMINYA-…Oh Se-Hun."
Awalnya Luhan tidak mengerti mengapa tingkah Sehun menjadi sangat kekanakan. Tapi saat dia mengenalkan diri penuh penekanan dan terus merengkuh pinggangnya, maka tak perlu bertanya mengapa sang suami bersikap menyebalkan karena pastilah Sehunnya benar sedang cemburu saat ini.
"Cho Kyuhyun."
"Nama yang aneh." katanya menyindir Kyuhyun dan mendapat pukulan kencang di pinggangnya "ssshh… Kenapa memukulku?"
"Jangan kekanakan. Dia seniorku dan jaga sikapmu."
"Senior atau cinta pertama huh?"
"Astaga Oh Sehun. Kau benar kekanakan!" timpal Baekhyun mencibir Sehun sebelum merasa sepasang tangan kekar melingkar di pinggangnya saat ini "Halo Sunbae. Masih ingat denganku?"
Kyuhyun terlihat mengingat sebelum "Park Chanyeol?"
"Benar! Park Chanyeol. Si pengeksekusi di ruang bedah. Aku sudah sangat hebat melebihi kemampuanmu sunbae!" katanya menyombongkan diri dan sengaja mencium leher menggoda milik sang kekasih di depan semua orang tanpa rasa malu sedikitpun.
Baekhyun yang merasa kesal pun mengelak ciuman sang kekasih sebelum memberi cubitan panas di lengan kekasihnya "yeol…Jaga sikapmu." Katanya berbisik geram sedikit mendelik kesal pada kekasihnya.
"waeee?!"
Kyuhyun rasanya ingin tertawa melihat tingkah Sehun dan Chanyeol yang jelas cemburu tanpa alasan. Membuatnya mengerti keadaan dan mencoba untuk tidak mengganggu dua pria posesif yang sedang merangkul pria cantiknya masing-masing "ekhem!"
Kyuhyun sengaja berdeham kencang sampai kedua pasangan itu melihat lagi padanya "Kondisi kandungan Luhan sangat baik. Aku sarankan untuk tidak membuat istrimu kesal karena itu sangat mempengaruhi janinnya. Jadi sesampainya di Seoul nanti Luhan harus secara rutin memeriksakan kandungannya."
"Tenang saja sunbae. Aku sendiri yang akan memeriksa dan memastikan keponakanku baik-baik saja." Timpal Baekhyun membuat Kyuhyun tersenyum mengerti.
"Baiklah. Aku rasa kalian sudah menjadi dokter yang sangat berpengalaman. Aku senang bertemu dengan kalian." Katanya melihat Baekhyun dan Luhan yang terlihat merona saat ini.
"Jangan merona." Sehun bergumam kesal mencibir istrinya, membuat Luhan berhenti tersenyum bodoh dan terus mendelik pada suaminya "Aku tidak merona."
"Tenang saja. Aku juga sudah menikah dan memiliki dua anak. Jadi kalian tidak perlu takut Luhan dan Baekhyun akan berpaling dari kalian."
"Sunbae sudah menikah?"
Kyuhyun mengangguk mendengar pertanyaan Baekhyun yang terlihat dibuat sedih. Membuatnya tertawa dan memutuskan untuk berpamitan pada Luhan yang juga terlihat sedih "Aku sudah menikah. Dan Luhan-…Selamat untuk bayimu. Kau pasti akan menjadi ibu yang cantik."
"gomawao sunbae…"
Luhan kembali salah tingkah di pelukan Sehun, membuat Sehun semakin gusar dan membisikan kalimat menyeramkan di telinga istrinya "Aku bilang berhenti merona atau aku akan menghukummu sepanjang malam." Katanya mengancam Luhan dengan kalimat "menghukum". Yang Luhan tahu itu artinya dia harus terus mendesah tanpa henti jika Sehun sedang "menghukumnya"
"Aku tidak merona sayang. Sungguh."
Sehun mencibir kebohongan Luhan dan mulai menatap kesal karena pria yang jelas adalah saingannya tak kunjung pergi "Jadi dokter Cho-..Kapan kau pergi dari ruangan istriku?"
"ah-…" Kyuhyun tertawa kecil dan mengangguk mengerti pada sindiran halus Sehun. Membuatnya menatap maklum pada Sehun dan Chanyeol sebelum mengerling kedua peraawatnya untuk segera pergi "Baiklah. Aku pamit dulu, kita bertemu lagi jika kalian sedang berlibur di Jaeju. Bagaimana?"
"Tentu saja sunbae!"
Chanyeol memutar kedua matanya saat Baekhyun terus bertingkah berlebihan. Membuatnya bibirnya tak tahan mengumpat kasar namun diabaikan Baekhyun yang masih sibuk mengangumi "sunbae" nya.
"Sampai nanti sunbae!"
Dan bersamaan dengan sapaan Baekhyun maka berakhir pula rasa "panas" yang dirasakan dua pria tampan bak raja yang terlihat masih sangat gusar. "Kau tidak akan pernah bertemu dengan Sunbaemu lagi sayang-…Tidak akan pernah."
"Kenapa tidak boleh?"
"Karena aku tidak suka. Lagipula dia sudah menikah, jadi jangan bersikap genit padanya!"
"Sunbae yang sudah menikah. Tapi aku belum! Jadi selama aku belum menikah aku bebas melakukan apapun!"
Dan tanpa alasan jelas, Baekhyun yang berbalik marah. membuat Chanyeol hanya bisa terkekeh melihat kekasihnya pergi berlari ke luar dari ruangan Luhan.
"Aku rasa dia sensitif tentang masalah pernikahan. Saranku agar kau segera menikahinya Park, atau dia akan terus menebar pesona."
"Diam kau Oh!"
Chanyeol mendengus kesal sebelum
Blam…!
Dia ikut pergi dari ruangan Luhan. mengejar Baekhyun yang memang sepertinya selalu sensitif jika membicarakan tentang pernikahan.
"Kalau begitu apa aku boleh bertemu dengan sunbae?"
"Dalam mimpimu rusa nakal!" gumam Sehun mencium bibir Luhan sekilas sebelum berdiri dan memakai mantelnya "Kau mau kemana?" katanya tak suka melihat Sehun pergi darinya, membuat Sehun kembali mencium kening Luhan dan meyakinkan Luhan bahwa dia akan segera kembali.
"Ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Hanya setengah jam dan aku akan kembali." Katanya memberitahu Luhan sebelum menatap Kyungsoo yang sedari tadi hanya diam di tempatnya "Jaga istri dan calon bayiku." Katanya berpesan pada Kyungsoo yang diam-diam tertawa lirih mendengar permintaan Sehun.
Ya-…Hari ini mungkin Sehun akan memintanya untuk menjaga Luhan dan bayinya. Tapi besok atau lusa atau bulan depan atau satu tahun siapa yang akan tahu apa yang akan Sehun perintahkan untuknya. Bisa saja Sehun memintanya untuk mati dan Kyungsoo bersumpah-…Dia sudah sangat siap jika hari itu benar-benar datang untuknya.
"Ya…Aku akan menjaga Luhan hyung dan calon bayimu." Katanya menyanggupi tanpa berniat sedikitpun melihat ke arah Luhan. Dia tahu jika menatap Luhan itu artinya secara tidak langsung kembali menyakiti Luhan. Mungkin Luhan sedang menjerit saat ini, ingin berteriak mengatakan sehun…bagaimana bisa kau meminta pembunuh putra kita untuk menjagaku. Namun terus menahan diri karena masih menganggapnya sebagai adik-…setidaknya sampai saat ini.
"Baiklah sayang. Aku hanya pergi sebentar."
Luhan mengangguk tak bersuara, membiarkan sang suami sendiri dengan Kyungsoo yang menemaninya. Jujur saja setiap melihat Kyungsoo, Luhan akan merasa begitu sakit. Dan mungkin alasan mengapa dia membawa Sehun berlibur ke Jeju bukan karena ingin menjauhkan Sehun dari Kyungsoo. Tapi menjauhkan dirinya sendiri dari sang adik.
Licik memang. Tapi Luhan benar-benar tidak memiliki pilihan lain selain meminta waktu lebih pada Kyungsoo agar bisa menganggap seperti tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
"Kau belum memberitahu Sehun tentang diriku hyung? Kau-…"
"Aku sudah bilang jangan panggil aku hyung untuk sementara soo. Aku benar-benar belum bisa mendengarnya."
Kyungsoo tersenyum lirih mendengar permintaan Luhan. diam dan menunduk menjadi satu-satunya hal yang bisa ia lakukan agar Luhan tidak kembali marah dan terlihat sakit karena dirinya "mianhae hyung."
"Tidak perlu."
"ara."
Kyungsoo hanya menghapus cepat air matanya. Tak bisa lagi berkata lebih banyak karena sikap dingin Luhan. Luhan sendiri buru-buru membalikan badannya. Menolak menatap Kyungsoo dan hanya ikut menikmati rasa sakit yang dia berikan pada Kyungsoo. "mianhae soo..tapi kau terlalu menakutkan untuk hyung." Luhan menjerit dalam hatinya. Mencoba memejamkan mata namun hanya air mata yang terus mendominasi keluar karena rasa bersalahnya pada Kyungsoo.
.
.
.
.
.
.
Dua hari telah berlalu. Dan selama dua hari itu pula kondisi Luhan sudah semakin baik, seluruh infus dan alat bantunya telah di lepas. Yang perlu dia lakukan hanya menunggu kapan dia diperbolehkan pulang walau Sehun terus memaksa agar dirinya beristirahat lebih lama dengan alasan untuk kebaikan bayi mereka. Dan tentu saja rasa bosan sungguh ia rasakan. Namun karena ini permintaan Sehun maka tak ada yang bisa Luhan lakukan selain pasrah dan menuruti keinginan suaminya.
Cklek…!
Luhan menoleh ke arah pintu. Berharap itu suaminya walau harus merubah raut wajahnya saat Kyungsoolah yang datang dengan membawa sesuatu yang sangat diinginkan Luhan sejak kemarin sore.
"hyung. Apa aku boleh masuk?"
"Masuklah."
Luhan mencoba bersikap dingin namun matanya tak bisa menyembunyikan rasa lapar dan sangat ingin mencicipi pizza yang saat ini dibawa Kyungsoo "Kau bawa apa?" katanya tak tahu malu bertanya. Membuat Kyungsoo tersenyum kecil sebelum mengangkat makanan yang sedang diinginkan Luhan namun tak kunjung dibelikan oleh Sehun sejak kemarin sore.
"Pizza."
"Oh."
"oh? Apa kau tidak ingin mencicipinya hyung?"
"Tidak. Aku tidak mau."
"Benarkah? Sayang sekali hyung. Aku membelikan ini khusus untukmu."
"Aku tidak ingin dimarahi Sehun."
"Sehun yang memintaku untuk membelikan pizza. Dia menghubungiku pagi tadi dan memintaku untuk memberikanmu pizza. Tapi jika kau tidak mau aku bisa memberikannya pada-…"
Sret…!
Hal tidak tahu malu kedua yang Luhan lakukan adalah mengambil paksa pizza di tangan Kyungsoo. Membukanya tak sabar dan langsung melahap rakus satu potongan besar pizza yang kini ada di tangannya "Pelan-pelan hyung kau bisa tersedak."
"mmhh…Ini-hmmh-eenak. Gomawo Soo."
Kyungsoo mengambil segelas air untuk kakaknya. Bersiap untuk kemungkinan Luhan tersedak dan benar saja Luhan tengah tersedak pizzanya sendiri saat ini.
Uhuk…!
Secara refleks pun Kyungsoo mengambil Pizza dari tangan Luhan. menggantinya dengan segelas air yang langsung dihabiskan cepat oleh Luhan "Pelan-pelan hyung."
"ara.." katanya kembali mengambil pizza di tangan Kyungsoo. Menatapnya lapar sebelum mengunyah pizza perlahan kali ini "Ini kemauan bayiku. Bukan aku."
Kyungsoo tertawa gemas sebelum mengangguk mengalah "Iya itu kemauan keponakanku bukan kemauan hyungku."
Ada yang mengganjal dari jawaban Kyungsoo. Membuat dirinya seketika diam dengan Luhan yang berhenti mengunyah. Keadaan canggung ini pun tak terelakan lagi, karena disaat Kyungsoo mengatakan calon bayi Luhan adalah keponakannya. Maka Luhan sedikit marah mengingat apa yang telah Kyungsoo lakukan pada putra pertamanya.
"Maksudku itu kemauan calon bayimu hyung." Katanya berusaha memperbaiki keadaan namun terdengar terlambat untuk Luhan "Seorang samchon tidak akan menyakiti keponakannya sendiri ani-…seorang samchon tidak akan membunuh keponakannya sendiri."
Kyungsoo kembali mendapat balasan dari perbuatannya. Dan dari seluruh balasan yang ia dapatkan. Entah itu kehilangan kekasihnya atau kehilangan hidupnya. Kebencian Luhan adalah yang paling membunuhnya. "Maaf hyung."
Luhan meletakkan asal pizzanya, merasa suasana hatinya menjadi sangat buruk dan mulai mencari keberadaan seseorang selain Kyungsoo yang menemaninya "Dimana Sehun?"
"Sehun sedang dalam perjalanan kesini."
"Lalu Baekhyun? Chanyeol?"
"Mereka sudah pulang ke Seoul."
"Mwo? Mereka pulang tanpa memberitahuku?"
"Baek hyung bilang ini mendesak. Jadi dia tidak sempat berpamitan denganmu hyung."
"Mendesak? Apa yang-…"
Cklek…
"Luhan!"
Kali ini pintu kembali terbuka, dan kedua orang yang baru membuka pintu dan dua orang yang berada di ruangan Luhan sama-sama terkejut. Luhan bahkan secara refleks menggenggam lengan Kyungsoo saat wajah Kai yang berada di depan pintunya.
"Kai? Kau datang?"
Antara senang dan takut kini Luhan rasakan. Senang karena bisa kembali melihat Kai yang selalu bersamanya dan takut karena setiap kali Kai melihat Kyungsoo kini hanya ada kemarahan yang begitu besar yang bisa Luhan rasakan hanya dengan mendengar nafas Kai yang memburu.
Kyungsoo sendiri begitu senang bisa melihat pria yang dulu pernah menjadi kekasihnya berdiri di sana. Menatapnya penuh rindu walau hanya kebencian dan kemarahan di setiap tatapan yang Kai berikan untuknya.
"brengsek….KAU!"
Luhan berdiri di depan Kyungsoo. Mencegah Kai yang kini berjalan mendekati Kyungsoo sebelum Max terlihat berlari dan berdiri tepat di depan Luhan "Kai…Apa kau gila? Ini rumah sakit!"
"Kenapa pembunuh itu disana?"
Luhan berjengit takut mendengar kemarahan Kai. Membuatnya menatap dari celah tubuh Max yang melindunginya. Terdengar sangat putus asa "Kai jaga bicaramu. Sehun bisa mendengar-…"
"JADI KAU BELUM MEMBERITAHU SEHUN!"
"KIM JONGIN JAGA BICARAMU!"
Luhan menarik lengan Max menjauh. Membuat secara langsung mata Luhan dan mata Kai bertemu. Keduanya menyiratkan kemarahan yang sama walau tatapan itu juga tidak menyembunyikan bahwa keduanya terluka dengan apa yang telah Kyungsoo lakukan pada mereka. "Sampai kapan kau akan terus melindunginya?" katanya mendesis dengan mata yang begitu ingin mencekik Kyungsoo sampai pria yang begitu ia cintai itu berhenti bernafas.
"Aku akan mengatakan secepatnya pada Sehun. Sungguh-…"
"Tapi kapan? KAPAN KAU AKAN-…"
Cklek….
"Ada apa ini?"
Dan ketakutan jelas terlihat di seluruh wajah yang berada di ruangan Luhan. Keempatnya menoleh dan mendapati Sehun terlihat marah karena Kai membentak istrinya dan Luhan sedang berteriak begitu ketakutan.
"Sayang."
Luhan buru-buru berlari mendekati suaminya. Memeluknya erat agar kesalahpahaman ini tidak semakin berlarut. Mata Sehun masih memandang jengah pada Kai yang kini pergi meninggalkan ruangan Luhan begitu saja "Apa yang Kai lakukan padamu?"
"Tidak ada sayang. Sungguh-…Aku hanya bertengkar kecil dengannya."
"Max…"
"Ya bos."
"Apa yang terjadi?"
Luhan memberi tatapan pada Max, dan tanpa perlu Luhan meminta pun Max tahu apa yang harus dilakukan saat Sehun bertanya sangat serius padanya "Mereka selalu bertengkar kecil bos. Kau tidak perlu khawatir."
"Benarkah?"
"mmmhh… Dan lagipula kami harus berbicara denganmu bos. Ini penting."
Mendengar kata penting yang disampaikan Max untuk suaminya membuat Luhan sedikit penasaran. Dia pun mendongak menatap Sehun memastikan bahwa tak ada yang disembunyikan darinya "Apa yang penting?" katanya bertanya. Membuat senyuman terlihat di wajah tampan Sehun. mengecup lama bibir Luhan adalah hal yang dia lakukan sebelum membawa istrinya kembali berbaring "Tentang pekerjaanku. Kau tidak menyukainya kan?"
Luhan menggeleng tanpa ragu, dan saat Sehun mengangkat tubuhnya berbaring. Matanya masih berusaha mencari jawaban dari Max yang terlihat memalingkan wajahnya saat ini "Jangan mencari tahu apapun yang membuatmu penasaran rusa nakal. Aku hanya sebentar."
Sehun kembali mencium kening Luhan sebelum mengerling pada Max "Ayo keluar." Katanya meninggalkan Luhan kembali bersama Kyungsoo. Mengabaikan rasa penasaran Luhan yang lebih memilih melihat keadaan Kyungsoo saat ini.
"Kau baik-baik saja?"
Kyungsoo mengangguk gugup. Tersenyum lirih menahan ketakutannya. Dia sama sekali tidak berani menatap Luhan, yang dia lakukan hanya terus menunduk tak menyangka bahwa kemarahan Kai jauh lebih besar dari yang Luhan rasakan untuknya.
Berkali-kali ia menghela nafas, berkali-kali pula matanya memanas. Membuatnya ingin melangkah pergi sebelum Luhan berdiri di depannya. Kyungsoo mau tak mau menatap kakaknya. Bertanya-tanya mengapa Luhan tak menatap benci padanya kali ini, hanya ada tatapan mengasihani yang diberikan Luhan padanya. Dan entah untuk alasan apa dia lebih menyukai Luhan yang membencinya daripada mengasihaninya.
"Ada apa hyung?"
Luhan menarik lengan Kyungsoo. Memeluk adiknya erat dan bisa merasakan bahwa kepedihan karena kebencian Kai adalah yang paling buruk yang bisa dirasakan seseorang yang pernah menjadi sepasang kekasih "Beri Kai waktu. Dia pria yang baik, jangan terlalu terluka karena sikapnya."
"hyung…"
Kyungsoo hanya diam saat Luhan memeluknya, namun saat Luhan memberikan semangat untuknya. Entah mengapa pertahanannya hancur-…Dia mencoba untuk tenang namun terlalu nyaman untuk tidak mengeluarkan rasa sakitnya "Hanya aku yang boleh membencimu. Jadi abaikan kebencian Kai. Kau dengar?"
"hkssss..hyung…"
Luhan mendekap erat tubuh Kyungsoo. Tubuh yang dulu sering ia biarkan kedinginan kini kembali ia lukai. Seberapa banyak rasa kecewa Luhan tidak akan pernah mengimbangi rasa sayangnya untuk Kyungsoo.
"Mianhae hyung…."
Dan jika dengan memeluk Kyungsoo akan membuat adiknya merasa lebih baik. Maka dia bersedia untuk melupakan kebenciannya sesaat dan hanya menjadi hyung untuk adik kecilnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi yang ingin kalian katakan adalah kalian tidak bisa menemukan dua bajingan itu?"
"Maafkan kami bos. Tapi semua yang kau gambarkan tentang dua bajingan itu terlalu mustahil untuk kami-…"
BRAK….!
"BERAPA KALI LAGI AKU HARUS MENDENGAR OMONG KOSONG KALIAN?"
Mengabaikan tatapan orang disekitar kamar Luhan, Sehun nyaris memukul Kai dan Max jika tidak mengingat bahwa Luhan akan mendengar dia berteriak dan berakhir bertengkar karena dia pasti tidak menyukai apa yang sedang dia coba lakukan saat ini.
"Kami akan terus mencari bajingan itu bos. Hanya beri kami sedikit waktu untuk menemukan mereka. Aku dan Kai akan-…."
"Mereka sudah tidak berada disini lagi."
Ketiganya menoleh saat sebuah suara terdengar. Sedikit bertanya mengapa Kyungsoo dengan lancang mencuri dengar ucapan mereka dan apa yang dia lakukan saat ini? Berbicara begitu tenang seolah mengetahui segalanya.
"Siapa mereka yang kau maksud?"
Kai sedikit cemas melihat reaksi tak suka dari Sehun, diam-diam dia sengaja berjalan mendekati Kyungsoo hingga jarak terjadi antara Sehun dan Kyungsoo "Aku membicarakan dua bajingan yang kau cari."
"Darimana kau tahu?"
"Diam-diam aku juga mencari mereka. Aku menghubungi Max meminta apapun yang dia ketahui. Dan setelahnya-…Aku menghubungi temanku."
"Teman?"
"Jeju pernah menjadi daerah kekuasaanku selama dua tahun. jadi aku memiliki banyak teman yang bisa aku percaya. Aku bisa menjaminnya."
"Lalu apa yang mereka katakan?"
"Mereka mengatakan orang yang kau cari kemungkinan besar telah bergabung dengan organisasi besar yang berpengaruh dan mengerikan. Jadi aku menebak mereka sudah berada di Seoul saat ini."
Sehun mengusak kasar wajahnya. Semua yang dikatakan Kyungsoo masuk akal, tidak mungkin mereka menyerang Luhan tanpa alasan. Dan satu-satunya alasan kuat istrinya disakiti adalah karena mereka melakukannya dibawah perintah orang yang lebih berkuasa darinya. "Max…Siapkan tiket untukku dan Luhan. Kami pulang besok malam."
Max mengangguk mengerti. Segera pergi meninggalkan rumah sakit meninggalkan ketiga yang lain yang masih berada di sana "Aku akan pergi ke cluster dan merapikan pakaian istriku. Kalian temani Luhan selagi aku pergi. mengerti?"
Keduanya mendengar-…Tapi tak ada yang merespon. Mereka sibuk saling menatap, entah itu tatapan rindu atau benci entahlah-…Yang jelas saat Sehun melangkah pergi keduanya hanya diam di tempat mereka masing-masing dengan Kai yang terus menatap Kyungsoo tak berkedip.
"Kai-…."
"Jangan pernah muncul dihadapanku lagi. Kau dengar?!"
Tak ingin hatinya tergoyah, Kai memutuskan untuk pergi. Hatinya juga meras sakit dengan apa yang terjadi pada Kyungsoo. Tapi jauh dari semua itu-…Dia juga merasa begitu sakit. Kyungsoo cinta pertama Kai. Begitupula sebaliknya, namun saat keadaan tidak memungkinkan mereka bersama. Maka hanya kebencian yang boleh merasakan.
"Kai…."
.
.
.
.
Malam harinya Luhan hanya berada sendiri di ruangan yang selalu mempunyai bau khas menyengat. Seorang diri karena sore tadi Max memberitahu Luhan bahwa dia dan Kyungsoo sudah kembali ke Seoul lebih dulu dengan Kai yang sudah pergi empat jam lebih awal. Membuat hanya dirinya seorang diri menikmati betapa sepi dan sedih hatinya walau ada satu hal yang akan selalu membuat Luhan menjadi kuat.
"Sayang kau dimana?"
Luhan bergumam lirih dengan ponsel di tangannya. Berniat menghubungi Sehun namun terus tak ada jawaban. Membuatnya menyerah menghubungi si pria sibuk dan lebih memilih berbicara dengan calon malaikatnya kelak.
"Hey adik bayi. Marahi ayahmu jika dia sampai nanti."
Luhan mengusap sayang perutnya. Merasa tak sabar menanti kelahiran malaikat kecil yang kelak akan selalu menemani dirinya. "Dan jika kau besar nanti. Jangan seperti ayahmu. Eomma sangat sensitif jika berada seorang diri."
Bibir Luhan terasa menggelitik di ucapannya. Rasanya sudah lama sekali dia tidak dipanggil dengan sebutan seorang ibu. Karena walau berkali-kali dia menolak dipanggil ibu Sehun akan terus meminta dan mengajarkan calon bayinya kelak memanggilnya dengan ibu-…Sama seperti Ziyu dulu.
"Ziyu..."
Gerakan mengusap Luhan terhenti. Rasanya baru kemarin mereka merayakan natal terakhir bersama Ziyu. Dan salju diluar malam ini seolah mengingatkan Luhan bahwa ini adalah natal kedua yang harus ia rayakan tanpa kehadiran buah cintanya dan Sehun.
Luhan perlahan menyingkap selimutnya. Berjalan mendekati jendela di kamar rumah sakit berniat menikmati salju diluar sana. Niat awal memang hanya menikmati lalu tak sengaja matanya menatap satu keluarga kecil yang sedang bermain lempar salju. Mainan kesukaan Ziyu sewaktu dulu.
"Nak..."
"Apppaaaaa telima ini!"
Pluk!
Wajah Sehun penuh dengan butiran salju yang dilemparkan Ziyu. Membuat sang ibu tertawa terbahak menyadari suaminya benar-benar kalah telak hanya dengan lemparan kecil putra mereka. "Eomma! Ziyu hebat kan?"
Sang putra bersorak senang. Membuat Luhan bertepuk riuh menyemangati putra kecilnya "Putra eomma yang terbaik! Wuhuuu!"
"Yey!"
Dan saat keduanya bertos ria. Maka sang ayah diam-diam mendekati putranya. Berjalan mengendap sampai
"Kena kau anak nakal!"
"APPPAAAA!"
Ziyu meronta saat sang ayah menggoda. Membawanya berlari di tengah salju lalu memaksanya duduk dan menjadikan dirinya boneka salju "APPPA SHIRHEO!"
"Ziyuu snowman appa."
Seolah tak ada habisya Sehun semakin menggoda Ziyu, membuat si balita merengek marah namun hanya ada tawaan dari kedua orangtuanya. "EOMMA!"
Sementara sang ayah terus mendandaninya seperti manusia salju, Luhan disana hanya bisa tertawa menikmati hal terindah di malam natalnya.
Hal terindah yang tanpa ia ketahui menjadi malam terakhirnya bersama putra kecilnya.
"Sayang..."
Dan saat sepasang tangan melingkar sempurna di pinggangnya-...Luhan disadarkan. Kembali pada kenyataan bahwa saat ini hanya ada dirinya dan Sehun yang bertahan. Merasakan lubang besar di hati mereka karena kehilangan yang mengambil masing-masing setengah dari jiwa mereka.
"Hey..."
Luhan berniat menghapus air matanya, tapi sebelum dia bisa melakukannya tangan hangat sang suami lebih dulu mengusap air matanya. "Jangan menangis."
Sehun meletakkan dagu di bahu sang istri. Mendekapnya erat dengan tangan yang mengusap lembut calon bayi mereka kelak "Aku tidak-..."
Sehun tertawa kecil mendengarnya. Memutar tubuh Luhan sebelum mencium sayang kening istrinya "Aku bisa menebak seluruh isi kepalamu sayang."
"Sekarang kau cenayang?"
"Ani-... Aku Sehunclause."
"Huh?"
Sehun mendekati Luhan. Mencium leher istrinya sekilas dengan tangan yang memakaikan sesuatu di leher sempurna istrinya. "Selamat natal."
Luhan begitu tersentuh dengan hadiah yang diberikan Sehun. Matanya tak berkedip menatap liontin kecil berinisial nama mereka. Begitu bahagia karena bisa merasakan betapa Sehun begitu tulus mencintainya "Cantik."
"Tidak secantik dirimu." Timpal Sehun merengkuh pinggang Luhan dan membawa sang istri ke pelukannya. "Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu. Tapi-..."
Luhan melepas pelukan Sehun. Dengan kedua tangan yang melingkar di leher sang suami dia mulai mengecupi bibir tipis milik pria tampannya "Tapi apa?"
Sehun mengelak menolak ciuman bertubi si pria mungil. Berusaha membuat Luhan fokus agar mengatakan hal yang mengganggunya "Aku belum menyiapkan hadiah apapun untukmu. Mianhae."
"Ck! Kau meminta maaf atau menggodaku?"
"Meminta maaf tentu saja."
"Ah ya benar-... Meminta maaf dengan mata berkedip menggoda dan bibir mengerucut seksi. Kau tahu suamimu ini mudah terangsang kan? Jadi berhenti menggodaku."
"Sehunnn!"
Sehun tertawa kencang sebelum menundukkan kepalanya dan menyingkap pakaian Luhan untuk mencium sayang perut istrinya "Selamat natal anak ayah." Katanya mencium berulang perut Luhan dan kembali menatap sang istri.
"Kau menyapa adik bayi?"
"Bukan-... Aku mencium hadiahku."
"Hadiah?"
"Mmmhh... Hadiah yang kau berikan untukku tahun ini sungguh tidak ternilai. Terimakasih sudah membuatku sangat bahagia dengan berita kehamilanmu sayang."
"Sehunna..."
Jujur Luhan tak menyangka Sehun akan mengucapkan kalimat seromantis ini padanya. Hatinya bahkan berdegup kencang saat tangan Sehun membelai wajahnya begitu lembut membuat Luhan diam-diam berterimakasih pada siapapun yang membuat suaminya begitu menggemaskan malam ini.
"Aku sangat mencintaimu Lu."
Sehun mengulangnya. Penuh cinta kali ini. Dia bahkan diam-diam memiringkan kepalanya untuk memagut bibir manis Luhan.
Luhan menyambut ciuman lembut suaminya. Bibirnya membuka pasrah sementara Sehun terus memperdalam ciuman mereka. Ia menjilat, menggigit sekali menyesap kencang bibir Luhan sebelum lidahnya menyelinap masuk kedalam mulut Luhan yang terbuka.
Luhan sendiri memejamkan erat matanya, menikmati setiap sensasi mendebarkan saat pagutan sang suami terasa semakin menuntut. Lidah keduanya bertemu dan saling melilitkan, hingga benang saliva jelas terlihat saat Sehun mengganti posisi miring ke kanan di ciuman mereka.
Tangan Sehun yang tidak bekerja diam-diam menyelinap masuk ke pakaian pasien yang digunakan istrinya. Mengusap gemas dua tonjolan kecil di dada Luhan sebelum berakhir mengusap lembut perut sang istri berharap adik bayi tidak terganggu dengan kegiatan orang tuanya.
"Ngggh..."
Luhan mengerang saat Sehun sengaja menggesekan kejantanan mereka, erangan Luhan bahkan terdengar pasrah dan siap mendesah hebat jika Sehun tidak tiba-tiba melepas ciuman mereka.
Mata Sehun yang sebelumnya terpejam Kembali terbuka. Memperhatikan wajah sang istri yang begitu menggoda di depannya. Mata rusa Luhan yang sudah sayu sarat akan nafsu, dipadukan dengan bibirnya yang terengah antara mencari oksigen dan ingin mendesah adalah hal yang membuat Sehun bisa berbuat gila kapan saja.
Dia bahkan bisa menyeret tubuh mungil istrinya ke tempat tidur, lalu membuka lebar-lebar selangkan Luhan sebelum mencari kehangatan untuk penisya di lubang sang istri. Atau dia bisa saja membuat Luhan on top dan memaksa sang istri menaik turunkan seksi tubuhnya dengan lubang yang akan menjepit penisnya begitu kencang.
Ya-... Semua fantasi Sehun bisa saja ia jadikan kenyataan jika tidak mengingat usia kandungan Luhan belum sampai di bulan ketiga. Itu artinya dia harus menunggu setidaknya dua bulan lagi agar bisa menjamah istrinya dan membuat bibir Luhan mendesahka hebat namanya.
"Sehunnie kenapa berhenti? Aku ingin bercinta."
Sehun terkekeh tak tega pada istrinya. Mencium lama kening Luhan sebelum mengangkat tubuh sang istri dengan satu tangan kekarnya.
"Sayang.. Apa kita akan bercinta?"
Luhan bertanya penuh harap mengira Sehun akan membawanya ke tempat tidur namun harus mendengus kesal karena daripada tempat tidur-...Sehun justru mendudukannya di meja kecil samping tempat tidur. "Sayang kau mau apa? Apa yang-...akhhhh"
Luhan mendesah tertahan saat sang suami dengan tiba-tiba menurunkan celana yang ia gunakan. Membawa kedua kakinya bertumpu di atas meja sementara kepala Sehun sudah menunduk dibawah dengan mulut yang melumat penisnya yang sudah menegang.
"Sehun kenap kau-akhhhh- sayang aku tidak mau dikulum -nghhh-"
Luhan berusaha menjambak rambut suaminya agar berhenti mengulum. Namun saat mata seksi Sehun bertemu dengannya maka kuluman Sehun semakin terasa nikmat di setiap hisapan kecil yang diberikan suaminya.
Dan tanpa perlu bantuan Sehun lagi, Luhan melebarkan kedua pahanya. Mengangkang begitu menggoda hingga kepala suaminya semakin tak terlihat di antara selangkangannya.
Luhan mendongakan kepalanya dengan mata terpejam. Sesekali melihat ke bawah dan semakin bernafsu melihat Sehun sengaja mengeluar masukkan penis Luhan di mulutnya. Sesekali pula dia menjilat tip penis Luhan dengan mata seksi menatapa sang istri. Lidahnya membuat putaran di tip penis Luhan sebelum meraup rakus penis istrinya yang ukurannya tidak ada setengah dari miliknya.
"Ahkkkkhh sayangghhh ini nikmaath -nghhhaaah"
Luhan meremas rambut suaminya. Kakinya semakin mengangkan dengan tangan yang mendorong kepala Sehun agar menghisapnya lebih kuat.
"Ya seperti ituh sayangghh...akhhh..ini sungguh-...SEHUN-akkkkhhh...."
Sampai akhirnya keinginannya terpenuhi Luhan mengejang. Kedua pahanya dirapatkan hingga mengunci kepala Sehun sementara dia mencapai klimaks karena sang suami benar-benar menghisap kuat penisnya.
Luhan sedikit membuka pahanya. Memperhatikan bagaiamana Sehun menelan habis cairan putihnya adalah hal yang begitu membuat wajahnya merona.
Dan melihat wajah tersipu adalah hal yang menggemaskan untuk Sehun. Dia bahkan nyaris tidak bisa menahan diri jika perut Luhan tidak sengaja terlihat olehnya. Seolah ada si adik bayi yang berbicara sambil mengatakan ayah jangan sakiti aku sekarang. Nanti saja jika aku sudah cukup kuat menerima hentakan.
Anggap Sehun gila, tapi dengan begitu dia bisa lebih menahan diri. Diambilnya celana pasien Luhan sebelum memakaikannya kembali pada sang istri.
"Eh? Kenapa dipakaikan? Sayang kenapa kau memakaikan celanaku?"
"Tentu saja karena kau harus tidur. Aku tidak mau kau kelelahan sayang. Besok kita pulang ke Seoul."
"Tapi kita belum bercinta-... Maksudku… Kau bahkan masih tegang sayang."
Luhan tanpa ragu menunjuk celana Sehun yang terlihat begitu sesak. Membuat Sehun tertawa kecil sebelum mengangkat si pria mungil ke tempat tidur. "Aku bisa mengurus diriku sendiri di kamar mandi."
"Kau memiliki istri yang bisa mengurusmu kenapa harus mengurus diri sendiri?" Katanya memprotes Sehun yang terus memaksanya berbaring. Kali ini menaikkan selimut dan mengecup sayang keningnya.
"Tapi istriku sedang hamil. Dan aku tidak akan bercinta denganmu sampai usia bayiku tiga bulan."
"MWO?"
"Kau yang dokter Lu. Kau pasti tahu aturannya."
"Itu hanya berlaku pada janin yang lemah sayang."
"Dan aku tidak ingin mengambil resiko. Tiga bulan waktu yang singkat. Aku akan membuatmu mendesah hebat setelah tiga bulan."
"Tapi aku ingin bercinta."
"Aku akan mengulum dan memasukkan jariku agar kau merasa nikmat bagaimana?"
"Tidak akan senikmat penis besarmu sayang."
Sehun benar-benar akan gila mendengar racauan Luhan yang begitu frontal. Membuatnya harus pintar menahan diri kalau tidak ingin berakhir "ganas" di ranjang.
"Kenapa kau tiba-tiba menjadi mesum sayangku. Aku janji hanya tiga bulan."
"Ish! Bagaimana bisa kau mengatakan istrimu mesum? Aku sedang ingin!"
"Tapi aku baru selesai memanjakanmu sayang."
"Tapi rasanya berbeda." Katanya merengek kesal sampai Sehun mencium telak bibirnya "Jangan merengek lagi. Aku benar-benar akan membuatmu nikmat dengan mulut dan jariku. Hanya bersabar sebentar hmmm?"
Luhan mendelik menggunakan mata rusanya. Berharap Sehun berbaik hati melayaninya malam ini walau harus berakhir memelas karena suaminya terus menggeleng sebagai jawaban "araseo! Tiga bulan. Baiklah aku bisa tahan." Katanya menarik selimut sampai menutupi kepalanya.
Membuat Sehun tertawa dan memaksa mencium kening Luhan sebelum berjalan menuju kamar mandi "Kau mau kemana?"
Luhan menyingkap selimutnya. Bertanya mendelik pada Sehun yang terlihat enggan menjawab pertanyaan sang istri. "Mengurus diriku sebentar sayang."
Yang dimaksud mengurus diriku disini adalah Sehun akan membuat "adiknya" yang sudah terdesak sempit agar bisa kembali bernafas. Dan sayangnya mengurus diri malam ini hanya bisa ia lakukan seorang diri...dikamar mandi...dengan kedua tangannya.
Membuat Luhan mencibir kesal sebelum kembali menarik kasar selimutnya "rrrrghhhhhhhhhh...Menyebalkan sekali!"
.
.
.
.
.
.
.
Dua hari setelahnya Luhan sudah berada di Seoul. Memulai aktifitasnya sebagai dokter walau Sehun terus memintanya untuk beristirahat lebih lama. Luhan yakin yang membuat suaminya keberatan dia kembali bekerja adalah karena dia harus menjalani tiga shift mengingat dirinya ditempatkan di bagian gawat darurat.
Namun nyatanya kekhawatiran Sehun tak beralasan, karena di hari yang sama Baekhyun menghubungi Luhan dan mengatakan bahwa dirinya tidak lagi ditempatkan di unit gawat darurat. Dan kabar baiknya adalah Luhan kembali ditugaskan menjadi kepala tim spesialis bedah. Itu artinya Luhan hanya perlu berada di rumah sakit jika ada operasi yang dijadwalkan untuknya. Jika tidak-…Luhan bisa kembali beristirahat di rumah atau hanya berada di rumah sakit tanpa melakukan apapun.
Karena hal itupula Sehun tidak memiliki alasan untuk mengekang istrinya lebih lama, dia memerintahkan empat penjaga sekaligus untuk mengawasi Luhan-…dari jauh tentu saja. Karena jika empat penjaganya mengawasi dari dekat hanya akan menimbulkan keributan mengingat Luhan tidak suka diikuti.
"Selamat datang kembali dokter Oh."
Luhan hanya mengangguk saat beberapa perawat dan dokter muda menyapa padanya. Bertanya-tanya mengapa sikap mereka menjadi aneh dan terlihat terlalu bahagia untuk alasan yang membuatnya bingung "Jangan terlalu lelah dokter Oh. Selamat untukmu."
Kali ini dokter senior yang menyapa padanya. Membuat Luhan membungkuk untuk menyapa sebelum kembali harus mengernyit bingung karena hampir semua dokter dan perawat bersikap aneh saat melihatnya "Kenapa mereka bersikap sangat membingungkan." Katanya bergumam kecil sebelum matanya melihat sosok pria yang memiliki tinggi sama dengan suaminya tengah tersenyum khas dengan lesung pipi yang menambah ketampanan wajahnya "Chanyeol?"
Seingat Luhan-…Chanyeol masih dalam masa skorsing nya sampai dua bulan kedepan. Tapi kenyataannya adalah kekasih Baekhyun itu berada tak jauh darinya dan sudah mengenakan pakaian operasi. Bukankah artinya Chanyeol sudah bertugas, membuat kakinya melangkah cepat untuk menghampiri pria yang tumbuh besar dengannya "Yeol…"
"Hey Lu…"
"Selamat pagi dokter Oh. Jangan terlalu lelah kau harus banyak beristirahat."
Perawat yang sedang berbicara dengan Chanyeol menatap Luhan penuh arti, dan setelah menyampaikan kalimatnya dia pergi begitu saja membuat Luhan mulai kesal karena tidak mengerti apapun "Mereka semua bersikap aneh kau tahu." Katanya memberitahu Chanyeol yang kini merangkul pundak Luhan.
"Mereka mungkin sedang bahagia."
"Bahagia?"
"mmhh…"
"Bahagia karena apa?" katanya bertanya pada Chanyeol yang terus merangkul pundaknya dan membawanya berjalan ke arah kantin.
"Berita kau hamil rupanya membuat mereka sangat senang."
"omo! Mereka tahu?"
Chanyeol mengangguk membenarkan membuat Luhan melipat kedua tangannya di atas dada
"Pantas saja mereka bersikap aneh. Pasti Baekhyun yang mengatakannya kan?"
"Kau tidak perlu bertanya lagi kan?"
Chanyeol balik bertanya pada Luhan, membuat Luhan semakin mendengus sebelum
Sret…
"Duduklah."
Luhan mengangguk saat Chanyeol menarik kursi untuknya, segera menduduki tempatnya sebelum suara si penyebar gosip terdengar di telinganya saat ini.
"Luhaaaaaan…"
Baekhyun berteriak sangat memalukan, membuat Luhan mencibir kesal namun terpaksa tertawa saat Baekhyun mencium kedua pipinya bersamaan "Aku merindukanmu Luluku sayang. Baekie juga rindu adik bayi." Katanya mengusap gemas perut Luhan sebelum menarik kursi di samping kekasihnya.
"Hey tampan. Kau terlihat seksi."
Chanyeol tertawa gemas mendengarnya. Mencubit pipi bulat Baekhyun adalah hal yang dia lakukan sebelum mencium bibir yang tak pernah lelah bercerita milik kekasihnya. "Kau jauh lebih seksi." Katanya menciumi bibir Baekhyun sebelum
"ekhem!"
Luhan berdeham begitu keras, membuat kedua pasang kekasih itu segera melepas pagutan mereka dan menatap si rusa galak yang terlihat tak suka saat ini "Wae?"
Luhan mengabaikan ejekan Baekhyun dan lebih memilih menatap Chanyeol untuk bertanya "Yeol…Kenapa kau ada disini? Masa skorsing mu sudah berakhir?"
"Sudah."
Baekhyun yang menjawab, membuat Luhan mau tak mau melihat sahabatnya yang terlihat sangat bahagia saat ini "Jika Chanyeol belum selesai dengan masa skorsingnya mungkin kau juga masih bertugas di unit gawat darurat saat ini."
"Kenapa seperti itu?"
"Karena mereka sudah pergi."
Luhan merasa ada yang tak beres dengan tempatnya bekerja. Fakta pertama adalah karena seluruh perawat dan dokter terlihat bahagia. Berbeda dengan saat dia berangkat ke Jeju semua perawat dan dokter terlihat ketakutan karena Soojung dan timnya berada disini. Fakta kedua adalah kembalinya posisi awal miliknya dan Chanyeol setelah sebelumnya Luhan dipindahkan ke unit dua puluh empat jam sementara Chanyeol harus menjalani masa skorsing. Membuat rasa ingin tahu Luhan semakin besar seiring dengan ucapan Baekhyun saat ini.
"Mereka? pergi? siapa yang pergi?"
"Soojung dan timnya sudah tidak berada di rumah sakit lagi."
"Apa maksudmu Soojung dan tim nya tak lagi berada di rumah sakit?"
"Aku tahu ini sangat mengejutkan... Tapi bukankah kita harusnya bersyukur? Setidaknya mereka membatalkan proyek gelap mereka disini dan yang paling penting mereka sudah pergi dari rumah sakit ini!"
Luhan merasakan kejanggalan dari kepergian Soojung membuatnya kembali bertanya pada Baekhyun, serius kali ini.
"Kapan Soojung pergi Baek?"
"Umhh sekitar tiga hari yang lalu dia tak pernah datang ke rumah sakit. Dan hari ini Professor Kang bilang dia sudah tak lagi bekerjasama dengan kita. Ada apa Lu? Bukankah itu bagus?"
"Tidak... Ada sesuatu yang aneh. Aku harus mencari tahu."
Luhan bergegas pergi dari kantin rumah sakit, mengabaikan panggilan Chanyeol dan Baekhyun yang terus memanggil namanya.
"Perasaan macam apa ini?"
Katanya bergumam cemas dengan tangan merogoh ponsel yang berada di jas putihnya. Mebuka kontak telepon sebelum mencari nama Max di kontak ponselnya.
"Angkat Max..." katanya bergumam sebelum
"Luhan.."
"Max!-...Max temui aku di kafe dekat rumah sakit. Aku menunggumu."
Pip!
Merasa tak perlu mendengar jawaban Max, Luhan menutup ponselnya. Bergegas melepas jas putihnya sebelum benar-benar berlari menuju kafe berniat untuk mencari situasi terbaru yang sedang terjadi.
"Max disini?!"
Sampai akhirnya dua puluh menit menyiksa berhasil ia lalui. Pikiran pendeknya terus menebak hal mengerikan sementara hatinya terus menebak sesuatu yang mengganjal untuknya. Tangannya terkepal erat dengan kepala yang begitu sakit. Dan saat melihat kaki tangan sang suami memasuki kafe maka Luhan merasa melihat jalan keluar saat ini.
"Max? Ada apa? Kenapa kau terlihat pucat?"
"Lu…Sesuatu terjadi. Aku baru ingin menghubungimu sebelum kau menghubungiku terlebih dulu."
Dan benar saja saat Luhan mengatakan perasaannya begitu mengganjal, maka disinilah jawabannya. Max yang terlihat serius mencoba memberitahu satu hal yang tidak ia ketahui sama sekali.
"apa-…Apa yang terjadi? Kenapa kau membuatku takut?"
"Luhan dengarkan aku-…Aku rasa kau harus segera membawa pergi Kyungsoo jauh dari sini."
"Kyungsoo? Kenapa? Apa Sehun sudah tahu?"
"Belum. Tapi aku yakin dia akan segera tahu."
"Dan kenapa suamiku bisa tahu siapa Kyungsoo? Max apa yang terjadi!"
Max menatap lirih pada Luhan. Merasa begitu menyesal karena dirinyalah yang harus memberitahukan kabar buruk ini pada Luhan. "Luhan…Aku tahu ini gila. Tapi pagi tadi kami mendengar kabar bahwa Jongin-…"
"Jongin? Ada apa dengan Jongin?"
Max masih tertunduk di tempatnya. Memberanikan diri untuk menatap Luhan sebelum memberitahu kebenarannya pada istri bosnya "Jongin-…Dia telah resmi kembali bergabung dengan Presdir Park."
Mata Luhan membulat lebar. Dirinya seperti terkena petir di siang hari saat mendengar pria yang sudah ia anggap seperti seorang kakak berbalik menghianatinya dan bekerja untuk satu-satunya pria yang kematiannya adalah hal yang sangat Luhan inginkan.
"tidak-….Ini tidak mungkin.."
.
.
.
.
.
.
"BRENGSEK! APA KALIAN BILANG? KAI BEKERJA UNTUK YOUNGMIN?"
Dilain tempat berita tentang penghianatan Kai terdengar sampai di telinga pria yang sudah membuat Kai hingga menjadi tangguh seperti saat ini. Sehun merasa sangat dikhianati dengan berita kepindahan Kai bekerja untuk Youngmin.
Dan satu-satunya yang Sehun pikirkan adalah sang istri. Bagaimana jika Luhan tahu penjaga favoritnya bekerja untuk pria yang sangat dia benci. Bagaimana jika istrinya tahu Kai menyakiti adiknya dengan memutuskan untuk bekerja pada Youngmin. Bagaimana jika itu semua mempengaruhi Luhan dan calon bayinya?
Membuat tangan Sehun mengepal erat tak tahan jika penghianatan ini akan berakibat buruk untuk istrinya "Kapan dia resmi bergabung dengan Youngmin?"
Shindong merasa begitu marah dan kecewa pada keputusan Jongin. Rasanya sulit menerima berita penghianatan ini disaat semua bisnis yang Kai awasi berpenghasilan besar. Ani-…Berita tentang penghianatan ini lebih menyakitkan karena bukankah mereka sudah bersama untuk waktu yang lama? Mengikat darah sebagai saudara? Tapi apa yang Kai lakukan dengan bergabung bersama pria yang selalu ingin menyakiti Luhan. Membuat Shindong ingin berfikir ini bagian dari rencana Kai namun pertanyannya rencana apa?
"SHIN DONG HEE!"
Dan saat Sehun memakinya. Dia kembali menatap sang bos. Berusaha menenangkan diri dan tak terlihat sama marahnya dengan keputusan Kai bergabung bersama Youngmin
"Kai sudah bekerja bersama dengan Presdir Park rlima hari yang lalu bos. Dan saat ini dia berada di Daegu bersama Soojung. Mereka kembali menjadi satu tim untuk proyek yang sedang dibuat oleh Presdir Park."
"brengsek!-…SIAPKAN MOBIL!"
.
.
.
.
.
.
.
"Apa kau bilang? Jadi alasan mengapa Soojung dan tim nya berhenti dari rumah sakit tempatku bekerja adalah karena Kai?"
"mmhh…Youngmin tahu kemampuan Kai dan Krystal jika mereka bekerja sama. Dua orang itu akan sangat mematikan jika mengerjakan sebuah proyek. Dan dengan bergabungnya Kai-..aku rasa mereka akan menuai sukses proyek mereka tanpa kesulitan berarti."
Luhan merasa sangat mual saat ini, kepalanya berdenyut sakit dengan hati yang meringis sakit begitu kecewa dan marah. Dia tidak menyangka Kai akan berbuat sejauh ini hanya untuk menghindari Kyungsoo. Atau mungkin dia ingin membalas Kyungsoo begitu keji? Membiarkan sang suami bertanya mengapa dia pergi dan berakhir dengan mengatakan alasan mengapa dia pergi adalah karena Kyungsoo adalah orang yang selama ini Sehun cari.
Membayangkannya saja sudah membuat Luhan ketakutan, dia begitu marah namu mencoba mengerti posisi Kai saat ini "Apa yang harus aku lakukan Max?"
Luhan bertanya begitu bingung, tidak tahu harus melakukan apa sampai Max menarik kursi di sampingnya. Memberikannya segelas air agar merasa sedikit lebih tenang saat ini "Lu…Jika kau tertekan itu akan berpengaruh pada bayimu. Tenanglah"
Luhan mengangguk membenarkan. Mencoba untuk menghela dalam nafasnya dan meminum segelas air yang diberikan Max "Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa Max."
"Tebakanku saat ini Sehun sedang pergi menuju tempat Youngmin. Selanjutnya mereka akan bertengkar hebat dan berakhir dengan Youngmin yang mengatakan alasan mengapa Kai memutuskan untuk bergabung dengannya. Jadi menurutku hal yang harus kau lakukan adalah membawa pergi Kyungsoo sejauh mungkin dari Sehun."
"Apa hanya itu satu-satunya cara?"
"Hanya itu satu-satunya cara Lu."
.
.
.
.
.
.
.
BLAM….!
"PARK YOUNGMIN!"
"Sehun…"
Seunghyun yang melihat sang "adik" berteriak murka buru-buru menghampirinya. Mencegah Sehun untuk tidak berteriak pada "ayah" mereka namun percuma-…Sehun terus berteriak tanpa takut sedikitpun.
"MINGGIR!"
Sehun mendorong kakak sulungnya. Mencoba mencari Youngmin yang ternyata sedang bermain billiard seolah tak tahu bahwa dia akan segera menemui ajalnya hari ini "PARK YOUNGMIN!"
"Ada apa anakku sayang?"
Youngmin membuat gerakan mendorong tongkat biliard nya. Dan saat meleset dia menatap Sehun menyeringai, membuat si putra bungsu benar terlihat murka terlihat dari wajahnya yang begitu memerah "KAU!"
Belum sampai Sehun berada di depan Youngmin, seluruh anak buahnya menghalangi. Menodongkan senjata pada Sehun agar bergerak mundur menjauhi Youngmin,
"Apa yang kalian lakukan? TURUNKAN SENJATA KALIAN?!"
Seunghyun berteriak marah pada anak buahnya. Dan saat mereka tak bergeming maka suara seringai Youngminlah yang paling terdengar. "Jangan membuat anak-anakku ketakutan. Turunkan senjata kalian."
Berbanding terbalik dengan perintah Seunghyun. Maka seluruh anak buah Youngmin seketika menurunkan senjata saat Youngmin memberikan perintah. Selanjutnya dia berjalan mendekati Sehun yang terlihat sangat murka melihatnya "Ada apa? Kenapa kau datang? Ah-….Apa ini karena Jongin?"
"brengsek! Apa yang kau lakukan pada Jongin? Kenapa dia bergabung denganmu? APA KAU MENGANCAMNYA?"
"Aku lebih suka jika kau menyebutnya sebagai "kembali" pada jalan yang benar."
"PERSETAN!"
Youngmin tertawa kencang sebelum kembali fokus pada biliardnya membuat gerakan mendorong tongkat biliard dan kembali menatap putranya "Dia datang padaku lima hari yang lalu. Dia mengatakan tidak bisa lagi bekerja denganmu kenapa? Karena dia tidak bisa membunuh orang yang selama ini kau cari bahkan disaat orang itu berada di depan kedua matanya."
"Apa maksudmu?"
Shindong bergerak resah di tempatnya berdiri. Dia tahu selanjutnya yang akan dikatakan oleh Youngmin adalah kebenaran bahwa Kyungsoo adalah orang yang selama ini kau cari. "Mungkin Tuan Shin lebih tahu ceritanya."
Sehun menoleh pada Shindong yang terlihat pucat. Menerima tatapan Sehun yang terlihat murka sebelum sang bos kembali melihat pada Youngmin "APA YANG COBA KAU KATAKAN?"
"Ck! Sifatmu benar-benar tidak berubah nak-….KELUARKAN!"
Youngmin memberi perintah. Dan tak lama beberapa penjaganya membawa dokumen yang berisi beberapa foto dan kertas sebelum
Brak…!
Mereka membanting dokumen tersebut di meja biliard membuat Sehun menatap tak sabar padanya
"Lihatlah."
Youngmin memberitahu Sehun yang tanpa ragu segera melihat dokumen yang dimaksukdan Youngmin untuknya "Aku yakin kau akan murka setelah mengetahui apa yang ada di dalam sana." Katanya memprovokasi Sehun yang masih mencari tahu apa isi dokumen tersebut sampai
DEG!
Matanya sekilas membaca tulisan The last Target : Oh Ziyu
Mata Sehun memanas, tangannya bahkan sudah bergetar hebat. Dia buru-buru merobek dokumen yang membuatnya kehilangan nafas sebelum membaca keseluruhan dari profile bajingan yang membunuh putranya.
Name : Do Kyungsoo
Age : 25 years old
Speciality : Sniper and killer
The last target : Oh Ziyu.
Sehun kehilangan keseimbangannya. Tangannya bertumpu di meja biliard meremat kertas yang berada di tangannya "apa-…haah-…Apa ini?" katanya bertanya begitu sesak. Berusaha tenang namun sialnya rasa tenang itu seolah jauh darinya.
"AKU BERTANYA APA INI?"
"Kau sudah melihatnya….Orang itu adalah pembunuh putramu."
"Do Kyungsoo? Apa kita membicarakan orang yang sama?" katanya tertawa lirih berharap mereka mengatakan bahwa Kyungsoo yang mereka bicarakan adalah orang yang berbeda.
"Tunjukkan padanya."
Belum habis nafas Sehun tercekat. Youngmin kembali memerintahkan anak buahnya mendekati Sehun. "Apa yang kau lakukan?"
"Coba perhatikan video ini Direktur Oh."
Dan setelahnya anak buah Youngmin memutarkan video yang terlihat buram untuk Sehun pada awalnya, namun setelah itu semua perlahan menjadi jelas. Hati Sehun begitu tersayat melihat putranya berada di dalam video. Tertawa bahagia dengan Luhan yang berada menemaninya. Untuk sesaat Sehun tersenyum, namun saat video itu fokus pada pengendara motor. Wajah Sehun berubah menjadi pucat. Motor itu, jaket bahkan helm yang digunakan orang itu adalah semua yang Sehun cari selama ini. Tangannya bahkan semakin kuat bertumpu di meja biliard. Berniat untuk memalingkan wajahnya sampai wajah si pembunuh terlihat begitu jelas di kedua matanya.
"tidak mungkin."
Sosok itu sedang bersiap. Sosok yang Sehun ketahui adalah adik istrinya terlihat memakai helm sial yang selalu Sehun ingat di dalam benaknya. Pria itu bahkan sempat menoleh ke arah kamera. Dan saat dia menoleh pengawal Youngmin menekan tombol pause. Beberapa saat Sehun merasa ingin membunuh semua yang berada di ruangan ini sampai video kembali diputar.
"Ini bagian yang paling menarik."
Youngmin kembali memprovokasi. Si pelaku memakai helm nya. Menyalakan motornya dengan posisi Ziyu tepat berada di pinggir trotoar
Brrmm…!
Dan saat suara motor dinyalakan Sehun mengambil cepat ipad yang digunakan penjaga Youngmin sebelum
"ARRRGGHHHHHHHHH!"
Sehun membanting hancur ipad tersebut. Dia tahu kelanjutan mengerikan dari video itu dan tidak tahan melihat kelanjutan video keji tersebut. Tubuh putranya akan terpental jauh di trotoar dengan darah yang memenuhi kepalanya "AAARGHHHH -…;RRRGGGHHHHHHHH"
Sehun berteriak begitu murka. Namun setiap teriakan yang ia keluarkan jelas menggambarkan kesedihan dan pedih yang begitu dalam. Tak ada satupun yang bergerak di tempatnya. Hanya memperhatikan sang ayah yang sedang menikmati ketidaktahuannya pada pria yang begitu keji membunuh putranya.
Namun seolah tak ingin membuang kesempatan, Youngmin berusaha memanfaatkan kemarahan Sehun. Memprovokasinya lebih jauh agar Sehun bisa kembali ke pelukannya.
"Alasan mengapa Jongin bergabung bersamaku adalah karena pria itu kekasihnya-…Adik dari istrimu. Dan kau tahu alasan yang lebih menyakitkan lagi? Istrimu sudah mengetahuinya tapi dia hanya diam-….DIA HANYA DIAM DAN TERUS MELINDUNGI PEMBUNUH DARAH DAGINGMU SEHUNNA!"
Kenyataan yang baru diberitahukan Youngmin nyatanya lebih menyakiti Sehun. apa maksud Luhan sudah mengetahui siapa Kyungsoo? Apa maksud dari istrinya melindungi pembunuh putra mereka.
Membuat hatinya semakin hancur tak menyangka Luhan akan setega ini padanya. Pada putra mereka.
"JIKA BUKAN KARENA ISTRIMU. JONGIN PASTI SUDAH MEMBUNUH KYUNGSOO. JIKA BUKAN KARENA ISTRIMU…KAU SUDAH BISA MEMBALAS KEMATIAN PUTRAMU. JIKA BUKAN-…"
"DIAAAAAMMM…!"
"SEHUN KAU HARUS-…"
"AKU BILANG DIAAAM!"
Sehun mengambil senjatanya dan mengarahkan tepat ke wajah Youngmin. Nyaris menarik pelatuknya jika hatinya tidak mencabik sakit saat ini. "Diam kau sialan. Diam-…"
BRAK…!
"bos…"
Sehun benar-benar tidak memilik tenaga. Kakinya tidak bisa melangkah pergi dan jatuh tepat di depan semua orang yang berada di ruangan Youngmin saat ini. Dan saat Shindong mencoba membantunya berdiri, maka saat itu pula mata Sehun berkilat penuh kemarahan yang bisa membuat siapapun mati hanya dengan tatapan mengerikan itu "Apa kau tahu Kyung-…bajingan itu pembunuh putraku?"
"Bos kau harus tenang. Kau-…"
"APA KAU TAHU?"
Shindong merasa begitu tidak tega dengan keadaan Sehun. Membuatnya rela menukar hidupnya asal Sehun tidak menderita seperti ini. Demi Tuhan-…Satu minggu yang lalu Sehun baru saja berbahagia karena kabar kehamilan istrinya. Tapi sekarang dia harus kembali menderita mendapati kabar kematian putra pertamanya berada di tangan pria yang selama ini berusaha ia anggap sebagai adik.
"SHIN DONG HEE…"
"Ya…Aku tahu bos. Aku tahu Kyungsoo melakukannya."
"Sejak kapan?"
"Hampir satu bulan setelah kepergianmu ke Tokyo saat itu. Maafkan aku bos."
"Dan Luhan tahu mengenai ini?"
"Bos…."
"JAWAB AKUUU!"
Shindong terisak pelan begitu takut Sehun akan menyakiti Luhan. Namun dia tahu Sehun tidak akan pernah menyakiti Luhannya. Dia tahu Sehun sangat mencintai Luhan, dan karena alasan itu pula dia berani bertaruh bahwa satu-satunya yang akan lolos dari kemarahan Sehun hanyalah Luhan.
"SHIN DONG-…"
"Ya bos-…Luhan tahu."
Sehun seketika terdiam di tempatnya. Hatinya tercabik hancur. Jiwanya direnggut paksa tak bisa bernafas. Dia hanya tertunduk diam, tangannya mengepal erat menandakan kemurkaan yang tak bisa siapapun bayangkan.
"Luhan berniat memberitahumu bos. Sungguh-.. Tapi dia belum menemukan waktu yang tepat."
"Diam kau-…"
Sehun mencoba berdiri namun kembali terjatuh. Dan saat Shindong membantunya berdiri maka rasa tak sudi di sentuh penghianat membuat Sehun begitu murka dan merasa sangat jijik "Lepas…"
"Tapi bos…"
"AKU BILANG LEPAS SIALAN."
Sehun menghempas kasar tangan Shindong, menatapnya murka sebelum
BUGH…!
BUGH…!
"BUKAN KAI YANG MENGHIANATIKU. TAPI KALIAN-….KALIAN YANG MENGHIANATIKU BAJINGAN!"
BUGH…!
BUGH…!
Shindong mungkin sudah berhenti bernafas jika Seunghyun tak menarik tubuh Sehun. membuat sang adik meronta hebat dan nyaris melukai Seunghyun jika kondisinya lebih baik dan tak hancur seperti ini.
"LEPASKAN AKU HYUNG! BIARKAN AKU MEMBUNUHNYA-…LEPAAAASSSSS AAAARGGHHHHHHHHH!"
.
.
.
.
.
.
"Tapi hyung? Kenapa aku harus pergi."
Luhan memasukkan asal pakaian Kyungsoo ke dalam tas kecil, mengabaikan pertanyaan sang adik yang tak mengerti melihat kedatangan Luhan yang terlihat ketakutan.
"Soo…Aku tidak memiliki waktu menjelaskannya. Kau harus pergi sekarang."
"Tapi kenapa hyung? Apa yang terjadi? Kenapa-…"
"SEHUN MUNGKIN AKAN MENYAKITIMU JIKA KAU TIDAK SEGERA PERGI. JADI HANYA DENGARKAN HYUNG DAN PERGI SEJAUH MUNGKIN DARI SEOUL. KAU DENGAR?"
Awalnya Kyungsoo terdiam, tapi saat teriakan Luhan begitu ketakutan. Maka dia tahu bahwa kemungkinan besar Sehun sudah mengetahui siapa dirinya. Membuat si pria yang lebih muda mendekati hyungnya dan menghentikan gerakan Luhan yang memasukkan asal seluruh pakaiannya.
"Hyung…"
"Apa yang kau lakukan Soo? Kita kehabisa waktu."
"Apa Sehun sudah mengetahuinya?"
"huh?"
"ah-..Jadi benar. Sehun sudah tahu."
"YA-…SEHUN MUNGKIN SUDAH TAHU. JADI KAU HARUS SEGERA PERGI!"
Luhan menghempas kasar tangan Kyungsoo sebelum kembali memasukkan asal pakaian adiknya. Namun gerakan selanjutnya kyungsoo kembali menggenggam tangannya. Memaksa Luhan menatapnya dan berusaha tersenyum melihat kakaknya yang terlihat begitu cemas.
"Bolehkah aku tidak pergi? Aku mohon hyung. Aku-…"
Kyungsoo tertunduk sekilas sebelum kembali berusaha tenang melihat Luhan "Aku lelah bersembunyi hyung. Sungguh-…Aku hanya ingin berada di dekatmu seumur hidupku."
"Apa kau gila? Suamiku bisa membunuhmu?!"
"Walau itu artinya aku harus mati di tangan Sehun. Aku tidak peduli."
"AKU PEDULI!"
"Hyung…"
"Aku tidak tahu kemarahan apa yang akan diberikan Sehun untukku. tapi aku akan baik-baik saja karena bayiku dan karena Sehun mencintaiku. Tapi tidak denganmu. Kau bisa mati di tangan suamiku.
"Sudah sepantasnya aku mati ditanganmu dan Sehun hyung. Aku tidak akan berlari lagi. Aku lelah hyung. Aku-…"
"DO KYUNGSOOO!"
Luhan berjengit mendengar suara yang memanggil Kyungsoo. Terlalu berjengit karena begitu familiar dengan suara yang terdengar begitu marah. Membuat Luhan menangis ketakutan ingin menyembunyikan Kyungsoo tapi dia tidak tahu harus melakukannya dimana.
"DO KYUNGSOO!"
"Sehunna…Soo-…Kau harus bersembunyi. Aku mohon."
Kyungsoo menggeleng lemah menenangkan Luhan. memaksa memeluk Luhan takut jika ini adalah pelukan terakhirnya untuk Luhan "Aku tidak akan bersembunyi lagi." Katanya memberitahu Luhan dan
BRAK…!
Bersamaan dengan kepasrahan Kyungsoo. Pintu kamar itu terbuka, mata Sehun dan mata Luhan bertemu. Dan untuk kali pertama setelah delapan tahun hampir berlalu, ini adalah tatapan terdingin yang diberikan Sehun untuknya. Membuat Luhan begitu ketakutan dan mencoba untuk berbicara dengan suaminya.
"Sayang…Ada apa denganmu? Kenapa kau-…"
Luhan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, hatinya begitu sakit melihat keadaan Sehun yang terlihat berantakan dan begitu marah. Membuatnya secara naluriah ingin memeluk sang suami namun Sehun mengelak dan hanya menatap murka pada Kyungsoo yang berdiri tak jauh darinya.
"Sehunna."
Kelemahan Sehun adalah melihat pria mungilnya menangis. Dia bahkan bersumpah untuk tidak membuat Luhan gemetar karena rasa takut. Namun apa yang dia lakukan saat ini? dia hanya membuat Luhan begitu ketakutan dan menangis hebat karena dirinya. Tapi sungguh-…Hati Sehun bahkan lebih terluka dari keadaan Luhan. Rasa kecewanya bahkan lebih hebat dari tangan Luhan yang terus bergetar. Membuatnya tak memiliki pilihan lain selain menatap dingin pada satu-satunya pria yang membuatnya terlihat seperti "manusia"
"Minggir."
.
.
.
.
tobecontinued..
.
.
.
.
apdet pertama di 2017...aw...aw
.
Hun-Han nya so Aw..aw
.
Ku juga aw aw nulisnya. Ga tega deskripsiin si bulet di tonjokin cadel. Ga tega bayangin itu Sehun sakitnya kaya apaan...kecewanya kaya apaan sama bojonya...Makanya di tbc in dulu. Gue butuh deskripsi yang ga terlalu bikin gue nyesel nistain Kyungsoo.. *biasa nistain Luhan soalnya :v :"""
.
Yang gue suka dari entangled itu….Sehunnya cinta matek ama Luhannya. Jadi Luhannya mau kaya apaan salahya tetep cinta si suami ketjeh. Jadi dengan kata lain dan lain kata-..Buat entangled ga bakalan ada marah2an apalagi pisah2an HH. Adanya diem2an wkwk sama Berantem kecil suami-istri mah tetep *duh jadi mau nikah :p
.
.
Okeyy disudahkan sampai sini a/n nya
.
Happy reading n review
