Previous
"DO KYUNGSOO!"
"Sehunna…Soo-…Kau harus bersembunyi. Aku mohon."
Kyungsoo menggeleng lemah menenangkan Luhan. memaksa memeluk Luhan takut jika ini adalah pelukan terakhirnya untuk Luhan "Aku tidak akan bersembunyi lagi." Katanya memberitahu Luhan dan
BRAK…!
Bersamaan dengan kepasrahan Kyungsoo. Pintu kamar itu terbuka, mata Sehun dan mata Luhan bertemu. Dan untuk kali pertama setelah delapan tahun hampir berlalu, ini adalah tatapan terdingin yang diberikan Sehun untuknya. Membuat Luhan begitu ketakutan dan mencoba untuk berbicara dengan suaminya.
"Sayang…Ada apa denganmu? Kenapa kau-…"
Luhan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, hatinya begitu sakit melihat keadaan Sehun yang terlihat berantakan dan begitu marah. Membuatnya secara naluriah ingin memeluk sang suami namun Sehun mengelak dan hanya menatap murka pada Kyungsoo yang berdiri tak jauh darinya.
"Sehunna."
Kelemahan Sehun adalah melihat pria mungilnya menangis. Dia bahkan bersumpah untuk tidak membuat Luhan gemetar karena rasa takut. Namun apa yang dia lakukan saat ini? dia hanya membuat Luhan begitu ketakutan dan menangis hebat karena dirinya. Tapi sungguh-…Hati Sehun bahkan lebih terluka dari keadaan Luhan. Rasa kecewanya bahkan lebih hebat dari tangan Luhan yang terus bergetar. Membuatnya tak memiliki pilihan lain selain menatap dingin pada satu-satunya pria yang membuatnya terlihat seperti "manusia"
"Minggir."
.
.
.
.
.
Entangled
Main Cast : Sehun & Lu Han
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
"Sayang.."
Luhan berlari mengejar langkah Sehun. Berdiri di depan suaminya dengan wajah begitu ketakutan menebak akan terjadi sesuatu yang sangat mengerikan sebentar lagi.
Sehun pun dengan berat hati harus kembali melihat wajah ketakutan Luhan. Sesekali matanya memandang benci pada Kyungsoo sebelum harus menelan rasa kecewa karena pria cantik didepannya secara tidak langsung menyembunyikan identitas pembunuh putra mereka. "Aku bilang minggir."
"Sehun-…"
"MINGGIR!"
Sehun nyaris mendorong Luhan, namun pikiran sehatnya masih menguasai hingga hanya cengkraman kuat di bahu istrinya. Dia bahkan nyari kembali berteriak jika air mata Luhan tidak membuatnya muak saat ini "Kenapa menangis?"
"Aku -hkss- Aku bisa menjelaskannya sayang."
"Menjelaskan apa? Menjelaskan jika PRIA YANG KAU ANGGAP ADIK ADALAH PEMBUNUH PUTRA KITA? PEMBUNUH ZIYU?"
"Sehun hksss…"
"TEGA SEKALI KAU MELINDUNGI PEMBUNUH DARAH DAGINGKU LU! TEGA SEKALI KAU MEMBOHONGIKU SEPERTI INI!"
Tangan Luhan bergetar hebat. Sehun mencengkamnya terlalu kuat, membuat bukan hanya rasa sakit yang menusuk jantungnya tapi dia juga bisa merasakan kemarahan Sehun yang begitu merobek jauh ke dalam hatinya.
"Aku akan memberitahumu sayang, tapi aku belum menemukan waktu yang tepat. Sungguh."
"DIAAAM-…"
Setelah berteriak murka, Sehun memanggil beberapa anak buahnya masuk. Dan tak lama terlihat dua pria berbadan besar yang tidak Luhan kenali masuk ke apartemennya. Awalnya Luhan mengira dua orang itu adalah orang yang akan ditugaskan untuk membunuh Kyungsoo. Tapi saat mereka mendekati Luhan, maka Luhan mengerti kalimat yang mengatakan -kau tidak memerlukan pembunuh jika kau bisa membunuh dengan kedua tanganmu sendiri-
"PASTIKAN DIA TIDAK MENGGANGGUKU!"
Dengan kata lain Sehun mengatakan -Pegang istriku dan jangan membuatnya sakit selagi aku membunuh adiknya!-. Kedua orang berbadan besar itu pun mengangguk mengerti. Dipegangnya masing-masing lengan kanan dan kiri Luhan. erat namun tidak menyakiti. Memastikan bahwa Luhan tidak bisa lagi bergerak selagi Sehun mendekati Kyungsoo. "apa yang kalian lakukan? Apa-….LEPAS!"
Luhan meronta namun percuma. Pegangan di lengannya begitu kuat. Dia bahkan terus mencoba namun sia-sia karena nyatanya saat ini-…Tepat di depan kedua matanya Sehun semakin mendekati Kyungsoo. Sementara Kyungsoo hanya diam tak bergerak di tempatnya.
"PEM-BU-NUH!"
"Sssh..."
Cekikan Sehun di lehernya terasa begitu panas. Seluruh udara seakan tidak diizinkan berhembus di kerongkongan maupun paru-parunya. Tangannya hanya terkepal dibawah sana sementara cekikan Sehun semakin menguat di lehernya.
"Kau akan mati! KAU DENGAR?! KAU AKAN MATI DO KYUNGSOO!"
Semua teriakan Sehun terasa menjadi akhir hidup Kyungsoo, kemarahan Sehun kali ini tidak terlihat seperti seorang Mafia melainkan kemarahan seorang ayah yang putranya dibunuh dengan keji.
Dan melihat tatapan Sehun sangat terluka membuat Kyungsoo bersumpah untuk tidak melakukan perlawanan apapun. Rasanya adalah benar jika nyawa dibayar dengan nyawa. Rasanya adalah benar mengakhiri hidupnya seperti ini. Karena jika dia terus bersembunyi, maka penderitaannya sebagai pembunuh akan terus menghantuinya seumur hidup.
"MATI KAU DO KYUNGSOO!"
Sehun melepas cekikannya dan
Bugh!
"SEHUNNN!"
Tanpa rasa iba dia memukul tubuh Kyungsoo dengan tongkat besi. Membuat seluruh pernafasan Kyungsoo tercekat nyaris tak berhembus sementara rasa panas yang dengan cepat menjalar ke seluruh tubuhnya.
Sementara Sehun terus memukulinya dengan keji, maka tak jauh di tempatnya tersungkur Kyungsoo bisa melihat sang kakak berteriak menangis memanggil nama suaminya. Menjerit memilukan memanggil sang Mafia seolah meminta pengampunan agar tak lagi menyakiti dirinya. Kyungsoo menikmati pukulan Sehun. Seluruh tubuhnya remuk redam tak tersisa. Dia bahkan bisa memperkirakan bahwa hidupnya tak kurang dari setengah jam lagi.
Dan oleh karena itu-…Wajah Luhan adalah hal terakhir yang selalu ingin ia lihat bahkan disaat nafasnya akan segera berhenti berhembus.
"hyung… ."
BUGH..!
Uhuk!
"Mianhae."
Kyungsoo mungkin sudah tidak sadarkan diri saat ini. Darah di tubuhnya sudah dipaksa keluar oleh dari seluruh organ vital miliknya. Sehun bahkan terus memukul di tempat yang sama secara berulang dan memastikan sendiri bahwa dia akan mati setelah ini.
"aaah-…."
Sehun kembali mencekiknya. Dan sedetik kemudian tubuhnya di lempar kuat mengenai dinding apartemen. Rasanya semua penyiksaan ini tidak akan segera berakhir, karena saat dia mengira akan segera berhenti bernafas. Maka saat itu pula Sehun memastikan bahwa kematiannya tidak akan semudah itu.
"Kau pikir kau bisa mati sesukamu HAH!"
"rrhh…"
Jambakan Sehun bahkan seperti ingin mencabut kepalanya -terlalu kuat dan menyakitkan-. Pelipisnya yang mengeluarkan darah bahkan dipaksa menatap Sehun yang terlihat menyeringai saat ini.
"Matimu tidak akan semudah ini Do Kyungsoo. Kau akan-…"
"SEHUNNAAA-…HKSSSS-…AKU MOHON BERHENTI-…AKU MOHON rrghhhh! LEPASKAN AKU!"
Sehun melihat bagaimana wajah Luhan memerah. Dia begitu ketakutan dan terlihat putus asa. Sungguh-…Sehun ingin memeluknya. Tapi saat mengingat alasan mengapa Luhan meronta hebat disana adalah karena pembunuh putra mereka -maka hati nurani Sehun tidak tersisa sedikit pun- dia bahkan menatap sang istri berkilat. Memastikan sendiri bahwa Kyungsoo akan mati malam ini adalah hal yang begitu menyenangkan untuknya.
"Kau akan mati dengan cara yang sama saat kau membunuh putraku. BANGUN!"
Sehun menarik kasar lengan Kyungsoo. Memaksa tubuh yang berlumuran darah itu berjalan dan sesekali mendorong tubuh gontai Kyungsoo hingga menghempas kasar seluruh dinding apartemen.
"Sayang apa yang-…Apa yang akan kau lakukan?"
Sehun berhenti melangkah saat melewati istrinya. Berdiri tepat di depan Luhan dengan tatapan kecewa yang begitu dalam untuk satu-satunya pria yang memiliki hidupnya. "Sayang aku mohon jangan sakiti Kyungsoo. Aku mohon-…"
"Kau tenang saja sayang. Aku akan membuat rasa sakitnya hilang dengan cepat."
"Apa maksudmu?"
Luhan masih meronta di pegangan anak buah Sehun. Dan alih-alih menolong sang istri, Sehun justru memerintahkan kedua anak buahnya untuk tetap menahan Luhan sampai seluruh tujuannya terbalaskan malam ini.
"Aku akan menemuimu sebentar lagi."
"ani-…Jangan tinggalkan aku! SEHUNNA KAU MAU KEMANA?"
"Siapkan mobilku dan ikat dia di tengah lapangan."
Mata Luhan membulat hebat. Dia jelas mendengar tentang mobil dan ikat dia di tengah lapangan. Bukankah dia yang dimaksud Sehun adalah Kyungsoo. Bukankah itu artinya Sehun akan menghabisi Kyungsoo dengan cara yang sama saat Kyungsoo membunuh putra mereka? Bukankah-…
"SEHUNNNA!"
Luhan memikirkan segala cara. Dia berteriak kuat namun diabaikan. Kepalanya sudah gelap dan perutnya begitu mual. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Sehun pada Kyungsoo. Dia terlalu takut memikirkannya dan mencoba untuk terus meronta sebelum
"Aku lihat Sehun sudah pergi. Jadi kenapa kalian tetap disini-…YAK! APA YANG KALIAN LAKUKAN."
Luhan seperti mendapat jawaban. Dilihatnya suara siapa yang berteriak sebelum wajah pucatnya berubah menjadi lebih berwarna saat melihat pria yang selalu bersama Yunho memasuki apartemennya
"Woobin…"
"BRENGSEK! APA KALIAN INGIN MATI? KENAPA KALIAN MENCENGKRAM LUHAN?"
"Bos! Ini perintah dari-…"
"WOOBIN-ssi MEREKA MENYAKITIKU!"
Woobin sendiri tidak bisa membaca situasi saat ini. Dua puluh menit yang lalu dirinya tidak sengaja bertemu dengan Sehun di lantai dasar apartemen. Sehun bahkan meminjam dua anak buahnya untuk masuk ke apartemennya sendiri, membuatnya sedikit bertanya namun berniat untuk tidak ikut campur.
Singkat kata Woobin meminjamkan dua anak buahnya. Tapi dua menit yang lalu dia melihat Sehun masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan apapun. Merasa sesuatu terjadi pun dia berniat memanggil kedua anak buahnya yang dipinjam sebelum melihat mereka membekap Luhan -pria yang menjadi hidup seorang Oh Sehun-
"LEPASKAN DIA! APA KALIAN INGIN MATI?"
"Direktur Oh yang meminta kami menahan istrinya bos."
"Mwo? Benarkah Lu?"
Luhan meronta hebat di pegangan kedua anak buah Woobin. Dia bahkan terlihat kesakitan membuat Woobin sedikit merasa iba untuk menolong Luhan sebelum
Sret…!
"Aku bilang le-pas!" katanya mendesi menghempas kasar kedua tangan anak buahnya sebelum
Brak…!
Luhan terjatuh begitu saja. Dia jelas tidak memiliki tenaga apapun hingga rasanya sulit berdiri di atas kedua kakinya. Sesekali dia menjerit takut membuat Woobin mau tak mau berjongkok cemas melihat tingkah Luhan yang sangat tertekan.
"Luhan…Ada apa denganmu?"
"Aku-…Woobin-na… Sehun akan membunuh adikuu."
"Membunuh siapa?"
"Adik-.."
Luhan tak fokus berbicara. Kepalanya terlalu berputar untuk berfikir jernih. Dia tidak tahu lapangan mana yang dimaksud Sehun. Dia bahkan tidak tahu apa sang adik masih bernafas saat ini. Dadanya begitu sesak melihat wajah suami dan adiknya begitu kesakitan. Luhan tidak bisa berfikir jernih sebelum suara Woobin menyeruak menyadarkan dirinya.
"LUHAN!"
"huh?"
"Kenapa kau terlihat sangat bingung."
"Aku tidak-…."
Luhan berhenti di kalimatnya sebelum menyadari bahwa yang berdiri di depannya adalah Woobin -Kim Woobin- bagian dari anggota dimana suaminya bekerja. Bukankah harusnya Woobin tahu lapangan yang biasa mereka gunakan untuk membunuh? Membuat Luhan tanpa sadar melompat pada Woobin dan mencengkram kuat jaket tebal pria tampan di depannya.
"Hey Lu..!"
"Woobinna."
"Ada apa? Luhan kau membuatku takut."
"Apa kalian pernah membunuh dengan cara menabrak mati korban kalian?"
"Ya tentu saja. Sesekali kami melakukannya untuk menghilangkan barang bukti."
"Apa suamiku juga pernah melakukannya?"
"Entahlah. Mungkin beberapa kali."
Luhan menangis hebat. Matanya berkilat penuh harap sebelum tangannya semakin kuat mencengkram jaket Woobin "Lalu dimana dia jika dia mengatakan siapkan mobil dan ikat dia di tengah lapangan dimana dia? DIMANA SUAMIKU KIM WOOBIN?"
"Aku tidak yakin ini. Tapi satu-satunya lapangan yang kami gunakan untuk membunuh dan membuat pekerjaan kami terlihat seperti tabrak lari hanya lapangan itu."
"Dimana lapangan itu?"
"Sekitar dua puluh menit dari sini."
Luhan kembali mencengkram jaket Woobin. Menatapnya begitu penekanan seolah tak ingin dibantah kali ini "Bawa aku ke tempat itu."
"Tapi untuk apa Lu? Kenapa kau?"
"BAWA AKU KESANA!"
Sesuatu yang buruk jelas terjadi di antara Sehun dan Luhan, dan sesuatu itu pula yang membuat Woobin tak seharusnya ikut tertarik ke dalam masalah pelik rumah tangga Sehun dan Luhan. Tapi saat melihat mata Luhan begitu ketakutan, sedih dan putus asa. Maka sesuatu di dalam diri Woobin seolah tergerak dan tak bisa mengatakan hal lain selain
"Baiklah…"
.
.
.
.
"Aku rasa Sehun tidak ada disini Lu."
Keduanya kini telah sampai di lapangan yang dimaksud Woobin. Lapangan kosong yang hanya digunakan untuk balapan liar itu terlihat sepi seperti biasa tak ada tanda-tanda bahwa ada seseorang yang akan dibunuh malam ini.
Pria yang bekerja bersama Yunho itu pun mencoba memberitahu istri dari Sehun. Tapi semakin dia mengatakan Sehun tidak ada disini maka semakin pula Luhan terus memintanya hal yang sama yakni
"Jalankan mobilmu lebih dalam lagi. Aku yakin mereka disini."
"Hampir sepuluh menit kita disini tapi-…Ah! Aku rasa kau benar! Itu Suamimu dan seluruh anak buahnya."
Mata Luhan memicing hebat melihat kemana arah Woobin menunjuk. Dan terimakasih untuk Woobin yang terus menjalankan mobilnya hingga Luhan benar-benar bisa melihat bahwa sang suami berada disana dan terlihat memasuki mobil.
Luhan memperhatikan kemana lampu mobil itu menerangi lapangan. Bertanya-tanya dimana Kyungsoo sebelum
"KYUNGSOOOO…!"
"Luhan kenapa kau-…Astaga! Bukankah itu si mata besar? Kenapa dia diikat di tengah lapangan? Luhan! Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Sehun ingin membunuh si mata-…"
"WOOBIN NAIKKAN KECEPATANMU!"
"araseo.."
Lagi-…Woobin seolah tidak memiliki jawaban lain selain menuruti kemauan Luhan. Dan bersamaan dengan kecepatan mobilnya mendekati tempat Sehun maka Sehun terlihat sedang memanaskan mesinnya bersiap menabrak korban yang tak lain adalah adik Luhan serta mantan anak buahnya Do Kyungsoo.
"Tidak tidak tidak…"
Luhan menutup rapat mulutnya mengunakan kedua telapak tangan saat melihat Sehun menginjak gas mobilnya. Dia tidak pernah melihat Sehun sekeji ini. Dan saat suaminya benar-benar menunjukkan sisi gelapnya maka tak ada yang bisa Luhan lakukan selain berdoa bahwa suaminya akan sedikit memiliki hati nurani.
"Sayang aku mohon-… Sehunna jangan tabrak Kyungsoo! Jangan-…shit!"
Luhan memekik tertahan. Memutuskan untuk membuka paksa mobil Woobin sebelum
"LUHAAAN!"
Woobin berteriak hebat melihat Luhan melompat dari mobilnya. Dan layaknya seorang robot-…Luhan kini berlari menyamakan kecepatan mobil Sehun. Lengan dan lututnya mengalami pendarahan hebat namun diabaikan oleh Luhan.
Luhan benar-benar mengabaikan apapun. Apapun -lukanya, hidupnya bahkan bayinya sekalipun- yang dia inginkan hanya menghentikan Sehun agar tidak membunuh Kyungsoo dengan cara keji seperti ini.
"Sehunna."
"MATI KAAAAAUUUU!"
Mobil Sehun melesat cepat. Bersiap menabrak Kyungsoo sebelum melihat sosok mungil menerobos dari samping dan kini berdiri merentangkan kedua tangannya tepat di depan Kyungsoo.
"LUHAAAAAANN…!"
"Luhan?"
Dan jika seseorang tidak memanggil nama istrinya mungkin Sehun akan tetap menabrak pria idiot yang melindungi Kyungsoo. Namun saat seseorang memanggil nama Luhan. Maka benar-….bahwa disana. Luhannya tengah melindungi pembunuh putra mereka. Bahwa benar-..Luhannya bahkan tanpa ragu menyakiti dirinya sendiri dan calon bayi mereka hanya untuk melindungi pembunuh keji putranya.
Sehun merasa sangat dihkianati oleh istrinya. Rasanya seperti setengah hidupmu direnggut saat melihat satu-satunya pria yang kau cintai melindungi pembunuh darah dagingnya -darah daging mereka- Tangannya mencengkram hebat kemudi mobil. Kakinya terus menekan kencang gas mobilnya. Seolah tak peduli bahwa Luhan sedang berdiri disana dan hanya tetap pada rencananya untuk membunuh Kyungsoo.
"Menyingkir Luhan…Menyingkir!"
Sehun bahkan nyaris menjadi Sehun si pembunuh untuk beberapa detik. Tergoda untuk tetap melajukan lurus mobilnya sampai
"SEHUN! APA KAU GILA? DIA LUHAN ISTRIMU"
Batin Sehun menjerit saat matanya bertemu dengan mata Luhan yang terlihat sendu dan sangat terluka. Membuat bagian dari hatinya merutuk marah hingga membuat Sehun menggeram sebagai respon. Tangannya mencengkram kuat kemudi mobil sebelum
"SIAAAAAALLLL!"
Sehun dengan cepat membanting kemudi mobilnya membuat kecepatan mobilnya tidak stabil hingga asap terlihat di knalpot mobilnya. Dia dengan tidak dan sangat tidak rela harus membanting arahnya membunuh Kyungsoo.
Dan saat mobilnya berhenti maka tak ada yang bisa Sehun lakukan selain memukul berkali-kali kemudi mobilnya. Merasa begitu dikhianati adalah perasaan yang terus membuatnya murka. Dia bahkan melihat bagaimana wajah istrinya memohon seolah mengatakan untuk tidak membunuh bajingan itu.
"arghhh..AARRGHHH…ARGHHHHHHH!"
Sehun membanting kencang pintu mobilnya. Berjalan penuh kemarahan mendekati Luhan yang sedang memeluk Kyungsoo sebelum
SRET..!
"Sehunna…"
Luhan merasa pergelangannya akan putus hanya dengan satu tangan Sehun yang begitu kuat. Dan jangan lupakan tatapan suaminya yang begitu menakutkan seolah semua itu dapat membunuhnya dalam hitungan detik.
"APA YANG KAU LAKUKAN?"
"Aku tidak bisa membiarkanmu sayang. Aku benar-benar tidak membiarkanmu membunuh Kyungsoo! AKU MOHON MAAFKAN AKU SAYANG!"
Luhan berlutut memeluk erat kaki Sehun. Menangis tersedu memohon agar semua dendam ini diakhiri. Luhan tidak bisa menahan sakitnya lebih lama lagi. Dan dia sangat mengetahui bahwa rasa sakit dan kecewa yang dirasakan Sehun jauh berkali-kali lebih membunuh dari yang dia rasakan.
"hksss…AKU MOHON MAAFKAN AKU SEHUNNA."
Sehun mendongakan kepalanya. Menatap langit malam sesaat sebelum matanya kembali mengutuk pembunuh yang tersungkur di depannya. Tangannya sudah tergoda untuk kembali memukuli sialan itu jika tidak mengingat perbuatan nekat yang dilakukan istrinya beberapa menit lalu adalah hal yang bisa membuat keduanya kembali kehilangan malaikat kecil mereka.
"Sehunna hkkks…SEHUNNAAAA rrgghhhh!"
Sehun menundukkan kepalanya. Melihat bagaimana Luhan memohon adalah sebuah penghianatan terbesar yang pernah ia rasakan. Luhan bahkan memiliki seluruh hidupnya namun terus meminta untuk tidak membunuh apa yang mengganggu hidupnya. Membuat Sehun tertawa begitu dingin sebelum memaksa Luhan untuk berdiri -menatap kedua mata rusa itu dengan tatapan yang menyiratkan berjuta rasa kecewa dan rasa dikhianati.-
"Pastikan kau tidak menyakiti bayiku jika ingin melindungi bajingan itu lagi. Kau dengar?-… AKU TIDAK PEDULI PADA APA YANG KAU LAKUKAN! HANYA JANGAN MEMBUATKU KEHILANGAN BAYIKU LAGI LUHAAAN!"
Habis sudah kesabaran Sehun sebagai suami. Habis sudah kepercayaan Sehun sebagai suami. Dikhianati adalah hal-hal yang begitu dibenci oleh seorang Mafia. Maka saat istrimu yang menghianatimu -maka tak ada pengecualian untuk kemarahanmu-
"ARRGHHHHHHH…!"
Suara kemarahan Sehun menggema di lapangan kumuh itu. Dan setelah memberitahu rasa kecewanya. Si pria tampan kembali berjalan mendekati mobil dan
BLAM….!
Sehun tanpa berfikir meninggalkan Luhan yang menangis hebat disana. "Jangan pergi-..Tidak. Kau tidak boleh pergi. Sehun…"
BRRMM….!
"SEHUNNNN!"
Sehun sengaja melajukan cepat mobilnya. Membuat wajah Luhan begitu pucat melihat bagaiman Sehun meninggalkannya dalam keadaan marah.
"LUHAN APA YANG KAU LAKUKAN?"
Luhan secara refleks mengejar kemana mobil Sehun pergi. Dia tahu itu percuma, namun saat Woobin memangilnya maka tak ada yang bisa menghentikan Luhan untuk mengejar kemana pun suaminya pergi "LUHAN!-…Ohshit!-….BAWA DIA KE RUMAH SAKIT!"
Setelah memberi perintah untuk membawa Kyungsoo ke rumah sakit. Woobin mengambil ponselnya, menekan nomor ponsel Sehun untuk memberitahu bahwa Luhan sedang bertindak gila saat ini "Angkat Sehunna…angkat...Istrimu sedang-…BRENGSEK!"
BLAM….!
Woobin kembali masuk ke dalam mobilnya. Berniat mencari Luhan yang berlari entah kemana untuk membawanya kembali pada Sehun "Tidak seharusnya aku terlibat." Katanya menggerutu kesal sebelum
BRRRMM…!
Woobin berusaha mencari Luhan namun sepertinya percuma. Karena semakin dia mempercepat laju mobilnya semakin kemungkinannya untuk menemukan Luhan adalah tidak mungkin. "Baiklah jalan saja." Kataya menepikan mobil. Berniat mencari Luhan sebelum
Drrt..drtt
"Ada apa?"
"MWO?"
Kenyatannya anak buah Woobin memberitahukan sesuatu. Sesuatu menakutkan yang mengatakan bahwa tiga rumah sakit besar di Seoul menolak kedatangan Kyungsoo. Dia bahkan sedikit tertarik pada masalah rumah tangga Luhan saat ini. Karena apapun yang dilakukan Kyungsoo-…Dia berani bertaruh bahwa itu adalah hal serius yang mengerikan mengingat Sehun sudah berbuat sejauh ini.
"Bawa dia ke apartemenku."
Dan satu-satunya cara menyelamatkan adik yang tumbuh besar dengan Luhan adalah memanggil dokter pribadinya. Dia tahu Sehun tidak akan segan membunuhnya jika ia ikut campur, namun seolah tak peduli-…Woobin tetap menghubungi dokter pribadinya.
"Dokter Kwon. Ini aku-…Segera datang ke apartemenku dalam lima belas menit. Kondisi seseorang kritis ditempatku."
"Baik direktur Kim."
"Umhh…Aku tunggu kau di tempatku. Sampai nanti."
Woobin percaya bahwa Sehun tidak akan menyakiti istrinya. Dan karena hal itu pun dia lebih memilih pulang ke apartemennya dan menolong Kyungsoo. Dia memiliki perasaan bahwa akan segera kembali bertemu Luhan, dan karena hal itu pula Woobin kembali menyalakan mesin mobilnya "Baiklah Lu. Aku akan mengurus adikmu." Katanya bergumam kecil sebelum
BRRMM….
Woobin melajukan cepat mobilnya. Meninggalkan lapangan yang nyaris menjadi tempat berakhirnya hidup Kyungsoo menuju tempat yang mungkin bisa membuat si pria bermata besar itu bertahan hidup.
.
.
.
.
.
TIN…..TIN…!
Sementara Woobin sudah bersedia menolong Kyungsoo. Maka tak jauh dari lapangan mengerikan itu terlihat Luhan menyebrang asal di jalan besar. Beberapa kali dia mencari jalan pintas maka beberapa kali pula dirinya harus rela mendengar caci maki semua orang karena terus menyebrang secara asal dan menganggap semua pria dengan pundak kokoh dan tegap adalah suaminya.
"Sehun?"
Anggap Luhan gila, tapi sungguh semua pria yang memiliki tinggi seperti suaminya dia anggap seperti Sehun. Dan saat melihat pria bermantel cokelat sedang tertawa bersama teman-temannya maka mata Luhan mengatakan itu Sehun. Dia bahkan berlari seperti orang gila menuju kerumunan itu. Mengabaikan sekali lagi caci maki semua orang yang ditabraknya sebelum menarik lengan pria yang ia kira adalah Sehun "nya"
"SEHUNN!"
"Maaf?"
Ya…Katakan sekali lagi Luhan gila. Karena saat sang pria yang bukan Sehun itu bertanya bingung, tangannya semakin mencengkram kuat lengan pria tersebut
"Kau pasti Sehun-…HARUSNYA KAU SEHUN! MANA SEHUNKU!"
"YAK! APA KAU SUDAH GILA?"
Pria itu berusaha menghempas kasar tangan Luhan. Namun semakin ia mencoba maka semakin kuat pula tangan Luhan menggenggamnya "HARUSNYA KAU SEHUN. DIMANA SUAMIKU. DIMANA-…"
"AKU BUKAN SEHUN!"
Luhan terdiam cukup lama saat pria itu berteriak padanya. Sedikit memakai akal sehatnya sebelum
"Ah-…Maafkan aku tuan. Aku kira kau suamiku. Maafkan aku."
Luhan melepas cengkramannya dengan cepat. Berkali-kali membungkuk meminta maaf dengan menggumamkan kalimat maaf secara berulang "Maafkan aku tuan. Aku permisi." Katanya berniat kembali mencari Sehun sebelum kali ini lengannya yang ditarik kencang oleh seseorang.
"Hey…Dilihat kau sangat manis. Apa kau suami yang kau maksud berselingkuh? Baiklah-…Aku bisa memuaskanmu manis."
"Tidak! Suamiku tidak selingkuh. Jadi lepaskan tanganku atau kau akan menyesal tuan."
"Benarkah? Kenapa aku harus menyesal? Kau yang datang pertama dan mencoba menggodaku hmmh."
Luhan merasa begitu ketakutan saat dagunya diangkat. Pria asing di depannya bahkan memasang wajah menjijikan yang membuat ketakutan Luhan semakin terlihat di mata rusanya. "Biarkan aku pergi atau kau akan menyesali perbuatanmu. Aku bersungguh-sungguh-…SEHUNNNN!"
Luhan menjerit memanggil nama Sehun. Dan entah dimana sang suami berada dia hanya ingin Sehun menjauhkannya dari pria bajingan di depannya. Luhan sangat kesakitan karena lengannya lecet akibat lompat dari mobil Woobin. Dan saat pria sialan ini mencengkram kuat lengan yang cidera maka rasa sakitnya semakin terasa.
"uuhh… Sehunmu disini sayang. Ayo kita bermain dengan Sehun." Katanya menyeringai. Mengerling ketiga temannya untuk berjalan bersisian agar tubuh mungil Luhan tidak terlihat kerumunan orang banyak. "Kami akan memuaskanmu cantik."
"Tidak-…LEPAS! TOLONG AKU-…SEHUNNNAAAA!"
"Mereka hanya melihat iba padamu manis. Mereka cenderung tidak peduli dengan urusan sepasang kekasih."
"Brengsek! AKU BUKAN KEKASIHMU!"
"arghhh!"
Luhan mengigit kuat tangan yang mencengkramnya sebelum mengambil kesempatan untuk berlari menjauh dari bajingan yang nyaris menakutinya. "BRENGSEK! JANGAN LARI KAU SIALAN!"
"tidak….Jangan kejar aku. Aku takut. Sehun-…Sehun-….SEHUN!"
BRAK…!
Bersamaan dengan jerit tertahan memanggil nama suaminya-… Luhan kembali menabrak tubuh seseorang. Dan tidak seperti sebelumnya dia begitu ketakutan kali ini. Terlalu takut hingga rasanya ingin bersembunyi di belakang pria yang baru saja ia tabrak. Meminta pertolongan agar bisa menjauhkannya dari empat bajingan yang kini mengejarnya.
"Kau baik-baik saja?"
Rasanya terlalu samar mendengar suara yang sedari tadi ia cari sepanjang malam ini. Luhan tidak yakin suara itu milik Sehun mengingat kesalahan yang sedari tadi ia buat dalam mengenali suaminya. Dia benar-benar tidak yakin sampai kepalanya mendongak mencoba melihat siapa yang sedang berdiri di depannya sebelum
"Sehun?" katanya mencoba menenangkan diri. Bertanya setenang mungkin namun tak bisa menyembunyikan rasa bahagia dan lega yang sedari tadi ia cari. "Kau benar-benar Sehun? Sehunku?"
Luhan mengusap wajah tampan itu. Wajah tampan yang selalu telrihat dingin dan menakutkan miliknya. Wajah yang hanya akan tersenyum tampan dan tertawa bodoh di depannya itu terlihat sedang menatapnya. Dan saat tangan Sehun membalas usapan tangannya maka Luhan tak perlu ragu bahwa dia salah mengenali orang kali ini. "Ini aku."
Luhan memejamkan erat matanya. Tak perlu takut kembali salah mengenali orang sebagai Sehun karena kali ini Sehun "nya" benar-benar berada di depannya. "Sehunna aku minta maaf sayang. Aku-…"
"y-YAK!"
Tubuh Luhan berjengit takut mendengar suara teriakan di belakangnya. Dia bahkan secara refleks memeluk tubuh suaminya dengan erat dan menagis ketakutan disana "Sehunna mereka menggangguku."
"ara…"
Sehun menjawabnya terlalu tenang. Sangat tenang hingga rasanya suara itu bisa membunuh siapapun. Membuat Luhan sedikit kecewa menebak bahwa Sehun masih begitu marah padanya. Namun yang tidak Luhan ketahui adalah saat ini mata Sehun sedang menatap murka pada empat bajingan yang berani menyentuh Luhannya -miliknya!-. Yang tidak Luhan ketahui bahwa tangan Sehun mengepal begitu erat menyayangkan bahwa bukan Kyungsoo yang ia bunuh malam ini melainkan empat bajingan yang jelas membuat istrinya ketakutan.
"Sehun…"
Luhan merasa sangat takut saat Sehun melepas pelukannya. Seolah mengabaikan ketakutan Luhan dia hanya mengerling keenam anak buah yang mengikutinya sedari tadi "Jaga Luhan." katanya memberi perintah. Membuat keenam anak buahnya membuat formasi melingkari Luhan sementara sang nyonya meringkuk ketakutan disana
"Shirheo! Aku tidak mau dicengkram lagi. Lenganku sakit!"
Sehun menatap istrinya yang berjongkok di formasi lingkaran anak buahnya. Memperhatikan tubuh mungil yang terisak itu dengan hati tergores. Dia bahkan melihat lengan dan lutut Luhan robek mengeluarkan darah. Berusaha untuk tetap tenang walau pada akhirnya kemarahanlah yang menguasai dirinya.
"Mereka tidak akan mencengkram lenganmu lagi. Tenanglah."
"Tenang? AKU MAU KAU BUKAN TENANG! AKU MAU KAU MEMELUKKU ERAT!"
Luhan begitu marah mengankat wajahnya. Berusaha memaki Sehun walau ketakutannya masih begitu terlihat. Dan sekali lagi-…Sehun mengabaikannya. Bukan karena dia tidak peduli tapi karena kemarahan dan rasa kecewanya masih bergantian menduduki posisi puncak dalam hati dan pikirannya.
"Beri aku lima menit-..Setelahnya aku akan memelukmu erat."
Sehun membutuhkan pelampiasan untuk semua rasa kecewanya. Dan terimakasih pada empat pria bajingan yang menganggu sang istri-..Karena merekalah setidaknya Sehun memiliki alasan untuk melampiaskan semua rasa marah dan kecewanya.
"SIAPA KAU! KENAPA KAU MENOLONG PRIA BAJINGAN ITU?!"
"Siapa yang kau panggil ba-jingan?"
Sehun mendesis mengerikan sebelum
DOR!
DOR!
DOR!
Dia menembak mati tiga pria sekaligus. Menyisakan satu pria yang Luhan kira adalah dirinya dan memastikan bahwa kematiannya akan sedikit lebih menyakitkan dibanding ketiga rekannya.
"Siapa-..SIAPA KAU!"
"Aku? Ah-….Aku Sehun." Katanya menyeringai sebelum
DOR!
"Arghh!"
Si bajingan memekik kesakitan saat Sehun menembak kedua kakinya bergantian. Dan setelah membuatnya tersungkur Sehun tanpa ragu dan penuh kekuasaan berjalan mendekati si pria layaknya Malaikat Pencabut Nyawa yang siap memangsa targetnya "Maafkan aku. Aku tidak bermasud-..argghh!"
"Tidak bermaksud apa?"
Sehun sengaja menginjak kedua kaki yang tertembak hingga rasanya begitu menyakitkan untuk dirasakan si bajingan. "MAAFKAN AKU-…TOLONG LEPASKAN AKU!"
Sehun muak mendengar kata maaf. Niatnya untuk bermain lebih lama bahkan hilang digantikan amarah saat kalimat maaf terdengar. Dia pun berjongkok sebelum
Sret…!
Menjambak kencang rambut si bajingan dan mendesis memberitahu satu hal pada pria yang nyaris melukai istrinya "Kau tahu? Pria yang kau sebut bajingan adalah istriku. Dan kau tahu siapa istriku? Dia hidupku! Jadi saat kau mencoba menyakiti hidupku. Maka siapkan dirimu untuk kematian. KAU DENGAR?!"
"AKU DENGAR TUAN! AKU MOHON MAAFKAN AKU!"
Sehun tersenyum keji membalas ucapan si bajingan. Memaksa bajingan itu berdiri di atas kedua kakinya yang tertembak sebelum membisikkan kalimat yang begitu mengerikan.
"Permintaan maaf diterima."
"Terimakasih tuan."
"Kalau begitu sampai bertemu di neraka."
"MWO?"
Menggunakan satu tangan-…Sehun melempar tubuh bajingan itu ke tengah jalan. Memperhitungkan kecepatan truk yang sedari tadi ia perhatikan sebelum
TIN…TIN…
BRAAAAK!
Dengan kejinya sang mafia tersenyum penuh iblis di dalam dirinya. Begitu puas melihat tubuh si bajingan terpental begitu jauh sementara Luhan hanya bisa meringkuk begitu ketakutan di tempatnya.
Ini adalah kali pertama setelah lima tahun dia kembali melihat Sehun seperti iblis. Begitu keji dan begitu menakutkan. Dan tanpa rasa bersalah sedikit pun sang iblis kembali berjalan mendekatinya. Membuat Luhan secara refleks memundurkan langkahnya tak menyangka Sehunnya benar adalah seorang pembunuh.
"Wae? Kau takut padaku?"
"huh?"
Luhan mencoba membuat dirinya tenang dan berani. Namun bayangan bagaimana Sehun menembak tanpa ragu serta tanpa bersalah melemparkan tubuh pria itu ke jalanan membuat tubuh Luhan bergetar begitu hebat hingga suaranya tercekat utuh di kerongkongannya.
"Satu hal yang selalu kau ungkiri adalah kenyataan bahwa aku seorang pembunuh. Dan kesalahan besar yang kau buat adalah melindungi bajingan yang sangat ingin aku bunuh. Kau menghianatiku Luhan. Dan rasanya aku ingin mencekikmu saat ini!"
"Sehunna…."
Luhan semakin ketakutan melihat suaminya. Langkahnya bahkan terus mundur sementara Sehun terus mendekat hingga akhirnya sang iblis berhasil merengkuh pinggangnya dengan kuat "Tapi sial aku tidak bisa mencekikmu. Kau tahu kenapa? Karena aku mencintaimu. Sangat mencintai penghianat sepertimu!"
Rasanya Sehun terdengar begitu terluka dibanding dirinya. Rasanya Sehun terlihat begitu rapuh dibanding dirinya. Dan bahkan Luhan mungkin lebih keji dari apa yang Sehun lakukan. Tidak seharusnya dia bersikap seperti menjauhi suaminya. Tidak seharusnya dia menatap takut pada suaminya yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Dan tidak seharusnya dia membuat Sehunnya terluka. Membuat Luhan melangkah mendekati Sehun untuk meminta maaf sebelum
Sret…!
Sehun menggendongnya bridal. Mengabaikan tatapan atau ucapan yang akan dan ingin Luhan sampaikan. Dia seorang suami dan seorang calon ayah. Maka mulai hari ini yang akan dia lakukan hanya menjadi seorang suami seperlunya dan calon ayah yang dibutuhkan calon bayinya. Hanya itu
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Luhan…Kau harus makan sesuatu nak. Bibi mohon jangan seperti ini."
Yang dibujuk hanya bersandar malas di sofa. Sesekali tangannya mengganti chanel TV dan sesekali matanya melihat ke arah pintu. Berharap sang suami membuka pintu dan tidak menghindarinya seperti yang dia bayangkan.
"Aku tidak lapar bi."
"Bagaimana bisa kau tidak lapar? Kau tidak makan apapun sejak pagi. Apa kau tidak khawatir pada bayimu?"
"Semalam aku dan Sehun memeriksakan bayi kami. Dokter bilang semuanya sehat. Aku dan bayiku sehat. Jadi bibi tidak perlu khawatir. Aku bisa-...huweeek!!"
"Omo.. Ini nak."
Luhan mengambil cepat kantung kertas yang disiapkan bibi Kim. Memuntahkan seluruh isi perutnya dengan bantuan pijatan tengkuk yang dilakukan ibu kandung Kai di belakangnya.
"Apa sangat mual?"
"Eoh...Sangat mual bi-..huweek!"
"Sebentar bibi ambilkan Jahe hangat."
Luhan mengangguk. Memuntahkan sendiri isi perutnya sementara bibi Kim bergegas mengambil jahe hangat untuknya.
"Huweeek...! Astaga kenapa ini lebih mual dari kehamilanku yang pertama. Ziyu tidak pernah membuatku mual seperti ini."
Luhan bergumam sedikit kesal. Disaaat mual seperti ini yang dia butuhkan adalah suaminya. Sehun yang memijat tengkuknya. Menyiapkan teh hangat untuknya atau sekedar memeluk dan mengusap calon bayinya agar tenang dan tidak membuatnya mual.
"Menyebalkan sekali! Mau bagaimanapun ini anaknya juga. Harusnya dia menemaniku bukan bersikap dingin padaku."
Meletakkan asal kantung muntahnya adalah hal yang Luhan lakukan sebelum mendelik kesal pada perutnya "Hey nak... Pastikan dirimu membuat ayah pulang hmmm... Eomma tidak mau mual lagi sendirian." Katanya meracau tak jelas. Berniat terus meracau sampai bibi Kim kembali datang menghampirinya "Ini nak. Minumlah."
Luhan terpaksa menutup mulutnya. Mendelik kesal kali ini kepada ibu Kai dan mulai kembali meracau tidak jelas "Lupakan. Aku tidak ingin minum atau makan apapun."
"Tapi kau mual Lu."
"Biarkan saja. Aku hanya ingin tidur."
Luhan menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya. Mengabaikan ucapan bibi Kim dan terus bergumam tak jelas di balik selimut
"Kemana mereka semua pergi? Aku tidak bisa menghubungi Woobin. Aku juga tidak bisa mengubungi Max. Jangan tanya aku bisa menghubungi suamiku atau tidak karena dia jelas mengabaikan aku. Lalu aku harus bicara dengan siapa? Dengan bibi Kim? Tidak-... Bibi hanya terus menyuruhku makan dan tidur. Aku tidak suka. Baekhyun atau Chanyeol? Mereka sedang kasmaran, pasti sulit mengganggu mereka! Arrhhhh...! Menyebalkan sekali!"
Bibi Kim sendiri hanya bisa tersenyum gemas melihat pria dua puluh delapan tahun di depannya. Dia bahkan harus memaklumi sifat Luhan yang tiba-tiba begitu cerewet dan terus mendengus kesal mengingat kehamilannya memang sedang memasuki fase sensitif.
"Tapi kau harus tetap makan nak. Jika tidak Sehun akan memarahimu."
"Biarkan! Toh dia juga sudah marah padaku dia bahkan tidak peduli padaku!"
"Tapi kau membawa bayi di perutmu. Setidaknya kau harus makan sesuatu Nyonya besar."
"Ish...! Berhenti memanggilku nyonya! Aku bukan nyonya dan aku tidak mau makan!"
"Tapi Lu..."
"Kenapa tidak mau makan?"
Sret...!
Luhan membuka cepat selimutnya. Tubuhnya bereaksi mendengar suara kecintaan yang selalu membuatnya berdebar. Dan saat wajah jeleknya terlihat maka kedua bola mata rusa itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya melihat sang suami sedang berdiri disana. Menggunakan jas kemeja putih dengan lengan ditekuk hingga terlihat urat-urat tangan yang membuatnya terlihat sangat tampan dan rrrrhh sangat menggoda.
"Sayang kau pulang?"
Luhan melempar asal selimutnya. Berlari mendekati Sehun dan memeluk tubuh dingin yang kini tidak membalas pelukannya.
"Kenapa dia tidak mau makan bi?"
"Mungkin Luhan menunggu anda tuan besar."
"Sehunna... Kau mengabaikan aku lagi."
Sehun menatap sekilas wajah Luhan. Memahami raut kecewa sang istri sebelum berusaha untuk kembali menahan rasa kesalnya pada pria cantik yang sedang mengandung anaknya.
"Kenapa aku harus mengabaikanmu?"
"Entahlah... Kau tidak membalas pelukanku. Kau tidak menjawab pertanyaanku dan kau menghindari tatapan mataku. Aku tahu kau mengabaikan aku."
"Aku tidak bisa membalas poin pertama. Tapi aku bisa melakukan poin kedua dan ketiga. Apa yang ingin kau tanyakan?"
Melakukan poin kedua dan ketiga yang dimaksud Sehun adalah bertanya dan menatap mata Luhan tanpa bisa melakukan point pertama yakni memeluknya.
Ya-... Dia benar-benar melakukannya. Walau rasanya sangat dingin setidaknya Sehun mencoba untuk tidak menyakiti hatinya. Luhan pun mencoba untuk tenang mengingat tak ada pelukan untuknya sebelum memberanikan diri menatap dua mata menyeramkan di depannya "Kau pulang?"
"Eoh!... Dimana lagi aku bisa tinggal? Di apartemenku? Aku lupa passwordnya. Di apartemenmu? Bisa saja. Ah-... Aku lupa kau menyembunyikan pembunuh putra kita disana. Aku juga lupa kalau istriku adalah seorang penghianat."
"Sehunna..."
Sehun tahu dia sudah melewati batas. Oleh karena itu dia memutuskan untuk tidak lagi berbicara dan hanya menghela dalam nafasnya "Aku akan mengganti bajuku. Setelahnya kita makan malam bersama." Katanya meninggalkan Luhan yang terisak pelan disana. Memandang punggung angkuh itu menjauh dengan bibir yang ia gigit begitu kencang
"Whoaa... Sikapnya benar-benar dingin."
Luhan menghapus cepat air matanya. Memutuskan untuk tidak mengambil hati ucapan Sehun dan hanya berniat menghabisakan makan malam bersama suaminya.
.
.
.
"Kenapa hanya diam? Makanlah."
"hmmh..."
Hanya dingin dan canggung yang Luhan rasakan untuk makan malam kali ini. Tak ada lagi suaminya yang akan terus mengatakan hal konyol untuk menggodanya. Tak ada lagi Sehun si manja yang akan memaksa agar Luhan menyuapi makanan padanya. Semua masih terasa sempurna saat mereka di Jeju beberapa minggu lalu. Melakukan honeymoon dan menjadikan dunia hanya milik keduanya. Tidak seperti hari ini karena sang suami terus bersikap dingin dan terus mengatakan dirinya penghianat.
"Hueeek..."
Gerakan memotong daging Sehun terhenti. Dia menatap langsung pada istrinya dan menyadari bahwa daging yang baru saja Luhan potong sudah membuatnya mual meski belum masuk ke dalam mulutnya.
"Omo Lu! Apa kau mual lagi?"
Bibi Kim mendengar suara Luhan yang terdengar begitu mual. Memijat tengkuknya lembut dan menyerahkan kantung kertas baru agar Luhan bisa memuntahkan isi perutnya "Aku sudah baik bi. Bibi bisa pergi."
"Sejak kapan dia mual?"
Sehun kembali mengabaikan Luhan. Terlihat sangat jelas bahwa dia cemas namun seolah tak ingin terlalu menunjukkannya dia lebih memilih bertanya pada bibi Kim sesekali melihat betapa pucatnya wajah sang istri.
"Pagi tadi tuan besar. Entah karena efek kehamilan Luhan atau istri anda memang sedang sakit. Dia terus memuntahkan air dan makanan yang masuk ke dalam perutnya."
"Kita pergi ke rumah sakit."
Luhan menahan tangan suaminya. Sudah merasa lebih baik dengan pijatan bibi Kim dan menatap Sehun agar kembali duduk dan menyelesaikan makanannya.
"Ini hanya efek dari kehamilanku. Sungguh aku baik-baik saja."
"Tapi perutmu kosong dan kau belum memakan apapun."
"Aku akan mencobanya sayang. Duduklah."
Sehun mencoba mendengarkan kali ini. Kembali duduk dan memperhatikan Luhan mengaduk supnya adalah hal yang dia lakukan untuk memastikan bahwa sesuatu masuk ke perut Luhan
Slurpp
Luhan menyesap sup buatan bibi Kim. Mencoba menikmatinya dan memberitahu Sehun kalau dia baik-baik saja
"Ini enak. Aku bisa-...huweeek!!"
Perutnya hanya bertahan beberapa detik untuk tidak terasa mual. Karena setelah sup itu tertelan melalui kerongkongan maka rasa mualnya kembali terasa jauh lebih kuat malam ini.
"Ssshh... Aku bilang ke rumah sakit."
Luhan menggeleng kuat menolak keinginan Sehun. Berusaha sekuat tenaga untuk menahan tarikan tangan Sehun dan terisak begitu mual namun Sehun terus mendesis dan bersikap dingin padanya
"Aku tidak mau ke rumah sakit. Tidak mau!"
"LUHAN!"
"Tuan Oh. Sabarlah sedikit. Luhan sedang merasa mual dan sangat sensitif. Baiknya kau menahan diri agar tidak membentak dan membuatnya menangis."
"Rrrhhhhh!"
Sehun mencoba menahan amarahnya. Memijat kasar kepalanya sebelum mencari jawaban pada wanita yang sudah bekerja untuknya selama bertahun-tahun "Dia bisa sakit jika terus seperti ini!"
"Aku seorang dokter dan aku tahu kondisiku Sehunna!"
"Tapi kau tidak tahu kondisi bayiku!"
Luhan menyadarinya-...Sangat menyadari bahwa satu-satunya alasan mengapa Sehun pulang ke rumah adalah karena bayinya. Satu-satunya alasan mengapa Sehun bersedia makan malam bersama dengannya adalah karena sang bayi.
Ya...Luhan menyadari semua hal yang Sehun lakukan kini hanya untuk calon bayi mereka. Lagipula Sehun bukan pria berhati besar yang bisa menerima penghianatan. Dia akan membenci dan membunuh semua orang yang menghianatinya. Semua orang-...Termasuk dirinya yang berstatus sebagai istri dari si Mafia.
"Tuan Oh. Tidak perlu bertengkar dengan istrimu. Aku sudah membuatkan bubur gingseng untuk Luhan. Jadi Luhan tidak perlu ke rumah sakit karena setelah memakan bubur itu dia akan merasa lebih baik."
"Apa kau yakin?"
"Tentu saja. Bubur gingseng memang berfungsi untuk menghilangkan mual dan menghangatkan tubuh. Istrimu sedang memasuki awal kehamilan jadi wajar jika dia terus merasa mual."
"Ambilkan buburnya."
Bibi Kim pun bergegas mengambilkan bubur untuk Luhan. Menuangkannya ke dalam mangkuk sebelum memberikannya kembali pada Sehun "Ini Tuan."
Sehun menerima mangkuk bubur Luhan. Diaduknya bubur berwarna putih kecoklatan itu hingga bau kuat gingseng menguar ke indera penciumannya dan Luhan
"Aku tidak mau makan itu! Terlihat sangat mengerikan."
Sehun mengabaikan racauan Luhan. Terus mengaduk bubur yang dibuatkan bibi Kim dan meniupnya sekilas "Buka mulutmu." Katanya memberikan satu sendok bubur untuk Luhan.
"Bilang aaa.."
Luhan menjauhkan wajahnya terlihat pucat. Dia benar-benar akan muntah lagi jika Sehun memaksanya. Namun saat suara Sehun terus terdengar mengerikan maka tak ada yang bisa Luhan lakukan selain membuka mulutnya dan memasukkan satu sendok bubur ke dalam perutnya.
"Mmmhh..."
"Bagaimana?"
"Rasanya nikmat. Aku suka..aaaa"
Bibi Kim mendesah lega sementara Sehun diam-diam tersenyum melihat Luhan kembali meminta buburnya.
Jika keadaan mereka sedang tidak renggang seperti ini mungkin Sehun akan memeluk si pria cantik mengatakan seluruh kalimat pujian yang bisa membuat istrinya merasa lebih baik.
Tapi jujur semua kalimat baik yang bisa dikatakan Sehun seolah tertahan di kerongkongannya.
Karena setiap kali melihat wajah istrinya dia akan terus mengingat bagaimana Luhan mencoba untuk melindungi pembunuh putra mereka. Dia bahkan rela mengorbankan nyawanya hanya untuk membuat Kyungsoo tetap hidup.
Dan hal itu pula yang selalu membuat Sehun tidak siap bertemu Luhan. Dia takut tidak bisa mengontrol diri dan berakhir dengan menyakiti istrinya "Makanlah..."
Luhan menyadari perubahan Sehun. Suaminya bahkan berhenti menyuapi bubur dan berniat memberikan buburnya kepada Luhan sebelum Luhan mengembalikan buburnya pada Sehun "Aku hanya akan makan jika kau suapi. Jika tidak aku tidak akan makan."
"Kau bisa melakukannya sendiri."
"Aku tidak bisa! Terserah jika kau tidak mau melakukannya aku akan pergi."
Luhan menggeser kursinya berniat untuk benar-benar pergi sebelum suara Sehun yang begitu tenang kembali terdengar "Duduk."
"Aku hanya akan duduk jika kau-..."
"Araseo! Duduklah!"
Sehun mencoba mengalah kali ini, tidak berniat lagi bersikap dingin dan hanyamembiarkan sesuatu setidaknya masuk kedalam perut istrinya "Bilang aaa.."
Luhan tanpa ragu melahap kembali buburnya. Tertawa sangat bahagia karena setidaknya Sehun menjadi Sehunnya setelah beberapa jam bersikap dingin. Walau wajah dan sikapnya masih sangat dingin, setidaknya dia mulai membalas tatapan matanya walau hanya sedetik.
"Senang melihat kalian seperti ini."
Luhan mengangguk setuju. Memandang innocent ibu kandung Kai dengan tatapan bocah lima tahun begitu bersemangat. Dia bahkan berniat menjawab sebelum suaminya lebih dulu bertanya pada wanita paruh baya yang telah bekerja untuk mereka selama bertahun-tahun.
"Bibi... Dimana Kai saat ini?"
Uhuk!
Luhan tersedak mendengar pertanyaan suaminya. Dilihatnya bibi Kim yang tampak bingung lalu kemudian kembali melihat Sehun yang jelas tak mempedulikan ketidak tahuan dari wanita tua di depannya.
"huh? Apa maksudmu Tuan? Bukankah Jonginku sedang bekerja untuk anda?"
"Bekerja untukku? Cih! Dia bahkan melarikan diri-..."
"Bibi! Ambilkan obatku di kamar. Aku merasa pusing kali ini."
Luhan memotong cepat ucapan suaminya. Membuat wanita lima puluh tahun itu terlihat ragu antara tetap mendengar jawaban majikannya atau pergi ke kamar mengambil obat Luhan
"Kapan terakhir dia menghubungimu?"
"Huh?"
Bibi Kim terlihat sangat ketakutan. Dilihatnya wajah Sehun yang murka sebelum mencari jawaban pada Luhan yang terus menggenggam tangannya "Jangan membuatku mengulang pertanyaan!"
"Dua minggu yang lalu Tuan Oh. Jongin menghubungiku dua minggu yang lalu. Setelahnya dia tidak pernah lagi menghubungiku. Ada apa dengan putraku? Dia baik-baik saja kan? Jongin-..."
"Kai baik-baik saja bi. Sungguh. Dia sedang berada di luar kota menyelesaikan bisnis Sehun. Jadi kau tidak perlu cemas dan lekas ambilkan obatku."
Luhan mengusap tangan yang sudah berkeriput itu dengan sayang. Meyakinkan ibu kandung penjaga kesukaannya agar tidak perlu merasa cemas dan tetap mempercayainya "Kai benar-benar baik bibi Kim."
Si wanita paruh baya menatap Luhan. Mencoba mencari jawaban dari kedua mata istri majikannya lalu tersenyum tenang menyadari Luhan tak akan pernah berbohong padanya.
"Syukurlah... ah sebentar-... Bibi akan mengambilkan obatmu."
"Mmhhh.."
Luhan bergumam lega melihat bibi Kim mempercayainya. Memperhatikan si wanita paruh baya menjauh sebelum menatap kesal pada suaminya "Sehunna... Apa kau sudah gila?!"
"Kenapa?"
Tanpa rasa bersalah Sehun bertanya. Mengabaikan maksud sang istri dan hanya terus menyuapi Luhan yang kini menolak suapan darinya "Tega sekali kau bertanya tentang Kai pada bibi Kim!"
"Dia ibunya dan wajar jika aku bertanya padanya."
"Tapi bibi tidak mengetahui apapun sayang!"
Sehun terdiam sejenak mendengar ucapan Luhan. Meletakkan sendok di mangkuk bubur Luhan sebelum menatap istrinya agak menyindir kali ini "Ah kau benar-... Dia tidak mengetahui apapun, termasuk penghianatan putranya padaku."
"Kai bukan penghianat!"
"Kalau begitu kau penghianatnya!"
Luhan hampir menangis mendengar tuduhan keji Sehun. Jika tidak mengingat dia memang bersalah mungkin Luhan sudah membanting semua peralatan makan dan mulai berteriak murka tak tahan dengan sikap dingin suaminya. "Aku juga bukan penghianat sayang." Katanya bergumam lirih berusaha membela diri.
Sehun merasa dia benar-benar dikhianati saat ini. Bagaimana bisa Luhan mengatakan dirinya bukan penghianat namun nyatanya seluruh sikap melindungi Kyungsoo adalah seluruh hal yang berkebalikan untuknya? Membuatnya begitu marah dan
BRAK…!
Luhan tersentak saat Sehun menggebrak meja makan. Dia bahkan tidak berani menatap Sehun yang sedang memandang marah padanya saat ini "Lalu katakan dimana pembunuh itu sekarang!"
"…."
Diam seribu bahasa dengan kepala tertunduk adalah dua hal yang akan Luhan sepanjang malam ini. Dia tidak berniat menjawab atau membela diri lagi karena pastilah dua hal itu hanya akan semakin membuat suaminya marah. "Kau bilang kau bukan penghianat? Jadi cepat beritahu aku dimana bajingan itu dan biarkan aku membunuhnya!"
Luhan terisak pilu menggelengkan kuat kepalanya. Rasanya semua kemarahan Sehun adalah hal wajar. Tapi saat suaminya mendesis berbicara padanya maka hal itu adalah hal yang begitu mengerikan untuk Luhan rasakan di malam dingin seperti ini.
"Wae? Kenapa hanya diam? kau tidak mau memberitahuku dimana bajingan itu."
"…."
"LUHAN!"
"hksss…Aku-…Aku juga tidak tahu dimana adikku saat-…"
"DIA BUKAN ADIKMU! DIA PEMBUNUH PUTRA KITA LUHAAAAN!"
"Hkssss…"
Isakan Luhan semakin kencang. Tubuhnya bahkan bergetar hebat sementara Sehun tak berhenti berteriak. Satu-satunya hal yang bisa membuat Sehun lebih baik adalah membunuh Kyungsoo. Tapi jika Sehun melakukan hal itu, maka dirinyalah yang tak bisa berada dalam keadaan baik. Anggap Luhan egois-..Tapi dia benci merasakan sakit "hksss….Sehunna aku takut. Aku takut hksss."
Wajah merah Sehun bahkan bertambah merah. Urat lehernya terlihat tanda bahwa dia benar-benar murka dan nyaris melampiaskan semuanya pada Luhan. tangannya yang mengepal juga menyisakan cakaran hebat karena Sehun mencengkramnya terlalu kuat.
Dan saat Luhan mengatakan taku-…Itu artinya Sehun harus berhenti sampai disini jika tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada istri dan calon bayinya "Aku hanya akan mengatakan satu hal ini padamu. Dengarkan aku baik-baik." Katanya berusaha tenang. Memaksa Luhan menatapnya sebelum mengatakan apa yang dia katakan.
"Beritahu adikmu untuk terus bersembunyi. Katakan padanya agar tidak muncul di hadapanku. Aku tetap akan mencarinya dan membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri. Jadi pastikan adikmu bersembunyi dengan baik jika tidak ingin kematiannya lebih cepat dari yang ia bayangkan. KAU DENGAR?!"
"Sehuuuunnhhhkkksssss.."
Luhan menangis ketakutan namun Sehun mengabaikannya. Yang Sehun lakukan hanya terus mengancam istrinya dan mengatakan hal menakutkan padanya "Dan untuk kau dokter Oh!-…Jika aku melihatmu berada di dekat bajingan itu. Aku bisa memastikan sendiri bahwa itu adalah hari terakhir kau melihatnya. Kau dengar?"
"hkksss…"
"KAU DENGAR?"
"AKU DENGAR!"
Luhan berteriak membalasnya. Dia tidak tahan mendengar ucapan mengerikan Sehun dengan sikapnya yang begitu dingin. Dia hanya ingin Sehun memeluknya bukan terus membentaknya seperti ini, namun saat matanya terlihat marah maka saat itu pula Luhan tahu bahwa kemungkinan Sehun memaafkan Kyungsoo adalah tidak mungkin.
"Aku akan membunuhnya jika dia berada di dekat bayiku atau dirimu. Jadi katakan padanya untuk tidak muncul lagi. ah-…Atau katakan padanya untuk segera mati agar kita bisa hidup bahagia." Katanya menekan tengkuk Luhan dan mulai melumat kasar bibir istrinya. Memaksa Luhan untuk membuka mulut sebelum menghisap lidah dan seluruh bibir Luhan dengan kasar.
"haah…."
Luhan mengambil nafasnya saat Sehun menyudahi ciuman tanpa cinta itu. Merasa begitu terluka dengan sikap Sehun yang kini menyatukan kedua dahi mereka "Jangan lupa sampaikan pesanku pada A-D-I-K- MU!" Katanya kembali mencium paksa bibir Luhan-… Penuh kemarahan dengan menekankan kalimat "adik" sebelum
BLAM….!
Sehun membanting pintu kamarnya. Membuat Luhan hanya menoleh pasrah dan melanjutkan ketakutannya seorang diri "Kau membuatku takut Sehunna. Aku benar-benar takut-…hksss"
.
.
.
.
.
.
.
.
Keadaan tak menjadi lebih baik esok harinya. Setelah menghabiskan malam dingin di kamar terpisah dengan Sehun-…Luhan harus kembali bangun dan melihat kemurkaan Sehun yang tak berkurang sedikit pun. Suaminya bahkan terus mengingatkannya agar tidak bertemu dengan Kyungsoo jika ingin membuat Kyungsoo hidup lebih lama.
Dan karena alasan itu pula Luhan tidak berani menghubungi Woobin saat ini dan hanya mempercayakan Kyungsoo pada pria asing yang belum lama ia kenal/
"Dimana Baekhyun dan Chanyeol?"
Setelah menyelesaikan operasinya. Dua orang yang Luhan gumamkan adalah dua orang yang sangat ingin ia temui. Dia ingin memberitahukan kebenarannya pada sepasang kekasih itu namun sial-…Baekhyun dan Chanyeol tampaknya sedang berkencan karena tak ada di ruang mereka masing-masing.
"Kemana mereka?"
Luhan menutup kesal ponselnya. Berjalan ke meja perawat dan bertanya pada perawat senior yang sering menjadi asistennya di ruang operasi "Perawat Han…Apa kau melihat dokter Byun?"
"eoh…Dokter Byun dan Dokter Park keluar makan siang bersama. Ada apa dokter Oh?"
"ah-….Baiklah tidak apa. Maaf mengganggu kalian."
"Kau tidak mengganggu dokter Oh."
"mhhh.."
Luhan bergumam kesepian. Kembali menikmati jam istirahatnya yang sepi dan memutuskan untuk berjalan entah kemana "Kau mau makan apa nak? Eomma ingin sekali pizza." Katanya mengusap lembut sang calon buah hati berusaha untuk berinteraksi dengan bayinya.
"Baiklah. Kita makan di kantin siang ini. Kau mau kan?" katanya bernegoisasi dengan sang bayi sebelum suara berat seseorang terdengar menyindirnya.
"Jadi kau benar hamil? Astaga Luhan-…Kau benar-benar sesuatu."
Luhan melihat asal suara yang mengejeknya. Berniat untuk tidak peduli sebelum
"WOOBIN!"
Dia secara refleks memekik melihat Woobin di depannya. Jelas Luhan memekik karena sejak malam tadi dia mencoba menghubungi Woobin namun tak ada jawaban sama sekali dari Mafia di depannya "sstt… Jangan terlalu mencolok."
"huh?"
"Ada tiga anak buah Sehun yang terus memperhatikan kita. Mereka tidak akan mendekat karena mengenaliku. Hanya jangan terlalu mencolok."
"araseo-…Lalu dimana Kyungsoo? Bagaimana adikku?"
Luhan berbisik bertanya pada Woobin. Namun yang ditanya kembali tidak fokus dan bertanya hal yang membuat Luhan ingin berteriak "Berapa lama waktu istirahatmu?"
"Wae?"
"Hanya jawab aku Lu. Kau membuang waktu."
Woobin tersenyum menggoda beberapa perawat cantik. Dia hanya sedang mengalihkan perhatian agar ketiga anak buah Sehun yang menjaga Luhan tidak tertarik pada percakapannya dan Luhan
"Satu jam."
"Oke. Kalau begitu jalan lurus ke lobi. Aku akan menjemputmu disana. Sampai nanti."
"Oke-..TAPI KITA MAU PERGI KEMANA?"
"Makan siang bersama Pororo!"
"Pororo?" Luhan tampak bertanya sebelum "Ah benar-…Pororo!"
Luhan mengerti Pororo yang dimaksud Woobin adalah Kyungsoo. Membuatnya sengaja berteriak dengan melepas jas putihnya sebelum berjalan lurus ke lobi persis seperti yang dikatakan Woobin
.
.
.
.
.
"MWO? TIGA RUMAH SAKIT BESAR TERMASUK RUMAH SAKITKU MENOLAK KYUNGSOO MALAM TADI?"
"Itu dinamakan The Power Of Sehun. Dia bahkan bisa membuat seluruh dokter takut untuk memeriksa adikmu malam tadi."
"Mwo?"
"Jangan terlalu terkejut Lu. Aku kira kau sudah biasa dengan dunia kami. Kami selalu melakukan hal-hal di luar batas hanya untuk satu tujuan. Dan apapun yang dilakukan Kyungsoo pastilah sangat membuat Sehun murka."
"Sehunna.."
Tangan Luhan mencengkram kuat di pahanya. Mendengar semua penuturan Woobin mengenai bagaimana Kyungsoo nyaris meninggal hanya karena tak ada rumah sakit yang menerimanya membuat hati Luhan tergores hebat. Dia tahu Kyungsoo melakukan kesalahan besar. Dia juga tahu Sehun akan murka seperti ini. Hanya satu hal yang tidak Luhan ketahui-…Semua pembunuh pada dasarnya mengerikan dan Sehun -suaminya- terlihat sangat mengerikan untuknya saat ini.
Woobin melihat Luhan bergerak resah. Dia bahkan terus bertanya-tanya apa yang terjadi hingga Sehun nyaris melukai satu-satunya pria yang ia ketahui adalah hidup si orang nomor dua di organisasinya. "Apa yang sebenarnya terjadi Lu? Kenapa Sehun begitu murka? Dia bahkan mengumumkan pergantian anggotanya pagi tadi."
"Apa maksudmu?"
Kemarahan Sehun seolah tak ada habisnya. Belum selesai dia terkejut karena ultimatum nya untuk Kyungsoo malam tadi. Kini Luhan harus dibuat takut karena kemungkinan si tua bangka itu mendapatkan kembali suaminya sangat terbuka lebar "Apa maksudmu?"
"Sehun memecat Max dan Shindong pagi tadi. Dan disaat bersamaan pula-..Sehun mengumumkan penghianatan Kai padanya. Jadi aku rasa semua tekena imbas dari yang Kyungsoo lakukan."
"itu tidak mungkin terjadi."
"Sayangnya itu terjadi. Sehun sangat menakutkan pagi ini. Membuatku bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?"
Luhan tersenyum begitu pahit. Rasanya seluruh nafas tercekat begitu sakit di dadanya. Sementara dia harus mendengar seluruh kekejaman sang suami maka disaat bersamaan pula Luhan berani bertaruh bahwa Sehunnya sedang kesakitan saat ini.
Luhan bahkan sedang memaklumi sikap keji suaminya dengan menatap keluar jendela. Mengikuti kemana Woobin membawanya pergi dan berusaha menjawab pertanyaan pria yang telah menolong adiknya malam tadi "Entahlah….Sesuatu mengerikan benar telah terjadi."
.
.
.
.
.
BLAM…!
Luhan memperhatikan kemana mobil Woobin berhenti. Dan setelah sang pemilik mobil keluar dari mobil maka tak lama ia mengikutinya. Bertanya-tanya mengapa mereka berada di gedung apartement dan tidak berada di rumah sakit untuk melihat keadaan Kyungsoo.
"Kenapa kita disini? Kau bilang kita akan menemui adikku?"
"Apa kau lupa? Tiga rumah sakit besar menolak kedatangan adikmu. Jadi apa aku punya pilihan lain selain membawa Kyungsoo ke apartemenku?"
"Lalu siapa dokter yang memeriksa adikku?"
"Kau akan segera tahu. Ayo masuk."
Woobin membawa Luhan menaiki lift. Menekan lantai sepuluh sampai
Ting!
Keduanya bergegas keluar dari lift menyusuri lorong hingga tak lama sampai di depan apartemen Woobin "Kau tidak perlu takut. Aku akan berfikir sepuluh ribu kali untuk berbuat macam-macam padamu." Katanya terkekeh melihat wajah Luhan yang begitu tegang. Berusaha memberitahu Luhan dan menekan password apartement sebelum
Klik…
"Ayo masuk."
Sebenarnya ini kali pertama Luhan masuk ke dalam apartement orang asing. Dan sebenarnya pula dia sangat gugup karena untuk kali pertamanya pula dia hanya berdua bersama Woobin tanpa Sehun disampingnya.
"Adikmu disana."
Luhan bergegas menuju ruangan yang ia tebak adalah kamar. Membukanya dengan cepat sebelum
"SOO!"
"Hey Lu…"
"Yeol? Baek? Apa yang kalian lakukan disini?"
"Dia adalah dokter yang aku maksud."
Luhan melihat Woobin disampingnya. Begitu lega karena Chanyeol sendiri yang memeriksa adik mereka dan secara tak langsung menatap Woobin sangat berterimakasih "Gomawo Woobina."
"Tidak perlu." Katanya membalas asal dan mulai membiarkan Luhan bersama dengan kedua saudara dan sahabatnya.
"Yeol..!"
Luhan sendiri berlari ke arah Chanyeol, memeluk erat pria yang tumbuh besar bersamanya sebelum menatap cemas pada Kyungsoo "Bagaimana Kyungsoo? Dia terlihat sangat kesakitan."
"Dia baru saja tertidur Lu. Efek obatnya sedang bekerja, kau tenang saja."
"Syukurlah. Syukurlah kau baik-baik saja Soo."
Luhan menangis mendekati Kyungsoo. Menggenggam erat tangan adiknya dengan Chanyeol yang memijat pundaknya seolah menenangkan "Tenanglah Lu. Belum lama dia bertanya tentangmu dan saat aku bilang kau baik-baik saja dia mulai tenang."
"Lu…"
Kali ini Baekhyun yang memanggilnya. Terlihat sangat ingin tahu dengan memberanikan diri bertanya pada Luhan "Apa Sehun sudah mengetahuinya?"
Luhan semakin menggenggam erat tangan Kyungsoo dan mengangguk membenarkan pertanyaan Baekhyun "Dia sudah tahu Baek…Sehun sudah tahu."
"astaga.."
Baekhyun menutup rapat mulutnya sementara Luhan kembali terisak. Begitu ketakutan mengingat kejadian malam tadi sampai tangan Kyungsoo menggenggam balik tangannya "h-hyung?"
"Hey Soo…"
Luhan menghapus cepat air matanya berusaha tersenyum seolah semua hal mengerikan hanya mimpi buruk adiknya. "hyung.."
"Ada apa Soo? Kenapa terus memanggilku?"
"Aku tidak mau pergi hyung. Aku tidak mau jauh lagi darimu. Aku tidak mau hkssss.."
"hey…hey…Adik kecilku."
Luhan secara refleks memeluk Kyungsoo. Menenangkan sang adik yang terlihat lebih tersiksa karena dia memintanya pergi daripada ketakutan saat Sehun mencoba membunuhnya. Luhan berusaha menenangkan Kyungsoo, namun semakin ia mencoba maka isakan Kyungsoo semakin terdengar memilukan "Jangan usir aku lagi hyung. Biarkan Sehun membunuhku. Tapi jangan buat aku pergi darimu. Jangan tinggalkan aku hyung…"
"Ssshh…. Adikku yang malang. Maafkan hyung Soo.. Maafkan hyung."
Luhan menyesali seluruh emosinya. Menyakiti Kyungsoo sejauh ini adalah kesalahan. Namun dia tahu kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah melindungi pria mungil ini dari pria tampannya. Luhan sudah memutuskan untuk tidak memilih. Dia hanya akan menjaga Kyungsoo dan Sehun di waktu bersamaan tanpa harus membuat keduanya merasa dikhianati atau disakiti. "Mianhae hyung…Mianhae."
Woobin melihat bagaimana kedua adik kakak itu terlihat ketakutan. Entah apa yang terjadi pada mereka yang jelas dia memiliki perasaan bahwa ikut campurnya kali ini akan membuat Sehun semakin murka. Dan untuk menghindarinya-…Dia hanya perlu membawa Luhan kembali ke rumah sakit mengingat jam istirahnya akan selesai dalam lima belas menit. Dengan berat hati pun dia memasuki kamar yang kini ditempati Kyungsoo untuk memberitahu Luhan.
"Lu…"
"hmmh.."
"Maaf mengganggumu. Tapi aku rasa kita harus pergi, waktumu habis."
Kyungsoo mengeratkan pelukannya mendengar ucapan Woobin. Seolah tidak ingin Luhan pergi dia hanya terus memeluk erat hyungnya tidak membiarkan Luhan pergi darinya "Jangan pergi hyung."
"Aku akan kembali secepat mungkin."
"Tapi hyung…"
Luhan melepas pelukan Kyungsoo. Menatapnya cukup lama sebelum mengusap sayang wajah sempurnanya yang terlihat sangat memar saat ini "Aku janji akan segera kembali. Jangan khawatir hmmmh."
Dengan berat hati Kyungsoo mengangguk pelan. Membiarkan Luhan bersiap sebelum hyungnya bergegas pergi kali ini "Aku pergi. Sampai bertemu di rumah sakit." Katanya memeluk Chanyeol dan Baekhyun sekilas sebelum kembali menatap Kyungsoo "Cepat sembuh adik kecil."
Luhan mengusap lembut kepala Kyungsoo sebelum berjalan mendekati Woobin di pintu kamar "Ayo pergi."
Kali ini Woobin yang mengangkat tangannya. Berpamitan pada tiga orang asing yang kini berada di apartemennya sebelum menyusul Luhan yang sudah berjalan lebih dulu "Sampai nanti."
.
.
.
.
.
.
"Woobin-ssi.."
"huh? Kenapa kau tiba-tiba berbicara formal padaku?"
Woobin yang sedang menyetir menoleh sekilas pada Luhan. Bertanya-tanya mengapa si pria cantik terus diam sampai akhirnya memanggil formal namanya "Mau bagaimanapun kita belum terlalu dekat." Gumamnya membalas diikuti kekehan kecil melihat pria yang sudah banyak membantu.
"Aku tahu. Hanya saja kita sudah beberapa kali bertemu. Jadi jangan terlalu formal padaku."
"Araseo….Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu."
"Untuk apa?"
"Kau banyak membantuku malam tadi. Dan memikirkan usahamu untuk menyelamatkan adikku sungguh membuatku sangat berterimakasih padamu. Kau bahkan meminjamkan apartementmu dan memanggil Chanyeol untuk menolong Kyungsoo. Gomawo Woobin-na.."
Fakta bahwa Luhan memanggil nama kecilnya membuat kesenangan gila seketika Woobin rasakan. Ya-..Mau bagaimanapun juga dia pernah menyukai Luhan sebelum tahu Luhan adalah istri Sehun, jadi wajar saat mereka bersama seperti saat ini bisa membuat kesenangan tanpa alasan bisa Woobin rasakan dalam waktu singkat.
"Aku tahu aku tampan. Tapi kau tidak perlu terpesona seperti itu."
"Tapi aku tidak terpesona padamu."
"Ah-…Maksudku kau tidak perlu berterimakasih padaku."
"Tetap saja kau banyak menolongku."
"Lupakan. Aku merasa menolongmu akan membuatku menerima banyak keuntungan nantinya."
Luhan tersenyum kecil mendengarnya. Menahan hal yang ingin ia katakan selanjutnya sebelum tanpa tahu malu dia kembali meminta pada Woobin "Kalau begitu bisakah kau menolongku lagi?"
"Apapun jika itu bisa membantumu. Apa yang kau inginkan?"
"Ummmh….Untuk sementara ini, bisakah kau membiarkan Kyungsoo menetap di apartementmu? Aku rasa itu adalah satu-satunya tempat yang aman untuk adikku."
Woobin tampak berpikir sejenak. Menimbang-nimbang permintaan Luhan sambil menunggu lampu merah berubah menjadi hijau saat ini "Aku bisa mempertimbangkannya jika kau memberitahuku apa yang membuat Sehun begitu murka pada Kyungsoo. Kau tahu kan-…Aku tidak seharusnya terlibat masalah pribadi Sehun. Hubungan Sehun dan Yunho baru membaik, aku tidak ingin kami menjadi musuh lagi." katanya menoleh pada Luhan. Menginjak perlahan gas mobilnya dan menunggu jawaban dari Luhan.
"Jadi apa yang dilakukan Kyungsoo? Mengapa Sehun sangat marah?"
Luhan memandang Woobin sejenak sebelum kembali melihat ke luar jendela. Menikmati pemandangan musim dingin yang begitu indah namun tak seindah keadaannya "Kau tidak akan percaya jika aku menceritakannya."
"Try me Lu!"
Luhan tersenyum lirih mendengarnya. Menyiapkan diri untuk semua reaksi Woobin sebelum kembali membuka suara "Kyungsoo…Dia pembunuh putraku."
Ckit…..!
TIN….TIN
Beberapa mobil di belakang Woobin menekan klakson mereka berulang kali. Dan didengar dari suara klakson mereka hanya menandakan bahwa mereka marah karena Woobin tiba-tiba mengerem mendadak. Woobin bahkan tak bisa berkata-kata saat ini. Wajahnya pucat melihat Luhan membuat Luhan terpaksa memberitahu Woobin.
"Tepikan mobilmu. Kau mengganggu pengendara lain."
Seolah tersadar dari suara klakson, Woobin menepikan mobilnya. Kembali melihat Luhan dan kali ini bertanya untuk memastikan "Kyungsoo…Kau bilang dia apa?"
"Kau sudah mendengarnya."
"Astaga ini gila-…Jangan katakan-…JANGAN KATAKAN PRIA YANG BERADA DI APARTEMENTKU ADALAH PRIA YANG SAMA DENGAN PRIA YANG KEMATIANNYA SANGAT DIINGINKAN SEHUN? PRIA YANG SELAMA INI SEHUN CARI DENGAN HIDUPNYA?"
"Ya…Mereka pria yang sama."
"MWO?-..Astaga Lu! Lalu kenapa kau menolongnya? Kenapa kau bersikap seolah tidak terjadi apapun?"
"Katakan padaku ibu mana yang tidak akan terluka jika pembunuh putramu adalah adikmu sendiri? Aku hancur…Aku marah dan aku-..Aku sangat ingin membunuh Kyungsoo hari itu. Demi Tuhan aku ingin membunuh Kyungsoo melebihi Sehun yang ingin membunuhnya." Katanya menceritakan penuh kemarahan sebelum kembali menenangkan diri mengingat sang calon bayi mungkin bisa merasakan emosinya.
"Tapi aku sadar itu hanya emosi sesaat. Karena semarah apapun aku pada Kyungsoo, aku akan tetap melindunginya dari hal mengerikan termasuk Sehun. Aku tidak bisa melihat adikku disakiti. Aku sangat menyayanginya."
Luhan menangis pelan di ucapannya. Mengingat situasinya yang sulit serta kemungkinan Sehun akan terus mengincar Kyungsoo adalah hal yang membuatnya tertekan. Dia bahkan terlalu putus asa hingga meminta bantuan pada Woobin. "Maafkan aku melibatkanmu terlalu jauh Woobin-na."
Woobin tertawa getir mengacak rambutnya. Tak mempercayai bahwa dia terlibat pada hal yang bisa membuatnya mati dalam hitungan detik. Dia pun hanya terus tertawa sambil meracau tak jelas menyadari kesalahannya "Ini gila. Terlalu gila. Sehun bisa membunuhku jika tahu aku menolong pembunuh putranya."
"Wajar jika kau merasa cemas, maafkan aku melibatkanmu Kim Woobin-ssi. Aku janji akan segera membawa adikku keluar dari apartementmu."
Woobin merasa Luhan terlihat kehabisan pilihan. Dia juga melihat raut bingung dan takut pada pria yang sedang mengandung darah daging Sehun di sampingnya. Antara ragu namun ingin membantu ia rasakan. Woobin bahkan harus menyembunyikan wajahnya di kemudi mobil cukup lama sampai terdengar helaan berat nafasnya
"haaah-…"
Luhan melihatnya sekilas sebelum menepuk pundak Woobin menenangkan "Aku mengerti posisimu. Jangan khawatir aku akan segera membawa adikku pergi."
"Entahlah Lu. Aku hanya tidak menyangka pria semungil Kyungsoo bisa membunuh keponakannya sendiri."
"Dia tidak tahu Ziyu keponakannya. Kris menjebaknya saat itu."
"bajingan itu!"
"Sudahlah. Semua sudah berlalu-…Setidaknya suamiku juga sudah tahu siapa pria yang selama ini dia cari. Aku tidak tahan melihatnya menghabiskan waktu hanya untuk mencari pria yang selama ini berada di dekat kami."
"Tapi kau bertengkar hebat karenanya."
"Sehun mencintaiku. Setidaknya aku memiliki satu alasan untuk bisa berada di dekatnya. Lagipula aku memiliki bayinya, jadi dia tidak akan melepaskan aku."
"ck! Kau terlalu percaya diri Dokter Oh!"
"Kadang aku juga merasa seperti itu. Aku terlalu percaya diri hingga tak sadar kalau aku selalu menyakiti suamiku."
Woobin bergerak resah di tempatnya. Menggaruk tengkuknya karena tak menyangka Luhan akan menjawab seperti itu "Hey! Aku merasa sedang berada di drama percintaan menyedihkan. Berhenti membuatnya terdengar menyedihkan dokter Oh."
Luhan tertawa kecil mendengarnya. Merasa semua ini memang terlihat seperti drama hingga rasanya ingin segera mencapai akhir ceritanya "Aku hanya terlalu sensitif karena bayinya."
Luhan mengusap lembut bayinya sebelum kembali menatap Woobin "Kalau begitu ayo kita kembali ke rumah sakit."
"Lalu kemana kau akan membawa Kyungsoo?"
"Entahlah. Aku akan memikirkannya lagi."
"Haah…"
"Kenapa kau terus menarik nafas?"
"Karena aku tidak percaya akan mengatakan ini."
"Mengatakan apa?"
Woobin kembali mengambil dalam nafasnya sebelum melihat lagi pada Luhan "Aku memang tidak bisa mengijinkan Kyungsoo menetap ditempatku. Tapi aku bisa membuatnya bekerja untukku."
"Bekerja untukmu? Apa kau ingin menjadikan adikku pembunuh lagi hah?!"
"Hey…hey..Tenanglah. Aku tidak akan membuat Kyungsoo bekerja seperti itu. Percaya padaku!"
"Lalu pekerjaan apa yang kau maksud?"
Woobin hanya tersenyum misterius. Kembali menginjak gas mobilnya sambil bersiul ria menjawab Luhan "Kau akan segera tahu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah semua kejadian sulit ini-...Setidaknya tiga bulan telah berlalu
.
.
.
.
Tiga bulan kemudian….
.
.
"Baek bagaimana bayiku?"
Dokter cantik itu pun menatap tak sabar pada sahabatnya sedikit mendengus sebelum terkekeh melihat dua manusia di depannya yang sangat bertolak belakang.
Jika yang satu terlihat sangat bersemangat dan ingin tahu tentang jenis kelamin bayi mereka maka yang satu hanya diam dengan seluruh wajah dan sikap dinginnya. Membuat Baekhyun ingin tertawa menggoda jika tidak mengingat apa pekerjaan suami sahabatnya.
"Kau ingin tahu?" Katanya menggoda Luhan yang terlihat kesal pada sahabatnya. "Ayolah kami tidak sabar. Iya kan sayang?"
Yang dipanggil tetap dengan wajah stoicnya. Walau hatinya juga berdebar sangat kencang tapi Sehun terus memasang wajah dinginnya berharap dokter yang terus berbicara omong kosong segera memberitahu jenis kelamin bayinya
"ish kau ini!"
Luhan menggerutu kesal karena Sehun sama sekali tak menjawabnya. Membuatnya mendelik sekilas sebelum menatap tak sabar pada Baekhyun "Abaikan sikapnya. Dia sedang marah padaku."
"Aku bisa melihatnya."
Baekhyun terkekeh memberitahu Luhan. Sedikit mengerling sahabatnya sebelum menunjukkan hasil USG yang baru saja dilakukan Luhan.
"Usia kandunganmu sudah berjalan 28 minggu. Berita bagusnya bayimu sehat. Letak bayimu dan posisi kepala bayimu sudah sempurna. Yang perlu kau lakukan hanya tinggal menunggu waktu yang tepat sampai kau melahirkan."
"Syukurlah. Eomma bangga padamu nak."
Luhan bergumam begitu lega. Mengusap bangga pada kandungannya sebelum suara Sehun terdengar bertanya "Lalu bagaimana dengan istriku? Apa dia sehat?"
Wajah Luhan merona hebat saat Sehun bertanya tentang keadaannya. Diam-diam melirik wajah suaminya dan begitu menikmati wajah Sehun yang terlihat mengkhawatirkan dirinya.
"Bisa bicara juga kau rupanya."
"Baek!"
Luhan memarahi Baekhyun saat pria ber-eyeliner itu menyindir suaminya. Sehun tampak tidak terusik tapi tetap saja memancing kemarahan serigala adalah sebuah kesalahan.
"Wae? Aku hanya bertanya."
"Berhenti mengusik suamiku. Dia sedikit sensitif."
Luhan berbisik pelan memberitahu Baekhyun yang terlihat mencibir "Dia sangat sen-.."
"Apa aku perlu mencari dokter lain untuk memastikan keadaan bayi dan istriku?"
Dan saat Sehun menyindirnya maka Baekhyun hanya bisa mendesah tak percaya sambil membenarkan jas putihnya "Yang benar saja!" Katanya mengipas wajah kesalnya sebelum menatap Sehun sama kesalnya saat ini.
"Jika aku mengatakan bayimu sehat, maka tak ada alasan untuk ibunya sakit. Dengan kata lain-...Luhan sehat. Sangat sehat dan kabar baik lainnya adalah selamat karena untuk kali kedua kalian akan memiliki jagoan kecil."
"Huh?"
Luhan mendengar kalimat terakhir Baekhyun. Bergumam sangat berharap sebelum Baekhyun memegang tangannya yang terasa sangat dingin "Kau mendapatkan bayi lelaki lagi kali ini."
"Ya Tuhan...!"
Luhan memekik begitu terharu. Secara refleks dia bahkan memeluk Sehun yang masih diam di tempatnya. Tak menyangka bahwa mereka akan kembali mendapatkan jagoan kecil yang pastinya akan tampan seperti ayahnya "Sehuun aku sangat bahagia."
Sehun tak menjawab apapun. Hanya menciumi pucuk kepala Luhan seolah menyampaikan rasa bahagia yang sama dengan suaminya.
"Jadi bersabarlah dua hingga tiga bulan lagi sampai kalian bisa bertemu dengan malaikat kecil kalian."
"Gomawo Baek...Ini kedua kalinya kau memberitahuku tentang keadaan dan jenis kelamin bayiku. Gomawo Baekkiya.."
"Aku senang melakukannya. Kelak teruslah membuatku mengabarkan berita baik untuk kalian. Aku tidak bisa mengabarkan hal selain kabar baik pada kalian. Sungguh."
"Araseo... Gomawo Baek.."
Luhan masih berada di pelukan Sehun. Memeluk suaminya begitu erat dengan tangan yang mengusap bangga pada perutnya. Dia bahkan terus tersenyum seolah tak sabar bertemu dengan jagoan kecilnya kelak.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi kita tidak akan makan siang bersama? wae? Kau mau pergi kemana sayang."
Niat awal adalah makan siang sepuasnya bersama sang suami setelah mengetahui kabar baik tentang bayi mereka. Namun sial ternyata Sehun benar-benar masih pada sikap super menyebalkannya –mengabaikan dan terus bersikap dingin- adalah dua hal yang selalu Sehun lakukan hampir tiga bulan terakhir ini. Bahkan saat usia kandungannya menginjak bulan keenam dan sedang berjalan ke bulan ketujuh-…Sehun masih terus mengabaikannya.
"Sehunna jawab aku!"
"Aku banyak pekerjaan."
"Tapi kita baru saja mendengar kabar baik. Apa kau tidak ingin merayakannya?"
"Aku ingin…"
"Lalu kenapa kau pergi?"
"Karena aku terlalu marah mendapati kemungkinan bayi kita berada dalam posisi aman sangat kecil mengingat bajingan itu masih berkeliaran di luar sana."
Tidak perlu bertanya bajingan siapa yang Sehun maksud. Karena kata ganti nama Kyungsoo sudah menjadi bajingan untuk Sehun. Suaminya bahkan tak segan membunuh anak buahnya yang berani menyebut nama Kyungsoo di depannya. Membuat Luhan hanya bisa diam dan tak berniat memancing keluar amarah suaminya.
"Kyungsoo tidak mengerikan."
Sehun berhenti di langkahnya. Menatap marah pada Luhan sebelum memegang kasar pundak istrinya "Aku akan sangat murka jika kau terus menyebut nama bajingan itu! Jadi jaga bicaramu. Kau dengar?"
Kabar gembira mengenai bayi mereka seolah tak bermakna saat Sehun dan kemarahannya terus membuatnya ketakutan. Luhan bahkan harus menahan air matanya begitu memelas jika tidak ingin melihat kemarahan Sehun semakin mengerikan "ara…Maafkan aku."
"Aku pergi."
Tanpa berkata Sehun pergi begitu saja meninggalkan istrinya. Membuat Luhan terpaksa menitikkan air matanya karena perlakuan Sehun semasa dirinya hamil kali ini sangat berbeda dengan perlakuan Sehun padanya saat mengandung Ziyu lima tahun yang lalu.
"ck. Dia bahkan tidak mengucapkan terimakasih kepadaku."
Luhan menghapus cepat air matanya. Mencoba untuk tidak menangis namun sial hatinya terlalu sakit karena perlakuan dingin Sehun padanya "Jangan menangis Lu. Banyak yang melihatmu. Banyak yang-…"
Sret…!
Luhan merasa seseorang mengangkat dagunya. Dan sedetik kemudian bibir hangat yang begitu familiar di bibirnya tengah memagut lembut bibir miliknya. Membuat Luhan secara refleks menutup mata dan melingkarkan kedua tangannya di leher jenjang milik suaminya.
Entah apa yang sedang Sehun lakukan. Setelah meninggalkannya begitu saja si pria tampan –terkadang brengsek- ini kembali menghampirinya. Suaminya bahkan mencium bibirnya di depan seluruh karyawan di rumah sakit tempat Luhan bekerja. Membuat raut wajah Luhan begitu merona namun senyum cantik itu tiba-tiba dipaksa keluar menggantikan raut sedihnya beberapa detik yang lalu.
"nghh…"
Sehun benar-benar membuat seluruh tubuh Luhan begitu lemas tak bertenaga. Dengan satu tangan kuatnya dia merengkuh pinggang Luhan begitu erat, memaksa Luhan tak lagi berjinjit sementara dia terus melumat tanpa ragu bibir manis istrinya. Sehun bahkan memaksa masuk lebih dalam ke rongga mulut Luhan. Menghisap lidahnya sesekali menggigit kecil bibir Luhan sebelum melepas lumatannya karena tangan Luhan mulai memukul tanda ia kehabisan udara untuk bernafas.
"Sayang-nghh…"
Sehun tersenyum kecil. Mencium sayang kening Luhan sebelum menyatukan kedua dahi mereka "Gomawo."
"Huh?"
Luhan bergumam bingung mendengar ucapan Sehun yang sedari tadi sangat ia ingin dengar. Membuat kedua mata rusa itu menatap penuh harap sebelum pinggangnya ditarik semakin mendekat ke tubuh tinggi milik suaminya "Terimakasih karena kau selalu dalam kondisi sehat dengan kehamilanmu. Kau bahkan membuat bayi kita tumbuh sempurna di dalam sini." Katanya kembali mencium sayang kening Luhan dengan tangan yang mengusap lembut perut Luhan yang terlihat semakin besar.
"Terimakasih sayang."
Luhan mengangguk tanpa ragu. Menikmati ucapan lembut Sehun yang terdengar benar-benar seperti suaminya setelah hampir tiga bulan tidak merasakan sikap dan ucapan lembut sang suami. Dia bahkan membiarkan ciuman hangat memenuhi keningnya sebelum Sehun menunduk dan beralih pada perutnya "Sampai nanti jagoan ayah." Katanya mencium perut besar Luhan sebelum kembali menatap sang istri "Aku akan pulang untuk makan malam denganmu. Anggap saja itu cara kita merayakan kabar gembira tentang jagoan kecil kita. Kau mau?"
"mmh! Tentu saja."
Sehun mengusap sayang rambut Luhan. Menciumnya sekali lagi sebelum berpamitan dengan benar kali ini "Aku pergi."
"Sampai bertemu nanti malam."
Luhan sedikit berteriak memberitahu suaminya. Membuat beberapa karyawan yang sedari awal melihat adegan manis sang dokter dengan suaminya menatap Luhan dengan tatapan menggoda "aigoo…Tuan Oh begitu romantis dan manis. Dokter Oh beruntung sekali memiliki suami seperti Tuan Oh. Dia pasti sangat bahagia."
"Tentu saja!"
Luhan mendengar bisikan perawat dan menjawabnya tanpa ragu. Dia bahkan berniat untuk semakin memamerkan kebahagiannya sebelum
Drtt…drtt..
Luhan mengambil ponselnya yang bergetar di saku. Menggeser slide nya untuk membaca pesan sebelum kedua matanya membelalak melihat siapa yang mengirim pesan
Kim Woobin
Hey Lu…Sudah lama tidak bertemu! Jika kau ada waktu siang ini datanglah ke kafe milikku. Aku akan menyertakan alamatnya dibawah pesan ini. Aku menunggumu dokter Oh.
Luhan mengipas wajahnya begitu kesal. Hampir tiga bulan sejak terakhir kali ia bertemu dengan Woobin-…Luhan tak pernah lagi mendengar kabar dari partner suaminya. Dia bahkan harus kebingungan seorang diri saat mencarikan flat baru untuk Kyungsoo karena yang dijanjikan Woobin tentang pekerjaan tak pernah terjadi "ck… Pria itu selalu berkata omong kosong!"
Membuatnya begitu kesal sebelum meletakkan asal ponselnya di dalam saku. Luhan bahkan mengabaikan pesan dari Woobin sebelum ponselnya kembali bergetar. Kali ini alamat dari kafe yang diberikan Woobin dengan kalimat paksaan yang berbunyi "Kau harus datang." Membuat Luhan tertawa getir tak percaya membaca kalimat paksaan Woobin untuknya "Whoaa.. si brengsek ini benar-benar membuatku kesal!"
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
.
.
.
Two chapters left
