Previous

Kim Woobin

Hey Lu…Sudah lama tidak bertemu! Jika kau ada waktu siang ini datanglah ke kafe milikku. Aku akan menyertakan alamatnya dibawah pesan ini. Aku menunggumu dokter Oh.

Luhan mengipas wajahnya begitu kesal. Hampir tiga bulan sejak terakhir kali ia bertemu dengan Woobin-…Luhan tak pernah lagi mendengar kabar dari partner suaminya. Dia bahkan harus kebingungan seorang diri saat mencarikan flat baru untuk Kyungsoo karena yang dijanjikan Woobin tentang pekerjaan tak pernah terjadi "ck… Pria itu selalu berkata omong kosong!"

Membuatnya begitu kesal sebelum meletakkan asal ponselnya di dalam saku. Luhan bahkan mengabaikan pesan dari Woobin sebelum ponselnya kembali bergetar. Kali ini alamat dari kafe yang diberikan Woobin dengan kalimat paksaan yang berbunyi "Kau harus datang." Membuat Luhan tertawa getir tak percaya membaca kalimat paksaan Woobin untuknya "Whoaa.. si brengsek ini benar-benar membuatku kesal!"

.

.

.

.

.

.

.

.

Entangled

Main Cast : Sehun & Lu Han

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

.

.

.

BLAM…!

Luhan baru saja keluar dari taksi. Sedikit berjalan ke depan dan terus mencari mencari alamat kafe yang diberikan Woobin "Dimana tempatnya?" katanya bergumam kecil sebelum menyadari bahwa dia sudah berada di kafe yang tepat "Ah-…Ini tempatnya." Katanya sedikit terkekeh menyadari kebodohannya.

Dan tanpa ragu Luhan membuka pintu kafe. Berniat kembali menghubungi Woobin sebelum suara yang sangat familiar menyapanya di pintu masuk "Selamat datang di Bin's Café."

Luhan secara refleks menoleh. Tak percaya dengan penglihatannya saat ini. Luhan tidak sedang bermimpi melihat pelayan yang menyapanya adalah mantan kaki tangan sang suami. Pria kurus dengan tinggi sama dengan suaminya itu bahkan tersenyum menunjukkan sederetan giginya dengan apron bertuliskan Bin's Café tertulis di sepanjang apron yang ia kenakan "Hey Lu…Sudah lama sekali tak bertemu."

"Max?"

"eoh…Ini aku."

"Apa yang-…YAK! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI? PERGI KEMANA SAJA KAU SELAMA INI!"

"Lu tenanglah….Banyak mata yang melihat."

"AKU TIDAK PEDULI!"

"Pasti itu suara Luhan."

Luhan kembali menoleh pada suara lainnya. Mau tak mau matanya kembali membulat mendapati pria gemuk yang suka sekali berteriak padanya juga mengenakan apron yang sama dengan yang Max gunakan "KAU JUGA DISINI?"

"Astaga! Kenapa kau sangat marah Lu?"

"TENTU SAJA AKU-…"

"HYUNNG!"

Suara familiar lainnya kembali terdengar memanggil Luhan. Kali ini berasal dari meja dapur. Membuat Luhan kembali harus berteriak marah melihat adiknya sedang berada disana menggunakan pakaian seperti chef lengkap dengan topinya "DAN KAU-…KENAPA KAU BISA DISINI SOO? KENAPA KAU MEMAKAI PAKAIAN ANEH ITU?"

"Aneh? hyung ini keren! Aku cheff sekarang."

"BAGAIMANA BISA KAU MENJADI-…"

"Hey Lu… Apa hobimu berteriak?"

Dan kali ini suara yang sedari tadi Luhan cari akhirnya terdengar. Membuatnya mencari keberadaan suara yang begitu membuatnya kesal sebelum mendekati kemana arah Woobin berdiri layaknya CEO muda dengan tangan terlipat "Kim Woobin…KAU!"

.

.

.

.

.

.

.

"MWO? DUA MINGGU?!"

"Ish! Apa perlu berteriak?"

Masing-masing Max dan Shindong menutup telinganya sebelum kembali berbicara "mmh… Kafe ini baru buka dua minggu yang lalu. Jadi tentu saja Baru dua minggu kami bekerja disini."

"Tempat ini sangat luar biasa hyung."

"Dua minggu dan kau tidak menceritakan apapun? Yang benar saja Soo!"

Saat ini Woobin terpaksa menutup kafenya. Membiarkan Luhan bertanya banyak hal dan terpaksa meminta seluruh pelanggannya pergi daripada harus mendengar dan melihat kemarahan si rusa gila yang sangat mengerikan. "Woobin hyung yang memintanya."

"WOOBIN HYUNG?"

"Ayolah Lu! Aku memang lebih tua darinya."

"Omong kosong!-…DAN KALIAN-…KENAPA KALIAN JUGA BEKERJA UNTUKNYA?"

Max menatap Luhan cukup lama. Ingin tertawa namun dia tahu itu bunuh diri karena akan membuat Luhan semakin berteriak marah. Dan alih-alih tertawa-…Max lebih memilih berakting menyedihkan dan menyembunyikan kepalanya di atas meja "Semenjak Sehun memecatku. Aku sangat menyedihkan Lu."

"Aku juga." Timpal Shindong mendukung akting rekannya.

"Aku harus kelaparan sepanjang hari."

"Aku juga."

"Aku tidak memiliki uang sepeser pun."

"Aku juga."

"Sampai akhirnya Direktur Kim datang dan memberikan pekerjaan menyenangkan ini."

"Itu benar."

"Gomawo direktur Kim."

"Gomawo direktur Kim,"

Luhan mendengus kesal mendengar akting menjijikan kedua mantan penjaganya. Nyaris tertawa geram sebelum matanya melihat Woobin yang tersenyum puas saat ini "Jadi pekerjaan yang kau maksud adalah ini?"

"Tepat sekali."

"Kafe? Mafia sepertimu memiliki kafe? Yang benar saja!"

"Itu keinginan terpendamku. Kau tahu kan kalau aku-…"

"HAH!"

Luhan memotong omong kosong Woobin. Kembali melihat ketiga yang lain dan memastikan kalau mereka diperlakukan dengan baik oleh Woobin "Kalian baik-baik saja kan?"

"Apa?"

"Maksudku pekerjaan ini. Pemiliknya. Pelanggannya. Kalian bahagian kan?"

"Luar biasa hyung."

"Kami menyukainya."

"Jika Kyungsoo chef disini. Lalu kalian apa?" katanya bertanya pada Max dan Shindong bergantian.

Sret…!

Diluar dugaan Max berdiri membungkukkan badannya sedikit mengerling Luhan "Max Changmin si waiter tampan."

"aah menjijikan sekali-…Lalu kau?"

"Aku kasir chubby yang lucu. Kami bertiga menjadi tim yang hebat."

Luhan menatap sebentar Kyungsoo, Max dan Shindong. Memperhatikan ketiganya yang terlihat sangat nyaman dan bahagia sebelum diam-diam kembali menatap Woobin mengucapkan terimakasihnya "Gomawo." Katanya berbisik membiarkan ketiga pria yang menjadi korban kemarahan Sehun saling menguatkan satu sama lain. Dan karena kebahagiaan ketiganya pula-…Luhan tidak memiliki alasan untuk marah dan hanya tertawa bersama mereka saat ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sementara keempat pria di dalam kafe Woobin sedang tertawa, maka tak jauh dari tempat mereka berada tepatnya di luar kafe. Terlihat satu orang pria berpakaian serba hitam mencuri dengar seluruh pembicaraan mereka. Tangannya bahkan sudah memegang ponsel tanda bahwa sedang menghubungi seseorang

"Ada apa? Dimana istriku"

Adalah Yoon Doojoon kaki tangan Sehun yang lain. Memberitahu seluruh aktivitas Luhan persis seperti yang dilakukan Kai saat masih menjadi kaki tangan yang dipercaya Sehun untuk menjaga istrinya.

"Luhan sedang berada di sebuah kafe kecil milik direktur Kim."

"Direktur Kim? Woobin?"

"Ya Direktur."

"Sedang apa Luhan bersama Woobin."

"Anda mungkin akan terkejut bos. Tapi saat ini-..Tepat di depan kedua mataku Luhan sedang bersama Max, Shindong dan-…"

"Dan?"

"Dan bajingan itu…"

"BRENGSEK! APA YANG LUHAN LAKUKAN BERSAMA BAJINGAN ITU!"

Tanpa jeda waktu, Doojon mendengar suara meja dipukul dengan kuat. Bersiap untuk menerima kemarahan Sehun karena membiarkan istrinya bertemu dengan pembunuh putranya di tempat terbuka seperti ini.

"Sepertinya mereka membicarakan banyak hal bos."

"ARGGHHHHH! RGGHHHHH!"

Doojon masih diam di tempatnya. Mendengar seluruh kemarahan Sehun sampai deru nafas Sehun terdengar normal namun begitu mengerikan saat membuka suara.

"Yon Doojon…"

"Ya…"

"Kau bilang Youngmin menawarkan lima sample toxic yang Kai dan Krystal buat?"

"Ya . Tapi aku sudah mengembalikan toxic itu saat kau menolak tawaran Presdir Park satu minggu yang lalu bos."

"Kalau begitu datang dan temui kembali pria tua itu. Katakan aku meminta kembali sample yang diberikan."

"Mengingat sikapmu minggu lalu aku rasa Presdir Park tidak akan memberikannya bos."

"LAKUKAN APAPUN AGAR AKU BISA MENDAPATKAN TOXIC ITU!"

"Tapi bos…"

"Katakan padanya aku melepas tiga puluh persen sahamku di Beijing dan aku akan memberikan separuh anak buahku di Jepang untuk melindungi bisnisnya kali ini. KAU DENGAR?"

"Tapi bos-…Apa yang akan kau lakukan dengan toxic itu?"

Sehun terdiam cukup lama mendengar pertanyaan Doojon. Masih tak bersuara sampai nafas beratnya terdengar dan mulai menjawab dengan suara sangat mengerikan khas seorang Oh Sehun.

"Aku akan menggunakan Toxic itu untuk membunuh Do Kyungsoo."

.

.

.

.

.

.

.

"Benarkah Lu? Kau akan mendapatkan jagoan kecil lagi?"

Sementara Kyungsoo menyiapkan pancake untuk Luhan di dapur maka Max, Shindong dan Woobin masih betah berbincang dengan Luhan. Terlihat dari suara mereka yang begitu antusias bertanya banyak hal pada Luhan termasuk mengenai jenis kelamin si calon bayi nantinya.

"umhh tentu saja. Aku dan Sehun baru mengetahuinya pagi ini."

Kyungsoo tersenyum kecil mendengarnya. Sangat bersyukur mengetahui sang kakak dan calon bayinya begitu sehat hingga hanya rasa malu dan takut yang ia rasakan untuk sekedar mengucapkan selamat pada Luhan "hyung…Ini Pancake buatanku."

Luhan mengambilnya bersemangat. Meminta Kyungsoo untuk bergabung sebelum memakan lahap kue buatan adiknya "Kau benar-benar luar biasa Soo."

Tak perlu waktu lama Luhan selalu jatuh hati pada bakat adiknya. Karena selain pintar dalam mengemas barang, adiknya selalu berhasil memikat siapapun dengan masakannya. Membuatnya mengangkat ibu jari sambil menatap bangga pada adiknya "Siapapun kelak yang akan menjadi pasanganmu. Dia pasti akan sangat bahagia soo."

Kyungsoo hanya tersenyum kecil mendengar penuturan Luhan. membiarkan kakaknya terus melahap pancake sampai Max kembali lagi bertanya

"Lalu bagaimana dengan Sehun? Apa dia masih bersikap dingin padamu?"

"Sangat-…Aku rasa dia hanya bersikap manis karena aku mengandung bayinya. Setelah bayiku lahir mungkin dia akan membuangku."

"tidak mungkin."

Luhan menyadari Max bergumam sangat yakin. Berniat bertanya sebelum suara Shindong terdengar

"Mana mungkin dia membuangmu? Dia akan menjadi gila." Timpal Shindong membuat Luhan menghentikan gerakan memakan pancake nya. Ingin bertanya pada kedua mantan anak buah suaminya sebelum kali ini suara Woobin yang terdengar.

"ssh…sshh…Aku penasaran bagaimana Sehun tanpa Luhan?" katanya dengan tangan terlipat dan terlihat sedang membayangkan kemungkinan yang terjadi jika Luhan meninggalkan Sehun.

"Aku benar-benar penasaran. Ah-…..Apa kita culik saja Luhan?"

"Aku masih ingin hidup."

"Kau saja direktur Kim. Membuat Luhan tergores pisau saja aku harus berakhir di rumah sakit lima hari. Apalagi sampai menculiknya? Aku rasa dia akan terus mengejarku walau aku sudah mati."

"ha ha ha…."

Mendengar celotehan Max pun membuat Woobin, Shindong bahkan Luhan sekalipun tertawa. Mereka menyadari benar siapa Luhan untuk Sehun. jadi jika kau ingin hidup dengan tenang atau setidaknya mati dengan layak-…Jauhi Luhan dan jangan sampai membuatnya tergores walau hanya satu goresan kecil. Karena jika kau melakukan kesalahan itu maka bersiaplah menerima pembalasan mengerikan dari iblis seperti Oh Sehun.

"Aku pernah membuat Luhan menunggu selama lima menit lalu setelahnya si iblis datang dan memukulku di depan wanita cantik. Ish-…Jika mengingat hal kasar yang dia lakukan rasanya aku ingin mencekik iblis itu."

"Berhenti mengatai suamiku iblis atau kalian menyesal."

Max dan Shindong menatap Luhan cukup lama. Terus memperhatikan Luhan sampai mereka menggosip dengan suara tinggi agar Luhan mendengar godaan mereka. "uuu….lihat si nyonya iblis marah."

"Dia bahkan lebih mengerikan dari si iblis."

"y-YAK!"

Triiing….!

Bersamaan dengan teriakan Luhan maka pintu kafe kembali terbuka. Kali ini terlihat Chanyeol dan Baekhyun yang memasuki kafe membuat Woobin bertanya-tanya mengapa dua dokter itu bisa sampai di kafenya "Siapa kalian?"

"Kau mengenal mereka Woobin-ssi."

"Iya aku tahu, maksudku kenapa mereka bisa disini?"

"Aku yang mengundang mereka tentu saja."

"Soo…Itu Yeolie hyung."

Kyungsoo yang masih diam pun sedikit mengerjap. Melihat kemana Luhan menunjuk sebelum bibirnya tersenyum lebar melihat Chanyeol berjalan mendekatinya "Hyung…."

"aigoo…Lihat adik siapa yang terlihat menggemaskan dengan pakaian chef ini."

Chanyeol menyambut pelukan Kyungsoo. Memeluk sang adik dengan erat sebelum melihat berbinar Kyungsoo dengan hidupnya yang lebih baik saat ini "Kau terlihat sangat bahagia?"

Kyungsoo mengangguk bersemangat. Segera beralih memeluk Baekhyun sebelum kembali menjawab kakaknya "Aku sangat bahagia." Timpalnya memberitahu Chanyeol dengan percaya diri.

"Kalau begitu kami ingin pesan."

Baekhyun sibuk memilih menu sebelum memesan "Aku ingin spaghetti." Katanya memberitahu Kyungsoo sebelum suara Woobin terdengar malas menjawab

"Kau tidak lihat tulisan closed di depan kafeku?"

"Kau tutup di siang hari seperti ini? ck…Benar-benar tidak profesional!"

"ish! Kau pikir aku mau? Salahkan saja si nenek sihir!"

"Siapa nenek sihir? Aku?"

Luhan kembali siap berteriak. Berniat memaki Woobin sebelum si pemilik kafe membuka pintu dan kembali membalik tulisan open

"Silakan masuk nona-nona cantik."

Dan tak lama sederetan gadis yang jelas merupakan fans dadakan si mafia terlihat menghambur memenuhi kafe. Membuat Woobin mengerling Luhan seolah mengatakan aku sibuk padanya. "Kalian bertiga cepat kembali bekerja!"

"Baik bos!"

Shindong dan Max bergegas melakukan tugas masing-masing. Menyusul Kyungsoo yang ingin bergabung melakukan tugasnya namun terhalang karena tangan Luhan kini menahan lengannya "Ada apa hyung?"

"Tunggu sebentar." Katanya memberitahu Kyungsoo sebelum

"Kim Woobin!"

Yang dipanggil sedang menggoda wanita cantik. Dia bahkan nyaris mendapatkan nomor ponselnya jika Luhan tak sembarangan memanggil namanya seperti memanggil bodyguard

"ish! ADA APA?"

"Besok Kyungsoo tidak masuk. Aku meminjam adikku untuk besok."

"hyung? Kita mau pergi kemana?"

"BOLEHKAN?"

Luhan kembali berteriak sampai suara Woobin menjawabnya "LAKUKAN SESUKAMU!"

"Okay!"

Luhan melepas pegangan di tangan Kyungsoo. Sedikit membenarkan pakaian chef Kyungsoo sebelum menepuk pundak adiknya untuk memberikan semangat "Pergilah bekerja. Besok akan menjadi hari yang panjang untuk kita."

"huh? Kita mau kemana hyung?"

"Mencari pakaian dan perlengkapan untuk keponakanmu."

"Keponakanku?" katanya sedikit bertanya sebelum kedua matanya membulat sempurna menyadari keponakan yang dimaksud Luhan adalah calon bayi Luhan dan Sehun yang sebentar lagi lahir ke dunia "hyung….Jangan bilang-…"

"Tentu saja. Keponakanmu adalah anak-anakku. Kelak jika Chanyeol dan Baekhyun resmi menikah. Keponakanmu akan bertambah. Jadi bekerjalah dengan keras mengingat seluruh keponakanmu akan terus meminta banyak hal pada pamannya."

"Paman?"

Rasanya sungguh tidak pantas mendapat sebutan paman setelah apa yang dia lakukan pada putra sulung Luhan setahun yang lalu. Kyungsoo bahkan takut membayangkan rasa bahagia menjadi paman untuk seluruh keponakan yang akan ia miliki dari kedua kakaknya. Semua ini adalah kesalahan untuk rasa bahagia yang ia rasakan. "Tapi hyung…Sehun akan-…"

"Kau tenang saja. Baekhyun dan Chanyeol akan ikut untuk mengecoh bodyguard suamiku. Biasanya jika aku tidak melakukan hal yang mencurigakan, mereka akan melapor pada Sehun dan kemudian pergi. Setelah mereka pergi barulah kita bisa pergi berdua." Katanya bersemangat memeluk Kyungsoo sebelum mendorong adiknya kembali ke dapur.

"Tapi hyung…"

"Berhenti menolak. Kau cukup bekerja dengan benar karena aku akan berada disini seharian."

"Benarkah?"

"Tentu saja. Cepat berikan makanan padaku." Katanya memaksa Kyungsoo sebelum benar-benar melihat adiknya menghilang pergi kedalam dapur. Luhan pun terdiam cukup lama memandang tempat dimana Kyungsoo berada. "Jika aku tidak meninggalkanmu mungkin kau akan menjadi chef dan tidak pernah melakukan pekerjaan mengerikan soo." Katanya tersenyum lirih begitu menyesali keputusannya meninggalkan Kyungsoo dan berfikir bahwa adiknya baik-baik saja hanyalah omong kosong.

"haaah~…"

Luhan mengambil dalam nafasnya benar menyesali keputusannya hingga membuat pria yang merupakan hidupnya dengan pria yang begitu ia sayangi saling membenci satu sama lain.

"Mianhae soo…Mianhae Sehunna"

.

.

.

.

.

.

.

.

Luhan menghabiskan sepanjang waktunya di kafe milik Woobin. Menikmati seluruh makanan yang disajikan Kyungsoo hingga membuatnya pulang sedikit terlambat malam ini. Menikmati pemandangan malam di luar adalah hal yang ia lakukan sampai tak terasa taksi yang ia tumpangi berhenti di depan rumahnya.

"Terimakasih paman."

Dan setelah membayar taksi, Luhan bergegas turun memasuki gerbang rumahnya. Suasana hatinya cukup baik sampai matanya membulat melihat mobil yang sangat familiar untuknya terlihat parkir tepat di garasi rumahnya.

"Oh tidak..."

Dia bergumam panik melihat mobil Sehun berada di garasi rumah mereka. Perkiraannya meleset jauh, dia kira Sehun akan pulang malam seperti hari-hari sebelumnya. Ya-…Harusnya Sehun memang pulang malam mengingat mereka membatalkan janji makan malam pagi tadi. Harusnya dia masih sibuk bekerja dan bukan berada di rumah saat waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam. "Bagaimana ini?"

"Selamat malam Luhan."

Luhan mengabaikan semua sapaan maid nya. Hanya terus berjalan memasuki rumah dan mencari keberadaan bibi Kim.

"Bibi!"

"Luhan...Akhirnya kau pulang nak."

"Wae? Apa Sehun mencariku?"

"Tidak... Hanya saja bibi takut dia menyadari kau belum pulang sampai selarut ini."

Luhan memperhatikan keadaan rumahnya sebelum membawa bibi Kim menjauh dari kamarnya dan Sehun "Bi... Kenapa Sehun ada di rumah? Dia membatalkan makan malam bersama denganku."

"Entahlah. Dia sudah berada di rumah pukul lima sore."

"MWO?"

"Sssttt... Dia bisa mendengarmu nak. Sekarang cepat cuci muka dan sikat gigi. Bibi sudah menyiapkan piyama di kamar mandi. Kenakan itu sebelum bertemu dengan suamimu."

Bukan takut yang Luhan rasakan. Tapi entah untuk alasan apa dirinya merasa begitu bahagia. Kenyataan bahwa suaminya sudah berada di rumah sejak sore sungguh membuatnya bersemangat. Dia bahkan berniat langsung menemui Sehun sebelum bibi Kim memegang lengannya seperti ingin mengatakan sesuatu "Ada apa bi?"

"Kau mau kemana?"

"Menemui suamiku tentu saja."

"Dengan keadaan pulang di tengah malam seperti ini?"

"Huh?"

"Lebih baik kau bergegas membersihkan diri terlebih dulu. Dia akan sangat marah mengetahui kau pulang larut tanpa kabar."

Luhan mencerna ucapan ibu kandung Kai di depannya. Menimbang bahwa kalimat Sehun akan marah mengetahui kau pulang larut adalah hal yang seratus persen benar adanya. Membuatnya sedikit terdiam sebelum mengangguk setuju

"Ah bibi benar. Sehun akan marah jika bau tubuhku tidak segar." Katanya membenarkan saran bibi Kim. Mulai melihat ke seluruh ruangan sebelum berjalan mengendap menuju kamar mandi. "Aku membersihkan wajah dan tubuhku dulu bi."

"Baik Lu..."

Bibi Kim hanya tersenyum melihat tingkah Luhan yang menggemaskan. Bertanya-tanya mengapa hubungan dua majikannya terlihat renggang dan berharap semua kecanggungan ini tak ada kaitannya dengan Kai -putranya-. Membuatnya hanya bisa menghela dalam nafas sebelum bergegas menyiapkan makan malam untuk Luhan

"Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian?"

Wanita paruh baya itu bergumam kecil. Kenyataan bahwa putranya menghilang tanpa kabar sudah membuatnya begitu sedih. Dia ingin bertanya pada Luhan tapi takut pertanyannya akan membuat Luhan merasa bingung dan cemas. Bibi Kim bahkan sama sekali tak mengetahui dimana Kai berada yang dia tahu putranya melakukan kesalahan.

Dan apapun yang putranya lakukan pastilah sesuatu yang mengerikan mengingat Sehun begitu marah setiap kali mendengar nama dua orang. Entah nama putanya atau pria bernama Do Kyungsoo.

.

.

.

.

.

Tok...Tok...

"Masuk."

Luhan melonjak senang saat suara Sehun mengijinkannya masuk. Membenarkan piyama yang sengaja ia kenakan tanpa celana sebelum

Cklek...!

"Sayang!"

"..."

Fantasi Luhan adalah Sehun menyambut kedatangannya. Memeluknya erat untuk merayakan hari dimana mereka tahu akan kembali mendapat jagoan kecil lalu berakhir di kamar tidur dan bercinta hingga peluh membasahi tubuh masing-masing. Bukan harus kembali diabaikan karena sang suami lebih tertarik pada penanya saat ini

"Sehunna.."

"..."

Sial beribu sial-... Karena daripada menyambutnya. Sang suami terlihat sibuk dengan pena dan kertas. Menandatangani entah dokumen macam apa yang berhasil menyita seluruh perhatiannya.

Dan jangan salahkan Luhan jika dia merasa marah. Dia benar-benar ingin bermanja semalaman dengan suaminya. Berharap Sehun akan melakukan "sesuatu" yang membuat keduanya terbuai nikmat malam ini.

"Sehun!"

"..."

"Whoaaa aku sangat kesal-...Benar-benar kesal!"

Luhan memulai aksinya. Menggerutu marah dengan bibir mengerucut sempurna. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca siap menumpahkan kekesalannya. Hatinya begitu kesal karena tanpa alasan Sehun kembali bersikap dingin dan mengabaikan dirinya.

"Apa kau mengabaikan aku lagi?"

"..."

"Sehun!"

Setelah suaranya berubah kesal barulah Sehum merespon. Dan tanpa melepas pena nya dia menatap Luhan yang entah mengapa tak memakai celana piyama dan hanya menggunakan atasan piyama yang tak sampai menutupi lututnya.

"Hay..."

Luhan tertawa geram saat ini. Mengusak kasar wajahnya sebelum kembali menatap kesal pada suaminya "Sepuluh menit aku berada disini dan kau hanya mengatakan hay?! Oh Sehun-...Kau benar-benar membuatku marah!"

"Kau hanya terlalu sensitif."

"Aku sensitif? Sekarang kau menyalahkan aku lagi HAH?!"

"Lalu apa yang kau mau?"

"BERHENTI BERSIKAP DINGIN DAN JANGAN MENGABAIKAN AKU LAGI!"

Sehun tertawa kecil mendengarnya. Kenyataan bahwa hal yang membuatnya sangat marah adalah pertemuan istrinya dengan Kyungsoo hari ini. Dan sialnya lagi dia tak bisa mengatakannya begitu saja mengingat kondisi Luhan yang sedang mengandung calon buah hatinya.

"Jika kau membiarkan aku membunuh bajingan itu, aku akan berhenti bersikap dingin padamu!"

"SEHUN!"

"Sudahlah! Cepat pergi tidur. Aku tahu kau lelah."

"Sampai kapan kau akan terus begini? Tidak bisakah kau relakan putra kita? Ziyu sudah berbahagia dengan Tuhan. Jadi tidak bisakah kau-..."

"AKU TIDAK BISA!"

"Sehun..."

"Selamanya aku tidak bisa memaafkan pembunuh putraku. Kau dengar? TIDAK AKAN PERNAH BISA!"

Luhan merasakan nada suara terluka dari suara suaminya. Merasakan betapa rapuh pria yang selalu terlihat mengerikan hanya karena merindukan putranya.

Dan seolah menyesal dengan ucapannya-...Luhan berlari mendekati Sehun berdiri di belakang kursi suaminya sebelum

Grep..

Luhan memeluk erat tubuh yang terasa sangat tegang dan penuh kemarahan. Memeluknya erat berharap suaminya merasa lebih baik dengan tangan melingkar sempurna di leher pria tampannya dan bibir yang terus menggumamkan kalimat penyesalan tepat di telinga suaminya "Maafkan aku sayang. Aku bersalah. Maafkan aku.."

Luhan menciumi leher dan tengkuk Sehun bertubi-tubi merasa begitu cemas karena Sehun tak kunjung tenang dan wajahnya terlihat semakin terluka penuh kemarahan.

"Aku merindukan putraku Lu. Aku merindukan Ziyu. Aku-...hkss"

Terkadang rasanya begitu lelah jika kau ingin menangis tapi tak memiliki tempat bersandar. Mencari tempat nyaman yang bisa membuatmu merasa lebih baik adalah hal sulit.

Namun saat tempat bersandar itu sedang memelukmu-...Maka tak ada yang bisa Sehun lakukan selain mencurahkan rasa marah, sedih serta rindunya yang begitu teramat pada putranya. Memberitahu satu-satunya pria yang bisa melihat sisi lemahmu adalah hal yang selalu bisa membuat sang mafia merasa jauh lebih baik.

Dan jika keadaan menjadi lebih baik untuk Sehun-... Maka hal sebaliknya dirasakan sang istri. Luhan begitu merasa bersalah dan bertanggung jawab atas kesedihan, kemarahan dan kerinduan seorang ayah pada putranya. Dan saat air mata itu membasahi wajah suaminya maka hanya ribuan jarum kecil yang dirasakan Luhan menusuk tepat di dadanya.

Luhan pun semakin melingkarkan erat pelukannya. Menunduk dan bertumpu pada kursi yang digunakan suaminya sambil membisikkan kalimat penyesalan yang mewakili perasaan bersalahnya.

"Sssttt... Aku tahu sayang. Aku juga merindukan putra kita. Tenanglah." Luhan terus menciumi tengkuk Sehun namun nyatanya Sehun semakin terisak pilu membuat hatinya begitu hancur "Sayang jangan seperti ini...Biarkan aku memelukmu."

Buru-buru Luhan menarik lengan suaminya. Memaksa Sehun untuk berhadapan dengannya sebelum tubuh mungil miliknya berjinjit untuk memeluk betapa rapuhnya sosok menakutkanyang sedang terluka.

"hkssss….."

"Sayang…Sehunnaa…"

Posisi keduanya terus seperti ini hingga beberapa menit. Posisi dimana Sehun melingkarkan tangannya di pinggang Luhan sementara wajahnya disembunyikan di pundak si mungil sementara Luhan masih terus berjinjit mengusap sayang punggung suaminya "Aku disini sayang. Semua baik-baik saja."

Dan setelahnya Luhan tak lagi berjinjit. Membiarkan kali ini Sehun yang menunduk sementara dirinya terus mengusap punggung serta mencium bertubi seluruh wajah rapuh suaminya.

Sehun tak lagi terisak tapi tak juga berbicara. Dia masih terus menyembunyikan wajahnya di pundak Luhan dan terus menikmati usapan lembut di punggung serta suara merdu milik istrinya "Lu…."

Luhan merasa ini kesempatan untuk bertanya. Dilepasnya pelukan Sehun sebelum menatap dalam wajah tampan yang sedang terluka itu. Dia bahkan tersenyum gemas sebelum mengusap air mata suaminya sementara tangan Sehun masih bertengger manis di pinggangnya.

"Bayi besarku terlihat sedih." Katanya mencoba menggoda Sehun sebelum hanya tatapan acuh yang dia terima "Kau sudah merasa lebih baik?"

Sehun mengangguk sebagai jawaban. Tangannya masih setia melingkar di pinggang Luhan sebelum diam-diam bergerak turun dan mulai meremas bokong Luhan yang terlihat semakin seksi semenjak kehamilannya.

"nghh…"

Tanpa sengaja Luhan meringis setengah mendesah. Kenyataan bahwa dia tidak memakai apapun di bagian bawahnya memang ingin menggoda Sehun. Namun dia tidak menyangka bahwa situasi akan memanas emosi lebih dulu sebelum berakhir menjadi panas bergairah seperti saat ini.

"Kau ingin bercinta?"

Luhan tak berbasa-basi menawarkan dirinya. Membuat Sehun kini memasang wajah innocent nya sedikit terkejut mendengar tawaran istrinya "Bolehkah?" katanya bertanya polos di wajah, namun bejat di tangan. Karena saat wajahnya bertanya penuh harap maka tangannya sudah bermain-main di belahan bokong seksi milik Luhan.

Luhan sendiri mulai menikmati remasan tangan suaminya. Berdebar-debar saat tangan Sehun mulai membuka belahan bokongnya dan semakin turun seolah mencari lubang kecil favoritnya "S-sayanghhh—mhhh…"

"Rileks…"

Sehun memberi perintah. Dia menggunakan precum Luhan sebagai pelumas di jari sebelum kembali mencari lubang yang hanya bisa ia masuki dengan jari dan terkadang ia jilat hampir empat bulan terhitung setelah kehamilan Luhan "ngghhh…"

"Pagi tadi aku baru selesai menjamahmu dan kau sudah menggodaku lagi?" katanya berbisik meremehkan disambut desahan tak suka dari Luhan.

"Aku ingin penismu menghujamku sayang."

"cih….Bicaramu seperti pria murahan."

"Aku memang murahan jika tangan, bibir dan penismu sudah menjamah tubuhku." Katanya semakin menggoda Sehun sebelum

BRAK…!

Sehun membuang seluruh dokumen di atas mejanya. Mengangkat Luhan dengan satu tangan sebelum membaringkan sang istri di meja kerjanya. "Sayang apa kita akan melakukannya disini?"

Sehun tak menjawab pertanyaan Luhan. Dia hanya sibuk membuka setengah zipper nya sebelum membuka lebar kedua paha Luhan hingga terlihat hole menggoda yang siap disantap setelah tiga bulan lamanya "Aku boleh memasukkan penisku?"

Luhan mengangguk malu namun sengaja membuka lebar pahanya. Menggoda sang suami untuk segera memasukkan penisnya namun sial-…! Sehun memiliki cara sendiri untuk menggodanya. Karena daripada langsung bercinta dia lebih memilih menarik kursi dengan tangan yang terus membuka lebar paha Luhan sebelum

Sshh…

"Sehun—akkh….Jangan dijilat aku benci—nghh…Sayang!"

Alih-alih memasukkan penisnya. Sehun lebih memilih untuk menjilat hole istrinya. Memastikan bahwa Luhan tak akan kesakitan namun berakhir harus mendapat jambakan karena Luhan memang paling tidak menyukai jika dia mulai menjilat hole nya.

"Sayanghhhh…."

Luhan menggeliat resah. Rasanya sangat nikmat saat lidah tajam suaminya mengoyak jauh kedalam rektumnya. Dia bahkan bisa berkali-kali klimaks dengan bibir dan lidah Sehun di awal kehamilannya. Tapi kali ini rasanya berbeda, dokter sudah mengijinkan mereka bercinta. Dan oleh karena itu gairah Luhan hanya untuk penis besar yang akan mengoyak rektumya. Bukan foreplay yang bisa membuatnya klimaks berkali-kali.

Sshhh…

Dan percobaan terakhir, Luhan berhasil menjambak anak rambut Sehun. Membuat Sehun mendongak dengan bibir mengkilap basah karena terus menjilat rektumnya dibawah sana. "Berhenti menjilatku. Masukkan penismu sayang."

Sehun menjilat seksi bibirnya. Kembali menjauhkan istrinya dengan membuka celananya hingga setengah lutut "Aku akan memasukkannya."

Luhan mengangguk antusias. Kakinya bahkan sudah mengunci pinggul Sehun dan mendorong penis besar suaminya agar segera mulai mengoyak lubang kecilnya

"Tahan."

Dan setelah memberi aba-aba. Sehun mulai mendekatkan penisnya. Mencoba untu masuk dalam satu kali hentakan dan

"Arhhhhhh—Sehun!"

Air mata Luhan menetes bersamaan rasa perih di bagian bawahnya. Jika beberapa menit lalu Luhan menghapus air matanya. maka kali ini Sehunlah yang mengambil alih air mata kesakitan istrinya "Apa sangat sakit."

Luhan mengangguk cepat. Kembali terisak pelan dan mulai meracau gila karena sensasi nikmat dan sakitnya begitu mendominasi sama besar "Sakit—hhh…tapi sangat besar sayang."

"Aku akan menariknya keluar."

"Andwae!"

Luhan mengunci pinggul Sehun, menolak dengan keras penis besar itu keluar dari hole nya dan mulai menatap kedua mata elang di depannya "Bergerak."

"huh?"

"Jika kau hanya diam rasanya sangat besar. Bergeraklah sayang."

Sehun pun tertawa mendengar celotehan Luhan. dihapusnya keringat sang istri sebelum mengangguk menyetujui untuk menggerakan pinggulnya.

"Haahhh—nikmathhh…"

Sementara Luhan terus melenguh nikmat maka Sehun hanya diam memejamkan matanya. Menikmati bagaimana sempitnya hole Luhan menjepit penisnya secara berulang adalah hal yang membuatnya sangat bernafsu. "nghhh…."

Keduanya nyaris mendesah bersamaan. Namun suara Luhan selalu lebih mendominasi karena rasa nikmat yang diberikan Sehun untuknya. "Sayanghh…"

"Ahh—so deep...nggh so biggg babe...nggghhh..!"

Luhan meraacau gila di setiap hentakan yang Sehun berikan. Terlalu dalam dan terlalu besar adalah dua hal yang terus membuatnya menggeliat liar hingga tak sadar kedua kakinya mengunci pinggul Sehun sementara sang suami terus menumbuk hingga ke dalam rektumnya membuat keduanya begitu bergairah.

"Ah—..."

Tangannya mencari-cari wajah Sehun. Dan setelah mendapatkannya dia kemudian menarik tengkuk sang suami untuk meminta hal panas lain yang akan membuatnya benar-benar terbakar "Cium aku dan gunakan tanganmu yang lain untuk menjamah penisku dan memilin nippelku Cepat babe—aaahh..."

Sehun menyeringai mendengar perintah sang istri. Nyatanya sedari tadi dia fokus menumbuk adalah agar Luhan meminta service lebih. Dan benar saja saat hanya bagian bawahnya yang dipuaskan si rusa cantik memberi perintah lain untuk fokus pada tiga titik gairahnya yang lain

"Sehunna—deep babe… so deep—kissmee.."

Luhan menarik paksa tengkuk Sehun. Membuat Sehun secara otomatis menunduk dan mulai menjamah liar tubuh mulus istrinya "nghhh..."

Mulut Luhan membuka lebar saat Sehun menciumnya. Sengaja mengundang suaminya untuk mencium semakin dalam sementara dia mengarahkan tangan kanan Sehun agar mengocok pelan penisnya "Hunn—Akuh…"

Sehun pun kembali menyeringai menyadari betapa liar rusanya. Dan tak ingin menggoda Luhan lebih lama dia pun mulai menyerang keempat titik gairah Luhan dengan tempo dominan agar sang istri merasakan kenikmatan yang tak bisa diungkapkan.

Bibirnya mencium lembut namun menuntut bibir menggoda istrinya. Tangan kanannya mengocok penis sang istri dengan tempo beraturan sementara tangan kiri ia gunakan memilin dua tonjolan kecil secara kasar namun menggunakan tempo yang membuat Luhan hanya bisa mendongakan pasrah lehernya.

"Sayang—ghhh."

Rasanya begitu nikmat saat semua titik gairahmu diserang secara bersamaan. Sehun bahkan tak lupa menjamah lehernya bergantian dengan mencium lembut bibirnya. Tempo hentakannya pun semakin keras seiring berlalunya waktu. Keduanya seolah melupakan kenyataan bahwa perut buncit Luhan sedikit mengganggu sampai

Dugh…!

"Ah!"

Luhan memekik terkejut sementara Sehun diam memucat. Dia tahu benar bahwa sesuatu menendang keras dari perut istrinya. Membuat Sehun menghentikan gerakan pinggulnya sementara matanya berlari cepat menatap wajah istrinya "Sayang…Apa bayiku baru saja?"

Luhan terkekeh mendapati wajah pucat suaminya. Membuat Luhan meminta posisi duduk dengan penis Sehun yang masih berada di lubangnya "eoh…Bayimu baru saja menendang."

Sehun bergerak panik. Berniat mengeluarkan penisnya sebelum dua kaki Luhan kembali mengunci pergerakannya "Jangan keluarkan atau aku yang akan marah."

Sehun tak memiliki pilihan lain selain tetap berada pada posisinya. Masih menatap cemas Luhan sebelum kembali bertanya pada istrinya "Apa aku menyakiti bayi kita?"

"ish…! Tentu saja tidak. Cepat bergerak. Bayimu hanya terkejut!"

Sehun menggeleng memucat. Tak berani melanjutkan percintaan mereka hingga membuat raut wajah Luhan berubah merah dan siap berteriak. "Sehunna jangan berhenti disaat aku seperti ini."

"Tapi aku takut kehilangan kontrol lagi."

"Kau sudah melakukannya dengan baik sayang. Cepat bergerak"

Luhan kembali memberi perintah. Memaksa mendorong pinggul Sehun agar bergerak namun sia-sia karena Sehun tetap menahan diri untuk tak lagi bergerak. "Sebentar sayang…"

Sehun terlihat mengingat-ingat ucapan Baekhyun, mencoba memisahkan antara nafsu dan akal sehatnya demi kesehatan malaikat kecilnya "Apa yang dia katakan."

"Astaga Oh Sehun. Cepat bergerak!"

Sehun menatap Luhan sekilas. Kembali mengingat ucapan Baekhyun sebelum

Jika kalian ingin melakukan seks pastikan Luhan dalam posisi on top

"on top?-…AH itu dia!"

"Apa?"

Sehun bergegas merangkul pinggang Luhan. Menggendongnya tanpa kesulitan sebelum menarik kursi kerjanya hingga posisi Luhan mendudukinya saat ini "Jangan bilang posisi ini-…"

"mmh…Baekhyun bilang posisi aman adalah kau on top. Jadi aku bisa melanjutkan percintaan kita sayang."

Luhan mengangguk tegas sebelum menunjuk meja yang awalnya mereka gunakan untuk bercinta "Aku mau disana!"

"Kita akan tetap dalam posisi ini."

"Sayang aku tidak mau on top jika perutku besar."

"Kenapa tidak mau? Biasanya kau selalu bersemangat jika berada di atasku?"

"Ini berbeda sayang…"

Sehun masih membenarkan posisi duduknya dan Luhan. mengangkat lengan kursi adalah hal yang dia lakukan agar kaki istrinya bisa leluasa menggantung atau sekalipun melingkar di pinggangnya "Apa yang berbeda?"

"Aku sedang hamil."

"Lalu?"

"Terlihat gemuk dan jelek. Shirheo! Aku tetap mau di meja!"

"Siapa yanng bilang kau gemuk dan jelek?"

"Semua orang yang sedang hamil pasti terlihat seperti itu."

Sehun menghiraukan racauan Luhan. Mencoba sedikit mengangkat pinggul Luhan lalu mendudukannya kasar hingga

"akhh—."

Hingga penisnya semakin tertancap sempurna di dalam Luhan. Menyeringai kemudian dilakukan Sehun sebelum menjilat kedua puting yang begitu menantang seperti meminta untuk dihisap kuat "Sayang—ini akhh…nghhh….deeper."

Luhan pun melupakan ketakutan akan gemuk dan jelek yang sedari tadi ia ucapkan. Lebih memilih mendongak adalah hal yang dia lakukan karena saat ini Sehun sedang menaik turunkan pinggulnya dengan menyesap kuat nipple nya bergantian.

"Kau terlihat seksi bukan gemuk. Dan untukku kau selalu terlihat sangat cantik. Jadi mengeluhkan apa yang orang lain keluhkan baby…Hanya dengarkan aku karena aku pemilikmu."

Sleb,,,

"Akhhhh— / ngghh…"

Bersamaan dengan ultimatumnya Sehun sengaja memajukan pinggulnya bersamaan dengan dia menurunkan pinggul Luhan hingga terdengar desahan Luhan serta erangan Sehun yang terdengar sangat menikmati percintaan mereka.

"Sayang…"

"hmmm?"

Luhan tiba-tiba melingarkan kedua tangannya di leher Sehun. Mencium tengkun sang suami yang dipenuhi peluh sebelum membisikan hal yang dia inginkan "Aku ingin bergerak sendiri."

"Kau yakin?"

Luhan mengangguk yakin di tengkuk Sehun. Membuat Sehun menyeringai kecil sebelum melepas kedua tangannya dari pinggul Luhan "Kalau begitu bergeraklah. Jika lelah aku akan membantu."

Setelahnya Luhan kembali mengangguk. Masih dengan posisi memeluk leher suaminya Luhan mencoba mengangkat pinggul. Rasanya setengah dari penis besar Sehun nyaris keluar dari lubangnya. Namun belum semua keluar dia mulai menghentak kencang hingga

Sleb,,,

"nghh—rasanya sangat nikmath sayang."

Sehun pun hanya memejamkan mata menikmatinya. Kenyataan Luhan bergerak naik-turun di pangkuannya begitu menyenangkan. Ditambah buncitnya perut Luhan menambah sensasi tersendiri karena seseakali bergesekan dengan perutnya.

Dan seolah tak ingin melewatkan kesempatan Sehun mulai memilin nipple sang istri sesekali menyesap dalam seperti yang akan dilakukan calon bayinya kelak "hnghhh—"

Luhan bergerak liar di pangkuan Sehun. Dengan bertumpu pada leher suaminya dia terus menaik turunkan pinggulnya secara cepat. Berusaha mengenai satu titik yang masih samar ia rasakan hingga

"akhh—hun…there!"

Sehun tersenyum menyadari Luhan menemukan spot nya. Gerakannya pun semakin cepat dengan hole yang menelan semakin dalam penisnya "deeper—akhh…deep.."

Seiring dengan desahannya Luhan merasa lemas. Nyaris mencapai klimaksnya namun tak tahan saat rasa nikmatnya terus menggelitik hebat di dinding rektumnya

"Sudah lemas?"

Luhan mengangguk pasrah. Membuat Sehun mencium telak bibir istrinya sebelum kembali menggendong Luhan. Kali ini membuat Luhan duduk di atas meja -hanya duduk dan tak berbaring-

"Kenapa aku tidak boleh berbaring?"

"Kita akan melakukan dalam posisi ini. kau hanya perlu bertumpu dengan lenganmu sayang." Katanya memberitahu Luhan sebelum membuka lebar paha istrinya. Kembali menyiapkan penisnya sebelum

Sleb…

"nghhh…"

Penis besar itu kembali masuk kedalam sarangnya. Membuat hole Luhan kembali berkedut dan memijat kencang penis suaminya "Kau benar-benar membuatku bergairah Lu."

Seolah tak sabar mencapai klimaks-…Sehun mulai mengeluar masukkan penisnya dengan posisi berdiri sementara Luhan duduk mengangkang di atas meja. Menumbuk hole berkedut itu secara berulang sampai wajah Luhan terlihat akan mencapai klimaksnya.

"Sampai—Sehunna aku-…..aaahhhh…."

Bersamaan dengan desahannya maka Luhan mencapai klimaksnya. Namun seolah mengabaikan cairan putih yang sedang membasahi perutnya-…Sehun tetap menumbuk Luhan dengan tempo cepat tak ingin kehilangan sensasi saat dinding rektum sang istri menyempit akibat klimaks.

"Sebentar lagi aku—aakh~~~~"

Belum sempat memberitahu Luhan-…Sehun sudah mencapai klimaksnya membanjiri lubang sang istri dengan cairan putihnya adalah hal yang selalu membuatnya tersenyum nikmat sekaligus bangga. Dan untuk Luhan-…Setiap kali Sehun menumpahkan sperma di dalam lubangnya maka tak ada perasaan selain perasaan bangga karena selalu berhasil membuat "sang iblis" mendesah hebat saat mencapai "surga dunia" nya.

"haaah~~~"

Keduanya tersengal hebat. Tak ada yang berbicara selagi mereka mencari udara masing-masing untuk dihirup. Keduanya hanya berpandangan penuh arti sebelum Sehun membawa Luhan kembali duduk di pangkuannya tanpa melepas kejantanannya dari lubang sang istri.

"Kau lelah?"

Sehun mengelap keringat di dahi istrinya disambut anggukan pasrah dari Luhan "Sangat lelah…" katanya berujar manja memeluk Sehun sesekali mencium tengkuk suaminya. "Tapi aku ingin lagi." tambahnya membuat suara kekehan terdengar dari Sehun.

"Kau bahkan sudah kelelahan tapi masih menginginkan lagi?"

Luhan mengangguk tanpa ragu dan mulai kembali menggesekan penis Sehun di lubangnya "Baiklah sayang-..Tapi jangan buat aku tegang sekarang." Katanya memperingatkan Luhan yang terlihat kesal mendengarnya.

"Kenapa tidak boleh?"

Sehun terkekeh sekilas sebelum kembali berdiri menggendong istrinya tanpa kesulitan "Kita akan melanjutkannya di kamar." Katanya berbisik memberitahu Luhan yang sudah kembali bergairah saat ini.

"Aku ingin tiga kali klimaks lagi."

"Tiga kali? Kau yakin?"

"eoh tentu saja! Ini keinginan adik bayi."

"Bagaimana bisa ini keinginan adik bayi? Dia bahkan menendang protes saat aku mengentakmu."

Wajah Luhan merona merah saat modus gagalnya terbaca. Dia bahkan melingkarkan erat kedua kakinya di pinggul Sehun sementara sang suami terus menggendongnya menuju kamar mereka "Kalau begitu ini keinginan baby Lu." Katanya membuat aegyo hingga terdengar suara decakan gemas dari Sehun.

"Kalau begitu Baby Lu tidak boleh merengek di dalam sana."

Luhan mengangguk malu. Menyembunyikan wajahnya di tengkuk Sehun sebelum

Blam….

Suara pintu kamar mereka ditutup kencang oleh tuan rumah. Menandakan keduanya siap untuk kembali memadu kasih hingga hanya terdengar suara desahan dan erangan nikmat di sepanjang malam dingin yang berubah menjadi hangat untuk keduanya.

.

.

.

.

.

.

"nghh…."

Keesokan paginya Luhan membuka mata. Mengerjapkannya berulang sampai sinar matahari di jendela kamarnya mulai membuatnya tak nyaman dan terpaksa membuka sempurna kedua matanya.

Hal pertama yang Luhan lihat adalah pakaian Sehun serta celana dalam mereka bertebaran di bawah tempat tidur. Lalu kemudian dia mencium bau khas sperma yang telah bercampur hingga raut merona jelas terasa di pipi seputih salju milik sang dokter.

Menyadari bahwa tak ada tangan yang melingkar di pinggangnya membuat Luhan berniat bersandar di kepala tempat tidur untuk mencari dimana suaminya.

"ahkk…"

Erangan nyeri adalah kali pertama yang keluar dari bibirnya. Niatnya untuk kembali bersandar bahkan harus dilupakan mengingat bagian bawahnya masih terasa sakit karena percintaan tanpa henti dengan suaminya malam tadi. Membuat rona merah di wajahnya seketika digantikan dengan rasa kesal karena berada sendiri di ruang besar tempatnya tidur bersama Sehun.

"Sehunna…"

"…."

Mendengar suara kran kamar mandi menyala membuat Luhan menebak bahwa suaminya sedang membersihkan diri. Yang membuatnya bertanya adalah kenapa Sehun tidak membangunkannya dan hanya membersihkan dirinya sendiri.

"Sayang kau disana?"

Cklek…

Tak lama pintu kamar mandi terbuka-…Luhan pun berpura-pura kelelahan dan sakit untuk menarik perhatian Sehun yang belum kunjung keluar dari kamar mandi "Sayang aku sakit-…Aku ingin…."

"Ingin apa?"

Tatkala bukan suara Sehun yang menjawab maka secara refleks Luhan membuka kedua matanya. Melihat ke arah pintu kamar mandi dan mendengus kesal mendapati bibi Kim lah yang sedari tadi berada di kamar mandinya.

"Bibi? Sedang apa bibi dikamarku? Mana Sehun?"

Bibi Kim terkekeh menyadari ekpresi Luhan. Dia bahkan harus menahan tawa agar si nyonya rumah tidak kesal dan hanya memunguti pakaian kedua majikannya yang berserakan di lantai "Sehun sudah pergi pagi buta. Dia berpesan agar aku menyiapkan air hangat untukmu."

"Pagi buta? Sekarang pukul berapa bi?"

Bibi Kim masih memunguti pakaian Sehun sebelum menjawab pertanyaan Luhan "Sebelas siang."

"omo-…Kyungsoo."

Luhan pun melonjak mencari ponselnya. Mengabaikan rasa sakit di bagian bawah sebelum menghubungi adiknya untuk mengingatkan bahwa mereka ada janji mencari pakaian bayinya siang ini.

"Soo!"

"Ya hyung."

"Kau dimana?"

"Masih berada di flat. Hyung dimana?."

"Kalau begitu bersiaplah. Temui aku satu jam lagi di store yang aku beritahukan padamu."

"Araseo hyung."

"Sampai nanti." Katanya menutup panggilan Kyungsoo sebelum

"BIBI!"

Gerakan bibi Kim memunguti pakaian Sehun pun terhenti. Matanya menatap cemas pada Luhan yang tiba-tiba berteriak sebelum berjalan mendekati istri dari majikannya tersebut "astaga…Ada apa Lu? Kau merasa sakit?"

Luhan menggeleng sebagai jawaban. Dengan susah payah dia menyingkap selimut sebelum memakai asal piyama tidurnya dan berjalan tertatih mendekati satu celana dalam suaminya yang masih tergeletak di lantai "Khusus untuk celana dalam suamiku-…Bibi atau maid wanita mana pun tak boleh menyentuhnya. Hanya aku yang boleh menyentuh dan memungut celana dalam suamiku. Bibi mengerti kan?" Katanya memberi ultimatum pada wanita paruh baya berusia sekitar lima puluh tahun di depannya. Membuat bibi Kim hanya melongo dan bertanya bingung pada nyonya rumah.

"Kenapa kami tidak boleh menyentuh celana dalam Tuan Oh?"

"Karena kalian akan membayangkan ukuran suamiku."

"huh?"

"Ayolah bi-…Ukuran yang berada di balik celana dalam ini."

Luhan mencoba memberi kode pada bibi Kim. Membuka lebar celana dalam suaminya sebelum bibi Kim menyadari apa yang dimaksud "ukuran" oleh Luhan.

"astaga-….Apa kau sedang berbicara vulgar pada bibi?"

"Vulgar apa? Aku hanya memberitahu tentang-…ah-..Bibi pasti malu dengan pembicaraan ini ya?" katanya menggoda bibi Kim sebelum si wanita paruh baya terdengar mendengus kesal.

"yang benar saja Lu! Bibi sudah tua dan kau berbicara hal mengerikan."

"ha ha ha… Aku hanya tidak suka bagian privasi suamiku disentuh orang lain bi."

"Kalau begitu urus semua yang berkaitan dengan bagian privasi suami mu seorang diri." Katanya memarahi Luhan yang masih sibuk tertawa saat ini.

"Baiklah baiklah bi….Aku akan mengurus semua hal privasi suamiku. Jangan marah lagi."

"Cepat bersihkan dirimu."

Untuk menghindari ceramah pagi hari bibi Kim-…Luhan pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Berniat membersihkan diri dan membawa celana dalam suaminya untuk dibersihkan di dalam. "Bibi-…Bagaimana cara mencuci celana dalam?"

"LUUU!"

"Kenapa bibi berteriak lagi? ah-…Pasti dia mengira aku kembali menggodanya. Tapi aku tidak menggoda bibi. Aku benar-benar tidak tahu cara mencuci celana dalam yang benar."

Luhan kembali terkekeh di dalam bathup. Sedikit asal mencuci celana dalam super suaminya tanpa tahu bagian mana saja yang harus dibersihkan "haaah-…Kenapa Sehun selalu pergi pagi buta?" katanya meggerutu kesal karena tak mendapat ciuman pagi harinya. Dan untuk melampiaskan kekesalannya, Luhan dengan sengaja menggosok kasar celana dalam Sehun sampai

Dugh…

"Akkh—"

Bayi kecilnya kembali lagi menendang di dalam sana-…Seolah memprotes gerakan kasar Luhan adalah hal yang membuat Luhan mendelik kesal ke arah perutnya "tak ada morning kiss dari ayahmu nak. Jadi jangan kesal pada eomma." Katanya berbicara mengerucut pada perutnya. Sedikit mengusapnya sayang sebelum kembali fokus membersihkan diri dan mencuci bersih celana dalam ukuran super milik suaminya.

.

.

.

.

.

"Soo!"

"Ya hyung."

"Kau dimana?"

"Masih berada di flat. Hyung dimana?."

"Kalau begitu bersiaplah. Temui aku satu jam lagi di store yang aku beritahukan padamu."

"Araseo hyung."

"Sampai nanti."

Pip!

"Sampai nanti hyung."

Dilain tempat-..Tepatnya di sebuah flat kecil terlihat seorang pria bermata besar baru selesai menerima panggilan dari kakaknya. Senyum bahkan bisa terlihat dari mantan pembunuh keji yang memang sudah menunggu sang kakak menghubunginya sejak pagi tadi.

Jujur dia sangat bersemangat karena "kencan" nya dengan Luhan hari ini adalah mencari perlengkapan bayi untuk calon keponakannya.

Yeah-…Walau rasanya janggal menyebut dirimu paman saat kenyataan yang terjadi kau adalah seseorang yang membunuh kakak dari si calon bayi. Membuat Kyungsoo tidak memiiki wajah untuk bertemu calon bayi Luhan namun berakhir harus memekik bahagia karena Luhan sendiri yang mengijinkan dirinya menjadi paman "sesungguhnya" untuk calon bayi Luhan kelak.

Dan karena alasan itu pula Kyungsoo bergegas untuk segera pergi. Tidak ingin membuat hyungnya menunggu dirinya dan hanya pergi lebih dulu ke store tempat mereka membuat janji.

"tunggu aku hyung…." Katanya bergumam senang membuka pintu flat sebelum

BUGH!

Hal terakhir yang Kyungsoo rasakan adalah tengkuknya terasa panas karena hantaman. Dan hal berikutnya dia melihat sosok familiar yang berdiri tepat di depannya. Tidak bersuara namun hanya berdiri dengan tenang dan memperhatikan bagaimana dirinya begitu kesakitan. "Sehun?"

BUGH…!

Dan pukulan kedua yang Kyungsoo terima membuatnya jatuh. Semua penglihatannya menjadi samar sebelum benar-benar tak sadarkan diri setelahnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

"nghh…"

Entah sudah berapa lama dia tak sadarkan diri, yang jelas Kyungsoo merasakan sakit di seluruh tubuhnya terutama tengkuk lehernya. Mencoba mengingat apa yang terjadi sampai wajah Sehun adalah hal pertama yang dia ingat setelah membuka kedua matanya. Tubuh Kyungsoo pun berjengit takut menyadari bahwa Sehun tidak boleh membunuhnya hari ini-…Tidak hari ini mengingat dia memiliki janji dengan Luhan "tidak-…Jangan sekarang."

Kyungsoo mencoba meronta namun hanya rasa sakit di pergelangan tangan yang ia rasakan. Dan setelah benar-benar sadar-…Barulah dia tahu bahwa tangannya diikat ke belakang kursi sementara mulutnya disumpal hingga tak bisa mengeluarkan suara "nghhhh…."

Dia mencoba memberitahu anak buah Sehun. Namun nyatanya pengganti posisi Kai itu hanya terlihat memandang benci dan dingin padanya. Kyungsoo sudah mempersiapkan diri untuk kembali meronta sebelum suara yang pria yang merupakan suami dari kakaknya terdengar memenuhi ruangan.

"Lihat siapa yang sedang mencoba untuk lari."

Kyungsoo melihat Sehun berjalan ke arahnya. Sang mafia bahkan terlihat sangat tenang dengan aura mematikan di tatapannya yang begitu dingin "jja…Kita akan sedikit bermain hari ini Do Kyungsoo."

Kali ini Sehun duduk di kursi tak jauh dari Kyungsoo. Mempelajari raut ketakutan di wajah Kyungsoo hingga tanpa sadar tangannya mengepal tak menyangka bahwa pria bertampang lugu seperti Kyungsoo adalah mantan pembunuh keji yang bahkan dengan tega membunuh anak lima tahun.

"brengsek."

Bahkan seringaian terlampau tenang terlihat di wajah Sehun. Bibirnya menyunging tipis menyadari bahwa Kyungsoo mungkin lebih keji darinya. Karena sekeji apapun dirinya-…Dia tidak akan pernah membunuh anak balita untuk alasan APAPUN!

"nghh…

Sehun bisa menangkap nada kecemasan dari Kyungsoo. Membuat pandangannya sedikit tidak fokus sebelum memerintahkan Doojon untuk melepas semua ikatan dan sumpal mulut dari Kyungsoo "Lepaskan semua ikatan."

Tanpa bertanya Doojon pun berjalan melepas seluruh ikatan Kyungsoo. Membuat Kyungsoo bertanya-tanya mengapa hanya ada sedikit penjaga yang ikut bersama Sehun sebelum

Sret…!

Doojon melepas kasar sumpal mulutnya hingga memar terlihat di sudut bibirnya "Sehun…"

"brengsek!"

Sehun mengumpat marah saat Kyungsoo tanpa rasa takut memanggil namanya. Membuatnya tanpa ragu berjalan mendekati si pembunuh dan mencekik lehernya sangat kuat

"akhhhh…"

Cekatan Kyungsoo tertahan karena cekikan Sehun yang sangat kuat. Dia berusaha memukul kencang lengan Sehun namun percuma karena cekikan Sehun semakin kuat.

Wajah Kyungsoo bahkan sudah berubah merah kehabisan nafas. Pasrah jika Sehun membunuhnya hari ini sampai terdengar suara kaki tangan Sehun menyela dan mengingatkan tujuan mereka hari ini bukan untuk membunuh Kyungsoo

"Bos! Kendalikan dirimu."

"rghhh…"

Jika wajah Kyungsoo memerah karena cekikan Sehun maka wajah Sehun nyaris tak berwarna karena ingin sekali membunuh bajingan yang sudah berada di genggamannya. Dan jika bukan karena Doojon mungkin benar dia kehilangan kendali dan membunuh lawan yang memiliki fisik jauh darinya "BOS!"

"arghhhh!"

"uhuk!"

Sehun menjerit murka. Dilepasnya kasar cekikan pada leher Kyungsoo sebelum menghancurkan semua benda yang berada di gedung tua sebagai pelampiasan. "ARGHH..!"

Sementara Sehun menghancurkan segala hal-..Maka pria bermata besar yang sedang menetralkan nafasnya terlihat iba melihat betapa ingin Sehun membunuhnya namun harus menahan diri mengingat kondisi Luhan akan terpukul jika mendengar kabar kematiannya secepat ini. membuat Kyungsoo hanya diam sambil menghirup banyak udara sebelum memberanikan diri membuka suara.

"Kau bisa-…Kau bisa membunuhku kapan pun tapi aku mohon jangan hari ini. Aku dan Luhan hyung akan bertemu hari-…"

"DIAAAM!"

"Kami akan bertemu hari ini. Jika aku tidak datang dia akan cemas. Jika dia cemas itu akan berpengaruh pada bayi kalian. Jadi aku mohon jangan-…"

"DIAAM!"

Seolah tak mengindahkan teriakan Sehun-…Kyungsoo tetap berbicara banyak hal berharap Sehun mendengarkannya walau hanya untuk satu kalimat "Aku mohon jangan bunuh aku hari ini. Luhan akan membencimu jika kabar kematianku terdengar hari ini. Pikirkanlah itu Oh Sehun!"

"Brengsek!-..BERANI SEKALI KAU-.."

"BOS!"

Doojon menghadang Sehun. menatapnya antara cemas dan takut namun tetap bersikeras mengingatkan Sehun untuk tidak menyakiti Kyungsoo saat ini. Karena semua yang dikatakan Kyungsoo adalah benar-…Jika kabar kematian dirinya terdengar sampai ke telinga Luhan, maka hancur sudah kesempatan Sehun untuk bisa kembali bersama istrinya "Aku mohon jangan bos."

Sehun tampak menimbang lagi amarahnya. Benar-benar tidak tahan ingin menghabisi Kyungsoo sebelum suara bajingan itu kembali terdengar "Biarkan aku bertemu Luhan hari ini. Setelahnya aku milikmu. Aku akan memastikan bahwa kabar kematianku tidak akan sampai ke telinga Luhan, aku akan mencari alasan agar Luhan tidak lagi mencariku. Aku berjanji padamu. Aku-…"

"BISAKAH KAU DIAM UNTUK SEJENAK?"

Doojon memotong segala kesengitan di ruangan ini. Mencegah Kyungsoo untuk mengatakan banyak hal yang memancing amarah Sehun sementara Sehun terus menahan diri namun nyaris gagal untuk tidak menyakiti pria di depannya. Semua situasi ini berat untuk Sehun, tapi jika Kyungsoo tidak menjaga mulutnya maka sudah dipastikan iblis di depan mereka tidak akan pernah bisa menahan diri.

Doojon bahkan harus memperingatkan Kyungsoo agar diam. Masih terus menatap mantan pembunuh di depannya sebelum terdengar suara Sehun kembali menarik kursi dan mulai kembali bersuara

"Kau tahu Do Kyungsoo…."

Doojon menyadari ketenangan sudah kembali didapatkan Sehun. Membuatnya menyingkir agar Sehun bisa kembali bertatapan langsung dengan Kyungsoo.

"Alasan mengapa aku membawamu kesini karena aku begitu murka." Katanya begitu tenang sebelum kembali menatap Kyungsoo begitu dingin dan sangat menakutkan "Kau tahu mengapa?"

Sementara Sehun terus berbicara maka Kyungsoo hanya diam tak berani membuka sedikit pun suaranya. Jujur hatinya menjerit takut namun tak bisa mengelak bahwa cepat atau lambat dia benar akan mati di tangan suami kakaknya.

"Karena aku mendengar kau akan mencari perlengkapan untuk bayiku bersama istriku."

Sehun mengusap frustasi wajahnya. Benar-benar terdengar dengusah marah sebelum kembali menatap Kyungsoo "Apa kau tidak memiliki rasa malu sedikit pun Do Kyungsoo? Rasa bersalah sedikit pun? Berani sekali kau-….BERANI SEKALI KAU MENCARI PERLENGKAPAN UNTUK BAYIKU SEMENTARA KAU MEMBUNUH KAKAK DARI CALON BAYIKU!"

Air mata Kyungsoo tak bisa ditahannya lagi. Kali ini bukan rasa takut namun rasa bersalah karena membuat luka yang begitu dalam untuk seorang ayah seperti Sehun. Jadi wajar saja jika Sehun sangat murka dan ingin membunuhnya, jikalaupun Sehun bukan seorang mafia mungkin dia akan tetap membalas kematian putranya. Lalu bagaimana jika dia adalah dirinya saat ini? pasti sulit menahan diri untuk tidak membunuhnya namun Sehun tetap menahannya karena Luhan dan calon bayinya kelak.

"Maaf…Maafkan-.."

"MAAFMU TIDAK AKAN MEMBUAT PUTRAKU HIDUP!"

Kemarahan dan isakan Sehun-Kyungsoo seperti berlomba di dalam gedung tua itu. Dimana yang satu sangat menyesali perbuatannya sementara yang satu terus merasakan murka yang tak berkesudahan. Membuat suasana begitu tegang namun tak bisa mengungkiri kesedihan yang keduanya rasakan.

"Kau harus membayarnya. Kau tahu kan?"

Kyungsoo mengangguk tanpa ragu, membenarkan kematiannya adalah satu-satunya cara menebus dosa dan membuat Sehun merasa lebih baik untuk hidupnya "Aku tahu."

"Bagus…"

Sehun mengerling Doojon, meminta kaki tangan pengganti Kai itu segera mendekat dan menyerahkan sebuah ampul kecil lengkap bersama jarum suntik "Kau tahu ini apa?" katanya memasukkan ampul kecil itu ke dalam jarum suntik dan memastikan bahwa tak ada gelombang udara di jarum suntik yang ia pegang sebelum kembali menatap Kyungsoo.

"Ini adalah kematianmu."

"huh?"

"Tenang saja. Kau akan mati secara perlahan. Waktumu sekitar tiga bulan untuk bertahan hidup."

Kyungsoo hanya diam mendengar betapa menakutkannya Sehun menentukan hidupnya. Karena layaknya pencabut nyawa dia tanpa ragu mengatakan hal-hal yang begitu membuatnya sedikit bergeming takut namun sekali lagi-…Kyungsoo tak bisa menyangkalnya.

"Dan kau tahu siapa yang membuat racun mematikan ini?"

Kyungsoo kembali tak bersuara menunggu Sehun kembali memberikan jawaban sampai jwaban yang diterimanya sedikit banyak membuatnya sedih dan rindu secara bersamaan.

"Kai…"

"Kai?"

"mmh..Kai yang menghianatiku untuk membuat racun mematikan ini. Dan terimakasih pada penghianat itu setidaknya aku bisa membunuh mantan kekasihnya karena kerja keras yang ia lakukan bersama wa-ni-ta Nya."

Penekanan kata wanita oleh Sehun sedikit banyak membuat Kyungsoo tersenyum miris. Nyatanya hingga detik ini dia sangat merindukan Kai. Nyatanya hingga saat ini dia sangat berharap bisa melihat Kai sebelum kematian menjemputnya. Nyatanya hari ini dia ingin meminta maaf pada mantan kekasih yang hatinya dia buat hancur berkeping.

Namun saat Sehun menamparnya dengan kalimat wanita "nya", maka tak ada yang bisa Kyungsoo lakukan selain tersenyum dengan ribuan jarum menusuk tepat di dadanya. Setidaknya Kai baik-baik saja dan itu sudah lebih dari cukup untuknya

"Syukurlah Kai baik-baik saja."

"Tentu saja si penghianat itu baik-baik saja. Dia dan pelacur itu bisa menjadi pasangan yang sempurna di dunia kami."

"Dia tidak menghianatimu."

"Kau benar! Kai tidak pernah menghianatiku. Karena dari semua orang yang mengenalmu. Kai adalah satu-satunya yang sangat membenci dirimu. Harusnya aku bangga padanya jika dia tidak berlari ke pelukan bajingan tua itu!"

"Lakukanlah…"

"huh?"

Sehun sempat dibuat diam saat Kyungsoo kembali menyela ucapannya. Bertanya-tanya apa maksud pembunuh putranya sebelum menyadari lakukan yang dimaksud Kyungsoo adalah menyuntikkan racun itu ke tubuhnya dengan segera.

"Terimakasih sudah membuatku memiliki tiga bulan tersisa. Setidaknya aku masih bisa melihat putramu lahir. Aku akan meminta maaf pada putramu secara langsung karena telah membunuh kakaknya."

"omong kosong!"

"Aku benar-benar akan meminta maaf padanya."

"Diam!"

Sehun mulai berjalan mendekati Kyungsoo. Sedikit menjambak rambut Kyungsoo hingga pria bermata besar itu mendongak kesakitan sebelum mengincar leher Kyungsoo untuk menyuntikkan racun yang sudah siap membuatnya mati kesakitan tiga bulan dari sekarang.

"Kau akan merasakan sakit yang tak bisa diungkapkan dengan kata. Racun ini tidak akan bisa terdeteksi dengan pemeriksaan sederhana. Jadi dokter akan mengatakan kondisimu baik selagi racun ini mengoyak bagian vitalmu. Kau akan-…"

Sleb….

"akh…"

Tanpa diduga Kyungsoo menarik tangan Sehun. Menyuntikkan jarum suntik itu ke lehernya sampai reaksi tak wajar mulai Kyungsoo rasakan

Uhuk…!

Tak perlu waktu lama Kyungsoo memuntahkan darah. Membuat Sehun yang masih terkejut dengan tindakan Kyungsoo hanya diam dan perlahan mencabut jarum suntik dari leher adik istrinya.

Uhuk…!

Secara tak wajar Kyungsoo terus memuntahkan darah, menggeliat kesakitan dengan wajah yang dalam hitungan detik berubah sangat pucat.

Sementara Kyungsoo menggeliat kesakitan maka Sehun hanya menatap tak berkedip pembunuh putranya. Ada sedikit perasaan senang bercampur rasa bersalah melihat betapa kesakitan pria yang baru saja memiliki racun di tubuhnya. "Doojon-na.."

"Ya bos."

"Apa seperti itu efeknya?"

"Racunnya berefek terlalu cepat di tubuh Kyungsoo-…Tapi aku rasa ini adalah reaksi wajar sebelum racun itu menyerang seluruh anggota vitalnya. Apa perlu kita-…"

"Biarkan dia seperti itu."

Seolah menjadi tontonan menarik untuknya. Sehun terus melihat betapa kesakitan Kyungsoo di bawah sana. Pembunuh putranya itu terus mencengkram kuat dadanya sementara erangan sakit terus ia jeritkan.

Sesaat Sehun mengira Kyungsoo akan segera mati sampai akhirnya tubuh itu berhenti menggeliat dan mulai bernafas berat "haah~…"

Setelah melawan rasa sakitnya Kyungsoo mencoba berdiri. Menatap Sehun dengan memohon dan membersihkan darah di sekitar mulutnya "Bolehkah aku pergi sekarang? Luhan hyung menunggu."

Sehun tidak bisa memungkiri bahwa ketakutan Kyungsoo karena terlambat menemui istrinya adalah karena takut Luhan menuduh dirinya menculik Kyungsoo. Karena sedari tadi yang Kyungsoo gumamkan hanya jangan bunuh aku hari ini, Luhan hyung menunggu atau kalimat yang terdengar mengkhawatirkan hubungannya dengan Luhan Luhan hyung bisa membencimu jika aku mati sekarang. Membuat Sehun sedikit terdiam sebelum membuang jarum suntik yang baru saja ia suntikkan pada Kyungsoo.

"Pergilah-…Kau akan bertemu denganku satu bulan kemudian di tempat ini. Kau dengar?"

"y-ya…Aku dengar. Gomawo Sehun-ssi."

Kyungso berlari gontai menuju pintu utama. Pandangannya kabur sebelum suara Sehun kembali terdengar "Do Kyungsoo!"

Kyungsoo pun berhenti berlari dengan Sehun yang terlihat mendekatinya "Bersihkan dirimu saat bertemu istriku. Aku tidak ingin dia bertanya tentang wajah pucatmu, alihkan perhatiannya dan jangan katakan apapun tentang diriku. Kau mengerti?"

Kyungsoo tersenyum kecil sebelum mengangguk dengan wajah pucatnya "Tentu saja."

"Bagus-…Doojon akan mengantarmu!"

Dan setelahnya Sehun berjalan meninggalkan Kyungsoo di gedung tua. Tubuh kokohnya tanpa rasa bersalah pergi begitu saja meninggalkan Kyungsoo yang hampir menyerah dengan rasa sakitnya saat ini "Gomawo hyung."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau sudah membersihkan dirimu?"

Kyungsoo mengangguk saat Doojon bertanya. Terimakasih pada Sehun karena membelikannya pakaian baru hingga ia tak perlu repot membersihkan darah di kemeja pertamanya "Aku sudah bersih."

"Bagus-…Sekarang turunlah."

Kyungsoo mengangguk cepat. Berniat membuka pintu sebelum tangannya berhenti bergerak memutuskan untuk bertanya pada kaki tangan Sehun "Doojon-ssi."

"Ada apa?"

"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"

"Katakan!"

"Apa Kai benar-benar baik?"

Tawa sinis terdengar dari Doojon. Kaki tangan Sehun itu pun menoleh ke belakang sebelum memberitahu kenyataan untuk Kyungsoo "Dia sangat bahagia dengan dunianya saat ini. Jadi matilah dengan tenang."

Kyungsoo pun mengangguk tanpa ragu. Diabaikannya rasa sakit di dadanya serta rasa mual berlebih yang sudah setengah jam ini ia rasakan. Senyum lebar itu bahkan tak ragu Kyungsoo tampilkan sebelum menjawab Doojon dengan lirih "Aku akan mati dengan tenang." Katanya mengulang sebelum

Blam…!

Doojon melihat Kyungsoo berjalan tertatih menuju store tempatnya dan Luhan membuat janji. Menyalakan kembali mesin mobilnya sebelum merasa iba pada kisah cinta Kai dan mantan kekasihnya "Dibanding dirimu mungkin Kai jauh lebih menderita saat ini."

.

.

.

.

.

.

.

"Apa maksudmu? Direktur Oh membeli tiga sample gagal dari racun yang aku buat?"

Sementara dilain tempat-..Tepatnya sebuah gedung tua yang berjarak dua jam dari Seoul. Terlihat seorang pria berkulit tan bertanya begitu cemas. Kabar yang mengatakan bahwa Sehun membeli injeksi nya yang rusak dengan harga mahal membuatnya sedikit ketakutan. Sehun bahkan menyerahkan beberapa saham dan memberikan anak buahnya dengan Cuma-Cuma hanya untuk mendapatkan RACUN rusak itu dari Youngmin. Membuat Kai begitu cemas menebak semua yang ia lakukan akan sia-sia jika Sehun menggunakan RACUN itu membunuh Kyungsoo.

"Kenapa kau terlihat terkejut?"

Adalah Park Hyungsik –rekan Soojung dan Kai- yang terlihat mencurigai Kai. Bertanya-tanya mengapa mantan kaki tangan Sehun ini terlihat cemas saat semua tentang Sehun diresponnya dengan cepat "Aku hanya-….Bukankah RACUN gagal kita lebih berbahaya?"

"Kau yang membuatnya-..Jadi aku rasa kau lebih tahu Kai."

"Kau benar aku yang membuatnya." Katanya mengulang lirih sebelum

"KAI-HYUNGSIK!"

Terdengar suara Krystal memanggil mereka. Membuat dua pria tampan itu menoleh dan bertanya-tanya mengapa Krystal terlihat bersemangat

"Ada apa?"

"Ada kabar bagus untukmu." Katanya menunjuk Hyungsik yang terlihat bingung mendengarnya "Aku?"

"eoh…Kau! Presdir Park ingin kau bergabung dengan Seoul mulai besok."

"BENARKAH?"

Krystal pun tersenyum senang dan memukul sekilas bahu partner kejinya "Aku tahu kau senang."

"Ya tentu saja. Karena setelah sekian lama akhirnya aku bisa bergabung dengan tim inti." Katanya berujar senang sebelum menatap curiga pada Krystal "Lalu apa yang membuatmu ikut senang?"

"Karena setelah kau pergi, aku hanya akan berdua dengan Jongin. Benarkan sayang."

"cih pelacur murah!"

"Jaga bicaramu atau kau-…"

"Lepas.."

Dengan santai Kai menghempas tangan Krystal. Meninggalkan kedua rekan bodohnya dengan seribu pertanyaan mengapa Sehun bersedia membeli RACUN gagal itu? Untuk apa? Untuk siapa?

Nyatanya kecemasan Kai adalah RACUN yang ia buat digunakan untuk menyakiti Kyungoo, dan jika hal itu benar terjadi maka sudah sepantasnya dia menerima hukuman dari semua penghianatan yang dia lakukan.

Kai masih mencoba menghubungi Max atau Shindong namun gagal. Merasa begitu ketakutan sebelum

Brak…!

"Ah maaf Manager Kim."

Tangan Kai secara otomatis mengepal. Sudah satu minggu ini dia menemukan dua bajingan yang nyaris membunuh Luhan di Jeju. Dua bajingan yang menusuk Luhan saat Luhan sedang menikmati libur bersama Sehun. Malam itu kedua bajingan itu berujar bangga dengan mengatakan "kami berhasil melukai dokter sial itu" dengan kencangnya. Membuat Kemarahan Kai begitu memuncak namun sial dia harus menahan diri karena Youngmin masih membutuhkan mereka.

Membutuhkan kedua bajingan yang kini bekerja sebagai bawahannya untuk menyakiti Luhan-…Bukan Luhan-. Hal mengerikan yang ia ketahui selama bergabung dengan Youngmin adalah kenyataan bahwa yang diinginkan Youngmin bukan menyakiti Luhan. Tapi menyakiti janin yang berada di perut Luhan.

Bajingan tua itu beralasan Sehun akan semakin tunduk pada Luhan jika Luhan menggunakan darah dagingnya. Maka untuk alasan itu pula Kai masih bertahan disana, mencari sebanyak mungkin informasi yang bisa ia berikan untuk Sehun walau Sehun mungkin sudah sangat membencinya saat ini.

"Pastikan kau bekerja dengan benar. Mungkin saja kau akan mati hari ini atau lusa." Katanya menggertak dua bajingan di depannya sebelum berjalan menuju laboratoriumnya.

.

"Professor Lee!"

"Ah Kai-..Ada apa?"

"Aku ingin melihat database penelitian RACUN yang gagal."

"huh? Untuk apa?"

"Cepat berikan padaku."

Professor berusia paruh baya itu pun segera membuka komputernya. Mencari kegagalan RACUN yang Kai minta sebelum berdiri dari kursinya dan mengijinkan Kai untuk melihat "Ini lihatlah. Semua adalah penelitianmu."

Kai tampak ragu membaca semua kekejian dari RACUN yang ia buat. Sedikt ragu sebelum menemukan fakta bahwa sekali kau diberikan sedikit RACUN gagal itu maka hidup hanya akan bertahan selama satu bulan dan tidak lebih.

"Bagian mana yang pertama kali akan diserang oleh racun itu?"

"Kau lebih tahu Kai."

"AKU SEDANG TIDAK FOKUS!"

"Fungsi hati. Racun yang kau buat memastikan bahwa semua zat kekebalan tubuh tidak akan berfungsi pada tubuh."

"Lalu…"

"Syaraf motorik. Orang itu akan sulit menggerakan tubuhnya secara perlahan. Dengan kata lain orang itu akan mengalami kelumpuhan secara perlahan namun pasti."

"aku mohon jangan Kyungsoo.."

Kai berdoa agar Sehun tidak membelinya untuk Kyungsoo. Terus berdoa sampai kenyataan mengerikan lain adalah korban akan terus merasa kesakitan dan sulit bernafas mendekati waktu kematiannya "Apa kau memiliki penawarnya?"

Professor Lee menatap bingung pada Kai sebelum menggeleng sebagai jawaban "Kita hanya menciptakan racun tanpa penawar."

Kai tertunduk cukup lama. Dia bisa dengan mudah membuat racun sialan itu tanpa penawar, dia bahkan tidak bisa berjaga-jaga jika benar Sehun menggunakannya untuk membunuh Kyungsoo membuatnya bergerak resah sebelum

"Tinggalkan aku sendiri."

"huh?"

"TINGGALKAN AKU!"

"Baiklah…"

Bergegas pria tua itu meninggalkan Kai. Merasa sesuatu sangat mengganggu partner nya di laboratorium tanpa menyadari bahwa Kai sedang mengusahakan segala hal untuk menemukan penawarnya "Aku harus membuatnya…Aku harus membuatnya!"

Berkali-kali Kai mencoba maka berkali-kali pula dia harus menggeram kesal. Karena seperti yang dikatakan Professor Lee mereka hanya menciptakan racun tanpa penawar. Membuat ketakutan tanpa alasan terus Kai rasakan sebelum

"ARGHHHH….!"

.

.

.

.

.

.

Tring…!

Dengan susah payah Kyungsoo membuka store perlengkapan bayi. Dihapusnya keringat yang terus membasahi wajahnya dengan mata yang mencari keberadaan Luhan sebelum melihat bahwa disana kedua hyungnya terlihat sedang memilih pakaian bersama.

"Ayolah Yeol-…Kelinci tidak Manly. Anakku harus terlihat manly."

"Bicara Manly sekali lagi akan kupukul kepalamu!"

"WAE?"

"Bagaimana bisa kau bilang Manly jika kau terus memilih hello kitty!"

"Tapi ini berwarna biru!"

"TETAP SAJA HELLO KITTY!"

"ish! Ini lucu!"

Kyungsoo hanya tertawa melihat Luhan dan Chanyeol seperti sepasang suami istri yang sedang bertengkar memilih pakaian untuk anak mereka. Dia bahkan tidak berniat mengganggu kedua hyungnya sampai Luhan melihat keberadaan dirinya

"SOO!"

Chanyeol ikut menoleh melihat adiknya. Bertanya-tanya mengapa Kyungsoo terlihat kelelahan dan mulai berjalan mendekati adiknya "Kenapa kau terlambat? Kau sakit?" katanya memeriksa dahi Kyungsoo dan sedikit bingung mendapati suhu tubuh Kyungsoo terlihat normal.

"Aku baik-baik saja hyung. Dimana Baekie hyung?"

"Baekie bilang dia tidak ingin mengganggu quality time kita bertiga. Jadi hanya Chanyeol dan kita berdua soo."

Kyungsoo tersenyum senang sebelum menyenggol kakaknya sedikit menggoda "aigoo…Baekie hyung benar-benar pengertian." Katanya menggoda Chanyeol sebelum suara Luhan kembali terdengar.

"Soo…Carilah sesuatu untuk putraku."

"huh?"

"Chanyeol sudah membelikan piyama couple ini. carilah sesuatu agar aku bisa mengatakan pada putraku kelak ini dari dua paman mereka yang sangat tampan."

"Dan imut…" timpal Chanyeol mengusak sayang kepala Kyungsoo "Cepat cari hadiahmu."

Kyungsoo mengangguk cepat sebelum berkeliling. Matanya tertuju pada sepasang sepatu mungil yang ia tebak sangat lucu jika dipakai putra Luhan. membuatnya tergoda untuk membeli sepatu itu sebelum

Uhuk…!

Diam-diam dia terbatuk lagi. Kali ini darah keluar begitu banyak dari mulutnya membuat Kyungsoo buru-buru mengambil sapu tangannya sebelum mengelapnya bersih.

"ini sangat sakit dan sesak." Katanya bergumam lirih bersandar di etalase kaca.

Dia tak lagi berniat mengambil sepasang sepatu mungil itu untuk keponakannya. Karena putra Luhan akan tumbuh dengan cepat dan kenangan tentangnya akan segera di lupakan.

Kyungsoo kembali berkeliling toko. Mencari apa yang dia butuhkan sampai topi untuk anak-anak dibawah sepuluh tahun mencuri perhatiannya lagi. Kyungsoo menatapnya cukup lama sampai suara Luhan kembali terdengar.

"Soo…Untuk bayi ada disebelah sana. Etalase ini untuk anak-anak berusia tujuh-dua belas tahun. Ayo kita kesana."

Kyungso hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Luhan. Dia bahkan menarik lengan kakaknya sebelum memberikan topi yang mencuri perhatiannya pada Luhan "Ini hadiahku untuk keponakanku hyung."

"huh? Tapi ini untuk-.."

"Aku tahu-…Berikan padanya saat putramu berusia tujuh tahun. Aku akan sangat senang jika dia memakai topi ini."

"Tujuh tahun adalah waktu yang lama soo…Kenapa kau tidak membelikannya nanti saat putraku berusia tujuh tahun."

Kyungsoo menggeleng lemah dengan tangan yang terus menyerahkan topi biru-hitam itu pada hyungnya "Aku takut tidak sempat memberikannya pada keponakanku."

"Kenapa tidak sempat?"

"Hyung…Saat putramu berusia tujuh tahun topi ini tidak akan diproduksi lagi. Jadi aku mohon berikan ini pada keponakanku ya? Ya ya ya?"

Kyungsoo memulai aegyo nya. Menahan seluruh rasa sakit di tubuhnya dan berusaha membujuk Luhan.

Luhan bahkan memiliki perasaan buruk pada awalnya. Namun saat Kyungsoo melakukan aegyo maka pikiran buruk Luhan seolah dibuat menghilang entah kemana "Baiklah."

"yey! Hyung yang terbaik."

Bersamaan dengan pekikan Kyungsoo. Maka kedua pria cantik itu merasakan sebuah tangan melingkar di pundak mereka. Tak perlu bertanya siapa karena pastilah Chanyeol orangnya.

"jja-..Nyonya-nyonya. Kalian sudah selesai kan? Ayo kita bayar?"

"ck mengganggu saja."

"ish Jangan protes. Yeolie samchoon akan membayar semuanya untuk adik bayi."

"Baiklah ayo bayar!"

Tanpa disangka Luhan menjadi begitu bersemangat. Melepas rangkulan Chanyeol sebelum mendorong troley nya ke kasir meninggalkan Kyungsoo dan Chanyeol di belakangnya "Lihat hyung mu. Dia selalu bersemangat jika mendapatkan traktiran."

Kyungsoo sendiri menangis pilu di batinnya. Kenyataan bahwa dia akan sangat merindukan kedua hyungnya adalah yang paling membuat hatinya hancur. Matanya bahkan tak bisa menahan untuk tidak menangis sampai Chanyeol melihat kesedihan Kyungsoo saat ini.

"soo? Kenapa menangis."

Kyungsoo hanya menundukkan kepalanya. Menggeleng dengan kuat namun berakhir menjerit saat Chanyeol terus mengusap kepalanya "Katakan pada hyung ada apa. Kenapa kau menangis."

"hyung…Aku-…hyuuung! Hkss…"

Kyungsoo melompat ke pelukan Chanyeol. Memeluknya begitu erat dan menangis tersedu disana. "Soo ada apa hmm?"

"Aku mencintai kau dan Luhan hyung. Aku sangat mencintai kalian." Katanya terisak pilu dibalas pelukan Chanyeol yang membuatnya merasa hangat.

"Aku akan merindukan kalian hyung. Aku-…."

"sstttt… Memangnya kau mau kemana sampai merindukan kami? Kami tidak akan meninggalkanmu lagi baby soo…"

"Aku-…AKU YANG AKAN MENINGGALKAN KALIAN HYUNG!"

Kyungsoo menjerit tertahan di pelukan Chanyeol. Tak mengatakan apapun dan hanya menikmati pelukan Chanyeol yang begitu membuatnya tenang "Jangan menangis lagi soo. Jangan menangis babyku."

Sementara Kyungsoo dan Chanyeol saling menenangkan. Maka tak sengaja mata Luhan melihat pemandangan mengharukan itu. Pemandangan dimana dua saudaranya benar-benar membuatnya hangat. Dia tahu ada sesuatu yang Kyungsoo sembunyikan. Tapi apapun yang disembunyikan Kyungsoo tidak akan membuat dirinya pergi lagi.

Karena seperti kata Chanyeol. Dia dan dirinya tidak akan pernah meninggalkan adik mereka lagi.

"Totalnya lima ratus ribu won tuan."

"ah-…"

Luhan menghapus cepat air matanya. Mengeluarkan credit card milik suaminya sebelum membayar semua yang mereka beli dan tidak mengganggu adiknya yang terlihat sangat terluka dan ketakutan tanpa alasan.

.

.

.

.

.

.

"sebenarnya ada apa dengan Kyungsoo? Kenapa dia terus menangis?"

Saat ini Luhan sedang berjalan seorang diri menyusuri jalan ke rumahnya. menikmati gelapnya malam dengan sedikit pikiran yang terus mengganggu tentang semua sikap Kyungsoo yang terlihat ketakutan "Dia bahkan terlihat sangat sedih."

Luhan membawa beberapa belanjaan di tangan kanan dan kirinya. Selebihnya dia titipkan di apartemen Chanyeol karena tak ingin membuat Sehun kesal. Terus memikirkan sikap Kyungsoo sampai sebuah suara yang sangat familiar terdengar begitu murka saat ini.

"Berani sekali kau berjalan sendirian di tengah malam seperti ini! KAU BOSAN HIDUP HAH?!"

"Omo!"

Secara refleks Luhan menjatuhkan seluruh belanjaannya. Menatap takut pada sosok yang jelas kedinginan sedang bersandar di tiang lampu yang berada sepuluh menit dari rumah mereka "Sayang? He he he…"

"APA YANG KAU TERTAWAKAN? KENAPA TIDAK MENGANGKAT PONSELMU?"

Buru-buru Luhan mengambil ponsel di mantelnya. Mengecek panggilan tak terjawab dan-…matilah dia! Karena lima puluh panggilan tak terjawab berasal dari ponselnya.

"Suaranya aku nonaktifkan sayang."

"ALASAN!"

Luhan terus mencari cara. Kemarahan Sehun tidak main-main saat ini. Membuatnya berfikir keras sebelum "ah itu saja-.." katanya mendapatkan ide sebelum

Hatcih!

Luhan berpura-pura bersin. Wajahnya bahkan dibuat menggigil hingga hanya raut cemas yang bisa terlihat di wajah Sehun saat ini. "Ada apa denganmu? Kau kedinginan?"

Luhan mengangguk polos sementara Sehun menahan umpatannya saat ini "sial!" katanya mengumpat marah sebelum melepas mantelnya dan memakaikannya pada sang istri.

"Apa sudah hangat?" katanya memakaikan dua syal dan dua mantel pada Luhan. Berharap istrinya merasa lebih baik sebelum

Grep….!

"Begini lebih hangat."

Sehun mau tak mau terkekeh menyadari akting istrinya. Karena daripada kedinginan Luhan lebih terlihat cari perhatian. Dan benar saja-…Istrinya memang sedang cari perhatian agar tidak dimarahi dengan memeluknya erat seperti ini.

"mianhae….Jangan marah padaku."

"Aku sangat marah."

"Tapi aku sedang sedih."

Sehun melepas pelukannya dengan cepat dan memastikan kesedihan macam apa yang Luhan rasakan dari raut wajahnya "Kenapa sedih?"

"Kyung-..Maksudku teman dekatku sedang bersikap aneh saat ini."

"Siapa?"

"Kau tidak mengenalnya."

"Lalu kenapa dia?"

Luhan menghela dalam nafasnya. Terlihat benar-benar sedih sebelum menarik tubuh seksi itu agar kembali memeluknya "Dia terus mengatakan maaf dan mengatakan menyayangiku. Aku tidak tahu dia kenapa, tapi sepertinya dia sedang mengucapkan salam perpisahan."

Wajah Sehun mendongak menatap langit. Dia tahu siapa yang dibicarakan Luhan saat ini, merasa tidak tega karena semua ini mempengaruhi istrinya namun tak menyesali apapun yang dia lakukan untuk bajingan sialan itu.

"Lalu aku harus apa?" katanya bertanya pada Luhan. Luhan pun memberikan jawaban dengan memeluknya semakin erat "Hanya peluk aku sepanjang malam ini."

"Kau bisa kedinginan."

"Aku memelukmu."

"Lalu bayiku yang kedinginan."

"Bagaimana bisa adik bayi kedinginan jika ayah dan ibunya sedang berpelukan erat seperti ini."

"Tapi tetap saja-.."

"Aku bahkan menggunakan dua mantel dan dua syal. Aku luar biasa hangat ditambah tubuh super seksi ini memelukku."

Sehun pun menyerah untuk membantah sang istri. Dibalasnya pelukan Luhan sama erat sebelum tubuhnya sedikit menunduk agar bisa bersandar di tengkuk istrinya "Luhan…"

"hmmh…"

"Luhanna.."

"hmmmh…"

"Luhannie."

Luhan mulai tertawa menyadari posisi berubah saat ini. Niatnya adalah bermanja dengan suaminya, namun saat bayi besarnya menukar posisi dengan cepat maka yang bisa dia lakukan hanya menuruti dan mengikuti apapun yang diinginkan kecintaannya,

"Dokter Oh.."

"hmmhh…Ada apa?"

"Hanya ingin memanggilmu."

"Lakukanlah kalau begitu bayi besar."

"Aku kedinginan."

"aigoo…Eomma memelukmu nak."

Luhan pun memeluk tubuh yang hanya memakai kaos panjang tipis itu dengan erat. Memeluknya sangat erat sesekali mencium bertubi tengkuk suaminya

"Oh Sehun.."

Kali ini Luhan yang memanggil Sehun. melingkarkan kuat kedua tangannya di pinggang Sehun sebelum merespon panggilan istrinya "Ada apa?"

"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu."

Nyatanya ucapan cinta Luhan bisa menghangatkan seluruh tubuhnya. Nyatanya pula ucapan cinta Luhan membuat jantungnya berdebar begitu cepat. Membuatnya memutuskan untuk menatap sang istri dengan melepas pelukannya.

"Katakan sekali lagi." Katanya menatap Luhan penuh harap sebelum bibir mungil itu tersenyum sangat cantik "Aku mencintaimu…"

"Lagi."

"Aku mencintaimu."

"Lagi…"

"Aku benar-benar mencintaimu Oh Sehun."

"Lagi."

"Aku sangat mencintai-…"

Belum selesai Luhan berbicara dagunya ditarik oleh Sehun. Dan tak lama dua pasang suami istri itu kembali berciuman menyalurkan rasa hangat dan perasaan cinta mereka yang begitu dalam. Luhan membuka mulutnya pasrah saat Sehun ciuman Sehun lebih menuntut.

Si pria jantan bahkan menyesap hingga ke rongga mulutnya menghasilkan benang saliva yang seolah menunjukkan bahwa mereka berdua terikat satu sama lain.

Sehun terus mencium Luhan sedikit menuntut. Nyaris kembali kehilangan kontrol dirinya jika sesuatu di dalam perut Luhan kembali menendang. Keduanya pun sontak terkejut dan mulai tertawa menyadari bahwa setiap kali mereka memiliki gairah berlebihan maka calon putra mereka akan memprotes dibawah sana.

"Dia protes lagi?"

Luhan mengangguk tertawa sebelum membenarkan tebakan suaminya "Dia protes lagi." Timpalnya membuat Sehun secara otomatis menunduk dan mulai bicara pada putranya "Mianhae jagoan…Tapi ayah tidak menggoda ibumu. Ibumu yang terus menggoda ayah."

"ish..!"

Luhan memukul pundak Sehun tak terima. Membuat Sehun tertawa sebelum menarik pinggul Luhan mendekat padanya "Lepas. Aku tidak menggodamu."

"Kau selalu menggodaku sayang." Katanya tanpa kesulitan menarik pinggang Luhan dengan satu tangan sebelum menyatukan kedua dahi mereka "Kau selalu menggodaku dengan pesonamu." Katanya berbisik membuat rona merah di wajah Luhan begitu terlihat.

Keduanya pun menikmati hembusan nafas masing-masing. Mencoba untuk tidak bergairah namun rasanya tidak mungkin karena apapun yang mereka lakukan selalu berhasil membuat gairah dirasakan oleh pasangan masing-masing "Apa kau ingin?"

Luhan mengerti maksud "ingin" yang ditanyakan Sehun. membuatnya mengangguk tanpa ragu dan mulai bermain di dada suaminya agar tak bertatapan dengan mata elang suaminya "Aku ingin." Timpalnya membuat Sehun kembali mengangkat dagu Luhan agar mata mereka bertatapan.

"Aku mencintaimu Lu. Sangat mencintaimu." Katanya berujar tulus membuat Luhan begitu hangat dan menyadari tak bisa melakukan apapun dan tak bisa hidup tanpa pria di depannya, membuatnya sedikit ingin menangis haru namun berakhir berjinjit dan

Chu~

Luhan memberikan ciuman sekilas di bibir suaminya. Menatapnya tanpa ragu untuk mengatakan "Aku lebih mencintaimu Oh Sehun."

.

.

.


.

.

tobecontinued..

.


.

.

Readersnya entangled manaaaaaa?

.

Itu kenapa dokter-mafia itu bikin mata silo sihhhhhh :"""

Pengeeen kan gue juga kkkkk

.

Btewe gue ga bisa prediksi ini end nya bakal gimana. Ready2 aja yak kecintaan. Terutama di Kaisoo gue ga yakinnya. Tapi ini ga nakutin suerr…

.

Sooo….final chap bakal di UP! satu-dua minggu dari sekarang! Be prepared gengs. Kemungkinan words di end membludak…

siapin cemilan yak. klo gue Cuma butuh salonpas T_T kkkk…

,

Seeyou in final chap gengss

.

Happy reading