Previous

"Aku mencintaimu."

"Lagi…"

"Aku benar-benar mencintaimu Oh Sehun."

"Lagi."

"Aku sangat mencintai-…"

Belum selesai Luhan berbicara dagunya ditarik oleh Sehun. Dan tak lama dua pasang suami istri itu kembali berciuman menyalurkan rasa hangat dan perasaan cinta mereka yang begitu dalam. Luhan membuka mulutnya pasrah saat Sehun ciuman Sehun lebih menuntut.

Si pria jantan bahkan menyesap hingga ke rongga mulutnya menghasilkan benang saliva yang seolah menunjukkan bahwa mereka berdua terikat satu sama lain.

Sehun terus mencium Luhan sedikit menuntut. Nyaris kembali kehilangan kontrol dirinya jika sesuatu di dalam perut Luhan kembali menendang. Keduanya pun sontak terkejut dan mulai tertawa menyadari bahwa setiap kali mereka memiliki gairah berlebihan maka calon putra mereka akan memprotes dibawah sana.

"Dia protes lagi?"

Luhan mengangguk tertawa sebelum membenarkan tebakan suaminya "Dia protes lagi." Timpalnya membuat Sehun secara otomatis menunduk dan mulai bicara pada putranya "Mianhae jagoan…Tapi ayah tidak menggoda ibumu. Ibumu yang terus menggoda ayah."

"ish..!"

Luhan memukul pundak Sehun tak terima. Membuat Sehun tertawa sebelum menarik pinggul Luhan mendekat padanya "Lepas. Aku tidak menggodamu."

"Kau selalu menggodaku sayang." Katanya tanpa kesulitan menarik pinggang Luhan dengan satu tangan sebelum menyatukan kedua dahi mereka "Kau selalu menggodaku dengan pesonamu." Katanya berbisik membuat rona merah di wajah Luhan begitu terlihat.

Keduanya pun menikmati hembusan nafas masing-masing. Mencoba untuk tidak bergairah namun rasanya tidak mungkin karena apapun yang mereka lakukan selalu berhasil membuat gairah dirasakan oleh pasangan masing-masing "Apa kau ingin?"

Luhan mengerti maksud "ingin" yang ditanyakan Sehun. membuatnya mengangguk tanpa ragu dan mulai bermain di dada suaminya agar tak bertatapan dengan mata elang suaminya "Aku ingin." Timpalnya membuat Sehun kembali mengangkat dagu Luhan agar mata mereka bertatapan.

"Aku mencintaimu Lu. Sangat mencintaimu." Katanya berujar tulus membuat Luhan begitu hangat dan menyadari tak bisa melakukan apapun dan tak bisa hidup tanpa pria di depannya, membuatnya sedikit ingin menangis haru namun berakhir berjinjit dan

Chu~

Luhan memberikan ciuman sekilas di bibir suaminya. Menatapnya tanpa ragu untuk mengatakan "Aku lebih mencintaimu Oh Sehun."

.

.

.

.

.

.

.

Entangled

Main Cast : Sehun & Lu Han

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

Final chap!

.

PART I

.

.

.

.

.

Cklek…

"Lu…."

Dokter berlesung pipi itu terlihat cemas memasuki ruang perawatan khusus tempat adik mereka dirawat. Wajahnya bahkan terlihat pucat saat Luhan memberi kabar bahwa kondisi Kyungsoo terus memburuk tanpa alasan dan harus kembali dirawat entah untuk ke berapa kalinya dalam satu bulan ini.

"Yeol."

"Ada apa? Apa yang terjadi pada Kyungsoo?"

Luhan tersenyum lirih menjawab pertanyaan Chanyeol. Tak berani mengeluarkan suara dan hanya menggenggam jemari sang adik yang terasa dingin dengan seribu pertanyaan dibenaknya mengenai kondisi Kyungsoo yang terus memburuk namun diagnosa mengatakan tak ada yang salah dengan seluruh fungsi dari organ vitalnya.

"Dia pingsan lagi."

"Lagi?"

"mmh…Max yang membawanya kesini. Aku takut Yeol."

Luhan menciumi berulang tangan Kyungsoo, matanya sudah memanas karena cemas dan tak bisa melakukan apapun untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan Kyungsoo.

"Mana hasil Lab terakhir Kyungsoo."

"Aku letakkan di meja."

Dokter spesialis syaraf itu berjalan mendekati meja yang dimaksud Luhan. Mengambil cepat hasil lab adiknya dan mempelajarinya dengan seksama "Semua fungsi hati dan ginjalnya normal Yeol. Aku tidak tahu apa yang salah dengan Kyungsoo. Dia selalu merasa sesak lalu berkeringat dan pingsan secara tiba-tiba."

Chanyeol masih mempelajari hasil lab Kyungsoo membacanya seksama sebelum menemukan hasil reaktif dari zat asing di tubuh adiknya "Bagaimana hasil terakhir leukositnya?"

"Tinggi. Mencapai dua puluh ribu."

"Kalau begitu lakukan tes urine."

"Haruskah?"

"Aku curiga ini gejala Infeksi saluran pada kemihnya atau memang ginjalnya yang bermasalah."

Luhan mencoba mencerna ucapan Chanyeol. Mengira dia sudah melakukan segala cara mencari tahu keadaan adiknya sebelum menyadari bahwa dia melewatkan beberapa tes seperti tes urin dan mungkin tes dahak mengingat adiknya terus merasa sesak dan sakit di bagian perut.

"Jika Kyungsoo sadar nanti aku ingin dia melakukan tes urin."

"Baiklah. Aku akan membujuknya untuk melakukan-…"

"Hyung.."

Luhan menoleh cepat menatap Kyungsoo sementara Chanyeol sedikit berlari menghampiri adiknya. Dan dalam sekejap ketiganya kini saling bertatapan dengan senyum lirih Kyungsoo menyapa penglihatan mereka "Soo…"

"Apa aku pingsan lagi?"

"Lagi."

Chanyeol membenarkan tebakan Kyungsoo membuat si pria bermata besar itu harus tertawa pasrah menyadari hidupnya hanya hitungan hari terhitung hari ini.

"Mianhae hyung."

Minggu ini Sehun akan datang menemuinya dan kembali menyuntikkan racun yang dibuat oleh Kai. Dan sesuai perjanjian Kyungsoo tidak akan menolak namun tak berani membayangkan bagaimana sakitnya saat injeksi beracun itu kembali menghancurkan organ vitalnya.

Baru satu kali Kyungsoo menerima injeksi beracun itu tapi seluruh tubuhnya terasa terbakar, sesekali dia merasa sangat sesak bahkan pembuluh darah terkadang ingin meledak karena rasa sakitnya. Membuat Kyungsoo hanya bisa tersenyum pasrah menyadari bahwa Sehun benar-benar menemukan cara yang tepat untuk membalas kematian Ziyu. Karena nyatanya semua racun itu lebih menyakitkan dari sayatan atau pukulan yang diberikan Sehun untuknya.

"Kenapa kau meminta maaf Soo?"

"Aku selalu merepotkan kalian."

"Kau sakit dan sama sekali tidak merepotkan kami Soo. Kami akan melakukan segala cara untuk membuat merasa lebih baik. Kita akan melakukan tes urine besok pagi dan akan mengetahui hasilnya lebih detail. Kau mau kan?"

Kyungsoo membalasnya dengan senyum kecil. Tidak ingin mengongkari janji yang ia buat dengan Sehun tanpa harus membuat kedua kakaknya kecewa. Digenggamnya tangan Luhan yang terus memegang tangannya sebelum menggeleng dan menampilkan wajah terbaiknya yang bisa ia tunjukkan saat ini "Tidak perlu tes hyung. Aku hanya kelelahan dan sudah baik-baik saja saat ini."

"Tapi Soo. Kau harus-…"

"Jika merasa sakit lagi aku akan memberitahumu dan kita melakukan tes. Bagaimana?"

Luhan menoleh meminta persetujuan Chanyeol. keduanya bertatapan cukup lama sampai Chanyeol mengangguk meminta Luhan untuk tidak memaksakan apapun pada Kyungsoo. "Kau yakin?" katanya berbisik disambut anggukan oleh Chanyeol "Jangan paksa Kyungsoo." Katanya membalas membuat Luhan tak memiliki pilihan lain.

"Baiklah. Tapi jika kau merasakan sakit lagi. Aku dan Chanyeol tidak membutuhkan persetujuan untuk melakukan tes lebih serius pada tubuhmu."

Kyungsoo tersenyum haru mendengar kemarahan Luhan. Antara senang karena tak perlu membuat alasan lalu berakhir sedih menyadari bahwa hal-hal yang akan dirinya rindukan dari Luhan adalah cara Luhan marah dan bagaimana dia peduli dalam satu waktu. Membuat tanpa sadar matanya basah namun tidak mengeluarkan air mata "gomawo hyung."

"Baiklah kau harus kembali beristitahat. Ini sudah malam."

Luhan menarik selimut Kyungsoo sebelum kembali duduk disamping tempat tidur adiknya "Hyung akan menemanimu sampai kau tidur."

Kyungsoo mengangguk senang sebelum mencoba untuk kembali tidur. Rasanya begitu menyenangkan saat dua orang yang paling kau cintai menemani dirimu yang sedang kesakitan -seolah rasa sakitnya hilang begitu saja-. Mungkin akan terasa lengkap jika suami Luhan atau mantan kekasihnya ikut menemani, karena jika benar dua orang yang sangat membencinya itu memaafkan dirinya. Maka Kyungsoo tak ragu untuk pergi meninggalkan dunia ini dengan segera.

"Hyung. Besok maukah kau makan malam bersamaku?"

"huh?"

"Aku sudah melakukannya dengan Chanyeol hyung kemarin malam. Kini aku ingin makan malam bersamamu. Bolehkah?"

Luhan tampak berfikir sejenak, entah mengapa perasaannya mengatakan ada yang tidak beres dengan kondisi, ucapan serta semua yang dilakukan adiknya. Karena percaya atau tidak cara Kyungsoo meminta dan memaksa persis seperti yang dilakukan Ziyu satu minggu sebelum putranya meninggal. Membuat semacam trauma Luhan rasakan namun membuangya jauh saat tangan Kyungsoo mengusap lembut wajahnya "Aku ingin ramen di tempat favorit kita saat kecil hyung."

"Tempat itu masih buka?"

"Tentu saja. Sekarang sudah disulap menjadi sebuah kedai ramen. Aku selalu melewatinya setiap malam."

Luhan kembali menoleh pada Chanyeol dan bertanya pada kekasih sahabatnya "Apa Pororo kita boleh makan ramen?"

Chanyeol menimbang sekilas sebelum mengangkat jari telunjuknya "Hanya satu porsi."

"Hyuuung…"

"Tidak merengek Do Kyungsoo. Kau masih dalam masa penyembuhan."

"Lu hyung…"

Luhan mengangkat kedua bahunya. Sedikit tertawa sebelum mengusap lengan Kyungsoo agar segera tidur "Chan hyung doktermu bukan aku. Jadi dengarkan apa yang dikatakan doktermu pororo."

"ish! Kalian berdua tidak seru! Pergi sana aku ingin tidur."

Kyungsoo membalikan tubuhnya berlawanan dari Chanyeol dan Luhan. membuat kedua kakak tertawa gemas tanpa tahu air mata Kyungsoo mengalir deras saat memiliki alasan untuk tidak menatap keduanya.

Dia berpura-pura kesal namun nyatanya dia menangis karena sakit dan ketakutan. Dia ingin mengatakannya pada Luhan dan Chanyeol namun tak tega membuat suara tawa kedua kakanya berubah menjadi cemas dan menghkwatirkan dirinya.

Dan saat keduanya berpamitan dan bergantian mencium pundak Kyungsoo maka yang dilakukan Kyungsoo hanya memejamkan erat kedua matanya "Cepat sembuh Pororo kecil."

Kyungsoo menikmati panggilan sayang dari Chanyeol sebelum Luhan beralih mencium pipinya "Sampai besok malam Pororo kecil." Katanya mengusak sayang kepala Kyungsoo sebelum berbisik rahasia di telinga adiknya "Kau boleh makan banyak ramen besok malam." Katanya menambahkan sebelum memegang lengan Chanyeol sebagai tumpunya berjalan.

"Sehun menjemputmu?"

"Tidak…Aku pulang dengan Doojon."

"Kaki tangan Sehun yang menggantikan Kai?"

Luhan mengangguk pelan membenarkan pertanyaan Chanyeol "hmm..dia orangnya."

"Mau aku antar pulang?"

"Tidak perlu Yeol…Lagipula kau harus istirahat."

Chanyeol membantu Luhan berjalan. Dipegangnya pinggang si pria cantik yang terasa melebar karena kehamilannya sebelum kembali menatap punggung adiknya "Kami pergi Soo. Selamat malam kesayangan." Katanya sedikit mengeraskan suara sebelum pergi membantu Luhan menuju lobi utama.

Blam…

"haaah….~"

Kyungsoo membuka cepat kedua matanya saat pintu kamarnya ditutup oleh Chanyeol. sesak dan sakit adalah dua hal yang terus bergantian ia rasakan, dan saat dirinya ditinggalkan sendiri di ruang gelap dan sunyi ini maka hanya ada rasa ketakutan yang menemaninya seorang diri.

"hyung…."

Kyungsoo menggigit kencang bibirnya, kepalanya terasa sangat sakit dan slit bernafas. Dan kenyataan bahwa hanya dia seorang diri di kamar ini membuat rasa sakit dan takutnya semakin terasa "hyung…Tolong aku.." katanya meracau pilu menahan sakit di dadanya. Sedetik kemudian Kyungsoo meronta dan terlihat memuli kepalanya yang begitu sakit tanpa tahu bagaimana cara menghilangkan rasa sakitnya "siapapun-…Siapapun aku mohon bunuh aku rrrhhhhh."

Kyungsoo meronta, menjerit dan memohon pada siapapun untuk membunuhnya. Rasa sakitnya tidak bisa dijelaskan dan tak bisa dihilangkan walau hanya untuk sedetik. Membuat kedua tangannya secara bergantian mencengkram kuat dada lalu beralih memukuli kedua kepalanya.

Keringatnya mengucur begitu deras hingga tak sadar dia terkulai lemas di tempat tidurnya sendiri. Tak lagi meronta namun rasa sakit di kepalanya berkali-kali jauh lebih membunuh "siapapun aku mohon bunuh aku…siapa-...SIAPAPUN!"

.

.

.

.

.

.

.

.

Let him live… Yoon Doojon-ssi

.

.

.

.

"Aku akan mengantarmu sampai ke dalam Lu."

Yang ditanya tetap tidak menjawab. Hanya mengambil tas serta ponselnya sebelum

Blam...

"Tidak perlu Doojon-ssi. Kau boleh pulang."

Setelah memberi perintah pada kaki tangan suaminya yang baru. Luhan berjalan gontai menuju ke dalam rumah. Pikirannya bercabang untuk beberapa hal. Seperti hari melahirkannya yang akan berlangsung dalam tiga minggu, hubungan Kyungsoo dan Sehun yang membuatnya putus asa serta kenyataan bahwa kondisi Kyungsoo terus memburuk tanpa alasan adalah tiga hal yang menguras pikirannya.

Disamping semua itu dia harus tetap bekerja sebagai dokter. Walau pihak rumah sakit sudah mengijinkan dirinya untuk mengambil cuti-...Luhan menolak.

Alasannya tentu saja karena dia tidak bisa leluasa bertemu Kyungsoo jika berada dirumah. Lagipula Sehun juga terlihat sibuk akhir-akhir ini hingga rasanya dia hanya seorang diri tanpa suami di rumah.

"Haaah..."

Kaki Luhan berhenti melangkah. Seluruh maidnya pasti sudah tertidur di waktu selarut ini. Membuatnya memiliki kesempatan untuk menenangkan diri sebelum dihujani pertanyaan menuntut dari suaminya.

"Sepertinya ayahmu sudah dirumah." Katanya memberitahu sang calon bayi sebelum

Cklek...!

Tepat seperti dugaan Luhan bahwa tak ada lagi kehidupan di waktu yang baru menunjukkan sepuluh malam di rumahnya.

Seluruh maid, Vivi, Bibi Kim dan mungkin suaminya sudah tertidur pulas. Terkadang Luhan berterimasih pada peraturan yang dibuat Sehun yang mengatakan bahwa tak boleh ada suara di atas jam sembilan malam. Kecuali suara dirinya dan Luhan maka seluruh penghuni yang lain dilarang untuk bersuara dan tidak mengganggu jam istirahat istrinya.

Dan alih-alih menuju kamarnya dan Sehun-...Luhan lebih memilih berjalan ke dapur. Menuang segelas air dan menghabiskannya perlahan. Gelas pertama masih belum cukup menghilangkan dahaganya. Dituangnya kembali gelas kedua dan menengguknya habis sebelum dua tangan kekar milik pria kecintannya melingkar sempurna di pinggang Luhan yang sudah melebar karena calon bayinya.

"Apa aku membangunkanmu?"

Luhan menoleh dan memberikan peck sekilas di bibir suaminya. Ikut melingkarkan tangan di atas tangan Sehun dengan kepala bersandar di dada suaminya. Keduanya menikmati hening sampai Sehun mengendus manja aroma sang istri sesekali menghisap kuat lehernya.

"Langkah kakimu yang membangunkan aku sayang." Katanya menjilat sensual cuping istrinya dengan tangan gang sudah menelusup ke pakaian longgar yang sengaja ia belikan untuk Luhan selama masa kehamilannya.

"Bagaimana bisa langkah kakiku membangunkanmu Tuan besar? Aku bahkan tidak mengeluarkan suara sedikit pun."

"Benarkah?"

Sehun tampak berfikir sebelum mencari jawaban lain yang bisa membuat istrinya merona. Diciumnya kuat leher putih mulus yang hanya menjadi miliknya sebelum berbisik sensual di telinga Luhan "Kalau begitu aku bangun karena aromamu. Aroma manis yang selalu membuatku jatuh dan jatuh lagi ke dalam pesonamu sayang."

"Ck pria ini! Sejak kapan kau suka membual?"

Sehun semakin mengeratkan pelukannya pada Luhan. Mencium sayang aroma istrinya dengan mengusap tak sabar malaikat kecilnya yang akan lahir kurang dari satu bulan ini "Aku serius sayang. Aku benar-benar jatuh ke dalam pesonamu."

"Sejak kapan?"

"Sejak kali pertama kita bertemu."

Luhan tersenyum mendengarnya. Mengingat bagaimana pertemuan pertama mereka terbilang mengerikan adalah hal yang tak pernah mengganggu Luhan. Mereka tetap bertemu dan pada akhirnya saling mencintai satu sama lain dan menjalin hubungan.

Hubungan yang awalnya mereka kira hanya akan bertahan sesaat berlangsung semakin kuat seiring berjalannya hari.

Cinta keduanya bahkan bertambah kuat saat Baekhyun mengumumkan kehamilan Luhan untuk pertama kali. Awal Luhan dinyatakan hamil dia begitu ketakutan, dia bahkan berniat membuang bayinya jika Sehun tidak membukuknya.

Karena berbeda dengan kecemasan Luhan-..Maka Sehun terlihat begitu bahagia. Membuat Luhan meyakini bahwa apapun yang terjadi kelak. Dirinya dan anak-anak yang akan merkea miliki nanti akan selalu aman karena cinta ayah mereka.

"Walau kau nyaris membunuhku saat itu."

"Hey...Aku menyesal menodongkan pisau di lehermu. Semua itu aku lakukan karena mengira kau bagian dari mereka sayang."

"Dan nyatanya aku adalah malaikat penolongmu. Benarkan?"

Nada Luhan berubah menjadi sangat percaya diri. Membuat Sehun menyadari bahwa istrinya sedang ingin dipuji hingga membuat si pria tampan memberikan ciuman bertubi di bibir istrinya dibalas dengan rona malu di wajah Luhan "Benar kau malaikatku. Malaikat hidupku, malaikat penolongku. Kau segalanya untukku."

Sehun memberikan pujiannya untuk Luhan. Diciumnya bibir Luhan sedikit lama sebelum keduanya tersenyum menikmati rasa cinta yang begitu besar yang keduanya terima tanpa kurang sedikit pun.

"Aku bisa menunggu selama sembilan bulan. Tapi kenapa tiga minggu terasa sangat lama."

"Huh?"

"Aku tidak sabar bertemu darah dagingku."

Sehun mulai mencari topik lain untuk dibicarakan. Kali ini mencoba membicarakan putra mereka yang akan segera lahir sebentar lagi "Anakmu juga tidak sabar bertemu dengan ayahnya."

"Bagaimana kau tahu?"

"Aku bisa merasakannya sayang. Aku dan putra kita. Kami-... selalu merindukanmu."

Nyatanya jawaban Luhan membuat hati Sehun berdesir hangat. Sehun seperti memiliki alasan hidup karena Luhan. Ya-…Luhan sudah memberikan segala hal yang membuat dirinya terlihat seperti seorang manusia. Cinta, kasih sayang, ketulusan, pengorbanan dan kini calon buah hati mereka seolah menjadi pelengkap kebahagiannya.

Membuat Sehun merasa sangat bahagia dan memeluk istrinya erat untuk menyampaikan rasa terimakasihnya. "Terimakasih sudah membuatku menjadi sempurna."

"Kau akan semakin sempurna tanpa dendam dan rasa bencimu sayang."

"huh?"

Luhan mulai memberanikan diri untuk membahas Kyungsoo. Dia pun membalikan tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan sang suami yang terlihat bertanya dengan ucapannya "Aku ingin membicarakan satu hal padamu. Bisakah?"

Luhan melingkarkan tangannya di leher Sehun, sesekali berjinjit untuk mencium bibir suaminya "Tentu saja sayang. Apa yang ingin kau bicarakan?"

Luhan menatap ragu suaminya sesaat. Merasa percakapan ini akan memancing kemarahan Sehun sebelum tetap pada keputusannya untuk menyebut nama sang adik di depan suaminya.

"Lu…Apa yang ingin kau bicarakan?"

"Kyungsoo.."

Deg!

Bagai ditujuk sebilah pisau tajam, hati Sehun menghujam sakit. -tidak- rasanya dia merasakan sakit berkali-kali lipat saat nama pembunuh putranya disebut tanpa ragu oleh sang istri. Luhan bahkan menatapnya tak berkedip seolah membenarkan apa yang dikira Sehun adalah lelucon.

"Nama siapa yang kau sebut?"

Sehun melepaskan pelukan Luhan. Berusaha mendinginkan kepalanya yang panas sebelum Luhan kembali mendekatinya "Sayang…Aku harus bicara tentang Kyungsoo. Dia sakit dan-…"

"BIARKAN DIA MATI!"

Sehun menghempas kasar tangan istrinya. Merasa seluruh kebahagiannya hanya sesaat saat nama Kyungsoo disebutkan sang istri tanpa ragu.

"Sehun.."

Luhan sendiri merasa bahwa dirinya sangat egois, Dia terus memaksakan satu hal yang tak bisa diterima oleh Sehun. Dan saat suaminya berjalan pergi menuju pintu rumah. Maka yang harus dilakukan Luhan adalah mengejarnya sebelum semua menjadi terlambat.

"Berani sekali kau menyebut namanya. Berani sekali kau-…"

Grep…!

Sehun merasakan dua tangan kecil itu melingkar di pinggangnya. Dia bahkan bisa merasakan perut buncit Luhan mengenai punggungnya, dan dengan isakan yang membasahi punggung belakangnya-…Luhan menangis hebat memeluknya.

"Mianhae….Aku kembali memaksakan keinginanku. Maafkan aku hksss…Maafkan aku sayang."

"Tega sekali kau padaku Lu."

"Aku tahu! AKU BERSALAH SEHUNNA. MAAFKAN AKU…"

"Lepaskan aku…"

"OH SEHUN MAAFKAN AKU!"

Luhan menjerit ketakutan saat ini. Suaranya menjadi serak karena terlalu takut Sehun meninggalkannya. Dia tidak ingin suaminya marah hanya karena dia menyebut nama Kyungsoo dan karena alasan itu pula dia akan melakukan apapun untuk mencegah kepergian Sehun dan meminta maaf serendahnya jika memang di perlukan.

"Sehuunnnnhkss.."

Jika Luhan tidak menjerit hingga suaranya habis mungkin Sehun akan tetap pergi. Tapi berbeda saat istrinya menjerit ketakutan menyadari kesalahannya sendiri. Membuat rasa tak tega itu segera Sehun rasakan sebelum berbalik dan memeluk erat pria mungilnya.

"Sehuunnn…"

Luhan menghambur memeluk erat dada suaminya. Terus menggumamkan maaf sampai Sehun mengangkat wajahnya dan menatap langsung dua mata rusa yang selalu berhasil membujuknya.

Sehun terus menatap mata cantik itu dan menghapusnya cepat sebelum menatap tegas dua mata rusa itu seolah mengingatkan Luhan bahwa sampai kapanpun dia tidak akan pernah bisa menuruti keinginan Luhan yang menyangkut pembunuh putranya.

"Jangan pernah menyebut namanya lagi di depanku. Kau dengar?"

Luhan mengangguk cepat. Menatap suaminya begitu menyesal sebelum Sehun kembali bersuara "Itu menyakitiku setiap kau menyebut namanya. Jadi pastikan kau tidak akan mengulanginya lagi."

"Maaf-….Maafkan aku sayang."

"Biar aku memelukmu."

Setelah mencium kening Luhan-…Sehun kembali memeluk istrinya. Berusaha meredakan rasa panas di hatinya dengan memeluk erat pria mungilnya yang tidak berhenti merasa ketakutan. Luhan semakin mencengkram erat punggung suaminya. Seolah Sehun akan pergi jika dia tidak menahannya "Jangan pergi."

"sst Aku disini sayang."

Sehun mencium berulang pucuk kepala istrinya sebelum membiarkan Luhan dan ketakutannya memeluk dirinya begitu erat "Maaf membuatmu takut sayangku."

.

.

.

Dua puluh menit kemudian Luhan sudah tertidur lelap. Dengan posisi memeluk erat suaminya dia sudah bisa menjemput mimpi indah miliknya. Berbanding terbalik dengan Sehun. Pria yang sudah menjalankan misinya membunuh Kyungsoo itu tampak memikirkan banyak hal.

Sesekali pikirannya tertuju pada Luhan, lalu kemudian memikirkan bayi mereka hingga tanpa sadar ucapan Luhan yang mengatakan Kyungsoo sakit diam-diam terus bergema di telinganya.

Sehun bahkan bisa menebak rasa sakit seperti apa yang bajingan itu rasakan dari cerita Luhan. Membuatnya kembali merasakan ragu untuk bertindak mengingat semua ini akan mempengaruhi kondisi istrinya.

Drrtt…drrt…

Dan saat Sehun mencapai puncak lamunan. Maka suara getar ponsel membuyarkannya seketika. Dengan sedikit kesulitan dia berhasil mengambil ponselnya di atas meja. Melihat nama Doojon di layarnya sebelum

Sret…!

"Ada apa?"

"Bos. Kyungsoo benar ada di rumah sakit dengan kondisi yang semakin memburuk."

Seperti kabar kehamilan Luhan-…Maka kabar kondisi buruk Kyungsoo tak kalah membuatnya bahagia. Karena dengan alasan kejinya bibir sang mafia bisa tersenyum. Menikmati hasil pekerjaannya sebelum menyeringai begitu mengerikan.

"Bagus"

"Lalu apa aku harus menyuntikan racun kedua malam ini."

Sehun tampak tergoda untuk mengatakan Ya. Setidaknya sampai Luhan menggeliat di pelukannya Sehun kembali ragu-…Didiamkannya suara Doojon untuk beberapa saat sementara pikirannya entah ada dimana.

Tangannya melingkar sempurna di pinggang sang istri. Kedua matanya melihat sendiri bagaimana kecintannya tidur begitu damai. Semua terasa sempurna untuk Sehun sebelum suara Doojon kembali terdengar.

"Bos?"

Sehun sudah mengambil keputusannya. Tangannya semakin memeluk erat tubuh Luhan sebelum kembali membuka suara "Yoon Doojon."

"Ya bos."

Sehun berfikir sejenak sebelum terlihat mantap dengan keputusannya "Batalkan rencana malam ini."

"Bos?"

"Biarkan dia hidup malam ini."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sehunna.. Help me

.

.

.

.

.

.

"Bagaimana keadaanmu hari ini?"

Kyungsoo memakan ramennya dengan lahap. Seolah memberitahu Luhan bahwa dia baik-baik saja sebelum mengangkat ibu jarinya "Luar biasa hyung. Slurppp…!"

Luhan pun tersenyum memperhatikan bagaimana adiknya makan dengan lahap, merasa kekhawatirannya malam tadi tak beralasan digantikan dengan perasaan lega karena Kyungsoonya benar-benar baik

Uhuk…!

"Pelan-pelan Soo."

Buru-buru Luhan mengambil tisue untuk Kyungsoo. Membantunya menyeka sisa ramen di bibir sebelum

Drrtt…drrtt..

Sebelum Luhan melihat ponselnya dan mendapati nama sang suami tertera di ponselnya. Luhan segera melihat arlojinya, menyadari bahwa ini masih terlalu pagi Sehun memarahinya mengingat waktu masih menunjukkan pukul tujuh malam.

Drrtt…Drrtt..

Luhan menyenggol lengan Kyungsoo, meminta adiknya untuk tidak bersuara sebelum

Sret…!

"Sayang?"

Luhan menyapa lebih dulu. Merasa Sehun tak memiliki alasan untuk memarahinya membuat sang dokter berani menjawab bahkan menyapa lebih dulu panggilan dari suaminya "Lu.."

"Ada apa sayang? Kenapa suaramu terdengar jauh?"

"Malam ini menginaplah di apartemen Baekhyun."

"huh? Kenapa aku harus bermalam di tempat Baekhyun?"

"…"

"Sayang?"

"Aku sedang dalam perjalanan bisnis menuju Daegu."

Raut wajah Luhan berubah menjadi tegang. Rasanya dia selalu marah dan kesal jika suaminya pergi mendadak seperti malam ini. Membuat dua bola mata rusa itu menyalang marah dengan kedua tangannya terkepal erat "Kenapa tiba-tiba?"

Suara Luhan berubah menjadi berat. Jangankan Sehun-…Kyungsoo yang berada di dekatnya pun terpaksa menghentikan makan ramennya. Dia memperhatikan perubahan wajah Luhan dan bertanya-tanya apa yang membuat hyungnya terdengar marah.

"Aku juga tidak menyangka harus pergi tiba-tiba seperti ini sayang."

"Bagaimana kalau malam ini aku melahirkan? Siapa yang akan menemaniku di ruang operasi?"

"Ini belum waktunya kau melahirkan Lu."

"Tetap saja hanya tiga minggu tersisa sebelum putra kita lahir! Kenapa kau tidak bisa menahan diri HAH?!"

"hyung…"

Diam-diam Kyungsoo memegang tangan Luhan. berbisik pelan untuk menenangkan Luhan namun percuma karena yang Luhan inginkan hanya Sehun di rumah malam ini dan tidak melakukan perjalanan bisnis yang selalu berakhir berbahaya untuk nyawa suaminya.

"Aku akan ada disana saat kau melahirkan. Aku janji sayang. Aku akan segera-…"

"TERSERAHMU SIALAN!"

Pip!

Setelah memaki Sehun-…Luhan mematikan ponselnya. Membuat sang mafia yang sedang dalam perjalanan terlihat cemas namun tak bisa menyembunyikan kemarahannya karena berita yang baru saja ia dengar.

"ARGHHHH…..SIAL!"

Sehun membanting cepat ponselnya. Nafasnya tersengal marah lalu tanpa alasan berteriak pada kaki tangannya "YOON DOOJON!"

Doojon yang sedang mengemudi sudah bisa menebak hal ini akan terjadi. Dilihatnya Sehun sekilas sebelum kembali mencoba untuk fokus menyetir "Y-ya bos?"

"Jika Kai tidak berada di Daegu. Aku akan membunuhmu. Kau dengar?"

"Ya bos aku dengar."

"Bagus-…Aku tak sabar membunuh penghianat itu!"

Doojon hanya bisa melihat kemarahan Sehun melalui kaca Spion nya. Menyesal memberitahu sang iblis bahwa dua saham terbesarnya di Jepang dan Seoul diambil alih oleh Youngmin tanpa kesulitan seolah Youngmin mengetahui siapa saja relasi yang berpengaruh pada bisnis yang dia bangun dengan keringatnya sendiri.

Yeah…tentu saja Youngmin tahu.

Karena hal yang menyulut kemarahan Sehun adalah berita bahwa Kai kembali menghianatinya dengan memberikan semua informasi tentang relasinya pada Youngmin. Awalnya Kai yang Sehun percayakan memegang saham besar miliknya di Korea dan Jepang.

Tapi saat Kai berhenti bekerja, bajingan itu terus menghianati Sehun tanpa henti. Membuat sang mafia rela pergi meninggalkan Luhan hanya untuk melampiaskan kemarahannya pada pria yang pernah ia anggap seperti saudaranya sendiri.

.

.

.

Sementara itu….

"Hyung berhentilah menangis. Sehun akan baik-baik saja."

Sudah setengah jam berlalu saat Sehun menghubungi Luhan. Dan selama setengah jam itu pula Luhan tak berhenti menangis dan hanya terus berada di dalam mobil dengan Kyungsoo yang menemaninya.

"Hyung.."

"hkss.. Aku ingin dia pulang Soo."

Luhan masih menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tangan. Membuat Kyungsoo tergoda untuk menghubungi Sehun untuk meminta bajingan itu segera pulang dan tidak membuat kakaknya menangis "Apa perlu aku menghubunginya?"

Luhan menggeleng lemah. Dia terlalu kesal untuk berdebat dengan Sehun dan hanya memandang adiknya sangat menyesal "Tidak perlu Soo…Lebih baik kita pulang saja, Aku lelah."

"Baiklah kita pulang."

Buru-buru Kyungsoo memakaikan seatbelt pada Luhan lalu memasang seatbelt nya sendiri. Menyalakan mobil dan berniat pergi sebelum suara Luhan kembali terdengar "Soo….Biarkan aku tidur di flat mu malam ini."

Uhuk…!

"Kau sakit lagi?"

Jujur saja Keadaan Kyungsoo semakin buruk setiap jam nya. Batuknya bahkan lebih sering dari sebelumnya dan setiap dia batuk rasa sesak dan sakit akan ia rasakan bersamaan. Jika tak ada Luhan mungkin dia sudah meronta seperti kemarin malam. Tapi keadaannya berbeda saat ini. Kyungsoo harus terlihat kuat agar tak memancing kecurigaan Luhan sedikit pun.

"Hanya karena aku terus batuk bukan berarti aku sakit Hyung." Katanya membela diri sebelum menahan batuknya dan mencari alasan agar bisa keluar sejenak "itu saja." Katanya bersorak dalam hati melihat pedagang gulali favorit Luhan yang berada di pinggir jalan.

"Hyung apa kau mau gulali?"

"Gulali?"

"Ya. Aku akan membelikanmu gulali. Tunggu disini." Katanya melepas seatbelt sebelum

BLAM…!

"Soo-…"

Tanpa jawaban dari Luhan, Kyungsoo berlari mendekati pedagang gulali. Mengambil kesempatan untuk mengeluarkan rasa sakitnya sebelum

Uhuk!

Kyungsoo kembali batuk, kali ini tangannya darah kembali keluar dari dalam tubuhnya. Pandangannya juga mulai kabur namun ia tahu tak jauh darinya mata Luhan sedang memperhatikan tingkah anehnya.

"Paman-..rrhh.."

Kyungsoo memanggil pedagang gulali di depannya. Sedikit menggelengkan kuat kepalanya agar tetap sadar sebelum

"Astaga nak. Kau berdarah."

"sst…Jangan menunjukkan ekspresi seperti itu paman. Kakakku melihatnya disana. Aku mohon."

Buru-buru Kyungsoo mengambil sapu tangannya. Mengelap cepat darah di sudut bibirnya sebelum menoleh dan melambai pada Luhan "Aku pesan satu."

Pedagang gulali itu mengikuti kemana Kyungsoo menoleh. Sedikit merasa iba pada pria yang sepertinya seorang adik namun tak menceritakan keadaannya pada sang kakak "Jika sakit katakan pada kakakmu. Jangan membuatnya merasa sedih karena tak bisa menjaga adiknya dengan baik."

Kyungsoo tahu kemana arah pembicaraan ini. Yang bisa dia lakukan hanya tersenyum lirih sesekali meremat kencang dadanya agar berhenti merasakan sakit "Dia selalu menjagaku dengan baik paman." Katanya menjawab asal. Melihat ke banyak arah agar tidak menangis sampai matanya tak sengaja melihat dua mobil hitam yang berhenti tak jauh dari tempatnya memarkirkan mobil.

Perhatian Kyungsoo teralihkan pada dua mobil yang berada di belakang mobil Luhan. Awalnya dia berfikir itu adalah orang-orang suruhan Sehun yang ditugaskan mengawasi dirinya. Tapi kemudian Kyungsoo menyadari bahwa yang sedari tadi diawasi oleh orang-orang itu bukanlah dirinya melainkan-….Luhan!

Membuatnya sedikit cemas berniat untuk segera kembali pada hyungnya "Paman bisakah kau lebih cepat?"

"Tentu saja. Ini sudah jadi nak."

"Terimakasih paman. Ambil kembaliannya."

Kyungsoo mengambil cepat gulalinya. Mencoba berjalan santai untuk memastikan sebelum perasaannya buruk tentang ini "tidak mungkin mereka mengincar Luhan kan?" katanya bergeming takut dan tetap berusaha tenang sebelum

Blam…!

"Soo aku tidak meminta gulali. Tapi kenapa-..aigoo ini manis sekali."

Luhan mulai bertingkah seperti bayi. Sedetik lalu dia bilang tidak ingin lalu detik berikutnya gulali itu sudah habis setengah. Membuat Kyungsoo yang sedang cemas mau tak mau tertawa dan kembali memakai seatbelt nya.

"Hyung kau jadi menginap di tempatku?"

"Tentu saja."

"Baiklah. akan lebih mudah untukku mengawasimu."

"huh? Kau bicara apa Soo?"

Kyungsoo mulai menyalakan mesin mobilnya. Sesekali melihat spion sebelum menginjak pelan gasnya "Aku bicara kau sangat rakus hyung."

"Ish!"

Kyungsoo mengabaikan rengekan Luhan. Kakinya terus menginjak gas dengan mata yang mengawasi keadaan sekitar. Sebenarnya dia bertanya-tanya dan cukup lega karena dua hal. Pertama mengapa mobil itu tak lagi mengikuti dan sangat bersyukur jika itu hanya firasat buruknya saja sebelum

"Sial!"

"Ada apa Soo?"

Kyungsoo tak menjawab Luhan. Mobil-mobil itu bukannya tidak mengikuti, tapi mereka menunggu di beberapa tempat. Dan yang membuat Kyungsoo memekik marah adalah kenyataan bahwa tak hanya satu atau dua mobil yang mengikuti mereka tapi enam.

"Soo ada apa?"

Luhan berujar panik. Dia tidak mengerti mengapa wajah Kyungsoo kembali memucat dan mobil yang Kyungsoo kemudikan melaju dengan cepat. Entah apa yang terjadi tapi pikiran buruknya menebak bahwa mereka sedang dikejar oleh orang-orang suruhan suaminya.

"Apa itu anak buah Sehun? Apa mereka ingin menyakitimu?"

"Bukan Sehun…Itu bukan suamimu."

Kyungsoo masih fokus menyetir. Mencari cela hingga jalan kecil sebelum menepikan mobilnya di keramaian dekat pusat perbelanjaan "Jika bukan Sehun lalu siapa?"

"Youngmin."

"huh? Siapa kau bilang?"

"Aku mengenal beberapa di antara mereka hyung. Lagipula Sehun tidak akan pernah menyuruh seseorang menyakitiku di depan kedua matamu hyung."

Yang menarik perhatian Luhan bukan kenyataan bahwa seseorang sedang mengejarnya atau Kyungsoo terlihat mencari cara untuk menghindar. Tapi ucapan Kyungsoo yang mengatakan bahwa dia meyakini itu bukan orang-orang Sehun membuatnya tersenyum tanpa alasan "Kenapa kau begitu yakin?"

Kyungsoo mulai melepas jaketnya terburu-buru sebelum melihat Luhan "Karena Sehun tidak akan pernah menempatkan dirimu dalam bahaya. Sekalipun tidak akan pernah. Lagipula mereka tidak melihatku sama sekali tetapi terus memperhatikanmu! Jadi katakan bagaimana mungkin mereka mengincarku jika yang dilihat hanya dirimu?" katanya memberitahu Luhan sebelum

"hyung! Buka mantelmu."

"huh?"

"Cepat!"

Luhan mengikuti perintah Kyungsoo. Dibukanya mantel yang ia gunakan sebelum memberikannya pada sang adik "Ini Soo… Apa yang akan kau lakukan?"

"Mengecoh mereka."

"huh?"

Luhan tidak mengerti sama sekali apa rencana Kyungsoo, yang dia lakukan hanya mengikuti instruksi adiknya yang terlihat berkeringat dan sangat pucat. Saat Kyungsoo mengatakan untuk menukar mantel, Luhan menurutinya. Saat Kyungsoo mengatakan untuk membuka syal yang ia gunakan, Luhan melakukannya.

Entah apa yang dilakukan sang adik. Tapi sepertinya kalimat mengecoh yang Kyungsoo maksud adalah menukar dirinya sendiri menjadi Luhan.

Tunggu!

Luhan sekarang bisa membaca apa yang sedang dilakukan adiknya. Kyungsoo sedang berusaha menjadi dirinya untuk mengecoh mereka. Sang adik bahkan sedang memasukkan banyak pakaian ke perutnya hingga terlihat seperti dirinya yang sedang hamil saat ini.

"Do Kyungsoo jangan bilang kau akan menjadi diriku?"

.

.

.

Tok…Tok…

Sudah lima belas menit Sehun berada di mobilnya. Menunggu dengan tenang Doojon membereskan penjaga yang berjaga di luar markas Youngmin di Daegu sampai akhirnya suara jendela mobilnya diketuk oleh Doojon.

Buru-buru Sehun membuka kaca mobilnya. Masih menggunakan kacamata hitamnya dia tidak menoleh sedikit pun dan hanya bertanya dengan tenang. Terlalu tenang bahkan seperti bisa membunuh dengan suaranya "Bagaimana?"

"Kami sudah membereskan penjaga di depan markas bos. Jumlah mereka terlalu sedikit dari perkiraan kita."

"Dimana bajingan itu?"

"Dia berada di laboratorium bos."

Sehun menyeringai keji. Melepas kacamata hitamnya sebelum memakai dua sarung tangan hitam yang selalu ia gunakan untuk membunuh agar tidak mengotori tangannya "Baiklah. Kita habisi dia."

Doojon membukakan pintu untuk Sehun. Menyadari bahwa Sehun sedang dalam mood nya yang bagus untuk membunuh membuat Doojon sedikit menjaga jarak dari bosnya. Tidak ingin mengatakan kalimat menasehati namun tak memiliki hati untuk melihat partnernya dibunuh.

"Kita masuk."

Setelah memberi perintah beberapa anak buah Sehun berjalan di depan bos mereka. Diikuti Sehun berjalan di tengah dengan Doojon yang selalu berada di belakang bosnya. Berjaga-jaga agar Sehun tidak kekurangan satu apapun saat meninggalkan markas skala kecil milik Youngmin yang berada di Daegu.

Sret…!

Tanpa kesulitan mereka melewati beberapa mayat yang tergeletak di lantai. Tidak ada perasaan menyesal atau bersalah sedikit pun sampai akhirnya mereka sampai di depan laboratorium tempat Kai menyelesaikan proyeknya bersama Youngmin.

"Apa maksudmu seluruh tim ditarik ke Seoul? Bukankah ini terlalu mencurigakan Prof?"

"Entahlah. Beberapa pengawal tangguh termasuk Hyungsik di tarik ke Seoul malam ini. sepertinya mereka memiliki sesuatu yang harus dikerjakan."

"Sesuatu? Apa kau tahu?"

"Soojung yang mengetahuinya."

Sedikit banyak Sehun bisa mencuri dengar percakapan mantan anak buahnya. Rasanya masih sulit mempercayai bahwa Kai yang selalu ia percayakan menjaga Luhannya sedang duduk disana. Terlihat mengerjakan proyek bajingan tua itu dengan tenang sementara dia membocorkan seluruh sahamnya pada Youngmin.

Tangan Sehun mengepal erat melihat begitu marah. Apapun yang coba dilakukan Kai dia tidak mempedulikannya, yang dia pedulikan hanya membalas bajingan itu dan kembali ke Seoul secepat mungkin.

"Aku akan mengambil kopi. Kau mau?"

Kai hanya mengangguk sebagai jawaban. Dan saat pria tua yang dipanggil professor itu berdiri dari kursinya Sehun menginstrusikan anak buahnya untuk bersembunyi. Memastikan bahwa pria tua itu masuk ke perangkap mereka sebelum

Hmpphhh…

Sehun memberikan aba-aba pada Doojon. Dengan satu gerakan cepat Doojon membekap pria tua itu sebelum

Krieet…!

Bunyi patahan leher terdengar sangat memilukan. Karena dengan profesionalnya Doojon memutar kepala profesor tua itu tanpa mengeluarkan suara yang berlebihan. Membuat Sehun tersenyum keji memerintahkan untuk membuang mayat itu hingga tinggalah Kai seorang diri di dalam laboratorium tempat Kai membuat racun yang Sehun gunakan untuk membunuh mantan kekasih Kai sendiri.

"Kalian tunggu disini."

Sehun kembali memberi perintah. Diambilnya tongkat besi yang tersedia di lab dengan pistol dan pisau yang sudah siap di tubuhnya. Sehun dengan keji merampas id card si pria tua sebelum

Sret…!

Menggunakan id card yang ia cur, si mafia berhasil masuk kedalam lab tanpa kesulitan. Bibirnya terus menyeringai keji sebelum

"Profesor kau sudah-…"

Firasat Kai benar adanya saat merasa tempatnya bekerja terlalu sepi, dia juga meyakini bahwa ada penyusup masuk kedalam lab. Terlalu meyakini namun tak menyangka bahwa penyusup yang ia maksud adalah pria yang diam-diam ia rindukan setelah mantan kekasihnya -Kyungsoo- dan istri dari mantan bosnya -Luhan- hingga rasa senang melihat bosnya berdiri di depannya tak berhasil membuatnya untuk tetap bungkam. Karena daripada diam, bibir Kai kini tersenyum begitu lebar.

"Bos?"

Nyatanya sapaan Jongin menyulut kemarahan Sehun. Dan saat pria itu memanggil bos dengan senyum maka hanya kemurkaan dan perasaan dikhianati yang bisa Sehun rasakan pada mantan anak buahnya. "Bajingan berani sekali kau-….BERANI SEKALI KAU MENYAPAKU SEPERTI TIDAK TERJADI APAPUN!"

BUGH!

Sehun mengangkat tongkat besinya. Memukul telak tengkuk Kai hingga mantan kaki tangannya tersungkur seketika di lantai

Uhuk….!

Kai yang masih terhuyung memuntahkan darahnya. Rasanya dia tidak bisa bernafas saat tengkuknya di pukul kencang menggunakan tongkat besi yang Sehun genggam saat ini. Dan seolah tak memberi kesempatannya untuk bernafas. Sehun kembali memukulnya. Sama kencang dengan pukulan pertama dan kali ini mengarahkannya ke dada Kai.

BUGH…!

Uhuk…!

Darah terus Kai keluarkan karena pukulan Kai. Dia pantas menerima semua kemarahan Sehun padanya. Tapi yang tak dia mengerti adalah kenapa Sehun sampai sejauh ini mencarinya. Seolah dia melakukan kesalahan besar hingga membuat sang mafia meninggalkan Seoul dan istrinya.

"B-bos ada apa dengan-uhuk- ada apa denganmu bos?"

"BERANI SEKALI KAU BERTANYA SETELAH MEMBOCORKAN SAHAMKU PADA YOUNGMIN!"

"huh?"

Kai bergumam bingung sebelum

BUGH…!

Sehun kembali memukulinya tanpa ampun. Seluruh tubuhnya kini dipukul tanpa cela hingga rasanya Kai rela mati jika tidak menyadari ada yang salah dari semua tuduhan Sehun dan menganggap kedatangan Sehun ke Daegu malam ini adalah sebuah kesalahan

"bos…Aku tidak pernah membocorka apapun pada-…"

BUGH!

Uhuk…!

Apa yang sebenarnya terjadi? Berfikir Kai…

Kenyataan bahwa sebagian besar penjaga termasuk Hyungsik ditarik ke Seoul sudah merupakan kejanggalan untuk Kai. Youngmin tidak pernah membiarkan markas tempatnya bekerja sepi penjaga. Dia selalu mengerahkan penjagaan ketat mengingat ini adalah proyek besarnya.

Namun saat Youngmin memerintahkan agar seluruh anak buahnya berangkat ke Seoul malam ini dengan kedatangan Sehun di hari yang sama. Maka Kai menebak bahwa semua kesalahpahaman ini memang sengaja ditunjukkan untuk Sehun agar sang mafia meninggalkan Seoul dan membiarkan Luhan seorang diri tanpa pengawasan darinya.

Tubuh Kai bahkan bergedik takut. Bukan karena seluruh pukulan Sehun melainkan kemungkinan seseorang akan menyakiti Luhan di Seoul sungguh membuatnya tak bisa bernafas

"Bos…Luhan.."

"ARGGHHHH!"

Sehun terus memukuli Kai tanpa ampun. Memukul daerah vitalnya berharap mantan kaki tangannya segera mati sebelum

Ckrek….!

Sehun mengokang pistolnya dan mengarahkannya tepat di kepala Kai

"MATI KAU KIM JONGIN…!

"Luhan…"

Jika Kai tidak menyebut nama istrinya, mungkin benar pelurunya sudah bersarang di kepala Kai saat ini. namun saat bibirnya menyebut nama Luhan maka perasaan takut menyelimuti Sehun dalam hitungan detik "APA YANG COBA KAU KATAKAN?"

"Luhan…Luhan dalam bahaya."

"APA MAKSUDMU BAJINGAN?!"

"Aku tidak pernah mengatakan -uhuk!- apapun tentang sahammu bos. Aku sama sekali tidak pernah membuka mulutku untuk menghianatimu lebih jauh. Aku bekerja hanya untuk memata-matai Youngmin yang terus mengincar bayimu bos! -uhuk-.."

"Apa maksudmu?"

Nada Sehun yang tinggi digantikan pertanyaan dengan suara cemasnya. Dia tidak tahu apa yang coba Kai katakan sampai mantan anak buahnya kembali bersuara "Jeju!-…Yang menusuk Luhan di Jeju adalah orang-orang Youngmin!"

"Apa kau bilang?"

"Presdir Park bahkan sudah mengetahui kehamilan Luhan lebih dulu dari dirimu dan Luhan sendiri! Dia memantau segala kehidupan kalian dan memastikan Luhan tidak memiliki alasan untuk mempengaruhimu bos!"

Sehun diam sesaat. Merasa kepalanya sakit dan ingin pecah mendengar penuturan Kai yang terdengar sangat nyata untuk keadaanya saat ini "tidak mungkin…"

Kai terus mengeluarkan darah dari mulutnya. Mencoba untuk menjelaskan dan mengatakan segala kecemasannya pada Sehun "Semua anak buah terbaik Youngmin di tarik ke Seoul malam ini. Lalu di malam yang sama kau datang ke Daegu dan meninggalkan Seoul. Aku yakin-…AKU YAKIN INI SEMUA RENCANA YOUNGMIN UNTUK MENYAKITI LUHAN!"

Semua ucapan Kai terdengar masuk akal untuk Sehun, nyatanya sedari awal perjalanannya kesini hanya perasaan buruk yang menyertainya. Karena berkali-kali dia mencoba untuk tenang maka berkali-kali pula rasa cemas begitu membuatnya sesak.

Tring…!

Sehun menjatuhkan tongkat besi dan pistolnya. Pikirannya kosong. Dia tidak berani menghubungi Luhan sendiri. Dia takut jika dia menghubungi sang istri bukan Luhan yang menjawab melainkan entah bajingan mana yang sudah mendapatkan istrinya.

"Luhan… sayangku…"

BRAK…!

Sehun terjatuh dengan pandangan dan pikiran kosong. Ketakutannya benar-benat tak bisa dikendalikan hingga hanya tubuhnya yang merespon untuk melakukan entah apa yang diinginkan tubuhnya "Jangan Luhan….JANGAN LUHANKU-…DOOJON HUBUNGI LUHAN!"

.

.

.

"Kyungsoo aku menolak rencanamu. Kau bisa mati jika menyamar menjadi diriku."

Kyungsoo mencoba tenang. Dia tahu bahwa seluruh anak buah Youngmin bermain santai, dilihat dari enam mobil yang tersebar mengelilingi mobilnya namun tak melakukan apapun untuk menggertak mereka. Tidak menyergap tidak pula mengejar. Mereka hanya diam seolah menunggu Luhan berjalan sendiri ke arah mereka.

"Hyung dengarkan aku. Ini kesempatanku untuk menebus dosaku pada Ziyu. Aku harus menyelamatkan adiknya karena hidupku sama sekali tidak berharga. Aku-…"

"PIKIRKAN CARA LAIN SOO hkss-…AKU TIDAK MAU KAU TERLUKA!"

Emosi Luhan tidak stabil saat ini. dia merasa begitu takut untuk semua hal. Bayinya, rencana Kyungsoo dan keadaan menakutkan ini sungguh menguras emosinya. Membuat hanya teriakan dengan isakan yang tak kunjung berhenti.

"Hyung…Lu hyung."

Kyungsoo berusaha menggapai wajah Luhan. Di tatapnya dua bola mata rusa di depannya dengan sesekali menghapus air mata hyungnya "Tidak boleh ada yang menyakitimu selagi aku masih hidup. Kau dengar? Tidak satu pun. Jadi hanya dengarkan ucapanku dan ikuti apapun rencanaku hmm…"

Luhan menggeleng ketakutan. Dia bahkan menggenggam kuat tangan adiknya dan menolak untuk melepaskan "Aku tidak mau hkss…Tidak mau Soo."

"Hyung… Lakukan ini demi Sehun. Dia bisa gila jika kau terluka dia bahkan akan membunuh dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi padamu."

"Sehun…Kita harus menghubungi Sehun."

Buru-buru Kyungsoo menahan Luhan. Ditatapnya cemas sang kakak menyadari bahwa salah satu mobil penjaga Youngmin kini berjalan mendekatinya "Kita kehabisan waktu hyung. Aku memiliki rencana. Lakukan rencanaku dan hubungi Sehun. Kau dengar?"

"Aku tidak mau Soo. Aku-…"

"HYUNG!"

"aarhhhh!"

Luhan menjerit takut mendengar teriakan Kyungsoo. Berniat memukul adiknya sebelum wajah lelah Kyungsoo terlihat memohon padanya "Aku benar-benar harus membuatmu keluar dari situasi ini hyung. Aku mohon."

Luhan mencoba mengerti permintaan adiknya. Dia tak lagi menolak, hanya memasang siap tubuhnya sebelum menyetujui untuk mendengarkan rencana Kyungsoo "Apa yang harus aku lakukan?"

"haah…"

Kyungsoo mendesah lega mendengar pertanyaan Luhan. Dia memasang zipper mantelnya yang kini dikenakan Luhan sebelum berbicara serius pada Luhan "Dalam hitungan ketiga kita keluar dari mobil. Aku akan lebih dulu keluar dari mobil. Dan setelah memastikan mereka mengejarku maka giliran kau yang turun dari mobil. Bersembunyilah entah dimana lalu hubungi Woobin atau siapapun yang bisa kau percaya. Kau mengerti hyung?"

"Lalu apa yang akan terjadi padamu."

Kyungsoo tersenyum percaya diri dan memberitahu rencana kakaknya "Mau bagaimanapun juga aku pernah menjadi bagian dari mereka. Jadi aku tahu apa yang harus aku lakukan hyung." Katanyamengerling Luhan sebelum memegang kuat pundak kakaknya. "Dalam hitunganku hyung."

"Soo apa kau yakin dengan rencana gila ini?"

"Satu…"

"Soo aku takut."

AKU JUGA HYUNG!

Kyungsoo menjerit dalam hatinya. Dibanding Luhan dirinyalah yang merasa begitu ketakutan. Kondisinya sangat buruk untuk berada di situasi mengerikan seperti ini, dia takut tidak bisa menjaga Luhan dan akhirnya membuat Luhan tersakiti karena ketidakmampuannya.

Kyungsoo mengumpulkan sisa-sisa rasa percaya dirinya untuk menjaga Luhan. Dia sangat tergoda bisa menebus dosanyapada Ziyu adalah yang membuatnya bersemangat. Dan saat Luhan mengatakan takut maka yang terus dilakukan Kyungsoo hanya berhitung agar mereka bisa melakukan rencana mereka.

"Dua…"

"Soo."

"Hyung kau harus baik-baik saja." Katanya menguatkan Luhan sebelum

"Tiga-…"

Kyungsoo membuka mobilnya tiba-tiba. Berlari meninggalkan Luhan di dalam mobil sampai perhatian pria berbadan besar yang mengira dirinya adalah Luhan kini mengejarnya.

"Soo…"

Luhan menjerit tertahan, namun saat Kyungsoo menyempatkan diri mengerlingnya. Maka hal yang Luhan selanjutnya adalah keluar dari mobil diam-diam dan berlari mencari tempat sembunyi sesuai dengan perintah Kyungsoo.

Tangan Luhan bergetar begitu hebat. Orang pertama yang terlintas di benaknya tentu sang suami. Namun menyadari jarak Sehun terlalu jauh dari Seoul membuatnya mencari orang lain yang bisa diandalkan untuk menolong Kyungsoo dan membawa anak buah dalam jumlah besar.

Luhan bersembunyi di balik pohon besar. Tangannya terus mencari kontak hingga nama Woobin tak sengaja berada di urutan pertama kontak panggilan masuknya. "Woobin-ssi angkat aku mohon."

"Luhan?"

"Woobin…"

"Aku Yunho. Woobin sedang di-…."

"YUNHO AKU MOHON TOLONG AKU!"

"Luhan? ada apa denganmu? Dimana kau?"

"Youngmin-….Mereka."

"BAJINGAN-….DIA BUKAN LUHAN!"

BUGH,..!

Mata Luhan membulat hebat mendengar teriakan. Dia berusaha melihat dan begitu marah mendapati Youngmin berada disana dan tengah memukuli adiknya dengan keji "CEPAT CARI BAJINGAN ITU! AKU YAKIN DIA BELUM JAUH!"

BUGH…!

"SOO!"

Luhan menutup mulutnya kencang. Terlalu mengerikan melihat bagaimana Kyungsoo mencoba melawan namun tak bisa melakukan apapun karena jumlahnya yang tidak sesuai. Membuat Luhan ingin berbuat nekat jika Kyungsoo tidak menatap memperingatkan padanya.

"Luhan! JAWAB AKU!"

"Yunho….Aku ada di sekitar Myeongdong. Aku mohon tolong aku.."

"Luhan dengarkan aku-..Jangan panik dan-…HANYA TUNGGU DISANA KAU DENGAR?"

Luhan mengangguk takut menjawab Yunho. Dia masih bisa mendengar Youngmin berteriak murka terus memanggil namanya sementara dia mengiyakan perintah Yunho "Aku akan tetap disini."

Pip…!

Luhan sama sekali tidak fokus menjawab pertanyaan Yunho. Dia juga tidak yakin akan menepati janjinya untuk terus berada disana mengingat Youngmin terus menyakiti Kyungsoo dan memanggil namanya.

"LUHAN…JIKA KAU TIDAK KELUAR AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUH BAJINGAN KECIL INI!"

"BERHENTI MEMANGGIL LUHAN DAN HANYA BUNUH AKU PRIA TUA SIALAN!"

"BAJINGAAAAN…!"

BUGH!

BUGH!

"Soo…"

Luhan tidak tahan lagi. Dia tidak bisa membiarkan Youngmin membunuh Kyungsoo hanya karena ingin melihat dirinya. Membuatnya nyaris menunjukkan diri sebelum

Drrt…drtt..

"Sehun!"

Luhan dengan cepat menggeser slide nya. Dan dengan tangan bergetar hebat dia mulai menempelkan ponsel di telinganya. "Sa-Sayang hkss.."

"Katakan kau ada di rumah sayang. Katakan kau-…"

"Youngmin mengejarku dan sedang menyiksa Kyungsoo saat ini hksss apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa membiarkan bajingan tua itu membunuh adikku."

"brengsek…ARGHHHH!"

Terdengar suara Sehun bergetar mendengar dimana keberadaan Luhan. Dia begitu putus asa menyadari dengan siapa Luhan berurusan malam ini. rasanya ketakutan Sehun melebihi ketakutan Luhan. Namun dia sadar dia harus kembali fokus agar istrinya bisa memberi arahan pada Luhan "Aku akan segera berada di Seoul. Hanya diam disana dan tunggu aku. Aku akan-…"

"KYUNGSOOOO….!"

"LU? Sayangku? Sayang…"

Luhan berlari menjatuhkan ponselnya begitu saja. Tak lagi dia tepati janjinya pada Kyungsoo ataupun Sehun saat dia berlari menghampiri neraka untuknya. Youngmin bahkan sudah menggores wajah Kyungsoo dengan pisau tajamnya sebelum berakhir menodongkan pistol di kepala Kyungsoo. Pria tua itu tanpa ragu akan menarik pelatuknya jika Luhan tak berlari dan memeluk erat Kyungsoo untuk berhadapan langsung dengan pria yang selalu ingin membunuhnya "AKU DISINI….AKU DISINI BAJINGAN…Do Kyungsoo…adikkukau harus tetap sadar."

Luhan membawa Kyungsoo ke pelukannya. Di peluknya erat tubuh Kyungsoo yang sudah berubah sedingin es sebelum suara bajingan tua itu kembali terdengar "Ibu macam apa yang memaafkan pembunuh putranya dengan mudah. Kau bahkan memeluk si pembunuh tanpa memikirkan bagaimana perasaan Sehun. Kau benar-benar-…"

"DIAAAAAAM…!"

Youngmin tertawa marah. Dia bahkan sudah berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan Luhan sebelum

Sret…!

Dia menjambak rambut Luhan hingga kepala Luhan mendongak menahan sakit "Kau dan bayimu yang pada akhirnya akan diam sialan!-….BAWA MEREKA!"

"Kyungsoo…Soo. Bangun! Mereka akan membawa kita."

Luhan membisikan kalimatnya pada Kyungsoo. Berharap sang adik akan bangun dan menghabisi mereka semua adalah mustahil untuknya saat ini. Membuat Luhan meronta hebat saat beberapa tangan berusaha menariknya sebelum

Nghmmphh….

Luhan tak sadarkan diri saat obat bius dibekap paksa di mulutnya. Membuat Youngmin tersenyum begitu senang karena niatnya untuk menghabisi seluruh keturunan Sehun akan terjadi malam ini "Presdir Park apa perlu kita membunuh mereka sekarang?"

"ck. Tahan dirimu Park Hyungsik. Kita akan bersenang-senang dengan mereka." Katanya memberitahu anak buahnya sebelum menghubungi seseorang "Tabiyaa….Datanglah malam ini ke tempat Ayah. Aku menunggumu anakku."

Dan setelah menghubungi putra tertuanya. Youngmin mematikan cepat ponselnya, merasa begitu menang dengan keadaan ini. Karena setelah misinya membunuh Luhan terlaksana, maka hanya membutuhkan waktu singkat untuk menjadikan Sehun kembali menjadi miliknya seperti TOP yang selalu menjadi miliknya "arhh..Aku tak sabar."

.

.

.

.

Sementara itu…

"LU? Sayangku? Sayang-….LUHAAAAN!"

"AKU DISINI….AKU DISINI BAJINGAN…Do Kyungsoo…adikku kau harus tetap sadar"

Sehun masih bisa mendengar percakapan Luhan di ponselnya. Istrinya terdengar begitu ketakutan namun terus menantang Youngmin. Membuat tangan Sehun terkulai lemas menyadari bahwa jika terjadi sesuatu yang mengerikan pada Luhan dan bayinya. Maka dia bersumpah tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.

"DIAAAAM…"

"Lu…"

Krieet…!

Dan setelah teriakan murka Luhan terdengar-…Sambungan terputus. Seseorang menghancurkan ponsel istrinya. Hingga tak ada lagi yang tersisa untuk Sehun selain rasa takutnya yang begitu menghancurkan hatinya. "Luhan? Lu? Sayangku?-…LUHAAAN!"

"Bos? Kita tidak bisa melacak Luhan. Sinyalnya hilang begitu pula dengan ponsel Kyungsoo."

Sehun menjambak kencang rambutnya. Berfikir kemana mungkin Youngmin membawa istrinya walau tak ada gambaran sama sekali untuknya "Kemana bajingan itu membawa istriku? Kemana? Berfikir Sehun-…BERFIKIR BAJINGAN!"

Sehun terus menjambak kencang rambutnya. Terlalu kencang hingga wajahnya memerah, tempat yang dijadikan Youngmin untuk menyakiti istrinya pastilah adalah tempat yang sama sekali tak ia ketahui. "Kemana dia akan membawa Luhan? kemana?"

"b-bos-…"

Kai memanggil lirih bosnya. Merasa Sehun belum kehilangan kesempatan mengingat satu orang di tempat ini pastilah tau kemana Youngmin membawa Luhan "Aku rasa ada satu orang yang mengetahui kemana Presdir Park membawa Luhan. Aku yakin dia mengetahui keberadaan Luhan."

Ucapan Kai terasa seperti oasis di tengah gurun untuk Sehun. Membuat pandangan yang semula hanya dipenuhi kebencian dan kemarahan kini berubah menjadi sendu dan penuh permohonan. Air mata Sehun bahkan berkali-kali menetes sebelum terdengar lirih memohon pada mantan anak buahnya "Siapa yang kau bicarakan?"

.

.

.

Sepuluh menit kemudian…

.

.

"Kai aku membawakan sampel baru untukmu sayang."

Keadaan di lab sudah dibersihkan. Tak ada lagi mayat yang tergeletak di lantai ataupun noda darah di sekitar lab tempat Kai dan seorang wanita iblis bekerja sama. Kai bahkan sudah mencuci cepat wajahnya agar tidak terlihat mencurigakan dan memakai masker di wajahnya. Tidak bergeming sampai si wanita duduk di sampingnya terlihat sangat bahagia.

"Kau terlihat bahagia."

Soojung -wanita sekaligus partner- yang bekerja dengannya hampir tiga bulan ini jelas tidak bisa menyembunyikan wajah bahagianya. Dan entah untuk alasan apa dia terus tersenyum hingga rasa muak jelas dirasakan Kai saat melihatnya "eoh…Aku sedang bahagia karena akhirnya hanya kita berdua di tempat ini."

"Bukan karena Presdir Park berhasil membawa Luhan?"

"huh?"

"Aku tahu dia sudah mendapatkan Luhan."

"Mungkin kau salah dengar."

Kai tahu Soojung masih mengelak pertanyaannya. Membuatnya harus memutar otak agar wanita disampingnya segera bicara dan tak membuang banyak waktu "Aku senang akhirnya Luhan bisa dihabisi."

"brengsek…!"

"Bos tenanglah. Kai hanya mencoba menarik perhatian Krystal."

Dua orang yang berada tak jauh dari tempat Kai terlihat serius mendengarkan percakapan Kai dengan Krystal. Sampai salah satunya menggeram marah saat nama sang istri disebut dan terdengar ingin disakiti "Tenanglah bos."

Doojon bahkan harus menikmati kemarahan Sehun sebelum suara Krystal kembali terdengar "Kau senang Luhan dihabisi?"

Tanpa ragu Kai menjawab "Ya." Membuat wajah Soojung tiba-tiba berbinar hebat menyadari bahwa pria yang dia cintai jelas sudah membenci semua yang berkaitan dengan Sehun dan masa lalunya. "Tapi sejak kapan?" katanya mencoba menahan diri untuk tidak terlihat senang dan terus memancing Kai untuk membuat pengakuan.

"Sejak kita kembali menjadi partner-…Aku sangat bahagia dan sangat membenci masa laluku."

Krystal sedikit menarik kerah baju Kai. Keduanya berhadapan langsung sampai dia dengan lancang melumat kasar bibir Kai. Mencari kebenaran dari ucapan pria yang pernah sangat loyal pada Sehun hingga tanpa ragu membuktikannya dengan ciuman.

Kai pun mengerti kemana iblis ini ingin menguji. Membuatnya dengan benci mengikuti permainan Krystal dan mulai membalas lumatan wanita sialan di depannya.

"nghh…"

Dengan sengaja Krystal mendesah menjijikan di telinga Kai. Membuat si pria berkulit tan terus meladeni sampai akhirnya menemukan jeda untuk mendorong tubuh wanita sialan ini menjauh darinya "Cukup." Katanya memperingatkan namun tak diabaikan Krystal yang kini bergelayut manja di lengannya.

"Butuh sepuluh tahun sampai akhirnya kau menciumku."

"bajingan."

Kai menggeram kecil dengan tangan terkepal. Kesabarannya benar-benar diuji hanya untuk menunggu wanita sialan ini membuka suara dan mengatakan dimana Youngmin membawa Luhan "Alih-alih Hyungsik, Aku lebih merekomendasikanmu untuk malam ini jika tahu kau sudah sangat membenci Sehun."

"Untuk malam ini?"

"eoh…Presdir Park dan seluruh orang-orang yang dia pilih akan turun dan melihat sendiri bagaimana mereka harus menghabisi dokter sialan itu."

"Menghabisi?"

Krystal diam sejenak. Menimbang harus memberitahu semuanya pada Kai atau hanya diam saja seperti perintah Youngmin. "Soojung-a."

Mendengar Kai memanggil nama kecilnya adalah hal yang nyaris tidak pernah terjadi selama sepuluh tahun mereka mengenal. Dan saat suara berat itu memanggil nama kecilnya maka tak ada keraguan untuk Krystal memberitahu apa rencana Youngmin malam ini

"Presdir Park akan membunuh Luhan malam ini."

Nafas Sehun memburu hebat. Kemarahannya mendengar pengakuan langsung kaki tangan Youngmin adalah hal yang membuatnya sangat tergoda untuk membunuh langsung wanita sialan itu. Namun saat tangan Doojon kembali memegang lengannya. Maka Sehun mengerti bahwa keberadaan mereka disini akan sia-sia jika Krystal mati begitu saja.

Sehun mencoba mengerti namun sepertinya tidak dengan Kai. Lelaki yang pernah menjaga Luhan untuk waktu yang lama itu terlihat sangat marah. Tangannya semakin mengepal erat dengan nafas yang terdengar pendek untuk dihembuskan "Membunuh Luhan?" suaranya terdengar bergetar namun tetap tersenyum untuk menyembunyikan kemarahannya.

"Ya. Mereka akan membunuh Luhan malam ini."

"Di Seoul?"

"Di markas pertama kita."

Kai diam-diam menyeringai menerima jawaban yang sedari tadi ia tunggu. Kenyataannya dia tak perlu lagi berpura-pura bertanya karena nyatanya tangan yang sudah mengepal erat itu diam-diam mengambil sesuatu di belakang tubuhnya "Tapi kau tahu Kai?"

"Apa?"

"Presdir Park mengatakan Sehun akan datang kesini untuk menemuimu. Tapi aku rasa dia-…"

Ckrek…!

Krystal mendengar suara pistol di kokang. Membuatnya dengan cepat menoleh sebelum membelalak takut melihat Doojon mengarahkan senjata padanya dengan Sehun terlihat begitu murka berada tak jauh darinya "Apa yang-..APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?"

Krystal menekan tombol daruratnya. Memaki seluruh anak buah yang tak kunjung datang sampai akhirnya harus berhadapan langsung dengan pria yang begitu menakutkan untuknya "Kai lakukan sesuatu. Dia disini untuk membunuh kita."

Krystal bergumam panik menatap Kai. Bertanya-tanya mengapa Kai terlihat sangat tenang sampai Sehun kembali bersuara "Aku mungkin akan mempertimbangkan Kai tapi tidak akan pernah mempertimbangkanmu Krys…"

"APA MAKSUDMU?"

Krystal mengambil cepat pisau dan menodongkannya tepat di wajah Sehun. Dia berusaha menggertak Sehun namun percuma karena Kai sudah membuang cepat pisaunya saat ini "APA YANG KAU LAKUKAN KAI?"

"Aku benar-benar menunggu saat ini."

"MENUNGGU APA-….SIAL! SIAPAPUN TOLONG AKU!"

"Percuma Krys….Mereka sudah mati."

Kai membuat gerakan memeluk Krystal dari belakang. Dilingkarkannya tangan di sekitar leher Krystal sebelum membisikkan kalimat mengerikannya "Dan kau harus segera menyusul mereka Soojung-a.."

Memanggil nama kecil Krystal adalah hal terakhir yang Kai lakukan sebelum

Krekk…!

Dalam satu gerakan dia memutar leher Krystal. Melakukannya dengan pelan dan keji hingga hanya mayat yang kini berada di pelukannya. matanya berbinar bahagia saat membunuh partner kejinya. "Aku berharap bisa membunuhmu lebih awal Krys.." katanya menggeram sebelum

BRAK…!

Dijatuhkan begitu saja tubuh tak bernyawa milik Krsytal sebelum dirinya menatap langsung pada Sehun "Izinkan aku kembali ke Seoul. Aku ingin menolong Luhan."

Sehun menatap kesungguhan di mata pria yang pernah ia percayakan segala hal untuknya. Menimbang apakah harus mengikut sertakan dirinya atau hanya membunuh pria di depannya seperti tujuannya semula.

Sementara Sehun tak kunjung memberikan jawabannya. Maka Kai juga terus mencoba agar mendapatkan kembali kepercayaan Sehun. Keduanya terus bertatapan dalam diam sebelum

Drrtt….drrtt…

Sehun melihat sekilas ponselnya. Bertanya-tanya mengapa Yunho menghubunginya sebelum

Sret…!

"Yun-…"

"DIMANA KAU BAJINGAN?"

"brengsek! Ada apa denganmu? Kenapa kau berteriak?"

"LALU APA YANG HARUS AKU LAKUKAN SAAT ISTRIMU MEMINTA BANTUAN TAPI AKU TIDAK BISA MENEMUKANNYA DI TEMPAT KAMI MEMBUAT JANJI!"

"huh? Apa maksudmu? Apa Luhan menghubungimu?"

"YA…DAN KAU MAU TAHU APA YANG AKU TEMUKAN?"

Dahi Sehun berkeringat dingin. Pikirannya kembali kosong tak berani mendengarkan ucapan Yunho namun harus tetap bertanya untuk memastikan keadaan istrinya "Apa-…Apa yang kau temukan?"

"Seseorang menghancurkan ponselnya. Aku juga bisa menemukan mobilmu disini. Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Jung Yunho."

Sehun mencoba mengembalikan akal sehatnya. Dia tidak mau mengikuti rasa takutnya mengingat bahwa sang istri sedang menunggu kedatangannya. Ya-…Sehun tahu dia tidak akan bisa segera sampai di Seoul. Dia juga tahu waktu yang harus ia tempuh untuk kembali bertemu dengan istrinya adalah dua jam.

Dan karena alasan itu pula dia selalu merasa ketakutan. Takut jika pada akhirnya dia terlambat dan tak bisa melakukan apapun untuk menolong sang istri. Namun cerita berbeda dia miliki saat Yunho menghubunginya-…ya! Dia bisa mempercayai Yunho. Membuat sesuatu dalam diri Sehun kembali berkobar marah dan penuh harap meminta bantuan pada "saudara" yang tumbuh besar bersamanya di bawah pengawasan Youngmin.

"Ada apa?"

"Markas pertama kita. Kau ingat?"

"Tempat kita dibesarkan?"

"Ya. Kau ingat?"

"Tentu saja. Ada apa?"

"Istriku-….Youngmin membawa istriku ke tempat itu. Bisakah kau-…"

"shit!-…Bajingan tua itu juga pernah membawa Jaejoong ke markas pertama kita. Dan apapun hal yang akan dia lakukan pada istri kita. Aku yakin itu bukan hal yang baik Oh Sehun."

"Yunho…"

"Aku akan memastikan Luhan baik-baik saja. Hanya-….HANYA CEPAT KEMBALI BRENGSEK!"

Pip…!

Kelegaan luar biasa Sehun rasakan dalam hitungan detik. Karena saat Yunho bersedia untuk memastikan keadaan istrinya maka yang perlu Sehun lakukan hanya kembali ke Seoul secepat mungkin dan memastikan dengan mata dan tangannya sendiri bahwa Luhan baik-baik saja tanpa kekurangan satu apapun.

Pip…!

Sehun juga mematikan ponselnya. Memutuskan untuk segera pergi meninggalkan markas sialan ini sebelum berfikir untuk Mencari back up sebanyak mungkin yang bisa membantunya menyelamatkan Luhan.

Katakanlah Sehun tidak memiliki banyak pilihan -tidak- dia memang tidak memiliki banyak pilihan mengingat hanya ada Doojon dan Kai yang memiliki kemampuan pro yang dia butuhkan untuk memastikan bahwa Luhan akan lebih baik dikelilingi orang seperti mereka. Membuat Sehun berfikir sejenak hingga akhirnya Kai menjadi salah satu pilihan terbaiknya malam ini

"Ikut denganku!"

.

.

.

.

.

.

.

This is not the end Soo-ya….

.

.

.

.

"BANGUUUUN!"

Entah suara siapa yang berteriak, yang jelas teriakannya terdengar sangat mengerikan. Luhan yang dipaksa tak sadarkan diri kini berusaha membuka kedua matanya. Berjaga-jaga jika perintah Bangun itu ditunjukkan untuknya dan bukan adiknya "nghh.."

Penglihatannya masih kabur untuk beberapa saat. Dan ketika Luhan mencoba untuk mendapatkan penglihatannya. Maka yang bisa dia rasakan adalah kedua tangannya terikat di sebuah kursi dengan banyak orang yang memperhatikannya.

BUGH…!

"AKU BILANG BANGUN!"

Tidak…Teriakan itu bukan ditujukan untuknya. Banyak orang itu juga tidak memperhatikan dirinya. Mereka memang berdiri tepat di depannya tapi bukan untuk melihatnya. Semua teriakan dan makian itu ditujukan untuk seseorang. Seseorang yang terlihat sangat kesakitan entah karena pukulan atau darah yang terus keluar dari mulutnya.

"Kyungsoo.."

Luhan berhasil menggumamkan kecil nama adiknya. Berniat untuk berteriak namun suaranya tercekat di kerongkongan dengan rasa perih di pergelangan tangannya yang terikat. Entah apa tujuan Youngmin menyakiti adiknya. Yang jelas ini sudah melewati batas dan Luhan murka melihatnya.

"Hanya Sehun yang boleh membunuhku."

Pehatian Luhan tertuju pada Kyungsoo kali ini. Adiknya jelas sudah menunjukkan wajah kesakitan dan kemampuan seorang manusia untuk bertahan dari pukulan. Namun entah mengapa dia memiliki tekad untuk bertahan hidup walau menggumamkan kalimat Hanya Sehun yang boleh membunuhku dengan wajah tenangnya.

Sontak ucapan Kyungsoo membuat pemuda yang sedang memukulinya menggeram marah. Diangkatnya tongkat yang ia gunakan untuk menyiksa Kyungsoo lalu tak lama berjalan mendekati pria yang tak bisa bertahan lebih lama lagi untuk membuka mata.

"Tidak…"

Luhan menggeliat resah di kursinya. Berusaha untuk menghentikan bajingan yang terus memukuli adiknya walau percuma karena jiwa iblis pemuda itu bahkan sangat terlihat di mata Luhan saat ini "Berhenti…"

Diarahkannya tongkat pemukul itu tepat di kepala Kyungsoo sebelum

"KYUNGSOO / PARK HYUNGSIK!"

Dua suara teriakan berbeda di teriakan dua orang berbeda pula saat ini. Dimana yang satu terdengar sangat ketakutan sementara yang satu terdengar sangat marah. Luhan sedikit bersyukur dengan kedatangan seseorang yang meneriaki pemuda bernama Hyungsik.

Dia bahkan tersenyum sampai senyumnya digantikan raut kemarahan yang menunjukkan bahwa dia sangat kecewa bahwa pria yang sedang memasuki gedung tua itu adalah pria yang sama yang sangat ingin membunuhnya "bajingan."

Luhan mengumpat marah. Adrenalinnya memicu hebat tiap kali melihat pria tua itu di depan matanya. Karena untuk kali pertama dalam hidupnya Luhan sangat ingin membunuh dan orang yang sangat ingin dia bunuh kini berada di depan matanya "PARK YOUNGMIN!"

Bajingan tua itu melihat bagaimana Luhan berteriak memanggilnya penuh kebencian. Sedikit memandangnya cukup lama sebelum seringaian muncul di wajah tuanya yang begitu menjijikan untuk Luhan "Giliranmu nanti bajingan." Katanya memperingatkan Luhan sebelum

BUGH…!

Tongkat yang biasa ia gunakan untuk berjalan kini berubah fungsi sebagai tongkat pemukul. Dia dengan tangannya sendiri memukul pemuda yang sebelumnya selalu bekerja di lab bersama Kai dan Soojung dengan tatapan murka pada amatir sepertinya "APA KAU TIDAK DENGAR PERINTAHKU? JANGAN MENYENTUH MEREKA TANPA IZINKU. BAJINGAN!"

Youngmin memukuli Hyungsik tanpa ampun. Rasanya tongkat itu sangat menyakitkan terlihat dari banyak darah yang dikeluarkan Hyungsik tanpa hitungan waktu. Dan sepertinya Youngmin tidak berniat berhenti memukuli Hyungsik sebelum satu suara mengingatkan padanya.

"Presdir Park…"

Luhan kembali menoleh melihat suara yang terdengar berat memanggil Youngmin. Hatinya bahkan merasakan kelegaan melihat pria yang pernah mengatakan menyukainya kini berada di pintu masuk terlihat sama mengerikannya dengan sang suami. "Seunghyun…"

Pria yang kerap dipanggil TOP itu mendengar suara Luhan memanggilnya. Dia menoleh dan menatap Luhan cukup lama sampai akhirnya dia memalingkan wajah dan kini berjalan mendekati Youngmin "Ini vial yang kau inginkan Presdir."

Youngmin mengeluarkan sapu tangannya. Dihapusnya darah Hyungsik yang mengotori tongkatnya sebelum mengambil vial yang diberikan "putra" tertuanya dengan wajah bangga dan puas "Hanya kau yang selalu membuat ayah bangga nak." Katanya memuji TOP walau yang dipuji terus menatap Luhan sedikit tak berkedip. Seolah menatap iba namun tak bisa melakukan apapun untuk membantah keinginan pria tua di depannya.

"Haah~ Kau tahu dokter Oh?"

Youngmin berjalan mendekati Kyungsoo dengan mata yang tak lepas memandang Luhan. "Apa isi vial ini?" katanya kembali bertanya pada Luhan yang kini bergerak cemas di tempatnya "Apa yang kau lakukan?"

Luhan mencoba meronta di ikatannya. Entah apa yang akan Youngmin lakukan, tapi bajingan tua itu kini memasukkan entah vial apa yang dia pegang ke dalam jarum suntik. "ah-…Kau pasti bertanya-tanya mengapa adikmu terlihat sakit walau hasil tes sederhananya mengatakan dia baik-baik saja kan?"

Mata Luhan membulat sempurna. Kemarahannya digantikan rasa ingin tahu mengapa Youngmin bisa mengetahui kondisi terakhir dari Kyungsoo "Bagaimana kau tahu?"

"Bagaimana aku tahu? Tentu saja aku tahu. Ah-…Aku juga bertaruh Sehun tahu mengenai kondisi adikmu yang sekarat."

"hyung jangan dengarkan –uhuk!- jangan dengarkan dia!-…arhh"

Youngmin dengan keji menjambak rambut Kyungsoo sementara pikiran Luhan kosong menyadari kemungkinan bahwa kondisi adiknya yang tak bisa dijelaskan kembali berhubungan dengan suaminya "Apa maksudmu?"

"Maksudku? Bagaimana kalau aku mengatakan bahwa Sehun yang bertanggung jawab atas kondisi adikmu? Satu bulan yang lalu dia menyuntikkan vial racun ini pada Kyungsoo dan taraaa-…."

"Tidak mungkin."

Luhan bereaksi mendengar penuturan bajingan di depannya. Berkali-kali dia mencoba mengelak namun berkali-kali pula rasanya semua itu terdengar benar dan nyata bahwa suaminya lah yang bertanggung jawab atas kondisi Kyungsoo

"Sayangnya itu terjadi. Suamimu bertanggung jawab atas kondisi Kyungsoo. Dia memberikan injeksi racun yang perlahan namun secara ganas merusak organ vital adikmu dokter Oh."

"DIAAAAAM…"

"Dan yang tidak Sehun ketahui adalah sampel yang aku berikan lebih mematikan dari yang dia ketahui. Jadi katakan pada Sehun bahwa dia -….urhhh!"

Kyungsoo membuat gerakan cepat. Dicekiknya Youngmin sangat erat dan tak mempedulikan apa yang akan terjadi padanya setelah ini "Kau terlalu banyak bicara bajingan. Kau-…"

BUGH!

"SEUNGHYUN!"

Uhuk…!

Kyungsoo kembali mengeluarkan darahnya saat TOP memukul kencang dadanya. Dan bersamaan dengan tersungkurnya ia kembali ke tanah, maka sudah dipastikan bahwa Kyungsoo tak bisa lagi menghindar dari kemurkaan seorang Park Youngmin.

"SAMPAAAH! BERANI SEKALI KAU PADAKU!"

Youngmin mengambil jarum suntiknya yang tergeletak. Dengan langkah pasti dia mendekati Kyungsoo dan

Sret…!

Youngmin kembali menjambak Kyungsoo. Kali ini memastikan bahwa kedua kakak-beradik sialan di depannya saling bertatapan "Aku akan membantu Sehun untuk membuatnya mati lebih cepat." Katanya memberitahu Luhan sebelum beralih pada Kyungsoo "Setelah ini rasa sakitnya tidak akan bisa lagi kau tahan."

Youngmin kembali menjambak Kyungsoo, memastikan bahwa pria itu kembali merasakan sakit sebelumtanpa ragu menyuntikan racun ke leher Kyungsoo tanpa ragu. "Tahan…Rasa sakitnya sebentar lagi." Katanya membisikan kalimat keji pada Kyungsoo sebelum

Sret…!

Dia melepas paksa jarum suntik dari leher Kyungsoo. Bersiap menikmati adegan di depannya yang akan sangat menghibur dirinya.

"aarrhhh….."

Dalam hitungan detik Kyungsoo menggelepar di lantai. Wajahnya berubah menjadi merah dengan bibir dan hidung yang terus mengeluarkan darah.

"uhuk..! RRRHHHGGGG…"

"KYUNGSOOO!"

Luhan meronta hebat di ikatannya namun percuma karena hanya rasa panas di tangan yang ia rasakan "KYUNGSOOO….SEUNGHYUN AKU MOHON TOLONG ADIKKU!"

Luhan menjerit memohon pada TOP. Membuat pria yang masih sangat loyal pada Youngmin itu hanya bisa menatap menyesal pada Luhan sebelum mengalihkan pandangannya tanda bahwa dia tak bisa melakukan apapun.

"rrrhhh…."

Wajah Kyungsoo memucat seketika. Dia terus memegang kepalanya kuat seolah kepalanya akan meledak kapan saja. "KYUNGSOO!"

Kyungsoo mendengar jeritan Luhan. Matanya yang sudah nyaris tertutup kembali terbuka. Mereka saling berpandangan cukup lama. Menyalurkan rasa rindu mereka sebelum Kyungsoo tersenyum seolah mengucapkan salam perpisahan pada kakaknya "saranghae hyung…"

"Soo…hkkss…bertahanlah."

Kyungsoo mengangguk menyanggupi permintaan Luhan. Walau rasanya tak mungkin dia akan bertahan namun nyatanya dia akan melakukan segala hal untuk bertahan dan tidak membuat Luhan merasa tertekan.

"HABISI DIA!"

"Tidak…."

Luhan menggeram takut mendengar perintah Youngmin. Dia terus mencari cara agar Youngmin menghentikan perintah kejinya untuk Kyungsoo "HENTIKAN BAJINGAN! KAU TIDAK BISA MEMBUNUH KYUNGSOO!"

Nyatanya teriakan Luhan hanya dihadiahi seringaian oleh Youngmin. Karena daripada mendengarkan pria tua itu terus memberi perintah yang disambut sorakan senang dari Hyungsik "Aku yang akan menghabisinya Presdir Park."

"Lakukan."

Hyungsik kembali mengeluarkan pistolnya. Kali ini mengokang cepat pistol miliknya sebelum mengarahkan tepat di kepala Kyungsoo "Park Youngmin…Aku mohon jauhi adikku, kau tidak bisa menyakitinya."

Youngmin terus tertawa menikmati wajah Luhan yang terlihat panik. Berniat untuk terus menikmatinya sebelum kembali memberi perintah pada Hyungsik "Tarik pelatukmu."

"Soo-…SEUNGHYUN LAKUKAN SESUATU UNTUK KYUNGSOO!"

"SEKARANG!"

"ANDWAEEEE-…."

Hyungsik bahkan sudah menekan pelatuknya sebelum

Dor…!

"Arghh!"

Bukan Kyungsoo yang memekik sakit melainkan Hyungsik.

Tangan pria itu kini berdarah dengan pistol yang tergeletak di lantai begitu saja. Keadaan menjadi tegang tatkala wajah Youngmin berubah menjadi murka dengan Luhan yang bersumpah akan mengucapkan terimakasih pada siapapun yang baru saja menolong adiknya.

"bajingan! SIAPA YANG BERANI MELAWAN PERINTAHKU HAH?!"

"Aku…"

Terdengar suara berat lainnya memasuki ruangan. Kali ini sungguh wajah Luhan dibuat berbinar mengetahui siapa yang datang sementara Youngmin dan Seunghyun menunjukkan ketidakpercayaan mereka melihat siapa yang kini masuk kedalam markas pertama mereka.

"Yunho…Woobin…MAX!"

Luhan menangis sangat lega melihat dua partner suaminya memasuki ruangan. Dan saat melihat Max ikut berada di barisan Yunho maka Luhan tak bisa menahan diri untuk berteriak sangat bersyukur.

"Kau!"

Sementara Luhan dibuat takjub, maka Seunghyun terpaksa menggeram marah. Dia sama sekali tak mempercayai apa yang dia lihat. Kenyataan bahwa "adik" nya datang tanpa diundang seperti menunjukkan bahwa mereka benar-benar memberontak dan akan melakukan apapun yang bertentangan dengan apapun tujuan mereka malam ini.

"Hyung…"

Yunho menyapa asal Seunghyun. Keduanya bertatapan penuh kobaran api dengan tujuan berbeda. Jika Yunho ingin sekali membunuh pria yang dilindungi Seunghyun maka Seunghyun juga melakukan hal sama untuk melindungi "ayah" yang telah membesarkan mereka.

"Apa yang kau lakukan disini JUNG YUNHO!"

"Aku? Ah-…. Aku hanya ingin memastikan istri Sehun pulang dalam keadaan selamat dan tak kurang satu apapun hyung….Max." katanya memanggil Max yang segera menghadap Yunho tanpa rasa takut.

"Ya direktur Jung?"

"Lepaskan Luhan. Kau akan mendapat pengawalan penuh."

Max mengangguk cepat. Langkahnya tanpa ragu mendekati Luhan dengan seluruh anak buah Yunho melindunginya.

"APA YANG KAU LAKUKAN JUNG YUNHO?!"

"Sesuatu yang harusnya aku lakukan sejak lama. AKU HARUSNYA SUDAH MEMBUNUHMU SAAT KAU MENYEKAP JAEJOONGKU DITEMPAT YANG SAMA!"

"YUNHOOO!"

Seunghyun tahu kondisi ini sudah memancing kemarahan Youngmin. Dia seperti tinggal menunggu bom waktu sampai Youngmin memerintahkan dirinya membunuh Yunho –tidak- dia tidak akan pernah bisa menerima perintah itu. Membuatnya menyela seluruh ucapan Yunho berharap adiknya segera menyudahi semuanya dengan Youngmin.

"Kenapa kau berteriak hyung? Kau takut?"

Sementara ketegangan tak bisa disembunyikan lagi Oleh Yunho maupun Seunghyun. Maka Max terus berjalan mendekati Luhan. Hatinya begitu hancur melihat Kyungsoo mengerang kesakitan tak jauh dari tempat Luhan disekap. "Luhan…"

Seolah mengerti permintaan Kyungsoo, Max mengangguk. Di dekatinya Luhan yang terlihat sangat pucat dan begitu ketakutan sebelum mengambil posisi mendekati istri dari bos yang paling dihormatinya. "Max…"

"Tahan Lu."

Max sudah berada di belakang Luhan. Sedang menggunakan pisaunya untuk memotong tali di tangan Luhan sebelum

Sret…!

"SOO!"

Selepasnya ikatan di tangannya. Luhan berlari gontai menuju tempat Kyungsoo berada. Membuat sontak seluruh anak buah Youngmin menodongkan senjatanya pada Luhan lalu dibalas dengan aba-aba Yunho yang memerintahkan anak buahnya untuk berjaga.

"Soo…Hey Soo.."

Luhan memangku kepala Kyungsoo di pahanya. Dihapusnya keringat yang memenuhi tubuh Kyungsoo dengan darah yang tak mau berhenti keluar dari bibirnya "Soo…"

Luhan menyatukan dahinya di dahi Kyungsoo. Memeriksa suhu tubuh Kyungsoo lalu kemudian menjerit panik menyadari bahwa suhu tubuh adiknya sangat dingin "YUNHO! AKU HARUS MEMBAWANYA KE RUMAH SAKIT!"

Yunho menimbang-nimbang permintaan Luhan. Dalam keadaan seperti ini dia membutuhkan Sehun, Jika keputusan dia buat tanpa persetujuan Sehun maka kemungkinan Luhan terluka akan semakin besar.

"SEKARANG!"

Yunho sadar permintaan Luhan bukan tanpa alasan. Dilihatnya kondisi Kyungsoo yang sudah tak sadarkan diri dengan hidung yang tak berhenti mengeluarkan darah. Dia juga bukan orang bodoh yang akan mengatakan bahwa kondisi Kyungsoo tidak serius jika melihatnya saja sudah ikut membuatnya merasakan sakit.

Membuat Yunho mengerling Woobin sebelum meminta Woobin untuk memback-up Luhan sampai ke mobil "Lakukan. Aku melindungimu."

"Oke hyung."

"DIAM DI TEMPAT!"

Bersamaan dengan langkah kaki Woobin, maka Seunghyun dengan berat hati harus menentang perintah Yunho "Jangan bergerak Kim Woobin."

"Jalan. Aku melindungimu."

Woobin tentu mempercayai Yunho. Lagipula dia meyakini bahwa Seunghyun hanya menggertak mengingat kakak sulung mereka adalah yang paling tidak bisa melihat salah satu dari Yunho, Sehun ataupun dirinya terluka.

Ya-…itu adalah hal yang Woobin yakini sebelum

"KIM WOOBIN!"

DOR!

Setidaknya kali ini Seunghyun membuktikan dia berada di pihak siapa. Karena saat Woobin kembali melangkahkan kakinya maka dia tanpa ragu menekan pelatuknya. Beruntung Yunho menyadarinya hingga hanya goresan yang mengenai Woobin tanpa luka parah di lengannya.

"Kau tidak terluka?"

Woobin hanya menggeram marah melihat goresan di lengannya. Setelahnya dia mengangguk menjawab Yunho namun matanya tak bisa menyembunyikan betapa kecewanya dia dan Yunho pada Seunghyun.

"Apa yang kau lakukan hyung?"

"Aku bilang pergi berarti kalian harus pergi!"

"Cih! Kami akan pergi bersama Luhan dan Kyungsoo. Setelahnya kalian bebas melakukan apapun!"

Kali ini Yunho yang berjalan tanpa ragu mendekati Luhan. Membuat Seunghyun benar-benar tidak memiliki pilihan lain selain

DOR…!

DOR…!

Dia mengiringi langkah Yunho dengan tembakan. Tidak mengenai hanya memperingatkan, membuat Yunho secara otomatis mengokang pistolnya dan

Ckrek!

"CHOI SEUNGHYUN!"

Sejujurnya bukan ini yang Youngmin inginkan. Melihat ketiga putra yang ia besarkan akan saling membunuh tentu menyakitinya sebagai seorang ayah. Namun saat putra nomor dua dan si bungsu menyatakan penghianatan mereka. Maka sebagai seorang mafia yang perlu dia lakukan hanya menghabisi siapapun yang berani menentangnya.

"Choi Seunghyun."

Seunghyun memiliki firasat buruk saat ini. Ditatapnya bajingan keji disampingnya dengan tangan yang masih mengarahkan senjata pada Yunho.

"Ya."

Youngmin sendiri menatap murka pada dua "anak" yang dibesarkannya. Tak menyangka bahwa "senjata" yang dia besarkan kini berbalik menyerangnya. Membuatnya melirik satu-satunya "putra" yang tak meninggalkannya sebelum menyeringai dan tanpa ragu memberi perintah

"Habisi mereka."

.

.

.

I've been betrayed by people I Love….

.

.

.

BLAM…!

"KALIAN MENYEBAR DAN PASTIKAN MENDAPATKAN LUHAN. MENGERTI?!"

Terlihat Doojon mengarahkan anak buah Sehun. Memastikan bahwa mereka tidak kalah jumlah mengingat Youngmin membawa hampir seluruh orang terbaiknya.

"Sementara kalian back up Direktur Oh."

Kedua belas orang terbaik Sehun mengangguk mengerti. Sementara yang lain menyebar di markas pertama Youngmin maka sisanya menunggu Sehun yang sedang bersiap di dalam mobil.

"Bos…Apa kau siap?"

Sehun menatap Doojon sekilas. Dipakainya dua sarung tangan yang biasa ia kenakan untuk membunuh sebelum

BLAM…!

"Pastikan kau menjaga istriku."

"Dengan nyawaku aku akan menjaga istrimu."

Sehun menatap takut markas pertamanya. Bertanya-tanya apakah dia sudah terlambat atau keberuntungan masih sedikit berpihak padanya. Dan untuk memastikan hal itu dia perlu masuk ke dalam. Walau itu artinya dia mati-…Setidaknya istri dan calon putranya harus baik-baik saja.

"Bagaimana denganmu? Apa kau ikut?"

Kai bersyukur Sehun tidak melupakannya. Dan saat pria yang selalu ia kagumi bertanya maka hanya anggukan tanpa ragu yang Kai tunjukkan untuk Sehun "Aku ikut."

Sehun mengisyaratkan anak buahnya untuk bergegas. Langkah kakinya terdengar tak ragu kali ini, karena apapun yang terjadi di dalam sana. Suka atau tidak-…Dia akan membunuh Youngmin malam ini.

Sehun berjalan di depan Kai dan Doojon, tak ada yang bersuara sampai entah apa yang dilakukan Kai yang kini mem-block jalan Sehun terlihat ingin mengatakan sesuatu.

"Kai apa yang kau lakukan?"

Doojon berusaha menarik Kai namun Sehun memberi perintah untuk menjauh dan membiarkan Kai berbicara "Ada apa?" katanya bertanya dan memperhatikan raut ketakutan di wajah mantan kaki tangannya.

"Apa kau melakukannya?"

"huh?"

"Apa kau menyuntikkan sampel racun itu pada Kyungsoo."

Terlihat senyum menakutkan di wajah Sehun. Matanya berkilat marah dan tanpa ragu menjawab

"Aku melakukannya."

Seluruh tubuh Kai mati rasa. Semua mimpi buruknya juga menjadi kenyataan saat apa yang dia takutkan terjadi.

Bukan Sehun yang bersalah dalam hal ini tapi dirinya!-…Dia yang membuat kesempatan Sehun menyakiti pria yang masih begitu ia cintai itu menjadi besar. Dan saat Sehun menjawabnya tanpa ragu maka hanya ada senyum lirih yang bisa Kai tunjukkan saat ini

"Baiklah…Aku mengerti." Katanya menyingkir dari hadapan Sehun. membiarkan Sehun kembali berjalan sebelum memberanikan diri untuk membuka suaranya –lagi-

"Bos…"

"Apalagi kali ini?"

"Jika terjadi sesuatu yang mengerikan pada Kyungsoo. Pastikan kau melakukan hal yang sama padaku. Bunuh aku seperti kau melakukannya pada Kyungsoo. Aku mohon."

"Kim Jongin…."

"Aku akan masuk lebih dulu."

Kai mengokang pistolnya dan berlari mendului Sehun. Membuat sang iblis terlihat menggeram marah mendengar permintaan Kai.

"Bos?"

"Yoon Doojon."

"Y-ya bos?"

"Kenapa mereka semua menghianatiku?"

"huh?"

"KENAPA MEREKA SEMUA TERUS BERBALIK MENYERANGKU!"

Sehun bukanlah tipe seseorang yang membunuh tanpa alasan. Dia tahu batasan untuk membunuh dan menahan diri, jadi ketika Jongin meminta untuk membunuh dirinya maka hanya ada kemarahan yang Sehun rasakan mengingat tak hanya Luhan melainkan seluruh orang kepercayaan yang begitu ia percaya kini berbalik menghianatinya hanya untuk Kyungsoo.

Semua-…termasuk istrinya, Luhan.

.

.

DOR…!

Baku tembak pun tak terelakan lagi. Yunho sudah memerintahkan seluruh anak buahnya menyerang saat menyadari bantuan dari Sehun sudah berkumpul. Membuat keadaan mungkin sedikit berbalik mengingat Youngmin dan Seunghyun tidak mengetahui apapun tentang malam ini.

"Lindungi Presdir Park!"

Sesuai instruksi Seunghyun mereka semua membuat lingkaran melindungi Youngmin sementara anak buah Seunghyun mencoba bertahan tanpa melukai Yunho maupun Woobin.

"Lu aku akan membawa kesana."

Woobin menunjukkan tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi. Disambut anggukan cemas dari Luhan yang terus memeluk erat adiknya "Biar aku membawanya. Ikuti aku."

Woobin mengambil alih Kyungsoo di pelukannya. Sementara Luhan mengikuti Woobin tanpa tahu ada seseorang yang membidiknya.

"LUHAN-…!"

Luhan mendengar suara Seunghyun memanggilnya. Awalnya dia yakin itu bukan Seunghyun namun saat dia menoleh

DOR…!

"sial!-…CHOI SEUNGHYUN!"

Bersamaan dengan masuknya Sehun-…Dia melihat Seunghyun menembak ke arah istrinya, namun teriakannya tidak terdengar mengingat baku tembak yang sudah tak terelakan lagi saat ini.

"JANGAN LUHAAAN!"

Dan saat Seunghyun berteriak murka. Maka dia tahu bahwa tembakan itu bukan ditujukan untuk istrinya melainkan pada anak buahnya yang berani membidik Luhan.

"Kyungsoo…"

Sementara Sehun melihat Doojon sudah bergabung dengan Yunho. Maka berbeda dengan Kai yang kini berlari ke tempat persembunyian Kyungsoo. Menghampiri pria yang sudah tiga bulan tak ia temui dengan keadaan Kyungsoo yang tak bisa ditolong lagi.

"Kai?"

Kai mengabaikan panggilan Woobin. Yang dia lakukan hanya mengambil alih Kyungsoo yang terus mengeluarkan darah dengan suhu tubuhnya yang begitu dingin "Kyungsoo…"

Yang dipanggil mungkin tidak akan membuka mata lagi. Namun saat suara yang diam-diam sangat ia rindukan terdengar. Maka hal pertama yang Kyungsoo lakukan adalah berusaha sekuat mungkin untuk membuka kedua matanya.

"Kyungsoo.."

Dan saat Kai terus memanggilnya maka Kyungsoo memiliki sedikit kekuatan untuk membuka kedua matanya dan melihat bagaimana Kai sedang berusaha tersenyum dan terus mengusap sayang wajahnya "K-Kai…"

"eoh…Ini aku. Kai"

Kai hampir menjerit melihat perbuatannya. Racun yang ia buat benar-benar berhasil membuat prianya kesakitan. Dan saat Kyungsoo terlihat begitu kesakitan maka hati Kai terasa dicabik kuat dan tak bisa lagi merasakan tenang walau sedikit pun.

"Kai…"

Kyungsoo mencoba mengusap wajah tampan yang ia rindukan. membuat warna merah di wajah Kai sangat terlihat mengingat tangannya berlumuran darah. "Kai.."

Kyungsoo terus memanggil nama Kai. Menghilangkan rasa rindunya sebelum

Uhuk….!

"rrhh….!"

Sesuatu dalam diri Kyungsoo terasa pecah. Membuatnya kembali menggelepar begitu kesakitan namun kali ini Kai memeluknya erat "Soo..Kyungsooo.." Kai menangis memeluk erat kekasihnya. Di tengah gencat senjata ini dia tidak bisa melakukan apapun selain melihat pria yang begitu ia cintai kesakitan di pelukannya.

"Jaga dia…Aku akan memastikan kalian ke rumah sakit."

"ani-…Bantu aku memberikan vaksin pada Kyungsoo. Aku berhasil membuat penawarnya."

Kai membaringkan perlahan Kyungsoo di pahanya. Hal kedua yang dia lakukan adalah mengeluarkan jarum suntik berisi vaksin yang dia siapkan.

"Bantu aku…"

Dengan bantuan Woobin, Kai bersiap menyuntikkan vaksin yang ia buat. "Bertahanlah sayang. Aku akan menyembuhkanmu."

Kai berusaha menguatkan dirinya sendiri karena tak yakin dengan ucapannya. Entah vaksinnya bisa menyembuhkan Kyungsoo atau membuat kontraindikasi pada tubuh Kyungsoo –dia tidak tahu-.. Yang dia tahu dia sedang memperpanjang hidup Kyungsoo dengan harapan bahwa vaksinnya akan berfungsi.

"Ini akan sedikit sakit." katanya menunduk berbisik pada Kyungsoo. Berusaha menyuntikan vaksin tersebut sebelum

Grep…!

Kyungsoo menahan tangan Kai. Ditatapnya pria yang begitu ia cintai dengan tulus seolah meminta untuk tidak membuatnya lebih baik "Soo biarkan aku-…"

Kyungsoo menggeleng menjawab pertanyaan Kai, yang dia lakukan hanya terus menatap Kai walau rasa sakitnya sudah sampai hingga ke pembuluh darahnya "Aku baik-baik saja Kai."

"Tidak…Aku harus berbuat sesuatu."

Kyungsoo menguatkan pegangannya di lengan Kai. Berusaha untuk memberitahu Kai bahwa dia tidak ingin disembuhkan karena rasa sakitnya sudah membuatnya tak ingin hidup lagi.

"Aku tidak mau."

"DO KYUNGSOO!"

Luhan melihat ke arah adiknya berada. Dia menyadari bahwa seseorang sedang memeluk erat adiknya. Dan saat mengenali bahwa itu suara Kai maka senyum tak bisa ia sembunyikan menebak bahwa Kyungsoo akan merasa lebih baik dengan datangnya Kai ke hidupnya.

"Kai…"

Luhan melihat suaminya dan Seunghyun sedang saling melempar tatapan tajam. Dan niat awalnya untuk menghampiri Sehun seketika hilang digantikan raut cemas menyadari apapun yang sedang terjadi di tempat Kyungsoo-…Adiknya kembali tak sadarkan diri saat ini.

"tidak…"

Luhan terus berlari ke arah Kyungsoo. Mengabaikan seluruh tembakan yang ditunjukkan untuknya sebelum

Grep…!

Kedua tangan yang familiar itu kini menggendongnya bridal dan menyadari bahwa Sehun tengah menggendongnya membuat perasan aman dan nyaman seketika Luhan rasakan walau rasa cemasnya masih sangat mendominasi saat ini

"Sayang.."

Sehun membantu Luhan duduk di tempat mereka bersembunyi. Memperhatikan wajah istrinya yang berkeringat sebelum mencium sayang kening istrinya "Sayang…Apa kau baik-baik saja? Bayi kita?"

Luhan merespon seluruh pertanyaan Sehun. Dia menyadari suara suaminya bergetar begitu ketakutan dengan raut pucat yang melebihi rasa takutnya "Aku baik sayang…Bayi kita baik…Tapi Kyungsoo-…"

Luhan mencoba membawa topik Kyungsoo di saat terdesak seperti ini. memohon pada suaminya untuk memaafkan Kyungsoo dan tak lagi menyakiti Kyungsoo dengan caranya "Aku harus ke rumah sakit. Kyungsoo-…KYUNGSOO HARUS DISELAMATKAN."

Sehun memeluk erat istrinya. Dengan mata yang tak sengaja menatap kondisi Kyungsoo pastilah membuatnya menebak bahwa Kyungsoo sudah melakukan segala cara untuk membuat kecintaannya bertahan dan baik-baik saja tanpa kekurangan satu apapun.

"Aku harus membawa hkss-..Selamatkan Kyungsoo sayang."

"ssst…Dengarkan aku. Kau dan Kai-…Kalian akan membawa Kyungsoo ke rumah sakit."

"Lalu bagaimana denganmu?"

"Aku akan segera menyusulmu ke rumah sakit."

"AKU INGIN KAU IKUT!"

"Sayang tenanglah-…sstt.."

Sehun tahu istrinya tidak menyukai situasi ini. situasi dimana dirinya bisa terbunuh kapanpun adalah situasi yang selalu membuat Luhan tidak bisa mengendalikan diri. "Aku akan baik-baik saja."

"Aku takut kau terluka sayang. JANGAN TINGGALKAN AKU DAN BAYI KITA!"

Sehun mencium lama bibir Luhan sebelum memaksa Luhan menatapnya "Aku akan kembali padamu. Kau dengar? Aku akan kembali padamu."

"MAX!"

Yang dipanggil sedang menembakkan pelurunya. Dia menoleh mencari suara yang memanggilnya dan saat dia menemukan Sehun memanggil-…Maka tak ada yang membuat bahagia seorang mantan kaki tangan selain orang pria yang begitu ia kagumi terlihat membutuhkannya.

"Bos?"

Max menjawab panggilan Sehun. Berusaha menghabisi satu bajingan yang terus mengincarnya sebelum

DOR!

Max tersenyum puas membunuh satu bajingan yang dia incar. Segera memasukkan pistolnya asal sebelum berlari mendekati Sehun "Bos?"

"Bawa Luhan, Kyungsoo dan Kai ke rumah sakit. Kau dengar?"

"Aku tidak akan pergi bos."

"INI PERINTAH!"

Max kemudian menatap Sehun cukup lama. Bersikeras untuk mengatakan tidak sebelum menantang Sehun dengan satu jawaban "Kau tidak bisa memberiku perintah bos. Aku bukan bagian dari anggotamu lagi!"

Sehun membuka cepat mantelnya. Memakaikannya pada Luhan sebelum menatap pria pembangkan di sampingnya "Mulai hari ini kau kembali bekerja untukku. KAU DENGAR?"

Mendengar keputusan baru dari Sehun membuat wajah Max berbinar. Dari awal dia sama sekali tidak bisa hidup selain untuk bekerja pada Sehun. Dan saat Sehun memberi perintah bahwa dia kembali bekerja untuknya maka Max tidak memiliki alasan lain untuk membangkang.

"Katakan rencanamu bos."

"Kita akan pergi kesana dan membawa Kyungsoo dan Kai keluar darisini. Doojon akan mem-back up istriku sementara kau mem-back up Kai dan Kyungsoo. Kau dengar?"

"Baik."

"Sayang…Kenapa kau menarik seluruh kaki tanganmu?"

"Aku membutuhkan mereka untuk menjagamu."

"Tapi kau juga membutuhkan mereka!"

Sehun kembali mencium kening istrinya dan berusaha meyakinkan kehidupannya "Aku membutuhkan kau untuk hidup." Katanya tak bisa lagi dibantah sebelum

"YOON DOOJON COVER KAMI!"

Doojon menoleh ke belakang. Menyadari bahwa Sehun memberi perintah sebelum mengangguk mengambi posisi "DALAM ABA-ABAKU BOS!"

Sehun bersiap dengan aba-aba Doojon dan kembali menggendong bridal istrinya "Sehun…"

"SEKARANG BOS!"

Sehun mengabaikan pertanyaan Luhan kali ini. Doojon dan Max mengcover dirinya hingga dia bisa sampai dengan aman ke tempat Kyungsoo berada.

"Kai…"

Sehun menurunkan istrinya. Dilihatnya pemandangan pilu dimana tubuh Kyungsoo mulai terbujur kaku dengan Kai yang terus memeluknya. Kai bahkan terus menangis pilu sampai Luhan mengambil alih Kyungsoo dan mulai memeriksa denyut nadinya.

"Masih berdetak. Jantung dan nadi Kyungsoo masih terdeteksi. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit."

Seolah tuli Kai tidak mengindahkan ucapan Luhan. Membuat sang dokter menggeram marah dan

PLAK…!

Dia menampar kencang wajah pria yang dulu pernah menjaganya dan menghilang tiba-tiba. Menyalurkan semua rasa kesalnya dan berusaha membuat Kai menyadari dimana posisi mereka sekarang "Lu…"

"SADARKAN DIRIMU! AKU MEMBUTUHKANMU UNTUK KYUNGSOO!"

"Sayang tenanglah."

Hati Sehun sedikit tergerak melihat betapa mengenaskannya kondisi Kyungsoo saat ini. kenyataan bahwa Kyungsoolah yang menjaga Luhan sebelum mereka semua datang adalah point penting dalam hal ini.

Namun Sehun menutupinya-..Dia tak begitu saja menunjukkan rasa pedulinya pada pembunuh Ziyu dan hanya memfokuskan kondisi Luhan saat ini "Kalian akan pergi dengan hitunganku. Dan kau Kai-…Pastikan kau fokus."

Kai mencoba untuk sadar seperti permintaan Luhan. diciumnya lama kening Kyungsoo sebelum

Sret…!

Dia menggendong tubuh lemas Kyungsoo yang kini berada di pelukannya "Aku harap kau mengingat janjimu padaku bos. Jika terjadi sesuatu pada Kyungsoo kau harus-…"

"DIAM!"

"Bos…aku rasa kita bisa keluar sekarang. Direktur Kim juga memberi pengawalan pada kami."

Sehun mengerti ucapan Doojon. Sekali lagi dia menatap istrinya sebelum menciumnya penuh cinta. Karena entah apa yang terjadi setelah ini dia hanya ingin Luhan dan bayinya bertahan hidup dengan bahagia "Pergilah sayang. Aku melindungimu."

"Jangan berbicara seolah kau tak akan kembali padaku."

"Aku akan kembali padamu dan putra kita. Aku janji."

Luhan mengangguk namun bibirnya terus terisak. Perasaannya begitu buruk meninggalkan suaminya seorang diri. Namun saat Sehun terus berjanji. Maka Luhan memiliki keyakinan kuat bahwa pada akhirnya Sehun memang akan kembali padanya.

"Aku menunggumu."

"Aku akan datang."

Sehun memeluk istrinya sekilas sebelum menyerahkannya pada Max dan Doojon "Jaga istriku dengan nyawa kalian. Aku mohon"

Mendengar seorang Oh Sehun memohon adalah hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Yeah…Pantang untuk seorang Oh Sehun memohon. Namun saat keselamatan istri dan calon bayinya dipertaruhkan. Maka iblis arogan seperti dirinya juga memiliki ketakutan yang membuatnya tunduk.

Doojon dan Max pun mengerti situasi ini. Situasi dimana pria yang begitu mereka hormati memohon sedikit banyak menghancurkan perasaan mereka.

Dan saat Sehun melakukannya. Maka keduanya tanpa ragu mengangguk dan menjawab "Kami melakukannya bos."

"SEHUN SEKARANG!"

Sehun mendengar Woobin memberi aba-aba. Dikeluarkannya pistol di belakangnya sebelum

Ckrek…!

Dia juga mengarahkan senjata mengiringi kepergian orang-orang yang begitu ia cintai untuk pergi dari situasi mengerikan ini. "Doojon lindungi kepala Luhan."

Doojon dengan berat hati memeluk istri bosnya. Ditutupinya kepala Luhan agar tidak melihat sebelum

BLAM…!

Mereka semua berhasil keluar dari neraka ini. Meninggalkan Sehun yang bisa menghela nafas lega mengingat istrinya sudah bisa keluar dari tempat mengerikan ini.

DOR…!

"HYUUNG!"

Woobin berteriak saat seseorang menembak lengan Yunho. Membuat Sehun menoleh dan mendapati bahwa seseorang yang menembak Yunho adalah orang yang sama yang menyebut dirinya sebagai "Ayah" untuk mereka berempat.

.

.

.


.

PART I's TBC

.


.

Part II is final chap *bener-bener final!

UP selasa/rabu

.

Alasan?

.

Words chap final sampe 30K. gue yakin gumoh klo ga dipisah. *alesan!bilangajabelomkelarPLET :""V

.

bisa kebaca kan end nya? prepare ya gengs :"V