ANNYEONG, OPPA!
tiaracrystal PRESENT
Cast:
. Oh Sehun
. Xi Luhan (GS)
. Do Kyungsoo (GS)
. Kim Jongin
. Lee Donghae
. Im Yoona
Rated T
Genre: Hurt, Drama
Warning : Genderswitch, typos absurd,Penyusunan kata yang tidak sesuai dengan EYD,Cerita murni dari pikiran si penulis
.
.
.
.
"Perasaanmu? Ada apa dengan perasaanmu, adik kecil?"
Sehun melirik ke arah Luhan, sementara Luhan hanya menunduk malu sambil mengigit bibir bawahnya kuat-kuat.
"Entahlah, sejak pertama melihatmu ada sesuatu yang terjadi di hatiku..." Luhan menyentuh dada kirinya.
"Bagiku kau adalah pria tertampan setelah appa ku. Aku seperti ingin berada didekatmu, aku sendiri tidak tau apa itu, yang jelas setelah kejadian aku di ganggu oleh dua penjahat itu aku seperti aman bersamamu." Lanjut Luhan, ia meremas ujung-ujung rok sekolahnya.
Oh Sehun begitu terkejut mendengar pernyataan anak itu, ia tak percaya jika saat ini ada anak berusia 13 tahun menyatakan perasaan padanya. Sungguh Oh Sehun tidak tau siapa yang harus di salahkan.
Karena tak mendapat jawaban, Luhan melihat ke arah Oh Sehun yang ternyata sedang menatapnya sejak tadi.
"Katakan sesuatu Sehun-ssi!" Teriak Luhan.
Mata namja itu membulat melihat reaksi Luhan. Mendadak gadis pendiam yang ia kenal itu berubah sedikit agresif.
"Lu-Lu-han-ssi apa yang kau katakan? Apa kau baru saja menyatakan perasaanmu?"
Luhan mengangguk pelan.
"Apa kau sudah gila, menyukai namja yang terpaut usia cukup jauh denganmu, hem?"
Luhan menggeleng.
"Aigooo.. Aku bisa gila. Bagaimana mungkin kau menyukaiku adik kecil?"
"Hentikan! Jangan panggil aku adik kecil terus menerus."
"Hmm mwo?"
Oh Sehun menatap tak percaya kini wajah gadis kecil itu berubah sedikit beringas. Memperlihatkan ketidaksukaannya pada Oh Sehun.
"Ku mohon terimalah cintaku, Oppa!" Luhan menekankan kalimat akhirnya.
Sehun sungguh dibuat frustasi oleh Luhan, bahkan ia tidak tau siapa Luhan, dimana tempat tinggal, siapa orang tua Luhan.
"Dengarkan aku, Luhan-ssi..."
"Tidak usah berbicara formal padaku!" Potong Luhan tegas.
"Baiklah Luhan-ah. Dengarkan aku, hufttt! Aku sungguh tak percaya dengan apa yang kau katakan barusan. Bagaimana mungkin kau bisa menyukaiku. Padahal..."
"Ya atau tidak?" Potong Luhan lagi, sungguh membuat Oh Sehun semakin frustasi.
Sehun menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku dengan lemas. Ia memejamkan matanya, berharap ini hanya mimpi. Tiba-tiba sebuah tangan mungil nan halus menepuk-nepuk pelan pipinya.
"Oppa... Bangunlahhh.." Rengek Luhan dengan manja.
Sehun tak menghiraukan rengekan Luhan.
"Kau pergilah, kepalaku sungguh sakit, Lu." Sahut Sehun lirih.
"Aigoo! Kau sakit?" Luhan menyentuh dahi Oh Sehun yang penuh dengan keringat itu menggenakan punggung tangannya.
"Ahh tubuhmu hangat Oppa, sebaiknya kau kembali ke rumahmu. Dimana rumahmu?" Luhan mendadak cemas.
Sehun membuka matanya tak percaya dengan apa yang baru saja Luhan katakan.
"Rumahku? Kenapa kau menanyakan dimana rumahku?" Tanya Sehun
"Ani, aku hanya ingin mengantarmu pulang. Tenang saja, walau tubuhku kecil tapi aku cukup kuat untuk menggowes sepeda beserta gerobak eskrim mu."
"Lalu aku?"
"Ya kau berjalan pelan disampingku."
Sehun hanya bisa bersweatdrop ria.
.
.
.
Luhan dan Sehun kini tengah berdiri saling berhadapan, keduanya saling memandang. Luhan harus mendongakan kepalanya karena tinggi badannya cukup berbeda jauh sekitar 15cm dengan Sehun. Ya, Sehun menolak cinta Luhan dikarenakan Sehun hanya menganggap Luhan adalah gadis kecil yang menggemaskan, tidak lebih dari itu. Sementara Luhan ia merasa sedih karena cinta pertamanya di tolak.
"Mianhe, Lu. Aku ingin kau mengerti bahwa kita tidak mungkin bisa menjalani hubungan seperti itu." Sehun kembali menegaskan. Ia menepuk bahu gadis kecilnya itu pelan sambil tersenyum tipis.
"Aku tidak akan berhenti berusaha untuk membuktikan bahwa aku bukan adik kecilmu, aku adalah gadis yang bisa kau miliki, kau cintai bahkan kau... Nikahi.."
Lagi-lagi Sehun dibuat tak percaya dengan Luhan, ia menghela nafas panjang mencoba untuk tenang. Ia yakin Luhan anak pintar yang akan mengerti.
"Buktikan pada Oppa dengan cara belajar dengan giat dan mendapatkan hasil yang bagus di sekolah. Jika kau sudah menjadi wanita yang sukses, aku akan datang menjemputmu,Lu."
"Wanita yang sukses? Maksudmu saat aku sudah dewasa?"
Sehun mengangguk.
"Tapi itu akan memakan waktu yang lama, apa itu hanya alasanmu agar kau bisa menghindar dariku?" Luhan memberikan tatapan sinis namun tetap menggemaskan bagi Sehun.
"Sudah kau pulang, ini sudah sore nanti appa dan eomma mu akan mencemaskanmu." Sehun tak menjawab pertanyaan Luhan.
"Baiklah aku akan pulang. Tapi boleh aku bertanya satu hal padamu?"
"Apa?"
"Apakah kau sudah mempunyai kekasih? Maka itu yang membuatmu menolakku?"
Sehun hanya tersenyum dan mengacak rambut gadis itu sehingga pita yang dikenakan tak beraturan letaknya.
"Aisshhh lepaskan Oppa, jangan merusak rambutku." Luhan kesal.
"Pulanglah!"
"Kita akan bertemu lagi kan? Disini?"
Sehun mengangguk.
"Yaksok?"
"Hufttt! Cepat pulang, jika kau tidak pulang juga aku tidak mau bertemu denganmu lagi." Sehun pura-pura mengancam.
"Arra.. Arra.. Aku pulang dulu. Sampai bertemu lagi,Oppa." Luhan berlari meninggalkan Sehun yang terpatung di tempatnya. Ini hari yang gila menurut Sehun.
.
.
.
"Jadi apa kau sudah memutuskannya,chagi?" Tanya Yoona yang meletakkan kepalanya di dada sang suami.
"Hmm ya mau tidak mau, karena semua menyangkut dengan karirku." Balas Donghae yang memainkan rambut Yoona.
"Terserah kau saja, yang penting semua demi kebaikan keluarga kita."
"Tentu.. Apa kau sudah memikirkannya juga? Kau tidak apa-apa jika harus berhenti bekerja?"
Yoona menghela nafas sebentar kemudian memejamkan matanya. Ada rasa yang mengganjal tapi demi kandungan yang ada di dalam perutnya serta karir sang suami ia, harus mengorbankan impiannya sebagai akuntan profesional.
"Ya, aku siap chagiya~"
CHU~
Donghae mencium pucuk kepala Yoona dan kemudian mereka tertidur dengan membiarkan posisi seperti itu.
.
.
.
Oh Sehun datang ke kantor pusatnya, hari itu ia tidak berjualan karena ada panggilan dari sang atasan.
"Hai Oh Sehun, bagaimana kabarmu hari ini?" Sapa atasan tersebut memeluk Oh Sehun yang sudah akrab itu.
"Baik Tuan Choi, ada apa anda memanggil saya?"
"Hei santai saja Tuan Oh, jangan terburu-buru. Duduklah."
Choi Siwon mempersilahkan Sehun duduk di Sofa yang ada di ruangannya. Sehun penasaran ada hal apa yang membuat atasannya yang terkenal dengan kebaikannya itu memanggil dirinya.
"Begini, karena kau sudah bekerja selama 3 tahun dan penjualanmu selalu mencapai target maka perusahaan akan memberikanmu sebuah Reward."
"Reward?"
"Ya Reward. Ada dua pilihan Tuan Oh. Kau bisa memilihnya.."
Sehun mengernyitkan dahinya, ia penasaran apa saja pilihan tersebut.
"Apa saja?"
"Yang pertama, kau akan mendapat beasiswa kuliah dan setelah kau lulus kau bisa kami tempatkan di kantor. Jadi kau tidak perlu repot-repot untuk berkeliling berjualan es krim lagi."
"Yang kedua?"
"Yang kedua adalah kau tidak boleh menolaknya. Karena ini sebenarnya adalah kebijakan pribadiku yang mengatasnamakan perusahaan. Tapi tenang saja, aku menilaimu sebagai objektiv. Jadi jangan berpikir jika kau mendapatkan ini dengan cuma-cuma."
Sehun sungguh tak percaya, ia begitu senang dengan berita ini. Mengingat Oh Sehun hanyalah anak dari keluarga biasa, ia harus menghidupi dirinya sendiri di Seoul dan sedikit membantu keluarganya di kampung sana. Ini adalah kesempatan emas baginya. Tapi tiba-tiba pikirannya teringat pada gadis kecil yang kemarin menyatakan perasaan padanya. Bagaimana jika nanti Oh Sehun berhenti berjualan lagi, sementara Luhan sangat menyukai Es krimnya.
"Ah lagipula masih banyak kedai-kedai es krim yang bisa ia datangi nanti." Batin Sehun.
Choi Siwon menaik-turunkan alisnya menunggu jawaban dari Oh Sehun yang ia anggap sudah seperti adiknya.
"Bagaimana Tuan Oh? Jangan biarkan aku menunggu lama-lama, aku tidak suka menunggu apalagi penolakan." Siwon memastikan.
"Baiklah, aku akan menerima beasiswa itu. Tapi selama aku menunggu proses tersebut, bisakah aku tetap berjualan? Karena..."
Sehun tak melanjutkan pembicaraannya dan itu cukup membuat Choi Siwon penasaran.
"Apa ada gadis yang menyukai eskrim mu, hem?" Siwon menjawab tepat sasaran. Sehun hanya mengangguk malu.
"Ahahahah kau iniiii.. Tak salah aku memperkerjakanmu, wajahmu sungguh tampan. Tak heran jika banyak gadis-gadis yang akan menyukai wajahmu ketimbang eskrim mu." Siwon terkekeh.
.
.
.
Waktu terus berjalan, Oh Sehun kembali berjualan es krimnya seperti biasa sambil menunggu proses Beasiswa yang ia dapatkan itu selesai. Benar-benar atasan yang baik..
Luhan beberapa kali menemui Sehun jika ia mempunyai kesempatan. Karena selebihnya ia harus pulang bersama sang 'bodyguard', sang appa tetap tidak mengizinkan Luhan untuk pulang sendiri kecuali jika bersama Do Kyungsoo.
Do kyungsoo selalu saja menasehati Luhan untuk berhenti mengejar sang penjual es krim itu, tapi dasar Luhan gadis yang keras kepala. Ia tetap bersikukuh pada pendiriannya, Kyungsoo kecewa karena Luhan berubah menjadi gadis agresif yang cenderung tidak tau malu padahal ia sudah mendapat penolakan dari Oh Sehun. Sempat tersirat dipikiran Kyungsoo, ia ingin mengadukan soal ini pada orang tua Luhan, tapi melihat perbedaan Luhan yang sekarang begitu ceria bahkan periang ia rasanya tidak sampai hati harus membuat Luhan kembali menjadi gadis pemurung dan pendiam.
Tapi berbeda hari ini, Luhan sejak pagi tadi hanya diam saja, bahkan ia cenderung pucat. Apakah ia sakit? Luhan selalu mengelak.
"Lu, apa yang kau rasakan?"
"Entahlah, aku hanya merasakan lemas dan perutku serasa dililit kyung." Luhan meletakan kepalanya di atas meja.
"Mau ku antar ke UKS?"
"Ani kyung, aku akan baik-baik saja."
"Kau yakin?"
"Yak! Kyungie~ kau cerewet sekali.. Sshhhh.." Teriak Luhan kemudian merintih memegangi perutnya.
Kyungsoo kemudian hanya diam, tapi ia terus memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu.
Bel sekolah berbunyi, pertanda murid berhenti melakukan kegiatan belajarnya.
"Yeayyyyy..."
Teriakan para murid saat berhamburan keluar kelas menuju gerbang utama sekolah.
Berbeda dengan Luhan, sejak tadi ia merasakan perutnya semakin sakit, Kyungsoo begitu khawatir apa yang menyebabkan perut sahabatnya seperti itu.
"Ayo Lu, kita pulang. Aku akan mengantarmu." Kyungsoo begitu cemas.
"Hixs.. Hixs.. Ani Kyung, aku tidak ingin merepotkanmu. Lagipula nanti 'bodyguard' ku akan menjemputku."
"Aku akan menelpon eomma mu nanti, yang penting sekarang kau harus pulang bersamaku. Ku mohonnnn!"
Kyungsoo memapah Luhan yang tidak bisa berjalan normal akibat rasa sakit di perutnya. Wajahnya benar-benar pucat dan Luhan berkeringat cukup banyak. Mereka menuju ke arah mobil Kyungsoo yang sudah terparkir di parkiran.
"Tuan, antarkan Luhanie ke rumahnya!" Perintah Kyungsoo.
"Baik nona muda."
Mobil kyungsoo berjalan cepat menuju rumah Luhan, sementara hari ini Luhan sudah berjanji pada Sehun jika ia akan menemuinya untuk membantu Sehun berjualan di Taman.
Disisi lain...
Oh Sehun sedari tadi sudah melirik ke arah jam tangannya dengan gelisah. Sudah hampir sore tapi gadis kecil itu tak kunjung datang.
"Kemana Luhanie? Apa ia tidak datang?" Batinnya.
Tak lama mobil Kyungsoo melewati Taman dimana Oh Sehun berada, Luhan menoleh ke arah Sehun yang sedang sibuk melayani para pembeli.
"Mian Oppa, aku tidak memenuhi janjiku." Lirih Luhan dengan mata sayunya.
.
.
.
Malam harinya, Luhan sudah merasa baikan. Rasa sakitnya itu menghilang saat Kyungsoo memberikannya teh hangat dan mengompres perutnya dengan handuk hangat. Ia sudah segar seperti sedia kala.
Saat itu Luhan diantar dengan 'bodyguard'nya pergi ke swalayan yang berada dijalan raya Seoul. Luhan ingin membeli beberapa permen dan perlengkapan Pasta karena besok adalah hari sabtu, ia akan libur dan berencana ingin membuatkan eomma dan appanya pasta.
Tapi ternyata ia dikejutkan oleh kehadiran Oh Sehun yang tidak mengetahui keberadaannya. Luhan memperhatikan Oppa-nya yang sedang sibuk memilih-milih barang yang akan dibeli. Ia berjalan menghampiri sang Oppa diam-diam hingga tepat berada di belakangnya. Saat itu Oh Sehun sedang posisi berjongkok karena barang yang ia pilih ada di bagian rak terbawah. Luhan dengan sigap menutup mata Sehun dan tidak mengeluarkan suara.
"Siapa ini? Lepaskan aku!" Teriak Sehun. Ia bingung siapa yang sudah menutup matanya, tangannya begitu kecil dan beraroma strawberry segar.
"Cepat katakan siapa kau? Kalau tidak aku akan..."
Luhan terkekeh tak bersuara, wajahnya sampai memerah.
Oh Sehun memutuskan untuk meraba tangan itu, mencoba untuk mengenalinya. Sempat terpikir jika tangan itu adalah milik adiknya, tapi ia rasa tidak mungkin. Ahaa~ akhirnya ia tau siapa pemilik dari tangan mungil beraroma strawberry itu. Ia mengeluarkan smirknya dan kemudian...
"Yak! Yak! Yak! Turunkan aku Oppa!"
Luhan akhirnya teriak karena Sehun berdiri sehingga Luhan menggantung di belakang, tubuh namja itu sungguh tinggi, Luhan serasa sedang bergantungan di atas gedung. Sehun menopang tubuh Luhan dengan satu tangannya agar gadis itu tidak terjatuh.
"Lepaskan tanganmu itu dari wajahku!" Perintah Oh Sehun.
"Arra.. Arra Oppa, tapi turunkan aku dulu."
Akhirnya Sehun kembali berjongkok seraya membiarkan yeoja itu turun dari tubuhnya. Luhan melepaskan tangannya, Sehun berbalik ke arah Luhan yang mengerecutkan bibirnya itu.
"Sulit dipercaya~" lirih Sehun namun masih didengar Luhan. "Gadis ini benar-benar cantik jika sedang memakai pakaian bebas." Tambahnya dalam hati.
"Apanya yang sulit di percaya?" Tanya Luhan dengan wajah polosnya.
"Ani.. Maksudku sulit di percaya jika aku harus bertemu denganmu. Sedang apa disini?"
"Aku sedang berbelanja keperluanku.." Luhan memperlihatkan keranjang bawaannya.
"Apa yang kau beli, Oppa?"
"Sama denganmu, keperluanku."
"Coba ku lihat!" Luhan antusias.
Sehun menyembunyikan keranjang belanjanya dibelakang, ia tidak mau kalau Luhan sampai tau. Sial! Gadis itu terlalu lincah, bahkan ia bisa menyelip dicelah terkecil sekalipun. Kini Luhan sudah berada dibelakang tubuh Sehun, memeriksa belanjaan miliknya.
"Oh, kau membeli pisau cukur, mie instan, dan.. Apa ini Oppa?" Luhan penasaran dengan sesuatu yang terdapat didalam kotak berukuran sedang.
"Hmm itu..."
Belum selesai berbicara, gadis kecil itu sudah berhasil meraihnya. Seketika wajahnya berubah sedikit kemerahan akibat melihat gambar model yang ada di kotak tersebut. Itu adalah celana dalam yang akan Sehun beli. Seperti yang kita tau, kotak itu terdapat model pria yang hanya mengenakan celana dalam. Keduanya hening, dengan malu Luhan meletakkan kembali kotak itu dikeranjang.
"Hmm maaf Oppa.." Luhan menjadi kikuk. Sungguh wajah itu, rasanya Sehun ingin sekali mencubitinya hingga memerah.
Luhan berjalan ke arah kasir, mata bulan sabit itu masih memperhatikannya. Betapa cantiknya Luhan malam itu dengan mengenakan dress santai putih seatas lutut. Sehun benar-benar berharap jika Luhan bisa cepat tumbuh menjadi gadis dewasa. Aigooo~ Sehun hampir gila. Ia sudah menjadi pedofil.
.
.
.
"Baiklah aku pulang dulu ya, Oppa!" Luhan membungkuk sopan.
"Ya, dimana mobilmu?"
"Itu disanaaa." Luhan menunjuk dengan dagunya.
"Oh ya ada yang ingin aku tanyakan padamu."
"Soal apa?"
"Tadi siang, kau kenapa tidak datang, Lu?"
"Apa kau menungguku?" Mata Luhan berbinar.
"Hmm, ka-u kan su-dah ber-janji jadi aku menunggumu." Jawab Sehun terbata, menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Aishh! Katakan saja jika kau memang menungguku." Goda Luhan.
"Memangnya kau kemana?" Sehun dengan wajah datarnya.
"Maaf Oppa, tadi siang perutku sangat sakit jadi aku tidak bisa datang. Mianheee.." Luhan memasang wajah sedih.
"Astaga! Kenapa perutmu,Lu? Apa sekarang sudah tidak apa? Kenapa kau malah berkeluyuran." Sehun cemas. Luhan terharu dengan sikap protektive Sehun.
"Gwaenchana Oppa, Kyungsoo sudah mengompres perutku. Bahkan aku sudah tidak merasakan apapun." Jawab Luhan tersenyum.
"Syukurlah, perhatikan makanmu,Lu! Jangan terlalu banyak makan es krim."
Luhan hanya mengangguk, ia tidak bisa menolak nasehat dari Sehun yang bertingkah seperti seorang kakak kandung itu.
"Yasudah, pulanglah. Ini sudah malam." Sehun mengelus kepala Luhan lembut.
Sehun pergi menuju parkiran, ternyata ia menggunakan sepeda. Luhan memperhatikan, kemudian timbul rasa ingin tahunya.
"Oppa!" Panggil Luhan berlari kearahnya.
"Ne Lu ada apa?"
"Kau kesini naik sepeda?"
"Ne.."
"Oppa, aku bosan dirumah lagipula besokkan libur. Ajak aku berkeliling sebentar di sekitar sini saja. Jebaaallll..."
"Tapi bagaimana dengan 'bodyguard'mu?"
"Biarkan saja ia menunggu disini. Lagipula kita tidak akan lama."
"Baiklah..."
Tadinya Sehun ingin menolak, karena ini sudah malam Sehun khawatir orang tua Luhan akan mencarinya. Tapi Luhan adalah tipe gadis yang pantang menyerah sebelum keinginannya terpenuhi. Jadi mau tidak mau ia mewujudkan keinginan gadis kecil itu. Luhan memberitahu sang 'Bodyguard' bahwa ia ingin berkeliling bersama Sehun, ia meminta 'bodyguard'nya untuk menunggu.
Luhan duduk di besi depan sehingga ia bisa berdekatan dengan sang Oppa, mereka berkeliling kota Seoul. Malam itu kota Seoul sungguh ramai. Luhan benar-benar senang karena ia sangat jarang bisa keluar dan merasakan angin malam. Sang appa dan eomma sibuk bekerja, mana mungkin mempunyai waktu untuknya.
"Katakan padaku, apa cita-citamu kelak?" Tanya Sehun sambil menggowes pedal sepeda pelan.
"Aku ingin menjadi guru. Kalau kau?"
"Aku ingin menjadi pebisnis, tapi takdir membawaku ke tempat lain. Aku hanya bisa menjadi penjual Es Krim."
"Oppa, kau tidak kuliah? Kata eomma dan appa jika kita ingin menjadi seseorang yang sukses kita harus kuliah. Apa itu benar?"
Sehun tersenyum tipis.
"Aku tidak mempunyai biaya untuk kuliah, tapi aku tidak setuju dengan pendapat orang tuamu, menurutku jika kita ingin sukses ketekunan adalah kuncinya. Bukan hanya dilihat dari seseorang itu kuliah atau tidaknya."
Luhan hanya ber-o sambil mengangguk mengerti.
"Apa kau punya adik atau kakak?" Tanya Luhan.
"Aku punya adik seusiamu, mirippp denganmu. Melihatmu sama saja melihat adikku."
"Jinjaaa? Dimana dia sekarang?"
"Dikampung halamanku, aku hanya tinggal sendiri disini." Sahut Sehun.
Tanpa sadar perbincangan mereka membawa mereka cukup jauh dari rencana mereka, Sehun membawa Luhan memasuki jalanan agak sepi jauh dari jalan raya. Sepertinya itu menuju ke sebuah pemukiman penduduk.
Sementara itu...
Drrttt
Drrrttt
Ponsel 'bodyguard' Luhan bergetar, ia terkejut tertera nama Lee DongHae di layarnya.
"Ne tuan."
"Ini sudah jam 9 malam, dimana kalian? Bukankah anakku hanya meminta izin untuk ke swalayan."
"M-ma-af Tuan, tapi nona muda sedang bertemu dengan temannya, mereka pergi dengan menggunakan sepeda dan mengatakan akan kembali."
"Apa?" Donghae menaikkan nada bicaranya nyaris membuat gendang telinga bawahannya pecah.
"I-iya Tuan. Maafkan aku, nona bersikeras agar aku menunggunya disini. Aku harus bagaimana?"
"Beri tau kalian dimana, aku akan kesana." Ujar Donghae dingin.
Luhan menyadari jika perjalanan mereka sudah sangat jauh dari swalayan. Luhan memperhatikan namja itu mengeluarkan peluh di dahinya, rasanya ingin sekali menyeka peluh tersebut.
"Oppa, dimana kita sekarang?"
"Entahlah, aku hanya mengikuti jalan saja karena terlalu asik mengobrol denganmu." Sehun mengendikan bahu santai.
"Aigoo! Eotteohke Oppa? Kita akan tersesat!" Luhan sedikit panik, sontak membuat Sehun menghentikan gowesannya.
"Jangan khawatir jika kita tersesat kita akan putar balik. Kenapa harus panik seperti itu, Lu?"
"..."
Luhan hanya diam, ia menundukkan kepalanya. Sehun bingung kenapa Luhan seperti itu.
"Ada apa Lu? Kenapa kau diam?"
"O-ppa perutkuuuu..." Lirih Luhan.
Sehun menyibakan rambut gadis kecil itu agar wajahnya terlihat, ia terkejut mendapati Luhan penuh keringat dan sedikit pucat.
"Astaga Lu, ada apa denganmu?"
Luhan sibuk memegangi perutnya, bahkan ia hampir saja menjatuhi dirinya dari sepeda dan dengan sigap Sehun menyenderkan kepala Luhan ke dada bidangnya.
"Kita harus ke rumah sakit,Lu?"
"Andwaeyo oppa! Kau pasti tidak punya uang, sebaiknya hubungi Appa ku saja biar ia menjemputku."
"Bagaimana mungkin Lu. Appa mu pasti akan marah."
"Tidak Appa ku adalah seorang polisi yang baik, ia tidak akan memarahi kita."
Sehun semakin panik kala mendengar Luhan yang menyebutkan bahwa Appanya adalah seorang polisi. Ia mengusap wajahnya kasar. Sehun menyesal telah membawa anak seorang polisi pergi.
Mata Sehun mencari-cari tempat yang sekiranya bisa merebahkan Luhan sementara waktu agar bisa mengompres perut rusa cantik itu. Di Kejauhan Sehun melihat sebuah toko kecil pinggir jalan yang sudah hampir tutup, ia memutuskan untuk mendatangi toko tersebut.
"Bertahanlah,Lu! Aku akan mengobatimu." Ujar Sehun menggowes sepedanya secepat mungkin.
Luhan hanya memejamkan matanya, perutnya terasa dililit oleh sebuah tali dengan erat. Entah, ini baru pertama kali ia merasakan hal seperti ini.
Sesampai di depan Toko kelontong itu, Sehun melihat seorang ahjuma yang tak lain adalah pemilik dari toko. Sang ahjuma sedang membereskan barang-barangnya yang ia letakan diluar.
"Ahjuma! Ahjuma!" Panggil Sehun
Ahjuma itu menoleh ke arah Namja yang diwajahnya tersirat kekhawatiran dan seorang gadis kecil yang tengah merintih kesakitan.
"Ada apa anak muda?"
"Bisa bantu kami? Perut Luhan-ku sakit. Aku sendiri tidak tau kenapa."
Ahjuma itu melirik ke arah perut Luhan. sejenak ia terdiam, kemudian ia menyuruh Oh Sehun untuk membawa Luhan ke dalam tokonya. Dilantai 2 terdapat sebuah kamar kecil milik Ahjuma itu jika ia ingin beristirahat dikala menjaga tokonya.
BRUK!
Oh Sehun meletakkan Luhan di atas ranjang. Ahjuma itu entah kemana, Sehun melihat Luhan yang sejak tadi terus meringis kesakitan.
"Apa yang kau rasakan,Lu?"
"Perutku sakit Oppa. Hixs.. Hixs.."
Oh Sehun menggenggam tangan Luhan, ia menciumi punggung tangan anak itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, entahlah apa yang akan terjadi nanti saat Sehun mengantarkan Luhan pulang, yang jelas saat ini Sehun mengkhawatirkan keadaan gadis kecilnya.
Tak lama Ahjuma datang dengan membawa segelas air jeruk hangat dan air hangat di dalam ember kecil serta handuk kecil.
"Minum ini, mungkin kau bisa merasa lebih baik." Ucap sang ahjuma.
Sementara Oh Sehun membantu Luhan memberikan minuman itu, sang Ahjuma menaikkan dress putih Luhan hingga setengah perut agar ia bisa mengompres perutnya. Sehun sungguh merasa kikuk karena ia harus melihat perut rata milik Luhan, ia segera memalingkan pandangannya.
"Astaga!" Teriak Ahjuma.
Sehun melirik ke arah Ahjuma.
"Ada apa ahjuma?"
Ahjuma terfokus pada bagian celana dalam Luhan, Sehun merasa bingung kenapa Ahjuma itu seperti orang terkejut.
"Jawab aku ahjuma?"
Sehun tak berani jika harus memastikan sendiri karena itu sama saja ia melihat bagian-bagian intim Luhan. Ahh dia tak ingin di anggap cabul sekalipun sedang dalam masalah genting seperti ini.
"Berapa usia gadis ini?" Tanya Ahjuma.
"13 tahun."
"Pantas sajaaaa.." Ahjuma menurunkan nada suaranya.
"..."
"Tunggu sebentar. Aku ke bawah dulu, ada yang ingin aku ambil."
Sehun melihat ke arah Luhan tampaknya rusa itu sudah merasa lebih baik. Bibir pucatnya perlahan kembali ke warna pink natural.
Tak lama sang ahjuma kembali, membawa sesuatu di tangannya.
"Apa itu ahjuma?"
Ahjuma tersenyum membuat Oh Sehun frustasi, astaga ada apa ini? Kenapa aku seperti orang bodoh. Batin Sehun.
Akhirnya Ahjuma itu menyodorkan sebuah benda yang tak lain adalah sebuah pembalut.
"Pem-ba-lut?" Sehun memastikan.
"Ambillah, dan suruh kekasihmu pakai ini. Ternyata ia hanya mengalami tanda-tanda menstruasi. Apa ini yang pertama kali?" Tanya Ahjuma.
Oh Sehun mengendikan bahu, karena memang tidak tau.
"Yak! Kau kekasih macam apa? Bagaimana bisa seorang Namja seusia mu memacari gadis kecil yang bahkan baru saja mengalami menstruasi?"
Sehun tersenyum miris, ia harus menelan kenyataan jika Luhan benar-benar seorang anak kecil. Hampir saja Sehun dibuat geger karena Luhan...
.
.
.
Oh Sehun dan Lee Luhan membungkuk guna mengucapkan terima kasih pada sang ahjuma. Kini, mereka sudah berada di depan toko dan siap untuk pulang mengingat ini sudah pukul 11 malam. Dress putih Luhan yang terkena darah di tutupi oleh Hoodie yang dikenakan Sehun dan masalah celana dalam Luhan, terpaksa luhan memakai celana dalam milik Sehun yang baru saja ia beli tadi. Meski rasanya aneh, tapi mau tidak mau Luhan harus memakainya karena hampir seluruh celana dalamnya terkena darah.
Oh Sehun menggowes sepeda itu dengan sangat cepat, tak peduli rasa pegal dikakinya karena harus membawa Luhan beserta kantung plastik belanjaannya tadi. Ia pergi ke swalayan dimana sang 'bodyguard' menunggu, tadinya Sehun ingin mengantar Luhan langsung ke rumahnya tapi gadis kecil itu menolaknya. Luhan tidak ingin orang tuanya memarahi Oh Sehun.
"Jadi kau benar-benar baru mengalami menstruasi,hem?" Tanya Sehun disela-sela menggowesnya.
"Ne Oppa, apa itu masalah?"
"Ani.. Hanya saja, aisshhh sulit ku percaya. Bagaimana mungkin gadis kecil sepertimu bisa menyukaiku? Usiaku bahkan sudah 23 tahun."
"Memangnya kenapa? Apakah cinta itu memandang usia?"
"Aigooo! Yak! Kau iniiii.. Dengar, aku hampir mati melihat keadaanmu tadi. Jika terjadi sesuatu padamu, aku benar-benar akan menyesal,Lu!"
Mendengar itu wajah Luhan memerah, ia begitu terharu karena Sehun tak bisa menutupi rasa khawatir terhadapnya. Luhan semakin menyukai Oh Sehun.
Sesampainya di depan swalayan..
Jalanan sudah begitu sepi dan untungnya mobil Luhan masih terparkir di tempatnya. Entah mungkin sang 'bodyguard' tertidur karena menunggu Luhan yang terlalu lama.
Gadis itu turun dari sepeda sambil tersenyum.
"Baiklah, aku pulang dulu ya Oppa. Sampai bertemu lagi ya."
"Ya ya cepatlah masuk ke dalam mobilmu, ini sudah malam,Lu." Sehun mengusap kepala Luhan.
"Gomawo oppa." Luhan tersenyum memasang wajah menggemaskan.
"Cheonma Luhanie.."
Luhan berbalik menuju mobilnya, Sehun tetap diam memastikan Luhan masuk ke dalam mobilnya. Meski ia harus mengorbankan Hoodie dan celana dalam barunya tapi tidak masalah selama itu untuk Luhan.
Saat Luhan hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba kaca jendela mobilnya terbuka dan betapa terkejutnya Luhan karena ternyata itu adalah... Lee DONGHAE, ayahnya.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Selamat Luhan atas menstruasi pertamanya ya, wah kayanya Yoona bakal bikin slametan nih dirumahnya bikin nasi tumpeng buat Luhan. *LOL
Kyaaa... Wahh gawat Donghae mergokin Luhan abis jalan bareng sama Sehun. Kira-kira apa yang bakal dilakuin Donghae? Jangan-jangan Sehun bakalan ditembak sama pak polisi Donghae? *gakrela T_T
Gimana-gimana Chap 2 ini? Bikin puas kalian gak? Maaf ya udah buat anak sepolos Luhan mendadak jadi anak genit yang ngejar-ngejar abang-abang es krim. *peace
Pokoknya ini mah masih seneng-seneng dulu, tar baru deh dibikin konfliknya.
Makasih yang udah Review ya, ide gila ini tercetus saat aku lagi mau beli ketoprak, eh lagi liat-liat abang-abang ketopraknya tiba-tiba muncul ide gila itu begitu aja. Canggih ya..
Review Please :D
Gomawo
Line: Racrystal
