ANNYEONG, OPPA!
PRESENT
Cast:
. Oh Sehun
. Xi Luhan (GS)
. Do Kyungsoo (GS)
. Kim Jongin
. Lee Donghae
. Im Yoona
Rated T
Genre: Hurt, Drama
Warning : Genderswitch, typos absurd,Penyusunan kata yang tidak sesuai dengan EYD,Cerita murni dari pikiran si penulis
.
.
.
.
Lee Donghae sejak tadi ada di dalam mobil menunggu sang putri yang ternyata pergi bersama dengan Namja asing.
Sehun membungkukan tubuhnya sedikit guna memberi salam pada Donghae, sementara pria paruh bya itu memasang wajah dingin memperhatikan Sehun dari ujung rambut hingga kaki.
"Cepat masuk Chagi, eomma sudah menunggumu." ucap Donghae dengan senyum terpaksanya. Luhan hanya menunduk dengan wajah khawatir karena pasti Appa-nya akan mencurigai Sehun.
.
.
.
"Aigoo anakku, kau darimana saja? Kenapa baru pulang jam segini,hem?" Tanya Yoona khawatir, ia sibuk memeriksa tubuh anaknya memastikan apakah terjadi sesuatu pada Luhan atau tidak.
"Mianhe~ tadi aku hanya pergi bersama..."
"Siapa Namja itu,Lu?" Potong Donghae sambil duduk di Sofa tepat dibelakang Luhan.
"Hemm ia.. Ia adalah kakak sepupu Do Kyungsoo yang baru datang dari jepang." Luhan terpaksa berbohong, ia bersumpah bahwa Kyungsoo akan membunuhnya jika mengetahui hal ini.
"Benarkah?" Donghae seakan tak percaya.
Yoona melihat Hoodie yang terikat di pinggang anaknya, kemudian ia melepaskan Hoodie tersebut dan terkejut melihat darah yang ada di baju Luhan.
"Lu, kau berdarah! Katakan pada eomma kau kenapa?" Yoona panik. Tanpa sadar ia meremas kedua lengan Luhan sangat erat.
"Gwaenchana eomma, inilah alasanku kenapa aku pergi lama. Dijalan perutku sangat sakit, untung saja kami di tolong oleh seorang ahjuma. Eomma aku bukan anak kecil lagi, karena sekarang aku sudah menstruasi." Luhan tersenyum.
Yoona bahagia mendengar pernyataan Luhan yang kini ternyata sudah beranjak remaja. Ia memeluk dan mencium pucuk kepala putrinya.
"Maafkan aku eomma telah membuatmu khawatir."
"Arra Luhanie."
Donghae tersenyum tipis melihat pemandangan di depannya, tapi hatinya merasa ada yang mengganjal. Ia yakin Luhan menyembunyikan sesuatu soal Namja asing itu.
.
.
.
Yoona duduk di meja rias membersihkan wajahnya dari bekas makeup. Sementara Donghae melanjutkan membaca bukunya yang sempat tertunda akibat kejadian Luhan tadi.
"Apa ia sudah tidur?" Tanya Donghae disela-sela membacanya.
"Ya, setelah mengganti pakaian ia langsung tidur. Sepertinya Luhan-kita sangat lelah." Jawab Yoona santai.
"Baby, apa kau percaya pada Luhan?"
Yoona melirik ke arah bayangan Donghae dari cermin.
"Soal apa?"
"Namja itu. Apa ia benar kakak sepupu dari Kyungsoo?"
Yoona tersenyum melihat wajah suaminya.
"Chagiyaa~ sudahlah, jangan terlalu mencurigai seseorang. Luhanie-kita adalah anak yang baik, jadi mana mungkin ia berbohong."
"Fiyuhhh~ ku harap seperti itu."
Yoona menggeleng tak habis pikir dengan suaminya. Donghae begitu protektive pada Luhan, tanpa ia sadari itulah yang membuat Luhan menjadi anak pendiam dan tidak mempunyai banyak teman.
Sementara di kamar Luhan..
Ternyata Rusa cantik itu belum tidur, ia sibuk menari-nari di depan cermin kamarnya meski masih terasa sedikit nyeri di perutnya. ia menyingkap daster tidurnya hingga ke perut memperlihatkan celana dalam yang ia pakai, celana dalam itu milik Sehun walau sedikit kebesaran tapi masih bisa digunakan.
"Hahahaha jadi seperti ini celana dalam milik Oppa? Astaga! Tak jauh beda dengan milik Appa."
Pipi Luhan menghangat saat ia mengingat kejadian tadi, dimana Oh Sehun begitu cemas dan menyebut dirinya sebagai kekasih Luhan pada Ahjuma. Tanpa sadar gadis itu memegangi pipinya sendiri sambil menatap di Cermin.
"Apakah Oppa benar-benar menyukaiku?" Batin Luhan.
Ia begitu merasa bahagia sekarang dan tidak sabar untuk bertemu dengan Oppanya.
Dilain sisi...
Oh Sehun meringkukan tubuhnya di atas ranjang, perasaan gelisah hinggap dihatinya. Ia masih tidak percaya jika ia harus menyadari dirinya menyukai Lee Luhan anak dari seorang polisi.
Meskipun kini dirinya menyandang status pedofil, tapi ia tak peduli karena perasaan akan rusa cantik itu tak bisa dipungkiri. Tapi ia sadar cepat atau lambat hubungan ini pasti akan berakhir, karena mengingat siapa dirinya dan berapa usia Luhan saat ini. Jalan Luhan benar-benar masih sangat panjang.
.
.
.
Pagi itu Kyungsoo dibuat heran dengan sikap Luhan yang berbeda dari biasanya, hari ini Lee Luhan si gadis pendiam itu berubah menjadi gadis yang murah senyum. Kyungsoo terkejut mendengar cerita Luhan soal kejadian 3 hari lalu, ia memberikan selamat karena sahabatnya resmi menjadi gadis remaja. Tidak seperti Kyungsoo yang sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan mengalami menstruasi. Ahh Kyungsoo begitu iri pada Luhan.
Saat ini mereka sedang berada di Taman sekolah, Kyungsoo duduk berdua dengan Luhan. Tapi malah Kyungsoo yang memasang wajah murung sejak tadi.
"Ada apa kyung? Apa kau sedang sedih?" Tanya Luhan menatap mata bulat milik burung hantu mungil itu.
"Tinggal beberapa bulan lagi kita akan kenaikan kelas,Lu." Jawab Kyungsoo dengan nada seperti orang lemas.
"Bukankah itu bagus, tandanya kita akan semakin beranjak dewasa." Sahut Luhan antusias.
Kyungsoo menghela nafas, bukan salah Luhan yang tidak mengerti maksudnya. Karena Kyungsoo tak menceritakan soal kedekatannya dengan Kim Jongin, Sunbae kelas 3.
Awal mula kedekataan mereka dimulai saat Kyungsoo hendak menuju Toilet, ia berjalan tak melihat ke arah depan melainkan ke bawah. Tiba-tiba..
BRUK!
Tubuh Kyungsoo tertabrak oleh seseorang hingga jatuh kelantai.
"Ouuchhh..."
Kyungsoo mengusap bokongnya karena sakit.
Matanya terbelalak saat ia melihat sebuah tangan berkulit tan menjulur ke arahnya memberikan pertolongan.
Aigoo.. Itu Kim Jongin. Batin Kyungsoo.
"Mianhee~" ucap Kim jongin memasang senyum yang selama ini Kyungsoo puja-puja.
Perlahan Kyungsoo meraih tangan itu, dan dengan kuat Jongin menarik tubuh mungil itu hingga tubuhnya tertarik dan menubruk pelan di dada bidang Namja seksi itu.
GLEP!
Terjadi 'eye contact' di keduanya. Mata bulat itu tak berkedip menatap mata Namja tan itu. Kyungsoo bisa merasakan aroma nafas Jongin yang beraroma mint, sangat menyegarkan.
Tersadar dari terlenanya, Kyungsoo menjauhkan tubuhnya dari Jongin. Ia mundur dua langkah dan mengerjap lucu. Melihat itu Jongin kembali tersenyum.
"Hmm aku..."
"Aku yang salah karena aku berjalan sambil membaca buku." Potong Jongin menaikan buku yang ada di tangannya.
"Oh itu... Hmm.."
"Kau tidak apa kan? Kau kelas berapa?" Tanya Jongin.
"Aku tidak apa Jongin Sunbae, jangan khawatir." Jawab Kyungsoo menunduk malu.
"Jadi kau adik kelasku?"
Kyungsoo mengangguk.
"Baiklah, boleh aku pergi sekarang?"
Kyungsoo telah menghalangi jalan Jongin, ia segera menggeser tubuhnya memberikan jalan pada Sunbae yang ia sukai itu.
"Terima kasih, Hoobae ku yang manis. Senang bertemu denganmu dan sekali lagi aku sungguh minta maaf atas kejadian baru saja."
DEG
Kyungsoo tak menyangka Kim Jongin menyebutnya manis, itu sungguh membuat lutut Kyungsoo lemas. Ia butuh pegangan, karena mendadak tubuhnya merasa sangat ringan. Kyungsoo tidak mau terbang karena ia takut ketinggian.
Jongin melintasinya dengan senyumannya itu, Kyungsoo hanya bisa melirik sebentar karena ia begitu malu untuk menatap Namja seksi itu lama-lama.
Semenjak saat itu, setiap Kyungsoo berpapasan dengan Jongin di lorong sekolah, mereka akan saling bertegur sapa walau kadang hanya menyapa lewat senyuman. Hati Kyungsoo sungguh bahagia, tapi saat ini ia sedih karena sebentar lagi ia akan berpisah dengan Kim Jongin. Sungguh, rasanya Kyungsoo ingin tetap berada di kelas 1 dan Kim Jongin di kelas 3.
Luhan memperhatikan Kyungsoo menatap salah satu tanaman yang ada di hadapannya dengan tatapan kosong, tak lama datang Kim Jongin menghampiri mereka.
"Kim Jongin Sunbae." Sapa Luhan.
"Kau Luhan-ssi, sahabat Kyungie?" Tanya Jongin. Sementara Kyungsoo masih dengan lamunannya, ia sama sekali tak menyadari kehadiran Jongin.
Luhan menyenggol lengan sahabatnya itu, tapi Kyungsoo tak menghiraukannya. Jongin tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Kyung.. Kyung.." Luhan mencoba menyadarkan Kyungsoo.
"..."
Tak ada jawaban, Luhan menepuk jidatnya keras.
"Biar aku saja, Lu." Ujar Jongin.
Jongin berjongkok di hadapan Kyungsoo, menyetarakan wajahnya dengan si burung hantu yang tengah melamun. Ia mengeluarkan senyum kebanggaannya itu, sambil meniup hidung bulat Kyungsoo.
Fiyuhhhh~
Fiyuhhhh~
Seketika mata besar itu mengerjap-ngerjap lucu, ia tersadar dari lamunannya. Kyungsoo sungguh terkejut melihat Kim Jongin tepat dihadapannya. Sontak wajahnya memerah.
KYAAAAAAAAA~
Kyungsoo salah tingkah.
"Sunbae~"
"Hahahaha.. Hey, apa yang sedang kau lamunkan,manis?" Jongin terkekeh sambil kembali berdiri.
"Ani Sunbae, aku hanyaaa.." Kyungsoo menunduk malu hingga hampir menangis.
Luhan merasa heran, sejak kapan Kim Jongin dekat dengan Do Kyungsoo. Ahh benar-benar pemandangan yang membuat Luhan iri, pasalnya ia tidak bisa seperti Kyungsoo yang menjalani hubungan normal.
"Yak! Do Kyungsoo.." Teriak Luhan membuat kedua pasangan dihadapannya hening seketika.
"Ada apa Lu?" Tanya Kyungsoo.
"Sejak kapan kalian?" Luhan melirik keduanya secara bergantian.
Kyungsoo dan Jongin saling memandang sesaat, mereka merasa heran kenapa Luhan begitu sentimentil dengan kedekatan mereka.
"Lu, aku dan Jongin Sunbae hanya berteman, kami tidak seperti yang kau pikirkan." Kyungsoo mencoba menjelaskan.
Tapi tiba-tiba Kim Jongin menggenggam tangan Kyungsoo dihadapan Luhan.
"Sun-baeeee..." Lirih Kyungsoo. Mata Luhan membesar melihat pemandangan di depannya itu.
"Luhan-ssi, kemarin kami hanya berteman tapi tidak hari ini, karena sekarang aku akan menyatakan perasaanku pada Kyungsoo-ya, sahabatmu." Ujar Jongin membuat kedua Yeoja mungil itu sulit bernafas tak percaya.
Kim Jongin menoleh ke arah Kyungsoo, ia menarik tubuh si Burung hantu supaya berdiri dari duduknya. Kyungsoo hanya bisa tertunduk malu sambil menggigit bibir bawahnya. Jongin meraih dagu Kyungsoo agar wajah gadis itu mendongak ke arahnya.
"Kau malu,ne?" Tanya Jongin dengan lembut dan dibalas anggukan Kyungsoo.
"Do Kyungsoo, hari ini di depan sahabatmu sendiri aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Sesuatu yang aku rasakan belakang ini, yang cukup menggangguku. Aishh.. Rasanya hatiku siap meledak jika tidak cepat-cepat aku katakan. Aku menyukaimu Do Kyungsoo, dan izinkan aku menjadi Oppa mu yang bisa menjagamu kapanpun. Ku mohonnn.."
Kyungsoo tak percaya dengan apa yang Kim Jongin katakan saat ini, rasanya seperti mimpi. Sunbae yang ia sukai malah menyatakan perasaan padanya. Aigoo~ mata bulat itu kini berkaca-kaca, bibirnya yang berbentuk hati mengatup rapat. Sungguh tidak tau harus menjawab apa, karena ini adalah pertama kalinya Kyungsoo mengalami hal ini, bahkan disaat dirinya belum mengalami menstruasi.
Kyungsoo melirik ke arah Luhan yang sedari tadi memperhatikan, ia mendapat sebuah anggukan dari sahabatnya itu yang berarti sebuah persetujuan.
"Jongin Sunbae, aku..."
"Aku apa Kyungie?" Jongin memastikan.
"Aku mau kau menjadi Oppa ku dan menjagaku kapanpun."
Jongin loncat kegirangan karena cintanya di terima oleh Kyungsoo. Luhan beranjak dari duduknya segera memeluk Kyungsoo memberikan selamat atas pacar pertamanya. Jongin mengusap penuh sayang rambut Kyungsoo yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu.
.
.
.
Luhan seperti biasa semenjak resmi menjadi kekasih Oh Sehun, tak jarang menyempatkan diri untuk menemui Sehun di taman menemani kekasihnya berjualan, mengawasi Oh Sehun dari para Yeoja cantik yang mencoba untuk menggoda Namja tampan itu.
Oh Sehun memperhatikan 'Chagi'-nya sedari tadi mengerucutkan bibir tipisnya, membuat Sehun merasa gemas ingin mencubit pipinya. Akhirnya, Sehun bisa terbebas dari para pembeli yang menggandrunginya sejak kedatangannya tadi.
Luhan duduk di Sepeda Sehun sambil memukul ranting pohon malas ke arah Gerobak Es krim. Sehun mengusap rambut halus beraroma Vanilla itu dengan asal.
"Yak! Oppa jangan membuat rambutku berantakan!" Teriak Luhan mendelik tajam, uhh~ delikan itu sungguh membuat Sehun lemas.
"Ada apa,Lu? Mengapa memasang wajah seperti itu,hem? Kau tau sebagian pembeliku merasa takut melihatmu." Tanya Sehun berdiri disamping Luhan.
"Aku bosan, setiap bertemu hanya disini, dijam yang sama dan melakukan hal yang sama." Sahut Luhan merajuk.
"Lalu? Kau ingin bagaimana,Lu?"
"Aku iri dengan Kyungie dan Jongin-ah, mereka selalu menyempatkan diri belajar bersama, ke gereja bersama, pulang bersama bahkan mereka pergi ke bioskop."
Sehun terkekeh melihat kekasih kecilnya itu, ia hanya menggeleng sambil berkacak pinggang. Ia memaklumi sikap Luhan yang masih kekanakan.
"Jadi kau mau kita melakukan hal yang sama dengan Kyungsoo-ssi?" Tanya Sehun, Luhan mengangguk pasti.
"Baiklah, kita akan ke bioskop. Hari minggu sepulang dari gereja. Bagaimana?"
"Jinjayo oppa?"
"Nee chagiya~"
BLUSH
Pipi Luhan merona saat Sehun menyebutnya dengan kata sayang, karena selama ini Sehun hanya memanggil "Luhanie" , "Lu" saja.
Luhan senang akhirnya ia akan menjalani hubungan normal. Ia sungguh iri dengan Kaisoo couple yang selalu memamerkan kemesraan mereka. Ia tak sabar menunggu hari minggu tiba, meski tinggal 2 hari lagi.
.
.
.
Hari minggu telah tiba, Yoona membangunkan tuan putrinya yang masih bergumul di atas ranjang.
"Happy Sunday, Chagiya~" sapa Yoona.
Ia mengelus rambut anak gadisnya itu, tak lama Luhan bergerak gelisah menandakan ia akan bangun dari tidurnya.
CHU~
Yoona memberikan ciuman selamat pagi untuk Luhan dan dibalas senyuman dari rusa cantiknya.
"Eomma~"
"Irreona Chagiya, kita akan pergi ke gereja sebentar lagi."
"Ne eomma."
"Arra, Eomma harus menyiapkan sarapan untuk kita. Cepatlah bersiap!"
Yoona keluar dari kamar, Luhan menggeliat malas. Rasanya ia masih ingin tidur, melanjutkan mimpi indahnya bersama Oh Sehun.
"Oppa~" reflek Luhan menyebut nama Namja tampan itu dengan sangat pelan karena takut terdengar oleh orang tuanya.
Disisi lain...
Oh Sehun mengikuti ibadah di rumah atasannya yaitu Choi Siwon bersama beberapa pegawai lainnya. Hanya acara kecil-kecilan.
"Tuan Choi.." Sapa Oh Sehun yang hari itu mengenakan kemeja putih polos dan jeans hitam, benar-benar tampan.
"Oh Sehun.. Kau sudah datang rupanya. Tadinya aku tak yakin kau akan datang, mengingat acara ini terlalu pagi." Ujar Siwon.
"Tentu aku akan datang Tuan."
"Baiklah, cepat cari bangku mu, sebentar lagi pendeta akan datang."
"Ne Tuan.."
Saat Sehun melangkah, tiba-tiba Choi Siwon memanggilnya lagi.
"Setelah acara selesai, bisakah kau menemui ku? Ada yang ingin ku bicarakan soal beasiswa mu."
Sehun teringat akan janjinya dengan Luhan, tapi ia berharap perbincangannya dengan tuan Choi tak akan berlangsung lama.
Pagi ini memang tak secerah biasanya, awan sedikit mendung membuat udara semakin pengap hampir seperti kedap udara.
Luhan sudah tiba di gereja bersama orang tuanya, mereka beribadah dengan khidmat. Di sela-sela ibadahnya, Luhan menyelipkan doa agar hubungannya dengan Sehun akan menemukan titik terang.
Luhan begitu semangat, pasalnya hari ini akan berkencan dengan Oh Sehun. Ia sudah mempunyai alasan untuk orang tuanya jika nanti ditanyai. Luhan akan beralasan pergi ke rumah Kyungsoo, seperti biasa Luhan akan menyeret Kyungsoo ke dalam masalahnya. Selama sahabatnya tak tau, Luhan pikir semua akan baik-baik saja.
Ibadah pun selesai, saat Luhan dan kedua orang tuanya menuju ke mobil langkah Luhan terhenti.
"Ada apa Lu?" Tanya Donghae
"Appa, aku ingin meminta izin untuk pergi ke rumah Kyungie. Aku ingin bermain bersamanya. Bolehkah?"
Donghae melihat kegugupan yang tergurat diwajah anaknya. Pasti Luhan berbohong. Pikir Donghae.
Yoona mengangguk membolehkan Luhan pergi ke rumah Kyungsoo tanpa mempertimbangkan lagi dengan Donghae.
"Kajja! Kami antar ke rumah Kyungsoo-ya." Ujar Yoona tanpa curiga.
"Andwae eomma, aku bisa pergi sendiri. Lagipula, Kyungsoo akan menjemputku di kedai kopi seberang sana." Lagi lagi Luhan berbohong.
Yoona menoleh ke arah Donghae minta pendapat. Donghae menghampiri Luhan sambil mengelus pipi halus putrinya.
"Baiklah, jangan pulang malam-malam, Lu." Ujar Donghae.
"Gomawo appa. U're the best.."
CHU~
Luhan mencium pipi sang Appa.
Yoona dan Donghae pun pulang meninggalkan Luhan sendiri. Setelah dirasa aman, Luhan segera berlari ke tempat dimana ia akan menunggu Oh Sehun menjemputnya, yaitu di sebuah kedai makanan pinggir jalan tak jauh dari gereja Luhan.
Oh Sehun juga sudah selesai acara beribadahnya, ia kini sedang berbincang dengan Choi Siwon dan beberapa pegawai lainnya. Diantara yang lain Oh Sehun lah yang termuda.
"Bagaimana jika kita bermain catur?" Usul Siwon.
Sungguh Sehun sudah sangat gelisah, pasalnya ini sudah pukul 11 siang, dimana seharusnya ia sudah sampai di kedai makanan itu.
"Mian sajangnim, tapi aku harus..."
"Aishh Sehun-ssi, ayolah.. Bahkan kita belum membahas soal beasiswamu."
Sehun merasa kesal karena ia harus dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Ia tak bisa menolak perintah Tuan Choi.
GLUDUK
JEGER
Awan saling bertabrakan sehingga menghasilkan bunyi yang sangat menyeramkan. Satu persatu, air jatuh dari langit membasahi jalanan.
Luhan sudah menunggu dua jam lamanya, tapi sosok yang di tunggu tak kunjung datang. Ia sudah menghabiskan 2 gelas buble tea, Luhan tak mempunyai Ponsel bahkan ia tidak tau dimana Oh Sehun berada.
"Kau dimana, Oppa?" Lirih Luhan semangatnya perlahan memudar.
Sehun melirik ke arah jendela yang memperlihatkan derasnya Hujan. Dirinya khawatir dengan keadaan Luhan. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan kediaman Siwon tak peduli apapun yang terjadi.
"Kau mau kemana?" Tanya Siwon.
"Maaf, aku harus pergi tuan. Ada seseorang yang menunggu ku disana. Aku sungguh khawatir karena seperti yang anda lihat sekarang sedang hujan deras. Masalah Beasiswa ku, kita bisa bicarakan nanti. Aku permisi"
Tanpa menunggu jawaban dari Siwon, Sehun segera pergi meninggalkannya begitu saja.
"Ck ck ck dasar anak muda." Gumam Siwon.
.
.
.
Sehun berlari tak mempedulikan pakaiannya yang kini basah terguyur hujan, setelah sampai di perempatan jalan Sehun baru mendapatkan Bus yang akan mengantarkannya ke tempat tujuan.
Nafasnya berderu karena jarak dari rumah Choi Siwon hingga ke perempatan jalan itu lumayan jauh. Keringat yang tersamarkan dengan basah akibat air hujan.
Memakan waktu 20 menit untuk bisa sampai kesana, akhirnya ia berdiri di depan Kedai makanan tersebut. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari sosok yang ia cari.
"Itu diaaa.." Batin Sehun.
Ia merapihkan rambut hitamnya yang basah, tak mempedulikan dirinya yang sudah kacau itu ia datang menghampiri Luhan yang tengah duduk sambil meletakan kepalanya di atas meja, memainkan sedotan.
"Luhanie~" sapa Sehun.
Mendengar suara itu Luhan sungguh senang, tapi tak bisa dipungkiri jika ia sedang kesal akibat keterlambatan Sehun.
"Oh kau, aku pikir kau sudah melupakan janjimu."
Luhan memutar matanya malas, ia beranjak dari duduknya tak menghiraukan keadaan Sehun.
"Lu, maafkan aku. Aku bisa jelaskan padamu," Sehun menahan lengan gadis kecil itu.
Para pengunjung yang ada disana bertanya-tanya apa mereka adalah adik-kakak atau sepasang kekasih, tapi jika disebut kekasih rasanya tak mungkin karena Luhan masih terlalu kecil untuk namja seusia Sehun. Sedangkan sebagai adik-kakak tapi mereka bertengkar selayaknya kekasih, sungguh pemandangan yang membingungkan.
"Aku menyesal sudah berbohong dengan orang tuaku hanya untuk menemuimu, oppa." Jawab Luhan menahan emosinya.
Disini Sehun harus dihadapkan dengan sifat Luhan yang sesungguhnya. Sifat Luhan yang kekanakan, karena tak bisa di pungkiri Luhan memang seorang anak kecil yang tidak bisa dipaksakan menjadi seseorang yang dewasa.
Sehun melepaskan pegangannya, Luhan berlari meninggalkan kedai itu. Kemudian Sehun mengejarnya, keduanya kini saling kejar-kejaran. Luhan pun tak urung ikut basah akibat guyuran Hujan.
"Luhanie! Tunggu akuuuu!" Teriak Oh Sehun.
"Hixs.. Hixs.." Luhan menangis, ia berlari tak tentu arah.
Kaki kecil itu akhirnya lelah dan menyerah, tanpa sadar langkahnya menuntun ke sebuah taman yang saat itu sepi karena sedang hujan deras.
"Hixs.. Hixs.."
TAP
TAP
Suara langkah Oh Sehun yang semakin mendekat, ia sedikit lega karena pada akhirnya gadis keras kepala itu menghentikan langkahnya. Sehun melihat Bahu Luhan bergetar hebat, ia merasa bersalah karena sudah mengecewakan gadis kecil itu.
HAAH... HAAH... HAAH...
Suara nafas berat Oh Sehun.
Dibawah guyuran hujan, di tengah taman kota yang sepi itu Oh Sehun menghampiri kekasihnya yang sedang menangis memunggunginya.
"Maafkan aku, Lu..." Lirih Sehun.
Luhan berniat untuk meninggalkan tempat itu.
GREP!
Sehun dengan cepat memeluk tubuh mungil itu dari belakang dengan erat.
"Ku mohon jangan pergi Lu. Maafkan, berikan aku kesempatan sekali lagi."
"Hixs.. Hixs.."
Luhan hanya diam, tubuhnya tak mampu menolak sentuhan dari Oh Sehun, meski Hatinya kecewa tapi dibalik itu semua Luhan sungguh menyukai Namja tampan itu.
.
.
.
Kyungsoo dan Kim Jongin saat ini tengah menikmati hari minggu bersamanya di rumah Kim Jongin, tepatnya di dalam kamar namja itu. Orang tua Jongin sedang melakukan perjalanan bisnis ke Jepang, maka saat ini dirumah Namja tan itu sedang sepi hanya ada mereka dan beberapa pelayan saja.
"Yaaa, kyung ayo kau pasti bisa mengalahkan aku.." Seru Jongin menyemangati Kyungsoo yang sibuk menekan tombol-tombol PSP-nya.
"Yak! Diamlah Oppa, kau akan membuatku kalah dengan ocehanmu." Sahut kyungsoo sedikit kesal.
"Hahahahahaha..." Jongin terkekeh.
Seberapa keras usaha burung hantu itu tetap saja ia kalah dari namja penggemar game itu.
"Kau kalah lagi.." Ejek Jongin.
Kyungsoo mengerucutkan bibirnya, ia membanting pelan PSP milik kekasihnya ke atas karpet bulu yang sangat tebal. Kyungsoo beralih ke atas ranjang, ia mendelik tajam ke arah Jongin yang masih menertawainya.
"Tertawalah sepuasmu, Oppa!" Ketus Kyungsoo.
Jongin sadar dirinya sudah berlebihan, bagaimana mungkin Kyungsoo bisa menang jika ia bersikeras ingin melawan Jongin dalam permainan Bola sementara Jongin adalah penggemar sepak bola, bahkan ia rela tidur larut malam hanya untuk menyaksikan siaran langsung sepak bola yang ia sukai.
Jongin menghampiri Kyungsoo dan menempatkan dirinya disamping kekasihnya yang sedang merajuk. Ia merangkul bahu gadis burung hantu itu.
"Maafkan aku, sudah jangan marah lagi. Aku kan hanya bercanda."
"Cihhh!" Kyungsoo berdecih dan memalingkan pandangannya ke arah selain Jongin.
"Baby~" Jongin mengusap-usap wajahnya di bahu Kyungsoo yang beraroma Cokelat itu.
DEG
DEG
Hati Kyungsoo berdegup kencang saat Jongin melakukan itu, ia merasakan aliran darahnya terpacu.
Jongin meraih dagu milik Kyungsoo dan menuntunnya untuk menghadap ke arahnya. Kyungsoo mengerjap bingung, sungguh ia tidak pernah berada sedekat ini dengan Jongin. Bahkan jarak itu semakin menipis karena Jongin memajukan wajahnya, Kyungsoo tidak bodoh ia pernah tak sengaja melihat sang eomma dan appa melakukan adegan ini di dapur. Segera Kyungsoo memejamkan mata bulatnya, menanti apa yang akan dilakukan Jongin.
CHU~
Jongin mendaratkan sebuah ciuman singkat dibibirnya. Walau singkat, tapi sungguh membuat Kyungsoo merasa lemas.
BLUSH~
Wajah burung hantu itu memerah, melihat itu Jongin tersenyum sambil mengelus rambut ikal Kyungsoo.
"Jangan marah lagi ya, aku berjanji tidak akan meledekmu lagi." Ucap Jongin memasang wajah berpura-pura sedih.
Kyungsoo hanya diam tak berkutik, Jongin benar-benar berhasil membuat Kyungsoo terpaku.
.
.
.
Hari sudah larut malam, Kyungsoo diantar pulang oleh Jongin sampai depan rumahnya dengan menggunakan motor besar miliknya.
"Terima kasih sudah menemaniku seharian ini. Sampai bertemu besok di sekolah,kyung." Ucap Jongin.
"Hati-hati dijalan, Oppa."
Tiba-tiba..
CHU~
"Eh!"
Kyungsoo mencium pipi Jongin lalu ia segera berlari masuk ke dalam karena malu.
"Hei Kyungsoo! Aissshhhh... Dasar kau." Jongin terkekeh melihat kelakuan Kyungsoo barusan.
Jongin pun menyalakan motornya dan bergegas pulang ke rumahnya.
Kyungsoo tak bisa berhenti untuk tersenyum, ia masuk ke dalam rumahnya tanpa memperhatikan sekitar. Kyungsoo diam sejenak, menyenderkan tubuhnya di balik pintu memejamkan wajahnya mengingat kejadian hari ini yang begitu indah.
"Ehem.. Ehem.."
Mata bulat itu seketika terbuka, mencari dimana sumber suara itu. Matanya membesar saat ia melihat kedua orang tuanya sedang duduk di sofa ruang tamu bersama orang tua Luhan.
Apa? Orang-tua-Luhan?!
"Kyungie sudah pulang, bagaimana belajar bersamanya dengan Kim Jongin?" Tanya sang eomma.
Kyungsoo melirik ke arah Lee Donghae dan Yoona yang juga sedang melihat ke arahnya. Apa yang paman dan bibi lakukan disini? Batin Kyungsoo.
"Beri salam pada paman dan bibi, Kyung." Ucap Appanya.
Kyungsoo membungkuk sopan memberi salam pada orang tua sahabatnya.
"Annyeong paman dan bibi, lama tidak bertemu." Sapa Kyungsoo.
Sang eomma meminta Kyungsoo untuk duduk di Sofa yang masih kosong, karena ada hal penting yang akan ditanyakan oleh paman dan bibinya.
DEG
"Matilah aku jika itu tentang Luhan dan Sehun-ssi." Ujar Kyungsoo dalam hati, langkahnya terasa berat untuk menuju ke Sofa itu.
Kyungsoo kini duduk berhadapan dengan orang tua Luhan. Ia berusaha setenang mungkin.
"Kapan paman dan bibi sampai? Luhan mana? Kenapa ia tidak ikut?" Tanya Kyungsoo basa-basi.
Yoona menggenggam tangan Lee Donghae yang memasang wajah datarnya itu. Sungguh beribawa.
"Kyungie sayang, bolehkah bibi bertanya sesuatu?" Ucap Yoona dengan halus seperti biasa.
"Ada-apa-bi?" Kyungsoo mulai merasakan sesuatu yang tidak mengenakan.
"Hmmm..."
"Apa Benar kau mempunyai sepupu yang baru datang dari Jepang?" Potong Donghae.
Kyungsoo dan kedua orang tuanya tak mengerti apa yang dimaksud oleh pria yang berprofesi sebagai polisi itu.
"Sial! Apalagi yang kau perbuat disana,Lu?" Umpat Kyungsoo dalam hati.
"Jawab kami, kyung?" tanya Donghae.
"..."
"Sepupu? Dari jepang? Siapa itu? Bahkan kami tidak mempunyai sanak saudara disana, Hae." Ujar Eomma Kyungsoo.
Yoona bisa merasakan tangan suaminya bergetar, ia tau saat ini Donghae sedang menahan emosinya. Bahkan saat ini Luhan belum pulang ke rumah. Itulah yang membawa Yoona dan Donghae ke rumah Kyungsoo memastikan apa benar anaknya sedang bermain disana.
"Ada apa ini? Mengapa aku merasa ada yang aneh?" Tanya Appa Kyungsoo.
Kyungsoo menunduk, ia begitu takut karena saat ini ia berada di antara orang-orang tua yang berusaha untuk menginterogasinya.
Sementara itu...
TUT... TUT...
Suara kereta dari arah Busan sedang menuju Seoul. Didalam kereta yang lumayan kosong, nampak sepasang kekasih yang duduk berdua dimana sang Yeoja meletakkan kepalanya di bahu sang Namja. Oh Sehun mengenggam tangan Luhan yang sedang terpejam karena kelelahan. Dileher Luhan melingkar sebuah kalung yang Sehun buat dari kumpulan kerang-kerang. Ya, akhirnya setelah kejadian tadi siang, mereka kembali berbaikan. Luhan mengurungkan niatnya menonton Bioskop, tiba-tiba ia ingin pergi memancing dan bermain di pantai. Mereka memutuskan untuk pergi ke Busan dengan menggunakan Kereta agar cepat bisa sampai disana, karena waktu mereka tidak banyak.
Seharian mereka bermain di pantai dan memancing di tengah laut, Luhan begitu senang karena ia bisa menghabiskan waktunya dengan Oh Sehun. Kebahagiaan mereka jelas nampak diwajah Luhan yang berubah menjadi kemerahan akibat sengatan matahari tadi siang.
TUT.. TUT.. JUZZZZ!
Kereta berhenti di stasiun yang di tuju, Oh Sehun rasanya tak tega membangunkan gadis kecilnya itu, akhirnya ia menggendong Luhan dibelakang membiarkannya tetap tidur.
.
.
.
CITTTTTTT...
Donghae menghentikan mobilnya tepat di depan rumahnya, wajahnya begitu kusut. Yoona melirik ke arah jendela kamar Luhan ternyata masih menyala, berarti gadis itu belum pulang.
"Arggghhhh! Aku akan mencari tau siapa pria itu?" Teriak Donghae kesal.
Yoona hanya bisa menangis sambil mengelus lembut lengan sang suami.
"Tenanglah chagiya~ jangan sampai kemarahanmu membuat Luhanie-kita sedih. Hixs hixs."
"Lu, mengapa kau harus berbohong pada appa dan eomma?" Lirih Donghae.
Yoona melihat ke arah depan, dari kejauhan nampak seseorang yang datang ke arah mereka.
"Suamiku, Lihat itu." Yoona menunjuk ke arah sosok itu.
Ternyata itu adalah Oh Sehun yang masih setia menggendong Luhan, bedanya kini Luhan sudah terbangun. Ia menaruh dagunya di Bahu Sehun.
"Ingat pesan-pesanku, jika sudah besar nanti kau harus tetap cantik seperti ini."
"Bagaimana jika dewasa nanti tubuhku menjadi gemuk? Apa kau masih akan menyukaiku, Oppa?"
"Hehehehe.. Tentu saja. Bahkan aku akan selalu mencubitimu karena saking gemasnya."
"Yak! Jahat sekali kau. Tapi maukah kau berjanji padaku?"
"Apa?"
"Kita akan tetap seperti ini sampai aku dewasa nanti."
Oh Sehun terdiam, ia sendiri tak mempunyai jawaban pasti. Paling tidak, ia harus menunggu 15 tahun lagi hingga Luhan benar-benar menjadi gadis dewasa dan selesai sekolah.
"Kenapa kau diam?" Tanya Luhan.
Langkah itu terhenti karena mereka sudah sampai didepan rumah Luhan. Oh Sehun merasa terselamatkan kali ini, ia berhasil menghindar dari pertanyaan Luhan yang ia sendiri blm bisa pastikan.
"Lu..." Yoona menggerakan tubuhnya berniat untuk keluar dari mobil tapi di tahan oleh Donghae.
"Biarkan saja, kita lihat apa yang akan mereka lakukan." Ujar Donghe. Yoona begitu cemas, ia berpikir Oh Sehun adalah seorang pria yang berniat buruk pada gadis kecilnya. Berbeda dengan istrinya, Donghae tetap membawa dirinya tenang. Keduanya memperhatikan pemandangan di depan mereka.
Luhan turun dari gendongannya, Oh Sehun menggeliat kecil meluruskan urat-uratnya yang lumayan tegang karena harus menggendong Luhan.
"Ternyata kau berat juga.." Keluh Sehun sambil memukul-mukul pelan langannya yang dirasa pegal.
BUGH!
Luhan memukul Lengan berotot itu dengan delikan matanya yang tajam.
"Yak! Aku bercanda tau.. Yasudah masuklah, nanti Appa dan Eomma mencarimu. Aku tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Arraseo?" Ucap Sehun mencubit pipi Rusanya.
"Arra, Oppa. Terima kasih untuk hari ini, selamat malam." Senyum sumringah terpasang di wajah Luhan.
Keduanya saling melambaikan tangan, Oh Sehun pun berlalu dari pandangan Luhan kemudian disusul Luhan yang masuk ke dalam rumah sambil mengelus-ngelus lembut kalung kerang yang ia pakai itu.
Yoona menitikkan air matanya, tak menyangka jika anak nya telah jatuh cinta pada pria dewasa yang bahkan lebih cocok menjadi kakaknya. Ia takut Luhan di jerumuskan ke hal-hal aneh yang akan menghancurkan masa depannya, apalagi jika dilihat Oh Sehun terlihat seperti pria dari kalangan biasa. Donghae yang melihat istrinya pun hanya bisa menepuk pelan bahu sang istri, berharap sang istri bisa kembali tenang.
Sesuai perjanjian yang dibuat Yoona, Donghae maupun Kyungsoo, mereka tidak akan menegur Luhan sampai waktunya tiba, waktu dimana Donghae dan Yoona akan memulai hidup baru, jelas itu membuat Kyungsoo sedih tapi ia tau jika itu pasti akan membuat Luhan jadi lebih baik. Mereka akan berpura-pura seolah-olah tidak ada apa-apa.
Dilain sisi ada Kyungsoo yang tengah menangis sambil memandangi frame photonya bersama Luhan.
"Mianhe, Lu~ hixs."
Ia membawa photo itu kedalam dekapannya hingga tertidur.
.
.
.
Yoona mengusap rambut halus Luhan yang kini sudah tertidur dibalik selimutnya. Rasanya hari ini ia begitu lelah, bukan karena kegiatannya di hari minggu, tapi lebih tepatnya ia lelah karena menangisi putrinya. Yoona melirik ke arah jam dinding sudah menunjukkan pukul 2 pagi, ahh padahal besok pagi ia sudah harus menghadapi hari senin dimana ia kembali pada rutinitasnya sebagai seorang pekerja, entah kenapa malam ini Yoona tidak bisa tidur.
CEKLEK!
Yoona tau yang membuka pintu itu pasti suaminya yang mungkin terbangun dan mendapati dirinya tidak ada disamping suaminya.
"Kenapa disini?" Tanya Donghae dengan suara paraunya.
"Aku tidak bisa tidur." Lirih Yoona.
"Kau sedang hamil, ku mohon pikirkan juga bayi yang ada di perutmu itu baby."
"Fiyuhhhh~" Yoona hanya menghembuskan nafas panjang.
Donghae menghampiri Yoona yang duduk di tepi ranjang, ia menoleh ke arah Luhan yang sedang tidur dalam damainya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kajja! Kau akan membangunkannya." Donghae meraih tangan istrinya.
"Tunggu..."
Yoona mencium kening rusa cantiknya dengan penuh harapan jika Luhan akan bermimpi indah malam ini. Setelah itu, ia pun keluar bersama Donghae melanjutkan tidur mereka.
.
.
.
Siang ini Kyungsoo meminta maaf pada Luhan karena ia tidak bisa menemani sahabatnya pulang bersama, Kim Jongin meminta dirinya untuk mencari buku di toko buku. Sebentar lagi Jongin akan menghadapi ujian kelulusan, maka ia harus banyak-banyak belajar. Luhan mengerti, lagipula ia tidak boleh egois dan harus mulai terbiasa dengan hal itu.
"Kau yakin tidak ingin menyuruh 'bodyguard'mu untuk menjemput?" Kyungsoo memastikan.
"Tidak kyung, sudahlah jangan mengkhawatirkan aku. Kalian hati-hati dijalan ya." Jawab Luhan.
"Baiklah, kami pergi dulu." Timpal Jongin disusul Kyungsoo naik ke batang sepeda Jongin.
Mereka saling melambaikan tangannya. Setelah Kaisoo couple itu pergi, Luhan masih berdiam di depan gerbang sekolahnya. Tak terasa hingga sekolahpun sepi, Luhan mulai merasa cemas. Ia seperti menunggu.. Setelah 30 jam menunggu akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang, Oh Sehun beserta perlengkapan eskrimnya. Senyuman berhasil tercipta di bibir gadis kecil itu.
"Oppa!" Teriak Luhan berjingkrakan. Karena tidak sabaran, ia berlari ke arah Oh Sehun.
"Hati-hati Lu nanti kau terjatuh." Sahut Sehun.
Akhirnya mereka bertemu, Sehun turun dari sepedanya. Ia membuka topinya dan mengipaskan ke bagian wajah, karena sangat panas.
"Maafkan aku tuan putri, hari ini pembeliku banyak sekali." Terlihat gurat kepuasaan diwajah Sehun.
"Jinja? Apakah semua habis terjual?"
"Yaps!"
"..."
"Tapi tenang, aku menyisakan 1 untukmu." Oh Sehun segera mengambilnya dari gerobak dan memberikan ke Luhan.
"Gomawo oppa."
Sehun mengelus-elus pucuk kepala Luhan.
"Kajja! Kita pulang." Ujar Oh Sehun.
Luhan duduk di sepeda sementara Oh Sehun berjalan pelan disamping Luhan sambil mendorong sepedanya. Benar-benar romantis, mereka tak mempedulikan beberapa sorot mata yang mengarah ke arah mereka. Tanpa sadar ada yang memperhatikan kebahagiaan mereka dari jauh. Bagi Luhan, Oh Sehun tetap Oppa tertampannya yang baik hati.
.
.
.
Drttt.. Drttt..
Ponsel Yoona berbunyi, saat itu Yoona tengah mengerjakan pekerjaannya. Tapi ia merasa penasaran saat yang tertera dilayar ponselnya adalah Ny. Yuri wali kelas Luhan.
"Annyeonghaseyo Ny. Yuri." Sapa Yoona.
"Annyeonghaseyo Ny. Lee. Apakah aku menganggumu?"
"Aniya, ada apa Ny. Yuri menghubungiku? Apakah ada yang terjadi dengan Luhan disekolah?"
"Ah tidak Nyonya, hanya saja..." Sejenak Ny. Yuri terdiam karena ia teringat kejadian yang baru saja ia lihat.
"Ada apa nyonya?" Tanya Yoona membuyarkan lamunan Ny. Yuri.
"Bisakah besok Nyonya datang ke sekolah? Ada yang ingin aku bicarakan soal Nona Lee."
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Wah gawat nih kayanya makin banyak yang tau soal hubungan Luhan sama si tampan Sehun ya? Yaa.. Kita berharap aja yang terbaik untuk cinta terlarang ini. :D
Gimana.. Gimana.. ? Kalian puas gak sama Chapt ini? Kalau kurang puas mohon dimaafkan ya.
Buat yang udah Review, makasih banyak ya. Doain aja semoga bisa update cepet kaya chapt-chapt sebelumnya. Karena cerita ini sudah terkonsep dalam pikiran, tinggal dituangin aja ke dalam tulisan. Cuma kadang, ngumpulin moodnya itu yang susah.
Sekali lagi, aku minta reviewnya ya buat nyemangatin aku.
GOMAWO *XoXo
