Aspirin
By eseukei
"Satu, dua, tiga, empat."
Musik pun dimainkan.
Aku kembali berada di ruangan berdinding cermin ini. Bersama dengan kedelapan temanku dan seorang koreografer yang setia menemani di saat-saat seperti ini, kami berkumpul dan melakukan latihan rutin.
Kami berada di tengah ruangan, menari dan menyanyi. Itu adalah kegiatan rutin kami semenjak sekitar tiga tahun yang lalu. Semakin lama semakin besar porsi kegiatan ini pada jadwal setiap membernya. Selain karena lagu kami yang terus bertambah, hal itu juga karena kami mempunyai tujuan yang besar. Tak mungkin bagi proyek ini untuk berjalan di tempat. Maka dari itu, kami mempersiapkan diri untuk melangkah dan menjadi yang terbaik.
Suhu tubuh meningkat, menjadikan atmosfir di sekeliling kami terasa panas. Pakaian kami mulai basah karena keringat. Napas memburu di antara gerakan tangan dan kaki kami. Konsentrasi kami hanya tertuju pada musik yang sedang melantun dan ketepatan gerakan dengan tempo. Semua hal ini kami ulang lebih dari tiga jam. Semua ini melelahkan.
Sang koreografer atau yang biasa kami sebut pelatih, berdiri di depan ruangan. Ia terlihat tidak seperti kami yang susah payah menari sepanjang waktu latihan. Tetapi ia memperhatikan kami dengan teliti yang memang merupakan salah satu tugasnya. Ia tak akan melewatkan apapun dari pengawasannya; satu orang pun dari kami, atau bahkan satu gerakan dari yang kami lakukan. Ia harus memastikan tidak ada kesalahan yang terjadi dan memastikan semua koreografi terlaksana oleh semua member dengan baik dan sempurna. Hal itu merupakan sesuatu yang melelahkan pula.
Tapi tak ada yang muak dengan semua hal itu. Esoknya, kami akan datang ke tempat yang sama dan melakukan hal yang sama. Tidak hanya karena lembaran kontrak yang telah ditandatangani, tetapi kami merasakan ada sesuatu yang besar yang telah menanti.
Kangaeru dake yori minna de hashirou~
Anggota grup yang merupakan pemeran dari anak-anak kelas satu menyanyikan bagian mereka. Mereka melakukannya seperti biasa, bagus tanpa kesalahan yang berarti. Gerakan mereka semakin kompak. Suara mereka berpadu dengan sempurna. Mereka pun tak luput dari senyum. Itu adalah sebuah kewajiban karena hal itu dapat mempertegas tema dari lagu yang sedang kami nyanyikan ini; "Bokura wa Ima no Naka de".
Walaupun begitu, mengatur pernapasan adalah salah satu kendala yang masih dialami oleh sebagian besar dari kami. Hal itu wajar, sebab tidak semua member mempunyai dasar menjadi penyanyi. Tentu saja, jika dibandingkan dengan tiga tahun yang lalu, semua member mengalami banyak kemajuan. Walaupun begitu, hal itu masih kami anggap belum cukup.
Kemudian saatnya kelas tiga membawakan bagiannya. Enam anggota sisanya melakukan pergantian formasi. Perubahan yang terjadi tidak terlalu berbeda. Aku bersama dengan dua rekanku yang memerankan kelas dua hanya menghampiri para pemeran kelas satu dan akhirnya kami dituntut untuk saling berhadapan dengan pemeran kelas dua.
Posisiku berada di depan pemeran si jago piano di grup, yaitu Pai-chan.
Sore nara okoru yo kiseki wa hitsuzen–
"Stop." Pelatih kami bersuara dengan lantang, membelah lantunan musik yang memenuhi ruangan.
Semuanya berhenti bergerak. Musik pun dihentikan.
Seketika, pandanganku dan member yang lain mengarah ke pelatih. Ia terlihat sedikit gusar. Kedua matanya tertutup, alisnya saling bertemu. Dengan jemarinya yang memijat pelan keningnya, ia mendesah pelan.
"Kita ulangi kembali verse ini."
Hampir semua dari kami memasang wajah tak percaya. Aku juga merasa sedikit keberatan, tapi aku hanya tersenyum melihat respon teman-temanku yang kurasa cukup lucu. Lalu aku ingin melihat respon orang yang ada di depanku pula. Saat aku ingin melihat Pai-chan, ia sudah tidak ada di depanku. Ia sudah kembali ke tempat asalnya.
Semua orang segera membentuk posisi yang telah disebutkan. Aku pun segera ke posisiku yang telah ditentukan. Kemudian pelatih mulai memainkan musiknya lagi. Kami ulangi bagian verse tersebut. Musik pun kembali melantun.
Bukan hanya kali ini bagian verse ini diminta untuk diulang dalam hari ini. Aku tak tahu mengapa bagian ini terus-menerus diulang. Aku merasa aku dapat menguasai bagian ini dengan baik. Kulihat sekelilingku pun demikian. Tidak ada keterlambatan, tidak ada kesalahan, tidak terlihat apapun yang menyimpang. Setidaknya, sudah lebih dari lima kali kami lakukan bagian verse ini. Cukup aneh. Padahal sebelumnya, lagu ini adalah lagu yang paling mudah dan singkat durasi latihannya.
Pemeran kelas satu kembali menyanyikan bagiannya. Tidak ada yang berbeda dengan yang sebelumnya. Mereka masih terlihat penuh semangat, walau butiran peluh sudah membasahi sebagian wajah mereka. Hal ini juga berarti, sebentar lagi adalah saat kelas tiga menyanyikan bagiannya. Ini adalah saat ketika pelatih kami menghentikan lagunya. Seraya melangkahkan kaki ke posisi selanjutnya, aku harap pelatih tidak meminta kami mengulangnya kembali. Jujur saja, aku sudah bosan melakukannya.
Formasi kami sudah sampai pada pemeran kelas dua dan pemeran kelas satu saling berhadapan. Saat aku melihat ke depan, aku terkejut.
Sore nara okoru yo kiseki wa hitsuzen–
Pai-chan menatapku tajam.
Tidak, bukan seperti ini tatapan yang biasa ia berikan padaku.
Wajahnya serius, sangat serius. Jelas sekali kedua bola matanya yang coklat itu menatap lurus kepadaku. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu lewat bibirnya yang sudah siap bercuap. Ia malah terlihat seperti menyampaikan sesuatu lewat telepati yang tentu saja, aku tidak dapat mengerti. Walaupun begitu, ia dapat menjaga gerakannya tetap mengikuti irama. Hal itu membuatku tidak dapat mengontrol gerakanku. Aku bahkan mulai melupakan irama dari musiknya. Aku tidak bisa berkonsentrasi.
–kore kara da yo nani mo kamo zenbu ga~
Kejadian itu hanya terjadi selama beberapa detik. Semakin lama jantungku berdegup semakin kencang, entah mengapa. Akhirnya, kami harus berpisah karena harus melakukan pergantian formasi.
Saat aku hendak melangkah, kakiku terasa lemah. Aku tidak bisa menariknya dengan cepat. Keterlambatan itu menyebabkan kakiku tersandung dengan kakiku yang lain, padahal tubuhku sudah maju terlebih dahulu. Selanjutnya, aku merasa terbang kemudian terjun.
Wakatteru–
Dengan keningku mendarat di lantai terlebih dahulu, aku terjatuh.
BUGH
"Ucchi!"
-[]-
Tubuhku mati rasa dan kaku untuk sejenak. Pada saat yang bersamaan pula, terdapat banyak suara di sekelilingku. Sebagian besar suara itu adalah suara teman-temanku, ada pula yang sampai berteriak. Lalu aku merasakan tubuhku terangkat. Aku sempat merasa melihat wajah panik teman-temanku, walaupun terlalu kabur dan terasa seperti mimpi.
Lalu aku menyadari keanehan pada penglihatanku. Sejauh aku memandang hanya ada hitam. Kelopak mataku terangkat; aku membuka mata. Ternyata aku sudah ada di ruangan yang berbeda. Kurasakan empuk permukaan yang aku tiduri. Aku raba dengan kedua tanganku. Aku rasakan tekstur kain yang sudah familiar, ini adalah permukan sofa yang ada di ruang ganti.
"Aduh!"
Rasa nyeri di kening menjalar dan membuat seluruh tubuhku ngilu. Tak sengaja tanganku segera memegang letak sumber rasa itu. Aku tidak merasakan kulitku di sana. Aku merasakan sesuatu sejenis kain.
"Plester?"
Aku bangkit dan sekarang aku duduk. Rasa nyeri ini terlalu kuat sehingga sempat membuatku meringis beberapa kali. Masih menerawang saat-saat sebelum aku berada di sini, suara pintu terbuka membuyarkan lamunanku.
"Ucchi, kau sudah sadar?" Sebuah suara terdengar dari balik pintu yang belum sepenuhnya terbuka. Lalu muncullah sesosok yang sudah sangat kukenal. Pai-chan datang dengan membawa sebotol air.
"Hmm, begitulah." Jawabku pelan. Aku tak tahu suaraku terlalu pelan atau tidak. Mungkin ia tidak mendengarnya. Pai-chan mengambil tempat duduk kosong yang berada di sampingku.
"Sebaiknya kau beristirahat." Katanya.
Aku hanya mengangguk. Ia membiarkan kami diam sejenak sebelum akhirnya ia memberikanku botol yang ia bawa tadi tanpa sepatah kata pun. Aku menerimanya. Aku jadi merasa haus.
"Aku kaget saat mendengar suara benturan tadi. Kau terjatuh cukup keras. Kau bahkan sempat pingsan." Ucapnya saat aku sedang meminum air tersebut, "Semua orang khawatir."
"Eh? Kau yakin?" Aku tidak percaya aku bisa selemah itu.
Kalau dipikir lagi, bukankah ini salah dia sendiri? Mungkin saja aku memang sudah lelah dan kakiku mulai lemas, tapi aku tersandung karena ia membuyarkan konsentrasiku adalah sebuah fakta. Aku tidak akan terjatuh seperti sebelum-sebelumnya karena ia tidak berlaku begitu. Lagi pula, kenapa ia tiba-tiba menatapku begitu serius, sih?
Lalu, kenapa aku harus gugup dengan tatapannya itu?
"Pasti rasa sakitnya masih terasa, kan?" tanyanya. Ia pun menyodorkan sesuatu dan meletakannya di atas pangkuanku. Sebutir obat pereda rasa sakit. "Mungkin ini akan membuatmu lebih baik."
Aku menerimanya dan menelannya. Aku harap rasa sakit ini hilang dan dapat segera ikut berlatih kembali, bersama dengan yang lainnya. Saat aku kembali ke ruang latihan, mungkin aku akan disuruh kembali ke sini dan beristirahat, mengingat aku sempat tak sadarkan diri karena terjatuh tadi.
"Terima kasih." Ucapku.
Ia tersenyum. Lalu rautnya berubah dengan cepat. Ia terlihat murung. "Maaf."
"Kenapa meminta maaf?" Aku bertanya. Apa karena ia sadar kalau ia yang sebenarnya membuatku seperti ini? Mungkin tidak, mungkin juga iya.
Sekarang ia terlihat gugup. Bukannya menjawab pertanyaanku, ia memainkan jemarinya. Tatapannya ia lemparkan jauh ke sudut ruangan, berlawanan dengan keberadaanku. Tampaknya, ia sedang menghindar dariku sejenak. Tak sadar, senyum terkembang di wajahku.
"Err, lupakan! Sebenarnya, ada satu cara lagi supaya rasa sakitnya cepat hilang. Tapi aku tak tahu apakah ini bekerja padamu atau tidak." Ia semakin terlihat gugup, ditambah panik.
Untuk sejenak, aku merasa bingung. Begitupun di detik berikutnya, aku dibuat semakin bingung saat ia menggeser tempat duduknya sehingga tubuh kami saling menyinggung. Berhubung aku berada di bagian ujung sofa, aku tidak bisa bergerak kemana-mana. Ia kembali menatapku lekat, sama seperti yang ia lakukan saat kami berada di ruang latihan sebelumnya.
Aku terlalu fokus pada bola matanya, tak sadar wajahnya semakin mendekat dan mendekat. Dengan sendirinya, aku mencoba menjauhkan tubuhku darinya sebisa mungkin. Pada akhirnya, aku terpojok di tangan sofa. Ia pun tak berhenti-hentinya mendekat. Jantungku kembali berpacu cepat. Hingga aku dapat merasakan hangatnya napas yang ia hembuskan, aku menutup mata. Hening sejenak.
"Ah!"
Aku terkejut saat sesuatu yang lembut mendarat di ujung indera penciumanku.
Pai-chan meninggalkan kecupan pada hidungku.
Aku melongo. Dengan cepat, ia menjauh dariku. Wajahnya merah.
"Oh, anggap saja aku hanya memberimu balasan dari yang sebelumnya kau lakukan padaku."
Ia pun segera berdiri dari sofa dan pergi. Aku masih terbengong-bengong sampai akhirnya ia hilang di balik pintu. Aku tinggal sendirian bersama jantungku yang masih saja berdegup kencang.
"...balasan?"
A/N: oke, ini adalah chapter yang sudah kujanjikan sebelumnya, sekaligus menjadi chapter penutup. Update-an ini sekaligus perayaan kecil untuk diriku yang sudah satu tahun berada di ffnet /gakpeduli
Ah~ Sudah lama enggak nulis uchipai, sempat lupa juga penokohan yang sudah kutentukan sebelumnya... btw kok malah curhat yak?
Sekian dari saya, sampai jumpa di cerita berikutnya!
eseukei – 2016
Southwest Project
