.

A CERTAIN ROMANCE

"Let's embrace the point of no return"

.


CHAPTER TWO
DISCLOSURE


Sedikit fakta menarik, Kim Jongin bukan pembuat onar.

Tingkahnya mungkin dapat dikategorikan sebagai pemberontak, tetapi Jongin tidak pernah mereka-reka alasan demi membuat masalah. Ia hanya tidak menyukai terlibat pada sesuatu yang tidak memancing minatnya. Rutinitas sekolah, merupakan salah satu di antaranya. Jongin sama sekali tidak mengerti mengapa orang-orang bisa duduk berjam-jam untuk mendengarkan materi yang terkadang mereka keluhkan setelahnya.

Perkara yang sama adalah apa yang ia amati dari Kyungsoo. Lelaki itu terlalu memusatkan diri pada peringkat—pada pencapaian yang diukur lewat sebuah nilai universal. Seperti seorang budak yang dapat dengan mudah dibodoh-bodohi oleh sistem.

Oleh karena itu, untuk mengatakan bahwa Jongin membenci Kyungsoo mungkin sedikit berlebihan.

Ia tidak mengkotakkan perasaan pada seorang individu. Ia mengkotakkan perasaan berdasarkan kepribadian dan pola pikir yang dimiliki oleh individu tersebut. Atau dengan kata lain, Jongin tidak mempermasalahkan kehadiran Kyungsoo—apa yang ia permasalahkan adalah ketika lelaki itu mulai menampakkan kepribadian yang tidak ia sukai.

Jongin mulai menyadari bahwa Kyungsoo bertindak di luar logika. Memaksakan diri untuk terus menjadi pelepas nafsunya walaupun tubuh lelaki itu jelas menjerit meminta pertolongan. Ia seringkali menangkap Kyungsoo berjalan di lorong sekolah dengan limbung serta wajah pucat. Desahan yang lelaki itu hasilkan juga bukan lagi desahan yang sama. Melainkan geraman untuk menahan sakit.

Maka, Jongin mencari batasan.

Ia ingin tahu seberapa keras kepala Kyungsoo mempertahankan perjanjian yang terang-terangan merugikan lelaki itu dengan meningkatkan ritme permainan.

Jongin sengaja menghujam dengan kasar. Membuat tubuh Kyungsoo berayun maju mundur seiring dengan gerakannya. Kedua kaki Kyungsoo berada di bahu Jongin, kejantanan lelaki itu dalam keadaan terikat sebab Jongin menghukumnya. Kyungsoo telah dua kali mencapai klimaks dan Jongin ingin mencegah lelaki itu untuk kembali menemui puncak sebelum ia puas.

Lelaki di bawahnya melipat bibir, matanya memerah karena terisak. Pada beberapa bagian tubuhnya terdapat luka bekas gigitan yang membiru. Namun Jongin tidak mendapatkan kalimat protes sedikitpun. Pikirannya hampir menyimpulkan bahwa Kyungsoo adalah seorang masokis jika saja ia tidak menangkap rintihan kesakitan yang sesekali terdengar ke telinganya.

"K—Kai, please." Pinta Kyungsoo lirih.

Jongin tidak dapat membedakan apakah permintaan itu ditujukan agar ia berhenti mendorong kejantannya dengan brutal atau melepas ikatan yang menghalangi Kyungsoo untuk kilmaks.

Sialnya, rasa iba terkadang hadir di saat yang tidak tepat.

Jongin memilih menyerah.

Ia membuka ikatan di milik Kyungsoo sebelum melepaskan sesuatu telah ia tahan sejak tadi. Kukunya menancap pada betis Kyungsoo ketika lelaki itu akhirnya ikut menegang. Mereka berdua mencapai puncak pada waktu yang hampir bersamaan.

Kemudian—seperti biasa. Atmosfer berganti, ketegangan luntur. Kyungsoo menarik nafas panjang untuk sekedar mencari energi agar bisa bangkit. Lelaki itu menarik diri untuk duduk, sementara Jongin memperhatikan setiap geriknya. Ia sedikit berharap Kyungsoo mau membuka mulut mengenai tindakannya yang semena-mena.

Tetapi lelaki itu tidak mengucapkan satu patah katapun selain gumaman lirih, "Kurasa hari ini cukup sampa di sini."

-[-][-][-]-

Dalam masa pubertasnya, Do Kyungsoo mengetahui ada sesuatu yang mengacaukan pola pikirnya. Seperti sekelompok pengerat yang memutus tiap benang rasionalitas. Ia tidak lagi mengetahui mana yang benar atau salah selama tujuannya tercapai.

Kyungsoo bersifat terlalu kompetitif, mengubah semua hal menjadi ajang perlombaan dimana ia harus menjadi pemenangnya. Ia menyukai tantangan—baik dalam bentuk sebuah pekerjaan maupun wujud manusia.

Manpulasi kepribadian adalah salah satu cara paling mudah agar ia lebih dekat dengan tujuannya.

Predator akan lebih tertarik pada mangsa yang lemah. Sekelompok monyet akan lebih mudah menerima monyet lain yang sekawan. Seekor singa penguasa akan bersikap tenang selama kau tidak menyinggung kehormatannya.

Ibarat rumus pasti, Kyungsoo mengerti kepribadian seperti apa yang harus ia tunjukkan terhadap setiap tipe manusia.

"Do Kyungsoo?"

Teguran dari Ms. Park mengantarkannya kembali ke realitas— ke ruang kelas berisi puluhan murid yang menengok ke arahnya, papan tulis dengan goresan rumus, bukunya setengah terbuka dan ia belum mencatat apapun sedari tadi.

"Ah, ya?" Jawab Kyungsoo sembari mematri senyum.

"Kau baik?"

Kyungsoo memandang bergantian ke seisi kelas dan Ms. Park. "Ya, saya baik. Hanya sedikit lelah karena kekurangan tidur."

"Ingin ke ruang kesehatan?" Tanya Ms. Park lagi.

"Tidak perlu." Sahut Kyungsoo, ia meloloskan tawa singkat untuk sekedar meyakinkan wanita muda itu. "Akan sedikit merugikan jika saya sampai melewatkan pelajaran menarik ini hanya karena masalah sepele."

Tanggapan yang pertama kali Kyungsoo dengar adalah dengusan mencemooh Jongin. Ia menoleh cepat, karena ia yakin ia tidak pernah berbagi kelas yang sama dengan lelaki itu. Namun pikirannya segera mengoreksi bahwa suara itu hanya berasal dari kepalanya. Kembali berbalik ke depan, Kyungsoo dihadapkan dengan senyuman tersanjung di bibir Ms. Park. Wanita itu tampak berhasil terperangkap dalam pujian murahannya.

Akan tetapi, kejadian yang baru saja terjadi justru menariknya dalam bimbang.

Kyungsoo merasa telah salah langkah, menyesali mengapa ia membiarkan Jongin mengintip wajah asli di balik topeng-topeng penyamarannya tepat pada hari pertama mereka bercakap. Ia seolah sedang mengundang Jongin untuk lebih mengetahui tentang dirinya, mengizinkan lelaki itu mempelajari tata letak kelemahan yang telah susah payah ia simpan rapat dari orang lain.

Cepat atau lambat, Jongin akan menemukan jalan menuju ke Do Kyungsoo sesungguhnya.

Karena kontras dengan fluida, sifat asli manusia menetap—tidak mengalir maupun berubah bentuk sesuai dengan lingkungan tempatnya berada.

-[-][-][-]-

"Jadi, kau hanya perlu mengkuadratkannya seperti ini. Kemudian membaginya dengan rumus yang sudah aku jelaskan sebelumnya."

Jongin bergeming. Pandangannya tertuju ke Kyungsoo yang kini tengah menguap untuk yang kesekian kali. Lelaki itu terlihat kesulitan menangkap konsenstrasi karena ia beberapa kali menggelengkan kepala, mencoba mengikat kesadarannya agar tetap di tempat.

"Ah, aku minta maaf." Kyungsoo menggosok mata sebelum melemparkan senyum yang terlalu dipaksakan. "Sampai dimana kita tadi?"

Mengabaikan pertanyaan Kyungsoo, Jongin dengan sigap menutup semua buku yang ada di hadapan mereka.

"Hey, apa yang—"

Kalimat Kyungsoo terputus sebab detik berikutnya Jongin menggendong lelaki itu ke pundaknya. Ia menjatuhkan Kyungsoo ke atas ranjang, berpura-pura tidak mendengar teriakan protes yang membuat telinganya sakit.

"Kai, stop! We're not done yet." Pekik Kyungsoo lebih lantang.

Jongin menanggapi itu dengan memutar bola mata. Tangannya bekerja untuk membuka blazer seragam sekolah Kyungsoo, juga melepas kemeja serta ikat pinggang lelaki itu.

"Kai!"

Kyungsoo terus memberontak, berusaha melepaskan diri dengan gerakan tangan yang membabi buta. Jongin dan kesabarannya yang tipis akhirnya berang. Ia menghentakkan pergelangan Kyungsoo kasar, kemudian menahannya di atas kepala lelaki itu.

"I don't want to fuck you, okay?" Teriak Jongin dengan nada tinggi.

Kyungsoo menelan ludah. Sorot mata lelaki itu menyiratkan keterkejutan bercampur kilat lain yang tidak dapat Jongin tafsirkan. Sedikitnya, Jongin benci mengapa ia terus-menerus merasa iba. Ia tidak tahu darimana perasaan itu berasal, namun setitik rasa bersalah juga berenang di dalam kalbunya.

Menghembuskan nafas lelah, Jongin mengendurkan cengkramannya. "Tidurlah. Kau membutuhkannya."

"Tapi—"

Seakan tidak tersedia cara lain, Jongin mendaratkan ciuman ke bibir Kyungsoo. Ia melumat pelan bibir lelaki itu, memagutnya dengan sedikit tarikan gigi, berharap tindakannya dapat mengusir sifat keras kepala Kyungsoo untuk sesaat. Namun, tiba-tiba jemari Kyungsoo bermain di sela rambutnya.

Mencengkram, menarik, memperdalam.

Jongin melemaskan tubuh. Kaki serta dada mereka kini bersentuhan, menyalurkan hangat serta debar yang senada. Janji Jongin sebelumnya mendadak kabur. Ia beranjak turun, lidahnya menjelajah ke ceruk leher Kyungsoo. Meninggalkan satu hingga dua kecupan kupu-kupu yang memicu desah. Tetapi moralnya mengusik di tengah jalan. Memaksa Jongin untuk membuang nafsunya secepat mungkin.

"Sleep." Jongin berbisik lembut seraya mengangkat tubuhnya.

Kyungsoo menelan ludah. Ia memandang Jongin yang berbaring di sampingnya, kemudian berucap pelan, "Thanks."

"No problem." Balas Jongin. "Jangan terlalu memaksakan diri untuk sesuatu yang tidak penting."

"Kita memiliki sudut pandang yang berlainan mengenai kepentingan." Sangkal Kyungsoo tegas.

Desahan Jongin terdengar lebih panjang. Lelaki itu membalikkan diri hingga wajah mereka saling berhadapan. "Apa yang membuatmu berpikir kau harus sempurna dalam semua hal?"

Pertanyaan itu membuat Kyungsoo tertegun. Ia menerawang jauh, mencari jawaban yang sekiranya dapat meluruskan interpretasi Jongin akan dirinya. "Aku tidak mengejar kesempurnaan." Sahutnya. "Aku mencari penghargaan. Kau tahu? Sebuah apresiasi atas kerja keras yang dinilai dari mata orang lain."

"Menurutmu itu suatu kepentingan?"

"Kebutuhan, lebih tepatnya." Kyungsoo melirik Jongin yang mengerutkan hidung. Lelaki itu jelas masih belum mengerti maksud kalimatnya. "Begini," tambahnya cepat. "Beritahu aku sesuatu yang paling kau sukai."

Kepala Jongin tidak perlu memproses dua kali untuk menyatakan, "Murals."

Seperti menyusun kepingan puzzle, Kyungsoo perlahan menyadari gambaran Jongin secara menyeluruh. Ia sekarang memahami untuk apa berkaleng cat, spraygun serta bertumpuk kuas yang berserakan di lantai ruang tidur Jongin.

Merasakan tatapan Jongin yang melekat kepadanya, Kyungsoo memulaskan senyum. "Okay. So, murals." Ia berdeham sepintas. "Baik. Bayangkan ada beberapa orang berdiri di depan mural buatanmu, kemudian mereka mengagumi karyamu, mengutarakan banyak pujian, dan kau—kebetulan mendengarkannya secara langsung. Bagaimana perasaanmu?"

"Proud? I suppose." Tutur Jongin ragu.

"Well, itu adalah hal serupa yang aku rasakan ketika melihat namaku terpampang di peringkat pertama. Rasa bangga serta puas membuatku ketagihan, mendorongku untuk bisa lebih tahu dan lebih unggul dalam apapun dari orang lain."

"Tetapi melakukan sesuatu hanya untuk mendapat apresiasi akan membunuhmu." Jongin mempertemukan matanya dengan Kyungsoo, nadinya mendadak berdesir tidak biasa ketika lelaki itu membalas tatapannya. "Kau tidak seharusnya menuruti tuntutan demi mendapat apresiasi. Sebaliknya, kau harus menikmati apresiasi sebagai sebuah hadiah. Bukan tujuan utama dalam melakukan sesuatu."

"Aku memang menikmatinya." Jongin mendengus mendengarnya dan Kyungsoo tergelak rendah. "Aku bersungguh-sungguh. Aku menyukai belajar."

"Bullshit."

Kyungsoo semakin tertawa. "Oh, baiklah. Sebagian orang memang diciptakan terlalu kompetitif—termasuk aku. Mungkin aku baru menerapkannya dalam persaingan peringkat. Tentu saja itu menuntutku untuk banyak belajar juga menjilat para guru—"

"—dan membuka kakimu kepada seseorang untuk disetubuhi." Sela Jongin.

Kyungsoo tercekat. Mereka tidak pernah membicarakan topik itu dalam situasi seperti ini. Jadi Kyungsoo sama sekali tidak mengetahui rahang Jongin yang mengeras ketika mengungkapkannya, seolah lelaki itu marah karena ia melakukan tindakan serupa dengan begitu mudah.

"Kau bahkan tidak memintaku untuk berhenti sekalipun tubuhmu kesakitan." Jongin berujar geram. Suatu pertanyaan telah menggantung di ujung lidah Kyungsoo, tetapi Jongin lebih dulu memotong, "Bagaimana aku tahu? Karena aku memperhatikanmu."

Pernyataan Jongin membungkam Kyungsoo. Ia seakan melihat seseorang yang berbeda saat ini. Seseorang yang bertentangan dari apa yang sering didengarnya dari orang lain.

"Aku berani bertaruh bahwa salah satu yang menyebabkan kau kesulitan tidur adalah hal ini." Lanjut Jongin.

Dalam pikiran Kyungsoo ia menyimpulkan bahwa kesan bukanlah perihal yang harus dijadikan landasan. Mengenal, seharusnya menjadi cara penilaian paling valid. Kyungsoo seharusnya lebih memahami itu mengingat kesan yang ia tampilkan di permukaan bukanlah ia yang sesungguhnya.

Mendekatkan jarak di antara mereka, Kyungsoo menggumam. "Apa kau selalu seperti ini?"

"Seperti apa?" Jongin mengernyit tidak mengerti.

Kyungsoo baru menyadari pertanyaan bodohnya. Ia menggeleng pelan, tertawa kecil dalam hati sebab tentu saja Jongin selalu seperti ini. Berbeda dengannya, lelaki itu tidak memilki kepribadian yang lain.

Ketakutan Kyungsoo akan Jongin bertambah.

Mungkin itu ranjang Jongin yang empuk, mungkin itu angin sepoi yang menyusup lewat jendela, mungkin karena tubuhnya kurang asupan tidur atau mungkin itu memang pengaruh suasana, tetapi Kyungsoo tahu ia lengah ketika tiba-tiba bibirnya berceletuk, "Ingin tahu rahasiaku yang lain?"

"Another secret of Do Kyungsoo." Tutur Jongin dengan nada dramatis. "Wow, today must be my lucky day!"

Kyungsoo menyingkirkan sindiran tersirat tersebut. Jemarinya menggapai kerah kemeja Jongin, meniti tepiannya lambat. "Kau," Ujarnya, "ada kaitannya dengan ambisiku—tetapi bukan dengan peringkat."

"Melainkan?"

"Hm. Aku tidak tahu harus memberitahumu atau tidak."

"Oh, Tuhan." Keluh Jongin. "Kau benar-benar sulit dipercaya."

"Perlihatkan aku salah satu mural buatanmu. Setelah itu aku akan memberitahumu."

"Kau sedang membuat perjanjian dalam perjanjian."

"Setuju atau tidak?" Desak Kyungsoo tidak sabar.

Jongin tergelak lepas dan Kyungsoo membelalak karena ia hampir tidak pernah melihat Jongin tertawa.

"Okay." Jawab Jongin, matanya melengkungkan sabit. "Tidak masalah."

Kemudian hening mendaki. Kyungsoo masih melekatkan pandangannya ke Jongin sedang Jongin belum ingin menghapus senyum samar di bibirnya. Jongin menggeser bantal Kyungsoo, meletakkan kepalanya pada satu bantal yang sama. Nafas Jongin berhembus di pipi Kyungsoo. Tangan mereka saling bertumpuk—tidak menggenggam hanya sesekali ibu jari Jongin mengusap punggung tangan Kyungsoo.

"Hey," Bisik Jongin memecah sepi. "I'm about to kiss you again."

Mereka telah menghindari berciuman sejak awal. Sebab keduanya tahu, rangsang pada bibir terkadang mengacaukan. Memproduksi senyawa yang dapat menumpulkan akal. Mengeliminasi tiap rasa asing dan menggantikannya dengan afeksi.

Tetapi Kyungsoo tidak peduli. Sungguh tidak peduli.

Ia meraih dagu Jongin. Menutup jarak, merapatkan hasrat, kemudian menautkan bibir mereka. Jongin merespon dan semudah itu api dalam dada Kyungsoo berkobar. Jantungnya berdentum, dentum, dentum ketika tangan Jongin menyapu sepanjang tulang punggungnya.

Mereka tidak berhenti.

Keduanya berciuman hingga tertidur. Hidung Kyungsoo terkubur di dada Jongin, lengan Jongin mendekap pinggang Kyungsoo erat, kaki mereka bersilang dengan celana seragam berkerut kusut.


DISCLOSURE: TO BE CONTINUED


.

Author's Note

You guys still remember me. I'm cryin'. And as always, thank for reviewing!
You light up my world like nobody else! I swear, muehehe.

Ini tambah parah sepertinya bahasa dan alurnya.
Tetapi udah dikasih warning sebelumnya bahwa ini cuma fic nyampah.
Jadi, yah. Maafkan jika ada kekecewaan.

ANYWAY! Kritik, review, serta saran sangat diterima!

ps. About kaistal, don't worry, i'm fine!

.

.

.

(nah, i'm lying)

But, really tho. I'm okay!

.

.

.

(which is also a lie)

Just kidding. I'm fine!

.

.

.

.

.

(okay, i'm going through a lot of crisis, plz cheer me up)

(with twice's song)

(cheer up, baby! cheer up, baby!)

(okay, i'll stop)

(or maybe not, hahaha)

(cheer up, baby! cheer up, baby!)

(Gosh. You hate me, don't you?)

XOXO

Sher.