.

A CERTAIN ROMANCE

"Let's embrace the point of no return"

.


CHAPTER THREE
DISORDER


Jongin tidak mengerti apa yang ia pikirkan.

Mematut diri selama lebih dari dua puluh menit di depan cermin, menata rambut sedemikian rupa, hingga mengabaikan pakaian dari dalam lemarinya yang berpindah berserakan di atas ranjang. Ia sepatutnya paham bahwa ini bukan kencan—hanya dua orang yang saling bertemu untuk menepati janji.

Jongin memutuskan membawa Kyungsoo untuk melihat salah satu mural buatannya hari ini. Lelaki itu memiliki presistensi cukup tinggi untuk memaksanya menyetujui bahwa Sabtu malam adalah waktu yang tepat.

Jadi tanpa pilihan lain, Jongin mengiyakan, meminta lelaki untuk datang ke taman dekat sekolah mereka pada pukul tujuh malam.

Jongin merapatkan jaket ke dada, tatapannya menyisir sekeliling sementara kakinya melompat-lompat kecil karena gugup—dan ia heran, karena ia sama sekali tidak pernah merasa gugup.

Terdapat sesuatu pada Do Kyungsoo yang akhir-akhir ini seakan mencuri alih kinerja tubuhnya. Tangan Jongin mudah berkeringat setiap kali lelaki itu tertawa. Belum lagi, Kyungsoo selalu menatapnya dengan cara berbeda setelah mereka tidak sengaja terlelap di atas ranjangnya tempo lalu.

Jongin kembali mengecek jam pada ponselnya. Sedikit menggerutu karena dengan bodohnya ia tidak meminta nomor ponsel Kyungsoo. Namun kecemasannya segera padam, begitu ia mendengar suara langkah kaki mendekat.

"Sudah lama menunggu?"

Jongin mendongak, mendapati Kyungsoo berdiri tidak jauh darinya. Rambut lelaki yang biasa dibiarkan turun menutupi alis itu kali ini disisir ke atas menampilkan dahi pucatnya. Setidaknya, Jongin sempat mengumpat sekali dua kali—sebab Do Kyungsoo tanpa pakaian seragam adalah sesuatu.

"T—Tidak. Aku baru saja datang." Jawab Jongin sambil meneliti penampilan Kyungsoo.

Lelaki itu terlihat sangat menarik—kontras dengan kata membosankan yang telah melekat menjadi deskripsi Kyungsoo di kepala Jongin selama ini.

Kyungsoo mendekat, mengedikkan bahu samar. "Okay, so let's go."

Bibirnya tampak begitu merah. Jongin mencatat dalam hati. Seperti selai ceri di pie buatan ibunya dan ia menduga apakah rasa bibir Kyungsoo sekarang akan sama manisnya. Oh, astaga. Ia harus segera keluar dari zona pikirannya sendiri sebelum Kyungsoo melemparkan tatapan aneh kepadanya.

"This way." Balas Jongin sekenanya.

Ia berjalan menuju ke dekat pagar masuk taman. Melewati dinding-dinding putih yang mulai ternoda lumut. Beberapa tiang jalan di sepanjang trotoar terkelupas karat, warna hitam aslinya berubah kecoklatan dan menimbulkan bau besi yang tajam.

Kemudian, langkah Jongin terhenti di sebuah boks telepon umum tua, kondisinya terlihat rapuh dengan pintu kaca yang telah retak.

"Ini mural buatanku." Ucap Jongin.

Kyungsoo yang menerima informasi itu segera berjalan ke depan boks telepon umum. Lelaki itu mundur beberapa langkah, penerangan lampu yang berada di sekelilingnya memberikan akses kepada penglihatannya untuk menyaksikan hasil karya Jongin.

"Wow, Kai," Gumam Kyungsoo takjub, "this is remarkable."

Karena Jongin tidak sekedar menggambar pada media dinding seperti kebanyakan artis mural lainnya. Jongin menyeret serta boks telepon umum yang terbengkalai di hadapannya untuk masuk ke dalam nilai seni itu sendiri.

Mendengar sanjungan Kyungsoo, Jongin menyeringai kecil. "Oh, ya?"

"Ya." Jawab Kyungsoo cepat, tangannya menjelajah pada gambar Jongin—tiga orang lelaki berbalut jubah coklat selutut yang seolah tengah menyadap telepon umum menggunakan alat penyadap yang telah disesuaikan dengan era ketika benda itu masih merupakan hal vital. "Aku tidak mengira kau memiliki sisi ini."

Pada pernyataan itu, Jongin mengigit bibir—setengah ingin tertawa. "Kemudian apa pikiranmu mengenai aku?"

"Kau memiliki reputasi yang buruk. Aku hanya mengikuti pandangan umum." Balas Kyungsoo tanpa memalingkan tatapan.

"Ah, tentu saja. Berkebalikan denganmu?" Serang Jongin.

Ia tidak ingin menimbulkan percik sindiran. Tetapi Kyungsoo—kenyatannya, tidak pernah terpengaruh oleh segala sindirannya. Lelaki itu selalu bersikap tenang. Penuh pengendalian diri terhadap emosi maupun raut muka yang harus ditampilkan.

"Huh." Dengus Kyungsoo sembari tergelak. "Aku ingin tahu bagaimana reaksi orang-orang ketika melihat kita berkencan. Do Kyungsoo dan Kim Jongin—dua orang yang saling bertolak belakang menikmati malam romantis bersama."

Alis Jongin mengerut dalam. Sepenuhnya mengabaikan kalimat terakhir Kyungsoo, lebih memilih untuk memfokuskan pada ungkapan pertama lelaki itu. "Ini adalah kencan?"

Kyungsoo menoleh dengan sangat cepat, Jongin hampir khawatir leher lelaki itu terkilir. Kedua mata Kyungsoo melebar dan Jongin sedikitnya berterimakasih karena paling tidak ia akhirnya dapat melihat ekspresi murni Kyungsoo saat terkejut.

"I—I—Ini bu—"

"Jika kau menginginkannya seperti itu, aku bisa mengabulkannya menjadi seperti itu."

Kyungsoo tergelak pelan. Semburat alami merah muda yang merangkak di kedua pipi lelaki itu membuat pijakan Jongin ke tanah sedikit goyah.

"Kau ini perayu ya, rupanya?"

"Kau anggap itu merayu?" Jongin memiringkan kepala, menautkan kedua alisnya seolah ia sedang tersinggung. "Memanggilmu baby, atau sayang ketika kita sedang bersetubuh itu baru merayu. Tetapi ini—" lanjutnya sambil melangkah maju, ujung sepatu mereka bertemu, "—ini adalah sebuah penawaran, Kyungsoo."

Meskipun ritme jantung Kyungsoo berlarian kesana kemari, ia berjuang meredam efek dari pernyataan Jongin serta aroma after shave sejuk akibat hanya-tiga-centi jarak di antara mereka. Kyungsoo menarik sudut bibirnya, berkelakar kecil dengan mengatakan, "Jadi selain perayu kau juga merangkap sebagai ibu peri?"

"Bisa jadi. Tergantung apa permintaanmu."

"Okay." Kyungsoo melipat kedua tangannya di dada, memilih mengikuti permainan Jongin. "Aku menginginkan ini menjadi kencan romantis. Apa yang kau tawarkan?"

"Well, ada taman beberapa meter dari tempat kita berdiri, mungkin kita bisa menghabiskan waktu di sana, berjalan-jalan kecil atau duduk sambil bicara mengenai apa saja—dan dengan apa saja kau harus berjanji untuk menjauhkan topik tentang akademis, karena aku akan berusaha tutup mulut mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan Banksy. Mari bicara tentang perihal yang bisa kita bagi, mari bicara mengenai rahasia, entah itu menyangkut dunia atau kita—dan oh, aku melihat sebuah kedai! Katakan, apa kau suka cokelat hangat?"

Antusiasme dalam nada Jongin membekukan Kyungsoo. Ia berdiri mematung, matanya menatap lurus ke arah Jongin—yang secara mengejutkan, tidak menghiasi rentetan kalimat tadi dengan senyum di wajah. Kyungsoo bersusah payah meloloskan kerongkongannya sebab Jongin butuh jawaban.

"Ya." Tuturnya parau. "Kurasa aku menyukaimu." Membelalak kaget atas ucapannya sendiri, Kyungsoo segera meralat cepat, "Nya. Maksudku 'nya'. Aku menyukainya. Aku menyukai cokelat hangat."

Beruntungnya, Jongin memutuskan untuk menghiraukan kesalahan Kyungsoo—atau itu adalah kesimpulan yang Kyungsoo tangkap karena lelaki di hadapannya justru membungkuk dalam kepadanya, seakan sedang memberi hormat kemudian mengutarakan, "Your wish is my command, Sir."

-[-][-][-]-

Mereka kehabisan cokelat hangat.

Sang pemilik kedai berdalih, menggumam mengenai pengunjung taman hari ini lebih banyak dari biasanya dan sebentar lagi pintu taman akan ditutup kemudian mendorong dua gelas kopi encer sebelum Jongin sempat mengatakan bahwa ia batal untuk membeli.

Kyungsoo langsung mengerucutkan bibir ketika mencicipi kopinya. Lelaki itu menoleh ke arah Jongin dengan tatapan menuduh. "Kau pasti sangat membenciku."

Jongin tertawa, sebab sungguh minuman ini memiliki lebih banyak kemungkinan untuk membunuhnya daripada Kyungsoo. Sejak pertama kali Jongin mengenal kopi, ia telah mengutuk minuman itu sebagai racun yang dipasarkan secara umum.

Namun, Jongin tetap berusaha—dengan sepenuh hati, mental, serta harga diri untuk meneguk kopi di genggamannya. Toh, paling tidak minuman ini dapat bertindak sebagai pemecah suasana di kala Jongin kehabisan kata untuk meneruskan percakapan.

"Oi." Celetuk Kyungsoo tiba-tiba. "Aku masih menunggu bagian romantis dari kencan ini."

"Patience, Do Kyungsoo." Balas Jongin tanpa menyembunyikan kegeliannya. Ia mendorong punggung Kyungsoo, membimbing lelaki itu menuju ke tiga ayunan berderet yang jelas tidak disarankan untuk usia mereka. "Ayo duduk di sini."

"Kau bercanda."

Menggeleng, Jongin menunjukkan keseriusan dengan duduk di salah satu ayunan tersebut. "Hanya duduk, kita tidak perlu bermain."

Dengan ragu, Kyungsoo menuruti Jongin. Lelaki itu memegang gelas kopinya dengan kikuk, berhati-hati agar minumannya tidak tumpah ketika melingkarkan lengannya di kedua sisi rantai ayunan. Setelah berhasil, Kyungsoo sedikit menjejakkan kaki ke tanah, mendorong benda itu hingga berayun pelan.

"Aku bilang, kita tidak perlu bermain." Tandas Jongin dengan penekanan penuh.

Kyungsoo jelas mengabaikan kalimatnya, sebab decit besi yang beradu diiringi gelak tawa Kyungsoo terdengar lebih keras dari sebelumnya. Kyungsoo kini bahkan meletakkan gelas kopinya pada permukaan datar ayunan yang diam di sebelahnya untuk berayun lebih tinggi lagi.

"Oh, ini tidak seburuk yang aku pikirkan!" Teriak Kyungsoo riang ketika lelaki itu mencapai titik teratas.

Satu pikiran jahil muncul di kepala Jongin. Ia meletakkan kopinya di sisi gelas Kyungsoo, kemudian bangkit dan berdiri di hadapan lelaki itu. Jongin tahu posisinya berbahaya, namun entah mengapa ia tidak ingin melewatkan ekspresi Kyungsoo saat ia mendorong lutut lelaki itu agar Kyungsoo berayun semakin tinggi.

"Hey!" Kyungsoo memekik panik.

Matanya membelalak meperingatkan Jongin untuk berhenti. Beberapa kata umpatan keluar dari mulut lelaki itu, tetapi Jongin tidak menggubris.

"Kau ingat tujuanku membawamu kesini?" Tanya Jongin.

"Kau pikir aku bisa berpikir dalam keadaan seperti ini?!" Seru Kyungsoo hampir menjerit.

"Aku akan berhenti jika kau berjanji untuk mengatakannya."

Ia kembali mendorong Kyungsoo lebih keras. Kaki Kyungsoo bahkan berusaha untuk menapak ke tanah, walaupun itu tetap berujung sia-sia. Genggaman Kyungsoo pada rantai ayunan terlihat mengerat sebelum akhirnya lelaki itu menjawab, "Okay! Okay! Sekarang hentikan benda sialan ini."

Tanpa perlu perintah lebih, Jongin segera menghentikan aksinya. Ia meraih rantai ayunan Kyungsoo ketika benda itu mulai beranjak pelan. Mereka berakhir pada posisi kedua lengan Jongin mengurung Kyungsoo, sementara Kyungsoo memejamkan mata kuat, tidak berani bergerak sedikitpun dari tempat duduknya.

Tarikan itu hadir tiba-tiba, Jongin sungguh merasakannya dengan nyata. Hasrat untuk mendekatkan wajah mereka, mengecup bibir Kyungsoo untuk membuktikan apakah ia akan menemukan rasa ceri di sana.

Kyungsoo membuka mata, perlahan menangkap Jongin yang tengah memperhatikannya. Seakan membaca apa yang ada di dalam kepala Jongin, ia berbisik parau, "Kau tidak perlu meminta izin setiap kali ingin menciumku."

Jadi—pada detik berikutnya, Jongin melakukannya.

Tidak ada rasa ceri di bibir Kyungsoo. Hanya basah, lembut, penuh, dengan sekecap rasa kopi. Dan untuk pertama kali, Jongin tidak mempermasalahkan jika cairan pahit itu tinggal terlalu lama di lidahnya. Ia mulai menjilat, memetakan rasa Kyungsoo lekat-lekat di indra pengecapnya.

"Aku adalah ambisimu." Ucap Jongin mengingatkan Kyungsoo akan pembicaraan terakhir mereka yang masih mengusik nuraninya.

"Ya, kau adalah ambisiku."

"Ambisi dalam?"

"Aku belum siap untuk mengatakannya sekarang."

"Kau belum siap atau ini hanya alasanmu untuk mengecohku lalu terus menerus mengulur waktu?" Jawab Jongin.

Kyungsoo telah memperkirakan lelaki itu akan melemparkan pertanyaan menyudutkan. Maka dari itu, Kyungsoo memoles senyum. Ia menengadah, memandang Jongin yang melihatnya dengan sorot datar.

"Ternyata kau sudah mengenalku dengan baik."

"Ya, ya, ya." Jongin berkata asal. Ia membungkukkan tubuhnya semakin rendah, melekatkan pandangannya lebih dalam pada Kyungsoo. "Aku akan melepaskanmu kali ini. Tetapi dengan satu syarat."

"Kau sedang membuat perjanjian lain dalam perjanjian di dalam perjanjian. Itu sedikit curang."

"Do Kyungsoo, haruskah aku ingatkan bahwa kau yang mengajarkanku cara licik ini?"

Kyungsoo melepaskan sengal kekalahan, mengagumi sekaligus ketakutan bagaimana Jongin selalu menemukan jalan pintas untuk melepas seluruh pertahanannya. "Baik. Satu syarat."

"Cool." Jongin kini bangkit. Berkacak pinggang sembari menjulurkan lidah ke samping seperti seseorang yang tengah memecahkan suatu permasalahan pelik. "Beritahu aku sesuatu yang pasti mengenai dirimu."

Kyungsoo mencerna ucapan Jongin sejenak. Kelopak matanya berkedip pelan, tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar. "Hanya itu?"

"Ya. Kenapa kau begitu terkejut?"

Sebab Jongin dapat memberikan berbagai skenario buruk kepadanya—mengerjakan pekerjaan rumah lelaki itu selama satu bulan, menyalin catatan, membatalkan sisa sesi belajar mereka, serta setumpuk ide gila lainnya—kendati begitu, lelaki itu memilih sesuatu yang paling sederhana.

Mengenalnya.

Kyungsoo menundukkan wajah. Ia tidak dapat menerka perasaan apa yang tengah menjalar di dadanya. Komposisi rumit antara terharu serta gemelitik yang semakin menyebar hingga pipi. Penglihatannya tertumbuk pada sepatu Jongin dan pada detik itu juga Kyungsoo merelakan seseorang menggali dirinya.

"Lepas sepatumu." Perintah Kyungsoo. Jongin menampakkan ekspresi kebingungan. Di kening lelaki itu seakan terlihat banyak tanda tanya semu yang menyerang Kyungsoo, sehingga Kyungsoo berseru lebih lantang, "Kau ingin mengetahui sesuatu tentangku, kan?"

Bahu Jongin mengendur sebagai tanda persetujuan tanpa seteru. Lelaki itu melepas kedua sepatunya dalam gerakan cepat lantas kembali berpaling ke Kyungsoo. "Sudah. Lalu?"

"Merasakan rumput di telapak kaki." Tutur Kyungsoo sembari berjalan menghampiri Jongin. "Aku suka merasakan rumput dengan kaki telanjang."

"That is the most random fact I've ever heard." Dengus Jongin kesal. "Kau pikir fakta itu menarik untuk di dengar?"

"Bagiku itu menarik. Bukan salahku jika kau tidak menilainya demikian."

Jongin memutar bola matanya. "Fine. Paling tidak beri aku alasan."

Kyungsoo begitu berhati-hati dalam mengucapkan kalimat selanjutnya. Bahwa ia menemukan itu mencengangkan—bagaimana di bawah kakinya masih ada kehidupan. Serangga yang membangun sarang, segerombol semut yang membawa makanan mereka pulang, magma yang bergejolak, air yang mengalir, serta sisa-sisa peradaban yang mungkin belum ditemukan.

Kyungsoo berkata, terkadang ia memiliki harapan untuk merasakan itu semua. "Mungkin seperti pengendali tanah?" Terbesit kebingungan di wajah Jongin yang tampak sangat kentara dan Kyungsoo tertawa karena itu. "Kai, ketika kau benar-benar mengenalku kau akan menganggapku aneh dan mungkin setelah itu kau akan—"

"Cukup." Potong Jongin. "Aku akan menciummu jika kau berani meneruskannya."

"Tidak, dengarkan. Setelah itu kau akan—"

"Kyungsoo, aku tidak bercanda."

"—pergi menjauh."

Jongin meraih tengkuk Kyungsoo. Walaupun sedikit terlambat, ia ingin menelan seluruh kalimat Kyungsoo bulat-bulat. Entah mengapa Jongin tidak suka mendengarnya—gagasan bahwa suatu saat ia akan meninggalkan Kyungsoo—ia sama sekali tidak menyukainya.

"For heaven's sake, Kyungsoo," Desah Jongin di sela-sela ciuman tanpa ingin berhenti menautkan bibirnya pada bibir lelaki yang mencengkram ujung jaketnya kuat, "Stop overthinking."

Kyungsoo tidak menanggapi. Sibuk membalas ciuman Jongin serta mengkaramkan perahu emosinya. Kakinya semakin berjinjit untuk memperdalam, jemarinya berjingkat menuju wajah Jongin, sementara lambat laun ia memberanikan diri untuk membuka mata. Namun ia terpaksa melepaskan diri buru-buru ketika pandangannya menangkap seorang petugas keamanan sedang berlari ke arah mereka.

"Shit. Kai, run!"

"What—"

Jongin menoleh, ingin mengetahui penyebab mengapa Kyungsoo tiba-tiba berlari meninggalkannya. Matanya menemukan apa yang Kyungsoo lihat. Ia hendak memungut sepatunya, tetapi petugas keamanan itu semakin dekat sehingga Jongin hanya bisa mengumpat kemudian berlari menyusul Kyungsoo.

"Why is he chasing us?!" Teriak Jongin.

"I don't have a damn clue!" Sahut Kyungsoo selagi ia mempercepat langkah. "Mungkin ada semacam larangan berpacaran di taman itu?!"

Keduanya menukik bersamaan untuk keluar dari pintu taman, telapak kaki Jongin tidak lagi berbenturan dengan rumput melainkan paving block trotoar dan ia memaki keras karena menyetujui Kyungsoo untuk melepas sepatunya, "Fuck! It hurts! Fuck you, Kyungsoo! I fucking hate you!"

Derai tawa Kyungsoo merambat ke pendengaran Jongin, sedangkan wajah lelaki itu memancarkan binar yang bisa menjadi alasan bintang enggan muncul malam ini.

Mengesampingkan itu, Jongin melongok ke belakang. Ia menghembuskan nafas lega begitu melihat sang petugas keamanan telah lenyap dari pandangan. Tangannya menggapai Kyungsoo yang masih berlari, secepatnya menarik lelaki untuk berhenti.

"He's gone." Tutur Jongin.

Kyungsoo menumpukan salah satu tangannya ke lutut. Ia mengambil nafas panjang, memasok udara ke paru-parunya yang terasa kosong. Ia mencoba meluruskan punggungnya, namun gerakannya tertahan oleh tangan Jongin yang masih menggenggam lengannya.

Keduanya bersitatap, mengizinkan hening untuk menyusup sementara. Kemudian tanpa pertukaran kata apapun, Jongin menurunkan genggamannya hingga jari mereka saling bersentuhan. Sementara, Kyungsoo melanjutkan dengan menautkan jarinya di antara sela-sela jari Jongin.

Mereka saling membuang muka dalam keadaan bersemu hebat.

Jongin berpura-pura terbatuk, sebuah usaha untuk menetralkan suaranya yang mungkin gemetar. "Kurasa," Berdeham beberapa kali, "Kurasa ini bukan kencan yang romantis. Aku akan memperbaikinya pada kesempatan lain."

"Oh?" Kyungsoo bersumpah ia hampir memekik. "Okay."

"And Jongin."

"Maksudmu?"

Jongin menoleh, menambatkan tatapan mereka. Kyungsoo menemukan teduh musim gugur lagi di kedua mata lelaki itu.

"Panggil aku Jongin."


DISORDER: TO BE CONTINUED


.

Author's Note

Yampun, aku ga nyangka ini udah ga update hampir sebulan ;_; maafkan daku. Untungnya kalian terbaik, ga ngomel atau nodong buat update.
Tambah sayang deh.

Ini chapter pendek-pendek karena aku lagi sibuk banget sama kerjaan baru. Jadi maafin ya kalo kalian ga puas. Update kali ini juga cuma gini doang walaupun udah ketunda lama. huhuhuhu. Don't hate me, plz.

AND! I have an Instagram account!
Follow shervlm :)
I mainly post about kaisoo (what do you expect from me, tbh?), poems, movies, and maybe some selfies (once in a blue moon, lol). Nanti aku juga bakal post mural buatannya Jongin biar kalian ada gambaran.

XOXO

Sher.

ps. To huang zi kyungsoo: i've replied your pm. kamu ngirim dua kali dan aku udah bales semua. Atau balesan aku belum masuk? :(