"Kau berada di mana sekarang?" laki-laki berambut coklat madu itu menggigit bibirnya setelah menanyakan keberadaan kekasihnya. Dirinya mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kafe, yang hampir seluruhnya adalah pasangan yang sedang berkencan. Hampir seluruhnya, karena dirinya sendirian.
"Aku sedang mengerjakan tugas di rumah temanku. Ada apa?"
Terdengar balasan dari telepon genggam yang laki-laki itu tempelkan di telinganya sendiri.
"Tidak apa" laki-laki itu tersenyum kecut sembari melihat seorang perempuan yang kini sedang menyuapkan potongan cake kepada lelaki di sampingnya, yang baru saja duduk, yang baru saja sebelumnya keluar dari pintu toilet kafe.
"Kau yakin?"
"Iya" laki-laki bersurai coklat itu, Luhan, kini memandang sang perempuan yang sedang meletakkan kepalanya di bahu sang lelaki. "Aku hanya merindukanmu"
Sang lelaki di seberang sana kini mengusap rambut perempuan yang bersandar di bahunya itu. Sementara terdengar kekehan dari telepon genggam di telinganya. "Nanti kita bertemu lagi, bukan?"
"Benarkah?" Luhan menatap kedua insan yang kini saling berbicara dengan pandangan mata.
"Ya"
Luhan segera bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan secangkir Americano yang masih ada setengah. Dia berjalan keluar dan tak satu pun orang di dalam sana peduli. Bahkan mungkin mereka tidak pernah tahu Luhan sempat ada di dalam kafe itu, minum di antara mereka, dan memandangi aktivitas mereka.
Laki-laki bersurai madu itu menoleh kembali ke arah kafe dari jendelanya, menatap lagi sepasang insan yang terus dia pandangi tadi. "Kalau begitu sampai bertemu nanti–"
Akhirnya dia melepaskan pandangan dari seorang pria bername tag Oh Sehun dengan seorang gadis yang masih bersandar di bahunya.
"–Sehun"
.
Trapped-in-Hunhan
Presents
.
First and Second
.
Warning : YAOI, Typo(s), SO FICTIVE
.
Why are we strangers when our love was strong?
What have I done? You seem to move on easy
(Britney Spears - Every Time)
.
"Percuma kau bersembunyi di sini"
Luhan meletakkan kepalanya di lantai, dan mengintip ke arah kolong tempat tidur dimana dia bisa melihat kekasihnya sedang memandangnya dengan tersenyum seperti anak kecil.
Kekasihnya itu akhirnya merangkak keluar dengan berhati-hati agar kepalanya tidak bertubrukan dengan kusen kasur. Setelah berhasil keluar, dia segera bangkit duduk, di depan Luhan yang sudah duduk sedari menunggu dirinya keluar. Laki-laki itu memajukan bibirnya. "Kenapa kau tahu aku ada di sini?"
"Kenapa, katamu?"
Luhan mengeluarkan bando dengan bandul rusa yang baru saja dia beli untuk perlengkapan natal. Dia memakai bando itu. Kedua tangannya lalu masih setia menggenggam tanduk rusa itu.
"Karena aku punya radar yang bisa menemukanmu di mana saja" jawabnya dengan tersenyum bangga.
Kekasihnya terkekeh, dan mengusak surai coklat madunya dengan gemas. "Ya, ya, kau akan selalu menemukan aku, ya"
First and Second
Luhan memandang dua tiket di atas mejanya. Diberikan oleh Minseok, kawannya, yang batal berkencan karena kekasihnya harus mengikuti lomba tarik suara.
Film ini sedang booming. Kau juga bisa menggunakannya untuk berkencan bersama kekasihmu, begitu katanya.
Luhan menghembuskan napas. Kembali jemarinya mengetikkan angka-angka yang ia hapal luar kepala. Tetapi, sebentar saja, jemari itu juga yang menghapus kembali semuanya.
Tak berselang lama, lelaki itu kembali melakukan hal yang tadi sudah dia lakukan. Bedanya, kali ini dia menekan ikon berwarna hijau di layar telepon genggamnya.
"Halo, Lu. Ada apa?"
"Apakah hari ini kau ada waktu?"
"Maaf, aku ada latihan sore ini."
"Oh"
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
"Ah, tidak" Luhan menyobek satu tiket dan membuangnya di tong sampah. "Tidak terjadi apa-apa. Baiklah, maaf mengganggumu"
Tidak peduli apakah lawan bicaranya membalas perkataannya atau tidak, laki-laki bersurai coklat madu itu memutuskan panggilannya. Lalu, dia mengambil jaket yang tergeletak di atas ranjangnya.
Laki-laki itu memutuskan akan ke bioskop sendirian.
.
Lampu ruangan menyala dengan benderang. Luhan bangkit dari tempat duduknya dan sedikit meregangkan otot-ototnya yang terus duduk selama hampir dua jam. Laki-laki itu kemudian berjalan keluar dari studio bioskop.
Harus Luhan akui, film action ini memang sangat bagus. Dan cocok untuk pasangan sesama pria seperti Minseok dan kekasihnya. Juga, untungnya, cocok untuk orang yang sendirian –seperti dirinya.
Di antara berpuluh-puluh orang yang ada di sana, matanya entah mengapa menangkap bayangan seseorang bername tag Oh Sehun yang sedang bersama seorang gadis, bergandengan tangan, tampak membicarakan film yang baru saja mereka nonton di studio lain –film romantis.
Karena aku punya radar yang bisa menemukanmu di mana saja.
Lagi, Luhan hanya tersenyum pahit.
Ya, ya, kau akan selalu menemukan aku, ya.
Luhan benci radarnya.
First and Second
Luhan memandang dengan heran kekasihnya yang masih memakai piyama dan membawa sebuah baskom kecil. "Kenapa kau tidak sekolah?"
"Kenapa kau tidak bersiap untuk bekerja?"
Luhan menarik kembali selimutnya sampai menyisakan kepala coklat mudanya, lalu berusaha memejamkan mata. "Aku sedikit tidak enak badan. Sana, kau ini berada di tingkat akhir SMA. Kau harus berusaha untuk ujian masuk universitas lho"
Kekasihnya dengan keras kepala duduk di samping Luhan, membalik badannya, dan tangannya menyentuh dahi Luhan.
"Panas begini dibilang sedikit tidak enak badan? Lalu yang sangat tidak enak badan seperti apa?"
"Demam berdarah, mungkin?" melihat pandangan kesal kekasihnya, Luhan terkekeh. "Iya, maaf, sudah, bersiap sana, aku akan mengompres dahiku sendiri"
Sebelum tangan Luhan sampai di baskom itu, baskom itu sudah dipindahkan posisinya terlebih dahulu.
"Tidak. Aku yang akan merawatmu"
Luhan memandang kekasihnya dengan malas. "Sekolahmu–"
"–adalah urusan nanti. Kau adalah prioritasku, Luhan"
Luhan diam saja. Menghembuskan napas mengalah.
"Wajahmu merah" goda kekasihnya kemudian.
"Tidak"
"Benarkah? Aku kira wajahmu merah seperti ini karena kata-kataku"
Luhan memukulkan bantal yang tadi di bawah kepalanya ke kekasihnya. "Aku sedang demam. Wajar kalau wajahku merah"
"Ya, ya" kekasihnya terkekeh. "Demam cinta akan diriku"
Kini giliran Luhan yang tertawa keras. "Dasar siswa SMA!"
First and Second
Panas di tubuhnya membuat dia tidak bisa bergerak dengan leluasa. Rasanya bagai seluruh tubuhnya dihujam palu secara terus menerus. Ngilu, nyeri, sakit, dan kepalanya pusing.
Tangannya meraba-raba seluruh bagian ranjang yang bisa dia raba. Mencari sebuah benda penting untuk meminta bantuan.
Setelah dia mendapatkan telepon genggam yang ia cari, tanpa memikirkan apapun, dia segera menelepon orang yang dia harapkan sekali kedatangannya.
"Sehun" suara serak dan lirih itu dengan susah payah menyebut nama orang yang berada di sana.
Namun orang yang berada di seberang sana tidaklah pernah mengangkatnya.
Telepon genggam itu tergeletak begitu saja, karena telapak tangan itu kini menutup wajahnya, sedangkan yang lain mencoba menahan kepala yang rasanya mau pecah itu.
Tertawa. Hanya itu yang bisa dia lakukan.
Kau adalah prioritasku, Luhan
Tertawa, tertawa, dan terus tertawa sampai akhirnya tawa itu berubah menjadi rintihan umpatan brengsek, bajingan, dan seluruh kutukan yang pernah ada.
Luhan tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.
Memori itu–
–atau kenyataan ini.
First and Second
Senja itu ditemani dengan gerimis, dan sebuah selimut yang menghangatkan mereka.
Luhan dan kekasihnya saling memandang dalam diam, terkadang bibir mereka membentuk senyuman karena hal ini.
Kekasih Luhan membawa laki-laki itu mendekat, menggunakan tangan yang dari tadi diam di pinggang Luhan.
Luhan bisa melihat manik itu dengan semakin jelas.
Luhan bisa merasakan hembusan napas itu, yang menerpa rambut-rambut kecil kulit tubuhnya.
Ibu jari kekasihnya menempel pada pipinya, bergerak ke kanan dan ke kiri untuk mengusapnya.
Kekasihnya sangat tahu kalau Luhan sangat menyukainya.
Luhan memejamkan mata, menikmati sentuhan kekasihnya.
Dia bisa merasakan sebuah bibir mengecup dahinya, kedua matanya yang terpejam, ujung hidungnya, kedua pipinya.
Dan yang terakhir adalah pada bibirnya yang tidak berhenti membentuk senyuman.
Khusus yang terakhir, Luhan membalasnya.
Membuka mata, Luhan menatap kekasihnya yang menatapnya dengan dalam.
"Aku sangat mencintaimu, Lu"
Kekasih Luhan mengecup kembali bibir yang masih basah itu.
"Sangat mencintaimu"
First and Second
Seharusnya Luhan tidak melihat pemandangan ini –dimana kekasihnya terlampau dekat dengan gadis lain, hingga bibir mereka saling memagut.
Tiada lagi pertanyaan mengapa dan sejak kapan terucap di benaknya.
Semuanya sudah jelas.
Sehun masih menyukai gadis itu.
Luhan tersenyum miris. Merutuki kebodohannya yang mau saja percaya kalau Sehun benar-benar mengubah orientasi seksualnya demi dirinya. Mempercayai bahwa Sehun memang mencintainya adalah hal terbodoh yang pernah Luhan lakukan.
Tapi mungkin ini semua karena Luhan mencintai Sehun. Terlampau mencintai hingga dia tak bisa mendekteksi kebohongan, dan justru malah berdelusi. Merasa ada binar cinta dari Sehun setiap dia menatap matanya.
Atau binar cinta itu memang di sana? Tapi bukan untuk dirinya?
Luhan menutup pintu kamar Sehun perlahan. Apapun yang terjadi di kamar itu nanti, itu adalah hak Sehun. Itu adalah bagian dari privasi Sehun yang tak bisa Luhan campuri. Karena Luhan hanya kekasihnya, bukan pemilik hatinya. Jadi jika hati Sehun menginginkan gadis itu, tak ada hal yang bisa dilakukan oleh Luhan selain membiarkannya memiliki gadis itu.
Tidak peduli seberapa bukan main sakit hati yang dideritanya.
Urusan hati memang bukan masalah gampang.
First and Second
Orang-orang bilang takdir yang bisa diubah, pasti bisa diubah. Begitu pula sebaliknya.
Luhan harus menerima, bahwa takdir dimana Sehun meninggalkannya, adalah takdir yang tidak akan bisa dia ubah.
Orang-orang bilang masa lalu tidak berkaitan dengan masa sekarang. Masa lalu hanyalah masa yang pernah ada, dan menjadikan masa sekarang ada. Tetapi tidak pernah ada karena tidak bisa dibuktikan keberadaannya.
Luhan harus menerima, bahwa dia adalah masa lalu, dia adalah sosok yang pernah ada bagi Sehun, tetapi tidak pernah ada lagi bagi Sehun yang sekarang karena dia adalah masa lalu. Kekasihnya, Sehun, hidup di masa sekarang, masa di mana Luhan tidak ada.
Sekuat apapun radar Luhan, dia tidak akan menjadi prioritas Sehun. Meskipun Luhan bisa terus menemukan Sehun, dia tidak akan pernah menemukan eksistensinya sendiri di hadapan Sehun.
Meskipun Sehun pernah mencintainya, pernah menjadi kata kuncinya.
Luhan harus menerimanya, untuk bisa bertahan hidup tanpa mengasihani dirinya sendiri dengan mengharapkan Sehun.
To Be Continued
Akhirnya chapter satu update. Untung banget Alohomora udah setengah jalan jadi damai kalau ngelanjutin yang ini. Hohoho
Btw ini Kai belum nongol, chapter depan aja ya, hehe. Ini mau fokus dulu gimana Luhan dan Sehun sekarang dibandingkan yang dulu. Dan sesuai kata saya, ini nggak akan panjang kayak Alohomora, pendek-pendek saja. Ini gaya menulis saya yang biasanya. Yang Alohomora itu ... itu gaya menulis baru yang bahkan saya tidak tahu saya bisa menulis seperti itu.
Ini kurang sedih, tapi memang tidak ditujukan untuk terlalu sedih-sedih juga karena saya cuma mau fokus ke gimana Luhan dan Sehun ... bukan apa yang dirasakan Luhan ketika Sehun meninggalkan dia.
And ... thanks for reviewers, followers, and favoriters!
cherry | nisaramaidah28 | Matsuoka Rose | xluhan550 | EviL L | Misslah | Bottom-Lu | LisnaOhLu120 | ludeer | juniaangel58 | Balqis | MiraKimLu | fururu fuyu | oohluhan
So,
Mind to review?
