"Aku mau tambah"
"Kau sudah setengah mabuk Lu. Berhentilah"
Luhan mengerucutkan bibirnya. "Tapi Minseok, sakit hatiku belum berhenti! Aku butuh minum lagi!"
Minseok mendengus geli. Luhan tidak biasa bertingkah seperti anak kecil, hanya Luhan yang mabuk yang bisa bertingkah seperti anak kecil yang rewel. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Sebagai bartender di sini, aku ingin memberimu lagi minum supaya uang pemasukan bertambah. Tapi sebagai kawanmu, no man"
"Kau ... terserahmu" Luhan meletakkan kepalanya di atas meja bar. Pemandangan lantai dansa dengan puluhan orang yang menari di sana sudah samar-samar. Mungkin Minseok benar.
Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Empat jam. Lima jam.
Minseok sudah bersiap untuk membereskan tempat. Dia melihat ke arah Luhan yang tertidur di meja bar. Segera jemarinya mengetikkan angka pada handphonenya. Menelepon seseorang.
"Hei, bisakah kau menjemputku di bar dengan mobilmu? Temanku ada yang mabuk dan dia tertidur. Aku tidak bisa membawanya naik kendaraan umum"
"Taksi? Euh, no. Aku masih trauma dengan taksi. Sudahlah menurut pada kakakmu ini saja!"
Minseok melirik Luhan yang bergerak sedikit, namun masih terlelap.
"Oke. Aku tunggu. Terimakasih, Jongin"
.
Trapped-in-Hunhan
Presents
.
First and Second
.
Warning : YAOI, Typo(s), SO FICTIVE
.
Congratulations, you're so amazing
Congratulations, how could you be so fine?
How could you trample on me?
I see your smiling face, I guess you forgot everything
(Day6 - Congratulations)
.
Yang pertama kali Luhan lihat ketika bangun sungguh mengejutkannya.
Bukan wajah kesal Minseok seperti biasa jika dia mabuk.
Tetapi wajah Sehun.
Laki-laki yang berminggu-minggu tidak ia lihat.
Sehun bilang dia sedang sibuk dengan kuliahnya. Tetapi, Luhan tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Kenapa kau di sini?"
Sehun tertawa kecil. "Ini apartemen bersama kita, Lu. Kau ingat?"
Tentu saja Luhan ingat. Karena berbagi apartemen untuk menghemat biaya inilah mereka bisa saling mengenal. Berawal dari dunia maya, menyepakati perjanjian hingga menjalin hubungan selayaknya sekarang.
Hubungan yang tidak jelas lagi bagaimana masa depannya.
Tidak, hubungan yang belum jelas akan diakhiri dengan bagaimana, tepatnya.
"Ah bukan begitu" Luhan tersenyum kikuk. "Maksudnya, kau sudah tidak sibuk?"
"Ng..., sebenarnya aku hendak mengambil beberapa barang yang kubutuhkan. Tapi kulihat kau bergelung di kasur dengan selimut tebal. Aku kira kau sakit"
"Tidak. Aku baik-baik saja" Luhan tersenyum. "Lebih baik kau cepat-cepat. Kasihan teman satu timmu yang sedang menunggumu"
Maksud Luhan adalah; kasihan gadis itu menunggumu. Cukup Luhan yang terluka. Jangan yang lain.
Sehun mencium dahi Luhan tiba-tiba. "Maafkan aku"
"Kau tidak perlu minta maaf Sehun, Aku bisa memahamimu" –tapi maaf aku belum bisa melepasmu.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Oke?"
Luhan mengangguk.
Meyakinkan diri suatu saat dia akan melepas Sehun sepenuhnya.
First and Second
Luhan sedang berjalan-jalan di taman sore itu.
Sudah dua bulan Luhan tidak bertemu Sehun –selain di saat Sehun mengambil barang.
Mabuk tidak lagi membantu Luhan. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk berhenti dan memilih berjalan-jalan di taman hingga tengah malam untuk menenangkan dirinya sepulang kerja.
Luhan melihat seorang laki-laki berkukit tan berjalan mendekat ke arahnya. Entah perasaannya saja atau bagaimana, orang itu memang akan menghampirinya karena dia tampak terus berjalan dengan melihat Luhan, dengan senyuman di bibirnya.
"Hai! Kau Luhan kan?"
Dia tiba-tiba menyapanya.
Luhan memiringkan kepalanya. "Mm, maaf, kau siapa?"
"Aku Kim Jongin, sepupu Kim Minseok" laki-laki itu tersenyum. Satu kata yang cocok untuknya. Tampan. "Beberapa kali Minseok-hyung memintaku mengantarmu pulang"
Aku harus merepotkan Jongin setiap hari karena kau, dasar menyebalkan! Berhentilah mabuk!
Oh. Luhan mengerti sekarang.
"Ah. Terima kasih banyak untuk itu. Maaf merepotkanmu"
"Tidak masalah sebenarnya. Hanya saja, bisakah aku meminta imbalan?"
Luhan membuat catatan mental pada benaknya bahwa Jongin adalah seseorang yang blak-blakan. "Ya. Boleh saja. Apa?"
"Sebenarnya aku mau membeli es krim. Tapi uangku ketinggalan. Bisakah kau membelikanku satu?" Jongin tersenyum lebar, menampilkan gigi-giginya.
Luhan tertawa geli. "Ya. Tentu saja. Ayo kita beli es krim"
First and Second
Pertemuan mereka lebih dari sekedar es krim di taman pada sore hari. Merambat ke malam hari dimana mereka terkadang makan malam bersama, membaca buku bersama di apartemen Jongin, menonton film di bioskop, hingga karaoke –dengan Luhan yang menyanyi dan Jongin menari-nari saja.
Luhan mengetahui bahwa Jongin ternyata berada di jurusan maupun universitas yang sama dengan Sehun. Pun dengan umur mereka.
Tapi Luhan tidak mau menanyakan apapun tentang Sehun.
Jawabannya pasti hanya membuat sakit.
"Kau tahu tidak sih, Lu?"
Luhan mencubit lengan Jongin gemas. "Sudah kubilang aku empat tahun lebih tua darimu, bocah kurang ajar! Panggil aku hyung!"
"Tidak mau!" Jongin berlari kecil. Kemudian dia berbalik sambil menjulurkan lidahnya. "Wek. Wajah dan kelakuan seperti bocah meminta dipanggil hyung~~"
"Yak! Enak saja" Luhan menggembungkan pipinya kesal.
"Kalau kau sebegitunya ingin kuhormati, aku akan memanggilmu noona saja bagaimana?"
Luhan segera berlari menerjang Jongin. Jongin segera berbalik. Mereka berlari-lari di pinggir sungai Han pada tengah malam dengan tawa mengiringi keduanya.
Melihat punggung Jongin dan tawanya, hati Luhan menghangat.
Luhan tidak hanya berhutang pada Jongin dalam masalah mengantar saja, tapi juga dalam hal menghibur hatinya.
First and Second
Adalah hari Sabtu dimana Luhan mau tidak mau tidak bisa berpura-pura buta. Bagaimanapun dia baru saja memasuki rumah, terlanjur mengatakan aku pulang dengan keras namun suguhan di lorong tepat depan pintu rumah mau tidak mau membungkam semua insan di sana.
Sehun dan gadis itu sedang berciuman.
Sehun panik. Terlihat jelas dari wajahnya. "Ng, Luhan ini–"
"Wah, Sehun. Jadi ini kekasihmu?" Luhan memotong. Dia menghampiri mereka. Kedua matanya menatap gadis yang wajahnya memerah karena malu itu dengan senyuman manis. "Siapa namamu? Kau cantik sekali"
"A–Aku Nana" gadis itu bersuara dengan malu-malu. "Te–Terimakasih"
"Aku Luhan. Aku teman satu rumah Sehun. Salam kenal ya. Sehun beruntung sekali mendapatkanmu"
Gadis itu menunduk, semakin malu. Luhan terkekeh dan segera pamit untuk ke kamarnya. Mengabaikan Sehun.
.
Luhan menutup pintu kamarnya.
Merebahkan diri di atas ranjangnya.
Satu tangannya dia letakkan melintang, menindih kedua matanya yang terpejam.
Luhan mengunci kamarnya. Dia memakai headset, mendengarkan musik dengan volume maksimal. Jadi, jika nanti Sehun mengetuk pintu hendak membicarakan semuanya, Luhan punya alasan untuk menghindarinya.
Sehun beruntung sekali mendapatkanmu
"Hahaha" dia tertawa mengingat perkataannya sendiri.
–dan kau beruntung sekali mendapatkan Sehun.
First and Second
Pulang kerja, Luhan langsung ke bar. Dia memperoleh pandangan bertanya dari Minseok, tapi dia tidak memedulikannya.
"Minseok, berikan aku minum"
"Aku akan memberikanmu air putih dingin. Oke? Itu juga bisa menghilangkan stres"
"Aku harap aku bisa menangis" Luhan tiba-tiba berujar, meletakkan kepalanya di atas meja bar. "Dengan begitu, setidaknya rasa sakit ini melega setiap aku menangis"
Minseok mendengarkan sembari menuang es batu di gelas.
"Sayangnya beberapa laki-laki tidak seberuntung laki-laki yang dengan mudah menangis"
Minseok diam-diam mengiyakan. Dia menuangkan air dingin ke gelas.
"Jadi rasa sakitku bertambah terus menerus. Tanpa bisa berkurang atau dilegakan"
Minseok menyodorkan minuman itu ke Luhan. Luhan menenggaknya. Meletakkan kembali ke arah Minseok. Minta tambah.
"Aku rasa aku bisa gila. Kau bahkan memberiku air putih padahal aku di bar"
Minseok tertawa. "Habisnya kau yang mabuk nenyebalkan sekali jika dibawa berpindah tempat"
Luhan ikut tersenyum kecil. "Benarkah?"
"Ya–" "Aku kira kau berada dimana. Ternyata kau berada di sini"
Luhan dan Minseok menoleh. "Jongin?"
"Ne. Aku ada jadwal menari di panggung hari ini" Jongin duduk di samping Luhan, menatap ke arah sosok bermata rusa itu. "Aku tadi mencarimu di taman. Kau mau kuajak kemari, ternyata kau sudah di sini duluan. Kebetulan sekali"
"Kalian ... dekat?" Minseok menatap kedua orang itu bergantian.
"Ya. Kami sering hangout bersama" Luhan menyengir. "Maaf tidak mengajakmu. Kau sibuk jadi bartender di malam hari dan barista dari pagi sampai sore hari sih"
"Oh" Minseok menggumam. "Omong-omong, ini waktumu tampil Jongin"
"Oke"
Jongin berdiri, menarik Luhan tiba-tiba, dan kemudian berjalan ke atas panggung. Luhan yang masih dalam mode bersedih, menjadi bingung.
"Ap–Apa yang kau lakukan brengsek?!" bisik Luhan nyaris seperti orang berteriak dengam volume rendah ketika dia sadar dimana dia.
"Aku hendak mengajakmu kemari untuk tampil bersamaku, bedebah manis" jawab Jongin dengan seringaian.
"What the actual fuck Jongin!" Luhan mendelik kesal. "You must be crazy!"
Kemudian Luhan menambahkan. "Dan apa-apaan bedebah manis itu?!"
"Nama panggungmu, mungkin" Jongin menggendikkan bahu dan memberikan mikrofon pada Luhan, yang mau tidak mau diterima laki-laki yang lebih tua karena Jongin melemparnya seenaknya. "Nama panggungku sih Kai"
Melihat orang-orang mulai berbisik –terganggu dengan lamanya kedua orang bersiap, Luhan tahu dia tidak bisa turun begitu saja. "Kau akan mati Jongin, aku bersumpah"
"Tanpa kau sumpahi pun aku akan mati Luhan. Semua orang akan mati. Termasuk kau. Kecuali kau dewi" Jongin menyeringai penuh kemenangan. "Anggap saja ini karaoke. Dan lepaskan stresmu di sini, sayang"
Luhan mendekatkan mikrofon pada mulutnya. "I swear to God I hate you"
Musik mulai mengalun. Jongin bersiap ke tengah panggung. Sebelumnya dia mengatakan "And I swear to God I love you, baby deer"
Luhan mengabaikannya. Jongin memang menyebalkan.
.
"Selamat! Kau menakjubkan~!"
Sehun memang membuat Luhan takjub.
"Selamat! Bagaimana bisa kau sangat baik-baik saja~?"
Ya, bagaimana bisa dia baik-baik saja, sedangkan Luhan tidak bisa?
"Bagaimana bisa kau menginjak-injak diriku~?"
Dan membuat Luhan merasakan sakit tak kasat mata yang lebih menyiksa daripada luka fisik manapun.
"Aku melihat wajahmu yang sedang tersenyum, aku rasa kau melupakan segalanya~"
Tetapi, Sehun bahagia dengan gadis itu.
Dan sama seperti Sehun yang melupakan Luhan, Luhan pun lupa.
Lupa mengapa dia tidak merasa dirinya memiliki hak untuk marah.
Di tengah nyanyiannya, laki-laki itu sebenarnya sedang mencurahkan perasaannya.
.
Tetapi setidaknya Jongin benar.
Setelah selesai dengan semuanya, Luhan yang sedang duduk di tempat biasanya dia duduk untuk mengobrol dengan Minseok, harus mengakui bahwa tadi itu benar-benar membantu moodnya untuk naik.
Luhan yang sedang menunggu Jongin untuk pulang bersama tersenyum kecil.
Jongin baru sebentar hadir dalam hidupnya.
Namun ia sudah berhutang terlampau banyak pada Jongin.
First and Second
Jika diibaratkan, Luhan menggenggam sebuah tali yang mengikat dirinya dengan Sehun.
Sehun sudah berusaha memutuskannya secara diam-diam, dan Luhan mengetahuinya, tetapi berpura-pura tidak tahu.
Dia tetap mempertahankan bagiannya, sehingga Sehun belum bisa lepas.
Katakanlah dia egois, dia tidak akan menegasinya sama sekali.
Tetapi, mungkin Luhan lebih suka menyebut dirinya memerlukan waktu.
Dia sudah memiliki kesadaran bahwa mau tidak mau, pada akhirnya dia harus menerima bahwa dia bukan orang yang dipilih Sehun.
.
Jika diibaratkan, Jongin adalah orang yang ditakdirkan untuk membantu Luhan.
Ketika Luhan bersedih karena akan memutuskan ikatan yang sangat dia jaga, Jongin diputuskan untuk menjadi orang yang akan meyakinkan Luhan untuk memutuskannya.
Ketika Luhan takut dia tidak bisa bahagia, Jongin akan membuktikan bahwa Luhan akan baik-baik saja.
.
Luhan memerlukan waktu untuk melepas Sehun ... dan itu bisa saja selamanya.
Jongin dihadirkan dalam dunianya, untuk memperpendek waktu itu.
Luhan akan hilang arah ketika dia melepas Sehun.
Tetapi, Jongin ada untuk terus menuntunnya menyusuri jalan.
Jalan yang menuju sebuah tempat, di mana Luhan lepas dari Sehun, dan sebaliknya.
To Be Continued
Lagunya Day6 mirip-mirip cerita ini sungguh X'D seneng banget saya pas lihat Congratulations pertama kali. Langsung "Wah ini cocok buat First and Second"
Dan saya ngga tahu siapa yang mau jadi si cewek itu ... jadi bikin OC saja deh. Mwehehehe.
Jadi saya memang sengaja tidak membuat karakter Luhan gampang menangis, karena saya ingin membuat cerita ini dengan bottom-yet-man!Lu. Jadilah seperti itu si Luhan, hohoho. Lagipula berbeda dengan di Alohomora yang Luhan umurnya 11-12 tahun, Luhan di sini kan sudah 20an.
Oh, ya, jarak umur mereka (Sehun-Jongin dan Luhan) empat tahun. Jadi ketika Sehun berada di tingkat akhir SMA, Luhan sudah bekerja (karena kalau kuliah di luar negeri, setahu saya, itu hanya memakan 2-3 tahun).
And ... thanks for reviewers, followers, and favoriters!
exostbabyz | v42kuro | lzu hn | Matsuoka Rose | nisaramaidah28 | Arifahohse | mr albino | juniaangel58 | Ludeer | fururu fuyu
So,
Mind to review?
