.

A CERTAIN ROMANCE

"Let's embrace the point of no return"

.


CHAPTER FOUR
DISPEL


Jika saja Jongin tidak menemukan nama Do Kyungsoo di daftar panggilan teleponnya, ia mungkin akan menganggap bahwa kencan Sabtu kemarin merupakan rekayasa dari bunga tidurnya.

Sesuatu yang terjadi kemarin terasa seperti ilusi. Jongin hanya menganggap Kyungsoo sebagai orang asing sebelumnya, kemudian pada hari berikutnya lelaki itu menjelma menjadi sesuatu yang mampu menarik senyumnya tepat ketika ia membuka mata.

Mereka bertukar nomor telepon ketika berpisah jalan. Jongin membuka percakapan dengan siapa tahu kau memberiku nomor telepon palsu saat ia menghubungi Kyungsoo sepuluh menit setelah ia tiba di rumah—yang kemudian berlanjut menjadi percakapan panjang hingga jam tiga pagi, mengizinkan Jongin untuk mendengar suara parau Kyungsoo ketika lelaki itu mengantuk.

Meskipun begitu, keduanya bersikap seperti tidak mengenal ketika berada di sekolah.

Mengabaikan keberadaan satu sama lain pada jarak yang minim, menjauhkan tiap atensi yang mungkin mereka dapatkan jika seseorang mengetahui hubungan yang terjalin di antara mereka.

Namun batasan itu terkadang terlanggar tanpa diduga.

Setiap kali mereka bersilang jalan, entah di lorong atau pintu masuk sekolah, Jongin selalu sengaja mengeluarkan tangannya dari dalam saku, sementara Kyungsoo memperlambat langkah. Mereka membiarkan jemari mereka saling menggenggam sejenak, beberapa detik, kemudian lepas—dan siapa sangka, tindakan sesederhana itu mampu menciptakan senyum bodoh yang sukar hilang dari wajah keduanya.

Jika adrenalin keduanya terpacu lebih liar, mereka biasa menghabiskan waktu istirahat siang di salah satu kubikel toilet. Menguncinya dari dalam, tidak menghiraukan ketukan bertubi maupun distraksi lain selagi mereka bertukar berciuman panas. Punggung Kyungsoo beradu dengan pintu kubikel, tangan Jongin berkelana meraba bagian apapun pada tubuh lelaki itu hingga bibir mereka bengkak dan jejak saliva tercetak dimana-mana.

Kontak fisik, pada kenyataanya bertindak seperti narkotik.

Kabut candu yang menyelimuti mereka menebal seiring setiap sentuh juga rangsang yang mereka bagi. Mereka mulai berciuman tanpa kenal tempat. Di lorong sekolah yang sepi, di balik pintu loker ketika tidak ada sepasang matapun melihat, di tengah pelajaran berlangsung lewat beberapa pesan singkat sebelum keduanya beranjak bersama dari kelas masing-masing dan berakhir dengan tubuh menempel, lidah bermain di mulut satu sama lain, dan kejantanan saling menggesek.

Melupakan menit yang berganti, apa yang berawal dari ciuman biasanya berubah menjadi tubuh yang menyatu. Peluh mereka berjatuhan seiring gerakan serampangan yang kotor. Erangan keduanya menggema, memantul pada dinding berseling dua nama yang terus bersahutan.

Hasrat yang bergelora, bara yang tersulut—permasalahannya, tidak ada satupun dari mereka yang tahu bagaimana cara menjinakkan api yang mungkin datang menghampiri.

-[-][-][-]-

Kyungsoo sangat, sangat menghargai usaha Jongin dalam menepati janjinya untuk membayar kencan romantis mereka yang gagal. Ia hampir mati terbahak ketika lelaki itu menjemputnya menggunakan mobil, menurunkan kaca jendela serendah mungkin kemudian berdecak menggoda, "How about a ride, hot stuff?"

Kyungsoo memapatkan mulutnya untuk meredam tawa. "Ah, aku minta maaf." Keluhnya merajuk. "Orang tuaku tidak mengizinkanku untuk menerima tawaran dari orang asing."

"Aw, too bad. I have candies right here."

"Candies?" Kyungsoo pura-pura besorak riang seperti anak kecil polos yang baru saja terhasut. "I love candies, old pervert uncle!"

Dengan itu, ia membuka pintu mobil dan segera disambut oleh gelakan menggema khas Jongin. Lelaki itu tidak mengenakan luaran malam ini, sesuatu yang sedikit ganjil karena Kyungsoo biasa melihat Jongin dalam balutan jaket maupun coat. Kyungsoo tidak bisa mengelak bahwa Jongin mungkin telah membuat rencana spesial untuknya.

"Jadi, kemana kita pergi?" Tanya Kyungsoo antusias.

Jongin menarik seringai kecil. Lelaki itu melajukan mobilnya tanpa menjawab pertanyaan Kyungsoo.

Rencana Jongin—Kyungsoo seratus persen yakin adalah seperti ini; Drive Night, menyaksikan film menarik lewat layar lebar dari dalam mobil berseling popcorn, nachos, jari bermentega, lelehan keju di bibir serta obrolan singkat yang hangat.

Namun, hal itu ternyata sulit dilakukan ketika tangan mereka tidak dapat berhenti untuk menyentuh satu sama lain.

Selama film berlangsung, Kyungsoo tidak duduk di sebelah kursi kemudi, Jongin tidak duduk di tempat lelaki itu seharusnya duduk, mereka justru berdesakan di bangku belakang sembari berbagi peluh dan desah.

Kyungsoo bernafas berat. Kakinya terlipat di atas bangku, sementara kepala Jongin terkubur di antara kedua pahanya. Lidah lelaki itu menjilati bagian masuknya, terkadang lembut, terkadang kasar, terkadang dengan tusukan yang membuatnya memekik.

Jemari Kyungsoo bermain di rambut Jongin. Meminta lelaki itu untuk berhenti menggodanya karena ia merasa perlakuan Jongin tidak memenuhi hasratnya.

Tetapi bibir lelaki itu semakin menjelajah. Ke bagian dalam pahanya, meninggalkan bekas gigitan di sana sebelum beranjak naik. Dalam satu gerakan cepat, milik Kyungsoo tiba-tiba berada di dalam mulut Jongin. Telunjuk lelaki itu mempersiapkan bagian bawahnya, masuk dengan perlahan, kemudian menghujam.

Rangsangan yang Kyungsoo terima membuat otaknya beku. Ia melenguh pelan, mengucapkan pinta yang terdengar parau. "A-Ah, too much. Jo-Ah, Jongin—"

Kalimat Kyungsoo justru mendorong Jongin untuk memasukkan kedua jarinya masuk bersamaan, mulut lelaki itu menghisap milik Kyungsoo kuat. Kyungsoo menahan jeritannya. Ia masih belum memahami mengapa Jongin selalu bertindak lebih liar setiap kali ia mendesahkan nama asli lelaki itu.

Detik selanjutnya, Jongin mengganti posisi mereka. Lelaki itu menempatkan diri di belakang Kyungsoo, sedang wajah Kyungsoo menempel pada jendela mobil. Ia dapat melihat mobil lain yang berada di sekitar mereka dan pikirannya menduga apakah orang-orang di dalam mobil itu tengah melihat ke arahnya.

Menebak apa yang ada di dalam kepalanya, Jongin menegakkan dagunya agar wajahnya terekspos sempurna dari luar jendela.

"Show 'em what kind of face you make when you're getting fucked."

Kyungsoo merasakan kejantanan Jongin menerobos masuk. Lelaki itu sengaja melambatkan gerakannya, seolah memancing Kyungsoo untuk memohon. Pinggangnya ditarik ke belakang, milik Jongin tertanam utuh di dalamnya. Kyungsoo berusaha kuat untuk menyangga tubuhnya sendiri. Titik sensitifnya tersentuh, namun tidak dengan cara yang ia inginkan.

"More, please." Rintih Kyungsoo sambil menengok. Ia tercekat dengan apa yang ia lihat. Mata Jongin menyiratkan kekuasaan yang tamak. Lelaki itu menyeringai puas ketika Kyungsoo kembali berucap, "Please."

Jongin menghujam. Menghantamkan tubuh mereka dengan kasar, mengayunkan Kyungsoo ke depan dan belakang tanpa mempedulikan mobilnya yang mulai bergoyang. Ia tahu orang lain akan memaklumi gairah muda yang terkadang meledak—dan ia ingin menunjukkan bahwa ia adalah satu-satunya yang dapat membuat Kyungsoo menjadi kacau.

Emosi Kyungsoo terkapar dimana-mana.

Tidak ada lagi pengendalian. Tidak ada lagi topeng. Tidak ada lagi batas.

Menerima hujaman Jongin, ia tidak kuasa lagi menopang tubuhnya. Pipinya kini menempel datar di jendela mobil. Lututnya menggesek bahan kulit bangku mobil. Ia mendesahkan nama lelaki itu berkali-kali. Tenggorokannya terasa begitu kering, namun ia tidak bisa berhenti.

Jongin tiba-tiba menegakkan tubuhnya. Membuat Kyungsoo sedikit menunduk untuk menghindari hantaman dengan atap mobil. Pada posisi ini, milik Jongin terasa lebih dalam. Menghantam titik sensitifnya tanpa ampun hingga ia kehabisan nafas.

Jari Jongin menggenggam miliknya. Bibir lelaki itu mendaratkan ciuman bertubi serta gigitan di leher Kyungsoo. Kemudian—tanpa sebab, gerakan Jongin melemah. Temponya lambat dan sensual. Lelaki itu seakan sedang menikmatinya. Hembusan nafasnya meniup-niup rambut Kyungsoo.

Kyungsoo berpaling, berusaha menemukan bibir Jongin. Mereka saling melumat. Menyalurkan intimasi yang senada.

Ia merasakannya—gejolak menggebu yang meningkat di dalam dadanya seirama dengan gerakan Jongin.

Mereka sedang bercinta.

Mungkin Jongin tidak menumpahkan kata manis. Tetapi Kyungsoo tidak memerlukan penjelasan valid untuk mengetahui makna apa yang tersembunyi di balik perubahan ritme lelaki itu.

Kyungsoo memutar tubuhnya, wajah mereka berhadapan. Jari Jongin mengusap halus pipinya selagi ia menumpukan tangan ke bahu lelaki itu. Memantul pelan, lalu lebih, lebih, lebih. Sesuatu dari dalam perut Kyungsoo bergejolak, ia membenamkan wajahnya ke cerukan leher Jongin sebelum bergerak lebih keras.

Jongin membalas gerakannya. Lelaki itu mendorong kejantanannya kuat hingga Kyungsoo tidak bisa menahan klimaksnya.

Masih berselimut kenikmatan, Kyungsoo menjilati bibir Jongin sambil berbisik rendah, "Want your come."

Jongin mengerang. Bisikan itu membuatnya menghentikan gerakan. Ia membaringkan Kyungsoo, menghimpit lelaki itu hingga tubunya hampir terlipat menjadi dua. Jongin menyentakkan tubuh mereka, miliknya dijepit sempurna oleh Kyungsoo dan ia tidak bisa membendung gairahnya.

Ia kembali menghujam sembari mengagumi tiap desah yang dikeluarkan Kyungsoo. Tepat ketika puncaknya hendak menjemput, Jongin menarik kejantanannya. Ia memompanya beberapa kali sebelum mengarahkan miliknya ke mulut Kyungsoo.

Bibir lelaki itu terbuka lebar, matanya sedikit terpejam saat cairan Jongin akhirnya memenuhi mulutnya. Sedang Kyungsoo berusaha menelan cairannya, Jongin terjatuh di atas tubuh lelaki itu. Ia menciumi pipi Kyungsoo, membuat lelaki itu terkikik di dekapannya.

"The movie is over, pervert uncle." Kyungsoo mengeluh sambil menusuk-nusuk dada Jongin menggunakan jari.

"Oh, ya?" Pandangan Jongin beralih untuk membuktikan ucapan Kyungsoo. Ia melihat layar lebar itu telah menampilkan jajaran pemain film. Tersenyum, Jongin menyatukan hidung mereka. "Menikmatimu lebih menyenangkan. Aku bisa apa?"

Kyungsoo bersemu di bawahnya, pelupuk lelaki itu setengah tertutup karena lelah dan kantuk. Setengah hati, Jongin bangkit dari posisinya. Ia memungut pakaian Kyungsoo, kemudian menyelimuti lelaki itu.

"Aku rasa kita sebaiknya pulang."

"Mm." Gumam Kyungsoo yang meringkuk dalam posisi nyaman.

Jongin mengenakan pakaiannya kembali. Ia menjalankan mesin mobilnya untuk keluar dari venue. Selama perjalanan ia berkali-kali melirik wajah damai Kyungsoo dari rear-view mirror. Jarak tempuh yang jauh terasa begitu singkat baginya. Hatinya sedikit mencelos saat ia memberhentikan mobilnya di depan tempat tinggal lelaki itu.

Jongin membangunkan Kyungsoo, namun lelaki itu memberengut, menggelayut di lehernya sambil berkata, "Can't walk. Too tired."

Kyungsoo melihat Jongin mengernyit sejenak. Lelaki itu seakan berpikir keras apa yang harus ia lakukan. Lalu setelah detik berlalu, sepasang lengan memapahnya dalam dekapan. Kyungsoo membenamkan wajahnya ke dada Jongin, menikmati aroma maskulin khas yang menguar dari tubuh lelaki itu setiap mereka selesai melakukan sesi permainan.

Ia sedikit terkikik ketika Jongin berusaha membuka pintu rumahnya dengan susah payah. Pandangan lelaki itu menyisir bagian rumahnya sekilas, mungkin sembari perlahan menyadari bahwa ia tinggal sendiri. Setelah menebak dengan benar di mana ruang tidurnya, Jongin membaringkannya ke tempat tidur.

Energi yang terkuras menyebabkan Kyungsoo segera tertidur tanpa mengetahui bahwa jarinya menggenggam Jongin kuat—yang secara tidak langsung juga sebuah permintaan agar lelaki itu tetap tinggal.

Ia tertidur pulas.

Namun saat tengah malam menyapa, samar-samar Kyungsoo melihat Jongin tengah menyusuri barang-barang yang berada di ruang tidurnya. Bibir lelaki itu mengulas senyum simpul, punggungnya membungkuk memindai foto masa kecil Kyungsoo yang berada di bagian paling atas rak buku.

Entah mengapa, tepat kala itu Kyungsoo tahu bahwa hatinya telah jatuh.

Jengkal demi jengkal.

Bagian demi bagian.

Sedikit demi sedikit—kemudian lama-lama membukit.

-[-][-][-]-

Sesuatu.

Jongin merasakan sesuatu.

Rasanya seperti berada di bawah pengaruh obat terlarang, dua puluh empat jam tanpa henti. Kombinasi acak yang aneh—bahagia, gembira, lepas, bebas bergantian merasuki kinerja otaknya. Ia mulai sering mendengarkan lagu berirama riang, bibirnya kadang tertarik tanpa sebab, dan inspirasi menyerbunya seperti gerombolan lebah.

Beberapa malam terakhir, Jongin selalu mengurung diri di ruang tidurnya. Menggoreskan sketsa demi sketsa ke dinding ruangan sesuai kemana intuisinya mengarah. Mengayunkan kuas dengan polesan lembut dibantu sinar ultraviolet sebagai penerangan utama.

Jemarinya seolah berdansa tanpa perintah.

Jongin tidak memiliki kuasa untuk mengakhirinya. Adakalanya, ia melewatkan waktu makan malam. Memilih meladeni tumpahan inspirasinya yang tidak terkendali. Jam tidurnya pun berubah berantakan karena tubuhnya menolak isyarat kelelahan dalam bentuk apapun.

Suara ketukan di pintu menyeret Jongin keluar dari alam imajinasinya. Ia buru-buru bangkit menyalakan lampu sebelum membuka pintu.

Dua sosok dengan senyum terlalu lebar menyambutnya. Lelaki yang lebih kecil mengangkat sekotak pizza berukuran besar hingga sejajar dengan wajah Jongin kemudian memekik riang—menggunakan aksen Jerman yang gagal, "Gute nacht, my dear son!"

Jongin menghela nafas panjang. Ia telah memprediksinya jauh-jauh hari. Ibunya yang kelewat gelisah pasti mengirimkan dua mahkluk ini sebagai senjata utama.

"I am not your son, Baekhyun." Tandas Jongin. Ia melirik bosan ke lelaki di sebelah Baekhyun kemudian menambahkan, "Katakan. Kenapa kau dan dia selalu datang dalam bentuk satu paket, Sehun?"

Sehun berkacak pinggang, alisnya mengerut dalam. "Believe me, I still can't find the reason either."

Baekhyun tergelak pelan. Tanpa permisi lelaki itu menyerobot masuk ke ruang tidur Jongin. Ia sedikit ganjil karena melihat kaleng cat yang telah terbuka tetapi tidak menemukan satu gambarpun di dinding ruangan itu.

"I thought you were working on something." Celetuknya heran.

Jongin tidak menjawab. Ia merebut kotak pizza dari tangan Baekhyun kemudian duduk di tepi ranjang. "Jika ibuku yang mengirimkan kalian kesini, katakan padanya bahwa aku baik-baik saja."

"Yeah, atau kau bisa mengatakannya langsung dengan tidak mengabaikan ibumu ketika beliau mengetuk kamar?" Sahut Sehun ketus. Ia mencomot satu potongan pizza, lalu memakannya dalam gigitan besar. "Lagipula, ada hal lebih menarik yang mendorong kami kesini."

"We heard that you're dating Do Kyungsoo!" Seru Baekhyun tanpa basa-basi.

Jongin menghela nafas panjang. Byun Baekhyun dan gosip merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Ia seharusnya menggali fakta itu terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berteman.

Jongin berniat untuk mengabaikan Baekhyun, berpura-pura bahwa eksistensi lelaki itu hanya ada di kepalanya. Sialnya—selain gosip, ia lupa bahwa Baekhyun juga datang bersama dengan suara kedua yang bersiap mendukung argumen lelaki itu.

"Hampir seluruh isi sekolah membicarakanmu." Timpal Sehun.

Lelaki itu selalu bertindak seperti jin peliharaan Baekhyun. Jongin merasa ia tidak akan terkejut jika seseorang mengatakan bahwa Sehun ternyata tinggal di dalam botol.

"Bisakah kita berganti topik?" Balas Jongin singkat.

Baekhyun berdesis sembari mendelik. "Kai, my son." Ia tersenyum masam sekilas, "Kau tahu ini adalah penghasilan tambahanku."

Dengan itu, Baekhyun menggenggam tangan Jongin. Matanya mengerjap penuh harap, karena sekali ia mendapatkan konfirmasi isu ini langsung dari mulut Jongin, ia dapat menyebarkan berita itu dalam bentuk bisikan bertarif. Baekhyun yakin gadis-gadis haus gosip itu mau membayar berapapun demi mendengar bukti lanjut hubungan antara Kyungsoo dan Jongin.

"Kenapa kau tidak alihkan perhatianmu kepada sesuatu yang lebih berguna? Park Chanyeol, misalnya." Jawab Jongin.

Menangkap nama itu, Baekhyun tersipu. Ia mendadak salah tingkah, memukul lengan Jongin kecil kemudian tergagap, "J—Jangan mengalihkan isu!"

Jongin tertawa kecil, sedikit berharap candaannya mampu membuat kedua temannya melepaskan masalah pribadinya kali ini. Namun dua pasang mata yang masih menatapnya lurus sepertinya tidak sejalan dengan pemikirannya.

"We're not dating." Tutur Jongin tidak acuh. "There, I said it."

"Tidak atau belum?"

Oh, Tuhan. Sejak kapan si sialan Sehun menjadi begitu lancang? Keluh Jongin dalam hati.

Walaupun ia tahu jelas siapa pengaruh paling besar yang mengambil bagian dari terbentuknya kepribadian lelaki itu—seseorang yang kemudian mendesaknya lebih dengan pertanyaan, "Kau yakin?"

"Atau ini hanya alasanmu?" Sambung Sehun lagi.

"Apa kau malu?"

"Atau mungkin dia melarangmu?"

"Ataukah ini justru karena kau tidak mau terlibat dalam komitmen?"

"Oh! Apakah Kyungsoo takut kau merusak reputasinya?"

"Ah." Sehun manggut-manggut ke arah Baekhyun. "Bisa jadi."

Mereka melanjutkan dengan berbagai spekulasi yang mungkin terjadi di antara Jongin dan Kyungsoo, seakan salah satu dari orang yang keduanya bicarakan tidak berada di ruangan yang sama. Baekhyun terlihat begitu antusias dan itu membuat Jongin gerah. Dengan gerakan singkat, ia segera menyumpal mulut kedua temannya menggunakan potongan pizza.

"Kalian berisik." Ucap Jongin datar, ia memiliki keinginan kuat untuk membenturkan kepala Sehun dan Baekhyun yang masih saja berusaha bicara dengan potongan pizza di mulut mereka. "Tidak ada yang terjadi. Okay? Knock it off."

Dengan berat hati Baekhyun dan Sehun berhenti bicara, walaupun Jongin yakin pikiran mereka masih tenggelam dalam rasa penasaran. Jongin bukan enggan mengakui ia memiliki hubungan lebih dengan Kyungsoo, tetapi ia tidak ingin menetapkan suatu label secara sepihak. Lagipula, menurutnya itu tidak penting.

Ia sama sekali tidak menangkap mengapa orang-orang membutuhkan status dalam berhubungan. Bukankah suatu persetujuan tersirat tanpa perlu deklarasi seharusnya sudah cukup?

Menepikan pendiriannya, Jongin berusaha menjadi tuan rumah yang baik. Di luar tingkah menjengkelkan dan tidak tahu diri dari kedua tamunya ini, mereka telah menyempatkan waktu untuk meladeni kekhawatiran ibunya yang berlebihan.

"Kalian mau minum?"

Baekhyun dan Sehun mengangguk bersamaan. Keduanya menatap Jongin yang beranjak meninggalkan ruang tidur dengan tatapan curiga.

Keduanya yakin ada suatu hubungan serius terjadi di antara Kyungsoo dan Jongin. Rumor yang beredar bukan hanya kasak-kusuk tanpa bukti. Terdapat beberapa murid yang telah menjadi saksi mata langsung—melihat Jongin sedang sibuk memakan wajah Kyungsoo di depan gudang sekolah, mendengar Kyungsoo mendesahkan nama Jongin di dalam toilet, memergoki keduanya bermain mata selagi Kyungsoo mengulum pipet minumnya dengan sorot seduktif sebelum kedua lelaki itu pergi dari kafetaria dalam waktu yang hanya berselang sebentar.

Dan satu bukti yang paling kuat adalah, Seulgi mendengar Kyungsoo memanggil Jongin dengan nama aslinya.

Sedikit termangu, Baekhyun tidak sengaja mendaratkan matanya pada sebuah lampu yang tergeletak di lantai ruang tidur Jongin. Awalnya, ia mengira itu hanya lampu darurat biasa. Namun rasa ingin tahunya mendadak muncul. Ia menyalakan lampu itu, mengamati sinar biru yang dihasilkan benda tersebut sejenak sebelum ia menyadari sesuatu.

Baekhyun buru-buru menyorot sinar lampu itu ke dinding dan rahangnya seketika terbuka lebar melihat apa yang ada di dinding ruang tidur Jongin. Tangannya menepuk-nepuk pundak Sehun dengan membabi buta. Lelaki itu menoleh, membelalak, kemudian mengeluarkan ekspresi yang sama dengan Baekhyun.

"We are not dating, my ass." Bisik Baekhyun terpana sekaligus berang. "That son of a bitch is so dating Do Kyungsoo."

Sehun tiba-tiba mendengus. Lelaki itu melipat tangan di dada sambil menoleh ke arah Baekhyun dengan seringai licik, "Wanna spice this thing up?"


DISPEL: TO BE COTINUED


.

Author's Note

Hi! Pertama aku mau ngucapin makasih banget, banget buat yang udah ngerekomendasiin ff aku.
YOU GUYS HAVE NO IDEA HOW MUCH IT MEANS TO MEH ;_; Me is brimming with tears ;_;
Walaupun mungkin ini mungkin cuma ff buat kalian cuma aku seneng karena karya aku ada yang baca.

SO ONCE AGAIN THANKYOU! ME LOVE YOU.

Oh, dan mau kasih tau lagi, aku ada ig, username-nya shervlm. Kalo mau difollow back silahkan bilang, ga masalah :) Mau dm, atau ngerusuh di kolom komen juga ga masalah. Talk to me! I dunnot bite.

Btw, ini cerita semakin tida jelas. Syukur banget kalo ada yang masih ngikutin karena aku update-nya emang lama. Hehehe.

Saran, kritik, review, sangat amat diapresiasi.

XOXO

Sher.

ps. Kalo aku bikin suatu cerita yang bukan kaisoo, kira-kira kalian mau baca ga?