Trapped-in-Hunhan

Presents

.

First and Second

.

Warning : YAOI, Typo(s), SO FICTIVE

.

Just gonna stand there and watch me burn

But that's alright because I like the way it hurts

Just gonna stand there and hear me cry

But that's alright because I love the way you lie

I love the way you lie

(Rihanna ft Eminem - Love The Way You Lie)

.

Ini sudah bulan ketiga. Dan Luhan masih belum bertemu Sehun lagi. Anehnya rasa sedihnya tidak terasa, kendati harusnya dia makin khawatir dengan hubungan mereka.

Entah ini berkat Jongin yang setiap hari ada di sisinya, atau hanya karena Luhan sudah siap melepas Sehun saja.

Atau mungkin keduanya sekaligus.

Atau malah karena Luhan sudah kebal, dan justru berdamai dengan rasa sakit.

"Maaf aku terlambat"

Suara Jongin membuyarkan semua lamunan Luhan. Dia tersenyum. Mempersilahkan Jongin duduk. "Kau kemana saja memangnya?"

"Ada teman satu kampusku, teman dekat, yang bertanya-tanya tentang part time menari di bar" laki-laki berkulit tan itu duduk, meletakkan tasnya di kursi lain.

Luhan membulatkan mulutnya, manggut-manggut, kemudian memindai lagi buku menu bersama Jongin.

Perut Luhan sudah tidak sabar menyambut makanan.

"Jongin-oppa?"

Luhan dan Jongin sama-sama menolehkan kepala mereka dari buku menu karena suara barusan jelas bukan suara perut mereka.

"Ah, hai Nana" Jongin bersuara. "Dan hai Sehun" tambahnya melihat orang di samping Nana.

Luhan diam saja, sedang berusaha sekeras mungkin merilekskan diri. Dia mengeluarkan senyum andalannya ketika dirasa sudah siap. "Hai Nana, hai Sehun"

"Eh, Luhan-oppa?" Nana berjalan lebih maju, supaya bisa melihat Luhan yang tertutupi Jongin. "Luhan-oppa kenal dengan Jongin-oppa?"

"Yaps" Jongin menyela Luhan yang hendak membalas. "Dia teman yang selalu kuajak main, yang kuceritakan tiap hari di kelas"

"Ah, begitu" gadis itu kemudian menoleh pada Sehun yang sedari tadi diam saja. "Jadi, apakah kau tahu kalau Sehun dan Luhan-oppa tinggal satu apartemen, Jongin-oppa?"

Luhan nyaris tersedak udara. Bagaimanapun dia belum pernah menyebutkan apapun tentang Sehun ketika bersama Jongin, kendati dia sudah tahu bahwa Jongin dan Sehun satu kelas.

"Tidak" Jongin menggeleng. "Benarkah Lu?"

Luhan menganggukkan kepalanya. "Ya, begitulah. Kami berbagi untuk menghemat biaya"

Jongin membentuk mulutnya menjadi huruf O. Sedangkan Nana menyenggol Sehun yang sedari tadi diam. "Sehunnie, kita makan bersama mereka di sini ne?"

Sehunnie

Entah kenapa perut Luhan merasa tidak berselera menyambut apapun. Malahan ingin mengeluarkan sesuatu. Muntah, mungkin.

Jongin menggelengkan kepala. "Enak saja. Aku tidak ingin melihat PDA kalian. Cukup di kelas saja"

Ouch. Kenapa masih sakit ya mengetahui mereka mesra dimana saja?

"Issshh! Kau ini! Kan sejak Sehun tinggal denganku aku jadi tidak bisa kenal lebih jauh dengan Luhan-oppa!"

Tinggal bersama. Luhan tertawa miris di dalam hati. Astaga dia ingin sekali menghajar Sehun saat ini.

"Jongin benar, Nana-ah. Lagipula aku yakin Sehun juga hanya ingin berdua denganmu" Luhan tersenyum meyakinkan. "Kita bisa mengatur waktu untuk mengenal lebih jauh. Kau bisa main di kantorku kalau kau mau"

Kalimat terakhir diucapkan Luhan dengan wink. Membuat Jongin memukul kepala Luhan. "Jangan menggeniti pacar orang! Dasar ajussi mesum!"

Luhan yang terkena pukulan Jongin membulatkan matanya. Dia langsung membalas Jongin. "Siapa yang ajussi! Demi apapun di dunia ini, kita hanya berjarak 4 tahun! Dan asal kau tahu, wajahku jauh lebih terlihat muda darimu! Dasar keparat kecil!"

Nana terkekeh geli melihat pemandangan di depannya. "Kurasa aku akan duduk di sini saja. Oke, Sehun?"

Sedangkan Sehun hanya diam saja. Entah apa yang dipikirkannya. Ekspresi wajahnya datar saja.

Setelah makanan pesanan mereka semua diantar, mereka makan diselingi beberapa obrolan singkat. Lebih tepatnya, diiringi Nana yang bertanya-tanya pada Luhan, Luhan yang menjawab, dan Jongin yang kadang menyahut. Sehun masih diam saja.

"Luhan-oppa, apakah Luhan-oppa punya pacar?"

Semua pria di sana entah bagaimana menghentikan makannya masing-masing. Hanya beberapa saat, karena kemudian mereka kembali makan dengan normal.

"Tidak" jawab Luhan sambil mengiris daging steaknya. "Aku single"

Luhan tidak peduli bagaimana ekspresi Sehun. Baginya fokus memotong steak jauh lebih penting.

"Tapi sebentar lagi dia taken kok" Jongin meletakkan gelas, dia habis minum karena haus. Meski normanya adalah minum seusai makan. Persetan dengan norma, dia haus.

Wajah gadis itu bertambah ceria. Seperti menemukan topik pembicaraan yang menyenangkan. "Benarkah oppa? Dengan siapa?"

Sementara Luhan mendelik ke Jongin dan menjewer telinganya. "Jangan semba–"

Jongin, meskipun dengan merintih kesakitan, dengan lugas langsung menjawab. "Aku"

Nana membelalak, tidak percaya. "Ka–Kalian gay?!" teriaknya dengan volume yang dia tahan sebisa mungkin. Dan syukurnya berhasil atau orang-orang di sekitar akan semakin melihat mereka semua.

Cukup Luhan yang menjewer Jongin saja yang menjadi pemandangan aneh.

"Ya" jawab Luhan dan Jongin bersamaan. "Dan kami akan segera jadian" tambah Jongin, yang langsung membuat telinganya semakin dijewer lebih keras.

"Woah! Aku tidak percaya!" yeoja itu tertawa kecil. "Tapi kalian lucu dan cocok"

Luhan, yang lelah harus bagaimana, diam saja. Sedangkan Jongin tersenyum puas. "Ne, terimakasih Nana. Doakan kami langgeng"

Luhan melihat Sehun yang hanya diam.


First and Second


Nasihat maupun petuah dari orangtua dan cerita fiksi ataupun pengalaman mengajarkan kepada Luhan untuk menghadapi masalah. Bukannya kabur. Karena ketika masalah berhasil menangkapmu yang berlari, energimu akan habis terlebih dahulu untuk berlari sebelumnya. Dan kau akhirnya semakin sulit melawannya.

Namun terkadang berbicara lebih mudah daripada menghadapi.

Oleh karena itu Luhan tetap menutup mata, mulut, dan telinganya rapat-rapat. Selalu menghindar agar dia tidak melihat ekspresi Sehun, agar dia tidak mengatakan kekecewaannya yang tak berdasar, dan agar dirinya tidak mendengar langsung dari mulut Sehun perasaannya yang sebenarnya.

Sayangnya, lebih dari sering efek yang ditimbulkan jika nasihat itu tidak dilakukan, akan benar-benar terjadi.

Sekarang masalah yang Luhan selalu hindari –Sehun– sedang menahan Luhan yang beralasan hendak pergi membeli Americano di kedai kopi tempat Minseok berjualan.

"Aku ingin menyelesaikan semuanya. Tolong jangan menghindar"

Luhan menghembuskan napas. "Apa yang kau ingin selesaikan? Semuanya sudah selesai sejak aku mendapatimu berciuman di lorong ini. Bukankah itu cukup jelas?"

Sehun diam. Tidak bisa mengatakan apapun. Bagaimanapun Luhan memang benar. Momen dimana Sehun kedapatan berselingkuh dan bahkan selingkuhannya sudah resmi berkenalan dengan Luhan di saat yang bersamaan, bisa disebut momen putusnya mereka secara tidak langsung.

Tapi tetap saja. "Setidaknya kalau begini lebih jelas bukan"

"Hm" Luhan bergumam. Dia merapatkan jaketnya. "Sekarang bisakah aku pergi?"

Sehun tidak melepaskan genggaman tangan Luhan. "Kau tidak ingin mendengar penjelasan dariku?"

Luhan tertawa. Entah mengapa pertanyaan Sehun terdengar begitu lucu –dan mengganggu. "Untuk apa? Aku bisa mengerti. Kita tidak pernah bisa mengatur diri kita untuk jatuh cinta atau berhenti mencintai kepada siapa bukan?"

Karena aku sendiri masih belum bisa melupakanmu, brengsek.

Sehun diam lagi. Pria yang lebih tua empat tahun pun menghembuskan napas pendek.

"Aku pergi"

Luhan beralih. Genggaman tangan Sehun pada Luhan untuk menahannya sudah tidak ada lagi.

Luhan berpikir itu tadi adalah genggaman terakhir untuk mereka.

Luhan sudah memutar kenop pintu dan membuka pintu itu hingga menghasilkan celah.

"Maafkan aku"

Pria bermata rusa itu menoleh ke arah Sehun yang memandanginya dengan rasa bersalah yang kentara. Mata Luhan sakit melihatnya.

"Kuharap kau meminta maaf bukan karena kau tidak bisa mengontrol hatimu untuk terus menyukaiku atau melupakan Nana"

"Kuharap kau meminta maaf karena kau nemilih untuk diam saja dan tidak membicarakanku dari awal kau ingin bersama Nana lagi. Mengetahui kau selingkuh dan aku harus berpura-pura tidak tahu, menunggumu untuk mengaku tapi kau tak kunjung mengaku, itu semua lebih mengganggu daripada mengetahui kau sudah tidak atau tidak pernah mencintaiku"

"Aku–" Sehun menghembuskan napas kasar. Tidak tahu harus mengatakan apa. Tidak tahu harus menyampaikan dengan bagaimana.

Blam.

Tiba-tiba saja pintu sudah tertutup dan Luhan tidak ada lagi di depannya.


First and Second


Malam yang sama, Luhan tidak di rumah.

"Kenapa semua laki-laki itu brengsek?"

Minseok mendengus menahan geli. Memberikan segelas air putih es lagi kepada Luhan. Dia masih tidak mau Luhan mabuk. "Kalau kau tidak lupa, kau juga laki-laki Lu"

"Ya. Di situlah brengseknya" Luhan membeturkan kepalanya pada meja bar. "Aku pengecut sekali. Padahal ternyata segampang ini. Tahu begitu dari dulu saja aku lakukan. Tahu begitu aku duluan yang langsung menyerangnya. Kan sakit hatiku juga tidak menumpuk, tidak akan sebanyak hari aku tidak bertemu dengannya dan memikirkan kapan dia mau bicara. Brengsek"

Minseok yang mendengar unek-unek Luhan hanya bisa tersenyum simpati. Dia tidak mengenal siapa kekasih Luhan. Tapi melihat betapa depresinya kawannya ini, Minseok yakin masalah perpisahan mereka benar-benar tidak berjalan baik dan lancar.

"Cheer up Lu" Minseok menyerahkan segelas wine. "Kuberikan kau minuman asli kali ini"

"Thanks, Min. Nanti kau pulang saja sendirian. Aku akan meminta teman menjemputku" Luhan langsung meneguk habis wine itu. Dan menuangkan lagi wine ke gelasnya dari botol yang ia ambil dari Minseok.

Terus dan terus. Sampai Minseok selesai bertugas. Sampai dia akhirnya pergi dari sana. Meninggalkan Luhan sendirian. Tertidur di kursi bar, dengan kepala terletak di meja bar.

Tak butuh waktu lama sejak Minseok pergi, seseorang dengan tergesa masuk ke dalam sana. Dialah teman yang Luhan panggil.

"Luhan!" panggilnya saat melihat pria itu sedang tertidur ayam di meja bar.

Laki-laki itu segera membopong Luhan. Luhan yang merasa tubunnya meringan dan berdiri sendiri melihat ke orang di sampingnya. "Hei, apa kita terbang? Apa aku punya sayap?"

"Bodoh"

Luhan menyerngit kesal. Tapi dia diam saja. Menatap bayangan samar yang terbang (menurutnya mereka sedang terbang) di sampingnya. "Kau mirip Jongin"

"Aku memang Jongin" balas laki-laki yang ternyata Jongin itu. "Lain kali jangan mabuk saat membuat panggilan. Aku tidak kenal Yixing yang asyik bercengkerama dengan Joonmyeon siapa itu"

Yixing, aku tahu kau sedang asyik berdua dengan Joonmyeon. Tapi bisakah kau menjemputku? Aku mabukkkk~~

Luhan terkekeh. Bukan karena mengingat bagaimana dia salah telepon. Tapi karena ... "Kau benar-benar mirip Jongin"

Jongin meletakkan Luhan di jok mobil dan segera ikut naik ke mobil, lalu menyalakan mesin.

"Jongin itu selalu ada untukku"

Jongin menghentikan pergerakan tangannya yang hendak memasukkan gigi.

"Dia selalu menghiburku, menemaniku"

Jongin menoleh ke arah Luhan yang memejamkan mata sambil bergumam dan terkikik.

"Dia juga tampan"

Jongin menghela napas dan memasukkan gigi, lalu mulai mengendarai menuju apartemen Luhan. Sepanjang perjalanan Luhan menceritakan tentang dirinya dan hal-hal yang pernah mereka lakukan bersama.

Jongin yang sudah sampai segera mengantar Luhan ke kamarnya. Dia merebahkan Luhan di kasur. "Sayangnya Sehun tidak seperti Jongin"

Jongin diam. Luhan mulai menangis. Kali pertama pria itu menangis karena Sehun. Dan Jongin yang melihatnya. "Kenapa Sehun tidak bisa selalu ada untukku?"

"Kenapa?"

"Kenapa dia brengsek sekali?"

"Aku membencinya"

"Hiks Oh Sehun"

"Hm... kenapa kita tidak terbang lagi hm" setelah beberapa waktu, Luhan akhirnya tertidur dalam tangisnya –dan pelukan Jongin.

Tangan Jongin berhenti membelai pelan punggung Luhan yang berada dalam pelukannya. Laki-laki berkulit tan itu hanya bisa melihat Luhan dengan eskpresi terluka.

"Itulah masalahnya Lu. Kenapa kau masih membutuhkan Sehun jika aku bisa membahagiakanmu?"


First and Second


Jongin mengenal Luhan malam itu. Ketika Minseok memintanya untuk datang menjemput dirinya dan kawannya yang mabuk dengan mobil. Laki-laki itu melihat Luhan yang bergumam tidak jelas.

Manis. Pemabuk yang lucu.

Hanya itu kesan pertama Luhan pada Jongin.

Lalu, malam-malam berikutnya Jongin mengantar Luhan kembali. Selamat sampai apartemennya. Luhan pernah bergumam sesuatu, yang kebetulan bisa ditangkap indra Jongin. Dan itu hanya satu kata. Sehun.

Namun Jongin tak ambil pusing. Nama Sehun di Korea Selatan ada banyak.

Jongin selalu mengira Luhan tinggal sendiri karena selama dia ke rumah Luhan untuk mengantar, tidak pernah ada orang lain di apartemen itu.

Ternyata dia salah. Ketika dosennya meminta dia bekerja sama dengan teman sekelasnya –yang cukup dekat dengannya– yang bernama Oh Sehun, dia mengetahui bahwa ternyata Oh Sehun dan Luhan tidak hanya tinggal dalam gedung apartemen yang sama, melainkan mereka tinggal dalam satu unit apartemen yang sama.

Namun Jongin diam saja. Dia tidak ingin nanti Sehun bertanya darimana dia mengenal Luhan. Laki-laki itu merasa Luhan, mabuknya, dan Sehun berkaitan. Bahwa Sehun yang dimaksudkan Luhan adalah Oh Sehun, kawannya. Dan bisa saja menjadi masalah.

Kim Jongin sedang berjalan-jalan di taman kala itu. Sudah beberapa hari ini dia tidak melihat Luhan lagi. Minseok bilang pria manis itu mungkin sudah lelah minum alkohol untuk melepas penat.

Minseok benar. Karena Jongin menemukan Luhan di taman menjelang tengah malam.

Sejak itulah Jongin memiliki kebiasaan aneh. Kebiasaan melihat Luhan duduk di bangku taman, yang bersinarkan cahaya bulan. Entah mengapa menurut Jongin itu pemandangan terbaik. Luhan terlihat berkali-kali lipat lebih manis.

Butuh beberapa waktu bagi Jongin untuk akhirnya sadar sekaligus mengakui bahwa dia entah sekedar tertarik atau menyukai Luhan.

Dan butuh sore itu untuk Jongin akhirnya menyapa Luhan. Menjadikan es krim sebagai alasan.

Tidak butuh waktu lama untuk Kim Jongin jatuh cinta pada Luhan setelah menjalani hari-hari bersama. Tak ada alasan bagaimana bisa.

Pun tak butuh waktu yang lama untuk Jongin merasakan sakit hati. Tanpa tertahankan.

Setelah diam-diam membuka handphone Luhan untuk mengerjainya, dengan mengganti wallpaper menjadi foto hantu, dia malah menemukan folder berisi foto Luhan.

Bersama dengan Sehun. Banyak tempat. Berbeda waktu. Beragam pose. Satu tema. Kencan.

Sekarang Jongin paham apa hubungan Luhan dengan Sehun dan mengapa Luhan selalu terlihat sedih hingga mabuk.

Sehun memiliki kekasih bernama Nana, tentu Jongin tahu itu. Hell, satu jurusan mengetahui hal itu.

Dan dari tanggal foto pertama yang diberi nama first date, Jongin tahu, bahwa Luhan dan Sehun bersama lebih dahulu.

Dari dua foto terakhir Jongin juga tahu, bahwa mereka masih bersama –meski di waktu yang sama Sehun dan Nana juga bersama.

Tidak butuh orang jenius untuk menyimpulkan si brengsek Sehun selingkuh.

Tidak butuh berpikir keras untuk Jongin tahu bahwa Luhan sudah tahu namun berpura-pura tidak tahu.

Sedih Luhan bukanlah sedih karena orang yang kandas dalam hubungan. Kesedihan Luhan adalah kesedihan orang yang sedang menjalin hubungan tidak sehat.

Namun Jongin tidak akan bertanya kepada Luhan apapun.

Jongin memutuskan untuk melakukan hal yang sama dengan Luhan.

Berpura-pura tidak tahu dan menjalani semuanya.

Tetapi, berbeda dengan Luhan yang ingin menghindar, Jongin hanya menunggu waktu yang tepat.

Waktu dimana Luhan siap.

Yang sayangnya, sepertinya masih lama sekali.


First and Second


Sehun berbohong.

Luhan tidak tahu.

Jongin diam.

.

Sehun sudah tertangkap basah dengan kebohongannya.

Luhan masih tidak tahu dengan perasaannya.

Dan Jongin tetap diam, berpura-pura tidak tahu.

.

Because they love the way the others lie


To Be Continued


PDA : Public Display Affection aka mesra-mesraan di tempat umum

Karena ini bottom-yet-man!Lu, putusnya Hunhan menjadi sederhana seperti ini. Tidak perlu terlalu dramatis. Lulu sudah berumur 20-an di sini, lebih tua dari saya. Hoho

Oh, ya, nanti keputusan Kailu apa Hunhan : 40% voting, 40% penilaian author (author sih sukanya sama Kai, bias saya yang paling sekseh gitu #ditendang), 20% takdir aka mood saya (emang acara penghargaan?). Bisa jadi Luhan malah bersama orang lain lagi, atau malah tidak bersama siapa-siapa dan hidup bahagia bersama kucingnya. Hoho

Dan untuk pertanyaan : ya, Hunhan belum ketemu setelah insiden Sehun ketahuan ciuman.

And ... thank you very much for reviewers, followers, and favoriters!

Tanpa kalian aku tidak akan ada semangat update n(_ _)n

Arifahohse | mr albino (memang pendek kok hehe)| Sehunogeb (nama dan komenmu sesuatu X'D)| Seravin509 | fururu fuyu (aku ngakak. Apa tak ganti nama jadi Fururu Fuyu aja ya si Nana? IYA. DEER WIND DAN SAMA-SAMA DI PELABUHAN(?) DAN ADA LUMAYAN BANYAK MOMEN UNTUK BERDELUSI HAHAHAHAHA)| bambii | Bottom-Lu | Menglupi | Ludeer | juniaangel58 | exostbabyz | lzu hn (anunya Sehun pendek karena udah dianu Luhan biar ngga bisa anu sama yang lain #hei)|Balqis | oohluhan

So,

Mind to review?