.

A CERTAIN ROMANCE

"Let's embrace the point of no return"

.


CHAPTER FIVE
DISTRACTION


Do Kyungsoo menyukai kuis kepribadian.

Jongin menemukan bertumpuk kertas halaman hasil sobekan dari berbagai majalah ketika ia tengah berada di ruang tidur lelaki itu tempo lalu. Ia membacanya satu per satu, meneliti bulatan asal jawaban Kyungsoo pada setiap pertanyaan dan hasil dari jawaban tersebut.

Ia merasa Kyungsoo tengah menggali dirinya sendiri. Mencari tahu bagaimana manusia dapat diukur lewat beberapa pertanyaan psikologi, kemudian disimpulkan dalam berbagai kategori—yang Jongin pikir adalah hal bodoh.

Sebab manusia bersifat abstrak dan bebas.

Menurut pengamatan Jongin, Kyungsoo selalu mendapatkan hasil berbeda dari setiap kuis yang ia coba. Suatu bukti lain bagi Jongin bahwa manusia tidak akan pernah berada pada satu titik absolut. Mereka tumbuh dan berkembang. Mereka mempelajari dan beradaptasi. Mereka baru akan berhenti ketika telah menemukan jati diri yang asli.

Kyungsoo menjawab bahwa ia telah memiliki jati diri. Lelaki itu mengatakannya ketika mereka sedang di tengah sesi belajar. Sejenak mengabaikan penat karena Jongin selalu menuntut untuk lebih tahu mengenai segala sesuatu yang ada pada Kyungsoo. Lelaki itu melanjutkan bahwa ia tidak menyukai apa yang ia temukan dari dirinya. Kyungsoo ingin membuangnya, tetapi terkadang lengah menginterupsi dan tanpa sadar ia menjadi dirinya sendiri.

Saat Jongin bertanya apa yang menjadi kelemahan Kyungsoo, lelaki itu geming. Mimiknya berubah panik dan ia segera mengalihkan topik.

Jadi, Jongin berhenti.

Do Kyungsoo menyukai belajar.

Lelaki itu tidak berbohong tentang itu. Ia belajar seperti orang gila. Bukan hanya karena untuk mendapatkan nilai sempurna, melainkan juga karena rasa ingin tahunya yang tinggi. Kyungsoo menyindir Jongin sebab cara belajarnya mengindikasikan bahwa ia tidak memiliki rasa ingin tahu. Sedikit yang lelaki itu paham, ia juga memilki rasa ingin tahu—mungkin bukan dengan berbaris paragraf membosankan, melainkan pada seorang lelaki yang tengah berceloteh riang sambil bersandar di dadanya.

Do Kyungsoo menyukai musik klasik.

Bach dengan nuansa religius, Mozart dengan nada riang yang menyalurkan prinsip musik klasik murni pada tiap tekanan tutsnya, Beethoven yang menggebu seperti ombak lautan ketika badai, hingga Chopin yang romantis dan mendayu di telinga.

Do Kyungsoo menyukai seni. Atau itu yang Jongin tangkap, karena Kyungsoo selalu memintanya menggambar tattoo palsu menggunakan spidol di pergelangan tangannya.

Do Kyungsoo mudah sekali tertawa, lelucon paling tidak menarik sekalipun akan membuat lelaki itu terbahak. Do Kyungsoo mengagumi kedua orangtuanya, lelaki itu selalu menceritakan tentang ayahnya yang seorang diplomat dan ibunya yang setia mendampingi beliau. Do Kyungsoo sedikit cerewet, Do Kyungsoo sangat peduli tentang kebersihan, Do Kyungsoo dapat merubah suasana hatinya dalam sepersekian detik.

Dan oh, satu lagi.

Do Kyungsoo is clingy.

Jongin baru menyadarinya sekarang—ketika Kyungsoo lebih memilih duduk di pangkuannya. Lelaki itu menuliskan beberapa soal tambahan untuknya, lehernya yang jenjang tepat berada pada batas pandang Jongin.

Ia melingkarkan lengannya di perut Kyungsoo, bibirnya meniup-niup tengkuk lelaki di hadapannya hingga suara gelakan terdengar tidak lama kemudian.

"It's ticklish!" Pekik Kyungsoo sembari berusaha menghindar.

Jongin mendekapnya lebih kuat, sementara Kyungsoo meronta ingin melepaskan diri. Lelaki itu menoleh ke arahnya, alisnya bertaut dalam hingga ke pangkal hidung. Jongin mendapat dorongan untuk menggigit hidung Kyungsoo dan lelaki itu menjerit kesakitan.

Meredam tawanya, Jongin menyandarkan dagunya ke bahu Kyungsoo, "Beritahu aku sesuatu yang lain tentangmu."

Kyungsoo mendesah panjang, lelaki itu sepertinya mulai lelah dengan tuntutan Jongin yang selalu sama. "Kau sudah cukup banyak tahu, Jongin."

Jongin.

Ada sensasi menyenangkan yang mengisi hatinya setiap kali Kyungsoo menyebutkan namanya. Ia masih belum memahami dimana letak kebahagiaan itu berasal.

"Seriuslah sedikit." Gerutu Kyungsoo. "Aku akan sedikit sibuk beberapa minggu ke depan."

"Oh?" Jongin mengernyit. Sesi belajar mereka hanya tersisa beberapa hari lagi. Ia tidak tahu kegiatan apa yang akan menyibukkan Kyungsoo nantinya. "Ada sesuatu yang harus kau kerjakan?"

"Ya. Mr. Kang menyukai hasil bimbinganku—terutama kepadamu. Pria tua itu memintaku untuk membimbing murid lain. Jika aku tidak salah, dia adalah salah satu temanmu."

"Temanku?"

"Hm." Kyungsoo mengangguk antusisas. "Sehun. Kau kenal dia, kan?"

Jantung Jongin berhenti tepat ketika nama itu sampai ke pendengarannya. Sekelumit perasaan kalut mendadak hinggap di dadanya. Ia melepaskan dekapannya pada Kyungsoo lalu berdiri terlalu terburu-buru hingga kakinya tidak sengaja terantuk sisi meja.

"Siapa?" Tanya Jongin lagi hanya untuk memastikan.

"S-Sehun?" Kyungsoo berucap sedikit ragu. "Oh Sehun?" Lelaki itu memandangnya dengan tatapan cemas. "Hey, ada yang salah?"

"Tidak." Sahut Jongin cepat. "Tidak ada."

Ia menarik senyum masam sebab kekhawatirannya sungguh tidak beralasan. Separuh diri Jongin masih menganggap Kyungsoo tengah memanipulasinya. Keahlian Kyungsoo memang luar biasa, itu tidak dapat dipungkiri. Namun entah mengapa ia ingin menyerahkan kebenaran kepada waktu. Menanti mengenai apakah segala sesuatu yang terucap dari mulut Kyungsoo—termasuk perlakuan lelaki itu kepadanya hanya sebatas dusta atau sebuah kejujuran.

Karena seberapa banyakpun lelaki itu mengungkapkan sesuatu tentang dirinya—bagi Jongin, Kyungsoo tetap adalah sebuah misteri yang belum terpecahkan.

-[-][-][-]-

Siapapun yang melihat akan mengetahui bahwa Kim Jongin sedang tidak memiliki suasana hati yang baik. Lelaki itu menancapkan garpunya berkali-kali ke makan siangnya yang belum tersentuh. Matanya kosong, seolah benaknya sedang tidak berada di tempat.

Baekhyun dan Sehun mencoba mengabaikan Jongin. Mereka mengerti bahwa Jongin tidak ingin diganggu ketika ekspresinya tampak begitu keras seperti saat ini. Keduanya bahkan yakin percakapan mereka hanya lalu lalang di telinga Jongin tanpa didengar. Namun mulut keduanya segera terkunci ketika Jongin tiba-tiba mengalihkan pandangan ke Sehun. Sorot kosong mata lelaki itu berubah dingin dan asing.

"Do Kyungsoo," adalah kalimat pertama Jongin yang sontak membuat Sehun menelan senyum, "kau dan dia akan bertemu lagi hari ini?"

Sehun melirik Baekhyun sekilas, keduanya bersitatap dalam bahasa isyarat singkat. "Ya. Ada masalah?"

Jongin menggeleng pelan, kembali berkutat dengan garpunya. "Tidak."

Sehun berdeham sejenak sembari menyingkirkan makan siang di hadapannya. "Kau serius saat mengatakan kau tidak ada apa-apa dengan dia?"

"Perlu aku ulang?"

"Tidak. Tidak." Ucap Sehun menenangkan. "Hanya saja—uh, mungkin aku butuh permisi."

Jongin menoleh sangat cepat. Baekhyun bersumpah ia tidak pernah menyaksikan Jongin bereaksi dalam jangka sependek itu.

"Untuk?"

"Oh, entahlah." Sehun mengerutkan hidung, ia tahu ia sedang bermain dalam kawasan yang bisa membuat Jongin melayangkan tinju ke arahnya kapan saja. Tetapi ini terlalu menarik. Melihat Jongin mati-matian menahan amarah adalah pertunjukan langka yang bernilai tinggi untuknya. "He's pretty cute. Kurasa tidak ada salahnya jika aku—hm, bagaimana ya cara mengatakan ini dengan santun," Sehun meluruskan punggung, ekspresinya bisa dikatakan arogan luar biasa, "ingin mencicipinya?"

Baekhyun menangkap Jongin menggertakkan gigi. Genggaman lelaki itu tampak menguat sementara urat di pelipisnya mengindikasikan bahwa ia dapat meledak detik ini juga.

"Hey, kau baik?" Tanya Baekhyun khawatir, walaupun itu hanya kepura-puraan karena ia berada di pihak yang sama dengan Sehun kali ini. "Wajahmu seperti mendidih."

"Nama Do Kyungsoo membuat telingaku sakit." Tukas Jongin pendek—yang justru semakin membuat Sehun dan Baekhyun berbagi seringai licik dalam diam.

Seakan belum cukup, Sehun bahkan memiliki nyali untuk membalas, "Kau yang memulai pembicaraan mengenai dia, Kai."

Kalimat Sehun sukses menyulut emosi Jongin. Baekhyun menatap lelaki yang kini tengah berdiri dengan mimik gusar, bersiap melenggang pergi dari tempat mereka bercakap. Makanan di mejanya terbengkalai dengan bekas tusukan. Garpu yang tadinya menancap pada makanan itu kini teracung menantang ke arah Sehun sementara pemilikinya berdesis dengki, "You fucker."

Baekhyun menyandarkan kepalanya di pundak Sehun sambil melihat Jongin berlalu. Ia menatap punggung lelaki yang tampak berjalan terlampau tergesa kemudian menggumam, "Menurutmu kita keterlaluan?"

Sehun melirik Baekhyun datar, sedikit mengernyit heran karena pertanyaan tersebut keluar dari mulut orang yang sama yang berteriak meminta Chanyeol—si kapten tim basket yang sepertinya rela mati demi Baekhyun—untuk enyah ketika mereka bersilang jalan.

Keduanya bersitatap sejenak sebelum mendadak terbahak bersamaan dengan suara pffft mengejek yang keras.

-[-][-][-]-

Apa yang paling Kyungsoo benci dalam menjadi manusia adalah; kelemahan.

Ia memiliki senjata pribadi untuk melawan dunia, mencacahnya dalam bentuk kepribadian berupa yang sekiranya bisa memudahkan setiap persoalan yang ia hadapi. Ia menguasainya dengan baik—ibarat tingkat kemampuan, Kyungsoo yakin ia menempati puncak teratas dalam keahlian itu. Sialnya, hal ini tidak menghindarinya dari cela. Kelemahannya masih ada di sana. Mengendap di palung terdalam dan terkadang melompat ke permukaan tanpa ia sadari.

Rasa nyaman.

Kenyamanan adalah musuh utama.

Do Kyungsoo bukan manusia mandiri. Ia lemah, ia perajuk, ia mudah panik, ia sangat bergantung pada orang lain yang menurutnya memberikan bentuk perlindungan, ia tidak mudah mencurahkan perhatian kepada seseorang yang tidak berarti dalam hidupnya, ia masih merupakan manusia kompetitif yang rakus dan akan selalu begitu.

Ia menyadari bahwa Jongin mulai melihat sisi aslinya—alasan ini membuatnya diliputi rasa was-was tanpa henti.

Sebab lelaki itu menjauh. Ia merasakannya, jelas dan nyata. Percakapan tengah malam mereka yang dulu berganti dengan suara hening Jongin—pikiran lelaki itu tampaknya tidak bertempat pada masa sekarang. Sesi belajar mereka yang habis membuat Kyungsoo kesulitan untuk menemukan Jongin, terkadang ketika pandangan mereka tertambat, lelaki itu bahkan tidak mengacuhkannya.

Semua hal manis mendadak lenyap dan Kyungsoo menyalahkan dirinya.

Tenggelam dalam benaknya, Kyungsoo tersentak kaget ketika merasakan seseorang menyambar lengannya kemudian menyeretnya menjauh dari koridor utama sekolah. Ia menoleh hanya untuk dipertemukan dengan sosok Jongin yang terlihat kacau.

Lelaki itu melepaskan cengkramannya di lengan Kyungsoo saat mereka telah tiba di tempat yang lebih sepi. Kyungsoo terpaku, sementara Jongin meloloskan nafas panjang sambil berjalan mendekat ke arah Kyungsoo. Penglihatan Jongin seolah sedang meneliti, mencari sesuatu yang Kyungsoo tidak bisa terka dengan nalar.

Jemari Jongin tiba-tiba menyusup ke pinggang Kyungsoo, bibir lelaki itu menempel di cuping telinganya saat mengucapkan, "What should I do, Kyungsoo?"

Jongin meraih dagu Kyungsoo, mempertemukan bibir mereka dalam ciuman panjang. Entah berasal darimana, Kyungsoo mencecap keraguan pada ciuman Jongin.

"Apa yang harus aku lakukan, Kyungsoo?" Ulang lelaki itu dengan nada pahit. "Jika kau membuatku takut, apa yang harus aku lakukan?"

Tidak mengerti, Kyungsoo menjawab, "Apa maksudmu?"

"Kau," Kata Jongin lagi, "Kau membuatku takut."

-[-][-][-]-

Sehun bertingkah semacam keparat.

Lelaki itu meracau mengenai Kyungsoo seolah mereka telah berteman lama. Jongin hanya bisa bungkam dan mendengarkan, karena si keparat nomor dua Byun Baekhyun tampaknya enggan untuk menjatuhkan topik mengenai Do Kyungsoo.

Telinganya panas. Jongin mengumpat setiap kosakata buruk dalam kepalanya untuk menyumpahi Sehun serta rencana blak-blakan lelaki itu demi mendapatkan Kyungsoo. Apa yang lebih buruk adalah, dari rentetan kalimat Sehun, Jongin menyimpulkan bahwa Kyungsoo menanggapi setiap rayuan lelaki itu.

Entah Kyungsoo tengah bersikap santun atau ia memang menyukai perlakuan Sehun kepadanya, Jongin tidak bisa menebak karena ia tidak tahu. Ia sama sekali tidak tahu apapun tentang bagaimana Do Kyungsoo bersikap di luar hubung—

Oh, sial. Ia bahkan tidak menemukan kata yang tepat untuk menjabarkan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.

Si aktor keparat dan bakat akting sialannya itu. Maki Jongin kesal.

Iya, semua orang berubah menjadi keparat bagi Jongin.

Mungkin itu adalah efek samping jika kau merampas kebahagiaan seseorang tanpa aba-aba.

Selagi Jongin merasa ia semakin mengenal Kyungsoo, Sehun menyodorkan kenyataan berbeda kepadanya. Ibarat tarik tambang, perasaan Jongin ditarik ulur sedemikian rupa hingga ia berada pada titik jenuh yang memaksanya berharap agar tambang itu putus sekalian saja.

Tanpa sepengetahuan Jongin, sahabatnya menebarkan bumbu-bumbu konflik di antara ia dan Kyungsoo. Sehun seolah sedang berperang melawan cupid yang telah melesatkan panah ke jantung keduanya. Lelaki itu memaparkan kenyataan palsu mengenai Kyungsoo yang merespon terhadap rayuannya padahal pertemuan mereka hanya murni berfokus pada pelajaran.

Toh, Jongin terlalu buta untuk memahaminya.

Ia tidak meminta konfirmasi dari Kyungsoo, sementara Kyungsoo hanya menyalahkan diri sendiri akibat dari perilaku Jongin yang berubah.

Dan Jongin benar-benar buta.

Ia dibasuh perasaan tidak menentu ketika melihat Kyungsoo berjalan bersama Sehun. Sahabatnya bahkan dengan kasual melingkarkan lengannya di bahu Kyungsoo.

Tatapan terkejut Kyungsoo bertemu dengan tatapan tegas Jongin dan Jongin mengisyaratkan keterkejutan Kyungsoo sebagai bentuk rasa bersalah karena lelaki itu telah tertangkap basah. Marah, Jongin menyambar entah lengan siapa yang melintas di koridor.

Ia berbalik badan untuk pergi selagi menyematkan jemarinya ke pinggang kurus—yang ternyata milik Taemin. Kyungsoo membelalak menatap Jongin yang tersenyum genit ke arah Taemin. Nafasnya memburu, dadanya naik turun terisi cemburu.

Kekacauan yang sempurna, api yang berubah semakin nyala—Sehun tertawa bahagia.

-[-][-][-]-

Do Kyungsoo menunduk, menatap tajam meja yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kegelisahannya. Keningnya berkerut dalam, mengingat kejadian yang baru saja terlintas—dan terus menerus terlintas di dalam otaknya.

Walaupun suasana kelas begitu hening karena pelajaran tengah berlangsung, kegaduhan di kepala Kyungsoo menghambatnya untuk berpikir jernih. Apa yang barusan terjadi? Apakah ini suatu kalimat tidak langsung bahwa Jongin sudah tidak menginginkannya lagi? Apakah ia salah menafsirkan bentuk perhatian yang lelaki itu curahkan padanya selama ini?

Kyungsoo kehabisan cara untuk menenangkan diri.

Di luar kesadarannya, ia berdiri tegak. Memindahkan atensi seluruh kelas dengan suara bangkunya yang jatuh karena gerakan mendadaknya. Mengabaikan pasang mata yang menatap heran, Kyungsoo berderap keluar dari kelas, sepenuhnya tutup telinga pada teriakan guru wanita yang memanggil namanya.

Kyungsoo berlari menuju ke ruang kelas lain dengan langkah panjang. Ia menarik gagang pintu kelas itu kemudian menghentakkanya kasar hingga menghasilkan debum yang menggaung. Pasang mata kembali tertuju padanya—ekspresi mereka sama, hanya berbeda tempat.

Terengah, Kyungsoo masih sempat mengacungkan telunjuknya kepada Mr. Choi yang tengah mengajar sebagai isyarat agar pria itu tetap bungkam. Ia tidak mengalihkan pandangan ke siapapun selain subjek yang melecut tindakan kurang ajarnya kali ini.

Sedetik kemudian, Kyungsoo mendesis—dengan nada tipis menyengat yang sarat akan kebencian, "You."


DISTRACTION: TO BE COTINUED


.

Author's Note

Who said this story only gonna be 3-4 chaps. Slap that bitch for me, will ya?

Kelamaan ya, update-nya? Iya, maaf ;_; Masih sayang kan tapi sama aku?

SAYANG-SAYANGNYA AKU KALIAN TUH INSECURE BANGET SIH SAMA AKU.
Maksud aku mau nulis selain kaisoo kemarin tuh nulis cerita di luar EXO alias cerita aku sendiri.
DA AKU MANA BISA GA SAYANG SAMA KAISOO, APALAGI SAMPE TUKER KE PAIRING KAI/SOO YANG LAIN.

Btw, mau curhat. Aku akhir-akhir ini sedikit lebih sibuk. Tebak karena apa!

(eh, kalian ga bisa jawab ding ya)

Jadi, ceritanya aku dan para author gemay lain lagi nyiapin suatu project buat Kaisoo Day.
Dimana author dan reader bisa sama-sama bisa terlibat dalam project ini.
Aku belum bisa reveal sekarang project ini jelasnya gimana, tapiiiii menurut aku sih project ini seru banget! :3

SO PLEASE ANTICIPATE IT GUYS!

DAN POKONYA AKU PENGEN KALIAN SEMUA IKUT PARTISIPASI DI PROJECT INI.
AKU GAMAU UPDATE KALO GA DI OKE-IN. MUAHAHAHAHA.

XOXO

Sher.