"Hyung, saranghae"

Dia mendengarnya, dengan jelas, tapi dia tidak ingin salah dengar.

"Kau mengatakan sesuatu, Sehun-ah? Suara kembang apinya mengganggu" Luhan menoleh ke arah Sehun dengan tatapan bertanya, dan senyuman meyakinkan di bibirnya.

Mereka sedang berada di rooftop apartemen untuk melihat kembang api dari festival perayaan musim panas yang digelar beberapa kilometer di dekat apartemen.

Pria yang berkulit pucat itu mendekat ke arah Luhan, membisikkan sesuatu tepat di telinganya. "Saranghae"

Kali ini Luhan tidak bisa berpura-pura tidak mendengar lagi, karena dia mendengarnya dengan jelas.

"Hahahaha" Luhan sedikit menyingkirkan Sehun agar napasnya yang menerpa di wajahnya, yang membuat jantung Luhan bertalu-talu bagai orang yang selesai berlari jarak jauh, tidak terasa lagi. "Jangan bercanda, Sehun-ah"

Yang lebih tua menatap mata yang tajam itu. Dia tersenyum, "Ah, atau, nado saranghae?"

Yang lebih tinggi menggenggam satu pergelangan tangan pria yang lebih pendek. Tangannya yang lain menangkup wajah yang lebih pendek, dan sedikit menengadahkannya hingga mata mereka bertemu.

Tatapan mereka terkunci.

"Aku serius, Luhan. Aku mencintaimu. Jadilah kekasihku"

Sehun terlihat sungguh-sungguh.

Tetapi–

"Kau bukan gay, Sehun-ah"

–realita selalu meragukan kesungguhan.

"Aku tidak peduli apakah aku gay, biseks, atau straight. Yang jelas aku mencintaimu"

DUARRR.

Luhan mengalihkan pandangannya ke kembang api yang baru saja meledak di udara. Dia membenarkan poninya yang berantakan karena angin baru saja menerpa wajahnya.

Tidak menikmati keindahan kembang api itu juga. Dia hanya berpikir, cintanya memang tidak bertepuk sebelah tangan dan dia seharusnya bahagia Sehun mencintainya, tetapi … entah mengapa sulit mempercayai orang yang dua tahun lalu mabuk hingga menangis karena patah hati yang disebabkan oleh seorang gadis cantik, kini mengatakan menyukai sesama jenisnya.

"Kalau kau tidak percaya" suara Sehun mengalihkannya kembali ke pria yang masih duduk di bangku universitas itu. "Kenapa kau tidak mencobanya saja, hyung?"

Mencoba, ya. Kalau tidak berakhir baik bagaimana?

"Meskipun kita nanti tidak berhasil, setidaknya kita pernah mencobanya kan?"

Memang mungkin rugi dalam beberapa hal termasuk kemungkinan sakit hati. Setidaknya sudah memiliki pengalaman kan?

"Benar kan, hyung?"

Selama masih dalam batas wajar, rasanya tidak apa mencoba. Iya kan?

"Hyu–"

Selesai dengan pertimbangannya, Luhan menatap Sehun dengan senyuman manis. Dia berjinjit, mempertemukan bibirnya dengan bibir Sehun.

Sehun tidak butuh jawaban.

Ciuman mereka yang panjang itu sudah menjadi jawaban.

Yang Luhan tidak tahu saat itu, mempercayai seseorang berlebihan itu sudah melewati yang disebut batas wajar.

Manusia mudah berubah, terutama hatinya.

.

Trapped-in-Hunhan

Presents

.

First and Second

.

Warning : YAOI, Typo(s), SO FICTIVE

.

And I didn't mean to fall in love, but I did

And you didn't mean to love me back

Don't say you didn't love me back, cause you know you did

No, you didn't mean to love me back

But you did

(Plain White T's - A Lonely September)

.

Luhan bangun dengan sakit kepala yang menyiksanya. Setelah beberapa menit mencoba meredakan sakitnya –tepatnya membiasakan diri dengan rasa pening itu–, pria itu bangkit dari ranjangnya.

Dia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah ini, dia memutuskan, dia harus memakan sup untuk mengurangi hangovernya.

Makin dekat dengan dapur dia makin dengan jelas mendengar suara-suara dari sana. Luhan melongokkan kepalanya. "Yixing kau masih–?"

Ah. Bukan Yixing. "Jongin?! Kenapa kau di sini?"

Jongin menoleh ke arah Luhan.

"Karena–" Jongin mengalihkan perhatiannya dari panci sup yang masih diletakkan pada kompor yang menyala. Dia menatap Luhan sambil berkacak pinggang. "–ada pria yang salah meneleponku, dan terbang bersamaku menuju kemari, dan aku terlalu lelah untuk kembali ke rumah"

"Maafkan aku Jongin" Luhan terkekeh kecil saat menyadari bahwa pria yang dimaksud adalah dirinya.

Jongin tersenyum senang melihat Luhan yang masih terkikik. "Kumaafkan kalau kau sekarang duduk dan makan sup buatanku ini"

"Sup?" Luhan mengerjapkan matanya. Kemudian dia melihat panci sup yang berada di atas kompor. "Kau memang bisa memasak?"

Jongin mendekati Luhan. Posisi mereka sangat dekat. Napas Jongin menerpa kulit wajah Luhan. Mata mereka bertemu.

Satu tangan Jongin menangkup pipi Luhan. Mata mereka masih merajut ikatan yang makin menarik satu sama lain. Sedangkan satu tangan lain milik Jongin mulai bergerak dari bibir Luhan, ke dagu pria itu, naik ke atas pipinya yang merona, dan berakhir dengan sentilan di dahi pria yang lebih pendek.

Entah kenapa dalam suasana yang sekejap ini, waktu seakan berjalan begitu lama.

"Tentu saja bisa, manis" ucap Jongin tepat setelah dia menyentil dahi Luhan.

Luhan refleks mengaduh dan menutup dahinya dengan kedua tangannya sambil mengerucutkan bibir yang menyuarakan sumpah serapah untuk pria yang lebih tinggi.

Sedangkan Jongin hanya tertawa.

Meski dalam hatinya dia gugup luar biasa.

Dia tidak tahu, bahwa Luhan tetap mengumpat karena dia merasakan hal yang sama.


First and Second


Luhan bertemu Nana di sebuah supermarket ketika dia ingin belanja kebutuhan bulanan yang tidak terlalu banyak –mengingat dia adalah pria.

"Kau ... berbelanja sendiri?" tanya Luhan basa-basi, menutupi suasana canggung setelah bertukar sapa.

"Tidak. Aku bersama Sehunnie tapi Sehunnie sedang mengambil barang untuk keperluannya di apartemenku"

"Oh" Luhan manggut-manggut. Mengerti. "Kenapa dia tidak pindah saja bersamamu sekalian?"

Sehun sudah berselingkuh sejak lama sekali. Dan dia sudah pura-pura sibuk hingga tidak pulang ke apartemen bersama mereka sejak lama sekali. Singkat kata, permasalahan Luhan adalah, kenapa mahasiswa itu tidak pindah sekalian saja. Toh sekarang antara dia dan Luhan sudah tidak ada apa-apa.

"Eum ... dia bilang Luhan-oppa akan jadi keberatan dengan biaya apartemennya"

Ah. Jadi itu alasannya. Apakah dia mengasihaniku?

Luhan memberikan senyum simpul. "Tidak masalah. Aku bisa mencari apartemen lain yang lebih kecil dan murah, untuk satu orang"

Lagipula aku sudah muak tinggal di tempat itu.

"Eh, be–benarkah tidak apa oppa?" Luhan mengangguk, meyakinkan. Nana tersenyum lega. "Kalau begitu aku akan bilang pada Sehunnie"

Dan karena ini waktuku untuk berpindah juga.


First and Second


"Kalau kau kemari untuk minum, pergilah"

Luhan memberengutkan bibirnya. Minseok pura-pura tidak melihat. "Kau jahat sekali sih. Aku tidak ingin mabuk. Perasaanku sedang biasa saja hari ini"

Minseok menyipitkan matanya. Curiga. "Lalu kau mau apa kemari?"

"Aku ingin bertanya saja" Luhan mendudukkan dirinya pada kursi yang biasa ia duduki. "Kau tahu apartemen untuk satu orang yang dekat dengan daerah kerjaku?"

Minseok mencoba mengingat-ingat. "Adanya apartemen besar untuk keluarga"

Luhan mengerang. Itulah mengapa dulu dia memasang iklan untuk berbagi apartemen di internet dan bertemu Sehun yang butuh hunian yang dekat dengan universitasnya.

"Lalu aku harus tinggal di mana?"

"Kau mau pindah apa?" seseorang yang baru saja duduk di samping Luhan menyahut.

"Iya, Jongin. Sehun akan pindah ke apartemen Nana"

Laki-laki yang baru saja datang dan ikut menyahut, yang ternyata adalah Jongin, menggenggam celana jeansnya erat. Namun baik Luhan dan Minseok tidak menyadarinya. Luhan tetap sibuk berpikir. Minseok masih asyik mengelap gelas-gelas yang nanti akan digunakan untuk menyajikan minuman.

"Eum, ka–kalau kau mau kau bisa tinggal di rumahku" akhirnya Jongin berhasil mengatakan itu dengan nada cukup santai.

"Apa?!" bukan, bukan Luhan yang bertanya dengan nada terkejut. Tetapi Minseok. Minseok menatap Jongin tidak percaya, sedangkan Jongin hanya menggigit bibirnya sambil mengedip ke arah Minseok –memberi clue. Minseok menyeringai saat memahami kode yang dia dapat dari Jongin. "Ah, iya, apartemenmu kan apartemen keluarga ya. Aku lupa Kim ajumma dan ajussi sudah pindah"

Luhan yang sedari tadi hanya menatap Minseok karena terkejut dengan keterkejutan Minseok, kini menoleh ke arah Jongin. "Benar tidak apa?"

Jongin tersenyum meyakinkan. "Yap. Bahkan apartemenku jauh lebih dekat ke tempat kerjamu kan daripada apartemenmu sekarang?"

Luhan mengucapkan Terima kasih! sambil memeluk Jongin dengan erat. Jongin membalas pelukan Luhan dengan lembut. Senyuman lembut yang turut dibentuk bibirnya tidak lepas dari pandangan Minseok.

Minseok menghembuskan napasnya, ikut tersenyum.

Tidak kusangka Jongin menyukai Luhan.


First and Second


Luhan meletakkan barang-barangnya di kamar yang sudah menjadi miliknya –dulu ini kamar Jongin. Setelah selesai menata dan berganti baju rumahan –kaos dan bokser–, Luhan berjalan ke arah dapur.

Jongin sedang memasak di sana. Setiap Luhan main ke tempat Jongin, Luhan tidak pernah melihat Jongin memasak. Biasa mereka akan makan di luar atau delivery. Tetapi ini sudah kedua kalinya Luhan melihat Jongin memasak.

"Kau … suka memasak? Aku sama sekali tidak bisa memasak" Luhan duduk sambil berceletuk.

Jongin menoleh sekilas ke arah Luhan. "Tidak juga. Aku hanya sedang ingin memasak. Lagipula–"

Jongin meletakkan nasi goreng di atas kedua piring yang berada di counter sebelah kompor. "–aku tidak bisa memasak banyak. Nasi goreng dan ramyun saja mungkin"

Luhan merasakan perutnya tiba-tiba meronta karena bau nasi goreng buatan Jongin sangat-sangat menggoda reseptor-reseptor hidungnya. "Jangan lupakan supmu"

"Ya, sup hangover" Jongin tertawa sambil meletakkan satu piring di depan Luhan. "Yang awalnya dihina oleh seekor rusa"

Luhan mencebikkan bibirnya. "Aku tidak menghina. Aku hanya mempertanyakan. Tidak lucu aku yang masih pusing terkena efek mabuk harus memakan sup tidak jelas dan mungkin tidak membantu bukan?"

Jongin yang tertawa karena pembelaan Luhan duduk di samping Luhan, pria yang lebih tinggi itu mengusak surai coklat pria yang lebih pendek. "Ya, ya. Sekarang ayo makan"


First and Second


Luhan mengira dia tidak akan bertemu Sehun lagi setelah hari mereka menjelaskan status mereka. Hari di mana dia pergi membeli Americano.

Ternyata dia salah.

Teman yang dimaksud Jongin –yang menanyakan perihal pekerjaan paruh waktu di bar– ternyata adalah Oh Sehun. Mantan kekasihnya.

Kalaupun mereka bertemu Luhan ingin mereka bertemu setelah Luhan benar-benar melupakannya. Bukannya sekarang. Ini terlalu cepat.

"Jadi–" Luhan berdeham sebentar. Mencoba menenangkan dirinya. "–nanti kalian menari bersama, begitu?"

Jongin yang sedang mengganti pakaiannya –mereka berada di balik panggung– mengangguk. Sedangkan Sehun hanya diam saja. Duduk menunggu Jongin selesai.

Luhan hendak pergi, sebelum Jongin membuka suara.

"Dan kau tetap bernyanyi"

Luhan manggut-manggut. "Ya. Aku tetap–" Luhan melebarkan matanya. "Yak! Siapa yang bekerja di sini, huh?"

"Kau. Mulai dari penampilan pertamamu yang lalu" Jongin tersenyum lebar, menghampiri Luhan, meletakkan borgol di kedua tangan mereka.

"Ya Tuhan, darimana kau mendapatkan borgol ini?"

"Aku suka menangkap orang-orang yang mencuri hatiku"

Tertawa dengan berdebar, Luhan menendang kaki Jongin, membuat Jongin jatuh –dan mau tidak mau pria yang lebih pendek juga jatuh–, menindih Jongin.

Menyadari posisi mereka yang terlampau intim untuk dilihat orang lain –Sehun, dia sudah berdeham sedikit–, Luhan segera bangkit, begitu pula Jongin. Wajah mereka berdua merah.

"Kau harus membayarku mahal Jongin. Or else, you're so dead" ancam pria yang empat tahun lebih tua dari Jongin maupun Sehun itu dengan nada dibuat serius. Mencoba mencairkan suasana awkward karena dirinya dan Jongin yang sempat terserap dalam dunia lain yang bertumbukan dengan dunia mereka ini.

Jongin menunjukkan ibu jarinya, sambil tersenyum lebar dan menampilkan deretan giginya yang rapih. "Crystal clear"

Luhan dengan segera naik ke atas panggung, disusul oleh Jongin –yang sudah melepas borgolnya– dan Sehun. Dia mendekatkan standing mic ke arahnya. Setelah memberi sapaan sekilas, dan setelah musik mulai dimainkan, Luhan mulai mengeluarkan suaranya.

Tidak ada latihan, tidak ada persiapan. Tetapi Jongin dan Sehun bisa menarikan dengan baik lagu yang asal dinyanyikan Luhan. Lagipula orang-orang hanya membutuhkan musik dan lagu, yang tidak perlu bagus namun jangan sampai jelek, untuk didengar sembari minum dan meratapi masalah mereka.

Mata Jongin dan Luhan bertemu menjelang akhir lagu.

"Dan aku tidak pernah bermaksud untuk jatuh cinta, tapi aku melakukannya~"

Jongin tersenyum, memberikan wink dan smirk pada Luhan. Luhan tersenyum, menggelengkan kepalanya. "Dan kau tidak pernah bermaksud untuk balik mencintaiku~"

Laki-laki berkulit tan itu menari mendekati Luhan. Luhan memiringkan kepalanya, bertanya-tanya kenapa Jongin menari mendekat, sembari tetap bernyanyi. Jongin masih menari dengan indahnya ketika mereka berdua sudah berhadapan.

Memberikan sedikit gerak penutup, Jongin mengambil mic itu dari Luhan. Luhan hanya bisa terpaku dengan tatapan Jongin untuknya.

"Jangan katakan kau tidak balas mencintaiku, karena kau tahu kau melakukannya~", dancer itu melanjutkan nyanyiannya. Tidak sebagus Luhan memang, tapi dia melakukannya dengan cukup baik.

Luhan tersenyum. Dia mengambil mic itu kembali dan melanjutkan lirik terakhirnya, yang dia ubah pada kata you menjadi I, dan sebaliknya. Sembari menatap Jongin dengan tatapan hangat dan senyuman manis. "Tidak, aku tidak bermaksud untuk balik mencintaimu–"

Luhan bersumpah seluruh dunia saat itu seakan tidak ada. Seluruh dunia saat itu seakan hanyalah ruang hampa seperti angkasa gelap yang berisi dirinya dan Jongin. Di mana mereka saling menatap dengan senyuman. "–tapi aku melakukannya~"

Luhan tidak tahu adakah makna tertentu dibalik kelakuan Jongin, dia tidak berani mengira-ngira. Jongin tidak tahu adakah makna tertentu dibalik diubahnya lirik lagu itu, dia tidak berani berharap.

Yang Luhan tahu adalah, hari esok akan jelas berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

Dengan berubahnya sesuatu di antara mereka.


First and Second


Luhan mencintai Sehun. Kendati dia lupa sejak kapan secara pastinya, dia tetap ingat bagaimana dia hanya bisa menahan semua perasaan suka miliknya karena dia takut jika Sehun tahu Sehun tidak akan mau lagi berada di sampingnya.

Luhan yakin Sehun tidak bermaksud balik mencintai Luhan. Tidak bermaksud mewujudkan impian kecil Luhan yang selama ini dia pendam.

Tetapi Sehun melakukannya.

Meski sekarang Luhan meragukannya.

Apakah Sehun benar pernah mencintainya atau semua ini bagian dari penutup sakit hati laki-laki itu.

.

Jongin mencintai Luhan. Kendati Jongin tidak bisa mengatakan kapan secara akurat, sejak awal Jongin melihat Luhan dia sudah merasakan ketertarikan, itu yang dia yakini untuk seterusnya.

Jongin yakin dia tidak bermaksud mencintai Luhan. Tidak bermaksud terlibat dalam hidup Luhan yang selama ini belum pernah dia masuki.

Tetapi Jongin melakukannya.

Dan sekarang Jongin semakin meyakininya.

Bahwa dia akan membuat Luhan melupakan sakit hatinya dan benar mencintainya.

.

He didn't mean to love him back.

But he did.

He didn't mean to fall in love.

But he did.


To Be Continued


Awwwwww. Jongin manis ya ;w; btw ini ff Hunhan / Kailu, jadi kalau endingnya Kailu ya bisa aja XP tetapi dari reviews, yang dukung Kailu ada 3, yang dukung Hunhan ada 5, yang netral ada 6. YANG DUKUNG KAILU AYO KELUARKAN SUARA KALIAANNN~! #ditendangHunhanShipper

Dan beberapa menyarankan nanti Kai sama Kyungsoo saja. Padahal saya udah sengaja bikin temennya Luhan jadi Xiumin dan Lay biar nggak ada Kyungsoo atau Baekhyun kayak di Alohomora. Jadi ... kita lihat saja ya.

Untuk pertanyaan apakah Sehun itu straight apa bisex apa gimana, semoga secuil flashback tadi bisa menjawab pertanyaan kalian.

And ... thank you very much for reviewers, followers, and favoriters!

Tanpa kalian aku tidak akan ada semangat update n(_ _)n

Seravin509 | mr albino | Arifahohse | ruhanlu | xiaohan7 | deerwinds947 | auliaMRQ | Menglupi | juniaangel58 | lzu hn | Balqis | arumnafi | nisaramaidah28 | oohluhan | HunHanH3Spenpen

So,

Mind to review?