.

A CERTAIN ROMANCE

"Let's embrace the point of no return"

.


CHAPTER SIX
DISOLVE


Rasa malas Jongin runtuh dalam sekejap, pandangan yang tadinya melanglang kini terkunci pada sosok yang berdiri di ambang pintu kelas.

Kyungsoo terlihat berantakan, matanya menyala dengan amarah.

Desisan mengancam yang baru saja keluar dari mulut Kyungsoo tidak diragukan lagi tertuju untuknya. Hal itu semakin diperjelas ketika Kyungsoo berjalan menghampirinya tanpa menaruh peduli pada siapapun yang berada di dalam ruang kelas.

Jemari lelaki itu mencengkram lengannya, kemudian menyeretnya keluar dari ruangan diiringi bisik penuh tanya dari para murid serta mulut menganga Mr. Choi. Ia akan mendapat masalah setelah ini, Jongin yakin sekali. Namun, bukan perkara itu yang memusingkannya—ia sudah terlampau biasa menghadapi hukuman.

Melainkan Kyungsoo.

Catatan pelanggaran lelaki itu bersih tanpa noda. Ia tidak pernah tertangkap melanggar peraturan sekolah apapun bahkan sekecil denda untuk buku perpustakaan yang terlewat tanggal peminjamannya.

Jongin tidak sempat berspekulasi lebih mengenai apa yang akan terjadi dengan Kyungsoo nantinya, karena lelaki itu mendadak melepaskan tangannya dengan sentakan kuat sambil melayangkan pertanyaan yang seketika membuat kepalanya nyeri.

"Kau mempermainkanku?"

Konyol sekali.

Bukankah justru lelaki ini yang tengah mempermainkannya?

"Apa ini adalah salah satu cara agar kau bisa menghancurkanku perlahan?" Lanjut Kyungsoo menuntut. "Kau sengaja merancang ini? Mengelabuhiku dengan menjejalkan kata-kata manis hanya untuk merusak reputasiku?"

"Oh, Tuhan. Apa yang sedang kau bicarakan!"

Jongin tidak mengerti apa kaitan antara pertanyaan Kyungsoo dengan tindakannya. Itu seperti dua hal yang kontras berbeda. Ia hanya ingin Kyungsoo tahu bahwa ia bisa melakukan hal yang sama—dengan mudah beralih ke orang lain tanpa menggubris apa yang telah mereka lalui, bukan menghancurkan atau entah permasalahan sialan apapun yang baru saja Kyungsoo katakan.

"Aku tidak tertarik dengan reputasimu!" Seru Jongin berang. "Aku tertarik untuk mengenalmu. Aku tertarik untuk mengetahui kau tanpa mulut perantara. Aku—" Jongin menekankan kata berikutnya dengan suara berat yang menggigit, "—tertarik denganmu."

Kyungsoo termangu, suara lelaki itu serak saat mengucapkan, "Kau sudah sangat mengenalku, bagian mana lagi yang ingin kau tahu?"

"Oh, kau pasti bercanda." Jongin tertawa mencebik. "Aku bahkan tidak dapat membedakan kapan kau bersikap sebagai dirimu dan kapan kau bersikap sesuai apa yang orang lain mau dari dirimu."

Kyungsoo menggeleng pelan—tidak setuju. "Aku hanya berhati-hati. Kau tidak tahu potensi pengaruh yang kau miliki untukku."

"Aku benci ketika kau mulai mengatakan suatu paradigma yang asing di telinga."

"Ini bukan paradigma. Ini fakta. Kau, tengah menggenggam kelemahanku."

"Hentikan!" Jongin mencengkram dagu Kyungsoo keras. Ia mulai lelah dengan segala selubung misteri yang memainkan jarak di antara mereka. "Kau membuat ini semakin rumit. Berhentilah berkata omong kosong dan beritahu aku sesuatu yang benar-benar pasti!"

Hawa mencekam yang terbentuk di sekitar mereka tidak membuat Kyungsoo mundur. Lelaki itu justru mendongak menatap Jongin, sirat matanya kelabu—abu-abu seperti kumpulan awan mendung. Tetapi bibir lelaki itu menarik senyum, lengkungan getir yang entah mengapa mencabik sebagian jiwa Jongin.

"Ah, jadi itu alasannya." Kyungsoo tertawa sumbang. "Kau tidak mempercayaiku."

"Kyung—"

"Kau, tidak mempercayai adanya kita."

Cengkraman Jongin melemah, ia menurunkan tangannya hingga lunglai ke sisi tubuh. "Aku— Aku takut."

"Jangan membuat alasan."

"Kau pikir aku beralasan?" Kilah Jongin gusar. "Aku tidak perlu beralasan, Kyungsoo. Jika aku ingin menyakitimu, aku akan pergi detik ini juga dan tidak menghiraukanmu lagi."

"Dan sebelumnya kau menuduhku—mengatakan bahwa aku yang membuat ini semakin rumit?" Kyungsoo berteriak lantang. Keduanya saling menatap sengit. Berusaha mengurai benang kusut tanpa tahu siapa yang berhak disalahkan.

"Karena," Jongin mengangkat kedua tangannya frustasi. Ia mendesah panjang, hampir tidak mampu mengatakan bagian mana yang harus ia ungkapkan pada situasi ini. Terlalu banyak alasan yang berjejalan di otaknya. Mungkin Kyungsoo benar, mungkin memang ia yang membuat ini rumit. Atau mungkin Kyungsoo salah, karena mungkin keadaan ternyata yang memaksa ini menjadi rumit. Jadi, Jongin menguapkan satu permasalahan yang paling mengganggu pikirannya, "Karena kau mengatakan aku adalah ambisimu. Tetapi aku tidak tahu apakah ambisimu terhadapku merupakan sesuatu yang harus aku hargai atau kau hanya tertarik untuk menjadikan aku salah satu eksperimen kecilmu."

"Eksperimen?" Kyungsoo memincing, intonasinya meninggi bersamaan dengan jarak lelaki itu yang mendekat seolah berusaha menantang Jongin untuk mengatakan kalimat itu lagi. "Ekspe— oh, lupakan. You know what? Let's just agree with that."

Tidak puas dengan jawaban Kyungsoo, Jongin menarik umpan yang salah. "Karena kau tidak memilki alasan untuk membantah?"

Sebuah pukulan mendarat telak di pipi kiri Jongin, diiringi dengan teriakan mengumpat, "Fuck you!"

Kyungsoo berbalik badan meninggalkan Jongin dengan langkah menggebu. Sementara itu, otak Jongin mendadak menurunkan kapasitas berpikirnya pada titik terendah.

Ia sakit hati.

Ia sakit hati, dan seseorang harus memaklumi tindakan bodoh yang akan ia lakukan selanjutnya.

"Or go fuck someone else."

Langkah Kyungsoo terhenti. Lelaki itu menoleh dengan mulut menganga serta perih yang berceceran di wajah. Kemudian, Kyungsoo menarik nafas panjang. Seluruh ekspresi lelaki itu sebelumnya surut, berganti dengan senyum yang luar biasa tulus—tidak akan ada yang bisa menemukan cacat pada aktingnya kala itu.

"Oh, don't worry." Balas Kyungsoo tenang. I will."

Jongin jatuh terduduk. Memandang Kyungsoo yang semakin jauh sembari memegang kepalanya yang berdenyut. Ia merasa sedang menggali lubang di dalam dadanya tanpa tahu bagaimana cara menutupnya kembali.

-[-][-][-]-

Do Kyungsoo berada pada performa terbaiknya.

Lelaki itu menabur senyum kemanapun kakinya melangkah. Menyapa setiap orang dengan panggilan ramah dan candaan basa-basi. Ia kembali menjadi sosok yang dulu. Sosok yang sulit Jongin jangkau. Sosok yang membuat Jongin berpikir bahwa kepalsuan adalah satu-satunya bayangan yang mengikuti Kyungsoo.

Sementara itu, Sehun masih menyusupkan racun ke dalam pikiran Jongin. Mengatakan bahwa ia hanya berjarak setahap lagi sebelum dapat membawa Kyungsoo ke atas ranjang. Di samping Jongin yang masih dapat mengendalikan wajah terganggunya, Sehun sadar ia tengah mendorong Jongin ke tepi.

Hal itu membuatnya sedikit iba hingga ia hampir memutuskan untuk mengakhiri rencananya.

Tetapi, Baekhyun dengan cepat menginterupsi. Mengatakan bahwa, "Sebentar lagi. Biarkan Kai menyerang pandangannya sendiri terhadap komitmen. Aku yakin sebentar lagi."

Sehun menurutinya. Walaupun itu menyebabkan ia dan Jongin harus berjalan bersama tanpa percakapan. Jongin menjadi pendiam. Tingkah brengsek dan menyebalkan lelaki itu seakan lumpuh bersama pemiliknya yang dirundung bimbang.

Keduanya tengah mengambil barang di dalam loker ketika dengan sangat kebetulan Kyungsoo melintas. Lelaki bersurai hitam itu segera berhenti. Bibirnya mengembang dalam senyum hangat untuk menyapa Sehun dan Jongin.

"Selamat siang, Sehun-ssi, Kai-ssi."

Sehun membalas sapaan Kyungsoo namun tidak dengan Jongin. Ia dapat meraba aura mencekam yang berasal dari Jongin saat Kyungsoo berbicara dengannya. Kyungsoo hanya menjelaskan mengenai pertemuan belajar mereka berikutnya, tetapi sikap dingin yang Jongin tunjukkan mengindikasikan seperti seseorang yang sedang menyaksikan teror terjadi di hadapannya.

Baekhyun benar. Bom waktu itu akan meledak sebentar lagi.

"Ah, baik." Kyungsoo mengangguk-angguk kecil sebagai tanggapan dari jawaban Sehun untuk bertemu di ruang perpustakaan besok. "Kalau begitu, aku permisi."

Kyungsoo tersenyum kecil seraya memberikan tanda perpisahan santun. Lelaki itu hendak berbalik ketika tanpa sengaja seseorang menabrak bahunya dengan keras. Kyungsoo sedikit limbung, kertas yang berada di dekapannya jatuh berhamburan ke lantai.

Jongin melemparkan tatapan menusuk ke seseorang yang menabrak Kyungsoo hingga lelaki itu ketakutan dan segera berjongkok untuk membantu Kyungsoo. Sedangkan insting alami Sehun membuat ia memalingkan mata ke bagian bawah tubuh Kyungsoo ketika lelaki itu membungkuk membelakanginya.

Perbuatan Sehun membuat tatapan mengancam Jongin berpindah ke arahnya.

Lelaki itu tiba-tiba menarik lengan Kyungsoo, hingga Kyungsoo tersentak ke belakang. Mereka berdua berpandangan sekilas dengan mata berselaput rindu yang samar sebelum Jongin memecahkan situasi menggunakan kalimat yang lebih mirip perintah daripada sebuah tawaran.

"Biar aku yang membereskannya."

Kyungsoo berjalan mundur dengan tubuh setengah membeku, mengamati Jongin yang kini memungut satu per satu kertas miliknya. Ia tidak tahu bahwa jatuh cinta bisa menanamkan perasaan semacam ini.

Perasaan senjang yang renggang meskipun jarak hanya sebatas pandang.

Menghampiri Kyungsoo, Jongin menyerahkan seluruh kertas yang sudah terkumpul. Lelaki itu berdiri di depannya dengan mata melekat ke wajah. Bibir Kyungsoo terkatup disamping pertanyaan demi pertanyaan yang semakin merampas kinerja otaknya seperti seorang penyamun.

Ia meraih kertasnya dari tangan Jongin. "Thanks."

Jongin mengangguk pelan, tetapi tidak melepaskan genggamannya di kertas Kyungsoo.

Keduanya saling menatap dalam hening. Melupakan Sehun yang berdiri dengan kepala tergeleng kecil karena tingkah konyol mereka. Menerjemahkan arti dari pandangan masing-masing, kemudian menelannya sebagai sesuatu yang mustahil. Sebab, mereka mendapati rindu melintas dengan cara paling hati-hati—seolah sedang menahan agar rindu itu tetap diam pada tempatnya.

Hanya raungan bel sekolah yang akhirnya mampu mengisi kesadaran mereka kembali.

-[-][-][-]-

Kyungsoo berusaha meniti ingatannya kembali sebelum ia berakhir pada posisi ini—di atas ranjang Jongin, dengan tubuh membelakangi lelaki itu dan dua jari yang bergerak di dalamnya.

Apa yang dapat ia rangkai hanyalah potongan-potongan kecil adegan.

Jongin yang menunggunya di depan pintu utama sekolah. Jongin yang menggenggam tangannya kemudian membawanya berjalan. Jongin yang tidak melepaskan genggaman ketika mereka menaiki bus. Jongin yang masih tidak melepaskan genggaman ketika mereka sampai di rumah lelaki itu. Jongin yang masih tidak juga melepaskan genggaman ketika lelaki itu menutup pintu ruang tidur.

Dan Jongin yang akhirnya melepaskan genggaman hanya untuk mengalihkan tangan ke tengkuknya kemudian mencium bibirnya dengan tubuh terhimpit rapat.

Setelah itu apa yang Kyungsoo ingat hanyalah memori kabur. Satu per satu pakaian berserakan di lantai juga lidah basah Jongin di setiap jengkal tubuhnya.

Lelaki itu seolah tengah memujanya.

Bahkan pada posisi yang begitu intim seperti sekarang, bibir Jongin tidak sedetikpun lepas dari tubuhnya. Menciumi sepanjang tulang punggung, mendesahkan nafas berat di telinga hingga ia harus menunduk untuk melawan hasrat memiliki kejantanan lelaki di belakangnya untuk mendesak masuk ke dalam.

Namun, Jongin sepertinya begitu memanfaatkan waktu.

Jemari lelaki itu bermain di dalam Kyungsoo, menimbulkan decak suara kotor yang dapat mengirimkan rona ke wajah siapapun yang mendengarnya. Bibir Jongin beranjak semakin turun sebelum akhirnya menyatu untuk menambah rangsangan di bagian bawah tubuh Kyungsoo.

Kejantanan Jongin terjepit di antara kedua pahanya. Kyungsoo menggigit apa saja setiap kali milik Jongin tidak sengaja menggesek miliknya. Ia begitu ingin membuang pertikaian di antara mereka untuk sementara dan memohon agar Jongin segera mengisinya.

"Apa yang sedang kita lakukan, Kyungsoo?"

Kyungsoo memproses pertanyaan Jongin ke otaknya dalam mode lambat. Lelaki itu seharusnya lebih tahu apa yang sedang mereka lakukan—lengkap dengan motif dibalik apa yang membuat mereka melakukannya. Akan tetapi pikiran itu terhapus ketika Kyungsoo menyadari bahwa pertanyaan Jongin bukan di alamatkan untuk itu.

Karena bagi seseorang yang memiliki kewaspadaan tinggi terhadap pertahanan dirinya sendiri dan seseorang yang baru merasakan jatuh cinta untuk pertama kali, mereka sama-sama kesulitan untuk mengungkapkan rasa.

Untuk mengungkapkan kata bahwa ya, kau harus mempercayaiku sebab apa yang terjadi di antara kita adalah nyata dan ya, membangun komitmen dengan orang yang kau cintai bukanlah sesuatu yang salah dan tentu saja ya, kita harus berhenti memainkan permainan memusingkan ini kemudian berbicara selayaknya orang dewasa yang memiliki akal sehat.

Toh, mereka terlalu dimabuk hasrat dan nestapa—siapa yang mengira bahwa kedua formasi itu dapat menjalin ikatan gairah dalam wujud berbeda.

Jari Jongin yang bergerak di dalam Kyungsoo kini berganti dengan sesuatu yang lebih penuh. Kyungsoo mencengkram kepala ranjang Jongin sekuat tenaga. Peluhnya berjatuhan di atas bantal sementara Jongin mulai menciptakan ritme.

Hentakkan lelaki itu cepat dan beruntun seolah tidak mengizinkan Kyungsoo untuk mengambil udara ke paru-parunya. Nafasnya berubah lebih berantakan ketika Jongin tiba-tiba menarik tubuhnya dalam posisi duduk. Lengan lelaki itu menelusup ke lipatan dalam lututnya hingga tubuh maupun kaki Kyungsoo tidak berpijak pada apapun.

Jongin mengambil kuasa penuh atas permainan kali ini.

Mengontrol irama hujaman dengan gerak pinggul serta otot lengan yang menegang untuk menyangga Kyungsoo. Bibir Kyungsoo terlihat sangat menggoda di penglihatan Jongin namun Jongin tidak memiliki nyali untuk sekedar mengecup.

Ia mengalihkan rasa frustasinya dengan menghujam lebih dalam hingga Kyungsoo menjerit. Giginya menggigit leher Kyungsoo seiring hentakkannya yang meningkat. Di dekapannya, Jongin merasakan gerakan kecil Kyungsoo yang putus asa. Kaki lelaki itu mencoba menggapai permukaan ranjang untuk mengimbangi permainan.

Jongin segera menjatuhkan dalam posisi telentang. Ia Mengangkat kedua kaki lelaki itu ke udara dan mempercepat hujamannya. Jongin selalu puas melihat Kyungsoo yang seperti ini—pasrah, dengan desahan tidak tertahan serta wajah sayu yang memohon.

Bayangan Sehun yang mungkin dapat menyaksikan Kyungsoo berada dalam keadaan serupa membuat Jongin seketika gelap mata.

"Don't." Jongin mendadak menghentakkan pinggulnya bersamaan dengan kata itu, "Let. Him. Touch. You."

Disamping kelabut di kepala Kyungsoo yang dihasilkan oleh gerakan Jongin, Kyungsoo masih dapat membuka mulut. "Siapa yang, oh—"

Ucapan Kyungsoo terputus sebab Jongin tidak berhenti mengulang gerakan yang sama. Kyungsoo merasakan sesuatu berkumpul di bagian bawah tubuhnya. Tangannya meraih benda apa saja yang berada di dekatnya ketika sesuatu itu semakin memuncak.

Jongin sepertinya tengah berada pada fase yang sama. Lelaki itu tampak berusaha meredam klimaksnya yang sudah dekat.

"Shit." Lenguh Jongin seraya membungkuk untuk melekatkan tubuh mereka.

Gesekan antara tubuh Jongin dengan miliknya membuat Kyungsoo melepaskan puncaknya diiringi desahan nama Jongin yang rendah. Ia memeluk Jongin kuat, menikmati cairan yang kini membasahi tubuh mereka berdua.

"Shit, baby." Jongin kembali mengumpat. Di antara gerakannya yang liar ia tidak menyadari bahwa Kyungsoo mendadak geming setelah mendengarnya memanggil dengan sebutan itu. "I'm cumming."

Jongin menenggelamkan kepalanya di leher Kyungsoo sambil masih menghujam pelan. Tubuhnya bergetar pada tiap sentuhan miliknya melawan dinding Kyungsoo yang kini basah dengan cairannya.

Ketika Jongin melepaskan dekapannya, Ia melihat tatapan Kyungsoo mengarah lurus ke langit-langit. Sekilas, Kyungsoo tampak seperti mayat hidup. Berbaring dengan raut datar serta kelopak yang tidak berkedip.

Jongin tahu ia melakukan sebuah kesalahan. Tetapi ia tidak dapat menunjuk kesalahan apa yang telah ia perbuat. Dalam keadaan panik, Jongin buru-buru mengambil kesimpulan paling dekat yang mengantarkannya pada hari dimana ia dan Kyungsoo pertama kali berkencan. Pada hari dimana ia mengungkapkan tentang kata rayuan yang biasa ia gunakan.

Dugaan Jongin terbukti ketika Kyungsoo akhirnya menggumam dengan nada pahit. "You called me baby."

Kyungsoo bangkit perlahan dari posisinya, ia mendorong Jongin menjauh. Tubuhnya lelah luar biasa.

Begitu pula hatinya.

Kyungsoo sungguh menyesal. Membiarkan Kim Jongin masuk ke dalam kehidupan pribadinya adalah suatu tindakan paling bodoh. Ia seharusnya bertahan menjadi Do Kyungsoo yang dulu. Ia seharusnya mengerti bahwa membawa orang lain masuk hanya akan membuat satu-satunya bentuk pertahanan diri yang ia banggakan terkikis dengan percuma.

"Kau adalah ambisiku." Ujar Kyungsoo tanpa menolehke arah Jongin. Ia mengenakan pakaian seragamnya kemudian berjalan menuju pintu seraya memungut semua barangnya yang tergeletak di lantai. "Ambisi dalam mengetahui—apakah cinta bisa berjalan selaras dengan pola pikirku yang berantakan."

Dengan kemeja yang masih terbuka dan celana terkancing asal-asalan, Kyungsoo meraih gagang pintu Jongin. Ia menelan ludah beberapa kali sebelum mampu mengucapkan salam perpisahan kepada lelaki itu.

"Aku rasa cukup sampai di sini."

Kyungsoo menutup pintu ruang tidur Jongin rapat begitu pula ruang di hatinya untuk lelaki itu. Ia menunduk, menghela nafas panjang sambil memoleskan senyum malang untuk dirinya sendiri.

Bukankah itu menyedihkan? Bagaimana kau terperangkap dengan manipulasi orang lain sementara kau selalu berpikir bahwa kaulah yang paling hebat?

Sedikit yang Kyungsoo tahu, lelaki yang berada di dalam ruang tidur tengah memandang ke dinding yang sekilas terlihat kosong.

Dibutuhkan rasa sakit pukulan yang diterimanya tadi siang, kalimat perpisahan yang menyatakan sebuah akhir, punggung Do Kyungsoo yang bergetar, serta beberapa benturan keras kening melawan dinding untuk menyadarkan lelaki itu bahwa apa yang ia rasakan bukanlah sesuatu ketakutan.

Melainkan perasaan cemburu.

Memaki pada ruang kosong yang tidak memiliki telinga, ia berbisik lemah. "Oh, what the actual fuck, Kim Jongin."


DISOLVE: TO BE CONTINUED


.

Author's Note

GUYS?

HALO?

Masih pada baca ini tidak?

(Enggak, kak update-nya kelamaan keburu bosen)

Yah, maafin dong :(

Ya, ya, ya?

Ceritanya berantakan ya? Duh, maafkan daku.
Entar aku bayar lunas deh ya di KFF2K17 (kaya yang bisa nulis bener aja).

Ngomong-ngomong soal KFF2K17, SUDAH PADA NGUMPULIN PROMPT BELUM? :O

Aku udah dong, sekitar tiga atau empat? Sepertinya? Berharap banget ada yang ngambil walaupun sebiji. Muehehehehe.

Yuk, yuk pada ikutan!
Cek username KFF2K17 di FFn atau Follow IG dengan username KFF2K17.

Jadi kemarin yang pada teriak di kolom review, KAK, MAKASIH UDAH BERTAHAN SAMA KAISOO. KAK, KAISOO BERASA UDAH PUNAH. KAK, FF KAISOO DIKIT BANGET dan KAK KAK lain sebagainya ini kesempatan buat kalian ngeramein kaisoo lagi di FFn!

Kalau ada yang punya banyak ide cerita, kumpulin ide ceritanya. Kalau ada yang jago nulis, persiapkan diri kalian karena besok waktunya daftar untuk para penulis. Kalau yang ga punya ide dan merasa ga jago nulis, paling engga support acara ini dengan review! :3

Instruksi di buat cara-cara ikutannya sudah lengkap pokoknya kalian tinggal ngikutin.

Eniweii, masih pada mau konflik tambahan? Atau sudahi perih ini saja karena ceritanya semakin tidak jelas?

Saran, kritik, review akan teramat sangat diapresiasi!

XOXO

Sher.

ps. I LOVE CBX's and Lay's solo album! Please give some love for them! And don't forget to Vote EXO on Mama, streaming Monster, Lotto, Lucky One, Lose Control and Hey Mama to support them more :3