Trapped-in-Hunhan

Presents

.

First and Second

.

Warning : YAOI, Typo(s), SO FICTIVE

.

Even though we are mature when dating, breaking up makes us act like children

(WINNER - Pricked)

.

Sehun meletakkan jaketnya pada penyangga jaket yang disediakan pada ruang karyawan yang berada di belakang panggung bar tempat dia bekerja.

Setelahnya dia duduk, menunggu Jongin datang. Dia sudah mengirimkan pesan pada Jongin bahwa dirinya sudah sampai terlebih dahulu. Sehun memutuskan untuk menunggu sembari duduk di kursi bar. Melihat Minseok mengelap semua peralatan dengan bersih dan diselingi beberapa obrolan ringan di antara keduanya.

"Ini hari keduamu ya" Minseok melemparkan senyuman, dibalas senyuman tipis dari Sehun. "Omong-omong, kenapa kau ingin bekerja part time huh? Ingin belajar bekerja?"

"Itu juga iya" Sehun menganggukkan kepalanya. "Tapi alasan utama karena uangku habis untuk membelikan kekasihku ini dan itu"

Minseok tertawa mendengar jawaban Sehun. "Tapi setimpal bukan?"

"Hm"

Sehun mengingat kembali betapa manisnya wajah Nana setiap dia memberikan sesuatu kepadanya sebagai hadiah, meskipun itu kerap membuatnya kesulitan membayar apartemen yang dia bagi bersama Luhan. Sehingga dia memutuskan untuk mencari pekerjaan.

Memang sekarang dia tidak tinggal bersama Luhan lagi. Tapi tetap saja dia harus tahu diri dan membayar apartemen yang ia tinggali bersama Nana.

Drrt.

Sebuah pesan diterima.

From : Kai

Sebentar lagi, kawan. Susah membangunkan seekor rusa.

Sehun menyerngitkan dahinya heran. Apakah Jongin memelihara seekor rusa? Memangnya diperbolehkan di apartemennya?

Jawabannya bisa langsung ditebak ketika beberapa waktu yang cukup lama setelahnya, Sehun melihat Jongin yang masuk bersama dengan seseorang yang memberengut lucu, rambut coklat berantakan, dan masih mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam yang biasa dia gunakan untuk bekerja.

Luhan. Luhan adalah rusa itu. Tentu saja Sehun langsung paham. Sehun sendiri mengakui bahwa Luhan memang seperti namanya. Rusa. Matanya, ketika dia berlari saat melakukan olahraga kesukaannya –sepakbola–, segala tentang Luhan mengingatkan dirinya akan rusa.

Entah mengapa jantung Sehun berdetak lebih keras sendiri ketika dua orang itu mulai berpindah dari pintu masuk, mendekat ke arahnya dan Minseok. Sepertinya dia masih tidak siap menghadapi Luhan.

Lagipula, memangnya siapa yang akan siap menghadapi orang yang pernah kau sakiti?

Apa aku harus menyapa? Apa aku harus diam saja?

"Hai, Sehun" Jongin menyapanya dengan cepat. Membuatnya membalas dengan senyuman dan ucapan "Hai"

Jongin lewat. Begitu pula dengan Luhan di belakangnya. Luhan dan Sehun bertatapan. Dan Sehun semakin sulit bernapas.

Sebelum Sehun bisa mengatakan apa-apa, Luhan tersenyum dan mengucapkan salam padanya. "Hai, Sehun"

Sehun tidak pernah merasa berbicara itu sulit sebelumnya. Untungnya dia bisa mengontrol emosinya dan membalas salam Luhan. "Hai, hyung"

Luhan kemudian meninggalkannya, masih dengan senyuman di wajahnya.

Luhan sepertinya baik-baik saja.

Sehun sendiri yang tidak baik-baik saja

Dia tidak menyangka lidahnya akan terasa aneh menyebut Luhan dengan panggilan hyung yang sudah hampir empat tahun setengah lamanya tidak dia gunakan.


First and Second


"Jongin, bisakah kau membantuku mendorong ini?" tampak Luhan yang sedang berjinjit berusaha mendorong sebuah dus pada rak teratas lemari. "Ini berat dan aku tidak cukup tinggi"

Sebenarnya yang baru saja masuk ke dalam ruang penyimpanan adalah Sehun, bukan Jongin. Sehun baru saja dimintai tolong oleh Minseok untuk mengambil beberapa botol wine karena persediaan di laci meja bar nyaris habis.

Dia sudah beberapa minggu bekerja di sini. Dan sekarang tugasnya tidak hanya menari. Terkadang dia membantu Minseok, mengantarkan pesanan, menata meja, membersihkan lantai. Semuanya bersama dengan Jongin. Dan terkadang Luhan.

Memutuskan untuk menghentikan dengan cepat perdebatan di dalam benaknya, Sehun memutuskan untuk berdiri di belakang Luhan dan mendorong kardus itu hingga berada dengan posisi pas dengan laci.

Jantung Sehun memompa lebih kencang. Mungkin mengantisipasi apa yang sebentar lagi terjadi ketika Luhan sadar bahwa yang menolongnya bukan Jongin, melainkan dirinya.

"Terima ka–" Luhan menoleh dengan senyuman lebar. Namun senyumnya langsung hilang dan matanya melebar. "Sehun?"

Sehun yang melihat raut wajah terkejut Luhan hanya bisa berdeham sedikit, dan memundurkan tubuhnya yang tadinya nyaris menghimpit Luhan ke lemari. "Eum, kurasa kau butuh bantuan?"

Luhan mengerjapkan matanya, sebelum kembali membentuk senyuman pada wajahnya. "Terima kasih. Maaf, kukira tadi Jongin yang masuk"

Sehun menganggukkan kepala. Luhan kemudian keluar dari sana karena urusannya sudah selesai. Sedangkan Sehun kembali mengingat mengapa dia di sini, lalu mengambil beberapa botol wine. Bau wine tercium dari luar meski tutup botol masih tertutup.

Namun baunya tidak bisa menghilangkan bau shampoo Luhan yang sudah lama tidak Sehun cium wanginya.

Dia masih memakai shampoo berbau apel itu.


First and Second


"Minseok berikan aku wine, satu gelas sajaaaa" Luhan merengek pada Minseok yang masih pura-pura tidak mendengar. "Astaga Minseok aku sedang stress karena bosku yang gila itu memberiku banyak tugas!"

Sehun menatap Luhan yang memberikan Minseok aegyo dengan mata rusanya yang berkedip-kedip lebih sering dari kedipan normal manusia.

Minseok meletakkan gelas yang ia lap dan berkacak pinggang. "Karena itulah aku tidak membiarkanmu mabuk. Kau harus lembur untuk mengerjakan tugasmu!"

"Minseok!" Luhan tampaknya tidak percaya dengan yang dia dengar. Dia kembali merajuk terus menerus.

Jongin menghentikan pekerjaannya –menata meja dan kursi karena sebentar lagi bar akan buka. Dia tertawa kecil melihat Luhan dan Minseok di sana. "Jangan diberikan Minseok-hyung! Aku tidak mau terbang bersamanya lagi!"

Minseok mengangguk senang, menyetujui. Membuat Luhan menatap Jongin dengan kesal dan bibir yang memberengut tidak senang. Jongin tertawa puas kali ini.

Sehun ikut menghentikan pekerjaannya melihat tawa Jongin yang begitu lepas.

Terkadang Sehun bertanya-tanya darimana Luhan dan Jongin bisa saling mengenal. Sejak tahu mereka saling mengenal di kafe –ketika Sehun dan Nana tidak sengaja bertemu mereka–, waktu di mana Sehun tahu bahwa Luhan adalah teman yang selalu Jongin bicarakan pada dirinya dan Naeun, pertanyaan itu sudah ada di benaknya. Namun ia tidak merasa perlu menanyakannya.

Itu bukan urusannya, ini alasannya.

Selesai tertawa Jongin melanjutkan pekerjaannya. Kini Jongin mengelap meja itu, sedangkan Sehun yang bertugas di bagian kursi, memberikan beberapa kursi pada meja itu.

"Kuharap Minseok-hyung benar-benat tidak memberinya minuman beralkohol apapun" Jongin tiba-tiba berceletuk.

Sehun memasukkan kursinya ke dalam laci meja agar rapi. "Kenapa?"

"Kau tidak tahu betapa susahnya rusa itu diajak berpindah tempat jika sedang mabuk" Jongin melihat Luhan yang masih berusaha merayu Minseok. "Pertama kali aku membawanya berpindah karena permintaan Minseok-hyung, dia mengira aku menculiknya dan berkata akan melapor pada polisi"

Sehun tanpa sadar tersenyum membayangkannya. Tentu dia tahu bagaimana jika Luhan mabuk. Dia pernah tinggal bersama Luhan selama 5 tahun. Tentunya dia tahu.

Selesai membayangkan, Sehun yang menemukan sesuatu pada kalimat Jongin tadi, memutar kembali perkataan Jongin. "Jadi, Minseok-hyung yang mengenalkan kalian?"

Jongin terlihat berpikir. "Bisa dikatakan seperti itu. Tapi kami benar-benar berkenalan ketika aku menyapanya di taman dan menodongnya untuk membelikan sebuah es krim sebagai imbalan telah mengantarnya pulang berkali-kali"

Sehun menaikkan alisnya. "Berkali-kali?"

Entah mengapa Jongin terlihat lebih tegang, tetapi Sehun diam saja. Pura-pura tidak tahu dan mencoba tidak penasaran.

"Ya, sepertinya Luhan dulu sangat stress karena suatu hal. Hampir satu setengah bulan, setiap hari aku mengantarnya pulang dalam keadaan mabuk"

Satu setengah bulan? Kenapa? Apa ini karena–

"Tapi aku senang kini dia baik-baik saja" Sehun melihat Jongin yang tersenyum dengan penuh kebahagiaan pada Luhan yang dengan terpaksa meminum air esnya. "Dia lebih cocok tersenyum daripada bersedih"

Sehun menatap Jongin dan Luhan bergantian.

Sesuatu tentang Luhan yang dulu selalu bersedih tanpa dia tahu membuatnya merasa sangat bersalah.

Sehun tentu sudah tahu perihal Luhan yang sudah mengetahui lebih dahulu kalau dia selingkuh. Tetapi Sehun baru tahu jika selama ini Luhan bersedih karena memendam rahasia itu sendirian hingga melampiaskannya pada alkohol.

Sehun tersenyum kecut ketika menatap Luhan yang sedang komplain pada Jongin –yang baru saja tiba di sana– tentang akibat kelakuan dari laki-laki berkulit tan itu dan Minseok.

Maaf.


First and Second


Hujan mengguyur langit Seoul dengan deras.

Hari ini bar tutup. Sialnya, Sehun tidak mengetahuinya. Jadi sekarang dia terjebak di dalam bar –dia mempunyai kunci cadangan, setiap pegawai kepercayaan Minseok mempunyainya.

Dari dalam bahkan nyaris tidak terlihat apapun, mengingat ini sudah malam juga.

Laki-laki itu memasukkan handphonenya ke dalam tas seusai dia memberi tahu Jongin bahwa dia terlanjur datang ke bar dan terjebak di sini karena hujan.

Sehun mengangkat kepalanya –yang sudah sekitar tiga puluh menit dia letakkan di atas meja bar– ketika dia melihat sebuah siluet manusia mendekat ke arah bar.

Apakah dia tidak melihat nyala lampu bar mati yang dengan kata lain menandakan bahwa bar tutup? Atau dia mau berteduh di depan bar?

Sehun semakin menegakkan duduknya ketika dia melihat seseorang itu seperti sedang memasukkan kunci ke pintu untuk membukanya.

Pencuri?

Laki-laki itu bergegas berjalan mendekat ke arah pintu. Di saat yang bersamaan sosok itu sudah berhasil membuka pintunya.

"Sehun?"

Yang dipanggil hanya mematung memandang orang di depannya.

Yang memanggil menaikkan alisnya, heran kenapa Sehun hanya diam seperti itu. "Sehun, kau tidak apa-apa?"

"Kenapa kau di sini, Luhan-hyung?" hanya ini yang bisa keluar dari bibir Sehun.

"Jongin bilang kau mengiriminya pesan bahwa kau terjebak di sini" jawab orang itu, Luhan, sembari membuka tudung jas hujannya. "Setelah itu katanya kau tidak bisa dihubungi"

Sehun mengangguk paham. "Aku meninggalkan hpku di tas. Kurasa karena itu aku tidak tahu dia menghubungiku lagi"

"Maaf membuat Jongin memintamu kemari" tambah Sehun melihat Luhan yang basah kuyup meskipun sudah memakai jas hujan.

Luhan memandang Sehun dan menggigit bibir. "Eum, Jongin tidak memintaku ke sini"

Sehun diam. Jantungnya berdegup lebih cepat. Pikirannya menjalar ke mana-mana. Tidak mungkin kan Luhan ke sini karena khawatir kepadanya? Luhan ... Luhan tidak mungkin masih peduli kepadanya, kan? Setelah semua yang dia lakukan pada Luhan, pria di depannya ini tidak mungkin–

"Hahahaha" tawa Luhan membuyarkan konsentrasi Sehun. Sehun menatap mantan kekasihnya itu dengan heran. Kenapa dia tertawa? "Kau tidak perlu seserius itu Sehun. Aku tidak datang kemari karena masih memiliki perasaan kepadamu"

Sehun menyatukan kedua giginya dengan erat. Merasa sangat malu. Apakah ekspresiku sejelas itu?

"Karena Jongin terdengar sangat khawatir denganmu, dan karena posisiku lebih dekat dengan bar daripada posisi Jongin sekarang, aku akhirnya memutuskan untuk memeriksa keadaanmu" kesan geli masih terdengar dari cara Luhan berbicara, membuat Sehun semakin malu saja sudah sempat berpikir yang tidak-tidak.

Sehun hanya bisa mengangguk. Tidak mau mengeluarkan kata-kata lainnya karena dia tidak tahu apa yang harus dia katakan.

BLARRRR.

Suara petir menandakan bahwa hujan semakin deras. Siluet pepohonan di luar juga menunjukkan bahwa kali ini angin kencang menemani hujan dalam tugasnya. Luhan menghela napas. "Kurasa sekarang aku ikut terjebak"

Sehun dalam diam kembali duduk ke meja bar. Sedangkan Luhan duduk di lantai, beberapa meter dari Sehun. Pria itu memeluk lututnya. Jas hujannya yang basah dia letakkan di sebelahnya.

Laki-laki yang lebih muda merasa tidak enak duduk di atas sedangkan Luhan duduk di bawah. Dan dia akhirnya ikut duduk di bawah, lebih dekat dengan Luhan daripada ketika dia duduk di kursi bar.

Luhan menoleh ke arah suara kursi yang berbunyi karena ditinggalkan oleh Sehun. "Kau tidak perlu ikut duduk di bawah, kau tahu"

"Aku juga hanya ingin duduk di bawah" Sehun menjawab dengan tenang, setelah berhasil menenangkan jantungnya terlebih dahulu karena lagi-lagi Luhan bisa tahu ada apa.

Sepertinya Luhan tidak memercayainya karena pria itu justru terkikik. "Ya, di bawah lebih enak, bukan?"

Tawa ejekan Luhan membuat Sehun semakin mengunci rapat mulutnya. Kalau saja mereka masih berstatus sepasang kekasih, Sehun akan mendekati Luhan, menggelitikinya sampai dia memohon ampun karena sudah mengejek Sehun. Lalu Sehun akan puas dan melepasnya. Tetapi baru berlari beberapa langkah, Luhan pasti sudah akan mengejeknya lagi. Dan–

Sehun menggelengkan kepalanya.

Apa yang dia pikirkan?

Laki-laki itu menoleh ke arah Luhan yang sedang menelepon Jongin dan memberi tahu bahwa mereka berdua baik-baik saja.

Ya. Apa yang dia pikirkan?

Luhan tidak mungkin akan bersikap sama kepadanya. Dia tidak akan mungkin bersenang-senang dengan orang brengsek yang pernah menyakiti hatinya.

Laki-laki itu merasa semakin dimakan rasa bersalah.

Luhan sudah berhenti menelepon.

Tidak ada lagi suara Jongin. Yang terdengar oleh Luhan hanyalah suara hujan dan angin dalam suasana bar yang hening.

Sesungguhnya suasana hujan yang seharusnya menenangkan malah menyiksa karena dia bisa merasakan dengan jelas aura ketegangan yang menguar dari Sehun.

Tidak bisa terus seperti ini, bukan?

Luhan menghela napasnya. Dia menoleh ke arah Sehun.

"Sehun"

Sehun merasakan sengatan yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Dia tidak berpikir Luhan akan mengajaknya berbicara.

Luhan mengetahuinya. "Berhentilah bersikap seperti ini"

"Bersikap seper–"

"Mari lakukan seperti sedia kala" Sehun memandang kedua mata Luhan. "Seperti saat kita pertama kali bertemu"

"Memang–"

"Ayolah Sehun, aku merasakannya" Sehun melihat Luhan yang mencebikkan bibirnya, mencibir kesal. "Kau tidak perlu..."

Sehun melihat Luhan yang meneguk ludah sebelum kembali melanjutkan perkataannya. "...merasa bersalah"

Sehun menghela napas yang rasanya seperti sudah dia tahan sejak lama. "Maaf"

"Aku tidak apa-apa" Luhan tersenyum. Sehun hendak menyela sebelum Luhan memberengutkan bibirnya. "Oke aku memang tidak baik-baik saja. Kau brengsek sekali, kau tahu kan?"

Sehun masih mematung. Tidak tahu harus mengatakan apa kendati dia setuju bahwa dia brengsek.

"Tapi aku akan baik-baik saja" Luhan tersenyum, kali ini Sehun tahu itu senyuman yang tulus. Sehun hapal senyuman itu. "Jadi, kita mulai dari awal?"

Sehun melirik tangan Luhan yang mengulur padanya dengan ragu.

Tetapi tidak lama tangan pucat itu menyambut tangan Luhan.

Luhan tersenyum lebar, penuh dengan kepuasan.

Sehun tersenyum kecil, penuh dengan kelegaan.


First and Second


Ketika dua orang dewasa menjalin cinta, mereka tidak akan bisa menghindari untuk kembali menjadi anak-anak ketika mereka berpisah dengan cara yang tidak diinginkan.

Luhan mengiyakannya.

Banyak orang mengartikan menjadi anak-anak dengan menangis, memusuhi, membenci, seperti yang dilakukan anak-anak ketika mereka dipaksa tidur siang atau direbut mainannya.

Namun bagi Luhan, menjadi anak-anak bukanlah melulu hal yang seperti itu.

Menjadi anak-anak juga berarti mudah memaafkan.

Karena ketika seorang anak bertengkar dengan anak lain atau bahkan orang dewasa, beberapa jam kemudian mereka bisa bermain bersama lagi hanya karena sebuah permainan yang menyenangkan.

.

Luhan dan Sehun adalah dua orang dewasa ketika mereka menjalin cinta.

Luhan dan Sehun berpisah karena alasan yang tidak menyenangkan.

Berpisah memang membuat mereka bertingkah laku layaknya anak-anak.

Yaitu mudah memaafkan, dan kembali berteman seperti sedia kala.


To Be Continued


NYARIS 2 BULAN. ASTAGA BUNUH AKU.

Junhyeok keluar dari Day6 ... saya teringat lagu mereka Congratulations yang pernah saya pakai ... dan sedih ... dan akhirnya memutuskan melanjutkan ff ini sekarang. Semoga dia keluar dengan bahagia.

Dan oh, ada yang sadar saya sudah mengganti foto buat ff ini? Hohohoho. Sudah sebulan lalu malah sebenarnya. Tetapi mood menulis benar-benar tidak ada. Apalagi ketika skripsi belum jelas. Tapi syukurlah sekarang mulai ada titik terang. Meski mungkin nanti kembali gelap QwQ

Dan masalah anak-anak itu saya tahu karena melihat bagaimana anak-anak di tempat penitipan anak bibi saya bertengkar sampai menangis meraung tapi beberapa jam kemudian mereka bisa bermain lagi seolah tangisan tadi tidak ada. Hohoho

Ah, ya, kemungkinan ff ini akan tamat di 7 chapter lagi. Mohon reviewnya supaya 7 chapter itu bisa dibaca kalian dengan cepat.

And ... thank you very much for reviewers, followers, and favoriters!

Tanpa kalian aku tidak akan ada semangat update n(_ _)n

Seravin509| Lisasa Luhan | deerwinds947 | nisarama | xluhan550 | Triana Devi F | lzu hn | oohluhan | Menglupi | CBHHS | juniaangel58 | Arifahohse | Ludeer tidak masuk yang chapter kemarin, tapi terima kasih X3 | mr albino | beruanggajah | HunHanH3Spenpen | sheyy bunny | Balqis | sparkling white | hellukiky

So,

Mind to review?