.
A CERTAIN ROMANCE
"Let's embrace the point of no return"
.
CHAPTER SEVEN
DISCOVERS
Jongin memiliki tekad untuk membenahi semua kesalahan serta kekacauan yang ia buat.
Semalam suntuk, matanya terbuka lebar. Rasa kantuk tidak menghampirinya barang sedetikpun. Bahkan pada jam-jam bosannya melompat dari satu subjek pelajaran ke subjek yang lain, Jongin tidak menemukan dirinya tertidur di atas meja seperti biasa.
Ia merasa sangat bersalah. Ia merasa sangat bodoh karena telah menyakiti Kyungsoo dengan terang-terangan tanpa mempedulikan perasaan lelaki itu. Ia merasa rendah—karena ia tidak dapat menangkap perasaanya sendiri kepada Kyungsoo lebih awal.
Tepat ketika bel pulang sekolah berbunyi, Jongin segera berlari ke luar ruangan. Satu-satunya informasi yang ia miliki adalah Kyungsoo akan bertemu dengan Sehun hari ini di perpustakaan. Ia segera memacu langkahnya ke ruangan itu. Menerobos dengan asal lautan manusia yang berhamburan dari dalam kelas. Jongin mendengar beberapa teriakan protes karena ulahnya, namun ia tidak peduli.
Petugas perpustakaan tampak begitu terkejut ketika melihat Jongin masuk. Bukan hanya karena lelaki itu tahu bahwa Jongin tidak pernah datang ke perpustakaan, melainkan juga karena Jongin tampak seperti seseorang yang baru saja pulang dari lomba marathon.
"Dimana Kyungsoo?" Tanya Jongin tanpa kata sapaan awal kepada petugas perpustakaan—yang ia yakin bernama Yixing.
Lelaki itu berkedip pelan, seolah tengah mencerna kalimat Jongin. "Do Kyungsoo?"
"Ya, Do Kyungsoo."
Yixing bersedekap. Ia mengerutkan alis seolah tengah berpikir keras. Jongin hampir menarik kerah kemeja lelaki itu dan menghajarnya di tempat karena responnya yang terlalu lambat.
"Oh!" Sahut Yixing setelah beberapa detik yang menyiksa Jongin. "Dia pergi bersama Oh Sehun."
Jantung Jongin melewatkan satu detakan—dan bukan karena sesuatu yang baik. Setiap sel dalam tubuhnya mendadak dikuasai cemburu yang berlebih. Ia bersumpah akan membunuh Oh Sehun jika lelaki itu berani melayangkan satu sentuhanpun pada Kyungsoo.
Melupakan protokol sosial yang berlaku, Jongin memutar langkahnya ke luar perpustakaan. Seutuhnya tidak mendengar Yixing menggerutu mengucapkan, "No thankyou? Such a tool."
Jongin masuk ke rumah Sehun tanpa permisi. Ia segera berlari menuju ke lantai dua tempat dimana ruang tidur Sehun berada. Jongin diliputi kebimbangan yang luar biasa. Ia takut kenyataan akan menghancurkannya setelah ini, tetapi di sisi lain ia siap menerima apapun resiko yang akan diterimanya nanti.
Dengan hentakan keras, Jongin membuka pintu ruang tidur Sehun. Nafasnya memburu ketika ia berteriak dengan intonasi menantang, "Oh Sehun!"
Kebimbangan Jongin luruh seketika saat ia melihat tidak ada Kyungsoo di ruangan itu. Apa yang ada di hadapannya justru Baekhyun yang tengah berbalik di atas kursi putar dengan pipa tembakau kosong terjepit di mulut dan kacamata hitam bertengger di pangkal hidung. Sementara Sehun berdiri di sebelah lelaki itu dengan penampilan serupa.
"'Sup, bro?" Ujar Baekhyun sambil mengedikkan dagu dengan begitu arogan.
"Baekhyun, aku sedang tidak ingin bermain-main." Tandas Jongin tegas. Ia segera menghampiri Sehun yang menjadi inti tujuannya berada di ruangan ini. "Kau bawa kemana dia?"
Sehun berdecak kecewa. Jongin dapat merasakan bahwa lelaki itu tengah memutar bola mata di balik kacamata. "Really, Kai? Kami sudah menyewa berbagai atribut dan kau tidak memberikan komentar sedikitpun?"
"Sehun, I swear to God—"
"Sit down, young man." Potong Baekhyun sebelum Jongin sempat menyelesaikan kalimatnya.
Lelaki itu berdiri kemudian memaksa Jongin untuk duduk di atas kursi. Jongin menghela nafas panjang, ia melemparkan tatapan menusuk yang dapat dikatakan sia-sia karena Sehun dan Baekhyun sepertinya tengah larut dalam entah peran konyol apa yang mereka mainkan.
"Jadi," Baekhyun mencondongkan wajahnya ke Jongin. Kedua tangan lelaki itu bertumpu pada pegangan kursi. "kau sedang mencari seseorang. Apa itu benar?"
"Baekhyun," Jongin menelan kemarahan dan ketidaksabarannya sebisa mungkin. "Aku benar-benar sedang tidak ingin bercanda."
Sehun mendengus mencemooh. Lelaki itu membuka kacamata hitamnya dengan gaya dramatis. "Ini adalah prosedur, Kai. Jawab pertanyaan kami dan kami akan memberitahu dimana kami menyembunyikan kekasihmu."
"Dia bukan kekasihku." Sangkal Jongin cepat.
Baekhyun dan Sehun saling bersitatap hanya untuk bertukar pandangan bosan. Pada saat itu, Jongin tahu bahwa satu-satunya cara untuk segera mengakhiri ini adalah dengan menuruti alur yang kedua sahabatnya rencanakan.
"Apa yang kalian mau?"
"Sederhana." Sehun melipat tangan ke dada sebelum mulai mengitari kursi tempat Jongin duduk. "Kami hanya ingin kau mengaku dan meminta maaf karena kau telah berbohong."
"Tentang apa?"
Baekhyun menghisap pipa tembakaunya, kemudian berpura-pura mengeluarkan asap semu dari dalam mulut. "Tentang Do Kyungsoo, tentu saja."
"Sebagai pembuka aku akan mengungkapkan satu hal," Sambung Sehun. "Tidak ada yang terjadi antara aku dan Kyungsoo. Semua yang kau dengar kemarin hanya rekayasa."
Jongin beranjak dari posisi duduknya dengan gerakan cepat, kepalan tangannya siap untuk melayang ke arah Sehun. Namun, Sehun lebih cepat menahan bahunya hingga ia terpaksa tetap duduk di tempat.
"Tidak perlu ada kekerasan, Kim Kai." Baekhyun mengetuk-ngetukkan ujung pipa cerutunya ke kening Jongin. "Jika kau ingin ini cepat selesai jawab pertanyaan ini dengan jujur."
Sehun memutar kursi yang diduduki Jongin hingga kini keduanya berhadapan. Jongin memijat pangkal hidungnya kuat, sama sekali tidak mengerti apa yang mendorong sahabatnya bertingkah dramatis seperti sekarang.
Mungkin Oh Sehun butuh kekasih.
"Kau mencintainya, 'kan?"
Pertanyaan Sehun datang begitu tiba-tiba hingga Jongin tidak mampu melakukan apapun selain terkesiap di kursinya. Atmosfer di sekitar mereka bergeser ke sesuatu yang lebih serius dan menyudutkan. Jongin membetulkan posisi duduknya. Merasa tidak nyaman dengan dua pasang mata yang menuntut jawabannya.
"Mungkin." Ucap Jongin lemah. Namun kemudian dengan terburu-buru ia mengganti jawaban itu dengan, "Atau iya. Aku rasa iya."
"Yes for what?"
"Tentang bagaimana perasaanku terhadap—"
"Kami tidak membutuhkan jawaban yang sudah disensor." Sela Sehun protes.
Jongin menatap Sehun tajam, mencoba mencari deteksi kelakar dari ucapan lelaki itu. Tetapi nihil. Sehun sedang serius, dan entah mengapa ketika Sehun menampakkan wajah seriusnya, Jongin tahu bahwa lelaki itu benar-benar menginginkan jawaban yang valid.
"Oh, baiklah." Desah Jongin menyerah. "Aku jatuh cinta kepada Do Kyungsoo."
Baekhyun membuang senggukan pura-pura. Di depan mata Jongin dua lelaki berpelukan erat. Baekhyun mengubur wajahnya di pundak Sehun sambil mengutarakan we did it berulang-ulang. Sedangkan Sehun menggangguk-angguk kecil dengan ekspresi terharu yang dibuat-buat selagi tangannya mengusap punggung Baekhyun. "Aku tahu, aku tahu."
Jongin hanya dapat tergelak kecil. Sedikit nuraninya terketuk menyaksikan drama murahan yang terjadi di hadapannya. Sebab mungkin sahabatnya merencanakan ini demi kebahagiannya. Atau entahlah, mungkin juga mereka memang ingin membuatnya menderita—sudahkan Jongin menyebutkan bahwa mereka keparat?
Namun sebanyak apa premise kedua lelaki itu, konklusi yang sampai kepada Jongin tetap sama.
Sehun dan Baekhyun membantu meluruskan jalan pikirannya; ia sekarang memahami bagaimana cara memadamkan api.
"Aku tidak bermaksud mengganggu," celetuk Jongin. "Tetapi aku benar-benar butuh tahu dimana Kyungsoo berada."
Kedua lelaki di hadapannya berpaling menatapnya. Mata mereka mendelik menyerang. Ekspresi Baekhyun berubah menyerupai seorang pimpinan keji yang siap membunuh anak buahnya yang berkhianat.
Kembali menghisap pipa tembakaunya, Baekhyun mengedikkan dagu. "Do it, Sehun."
Sehun dengan sigap mengikat tangan Jongin pada pegangan bangku. Meninggalkan Jongin yang terbengong karena kebingungan sementara tawa jahat bersahutan yang berasal dari dua sahabatnya menggaung di ruangan.
"Oh, Kai," Baekhyun menepuk-nepuk pundaknya seolah ia adalah anak malang yang polos. "Kita semua sudah tahu bahwa cerita ini akan berakhir bahagia."
"Tetapi tidak untukmu."
Bersama dengan itu, Jongin didorong menuju ke kamar mandi. Pintu ditutup, keran air dibuka. Kilat gunting yang ada di tangan Baekhyun membuatnya meringis. Tetapi suatu benda yang ada di tangan Sehun segera membuat keringat dinginnya mengalir.
Memiringkan kepala, Sehun menyeringai licik sambil berbisik, "Sudah siap?"
Jongin berteriak.
-[-][-][-]-
"Baekhyun?"
"Ya?"
"Aku bersumpah kau akan berakhir dengan Park Chanyeol."
"Kutukan macam apa itu?" Baekhyun tergelak di antara dengung suara pengering rambut. "Aku tidak akan mungkin berakhir dengan Chanyeol. Okay? Senyumnya mengerikan dan tubuhnya terlalu tinggi untuk seleraku."
"Kau tidak bisa mengelak sebuah kutukan." Gerutu Jongin kesal. Ia memperhatikan kedua sahabatnya lewat cermin. "Dan Sehun?"
"Apa?"
"Aku bersumpah pantat yang kau banggakan itu akan menyusut hingga tipis."
Sehun memajukan bibir bawahnya, bahunya mengedik asal-asalan. "Aku minta maaf Jongin, seberapa kuatpun kutukanmu, kau tidak akan bisa melawan berkah dari Tuhan."
Mendengar itu, Jongin bersiap untuk memuntahkan makian. Namun sebelum kata pertama keluar dari mulutnya, Baekhyun menyela dengan pekikan melengking, "And we're done!"
Lelaki itu mengacak rambut Jongin sejenak kemudian mundur beberapa langkah. Sehun dan Baekhyun memperhatikan penampilannya dengan teliti sebelum mengangguk-angguk puas.
"Aku menyukainya." Komentar Sehun. "Kau terlihat jauh lebih gay."
Jongin melayangkan tinju ke dada Sehun. Ia tidak berani melihat hasil terakhir dari hukuman yang kedua sahabatnya berikan kepadanya. Jadi, ia segera menuju ke poin utama permasalahan yang sudah terlampau bertele-tele.
"Sekarang, bisakah kalian beritahu dimana Kyungsoo?"
Baekhyun memandang Sehun. Tubuh lelaki itu bergerak maju mundur karena antusias. Sehun tersenyum kecil sebelum akhirnya mengalihkan tatapan ke Jongin. "Dia di ruang tidurmu."
"Ruang tidurku?"
Alis Jongin berkerut penasaran. Ia tidak mengerti rencana gila apalagi yang telah dirancang oleh dua manusia di hadapannya.
"Kami memintanya menunggumu di sana sepuluh menit lalu." Lanjut Baekhyun menjelaskan. Lelaki itu melirik Jongin dengan tatapan yang sulit ditafsirkan. "Dan kami memintanya untuk tidak menyalakan penerangan."
Oh.
"Kalian tahu—"
"Tentang mural di dinding kamarmu yang kau sembunyikan? Ya, kami tahu." Sambar Sehun.
Oh, Tuhan.
"Mengapa—"
"Kami tidak mengatakannya padamu? Kemudian melewatkan kesempatan untuk melihat wajahmu yang konyol seperti sekarang atau beberapa hari belakangan?" Baekhyun mendengus mencibir. "Aku rasa kau tahu jawabannya."
"You guys are assholes."
"Kai." Sehun menepuk pundaknya pelan, disusul Baekhyun yang melakukan hal yang sama. "We know."
Jongin menepis kedua tangan yang berada di pundaknya. Ia buru-buru meraih gagang pintu. Sedikit berharap jika ia berlari lebih cepat, mungkin Kyungsoo belum sempat melihat hasil karyanya. Jongin tidak ingin lelaki itu mengecapnya sebagai seseorang yang terlalu terobsesi.
Ia ingin meluruskan masalah bukan justru lebih memperkeruhnya.
Jongin bersiap untuk membanting pintu Sehun, namun tidak sebelum ia mencanangkan ancaman kepada dua lelaki yang terkikik di dalam ruangan. "Jika ini berjalan buruk, aku akan membunuh kalian."
-[-][-][-]-
Kyungsoo belum memecahkan teka-teki terkait hari ini.
Sehun membatalkan jadwal sesi belajar mereka, mengatakan bahwa ia ada sedikit urusan mendadak yang harus diselesaikan. Namun beberapa menit lalu, lelaki itu mengirimkan pesan singkat kepadanya, menuliskan bahwa ia ingin bertemu—yang mungkin tidak akan terdengar janggal, jika saja Sehun tidak memintanya menunggu di tempat tinggal seseorang.
Dan dengan tempat tinggal seseorang, yang Sehun maksud adalah tempat tinggal Jongin.
Dan dengan menunggu, yang Sehun maksud adalah di ruang tidur Jongin.
Jika itu tidak cukup janggal, perintah terakhir Sehun setidaknya seharusnya membuat Kyungsoo curiga bahwa ia mungkin akan menjadi korban pembunuhan berencana; ketika kau nanti masuk, jangan menyalakan penerangan apapun.
Kyungsoo menyingkirkan pikiran buruknya.
Ia dengan ragu memutar gagang pintu ruang tidur Jongin. Dan tepat pada saat itu Kyungsoo menambahkan satu kejanggalan lain. Mrs. Kim memberi kunci ruang tidur Jongin kepadanya tanpa pertanyaan apapun. Entah mengapa, wanita itu juga menatapnya lebih lama kali ini, bahkan memberinya pelukan kecil selagi tersenyum tanpa arti.
Kyungsoo benar-benar tidak memiliki petunjuk tentang apa yang sedang terjadi.
Ia perlahan membuka pintu ruang tidur Jongin. Kepalanya melongok sejenak untuk memastikan bahwa tidak ada jebakan menantinya.
Ruangan itu tidak sepenuhnya gelap. Terdapat cahaya biru berpendar redup yang dihasilkan dari sebuah benda di sudut. Mata Kyungsoo menangkap itu sebagai lampu ultraviolet. Menuruti apa yang telah disampaikan Sehun, Kyungsoo melangkah masuk perlahan. Penglihatannya terfokus pada lampu ultraviolet sebagai satu-satunya penerangan yang membimbingnya.
Akan tetapi, langkahnya terhenti begitu ia sampai di tengah ruangan.
Karena cahaya biru itu bukan hanya berasal dari lampu, melainkan juga dinding kamar Jongin.
Ya, dinding kamar lelaki itu bersinar.
Dengan cahaya yang bukan serta merta berbentuk bulatan asal yang dapat berfungsi sebagai lampu malam.
Itu adalah wajah Kyungsoo.
Terlukis dengan cat khusus yang menyala dalam gelap. Terbentang sepanjang tiga meter dengan ornamen bunga yang merambat. Setiap detail dari fitur wajahnya tergambar apik dan teliti. Kyungsoo dapat menemukan bentuk bibir aslinya di sana, garis alisnya yang tajam, hingga lekuk cuping telinganya.
Jongin seolah telah melekatkan tiap centi wajahnya di ingatan lelaki itu.
Bibir Kyungsoo terukir dalam senyum. Ia menyentuh dadanya yang berdebar. Kyungsoo membohongi diri jika ia mengatakan bahwa perasaanya terhadap Kim Jongin telah hilang. Mungkin sedikit berhamburan di sana sini, tetapi kepingan perasaan itu tidak pernah meninggalkan hatinya.
Suara gaduh yang datang dari luar segera membuat Kyungsoo menoleh.
Tatapannya bersambut dengan Jongin. Lelaki itu berurai peluh. Aroma matahari menguar dari tubuhnya dan Kyungsoo pikir ia sangat menyukainya. Mata teduh Jongin mungkin tidak sesuai dengan sentuhan matahari, tetapi kepribadian lelaki itu lebih mencerminkan musim panas. Sedikit terik dan menyengat, tetapi menawarkan kenyamanan yang membuat seseorang ingin terus kembali.
"Hey." Sapa Jongin kikuk seraya menghampiri Kyungsoo. "Aku rasa kita perlu—"
Ucapan Jongin terdengar kabur di telinga Kyungsoo sebab penglihatannya menangkap sesuatu yang berbeda dari Jongin ketika lelaki itu hanya berjarak beberapa jengkal darinya. "Rambutmu—"
"Ya, ya, ya. Aku tahu." Jongin melenguh panjang. "I look like a fucking boyband member."
Kyungsoo tergelak. Ia mengambil beberapa langkah pendek lalu menyentuh rambut Jongin yang kini berwarna abu-abu keperakan.
Tubuh Jongin membeku.
Ia sejenak mengagumi Kyungsoo dari jarak dekat—untuk yang kesekian kali. Tangannya meraih tangan Kyungsoo yang bermain di kepalanya. Masih dengan menatap Kyungsoo, Jongin mengecup pergelangan tangan lelaki itu lembut.
Mata mereka saling menjaring dan Jongin yakin ia tidak akan lagi menemukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan, "I want you to be mine."
Pupil Kyungsoo melebar.
Sedang Jongin menanti jawaban, apa yang terlontar dari bibir Kyungsoo justru, "Kenapa?"
Meredam rasa gugup serta ketakutannya akan penolakan, Jongin menggenggam tangan Kyungsoo erat. "So I can act like a boyfriend and be insanely jealous no matter how ridiculous the case is?"
"Hanya itu?"
"Well," Jongin menjilat bibir. "That, and maybe the fact that I'm head over heels for you?"
Kyungsoo melepaskan genggaman mereka dan itu sudah cukup membuat Jongin merasakan kiamat kecil akan segera mendatanginya.
"Jongin," Ucap Kyungsoo lemah. "Aku sudah memiliki kekasih."
Kiamat kecil itu ternyata benar-benar datang.
Jongin ingin berlari keluar secepatnya dari ruangan itu. Mungkin untuk menyalahkan dirinya yang terlalu lama berpikir, mungkin untuk menyalahkan Baekhyun dan Sehun yang tidak menggali fakta mengenai status Kyungsoo sebelum merencanakan ini semua, atau mungkin ia hanya ingin berteriak hingga dadanya kosong.
Namun sebelum Jongin bisa menggerakkan kakinya, Kyungsoo tiba-tiba menghela nafas panjang, bersiap untuk melanjutkan.
"Sayangnya dia terlalu bodoh untuk menyadari bahwa kita telah menjadi sepasang kekasih tanpa harus melewati pernyataan resmi." Kyungsoo melirik Jongin sekilas, terdapat canda terdeteksi di senyum kecilnya. "Tetapi tidak masalah." Lelaki itu mengalihkan penglihatannya pada mural Jongin dengan sorot terpukau. "Aku rasa dia sangat mencintaiku."
Kemudian oh.
Jongin mengerjap beberapa kali, memproses satu lagi misteri yang Kyungsoo simpan dalam ucapannya. Lelaki itu selalu penuh rahasia. Jongin mengerti dan Jongin akan selalu memaklumi hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Ia mungkin selalu meleset dalam memprediksi Kyungsoo, tetapi untuk satu kali ini saja, Jongin berharap bahwa dugaannya tepat.
"Jadi… apa kekasih bodoh yang kau maksud, tepat pada saat ini, sedang berdiri di sampingmu?"
Jeda.
Kyungsoo berpura-pura berpikir. "Mungkin."
"O—Okay." Masih belum yakin akan jawaban Kyungsoo, Jongin bertanya lagi. "Apa kekasih bodoh yang kau maksud, tepat pada saat ini, harus menciummu?"
"Tergantung." Kyungsoo menoleh. Tawa rendahnya lepas mengisi ruangan dan Jongin tidak dapat lagi mengukur seberapa dalam ia jatuh. "Tergantung dari apakah dia bisa menebak dimana dia harus menciumku."
Jongin tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Ia menarik Kyungsoo ke dalam dekapannya lalu menghujani wajah lelaki itu dengan kecupan. Di kening, di pipi, di kedua mata, di ujung hidung, di sepanjang garis rahang, hingga akhirnya kecupan itu berakhir dengan sebuah ciuman panjang yang dalam di bibir.
Ketika wajah mereka menjauh, Kyungsoo terkikik seperti anak kecil. Pipi lelaki itu merah padam dan Jongin membutuhkan segenap tenaga untuk tidak menerjang Kyungsoo ke atas ranjangnya. Ia ingin menegaskan satu hal yang paling penting. Satu hal yang paling esensial.
"Jangan berubah." Jongin mengusap bibir bawah Kyungsoo menggunakan ibu jarinya. Ia tidak tahu merah di pipi Kyungsoo ternyata bisa lebih merona. Oh, Tuhan. Jongin benar-benar jatuh cinta. "Aku ingin sisi Do Kyungsoo yang ini hanya menjadi milikku."
"Kau sungguh ingin memulai hubungan ini dengan deklarasi bahwa kau posesif?"
"Ya!" Jawab Jongin yakin. "Biarkan orang lain melihat Do Kyungsoo yang menyebalkan itu. Aku ingin menikmati sisi Do Kyungsoo yang ada bersamaku sekarang untuk diriku sendiri."
"Jongin—"
"Satu lagi."
"Apa?"
Jongin mencium Kyungsoo, sepenuhnya merampas nafas Kyungsoo hingga tubuh lelaki itu jatuh ke pelukannya.
"Aku ingin terus menjadi ambisimu."
-[-][-][-]-
Sehun menangkupkan tangan ke pantatnya sendiri berkali-kali. Ia meremas kecil, tidak bisa menyangkal bahwa ada sesuatu yang berbeda.
"Ini akan terdengar mustahil." Sehun menggerutu kecil kepada Baekhyun. "Tetapi aku rasa kutukan Jongin berhasil."
Baekhyun memindahkan lollipop yang tengah ia hisap ke pipi kiri. Lelaki itu melihat bagian bawah tubuh Sehun walaupun ia tahu itu hanya formalitas karena, "Kau hanya mengada-ada."
Meninggalkan Sehun yang masih larut dalam pemikirannya serta orang-orang yang mulai melihat heran ke arah lelaki itu, Baekhyun kembali berjalan. Matanya menyisir dinding-dinding taman yang penuh dengan mural. Ia tahu beberapa mural yang berada di sana merupakan karya Jongin.
Mengingat nama lelaki itu membuat Baekhyun sedikit kesal. Sebab Jongin sama sekali tidak memberi kabar bagaimana hasil pertemuannya dengan Kyungsoo. Ia sungguh tidak percaya betapa durhaka lelaki itu kepadanya—meskipun Jongin selalu menolak jika ia menganggap si bocah sialan itu seperti anak kandungnya.
Penciuman Baekhyun tiba-tiba menangkap bau cat basah. Kepalanya refleks menoleh. Langkahnya yang mendadak berhenti membuat Sehun yang tidak menaruh konsentrasi pada jalanan sontak menabraknya.
"Ew." Baekhyun mengerjit jijik menatap graffiti yang terlihat baru saja dibuat tadi malam. Tulisan KAISOO IS REAL dengan huruf kapital berwarna merah tercetak begitu menyakitkan mata di sana. "Mereka benar-benar norak."
Ia menunggu respon sindiran Sehun. Namun lelaki itu justru tampak sibuk melihat sesuatu yang lain sebelum akhinya mendongak ke arahnya. Sehun menarik lengan Baekhyun, memaksa ia menunduk dan menyejajarkan pandangan dengan apa yang lelaki itu temukan.
"What the fuck!" Pekik Baekhyun.
Di bawah tulisan norak karya Jongin, terdapat satu tulisan kecil lain yang kontras. Ditulis dengan spidol hitam papan tulis yang tampak berantakan dan terburu-buru.
CHANBAEK TOO!
Otak Baekhyun tiba-tiba memunculkan wajah Park Chanyeol lengkap dengan senyum andalan lelaki itu. Ritme jantungnya melenceng. Wajahnya memanas tanpa sebab. Mata Baekhyun segera mendelik menyadari pertanda apa yang tengah dirasakannya.
"Oh, no."
Ia mencengkram Sehun kuat.
A CERTAIN ROMANCE: THE END
.
Author's Note
HOW IS IT GOING, FELLAS?
AKHIRNYA YA CERITA ISENG INI TAMAT JUGA. HEHEHEHEHE.
Sebenernya mau nerusin biar lebih panjang, cuma karena terlalu excited bikin cerita buat KFF2K17, aku takut malah ini terbengkalai.
Jadi lebih baik disudahi saja walaupun belum cukup puas.
FOR MY DEDE-DEDE GEMAY I HOPE YOU READ THIS.
SEMOGA KALIAN CUKUP PUAS YA SAMA CERITANYA. SAYANG KALIAN DEH HUHUHUHU.
TERIMAKASIH UNTUK SEMUA REVIEW YANG MASUK.
Percaya ga percaya aku selalu bola-balik bacain review kalian kalo lagi badmood.
BTW, SIAPA YANG NGGAK SABAR BUAT KFF2K17?!
KARENA WALAUPUN AKU BARU BANGET NULIS AKU UDAH GA SABAR BUAT NGELIAT KAISOO DAY PENUH SAMA FF PARA AUTHOR GEMAY.
HIHIHIHI.
SELAMAT BERTEMU DI KFF2K17 YA GUYS.
PENGEN TAHU DEH KALIAN BAKALAN KENAL NGGAK SAMA TULISAN AKU.
Mungkin, aku ga bakal update/publish ff apapun sampe Januari nanti.
MUNGKIN, YA.
Tapi jangan pernah percaya omongan Sher, karena anaknya gampang baper sama kaisoo.
Last but not least,
Jangan lupa review kembali untuk chapter terakhir (yang tidak memuaskan) ini.
I LOVE YOU I LOVE YOU I LOVE YOU.
XOXO
Sher.
