Trapped-in-Hunhan
Presents
.
First and Second
.
Warning : YAOI, Typo(s), SO FICTIVE
.
I'll tell you something
I think you'll understand
Please, say to me you'll let me be your man
And please, say to me you'll let me hold your hand
I wanna hold your hand
(The Beatles - I Wanna Hold Your Hand)
.
Hari itu hujan deras. Jalanan yang sepi itu basah. Hanya ada sesosok orang yang mengenakan payung, dan diam memandangi sosok lain di halte bus yang berjarak beberapa meter di depannya, orang itu terlihat menerawang ke depan.
Mengeratkan pegangannya pada payungnya, sosok itu berjalan sampai di halte.
Menangkupkan payungnya, dia duduk di samping sosok itu.
"Kenapa kau ada di sini?" tanyanya, membuat sosok yang tenggelam dalam pikirannya segera muncul ke permukaan, ke dunia kesadaran.
"Ah, Luhan" respon laki-laki yang berada di samping Luhan. "Kau mengagetkanku"
"Kau sedang lari dari apa?"
Sehun terhenyak. Pertanyaan Luhan membuatnya terkejut. Dia tidak menduga Luhan tahu.
"Kita tinggal bersama hampir lima tahun lamanya" Luhan mengalihkan pandangannya ke arah hujan. "Kau tidak mungkin kemari selain tiba-tiba merasa harus turun di tengah jalan dari bis yang membawamu ke tempat yang seharusnya"
Sehun diam. Dan menghela napas setelahnya.
Ikut memandang ke arah hujan, Sehun menerawang jauh entah kemana. "Siapapun. Aku sedang tidak ingin bertemu siapapun"
"Sayang sekali, bukan?" Sehun menoleh, mendapati Luhan sedang tersenyum kecil padanya. "Kau bertemu denganku"
Sehun mau tidak mau tersenyum kecil mendengar usaha Luhan menghiburnya. "Hm, sayang sekali"
Yang lebih tua melepas kancing pada kerahnya dan mengendurkan dasinya. "Omong-omong aku punya banyak waktu untuk mendengarmu bercerita"
"Memang aku mau menceritakannya?" Sehun bertanya dengan nada mengejek.
"Memang kau tidak?" Luhan membalas dengan santai.
Sehun tersenyum. Masih seperti dulu. Luhan tidak akan pernah mengalah sampai Sehun bercerita.
Dan akhirnya di halte itu, Sehun menceritakan semua kegundahan yang tidak bisa dia katakan kepada siapapun.
First and Second
Jongin melihat ke arah Luhan yang sedang mencurahkan kekesalannya karena masalah kantor kepada Minseok.
Laki-laki itu tertawa kecil mengingat beberapa saat yang lalu Luhan mengusirnya karena dia malah menggoda Luhan dengan bepura-pura mendukung atasan Luhan.
Bahkan sepupunya sendiri juga mengusirnya –karena sepupunya tidak mau Luhan bertambah frustasi dan akhirnya memaksa dirinya untuk memberikan minuman beralkohol pada pria rusa itu.
Tap.
Seseorang baru saja masuk ke bar yang belum buka. Dan Jongin mendapati kawannya yang sedang menggantungkan jaketnya ke tempat jas dan topi. "Hai"
Sehun yang mendekat ke arah Jongin membalas sapaannya. "Hei"
"Apa itu?" Jongin menunjuk kotak yang dibawa oleh Sehun.
"Ini–" Sehun membuka kotak kecil itu. Sepotong shortcake terpampang di sana. "–untuk Luhan-hyung"
Tiba-tiba perut Jongin terasa tidak enak. Seperti mual. Dan mulutnya tiba-tiba bergerak sendri tanpa bisa dia kendalikan. "Dia tidak ulang tahun hari ini"
"Memang" Sehun memandang ke arah di mana Luhan dan Minseok berada. Senyuman kecil terukir di wajahnya dan entah kenapa Jongin tidak menyukainya.
"Lalu untuk apa?" Jongin membenci nada bicaranya kepada Sehun tapi dia tidak dapat mengontrol dirinya.
Untungnya Sehun tidak terlalu menangkap nada bicaranya yang seperti menyudutkan Sehun itu. "Dia memintanya sebagai bayaran telah membantuku"
Sebelum Jongin sempat bertanya lagi, Sehun sudah meninggalkannya. Berjalan ke arah Minseok dan Luhan.
Jongin melihat Luhan yang kini tersenyum senang karena mendapatkan shortcake kesukaannya.
Jongin melihat Luhan yang mengucapkan terima kasih kepada Sehun, dengan senyuman bahagianya.
Untuk pertama kalinya Jongin tidak menyukai senyuman Luhan.
Dan itu membuat Jongin membenci dirinya sendiri.
Aku tidak boleh menjadi pencemburu dan seegois ini.
First and Second
Luhan dan Jongin berjalan berdua di jalanan yang sudah sepi.
Di tengah malam seperti ini tidak banyak mobil berlalu lalang.
Jari-jari keduanya bertautan. Jongin menggandengnya tadi karena Luhan sempat tersandung dan nyaris jatuh.
Tetapi Luhan tidak merasakan keberadaan Jongin. Laki-laki itu seperti tenggelam dalam dunianya sendiri. Sudah dua minggu ini Luhan mendapati Jongin melamun.
"Jongin" Luhan memanggil, membuat yang dipanggil menoleh ke arahnya.
"Ada apa? Apakah kau kedinginan, Lu?" sebelum Luhan membuka mulutnya, Jongin sudah melepaskan jaketnya dan memberikannya pada Luhan.
Luhan mengembalikannya sambil terkekeh kecil. "Memangnya kau tidak kedinginan? Kau hanya memakai kaos polos, Jongin"
Jongin tersenyum. Dia memang tidak bisa terus menerus merasa khawatir dan frustasi jika sudah melihat senyuman Luhan untuknya.
"Kalau begitu–" Jongin memosisikan dirinya di belakang Luhan, kemudian kedua lengannya melingkari tubuh Luhan. Memeluknya erat. "–begini saja"
Luhan tertawa, tidak tahu apa yang lucu dia tertawa. Mungkin untuk menutupi rasa gugupnya karena hembusan napas Jongin di tengkuknya membuatnya merasakan sengatan.
"Kalau begini bagaimana kita bisa berjalan?"
Tentu saja posisi seperti mereka akan menyusahkan jika digunakan jika berjalan. Namun tampaknya Jongin tidak peduli.
"Aku ingin memelukmu" bisiknya pelan.
Luhan menggigit bibirnya menahan rasa geli karena bisikan Jongin di telinganya. Apa tangan Jongin yang kini memeluknya bisa merasakan getaran dari detakan jantungnya yang memompa begitu kencang?
Selang beberapa saat, Luhan membalikkan badannya. Dia mendapati wajah Jongin yang kecewa. Melihat itu Luhan tersenyum kecil, mengulurkan telapak tangan untuk menangkup sebelah wajah Jongin.
"Nanti kau bisa memelukku di rumah"
Jongin tersenyum, dan Luhan lebih suka melihat Jongin yang tersenyum seperti ini. "Sampai aku tidur?"
"Hm" Luhan mengangguk, menggandeng lagi tangan yang lebih muda darinya. "Sampai tidur"
Menyeringai, Jongin melontarkan pertanyaan yang membuat Luhan menginjak kakinya –"Berarti kita tidur bersama bukan?"
"Kau tidak perlu mengatakannya seperti itu!"
"Tapi itu benar kan? Hehe"
"Ti–Ya–Tapi–ARGH! Sudahlah!"
Tertawa keras, sekali lagi Jongin memeluk Luhan karena perasaannya yang membuncah.
First and Second
Luhan menepati perkataannya kepada Jongin. Dan Jongin menjadikannya kebiasaan.
Minggu pertama Luhan merasa kikuk. Minggu berikutnya dia sudah terbiasa tidur di samping Jongin, di pelukannya.
Pagi pertama Luhan merasa aneh. Pagi berikutnya dia memberikan senyuman kepada Jongin yang mencium dahinya setelah dia membuka matanya.
Malam ini Jongin dan dirinya sama-sama sedang berbaring di atas ranjang Luhan. Masing-masing seperti sedang memikirkan sesuatu mengenai dirinya sendiri.
"Hei, Lu"
Luhan mengubah posisinya menjadi menyamping, menghadap ke arah Jongin. "Ya?"
"Beberapa waktu lalu, kau dan Sehun sering sekali bertemu" Jongin melirik ke arah Luhan, memastikan terlebih dahulu apakah Luhan akan merasa tidak nyaman atau tidak. Namun bisa ditangkap dari sudut matanya, Luhan tidak menunjukkan perubahan ekspresi apapun. Jongin memutuskan melanjutkan. "Ada apa?"
Luhan terlihat berpikir. Hanya sebentar sebelum dia menjawab pertanyaan Jongin. "Oh, dia sedang ada masalah dan butuh teman curhat saja"
Jongin memutar kepalanya ke arah Luhan. "Curhat?"
"Ya, curhat. Kenapa memang?"
"Tidak apa-apa"
Luhan bangkit dari berbaringnya. Agar bisa menatap Jongin lebih leluasa dari atas. "Itu tidak seperti tidak apa-apa"
Jongin diam sebentar. Sebelum dia ikut bangkit. Membuat dirinya dan pria yang empat tahun lebih tua darinya duduk berhadap-hadapan di atas ranjang.
"Kalau aku mengatakan yang sebenarnya–" Luhan berani bersumpah ini pertama kalinya pandangan mata Jongin seserius ini. "–apa kau tidak apa-apa?"
Luhan menunduk, menghindari pandangan Jongin karena dia sedikit gugup. Sungguh. Jongin bertingkah seakan dia akan mengatakan sesuatu yang bisa membuatnya gila. "Me-Memangnya ... a-apa?"
Jongin masih menatapnya dengan pandangan yang dalam. "Aku tidak suka"
"Apa?" Luhan mengangkat kepalanya. Mempertanyakan kerja dari organ-organ penyusun indra pendengarannya.
"Aku tidak suka kau bersama dengan Sehun"
Otak Luhan masih bekerja menerjemahkannya. Jadi Luhan tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Aku merasa tidak nyaman jika kau terlalu dekat dengan Sehun"
Luhan menutup mulutnya rapat. Kehilangan kata-kata begitu saja.
"Aku takut kau mencintai Sehun lagi"
Luhan membelalakkan matanya. Jantungnya memompa dengan sangat cepat. "Si-Siapa yang–"
Jongin turun dari ranjang, berdiri di dekat sana, memandang ke arah manapun selain Luhan. "Aku mengetahui semuanya. Sejujurnya lebih dari yang kau pikir"
Keanehan dari perkataan-perkataan Jongin, kenyataan yang ingin Luhan lenyapkan tetapi ternyata diketahui Jongin, semuanya terlalu rumit dan terlalu cepat untuk bisa Luhan proses dengan benar.
Laki-laki itu tertawa. Merasa bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
"Apa kau cemburu?" masih tertawa, dia menanyakannya. Luhan hanya bercanda. Hanya terbawa suasana yang tidak jelas ini.
Tetapi jawaban Jongin sebelum dia keluar dari kamar Luhan mampu membuatnya diam seharian penuh.
"Ya. Aku cemburu"
To Be Continued
...
Bercanda lol
/gaje/
Lanjut aja deh ya~
First and Second
Sudah seminggu Jongin menghindari Luhan.
Bukan berarti Luhan melakukan usaha untuk mendekati Jongin juga. Tetapi jelas Jongin menghindarinya.
Mahasiswa itu pulang sangat larut dan pergi di pagi buta. Setiap mereka tanpa sengaja bertatapan dia akan segera pergi. Setiap salah satu dari mereka tanpa sengaja memasuki ruangan di mana yang lain ada di sana, Jongin yang akan pergi.
Bukan berarti Luhan biasa saja dengan keadaan seperti ini.
Pria itu ingin sekali mengembalikan hubungan mereka seperti sedia kala.
Tetapi Luhan sendiri masih menerka-nerka, menyatukan semua keping puzzle yang begitu membingungkan.
Berkali-kali Luhan mencoba, dan semua itu menuju ke satu jawaban.
Jongin cemburu karena Jongin menyukainya.
Itu tidak mungkin kan?, Luhan selalu meyakinkan dirinya bahwa Jongin tidak mungkin menyukainya.
Tetapi sisi lainnya selalu menanyakan pertanyaan yang sama. Kalau Jongin memang menyukaiku, aku harus bagaimana?
Apakah aku menyukainya?
Apakah aku sudah melupakan Sehun?
Apakah aku–
Suara telepon menghentikan Luhan dari lamunannya. Nama dan nomor Jongin terpampang jelas pada layar handphonenya.
Dengan jantung yang berdebar karena mengantisipasi apa yang akan diutarakan oleh Jongin, Luhan mengangkatnya.
"Ha–"
Belum selesai, sebuah suara memohon yang memilukan terdengar.
"Bisakah kau ke lapangan kosong yang biasa kita kunjungi sekarang juga?"
First and Second
Sudah jam dua belas malam lewat. Luhan bisa melihat tempat tujuannya semakin dekat.
Setelah dia mendapat telepon dari Jongin dan mengatakan "Aku ke sana sekarang", dia langsung berlari.
Pria itu bisa melihatnya, sosok yang dia cari, di salah satu ayunan di sana.
Luhan melangkah mendekat dan tiba-tiba saja suasana taman berubah.
Tiba-tiba saja lampu-lampu kecil yang tidak Luhan sadari keberadaannya menyala. Luhan bisa melihat apa yang dia kira tadi dedaunan nyatanya adalah kelopak-kelopak mawar yang bertebaran di sepenjuru daerah lapangan.
Luhan bisa melihat bahwa tidak semua yang berada pada pohon adalah daun musim gugur, tetapi juga balon-balon berwarna-warni yang ada di sana.
Terlalu terpukau dengan hal yang tiba-tiba, Luhan tidak sadar sudah ada Jongin di depannya.
Jongin tidak terlihat rapi. Sebaliknya, dia terlihat sangat kacau.
Dia tidak tersenyum manis seperti sebagaimana biasanya orang memberi kejutan manis seperti ini. Dia malah tersenyum miris.
Luhan tidak mengerti kenapa. Luhan ingin tahu, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.
"Aku rasa aku sudah gila" Jongin akhirnya membuka suara setelah menghela napas panjang.
Luhan menatap mata Jongin yang terlihat pasrah dengan hidupnya. "Aku setuju"
"Aku membuat semua ini tanpa memikirkan apapun selain dirimu. Aku bahkan tidak merencanakan ini sama sekali. Tiba-tiba saja kakiku melangkah ke supermarket dan membeli semua ini, tiba-tiba saja aku kemari dan menjadikan lapangan ini menjadi seperti ini, dan tiba-tiba saja aku memintamu kemari"
Jantung Luhan serasa dipicu oleh listrik dengan tegangan tinggi. Dia tidak tahu harus merespon seperti apa.
Luhan semakin tidak bisa bernapas ketika Jongin menggenggam tangannya. Luhan bisa merasakan dinginnya tangan Jongin. "Apa yang sudah kau lakukan padaku, Lu?"
"Aku tidak mengerti Jongin" Luhan menunduk, suaranya lirih, napasnya masih tertahan oleh sesuatu yang bahkan dia tidak tahu apa "Aku sungguh tidak mengerti"
Jongin mendekat. Tangannya menengadahkan kepala Luhan. Dan bibirnya mengklaim bibir milik laki-laki di depannya.
Keduanya sudah tidak tahu lagi apa yang sebenarnya mereka pikirkan. Yang mereka tahu adalah mereka menginginkannya. Berciuman di tengah suhu rendah seperti ini membantu mereka menghangatkan tubuh.
Meski Jongin belum merasa cukup, dia melepas ciuman itu karena ingin Luhan menghirup oksigen yang dia perlukan.
Bibir Luhan merah, mungkin Jongin menghisapnya terlalu keras, atau karena terlalu lama. Jongin tidak tahu.
Jemari Jongin mengusap bibir itu, sedangkan matanya menatap lurus ke arah manik milik Luhan.
"Aku akan mengatakan sesuatu padamu. Aku pikir kau sudah mengerti apa"
Jemari itu kini menangkup kedua pipi Luhan.
"Jadilah kekasihku"
Luhan memejamkan matanya ketika Jongin mengecup bibirnya cepat. Dia membukanya lagi ketika Jongin mengecup dahinya.
"Biarkan aku menggenggam tanganmu. Menuntunmu ke kebahagiaan"
Jongin meletakkan kedua telapak tangan Luhan ke atas kedua telapak tangannya.
"Jadi–" Luhan menatap mata Jongin yang memandangnya dalam ke manik matanya. "–apakah kau akan membiarkanku menggenggam tanganmu?"
Luhan tidak mengerti apa yang dipikirkannya. Dirinya memang tertarik kepada Jongin, diakuinya dia memang menyukai Jongin lebih dari seorang teman, meski begitu Luhan sadar dia tidak menyukai Jongin sedalam Jongin kepada dirinya.
Apakah itu adil?
Apakah akan berjalan dengan baik?
Luhan tidak tahu.
Kenyataannya adalah, dia yakin apa yang dia lakukan adalah keinginan dari hati terkecilnya. Nyatanya tangannya menggenggam erat tangan Jongin. Tanpa mengatakan apapun, Luhan dengan sendirinya mengangguk-angguk dengan cepat.
Ketika Jongin membawanya ke pelukannya, Luhan tidak merasa menyesal. Dia justru membalas pelukan Jongin.
Dan ketika mereka kembali menautkan bibir mereka, Luhan tidak merasa kaku seperti tadi. Dia memejamkan matanya dan membalas lumatan Jongin untuknya.
Pada titik ini, Luhan membiarkan Jongin menggenggam tangannya, dan membiarkan Jongin membawanya ke mana saja.
Masih sama seperti sedia kala, asalkan ada Jongin, Luhan rasa semua akan baik-baik saja.
First and Second
Jongin menuntun Luhan yang hilang arah ke jalan yang lebih baik.
Jongin membuktikan pada Luhan bahwa Luhan bisa baik-baik saja.
Membuat Luhan akhirnya benar-benar melepas tali yang mengikat dirinya dengan Sehun.
.
Kali ini Jongin menggenggam tangan Luhan lebih erat.
Kehangatan Jongin tersalur untuk Luhan, dan begitu pula sebaliknya.
Jongin berharap genggaman tangan ini bisa terus bertahan.
To Be Continued
Maaf. Karena harus menggarap bab 1 skripsi jadi saya menelantarkan ff-ff saya. Mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Tema chapter ini adalah lagunya The Beatles tapi habis TBC palsu saya menulisnya sambil mendengarkan lagu Oh My Girl - Closer karena nadanya lebih cocok lol.
Well, 4-5 chapters to go. Review ya, biar saya semangat mengetik hoho
And ... thank you very much for reviewers, followers, and favoriters!
Tanpa kalian aku tidak akan ada semangat update n(_ _)n
Ludeer | Seravin509 | OhSeXiLu | deerwinds947 | lzu hn | Kaihunbear | Arifahohse | Agassi 20 | deerhanhuniie | Novey | Double Kim | ParkNada | choi eun sang | ohluhan07 | Menglupi | KaIka0788 | milkluhans | BB137 | SebutLuhan3x | Balqis | Aura626 |
So,
Mind to review?
