"Sehun~"

Sehun sedang membaca buku di atas kasurnya ketika dia menoleh ke arah suara yang sangat ia kenal.

Diberikannya senyuman kecil kepada kekasihnya, Luhan, yang sedang menempelkan kepalanya di bahu Sehun.

"Ada apa?" tanya laki-laki itu sambil memeluk erat yang lebih tua empat tahun darinya, sembari menghirup bau apel dari shampoo kesukaan kekasihnya.

Sehun juga menyukainya. Entah karena wangi apelnya yang menyegarkan, atau karena itu rambut kekasihnya.

Mungkin keduanya.

Yang berada di pelukan hanya menggelengkan kepala. "Tidak apa. Aku hanya ingin dipeluk"

Sehun terkekeh kecil. Luhan memang dewasa. Tetapi jika sedang stress seperti sekarang ini karena akan menghadapi wawancara pekerjaan besok, dia akan menjadi seperti kekanak-kanakan.

"Kau pasti bisa" ucap Sehun memecah keheningan.

Tetapi tidak ada jawaban.

Sehun melihat ke bawah. Ternyata Luhan sudah tertidur.

Tersenyum, laki-laki itu mengecup dahi Luhan.

"Saranghae, Luhan"

Setelah puas mengecup dahi kekasihnya, Sehun memandangi lagi wajah itu. Wajah yang bisa membuat tubuhnya merasa nyaman dan rileks begitu saja.

Sehun berharap dia tidak akan pernah berpisah dengan Luhan. Berharap tidak akan merasakan sakit seperti yang diberikan Nana dengan menolaknya.

Sehun menggenggam tangan Luhan yang memejamkan mata. "Berjanjilah padaku untuk tidak meninggalkanku"

Kemudian laki-laki itu ikut memasuki alam mimpi seperti Luhan.

Sehun tidak tahu, bahwa di waktu yang akan datang, dialah yang meninggalkan Luhan.

.

Trapped-in-Hunhan

Presents

.

First and Second

.

Warning : YAOI, Typo(s), SO FICTIVE

.

Be by my side, will you promise me?

If I touch you I'm afraid you'd fly away or break

I wanna stop time

When this moment is done, would it be like a fantasy? Would I forget you?

I'm afraid

You're like a Butterfly

I stare at you from afar

If I touch, will I lose you?

A little gesture and I suddenly forget about reality

You're like stroking wind. You're like a softly lying dust

You're there but I can't reach you

Stop. You're like a dream to me, butterfly, high

(BTS - Butterfly)

.

Sehun memijat pelipisnya ketika dia membaca bermacam pesan dan panggilan tak terjawab di handphonenya.

Semua dari Ayahnya. Ayahnya yang memintanya untuk meneruskan usaha keluarga sekarang juga.

Sudah lewat sebulan setelah dia dan Ayahnya bersitegang karena Sehun ingin meneruskan mimpinya terlebih dahulu sebelum mengambil alih usaha keluarga Oh.

Luhan.

Jemari Sehun tiba-tiba saja mengetikkan nomor yang ia hapal luar kepala.

"Bisakah kita bertemu?"


First and Second


Sehun tidak menyangka cinta pertamanya akan kembali ke Korea setelah pindah ke Inggris.

Dia juga tidak menyangka akan bertemu Nana lagi di universitasnya.

Pun tidak menyangka mereka akan sering bertemu karena jurusan mereka sama.

Sehun ingin menghindari gadis itu. Bukan apa-apa, Sehun hanya merasa sedikit kikuk karena bagaimanapun pertemuan terakhirnya dengan Nana adalah ketika gadis itu menolaknya.

Sayangnya, karena Nana hanya mengenal Sehun, maka gadis itu bergantung padanya.

Dan mau tidak mau, Sehun membantunya.

"Terima kasih banyak, ya, Sehun" ucap gadis itu sembari memeluk buku-buku perpustakaan yang baru saja dia pinjam. Dia meminta bantuan Sehun untuk menunjukkan letak perpustakaan kota.

"Tidak masalah" jawab Sehun sembari melihat langit yang sudah mulai gelap.

Mereka berdua masih berjalan di jalan yang sepi, menuju halte bus.

"Eum, Sehun" Sehun berhenti, mengikuti Nana yang tiba-tiba berhenti sambil menatapnya. "Apakah kau masih menyukaiku?"

DEG.

Sehun sungguh tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan ini. Jantungnya bertalu-talu, membuatnya tidak tahu harus menjawab apa.

Nana sepertinya tahu Sehun terkejut dengan pertanyaannya, buru-buru dia melanjutkan. "Begini, pertemuan terakhir kita sesungguhnya sedikit mengangguku selama aku di Inggris"

"Tidak masalah. Itu kan masa lalu" Sehun yang sudah bisa mengontrol detak jantungnya segera berucap.

"Sebenarnya aku dulu juga menyukaimu" Nana malah melanjutkan pembicaraan yang membuat Sehun berhenti bernapas. "Tapi karena hubungan jarak jauh tidak akan berjalan dengan baik untukku, aku menolakmu"

Sehun merasa tercekat. Kenapa Nana membahasnya seperti ini?

"Maka itu, aku ingin memperbaikinya" Nana memandang Sehun, dan meraih tangan Sehun untuk dia genggam. "Apakah kau masih menyukaiku?"

"Aku–" Sehun tidak tahu kenapa dia sulit menjawabnya ketika dia bahkan sudah mempunyai seorang kekasih sekarang.

Luhan.

Sehun tersadar. Benar. Dia sudah punya Luhan sekarang. Dia tidak bisa seenaknya.

"Aku–"

"Kau sudah tidak menyukaiku lagi, ya?" nada pertanyaan gadis itu meyiratkan kesedihan. Gadis itu memandang Sehun dengan tatapan kecewa.

Sehun tidak menyukainya.

Sejak dulu Sehun tidak pernah menyukai raut wajah sedih jika itu di wajah Nana.

"Kau tidak mau menjadi kekasihku?" Nana seperti ingin menangis. Dan Sehun, masih seperti dahulu, tidak akan membiarkan Nana menangis.

Dengan cepat, Sehun memeluknya. "Aku masih mencintaimu"

Sehun menutup matanya. Entah kenapa Nana yang membalas pelukannya membuatnya tersadar akan suatu hal.

Mulai detik ini, dia sudah mengkhianati Luhan.


First and Second


Luhan meletakkan secangkir Americano yang baru saja dia minum sedikit, lalu memandang sosok di depannya.

"Jadi Ayahmu tetap memintamu mengambilnya sekarang?"

Sehun mengangguk dalam diam.

"Hm, ternyata tidak berhasil" Luhan mengingat kembali saran yang dia berikan untuk Sehun ketika dia tak sengaja bertemu dengan Sehun di halte sebulan yang lalu.

Seperti mendapat pencerahan, tiba-tiba Luhan memandangnya dengan penuh senyuman kepercayaan. "Eh, tapi Ayahmu tidak melarangmu untuk meneruskan apa yang kau sukai, bukan?"

Sehun mengangguk, meski tidak tahu kenapa Luhan bisa senang sedang dia kebingungan seperti ini. "Iya"

"Kalau begitu, kenapa kau tidak mengambil alih usaha Ayahmu sembari tetap melakukan hobimu?" Luhan bertanya dengan menggebu-gebu, seakan baru menemukan solusi terbaik.

Meskipun memang yang diucapkan Luhan membuat Sehun berpikiran sama. Nyatanya laki-laki itu tersenyum senang. "Kau benar! Astaga, terima kasih"

"Hihihi, tidak masalah. Hanya saja sayang sekali kau sudah terlanjur frustasi seperti tadi" Luhan menjulurkan lidahnya, mengejek Sehun yang terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan.

Sehun menjulurkan tangannya dan menarik hidung Luhan –sesuatu yang biasa dia lakukan sejak dulu dengan Luhan. "Ish, jangan mengejekku"

"Yak" Luhan memundurkan kepalanya, agar tangan Sehun terlepas. Dia kemudian melotot ke arah Sehun sembari mengusap hidungnya dan menggembungkan pipinya. Menandakan dia sedang sebal. "Kau menyebalkan!"

Wajah Luhan yang seperti itu rupanya masih bisa membuat Sehun terkekeh.

Sudah lama sekali Sehun tidak melihat ekspresi itu.

Sehun berharap bisa melihatnya lebih lama.


First and Second


Sehun merasakan sesak yang luar biasa hebat setelah dia masuk ke dalam apartemennya.

Apartemen yang selama ini dia hindari sebisa mungkin.

Karena apartemen ini penuh akan kenangan dengan Luhan, dan itu membuatnya merasa bersalah.

Sehun dengan gugup memasuki kamarnya. Dia menghembuskan napas lega mendapati sosok Luhan yang sedang tertidur.

Pria yang sudah berminggu-minggu tidak dia temui.

Semuanya karena alasan yang sama, Sehun merasa bersalah dan tidak bisa tenang setiap menatap Luhan.

Kekasih yang sudah dia tinggalkan, yang dia bohongi selama berwaktu-waktu lamanya.

Tidak tahan, Sehun bergegas mengambil beberapa barang yang dia perlukan.

Namun, entah kenapa dia berhenti dan berbalik untuk memandangi ranjang beserta orang yang ada di atasnya ketika dia sudah siap pergi dari kamar ini.

Luhan yang sedang bergelung di dalam selimut tebal. Mau tidak mau itu membuat Sehun bertanya-tanya apakah dia sakit atau tidak.

Duduk di sisi ranjang yang kosong, Sehun memeriksa dahi Luhan.

Tidak, Luhan baik-baik saja. Sehun menghembuskan napas lega.

Laki-laki itu menatap Luhan sekali lagi. Dan benar saja, perasaan sesak karena rasa bersalah kembali mendera dirinya.

Mengambil tangan Luhan, Sehun menggenggamnya erat. Berusaha menyampaikan kepada Luhan yang tertidur dengan tenang mengenai perasaannya.

"Maafkan aku, Lu" Sehun akhirnya berucap. Berharap Luhan mendengarnya tanpa harus melihat keberadaannya. "Aku sendiri tidak mengerti ada apa denganku. Aku kira aku benar-benar jatuh cinta padamu"

"Tapi kenapa aku senang ketika mendengar bahwa Nana ternyata mencintaiku juga? Kenapa jantungku berdetak kencang saat Nana ingin menjadi kekasihku? Kenapa aku tidak bisa menolak dirinya ketika aku tahu aku dan kau sudah bersama?"

Sehun mencium tangan di genggamannya. "Maafkan aku, Lu. Sungguh"

Sehun memandangi Luhan lagi, setelahnya. Tetapi pikirannya terlarut pada pertanyaan-pertanyaan yang dia sendiri tidak mengerti.

Dia baru sadar setelah Luhan membuka matanya, dan bangkit duduk. Melihat Sehun dengan ekspresi terkejut yang amat jelas. "Kenapa kau di sini?"

Sehun tertawa kecil. Pertanyaan itu terdengar biasa, namun sangat menusuk bagi Sehun. Seakan Luhan sendiri tidak percaya jika ada Sehun di apertemen mereka berdua.

Ini salah siapa?

Salahnya.

"Ini apartemen bersama kita, Lu. Kau ingat?"

"Ah bukan begitu" Luhan tersenyum kikuk. "Maksudnya, kau sudah tidak sibuk?"

Lagi, pertanyaan Luhan yang mengingatkan Sehun akan segala kebohongannya. Sehun merasa lebih sesak daripada saat memandangi Luhan yang tidur tadi.

"Ng..., sebenarnya aku hendak mengambil beberapa barang yang kubutuhkan. Tapi kulihat kau bergelung di kasur dengan selimut tebal. Aku kira kau sakit"

"Tidak. Aku baik-baik saja" Luhan tersenyum. "Lebih baik kau cepat-cepat. Kasihan teman satu timmu yang sedang menunggumu"

Jika pertanyaan-pertanyaan Luhan yang tanpa sadar menohoknya adalah senjata, Sehun bisa memastikan dirinya mati sekarang.

Perasaan bersalah, gugup, menyesal, ingatan akan kebohongan dan pengkhianatannya, Sehun merasa dirinya sangat rendah sekarang.

Dengan cepat dia mengecup dahi Luhan, berusaha menyampaikan seluruh permintaan maaf untuk pria itu. "Maafkan aku"

"Kau tidak perlu minta maaf Sehun. Aku bisa memahamimu"

Sehun tersenyum kecut di dalam hatinya.

Bertanya-tanya apakah Luhan juga masih bisa memahaminya jika dia tahu yang sebenarnya.

"Kalau begitu aku pergi dulu. Oke?"

Sehun tidak tahu, bahwa Luhan sudah tahu dan tetap bisa memahaminya.


First and Second


"Kenapa kau kemari?" Luhan bertanya kepada Sehun yang tiba-tiba muncul di depan ruang kerjanya di kantornya, ketika dia hendak keluar untuk makan karena jam istirahat.

Sehun memasukkan kedua tangannya di kantong celananya. "Hanya ingin mengajakmu makan bersama, hyung. Aku kebetulan lewat sini"

Luhan menaikkan alis, skeptis dengan jawaban Sehun.

Sehun menghembuskan napas, menyerah. "Fine, aku hanya ingin mengobrol denganmu. Ketika lewat sini aku kepikiran saja untuk cerita kepadamu"

"Masalah yang kemarin? Kau sudah mengambil alih usaha Ayahmu? Bagaimana? Kau masih bisa tetap menari bersama Jongin kan? Ah, apa kau tidak menjadi sangat sibuk?"

Sehun menahan tawa mendengar rentetan pertanyaan panjang dan melihat Luhan yang kelewat antusias. "Satu-satu, Lu"

Tersadar, Luhan sedikit menunduk dan mengusak surai bagian belakangnya. "Ehehe, maaf"

Luhan yang baru saja mengajak Sehun ke restoran di dekat kantornya sudah berjalan ke depan.

Sedangkan Sehun masih terdiam.

Dia merasa aneh pada dirinya sendiri.

Jika Luhan tidak tiba-tiba berjalan ke depan, tangannya yang sepertinya hendak bergerak secara otomatis itu tadi akan ikut mengacak-acak rambut Luhan.

Sehun memandangi tangannya.

Aku ini ... kenapa?


First and Second


"Aku pulang~!" mendengar suara Luhan, Sehun segera menarik bibirnya dari bibir Nana.

Dia menoleh dengan penuh kepanikan.

Luhan.

Luhan melihat mereka.

Dan kini Luhan memandangi mereka berdua dengan eskpresi terkejut. "Ng, Luhan ini–"

Sehun menyumpahi dirinya yang tidak bisa mengatakan "Tidak" pada Nana, ataupun melihat Nana sedih.

Itu yang membuatnya akhirnya menyetujui membawa gadis itu ke apartemennya, dan menciumnya karena dia memintanya.

"Wah, Sehun. Jadi ini kekasihmu?"

Sehun sangat tidak menduga dengan reaksi yang diberikan Luhan.

Kenapa dia seperti tidak ada masalah?

"Siapa namamu? Kau cantik sekali"

Baik Nana ataupun Luhan tidak melihat Sehun yang sangat kebingungan.

"A–Aku Nana. TeTerima kasih"

"Aku Luhan. Aku teman satu rumah Sehun. Salam kenal ya. Sehun beruntung sekali mendapatkanmu"

Meninggalkan Sehun dan Nana, Luhan berpamitan untuk ke kamarnya.

"Maaf ya Sehun" ucapan Nana membuat Sehun tersadar dan berhenti menatap Luhan yang sudah tidak nampak oleh indra penglihatannya. "Kita ketahuan oleh temanmu"

Ucapan tanpa dosa Nana membuat Sehun merasa sesak.

Benar, mereka ketahuan.

Sehun kedapatan membohongi Luhan dan mengkhianatinya.

"Tidak apa" Sehun mengatakan kebohongan lainnya lagi juga kepada Nana.

.

Sepeninggal Nana dari apartemennya, Sehun bergegas menuju ke kamar Luhan atau sebenarnya kamar mereka berdua.

Sehun harus berbicara pada Luhan. Menjelaskan semuanya, meminta maaf, apapun yang bisa membuat perasaannya lega.

Sehun mengetuk pintu kamar yang terkunci itu.

Mengetuknya lagi.

Dan lagi.

Tetapi hasilnya sama. Tidak ada jawaban dari orang di dalam sana.

Sehun tersenyum kecut memandangi pintu yang masih terkunci rapat itu.

"Maafkan aku" ucapnya lirih


First and Second


Sehun memandang tiket masuk rumah apel di tangannya. Ada dua, dia mendapatkannya dari kotak undian yang baru saja dia coba. Dan dua tiket itu hanya bisa digunakan hari ini.

Sehun ingin sekali pergi ke rumah apel itu. Dia penasaran.

Dengan cepat dia mengetikkan nomor yang beberapa ini sering dia hubungi kembali.

"Lu, apakah kau sibuk?"

.

Luhan kira Sehun ingin curhat lagi, seperti yang dia lakukan belakangan.

Tetapi ternyata Sehun membawanya kemari, ke rumah apel.

"Kau masih terobsesi dengan apel?" Luhan terlihat geli saat menanyakannya.

"Aku tidak terobsesi dengan apel" balas Sehun defensif. "Aku kan hanya penasaran dengan acara rumah apel ini"

Mereka sudah berkeliling nyaris ke seluruh stand. Dan Sehun merasa sangat senang dan puas. Dia mencicipi pie apel yang enak, jus apel yang menyegarkan, juga mencicipi permen kapas rasa apel untuk pertama kalinya.

Dia tidak terobsesi dengan apel. Hanya saja memang seluruhnya berbau apel di sini. Makanan, aksesoris, bahkan games pun menggunakan apel.

Tapi Sehun menikmatinya. Sudah lama sekali rasanya dia tidak bersenang-senang.

Dia sibuk bekerja part time dan kuliah, juga kencan-kencan biasa dengan Nana.

Sehun merasa ingin menghentikan waktu sekarang juga. Sehun tidak ingin momen menyenangkan seperti ini selesai. Pasti Sehun akan segera melupakan bagaimana rasanya secara jelas. Yang akan dia ingat pasti hanyalah bahwa hal ini menyenangkan, tetapi mengulang kembali rasa senang yang dia rasakan, itu tidak akan mungkin.

"Iya, iya, aku percaya. Lagipula aku rasa aku bisa menemukan shampoo apelku di sini" gumam Luhan sambil melihat-lihat produk-produk kecantikan berbau apel pada salah satu stand yang ada di sana.

"Kau masih memakai shampoo apel yang biasa itu?" Sehun bertanya, jantungnya berdetak karena berpikir jika Luhan masih memakainya karena masih menyukainya.

"Hm" Luhan memindai label-label yang tertempel, mencari merek yang biasa ia pakai. "Jongin menyukai wanginya"

Dan entah kenapa Sehun mengepalkan jemarinya.

Entah kenapa jantungnya malah menjadi sesak.

Entah kenapa moodnya tiba-tiba turun drastis.


First and Second


Sehun dan Nana memasuki tempat yang sudah mereka pilih untuk makan bersama.

Sehun memindai sekeliling untuk mencari tempat yang kosong.

Ketika dia hendak memberi tahu Nana, gadis itu sudah tidak ada di sampingnya. Dia malah sudah berpindah tempat.

Sehun menghampirinya, mengira Nana sudah menemukan tempat untuk mereka.

Namun alangkah terkejutnya dia karena dia melihat orang yang sudah tiga bulan tidak dia temui sama sekali semenjak kejadian itu.

"Ah, hai Nana" Jongin bersuara. "Dan hai Sehun"

"Hai Nana, hai Sehun"

Luhan.

Bersama dengan Jongin.

Apakah mereka saling mengenal?

"Eh, Luhan-oppa? Luhan-oppa kenal dengan Jongin-oppa?"

Sehun sedikit bersyukur Nana menyanyakan hal yang juga menjadi pertanyaannya.

"Yaps. Dia teman yang selalu kuajak main, yang kuceritakan tiap hari di kelas"

Lagi, Sehun tidak menyangka orang yang dimaksud Jongin selama ini adalah Luhan.

Sehun tidak memperhatikan pembicaraan mereka bertiga lagi karena sekarang di dalam benaknya hanyalah memikirkan bagaimana dia seharusnya bersikap.

Itu sampai Nana menyenggolnya, membawanya kembali ke kesadaran. "Sehunnie, kita makan bersama mereka di sini ne?"

Sehun ingin sekali menolak, tetapi

"Enak saja. Aku tidak ingin melihat PDA kalian. Cukup di kelas saja"

Sehun tidak tahu haruskah dia berterima kasih pada Jongin atau tidak. Jongin memang menolak, seperti keinginan Sehun. Namun di sisi lain, Jongin juga secara tidak langsung mengatakan bahwa Sehun dan Nana selalu bertingkah romantis di mana saja.

Di depan Luhan.

Sehun sedikit melirik Luhan, khawatir dengan bagaimana reaksinya.

Namun ekspresi Luhan biasa saja.

Apakah ini semua karena Luhan sudah menduganya? Bagaimanapun juga Luhan sudah pernah mendapati Sehun dan Nana berciuman bukan?

"Issshh! Kau ini! Kan sejak Sehun tinggal denganku aku jadi tidak bisa kenal lebih jauh dengan Luhan-oppa!"

Nana tidak membantu sama sekali. Itu malah menunjukkan bahwa selama ini Sehun tidak ada untuk Luhan karena dia bersama dengan Nana.

Sehun merasa sesak luar biasa.

Dia merasa seperti penjahat yang ketahuan oleh polisi.

Tetapi bedanya, sebenarnya polisi tersebut tidak mengatakan atau melakukan apapun kepada Sehun.

Dan itu membuat Sehun frustasi karena bingung.

"Jongin benar, Nana-ah. Lagipula aku yakin Sehun juga hanya ingin berdua denganmu" Luhan tersenyum meyakinkan, tapi bagi Sehun senyuman itu seperti menyindirnya habis-habisan. "Kita bisa mengatur waktu untuk mengenal lebih jauh. Kau bisa main di kantorku kalau kau mau"

"Jangan menggeniti pacar orang! Dasar ajussi mesum!"

"Siapa yang ajussi! Demi apapun di dunia ini, kita hanya berjarak 4 tahun! Dan asal kau tahu, wajahku jauh lebih terlihat muda darimu! Dasar keparat kecil!"

Seperti menunjukkan bahwa ada yang bisa lebih memperparah kondisi batinnya, takdir menunjukkan Sehun pemandangan di mana Jongin dan Luhan yang bertengkar.

Namun, yang Sehun tidak mengerti adalah kenapa dia merasa tidak nyaman melihat interaksi Jongin dan Luhan.

Tidak mungkin kan dia cemburu?

"Kurasa aku akan duduk di sini saja. Oke, Sehun?"

Menuruti Nana, Sehun sekarang bisa kembali yakin bahwa perasaan tidak nyaman itu efek dari perasaan sesaknya saja karena sudah membohongi dan mengkhianati Luhan. Bukan karena cemburu.

Lihat saja, dia masih tidak bisa mengatakan "Tidak" pada Nana, dia masih senang Nana mencintainya, dan dia tidak mau Nana sedih sama sekali.

Bukankah itu berarti Sehun mencintai Nana?

Namun, belum bisa Sehun merasa jelas dengan segala pertanyaannya dan perasaan tidak enaknya karena makan semeja dengan Luhan, Nana seperti melemparkan bom atom kepadanya.

"Luhan-oppa, apakah Luhan-oppa punya pacar?"

Sehun seketika menghentikan pergerakan tangannya. Dia melirik ke arah Luhan yang rupanya juga menghentikan pergerakan pisaunya.

"Tidak" jawab Luhan sambil melanjutkan mengiris daging steaknya. "Aku single"

Sehun tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya mendengar jawaban Luhan.

"Tapi sebentar lagi dia taken kok"

Sehun melirik ke arah Jongin. Apa? Luhan akan memiliki kekasih?

Meskipun hubungan Luhan dan Sehun tidak jelas karena ulah Sehun, bukankah jika Luhan memiliki kekasih itu akan makin memperumit semuanya?

"Benarkah oppa? Dengan siapa?"

"Jangan semba–" "Aku"

Bohong jika bilang Sehun tidak terkejut. Dia bahkan shock mendengarnya.

Jongin dan Luhan? Apakah mereka memang sudah sejauh itu?

"Ka–Kalian gay?!"

"Ya" mereka menjawab berdua. "Dan kami akan segera jadian" Luhan segera menarik telinga Jongin lebih keras.

Sehun akhirnya sadar bahwa Jongin hanya mengasal. Namun tidak tahu kenapa, dia tidak menyukai candaan Jongin.

Mungkin karena itu sudah terlanjur membuat perasaannya yang sudah tidak karuan semakin kalang kabut.

Tidak, Sehun tidak mungkin kalang kabut karena cemburu. Sehun yakin moodnya hanya masih terbawa perasaan sesak karena rasa bersalahnya.

"Woah! Aku tidak percaya!" Nana tertawa kecil. "Tapi kalian lucu dan cocok"

"Ne, terimakasih Nana. Doakan kami langgeng"

Sehun merasa makannya tiba-tiba menjadi tidak ada rasanya.


First and Second


Hujan turun dengan deras malam itu. Luhan dan Sehun berdiri di sebuah halte. Halte terdekat –dan tidak terpakai– dari tempat mereka pergi ke Book Fair tadi sore.

Luhan yang mengajaknya –karena Jongin ada kelas pengganti. Dan Sehun –meskipun merasa tidak suka menjadi pengganti Jongin– mengiyakannya.

"Hm, kenapa hujan masih turun saja, ya. Aku kira sudah seharusnya tidak ada hujan lagi" Luhan mencebikkan bibirnya. Sudah tiga jam mereka menunggu di sini. Hari sudah semakin gelap dan suhu semakin dingin.

Sehun melihat Luhan yang mengusap lengannya berulang-ulang. Tanda jika pria yang empat tahun lebih tua darinya itu mulai kedinginan.

Dengan cepat Sehun melepas jaketnya, dan memberikannya ke bahu Luhan dari belakang.

Luhan mengangkat kepalanya, memandang Sehun sejenak. Sebelum dia tertawa kecil. "Aku jadi ingat hari itu"

Sehun tersenyum. Ya, Sehun juga ingat hari itu. Hari ketika Luhan datang ke bar –yang ternyata tutup– di tengah-tengah hujan yang deras.

Hari ketika Luhan mendeklarasikan bahwa dia ingin hubungannya dengan Sehun membaik –yang mana sangat membuat Sehun jauh lebih lega daripada sebelumnya.

Senyuman Sehun semakin lebar ketika mengingat kembali mereka setelahnya bercanda berdua.

"Jongin terdengar sangat khawatir di telepon. Dan karena aku tidak mau dia khawatir, aku nekat datang kemari" Luhan terlihat mengenang kembali dengan senyuman kecil.

Namun, di sisi yang lain, senyuman Sehun lenyap seketika.

Luhan datang ke sana demi Jongin, bukan Sehun.

Sehun tidak mengingat kenyataan itu. Yang dia ingat hanya Luhan ke sana karena mendengar kabar dari Jongin, mengajaknya kembali seperti sedia kala, dan kemudian mereka bercanda di depan bar berdua.

Senyuman kembali muncul, tapi senyuman pahit.

Karena Sehun teringat bagaimana Luhan menyambut uluran tangan Jongin yang mengajaknya pulang hari itu.

Bagiamana Jongin memberikan senyuman aneh kepada Sehun –yang masih tidak Sehun mengerti apa maksudnya. Namun yang jelas itu menganggunya, selalu menghantui pikiran Sehun juga jika Sehun mengingat mengenai Jongin dan Luhan.

Mengingat bagaimana dirinya memandang punggung Jongin dan Luhan yang asyik tertawa berdua –dalam dunia mereka.

Sehun merasakan sesak lagi hanya dengan mengingatnya.

Sebelum dia kembali merasa bingung.

Kenapa aku harus merasa seperti ini?


First and Second


"Aku ingin menyelesaikan semuanya. Tolong jangan menghindar"

Sehun bisa mendengar suara keputusasaan di dalam nada bicaranya. Dia hanya ingin meluruskan semuanya dengan Luhan.

Kejadian di tempat makan kemarin benar-benar menghantuinya, lebih sering mengganggunya daripada rasa bersalahnya kepada Luhan.

"Apa yang kau ingin selesaikan? Semuanya sudah selesai sejak aku mendapatimu berciuman di lorong ini. Bukankah itu cukup jelas?"

Sehun mematung. Luhan benar. Tapi tetap saja. "Setidaknya kalau begini lebih jelas bukan?"

Sehun sendiri mempertanyakan kelebih-jelasan-an yang dia maksud. Apa? Bahwa mereka sudah berakhir?

Entah kenapa semuanya masih mengganjal untuk Sehun, sesungguhnya.

"Hm. Sekarang bisakah aku pergi?"

"Kau tidak ingin mendengar penjelasan dariku?"

Sehun tidak tahu kenapa dia menanyakannya. Bahkan dia sendiri sebenarnya tidak tahu harus menjelaskan apa, mulai dari mana, dan bagaimana.

"Untuk apa? Aku bisa mengerti. Kita tidak pernah bisa mengatur diri kita untuk jatuh cinta atau berhenti mencintai kepada siapa bukan?"

Tepat. Sehun tidak bisa berkata apa-apa.

"Aku pergi"

Sehun melepaskan genggaman tangannya. Tetapi sesuatu masih mengganjal di hatinya. Dan kali ini, dia tidak mau terlalu banyak berpikir. Jadi dia ucapkan saja apa yang ingin diucapkannya. "Maafkan aku"

Pria bermata rusa itu berhenti sejenak sebelum menoleh ke arah Sehun. "Kuharap kau meminta maaf bukan karena kau tidak bisa mengontrol hatimu untuk terus menyukaiku atau melupakan Nana. Kuharap kau meminta maaf karena kau nemilih untuk diam saja dan tidak membicarakanku dari awal kau ingin bersama Nana lagi. Mengetahui kau selingkuh dan aku harus berpura-pura tidak tahu, menunggumu untuk mengaku tapi kau tak kunjung mengaku, itu semua lebih mengganggu daripada mengetahui kau sudah tidak atau tidak pernah mencintaiku"

"Aku–"

BLAM.

Sehun menghembuskan napasnya. Rentetan kata dari Luhan tadi benar-benar seperti menguburnya hidup-hidup.

Satu hal yang sekarang Sehun tahu, Luhan ternyata sudah tahu jauh-jauh sebelumnya.


First and Second


Sehun sedang duduk di kantin fakultasnya ketika Jongin datang bersama dengan Chanyeol, teman mereka dari jurusan lain namun masih dalam satu fakultas yang sama.

"Dengar, tumben sekali dosenku tadi tiba-tiba mengatakan kata-kata mutiara mengenai cinta. Aku ingin tertawa tadinya, tetapi kata-katanya sangat dalam" Chanyeol yang baru saja meletakkan pantatnya segera membuka suara.

Jongin terkekeh. "Dosen mata kuliahmu mungkin sedang berada dalam problematika cinta"

"Mungkin saja" Chanyeol membuka plastik yang membungkus burger yang dia beli. "Jadi, menurutnya, ada perbedaan antara cinta dengan rasa ingin memiliki"

Jongin memandang ke Sehun sejenak sebelum memasang tampang bertanya ke arah Chanyeol. "Maksudnya? Bukankah kalau kau mencintai seseorang kau pasti ingin memilikinya?"

"Memang" Chanyeol memberikan gigitan pertama kepada burger di tangannya. "Tetapi cinta juga memiliki tingkatan-tingkatan"

"Jelaskan padaku" Jongin menuntut.

"Tingkatan pertama adalah ego karena tertarik, ya itu, kau ingin memilikinya. Tingkatan kedua adalah kau mencintainya, jadi kau ingin dia bahagia, itu pun juga terbagi menjadi dua; ketika egomu mengatakan bahwa kebahagiaannya ada di tanganmu, dan yang satu lagi adalah cinta yang sesungguhnya. Kau bisa menerima jika dia bahagia meski itu bukan bersamamu"

"Maksudmu rela tersakiti seperti itu?"

Chanyeol mengunyah sambil mengangguk –untuk menjawab pertanyaan Jongin. Mahasiswa yang paling tinggi di antara ketiganya itu menelan kunyahannya. "Maka dari itu terkadang jika kita masih memerhatikan mantan kekasih kita, bahkan masih merasa cemburu, bisa jadi itu hanya rasa ingin memiliki yang masih tertinggal karena terbiasa ada di sana. Bukan cinta"

DEG.

Sehun yang sedari tadi sebenarnya tidak terlalu memikirkan secara serius cerita Chanyeol –pikirannya sedari tadi terfokus pada perasaannya yang kacau–, kini serasa diberi kejutan listrik oleh alat pemacu jantung.

Apakah perasaanku terhadap Luhan yang kacau ini tidak hanya karena rasa bersalah tetapi hanya karena terbiasa?

"Hmm" Jongin menampilkan wajah kurang puas. "Tetapi, bukankah memperjuangkan juga tidak salah? Misalnya, aku menyukai seseorang dan aku tahu dia menyukai orang lain, tentu dia akan bahagia jika bersama orang itu, bukan aku. Lalu apakah aku tidak boleh berjuang?"

Chanyeol terlihat berpikir. "Tadi tidak ada yang menanyakan itu kepada dosenku sih, tetapi kurasa kau boleh saja berjuang, asalkan tidak memaksa. Misal, kau menyukai seorang gadis yang sudah punya kekasih, lalu kau membunuhnya...eh tidak, terlalu ekstrim. Hmmm, menjebak kekasihnya dengan entah cara apa mungkin, yang jelas lewat jalan yang tidak benar, itu namanya memaksa. Kau bisa tetap berada di sampingnya, memerhatikannya, selalu membuatnya tersenyum, itu semua juga berjuang"

"Yang penting adalah–" laki-laki bermarga Park itu menambahkan sembari menunjuk Jongin dengan burgernya yang tinggal setengah kurang, "–jangan egomu yang mengendalikan perjuanganmu"

"Aku memang tidak suka jika dia bersama orang lain, aku cemburu" baik Chanyeol dan Sehun menoleh ke arah Jongin. Jongin menyukai seseorang?, setidaknya itulah penyebab mengapa mereka sekarang menaruh atensi lebih kepada Jongin. "Tetapi aku yakin aku bisa membahagiakannya, dia tidak terpaksa, dan aku yakin bukan egoku yang mengendalikannya"

Tatapan sejenak Jongin kepada Sehun sesudah mengatakannya meninggalkan tanda tanya yang besar dalam kepala Sehun.

Tatapan yang sama seperti ketika dia menjemput Luhan yang menyusul Sehun di malam hujan badai itu.

Sehun ... tidak menyukai tatapan itu.

Tetapi dia tidak tahu mengapa.

Lebih tepatnya, dia takut mengakui alasannya.

Luhan.


First and Second


Sehun mengira dia tidak akan bertemu Luhan lagi setelah hari mereka memperjelas status mereka.

Ternyata dia salah.

Ternyata ada Luhan di tempat part time yang dimaksud Jongin –ketika menanyakan perihal pekerjaan paruh waktu di bar.

Sekarang Sehun hanya bisa berdiam dan berulang kali meyakinkan dirinya, bahwa perasaan tidak nyaman saat dia melihat Jongin dan Luhan berdebat saat ini adalah karena masih merasa bersalah pada Luhan.

Bukan karena cemburu, karena dia jelas masih mencintai Nana. Sehun yakin itu.

Bruk.

Sehun melihat Luhan yang menindih Jongin. Membuatnya berdeham secara otomatis.

Wajar bukan jika dia merasa tidak nyaman melihat posisi intim seperti itu?

Wajar bukan?

.

Sehun dan Jongin menari berdua, menyesuaikan lagu yang dinyanyikan Luhan. Jongin dan Sehun terbiasa menari bersama, jadi tidak ada masalah bagi mereka untuk menyesuaikan masing-masing gerakan meskipun mereka belum berlatih sebelumnya.

"Dan aku tidak pernah bermaksud untuk jatuh cinta, tapi aku melakukannya~"

Sehun bisa melihat bagaimana Luhan dan Jongin saling bertautan lewat pandangan mata mereka masing-masing.

Sehun merasa ingin berhenti menari.

Bukan, Sehun yakin bukan karena cemburu. Tetapi karena melihat orang berlovey-dovey di depannya. Tentu karena itu, bukan?

"Dan kau tidak pernah bermaksud untuk balik mencintaiku~"

Laki-laki berkulit tan itu menari mendekati Luhan. Sampai mereka berdua berhadapan.

Jongin mengambil mic itu dari Luhan. Luhan hanya bisa terpaku. Dan Sehun hanya bisa melihat mereka berdua dalam diam.

Tidak ada yang sadar Sehun sudah berhenti menari dan terfokus pada pemandangan di depannya.

"Jangan katakan kau tidak balas mencintaiku, karena kau tahu kau melakukannya~", Jongin melanjutkan nyanyiannya.

Sehun bisa melihat senyuman Luhan. Sehun bisa melihat tatapan mata Jongin. Sehun bisa merasa bahwa kini mereka berdua sedang berada dalam dunia mereka sendiri.

"Tidak, aku tidak bermaksud untuk balik mencintaimu tapi aku melakukannya"

Sehun meninggalkan panggung itu dalam diam. Dan segera menghubungi Nana.


First and Second


"Sehun, kau sedang memikirkan apa?"

Sehun sedang menatap langit senja di apartemen Nana ketika kekasihnya itu memeluknya dari belakang.

Sehun berbalik, memberi Nana senyuman kecil. "Aku tidak sedang memikirkan apapun"

"Jangan bohong Sehun" ucap gadis itu setelah menghela napas kecil. "Sudah nyaris berbulan-bulan ini kau selalu merenung. Apakah kau tidak ingin memberitahuku ada apa?"

Sehun diam. Tidak mungkin bukan dia mengatakan 'Ada yang aneh mengenai Luhan'. Lagipula, yang aneh bukan Luhan, tetapi dirinya.

"Sehun..."

Laki-laki itu segera tersadar bahwa untuk beberapa waktu dia mendiamkan Nana.

"Maaf" Sehun mengusak rambut kekasihnya. "Aku juga tidak tahu ada apa dengan diriku"

Sehun tidak sepenuhnya berbohong, toh dia memang tidak mengerti.

Tidak mengerti kenapa dia masih saja bersikap seperti ini jika berhadapan dengan Luhan.

Sehun dulu bisa saja terus menyangkal bahwa semuanya karena rasa bersalah, karena dia mencintai Nana, bukan Luhan.

Tetapi Sehun tidak mengerti.

Sehun merasa bahwa dia sedang berdelusi.

Tetapi kenapa?

Bukankah dia memang mencintai Nana?

Sampai detik ini pun dia masih tidak akan tega membuat Nana bersedih. Dia selalu ingin Nana bahagia.

Bukankah itu cinta?

Tetapi kenapa dia juga merasakan sesuatu yang tidak wajar setiap dia bersama Luhan?

"Ya sudah, aku mencintaimu" Nana berjinjit, memberi kecupan pada Sehun di bibir laki-laki itu.

Sehun terdiam, sebelum membalas ciumannya sebentar, kemudian melepasnya dan tersenyum kecil. "Aku juga mencintaimu"

Cinta itu–

–sebenarnya apa?


First and Second


"Ini hari keduamu ya" Minseok melemparkan senyuman, Sehun juga membalasnya dengan senyuman tipis. "Omong-omong, kenapa kau ingin bekerja part time huh? Ingin belajar bekerja?"

"Itu juga iya" Sehun menganggukkan kepalanya. "Tapi alasan utama karena uangku habis untuk membelikan kekasihku ini dan itu"

Ketidaksanggupannya mengatakan "Tidak" kepada Nana –meskipun Sehun saja yang berlebihan, gadis itu sesungguhnya tidak pernah memaksa– membuat Sehun harus mencari pekerjaan sambilan.

Minseok tertawa. "Tapi setimpal bukan?"

"Hm"

Sehun mengingat kembali betapa manisnya wajah Nana setiap dia memberikan sesuatu kepadanya sebagai hadiah, meskipun itu kerap membuatnya kesulitan membayar apartemen yang dia bagi bersama Luhan.

Memang sekarang dia tidak tinggal bersama Luhan lagi. Tapi tetap saja dia harus tahu diri dan membayar apartemen yang ia tinggali bersama Nana.

Sehun tersenyum, karena sekali lagi dia dibuat yakin bahwa dia memang mencintai Nana. Apapun perasaan yang Sehun rasakan jika berhadapan dengan Luhan hanyalah karena rasa bersalah. Apapun yang dirasakannya ketika melihat interaksi antara Jongin dan Luhan, hanyalah karena Sehun memang tidak suka melihat adegan romantis di depan umum.

Tidak lebih.

"Benar. Seperti itu" dalam hati, Sehun meyakinkan dirinya.


First and Second


Hari demi hari berlalu. Dan Sehun semakin tidak yakin.

Dia sudah berusaha menghindari Luhan –aneh memang mengingat Luhan sendiri tidak pernah mendekatinya.

Sehun merasa dirinya kebingungan. Merasa dirinya tidak masuk akal.

"I thought you would be okay, but seems like you're getting worse instead"

Sehun tersentak –kepalanya segera menengadah menjauh dari buku-buku yang menjadi bantalnya–, dan dia bisa melihat Chanyeol yang duduk di sampingnya. Mereka berada di perpustakaan sekarang.

"I'm actually okay"

"Tidak usah berbohong Sehun, katakan saja ada apa"

Sehun menjilat bibir bawahnya sekali, sebuah gestur jika dia sedang memikirkan sesuatu. Chanyeol tahu itu.

"Katakan saja, aku tidak akan menghakimimu"

Sehun menghela napasnya. Dia butuh seseorang untuk bercerita. Dan dia tidak mungkin bercerita kepada teman ceritanya yang biasa, Luhan, karena sosok itulah sendiri yang menjadi sumber masalah Sehun –oh, tidak, Sehun sama sekali tidak menuduh Luhan membuatnya bermasalah, hanya saja ... kalian tahu maksudnya bukan?

"Sebenarnya–" Sehun menerawang ke buku-buku yang sama sekali tidak dia baca. "–cinta itu apa?"

Sebelum Chanyeol sempat memberi respon, Sehun melanjutkan. "Jika kau tidak ingin menyakiti seseorang, ingin dia selalu berbahagia, bukankah itu cinta? Jika kau tidak suka seseorang yang membuatmu nyaman bersama dengan orang lain, tidakkah itu juga cinta?"

Chanyeol menyandarkan tubuhnya pada kursi yang dia duduki. Dia menatap Sehun dengan serius. "Hm, keduanya bisa saja bukan cinta, malahan"

"Yang pertama mungkin cinta, tapi bukan cinta yang kau maksud. Mungkin itu hanya rasa sayang seperti dirimu kepada keluargamu. Yang kedua mungkin cinta, tapi bisa saja itu juga hanya rasa memiliki, rasa takut kehilangan seorang kawan baik misalnya, itu bukan cinta" jelasnya menambahkan.

"Aku tidak mengerti"

Chanyeol menahan bahu Sehun yang hendak menelungkupkan dirinya ke buku-buku itu lagi. "Begini saja, sekarang tutup matamu"

Sehun menurutinya.

"Bayangkan seseorang memanggil namamu"

Sehun membayangkan seseorang memanggil namanya.

"Seseorang itu selalu berhasil membuatmu ikut tersenyum jika dia tersenyum. Bayangkan suara tawanya yang seperti melodi di telingamu"

Chanyeol tersenyum puas melihat Sehun yang tersenyum kecil.

"Bayangkan ketika kalian bercanda, ketika kalian bertukar cerita, ketika kalian melakukan aktivitas bersama, dan kau merasa lengkap"

Senyum Sehun masih di sana, Chanyeol bisa melihatnya.

"Jika hanya saling menatap, jika hanya hanya berbaring berdua dalam keheningan, apakah kau tetap merasa bahagia?"

Chanyeol mendapati Sehun mengangguk. "Ya"

"Kau tidak suka melihat dia bersama yang lain. Kau merasa tidak nyaman jika dia terlihat melebih-spesial-kan orang lain. Kau ingin kau yang menggenggam tangannya dan menuntunnya di jalan yang kau ingin kalian bangun bersama"

Sehun mengangguk, namun kali ini tanpa suara.

"Tetapi yang paling penting, kau selalu ingin dia bahagia. Kau selalu ingin melihat dia rileks, melihat dia tertawa lepas. Kau akan merasa bersalah jika menyakitinya, rasanya napasmu akan sesak, dipenuhi rasa tidak enak ketika kau melihat wajahnya yang terluka. Semua itu bukan karena kasihan, tetapi karena kau membentuk wajah itu pada wajah yang seharusnya kau bahagiakan"

Sehun terdiam.

"Sekarang buka matamu"

Sehun membuka matanya, melihat Chanyeol yang mengangguk-angguk.

"Orang itulah yang kau cintai"

Sehun terdiam.

"Yang kau bayangkan adalah orang yang kau cintai" Chanyeol mengatakan dengan senyuman meyakinkan. "Kau membayangkan Nana, bukan?"

Chanyeol memalingkan wajahnya ke arah jendela perpustakaan yang menampilkan senja. "Itu karena kau mencintai Nana, yang pertama kali muncul adalah dia"

Sayangnya Chanyeol tidak bisa melihat raut wajah Sehun yang tegang.

Di luar ekspetasi laki-laki bermarga Park itu, jauh di dalam benak Sehun, justru tidak ada keyakinan sama sekali.

Tidak ketika dirinya menyadari satu hal.

Bahwa yang dia bayangkan sedari tadi adalah–

Bukan Nana.

–Luhan.


First and Second


Sehun sadar akan suatu hal sekarang.

Ada perbedaan antara mencintai dan ingin memiliki.

Ada perbedaan antara mencintai dan takut kehilangan.

Ada perbedaan antara mencintai dan terbiasa.

Juga, ada perbedaan antara mencintai dan mengasihani.

.

Sehun tidak tega menyakiti Nana, itu benar.

Sehun selalu ingin Nana tersenyum, itu kenyataannya.

Tetapi Nana tidaklah menjadi pemegang cintanya.

Sehun lebih seperti mengasihaninya.

Karena Sehun dulu terbiasa mengusahakan segala cara agar Nana bahagia.

.

Dan, kenyataan yang lain tetaplah ada.

Bahwa sejatinya, ikatan cinta antara dirinya dengan Luhan itu tidak pernah berhasil dia lepas.

Bahwa sebenarnya, Nana tidak pernah menjadi pilihan kedua.

Bahwa sesungguhnya, selama ini hanya ada Luhan di dalam hatinya.

Dan tetap selalu Luhan yang menempatinya.


To Be Continued


Sudah tiga bulan tidak diupdate. Mohon maaf atas ketidakprofesionalan saya sebagai penulis.

Tidak perlu dijelaskan alasannya, banyak hal sebenarnya, dan sebenarnya pula hanya berputar-putar pada waktu, Writer Block, dan juga kehidupan nyata yang tidak bisa ditinggalkan.

Sekali lagi, saya akan pergi. Sampai bertemu akhir September. Dan saya akan berusaha keras agar saat kita bertemu kembali tiba, saya tidak akan semolor ini. Saya tidak bisa berjanji, namun yakin saja saya akan berusaha.

And ... thank you very much for reviewers, followers, and favoriters!

Sekali lagi mohon maaf atas keterlambatan update n(_ _)n

hunchanhan | Telekinetics726 | mischa baby | Seravin509 | wollfdeer520 | ParkNada | Park Sena | Double Kim | Jonglu | keziaf | Arifahohse | lzu hn | nuruldfana | tjabaekby | Menglupi | Rin SNL | shend | ludeer | Balqis | Sehan | SebutLuhan3x | 07VA

So,

Mind to review?