"Mau pulang?" tanya Mingyu begitu melihat Wonwoo berdiri dihalte bus.
Wonwoo menoleh sebentar kemudian mengangguk dengan senyum tipis terukis diwajahnya.
Mingyu menyukai senyum Wonwoo. Ia menyukai sikap Wonwoo yang acuh namun hangat. Wonwoo akan terlihat manis jika seperti itu.
"Mau pulang bersama?"
"Memangnya kau tidak latihan basket?" tanya Wonwoo penasaran.
Mingyu menggeleng, "Hari ini libur."
Wonwoo kembali tersenyum, "Tapi belikan aku es krim coklat dikedai biasanya, ya?"
Mingyu terkekeh. Wonwoo akan seperti itu jika sedang bersamanya. Jika diluar terlihat acuh, namun Wonwoo memiliki sifat manja yang hanya ditunjukkan Mingyu.
Lelaki itu mengacak pelan helaian rambut Wonwoo, " Apapun untukmu."
...
...
PANTOMIME
Kim Mingyu, Jeon Wonwoo
Angst, OC, GS!
...
Kim Jong Soo 1214
...
Present
...
Jeonghan menatap Wonwoo penuh kebencian. Sedangkan Wonwoo menatap Jeonghan datar tanpa ekspresi berarti.
Seungkwan dan Jihoon hanya terdiam, tak ada niatan memutus tali kasar tak kasat mata yang tercipta antara mereka berdua. Mereka tahu jika ini akan menjadi hal rumit dan panjang. Karena mereka tak hanya menyeret masalalu, namun juga orang tua mereka masing-masing.
"Belum cukup kau menyakitiku?" Jeonghan bertanya dengan tekanan dikalimatnya.
Wonwoo belum merubah ekspresi. Ia lebih memilih diam, melihat bagaimana keadaan yang akan membuatnya kembali terjatuh.
"Tak bisakah kau membiarkanku pergi dari masalahmu? Harus berapa kali aku melakukan ini agar kau mengerti!" Jeonghan meninggikan volume suara hingga membuat Seungkwan memejamkan matanya takut. Jeonghan tak pernah berbicara sekeras itu sebelumnya. Ya, Seungkwan cukup tahu siapa Jeonghan.
"Mengapa kau membuat masalah semakin rumit, Jeon Wonwoo! Kau membuat kami terpecah karena ulahmu. Dan sekarang..." Jeonghan tak melanjutkan. Airmata sudah cukup berkumpul dikelopak mata yang menahan suaranya agar tak lolos begitu saja. Pandangan yang semula jernih, menjadi buram secara perlahan.
Mereka terdiam dalam keheningan. Berkutat pada pemikiran masing-masing tanpa ada yang memulai kembali bersuara.
"Kau pikir hanya dirimu yang sakit?" ucap Wonwoo pada akhirnya.
Jihoon menatap Wonwoo dalam diam. Ia menangkap raut datar Wonwoo mulai berubah. Selama ini Wonwoo hanya akan diam tanpa suara ketika mereka memperlakukan Wonwoo dengan tak baik, tapi kali ini suasana begitu berbeda.
"Kau pikir hanya dirimu yang terluka?" Wonwoo kembali berkata lirih. Bahkan hampir tak terdengar jika jarak mereka sedikit lebih jauh.
"Jadi kau menyalahkanku? Kau menyalahkan semua tidakan ini kepadaku? Dimana hatimu?!" Jeonghan kembali berteriak. Ia kesal. Ia juga marah. Hanya melihat wajah Wonwoo saja, membuat dirinya tak dapat mengontrol emosi.
"Haruskah aku membelikanmu cermin untuk semua drama yang kita mainkan?"
Jeonghan menggeleng tak percaya dengan apa yang baru dilontarkan Wonwoo. Dengan emosi yang sudah meluap Ia berjalan mendekati gadis itu, mengangkat tangannya untuk memukul pipi Wonwoo sekuat tenaga.
Plak!
Wonwoo terhuyung kesamping. Kepalanya menoleh kekiri seiring tamparan keras itu menyapa pipinya.
Jihoon memejamkan mata ketika tangan Sengkwan menggenggam lengannya kuat. Ia tak sanggup melihat bagaimana kasarnya Jeonghan pada Wonwoo kali ini.
"Brengsek kau!" teriaknya pada Wonwoo.
Wonwoo kembali menatap wajah Jeonghan dalam diam. Raut datarnya yang tak menunjukkan suatu ekspresi membuat Jeonghan semakin marah dibuatnya.
"Atau perlu aku menunduk untuk kembali memohon padamu, Yoon Jeonghan!" ucap Wonwoo penuh tekanan tanpa merubah ekspresi datarnya.
Jeonghan menatap benci, "Berlutut dan cium sepatuku jika itu bisa membuat keadaan kembali seperti dulu."
"Yak!" suara yang begitu Wonwoo hafal. Berteriak kencang membuyarkan ketegangan yang sedang terjadi diantara kedua gadis itu. Seorang lelaki berwajah tegas dengan langkah mantab berjalan kearah mereka.
Lelaki itu berdiri tepat didepan Wonwoo, menghadang Jeonghan dan menatap kedalam dua mata gadis itu lekat-lekat.
"Belum puas kau, Yoon Jeonghan?" tanya lelaki itu penuh tekanan.
"Wae? Kau ingin membelanya?" Jeonghan tersenyum remeh.
"Aku tidak membela siapapun. Hanya saja sikapmu sudah semakin keterlaluan. Seseorang yang bersalah memang pantas mendapat hukuman, tapi bukan seperti ini caranya!"
Jeonghan tertawa lebar, tawa hampa sebenarnya, namun hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menanggapi perkataan Seungcheol.
"Lalu seperti apa? Membunuhnya seperti yang dia lakukan pada Ayahku?"
Seungcheol mengepalkan tangannya kuat. Jika ia tak ingat bahwa yang didepannya adalah seorang gadis, maka sudah dapat dipastikan kepalan tangan itu meluncur bebas kewajah Jeonghan.
"Oppa" Wonwoo memegang kepalan tangan Seungcheol pelan. Ia merasa jika lelaki itu akan meledak sebentar lagi jika Wonwoo tak melakukan sesuatu. "Biar aku yang menyelesaikannya sendiri."
Seungcheol menoleh kebelakang, kearah Wonwoo yang sudah mulai merubah ekspresinya.
Jeonghan tersenyum miring, begitu lucu menyaksikan drama picisan murahan seperti itu.
"Tak ada yang perlu diselesaikan" Seungcheol berkata tegas kemudian kembali menatap Jeonghan, "Tak ada gunanya menanggapi manusia tak tahu malu sepertinya. Biarkan dia. Biar dia terkurung dendam yang akan membuatnya mati secara perlahan." kemudian Seungcheol menggenggam tangan Wonwoo dan menariknya untuk pergi meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Jeonghan yang kini berdiri kaku ditempatnya.
'Oppa...'
...
...
Wonwoo meremas ujung roknya kuat-kuat. Dadanya bergetar hebat mengingat beberapa menit yang lalu dirinya bersahutan kata dengan Jeonghan. Ia tak menyangka jika berbicara pada gadis itu akan menjadi momen yang menakutkan. Ucapan Jeonghan mengenai Ayahnya selalu membuat Wonwoo semakin terjatuh sampai kedasar. Jeonghan banyak berubah, begitupun dirinya. Bahkan sesuatu yang pernah mereka janjikan bersama seolah lenyap hanya karena kesalahpahaman Jeonghan terhadapnya.
Wonwoo tak tahu jika pada akhirnya masalah akan menjadi rumit seperti ini. Selama ini Wonwoo hanya diam, berharap keadaan akan membaik seiring waktu bergulir. Tapi nyatanya keterdiaman Wonwoo justru memperburuk keadaan.
"Tak seharusnya kau berkata seperti tadi." Seungcheol duduk disebelah Wonwoo setelah memberikan minuman kaleng pada gadis itu.
Wonwoo menghela napas dalam-dalam, menunduk mengamati minuman dingin yang berada didalam genggamannya tanpa suara.
"Itu bukan sepenuhnya kesalahanmu, Wonwoo-ya."
Seungcheol menoleh kearah Wonwoo sekilas kemudian membuang muka setelah menangkap raut hampa dari gadis itu.
"Oppa." Wonwoo berkata lirih.
Seungcheol kembali menoleh namun tak menjawab panggilan itu.
"Biarkan aku sendiri yang mengatasinya."
"Dan melihatmu kembali dipukul berulangkali oleh Jeonghan? Atau melihatmu kembali basah oleh air sisa pel? Tidak." tegas Seungcheol.
"Kau hanya akan memperburuk keadaan." Wonwoo berkata sedikit bergetar. Seungcheol tahu itu. Wonwoo tak pernah selemah ini. Wonwoo tak pernah menahan tangis sekeras ini.
"Tapi-"
Ucapan Seungcheol terhenti ketika tiba-tiba Wonwoo berdiri dari duduknya. Gadis itu tetap menunduk, menyembunyikan guratan yang sulit ditebak oleh Seungcheol.
"Jangan datang lagi. Biarkan aku menyelesaikannya sendiri." kemudian Wonwoo berjalan meninggalkan Seungcheol yang menatapnya kecewa.
...
...
Mingyu duduk melamun dipinggir lapangan basket. Melihat Seokmin juga Soonyoung mendrible bola berwarna orange tanpa niatan bergabung bersama mereka. Mingyu menyunggingkan senyum ketika kedua sahabatnya itu saling mencela demi dapat merebut bola. Begitu pandangannya mengedar, secara tak sengaja mata tajam Mingyu menangkap sosok gadis berwajah sedingin es tengah duduk tak jauh dari tempatnya. Mingyu terdiam ketika pandangan mereka bertemu. Seolah ingatan buruk itu kembali berkelebatan didalam kepalanya.
"Jangan bergerak kalian!"
Disana, Mingyu menatap Wonwoo dengan tatapan yang entah mengapa membuat dadanya sesak. Ia tak mengerti apa alasannya, namun hal itu selalu ia rasakan sejak saat itu.
"Aku mohon jangan sakiti Ayahku, hiks..."
Sedangkan Wonwoo menatap Mingyu datar. Mingyu juga tak tahu apa yang membayangi gadis itu hingga ia masih bisa menatapnya.
"Jangan bertindak bodoh, Jeon Wonwoo!"
Yang Mingyu tahu, mereka tak lagi saling menyapa.
"Maafkan aku, Mingyu..."
Yang Mingyu tahu, sudah tak ada lagi senyum diantara mereka berdua.
"DOR!"
Mingyu terkesiap ketika sebuah tangan memegang pundaknya pelan.
"Melamun?" tanya seorang gadis cantik dengan senyum mengembang diwajahnya.
Mingyu mengalihkan tatapannya dari Wonwoo kemudian beralih menatap Jeonghan, lalu menggeleng pelan.
"Boleh aku duduk?" tanyanya, dan kemudian dibalas anggukan kecil dari Mingyu.
Jeonghan tersenyum lebar sebelum akhirnya duduk tepat disamping Mingyu.
Tak tahu saja, jika seorang gadis berwajah datar masih mengamati Mingyu sedari tadi. Mengamati bagaimana Mingyu tersenyum selain padanya. Tak apa, memang itulah resiko yang harus Wonwoo tanggung atas semuanya.
...
...
Dugh!
"Akh!"
Wonwoo memekik kecil ketika lututnya menyentuh lantai kelas. Seorang gadis yang baru saja menjegalnya tersenyum miring, "Mian. Tidak sengaja." kemudian berlalu pergi bersama beberapa teman gadisnya begitu saja.
Wonwoo menghela napas panjang sebelum akhirnya berdiri dari posisi bersimpuhnya tanpa bantuan. Ia berjalan terpincang menuju bangkunya karena lutut yang tadi bersentuhan dengan lantai memerah dan lecet. Wonwoo sudah biasa seperti ini. Bahkan jika mereka melakukannya setiap menit, Wonwoo tak akan protes ataupun berteriak marah. Untuk apa? Toh imejnya sudah rusak sedari dulu. Mau membela dirinya pun tak akan ada orang yang mendengar. Untuk itu Wonwoo lebih memilih diam, dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa padanya.
"Sudah berapa kali kubilang, berhati-hatilah." bersamaan dengan kalimat itu, sebuah plester bergambar panda jatuh diatas mejanya. Wonwoo mengangkat kepala dan mendapati Jihoon yang menatapnya dingin.
"Aku punya sisa satu. Itu untumu." kemudian Jihoon melangkah pergi sebelum Wonwoo sempat mengatakan sesuatu padanya.
Wonwoo memandang punggung kecil itu hingga menghilang dibalik pintu kelas. Kemudian mengalihkan pandangannya pada plester panda pemberian Jihoon diatas meja. Wonwoo menatapnya dalam-dalam, hingga tanpa sadar senyum tipis terbentuk dari bibirnya.
"Gumawo, Jihoon-ah"
...
...
"Sudah menemui Mingyu?" tanya Seungkwan begitu melihat Jeonghan menghampirinya. Jeonghan mengangguk sambil tersenyum, kemudian menyamakan duduknya disebelah Seungkwan.
Seungkwan menghela napas panjang yang membuat Jeonghan menatap khawatir.
"Kau baik-baik saja?" tanya Jeonghan pelan.
Seungkwan tak langsung menjawab. Ia memilih menengadahkan kepalanya untuk menatap pohon maple yang daunnya mulai berguguran.
"Aku rasa kau sedikit keterlaluan tadi." ucap Seungkwan akhirnya. Mata bulat gadis itu menerawang kelangit, menghindari tatapan Jeonghan yang akan membuatnya goyah.
"Apa maksudmu?"
Setelah pertanyaan itu Seungkwan mulai mengalihkan tatapannya pada Jeonghan, "Yang tadi."
"Masalah Wonwoo?"
Seungkwan mengangguk, "Kau tak seharusnya memukul Wonwoo sekeras itu."
Jeonghan meremas rumput yang berada dibawahnya. Posisinya yang duduk berselonjor disamping Seungkwan tiba-tiba merasa tak nyaman.
"Ada apa denganmu? Bukankah selama ini kita sering melakukannya dengan cara yang sama?"
"Tapi yang aku tahu kau akan berhati-hati meskipun tanganmu memukulnya. Kau tak pernah seperti ini sebelumnya, Jeonghan."
Jeonghan tersenyum miring, "Apa kau mulai menyalahkanku atas tindakan kita selama ini?"
Seungkwan hanya diam, ia tahu tatapan yang Jeonghan berikan padanya bukan tatapan yang seperti biasa. Entahlah, Jeonghan menjadi lebih sensitif akhir-akhir ini.
Hening menyelimuti mereka untuk beberapa saat sebelum Jihoon datang dan bergabung ditengah-tengah mereka.
"W-wae? Atmosfir macam apa ini?" tanya Jihoon setelah menyadari ada sesuatu yang terjadi diantara kedua sahabatnya.
Seungkwan dan Jeonghan saling membuang muka, menghindari interaksi diantara keduanya.
"Apa aku ketinggalan sesuatu? Ada apa?" tanya Jihoon lagi setelah tak mendapatkan respon.
Hening kembali menyelimuti. Suasana menjadi kaku secara tiba-tiba. Hingga deheman dari Seungkwan memecah keheningan itu.
"Kau sudah menemui Hong Seonsaem?" tanya Seungkwan. Jihoon mengangguk pelan untuk meresponnya.
"Bagaimana hasilnya?" Jeonghan menyahut.
"Kita boleh menjenguknya besok. Hong Seonsaem bilang, kita kesana sehabis pulang sekolah saja, karena waktu berkunjung tutup setelah petang."
Jeonghan mengangguk, begitupun Seungkwan. Kemudian hening kembali menyelimuti.
Tak tahu saja jika didalam hati mereka merasa kosong satu sama lain. Sudah tak ada lagi candaan seperti dulu. Mereka menjadi kaku meskipun setiap hari bersama.
...
...
Mingyu berjalan perlahan menyusuri jalanan sepi sore itu. Dari kejauhan matanya tak lepas dari sosok gadis berambut panjang bergelombang yang juga tengah berjalan didepannya. Mingyu tahu ini bukan jalan kearah rumahnya, tapi ia ingin saja. Ia ingin mengawasi gadis itu hingga ia sampai dirumah.
Entah mengapa setiap kali Mingyu melihat gadis itu perasaanya selalu berkecamuk. Dulu, dirinya dan juga Wonwoo sering memiliki waktu bersama menyusuri jalan ini. Memakan es krim coklat yang mereka beli sambil sesekali melontarkan candaan. Tapi sekarang? Lihatlah, bahkan jarak mereka berjalan terpaut lebih dari 5 meter jauhnya.
Mingyu menghentikan langkah ketika Wonwoo juga berhenti berjalan. Matanya yang tajam mengawasi setiap gerakan Wonwoo. Gadis itu duduk disebuah bangku kayu dibawah pohon sakura kemudian menunduk dalam. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Wonwoo, namun melihat pipi Wonwoo memucat membuat Mingyu sedikit khawatir.
Wonwoo memang seorang gadis yang dingin dan sedikit angkuh, Namun ia belum pernah melihat Wonwoo sepucat itu. Setahunya Wonwoo adalah gadis kuat dan bersemangat. Tapi kali ini...
"Haha... lihat dia."
Mingyu mengedarkan pandangan ketika mendengar suara tawa dari beberapa orang gadis. Mereka tampak sedang mengawasi Wonwoo dengan mata berkilat licik. Mingyu seolah tak peduli meskipun ia mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari gadis-gadis itu.
"Aku bertaruh dia akan pingsan sebentar lagi." ucap satu gadis yang terus menatap Wonwoo tak suka.
"Tentu saja, aku sudah memberinya seafood dimakanannya tadi siang. Dia begitu bodoh karena tak menyadarinya. Haha..." ucap gadis yang satunya sambil tertawa.
"Sebaiknya kita segera pergi sebelum ketahuan." mereka mengangguk setuju kemudian segera berlari berlawanan arah dengan Mingyu hingga menghilang dibalik bekolan jalan.
Mingyu mengarahkan pandangannya kepada Wonwoo kembali. Matanya menangkap gelagat aneh dari gadis itu. Satu tangan Wonwoo memegangi kepalanya dan satu tangannya yang lain memegang sandaran kursi erat-erat.
Mingyu kemudian teringat dengan percakapan gadis-gadis tadi mengenai seafood yang dimasukka ke dalam makanan Wonwoo. Mingyu masih begitu ingat jika Wonwoo memiliki alergi terhadap seafood.
Dan ketika matanya kembali fokus pada Wonwoo, Mingyu melihat Wonwoo terhuyung hampir terjatuh ketanah.
"Wonwoo!" gumamnya kemudian segera berlari menangkap tubuh Wonwoo yang sudah tak sadarkan diri.
...
...
Mingyu kembali membawa Wonwoo ke sekolah. Meminta bantuan pada petugas UKS untuk merawat Wonwoo dan membiarkannya istirahat. Mingyu panik bukan main. Kulit tubuh Wonwoo memerah. Meskipun petugas UKS bilang jika Wonwoo akan baik-baik saja tapi Mingyu tetap saja khawatir. Apalagi sekarang tubuh Wonwoo menghangat seperti sedang deman.
Mingyu duduk dibangku didekat brangkar Wonwoo. Melihat lamat-lamat wajah pucat gadis itu yang tertidur karena suntikan. Hari sudah hampir petang, dan Mingyu tak tahu mengapa dirinya masih bertahan disini dan melupakan acara pulang.
"Kenapa tidak makan?" tanya Mingyu suatu hari. Mereka sedang duduk disebuah cafe didekat sekolah sore itu.
Wonwoo menggeleng pelan, "Kau saja." lalu menyangga pipinya dengan kedua tangan kurusnya.
"Kenapa? Kau tidak menyukainya?" Mingyu mengangkat satu alisnya.
"Aku tidak bisa makan seafood, Mingyu. Kau saja yang habiskan." Wonwoo mengerucutkan bibirnya.
"Aku? Menghabiskan semuanya?" lalu Mingyu menatap seluruh hidangan yang berjajar rapi diatas meja, "Ini terlalu banyak, Wonwoo-ya. Aku mana bisa menghabiskannya sendiri."
"Salah siapa kau memesan tanpa bertanya dulu padaku? Aku mau pesan es krim saja. Kau habiskan itu semua, lalu bayar dengan uangmu sendiri. Aku tidak jadi traktir."
"Yak!"
"Hahahaha..."
"Jadi kau masih alergi seafood?" gumam Mingyu setelah kelebatan ingatan menyapa kepalanya.
Mingyu tak lagi berkata-kata, Ia hanya fokus pada wajah manis Wonwoo yang terlihat tenang dalam tidurnya. Sudah begitu lama, dan Wonwoo masih sama. Wonwoo masih cantik seperti dulu. Wonwoo masih membuat jantungnya bergetar meskipun gadis itu tak melakukan apapun.
Tanpa sadar Mingyu tersenyum. Senyum yang entah apa artinya.
"Kau bisa meninggalkannya jika sudah selesai." Mingyu tersentak kecil kala sebuah suara menggema, memudarkan senyum yang sempat terlukis tipis. Ia menoleh kearah pintu dan mendapati Seungcheol berdiri disana dengan wajah datarnya.
Tanpa menjawab perkataan Seungcheol, Mingyu segera berdiri dari duduknya, menyampirkan tas punggung kepundak kemudian mulai melangkah.
"Tanpa kau suruhpun aku juga akan pergi." kemudian Mingyu berjalan melewati Seungcheol tanpa menatap lelaki itu barang sedetik.
"Mingyu..." Mingyu berhenti melangkah ketika Seungcheol memanggilnya kembali, "Jangan pernah datang lagi pada Wonwoo." tegasnya.
Mingyu tak menoleh maupun merespon. Yang ia inginkan hanya segera meningalkan tempat itu. Tanpa mempedulikan ucapan Seungcheol. Tanpa mempedulikan Wonwoo. Tapi mempedulikan hatinya.
...
TBC
...
...
Hai Hai... Selamat sore...
Chapter 2 hadir nih :)
Kaget ya?
Jongsoo lagi gak sibuk hari ini, makanya bisa update cepet hehe...
Sebenernya Jongsoo nulis Vampire or Dog juga sih, tapi kepengen Update PANTOMIME dulu, wkwk /maapkan
Btw(1), kalian bingung gak sama alurnya? Kalo bingung boleh loh tanya-tanya dikolom riview :D
Btw (2), untuk pertanyaan Jongsoo kemarin ternyata banyak yang baca FF lewat ponsel ya? Bukan apa-apa, Jongsoo cuma pengen menyesuaikan banyak words nya aja disetiap chapter. Kadang-kadang kalau bacanya dari ponsel kan kesannya buanyak dan membosankan, makanya Jongsoo usahakan mempercepat alur cerita.
Btw(3), rencananya sih ini mau dibikin treeshot doang, tapi kayaknya akan lebih dari 3 chapter mengingat rumitnya permasalahan disini /dasarauthorlabil
Big Thanks to :
seira minkyu, lulu-shi, ayyPD, GameSMl, DevilPrince, iamjcks, jeonbeaniewoo, aku si jodoh mingyu, jeonwow , Guest, Amux, MeanieOhmToey, Beanienim, Guest, J. Jongkok, aliciab.i , zarrazr, , kianaevellyn, yuniawijayanti2002, rakahmada
Mian kalo ada yang belum kesebut. Jongsoo sayang kalian :):)
