Waktu menunjukkan pukul 2 malam ketika Wonwoo mulai bergerak gelisah.
"Wonwoo takut, Yah... hiks."
Matanya semakin terpejam erat.
"Tenang sayang, Ayah disini... Ayah disini..."
Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.
"Aku akan menembak jika kalian tidak melepaskan Ayahku!"
Kaki gadis itu menendang tak tentu arah, hingga selimut yang semula menutupi tubuhnya terkesiap begitu saja.
"Kau pembunuh, Jeon Wonwoo! Kau membunuh Ayahku! Kau pembunuh!"
"Tidak!"
Wonwoo terbangun setelahnya. Terduduk dengan wajah pucat bagai tak bernyawa. Dadanya bergetar hebat tiap kali kepingan mimpi itu datang. Wonwoo merasa sesak, hatinya sakit, ia kesepian. Wonwoo butuh pelukan, tapi kenyataan bahwa dirinya sudah tak memiliki siapa-siapa membuat Wonwoo hancur seketika.
Gadis itu meringkuk, memeluk lututnya erat-erat. Menenggelamkan wajah kusutnya dengan isakan luka yang menyiksa.
"Mingyu, hiks... Mingyu..."
Ya, hanya nama itu yang hingga sekarang masih selalu Wonwoo sebut. Wonwoo masih berharap Mingyu datang dan memeluknya, meskipun ia tahu bahwa sang pemilik nama sudah tak mungkin kembali padanya.
...
...
PANTOMIME
Kim Mingyu, Jeon Wonwoo
Angst, Bullying, GS!
...
Kim Jong Soo 1214
...
...
Present
...
...
Wonwoo berjalan tenang menuju kelasnya. Dengan wajah datar Wonwoo berusaha tak mendengar segala bisik yang timbul dari masing-masing kepala yang ia lewati. Moodnya sedang buruk pagi ini.
Wonwoo menatap bangkunya malas, menghela napas kasar ketika mendapati banyak sampah bertebaran dimejanya. Ia sedang lelah, dan 'mereka' tak pernah berhenti mengganggunya.
Gadis itu meletakkan tas gendongnya diatas bangku dan berniat berjalan kesudut kelas untuk mengampil sapu. Ketika Wonwoo berbalik, tak sengaja matanya bertemu dengan mata elang lelaki berkulit tan yang tengah duduk di bangku paling belakang. Lama mereka terdiam, hingga rasa perih itu kembali membungkus dada mereka masing-masing.
Bruk!
Wonwoo mengalihkan tatapannya, dan mendapati seorang gadis jatuh terduduk hingga menyebabkan beberapa buku yang gadis itu bawa betebaran dilantai.
Gadis itu memekik kala merasakan sakit pada lutut dan sikunya. Ia menatap marah pada Wonwoo kemudian segera bangkit dan mengumpat kesal.
"Sialan! Kenapa kau menjegalku, brengsek!" teriak gadis itu hingga membuat tiga gadis yang baru memasuki ruangan terdiam didepan pintu kelas.
Wonwoo mengerut, ia tidak merasa menjegal siapapun.
Set!
"Kenapa kau hanya diam?! Kau pikir jatuh itu tidak sakit, hah?"
Gadis itu menjambak kuat rambut panjang Wonwoo hingga pekikkan kecil mengalun darinya. Wonwoo meraba tangan gadis itu, berusaha melepaskan jambakan yang semakin membuat kepalanya sakit.
"Aku tidak menjegalmu." ucap Wonwoo dengan nada datar andalannya.
"Kalau bukan kau lalu siapa, hah? Hantu?! Tidak ada orang lain disini kecuali dirimu, jalang!"
Wonwoo menyentak kuat tangan gadis itu setelah ia berhasil melepaskan jambakan dirambutnya. Matanya menatap tajam penuh kebencian. Wonwoo tidak suka disebut jalang. Gadis itu sama sekali tidak tahu apa-apa tentangnya.
"Wae? Kau mau marah? Seharusnya aku yang marah, brengsek!"
Gadis itu mengangkat tangannya untuk memukul Wonwoo. Namun dengan cekatan Wonwoo menahannya. Menggenggam tangan gadis itu diudara dengan tekanan kuat disana. Gadis itu mendelik tak percaya, bagaimana bisa makluk hina seperti Wonwoo berani melawannya?
"Siapa yang kau sebut jalang?" Wonwoo bersuara tanpa tekanan, namun mampu membuat aura kelas menjadi berbeda.
Gadis itu gugup melihat perubahan pada raut wajah Wonwoo.
"Kalau aku bilang tidak menjegalmu, itu artinya aku tidak menjegalmu, Seolhyun-ssi." Wonwoo semakin mencengkeram kuat tangan Seolhyun, membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Kurang ajar!" Seolhyun berusaha memukul Wonwoo dengan satu tangannya yang lain, namun kalah cepat ketika Wonwoo memutar tubuh gadis itu dan mengunci pergerakkan tangannya dibelakang punggung Seolhyun. Hal itu menarik perhatian seluruh penghuni kelas, termasuk Jeonghan, Jihoon, juga Seungkwan yang masih terdiam didepan pintu. Pun Mingyu yang menatap dingin adegan tak biasa itu didepannya.
Seolhyun memekik keras karena Wonwoo mencengkeram lengannya terlalu kuat. Tangan Seolhyun terasa seperti terkilir saat itu juga. Begitu sakit.
Dengan wajah datarnya, Wonwoo mendekat kearah telinga Seolhyun, kemudian berbisik pelan.
"Jangan karena aku diam, kau bisa memperlakukanku sesuka hatimu, Seoulhyun-ssi. Kau tidak tahu siapa aku. Dan juga tuduhan konyolmu itu, semakin membuatku ingin tertawa. Kau bilang jalang? Kau yakin sebutan itu untukku?"
Perkataan Wonwoo membuat Seolhyun terdiam ditempat. Ia tak bisa berkata-kata lagi setelahnya. Hingga sebuah senyum miring tercetak jelas pada bibir Wonwoo.
"Jangan lagi menggangguku kalau kau tak menginginkan tanganmu patah, mengerti?!" kemudian Wonwoo mendorong kuat tubuh Seolhyun hingga gadis itu terhuyung kedepan.
Wonwoo berjalan keluar kelas, meninggalkan tanda tanya besar pada masing-masing kepala yang ada disana. Itu adalah kali pertama Wonwoo melawan, dan terlihat mengerikan ketika seringaian itu mencuat dari bibirnya.
Jeonghan, Jihoon, juga Seungkwan menatap Wonwoo dalam diam ketika gadis itu berjalan melewati mereka.
"Aku merasa familiar dengan situasi yang tadi."
Itu suara Soonyoung. Lelaki bermata sipit yang tiba-tiba datang memecah lamunan tiga gadis cantik didepannya.
"Maksudmu?" tanya Jihoon tak mengerti.
Soonyoung menghela napas sebentar, kemudian meletakkan lengannya pada pundak Jihoon pelan.
"Aku rasa, kepribadian Wonwoo yang dulu sudah mulai kembali. Wonwoo sangat keren." ucapnya dengan senyum lebar lalu menunjukkan ibu jarinya didepan wajah Jihoon.
Jihoon memutar bola matanya jengah, kemudian menghentak lengan Soonyoung yang masih bertengger dipundaknya.
"Ish! Dasar bodoh!" balas Jihoon kesal dan memilih berjalan menuju bangkunya diikuti Seungkwan juga Jeonghan kemudian.
Dari semua yang terkagum, ada satu orang yang merasa lega didalam dadanya. Seseorang berkulit tan dengan mata setajam elang disudut ruangan. Seseorang yang diam-diam tersenyum melihat perubahan pada seorang Jeon Wonwoo.
...
...
Prok prok prok!
Wonwoo menoleh kesisi lain ketika telinganya mendengar suara tepuk tangan. Begitu matanya mendapati seorang lelaki tampan berwajah tegas berjalan menghampirinya, Wonwoo kembali membuang muka. Menatap hamparan gedung bertingkat yang begitu indah jika dilihat dari atap sekolah.
"Kau senang?" tanya Wonwoo datar ketika lelaki itu berada disampingnya.
Seungcheol tersenyum lebar, kemudian mengangguk berkali-kali.
"Ish!"
Seungcheol terkekeh melihat wajah kesal Wonwoo. Lelaki itu tahu jika mood Wonwoo sedang tak baik. Karena Wonwoo tak seperti itu sebelumnya.
"Yang kemarin... terimakasih." ucap Wonwoo setelah beberapa saat hanya ada keheningan diantara mereka.
Seungcheol menatap Wonwoo dari samping, mengamati wajah manis Wonwoo yang semakin indah ketika helaian rambutnya bergoyang seirama angin, kemudian tersenyum lembut, "Sama-sama. Lain kali jangan makan seafood kalau kau tak menginginkan hal yang sama terulang kembali."
Wonwoo tersenyum tipis kemudian mengangguk pelan.
Seungcheol maih menatap wajah Wonwoo. Sudah begitu lama senyum seperti itu tak ia lihat. Dan ia merasa beruntung karena Wonwoo tersenyum untuknya.
Keheningan kembali menyapa. Wonwoo yang masih betah menatapi gedung-gedung berjajar rapi didepannya, juga Seungcheol yang sibuk dengan kebahagiannya sendiri.
"Oppa?" panggil Wonwoo pelan, menyadarkan lelaki itu agar kembali pada fokusnya.
"Em?"
Seungcheol menunggu kalimat yang akan keluar dari bibir tipis Wonwoo. Beberapa detik berlalu dan Seungcheol hanya melihat wajah ragu-ragu dari gadis itu.
"Kau yang membawaku pulang?"
Kalimat itu membuat Seungcheol diam ditempat. Ia tahu mengapa Wonwoo bertanya demikian. Wonwoo dapat merasakan kehadiran Mingyu kemarin. Dan fakta tak dapat membohongi keadaan.
"Tentu saja. Memang siapa lagi?" jawab Sengcheol setengah berbohong. Ya, meskipun bukan Seungcheol yang membawa Wonwoo ke UKS tapi memang Seungcheol yang membawa Wonwoo pulang.
"Benar. Siapa lagi yang peduli padaku selain kau." Wonwoo tersenyum kecut. Menyadari bahwa dirinya tak punya orang lain lagi selain Seungcheol.
"Jangan menekuk wajah seperti itu." Seungcheol menggenggam tangan Wonwoo lembut dan mengarahkan tubuhnya tepat didepan sang gadis, "Dengar, meskipun tak ada siapapun yang berada disisimu, aku akan selalu berada dipihakmu. Apapun yang terjadi, hanya percaya kepadaku. Mengerti?" Seungcheol tersenyum meyakinkan, membuat hati Wonwoo menghangat. Kemudian untuk beberapa detik, Wonwoo membalas senyuman itu. Tanpa mereka sadari, seseorang yang sedari tadi berdiri didepan pintu pembatas tengah menunjukkan raut kecewa yang luar biasa.
...
...
Jeonghan berdiri didepan gedung olahraga sore itu. Pelajaran jam terakhir akan segera usai, dan seseorang yang akan ia temui pasti muncul sebentar lagi.
Gadis itu meremat tangannya gugup, matanya mengedar untuk mengawasi sekitar. Setelah memastikan bahwa gedung olahraga sepi, barulah gadis itu melangkah kedalam.
"Bagaimana?" tanya Jeonghan setelah menemukan Seungkwan juga Jihoon berjongkok dibelakang kardus bekas dipojok ruangan.
"Apa kau yakin akan melakukan ini?" tanya gadis berpipi chubby itu ragu.
"Tentu saja. Aku harus memberinya pelajaran." ucap Jeonghan mantab. Seungkwan mengedikkan bahunya seolah tak ambil pusing, sedangkan Jihoon hanya mengikuti arus berjalan.
"Itu dia." ucap Seungkwan sambil menunjuk kearah seorang gadis yang memasang raut bingung ditengah gedung. Jeonghan mengambil posisi kemudian dengan cekatan tangan lentiknya menarik satu tali panjang yang menghubungkan dengan timba berisi air keruh sisa pel diatas sana. Gadis itu menariknya kuat hingga air yang ada didalam timba mengguyur tubuh seorang gadis dibawahnya.
Jeonghan tertawa lebar, begitupun Seungkwan. Namun Jihoon, menatap gadis itu tanpa ekspresi berarti.
Wonwoo, sang target sasaran menghela napas kasar merasakan tubuhnya basah oleh air berbau busuk. Rambut panjangnya yang tergerai sudah lepek tak indah. Pun seragam sekolahnya yang baru harus kembali kotor untuk kesekian kalinya.
Seharusnya ia tahu jika pesan singkat yang mengatasnamakan Lee Seonsaem pada ponselnya hanya sebuah lelucon.
"Itu balasan untukmu, Jeon Wonwoo." Jeonghan keluar dari persembunyiannya diikuti Seungkwan juga Jihoon.
Wonwoo masih diam ditempat tanpa merubah ekspresi datarnya. Bahkan ia hanya membiarkan bulir-bulir air menetes deras pada ujung rambut tanpa merasa risih sedikitpun. Ya, nyatanya Wonwoo sudah terbiasa dengan hal semacam ini.
"Wae? Kau tak ingin melawan seperti yang kau lakukan pada Seolhyun tadi pagi?" Jeonghan tersenyum remeh. Melipat tangannya didepan dada kemudian berjalan angkuh mendekati Wonwoo.
"Ya, Jeon Wonwoo. Lihatlah dirimu. Makluk hina yang masih berkeliaran seolah tak memiliki dosa. Begitu bodoh karena percaya pada pesan singkat yang mengatasnamakan Lee Seonsaem. Benar-benar jalang."
Wonwoo masih diam. Dingin yang mulai menyapa kulitnya tak ia hiraukan seiring hinaan dari Jeonghan menghentak keras dadanya.
"Aku heran, bagaimana bisa makluk tak berhati sepertimu bisa merebut perhatian semua guru disekolah ini. Jika saja kau tak banyak bicara pada Lee Seonsaem tentangku, kau tidak akan terkena masalah macam ini, bodoh!" Jeonghan mendorong pundak Wonwoo menggunakan ujung jarinya.
Gadis itu tersenyum miring melihat ekspresi Wonwoo yang hanya terdiam tak bergeming.
"Apa mungkin kau benar-benar jalang hingga Seungcheol pun mengalihkan perhatiannya padamu? Atau kau menggunakan tubuhmu untuk menarik perhatiannya, huh?" kali ini Wonwoo menatap marah pada Jeonghan yang masih angkuh berdiri didepannya.
"Dan Mingyu. Aku yakin dia menyesal karena pernah jatuh cinta pada seorang jalang sepertimu." Jeonghan mengucapkannya dengan nada mengejek, mencabik-cabik hati Wonwoo yang sudah hancur menjadi semakin tak berbentuk.
Wonwoo masih saja tak bergeming. Ia marah, sangat marah. Tentu saja, mendengar hinaan itu membuat luka didalam dadanya semakin dalam. Namun Wonwoo beruntung, karena sifat dingin yang melekat pada dirinya menjadi tameng kokoh untuk tak menyerang Jeonghan saat ini juga.
"Kau cemburu?" ucap Wonwoo pada akhirnya.
Jeonghan tersenyum miring, "Aku cemburu? Karenamu? Lucu sekali."
"Lalu?" Wonwoo membalas tatapan Jeonghan tak kalah tajam, "Kau melakukan ini agar aku menjauhi Seungcheol?"
"Uuuh... sepertinya putri yang terbuang ini memang benar-benar bodoh. Untuk apa aku membuatmu menjauhi Seungcheol jika aku memiliki Mingyu?" Jeonghan berucap dengan bangga.
"Begitukah?" Wonwoo tersenyum mengejek, membuat Jeonghan memudarkan senyumnya segera, "Jika kau tak cemburu seharusnya kau tak mengikuti Seungcheol hingga ke atap. Kau pikir aku tak tahu?"
Plak!
Wonwoo merasakan panas pada pipinya setelah perkataannya berakhir. Tidak terlalu kuat, namun tangan Jeonghan tepat mengenai lebam yang kemarin ia buat disana.
Seungkwan juga Jihoon kembali dibuat menganga. Jeonghan bilang ia tak akan memukul Wonwoo kali ini, tapi sepertinya Jeonghan ingkar pada janjinya.
"Berani sekali kau!" Jeonghan mendesis keras.
"Jadi itu benar?" Wonwoo semakin menatap tajam mata Jeonghan penuh ejekan.
"Jangan kurang ajar, dasar pembunuh!"
Jeonghan menunjuk wajah Wonwoo, sedangkan Wonwoo seakan tak terganggu akan hal itu.
"Kau selalu menyebutku pembunuh jika kau sudah terdesak. Benar-benar licik."
Plak!
Bugh!
Jeonghan sudah tak tahan hingga ia menendang Wonwoo kuat-kuat, mengakibatkan gadis itu jatuh tersungkur menimpa air kotor yang menggenang dibawahnya.
Sengkwan juga Jihoon segera mendekati Jeonghan ketika merasa suasana semakin memanas. Bahkan mereka tak habis pikir kalau Jeonghan akan menjadi semengerikan ini jika sedang marah.
Sengkwan menggenggam lengan Jeonghan pelan, kemudian berbisik, "Sebaiknya kita sudahi sampai disini. Kau sudah terlalu jauh, Jeonghan."
Jeonghan menoleh, menatap tajam pada Seungkwan, "Aku tidak bisa membiarkan seorang pembunuh berkata hal konyol seperti tadi, Sengkwan. Dia harus mendapatkan pelajaran!"
"Jeonghan!" Jihoon mengeram rendah membuat gadis itu mengalihkan pandangan padanya. Mata Jihoon berkilat, hingga Sengkwan meringsut takut.
"Kita sudahi sampai disini. Kau sudah keterlauan." ucapnya tegas kemudian menyeret tangan Jeonghan agar mau mengikutinya meskipun dalam hati Jeonghan masih tak terima dengan ucapan Wonwoo. Namun tak ada yang bisa menolak ketegasan dari Jihoon termasuk Jeonghan. Gadis itu, menyelamatkan hidup Wonwoo.
Wonwoo tersenyum hampa menatap tiga punggung yang berjalan menjauhinya.
Selalu seperti ini. Dirinya akan selalu ditingalkan seperti ini.
...
...
Mingyu masih setia duduk dibangkunya. Earphon yang terpasang pada telinga seolah dapat membunuh waktu hingga tak ia sadari senja mulai menyapa. Matanya yang tajam menatap lurus pada sebuah tas didepan sana. Tas yang dimiliki oleh seorang gadis, yang masih belum muncul sejak pagi tadi.
Lelaki itu mengetukkan jari pada meja, 'Kemana dia?' batinnya bertanya.
Seiring rasa penasaran yang semakin dalam, Mingyu mendengar pintu kelas dibuka dan menampakkan seorang gadis dengan rambut lepek pun seragam basah melekat pada tubuhnya.
Gadis itu adalah Wonwoo. Yang berjalan dengan tenang menuju bangkunya untuk mengambil tas tanpa menghiraukan sepasang mata elang yang menatapnya datar.
"Bodoh." suara Mingyu mengudara menghentikan aktivitas Wonwoo yang tengah membereskan alat tulisnya.
Wonwoo tak menoleh, memilih segera menyelesaikan pekerjaannya agar dapat beranjak pergi.
"Sejak kapan kau menjadi bodoh seperti ini?" kalimat itu kembali mengalun membuat Wonwoo menatap sang punya suara.
"Siapa yang kau sebut bodoh?" Wonwoo bertanya dengan nada dingin tanpa tekanan.
"Kau. Siapa lagi?"
Wonwoo mengedarkan pandangan keseluruh kelas, dan baru menyadari jika mereka hanya berdua disana.
"Katakan itu pada dirimu sendiri." balas Wonwoo.
Mingyu tersenyum miring kemudian berdiri dari duduknya. Ia berjalan mendekati Wonwoo dengan langkah lebar dan berhenti ketika tepat didepan gadis itu.
"Sampai kapan?" tanya Mingyu lirih. Wonwoo membuang muka.
"Jawab pertanyaanku."
Wonwoo menatap mata Mingyu lekat, "Apa?"
"Sampai kapan kau akan mengabaikanku?" ulang Mingyu.
Wonwoo tak menjawab, ia hanya terdiam melihat raut kecewa keluar dari sana.
"Wonwoo-" Mingyu mencoba menggenggam tangan gadis itu, namun kalah cepat ketika Wonwoo menyembunyikan tangannya dibelakang punggung.
"Jangan menyentuhku, Kim Mingyu!" Wonwoo berujar lirih, namun penuh dengan ancaman.
Mingyu menatapnya sendu. Mata elang darinya seolah menguap begitu saja.
"Kenapa kau begitu membenciku?"
Wonwoo tak bergeming. Ia memilih mengalihkan pandangannya kesamping. Wonwoo tak mau menatap mata Mingyu. Ia tak mau Mingyu kembali sakit karenanya. Juga, dirinya yang masih belum sembuh akan trauma masa lalu.
"Sebegitu bencikah kau padaku?" tanya Mingyu lagi.
Wonwoo menatap mata Mingyu cepat, "Kau sungguh ingin tahu?" lalu bertanya dingin.
Kini Mingyu yang terdiam, ia tak mengerti mengapa raut wajah Wonwoo mengeras. Dan Ia baru sadar jika kelopak mata gadis itu mulai penuh dengan liquid bening.
Tepat satu tahun yang lalu. Wonwoo terduduk disebuah kursi kayu usang ditengah ruangan. Tangan terikat kebelakang pun kaki kurus miliknya. Seragam sekolah yang masih melekat ditubuhnya sudah kotor dan kusut tak berbentuk. Bagian sudut bibirnya mengelurkan liquid kental berbau anyir. Pipinya lebam, juga pelipisnya tergores lecet oleh benda tajam. Wonwoo terdiam, jangankan berteriak untuk memfokuskan pandangannya saja sudah tak bisa. Tenggorokannya kering, dan tubuhnya terasa remuk redam. Gadis itu bahkan sudah tak mempedulikan lagi keberadaan dua lelaki yang berdiri angkuh didepannya.
"Percuma kita membawanya." satu suara menggema memecah keheningan yang sempat tercipta beberapa menit yang lalu.
Wonwoo menatap tajam, temaram lampu ruangan nyatanya tak membuat Wonwoo lupa dengan siapa yang tengah berbicara saat ini.
Satu dari dua lelaki itu berjalan mendekat. Wonwoo dapat melihat dengan jelas setelan jas mahal berwarna hitam yang melekat ditubuh tinggi lekaki itu.
Dia berjongkok didepan Wonwoo dengan senyum miring yang tak pernah Wonwoo ketahui sebelumnya. Menatap wajah lusuh gadis itu lamat-lamat.
"Jadi kau masih belum mau mengaku?" suara berat lelaki itu membuat dada Wonwoo bergetar tanpa sebab. Wonwoo takut, namun rasa benci yang melekat dalam dirinya seolah berkuasa tanpa diperintah.
"Sudahlah Yoon, percuma kita membawa gadis itu kemari. Dia tidak akan mau mengatakan dimana Jenderal Jeon berada." suara lelaki lain menginterupsi. Ya, meskipun Wonwoo masih beberapa kali melihat lelaki itu, tapi ia sudah cukup hafal dengan wajah Tuan Kim.
"Gadis tak tahu diuntung. Seharusnya kau bersyukur karena kami tidak membunuhmu saat ini juga." suara Tuan Kim kembali mengudara, semakin membuat sakit dihati Wonwoo.
Wonwoo masih saja diam. Tatapan tajam darinya tak pernah lepas mengawasi dua orang yang selama ini ia anggap baik. Wonwoo menganggap mereka seperti Ayahnya sendiri, sama dengan Jeonghan dan Mingyu yang menganggap Ayahnya adalah Ayah mereka sendiri. Namun apa yang telah Wonwoo alami hari ini, membuatnya sadar. Jika menjadi anak seorang Jenderal besar Korea Selatan adalah suatu kesalahan.
Wonwoo pikir hidupnya akan selalu aman karena setiap kali ia melangkah selalu ada yang mengawasinya meskipun dari jarak jauh. Ayahnya memang pernah berkata jika Wonwoo harus selalu berhati-hati. Wonwoo tak pernah mengerti apa makna dari kata 'hati-hati'dari Ayahnya, karena setahunya selama 17 tahun Wonwoo hidup, ia merasa aman-aman saja. Tapi sekarang Wonwoo baru mengerti bahwa definisi dari kata 'hati-'hati' dari Ayahnya memiliki makna yang begitu berbeda.
"Kenapa?" Wonwoo berkata dengan bergetar. Pandangannya tetap dingin dan tajam, namun liquid bening yang menumpuk pada kelopak matanya tak dapat menyembunyikan bagaimana sakitnya hati Wonwoo saat ini.
Tuan Yoon bangkit dari posisi jongkoknya kemudian berdiri disamping Tuan Kim lalu tersenyum miring.
"Sudah wajar, dalam sebuah hubungan bisnis ada hal semacam ini Nona Jeon Wonwoo. Lagipula kami melakukan ini bukan tanpa alasan."
"Salahkan saja Ayahmu yang terhormat itu. Salahkan dirinya atas semua yang kau alami hari ini. Kau dan keparat Jeon itu memang tak sepantasnya hidup. Lalu haruskah aku membunuhmu sama seperti aku membunuh Ibumu, dulu?" dan senyum miring yang begitu Wonwoo benci mencuat dari bibir Tuan Kim.
Wonwoo bergetar hebat. Dia baru tahu faktanya. Dia baru tahu alasan Ibunya tewas 5 tahun lalu. Bukan sebuah kecelakaan, melainkan sebuah pembunuhan.
"Aku membencimu sebesar aku membenci Ayahmu! Aku membencimu sebesar Ayahmu membenciku! Aku membencimu sebesar trauma pada diriku! Aku membencimu sampai rasanya mau mati. Aku membencimu, Kim Mingyu. Aku membencimu!" kemudian Wonwoo menyambar tas gendongnya dan segera berjalan menjauhi Mingyu. Ia berjalan goyah seperti liquid bening yang mulai leleh pada pipinya. Meninggalkan sosok Mingyu yang mematung sendiri disana.
"Mianhae, Wonwoo-ya."
...
TBC
...
Yow! What up, guys?!
Chap 3 update nih, hehe..
Sebelumnya Jongsoo mau berterimakasih banyak sama kalian. Jongsoo seneng kalian memberi banyak cinta di FF ini. Kalian bener-bener memperhatikan PANTOMIME dengan segenap hati, terbukti, kejanggalan kecil yang gak saya sadari tertangkap oleh kalian, wkwk...
Gimana? Chap ini sudah memuaskan rasa penasaran kalian tentang siapa Ayah Mingyu dan Ayah Jeonghan kan? Mengapa Mingyu menjauh dari Wonwoo? Dan juga apa arti dari kehadiran Seungcheol?
Ada beberapa pertanyaan, saran, dan kritikan yang menarik di chap lalu. Jadi Jongsoo coba ulas ya.
Pertama, ada yang nanyain umur Jongsoo. yuniawijayanti2002, Radak malu sih nyebutinnya, tapi yang jelas Jongsoo dua tahun lebih tua dari Jisoo Seventeen, satu tahun lebih muda dari SeokJin BTS, dan seangkatan sama Kyungsoo EXO dibaca line 93 :D Jadi yang ada dibawah usia itu, boleh kok panggil Unni :)
Untuk seira minkyu, terimakasih sekali atas ilmu yang diberikan. Sebelumnya saya nggak ngeh sama perbedaan 'mempedulikan' dan 'memedulikan' tapi setelah kamu menjelaskan saya jadi sedikit mengerti, terimakasih...
Guest (lain kali login ya, supaya saya bisa nyebut uname kamu :) ) , saya salut, kamu punya tingkat ketelitian yang tinggi. Terimakasih sudah mengoreksi kerancuan kalimat di chap kemarin. Tapi kalau boleh kasih alasan, inget nggak dialog seungkwan yang 'tapi yang aku tahu, kau akan berhati-hati meskipun tanganmu memukulnya' itulah kenapa Jeonghan mukul Wonwoo pakai tangan kiri. Tapi karena saya nggak teliti dan nggak menjelaskan diawal, jadi mungkin banyak readers yang bingung (ditampar pakek tangan kanan kok nolehnya kekiri, wkwk.. saya ngakak ngebayangin itu.)
Baiklah, sepertinya itu dulu yang saya ulas. Saya masih berharap banyak kalian mau memberikan riview yang membangun :)
Big Thanks to :
seira minkyu, lulu-shi, ayyPD, GameSMl, DevilPrince, iamjcks, jeonbeaniewoo, aku si jodoh mingyu, jeonwow , Guest, Amux, MeanieOhmToey, Beanienim, Guest, J. Jongkok, aliciab.i , zarrazr, , kianaevellyn, yuniawijayanti2002, rakahmada, dpramestidewi, Mrs. Xu Minghao,stnyjh, equuleusblack, zahra9697, whiteplumm, naintin2, Wonu nikah yuk, hamipark76Guest, larayu, Iceu Doger, pizzagyu, maecchiato ,Guest , nisaditta, kharisma shima, akupadawonu, iamjcks, puputandriani68, Itsmevv, awmeanie, auliaMRQ
Maaf kalo ada yang belum kesebut. Jongsoo sayang kalian :):)
