Wonwoo hanya mematung. Terduduk dilatai sudut kamar temaram karena penerangan samar. Menekuk kedua kakinya didepan dada sambil menggumamkan kalimat-kalimat tak beraturan. Rambut panjangnya tergerai berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang memerah dan lebam. Gadis itu masih berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya. Ia berusaha sekuat tenaga tak sekacau sebelumnya. Wonwoo tertekan. Ia bagai seorang yang memiliki perbedaan. Sendirian dirumah besar tanpa adanya seseorang disampingnya. Keluarga, saudara, tetangga, entah mengapa mereka semua menjauhinya.

Wonwoo bukan pembunuh. Ia bukan pembunuh seperti yang Jeonghan katakan.

Gadis itu menggeleng berkali-kali untuk mengusir pikiran-pikiran buruk tentang dirinya. Lalu menggigit ujung kuku ibu jarinya kuat-kuat sebagai bentuk penolakan atas kelebatan yang tak juga menghilang. Wonwoo begitu jatuh hingga kedasar, dan tak ada seorangpun yang mau menolongnya.

"Wonwoo." sebuah suara berat menggema, mengalihkan pandangan gadis itu barang sebentar.

"Wonwoo, kau didalam?"

"O-ppa." suara gadis itu hampir tak terdengar. Namun masih cukup jelas ditelinga Seungcheol.

Lelaki itu berjalan kearah sumber suara. Kemudian segera mendekati Wonwoo ketika matanya menangkap sosok rapuh disudut kamar.

"Astaga, Wonwoo. Apa yang terjadi?" Seungcheol panik. Ia menatap lamat-lamat wajah Wonwoo yang pucat dengan genangan air pada kelopaknya. Seungcheol tak mendapat jawaban, karena justru sebuah tubrukan pada dadanya yang kini ia terima.

Wonwoo memeluk Seungcheol erat, membuat lelaki itu tertegun.

"Ada apa, eoh? Kenapa kau menelphonku malam-malam seperti ini? Apa ada yang mengganggumu?" tanya Seungcheol semakin khawatir.

"O-ppa... aku... t-takut..." ucap Wonwoo putus-putus. Nada yang memilukan hingga membuat dada Seungcheol terkoyak mendengarnya. Lelaki itu menghela napas sebentar kemudian segera mendekap tubuh Wonwoo kedalam pelukan hangat.

"Ssstt... Uljima. Aku disini. Jangan takut, em?" ucap Seongcheol setengah berbisik pun tepukan lembut pada punggung gadis itu.

"Aku... b-bukan pembunuh 'kan Oppa? Ak..aku bukan pembunuh 'kan?" Seongcheol merasakan getaran pada tubuh Wonwoo semakin kuat. Seketika itu juga Seongcheol terdiam. Ia hanya terdiam mendengar pertanyaan Wonwoo. Ia hanya terdiam tak tahu apa yang menjadi jawaban. Dan keterdiaman itu membuat gadis yang berada dipelukannya semakin terisak hebat.

"Aku bukan pembunuh... hiks... bukan..."

...

...

PANTOMIME

Kim Mingyu, Jeon Wonwoo

Angst, Bullying, GS!

...

Kim Jong Soo 1214

...

...

Present

...

...

Sebuah meja berbentuk persegi ditengah ruangan menjadi pembatas. Empat orang duduk saling berseberangan. Tiga gadis manis, dengan satu lelaki paruh baya tengah bertukar tatapan disana.

"Apa kabar, Paman." sapa seorang gadis bertubuh mungil ramah. Ia menundukkan kepalanya sedikit, kemudian tersenyum tipis.

Yang dipanggil 'Paman' balas tersenyum kemudian melirik dua gadis lain yang duduk disebelah Jihoon.

"Wonwoo tidak ikut?"

Jihoon melirik Jeonghan sebentar kemudian menggeleng untuk menjawab pertanyaan itu sembari senyum kecut.

"Kalian menjaga Wonwooku dengan baik, bukan?"

Lalu hanya keheningan yang menyelimuti. Tak ada dari salah satu gadis itu yang mau menjawab. Mereka memilih menunduk, menghindari tatapan menyelidik dari Tuan Jeon pada mereka.

Tuan Jeon mengangguk maklum, namun terselip kekecewaan dimatanya.

"Um... kami datang kemari masih dengan tujuan yang sama, Paman." ucap Jihoon setelah sekian detik hanya terdiam.

Tuan Jeon menghela napas panjang, kemudian menatap tiga gadis didepannya itu satu persatu.

"Kupikir kalian akan merangkai setiap perkataan yang aku ucapkan dan menemukan jawabannya sendiri. Tapi kalian masih saja menanyakan hal yang sama. Kalian belum dewasa rupanya." Tuan Jeon terkekeh kecil, sekedar untuk mencairkan suasana.

Tiga gadis yang duduk saling berhimpitan itu menatap Tuan Jeon lamat-lamat. Mereka tak mengerti dengan ucapan lelaki itu.

"Maksud Paman?" kini Seungkwan yang bertanya.

Tuan Jeon memudarkan senyumnya, kemudian balik menatap gadis berpipi chubby itu lekat.

"Jika kalian mengingat dengan baik, maka kalian akan mengetahuinya nanti."

Setelah ucapannya terhenti, Jeonghan mengarahkan tatapan tajam pada Tuan Jeon. Gadis itu tak suka hal yang berbelit-belit. Setiap kali mereka datang dan menanyakan hal itu, Tuan Jeon selalu bermain dengan kata-kata yang tak mereka mengerti.

"Sebenarnya Paman sedikit kecewa. Kalian datang membawa banyak makanan juga pakaian untuk Paman, tapi tak ada Wonwoo bersama kalian." Tuan Jeon menatap beberapa bungkusan yang berada diatas meja. Namun bukan tatapan kebahagiaan, melainkan tatapan kosong yang menjadi selaput pada kelopaknya.

"Kami-"

"Kalian ingat?" Tuan Jeon memotong ucapan Jihoon, "Saat pertama kali kalian datang untuk bermain dirumah Paman?" lelaki paruh baya itu menatap tiga gadis itu bergantian. Yang ditatap terdiam, menunggu kalimat apalagi yang akan keluar dari bibir Tuan Jeon.

"Saat itu kalian masih berumur 3 tahun. Kalian datang sambil menangisi balon berbentuk lumba-lumba yang Wonwoo pegang. Kalian meraung didepan Wonwoo sambil memeluk kaki Paman minta dibelikan. Seungkwan dengan dua kucir disisi kanan dan kiri kepala, Jihoon dengan cemol tinggi berpita biru, dan Jeonghan dengan kepang panjang yang begitu cantik. Paman masih sangat jelas mengingatnya." kemudian Tuan Jeon terkekeh pelan.

"Kalian selalu pergi berempat setelah kejadian itu. Kemanapun. Kapanpun. Tapi... kenapa kalian datang tanpa Wonwoo kali ini?"

Jihoon menunduk dalam mendengar pertanyaan dari Tuan Jeon. Ia tahu jika lelaki paruh baya itu amat merindukan Wonwoo. Selama Tuan Jeon berada di tempat ini, Wonwoo sama sekali belum pernah mengunjunginya.

"Kenapa?" Jeonghan angkat bicara setelah hanya terdiam mendengar obrolan mereka, "Kenapa Paman selalu mengalihkan pembicaraan setiap kami menanyakan hal itu?" kemudian matanya menatap tak suka pada Tuan Jeon, "Kau sedang tak mempermainkan kami, bukan?" lanjutnya penuh kecurigaan.

Jihoon menggenggam lengan Jeonghan lembut, mencoba menenangkan gadis itu agar tak berkata hal yang tak masuk akan seperti sebelum-sebelumnya.

Tuan Jeon kembali menarik napas panjang lalu tersenyum singkat, "Apa kau berpikir Paman selalu mempermainkan kalian?"

Jeonghan meremas ujung roknya kuat-kuat mendengar kalimat itu. Dengan tatapan tajam gadis itu mengarahkan pandangannya pada lelaki paruh baya didepannya.

"Kau terlalu banyak menyimpan rahasia." Jeonghan tersenyum miring, "Wae? Apa kau hidup dengan cara seperti ini? Apa kau yang mengajari Wonwoo hidup seperti ini?"

Seungkwan melirik Jihoon takut-takut, memberi isyarat agar Jihoon bisa membuat Jeonghan lebih tenang. Namun yang dia dapat hanya gelengan dari teman mungilnya itu. Ya, tak ada yang bisa menghentikan Jeonghan jika sudah sejauh ini.

"Aku rasa aku tahu mengapa pada akhirnya kau yang menggantikan Wonwoo dipenjara," jeda sebentar, "Karena memang semua berakar dari anda, Tuan Jeon yang terhormat."

Hening.

Tak ada lagi percakapan setelahnya. Ucapan Jeonghan benar-benar membawa aura berbeda diruangan kecil itu. Sebelum akhirnya Tuan Jeon tersenyum tipis.

"Benar. Aku rasa semua orangtua akan melakukan hal yang sama jika ini menimpa putrinya. Hanya saja... berbeda dengan orangtuamu."

Jeonghan semakin menatap tajam Tuan Jeon. Ia menatap tak suka pada lelaki itu.

"Aku pikir jam berkunjung kalian sudah habis. Terimakasih atas perhatian kalian selama ini. Tapi akan lebih baik jika kalian tak datang berkunjung kembali lain kali." Tuan Jeon beranjak berdiri dari duduknya. Ia berjalan pelan menuju sebuah pintu coklat diujung ruangan, namun berhenti sebelum ia berhasil meraih kenop pintu.

"Jeonghan-ah...," mendengar namanya disebut gadis itu menatap Tuan Jeon yang berdiri memunggunginya, "Aku harap kau dapat memecahkan teka-teki kehidupanmu sendiri. Tanpa melibatkan Wonwoo maupun orang lain." seiring berakhirnya kalimat itu tubuh Tuan Jeon menghilang dibalik pintu. Meninggalkan guratan kebencian yang semakin dalam dari gadis manis berambut panjang.

...

...

"Kau seharusnya dapat mengontrol dirimu." Jihoon berjalan cepat diikuti Seungkwan juga Jeonghan dibelakangnya. Bibirnya maju kedepan, seolah pikirannya sudah benar-benar kacau saat ini.

"Kenapa kau selalu menuruti semua pikiran gegabahmu itu, Yoon Jeonghan. Kau tak penah bisa mengendalikan dirimu sendiri." Jihoon mendudukkan dirinya dibangku kayu tak jauh dari posisinya semula diikuti Seungkwan setelahnya.

Jeonghan tak ikut duduk karena ia lebih memilih berdiri disamping Seungkwan sambil menatap kosong tanah basah dibawahnya. Ia sedang tak ingin meladeni perkataan Jihoon. Moodnya sedang buruk sejak ucapan Tuan Jeon beberapa saat yang lalu.

"Jika kau bisa mengendalikan emosimu sedikit saja, kita pasti sudah mendapatkan informasi dari Tuan Jeon tentang Ayahmu. Kita sudah sering pergi kesana dan pulang sia-sia karena kau yang tak bisa mengendalikan diri. Aku 'kan sudah sering bilang padamu, seharusnya kau mende-"

"Bisakah kau diam!" Jeonghan melirik Jihoon dengan pandangan tak suka.

Jihoon terdiam setelahnya, menatap mata Jeonghan yang sudah memerah menarah amarah.

"Inilah dirimu. Kau selalu menyuruhku diam jika aku sedang menasehatimu. Kenapa kau-"

"Apa kau tuli, hah? Aku sedang tidak mood berdebat denganmu, Lee Jihoon!"

Jihoon tersenyum miring. Ia tak menyangka Jeonghan akan mengatainya seperti itu.

"Kau bilang aku apa? Tuli?"

"Iya, kau tuli! Kenapa kau selalu mengajakku berdebat setelah keluar dari penjara sialan itu, hah?!"

"Karena aku ingin semuanya berjalan sesuai aturan."

"Aturan kau bilang? Kau itu hanya tahu teori. Kau tak merasakan bagaimana menjadi aku. Jadi lebih baik kau diam. Jangan menasehatiku apapun saat ini!" Jeonghan menaikkan nada suaranya membuat Seungkwan yang sedari tadi terdiam, menjadi mendelik tak suka.

"Jadi menurutmu semua nasehatku selama ini tak penting untukmu?" Jihoon menatap Jeonghan tajam, "Kau menganggap aku tak merasakan apa yang kau rasakan, begitu?" kemudian menggeleng tak percaya.

"Karena memang kenyataannya seperti itu, kan? Kau tak pernah mengerti bagaimana perasaanku. Kau selalu menyuruhku tenang. Bagimana aku bisa tenang jika sampai sekarangpun aku tak mengetahui dimana jasad Ayahku!"

"Lalu selama ini kau menganggapku apa? Kau menganggapku hanya sebagai bahan acuanmu, begitu? Selama ini aku berusaha membantumu sejauh yang aku bisa. Aku selalu berada dibelakangmu, mendukungmu meskipun yang kau lakukan itu salah. Tapi kau tak pernah mendengar ucapanku? Lucu sekali." Jihoon tertawa hambar menatap mata Jeonghan yang menusuk tepat kearahnya.

"Kalian ini kenapa, huh? Kenapa kalian harus bertengkar? Kita ini teman, ingat?" Seungkwan berusaha menengahi.

"Teman? Seorang teman tidak akan mengabaikan nasehat dari temannya, Seungkwan-ah. Tapi lihat siapa yang kau sebut teman?" Jihoon berucap sedikit pedas hingga membuat Jeonghan mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Benar. Teman tidak akan hanya berbicara tanpa melakukan apa-apa."

Seungkwan mengerutkan kening. Ia ingin menengahi perdebatan ini, tapi ia tidak mau jika ucapannya justru memperburuk keadaan. Bagaimana ini?

"Aku rasa kita memang bukan teman. Karena kau tak pernah menghargai apa yang telah aku lakukan untukmu sejauh ini." Jihoon beranjak dari duduknya secepat kilat, namun terhenti ketika Seungkwan menahan lengannya.

"Mau kemana?"

Jihoon tak menatap Seungkwan, "Pergi. Karena kehadiranku sudah tak dibutuhkan lagi disini."

"Jihoon-ah, kenapa kau jadi sensitif seperti ini?" Seungkwan mencoba membujuk.

"Terserah apa yang akan kau katakan. Yang jelas, kita sudahi saja sampai disini. Toh aku sudah lelah menuruti segala tingkah konyol gadis itu setiap hari."

Plak!

Jihoon merasakan panas pada pipinya. Jeonghan menampar pipi Jihoon keras, hingga gadis itu terhuyung kesamping.

Jihoon tersenyum tipis, matanya berkilat ketika menatap mata Jeonghan yang menatapnya penuh amarah.

"Aku benar-benar berakhir denganmu, Yoon Jeonghan. Persetan dengan urusanmu dan mayat Ayahmu, aku tak akan peduli lagi!"

Dan setelahnya Jihoon menghentak keras tangan Seungkwan hingga terlepas. Gadis mungil itu berjalan tergesa menjauhi dua gadis yang menatap punggungnya dengan tatapan berbeda arti. Seperti yang ia katakan, ia tak akan lagi peduli pada apapun yang akan Jeonghan lakukan. Karena apa yang ia lakukan selama ini nyatanya tak pernah terlihat dimata gadis itu. Ia merasa sama sekali tak dihargai. Ia kecewa. Sangat kecewa.

"Aarrgh!" erangnya meluapkan emosi.

...

...

Wonwoo berjalan pelan memasuki lingkungan sekolah. Kepalanya sedikit pusing setelah semalaman ia tak dapat tidur. Namun Wonwoo memaksa masuk karena Lee Seonsaem memberinya tanggung jawab untuk membuat laporan harian kelas.

Wonwoo merasa sedikit aneh karena beberapa siswa berbisik-bisik sambil melirik kearahnya. Sebenarnya ia sudah sangat terbiasa mendapati hal semacam itu, hanya saja tatapan mereka yang membuat Wonwoo tak nyaman.

"Jadi dia adalah seorang pembunuh! Daebak!"

"Lihatlah, dia datang kesekolah seperti tak memiliki urat malu."

"Aku heran mengapa Kepala Sekolah tetap mempertahankan pembunuh sepertinya berada disekolah kita."

"Aku yakin dia akan membawa sial setelah ini."

Wonwoo berhenti melangkah ketika suara bisikan itu semakin jelas terdengar pada telinganya. Wonwoo terdiam ditempat, terlalu banyak pertanyaan yang mengganjal dalam hatinya. Selama ini tak ada yang mengetahui hal ini, tapi mengapa tiba-tiba mereka semua membahasnya?

Wonwoo mencoba mengabaikan dan tetap terus berjalan menuju kelas. Namun ketika langkahnya sudah hampir pada ujung lorong, matanya menangkap banyak siswa bergerombol mengintipnya dari segala arah. Wonwoo menunduk, ia merasa takut ketika semua orang menatapnya seakan ingin mengulitinya hidup-hidup. Dan ketika kakinya tepat berada didepan mading, barulah Wonwoo tahu alasannya. Ia tahu alasan mengapa semua siswa memandangnya seperti itu.

"Ya! Jeon Wonwoo."

Wonwoo menoleh pada gerombolan siswa itu, dan mendapati Seolhyun berdiri angkuh disana.

"Bukankah lucu ketika kau membantah ejekanku tempo hari, padahal semua itu adalah benar? Kau benar-benar seorang pembunuh!" Seolhyun melipat tangannya didepan dada dengan senyum remeh disana.

Wonwoo menatap tajam gadis itu namun wajah dingin masih melekat erat.

"Ckckck... seharusnya kau itu sudah diusir pergi dari sini! Kau itu hanya beruntung karena nilaimu yang selalu bagus."

Kemudian suara ribut juga bisik-bisik kembali menyapa telinganya.

"Aku jadi penasaran bagaimana wajah orangtuanya. Jika anaknya saja seperti ini, apa mungkin orangtuanya semacam ketua kelompok gengster?"

Dan tawa pecah disana. Mereka menertawakan Wonwoo tanpa peduli bagaimana perasaan gadis itu. Tapi Wonwoo tak bergeming, ia memilih diam karena ia tahu resiko jika ia melawan.

"Ya, Ya! Lihatlah dia! Makluk hina itu. Aku semakin penasaran dengan Ibunya. Dia pasti sama jalangnya dengan Wonwoo."

Dan mata tajam Wonwoo menangkap satu gadis berambut pendek yang berdiri disamping Seolhyun. Wonwoo menatapnya benci. Ia tak suka ada orang lain menyebut nama Ibunya.

"Jangan membawa nama Ibuku disini." ucapan Wonwoo membuat semua tawa itu berhenti. Mereka memandang remeh gadis berwajah datar itu, kemudian menyematkan senyum licik disana.

Plak!

Wonwoo merasakan benda keras mengenai kepalanya. Benda yang telah pecah hingga menimbulkan bau amis disana.

"Dia masih sempat-sempatnya membela diri, cih!"

Plak!

Lagi. Wonwoo merasakan satu telur kembali pecah mengenai kepalanya. Sedangkan semua orang yang tengah mengerubunginya tertawa bahagia.

"Kau itu sudah tidak berhak berbicara setelah apa yang kau lakukan, dasar pembunuh!"

Plak!

Hati Wonwoo sakit. Mendengar hinaan mengenai dirinya dan keluarganya. Mereka tak tahu apa-apa, dan Wonwoo membenci keadaannya yang tak bisa melawan.

Plak!

Plak!

Telur-telur itu semakin deras menghantam kepala, tubuh, bahkan kakinya. Wonwoo tak hanya merasakan sakit pada tubuhnya, namun juga pada harga dirinya. Ia memejamkan mata seiring liquid bening yang mulai menggenang pada matanya. Ia memikirkan bagaimana terluka hati Ibunya jika melihat putrinya diperlakukan seperti ini. Pun pengorbanan Ayahnya yang menjadi sia-sia karena ketidakberdayaan yang ia miliki.

Wonwoo semakin merapatkan matanya. Tak peduli lagi dengan seragam yang sudah kotor dengan bau amis disana-sini. Bahunya mulai bergetar seiring hinaan itu kian mengalun keras. Dan pada saat itu ia merasakan dirinya terbawa pada sebuah pelukan. Pelukan hangat yang menenggelamkan wajah sembabnya. Pelukan yang membuatnya nyaman. Pelukan yang melindunginya dari pukulan keras cangkang telur pada kepalanya.

"Jangan dengarkan mereka, ada aku disini." dan bisikan itu menyadarkan Wonwoo. Menyadarkan dirinya bahwa pelukan yang ia rasakan bukan hayalannya semata.

'Gumawo... Mingyu-ya.'

...

...

Wonwoo menunduk dalam, meremas ujung roknya kuat-kuat. Ia tak bisa bergerak pun berkata-kata. Mingyu terus menatapnya dan itu membuat Wonwoo bagaikan kehilangan suara.

"Rambutmu kotor." Mingyu mengawali percakapan, namun Wonwoo hanya diam, sama sekali tak memiliki keberanian untuk menjawab kalimat itu.

"Seragammu juga kotor." Mingyu kembali bersuara dan Wonwoo masih belum merubah posisinya.

"Sepatumu lebih kotor." Mingyu berjongkok didepan Wonwoo, memperhatikan sepatu gadis itu yang penuh cangkang telur.

"Apalagi rokmu."

"Yak!" Wonwoo memekik ketika Mingyu menyentil ujung roknya. Ia mendelik menatap Mingyu yang masih berjongkok, namun dibalas senyuman lebar dari lelaki itu.

Mingyu kembali berdiri dan mendapati wajah Wonwoo yang memerah. Sangat manis menurutnya.

"Kau membawa seragam lain?" tanya Mingyu setelahnya. Wonwoo menggeleng pelan. Masih menunduk.

"Baju olahraga?" tanya Mingyu sekali lagi, namun gelengan kembali menjadi jawabannya.

"Ish! Biasanya kau tak seceroboh ini." Mingyu membuka ranselnya untuk mengeluarkan sesuatu. Kemudian menyerahkan jaket besar berwarna abu-abu pada gadis itu.

"Untuk apa?" tanya Wonwoo dengan tatapan polosnya.

"Tentu saja untuk menutupi seragam kotormu. Kenapa otakmu mendadak lemot hanya karena serangan cangkang telur?"

Pletak!

Wonwoo memukul kepala Mingyu keras-keras. Enak saja Mingyu mengatainya lemot.

"Aw! Appo~"

Dan tatapan membunuh dari Wonwoo yang ia dapat. Mingyu masih mengelus ujung kepalanya yang terasa berdenyut, namun terselip satu perasaan lega disana. Ternyata Wonwoonya masih belum berubah setelah sekian lama.

"Ini."

Mingyu juga Wonwoo menatap paperbag yang berada tepat didepan wajah Wonwoo. Mereka menoleh kesamping, dan mendapati Jihoon dengan wajah datar tanpa ekspresi.

"Jaket saja tak akan bisa menutupi bau amis dari telur. Pergilah kekamar mandi. Ada shampo juga sabun cair didalamnya. Seragam baru, juga sepatu yang aku bawakan dari rumah." lanjut gadis mungil itu yang membuat Wonwoo terpaku.

"Woah! Kau sudah mempersiapkannya? Apa kau seorang cenayang?" tanya Mingyu yang mendadak bodoh.

"Aku tahu Jeonghan akan melakukannya. Jadi aku sengaja membawakan perlengkapan untukmu." jawab Jihoon enteng.

Wonwoo menatap paperbag itu kemudian menatap Jihoon bergantian.

"Tenang saja, aku tidak menaruh kecoa didalamnya." dan senyuman Jihoon membuat Wonwoo menghangat. Jihoon memberi gesture pada Wonwoo untuk mengambil paperbagnya, kemudian menyuruh gadis itu untuk membersihkan diri didalam kamar mandi.

...

...

Seungcheol terdiam disudut perpustakaan. Matanya menatap sayu sebuah kertas lusuh dalam genggamannya. Ingatan yang berkelebat seolah berkelana liar tanpa diperintah. Tubuhnya menegang, dadanya mengganjal oleh suatu perasaan aneh. Sejak pertanyaan Wonwoo semalam, Seungcheol seperti seorang yang kehilangan nyawa. Hanya bisa terdiam dan larut pada pikiran-pikiran yang tak asing baginya.

Lelaki itu menarik napas dalam. Membuka lipatan kertas lusuh itu dengan hati-hati. Ia sedikit bergetar ketika menatap beberapa tulisan yang tercantum jelas disana. Dan kelebatan ingatan itu kembali hadir memenuhi kepalanya.

Malam itu adalah malam tersuram bagi Seungcheol. Matanya melihat dengan jelas bagaimana mobil-mobil pasukan Intelegensi Korea Selatan berjajar tak beraturan dihalaman rumah Wonwoo. Wajah gugup Tuan Jeon membuat Seungcheol diliputi rasa penasaran yang teramat. Ia sangat tahu apa posisi Tuan Jeon dalam sebuah pemerintahan itu. Ia juga sangat tahu jika sebagai Jenderal besar, Tuan Jeon tidak akan mungkin turun tangan langsung kelapangan ketika sudah ada anak buah yang bersiap membantunya. Namun malam itu berbeda. Tuan Jeon begitu berbeda.

Seungcheol memberanikan diri mendekat, bertanya pada Tuan Jeon yang kala itu tengah bersiap dengan berbagai senjata api ditangannya.

"P-Paman... ada apa? Apa yang terjadi?" Seungcheol bertanya gugup.

"Hanya masalah kecil." jawab Tuan Jeon tanpa menoleh pada Seungcheol. Lelaki paruh baya itu tetap sibuk dengan peralatannya dan sesekali menyeka keringat yang mengalir dipelipisnya.

Namun Seungcheol bukan bocah bodoh. Ia sudah 17 tahun kala itu, dan ia menangkap sesuatu yang aneh disana. Matanya mengedar, melihat bagaimana para pasukan Tuan Jeon berhamburan memasuki mobil-mobil patroli. Kemudian ketika ia hendak berbalik, matanya bertemu dengan sebuah kertas putih disisi ransel milik Tuan Jeon. Tak sengaja ia membaca kalimat-kalimat disana, dan setelahnya Seungcheol hanya dapat terdiam dengan perasaan tak karuan.

"Paman, aku ikut!"

Dan perkataan tiba-tiba dari Seungcheol membuat Ayah Wonwoo itu menoleh cepat.

"Aku tahu dimana lokasinya. Aku mohon... biarkan aku ikut." ada guratan tak suka dimata Tuan Jeon. Tentu saja, permasalahan intelegensi bukan masalah sembarangan yang bisa dilibatkan pada remaja 17 tahun. Namun tatapan Seungcheol yang penuh keyakinan membuat lelaki paruh baya itu luluh juga.

"Kau yakin?" Seungcheol mengangguk mantap.

"Naiklah. Kita pergi sama-sama."

Dan perkataan itu yang akhirnya membuat Seungcheol menyesal. Ia menyesal karena suatu alasan. Ia menyesal, karena dirinya tak dapat melindungi Wonwoo dengan tangannya.

"Wonwoo-ya... mianhae." Seungcheol meremas kertas putih itu kuat-kuat. Meluapkan rasa bersalahnya yang teramat. Meluapkan bagaimana menyesalnya dirinya hingga saat ini.

...

...

Tiga orang remaja tengan duduk dibawah pohon maple dibelakang sekolah. Semilir angin menjadi pengiring suasana kaku diantara mereka. Sebelum akhirnya sebuah deheman menjadi pencair suasana.

"Aku sudah berakhir dengan Jeonghan." Wonwoo menoleh pada Jihoon yang duduk bersandar pada batang pohon maple. Kepala gadis itu mengarah keatas, menatap satu-persatu daun kecoklatan yang mulai gugur jatuh.

"Terdengar lucu bukan? Aku meninggalkan teman baikku, dan mendekati musuhku. Aku merasa seperti seorang penghianat." kemudian Jihoon menunduk dalam, menyembunyikan raut kecewa yang tercetak jelas disana.

"Apa kau menganggapku musuh?" tanya Wonwoo lirih. Jihoon mengangkat kepalanya, menatap wajah Wonwoo yang datar seperti biasa.

"Kita adalah teman, kau ingat?"

"Aku teman yang buruk."

Wonwoo menghela napas, terdengar lelah namun ia berusaha menutupinya.

"Terkadang yang mendorong bisa menjadi penolong. Entah bagaimana kau memaknainya, yang pasti kau akan pulang ketempat seharusnya kau pulang."

Jihoon semakin dalam menatap Wonwoo. Gadis itu memiliki sifat yang sama seperti Tuan Jeon. Memiliki keahlian dengan permainan kata yang membuat Jihoon tak mengerti.

"Kau mirip dengan Ayahmu."

Dan seketika pandangan Wonwoo menjadi kosong. Mingyu menangkap gelagat itu, namun ia memilih diam. Ia tak ingin berbicara jika keadaannya masih kaku seperti ini.

"Aku mengunjungi Ayahmu tadi pagi. Beliau sehat, dan begitu merindukanmu."

Wonwoo masih diam, memasang wajah datarnya tanpa ekspresi berarti. Tak berniat membalas ucapan Jihoon meskipun ia ingin.

Jihoon tersenyum hampa, merasa tak enak telah membuat Wonwoo merubah ekspresinya.

"Mianhae... selama ini aku bersikap buruk padamu." ucapnya mengalihkan pembicaraan.

"Apa dia makan dengan baik?"

"Huh?"

"Ayahku... apa dia makan dengan baik?"

Jihoon tersenyum tipis, kemudian mengangguk. Namun seiring anggukan itu Wonwoo beranjak berdiri, membuat dua orang lainnya menatap Wonwoo dalam diam.

"Terimakasih untuk hari ini."

"Kau mau kemana?" tanya Jihoon.

"Tidak ada alasan lagi untukku duduk disini. Aku sangat menghargai pertolongan kalian, tapi bukan berarti semua berubah hanya dengan satu perbuatan." Wonwoo tersenyum tipis lalu mulai melangkah, berjalan meninggalkan dua orang yang kini mematung menatap punggungnya.

Jihoon menghela napas kasar ia tahu apa yang dimaksud oleh Wonwoo. Jika ia menjadi Wonwoo, ia juga pasti akan melakukan hal yang sama.

"Aku merasa semakin buruk." ucap gadis mungil itu setelah beberapa saat.

Mingyu melirik sebentar, "Kau sudah melakukan yang terbaik."

Jihoon tak menjawab, ia lebih memilih menunduk dalam, bergelut pada pemikirannya sendiri.

"Mingyu-ya..."

Yang dipanggil menoleh.

"Kau tahu masalah yang sebenarnya, bukan?"

Mingyu mengalihkan pandangannya dari Jihoon setelah mendengar pertanyaan itu. Menatap kesegala arah asalkan bukan kearah gadis mungil berambut pendek itu.

"Kau tahu alasan mengapa Ayahmu melakukannya, bukan?" tanya Jihoon lagi masih diposisinya.

"Um." jawab Mingyu dengan deheman.

"Haruskah kita mulai membantu Wonwoo?"

Sontak Mingyu mengalihkan kembali tatapannya pada Jihoon.

"Aku merasa bersalah padanya. Aku tahu, kau pun tahu. Tapi tak ada satupun dari kita yang berusaha mengungkapnya. Bukankah ini terlihat tak adil?" lalu Jihoon balas menatap Mingyu dalam.

"Haruskah?"

Dan kemudian anggukan mantab menjadi jawabannya.

...

...

TBC

...

Anyeoong... chapter 4 hadir...

~ Maaf Updatenya tidak sesuai target. Jongsoo punya 4 Fic yang masih TBC (termasuk PANTOMIME) jadi sedikit sulit bagi waktu nulisnya. Apalagi kesibukan didunia nyata yang semakin tak karuan. Pasti kalian tahu lah gimana rasanya? (nano-nano sekali :D ).

~ Saya berusaha membuat cerita yang tidak bertele-tele. Semua kejadian dan percakapan mereka akan saling terkait nantinya. Juga... saya suka bikin karakter Wonwoo yang super keren dan gak cengeng :D

~ Btw, terimakasih banyak yang sudah mau review, saya belum sempet balas satu-satu. Tapi yakinlah, saya selalu ngakak pas baca riview kalian. Kalian... umji chuck!