Trapped-in-Hunhan
Presents
.
First and Second
.
Warning : YAOI, Typo(s), SO FICTIVE
.
Despite my clumsiness, you still like me no matter what
But do I deserve to be loved by you?
Although time passes, there is a word I cannot express, sinking down in my heart.
'I'm sorry' 'I love you', asking you to believe in me like this time
I will hug you and hold your hands
If I am able to express my heart,
I will devote myself to you.
I want to protect you, whenever.
I'll promise~ i won't disappoint you.
Promise me~ just stay what you are right now
(EXO – Promise)
.
Jongin hanya ingin memberikan Luhan kejutan dengan menjemputnya pulang ketika dia justru melihat semuanya.
Ya. Semuanya.
Bagaimana Sehun menyatakan cintanya kepada Luhan.
Dan bagaimana dengan tegas Luhan menolak laki-laki berkulit pucat itu.
Bukan sebuah masalah –meski memang mengejutkan– bagi Jongin jika Sehun masih mencintai Luhan.
Malah, Jongin seharusnya lega karena Luhan tetap memilih bersama dirinya.
Tak bisa dipungkiri dia merasa hancur mengetahui Luhan masih memiliki perasaan untuk Sehun.
Oh, itu terlihat jelas, tidak perlu ditanya bagaimana Jongin bisa tahu.
Terlihat jelas dari bagaimana akhir-akhir ini Luhan selalu sering melamun dan sedih tiba-tiba –dan itu karena Sehun, Jongin sekarang tahu.
Jongin memang merasa sakit, namun dia tidak marah.
Dia memang tahu, bahwa perasaan Luhan tidak mungkin sepenuhnya beralih ke dirinya karena memang terlalu singkat.
Dia memakluminya.
Toh pada akhirnya Luhan memutuskan Jongin sebagai pemenangnya.
Seharusnya tidak ada masalah.
Namun, melihat Luhan menangis hingga terduduk di jalanan seperti itu ... bagaimana dia bisa senang?
Bagaimana dia bisa tenang melihat seseorang yang dicintainya menangis karena orang lain?
Orang lain ... yang masih dicintainya?
Tes.
Masih seberapa banyak cintamu untuknya?
Apakah kau lebih bahagia jika bersamanya?
Apakah aku ... harus melepaskanmu, Lu?
Dan dengan menghapus air mata yang baru saja menetes, dia berjalan mendekati sosok yang bahunya masih bergetar itu.
Memeluknya.
Erat.
"Jangan menangis, Lu"
First and Second
"Aku ke kampus dulu, Lu" Jongin melemparkan senyumannya kepada Luhan. "Ingat, terus di kamar dan jangan lupa minum obatmu"
Luhan memejamkan mata ketika dia merasakan jemari Jongin mengusak surai-surai coklat mudanya.
Cup.
"Aku mencintaimu"
Luhan bisa merasakannya, dari pancaran mata Jongin yang memandangnya penuh cinta.
Dan Luhan tidak ingin pandangan itu berubah menjadi kesedihan. "Aku–"
"Jangan dipaksakan berbicara Luhan, aku tahu itu sulit" Jongin mengecup bibir Luhan sekilas, sebelum dia bangkit dan memandang Luhan dengan senyuman kecil. "Aku berangkat"
Dan akhirnya Luhan melihat punggung itu menghilang dari daerah pandangnya.
Dulu, Luhan pernah diberitahu oleh salah seorang gurunya, bahwa manusia tidaklah pernah terlalu baik.
Karena sama seperti pengetahuan, kebaikan itu luas dan tidak ada batasnya.
Dulu, Luhan akan mengamini perkataan gurunya.
Setuju bahwa manusia selalu bisa lebih baik dan baik lagi setiap harinya.
Tetapi tidak dengan sekarang, setelah dia bertemu dengan Jongin.
Jongin adalah epitome sempurna untuk frasa terlalu baik.
Jongin selalu menghiburnya, selalu meletakkan dirinya di atas keinginan laki-laki itu sendiri, dan dia tidak pernah memaksa Luhan melakukan apapun yang tidak Luhan inginkan.
Bukankah itu terlihat jelas dari bagaimana Jongin tetap diam meskipun dia tahu tentang Luhan dan Sehun?
Dia terus menghibur Luhan, terus membahagiakan Luhan, dan dia tidak pernah sekalipun memaksa Luhan bercerita mengenai hubungannya dengan Sehun.
Sekarang pun sama.
Jongin selalu menenangkannya, Jongin selalu di sampingnya, dan dia tidak bertanya kepada Luhan kenapa belakangan Luhan selalu dalam suasana batin yang menyedihkan.
Jongin selalu dengan sabar menunggu Luhan.
Jangan dipaksakan berbicara Luhan, aku tahu itu sulit.
Luhan pun tahu.
Kalau Jongin punya maksud lain –selain mengkhawatirkan tenggorokan Luhan– dalam kalimat yang tadi dia lontarkan.
Jongin akan menunggu Luhan sampai Luhan mengatakan kata cinta bukan untuk menjaga perasaan Jongin semata, tetapi karena Luhan memang siap mengakui bahwa cintanya dia berikan untuk Jongin.
Dan Luhan membenci dirinya sendiri karena itu.
Luhan benci dirinya yang tidak bisa mengabaikan si brengsek Sehun dan tetap menjalani hidup bahagianya dengan Jongin.
Luhan mengorbankan Jongin untuk Sehun.
Bukankah dia sama saja dengan Sehun yang mengorbankan Luhan untuk Nana?
Yang berbeda, Sehun tidak mencintai Nana. Sedangkan Luhan sebenarnya sudah mencintai Jongin.
Bukankah itu akan lebih menyakitkan untuk Jongin?
Lagi, Luhan menangis.
First and Second
Di atap gedung itu mereka berdua memang biasa menghabiskan waktu bersama.
Angin sepoi dan kesunyian menjadi poin penting kenapa mereka memilih tempat yang jarang dikunjungi ini.
Meskipun kali ini kesunyiannya membuat yang satu bertanya-tanya karena semuanya terasa begitu aneh.
"Apakah kau–" akhirnya yang lain membuka suara, seperti yang sudah ditunggu-tunggu yang satu. "–baik-baik saja?"
Yang satu mengangguk, melempar pandangan heran kepada yang lain. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Jongin melempar pandangannya ke langit yang sudah menjingga. "Kau semakin pucat"
"Aku tidak apa-apa" Sehun ikut melempar pandangannya ke arah langit setelah terdiam cukup lama.
"Apakah kau pikir Luhan baik-baik saja?"
Pertanyaan Jongin selain mendadak, merupakan pertanyaan yang benar-benar tidak terpikirkan oleh Sehun. "Kenapa kau bertanya padaku?"
"Benarkah?" Jongin memandang Sehun dengan tatapan lelah –dan kosong. "Karena sejak seminggu yang lalu dia tidak baik-baik saja"
"Seminggu–" Sehun membulatkan mata dan menghentikan perkataannya ketika dia sadar akan suatu hal. "Kau ... melihatnya?"
"Aku tidak sengaja" mahasiswa yang berkulit tan menghela napas. "Aku tidak menyangka kau masih mencintai Luhan"
Sehun pun menghela napas. "Maafkan aku"
"Apa kau menyesali perasaanmu untuk Luhan?"
"Tidak" Sehun menggeleng kecil. "Tetapi aku terlalu bodoh untuk berusaha merebut Luhan darimu. Aku benar-benar minta maaf"
"Kenapa? Aku saja tidak merasa berdosa sama sekali merebut Luhan darimu"
"Itu ... berbeda, kau tahu itu, Jongin" Sehun kembali menghembuskan napas. "Aku meninggalkan Luhan, jadi kau tidak merebutnya dariku. Aku yang dengan bodohnya melepasnya"
"Apa kau sangat mencintainya?"
Sehun tertawa kecut. "Apakah itu masih penting? Dia mencintaimu"
"Benarkah?" kini giliran Jongin yang tertawa menyedihkan. "Karena aku sendiri mulai ragu apakah dia mencintaiku atau dia hanya merasa berhutang budi padaku"
"Bagaimanapun juga Luhan bahagia bersamamu"
"Bagaimana jika dia lebih bahagia bersamamu?"
"Aku berharap seperti itu" Sehun memandang Jongin dengan senyuman getir. "Tetapi, pada akhirnya dia memilihmu"
"Tidak peduli siapa yang dicintai Luhan, dia memilihmu. Tidak peduli itu karena rasa terima kasih, yang jelas yang diinginkannya, yang diberi kesempatan untuk terus bersamanya dan masuk ke hatinya adalah kau" lanjut Sehun dengan segala sakit yang dirasakan pada tiap katanya.
Mengingat fakta bahwa Sehun tidak bisa bersama lagi dengan Luhan selalu menyakitinya.
Jongin tidak bergeming. "Lalu, bagaimana denganmu?"
"Aku tetap pada kata-kataku seminggu yang lalu" Sehun mengukir senyuman kecil pada wajahnya yang pucat. "Bahwa itu yang terakhir. Aku tidak akan mengejarnya lagi"
Jongin tersenyum lemah. "Kau masih sangat mencintainya"
Sehun memandang Jongin lurus. "Kau juga sangat mencintainya"
"Kau brengsek dan bodoh. Kau tahu itu kan?"
Sehun mengangguk. "Aku tahu"
Andai saja Sehun cukup pintar untuk bisa membedakan mana rasa cinta dan mana rasa ingin memiliki saja, tentu Luhan tidak harus melarikan diri ke bar tempat Minseok bekerja, tentu Minseok tidak perlu meminta Jongin untuk membantunya, dan tentu saja ... Jongin tidak akan jatuh cinta kepada Luhan.
Ini semua karena dirinya, Sehun sadar akan hal itu.
Oleh karena itu pula, dia memutuskan untuk berhenti bertindak bodoh–
"Berhentilah memikirkannya. Jaga saja Luhan untukku, Jongin"
–dengan berhenti berusaha mendapatkan kembali Luhan.
Karena Luhan sudah bersama orang yang benar.
Jongin.
Yang tidak bodoh seperti dirinya.
First and Second
Minseok memandang dengan iba pria yang sedang mabuk di depannya.
Biasanya dia akan kesal jika orang ini mabuk.
Namun melihat air mata yang mengalir itu, Minseok hanya bisa ikut merasa sedih.
"Jongin"
Luhan menyebut namanya berulang kali.
Minseok sendiri tidak mengerti di mana adik sepupunya itu berada.
Sudah nyaris satu bulan, mahasiswa itu menghilang entah ke mana. Dihubungi pun tidak bisa.
Padahal– Minseok menggigit bibirnya ketika lagi-lagi nama Jongin keluar dari bibir kawannya itu –kukira mereka bahagia bersama dan baik-baik saja.
"Ini semua salahku, Minseok-ah" Luhan terkekeh, tetapi Minseok tahu bahwa tiap tawa dari Luhan adalah raungan yang tidak tersampaikan. "Andai aku tidak selabil ini"
Minseok sendiri tidak mengerti.
Di satu sisi, tentu dia merasa bahwa Luhan lebih pantas bersama Jongin –setelah dia tahu seluruh cerita dari Luhan yang mabuk.
Tidak semata-mata karena Jongin adalah sepupunya.
Tetapi lebih karena Jongin selalu ada untuk Luhan. Jongin yang selalu menceritakan Luhan kepada Minseok dengan raut bahagianya. Jongin yang sangat mencintai Luhan.
Tetapi di sisi lain, pria berprofesi barista sekaligus bartender itu mengerti kalau tidak adil jika dia hanya menilai cinta Jongin saja.
Sehun memang membuat kesalahan. Tetapi bagaimanapun juga pria itu seyogyanya tidak pernah berhenti mencintai Luhan.
Dia hanya bodoh.
Tetapi, bukankah manusia selalu layak mendapatkan kesempatan kedua?
Lagipula–
Minseok melihat ke arah seorang laki-laki yang memandang Luhan dengan terluka.
–Sehun juga menderita.
Melihat bagaimana orang yang kau cintai dalam kondisi terpuruk karena pria lain yang mungkin sudah merebut sebagian besar hatinya ... tidakkah itu sulit?
First and Second
"Maafkan aku"
Sehun dulu memang memutuskan untuk kembali ke apartemen lamanya dan berharap bisa membawa Luhan kembali kemari juga, seperti sedia kala.
Sekarang, Luhan memang berada di sana.
Namun bukan kondisi seperti ini yang Sehun harapkan.
Akan terdengar menggelikan memang jika seorang pengkhianat yang pernah membuat Luhan terpuruk dan menangis seperti Sehun yang mengatakannya, tetapi inilah kenyatannya; Sehun merasa sakit melihat Luhan seperti ini.
Ketika dia sedang dibodohi oleh otaknya sendiri, ketika dia sedang bersama Nana, dia tidak melihat bagaimana Luhan terpuruk.
Dan sekarang dia melihatnya.
Dan itu membuat dia semakin merasa bersalah. Menyesal. Membenci dirinya sendiri.
Sehun bahkan tidak marah kepada Jongin dimanapun laki-laki itu berada.
Karena Sehun tahu benar bahwa Jongin menghilang seperti ini juga karena dirinya.
Dirinya yang dengan bodohnya meninggalkan Luhan. Dan dirinya yang dengan egoisnya membuat Luhan dilanda kebingungan akan perasaannya.
Mahasiswa bermarga Oh itu tidak bisa memungkiri kalau ada bagian dalam dirinya yang senang karena Luhan ternyata masih menyisakan ruang untuknya.
Namun, mungkin akan terdengar tidak realistis, tetapi kenyataannya Sehun lebih memilih jika Luhan sudah benar-benar melupakannya.
Dengan begitu, Luhan akan bisa bahagia bersama Jongin.
Meninggalkan dirinya menderita seorang diri.
Tidak apa.
Sehun tidak keberatan jika itu kasusnya.
Yang penting Luhan tidak terlarut dalam penderitaan batinnya seperti ini.
"Maafkan aku" Sehun memeluk Luhan –yang sudah terlelap– dengan semakin erat. "Maafkan aku, Luhan"
First and Second
Luhan membuka matanya untuk mendapati pemandangan yang belakangan ini selalu dia lihat tiap dia bangun dari lelapnya.
Suasana apartemen Sehun –yang dulu juga merupakan apartemennya.
Luhan tidak bisa memasang ekspresi apapun mengetahui lagi-lagi Sehun mengurusinya yang sedang mabuk.
Meskipun dia sudah mengatakan kepada laki-laki itu untuk berhenti ikut campur dalam hidupnya di pagi pertama dia mulai mabuk-mabukan itu.
"Kau sudah bangun?"
Luhan menoleh ke arah Sehun yang berada di ambang pintu sedang membawa sebuah nampan dengan mangkuk yang mengepulkan uap di atasnya.
Seperti biasa, Sehun membuatkannya sup untuk membuat kepalanya yang berdenyut karena mabuk-mabukan semalam lebih baik.
Dan seperti biasa pula, Luhan akan bangkit dari ranjang tanpa mengucapkan sepatah kata atau memandang Sehun sedikit pun.
Sehun pun diam, dan meletakkan nampan itu di atas nakan di dekat ranjang.
Meskipun tahu sampai dirinya berangkat pun Luhan tidak akan memakannya, Sehun akan tetap membuatkan sup dan meletakkannya di sana apapun yang dikatakan atau dilakukan Luhan.
Sehun tahu Luhan membencinya dan menyalahkannya atas menghilangnya Jongin.
Dan Sehun menerimanya.
Karena memang dia sadar, semua kekacauan ini disebabkan oleh dirinya.
First and Second
Sehun datang ke bar karena panggilan dari Minseok.
Dia kira dia akan mendapati Luhan yang sedang mabuk lagi –yang sebenarnya sudah beberapa hari ini tidak terjadi lagi–, tapi ternyata tidak.
"Lalu ... apakah ini tentang kau sudah mendapat kabar di mana Jongin berada, hyung?"
Minseok menggeleng. Membuat Sehun menyerngitkan dahinya. "Lalu kenapa kau memanggilku?"
"Baiklah, aku sebenarnya sudah bertemu dengan Jongin" Sehun hendak merespon, namun Minseok segera melanjutkan. "Tetapi kita di sini untuk membahas dirimu"
Sehun semakin mengerutkan dahinya. "Aku? Kenapa denganku? Lalu bagaimana dengan Jongin? Di mana dia?" Kapan dia–"
"Dia tidak akan kembali pada Luhan, Sehun"
Minseok mengucapkannya dengan nada final. Jantung Sehun sendiri nyaris menemui garis final ketika mendengarnya.
"K–Ke...kenapa?"
"Jangan berdebat denganku karena ini adalah alasan Jongin, bukan alasanku" Minseok memijat pelipisnya. "Dia yakin bahwa Luhan tidak mencintainya sebesar dia mencintaimu. Intinya seperti itu"
Minseok diam. Menunggu reaksi dari laki-laki di depannya –yang seperti kehilangan kesadaran tetapi dengan kondisi mata yang masih terbuka.
Cukup lama sampai terdengar sesuatu keluar dari bibir laki-laki berkulit pucat itu.
"Ha" Sehun mendengus. "Hahaha" dan melanjutkannya menjadi tawa hambar.
Minseok memandang Sehun dengan serius. "Jangan mencoba menyangkalnya di depanku, percuma, karena aku bukan Jongin"
Sehun memandang Minseok dengan raut wajah terluka. "Lalu apakah dia tahu kalau Luhan membenciku sekarang karena kehilangan dirinya?"
Minseok menghela napas, sebelum menggeleng. "Aku tidak mengerti, Sehun. Ini keputusannya"
Sehun memandang Minseok dengan tatapan tidak percaya. "Luhan temanmu, hyung"
"Aku mengerti" Minseok mengangguk-angguk kecil. "Dan aku juga mengerti kalau kau bisa mencintai Luhan dan menjaganya seperti Jongin"
"Jadi kuharap kau bisa menerima keputusan Jongin, Sehun. Karena aku mendukung Jongin" lanjutnya cepat.
Sehun tidak mengerti lagi.
"Aku tidak bisa" Sehun menggeleng dengan yakin. "Aku bisa mencintai Luhan, aku bisa menjaganya, tetapi aku tidak bisa membahagiakannya"
"Tidakkah kau lihat bagaimana dia terpuruk ketika Jongin pergi? Bagaimana dia membenciku karena menyebabkan kekacauan ini?"
"Jika Jongin memang ingin menyelesaikan semua ini, maka suruhlah dia kembali pada Luhan, buat Luhan melupakanku seutuhnya, dan jangan pikirkan bagaimana dengan perasaanku karena aku layak kehilangan Luhan untuk dirinya"
"Ini bukan tentang aku ataupun Jongin, ini tentang Luhan. Dan Luhan bahagia hanya jika dia bersama Jongin"
Setelah itu, Sehun meninggalkan bar tanpa memedulikan panggilan berulang dari Minseok.
First and Second
Beberapa hari ini digunakan Luhan untuk berpikir daripada untuk mabuk-mabukkan seperti sebulan belakangan.
Memikirkan tentang perasaannya.
Tentang Jongin.
Dan tentang Sehun.
Untuk yang terakhir, Luhan sebenarnya cukup merasa bersalah jika mengingat bagaimana dia memperlakukan Sehun belakangan. Meskipun laki-laki itu sudah merawatnya tiap kali dia mabuk, Luhan malah bersikap dingin dan sama sekali tidak menghargai kebaikannya.
Luhan saat itu hanya perlu mencari orang yang bisa disalahkan agar dia tidak gila.
Jahat memang, tapi Luhan merasa Sehun layak mendapatkannya.
Sekarang setelah dipikir kembali, ini semua tidak sepenuhnya salah si bodoh Oh Sehun itu.
Jongin yang pergi bukan salah Sehun.
Jongin pergi karena Luhan.
Karena Luhan tidak bisa meyakinkan dirinya untuk tinggal.
Tentu Luhan tidak bisa meyakinkan Jongin karena dirinya sendiri tidak yakin dan itu semua disebabkan oleh Sehun.
Tetapi, bukankah dulu Jongin tetap berada di sisi Luhan meskipun Jongin tahu dia saat itu masih bersama Sehun?
Bukankah Jongin tetap membuat Luhan perlahan-lahan jatuh ke dalam dirinya meskipun Jongin tahu Luhan masih sangat mencintai Sehun?
Luhan pun sadar jika waktu itu dan sekarang berbeda. Waktu itu Jongin mungkin tetap tinggal karena dia tahu Sehun sudah bersama Nana. Sedangkan sekarang, Jongin tahu Sehun tidak bersama siapapun dan Sehun masih mencintai Luhan sehingga mungkin itulah kenapa Jongin memilih untuk pergi.
Namun, Luhan juga sadar akan satu hal. Bahwa kemungkinan itu tidaklah mungkin.
Jongin tidak terpengaruh oleh Sehun. Namun oleh dirinya.
Jongin selalu menempatkan dirinya di atas yang lainnya. Dirinya, bukan siapapun.
Jongin tetap bertahan di sisi Luhan ketika Sehun bersama Nana, itu semata-mata karena Luhan membutuhkan Jongin. Jongin selalu berada di sisinya, karena dia yang tanpa sadar meminta Jongin tinggal di sisinya. Luhan menyadari itu.
Jadi, jika Jongin menghilang seperti sekarang ini, itu semua murni salah Luhan sendiri.
Oleh karena itu, Luhan berniat meminta maaf kepada Sehun untuk semuanya.
First and Second
Ting-Tong.
Luhan bisa melihat Sehun yang membukakan pintu –dan ekspresi terkejutnya.
Namun, pria bermata rusa itu sendiri sedang mengerutkan dahi karena melihat sebuah koper besar yang berada di samping laki-laki di depannya.
"Lu, ada apa?"
Tersadar, Luhan memandang kembali ke arah Sehun. "Aku–"
"Ah, apakah kau mau masuk? Di luar dingin" Sehun memotong pembicaraan Luhan karena melihat tubuh itu sedikit menggigil akibat cuaca hari-hari terakhir musim gugur yang memang sangat dingin.
Luhan mengangguk dan melangkah masuk ke apartemen Sehun –yang juga apartemennya dulu– meski matanya sulit lepas dari koper besar yang dibiarkan di tempatnya itu.
"Jadi, tadi kau mau mengatakan apa?" Sehun yang sudah duduk di depan Luhan menanyakan kembali maksud kedatangan pria rusa itu.
"Ah, aku hanya mau meminta maaf" Luhan memandang Sehun dengan ragu. Meskipun Sehun tidak menunjukkan perubahan ekspresi apapun. "Kau tahu aku sedang ... tidak baik saat itu dan aku sadar atau tidak sudah seenaknya menyalahkanmu"
Luhan mendapati Sehun tersenyum tulus ke arahnya. "Tidak apa, Luhan. Aku mengerti. Aku yang seharusnya minta maaf"
"Kau–"
"Aku yang menyebabkan semua ini, Luhan" Sehun memotong, lagi, namun bukan karena Luhan menggigil seperti tadi. "Aku pun menyadarinya"
"Sehun aku–"
"Aku berpikir seperti ini bukan karena dirimu" Sehun memberikan senyuman kecil sarat akan keyakinan. "Aku menyadarinya sendiri. Ini semua salahku"
Luhan tidak bisa mengatakan bantahan apapun lagi selain menyetujui pengakuan bersalah Sehun meskipun dia sebenarnya tidak yakin Sehun bersalah. "Baiklah, lagipula itu sudah berlalu"
Kemudian keheningan itu tercipta. Mereka hanya saling memandang dalam diam.
"A–Apakah kau akan berlibur ke suatu tempat?" tidak tahan dengan pandangan Sehun, Luhan akhirnya memulai pembicaraan baru. Sekaligus menanyakan hal yang sedari tadi mengganjal di pikirannya ketika dia masuk ke dalam unit apartemen ini.
"Ah, iya. Aku akan pergi ke suatu tempat sebentar" Sehun melemparkan senyuman.
Namun, Luhan merasa ada yang salah dengan senyuman itu.
Pria itu melihat kembali ke sekelilingnya.
Dan itu membuatnya sadar akan satu hal.
Memandang Sehun –yang sepertinya khawatir akan perubahan raut wajahnya meski Luhan tidak tahu seperti apa wajahnya sekarang–, Luhan bertanya. "Kenapa kau berbohong?"
"Apa yang–"
Kali ini giliran Luhan yang memotong. "Kau akan pergi bukan?"
"Ya, aku memang akan pergi. Aku sudah mengatakannya"
Luhan merasa tidak nyaman dengan Sehun yang masih berpura-pura tidak mengerti. Membuat dirinya bangkit dari tempat duduknya dan menunjuk ke arah barang-barang yang berada di boks atau ditutup kain itu. "Kau akan pergi untuk waktu yang lama Sehun! Bahkan mungkin selamanya! Berhenti membohongiku!"
Melihat Sehun yang hanya diam, Luhan semakin merasa tidak nyaman. "Kau mau ke mana?"
Sehun masih diam.
"Sehun, jawab aku!"
Luhan tidak tahu kenapa, tetapi jantungnya berdetak kencang.
"Apakah itu penting, Luhan?"
Dan jawaban itulah yang diterima Luhan.
"Apa..." Kenapa dia berkata seperti itu? "...maksudmu?"
Luhan bisa melihat raut wajah Sehun yang dingin.
"Aku berada di mana, apakah itu penting bagimu?"
Luhan menggigit bibirnya ketika mendengar pertanyaan itu.
Tertohok, itu yang dia rasakan.
"Aku sendiri bagaimana, Sehun?" kata-kata dan ekspresi wajah Sehun entah kenapa menusuk dirinya.
"Apakah aku tidak penting bagimu, Sehun?" tanya Luhan lirih. "Kau akan meninggalkanku sendirian, dan kau bertanya apakah itu penting untukmu mengatakan yang sebenarnya padaku?"
"Apakah itu perlu jawaban?" Sehun masih bertanya dengan nada datar. "Bukankah jika Jongin masih ada, aku ada atau tidak itu tidak ada kaitannya denganmu?"
Sakit.
Kata-kata Sehun membuatnya sakit meski kata-kata itu tidak melukainya secara fisik.
"Bukankah ... kau sudah menolakku?" yang terakhir dikatakan yang berkulit pucat dengan nada sarat akan rasa sakit. "Dan aku sudah memutuskan untuk menerima penolakanmu dan melepasmu bersama Jongin"
Ya.
Sehun benar.
Bukankah jika Jongin tidak tahu mengenai Sehun yang masih menyukainya, jika Jongin tidak tahu Luhan sedang dilanda kebingungan, Jongin tidak akan pergi seperti sekarang?
Dan jika Jongin tidak pergi ... bukankah Luhan tidak akan memedulikan Sehun dan akan berusaha hidup dengan baik bersama Jongin meskipun dia masih bimbang dengan perasaannya?
Tetapi–
"Tapi Jongin pergi karena dirimu, bukan, Sehun?" kedua telapak tangannya mengepal erat. "Jongin pergi karenamu ... jadi bertanggung jawablah"
Luhan mengangkat kepalanya dan memandang Sehun lurus. "Bertanggung jawablah dengan tinggal di sisiku menggantikannya"
"Kau sudah membuat Jongin pergi dariku. Dan kau akan lari lagi? Meninggalkanku menderita sendirian seperti ini?"
"Sebenarnya apa maumu Oh Sehun?!"
Yang lebih tinggi hanya bisa menghela napasnya.
Kaki jenjangnya dia bawa mendekat ke arah yang lebih tua darinya.
Jemarinya digerakkannya untuk menghapus air mata yang mengalir dari mata rusa indah yang disukainya.
"Jangan menangis, Lu"
Dan Luhan sendiri bahkan tidak sadar dia menangis.
Tubuh yang lebih pendek itu langsung mendekap tubuh yang lebih tinggi darinya.
Memeluknya erat.
"Jangan tinggalkan aku hiks, Sehun, hiks kumohon"
Mendengarnya, mahasiswa bermarga Oh itu hanya bisa memejamkan mata. "Luhan, dengarkan a–"
"Aku masih mencintaimu, Sehun"
Sehun membuka matanya.
Dengan perlahan dia melepaskan pelukan Luhan pada tubuhnya.
Matanya memandang kedua mata yang basah itu.
"Kau mungkin masih mencintaiku, Lu. Tetapi, sebagian besar hatimu sudah memilih Jongin sebagai penempatnya" kedua tangannya dia gunakan untuk menangkup wajah orang yang dicintainya. "Aku sangat mencintaimu, Luhan. Dan aku ingin terus di sampingmu. Tetapi jika yang kau butuhkan adalah Jongin, jika yang bisa membuatmu bahagia adalah Jongin–"
"Tetapi Jongin pergi Sehun" Luhan memandang Sehun dengan sedih. "Jongin pergi karena aku"
"Kau–"
"Jongin pergi karena aku masih mencintaimu" Sehun diam, memandang pada Luhan yang kembali terisak. "Dia pergi karena dia tahu aku lebih mencintaimu daripada dirinya"
"Ap–"
"Kau mungkin tidak bisa memahaminya, Sehun hiks" Luhan kembali meneteskan air mata mengingat bagaimana dia sudah menyakiti Jongin yang selalu berada di sampingnya ketika Sehun –yang justru seharusnya berada di sana– meninggalkannya. "Tetapi Jongin sangat memahamiku hiks, sampai dia tahu siapa yang sebenarnya aku cintai"
Luhan benar. Sehun masih tidak bisa menangkap apa maksud Luhan. Dia bahkan sekarang memandang Luhan dengan heran.
"Jongin hiks Jongin tidak akan meninggalkanku jika dia tahu aku membutuhkannya. Jika dia tahu aku memintanya tinggal, dia akan tinggal" Luhan memandangnya dan ekspresi Luhan yang menyedihkan itu membuat Sehun sakit. "Tetapi karena perasaan bodohku untukmu mengalahkan logikaku untuk tetap bersama orang yang pantas kucintai ... dan karena Jongin tahu perasaanku itu meskipun aku tidak mengatakan apapun ... hiks dia ... hiks pergi"
"A–Aku..." Sehun memandang Luhan dengan raut wajah kebingungan. "...tidak mengerti"
"Aku bahagia bersama Jongin karena aku tahu kau sudah bahagia bersama Nana. Aku memutuskan untuk bahagia bersama Jongin karena aku tahu kita tidak memiliki kesempatan untuk bersama lagi. Tetapi, karena kau dan kebodohanmu, perasaanku yang belum sepenuhnya diambil oleh Jongin itu terpaksa harus kembali lagi ketika tahu kalau aku masih memiliki kesempatan bersamamu"
Berbagai emosi berkecamuk dalam diri Sehun sekarang. "Kau–"
"Ya, Sehun" Luhan menggigit bibirnya. "Aku masih mencintaimu, sama seperti kau yang bodoh dan brengsek ini masih mencintaiku"
Sehun tidak tahu perasaan apa yang mendominasi dirinya sekarang.
Bingung.
Ragu.
Terkejut.
Bahagia.
Bersalah.
Sehun tidak mengerti yang mana.
Tetapi, dia mendapati dirinya memeluk Luhan erat, dengan sebuah senyuman penuh kelegaan terukir di wajahnya.
Dan kalimat Aku mencintaimu yang dirapalkannya bagai mantra berulang-ulang kali.
Sedangkan Luhan membalas pelukan Sehun tak kalah erat.
Luhan jujur dengan yang dikatakannya.
Apa yang baru saja dia katakan juga merupakan hasil pemikirannya secara mendalam selama berhari-hari.
Dia menangisi Jongin tidak semata-mata karena dia sudah memiliki perasaan pada Jongin.
Dia menangisi kepergian Jongin karena merasa bersalah bagaimana dia membuat seseorang yang tulus mencintainya dan selalu melakukan apapun untuknya pergi.
Perasaannya pada Jongin terguncang oleh perasaannya pada Sehun.
Sebagian hati Luhan yang sudah susah payah Jongin dapatkan, dengan mudahnya diambil kembali oleh Sehun hanya dengan kata Aku masih mencintaimu.
Dan nama Jongin yang terukir di hati Luhan, begitu saja berubah menjadi nama Sehun lagi.
Seakan nama Jongin ditulis dengan tinta yang hilang hanya dengan tersiram air.
Sedangkan nama Sehun terpatri secara permanen di tiap sudut hati Luhan.
Luhan memejamkan matanya.
"Aku mencintaimu, Sehun. Berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkanku"
Sehun melepas pelukannya, memandang Luhan dengan tatapan penuh cintanya, dan memberikan pria bermata rusa itu sebuah kecupan panjang di bibirnya.
Sebuah bahasa lain untuk menyatakan janjinya.
First and Second
Luhan sadar akan satu hal.
Bahwa cinta itu terkadang memang buta.
.
Sebagian dari diri Luhan mungkin sudah mencintai Jongin.
Jongin yang selalu ada untuknya. Jongin yang selalu menjadikannya prioritas utama.
Jongin, yang memang layak mendapatkannya.
.
Namun, sebagian dari dirinya masih menyimpan nama Sehun.
Sehun yang pernah menyakitinya. Sehun yang dengan bodohnya mengacaukan segalanya.
Sehun, yang sebenarnya tidak layak mendapatkannya.
.
Seingin apapun Luhan untuk bahagia bersama Jongin.
Sebenci apapun Luhan dengan kenyataan yang ada.
Pada akhirnya perasaan Luhan memilih kembali sepenuhnya kepada Sehun daripada berpindah sepenuhnya kepada Jongin.
.
Luhan jatuh cinta kepada Jongin berawal karena kehangatan dan kebaikan laki-laki itu.
Tetapi, Luhan masih mencintai Sehun tanpa alasan apapun.
Dan cinta, cinta yang sesungguhnya, tidak memerlukan alasan, bukan?
First and Second
Kita tidak pernah bisa mengatur hati kita.
Kita tidak pernah bisa mengatur kepada siapa kita akan jatuh cinta bukan?
Begitu pula dalam hal berhenti mencintai.
Kita tidak pernah bisa berhenti mencintai semau kita.
Pilihannya hanya dua, melupakan cinta itu atau mencintai yang lain.
Itulah pelajaran yang Luhan dapatkan ketika Sehun, kekasihnya, berhenti mencintai dirinya.
.
Luhan bertemu Jongin ketika Sehun meninggalkannya. Entah bagaimana Jongin selalu membuat dirinya merasa lebih baik.
Jongin membuatnya tersenyum. Jongin tidak pernah menyakitinya. Singkatnya, Jongin sangat mencintainya.
Seharusnya Luhan tinggal melupakan Sehun, dan bahagia bersama Jongin.
Namun nyatanya dunia tidak pernah berjalan semudah itu.
.
Luhan tidak benar-benar bisa mengatur hatinya.
Tidak bisa meminta hatinya untuk mencintai Jongin sepenuhnya.
Tidak bisa membuat perasaannya menghilangkan nama Sehun dari sana.
.
Sehun tidak benar-benar bisa mengatur hatinya.
Tidak bisa mencintai Nana meskipun dia yakin Nana adalah tambatan hatinya.
Tidak bisa berhenti mencintai Luhan meskipun dia harus melupakannya.
.
Jongin selalu membuat Luhan bahagia.
Jongin tidak pernah menyakitinya.
Jongin yang sangat mencintainya.
.
Sehun pernah membuat Luhan menangis.
Sehun pernah meninggalkannya.
Sehun yang dengan bodohnya ternyata masih mencintainya.
.
Ada pepatah yang mengatakan jika kau terjebak di antara dua pilihan dalam asmara, maka kau sebaiknya memilih pilihan kedua. Karena jika pilihan pertama benar-benar tambatan hatimu, hatimu tidak akan memerlukan pilihan lainnya.
Namun bagaimana jika setiap sang pilihan pertama muncul, kau selalu kembali padanya, dan ganti menjadikannya pilihan kedua?
.
Awalnya, Sehun adalah pilihan pertama dan Jongin adalah pilihan kedua bagi Luhan.
Pilihan kedua berhasil merebut sebagian hati Luhan.
Maka, Luhan memilihnya.
Namun, ketika sang pilihan pertama muncul, sebagian hati Luhan yang sudah berada di tangan sang pilihan kedua entah bagaimana kembali kepada sang pilihan pertama.
Dan pada akhirnya, Sehun entah bagaimana menjadi pilihan kedua.
Sama seperti sebelumnya, Luhan memilih pilihan kedua.
Karena Luhan sadar akan satu hal.
Jika Jongin benar-benar tambatan hati Luhan, Luhan tidak akan menjadikan Sehun pilihan kedua.
Jika Jongin benar-benar tambatan hatinya, Luhan tidak memerlukan pilihan yang lainnya.
The End
Maafkan saya, ini molor (lagi), saya tahu. Kiranya 4000 kata bisa menghilangkan lumut-lumut yang sudah tumbuh di sekitar kalian.
Baiklah, masih musim gugur tapi sudah dingin sekali di sini. Saya sedih karena dingin jadi selalu lapar. Bagaimana jadinya dengan musim dingin nanti? Entahlah, doakan saja saya tidak mati kedinginan atau jadi obesitas. Belum lagi tugas dan tes yang tiap minggu ada, lalu tekanan pribadi karena saya salah memilih main course. Jadi semester ini terasa berat sekali. Belum lagi masalah-masalah pribadi lainnya karena hidup sendiri di negeri orang, ternyata meski menyenangkan berat juga. Ya, segala sesuatu ada risikonya, kan ya.
Terima kasih sekali lagi bagi siapapun yang menunggu. Terima kasih doa dan semangatnya untuk saya, baik mengenai ff ini ataupun kehidupan baru saya di Jepang.
Dan maaf bagi yang mendukung Kailu, selain karena yang milih Hunhan lebih banyak, sebenarnya dari awal saya sudah menentukan ff ini akan berakhir dengan Hunhan. Sesuai kata-kata di foreword, yang sebenarnya "memiliki pilihan kedua" itu Luhan, bukan Sehun. Lalu mengenai "pilihan pertama yang kembali muncul", itu mengenai Sehun yang muncul lagi setelah Luhan bahagia bersama Jongin, bukan Luhan yang muncul setelah Sehun bersama Nana. Karena pada dasarnya Sehun tidak pernah berganti hati, hanya tidak bisa membedakan mana yang cinta mana yang "mengejar kepuasan karena akhirnya berkesempatan memiliki yang dulu gagal dimiliki", sedangkan Luhan akhirnya benar-benar berbagi hati.
Mungkin ada sekuel untuk menjawab di mana Jongin sebenarnya dan bagaimana setelah Hunhan bersatu. Tetapi, itu pun kalau kalian masih sanggup menunggu.
Ini saya mau fokus ke Psyche and Eros dulu.
And ... thank you very much for reviewers, followers, and favoriters!
rachmatika94 Hunhan | Agassi9 Kailu | Guest Kailu | tyaku93 Hunhan | Guest Hunhan | BB137 Hunhan | mischa baby Hunhan | Seravin509 Golput | chii-chan Kailu | hanjesperlu520 Kailu | DeiLuHan Kailu | Guest Hunhan | juniaangel58 Hunhan | exohunhanexo Hunhan | HH947 Hunhan | Guest Hunhan | ZzzxHan Hunhan | Arifahohse Hunhan | Guest Kailu | LightCSI Kailu | kaika0788 Hunhan | lzu hn Hunhan | AngelLuDeer Hunhan | Nyonya416 Hunhan | milkluhans Kailu | Nurul999 Kailu | avheril psychomonst49 Kailu | Double Kim Hunhan | whoami Kailu (under post maksudnya apa ya? Hehe, maaf saya kurang paham) | luluuuHS Kailu | Silvi682 Kailu | Shizuluhan Kailu | han7 Hunhan | Honey Golput | Guest Kailu | Guest Hunhan | Nurfadillah Hunhan | Ludeer Golput | auliaMRQ Hunhan | choi eun sang Kailu | chacha Kailu | chii-chan Kailu | HUNHAN as Always Hunhan | oohluhan Hunhan | mr albino Hunhan | Guest Kailu | Luge anggap saja Kailu mwahahaha | di Golput | rusa kecil Kailu | dearmydeer7 Hunhan
Hunhan : 25. Kailu : 21. Golput : 4
Ngakak omong-omong saya baca komen kalian apalagi di akhir-akhir seperti perang guest. Sekali lagi maaf ya yang mendukung Kailu n(_ _)n
So,
Mind to review?
