Bugh! Bugh! Bruk!
"Argh!"
Satu tangan terkilir kebelakang,
Dengan Wonwoo yang tersenyum lebar.
Tiga manusia lain sudah babak belur,
Meringis sambil tengkurap memegangi punggung yang nyut-nyutan.
"Masih berani mengganggu seorang gadis, hah!"
Bentaknya.
"T-tidak!"
Si preman menjawab.
"Cepat minta maaf!"
Datar.
Seperti biasa.
"Huh?"
Wonwoo berdecak. Preman ini bodoh atau apa sih?
"Kau mengganggu temanku. Jadi kau harus minta maaf padanya!"
Dan tarikan tangannya semakin kuat saja.
"Wonwoo!"
Belum juga si preman menjawab,
Seorang lelaki tinggi berlari kearahnya.
Oh, jangan lupakan dua gadis lain yang mengikutinya dari belakang.
Siapa lagi kalau bukan Mingyu.
Bersama dua sahabatnya, Jihoon dan Seungkwan.
Wonwoo mendengus, masih dikuncinya tangan si preman dengan kuat.
"Jeonghan-ah, kau baik-baik saja?"
Lalu diliriknya Jihoon dan Seungkwan,
Yang berbaik hati memeluk Jeonghan dengan sayang.
"Kau sedang apa, huh? Lepaskan dia!"
Mingyu menyentak,
Pun Wonwoo menurut.
Melepaskan kuncian tangannya,
Dan membiarkan geng preman itu kabur, terbirit ketakutan.
"Aku hanya memberi sedikit pelajaran. Mereka menggoda Jeonghan."
Melipat kedua tangan didepan dada sambil memajukan bibir lucu.
"Itu bahaya. Bagaimana kalau mereka menyerangmu!"
Mingyu menangkup kedua pipi Wonwoo.
"Tidak akan. Kau lupa siapa aku?"
Melepas tangan Mingyu, lalu berjalan kearah Jeonghan.
"Kau tak apa?"
Yang ditanya mengangguk pelan,
Masih betah berlama-lama dalam pelukan Jihoon.
Mingyu menghela napas jengah.
Selalu seperti ini.
'Dasar gadis nakal.'
...
...
PANTOMIME
Kim Mingyu, Jeon Wonwoo
Angst, Bullying, GS!
...
Kim Jong Soo 1214
...
Enjoy!
...
Mingyu berjalan pelan memasuki lingkungan sekolah. Dahinya nampak berkerut sejak kemarin. Ia begitu memikirkan ucapan Jihoon. Membantu Wonwoo? Entahlah, memikirkannya saja membuat kepalanya pening sepanjang malam.
Ia bisa saja membantu Wonwoo sedari dulu meskipun tanpa Jihoon. Tapi ia sadar resiko apa yang akan ia hadapi. Paman Jeon dan Ayahnya, adalah salah satu penyebab mengapa Mingyu perlu memikirkan matang-matang masalah ini. Meskipun sampai sekarang Mingyu belum mengetahui apa penyebab Ayah Jeonghan meninggal dan Paman Jeon masuk penjara, tapi sedikit banyak ia mengetahui latar belakangnya.
Ia hanya perlu 'sedikit' mengorek informasi dari beberapa sumber yang menurutnya kuat dan membongkar semuanya. Dengan begitu masalah akan selesai.
Tapi kenyataannya tak sesederhana itu. Mingyu hampir lupa siapa dirinya. Anak seorang penjahat. Jika Mingyu tak berhati-hati dalam mengambil tindakan, bisa saja dirinya yang masuk dalam kerumitan itu.
Mingyu menghela napas lelah. Ia menyadari betul bahwa dirinya tak bisa melakukannya sendirian. Ia butuh bantuan.
Tapi siapa?
Pikiran lelaki itu masih melalang buana ketika tanpa sengaja matanya menangkap lelaki berwajah tegas berjalan tak jauh darinya. Lelaki yang satu tahun lebih tua darinya. Lelaki yang paling membenci dirinya. Seungcheol.
"Hyung."
Yang dipanggil menghentikan langkah. Tanpa menolehpun Seungcheol tahu siapa yang tengah menyapanya.
"Bisa kita berbicara sebentar?"
Seungcheol tak menanggapi hingga kalimat berikutnya diucapkan Mingyu.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," jeda sebentar, "Mengenai Paman Jeon."
"Aku sibuk."
Jawaban singkat.
"Aku yakin kau tak akan membiarkan Wonwoo terus-terusan seperti itu."
Bruk!
Seungcheol meraih kerah Mingyu dengan cekatan, menyudutkan lelaki tan itu hingga tak ada ruang gerak lagi untuknya.
"Sudah berapa kali kubilang, jangan pernah menyebut nama Wonwoo dengan mulut kotormu itu, Kim Mingyu!" geramnya penuh ancaman.
"Benarkan? Kau pasti tahu sesuatu. Dan hal itu yang membuatmu membenciku." Mingyu tak menghiraukan ucapan Seungcheol, justru memberikan kalimat yang membuat lelaki itu terdiam.
"Aku bisa membantu Wonwoo jika kau mau memberikan informasi yang kau tahu padaku."
Cengkeraman tangan Seungcheol mengendur, pun tatapan tajamnya melunak.
Lelaki itu menghela napas, berusaha menetralkan emosinya yang sempat tersulut. Melirik kearah Mingyu sebentar kemudian berucap, "Atas alasan apa kau berkata seperti itu?"
"Haruskah aku mengatakannya disini?"
Seungcheol mengedarkan pandangannya, mendapati beberapa siswa yang mengamati mereka dengan tatapan bertanya. Seungcheol cukup tahu apa maksud Mingyu. Tentu ia tak ingin semua rahasia yang selama ini ia sembunyikan diketahui oleh banyak orang dan membuat Wonwoo semakin dibenci mereka.
"Kita keatap."
Dan Mingyu mengulas senyum tipis setelahnya.
...
...
Mingyu duduk disudut kelas. Memperhatikan seorang gadis yang sibuk menulis sesuatu pada papan tulis. Hari ini Lee Seonsaem tidak hadir, dan beliau memberikan beberapa soal yang harus dikumpulkan sebelum bel pulang sekolah berbunyi.
Mingyu tak mempedulikan hal itu. Ia lebih tertarik pada gadis manis yang tengah menggoreskan padatan putih dipapan rata berwarna hijau. Memperhatikan dari jauh meskipun pikirannya berkelana tak berujung.
Ia masih begitu mengingat perkataan Seungcheol yang diucapkan padanya beberapa saat yang lalu.
"Sudah satu tahun... aku tidak tahu apa alasan kau mendatangiku dan mengungkit kembali masalah ini."
"Aku tidak ingin datang padamu seperti ini, hyung. Tapi aku benar-benar ingin membantu Wonwoo."
"Begitukah?"
"Kau tak percaya padaku?
"Tidak ada alasan untukku percaya pada anak seorang jahat sepertimu, Kim Mingyu."
Mingyu menghela napas maklum. Ia begitu paham mengapa Seungcheol berkata demikian.
"Aku tahu Ayahku terlibat begitu banyak dalam masalah Paman Jeon. Akupun tahu apa yang pernah dilakukan Ayahku pada Wonwoo satu tahun yang lalu. Aku hanya ingin menebus semua kesalahan keluargaku, hyung."
Seungcheol tersenyum remeh, "Lucu sekali."
"Kau membantu Wonwoo hanya untuk menebus kesalahan keluargamu? Aku rasa Wonwoo tidak akan suka dengan apa yang akan kau lakukan."
Seungcheol memasukkan kedua tangannya pada saku celana kemudian bergerak mendekati Mingyu yang berdiri tak jauh darinya.
"Dengar! Tidak semua hal yang kau tahu akan menjadi baik bagi Wonwoo. Dia sudah terluka. Kau tak pernah tahu bagaimana kerasnya Wonwoo melupakan kejadian itu selama ini. Dan kau ingin mengoreknya kembali? Lebih baik kau melihatku mati sebelum kau melakukan hal itu, Kim Mingyu!"
"Begitukah kerasnya hidupmu selama ini, Wonwoo-ya?"
"Heh?" Soonyoung menatap Mingyu dengan wajah bodohnya, "Kau mengatakan sesuatu?"
Mingyu melirik teman sebangkunya itu sebentar, "Tidak."
"Tapi aku dengar kau menyebut nama Wonwoo tadi."
Mingyu tak menanggapi. Lebih memilih memasang earphonnya kemudian menelungkupkan kepala pada lipatan tangannya.
"Aneh sekali kau ini." Soonyoung bergumam pelan.
...
...
Wonwoo duduk diam disudut perpustakaan. Kedua telinganya ia sumpal menggunakan earphone, menghindari suara bisik yang menganggunya. Gadis itu menghela napas berkali-kali, begitu menunjukkan raut lelah yang teramat.
Wonwoo sudah bersiap menumpukan kepala pada lipatan tangan, sebelum seseorang menarik satu earphone dari telinga kirinya.
"Selamat siang, Wonieku sayang~" ucap lelaki berwajah tegas dengan cengiran bodohnya.
"Ish!" Wonwoo tak berniat membalas sapaan itu dan lebih memilih kembali memasang earphone-nya.
"Eiy, kau tak mau menjawab sapaanku?" Seungcheol kembali menarik earphone Wonwoo.
Gadis itu memutar manik matanya, kemudian tersenyum –yang sebenarnya dipaksakan.
"Jelek sekali." Seungcheol mengusak kepala Wonwoo gemas.
"Oppa~" ucapnya risih.
Seungcheol terkekeh, ia sangat suka menganggu Wonwoo.
"Bagaimana hari ini? Ada yang mengganggumu lagi?" tanya Seungcheol penasaran.
Wonwoo menggeleng.
"Syukurlah," ucapnya singkat, "Maaf karena kemarin aku tak datang menolongmu." lanjutnya.
Wonwoo mengangguk, "Tak apa."
"Aku melihat Mingyu dan Jihoon disana. Jadi aku tak mau mendekat."
Wonwoo terdiam setelahnya. Menunduk, mengamati tangannya yang berada diatas meja.
"Oppa..."
"Hm?"
"Apa aku terlihat begitu munafik?"
Seungcheol mengerutkan kening, "Maksudmu?"
Wonwoo tak langsung menjawab. Ada gurat keraguan pada mata rubahnya.
"Lupakan."
Sebenarnya Seungcheol tahu apa yang dimaksud Wonwoo.
Mingyu.
Siapa lagi?
Bahkan Seungcheol tahu bagaimana Wonwoo masih menyimpan perasaan untuk lelaki itu. Semua tergambar jelas dimata Wonwoo. Meskipun gadis itu tak benar-benar mau jujur padanya, tapi Seungcheol merasakannya.
"Eish... kau ini aneh sekali."
"Kau yang aneh."
"Kenapa jadi aku?"
"Karena kau seperti hantu. Datang tanpa diminta, pergi juga tanpa disuruh. Benar-benar aneh."
"Jadi kau mengataiku hantu?" Seungcheol mendelik.
"Jika kau bertanya, maka jawabannya, ya."
"Yha! Nakal sekali!"
Seungcheol meraih leher Wonwoo, menggapitnya diantara lengan dan ketiak. Menenggelamkan wajah Wonwoo pada dadanya. Pun mengacak rambut panjang itu dengan gemas.
"Oppa~ kau mau membunuhku? Aku tidak bisa bernapas."
"Benarkah? Apa perlu aku melakukan yang lebih keras lagi, anak nakal?" ucap lelaki itu sembari menggelitiki pinggang Wonwoo.
Wonwoo tertawa, tapi tak bisa keras karena mereka sedang ada diperpustakaan.
Tak tahu saja jika tingkah mereka terawasi oleh sepasang mata dari balik rak besar tak jauh dari sana.
...
...
"Mingyu-ya!"
Sang empunya nama menoleh begitu terdengar suara mengalunkan namanya. Bukan hanya Mingyu, Soonyoung dan Seokmin yang juga sedang berjalan bersama Mingyu serempak mencari sumber suara.
Jihoon, si gadis mungil berlari ringan menghampiri mereka.
"Anyeong, Jihoon-ah." sapa Soonyoung kelewat ceria begitu sang gadis berada didepan mereka.
Jihoon tak merespon, ia lebih memilih menatap Mingyu dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Bisa kau meluangkan waktumu sebentar?" tanya Jihoon kemudian.
Mingyu mengerti, jika Jihoon memintanya seperti ini, sudah dapat dipastika ada hal penting yang akan disampaikan. Mingyu sudah mengenal Jihoon sejak mereka masih duduk dibangku sekolah dasar. Untuk itulah Mingyu tahu bagaimana sifat temannya yang satu ini.
"Kalian bisa pulang dulu. Nanti aku menyusul." ucap Mingyu yang dibalas delikan mata dari Soonyoung.
"Yha! Kau mau berduaan dengan Jihoon?" tanya Soonyoung tak terima. Bahkan jari telunjuknya mengarah pada Mingyu dan Jihoon bergantian.
Tapi bukan jawaban yang ia terima, justru kedua manusia berbeda ukuran tinggi badan itu pergi begitu saja dari hadapannya.
Seokmin tertawa lebar melihat bagaimana wajah cengo Soonyoung. Menurutnya, wajah seperti itu yang membuat Seokmin tak bisa menahan pipis setelahnya.
...
...
"Ini." Jihoon menyerahkan selembar kertas pada Mingyu.
Mingyu mengernyit, "Apa ini?"
"Jujur saja... aku sudah beberapa kali menemui Paman Jeon bersama Seungkwan dan Jeonghan. Dan ketika kami kesana menanyakan perihal kasus satu tahun yang lalu, Paman Jeon selalu memberikan teka-teki yang terselip didalam kata-katanya. Aku yakin jika itu adalah sebuah petunjuk." terang Jihoon.
Mingyu menerima kertas dari tangan Jihoon, membuka kertas itu dan meneliti deretan kalimat yang tertulis disana.
"Melukai tanpa pisau, menembak tanpa handgun?" lelaki itu mengernyit, kemudian membaca kembali kalimat dibawahnya, "Gyeongsang-Busan?"
"Sebenarnya bukan hanya itu, Paman Jeon memberikan petunjuk lain ketika trakhir kali aku mengunjunginya. Dia membahas masa kecil Wonwoo dan saat pertamakali kami mengenalnya."
Mingyu semakin tak mengerti.
"Paman Jeon membahas tentang pita biru yang kukenakan, kucir dua Seungkwan, dan rambut kepang Jeonghan. Aku rasa itu ada hubungannya dengan maksud Paman Jeon dikalimat pertama."
Mingyu menatap kembali kertas yang ada ditangannya, "Maksudmu perkataan Paman Jeon seperti puzzle? Yang harus dicari potongannya agar dapat tersusun secara benar, begitu?"
Jihoon menjentikkan jarinya, "Benar."
Mingyu mengehela napas kasar, "Kenapa Paman Jeon harus menggunakan teka-teki seperti ini? Kau tahu 'kan kalau aku tidak begitu bagus dalam hal permainan kata."
Jihoon tersenyum tipis, tentu ia tak melupakan hal itu. Mingyu memang seorang jenius, tapi ia tidak suka dengan hal-hal yang membuatnya sakit kepala. Apalagi permainan kata seperti ini membutuhkan otak yang tenang untuk memecahkannya. Benar-benar tipe anak laki-laki.
"Justru itu aku memberitahumu sejak awal."
"Astaga."
"Kau tenang saja, aku akan mencari tahu lebih lanjut kepada Seongcheol Oppa."
Mingyu terdiam setelahnya. Mengingat bagaimana usahanya yang gagal ketika meminta bantuan Seungcheol hyung. Tapi ia yakin jika Jihoon yang meminta, Seungcheol hyung tak akan bisa menolaknya.
"Baiklah, hubungi aku jika kau sudah mendapatkan informasinya. Setelahnya aku akan mengecek keberadaan Ayahku."
...
...
"Oppa."
Seungcheol menghentikan goresan tinta pada bukunya ketika mendengar suara yang tak asing baginya. Lelaki itu mendongak dan mendapati Jeonghan tengah tersenyum kearahnya.
"Apa aku menganggumu?" tanya gadis itu lembut.
Seungcheol tak menjawab, memilih kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
Jeonghan berdehem, menetralkan rasa canggung yang menyergap dirinya. Gadis itu kemudian duduk didepan Seungcheol, sambil membuka buku tebal yang entah apa isinya.
"Oppa... kau sudah makan?" tanya Jeonghan basa-basi.
"Um."
Jeonghan tersenyum tipis.
"Aku memaafkanmu atas kejadian waktu itu." Jeonghan sedikit berbisik.
Seungcheol menatap tajam, "Aku tidak ingat pernah melakukan kesalahan."
Senyum Jeonghan pudar seketika, tergantikan raut yang begitu menusuk.
"Apa kau akan terus bersikap seperti ini padaku?"
"Memangnya aku bersikap seperti apa?"
"Oppa-"
"Kita sudah berakhir, Jeonghan. Aku mengingatkan jika kau lupa."
"Karena apa? Karena gadis sialan bernama Jeon Wonwoo itu?" Jeonghan mendesis tajam.
Seungcheol menatap gadis itu tidak suka.
"Jaga bicaramu."
Lalu gadis itu tersenyum miring.
"Ternyata benar. Apa hebatnya Jeon Wonwoo itu hingga kau beralih padanya, huh? Aku rasa mata hatimu belum sepenuhnya terbuka untuk melihat siapa gadis bangsat itu yang sebenarnya."
Seungcheol balas menatap tajam mata Jeonghan, namun terselip senyum mengejek disana.
"Begitukah?" jeda sebentar, "Mungkin aku tak jauh berbeda denganmu."
Jeonghan mengernyitkan dahi. Ia tak mengerti apa maksud Seungcheol dengan ucapannya.
"Kau juga tak pernah membuka mata hatimu. Aku kira Wonwoo sudah cukup menerima perlakuan burukmu selama ini. Kau tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi, Yoon Jeonghan. Karena kau hanya bisa menyalahan dari sisi dirimu saja. Aku sarankan padamu, belilah spion besar agar kau dapat melihat siapa yang berada dibalik punggungmu selama ini."
Seungcheol membereskan buku-bukunya diatas meja dan memasukkannya kedalam tas. Mulai melangkah pergi meninggalkan gadis itu sebelum suara Jeonghan kembali mengusiknya.
"Jadi kau memutuskanku hanya karena masalah seperti ini? Aku kira kau pria baik yang akan benar-benar menjagaku hingga akhir seperti yang pernah kau ucapkan. Tapi ternyata... ," Jeonghan tersenyum hampa, "Kau hanya seperti ini."
Seungcheol tak berniat membalas kalimat itu. Ia memilih kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Meningalkan gadis cantik yang mulai meloloskan airmatanya tanpa suara. Sekali lagi... Jeonghan menangis tanpa seorangpun yang berada disampingnya. Ditemani bias senja, dan dinginnya lantai perpustakaan.
Seorang diri.
...
...
"Apa kau sudah gila!" Soonyoung berkata kelewat kencang hingga hampir seluruh penghuni cafe menoleh padanya.
"Pelankan suaramu, bodoh!" Seokmin mengeplak kepala Soonyoung.
Lelaki berpipi bulat itu meringis sebentar. Ia tak berniat membalas perlakuan Seokmin padanya dan memilih kembali bersuara.
"Kau tahu 'kan apa resikonya? Ini bukan masalah yang bisa dipecahkan oleh seorang pelajar High School, Kim."
Mingyu mengangguk pelan, "Aku tahu."
"Kalau kau tahu, jangan nekad melakukannya." saran Soonyoung.
Seokmin menatap wajah serius Soonyoung sebentar, kemudian menatap Mingyu.
"Aku rasa Soonyoung ada benarnya. Jika sampai polisi tahu apa yang kau lakukan, aku yakin mereka akan menuduhmu yang macam-macam. Kau tentu tak lupa apa yang sudah Ayahmu perbuat satu tahun yang lalu, bukan?"
Ya, Seokmin dan Soonyoung tentu mengetahui masalah Mingyu. Ia juga tahu bagaimana kronologi kejadian hingga Wonwoo menjadi korban penculikan Paman Kim. Mereka sudah berteman sejak masih memakai popok, jadi apapun yang terjadi pada salah satu dari mereka, yang lainnya juga pasti tahu.
Mingyu menceritakan banyak hal tentang masalahnya. Tentang keterlibatan Ayahnya atas kasus penculikan dan pembunuhan yang menurutnya belum jelas akar permasalahannya. Soonyoung dan Seokmin adalah sahabat yang hingga sekarang masih mempercayai Mingyu tanpa mempertimbangkan apapun. Bahkan mereka tak sungkan ikut andil dalam memberi dukungan pada Mingyu disaat jurang terdalam berada didepan matanya.
"Aku sudah terlalu lama diam, Soon. Dan aku sudah tak tahan melihat Wonwoo terus tertekan seperti itu." ucapnya lirih.
"Tapi kau juga harus memikirkannya matang-matang. Ingat, polisi masih terus memburu Ayahmu. Jika kau tak hati-hati, kau juga akan terseret pada kasusnya." ingat Soonyoung.
Mingyu mendesah. Terlihat raut lelah yang teramat disana.
"Kita akan membantumu jika kau mau bermain aman."
Ucapan Seokmin membuat Mingyu mengangkat wajahnya, pun Soonyoung yang mendelik tak percaya.
"Maksudmu?"
"Jangan libatkan polisi selama kita meluruskan masalah ini. Aku akan minta bantuan Ayah jika kau setuju."
Mingyu dan Soonyoung tampak berpikir. Siapa yang tak tahu Ayah Seokmin. Salah satu Agen Intelegensi anak buah Paman Jeon sebelum dipindah tugaskan ke Busan.
"Kau yakin?" Soonyoung memastikan.
Seokmin tak perlu menjawab karena dengan tatapan mata juga anggukan itu saja Mingyu sudah tahu jika sahabatnya ini serius dengan ucapannya.
...
...
Jihoon memainkan tali sepatunya bosan. Sudah hampir 30 menit gadis mungil itu berjongkok didepan rumah Seungcheol. Dan ia berpikir untuk pulang jika 5 menit lagi sunbae-nya itu tak juga muncul. Senja sudah menghilang dan Jihoon butuh pulang jika tak mau kena omel Umma-nya.
"Jihoon-ah?"
Jihoon menoleh ketika suara seseorang menggaung ditelinganya. Gadis itu tersenyum saat mendapati Seungcheol yang berdiri tak jauh darinya.
"Seungcheol Oppa."
"Kenapa kau jongkok disana? Kau tidak sedang menunggu temanmu, kan?"
Jihoon berdiri sambil mengerut.
"Teman?"
"Tikus... belakangan banyak tikus berkeliaran dirumahku. Aku kira kau sedang menunggu mereka."
"Ish!"
Seungcheol terkekeh setelah melihat wajah Jihoon cemberut sebal. Jihoon itu hampir sama dengan Wonwoo. Dan Seungcheol suka sekali menggoda mereka.
"Aku datang karena ada perlu denganmu." ucap Jihoon tanpa basa-basi.
"Oya? Tentang apa?"
"Um... itu... " Jihoon menggigit bibir bawahnya, "Mengenai Paman Jeon."
Dan senyum Seungcheol pudar seketika.
"Kau tahu 'kan aku tidak suka berbasa-basi. Jadi aku akan langsung mengatakannya padamu." Jihoon mengambil napas panjang kemudian menghembuskannya pelan.
"Aku tahu kalau Oppa berada disana saat itu. Aku juga tahu kalau Oppa mendapatkan petunjuk dari sebuah kertas putih yang tak sengaja kau temukan di mobil Paman Jeon. Benar?" Jihoon memastikan.
Seungcheol menatap datar gadis itu, hanya sebentar.
"Bagimana kau tahu?"
"Karena aku juga ada disana waktu itu. Aku melihatmu menemui Paman Jeon yang sedang bersiap. Aku ada disana tapi aku bersembunyi. Awalnya aku akan memastikan keadaan Wonwoo karena ponselnya terus saja tak aktif. Aku khawatir karena tak biasanya Wonwoo pulang tanpa pengawasan. Aku memutuskan mendatangi rumahnya, tapi saat aku tiba sudah banyak sekali mobil Intelegensi disana." Jihoon berusaha menjelaskan sementara Seungcheol masih diam.
"Aku rasa semakin hari keadaan Wonwoo semakin tak baik. Bukan hanya fisiknya, tapi juga mentalnya."
Hening
"Benar."
Seungcheol menjawab.
"Untuk itu aku datang padamu, Oppa... Aku datang untuk meminta kertas itu. Boleh 'kan?"
Seungcheol mengerutkan kening, "Untuk apa?"
"Aku memiliki petunjuk lain dari kasus ini. Jika kau mau memberikan kertasmu dan membantuku, aku yakin bukan hanya Wonwoo tapi kita juga bisa mengeluarkan Paman Jeon dari penjara."
Seungcheol menelan ludahnya susah payah. Penjelasan dan permintaan Jihoon seolah membuatnya tak dapat bergerak. Ia sudah cukup lama menyimpan kertas itu tanpa tahu arti dari setiap kalimatnya. Dan sekarang Jihoon datang memberi tawaran langka. Seungcheol sudah dewasa, tentu ia tahu mana yang baik dan mana yang tidak. Dan kejadian satu tahun yang lalu terlalu banyak kejanggalan menurutnya. Jikapun Jihoon dapat menemukan akar permasalahannya, maka rasa bersalahnya pada Wonwoo juga pasti akan berkurang.
"Tunggu sebentar, akan aku ambilkan."
...
...
Terhitung ada 3 kubu yang terbentuk. Kubu Jihoon dan Seungcheol, Kubu Seokmin dan Soonyoung, dan Kim Mingyu. Mereka memiliki tugas masing-masing meskipun mereka tak saling terikat. Ya, nyatanya Seungcheol tak tahu jika Jihoon mengajak Mingyu dalam misinya. Pun Jihoon yang tak tahu jika Mingyu mengajak Seokmin dan Soonyoung dalam kasusnya. Mereka kerjasama, tapi dalam konteks tak kasat mata.
Oke, ini mungkin akan sedikit mereka benar-benar bekerja sesuai aturan. Tanpa merusak agenda mereka masing-masing, juga tanpa polisi diantaranya.
Seokmin sudah bertanya dan sedikit mengorek informasi kepada Ayahnya. Ia tentu membutuhkan bantuan Soonyoung dalam hal ini. Soonyoung memang tak terlalu pintar dalam pelajaran, tapi kemampuan mengingatnya jauh melebihi Seokmin jika menyangkut hal-hal seacam ini. Pun taktik-taktik kecil untuk memancing Ayah Seokmin agar mau menceritakan kronologi kejadiannya, Soonyoung lakukan secara halus dan tak mencurigakan.
Seokmin saja sampai heran, apa cita-cita Soonyoung menjadi seorang detektif nanti?
Dikubu Jihoon-Seungcheol, tentu mereka melakukan hal yang tak jauh berbeda. Berusaha memecahkan teka-teki yang ada dikertas itu. Meskipun sedikit kesulitan karena tak ada satu petunjuk yang mereka dapatkan, mereka tetap berusaha. Demi Wonwoo dan demi kebenaran, mereka rela membunuh waktu untuk mendapatkan hasil terbaik.
Sedangkan Mingyu, ia tengah melaksanakan tugas sampingannya.
Ya, lelaki itu masih saja mengawasi Wonwoo sejak sepulang sekolah tadi. Mingyu melakukan tugasnya dengan baik. Mengantarkan Wonwoo hingga kerumah meskipun gadis manis itu tak mengetahui jika Mingyu membuntutinya. Tak masalah baginya, selama ia memastikan Wonwoo dalam keadaan baik-baik saja, Mingyu sudah sangat bahagia.
Drrt... Drrtt...
Mingyu merogoh saku celana tepat ketika Wonwoo memasuki rumahnya. Mengusap layar dan terpampang satu nama disana.
"Ada apa?" tanya Mingyu setelah menempelkan ponselnya pada telinga.
"Kau harus tahu tentang ini, Gyu. Pastikan kau berada ditempat yang empuk untuk pingsan."
Mingyu mengerut, "Kau bicara apa, sih?"
"Dengar..."
Dan setelahnya, Mingyu benar-benar menganga karena perkataan Seokmin diujung teleponnya.
...
...
TBC
...
Saya nggak tahu kenapa genrenya bisa berubah jadi seperti ini. Tapi percayalah, semua adegan gak akan melenceng jauh dari plot awal kok :D
Dan pada akhirnya MV BTS – Blood Sweat & Teras rilis. Astagah! Saya blushing mulu liat tuh MV (Oke, abaikan yang ini)
Btw, Terimakasih banyak untuk yang masih setia menunggu Pantomime tayang(?). Saya sangat menghargai kalian dengan review2 penyemangat :)
Big Thanks to :
seira minkyu, lulu-shi, ayyPD, GameSMl, DevilPrince, iamjcks, jeonbeaniewoo, aku si jodoh mingyu, jeonwow, Guest, Amux, MeanieOhmToey, Beanienim, Guest, J. Jongkok, aliciab.i, zarrazr, , kianaevellyn, yuniawijayanti2002, rakahmada, dpramestidewi, Mrs. Xu Minghao,stnyjh, equuleusblack, zahra9697, whiteplumm, naintin2, Wonu nikah yuk, hamipark76,Guest, larayu, Iceu Doger, pizzagyu, maecchiato,Guest, nisaditta, kharisma shima, akupadawonu, iamjcks, puputandriani68, Itsmevv, awmeanie, auliaMRQ, wonukusayang, melizwufan, kimtaejin, wonu, wonnderella, Viyomi, dadaus06, awmeanie, saa, woshimaru.
Maaf kalau ada yang belum kesebut.
JongSoo sayang kalian~ :*
