Preview.
Drrt... Drrtt...
Mingyu merogoh saku celana tepat ketika Wonwoo memasuki rumahnya. Mengusap layar dan terpampang satu nama disana.
"Ada apa?" tanya Mingyu setelah menempelkan ponselnya pada telinga.
"Kau harus tahu tentang ini, Gyu. Pastikan kau berada ditempat yang empuk untuk pingsan."
Mingyu mengerut, "Kau bicara apa, sih?"
"Dengar..."
Dan setelahnya, Mingyu benar-benar menganga karena perkataan Seokmin diujung teleponnya.
...
Mingyu menghela napas yang terasa berat. Bulir-bulir air mengalir begitu saja melewati dahinya. Beberapa menit yang lalu Mingyu memacu kaki panjangnya menuju rumah Seokmin dengan kecepatan angin. Lututnya sudah sangat lemas begitu ia melempar tubuh disofa kamar sahabatnya itu.
"Kau benar-benar marathon malam, ya?" celetuk Soonyong.
"Apa yang akan kau tunjukkan padaku?" alih-alih menjawab pertanyaan Soonyoung, Mingyu memilih bertanya pada Seokmin yang sibuk mengutak-atik laptop didepannya.
"Soonyoung berhasil memancing Ayahku untuk menyerahkan ini pada kami, dan kau harus lihat apa yang ada didalamnya."
Seokmin memposisikan laptop mengarah pada Mingyu. Memperlihatkan sebuah tayangan yang membuat Mingyu menajamkan matanya seketika.
"Apa ini?" tanya Mingyu tak mengerti.
"Itu adalah rekaman persimpangan jalan disalah satu desa di Busan. Menurut tanggal yang tertera disana, rekaman ini diambil tepat satu hari sebelum tragedi penculikan Wonwoo," terang Seokmin.
Mingyu kembali mengamati tayangan yang ada di laptop itu, mencoba memahami meskipun sama sekali tak mengerti. Tayangannya hanya menampilkan lalu lalang kendaraan saja, tanpa ada sesuatu yang mencurigakan.
"Kau menelephonku hanya untuk menunjukkan ini?" tanyanya lagi.
"Kau harus mengamatinya dengan benar," Soonyoung menyela, "...lihat," kemudian menunjuk salah satu mobil yang terparkir dipinggir jalan.
"Itu..."
"Itu mobil Ayahmu, kan?"
Mingyu mengangguk.
"Tunggu menit berikutnya berjalan dan lihat apa yang terjadi," Soonyoung kembali memberi arahan. Mingyu menurut saja karena ia belum mengerti apa maksud Soonyoung dan Seokmin menunjukkan rekaman CCTV ini padanya. Tapi begitu menit berikutnya berjalan Mingyu benar-benar dibuat menganga.
Disana, direkaman itu, terlihat Ayahnya dan Ayah Jeonghan keluar dari kedai tenda disusul seorang lelaki muda dibelakangnya. Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu. Dan beberapa menit berikutnya sosok lelaki tak dikenal itu menyerahkan sebuah bungkusan pada Tuan Kim.
"Siapa dia?" Mingyu bertanya dengan mata yang tetap fokus pada layar.
"Namanya Hong Jisoo. Putra dari rekan kerja Ayahmu," jawab Soonyoung sembari menyesap coklat hangat miliknya.
Seokmin menyerahkan selembar kertas pada Mingyu, "Soonyoung berhasil membobol password komputer Ayahku, dan kami mendapatkan ini."
Mingyu menerima kertas itu ragu-ragu. Meneliti setiap kalimat yang berisi tentang identitas, tempat tinggal juga silsilah lelaki bernama Hong Jisoo.
"Apa ini artinya..."
"Artinya kita memiliki kunci lain selain Ayahmu dan Ayah Jeonghan. Yang harus kita lakukan adalah mencari lelaki itu dan mengorek informasi darinya," sambar Soonyoung penuh keyakinan.
Mingyu terdiam setelahnya. Entah mengapa perasaannya berkecamuk menjadi satu. Seperti perasaan yang memberinya tanda bahaya sebelum peluit perang dilantunkan. Namun bagaimanapun juga Mingyu harus melakukannya.
Demi Wonwoo.
...
...
PANTOMIME
Kim Mingyu , Jeon Wonwoo
Other Cast
...
Bullying, Angst, Typo(s)
...
Kim Jong Soo 1214
...
Present
...
...
Wonwoo baru turun dari bus. Berjalan gontai seolah tak ada semangat pagi ini. Mata sayu, dan terdapat lingkaran hitam disekitar kelopaknya. Semalam gadis itu kembali tak tidur. Karena tiap kali ia memejamkan mata selalu mimpi buruk yang datang.
"Selamat pagi, Wonu-ya."
Wonwoo terlonjak ketika tiba-tiba sebuah tangan menggenggam lengannya.
"J-Jihoon?"
Jihoon tersenyum lebar, menyebabkan mata sempitnya semakin hilang ditelan pipi tembam.
"Kau terkejut?"
Wonwoo mengerjap, kemudian mengangguk.
"Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan ini."
"Huh?"
"Aku akan menggandeng tanganmu kekelas setiap hari. Seperti yang pernah kita lakukan dulu."
Wonwoo terdiam, berusaha mencerna maksud yang diucapkan Jihoon padanya.
"Ish, jangan terlalu banyak berpikir. Lebih baik kita kekelas sekarang sebelum bel masuk berbunyi. Kajja!"
Jihoon menarik lengan Wonwoo ceria. Sementara Wonwoo masih belum begitu menyadari situasi yang sedang terjadi. Ia masih belum terbiasa. Jihoon, teman yang sudah lama tak menyentuh lengannya seperti ini tiba-tiba melakukannya kembali. Wonwoo senang, tentu saja. Diam-diam gadis itu tersenyum meskipun tak terlalu nampak karena tersamarkan wajah datarnya.
"Wah, wah... lihat siapa yang datang," Jeonghan berseru ketika Jihoon dan Wonwoo memasuki ruang kelas. Menimbulkan banyak pasang mata mengarah pada mereka, termasuk Seungkwan dan Soonyoung yang kebetulan ada disana.
Jihoon menatap tak suka pada Jeonghan sementara Wonwoo memasang wajah datar seperti biasa.
Jeonghan melipat tangannya didepan dada, berjalan mendekati kedua gadis yang masih diam didepan kelas dengan angkuh.
"Aku tidak menyangka jika kau menjadi seorang penghianat demi dia," tunjuk Jeonghan pada Wonwoo.
"Aku tidak merasa menjadi penghianat,"
Jeonghan tersenyum remeh, "Benarkah? Lalu apa ini?" kemudian telunjuknya beralih pada tautan tangan Jihoon dengan lengan Wonwoo.
"Kami teman. Dan aku bukan penghianat," tegas Jihoon.
"Sudah jelas-jelas kau meninggalkanku dan beralih pada jalang ini. Masih tak mau mengakui jika kau adalah seorang penghianat, huh? Lucu sekali," ejeknya.
Jihoon mendengus, "Seharusnya aku yang berkata seperti itu. Kau juga penghianat kan? Meninggalkan 'seseorang' yang selalu menolongmu hanya karena alasan yang belum jelas. Kau dan aku sama saja, Yoon Jeonghan. Hanya saja aku lebih cepat sadar dan merubah jalan pikiranku."
Set!
"Argh!"
"Yha!"
Wonwoo membentak ketika Jeonghan menarik rambut Jihoon kasar. Bahkan Seungkwan dan Soonyoung yang sedari tadi melihat percekcokkan diantara tiga gadis itu langsung berdiri dari posisi.
Tangan Wonwoo meraih lengan Jeonghan tak kalah kasar, dan tatapan tajam yang begitu menusuk Wonwoo dapatkan setelahnya.
"Lepaskan tanganmu dari rambut Jihoon," desis Wonwoo.
"Tidak mau," jawab Jeonghan kelewat santai seolah tak mengindahkan cengkeraman Wonwoo yang semakin kencang.
"Lepaskan, atau kupatahkan lenganmu," kata-kata Wonwoo berhasil membuat Jeonghan merinding. Ia masih mengingat sabuk hitam yang dimiliki Wonwoo pada Taeokwondo. Dan Jeonghan cukup tahu apa resiko jika ia tak menurut.
Dengan wajah menahan amarah akhirnya Jeonghan menyerah. Melepaskan tangannya pada rambut Jihoon namun mendorong kuat kepala gadis mungil itu sebelumnya. Jihoon terhuyung kebelakang, hampir saja terjungkal jika Soonyoung tak sigap menangkapnya.
Jihoon tak terima tentu saja. Siapa Jeonghan berani-beraninya menyakiti dirinya? Jihoon bukan tipe gadis yang akan berdiam diri ketika ada seseorang yang memperlakukannya demikian. Maka dengan emosi yang sudah menumpuk dikepala, Jihoon berjalan tergesa kearah Jeonghan dan-
Plak!
Set!
Jihoon menampar keras pipi Jeonghan, pun membalas jambakan pada rambut gadis itu dengan tarikan yang dua kali lebih menyakitkan.
Pekikan kesakitan mengalun setelahnya. Jeonghan yang memiliki rambut panjang tentu memudahkan Jihoon untuk menariknya hingga satu-satu helaian itu terjatuh kelantai.
"Sakit, kan? Jangan kira aku lebih kecil darimu, aku tak akan berani melakukan ini padamu, Yoon Jeonghan! Bahkan jika perlu, aku akan melakukan lebih keras dari apa yang kau lakukan padaku!"
Jihoon menarik rambut Jeonghan semakin kuat, entah mengapa Jihoon seperti tak berpikir dua kali untuk melakukan ini.
"... Jihoon," lirih Wonwoo mencoba menyadarkan. Wonwoo saja tak menyangka jika Jihoon akan melakukan hal itu pada Jeonghan.
Bukankah selama ini Jihoon begitu dekat dengan Jeonghan? Begitu cepatkah Jihoon membenci gadis itu? Tapi karena apa?
Seluruh siswa yang berada dikelas hanya bisa menganga melihat adegan itu. Tak ada satupun dari mereka yang berani melerai. Tentu mereka tahu siapa Jihoon dan Jeonghan. Dua gadis yang memiliki sifat keras kepala satu sama lain yang akan berbuat kasar jjika mereka diusik.
"Aku sudah tak tahan melihat tingkahnya selama ini, Wonu-ya. Dia ini perusuh, dan kepalanya harus dibenturkan sesuatu supaya dia sadar."
"Yha! Beraninya kau, Lee Jihoon!" erang Jeonghan sembari berusaha melepaskan tangan Jihoon dari kepalanya. Namun bukan Jihoon namanya jika ia menuruti perkataan gadis itu.
Melihat keadaan semakin kacau, akhirnya Soonyoung berinisiatif melerai. Mendekati gadis mungil kemudian menggenggam lengannya lembut.
"Jihoon-ah, lepaskan dia. Kau akan berurusan dengan Guru Kesiswaan jika sampai ada yang melaporkanmu," ingat Soonyoung kalem.
"Persetan!"
"Jihoon-ah, jangan seperti ini, huh? Kau menyakitinya," Seungkwan ikut angkat suara sembari berusaha melepaskan tangan Jihoon dari kepala Jeonghan.
"Tidak akan kulepaskan sebelum dia minta maaf padaku!"
"Ada apa ini?!"
Sebuah suara mengambil seluruh atensi penghuni kelas. Memecah ketegangan yang sempat tercipta dari kedua siswi didepan sana.
Seungcheol, ketua OSIS merangkap ketua Kesiswaan berdiri didepan pintu kelas dengan wajah tegas.
"Oppa..." Wonwoo bergumam lirih sembari menggigit bibir bawahnya. Entah mengapa firasatnya tiba-tiba menjadi buruk.
Seungcheol berjalan mendekaati Jihoon dan Jeonghan, sempat melirik kearah Wonwoo sebentar sebelum akhirnya menjatuhkan pandangan pada tangan Jihoon yang masih berada dikepala Jeonghan.
"Apa yang sedang kau lakukan, Jihoon-ah?" suara lelaki itu sedikit mengeram. Seperti terselip kemaran tertahan dipangkal kerongkongannya.
"Aku ingin menghancurkan kepalanya. Supaya dia sadar kalau perlakuannya selama ini salah."
Seolah tak merasa takut, Jihoon membalas perkataan Seungcheol dengan desisan tajam.
Jeonghan masih berusaha melepas tangan Jihoon yang meremas rambutnya begitu kuat, hingga wajah cantik itu memerah menahan tangis.
"Kubilang lepaskan dia," Seungcheol memegang lengan Jihoon kuat.
"Tidak akan."
"Lepaskan, atau tanganmu sendiri yang akan tersakiti,"
Soonyoung menatap tangan Seungcheol yang meremas lengan Jihoon hingga memucat. Seungcheol ini sudah tak waras atau apa sih?
"Kau ini kenapa, hyung?" sahut Soonyoung sembari memegang lengan Seungcheol. Ia tak terima jika Jihoon-nya diperlakukan kasar oleh Seungcheol.
"Diam!"
"Aku tidak akan diam sebelum kau melepaskan lengan Jihoon!"
Seungcheol melirik Soonyoung sekilas, kemudian beralih menatap Jihoon dari samping.
"Kau lihat, kan? Jika tanganmu tak lepas dari kepalanya maka akan semakin banyak lengan yang saling mencengkeram."
Sebenarnya Jihoon masih ingin menjedotkan kepala Jeonghan pada tembok kelas, tapi niatnya harus pupus karena terlalu banyak orang yang ikut campur disini. Lagipula Jihoon masih cukup waras untuk tidak mengikutsertakan Soonyoung maupun Seungcheol dalam masalahnya.
Set!
Jihoon melepas tangannya dari kepala Jeonghan, membuat gadis berambut panjang itu meringis.
"Kau sudah berani kasar padaku, huh?" Jeonghan mendorong Jihoon hingga hampir terjatuh.
"Apa masalahmu sebenarnya, Yoon Jeonghan!" Wonwoo balas mendorong gadis itu.
"Jangan ikut campur kau, dasar sialan!"
Jeonghan hampir melayangkan pukulan pada Wonwoo jika saja Seungcheol tak berdiri didepan gadis itu. Menghalangi Jeonghan agar tak melakukan tindakan buruk.
Jeonghan mengeram. Ia kesal. Kenapa semua orang membela Wonwoo sialan itu dari pada dirinya?
"Aku sudah berbaik hati menolongmu hari ini. Jadi tunjukkan rasa terimakasihmu padaku," Seunghceol berkata dingin.
"Tapi Oppa... Wonwoo sialan itu su-"
"Jaga bicaramu!"
Seungcheol menekan kalimatnya hingga membuat Jeonghan bungkam.
Sialan, batinnya.
"Aku tidak akan melaporkan masalah ini pada guru ketertiban, jadi jangan ada yang coba-coba mengulanginya lagi lain kali. Dan kau..." Seungcheol menatap Wonwoo tajam, "...kau berutang penjelasan padaku!" kemudian menggenggam tangan Wonwoo kuat dan menariknya keluar kelas. Meninggalkan tanda tanya besar pada masing-masing kepala disana.
...
...
"Sudah berapa kali kubilang, huh? Jauhi mereka, Nu! Kau tak mendengarkanku?!"
Wonwoo meremas kedua tangannya kuat-kuat. Ia hanya bisa menunduk, tak berani menatap wajah Seungcheol yang akan terlihat menyeramkan ketika sedang marah.
"Bukan aku yang memulainya."
"Tapi setidaknya kau bisa pergi, kan? Hindari membuat masalah jika kau masih ingin sekolah disini!"
"Aku tidak bisa!" erangnya, "Aku tidak bisa melihat Jihoon diperlakukan seperti itu oleh Jeonghan. Aku cukup tahu bagaimana rasanya disakiti. Dan aku tak bisa membiarkan Jeonghan melakukannya pada Jihoon."
"Dan kau akan menjadi bulan-bulan Jeonghan lagi! Kau akan semakin dibenci lagi! Kau akan semakin terjatuh lagi! Pikirkan juga dirimu, Nu!"
Seungcheol berteriak didepan wajah Wonwoo. Ia begitu kesal. Wonwoo tak pernah mendengar ucapannya sama sekali.
Sementara itu Wonwoo hanya diam. Menatap wajah Seungcheol yang begitu keras sembari menggigit bibir bawahnya. Matanya yang bening mulai berair. Ia takut. Oppa-nya tak pernah membentaknya seperti ini.
Menyadari perubahan raut wajah Wonwoo, Seugcheol menghela napas panjang.
"Maaf..." lirihnya.
Wonwoo masih diam.
"Aku tak bisa mengontrol emosiku."
"Oppa..."
Wonwoo menubruk tubuh Seungcheol dengan pelukan. Melingkarkan lengan kurusnya pada perut sang Oppa kemudian terisak pelan.
"Jangan memarahiku... aku takut..."
Hati Seungcheol seperti diiris pisau tajam ketika kalimat itu meluncur dari bibir Wonwoo. Begitu jahatnya kah dirinya?
Seungcheol membalas pelukan Wonwoo. Memberi elusan ringan dibelakang kepalanya.
"Aku hanya terlalu khawatir padamu, Nu. Kau tak pernah mendengarkan nasehat Oppa," ucapnya kelewat pelan.
"Maaf... Jangan memarahiku lagi. Jangan membenciku... aku tidak mau kehilangan Oppa~" Wonwoo semakin erat memeluk Seungcheol. Meluapkan rasa bersalahnya yang begitu dalam. Sungguh,Wonwoo sendiri juga tak tahu mengapa ia tak pernah mendengarkan ucapan Seungcheol jika sudah berhadapan dengan Jeonghan.
Seungcheol menghela napas lagi. Diam-diam lelaki itu tersenyum ketika merasakan sensasi hangat pada dadanya.
"Kau mau berjanji pada Oppa?"
"Apa?"
"Jangan melakukan hal nakal lagi atau aku tak akan mengangkat telephon tengah malam darimu."
Wonwoo melepas pelukannya kemudian menatap wajah Seungcheol lamat-lamat.
"Kalau kau tak mau mengangkat telephonku, nanti aku dipeluk siapa saat tak bisa tidur?" Wonwoo berkata kelewat polos. Sama sekali tidak sesuai dengan gaya datarnya.
"Makanya kau harus berjanji pada Oppa, em?"
Wonwoo mengangguk pelan, membuat garis senyum diwajah Seungcheol semakin lebar.
"Anak pintar," ucapnya sembari mengacak pelan poni Wonwo.
Tak tahu saja jika ada sepasang mata elang yang menatap tak suka pada mereka.
Mata elang milik Kim Mingyu.
...
...
Soonyoung, lelaki berpipi tembam dengan dua mata sipit berjalan pelan menuju sebuah bangku kayu dibawah pohon sakura dibelakang sekolah. Dua kaleng minuman dingin membuat langkahnya semakin mantap mendekati seorang gadis mungil yang sedang tertunduk disana.
"Ini," ucapnya seraya memberikan satu buah kaleng minuman rasa strawberry pada gadis itu.
Lee Jihoon, sang gadis mungil mendongak, menatap wajah Soonyoung lalu beralih pada kaleng minum bergantian.
"Terimakasih," balasnya setelah menerima kaleng minumnya.
Soonyoung tersenyum tipis kemudian duduk dibangku kosong tepat disamping Jihoon.
"Aku terlihat buruk, kan?" Jihoon berkata lirih pun kepalanya yang kembali menunduk membuat Soonyoung menatapnya dalam diam.
"Hari ini aku terlihat seperti monster," lanjutnya dengan kekehan hampa.
"Kata siapa? Tidak kok. Justru kau terlihat keren tadi," Soonyoung mengacungkan jari jempol didepan wajah Jihoon.
"Ish!" Jihoon menampik pelan tangan itu dari depan wajahnya. Soonyoung ini kenapa suka sekali memberinya jempol sih?
"Aku serius, Lee Jihoon. Kau terlihat keren dengan gaya yang seperti itu. Tidak melulu menurut pada Jeonghan yang hanya menjadikanmu boneka untuknya."
Celetukan Soonyoung membuat Jihoon terdiam.
Menyadari hal itu Soonyoung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Bodoh sekali dia. Kenapa membahas hal sensitif semacam ini disaat seperti ini?
"Ternyata kau juga menyadarinya, ya?" Jihoon bertanya sembari memainkan kaleng minumnya.
Soonyoung salah tingkah. Bagaimana dirinya harus menjawab?
"Um," angguknya sekali.
Jihoon tersenyum, menatap wajah Soonyoung yang terihat lucu menurutnya.
"Aku juga menyadarinya. Bahkan sejak pertama kali aku menjatuhkan lumpur dikepala Wonwoo aku sudah menyadarinya. Tapi Jeonghan terlalu berharga bagiku saat itu..."
"...aku benar-benar merasa bersalah pada Wonwoo."
"Mungkin aku tak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi dirimu. Berada diantara dua sahabat yang membuatmu lupa pada kepribadianmu sendiri. Jujur, saat pertama kali kau berbuat jahat pada Wonwoo aku sempat membencimu. Kau benar-benar berbeda dengan Jihoon yang kukenal sebelumnya..."
"...tapi beberapa hari terakhir aku merasa jika kau sudah mulai berubah. Aku juga melihat kau tak bersama Jeonghan lagi. Jadi aku tak membencimu seperti dulu," Soonyoung berkata kelewat tenang.
Jihoon mengedipkan matanya pelan, "Kenapa kau begitu memperhatikanku?"
"Huh?"
"Kau tidak sedang menjadi stalkerku, kan?" Jihoon memicing, memberi tatapan curiga pada lelaki yang sama sipit dengannya.
"Memangnya boleh?"
"Boleh apanya?"
"Menjadi stalkermu, hehe..."
"Lakukan, dan aku akan memukulmu setiap hari!" Jihoon mengepalkan tangannya didepan wajah Soonyoung dengan raut yang dibuat galak.
"Dengan tangan sekecil ini?" Soonyoung menunjuk tangan Jihoon.
"Yha! Kecil-kecil begini tanganku kuat, tahu!" belanya.
"Tidak percaya."
Bugh!
"Arrgh! Kenapa kau memukulku~" Soonyoung meringis, mengelus lengannya yang berdenyut nyeri.
"Bagaimana? Masih mau mengatai tanganku yang kecil ini?" Jihoon berucap bangga.
"Ish, jahat sekali..." gerutuan Soonyoung membuat Jihoon tertawa lebar. Bahkan matanya yang sudah sipit semakin hilang ditelan pipi kemerahannya yang lucu. Soonyoung jadi merasa bahagia karena Jihoon tertawa karena ulahnya.
"Um... Hoon-ie, aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Soonyoung begitu tawa Jihoon mereda.
"Apa?"
"Apa kau pernah memiliki teman bernama Jisoo sebelumnya?"
Jihoon nampak berpikir, "Jisoo? Um... Hong Jisoo?"
Soonyoung melebarkan matanya lalu mengangguk semangat, "Iya, Hong Jisoo. Kau mengenalnya?"
Kali ini Jihoon yang mengangguk, "Kami berteman saat di Junior High School. Dia pindahan dari Amerika waktu itu. Tapi... kenapa kau menanyakan Jisoo Oppa?"
"Apa kau mengenalnya sebaik kau mengenal Wonwoo?"
"Tentu saja. Jisoo Oppa dan Wonwoo itu saudara sepupu. Dulu kami sering bermain bersama saat libur sekolah," Jihoon memiringkan kepalanya begitu melihat wajah Soonyoung yang semakin berbinar, "Kau ini kenapa sih? Sepertinya senang sekali mengetahui aku mengenal Jisoo Oppa?"
"Huh? Ahh... tidak," jawab Soonyoung gugup, "Um... Jihoon-ah, boleh aku meminta bantuanmu?"
...
...
"Wonwoo,"
Wonwoo mendongak begitu mendengar namanya dipanggil. Begitu matanya menangkap sosok tinggi yang sedang berdiri didepannya, Wonwoo langsung memasang wajah datar seperti biasa.
"Bisa meminta waktumu sebentar?" Mingyu bertanya ragu.
"Untuk apa?"
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
"Aku sibuk,"
Set!
Mingyu menggenggam lengan Wonwoo, menghentikan langkah gadis itu yang akan meninggalkannya.
"Hanya sebentar,"
Wonwoo menatap mata Mingyu. Mata yang dalam dan begitu tenang.
"Katakan," ucapnya setelah beberapa detik hanya terdiam.
Mingyu menghela napas sebelum mendudukkan dirinya dibangku perpustakaan tepat didepan Wonwoo. Mingyu tampak ragu dan itu membuat dahi Wonwoo berkerut.
"Kau tak ingin mengunjungi Ayahmu?"
Wonwoo menatap tajam namun masih dengan wajah datar andalannya. Ia tak begitu suka jika ada yang membahas Ayahnya. Termasuk Mingyu sekalipun.
"Kenapa kau begitu peduli pada Ayahku?" tanya gadis itu tanpa tekanan.
Mingyu nampak merubah ekspresinya, "Apa kau masih begitu membenciku?"
Wonwoo tersenyum miring, "Seharusnya kau sudah tahu jawabannya."
"Tak bisakah kau mencoba memaafkanku?"
"Haruskah?"
"Wonu-ya-"
"Jangan memanggilku seperti itu, Kim Mingyu. Itu menjijikkan," datarnya.
Mingyu kembali menghela napas. Kali ini sedikit lebih berat. Mingyu tahu, pasti sulit memaafkannya. Tapi tak bisakah Wonwoo mencobanya sekali saja?
"Aku benar-benar minta maaf. Tapi kenapa kau harus membenciku juga?" lirihnya.
"Karena kau anak Ayahmu."
"Untuk itu aku minta maaf. Seandainya kau tahu jika aku tak ingin menjadi anak dari Ayahku."
"Sepertinya kau membahas hal tak penting, Kim Mingyu." cecar Wonwoo sinis.
"Ijinkan aku membayar semuanya."
Wonwoo diam.
"...aku juga sama sepertimu. Aku juga tersiksa..."
Suasana perpustakaan terasa begitu hampa seketika. Raut senja perlahan menyapa, menimbulkan gaungan suara yang memantul dari celah-celak rak besar disudut ruangan.
"...aku benar-benar tak bisa hidup dengan baik sejak kejadian itu."
"Aku rasa aku harus pergi. Kau membahas hal yang sedang tak ingin kudengar," Wonwoo beranjak dari duduknya, melangkah melewati lorong diantara rak besar sambil menundukkan kepala.
Set!
Wonwoo berbalik, merasakan tubuhnya terhimpit oleh tubuh seorang lelaki tinggi yang mengukungnya disana. Menciptakan suasana hening ketika kedua iris itu bertemu.
"Aku mohon..."
"...jangan lagi membuat jarak diantara kita, Wonu-ya. Aku tahu bagaimana terlukanya hatimu sejak saat itu. Aku tahu betapa brengseknya aku karena tak bisa menjagamu waktu itu. Aku minta maaf..."
Hening.
Wonwoo tak ingin membalas. Namun ia terlalu lelah sekedar untuk mengingatnya.
"Aku tahu kau membenciku begitu besar. Tapi tak bisakah kau memberi satu kesempatan untukku?"
Mingyu menatap bening mata Wonwoo. Menatapnya dalam seolah ingin menyalurkan segala perasaan bersalahnya pada Wonwoo. Mingyu ingin hubungannya dengan Wonwoo kembali seperti dulu. Tak ada jarak dan tak benci.
"Aku sudah terluka, Gyu... Lukanya sudah terlalu dalam. Meskipun kau datang dan membawa plester besar, itu tidak akan bisa menutupnya dengan sempurna."
Mingyu tahu jika mata Wonwoo mulai berair. Gadis itu menahan isakannya begitu keras hingga bahunya sedikit bergetar.
"Aku tak ingin membencimu, sungguh. Tapi aku takut terluka lagi.." mata Mingyu yang memancarkan ketulusan nyatanya dapat membuat Wonwoo jujur pada perasaannya sendiri
"Aku akan menyembuhkannya. Aku akan memegang tanganmu kembali. Seperti ini," Mingyu memegang tangan Wonwoo lembut. Memberikan sentuhan pelan sarat akan keyakinan.
Wonwoo menatap tautan tangan mereka, kemudian menggeleng.
"Maaf..."
Cup!
Mingyu mengecup bibir Wonwoo singkat, membuat mata gadis itu melebar pun pipi pucatnya memerah secara perlahan.
"Jangan membohongi dirimu sendiri, um?"
"Ka-kau..."
Cup!
"Aku tahu apa yang kau pikirkan," Mingyu tersenyum singkat. Ia masih terlalu hapal dengan sikap Wonwoo.
"Ap-apa yang kau-"
Cup!
"Beri aku kesempatan, dan kita lewati bersama-sama. Aku berjanji padamu akan menjadi yang terbaik setelah ini," Mingyu keras kepala.
"T-tapi-"
Cup!
"Yha!"
"Benarkan? Kau memerah. Kau masih begitu mencintaiku, Wonu-ya..." Mingyu mengeratkan tautan tangannya pada Wonwoo.
"...jangan membohongi perasaanmu lagi. Maka aku berjanji akan membawa Ayahmu kembali pulang."
Wonwoo tak mengerti apa maksud perkataan Mingyu. Namun ada satu ruang dihatinya yang terasa hangat. Mingyu memintanya kembali? Jujur, Wonwoo senang meskipun terselip ragu disana. Dan senyum tulus Mingyu entah mengapa membuat Wonwoo luluh juga. Mungkin memang saatnya Wonwoo kembali membuka hati. Toh, selama ini Wonwoo memang membutuhkan Mingyu. Apa salahnya jika ia mencoba.
...
...
"Jadi bagaimana?" tanya Seokmin ketika lelaki pemilik senyum matahari itu duduk dikarpet bulu dikamar Mingyu.
"Aku mendapatkan informasi yang akan membuat kalian merinding," jawab Soonyoung kelewat semangat.
"Huh?"
"Lihat ini," Soonyoung memberikan selembar kertas pada Seokmin dan Mingyu kemudian melipat kedua tangannya didepan dada, merasa bangga atas penemuan besar yang ia lakukan.
"Apa ini?" Seokmin menerima kertas itu kemudian membaca beberapa tulisan yang ada disana.
"Seharian aku mencari informasi dari beberapa sumber, dan aku mendapatkan itu."
Mingyu mengerutkan kening, Soonyoung ini kalau bicara kadang-kadang tak jelas.
Drrt... Drrt...
Mingyu mengambil ponsel yang tergeletak diatas meja begitu tahu ponselnya bergetar. Menggeser kunci tombol dan mengerut ketika sebuah pesan terpampang disana.
From : Jihoon
Soonyoung sudah menceritakannya padaku, dan aku bersyukur bahwa kau benar-benar bekerja keras selama ini. Aku memberikan rumusan yang sudah kubuat bersama Seungcheol Oppa dan menuliskannya dikertas.
.
Sontak Mingyu menatap Soonyoung dengan tatapan tak percaya.
"Kau mendapatkan ini dari Jihoon?"
"What?" Seokmin mendelik mendengar pertanyaan Mingyu.
Soonyoung nyengir lebar, kemudian mengangguk berkali-kali.
"Astaga! Kau ini benar-benar ingin menjadi detektif atau apa sih?" Seokmin menggelengkan kepalanya tak percaya. Soonyoung benar-benar hebat. Bisa mendapatkan informasi lengkap hanya dalam waktu satu hari. Daebak!
"Tapi... apa ini maksudnya?" Mingyu bertanya setelah mengamati tulisan disana dengan seksama.
"Ish! Kenapa kau mendadak bodoh sih, Kim. Sini!" Soonyoung sok pintar. Baru mendapatkan selembar kertas saja sudah berani-beraninya mengatai Mingyu bodoh. Bukankah selama ini yang sering mendapat nilai buruk itu si Soonyoung sendiri?
"Dengar, disini tertulis kalimat 'Melukai tanpa pisau, menembak tanpa handgun?', menurutmu apa artinya?"
"Em... menurutku seperti seseorang yang berhianat?" Seokmin menyahut.
"Tepat!" Soonyoung menjentikkan jarinya.
"Jihoon bilang, Ayahnya Wonwoo sempat membahas tentang kuncir rambut saat Jihoon berkunjung. Lihat ini," Soonyoung menunjukkan sebaris tulisan dengan beberapa coretan dan tanda panah kesana kemari.
"...Gyeongsang-Busan. Aku yakin itu spoilernya. Dan kalimat ini, pita biru yang dikenakan Jihoon, kucir dua Seungkwan, dan rambut kepang Jeonghan, itu adalah kata yang berhubungan dengan kalimat pertama,"
"Tunggu... aku semakin tak mengerti," Seokmin menggaruk pipi yang sebenarnya tak gatal.
Soonyoung menghela napas panjang. Teman-temannya ini kenapa mendadak bodoh sih?
"Jadi begini, Paman Jeon itu adalah seorang Jenderal besar Korea Selatan,kan? Sudah barang tentu segala perkataannya memiliki rahasia tersendiri agar tak mudah ditebak oleh musuh. Kalian ingat, setiap kali Jeonghan bertanya tentang Ayahnya, Paman Jeon selalu mengalihkan perkataan. Aku rasa itu bukan sebuah pengalihan tapi sebuah kalimat konotasi..."
Hening.
"...Pita biru. Jika dihubungkan dengan kalimat pertama," Soonyoung menunjukkan tanda panah yang mengarah pada tulisan Gyeongsang, "Itu adalah tempat yang memiliki laut. Bukankah Busan adalah kota yang identik dengan laut dan pantai? Dan warna air lautnya biru."
Mingyu berusaha mencerna perkataan Soonyoung. Kemudian menunjuk pada arah panah yang berada dibawah telunjuk lelaki berpipi tembam itu.
"Lalu ini?"
Soonyoung dan Seokmin mengarahkan pandangan pada telunjuk Mingyu.
"Kucir dua dan kepang panjang? Apa maksudnya?" Seokmin mengernyit.
"Oke, akan kujelaskan. Jadi, pita biru yang dimaksud adalah tempat 'orang' itu berada. Kucir dua dan kepang panjang adalah istilah lain. Kalian pernah mendengar ada nama jalan berkelok didaerah Busan kan?" Seokmin dan Mingyu mengangguk.
"...disitu point-nya. Kepang panjang diistilahkan sebagai jalan, dan kucir dua adalah letak rumahnya. Jadi jika disimpulkan 'orang' itu berada di Busan, tinggal disekitar jalan berkelok pinggir pantai, rumah nomor dua dari arah laut."
Mingyu masih mencoba menyerap kalimat yang diucapkan Soonyoung, sementara Seokmin kembali menggaruk pipinya.
"Astaga, kalian masih belum mengerti apa maksudku?" Soonyoung melotot tak percaya.
Mingyu dan Seokmin menggeleng bersama.
"Kalian makan apa sih hari ini?" omelnya.
"Tu-tunggu... itu artinya..." Seokmin menjeda kalimatnya. Sepertinya lelaki kuda ini sudah mulai paham dengan perkataan Soonyoung.
Soonyoung menatap kedua temannya bergantian dengan pandangan meyakinkan.
"...itu artinya Ayah Jeonghan masih hidup. Dia tinggal di Busan sekarang."
...
...
TBC
...
Jeng...jeengg...
Hayoloh, bener gak nih Ayah Jeonghan masih hidup?
Gimana kalau Jeonghan dan Wonwoo sampai tahu?
Kira-kira Wonwoo akan bereaksi seperti apa?
Itu ada di chapter depan, ya :D
Maaf terlalu lama Update. Semoga chap ini mengobati rasa rindu kalian sama Pantomime, kkk~
Mungkin dua atau tiga chapter lagi Pantomime Ending. Saya tidak mau ambil banyak chapter karena masih banyak Fic saya yang terlantar :'(
Btw, kalian sudah vote Seventeen di Mnet Asian Music Award belum?
Bangga banget kan ya pas tau Sebong dijajarin sama EXO, BTS, Got7, dan kawan-kawan buat jadi 'rival'nya kkk...
Itu artinya nama SEVENTEEN sudah sangat diperhitungkan loh. Karena saya Multi fandom (saya EXO-L dan Carat juga) jadi saya sedang dirundung kegelisahan(?). Intinya sih, tetep dukung mereka aja apapun nanti hasilnya /malah curhat kkk...
Btw(2), Terimakasih review nya di chapter kemarin. Banyak yang penasaran sama Bang Deka ternyata, dan chap ini saya bikin kalian penasaran lagi muehehe...
Selamat malam Mingyu...
Salam sayang, JongSoo :v
