Ps : Chapter ini berisi tentang konflik dan pemecahan masalahnya. Jadi tidak akan banyak momen couple (meanie maupun soonhoon) sepanjang jalan cerita.

Pss : Alur kelewat cepat, harap diantisipasi.

...

PANTOMIME

Kim Mingyu, Jeon Wonwoo

Angst, OC, GS!

...

Kim Jong Soo 1214

...

Present

...

Enjoy!

...

Preview

"Astaga, kalian masih belum mengerti apa maksudku?" Soonyoung melotot tak percaya.

Mingyu dan Seokmin menggeleng bersama.

"Kalian makan apa sih hari ini?" omelnya.

"Tu-tunggu... apa itu artinya..." Seokmin menjeda kalimatnya. Sepertinya lelaki kuda ini sudah mulai paham dengan perkataan Soonyoung.

Soonyoung menatap kedua temannya bergantian dengan pandangan meyakinkan.

"...itu artinya Ayah Jeonghan masih hidup. Dia tinggal di Busan sekarang."

...

"Apa kau sudah gila?! " Seokmin mengeplak kepala Soonyoung.

"Yha! kenapa kau memukulku!" Soonyoung mengelus belakang kepala yang terasa berdenyut. Si kuda ini kalau memukul kenapa harus pakai tenaga sih?

"Karena otakmu sudah tidak pada tempatnya."

"Yha... aku berbicara sesuai fakta," belanya.

"Fakta apanya? Bagaimana mungkin kau bisa menyimpulkan kalau Ayah Jeonghan masih hidup? Jika ada yang dengar kau berkesimpulan tanpa alasan, kau akan berada dalam masalah besar Kwon marmut Soonyoung!" Seokmin berkata menggebu.

"Siapa bilang aku berbicara tanpa alasan? Sekarang aku tanya padamu, kalau benar Ayah Jeonghan sudah mati lalu dimana mayatnya? Atau paling tidak polisi akan menemukan sisa tulang belulangnya jika tubuhnya sudah membusuk. Tapi sampai sekarang tak ada jejak apapun."

Seokmin dan juga Mingyu terdiam setelahnya. Kesimpulan Soonyoung memang ada benarnya. Jika memang Ayah Jeonghan sudah mati paling tidak polisi akan menemukan dimana mayatnya berada. Tapi kalau memang masih hidup kenapa tak ada seorangpun yang mengetahui keberadaannya?

"Apa kau yakin?"

Mingyu bertanya setelah beberapa saat hanya terisi keheningan diantara mereka.

Soonyoung menghela napas lelah, "Harus berapa kali kubilang, aku yakin bahkan sangat yakin dengan ini."

Mingyu dan Seokmin saling bertukar tatapan.

"Lalu ini... ," Seokmin menunjuk pada bagian kertas paling bawah. Terdapat tanda panah dan juga tulisan bertinta merah,"Blackpack, Diamondserce 1706, apa maksudnya?"

"Aku juga masih belum mengerti apa maksudnya. Tapi kurasa itu ada hubungannya dengan lelaki bernama Jisoo itu."

Soonyoung menyandarkan dirinya pada sofa, melipat kedua tangannya didepan dada sembari menatap wajah kedua sahabatnya bergantian.

"Kalau begitu kita harus mencari Jisoo."

Mingyu menyela.

"Bisa saja, tapi kita harus membawa Wonwoo dalam kasus ini."

"Kau gila!"

"Sudah berapa kali kau mengataiku gila hari ini, Lee kuda Seokmin?!"

"Kau itu lama-lama memang semakin gila. Mana mungkin kita mengajak Wonwoo? Kau tahu kan, Wonwoo itu memiliki trauma besar dengan tempat itu?"

Mingyu menatap kosong lembaran kertas yang ada didepannya. Kalimat Seokmin entah mengapa begitu menusuk dadanya.

"Ish! Kalau kita tidak mengajak Wonwoo masalah hanya akan terfokus pada teori, bodoh! Lagipula Jisoo kan sepupu Wonwoo. Apa yang kau khawatirkan?"

Lagi-lagi Seokmin dibuat bungkam. Benar juga kata Soonyoung.

"Aku akan bicarakan masalah ini pada Wonwoo. Semoga dia mau mendengar."

Dan kalimat Mingyu mengakhiri sesi debat diantara ketiganya. Pemikiran-pemikiran yang diluar dugaan sedikit banyak merusak sisi harmonis diantara mereka, terganti suasana tegang yang melelahkan.

"Ya... semoga saja."

...

...

"Wonu-ya..." Wonwoo mendongak, mengabaikan lembaran kertas yang ia gores dengan tinta hitam beberapa detik yang lalu.

"...bisa kita berbicara sebentar?"

Kerutan tercipta di kening sang gadis manis.

"Haruskah?"

...

...

"Sudah lama sekali, bukan?"

Wonwoo mengangguk, "Um."

Mata gadis itu mengedar. Senyum tipis terpatri disudut bibirnya.

"Sini..." Mingyu menepuk kursi kayu disebelahnya, memberi tanda pada Wonwoo agar mau duduk disana.

Sang gadis manis mendekat. Sedikit ragu, namun ia memilih duduk juga.

Wonwoo menghela napas panjang. Memejamkan mata untuk menikmati hangatnya matahari musim gugur kali ini. Helaian rambut tipisnya bergoyang seirama angin, menjadikan wajah manis Wonwoo berlipat menjadi beribu-ribu kali.

Mingyu tersenyum. Wonwoo-nya masih sama.

"Kupikir kau sudah melupakan tempat ini," Wonwoo berkata tepat setelah membuka mata.

"Mana mungkin..."

Wonwoo balas senyum kemudian kembali menatap hamparan padang rumput hijau dari atas atap gedung itu.

"Wonu-ya..."

Wonwoo tatap mata Mingyu. Ada keraguan disana. Wonwoo melihatnya.

"...bisakah aku memulainya?"

Kening gadis itu mengkerut. Mingyu membuatnya merasa aneh.

"Memulai?"

"Menebus kesalahanku."

Wonwoo memudarkan senyumnya. Entah mengapa mendengar Mingyu membahas hal itu membuat dadanya sakit. Memang benar, beberapa hari yang lalu Mingyu berjanji untuk menebus kesalahan yang sebenarnya bukan dari dirinya sendiri. Tapi bagaimanapun juga rasa marah itu masih sering muncul ketika tak sengaja ada yang membahasnya.

"Kau sudah menemukan caranya?"

Mingyu mengangguk, "Jisoo. Kau mengenalnya, bukan?"

Wonwoo pasang wajah datar.

Jisoo...

Satu nama yang sudah lama tak pernah Wonwoo sebut.

Wonwoo menunduk, rautnya pun berubah.

"Kau sudah mencari sampai sejauh ini rupanya..."

"...kau tahu Jisoo sampai dimana?" Wonwoo balas tatap Mingyu. Tajam.

"Kau menghawatirkan sesuatu?" bukannya menjawab, Mingyu justru bertanya.

Jeda.

Cukup lama.

Hingga akhirnya Wonwoo menggeleng.

"Kau berbohong padaku."

"Tidak."

"Kau takut?"

"..."

"Wonu-ya..."

"Jangan libatkan Oppaku."

Wonwoo berkata lirih. Matanya memancarkan permohonan yang entah mengapa membuat Mingyu semakin bertanya-tanya. Mengapa Wonwoo seolah begitu melindunginya?

Mingyu meraih tangan Wonwoo, mengelusnya pelan.

"Apa yang kau takutkan? Apa sesuatu penah terjadi pada Jisoo?"

Wonwoo kembali menggeleng.

Keheningan tercipta setelahnya.

Mingyu tak pernah tahu jika Wonwoo memiliki ketakutan seperti ini. Sebenarnya siapa Jisoo?

"Bukankah aku sudah bilang, aku akan membayar semuanya. Aku tak akan bisa melewatkan satu incipun dari akar yang menyebabkan masalah ini tumbuh, Wonu-ya."

Wonwoo diam.

"... Soonyoung sudah mendapatkan beberapa informasi tentang Jisoo."

Seperti terpanggil, Wonwoo refleks menoleh. Memperhatikan Mingyu yang sedang mencari sesuatu pada saku celananya.

"Ini adalah salah satunya."

Selembar kertas dihadapkan didepan mata Wonwoo.

"Apa itu?"

"Beberapa informasi mengenai kasus ini."

Singkat.

"Aku, Seokmin, Soonyoung, dan Jihoon akan ke Busan besok. Mencari tahu dimana letak alamat dan tempat yang tertulis disana."

"Jihoon?"

Mingyu mengangguk, "Jihoon juga membantuku mencaritahu siapa itu Jisoo."

"Kalian bekerja dibelakangku?"

"Maaf..."

"Kenapa kau melibatkan Jihoon?"

Wonwoo meraih kertas itu, membaca setiap kalimat yang tertulis disana dengan seksama. Terlalu banyak tanda panah bertinta merah dimana-mana.

"Karena Jihoon yang mengusulkannya."

"Apa?"

Wonwoo hentikan acara bacanya.

"Karena Jihoon menangkap hal aneh dari Ayahmu... mengenai keterangannya tentang Ayah Jeonghan..."

Deg!

Sebuah rongga didalam dada Wonwoo didobrak mendadak. Sakit, pun luka seketika dibuat menganga.

"... Jihoon bilang Ayahmu memiliki banyak kalimat yang sedikit rumit. Jihoon merumuskan beberapa kalimatnya, dan entah dari mana otak Jihoon dan otak Soonyoung bertemu hingga mereka memecahkan teori ini."

Mingyu mencoba menjelaskan.

"Teori?"

"Aku tak bisa menjelaskannya secara detile sekarang. Aku mengajakmu kemari karena aku ingin memintamu ikut dalam misi kali ini, Wonu-ya."

Wonwoo kembali diam. Tatap mata Mingyu lamat-lamat.

"Jika kau mau memberikan informasi mengenai Jisoo dan mendapatkan keterangan darinya, bukan hanya kasus ini yang akan terpecahkan, bahkan kita bisa mengeluarkan Ayahmu dari penjara."

Wonwoo menangkap masud Mingyu, bahkan dari mata lelaki itu tak ada satu keraguanpun tertera.

Sejujurnya, Wonwoo begitu ingin membantu Mingyu, atau lebih tepatnya membantu memecahkan masalahnya. Selama ini Wonwoo hanya bisa diam meskipun pada dasarnya Wonwoo mengetahui rahasia dibalik ini semua. Keterlibatan Ayahnya, topeng Ayah Mingyu, bahkan rahasia yang disembunyikan Ayah Jeonghan. Namun ketika kelebat ingatan mengenai tragedi waktu itu datang, Wonwoo mematung. Wonwoo lebih memilih diam dari pada harus membuka lukanya.

Ia pun sadar, mengorbankan Ayahnya dalam kasus ini adalah salah. Tapi apa yang bisa ia dilakukan? Wonwoo hanyalah gadis biasa. Gadis yang berusia 16 tahun kala itu. Jangankan untuk melawan mereka, untuk membuang rasa traumanya saja begitu sulit.

Wonwoo sudah tertekan sejak lama. Sejak pertama kali Ayahnya mengatakan bahwa Wonwoo harus pintar menjaga diri. Wonwoo sudah sangat tak nyaman ketika orang-orang berpakaian hitam terus saja mengawasi atas perintah Ayahnya. Jauh didalam hati, Wonwoo merasa takut. Menjadi anak seorang Jenderal besar begitu menakutkan. Mungkin akan terlihat baik-baik saja diluar, namun Wonwoo memiliki perasaan lain ketika teman-temannya memandang sebelah mata. Mereka tak mau mendekati Wonwoo begitu tahu siapa dirinya. Hanya Jihoon, Seungcheol, Jisoo, dan Mingyu, yang tak pernah melewatkan Wonwoo bagaimanapun keadaannya.

Wonwoo menarik napas panjang, menatap kedua tangannya yang berada dalam genggaman Mingyu.

"Aku ikut."

Dengan ucapan itu Mingyu tersenyum lega.

Tak tahu saja, jika sosok gadis cantik berambut panjang tengah mengamati mereka. Dengan mata penuh amarah, pun kepalan tangan disisi tubuhnya.

...

...

Berganti hari...

Mingyu benar-benar menepati ucapannya. Menjemput Wonwoo beserta 'geng dadakan' yang mereka bentuk setelah perdebatan yang menjengkelkan. Jihoon, Seokmin, Soonyoung, dan Mingyu, ditambah Wonwoo, total ada 5 orang.

Mereka membahas tentang tanda-tanda yang ada dikertas itu sebelumnya. Memberi pengertian pada Wonwoo agar gadis itu paham akan maksud dan tujuan mereka pergi ke Busan. Wonwoo tak mempermasalahkan apapun, termasuk jika kemungkinan terburuk mereka terima.

"Aku senang bisa melihat kalian akur kembali." Jihoon memecah keheningan setelah beberapa lama hanya ada keheningan.

Mingyu yang berada dibalik kemudi melirik dari kaca spion diatasnya, kemudian tersenyum.

"Sebenarnya Mingyu itu tak benar-benar menjauhi Wonwoo, dia hanya gengsi saja memulai kembali," Soonyoung nyeletuk.

"Yha!" itu Mingyu yang teriak.

"Apa? Memang benar kan?"

"Ish!"

Wonwoo tersenyum. Tipis sekali.

"Wonu-ya..." Seokmin menoleh kebelakang, kearah Wonwoo dan Jihoon.

Wonwoo menatap Seokmin penuh tanya.

"...Aku dengar Jisoo adalah sepupumu."

Wonwoo mengangguk.

"Apa kau tak sekalipun menemuinya sejak kejadian satu tahun lalu?"

Soonyoung dan Jihoon yang berada satu tempat duduk dengan Wonwoo menoleh, menangkap ekspresi yang tak tertebak disana. Mingyu melirik sebentar, kemudian kembali fokus pada kemudinya.

"Aku memiliki alasan lain."

"Alasan?"

Seokmin kepo.

"Jisoo Oppa menjauhiku..."

Hening.

"Dia bilang bahwa dirinya berbahaya. Aku tak mengerti apa maksudnya, tapi setelah itu Jisoo Opaa benar-benar tak menemuiku sema sekali."

Seokmin jadi merasa tak enak hati sudah bertanya seperti itu.

"Maaf..."

"Tak apa..."

Jeda.

"...Ini memang sedikit sulit. Tapi aku percaya pada kalian."

Jihoon tersenyum mendengar kalimat Wonwoo. Ia tak menyangka sekaligus bersyukur mengetahui Wonwoo sudah mulai mau membuka dirinya.

...

...

"Disana."

Wonwoo menunjuk satu bangunan bercat hijau. Mingyu membuat pelan laju mobilnya, kemudian berhenti tepat didepan rumah besar dengan pagar besi yang mengelilinginya.

Mereka segera turun. Menghiraukan cuaca mendung yang perlahan datang.

"Kenapa disini sepi sekali?" Soonyoung celingukan.

"Entahlah." Mingyu menyahut.

"Disini memang selalu sepi." ucap Wonwoo sembari berjalan mendekati pintu gerbang.

Jihoon mengekor dari belakang, sementara Mingyu mengawasi dari tempat mereka berdiri sebelumnya.

Mingyu rasa suasananya sedikit aneh mengingat mereka tengah berada di Busan. Memang benar, lokasinya dekat pegunungan dan pantai, tapi bukankah ini terlalu sepi untuk ukuran kota sebesar ini?

"Kalian merasakan sesuatu?" Soonyoung berbisik, mengalihkan perhatian Seokmin yang tengah memandang sekeliling.

"Entah mengapa aku merasa seperti sedang diawasi sedari tadi," lelaki uda itu bergidik.

Mingyu mengedarkan pandangan mengikuti arah Seokmin. Dan dirinya pun merasakan hal yang sama.

"Kita harus tetap berhati-hati. Bisa saja tempat ini memang ada sesuatunya," Mingyu peringati. Kemudian dibalas anggukan oleh kedua sahabatnya.

...

...

Tok... Tok...

Wonwoo mengetuk pintu coklat didepannya.

Hening.

Tok... Tok..

Cukup lama mereka menunggu.

"Apa rumah ini sudah tak dihuni lagi?" Jihoon menempelkan wajahnya pada kaca jendela, siapa tahu dirinya melihat seseorang didalam.

"Entahlah... aku sudah lama tak..."

"Wonwoo?"

Semua mata mencari sumber suara.

Seorang lelaki tinggi. Memakai hodie warna abu-abu, dengan beberapa bungkus tas belanja ditangannya.

"Op-pa..."

Seketika pertanyaan muncul dikepala 3 manusia yang ada disana-kecuali Jihoon.

Dia kah yang bernama Jisoo?

...

...

"Apa kau tak memiliki waktu tidur yang baik? Mengapa ada mata panda dibawah kelopakmu?"

Lelaki bernama Jisoo itu bertanya setelah meletakkan beberapa kue juga minuman dingin diatas meja. Duduk disofa tunggal yang berada paling ujung, lalu mengarahkan tatapan pada Wonwoo.

Wonwoo tersenyum kecut.

"Oppa, bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja bukan?" Jihoon menyela begitu membaca raut Wonwoo yang berubah. Sementara itu, 3 teman laki-lakinya terlihat mengkerutkan kening, bertanya-tanya dalam hati, mengapa suasananya begitu kaku?

Jisoo mengangguk, "Aku baik. Seperti yang kalian lihat."

"Syukurlah."

Hening kembali menyelimuti..

Tak ada yang memulai percakapan lagi setelahnya.

Mingyu dan Soonyoung menatap lelaki bernama Jisoo itu penuh perhatian. Mereka bahkan tak mengerti bagaimana bisa lelaki berwajah sekalem Jisoo bisa terlibat dalam masalah sebesar itu? Ah... atau mungkin Jisoo hanya dijadikan alat?

"Katakan, apa yang membuat kalian datang menemuiku?"

Sontak kelima manusia itu menatap. Ternyata Jisoo bukan tipe orang yang suka berbasa-basi.

Wonwoo menghela napas sebentar, sebelum akhirnya melontarkan pertanyaan yang membuat Jisoo tergelak.

"Kau tahu sesuatu tentang Ayahku, kan Oppa?"

Soonyoung menangkap raut Jisoo yang berubah. Ia dapat mengerti dengan baik bagaimana rasa gugup tengah melingkupi lelaki itu. Dan sudah dapat dipastikan bahwa Jisoo mengetahui sesuatu.

Soonyoung berinisiatif mengeluarkan lembar kertas yang sebelumnya mereka tunjukkan pada Wonwoo kemudian menunjukkannya pada Jisoo.

Jisoo mengambil kertas itu lalu mengamati rentetan tulisan disana. Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Jisoo melayangkan tatapan pada lima remaja yang tengah menunggu jawaban darinya.

"Aku tidak mengerti apakah Paman Yoon masih hidup atau tidak, karena memang sejauh ini tak pernah ada bukti mengenai kematiannya," Jisoo berucap.

"Jadi kau juga tak tahu?" Mingyu bertanya kemudian dijawab dengan gelengan.

"Ini aneh. Bukankah kau berada ditempat yang sama tepat sehari sebelum Wonwoo diculik? Kau pasti tahu sesuatu," Seokmin masih penasaran.

"Aku memang ada disana," Jisoo mengingat-ingat.

"...malam itu Ayahku menyuruhku datang menemui Paman Kim dan Paman Yoon disebuah kedai karena Ayahku berhalangan datang. Mereka menanyakan tentang lembaran surat yang dititipkan Ayahku padaku. Setelah aku menyerahkan surat itu mereka buru-buru pergi."

"Surat?"

Jisoo mengangguk.

"Kau tahu surat apa itu?" Mingyu kembali bertanya.

"Eung... sepertinya surat bisnis. Aku kurang tahu apa isinya karena surat itu terbungkus amplop."

Soonyoung mengetukkan jari dipinggiran sofa. Sepertinya ada yang aneh. Bukankah Ayah Wonwoo seorang Jenderal, mengapa beliau bisa tersangkut masalah dengan para pebisnis?

"Wonu-ya..."

Wonwoo menatap Soonyoung begitu lelaki marmut itu memanggil.

"...apa kau tahu jika Ayahmu memiliki bisnis diluar pekerjaannya sebagai Jenderal polisi?"

Wonwoo merubah rautnya, mencoba mengingat.

"Setahuku tidak. Ayah hanya menggeluti pekerjaannya saja tanpa memiliki bisnis apapun."

"Bukankah ini aneh?" tepat setelah jawaban Wonwoo berakhir Soonyoung kembali berucap, "Jika Ayah Wonwoo tak memiliki bisnis apapun, maka pertanyaan yang seharusnya muncul adalah 'mengapa Ayah Wonwoo bisa berurusan dengan para pebisnis seperti Paman Kim dan Paman Yoon selama jabatan masih ada dipundaknya?'"

Kelima orang yang ada disana dibuat berpikir. Apa yang dikatakan Soonyoung benar. Kenapa mereka tak terpikirkan sampai kesana?

"Jadi menurutmu memang ada maksud lain dibalik ini semua?" Seokmin memastikan.

Soonyoung mengangguk mantab.

"Tapi yang membuat pikiranku berbeda dengan Soonyoung adalah tentang ini, apa Oppa tahu maksudnya?" Jihoon menyela begitu rasa penasaran memuncak dari dadanya. Menunjuk satu tulisan yang berada dibarisan paling bawah.

Jisoo mengamati tulisan bertinta merah itu lamat-lamat.

"Blackpack, Diamondserce 1706, sepertinya aku mengenali tulisan ini."

Semua mata tertuju pada Jisoo.

"... Ikuti aku."

Jisoo beranjak dari duduknya, melangkah pelan menuju sebuah ruangan dengan 5 orang yang mengekor dibelakang.

Lelaki manis itu membuka salah satu lemari besar yang terletak diujung ruangan. Lemari berplitur coklat dengan ukiran rumit disetiap sisinya.

"Aku rasa maksud dari tulisan itu adalah ini."

Jisoo memberi celah pada lima orang lainnya untuk mengamati isi lemari. Sebuah Brangkas.

Soonyoung mendekat, mengamati brangkas besi berwarna abu-abu itu lamat-lamat. Menyentuh setiap sisinya, seolah sedang mencari sesuatu disana.

"Blackpack Diamonserce," Soonyoung bergumam, "... adalah merk dari brangkas."

"Apa?"

"Lihat."

Soonyoung menunjuk tulisan kecil disisi kiri brangkas.

"Astaga!" Seokmin heboh.

"Jadi..."

Klik!

Belum sempat Seokmin melanjutkan kalimatnya, Soonyoung sudah lebih dulu menemukan kunci passwordnya.

"1706, tidak salah lagi."

Wonwoo terdiam begitu brangkas terbuka. Mendapati banyak sekali kertas berkas yang tersimpan didalamnya.

Mingyu mendekati brangkas, mengeluarkan beberapa lembar kertas kemudian membaca isinya. Lelaki tan itu mematung begitu melihat kertas-kertas itu berisi logo perusahaan juga tanda tangan Ayahnya. Tak salah lagi, Ayahnya memang terlibat didalam kasus serumit ini.

...

...

Keadaan didalam mobil begitu lengang. Tak ada percakapan apapun setelah satu fakta terungkap. Soonyoung memiliki analisis yang hampir tepat dan sempurna. Analisis mengenai latar belakang kejadian ini.

Fakta bahwa ternyata Ayah Mingyu dan Ayah Jeonghan menjebak dan memanfaatkan Ayah Wonwoo. Menghubungkan Jabatan Ayah Wonwoo sebagai Jenderal besar Korea selatan dengan bisnis yang tengah dijalankan Paman Kim. Jenderal kepolisian, mengurus segala sesuatu tentang lajur perjalanan keamanan negara, dimanfaatkan untuk membatu Paman Kim dan Paman Yoon menyelundupkan barang-barang terlarang sebagai bisnisnya.

Tak ada yang menyangka.

Termasuk Mingyu sendiri.

...

...

Jihoon menyentuh tangan Wonwoo begitu mereka memasuki kawasan yang sedikit gelap. Hari sudah menjelang malam, dan Wonwoo menemukan ketakutannya.

Mingyu menghentikan mobil tepat didepan sebuah gedung besar. Gedung yang sepertinya lama tak terpakai. Gedung yang berada disekitar jalan berkelok, dekat laut, dan berada dinomor dua dari arah pantai. Persis seperti yang Soonyoung tebak.

"Wonu-ya... kau baik-baik saja, kan?" Jihoon bertanya ketika ia rasa tangan Wonwoo semakin dingin. Mata gadis itu memerah, pun tubuhnya menegang tiba-tiba.

Kelebatan didalam kepala Wonwoo muncul tanpa diperintah. Gadis itu masih begitu hafal dengan aroma serta rupa gedung yang ada didepannya. Gedung yang mencetak sejarah luar biasa dimasa remajanya.

"Kau tak perlu ikut masuk jika takut." Mingyu datang, mengambil alih tangan Wonwoo dari Jihoon kemudian menyentuhnya lembut.

Wonwoo menatap tangan Mingyu, kemudian menggeleng pelan, "Aku tetap ikut."

"Jangan memaksakan dirimu," Mingyu berucap lembut, mencoba membujuk Wonwoo jika memang dirasanya tak memungkinkan.

"Aku sudah terlibat sejauh ini, dan aku harus memastikan dengan mata kepalaku sendiri Kim Mingyu."

Mingyu menghela napas panjang. Merasa tak tega sebenarnya. Wonwoo bahkan sudah berkeringat dingin. Yang namanya trauma pasti sulit diatasi.

Mingyu tahu jika Wonwoo sedang berusaha keras melawan rasa takutnya. Mingyu tahu jika Wonwoo menahan keras air matanya. Bayangan bagaimana dirinya disiksa hingga penuh luka, dipaksa berucap meskipun dirinya tak tahu apa-apa. Dan berusaha menjadi kuat walau berat.

Mingyu mengelus pucuk kepala Wonwoo pelan, "Bilang padaku jika kau merasa tak bisa melanjutkannya."

Wonwoo mengangguk kemudian memilih kembali berjalan, mengikuti Seokmin dan Soonyoung yang sudah jauh didepan.

Mereka berjalan pelan, melewati jalan setapak penuh rumput liar yang menghubungkannya ke gedung tua itu. Jihoon menggenggam tangan Wonwoo erat, seolah ingin melindungi Wonwoo apabila terjadi hal diluar dugaan. Sementara Mingyu berjalan paling belakang. Mengawasi dua gadis mungil yang ada didepannya. Suasana yang mulai gelap membuat mereka harus ekstra hati-hati. Sebab yang mereka cari tahu keberadaannya bukan orang biasa.

"Berhenti..." Soonyoung yang berada dibarisan paling depan berbisik pelan.

"Ada apa?" tanya Seokmin, balas berbisik.

"Aku merasa aneh dengan tempat ini."

"Aneh bagaimana?"

Soonyoung mengerutkan keningnya.

"Sudah sejak tadi, aku merasakan ada yang sedang mengawasi kita."

Seokmin menelan ludah susah payah, "Apa kubilang, aku bahkan sudah merasakannya sejak dirumah Jisoo."

"Tidak akan ada apa-apa. Bukankah Jisoo bilang bahwa tempat ini sudah bersih dari hal-hal semacam agensi-agensi rahasia?" Mingyu yang mendengar perdebatan kecil dua makluk paling depan itu kemudian berucap.

Memang benar sih, tapi mana tahu keadaan yang sebenarnya. Lagipula ucapan Jisoo belum tentu bisa dipercaya sepenuhnya. Bukankah dia orang yang baru mereka kenal? Kecuali Wonwoo dan Jihoon tentu saja.

"Tidak akan terjadi apa-apa, percaya padaku."

Soonyoung dan Seokmin mengalihkan pandangan pada Wonwoo. Gadis manis itu berucap penuh keyakinan.

"Eung... baiklah."

Soonyoung menjawab. Meskipun sedikit ragu, iapun memulai kembali langkahnya.

Didepan mata mereka kini terpampang sebuah pintu besar, terbuat dari besi dan sudah berkarat. Cat-cat tembok terkelupas, beberapa retakan menghiasi disana-sini. Begitu menggambarkan betapa lamanya tempat ini tak dihuni.

Mingyu menyentuh ujung pintu, sedikit mendorong agar pintu besi terbuka.

Suara decitan begitu keras terdengar. Lampu-lampu temaram menyapa setelahnya. Gedungnya besar, ada beberapa sekat yang mereka duga untuk menghubungkan ruangan satu dengan ruangan lainnya.

Wonwoo menghela napasnya dalam-dalam.

Aroma ini...

Masih terasa sama.

"Wonu-ya..."

Jihoon menyentuh pundak Wonwoo.

"Aku baik-baik saja," senyum paksa terlukis dari belah bibirnya.

"Siapa?!"

Kelima remaja itu menegang begitu mendengar suara seorang lelaki dari dalam.

Mingyu panik, menggenggam tangan Wonwoo erat. Takut jika Wonwoo-nya berubah pikiran.

Soonyoung beralih kebelakang, mendekati Jihoon.

Sementara Seokmin berdiri paling depan. Lelaki kuda itu sudah berjanji sebelumnya, jika sesuatu tak terduga terjadi maka dirinya yang akan berdiri dibarisan paling depan. Ya, setidaknya rasa tanggung jawab dan kepemimpinan yang diturunkan dari Ayahnya begitu melekat dalam dirinya.

Suasana mendadak sepi. Terlampau hening hingga suara degupan jantung mereka terdengar ditelinga.

Seseorang yang baru saja meneriaki mereka belum juga muncul.

Satu detik...

Dua detik...

Tiga detik...

Dari balik tembok usang disudut ruangan terlihatlah seorang lelaki tua. Mengenakan jaket tebal, pun tongkat panjang berada ditangannya. Jalannya terseok, tertatih seolah sedang mencari jalan untuk pijakan kakinya.

Orang itu...

Paman Yoon.

"Siapa disana?!"

Lelaki tua itu mengeluarkan kembali suaranya, kali ini sedikit lebih kencang. Menimbulkan rentetan pertanyaan dari masing-masing kepala yang ada disana. Begitupun Wonwoo.

Gadis itu... sudah tak bisa berkata-kata.

Seolah semua rasa sakit yang ada dalam dirinya mencuat keudara. Ia yang selama ini mengalami kesulitan dalam hidupnya, mengalami hinaan disetiap tapak kakinya, tak pernah tidur dengan baik selama sisa remajanya, menghambur sudah. Seseorang yang selama ini menjadikan dirinya 'tersangka' masih berdiri didepannya. Dengan cacat fisik, pun buta pada matanya.

"Ap-pa..."

Kelima remaja itu menoleh begitu mendengar suara parau seseorang. Dan betapa terkejutnya ketika mereka mendapati Jeonghan disana.

"Ap-pa..."

"Jeonghan... itu kau?"

Sang lelaki tua bertanya. Berusaha berjalan meskipun kesulitan.

Jeonghan berjalan mendekat. Entah sejak kapan gadis itu berada disana. Atau mungkin perasaan Soonyoung dan Seokmin tentang seseorang yang sedang mengawasi mereka adalah Jeonghan?

Gadis berambut panjang itu tertatih. Berjalan pelan untuk mendekati Ayahnya. Ayah yang sudah satu tahun tak pernah dijumpainya. Ayah yang menjadi tumpuan hidupnya. Ayah yang ia kira sudah tiada, sekarang berdiri didepan matanya.

'Set!'

Wonwoo menahan tangan Jeonghan begitu gadis itu berjalan didekatnya, menahannya dengan cengkerama kuat disana.

Jeonghan menatap Wonwoo nanar, sudah penuh air dipelupuknya.

"Ini yang kau sebut aku seorang pembunuh, hah? Kau menghina hidupku demi Ayah sialanmu itu! Kau menjadikan Ayahku tersangka tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya. Haruskah kau membayar atas perlakuanmu padaku Yoon Jeonghan?!" Wonwoo mendesis, menekan setiap kalimat yang keluar dari bibirnya.

Jeonghan diam, tak bisa berucap barang satu kata seperti biasa. Perasaan yang ada didalam dirinya bercampur jadi satu. Senang mengetahui Ayahnya masih hidup, dan kecewa karena sikapnya sendiri.

"Kau menciptakan imej buruk padaku. Haruskah aku melakukannya agar apa yang kau tuduhkan padaku menjadi kenyataan?"

Mingyu, Jihoon, Soonyoung, bahkan Seokmin mengkerut. Wonwoo ini berbicara apa sih?

"K-kau..."

"Kenapa? Kau takut?" Wonwoo semakin erat mencengkeram tangan Jeonghan hingga tercetak bekas kemerahan disana.

"...ucapkan selamat tinggal pada Ayahmu, Yoon Jeonghan."

Wonwoo mengeluarkan sebuah handgun dari dalam saku jaketnya. Membuat berpasang-pasang mata mendelik tak percaya. Dari mana Wonwoo mendapatkan senjata api seperti itu?

"W-Wonwoo..."

"Terserah kau akan menyebutku apa setelah ini, yang jelas aku bukan seseorang yang bisa dengan mudah memaafkanmu. Kau menggores luka, maka aku akan melakukan hal yang sama."

Gadis itu tersenyum miring, mengarahkan handgun pada sosok pria tua yang berdiri tak jauh dari mereka. Pria tua buta yang tak tahu keadaan apa yang tengah mengancamnya.

"Selamat tinggal, Paman Yoon!"

DOR!

...

End

...

Kyaaa... maaf, ini benar-benar mengecewakan. Aku tahu. Tapi semoga kalian ingat kalau genrenya Angst, jadi ga ada akhir bahagia dalam cerita.

Btw, ini endingnya maksa sekali. Eung... sebenarnya ga maksa juga sih, memang dari awal aku pingin bikin Wonwoo tuh seperti itu. Dia sudah terlalu lama menahan dendam dan Jeonghan yang membuat hidupnya hancur berantakan, cuma bisa ditebus dengan kematian Paman Yoon (sesuai dengan tuduhan yang selama ini diberikan padanya). Wonwoo bukan pemaaf, lagipula menjadi pemaaf setelah sekian lama disakiti pasti sulit, kan?

Btw(2) saya minta maaf (lagi) kalau ga ada feel dichapter ini. Karena saya ga terlalu fokus sama couple (seperti Ps saya diawal chapter) saya lebih fokus pada pemecahan masalah (yang kesannya buru-buru ini), jadi harap dimaklumi apabila ada satu diantara kalian yang tidak nyaman dengan endingnya.

Btw(3) mungkin setelah ini saya akan banyakin FF Oneshoot atau drabble dari pada chapter. Biar lebih enak bagi waktunya (mengingat saya bukan anak kuliahan lagi, ngehehe...)

Keep support me, dengan review.

Terimakasih untuk kalian yang sudah setia membaca Pantomime sampai akhir. Maaf (lagi) kalau tidak kusebutkan satu-satu seperti biasanya. Intinya, Jongsoo sayang kalian... Mumumu...

Rabu, 23 Nopember 2016.

.

.

Btw(4) Happy Birthday Uri Vocal Team Leader Lee Jihoon-Woozi-Uji-si bantet kesayangan nunna.

Nunna tahu ini telat, tapi... duh, nunna tuh ga rela kamu ulang tahun, Ji. Ga rela kamu jadi makin dewasa. Nunna tuh masih pengen liat kamu pake celana pendek tiap kali perform tau! /abaikan/

.

Dan lagi, selamat untuk Sebong yang dapat tropi Award dari AAA dan MMA, bangga banget sama kalian! Tetep dukung mereka di MAMA, ya? (Btw, Seoul Music Award sama Gaon Chart Award Sebong masuk nominasi ga sih? Kok aku kudet?)

Elah, jadi ngelantur kemana-mana.