Basara Gakuen, kelas 2-2, sore hari…

Semua siswa sudah meninggalkan kelas untuk pulang. Sebagian masih tinggal karena ada tugas piket yang harus mereka kerjakan. Date Masamune termasuk salah satu yang tinggal. Namun ketika tugasnya sudah selesai, dia belum ingin pulang dan memilih tetap berada di kelas. Teman-temannya yang ikut piket sudah pulang lebih dulu darinya.

Laki-laki bermata satu itu duduk di mejanya dan memandang langit senja dari jendela kelasnya. Satu tangan menopang dagunya, satu tangan lainnya memegang ponselnya karena dia sedang menunggu telepon dari kepala pelayan rumahnya, Katakura Kojuuro, yang akan menjemputnya pulang dari sekolah.

"Oh, masih di sini rupanya. Aku pikir sudah pulang," lamunannya seketika buyar ketika seseorang menyapanya dari pintu kelas. Dia menoleh dan mendapati Chosokabe Motochika melambaikan tangan padanya. Dia membalas melambai dan menyuruh seniornya itu masuk. "Kegiatan klubku sudah selesai. Bulan depan ada turnamen olahraga antar sekolah. Kepala Sekolah memintaku membentuk tim untuk pemandu sorak saat sekolah kita bertanding," kata Motochika lalu duduk di dekatnya.

"Great! Berarti saat tim bisbolku bertanding, kau akan mendukungku juga kan, Motochika?"

"Ou! Tenang saja, Dokuganryu. Aku akan memberikan dukungan terbaik untukmu! Oh ya, kenapa masih di sini? Kau sudah selesai tugas piket kan?"

Masamune kembali memandang keluar jendela dan menjawab, "Aku menunggu telepon dari Kojuuro. Dia agak terlambat sepertinya. Mungkin masih berurusan dengan montir di bengkel karena tadi pagi ada masalah dengan temperatur mobilnya."

"Semoga saja tidak terlalu parah. Eh, tapi tidak apa-apa deh dia datang terlambat. Karena aku ingin melakukan sesuatu denganmu."

Belum sempat bertanya, Masamune melihat Motochika sedang mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kotak bertuliskan Pocky berwarna hijau. Dia membuka kotaknya dan merobek bungkus di dalamnya. Dia lalu mengeluarkan sebatang pocky dan menggiggit di mulutnya. "Kemarilah," katanya sambil mengulurkan tangan kepada Masamune.

Laki-laki berambut cokelat itu menurutinya. Dia meraih tangan Motochika dan beranjak dari kursinya. Dia duduk di pangkuan laki-laki berambut perak itu dan mengalung satu tangannya di lehernya. Tanpa disuruh, Masamune tahu apa yang harus dilakukannya. Motochika mengarahkan batang pocky hijau kepadanya. Ketika Masamune hendak menggigit ujungnya, dia mengelak sehingga laki-laki berambut cokelat itu tidak jadi menggigitnya. "Stay!" perintahnya, tapi Motochika masih terus mengelak. Dia malah memakan sedikit batangnya sehingga panjangnya berkurang.

"Ayolah, kau bisa lebih baik dari ini," pancingnya.

"Jangan curang, kau Iblis!" protes Masamune.

Motochika menyeringai, dia mengarahkan lagi batang pocky itu kepada Masamune. Namun dia tidak ingin berhenti menggodanya. Setiap kali Masamune hendak menggigitnya, dia menarik batang berbalur adonan tipis teh hijau itu masuk ke mulutnya dan memakannya sehingga panjangnya semakin berkurang. Jika Masamune tidak bisa bergerak lebih cepat, dia tidak akan bisa memakannya.

"Diamlah sebentar, Motochika!" sekali lagi Masamune memprotesnya, dan kali ini dia memegang kedua pipi laki-laki berambut perak itu supaya tidak bergerak.

Batang pocky di mulut Motochika hanya tinggal 2 ruas jari telunjuknya. Jika dia memakannya lagi, berarti pocky itu sudah habis dimakannya sendiri. Masamune tidak akan mendapatkan kesempatan untuk memakannya. Intinya, dia harus bergerak lebih cepat dari Motochika.

"Potongan terakhir. Tunggu apa lagi, Dokuganryu?" pancing Motochika sekali lagi.

"Jika kau melakukan itu lagi, aku tidak mau bermain lagi denganmu," ancam balik Masamune.

"Kau mudah sekali marah ya. Kau itu manis sekali kalau sedang marah, hehehe…" balas Motochika terkekeh.

"I'm serious, you ass!"

Masamune sudah yakin akan berhasil kali ini. Dengan cepat dia maju hendak menggigit potongan terakhir pocky di mulut Motochika. Namun sayang, seniornya itu masih lebih cepat darinya. Laki-laki dengan penutup mata kanan itu menarik masuk potongan terakhir pocky itu ke mulutnya. Masamune jadi tidak sengaja mencium bibir Motochika. "Kau menyebalkan!" protesnya kesal. Belum sempat meneruskan kata-katanya, Motochika langsung mencium bibirnya dengan cepat dan mendorong paksa lidahnya masuk ke sana. Dia juga mendorong potongan pocky tadi ke mulut Masamune. Keduanya lalu menarik diri dan menjilat bibir masing-masing.

"Uuukh…kau benar-benar menyebalkan! Aku tidak suka caramu menggodaku seperti ini!" protes Masamune sekali lagi sambil membersihkan mulutnya dengan kepalan tangannya.

"Mana asyik sih main pocky dengan cara yang sudah biasa? Seperti ini kan menarik," kata Motochika juga membersihkan bibirnya dengan jarinya. Dia melihat Masamune cemberut dan membuang pandangannya ke arah lain. Kedua tangannya dilipat di depan dada. "Hey, kalau kau cemberut seperti itu, aku sungguh aku menciummu lagi," godanya.

Masamune mendengus marah dan berkata, "Kojuuro bisa marah besar melihat tingkahmu barusan."

"Maka itu mumpung dia belum datang menjemputmu, kita bermain dulu."

"Lagipula, kenapa kau pilih rasa teh hijau ini, Motochika?" tanya Masamune sambil menarik satu batang pocky untuk dimakannya sendiri.

"Aku tahu kau tidak akan senang jika kubawakan rasa yang sudah umum. Teh hijau ini termasuk yang jarang disukai orang. Bagaimana rasanya? Kau suka kan?"

"Hah! Lebih enak kumakan sendiri daripada lewat permainan bodoh barusan!"

Motochika tertawa dan berkata, "Tapi kau senang kan? Semua orang merayakan Pocky Day di sekolah dengan suka cita. Aku ingin kita merayakannya juga."

Ketika Masamune hendak memakan batang kedua, Motochika dengan cepat menangkap dagu Masamune dan dipaksa melihat kepadanya. Mata birunya menatap tajam mata kelabu laki-laki berambut cokelat itu. Dia berkata, "Kali ini aku serius. Aku tidak akan main-main."

Masamune balas menyeringai dan berkata, "Try me…"

Batang pocky di mulut Masamune sudah terarah ke Motochika. Laki-laki berambut perak itu bersiap menggigit ujungnya. Dia bertekad bisa meneruskannya sampai benar-benar mencium Masamune di akhirnya nanti. Matanya dipejam ketika dia mulai bergerak, dan…

BLETAK!

"Itte~!" suara teriakan Motochika menyadarkan Masamune yang sedang berkonsentrasi penuh menunggu Motochika memakan habis pocky yang digigitnya. Laki-laki yang memangkunya itu terlihat mengurut-urut kepalanya karena sakit. Dia sontak menoleh ke arah pintu kelas dan mendapati pria paruh baya tengah berdiri membawa benda berbentuk kotak dari kayu. Jika penglihatannya tidak salah, kotak yang dibawanya itu adalah penghapus papan tulis. Sorot mata pria itu sangat tajam.

"Sedikit lagi kau mendekati Masamune-sama, kau akan mati, Chosokabe!" katanya geram. Dia bahkan bersiap melempar penghapus papan tulis itu ke kepala Motochika.

"Kojuuro! Mengapa kau melemparnya seperti itu? Dia tidak melakukan apa pun!" protes Masamune kemudian berdiri dari pangkuan Motochika.

"Sudah waktunya pulang, Masamune-sama. Anda tidak terliat di depan gerbang sekolah, jadi saya memutuskan untuk mencari Anda ke kelas," jelas pria bernama Katakura Kojuuro itu sambil melangkah masuk ke kelas.

"Kau bahkan tidak mengabariku jika sudah sampai di depan sekolah."

"Oh, saya sudah mengabari Anda. Tapi tidak ada balasan dari Anda."

Masamune langsung memeriksa ponselnya. Benar saja, ada pesan singkat masuk dan dia tidak mengetahuinya. Dia mendengus kesal dan berkata, "Tapi kau tidak perlu sampai menyakiti Motochika seperti itu kan?"

"Saya tidak tahu apa yang sedang Anda berdua lakukan di kelas. Tetapi terus terang, saya tidak ingin melihat dia menyentuh Anda, Masamune-sama," kata Kojuuro dingin. Dia berjalan melewati tuannya dan berdiri di depan Motochika yang masih kesakitan. Dia berkata, "Kalau kau tidak ingin penghapus papan tulis ini melayang ke kepalamu lagi, sebisa mungkin kau menjauh dari tuanku."

Motochika terkekeh, "Salahmu datang terlambat, Katakura-san. Daripada dia bosan menunggumu datang menjemputnya, aku mengajaknya bermain dulu sebentar."

"Bermain, katamu? Hmph! Masamune-sama tidak seharusnya menghabiskan waktunya bermain-main dengan ketua gangster di sekolah ini."

"Jangan takut, Katakura-san," Motochika lalu berdiri menghadap Kojuuro. Dia menyeringai dan meneruskan, "Sesuai dengan janjiku padamu. Selama di sekolah, aku akan bertanggung jawab atas keselamatannya."

"Jangan kelewat percaya diri, Chosokabe. Yang berkewajiban melindungi Masamune hanya seorang saja, yaitu Katakura Kojuuro. Bukan siapa pun, termasuk kau."

Kojuuro tidak menghiraukan seringai tajam Motochika kepadanya. Dia mengambil tas Masamune dan dirapikan isinya. Dia lalu mempersilakan Masamune berjalan lebih dulu keluar dari kelas. Namun sebelum dia melangkah lebih jauh, dia berhenti dan berkata kepada Motochika tanpa melihat kepadanya, "Mengapa kau diam saja di situ, Motochika?"

"Memangnya kenapa, Dokuganryu?" tanya Motochika tidak mengerti.

"Kau akan ikut pulang denganku."

"Masamune-sama! Apa yang—"

"Kau dengar aku kan, Kojuuro?" potong Masamune sebelum Kojuuro meneruskan kata-katanya. "Motochika akan ikut pulang denganku. Kami sedang bermain saat menunggumu datang. Karena permainannya belum selesai, aku memaksanya ikut denganku pulang untuk menyelesaikannya."

Kojuuro menghela nafas dan berkata, "Apa yang harus saya katakan kepada Terumune-sama mengenai ini, Masamune-sama? Anda sudah diperingatkan untuk tidak sembarangan mengajak teman bermain ke rumah kan?"

"Motochika bukan sembarang teman untukku, Kojuuro. Aku tidak punya banyak waktu mejelaskan ini padamu. Pokoknya aku ingin Motochika ikut pulang denganku. Kau tidak usah pusing soal ayahku. Tugasmu hanya menjemputku pulang, bukan melaporkan apa pun yang kulakukan di sekolah."

Tampaknya tuannya tidak ingin berdebat lebih panjang. Terakhir Masamune mengatakan itu, dia langsung keluar dari kelas. Kojuuro lalu menoleh kepada Motochika dan berkata, "Kau dengar apa yang dia bilang kan?"

"Ya, aku dengar," jawab Motochika.

"Aku tidak tahu permainan apa yang sedang kalian mainkan. Tapi aku harap kau bisa menjaga sikapmu selama berada di rumahnya. Jika kau memang teman yang baik untuk Masamune-sama, kau harus bisa menjaga nama baikmu di depan orangtuanya."

Pria paruh baya itu kemudian pergi lebih dulu. Motochika merapikan jaket ungunya sebelum dia beranjak keluar dari kelas. Sambil berjalan mengikuti Masamune dan Kojuuro, dia mengeluarkan satu batang pocky untuk dimakannya sendiri. Dia tersenyum lebar, seperti mendapat kemenangan mutlak di tangannya.

"Melanjutkan permainan, eh?"

-the end-


Author notes on the next chapter!