Terimakasih buat semua Readers yang udah nyempetin diri ngeripiiu fict gila ini. Aduuhh maap odes gak bisa bales satu persatu dengan disebutin masing-masing reviewersnya, tapi odes akan simpulkan beberapa pertanyaan kalian

Pasti pada bingung dengan hubungan MebuFuga. Tenang ajaa, pelan pelan kebenaran akan menampakkan wujudnya. Hehehhe, jadi ikuti terus kelanjutannya yaa.

Sasu cinta nggak sama Mebuki ? di chapter ini ada jawabannya

Pertanyaan ini pribadi, kenapa odes lanjutin nulis SasuSaku lagi. Apakah mau cari sensasi? Atau biar dapet banyak ripiiu? Satu jawaban Itachi gak perlu sensasi untuk menarik perhatian . Alasan odes berhenti kemudian menulis lagi, semua karena dukungan kalian dan juga dorongan dari emak pungut odes Belle_bale. Tanpa dia, mungkin odes beneran terpuruk dan males nulis lagi. Tapi dia selalu nyemangatin odes dengan bilang " anak emak yang masih aktif nulis cuma elo doang. Masa elo mau ngecewain emak?" berhubung odes gak mau jadi malin kundang, jadi yaahh odes berusaha semampunya aja

Kenapa fict odes semua selalu pendek-pendek? Hhhmmm begini, odes menyempatkan menulis di sela kesibukan kerja odes. Berhubung sekarang kerjaan odes bukan di kantoran dan dalam ruangan yang nyaman dengan ac dan computer, jadi odes bener-bener usaha nulis di sela ngejar narasumber dan berita lewat gadget. Jadi maaf kalo odes gak terlalu bisa menulis yang per chapternya panjang, semua karena kesibukan. Odes bisa aja menulis sampe 5k+ tapi mungkin kalian harus menunggu berbulan-bulan. Jadi kalau hanya ini yang odes mampu sajikan, odes mohon maaf dan pengertiannya.

Step Father

(3)

SasuSaku *slight SakuPain, SasuMebuki

Naruto belong to MK

M For Lemon (?) and Verbal Abuse

Family, Hurt/Comfort

#Warning : AU, OC, OOC, Thypo, DLDR! NC-21, PWP, Fict yang gaje, gak bagus-bagus amat, tapi setidaknya saya berjuang, dan saya tau apa yang saya perjuangkan :Dv

TERIMAKASIH DUKUNGAN KALIAN

BANZAIII~~

#BiniPertamaCanon Uchiha Itachi

odes

-000000-

Sakura memandang tajam ke arah sang Ibu. Emeraldnya tampak berkilat marah dengan tatapan yang seakan ingin melumat wanita cantik yang telah membawanya menuju keindahan dunia yang semu serta fana ini. Namun Mebuki tak menggubris pandangan sang putri tunggal ataupun arti tatapan yang sejak tadi intens dipancarkan putri kandungnya tersebut. Wanita cantik paruh baya itu terlihat sibuk dengan sarapan diet buah-buahannya demi menunjang serta menjaga kecantikan yang telah dikaruniakan padanya tersebut.

Merasa tidak mendapat perhatian dari sang Ibu, Sakura menyentak garpu yang digunakannya untuk menyantap sarapan roti sandwich kesukaannya itu dengan kasar hingga menimbulkan suara berdenting. Mebuki hanya melirik sekilas tingkah laku Sakura melalui ujung emeraldnya namun kemudian kembali memutuskan untuk tidak peduli.

" Aku selesai...!" Ketus gadis merah muda itu sambil bangkit berdiri dan meninggalkan meja makan dengan emosional. Kakinya dengan sengaja menggeser kursi dengan kasar, juga raut wajah cantiknya yang menegang bersama tangan yang terkepal kuat.

Baru saja semalam sakura terluka dengan tingkah liar sang ibu yang seenaknya bercinta dengan kekasihnya di dalam rumah mereka tanpa peduli perasaannya, sekarang pun gadis itu harus menanggung rasa sakit karena selalu diacuhkan dan diabaikan.

"Tunggu Sakura..." ujar Mebuki, menahan langkah putrinya dengan suara sophran tinggi miliknya. Sakura berhenti tanpa menoleh ke arah sang Ibu.

"Besok pernikahanku dengan Sasuke, kau tahu kan? Jadi nanti pulanglah lebih cepat karena aku ingin mengepas baju untuk~..." belum sempat Mebuki menyelesaikan kalimatnya,Sakura langsung memotong ucapan sang Ibunda.

"Apa kau bermimpi berharap aku datang?" Sinis gadis itu dengan raut memerah menahan amarah. Dia tidak suka Ibunya menikah lagi, terlebih dengan pemuda yang usianya terpaut nyaris 25 tahun lebih muda dari sang Ibu. Rasanya seperti... entah bagaimana Sakura menjelaskannya.

"Terserah kau saja. Yang jelas aku akan tetap menikah..." angkuh Mebuki langsung.

Rahang Sakura mengeras, emeraldnya terpejam sebentar. Mencoba beradapatasi dengan rasa sakit yang menghujam hatinya akibat perkataan sang ibu.

"Bukankah kau selalu begitu? Memikirkan dirimu sendiri tanpa pernah peduli perasaanku..." lirih Sakura dengan suara parau.

"Terserah kau mau melakukan apa, aku tidak peduli. Dan jangan harap aku datang di pernikahanmu..." ujar gadis merah muda itu sambil melangkah pergi.

-000-

"Maaf aku terlambat..." ujar wanita paruh baya yang masih cantik meski usianya tak lagi muda tersebut. Paras cantiknya terlihat makin sempurna dengan sapuan make up yang agak tebal, menambah kesan mature dan juga elegan pada sosoknya tersebut

Sementa sang pemuda terlihat tampan dalam balutan sebuah kemeja dan jas hitam yang terlihat rapi juga eksklusif. Pemuda tampan dengan helaian raven mencuat ke belakang itu memamerkan senyumannya saat melihat wanita yang ditunggunya telah tiba.

Sasuke menyambut kedatangan Mebuki dengan sebuah ciuman mesra yang dipertontonkannya di publik, lebih tepatnya di bridal shop tempat mereka memesan gaun pengantin bagi pernikahana mereka yang akan diadakan keesokan harinya.

"Kau terlambat ..." bisik Sasuke mesra di telinga.

"Maaf... jalanan sedikit macet." Elak Mebuki mencari alasan. Padahal alasan yang sebenarnya adalah dia terlambat karena menempatkan diri bertemu dan berkencan dengan Fugaku, kekasih rahasia Mebuki.

"Tidak apa... sekarang waktunya kau mencoba gaunnya." Ujar Sasuke sambil memberi isyarat agar semua pegawai keluar ruangan hingga hanya dirinya dan calon istrinya saja.

"Cobalah..." ujar pemuda tampan itu sambil menyodorkan sebuah gaun cantik berwarna putih dan emas dengan ornamen bunga di setiap sisinya. Sungguh sebuah gaun pernikahan yang cantik dan terlihat manis.

Mebuki mengambil gaun tersebut dari tangan Sasuke. Kemudian berjalan ke sisi ruangan untuk berganti pakaian. Namun langkahnya di tahan oleh sang calon suami nya tersebut.

"Disini sajaa... aku ingin melihatnya." Ujar bungsu Uchiha itu dengan seringai menggoda. Pemuda itu dengan berani memeluk sosok Mebuki dari berada di perpotongan lekuk bahu wanita paruh baya tersebut. Memuaskan indera penciumannya untuk menyesap wangi dari wanita cantik yang besok akan menjadi istrinya ini.

Tangan Sasuke bergerak nakal menjamah serta meremas dada dan perut ramping Mebuki. Meski sudah memiliki seorang putri yang beranjak gadis, namun tubuh Mebuki masih terlihat sangat menggoda dimatanya sebagai seorang pria.

Dengan gerakan menggoda yang sensual, Sasuke berusaha melepaskan kancing kemeja yang dikenakan Mebuki. Namun dengan cepat wanita itu menahan tangan nakal pemuda tampan calon suaminya tersebut. Semua itu karena adanya bekas memar merah tanda dari Fugaku yang belum sempat merabuh.

"Kenapa?"tanya sang pemuda sedikit heran.

Mebuki membalik badannya. Kemudian keduanya bertatapan. Dalam dan juga intens.

"Apa kau mencintaiku, Sasuke?" Tanya Mebuki lantang.

"Lelucon apa ini? Tentu saja aku mencintaimu..." jawab Sasuke penuh onyxnya menantang emerald Mebuki tanpa takut dan ragu.

"Kalau begitu, bawa Sakura kemari. Aku ingin putriku menjadi saksi kebahagiaan kita..." ujar Mebuki sambil mengelus pipi Sasuke lembut.

Sasuke tersenyum mendengar permintaan calon istrinya seolah itu mudah saja untuknya.

"As you wish, My Queen..." jawab sang pemuda sambil melumat bibir wanitanya penuh gairah.

-000000-

Seorang gadis berhelai soft pink tampak tengah menikmati jam makan siangnya di ruangan kelas yang kosong karena ini merupakan jam istirahat. Gadis itu duduk dengan mesra nya di pangkuan sang kekasih, pemuda dengan tubuh penuh tattoo serta tindikan yang tampak sibuk menerima suapan demi suapan makanan dari kekasih merah mudanya sambil sesekalo tangannya menjamah nakal tubuh indah gadis cantik tersebut.

"Suapkan dengan bibirmu…" rajuk Pain dengan nada manja saat Sakura menyodorkan potongan buah apel ke mulutnya. Gadis itu mengerti permintaan kekasihnya dan justru menggodanya dengan sebuah senyuman sensual.

Gadis itu menggigit potongan apel tersebut di mulutnya dan dengan pelan menyuaokannya kepada sang kekasih yang mulai menggeram tak sabar. Pain pun memajukan mulutnya cepat dan segera melumat bibir kekasihnya, juga potongan apel yang hendak disuapkan padanya.

Lidah Sakura menari dalam mulut kekasihnya. Mengajak daging tak bertulang itu saling menukar saliva dengan miliknya. Panasnya ciuman mereka hingga menyebabkan bunyi benturan 2 bibir yang beradu dan saling melumat juga erangan dan desahan yang lolos begitu saja tanpa mereka sadari.

Merasa api birahi mulai membakar dalam dirinya, Sakura mengubah posisi duduknya. Tetap duduk dipangkuan sang kekasih, namun dengan mengangkangkan kakinya hingga sepasang pahanya yang putih mulus tersingkap dan memamerkan kaki jenjangnya. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat indah bagi Yahiko Pain.

Pemuda itu menekan punggung keksihnya agar lebih condong ke arahnya. Kemudian mengusapnya lembut serta perlahan. Usapan yang semakin lama semakin liar dan berani dengan mulai merambah kea rah dada gadis merah mudanya.

Tak ayal, pijatan lembut sang kekasih makin membuat darah muda Sakura bergolak. Terlebih saat pemuda itu mulai meremas sepasang bukit kembarnya dengan lembut sambil sesekali mengusap bagian puncaknya. Nafas Sakura mulai tak beraturan, memburu dengan wajah yang memerah.

"Nghh… aaahh… sayaaanggg…" lenguh gadis itu manja. Kaki jenjangnya bergerak gelisah. Sesuatu di bawah yang bergesekan langsung dengan vaginanya mulai terasa mengeras. Tampaknya Pain sang kekasih pun mulai terangsang dengan keasyikan mereka.

Dengan gemas-juga sedikit tak sabar- pemuda itu menyibak kemeja sekolah yang dikenakan kekasihnya hingga tersingkaplah sebuah bra berwarna hitam yang kontras dengan kulit seputih susu milik gadis merah muda itu.

Tanpa membuka pengaitnya, Pain menaikkan bra hitam itu dari tempatnya hingga tersembul lah isinya yang akan membuat mata setiap pria terpana dan menahan nafas. Payudara indah milik seorang gadis cantik yang masih belia ini terpampang jelas di depan matanya.

Dalam hati pemuda itu berteriak kegirangan. Dan melupakan sejenak tempat mereka berada sekarang. Luapan hawa nafsu menguasai keduanya hingga tak lagi mempedulikan hal yang lainnya.

Dengan penuh nafsu Pain segera menghisap dan menggigit benda kenyal tersebut seperti bayi yang kelaparan. Mendapat rangsangan yang begitu hebat dari sang kekasih membuat Sakura mendesah keras sambil menengadahkan kepalanya ke atas, menyesap setiap kenikmatan yang menjalari setiap jengkal tangan gadis itu meremas kuat lambut landak kekasihnya. Menandakan perlakuan sang pemuda membuatnya melayang-layang ke langit ketujuh dan kian menuntut pemuasan.

Pain pun melepas hisapannya pada dada Sakura dan kembali beralih melumat bibir ranumnya sambil tangannya lah yang kini bertugas memilin kedua puncak bukit yang sudah sangat menegang itu. Di bawah sana, Pain bisa merasakan gerakan gelisah gadis merah mudanya dan celah lembab yang kini mulai basah oleh rangsangan.

"Siap untuk menu utama?" Tanya pemuda dengan tubuh oenuh tindikan itu dengan seringai sexy nya. Sakura mengangguk pasrah.

Pain pun seegra mengangkat tubuh gadisnya dan membaringkannya di atas meja. Di atas sini, tubuh Sakura terlihat bagai santapan yang sangat lezat baginya.

Namun baru saja dia ingin melahap santapannya, pintu ruang kelas mereka terbuka, dan sosok yang dahulu pernah mengganggu keasyikan mereka di café kembali datang.

Dia adalah pemuda yang akan segera menjadi Ayah tiri Sakura,

Uchiha Sasuke!

.

.

.

TBC~