Maaf chapter 6 lumayan lama pengerjaannnya T.T author lagi maraton tugas hehe dan entah kalian suka atau gak, author bikin chapter ini gak konsen jadi maafkan kalau tidak memuaskan . HAPPY READING!^_^
..
.
.
FIND YOU
.
.
.
.
.
.
.
Wonwoo berjalan keluar dari area sekolah. Ketika melewati gerbang seseorang menghampirinya.
"Wonwoo-ah!" Panggil orang tersebut.
"Astaga apa yang kau lakukan disini?!" Ucap Wonwoo terkejut.
"Kkk aku hanya lewat dan aku ingat kau bersekolah disini" jawab orang itu santai. Wonwoo mengangguk mengerti.
"Apa kau sibuk? Aku ingin mengajakmu makan malam" ucap orang itu sambil menggandeng tangan Wonwoo.
"Eung? B-baiklah" jawab Wonwoo.
"Dan mulai sekarang jangan panggil aku 'sunbae' kau harus memanggilku, Seungcheol hyung. Kau mengerti?" Ucap Seungcheol. Wonwoo tersenyum lalu mengangguk.
Mingyu memasuki Ruang Olahraga diikuti Jihoon. Junghan yang melihat kedatangan Mingyu mengernyitkan dahinya bingung. Junghan lalu mendekati Jihoon yang sedang mengambil seragamnya.
"Jihoon-ah, ada apa dengannya? Dia seperti ingin memakan orang saja" bisik Junghan pada Jihoon. Jihoon hanya menghela napas lalu menggeleng.
"Aku juga tidak mengerti hyung" jawab Jihoon.
"Baiklah, cepat ganti seragammu" ucap Junghan lalu kembali ke tengah lapangan.
Jihoon menghampiri Mingyu yang sedang memakai sepatunya.
"Yak! Katakan sesuatu! Jangan diam seperti itu, kau terlihat mengerikan" ucap Jihoon. Mingyu tidak menjawab, ia hanya menoleh sebentar lalu pergi ke tengah lapangan.
"Astaga si bodoh itu benar-benar" gumam Jihoon lalu akhirnya pergi ke tengah lapangan.
"Semuanya, cepat berkumpul!" Ucap Junghan yang berdiri dipinggir lapangan. Semua anggota Sepak Bola pun berkumpul sesuai instruksi sang kapten.
"Dengar, pertandingan hanya tinggal seminggu lagi. Kalian harus menjaga stamina kalian dan jangan sampai cedera, mengerti?!" Ucap Junghan panjang lebar.
"Iya!" Jawab mereka serempak.
"Dan Kim Mingyu, aku ingin bicara padamu" ucap Junghan. Mingyu hanya mengangguk sebagai jawaban.
Ketika lapangan semakin sepi, Junghan dan Mingyu pun mulai bicara.
"Ada apa denganmu? Permainanmu kelihatan kacau tidak seperti biasanya" tanya Junghan.
"Aku sedang tidak mood, hyung. Maaf." Jawab Mingyu.
"Jawab jujur padaku, Kim Mingyu. Apa kau ada masalah dengan Wonwoo?" Tanya Junghan sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Mingyu menoleh namun tidak menjawab.
"Hyung, aku lelah. Aku ingin pulang." Ucap Mingyu sambil hendak pergi, namun tangannya ditahan oleh Junghan.
"Jadilah pemain yang profesional, Kim Mingyu. Cepat selesaikan masalahmu" ucap Junghan. Mingyu mengangguk pelan lalu pergi.
"Ada apalagi dengannya" gumam Junghan sambil menatap punggung Mingyu yang semakin menjauh.
Wonwoo sampai dirumahnya. Ia membuka pintu rumahnya, berjalan masuk lalu berbaring diatas sofa. Ia merasa lelah dan ingin segera tidur.
Semua orang mungkin berpikir bahwa Wonwoo berasal dari keluarga yang kurang mampu. Namun itu salah besar. Wonwoo memang tidak sekaya Mingyu namun ia juga tidak miskin. Nenek dan kakek Wonwoo memiliki perkebunan buah di Changwon. Wonwoo juga memiliki seorang kakak, Jeon Wobin. Namun hubungan keduanya tidak sedekat dulu, saat kedua orang tua mereka masih hidup. Wobin bekerja di Jepang dan hanya mengirimkan uang untuk Wonwoo. Wonwoo tidak suka hanya menerima uang tanpa bekerja maka dari itu, ia memilih bekerja sebagai kasir disebuah cafe.
Wonwoo teringat pada Mingyu kemudian ia mengambil ponselnya. Tidak ada pesan dari Mingyu. Tidak seperti biasanya, pikir Wonwoo. Wonwoo kemudian meletakan ponselnya lalu pergi untuk mengambil minum.
Wonwoo kembali lalu mengambil ponselnya, dan masih tidak ada pesan dari Mingyu.
"Ada apa dengannya" gumam Wonwoo.
Hari tidak seperti biasanya, Mingyu berada dikelas saat istirahat makan siang. Ia meletakan kepalanya malas pada meja.
"Mingyu, apa kau mau ikut kami ke kantin?" Tanya Minghao. Mingyu menggeleng sebagai jawaban.
"Ada apa lagi dengannya?" Tanya Seokmin bingung. Jihoon hanya menghela napas lalu mengajak kedua temannya pergi. Sesampainya mereka dikantin, mereka pun makan. Saat sedang makan, Wonwoo menghampiri mereka.
"Jihoon-ssi, apa kau lihat Mingyu?" Tanya Wonwoo.
"Mingyu-"
"Mingyu tidak masuk sekolah, sunbae" jawab Jihoon memotong perkataan Minghao.
"Ah begitu, baiklah. Terimakasih" ucap Wonwoo lalu pergi.
"Ya" jawab Jihoon.
"Kenapa kau berbohong?" Tanya Seokmin ketika Wonwoo sudah pergi.
"Aku tau Mingyu begini karena Wonwoo sunbae. Lebih baik mereka jangan bertemu dulu" jawab Jihoon.
"Hmm kurasa kau benar. Baiklah" ucap Minghao.
Setelah sampai dirumah Mingyu masuk ke kamar dan melewatkan makan siangnya
Mingyu menatap ponselnya, ada sebuah pesan masuk. Kemudian ia membukanya.
Wonwoo: Apa kau sudah makan?
Mingyu meletakan ponselnya dimeja nakas tanpa membalas pesan tersebut. Ia tidak mengerti apa yang membuatnya merasa kesal sampai saat ini. Tiba-tiba ponselnya bergetar, Mingyu mengambil ponselnya lalu membuka pesan yang masuk.
Jihoon: hei kau baik-baik saja?
Mingyu: apa aku terlihat baik-baik saja?
Jihoon: apa ini berhubungan dengan Wonwoo sunbae?
Mingyu: entahlah.
Jihoon: temui dia, bodoh.
Mingyu: bagaimana caranya?
Tak lama Jihoon mengirim sebuah alamat. Mingyu mengernyitkan dahinya lalu menelepon Jihoon.
"Ya! Bagaimana kau tau alamatnya?" Tanya Mingyu.
"Aku pernah mengikutinya, bodoh. Kau ini suka padanya tapi alamatnya saja kau tidak tau" Cibir Jihoon.
"Baik baik, jangan menceramahiku." Ucap Mingyu lalu menutup telepon. Dengan cepat ia mengambil hoodienya lalu bergegas pergi.
"Mingyu-ya kau mau kemana?" Tanya Mijoo yang melihat Mingyu pergi.
"Aku kerumah Seokmin. Katakan pada Jun hyung aku mungkin tidak pulang. Jangan lupa kunci pintu saat kalian ingin tidur." Ucap Mingyu lalu pergi.
"Ah benar juga besok akhir pekan" gumam -tiba ia tersenyum lalu mengambil ponselnya di saku piyama. Mijoo mengetik sesuatu kemudian sambil tersenyum ia masuk ke dalam kamarnya.
Mingyu turun dari bus lalu berjalan ke sebuah perumahan. Ia melihat jam tangannya, sudah hampir pukul 11.00 p.m KST. Ia dengan cepat sampai disebuah rumah yang ia yakin adalah rumah Wonwoo. Rumah dengan cat biru itu terlihat gelap.
"Jangan-jangan sudah tidur" gumam Mingyu lalu mengetuk pintu pagar. Namun tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi dan masih tidak ada jawaban dari si pemilik rumah.
"Sudahlah, aku mungkin bisa menggangu tidurnya" gumam Mingyu lalu berjalan meninggalkan rumah tersebut.
"Siapa itu?" Tanya Wonwoo yang baru saja membuka pintu pagarnya. Mingyu berbalik.
"Hyung" gumam Mingyu.
"Mingyu, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Wonwoo. Mingyu menghampirinya lalu menatap pria bersurai hitam tersebut.
"Hyung" gumam Mingyu lagi.
"Hmm?" Jawab Wonwoo sambil menatap Mingyu.
"Aku rasa..."
"Apa?"
"Aku rasa aku benar-benar gila karena mu, hyung" ucap Mingyu lalu dengan cepat mengangkat tubuh kurus Wonwoo. Wonwoo tidak bisa berkutik, ia tanpa sadar melingkarkan kakinya pada pinggang Mingyu. Mingyu dengan sigap melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah Wonwoo. Ia mendudukan dirinya diatas sofa dengan Wonwoo diatas pangkuannya.
"Mingyu" gumam Wonwoo pelan. Mingyu perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Wonwoo, lalu dengan lembut mengecup bibir tipis Wonwoo. Jantung Wonwoo hampir meledak kalau saja Mingyu tidak melepas kecupan pada bibirnya.
"Aku menyukaimu, hyung" ucap Mingyu.
"Aku merasa cemburu setiap kau berdekatan dengan orang lain. Aku mohon jangan lakukan itu lagi." Lanjut Mingyu lalu memeluk tubuh Wonwoo dipangkuannya. Wonwoo mengelus pelan surai cokelat milik Mingyu.
"Baiklah, maafkan aku. Apa aku membuatmu kesal?" Tanya Wonwoo. Mingyu tidak menjawab. Ia hanya diam sambil terus memeluk Wonwoo.
"Aku tidak akan melakukannya lagi" ucap Wonwoo.
"Berjanjilah, hyung" gumam Mingyu.
"Aku berjanji" ucap Wonwoo sambil tertawa halus. Mingyu melepas pelukannya lalu menatap Wonwoo. Wonwoo mengelus kedua pipi Mingyu sambil tersenyum.
"Kau ini masih belum dewasa juga" gumam Wonwoo.
"Aku bukan tidak dewasa, hyung. Kau yang membuatku begini" jawab Mingyu lalu mencium telapak tangan Wonwoo.
"Terimakasih" ucap Wonwoo.
"Untuk apa?"
"Semuanya. Aku merasa tidak sendirian lagi sejak mengenalmu" ucap Wonwoo berkaca-kaca.
"Jangan menangis, hyung. Aku ada disini untukmu" ucap Mingyu. Wonwoo mengangguk pelan.
"Hyung"
"Hmm?"
"Sampai dimana kita tadi?"
"Maksudmu?"
Mingyu mendekati leher jenjang Wonwoo lalu mengecupnya perlahan membuat Wonwoo merasa disengat listrik.
"Apa aku perlu menjelaskannya?" Tanya Mingyu lalu mengeluarkan smirknya.
Seokmin duduk ditaman seperti biasanya. Ia menunggu Soonyoung. Tak lama Soonyoung pun lewat dengan sepedanya. Ketika melihat Seokmin, Soonyoung bermaksud memutar balik namun sayang Seokmin dengan cepat menghadang jalan Soonyoung.
"Ada apa?" Tanya Soonyoung malas.
"Hyung, kenapa kau tidak membalas pesanku?" Tanya Seokmin.
"Ponselku rusak" jawab Soonyoung asal.
"Aku meneleponmu tapi kau tidak mengangkatnya" ucap Seokmin.
"Apa kau tidak mengerti aku ini tidak tertarik padamu, sana pergi!" Ucap Soonyoung lalu hendak pergi.
"Tapi aku belum selesai bicara, hyung" ucap Seokmin sambil menahan tangan Soonyoung.
"Apa lagi?!" Tanya Soonyoung dengan suara yang mulai meninggi.
"Nan ajik eorinaira~
Soni dahji anheul neol algie~
Deo jeogumman deo~
Sigani deo heulleo~
Naega eoreuni doemyeon~
Neol ihaehal su iseulkka~
My Love My Love My Love~
Naui geudaeyeo budi kkwag jabeun son~
Nohji marajwo~"
"Maafkan aku hyung, mungkin aku sangat menggangumu tapi sungguh aku menyukaimu dari awal aku melihatmu. Rasanya tubuhku bergerak dengan sendirinya untuk menemuimu. Maafkan aku, hyung" ucap Seokmin lalu pergi. Soonyoung hanya diam sambil melihat Seokmin yang pergi. Tak sadar pipinya memerah perlahan.
"Ugh apa yang kau pikirkan, Kwon Soonyoung?! Biarkan saja dia pergi" gumam Soonyoung.
"Tapi apa aku sekasar itu..." gumamnya lagi.
"Tidak tidak... biarkan dia"
.
.
"Seokmin-ssi!"
.
.
.
TO BE CONTINUE
