Step Father
Chapter 7
SasuSaku *Slight SasuMebu, PainSaku
M for Lemon and Verbal Abuse
Family,Hurt/Comfort
Naruto belong to Masashi Kishimoto
Alternative Universe
#WARNING: NO CHILD Under-17 (NC-17) Lemon. Porn Without Plot (PWP). Verbal Abuse. OOC. DLDR!
Odes
-0000000-
Gadis itu terbangun di pagi berikutnya. Emeraldnya terlihat mengerjap beberapa kali guna menjernihkan pandangan, lalu membawa iris hijau teduh itu memandang sekelilingnya. Sebuah kamar perawatan mewah dengan desaign interior modern yang sangat nyaman. Namun suasana begitu lengang. Tak ada seorangpun yang menemaninya di sana.
Sakura membuang tatapannya menuju jendela. Terpampang langit berwarna biru cerah dengan awan yang berarak menghiasinya. Segerombolan burung tampak melesat menuju sebuah arah yang diyakini akan memberi mereka sumber makanan.
Gadis itu memandang iri segerombolan burung tersebut. Bahkan burung liar yang terbang di langit pun terbang bergerombol dan memiliki teman, atau bahkan keluarga. Sedangkan dia seorang diri di kamar perawatan mewah tanpa seorang pun yang berada di sisinya.
Sebuah perasaaan menyerang bathinnya. Sakit. Perih. Rasanya seperti seonggok sanpah yang dibuang. Seperti dia sudah tak lagi diinginkan dan dibutuhkan. Rasanya tak ada seorang pun yang menginginkan keberadaannya. Padahal dia masih memiliki keluarga. Padahal Ibunya masih ada di dunia. Sebegitu tak berartinya kah dirinya hingga sang Ibu bahkan tak menemani atau sekedar menjenguknya?
Pasti wanita itu tengah bergumul mesra di ranjang dengan suami barunya. Pemuda itu... pemuda yang hanya berusia 2 tahun lebih tua dari dirinya. Pemuda yang bahkan lebih pantas jadi kakaknya ketimbang menjadi Ayah Tirinya.
Pikiran itu membuat Sakura muak. Dia benci Ibunya. Dia benci pemuda itu. Dia benci semua dalam kehidupannnya. Tak adakah satu pun di dunia ini yang mencintai dirinya?
Tiba-tiba gadis itu teringat pada sosok kekasihnya. Pain Yahiko. Mengapa dia bisa terlupa pada pemuda itu? Memang Pain bukanlah sosok pemuda yang baik. Tubuhnya penuh dengan tindikan dan tattoo bahkan menghiasi beberapa bagian di wajah tampannya. Namun hanya sepasang lengan pemuda itu yang mau menerimanya sebagai tempat bersandar saat dirinya tak lagi memiliki siapa-siapa.
Meski Sakura mengetahui kedekatan kekasihnya itu dengan minuman keras dan obat-obatan terlarang. Namun gadis itu tak berusaha menampiknya. Apa saja... siapa saja asal dirinya memiliki seseorang yang mau menerima kehadirannya.
Sakura mengambil telepon pribadinya yang tergeletak tak jauh dari ranjang perawatannya. Kemudian menekan tombol 'Speed Dial'. Terdengar sebuah suara berat lelaki di ujung telepon sana.
"Ada apa Saku-chan?"
"Hello My Prince. Bisakah kau datang ke suatu tempat. Aku kesepian." Rengek gadis itu dengan suara manja. Sakura tahu sang kekasih pasti akan mengabulkan keinginannya.
"Baiklah. Sms kan saja alamatnya, Hime-chan."
Telepon ditutup. Gadis beriris emerald itu pun mengirimkan sebuah alamat pada kekasihnya itu denga senyum di kulum yang menghiasi wajah cantiknya.
-000000-
"Selamat pagi Suamiku sayang…" Sapa wanita paruh baya yang terlihat menawan di balik pakaian resminya tersebut. Sapuan make-up lengkap telah menghiasi wajah cantiknya. Iris matanya yang hijau teduh itu menyapu wajah rupawan milik pemuda yang telah resmi menyandang status sebagai suaminya itu. Suami Mebuki Haruno.
Pemuda berambut raven yang baru saja terbangun itu menatap wajah sang Istri dengan tatapan sayu. Onyxnya terlihat sangat mengantuk. Entah mengapa, Sasuke sendiri tak mengerti kenapa rasanya tidurnya kali ini begitu nyenyaknya hingga pemuda itu nyaris tak mendengar dan merasakan apapun selama tidurnya.
"Kau sudah mau berangkat?" Tanyanya dalam balutan suara bariton dalam. Pemuda itu segera mengubah posisinya menjadi duduk dan menyingkap selimut sehingga mempertontonkan tubuhnya yang telanjang bulat.
"Iya sayang. Aku ada rapat dengan dewan perusahaan." Jawab Mebuki sambil tersenyum manis. Emeraldnya tak lekang menatap lekuk tubuh rupawan sang suami yang bebas dinikmati olehnya ini.
"Mau kuantar?" Tawar Sasuke dengan langkah sedikit terhuyung dan sempoyongan. Mebuki dengan sigap menangkap tubuh suami barunya dan mendudukkannya lagi di ranjang mewah mereka.
"Tidak usah. Aku sendiri saja." Sebagai upaya untuk menenangkan pemuda itu, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan prima di usianya yang sudah tak lagi muda itu menghadiahkan sebuah ciuman panas di bibir Sasuke, suaminya. Bibirnya bergerak lincah dan sesekali menggoda sang Suami dengan memasukkan daging tak bertulang itu ke mulut Sasuke. Mereka terus menyesap setiap jengkal kenikmatan dengan saling menukar saliva.
Pemuda itu mengerang nikmat dengan perlakuan sang Istri. Bukankah dia sudah melewati malam yang indah dan sangat menggairahkan bersama wanita yang telah resmi menyandang nama Uchiha itu? Meski pemuda itu tak mampu mengingat malam pertamanya bersama sang Istri, namun Sasuke hanya berharap dirinya tak mengecewakan wanita itu dalam urusan ranjang.
Dan sikap Mebuki pagi ini menggambarkan seolah sang istri puas dengan pelayanan yang diberikan Sasuke di dalam pertama mereka. Hal itu jelas membuat sang pemuda girang bukan kepalang.
Tangan ramping Nyonya Uchiha itu bergerak menelusuri 'nipple' sang suami. Membuat gerakan memelintir perlahan yang membuat Uchiha bungsu itu tak tahan untuk meredam desahannya. Desahan Sasuke lolos begitu saja saat Mebuki dengan lihainya membuat gerakan-gerakan yang memancing hasratnya sebagai pria. Namun di saat birahinya mulai beranjak naik, sang Istri justru menghentikan aksinya.
"Kita lanjutkan nanti malam, Sayang…" Ucap Mebuki dengan nada menggoda sambil beranjak menjauh. Sasuke masih tak terima Mebuki menghentikan keasyik-masyukan mereka. Namun pemuda raven tampan itu tak berusaha menghentikan langkah sang Istri.
"Bagaimana dengan Sakura?" Tanya Sasuke tiba-tiba saat teringat putri tirinya yang kini terbaring lemah di rumah sakit.
"Kau saja yang mengurusnya." Jawab Mebuki sambil lalu dengan nada yang menyiratkan kebosanan. Lalu wanita cantik itu meninggalkan kamar mereka.
Sasuke menggelengkan kepala. Berusaha memahami kesibukan sang Istri yang menjabat pemimpin tertinggi Haruno Group tersebut. Karena itu lebih baik sekarang dirinya memenuhi permintaan sang istri untuk mengurus putri tunggal mereka.
-00000000-
Saat tiba di rumah sakit, Sasuke mendapat kabar bahwa Sakura sudah siuman. Dengan langkah terburu, pemuda raven itu bergegas menuju kamar perawatan putri tirinya. Namun sesaat setelah pintu dibuka, pemandangan di hadapannya ini membuat sang pemuda kehilangan kata-kata.
Sakura berada di atas ranjang perawatannya. Wajahnya masih sedikit pucat, namun tetap terlihat cantik dan menawan. Namun bukan itu masalahnya.
Gadis itu menyambutnya tanpa mengenakan sehelai benang pun!
"Pain-kun, kau sudah da-..."
Wajah gadis itu merah padam saat mengetahui sosok yang berada di kamar perawatannya.
Orang tersebut adalah Uchiha Sasuke. Ayah tirinya sendiri.
"A-Apa yang kau lakukan, Sakura?!" pemuda raven itu tak dapat menyembunyikan perasaan kagetnya. Tubuh polos sang putri tiri terpampang jelas di depannya. Tubuh indah dan menggoda seorang remaja putri yang masih dalam masa pertumbuhan. Kulitnya yang putih mulus seperti pualam tanpa sedikitpun cacat, helaian merah muda yang diikat ke atas hingga memamerkan leher jenjangnya, bibir merah muda yang meskipun sedikit pucat teta[ terlihat menggoda, sepasang bukit kembar yang menggantung indah, membuat pandangan Sasuke seolah terpaku, dan meskipun otaknya memerintahkan untuk segera mengalihkan pandangan, namun sepasang inyx sang pemuda seolah enggan melewatkan begitu saja kesempatan langka ini.
Wajah Sakura merah padam karena menahan malu. Pemuda itu… lagi-lagi pemuda raven sialan itu emmergokinya tengah melakukan sesuatu yang memalukan! Sakura benci pemuda itu! Gadis itu sangat membencinya…
Namun sebuah pikiran nakal justru hadir di pikirannya saat itu. Bagaimana jika… bagaimana jika dia menggoda Ayah Tirinya tersebut? Akan dia tawar cinta pemuda tersebut pada sang Ibu di sini. Dengan tubuhnya sebagai imbalan. Bukankah jika pemuda itu tergoda itu melambangkan jika pemuda itu bukanlah pria yang baik? Dan sang Ibu pasti akan segera mendepaknya seperti mantan kekasihnya yang terdahulu.
Gadis itu segera memantapkan hatinya. Kesempatan hanya datang satu kali. Dan dia tidak akan menyia-nyiakannya.
Gadis merah muda itu melangkah mendekat. Dengan tatapan yang tertuju tepat kea rah "mangsa" nya.
Sakura merapatkan tubuhnya. Sasuke hanya bisa mematung tanpa bisa bicara.
"Bagaimana jika kita melakukan sesuatu yang menyenangkan, Ayah Tiri?" tawar gadis itu dengan suara menggoda.
Ini pertama kalinya, gadis itu memanggil Sasuke sebagai Ayah Tiri nya…
-00000000-
BERSUMBANG~
hahhaaiiii Minna No Readers :*
Ketemu lagi sama author sampah bin labil ini ;)
Mind to RnR?
Arigachuppp :*
