Maaf chapter 7 agak lam a pengerjaannya karena author sedang maraton tugas(lagi) sebelum UKK huhu. Chapter ini agak lebih panjang dan rumit hmm MIAN

HAPPY READING!

FIND YOU

by Kwonhosh

.

.

.

.

.CHAPTER 7

.

.

.

.

"Seokmin-ssi!" Seokmin menoleh. Mendapati Soonyoung berlari kecil kearahnya. Seokmin hampir saja terjatuh kalau saja kakinya tidak cepat menahan tubuhnya. Soonyoung memeluknya. Erat. Seokmin ingin menjerit namun ia berusaha menahannya.

"Maafkan aku" gumam Soonyoung. Seokmin tersenyum.

"Tidak apa-apa hyung, aku tau ini terlalu tiba-tiba" jawab Seokmin sambil membalas pelukan Soonyoung.

"Aku mau jadi pacarmu" ucap Soonyoung, dengan tiba-tiba Seokmin melepas pelukan tersebut lalu menatap Soonyoung.

"Katakan lagi" ucap Soonyoung.

"Tidak. Aku hanya akan mengatakannya sekali"

"Ah masa bodo aku sudah dengar semuanya" lalu Seokmin kembali memeluk Soonyoung. Soonyoung tersenyum manis.


Mingyu mulai mendekati Wonwoo lagi. Ia mengecup leher jenjang pria bermarga Jeon tersebut, membuat Wonwoo meremas bahu Mingyu lebih erat. Mingyu bermaksud mengecup bibir Wonwoo hingga tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah Wonwoo. Wonwoo dengan cepat turun dari pangkuan Mingyu dan menyuruh Mingyu bersembunyi di dapur. Wonwoo membenarkan kerah piyamanya lalu membuka pintu.

"Oh bibi Han" ucap Wonwoo ketika melihat orang yang mengetuk pintu yang adalah tetangga terdekatnya.

"Wonwoo-ya, tadi bibi melihat seseorang mencarimu di depan rumahmu" ucap bibi Han sambil meneliti rumah Wonwoo, takut-takut jika Wonwoo kedatangan tamu ditengah malam seperti ini. Wonwoo sudah seperti anaknya sendiri, jadi ia melarang Wonwoo untuk menerima tamu ditengah malam.

"Kkk aku mendengar seseorang memanggilku, tapi aku tidak membuka pintu, bi. Orang itu mencurigakan, jadi aku sedikit takut untuk membuka pintu" Jawab Wonwoo sambil tertawa pelan berusaha meyakinkan sang bibi. Bibi Han tersenyum lega lalu mengucapkan selamat malam pada Wonwoo dan kembali ke rumahnya. Wonwoo menuntup pintu lalu kembali duduk di sofa. Mingyu kembali dari tempat 'persembunyiannya' lalu duduk disamping Wonwoo.

"Aku dengar semuanya, hyung" gerutu Mingyu. Wonwoo hanya tertawa kecil melihat wajah kesal Mingyu. Wonwoo kemudian menyandarkan kepalanya dibahu Mingyu dan menyalakan televisi.

"Ayo nonton film" ucap Wonwoo bersemangat. Mingyu mengangguk setuju.

"Horror!" Ucap Wonwoo bersemangat.

"Hyung, ini sudah malam kenapa kau mau nonton film horror?" Tanya Mingyu malas.

"Kau takut?" Goda Wonwoo.

"Astaga yang benar saja" gumam Mingyu. Wonwoo kemudian mulai memutar film ter-horror yang ia punya.

"Kalau begitu ayo kita buktikan" ucap Wonwoo menantang Mingyu lalu kemudian mematikan lampu diruangan tersebut.

"Hyung ini sama sekali tidak lucu" gumam Mingyu ketika Wonwoo kembali duduk disampingnya. Diantara gelap, Mingyu dapat nelihat Wonwoo menyeringai.

30 menit berlalu. Mingyu sudah membuka hoodienya dan kaus yang ia kenakan sudah basah. Ia berkeringat dingin. Wonwoo diam saja masih terus menyaksikan film.

"Astaga jantungku mau lepas"

"Ah aku benci ini!"

"Hyung, aku mau tidur saja"

"Bagaimana ini"

"Hyung! Hyung!"

"Astaga ada apa dengamu, Kim Mingyu! Ini hanya film" ucap Wonwoo. Mingyu menutup wajahnya dengan bantal. Wonwoo menggerutu kesal.

Setelah 90 menit, film pun berakhir. Mingyu dapat bernapas lega. Ia bermaksud mematikan televisi namun bahunya terasa berat, ketika ia menoleh Wonwoo telah tidur nyenyak dengan bersandar pada bahunya. Mingyu menggeleng tidak percaya.

"Bagaimana bisa anak ini tidur sementara aku hampir menjerit sepanjang film" gumam Mingyu. Mingyu dengan perlahan menyandarkan kepala Wonwoo disofa lalu mematikan dvd dan televisi. Setelah itu ia kembali menghampiri Wonwoo.

"Hyung, dimana kamarmu?" Tanya Mingyu sambil membangunkan Wonwoo.

"Eunghh disebelah kiri tangga" gumam Wonwoo serak lalu kembali tidur.

"Hyung, cepat pindah ke kamarmu. Aku akan tidur disini" ucap Mingyu lagi namun Wonwoo tidak merespon. Mingyu memperhatikan Wonwoo yang sedang tidur. Wajahnya terlihat sangat polos membuat Mingyu gemas. Dengan perlahan Mingyu membawa tubuh Wonwoo ke kamar pria bermarga Jeon tersebut. Setelah sampai ia membaringkan tubuh Wonwoo lalu menyelimutinya.

"Mingyu~" gumam Wonwoo pelan.

"Ada apa hyung?" Tanya Mingyu.

"Temani aku" gumam Wonwoo lagi sambil menarik tangan Mingyu.

"Be-benarkah aku boleh?" Tanya Mingyu ragu. Wonwoo mengangguk pelan. Lalu perlahan Mingyu berbaring disamping Wonwoo. Wonwoo menyandarkan kepalanya pada dada bidang Mingyu, membuat jantung Mingyu semakin berdetak tidak beraturan. Namun tanpa ia perintah tangan kirinya bergerak merengkuh tubuh Wonwoo. Mingyu mencium kening Wonwoo dan mulai terlelap.


Jihoon terbangun dari tidurnya. Ia mengambil jam tangannya dan melihat jam sudah menunjukan pukul 8.00 a.m KST. Jihoon yang malas bermaksud untuk tidur kembali namun tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia mengambil ponselnya lalu melihat ada 2 pesan masuk. Jihoon membuka pesan tersebut.

Yesterday, 10.30 p.m KST
Kim Mijoo: Jihoon-ah, apa kau ada acara besok? Aku ingin jogging besok pagi sekitar pukul 8.00, apa kau mau ikut?

Today, 8.05 a.m KST
Kim Mijoo: kau tidak bisa datang?

Jihoon membaca kedua pesan dari Mijoo kemudian meneleponnya.

"Kau dimana?" Tanya Jihoon.

"Aku ada di Sungai Han. Kau-"

"Tunggu, aku akan kesana" jawab Jihoon lalu menutup telepon. Jihoon segera mengganti pakaiannya dan bergegas pergi dari rumah kecilnya.


"Tunggu, aku akan kesana" ucap Jihoon. Mijoo menatap ponselnya sambil tersenyum.

"Hari ini pasti akan sangat menyenangkan" gumam Mijoo. Kemudian ia memasang earphonenya dan mulai berlari pelan. Hari ini Sungai Han terlihat ramai karena akhir pekan. Mijoo masih berlari kecil sambil menunggu Jihoon datang. Ia tidak sadar seseorang dibelakangnya mengendarai sepeda dengan cepat dan tidak stabil, sepertinya orang tersebut belum benar-benar bisa mengendarai sepeda. Orang tersebut berteriak pada Mijoo untuk menghindar, namun Mijoo tidak mendengarnya. Hanya tinggal beberapa sentimeter lagi sepeda itu akan menghantam tubuh Mijoo, dengan cepat seseorang berlari kearah Mijoo dan mendorongnya hingga mereka terjatuh. Mijoo tersadar dan melepas earphonenya.

"Astaga, apa sih yang kau lakukan?!" Bentak Jihoon pada Mijoo.

"A-aku"

"Orang itu berteriak padamu untuk menghindar!" Bentak Jihoon lagi. Mijoo menundukan kepalanya, takut.

"Maafkan aku" gumam Mijoo. Jihoon menghela napas lalu mengusak rambut Mijoo pelan.

"Aku tidak menyangka bisa berlari secepat tadi" gumam Jihoon lalu tertawa pelan. Mijoo menatap Jihoon.

"Sudahlah, ayo bangun" ucap Jihoon lagi lalu bermaksud untuk bangun namun tiba-tiba ia meringis. Ia melihat pergelangan kakinya yang tergores dan memar. Mijoo yang melihatnya mulai menangis.

"Ya! Jangan menangis, aku baik-baik saja" ucap Jihoon sambil menghapus air mara Mijoo.

"I-ini semua karena a-aku" gumam Mijoo disela tangisnya. Jihoon tertawa melihat Mijoo.

"Hahaha sungguh ini hanya luka kecil. Kau tenang saja" ucap Jihoon menenangkan lalu menepuk-nepuk pelan kepala Mijoo.


Jun sedang memasak sarapan untuk dirinya ketika tiba-tiba pintu rumah diketuk seseorang, Jun membuka pintu dan tampak didepannya seseorang dengan mata-sepolos-boneka-beruang cokelat-milik-adiknya-di-Shenzhen(menurut Jun) menatap Jun bingung sambil berkedip beberapa kali.

"Apa Mingyu ada dirumah?" Tanya orang tersebut.

"Mi-Mingyu menginap di-dirumah temannya" jawab Jun terbata. Orang tersebut mengangguk mengerti.

"Baiklah, jika ia sudah pulang tolong katakan padanya untuk datang kerumahku, kami harus mengerjakan tugas Kimia bersama" ucap orang tersebut lalu pamit dan bergegas pergi.

"Astaga, kalau saja tadi ia tidak berkedip, aku benar-benar akan mengira ia boneka" gumam Jun lalu tersadar ia belum menanyakan nama orang tersebut. Ia menggerutu pada dirinya sendiri kemudian kembali memasak.


Wonwoo terbangun dari tidurnya. Ia ingat semalam ia tertidur saat menonton film bersama...MINGYU! Wonwoo dengan panik menatap dirinya sendiri, memastikan ia masih menggunakan piyamanya dan ia bernapas lega. Namun Wonwoo bingung dimana Mingyu saat ini, ia memperhatikan kamarnya namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Mingyu. Ia kemudian bangun dan merapihkan ranjangnya. Setelah itu ia bergegas mandi dan keluar dari kamarnya. Wonwoo bermaksud mengambil minum didapur namun yang ia lihat sekarang adalah Mingyu sedang memasak di dapurnya. Wonwoo memperhatikan Mingyu yang sedang memasak sambil tersenyum.

"Seingatku, aku tidak memanggil koki untuk memasak sarapan" ucap Wonwoo sambil membuka kulkas.

"Oh kau sudah bangun, hyung? Duduklah, aku memasak sarapan untukmu" ucap Mingyu sambil meletakan hasil masakannya diatas piring. Wonwoo duduk di meja makan lalu mulai mencicipi Pancake buatan Mingyu. Mingyu berdiri disamping Wonwoo sambil menunggu komentarnya.

"Yah sepertinya ini tidak akan membuatku terkena masalah pencernaan" ucap Wonwoo sambil melahap pancake buatan Mingyu.

"Aku anggap itu sebuah pujian" ucap Mingyu. "Aku harus pulang, ada tugas yang harus aku kerjakan" lanjut Mingyu.

"Baiklah, kerjakan tugasmu dan nikmati akhir pekanmu" ucap Wonwoo.

"Aku akan menghubungimu nanti, hyung. Aku menyayangimu" ucap Mingyu lalu dengan cepat mengecup bibir Wonwoo kemudian pergi.

"Yak! Kim Mingyu!"


Mingyu sampai dirumah ketika Jun sedang asik memainkan laptopnya. Mingyu menghampiri Jun kemudian duduk disampingnya.

"Hyung, kau sedang apa?" Tanya Mingyu.

"Aku berencana akan mulai bersekolah lagi. Aku sedang memilih universitas mana yang kira-kira cocok untukku" jawab Jun. Mingyu mengangguk mengerti.

"Kau kemana semalam?" Tanya Jun masih fokus dengan laptopnya.

"Menginap dirumah Jihoon" jawab Mingyu santai. Dengan cepat Jun memukul kepala Mingyu. Mingyu meringis mendapat pukulan dari Jun.

"Yak bodoh! Jangan berbohong!" Ucap Jun. Mingyu hanya tersenyum lebar karena ketahuan berbohong.

"Aku akan mengadukan pada bibi dan paman kalau kau menginap dirumah pacarmu" ucap Jun kemudian tersenyum penuh kemenangan.

"Yak! Hyung!" Gerutu Mingyu. Jun hanya tertawa melihat ekspresi kesal Mingyu.

"Oh aku ingat, tadi ada yang mencarimu" ucap Jun lalu meletakan laptopnya di meja.

"Siapa?" Tanya Mingyu.

"Entahlah siapa namanya, yang jelas ia sangat imut dan ia membicarakan tentang tugas yang harus kalian kerjakan bersama" Jawab Jun panjang lebar.

"Ah! Benar! Aku harus pergi hyung!" Ucap Mingyu lalu bergegas ke kamarnya untuk mengambil tas dan buku-bukunya.

"Kau mau kemana lagi?" Tanya Jun.

"Mengerjakan tugas dengan temanku yang datang kesini" Jawab Mingyu sambil memakai sepatunya. BINGO! Jun bisa mengetahui nanya dari Mingyu.

"Siapa namanya?" Tanya Jun.

"Apa kau perlu tau itu?" Tanya Mingyu balik bertanya.

"Memang kenapa kalau aku bertanya?" Tanya Jun.

"Tidak ada. Baiklah aku berangkat!" Pamit Mingyu lalu bergegas pergi.

"Beri tahu aku siapa namanya!" Ucap Jun.

"Xu Minghao!" Jawab Mingyu lalu menghilang dibalik pintu. Jun tersenyum senang.

"Xu Minghao, aku akan mendapatkanmu" gumam Jun.


Seokmin masih bergelut dengan mimpinya. Ia berencana untuk bangun sesiang mungkin karena ini adalah akhir pekan. Tidurnya begitu nyenyak sampai seseorang membuka pintu kamarnya dengan kasar.

"Oppa!" Teriak orang itu membuat Seokmin terbangun dan menatapnya kesal.

"Yak! Seojun! Jangan berteriak seperti itu!" Gerutu Seokmin.

"Kalau begitu cepat bangun! Dasar oppa pemalas!" Gerutu anak kecil yang bernama Seojun itu pada kakaknya. Tiba-tiba datang seorang lagi ke dalam kamar Seokmin. Seorang anak perempuan dengan rambut panjang itu menatap Seokmin lalu menggelengkan kepalanya.

"Oppa, ayo sarapan. Ayah sudah menunggu di meja makan" ucap anak itu pada Seokmin.

"Baiklah. Ah Seohyun, bawa Seojun bersamamu, oppa mau mandi" ucap Seokmin lalu bergegas bangun. Seojun dan Seohyun pun kembali ke meja makan. Baru saja Seokmin hendak mengambil handuk, ponselnya berdering. Ia menatap ponsel itu lalu dengan bersemangat ia mengangkat teleponnya.

"Selamat pagi, hyung!" Ucap Seokmin.

"Hei hei santai saja" jawab Soonyoung.

"Bagaimana tidurmu? Apa kau tidur nyenyak?" Tanya Seokmin sambil berbaring diranjangnya.

"Baik seperti biasanya. Bagaimana denganmu?" Tanya Soonyoung.

"Sangat baik. Aku memimpikanmu" Jawab Seokmin sambil tersenyum lebar, seakan Soonyoung dapat melihatnya.

"Haha benarkah?" Tanya Soonyoung.

"Aku bermimpi, aku dan kau berjalan disebuah taman, lalu kita-"

"OPPAAAAAA!"

"Suara siapa itu?" Tanya Soonyoung.

"Hyung! Nanti aku akan menghubungimu lagi. Sampai jumpa!" Ucap Seokmin lalu menutup teleponnya dan berlari ke kamar mandi.


"Aku sudah di airport"

"Apa? Baiklah baiklah"

"Ibu dan ayah sudah pulang?"

"Kalau begitu aku pulang naik taksi saja"

"Yaa, sampai bertemu dirumah, Junhui"

Mijung menutup sambungan teleponnya dengan Junhui. Ia kemudian menarik kopernya menuju sebuah taksi yang terparkir tidak jauh darinya. Ketika hampir sampai seseorang dengan tidak sengaja menabrak kopernya hingga kopernya terbuka. Orang itu langsung membantu Mijung membereskan kopernya.

"Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja" ucap orang itu.

"Tidak apa-apa, sungguh." Jawab Mijung sambil tersenyum.

"Aku sedang mencari orang tuaku, mereka baru saja pulang dari Paris. Aku tidak melihat ke depan jadi aku menabrak kopermu, noona. Maafkan aku" ucap orang itu lagi sambil membungkuk.

"Sudah lupakan saja" jawab Mijung santai.

"Baiklah, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa, noona" ucap orang itu sambil tersenyum pada Mijung lalu pergi. Mijung menatap punggungnya yang semakin menjauh.

"Anak yang baik" gumamnya lalu bergegas pulang kerumah.

Setelah hampir 30 menit, Mijung sampai dirumahnya. Ia menarik koper besarnya lalu mengetuk pintu.

"Junhui, Mingyu, Mijoo!" Panggil Mijung, lalu tak lama pintu terbuka.

"Noona! Aku merindukanmu!" Ucap Junhui sambil memeluk Mijung erat.

"Yak! Wen Junhui! Lepaskan aku!" Gerutu Mijung.

"Hehe bagaimana di Paris? Apa menyenangkan?" Tanya Junhui sambil membantu Mijung membawa kopernya masuk.

"Aku kesana untuk bekerja, bukan liburan" Jawab Mijung sambil berbaring di sofa.

"Noona, ingin makan sesuatu?" Tanya Junhui sambil memijat kaki Mijung.

"Aku tau kau sedang meminta hadiah, Junhui" gumam Mijung malas. Junhui hanya tersenyum lebar.

"Nanti saja, aku ingin tidur sebentar" ucap Mijung lagi lalu mulai terlelap.


Jihoon dan Mijoo sedang beristirahat dibawah sebuah pohon besar dipinggir Sungai Han. Rencana mereka untuk jogging telah gagal karena kaki Jihoon yang terluka. Jihoon meminum jusnya, lalu memperhatikan Mijoo yang sedang melamun. Jihoon tersenyum tipis lalu menempelkan kaleng jusnya pada pipi Mijoo membuat Mijoo tersentak.

"Jangan melamun terus." Ucap Jihoon.

"Aku masih merasa bersalah atas kakimu" gumam Mijoo pelan.

"Baiklah, besok aku akan mematahkannya supaya kau tidak terus merasa bersalah" ucap Jihoon sambil menenggak jusnya.

"JANGAN!" Jerit Mijoo, hampir membuat Jihoon tersedak.

"Haha aku hanya bercanda. Lebih baik tidak usah dipikirkan" ujar Jihoon sambil mengusak rambut Mijoo pelan.

"Jihoon-ah" gumam Mijoo pelan.

"Ya?"

"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu" ucap Mijoo.

"Tanya saja" jawab Jihoon.

"Apa kau pernah punya pacar sebelumnya?" Tanya Mijoo pelan. Jihoon menoleh, menatap bingung pada Mijoo.

"Kenapa menanyakan itu?" Tanya Jihoon.

"Jawab saja" ucap Mijoo.

"Baiklah, jawabannya tidak. Aku bahkan susah dekat dengan wanita" jawab Jihoon sambil menenggak jusnya yang hampir habis.

"Ah~ begitu" gumam Mijoo.

"Sepertinya sudah siang, lebih baik kita pulang" ucap Jihoon sambil berdiri. "Ayo bangun" ujar Jihoon lalu mengulurkan tangannya pada Mijoo. Mijoo menggenggam tangan Jihoon lalu bangun. Baru saja Jihoon ingin melepasnya, Mijoo menahan tangan Jihoon.

"Tunggu" ucap Mijoo.

"Ada apa?" Tanya Jihoon bingung.

"Jihoon, a-aku aku..."

"Kau?"

"Aku menyukaimu" ucap Mijoo. Jihoon menatap Mijoo yang menutup matanya menunggu jawaban Jihoon.

"Maaf, Mijoo. Aku tidak bisa membalas perasaanmu" Jawab Jihoon lalu melepas genggaman tangan Mijoo dan meninggalkannya. Mijoo menatap punggung Jihoon yang semakin menjauh.

"Sudah kuduga akan seperti ini" gumam Mijoo dan mulai menangis.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUE