Find You

By kwonhosh

.

Main Cast : Kim Mingyu x Jeon Wonwoo

.

.

.

.

.

Happy Reading

.

.

.

Mijoo sampai dirumah dan masuk tanpa mengucapkan salam pada kakaknya dan Junhui. Junhui yang bingung kemudian membangunkan Mijung yang sedang tertidur. Tak lama terdengar suara debaman pintu dari lantai atas. Junhui bermaksud menanyakan apa yang terjadi pada Mijoo namun tangannya ditahan Mijung.

"Jangan. Biarkan dia sendiri" Ucap Mijung. Junhui pun kembali duduk.

"Ada apa dengan anak itu" gumam Junhui.

"Pasti ada yang membuatnya sedih, dia selalu seperti itu jika sedang sedih" Ucap Mijung.

Sementara itu dikamar, Mijoo tengah menangis sambil berusaha menghubungi seseorang. Ketika teleponnya diangkat, suara tangisnya terdengar semakin keras.

"Yak! Jangan menjerit didekat ponselmu, telingaku sakit!" Terdengar gerutu dari orang yang Mijoo hubungi.

"Hansol-ah, Jihoon menolakku" ucap Mijoo disela tangisnya.

"Lalu?"

Mijoo tidak menjawab, ia hanya terus menangis. Hansol menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus bagaimana menghadapi sahabatnya.

"Dari awal kan sudah aku katakan, Jihoon tidak tertarik padamu tapi kau tidak mau dengar" Ucap Hansol lagi.

"Tapi aku sangat menyukainya" gumam Mijoo pilu. Hansol mendesah iba.

"Kau dimana?" Tanya Hansol.

"Dirumah"


"Apa yang kau lakukan? Cepat kerjakan tugasmu" Ucap Minghao. Mingyu masih setia memainkan ponselnya. Tersenyum terus seperti orang gila membuat Minghao bergidik ngeri.

"Minghao-ya, apa kau pernah jatuh cinta?" Tanya Mingyu setelah meletakan ponselnya. Minghao berpikir sesaat, lalu menggeleng sebagai jawaban. Mingyu berdecak.

"Bagaimana bisa selama 18 tahun hidupmu kau bahkan tidak pernah menyukai orang" gerutu Mingyu.

"Memang bagaimana rasanya jatuh cinta?" Tanya Minghao. Mingyu menyeringai. Ia berdehem sesaat kemudian dengan wajah yang lagi lagi menyengir -bodoh- lebar ia berkata,

"Setiap kau melihat orang yang kau sukai, rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang di perutmu. Jantungmu akan berdetak tidak normal dan kau akan sulit untuk tidur" Jelas Mingyu. Respon yang didapat Mingyu tidak sesuai harapan. Minghao memukul kepala Mingyu dengan penggaris besinya, membuat si empunya mengaduh sambil mengusap kepalanya.

"Yak! Jangan bercanda! Itu lebih terdengar sepertu seseorang yang punya gangguan pencernaan!" Gerutu Minghao.

"Aku serius, bodoh" gumam Mingyu. Minghao menaikan sebelah alisnya.

"Apa itu yang kau rasakan pada Wonwoo sunbae?" Tanya Minghao sambil menggit ujung pensilnya.

"Bahkan lebih dari itu" gumam Mingyu sambil menyengir lebar, lagi.

"Apa Wonwoo sunbae merasakan hal yang sama?" Tanya Minghao.

"Tentu saja- aku...tidak tau..eh maksudku, aku belum menanyakannya" Jawab Mingyu ragu.

"Hubunganmu dengan dia seperti apa?" Tanya Minghao menyelidik. Mingyu memutar bola matanya malas.

"Sudahlah, aku tidak suka membahas ini. Yang jelas hubungan kami baik-baik saja" Jawab Mingyu lalu mulai menulis. Minghao pun kembali mengerjakan tugas. Tiba-tiba ponsel Minghao bergetar. Ia segera mengangkat telepon masuk tersebut.

"Ada apa?"

"..."

"Oh benarkah?"

"..."

"Baiklah, tunggu sebentar" ucap Minghao lalu pergi meninggalkan Mingyu. Mingyu mengernyit lalu tak lama terdengar suara tertawa dari luar kamar. Mingyu menebak, Minghao mungkin kedatangan tamu. Tak lama, Minghao kembali dengan seseorang bersamanya.

"Mingyu, tugas ini kita lanjutkan besok saja. Aku harus menemani anak dari teman ibuku. Ia baru datang dari Busan." Ucap Minghao sambil membereskan buku-bukunya.

"Kita bahkan belum memulai apapun, Minghao" gumam Mingyu. Minghao memukul lengan Mingyu membuat temannya tertawa.

"Sangmi, tunggulah diluar. Aku akan menyusul" ucap Minghao lalu gadis yang dipanggil Sangmi pun mengangguk. Sebelum keluar ia melirik Mingyu yang ternyata sedang memperhatikannya. Mingyu tersenyum padanya kemudian Sangmi balas tersenyum.


Hansol sampai dirumah Mijoo, ia mengetuk pintu rumah besar itu lalu tak lama pintu pun terbuka.

"Hansol? Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" Sapa Mijung lalu mempersilahkan Hansol masuk.

"Aku baik-baik saja, noona. Bagaimana dengan kabar noona? Aku dengar noona pergi Paris" Ucap Hansol sopan.

"Ya begitulah, aku baik-baik saja dan baru saja sampai dirumah. Kau beruntung datang ke rumahku hari ini, Hansol, aku punya oleh-oleh untukmu" Jawab Mijung sambil mengusak rambut Hansol. Keluarga Mijung dan Hansol memang sudah dekat sejak lama, jadi Mijung sudah menganggap Hansol seperti adiknya sendiri.

"Benarkah? Sepertinya ini hari keberuntunganku" gumam Hansol lalu tertawa pelan. Mijung ikut tertawa.

"Ah noona! Dimana Mijoo?" Tanya Hansol ketika mengingat tujuan kedatangannya.

"Dia ada dikamar. Jadi Mijoo menghubungimu lagi?" Tanya Mijung. Hansol mengangguk.

"Boleh aku ke kamarnya sekarang, noona?" Tanya Hansol. Mijung tersenyum lalu mengangguk.

Hansol pun bergegas pergi ke kamar Mijoo, mengetuk pintu kamar berwarna merah muda itu beberapa kali lalu masuk. Baru ia menutup pintu, Mijoo dengan cepat memeluknya lalu kembali terisak. Hansol mengelus punggung Mijoo perlahan, berharap hal tersebut dapat membuatnya lebih tenang.

"Hansol-ah" gumam Mijoo pelan disela isakannya.

"Hmm" jawab Hansol. Mijoo melepaskan pelukannya lalu menatap Hansol dengan matanya yang sembab.

"Apa aku kurang cantik?" Tanya Mijoo. Hansol menahan tawanya lalu menarik tangan Mijoo menuju sebuah cermin besar di samping ranjangnya. Memposisikan Mijoo untuk berdiri didepannya.

"Kau cantik, Mijoo. Jika saja aku bukan sahabatmu pasti aku akan menyukaimu" ucap Hansol. "Alasan mengapa Jihoon tidak menerimamu itu karena ia tidak menyukaimu, bukan karena kau tidak cantik" Lanjut Hansol lalu berjalan menuju ranjang Mijoo kemudian berbaring.

"Aku benci mengatakan ini, tapi aku rasa kau benar" Ucap Mijoo lalu duduk diranjangnya.

"Aku memang selalu benar" gumam Hansol dengan bangganya. Mijoo mengambil boneka pandanya lalu memukul Hansol.

"Dasar bodoh" gumam Mijoo. Hansol tertawa karenanya. Tiba-tiba Mijoo menyeringai.

"Hansol-ah! Aku punya ide!" Ucap Mijoo. Hansol menutup matanya, malas menanggapi Mijoo dengan idenya yang sudah pasti tidak masuk akal.

"Hansol dengarkan aku" gerutu Mijoo sambil menarik Hansol untuk duduk. Dengan malas Hansol pun duduk.

"Apa?"

"Kau harus membantuku, ini harus berhasil" gumam Mijoo sambil menyeringai jahil.


Mijung merasa bosan berada dirumah, ibu dan ayahnya masih belum pulang, Junhui sibuk mencari universitas, Mingyu akhir-akhir ini sering pergi dari rumah dan Mijoo, entah apa yang ia rencanakan dengan Hansol. Ia pun berencana untuk membeli Latte di Hongdae. Ia berjalan sendirian sembari memainkan ponselnya. Tiba-tiba ia menangkap sosok yang tidak asing baginya. Ia menghampiri sosok yang sedang duduk di salah satu caffe disana, bersama seseorang lainnya. Mijung memasuki caffe tersebut lalu menghampirinya.

"Bukankah kau yang di airport?" Tanya Mijung setelah sebelumnya ia menepuk bahu orang tersebut.

"Wah noona! Kebetulan sekali, duduklah" ucap orang tersebut. Mijung tersenyum lalu duduk.

"Noona apa yang kau lakukan disini?" Tanya orang tersebut.

"Aku? Ah rumahku tidak begitu jauh dari sini, hanya berjalan-jalan sendiri. Bagaimana denganmu?" Tanya Mijung.

"Aku sedang menemani temanku, ia menunggu seseorang" Jawabnya. "Ah ini temanku, Kwon Soonyoung. Dan Soonyoung, ini..."

"Mijung. Kim Mijung" Ucap Mijung menjelaskan. Soonyoung tersenyum pada Mijung.

"Aneh rasanya ini kali kedua kita bertemu, tapi aku belum tau namamu" Gumam Mijung.

"Aku Hong Jisoo" Ucap Jisoo memperkenalkan dirinya.

"Oh jadi namamu Jisoo. Senang bertemu denganmu, lagi" gurau Mijung, dibalas tawa Jisoo.

Tak lama pintu cafe terbuka menampilkan seseorang dengan sweater hitam dan kemeja putih, tersenyum ke arah tempat Mijung duduk. Orang itu menghampiri mereka.

"Seokmin?"

"Noona! Apa yang noona lakukan disini?" Tanya Seokmin.

"Bertemu...seseorang" Jawab Mijung ragu. "Dan apa yang kau lakukan disini?"

Seokmin melirik Soonyoung yang sedang menyeruput grape floatnya. Mijung mengangguk mengerti. Tak lama Soonyoung dan Seokmin pun pergi, meninggalkan Jisoo dan Mijung yang masih setia duduk dicafe tersebut.


Mingyu berbaring malas diatas ranjangnya. Ia bingung harus melakukan apa. Ia baru selesai menelepon Wonwoo (selesai karena Wonwoo mengantuk). Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, Junhui masuk sambil membawa laptopnya. Setelah meletakan laptop itu di meja Junhui ikut berbaring diranjang. Menatap kosong pada langit-langit kamar.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Junhui asal.

"Apa lagi? Kau kan melakukan hal yang sama denganku" Jawab Mingyu malas.

"Ah benar juga. Lebih baik kau kerjakan tugasmu, besok kau sekolah kan?"

"Aku terlalu malas untuk berpikir." Gumam Mingyu. "Hyung"

"Ada apa?"

"Kalau kau sangat menyukai seseorang tapi kau tidak tau apa yang orang itu rasakan padamu, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Mingyu masih menatap kosong pada langit-langit kamarnya.

"Wonwoo belum mengungkapkan perasaannya padamu?" Ucap Junhui bertanya balik. Mingyu menghela napas, membuat Junhui mengerti situasi yang dihadapi adik sepupunya.

"Tanyakan saja, jika ia menyukaimu juga, semuanya pasti akan berjalan lancar" Ucap Junhui.

"Hyung, Minghao menitipkan salam untukmu"

"Benarkah?!" Junhui yang awalnya merasa mengantuk kini duduk dikasur dengan wajah berseri antusias.

"Astaga, padahal aku hanya bercanda" gumam Mingyu dan dihadiahi tendangan dari Junhui yang sukses membuat Mingyu terjatuh dari ranjangnya. Ia meringis namun ingin tertawa disaat bersamaan melihat Junhui dengan wajah kesalnya.

"Baiklah, baiklah, aku minta maaf. Sebagai permohonan maaf, aku akan memberikan nomor ponsel Minghao" Ucap Mingyu sambil memainkan ponselnya.

"Aku mencintaimu, Mingyu!" Jerit Junhui sambil memeluk adik sepupunya. Mingyu dengan cepat, melepaskan diri dari Junhui dan pelukan mematikannya.

"Kau mau memeluk atau membunuhku sih?!" Gerutu Mingyu. Junhui hanya balas tersenyum lebar.

"Kau cari sendiri" Mingyu melempar ponselnya yang langsung ditangkap oleh Junhui "Aku ingin beli tteokpokki" lanjutnya lalu pergi.

"Aneh sekali anak itu, tiba-tiba ingin makan tteokpokki" gumam Junhui lalu mulai mengutak-atik ponsel Mingyu.

Ia mencari nama Minghao dalam daftar nomor ponsel dan gotcha! Ia mendapatkan nomor ponselnya. Junhui dengan segera menyimpan nomor tersebut pada ponselnya kemudian mengetik sebuah pesan.

Junhui: Annyeong

Ia menunggu balasan dari Minghao sambil teus menatap ponselnya. Tak butuh waktu lama, pesan yang ditunggu akhirnya datang.

Minghao : Ne annyeonghaseyo~

Junhui hampir terjatuh dari ranjang saking girangnya. Ia mulai membayangkan wajah imut Minghao ketika berkata 'Ne annyeonghaseyo~'. Jika saja Mingyu ada disana pasti ia sudah meledek Junhui habis-habisan karena terus tersenyum -mengerikan- lebar.

"Apa aku telepon saja ya." Gumam Junhui. "Ah sebaiknya jangan, akan terlihat sangat agresif jika aku menelponnya sekarang" sambil menggeleng.

Junhui: Minghao-ya apa kau masih ingat aku?

Junhui melihat apa yang ia ketik, lalu menghapusnya kembali.

Junhui: Minghao-ssi aku sepupu dari Mingyu, kemarin kau datang saat Mingyu tidak berada dirumah. Aku mendapat nomor ponselmu dari Mingyu, aku harap kita bisa berteman^^

Lalu mengirimnya. Tepat setelah mengirim pesan pada Minghao, ponsel Mingyu bergetar. Junhui membuka pesan masuk yang ternyata dari Minghao.

Minghao: APA YANG KAU LAKUKAN?! KENAPA KAU MEMBERIKAN NOMOR PONSELKU PADA SEPUPUMU?!

Junhui yang membacanya, menelan ludah. Ia bahkan tidak berani untuk membuka pesan masuk diponselnya yang padahal pesan dari Minghao.


Mingyu memakan tteokpokkinya dengan lahap. Ia tidak mempedulikan kekehan beberapa garis yang melihatnya makan. Ia benar-benar menikmati tiap potong tteokpokki yang masuk ke mulutnya. Aktivitas makannya terhenti ketika seseorang duduk disampingnya. Orang itu tersenyum pada Mingyu.

"Kau lahap sekali" Gumam orang tersebut.

"Apa kita saling kenal?" Ucap Mingyu ketus. Ia menghabiskan tteokpokkinya lalu segera pergi.

Ia berjalan sambil menggerutu dalam hati. Moodnya jadi rusak karena bertemu orang tersebut. Ia pun memutuskan pulang sampai tiba-tiba ia melihat kakaknya sedang berada di dalam sebuah cafe bersama seorang laki-laki. Mingyu pun mengurungkan niatnya untuk pulang dan segera menghampiri kakaknya.

"Noona" Panggil Mingyu lalu duduk disamping Mijung.

"Mingyu? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Mijung sambil merapihkan rambut Mingyu yang berantakan. Mingyu yang risih segera menepis tangan kakaknya dan dihadiahi tatapan tajam dari Mijung.

"Wah kalian berkencan?" Ucap Mingyu mengalihkan pembicaraan sekaligus mengklarifikasi. Ini pertama kalinya ia melihat Mijung pergi bersama seorang pria. Mijung dengan segera menutup mulut Mingyu. Jisoo yang melihatnya hanya tertawa pelan.

"Jisoo-ya, maaf adikku ini memang tidak sopan" Ucap Mijung sambil tertawa canggung.

"Tidak apa-apa, noona." Jawab Jisoo sambil tersenyum. Mingyu yang sudah berhasil melepaskan diri dari Mijung pun segera berpindah ke samping Jisoo.

"Jadi kau lebih muda dari kakakku? Wah seleramu lumayan juga." Goda Mingyu sambil menyeruput latte Mijung. Mijung berniat memukul kepala adiknya namun ia urungkan karena Jisoo menatapnya.

"Kakakmu cantik dan dewasa, semua orang pasti tertarik bukan?" Gumam Jisoo. Mingyu hampir tersedak latte karena mendengar ucapan Jisoo. Mijung yang mendengarnya hanya diam.

"Anak nakal" Gumam Mijung lalu secara tiba-tiba ia menarik telinga Jisoo membuat empunya meringis.

"Rasakan itu." Gumam Mingyu. "Kau harus terbiasa mulai seka-Ah noona lepaskan aku!" Jerit Mingyu saat jemari Mijung dengan sigap menarik telinga adiknya.

"Lebih baik kita pulang sekarang" Ucap Mijung sambil tersenyum menyeringai. Mijung masih dengan 'membawa' dua anak laki-laki yang meringis dikedua sisinya, berjalan keluar dari cafe.

Jisoo mengusap telinganya yang memerah sambil berjalan menuju halte bus. Ia meringis namun juga tersenyum girang. Rasanya begitu senang dapat bertemu lagi dengan Mijung, entahlah dia sendiri tidak tau mengapa ia harus sesenang itu namun rasanya ia ingin lagi bertemu dengan Mijung. Beruntung baginya, Mingyu memberitahu alamat rumah mereka secara diam-diam saat Mijung pergi membeli latte untuk Junhui dan Mijoo.

"Mungkin ini adalah hari keberuntunganku." Gumam Jisoo sambil tersenyum


Seokmin dan Soonyoung duduk disebuah bangku dipinggir Sungai Han. Sungai Han berkelip-kelip terkena cahaya lampu. Semakin menambah cantik sungai dipusat kota itu. Soonyoung duduk sambil bersandar pada bahu Seokmin. Keduanya saling menautkan tangan mereka.

"Hyung, tadi kau bersama siapa?" Tanya Seokmin. Soonyoung menyeruput floatnya sebelum menjawab.

"Temanku" Jawab Soonyoung. Seokmin mengangguk.

"Hyung"

"Hmm?"

"Aku sangat, sangat, sangat menyayangimu" Ucap Seokmin. Soonyoung tersenyum.

"Aku tau" Jawabnya singkat.

"Itu saja?" Ucap Seokmin kecewa. Soonyoung pun mengangkat kepalanya lalu menatap Seokmin yang wajahnya seperti anak anjing yang dibuang oleh majikannya. Soonyoung ingin tertawa tapi ia menahannya.

"Memang kau mengharapkan apa?" Tanya Soonyoung jahil. Seokmin hampir menangis kalau saja Soonyoung tidak tertawa. Soonyoung tertawa sambil memegangi perutnya. Seokmin dengan segera menahan bahu Soonyoung. Membuat laki-laki bermarga Kwon itu menatapnya.

"Sungguh, aku sulit berhenti tertawa" Ucap Soonyoung sambil menetralisir tawanya. Dengan tiba-tiba Seokmin mencium kening Soonyoung dan sukses membuat Soonyoung berhenti tertawa.

"Aku menyayangimu, hyung. Sungguh. Entah bagaimana caramu melakukannya, namun hanya dengan melihatmu, aku semakin jatuh cinta padamu. Mungkin ini terdengar berlebihan tapi aku benar-benar tulus padamu, hyung." Ucap Seokmin lalu tersenyum. Soonyoung mendengarnya sangat jelas, begitu jelas sampai rasanya kata-kata itu terus terngiang ditelinganya. Tiba-tiba ia menangis tersedu-sedu membuat Seokmin bingung. Kemudian dengan segera membawa Soonyoung ke dalam pelukannya.

"Hyung, berhentilah menangis. Kau membuatku bingung. Tadi kau tertawa sekarang kau menangis, kumohon jangan seperti ini" Ucap Seokmin khawatir. Soonyoung tertawa pelan ditengah tangisnya.

"Terima kasih, terima kasih karena berada disisiku" Ucap Soonyoung. Seokmin mengangguk lalu memperat dekapannya.


Mingyu duduk bersandar pada kepala ranjang. Lagi dan lagi ia mengalami gangguan tidur. Junhui sudah terlelap disebelahnya. Mingyu bingung mau melakukan apa sekarang, ia pun turun ke lantai bawah kemudian duduk disofa dan menyalakan televisi. Ia melirik jam yang menunjukan pukul 10.20 p.m KST. Mingyu menonton sebuah film sambil memakan kripik kentang milik Mijoo. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk, Mingyu mengernyit. Orang aneh mana yang mau bertamu ditengah malam seperti ini. Mingyu dengan ragu membuka pintu. Pintu terbuka dan menampilkan sosok yang ia rindukan sejak tadi dengan wajah pucat dan piyama membalut tubuhnya. Mingyu dengan sigap menangkap tubuh orang yang menjadi tamunya ditengah malam itu ketika tubuh tinggi itu hampir ambruk.

"Hyung, apa yang terjadi padamu?!" Ucap Mingyu sambil menggendong tubuh dingin Wonwoo ke sofa. Wonwoo duduk sambil bersandar.

"Seseorang menerorku, ia melempar jendela kamarku dengan batu hingga kacanya pecah" Ucap Wonwoo menjelaskan.

"Kau mau minum sesuatu? Kau shock sekali, hyung" Mingyu menawari. Dengan lembut ia mengelus pipi Wonwoo.

"Air saja, Mingyu" Jawab Wonwoo lalu dengan segera Mingyu mengambilkan air untuknya.

"Ini pertama kalinya aku melihatmu tanpa kaca mata, hyung" Ucap Mingyu sambil bersandar pada sofa. Wonwoo meletakan gelasnya lalu ikut bersandar.

"Kaca mataku ada dimeja nakas, aku terlalu panik untuk mengambilnya" Wonwoo menjelaskan.

"Kau terlihat semakin menarik tanpa kaca mata, hyung" Goda Mingyu. Wonwoo menggeleng.

"Hentikan itu, Kim-"

"Siapa disana?"

Wonwoo dan Mingyu menoleh ketika mendengar suara dari arah belakang mereka. Disana Mijung berdiri didekat tangga dan menatap nanar pada Wonwoo.

"Won"

"Noona"

Mijung menuruni tangga lalu berlari ke arah Wonwoo dan memeluknya.

"Aku merindukanmu" Gumam Mijung sambil memeluknya erat.

.

.

.

.

.
TBC

Finally hoho chapter ini terselesaikan. Aku lagi buntu dan gatau harus nulis apa-_- semoga ff yang membingungkan ini gak bikin kalian bingung~