Step Father

(8)

.

.

SasuSaku *Slight PainSaku, SasuMebu

Naruto belong to Masashi Kishimoto

M for Lemon and Verbal Abuse

AU, OOC, D.L.D.R, slow update.

-00000000-

Sasuke tak pernah membayangkan berada di posisi ini. Dan setelah semuanya terjadi, hal tersebut menjadi lebih sulit lagi dari sekedar yang mungkin dia bayangkan. Yang paling sulit adalah mengontrol dirinya, mengingatkan bahwa mangsa empuk yang ada di hadapannya ini adalah anak tirinya. Lebih sulit dari yang dia duga, karena anak tirinya ini memiliki tubuh indah khas remaja yang sangat sulit untuk ditolak.

Emerald itu menatapnya sayu, namun mengirimkan sinyal seduktif yang menggoda. Sasuke tahu anak tirinya itu sedang menggodanya. Ingatkan dirinya untuk mengalihkan tatapan, bahkan bernafas pun pemuda itu kesulitan. Pemandangan di depannya ini-lah yang membuatnya lupa akan segala-galanya.

Sakura, dengan tubuh polosnya yang menawan melangkah mendekat ke arahnya. Jemarinya yang lentik terulur kemudian mengusap dadanya pelan. Sentuhan kulit putih susu itu begitu lembut, sentuhan paling lembut yang pernah dia rasakan. Tubuh gadis itu bergerak maju, merapat pada tubuhnya yang hanya bisa berdiri mematung tanpa reaksi apa-apa.

"Kenapa? Kenapa kau hanya diam? Apa kau menikmati sentuhanku?" goda gadis berhelai merah muda itu berbisik perlahan di telinganya. Sasuke langsung membuat gesture menghindar dengan memberi jarak di antara mereka. Meski harus pemuda itu akui, ini adalah salah satu godaan paling sulit dia tolak. Tubuh gadis itu seolah memanggilnya untuk mencicipi kehangatan dan mereguk nikmat dunia bersama. Tapi tidak… dia tidak bisa menghianati istrinya. Tidak dengan putri tirinya sendiri.

"Penolakanmu sangat menyakiti hatiku, Ayah tiri… kau tahu itu," sinis Sakura sambil tersenyum seolah mengejek.

"Jangan bermain-main denganku, Sakura. Apa yang kau lakukan ini? Bertelanjang seperti ini di rumah sakit. Apa kau sudah gila?!" tanpa sadar, Sasuke membentak ke arahnya. Sejurus kemudian Sasuke menyesali apa yang dilakukannya pada gadis itu. Walaupun wajah Sakura justru terlihat biasa saja.

"Memang aku sudah gila…" gadis itu menjawab enteng saja.

"Apa maksudmu?" tuntut Sasuke. Pemuda itu sungguh tidak mengerti jalan pikiran anak tirinya ini. Gadis itu seperti menyimpan sesuatu yang kompleks di dalam dirinya.

"Apa pedulimu untuk tahu?" gadis itu seolah menantang.

"Karena aku adalah Ayahmu sekarang. Aku memiliki tanggung jawab untuk menjagamu sebagai putriku. Dan meski usia kita tidak terpaut jauh…" belum sempat Sasuke menyelesaikan kalimatnya, gadis itu sudah memotongnya.

"Menikahi wanita itu tidak serta merta menjadikanmu Ayahku…" kalimat itu menusuk Sasuke telak. Sebagian dalam dirinya menyetujui ucapan gadis itu. Memang menikahi Mebuki yang telah memiliki seorang putri dari pernikahan pertamanya –terlebih sang putri hanya terpaut 2 tahun usianya dari dirinya- membuat Sasuke bingung harus bersikap seperti apa. Secara hukum, saat ini memang Sasuke adalah Ayah dari Sakura. Namun hubungan Ayah-Anak tidak dapat dibangun hanya dari sebuah dasar hukum saja.

Baru saja dia akan merespon kembali perkataan Sakura yang sempat membuatnya tertohok beberapa saat, Sasuke kembali dikejutkan oleh gadis itu yang sudah berlutut di kedua kakinya. Dengan kepala yang ditengadahkan, gadis itu dengan berani menyentuh selangkangan Sasuke tanpa malu-malu. Bahkan meremasnya !

Sasuke bergerak mundur dengan pikiran kacau. Sepertinya dia tidak bisa berada di ruangan ini lebih lama. Jadi sebaiknya dia akan pergi saja. Bersama gadis itu lebih lama hanya akan membahayakan bagi mereka berdua. Namun sebelum Sasuke bergerak dan mencapai handle pintu, Sakura sudah mendahuluinya. Berdiri menantang dan menatap angkuh ke arahnya.

"Fuck me !" gadis itu melontarkannya dengan nada memerintah. Jika tidak ingat sosok di hadapannya ini adalah putri dari sang Istri, Sasuke mungkin akan segera memukul dan menyingkirkannya dengan paksa. Tapi tidak… dia tidak bisa melakukan itu pada putri dari Mebuki ini.

"Tidak ! aku Ayahmu…" tolak Sasuke langsung. Berusaha terdengar tegas agar Sakura mundur dari niat gilanya.

"Haruno Kizashi. Dia Ayahku… tidak ada yang lain." Onyx Sasuke dapat menangkap kilat kemarahan di emerald cantik gadis itu.

"Aku tahu kau tidak menyukai pernikahanku dengan Ibumu. Tapi tetap saja…" lagi-lagi Sakura dengan berani memotong ucapannya, tapi kali ini dengan sebuah ciuman.

Gadis itu menerjang tanpa ragu ke pelukan Sasuke. Melumat bibir pemuda yang telah resmi menjadi Ayah tirinya dengan cepat, penuh gairah. Tangannya memeluk tubuh Sasuke erat, seolah menolak untuk dilepaskan. Aroma musk lembut dari tubuh pemuda itu menguarkan dan menghanyutkan Sakura untuk memperdalam ciumannya.

Awalnya Sasuke berusaha menolak dan memberontak. Namun lengan Sakura yang membelit tubuhnnya erat, sentuhan dirinya dengan kulit polos telanjang putrinya itu, sesapan-sesapan dalam seolah saling mencari yang terjadi dalam pergumulan bibir mereka membuat pemuda itu tak kuasa menolak. Otaknya yang terus bekerja menolak berpikir jernih dan melewatkan kesempatan langka seperti ini.

Saat Sasuke mulai membalas ciumannya, saat itulah Sakura tersenyum sambil memperdalam kulumannya pada bibir sang Ayah tiri. Sesuatu dalam dirinya berteriak menang. Menaklukan lelaki itu adalah sebuah pencapaian yang berarti baginya. Dengan ini dia akan membuat pemuda itu didepak oleh sang Ibu seperti para lelakinya yang lain.

Lidah mereka masih saling membelit, mencari, menyesap, bertukar saliva. Sesekali Sakura melenguh indah tepat di telinga Sasuke. Kepala bergerak-gerak meminta pemuda itu tidak hanya menginvansi bibirnya saja, tetapi juga seluruh tubuhnya. Saat ciuman Sasuke turun menelusuri leher, Sakura terpekik nikmat saat pemuda itu menghadiahinya sebuah hickey tepat di bawah telinga sebelah kirinya.

"Teruskan…" desah Sakura menggoda sambil meraba dadanya dengan gerakan sensual. Memilin puncaknya hingga tegak sempurrna. Sasuke bisa melihat kedua puncak kembar Sakura sudah menegang dan tanpa menunggu lagi, pemuda itu memasukan salah satu putting itu ke dalam mulutnya. Sakura mendesah semakin kuat saat salah satu area sensitifnya dimanjakan oleh Ayah tirinya. Sasuke terus menghisapnya kencang seolah berharap cairan susu keluar dari bongkahan kenyal tersebut.

Tak ingin tangannya hanya diam, Sakura menggerayangi bagian sensitive Sasuke. Meremas bagian yang telah menggembung di balik celana itu dengan gerakan-gerakan sensual. Sementara Sasuke masih bergerilya di bagian dadanya dan setia membagi kenikmatan di sana. Tangan Sakura dengan lihai menurunkan resleting celana Sasuke dan membuka pengaitnya sehingga celana panjang itu terjatuh dan hanya menyisakan boxer berwarna merah yang dikenakannya. Sakura merogoh ke dalam boxer dan terpekik senang seolah mendapatkan apa yang diinginkannya.

Sementara saat sang putri tiri menggenggam kejantanannya, Sasuke melenguh pelah. Terlebih saat jemari Sakura memanjakan bagian sensitifnya dengan gerakan-gerakan yang membuat birahinya kian tersulut hingga puncak. Sakura melepaskan genggamannya pada kejantanan Sasuke dan mendorong pemuda itu sedikit menjauh. Lalu kemudian kembali berlutut di antara 2 kaki sang pemuda sambil memasukkan daging tak bertulang itu ke dalam mulutnya.

"Ngghhnn…" Sasuke tidak tahan untuk tidak mendesah. Terlebih saat Sakura seolah menggila di bawah sana dengan kejantanannya di dalam mulut gadis itu. Nafas pemuda raven itu kian memburu cepat, wajahnya memerah, bahkan tanpa sadar tangannya menekan kepala Sakura agar terus memberinya kenikmatan di bawah sana.

"Ugghhh.. Sa-Sakuraahh…" Sasuke berusaha berbicara di sela seru nafas dan desahannya. Sakura melepaskan kejantanan itu sejenak dan menatap ke arah atas, menikmati pemandangan Sasuke yang mabuk kepayang karena service-nya.

"Sebaiknya kau jangan berisik, Ayah tiri. Atau desahanmu akan memancing orang untuk datang kemari." Sinis Sakura, namun wajah cantiknya tersenyum manis sambil menggigit bibir bawahnya seduktif.

"Kau membuatku gila, Sakura…" apa yang baru saja mereka lakukan membuat batas Ayah-Anak di antara mereka kian kabur saja.

"Kau menikmatinya…" tidak jelas gadis itu mengucapkannya sebagai pertanyaan atau pernyataan, yang jelas Sasuke tanpa sadar memberikan anggukan.

"Siap untuk melanjutkan?" bahkan tanpa memerlukan jawaban, Sakura kembali mengulum benda itu ke dalam mulutnya, membuat Sasuke harus bersusah payah bernafas dan menahan desahannya.

Saat kejantanan itu berkedut di dalam mulutnya, Sakura menghentikan hisapannya. Emerald-nya dapat melihat binar kekecewaan di sepasang onyx sehitam malam milik Ayah tirinya. Dihentikan saat akan klimaks memang sangat menjengkelkan bagi lelaki manapun, begitupun yang Sasuke rasakan.

"Aku tidak ingin kau klimaks hanya dengan mulutku. So… Fuck me harder !" Sakura merangkak menuju sofa di dekat ranjang perawatannya. Kemudian merebahkan tubuh telanjangnya di sana dengan kedua kaki yang dinaikan ke atas dengan posisi menantang dan senyum sensual.

Selanjutnya, yang ada dalam pandangan Sasuke hanya kabut nafsu saja.

-0000-

Mebuki sedang menikmati siang santainya bersama Fugaku di ruangan sang petinggi Uchiha. Kedua insan itu tengah menyesap minuman mereka masing-masing. Fugaku dengan sake- nya dan Mebuki dengan segelas ocha hangat – Fugaku menolak memberinya sake karena kehamilan Mebuki-.

"Bagaimana malam pertamamu dengan 'suami' mu?" Tanya Fugaku sarkastis. Mebuki hanya menanggapi dengan senyuman pertanyaan dari Ayah mertuanya itu.

"Sangat menyenangkan, Ayah mertua. Seharusnya kau tahu itu…" jawab Nyonya Haruno itu dengan tawa. –Mebuki menolak melepas nama Haruno dari namanya, meski dia sudah menjadi istri Sasuke sekarang karena jabatannya sebagai Presdir dari HARUNO GROUP peninggalan Kizashi-

"Apa kau menyukai tubuh putra bungsuku?"

"Sasuke memiliki tubuh yang sangat bagus. Tidak mungkin aku katakan aku tidak menyukainya…" jawab Mebuki enteng, sementara Fugaku mendengus mendengar jawaban 'kekasih gelap'nya itu.

"Mungkin kau akan merubah seleramu…" ada nada kesal dari ucapan Fugaku yang membuat Mebuki tersenyum geli. Wanita cantik itu langsung menggelayut manja di lengan Fugaku sambil menyenderkan kepalanya di dada bidang lelaki paruh baya itu.

"Tapi tidak ada yang mampu memuaskanku selain dirimu…" bisik Mebuki nakal ke telinga Fugaku yang disambut lelaki itu dengan senyuman yang sedikit menghiasi wajah kakunya.

Sebagai balasan kalimat seduktif wanita-nya, Fugaku mendaratkan kecupan di bibir Mebuki yang disambut Mebuki dengan penuh semangat.

Namun baru saja mereka menikmati sesi saling melumat bibir, seseorang mengentuk pintu ruangan Fugaku. Itu artinya ada sesuatu yang penting, karena Fugaku sudah berpesan pada asistennya, Izumi, untuk tidak menerima tamu untuk dirinya kecuali sangat penting.

"Tuan Besar Fugaku…" suara lembut Uchiha Izumi dibalik pintu membuat Fugaku dan Mebuki melepaskan ciumannya dan duduk sambil saling merapihkan pakaian dan penampilan mereka agar terlihat seperti biasa.

"Ada apa Izumi ?" jawab Fugaku datar.

"Tuan Muda Itachi datang dan ingin bertemu dengan Tuan Besar Fugaku sekarang. Dapatkah saya mengizinkannya masuk?" belum juga Fugaku memberikan jawaban, sosok putra sulungnya dari Mikoto sudah menyeruak. Uchiha Itachi, sang Uchiha sulung yang tengah menimba ilmu di luar negeri demi perkembangan Uchiha Corp.

"Tou-san... aku datang." Itachi menghambur dengan semangat menghampiri sang Ayah. Namun langkahnya mendadak surut saat melihat sesosok wanita cantik yang sedang duduk dengan anggun tak jauh dari Ayahnya. Wanita itu tersenyum ramah ke arahnya, iris matanya yang hijau menatapnya dengan hangat.

"Perkenalkan Itachi, dia adalah saudara iparmu. Istri dari adikmu, Sasuke…"

Dan Itachi hanya mematung mendengar perkataan dari sang Ayah. Dia memang sudah mendengar kabar langsung dari sang Ayah bahwa adiknya yang merepotkan itu akan segera menikah dan melepas masa lajang mendahuluinya. Itachi ikut berbahagia dan sama sekali tidak mempermasalahkan Sasuke yang menikah mendahuluinya. Tapi dengan wanita ini ? wanita yang bahkan lebih pantas bersama Ayah mereka ini?

Bagaimana mungkin…?

-00000-

BERSAMBUNG-

Terimakasih atas kesabaran kalian yang masih (mau-maunya) nunggu apdetan fict ini :D

Hontou ni Arigatou

Salam sayang,

#BiniPertamaCanon Uchiha Itachi

odes