Mingyu diam saja menyaksikan pemandangan di depannya. Antara terkejut dan bingung, entah mana yang lebih mendominasi. Akhirnya Mijung melirik adiknya yang diam terus menonton. Melepaskan pelukan itu lalu menatap laki-laki bersurai hitam di depannya.

"Kau kemana saja?" Tanya Mijung. Raut khawatir tercipta di wajah gadis berusia 27 tahun itu.

"Saat noona pulang ke Korea, Woobin hyung mengirimku ke rumah nenek di Changwon." Wonwoo menjelaskan, berusaha membuat orang di depannya tenang.

"Aku benar-benar mengkhawatirkanmu. Woobin bilang kau kabur dari rumah. Aku hampir ingin memukulnya karena ia begitu santai saat menjelaskannya padaku. Tapi melihatmu sekarang, aku benar-benar lega." Ucap Mijung. Sungguh, rasanya lega sekali melihat Wonwoo saat ini.

"Seseorang bisa tolong jelaskan apa yang terjadi?" Mingyu membuka suara setelah sedari tadi hanya menonton

"Tunggu. Kau kenal dengan Mingyu?" Tanya Mijung pada Wonwoo dan dibalas anggukan darinya.

"Dunia ini semakin terasa sempit saja." Gumam Mijung. "Kalian berada di sekolah yang sama?"

"Ya begitulah, noona. Mingyu adalah juniorku di sekolah." Jelas Wonwoo.

"Duduklah. Aku akan menjelaskannya padamu." Ucap Mijung sambil menarik adiknya untuk duduk. Wonwoo pun ikut duduk disana.
"Jadi begini, Wonwoo ini adalah adik dari teman kuliahku, Woobin. Hubungan keduanya tidak begitu baik jadi Wonwoo menghabiskan waktunya bersamaku selama aku kuliah di Jepang."

"Mijung noona menemaniku selama aku tinggal di Jepang." Tambah Wonwoo. Mingyu mengangguk mengerti. Jauh didalam hatinya ia merasa senang. Hey Wonwoo dan Mijung sudah saling kenal! Ini akan memudahkan langkahnya untuk semakin dekat dengan laki-laki bersurai hitam pekat itu.

"Tapi tunggu dulu! Wonwoo kenapa kau kesini ditengah malam seperti ini?" Tanya Mijung bingung sementara yang ditatap hanya diam tanpa berani menjawab. Satu yang masih ia ingat, Mijung mudah panik. Jika ia katakan bahwa ada orang gila yang mengganggunya saat tidur, sudah pasti gadis berperawakan tinggi itu akan panik.

"Wonwoo hyung kesini atas permintaanku, noona." Mingyu membuka suara. Bohong? Entahlah. Mingyu dengan cepat membaca situasi. Hey dia hidup dengan Mijung selama 18 tahun, ia sudah tau sifat buruk kakaknya yang mudah panik. Mijung mengerutkan keningnya, bingung atas jawaban yang dilontarkan Mingyu.

"Ditengah malam? Untuk apa?"

"Aku...butuh teman untuk menonton film. Ya, film"

"Astaga Kim Mingyu, kenapa kau mengganggu waktu istirahat seseorang?!" Mijung dengan gesit menarik telinga adik laki-lakinya, membuat Mingyu meringis tertahan.

"Tidak apa-apa, noona. Lagipula aku tinggal sendiri disini, aku merasa bosan dirumah." Wonwoo membela kebohongan Mingyu. Mingyu tersenyum menang pada kakaknya lalu segera melepaskan diri. Berpindah untuk duduk disebelah Wonwoo, lalu tersenyum mengejek pada Mijung.

"Baiklah. Baiklah. Aku akan melanjutkan tidurku sekarang. Menginaplah Wonwoo, besok aku akan mengatarmu pulang. Aku juga ingin tau dimana kau tinggal sekarang." ucap Mijung lalu dengan lembut mengusak surai hitam itu. Wonwoo mengangguk sambil tersenyum. Setelahnya Mijung kembali ke kamarnya untuk beristirahat.

"Bagus. Siapa yang terlihat seperti adiknya sekarang." Gerutu Mingyu.

"Kau yakin kau itu anak kandung?" Wonwoo menyeringai jahil. Mingyu memutar bola matanya malas.

"Baiklah. Ayo temani aku menonton." Mingyu merangkul bahu yang lebih tua untuk mendekat pada tubuhnya.

"Jangan salahkan aku jika nanti aku tertidur. Aku mulai mengantuk." Wonwoo mengingatkan. Kantuk memang mulai menyerangnya kembali.

"Hyung, tadi saat aku pergi keluar untuk makan tteokpokki, aku bertemu dengan temanmu." Mingyu bicara masih fokus pada film yang terputar di televisinya.

"Siapa?" Wonwoo menyahut dengan kesadarannya yang mulai berkurang.

"Temanmu yang pernah datang ke sekolah."

"Ahh Choi Seungcheol" Gumam Wonwoo, "Kalian makan bersama?"

Mingyu mengernyit "Apa aku terlihat ingin akrab dengannya?" Wonwoo mengendikan bahunya, mulai tidak peduli dengan apa yang dibicarakan Mingyu. Ia hanya ingin tidur sekarang. Mingyu memperhatikan bagaimana Wonwoo mulai kehilangan kesadaran. Kepalanya bersandar pada bahu Mingyu, menyamankan diri. Siap menjemput dunia mimpi. Mingyu tertawa pelan lalu tiba-tiba menyeringai.

Dengan perlahan ia mendaratkan kecupan pada bibir tipis Wonwoo. Awalnya hanya kecupan ringan, beberapa saat kemudian Mingyu mulai melumat bibir itu. Merasa terganggu, Wonwoo pun terbangun dan setelah sadar apa yang dilakukan Mingyu padanya, dengan kesadaran penuh ia mendorong Mingyu hingga laki-laki bermarga Kim itu jatuh dari sofa.

"Sudah kubilang aku mengantuk!" Gerutu Wonwoo yang lebih kelihatan merajuk menurut Mingyu. Mingyu tertawa lalu kembali bersandar pada sofa.

"Mengantuk? Sekarang? Benarkah?" Mingyu dalam mode menyebalkannya, pikir Wonwoo. Wonwoo berdiri dari duduknya, membuat Mingyu mengernyit. "Mau kemana?"

"Tidur dengan Jun." Jawab Wonwoo. Jika ia tidak bisa istirahat dengan tenang di sisi Mingyu, ia akan mencari tempat yang lebih nyaman sekalipun bukan dengan laki-laki bermarga Kim itu.

"Tidak! Tidak!" Mingyu menarik tangan Wonwoo, hingga si empunya kembali duduk. Mingyu menarik Wonwoo dalam dekapannya. "Tidurlah. Aku tidak akan mengganggumu."

"Jika kau melaku-"

"Tidak. Yang tadi sudah cukup." Mingyu menjelaskan, "Kecuali kau memintanya lagi." Dan kembali menyebalkan. Wonwoo memutar bola matanya.

"Selamat malam, Kim Mingyu." Wonwoo menyamankan diri dalam dekapan yang lebih muda. Mingyu tersenyum kemudian mengecup dahi Wonwoo.

"Selamat tidur, hyung."

.

.

.

.

"Oppa! Oppa!"

"Kami akan pergi ke rumah bibi, Appa bilang kau harus jaga rumah."

Jam menunjukan pukul 8.00 a.m KST. Seohyun dan Seojun berusaha membangunkan Seokmin yang masih menempel dengan ranjangnnya. Kedua anak manis itu mulai gerah dengan kebiasaan Seokmin yang sulit dibangunkan.

"Apa kita perlu menghubungi Soonyoung oppa." Gumam Seohyun kemudian bergegas mengambil ponsel Seokmin di meja nakas. Seojun mengekori kakaknya.

"Soonyoung oppa itu siapa?" Tanya Seojun berbisik. Seohyun menoleh lalu kembali fokus mencari kontak yang dituju.

"Yeoboseyo? Soonyoung oppa?"

"Aku Lee Seohyun, adik Seokmin oppa."

"Bisakah oppa datang kerumahku?"

"Yaa, sulit sekali membangunkannya."

"Baiklah, terima kasih, oppa."

Seohyun menutup sambungan telepon lalu mengetik sesuatu di ponsel itu. Tak lama ia meletakan kembali ponsel itu pada meja nakas.

"Itu pacar Seokmin oppa." Seohyun menjawab pertanyaan adiknya. "Aku sering mendengar oppa berbicara dengan seseorang bernama Soonyoung di telepon, aku pikir itu pacarnya." Dan Seojun hanya berkedip, tidak mengerti. Seohyun mendesah, percuma saja adiknya terlalu kecil untuk mengerti.

"Ayo pergi, appa sudah menunggu kita." Seojun menarik tangan adiknya keluar.

Setelah hampir 30menit setelah kepergian Seojun dan Seohyun, pintu kamar Seokmin kembali terbuka namun bukan adiknya yang masuk melainkan sosok laki-laki berambut blonde. Ia mendengus melihat si pemilik kamar masih terlelap. Perlahan laki-laki itu duduk di tepi ranjang lalu menepuk pipi Seokmin.

"Bangun!"

"Nggh hentikan, Seojun!" Gerutu Seokmin.

"Lee Seokmin, cepat bangun!" Soonyoung lalu mencubit perut Seokmin hingga si empunya meringis keras.

"Akh! Lepaskan aku!" Sadar sepenuhnya, Seokmin mendudukan dirinya sambil meringis. "Seo- oh hyung?!"

"Apa?! Cepat bangun!"

"Aku masih mengantuk, hyung" Seokmin merengek lalu kembali memposisikan dirinya untuk tidur namun dengan cepat Soonyoung menariknya.

"Cepat mandi! Ini akhir pekan tapi bukan berarti kau bisa malas-malasan, Seokmin." Soonyoung mengomel persis seperti seseorang yang sangat ia sayang, dulu. Seokmin menatap intens pada Soonyoung membuatnya mengernyit bingung. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"

"Kau mengomeliku seperti ibuku." Ucap Seokmin, "Seandainya ia masih disini, kalian pasti sangat cocok." Seokmin tertawa pelan. Mengerti maksud ucapan Seokmin, Soonyoung menggengam tangan kekasihnya lalu memberi senyum terbaik yang ia miliki.

"Mandilah. Aku akan siapkan sarapan untukmu." Ucap Soonyoung lalu merapikan rabut Seokmin yang berantakan. "Ah iya, appa dan adik-adikmu pergi."

"Kemana?"

"Entahlah. Adikmu tidak bilang."

"Tunggu! Bagaimana bisa kau tau rumahku?"

"Adikmu menghubungiku"

"Anak itu benar-benar" Seokmin menggerutu. "Baiklah, aku akan mandi." Soonyoung mengangguk lalu berencana untuk pergi sampai tangan Seokmin menariknya mendekat lalu mendaratkan kecupan ringan pada bibir si pemilik rambut blonde. "Selamat pagi, Lee Soonyoung." Lalu bergegas lari untuk mandi.

"Yak! Apa yang kau lakukan?!"

.

.
.

"Kim Mingyu! Hey bangun!" Jun menggoyangkan tubuh sepupunya itu dan berhasil. Mingyu bangun dari tidurnya. Melakukan beberapa gerakan untuk merenggangkan tubuhnya.

"Ada apa, hyung?" Mingyu bertanya setelah kesadarannya penuh.

"Cepat mandi. Noona dan Wonwoo pergi berbelanja bahan makanan, sebentar lagi mereka pulang. Kau dan aku harus memasak." Jun menjelaskan. Mingyu dengan malas bergegas pergi ke kamar mandi. Jun merebahkan tubuh tingginya di sofa, mencoba bersantai sesaat. Namun tak lama, bel rumah besar itu berbunyi, membuat Jun dengan gerakan lambat berjalan menuju pintu rumag mereka. Jun memutar kenop lalu menarik pintu,

"Siapa- Oh ada apa?" Tanya Jun. Beruntung baginya memiliki bakat dalam berakting. Hey laki-laki didepannya sudah menolaknya -walau tidak secara langsung- dan sekarang Jun berusaha untuk terlihat tidak tertarik lagi padanya. Bohong jika ia bilang sudah tidak tertarik pada laki-laki berparas imut didepannya sekarang tapi daripada mendapat penolakan lagi, lebih baik ia mundur.

"Kim Mingyu ada dirumah?" Tanya Minghao.

"Ada, ia sedang mandi. Masuklah." Jawab Jun sopan namun terkesan cuek. Bagus Jun.

Minghao masuk ke dalam rumah besar itu lalu duduk di sofa sambil menunggu Mingyu. Jun? Dia memilih masuk ke dapur. Berhadapan dengan Minghao berpotensi menggoyahkan pendiriannya untuk menjauhkan diri dari laki-laki berparas imut itu.

"Mereka sudah datang? Mau masak sekarang?" Mingyu bertanya lalu membuka kulkas, mencari minuman segar untuknya.

"Belum. Oh ya, temanmu yang beberapa hari datang kesini ada di ruang tamu." Ucap Jun dalam mode cueknya. Mengerti orang yang dimaksud Jun, Mingyu menoleh. Memperhatikan gelagat sepupunya yang aneh.

"Wah ada apa denganmu? Kemarin tersenyum seperti orang gila, sekarang terlihat tidak peduli." Mingyu masih memperhatikan Jun sambil menahan tawa. Hey hey Mingyu tidak bodoh untuk menyadari kepura-puraan Jun.

"Dia sudah tidak menarik." Lagi dan lagi bersikap cuek.

"Oh yasudah. Tolong buatkan minum untuknya, hyung." Pinta Mingyu lalu pergi meninggalkan Jun didapur sambil menyeringai. Jun kemudian membuatkan minuman untuk Minghao sesuai permintaan Mingyu.

"Sudah lama?" Mingyu mendudukan dirinya disebelah Minghao.

"Lumayan. Aku berencana melanjutkan tugas kita, kau tidak sibuk kan?" Tanya Minghao. Mingyu menggeleng. Tak lama terdengar langkah kaki dari arah dapur. Mingyu yang mendengarnya secara tiba-tiba merangkul bahu sahabatnya itu. Yang dirangkul tentu biasa saja, toh mereka sudah lama berteman dan Mingyu sudah telalu sering bertingkah aneh didepannya. Kalau hanya rangkulan seperti ini, belum cukup aneh bagi Minghao.

"Ini..." Kata-kata Jun menggantung lalu menatap tangan Mingyu yang berada pada bahu Minghao, "...minumannya" dengan sedikit penekanan, ia melanjutkan kata-katanya lalu meletakan orange jus itu dimeja.

"Hyung, kau kan pintar, bisa bantu kami mengerjakan tugas? Semua rumus kimia ini membuatku pusing. Kau setuju kan, Ming?" Mingyu mengeratkan rangkulannya pada bahu Minghao membuat si pemilik bahu sedikit risih.

"Aku setuju saja" Jawab Minghao. Jun menggertakan giginya, namun sebisa mungkin terlihat santai.

"Baiklah, aku akan membantu kalian."

Mingyu benar-benar mengerjai Jun habis-habisan. Ia tau Jun masih menyukai Minghao namun entah karena apa tiba-tiba laki-laki berparas tampan itu bersikap seolah-olah tidak tertarik lagi. Mulai dari merangkul, mengusak rambut Minghao, membisikan sesuatu ditelinganya sampai menggoda Minghao, semua dilakukan Mingyu dan berhasil membuat Jun naik pitam. Mingyu sempat khawatir karena Wonwoo dan noonanya sudah kembali. Namun setelah menjelaskanya pada Wonwoo lewat pesan singkat, Mingyu tidak khawatir lagi. Jadilah Wonwoo dan Mijung yang memasak makan siang untuk mereka.

"Kalian sudah mengerti?" Tanya Jun setelah selesai menjelaskan materi pada kedua mahluk didepannya.

"Aku mengerti. Ah aku ingin melihat apa yang noona dan Wonwoo hyung masak." Gumam Mingyu lalu bergegas ke dapur, meninggalkan Minghao yang masih menulis dan Jun yang sedang membaca buku Kimia milik Mingyu.

"Hyung, bisa jelaskan lagi dibagian ini?" Tanya Minghao lalu menyodorkan bukunya ke depan Jun.

"Kau gunakan rumus ini setelah dapat hasilnya gunakan rumus di nomor 4." Jun menjelaskan.

"Ah~ jadi untuk nomor selanjutnya juga seperti itu?"

"Jika soalnya seperti ini, benar. Kau gunakan kedua rumus ini."

"Baiklah." Minghao kembali menulis sambil menggumamkan rumus yang ia gunakan. Diam-diam laki-laki berparas imut itu mengaggumi betapa pintarnya Jun.
Sementara itu di dapur, Mingyu tengah meringis setelah sebelumnya Wonwoo menghadiahi pukulan manis dikepalanya. Mijung hanya tertawa melihat pemandangan didepannya, tidak berniat membela adik laki-lakinya.

"Dasar nakal! Kenapa kau ganggu Jun seperti itu!?" Gerutu Wonwoo sambil memotong lobak. Mingyu mendekatinya dengan wajah merajuk.

"Aku hanya bercanda, hyung. Lagi pula dengan begini, mereka akan semakin dekat." Mingyu membela diri.

"Jun akan membunuhmu setelah ini, aku jamin itu." Mijung menyahut sambil tertawa. Mingyu melempar salah satu potongan lobak pada Mijung namun dengan gesit ditangkap oleh gadis cantik itu. "Dan kau akan dicincang Wonwoo, sekarang." Mijung tertawa semakin keras.

"KIM MINGYU! JANGAN BUANG POTONGAN LOBAKKU!"

.

.

.

Mijoo mulai malas mengayuh sepedanya, sementara Hansol masih bersemangat. Bersepeda adalah salah satu hobinya. Keduanya akhirnya sampai disebuah padang rumput. Mijoo mengistirahatkan diri dibawah sebuah pohon lalu diikuti oleh Hansol.

"Sebenarnya untuk apa kau membawaku kesini?" Hansol membuka suara.

"Jihoon akan datang kesini sebentar lagi." Jawab Mijoo sambil memperhatikan jam tangannya.

"Ah ternyata rencana itu" Gumam Hansol lalu berbaring diatas rumput. Mijoo memicingkan matanya, memperhatikan tempat itu kalau-kalau Jihoon sampai disana.

"Dia datang! Dia datang! Ayo bangun, Hansol!" Ucap Mijoo sambil membangunkan Hansol yang dengan malas berdiri dari kegiatan berbaringnya.

"Ada apa kau memanggilku kemari?" Tanya Jihoon setelah memarkir sepedanya.

"Bagaimana dengan kakimu?" Mijoo berbasa-basi sebelum mengatakan tujuannya.

"Sudah membaik, seperti yang kukatakan ini hanya luka kecil."

"Jadi sebenarnya...tentang apa yang aku ucapkan kemarin padamu..." Mijoo menggantung kalimatnya.

"Aku sudah melupakannya. Tenang saja." Jawab Jihoon.

"Te-tentu! Anggap saja a-aku tidak pernah mengucapkannya padamu!" Ucap Mijoo kaku. Hansol melirik sahabatnya, pertahanan gadis berambut panjang itu mulai goyah. Dengan cepat Hansol menggenggam erat tangan Mijoo, membuat gadis itu menoleh.

"Kau sudah selesaikan? Ayo pergi." Hansol menarik tangan Mijoo untuk pergi. Keduanya kembali mengayuh sepeda mereka, menjauh dari Jihoon.

"Siapa anak itu?"

Sementara Mijoo menatap kosong pada jalan. Hansol mendesah lalu menyuruhnya untuk berhenti setelah dirasa mereka sudah cukup jauh dari Jihoon. Duduk disebuah taman menjadi pilihan mereka.

"Baru seperti itu saja, kau susah goyah." Ucap Hansol sembari menyandarkan tubuhnya pada bangku ditaman itu.

"Sulit sekali" Gumam Mijoo.

"Hey, ini baru permulaan. Kau sendiri kan yang bilang." Hansol memberikan botol minumnya yang ia bawa dari rumah. Mijoo menenggak isinya hingga habis.

"Kau benar. Ini baru permulaan." Ucap Mijoo meyakinkan dirinya. "Kim Mijoo fighting!" Hansol tertawa setelahnya lalu mengusak rambut panjang sahabatnya itu.

"Ah omong-omong, kau belum punya pacar, Hansol?"

"Belum, dan tidak berniat untuk itu"

"Kau ini. Dari dulu selalu bilang seperti itu!" Mijoo menggerutu lalu menyikut lengan Hansol.

"Mengurusi satu gadis saja aku sudah cukup pusing." Hansol meringis.

"Kau membicarakanku?" Mijoo merajuk membuat Hansol tertawa. "Sungguh, apa tidak ada yang membuatmu tertarik?"

"Bukan tidak ada, tapi belum" Jawab Hansol.

"Baiklah, baiklah. Ayo pulang. Kau harus ikut makan siang dirumahku." Mijoo memerintah yang dengan senang hati dilaksanakan oleh Hansol.

.

.

.

Makan siang dikediaman keluarga Kim sangatlah ramai. Mijung, si kembar, Jun, Wonwoo, Minghao dan Hansol makan bersama diruang makan besar itu. Mereka memuji hasil masakan Mijung dan Wonwoo ditambah asisten Chef, Mingyu. Setelah makan siang selesai, Hansol dan Mijoo kembali bermain bersama, sementara Jun mengantar Minghao pulang.

"Wonwoo, maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang. Ada berkas yang harus aku ambil di kantor." Ucap Mijung pada Wonwoo yang sedang mencuci piring.

"Tidak apa-apa, noona. Aku bisa pulang sendiri." Jawab Wonwoo sambil merapihkan piring-piring.

"Tidak-tidak. Kau bisa pulang dengan Mingyu." "Mingyu!"

"Ada apa?" Sahut Mingyu dari ruang tamu.

"Antarkan Wonwoo pulang! Aku harus pergi ke kantor. Gunakan mobilku, aku bisa pergi dengan taksi."

"Siap kapten!" Sahut Mingyu.

"Aku pergi dulu. Tiap akhir pekan kau harus berkunjung. Ingat itu." Ucap Mijung sambil tersenyum pada Wonwoo, lalu bergegas pergi. Wonwoo tersenyum. Senang sekali rasanya bisa bertemu dengan Mijung lagi. Mijung bahkan jauh lebih memperhatikannya dibanding kakaknya sendiri. Setelah selesai mencuci semua piring, ia pun bergegas pulang bersama Mingyu yang mengantarnya.

"Hyung, nanti malam kau bekerja?" Tanya Mingyu. Laki-laki bermarga Kim itu memegang kendali mobil, sementara Wonwoo duduk disebelahnya.

"Iya." Jawab Wonwoo, "Jangan coba-coba untuk datang ke tempat kerjaku, Kim Mingyu! Besok hari Senin dan aku tidak mau kau terlambat datang ke sekolah." Lanjutnya sambil memicingkan matanya pada orang disebelahnya.

"Aku tidak janji." Jawab Mingyu lalu tersenyum jahil. Wonwoo mengendus kesal. Keras kepala Mingyu memang sulit dihadapi.

"Besok aku akan membawa bekal untuk kita berdua. Kau harus coba masakan buatanku, hyung." Ucap Mingyu bersemangat. Wonwoo tertawa lalu mengangguk setuju. Setelah 20 menit, mobil mereka sampai didepan rumah Wonwoo. Baru saja Wonwoo akan turun, Mingyu menahan tangannya membuat si empunya menoleh.

"Ada apa lagi?"

"Terima kasih sudah menginap dirumahku. Terima kasih sudah berada disisiku. Terima kasih sudah menghabiskan waktu denganku." Mingyu menggenggam tangan Wonwoo. Wonwoo tersenyum lembut lalu mengangguk.

"Terimakasih juga untuk kehadiranmu selama ini, aku tidak merasa kesepian lagi setelah mengenalmu." Wonwoo membalas. Perlahan Mingyu mendekatkan dirinya pada Wonwoo, memberi kecupan-kecupan ringan pada bibir tipis Wonwoo. Bibir itu bagai candu untuk Mingyu. Semakin ia ingin berhenti semakin ia menginginkannya. Wonwoo meremas lengan hoodie Mingyu. Mingyu mulai lepas kendali. Ia menginginkan sesuatu yang lebih. Tangannya turun, mulai mengelus pinggang ramping Wonwoo. Wonwoo menahan tangan Mingyu yang masuk kedalam piyamanya. Ciuman keduanya terhenti namun masih enggan memberi jarak. Tangan Wonwoo yang bebas terangkat untuk mengelus pipi Mingyu, lalu sekali lagi mengecup bibir yang lebih muda.

"Hentikan sebelum kita benar-benar lepas kendali." Bisik Wonwoo. Mingyu menyeringai lalu keduanya pun dengan malas manjauhkan tubuh mereka.

"Jadi...sampai bertemu besok?" Mingyu membuka suara setelah keduanya lama terdiam. Wonwoo menoleh lalu mengangguk.

"Sampai jumpa, besok." Ucap Mingyu lalu Wonwoo pun turun dari mobil mewah itu. Mingyu masih memperhatikan tubuh ramping Wonwoo hingga menghilang dibalik pintu rumahnya.

"Aku menyayangimu, Jeon Wonwoo"

Sementara itu ditempat lain, sebuah mobil melintas membawa dua orang di dalamnya. Jun yang memegang kendali mobil sedang mengantar Minghao pulang. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.

"Hyung" Minghao membuka suara.

"Hmm ada apa?" Sahut Jun masih fokus pada jalan.

"Terima kasih sudah membantuku mengerjakan tugas dan mengantarku pulang" Jun tersenyum tipis sebagai jawaban.

'Dilihat-lihat, Jun hyung sangat tampan'

"Ada yang salah dengan wajahku?" Merasa diperhatikan oleh orang disebelahnya, Jun pun bersuara.

"Ti-tidak ada." Minghao gugup karena tertangkap basah sedang memperhatikan Jun.

'Kendalikan dirimu, Junhui.'

"Turunkan aku didepan toko boneka itu, hyung" Ucap Minghao. Setelahnya Jun menghentikan mobil sesuai perintah Minghao. "Terima kasih banyak, hyung. Sampai jumpa." Ucap Minghao lagi.

"Hmm sampai jumpa." Jawab Jun sambil tersenyum. Minghao pun turun dari mobil dan mobil itu kembali berjalan namun secara perlahan. Jun memperhatikan Minghao lewat kaca spion mobilnya. Minghao masih berdiri didepan toko boneka itu sambil memperhatikan boneka terbesar yang ada disana. Boneka teddy berwarna cokelat madu. Tak lama Minghao pun beranjak dari tempat itu.

"Jadi boneka teddy, huh?"

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Author kehilangan arah(?) tiba-tiba lupa jalan ceritanya...dan sekarang sedang proses menyusun kembali ingatan yang hilang muehehe Gak puas? Maafkan author guys. Oh ya, kemaren ada yang nanya ini Mijoo Lovelyz atau bukan? jawabannya BUKAN hohoho maafkan kalo ada kesamaan nama tapi author sendiri gak ngefeel kalau cast wanitanya author kenal(?) author tak rela /gantung laptop/

Terima kasih masih ada yang menanyakan ff membingungkan ini, sungguh ku terhura /peluk readers/ Saya akan bekerja lebih keras lagi. Thankschuuu:*****

Maaf jika ada kesalahan pengetikan, author typoranger huhu

baiklah chap selanjutnya dalam proses.

.

REVIEW GO GO GO!