Kedua mobil itu memasuki rumah besar bercat cokelat. Kedua pengemudinya pun keluar dari mobil mereka masing-masing. Pengemudi pertama keluar dengan wajah sumringah, sementara yang kedua dengan wajah kesal segera menghampiri si pengemudi pertama. Menjepit kepala laki-laki yang sedikit lebih tinggi darinya diantara lengan kirinya.

"Hyung! Lepaskan aku!" Jerit Mingyu ketika tiba-tiba Jun menyerangnya.

"Aku akan mematahkan lehermu, Kim Mingyu!" Jun tidak serius, sungguh. Namun ia menyayangkan karena Mingyu adalah sepupunya. Seandainya Mingyu adalah orang asing, mungkin Jun akan benar-benar mematahkan lehernya.

"Hyung! Ak-aku sulit bernapas!" Masih berjuang melepaskan diri dari sang sepupu yang kekuatannya 2 kali lebih besar darinya. Jun pada akhirnya dengan setengah hati melepaskan Mingyu.

"Apa maksudmu?! Aku benar-benar menahan diri untuk tidak memukul wajah menyebalkanmu tadi!" Jun menggerutu dengan wajah kesal. Mingyu dengan senyum tanpa dosa, merangkul bahu Jun.

"Berhentilah berpura-pura tidak peduli, hyung." Mingyu menaikan sebelah alisnya, kembali dalam mode menyebalkannya. "Aku tau, kau masih mengharapkan Minghao."

"Lepaskan aku, bocah". Kebiasaan Jun yang tidak pernah hilang. Dia akan kabur jika merasa terpojokan. Selamat untuk Mingyu. Terbukti laki-laki bermarga Wen itu meninggalkan Mingyu yang tersenyum penuh kemenangan. Dengan segera Mingyu menyusul Jun masuk kedalam rumah.

Rumah itu sepi. Untuk kesekian kalinya ketika Jun beristirahat di ruang tengah bersama Mingyu, rumah itu terasa lenggang. Beberapa kali terdengar celotehan Mijoo dari kamarnya menyusul suara tertawa Hansol. Jun merebahkan tubuh tingginya pada sofa terpanjang. Mingyu duduk diseberangnya. Keduanya hanya diam sampai Mingyu membuka percakapan.

"Hyung" Masih dengan posisi nyamannya, bersandar malas pada sofa, Mingyu bertanya pada Jun yang membalas dengan gumaman. "Kau pernah berciuman?" hampir seperti berdesis suara yang dikeluarkan Mingyu.

Bingo! Jun hampir terlelap namun kesadarannya kembali setelah mendengar pertanyaan Mingyu. Ia menegakan tubuhnya lalu menatap intens sang sepupu dengan mata kebanggaannya. "Untuk apa kau menanyakan itu?"

"Hanya penasaran saja" Sungguh ia hanya penasaran dengan sepupunya. Mingyu dan Jun sangat dekat sejak mereka kecil dan bukan Mingyu tidak menyadari bahwa Jun tumbuh menjadi laki-laki tampan. Jun sulit sekali tulus dengan seseorang. Bukan berarti dia seorang pemain, hanya saja ia sulit untuk benar-benar menyukai seseorang.

"Pernah." Jun kembali berbaring, enggan melanjutkan pembicaraan mereka.

"Dengan kekasihmu?"

"Cinta pertamaku" Mingyu mengernyit. Jun tidak pernah menceritakan perihal cinta pertamanya. Mereka memang terpisah namun Jun selalu bercerita apapun yang ia lakukan di Shenzhen, kecuali yang satu ini.

"Wah kau tidak pernah cerita padaku, hyung."

"Sangat tidak menarik" Jun menutup matanya, berusaha sebisa mungkin untuk tidur. Kepalanya pening.

"Kau baik-baik saja, hyung?" Mingyu memperhatikan gerak-gerik Jun. Ia tau Jun tidak ingin membahas lebih lanjut.

"Pertanyaanmu membuatku ingin mencium sesuatu." Antara bergurau atau mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana kalau aku menciummu?"

"Lebih baik kau masukan aku dalam peti mati." Gerutu Mingyu. Jun tertawa. Sepupunya memang bodoh.

"Bagaimana dengamu?" Jun menatap sepupunya, seringai jahil mulai terpatri diwajah tampannya. "Sudah berapa kali kalian berciuman?"

"A-apa maksudmu? Ka-kami tidak melakukan apa pun selain berpegangan tangan." Bohong. Jun tau Mingyu berbohong maka dari itu dengan gerakan cepat Jun melemparkan sebuah bantal pada sang sepupu.

"Hentikan kebohonganmu, bodoh. Sudah mengaku saja!" Jun semakin memojokan Mingyu.

"Beberapa kali." Mingyu mendesis namun masih terdengar oleh pendengaran Jun. Jun menyeringai lalu dengan sekali lompatan berhasil berpindah ke sisi kiri Mingyu.

"Bagaimana rasanya?"

"Manis dan memabukan. Kau tau, rasanya sulit untuk dihentikan."

"Wah sepertinya kau cukup berpengalaman."

"Tidak. Aku rasa itu naluriah."

"Bagaimana dengan making love?"

"HYUNG!"

.

.

.
.

"Ada apa?"

"..."

"Aku baik-baik saja."

"..."

"Tidak perlu hubungi aku, aku tau kau sibuk."

Wonwoo dengan segera menutup telepon, sebelum si penelepon membalas ucapannya. Menyimpan ponsel itu disakunya kemudian melirik jam tangannya, hampir pukul 4.00 pagi. Sepuluh menit sebelum jam kerjanya habis. Ia hendak melepas apron ditubuhnya sampai pintu cafe terbuka, seseorang memasuki cafe. Wonwoo menoleh dan mengernyit melihat siapa yang datang.

"Bagaimana kau tau tempat kerjaku?"

"Tidak ada yang tidak aku tau darimu, Wonwoo." Balas orang itu kemudian tersenyum jahil kearah laki-laki bermarga Jeon dibelakang meja kasir itu.

"Jam kerjaku hampir selesai, sunbae." Wonwoo melepas apron ditubuhnya namun masih setia berdiri dibelakang meja kasir. "Mau pesan apa?"

"Aku ingin Ice Americano dengan tambahan 'hyung'." Lagi-lagi mengeluarkan senyum jahil diwajah tampannya, Wonwoo hanya tersenyum sambil menggeleng. Membuatkan pesanan dari orang didepannya.

"Ini dia Ice Americano-mu" Wonwoo meletakan Americano itu didepannya. "-Seungcheol 'hyung'." Menekankan bagian 'hyung' dalam ucapannya membuat laki-laki bernama Seungcheol itu tertawa geli lalu menyeruput minumannya setelah membayar terlebih dahulu.

"Kau ingin pulang?" Seungcheol bertanya karena melihat Wonwoo hendak pergi.

"Aku ingin ganti pakaian setelah itu pulang. Kau pulanglah lebih dulu, hyung."

"Aku akan mengantarmu pulang, lagipula besok aku tidak ada kelas." Seungcheol kembali menyeruput minumannya setelah Wonwoo pergi untuk mengganti pakaiannya. "Americano ini jadi terasa manis." Gumamnya pelan.

Tak lama Wonwoo pun siap untuk pulang. Keduanya berjalan beriringan dalam diam. Seungcheol tanpa meminta persetujuan, menggenggam tangan Wonwoo. Wonwoo menoleh mendapati tangannya berada digenggaman mantan seniornya saat berada di Jepang itu. Berusaha melepaskannya namun sayang Seungcheol tidak berniat melepaskannya.

"Hyung-"

"Ini tidak akan lama, Wonwoo."

"Kau ini, masih tidak berubah juga. Orang akan salah paham saat melihat kita." Wonwoo mengingatkan kejadian menggelikan saat mereka bersekolah di Jepang. Persis seperti saat ini, bedanya saat itu adalah pulang sekolah di koridor. Teman-teman mereka menatap aneh pada keduanya saat itu.

"Biarkan saja. Mereka hanya iri dengan kita." Seungcheol tersenyum lebar membuat Wonwoo tertawa pelan. Jujur saja ia merindukan Seungcheol. Karena saat berada di sekolah dulu, Seungcheol lah yang selalu ada untuknya. Tak lama keduanya sampai dirumah Wonwoo. Seungcheol memperhatikan rumah itu.

"Kau tinggal sendiri?" Seungcheol bertanya setelah memastikan rumah itu kosong dan gelap.

"Tentu saja. Nenek dan kakek ada di Changwon. Woobin hyung tinggal di Jepang." Wonwoo menjawab seadanya. Mulai terserang kantuk, ia bersandar pada pagar rumahnya.

"Aku akan sering berkunjung." Untuk kesekian kalinya senyum jahil itu muncul di wajah Seungcheol. Wonwoo mendorong pelan bahu kanan Seungcheol.

"Aku tau apa yang ada dipikiranmu, dasar mesum." Wonwoo tertawa pelan dengan kesadarannya yang mulai hilang.

"Baiklah-baiklah, lebih baik kau tidur. Mungkin aku akan berkunjung besok. Sampai jumpa-" Seungcheol menaikan salah satu alisnya lalu tersenyum jahil, lagi. "-Jeonnie."

"Berhenti memanggilku seperti itu!" Wonwoo menggerutu sambil berjalan masuk kedalam rumahnya. Seungcheol melambaikan tangannya lalu pergi.

.

.

.

.

Mingyu berjalan masuk ke sekolah sendirian. Mijoo sudah lebih dulu berangkat bersama Hansol. Entah apa yang terjadi, keduanya semakin menempel saja. Mingyu masih berjalan malas dan tanpa sengaja melihat Seokmin yang baru saja tiba dengan sepedanya. Laki-laki bermarga Kim itu mengernyit melihat dengan siapa Seokmin berangkat. Setelah lama memperhatikan, Seokmin menghampirinya setengah berlari.

"Selamat pagi, Mingyu! Kenapa kau sendirian? Dimana Mijoo?"

"Sejak kapan kau mengenal Soonyoung hyung?" Bukannya menjawab, Mingyu memilih melemparkan pertanyaan kembali pada sahabatnya itu.

"Ah~ sekitar dua minggu yang lalu sepertinya." Jawab Seokmin. Mingyu mengangguk. "Bukankah dia sangat menawan? Aku semakin jatuh cinta padanya." Mingyu melebarkan matanya.

"Tunggu! Ada sesuatu yang tidak aku tau antara kalian?"

"Kami sudah resmi berpacaran..." Seokmin menggantung kalimatnya, melihat bagaimana Mingyu bereaksi.

"Apa?!" Mingyu menatap tidak percaya pada temannya. Baru dua minggu mereka kenal dan mereka sudah resmi berpacaran? Mingyu merasa wajahnya dicoreng dengan spidol hitam kesayangan Jang saem, guru matematika mereka. Ia dan Wonwoo bahkan masih belum beranjak dari status 'teman' namun temannya yang baru saja dua minggu berkenalan sudah memiliki pacar. Baiklah, mungkin ini akan memotivasi Kim Mingyu. Mungkin.

"Apa? Ada yang salah?" Seokmin mengerutkan kening melihat ekspresi Mingyu.

"Seokmin-ah.."

"Apa?"

"Bagaimana caramu melakukannya?"

"Melakukan apa?" Seokmin semakin bingung.

"Ajari aku." Bingo! Seokmin mengerti apa yang Mingyu maksud. Temannya yang tampan itu butuh bantuan sang dokter cinta. Dengan senyum sumringah, ia merangkul bahu Mingyu yang sedikit lebih tinggi darinya.

"Kau bertemu dengan orang yang tepat, Kim Mingyu."

Sementara itu, Jihoon yang sudah lebih dulu sampai dikelas. Merasa bosan, ia pun berniat berkeliling sekolah sembari menunggu teman-temannya sampai. Saat melewati kelas Mijoo, gadis itu keluar bersama dengan Hansol. Keduanya benar-benar asik tertawa sampai-sampai Hansol harus memegangi Mijoo saat gadis bersurai pendek itu kehilangan keseimbangan sambil memegangi perutnya. Jihoon sedikit melirik ketika mereka berpapasan, namun sama sekali tidak berniat untuk menegur Mijoo.

"Jadi anak itu sekelas dengan Mijoo." Gumam Jihoon sembari berjalan santai kembali ke kelasnya. "Pantas saja."

"Jihoon!"

"Oh kau sudah datang?" Jihoon menoleh dan mendapati Minghao berlari kecil kearahnya.

"Kau sedang apa? Tidak biasanya kau berkeliaran di pagi hari." Minghao menggigit roti ditangannya lalu mendekatkan roti itu ke depan wajah Jihoon. "Satu gigitan?" Jihoon dengan senang hati mengigit roti itu. Cokelat. Mereka punya selera yang sama.

"Hanya merasa bosan dan aku menghindar dari kantuk. Semalam aku bekerja."

"Kapan kau akan berhenti? Kau tidak boleh terus seperti ini, Jihoon."

"Aku juga menantikan saat dimana aku tidak perlu bekerja sekeras ini. Entah kapan." Tak terasa keduanya sampai dikelas yang mulai ramai.

"Minghao! Jihoon!" Mingyu memanggil sembari bersandar pada bangkunya. Minghao dan Jihoon duduk di tempat mereka masing-masing. "Kalian darimana?"

"Apanya yang dari mana? Aku baru saja sampai." Minghao bersuara.

"Aku berjalan-jalan sebentar." Jihoon menjawab, lalu teringat ada sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Mingyu. Namun setelah melihat kondisinya, ada Seokmin dan Minghao disana pasti mereka akan salah paham. Akhirnya ia mengurungkan niatnya.

"Jang saem datang." Ujar Seokmin ketika melihat gurunya memasuki ruang kelas.

Sementara itu dikelas lainnya, Mijoo dan Hansol beruntung karena saat ini mereka mendapat jam kosong dikarenakan guru Bahasa Inggris mereka yang sakit. Mijoo duduk disebelah Hansol yang sepertinya mengabaikan keberadaannya. Beberapa kali ia mencoba mendapatkan perhatian sahabatnya, namun Hansol terlalu sibuk membuat lyric rap untuknya. Hansol mencintai musik sejak kecil, terutama rap. Ia akan mengabaikan apapun disekitarnya jika sudah berurusan dengan rapnya.

"Hansol, apa dia tadi melihatku? Bagaimana ekspresinya?" Mijoo bertanya tidak sabar pada Hansol yang sedang sibuk menulis. Laki-laki berwajah western itu akhirnya menyerah setelah konsentrasinya benar-benar hancur.

"Tidak tau."

"Jangan bicara dingin padaku!" Bagus. Mijoo dalam mode 'eomma'nya sekarang. Hansol mendapat kecupan manis dari tangan Mijoo tepat di kepalanya. Ia meringis lalu menatap kesal pada Mijoo.

"Aku tidak melihatnya. Lagi pula dia diam saja kan? Bahkan dia tidak menyapamu!"

"Ugh ada apa dengannya" gumam Mijoo, "Hatinya itu terbuat dari apa? Benar-benar jahat!" Mijoo menggerutu sambil menghentakan kakinya, tanpa sadar menginjak kaki Hansol dengan keras dan pergi begitu saja.

"Kakiku!" Hansol benar-benar sial hari ini.

.

.

.

.
.

Soonyoung meletakan buku-buku yang telah selesai ia baca pada rak besar. Dengan langkah santai ia kembali mencari buku yang dirasa perlu ia pinjam untuk mengerjakan tugasnya. Jisoo pun melakukan hal yang sama, ia berjalan dibelakang Soonyoung sembari tangannya mengambil beberapa buku.

"Jisoo"

"Hmm"

"Kau kenal dengan Mijung noona?"

"Kau juga mengenalnya?" Jisoo menoleh sesaat lalu kembali fokus pada kegiatannya, memilah buku.

"Mungkin dia tidak mengenalku. Aku hanya dekat dengan adiknya saja." Soonyoung menjawab "Bagaimana kalian bisa saling kenal?"

"Aku bertemu di airport. Waktu itu aku tidak sengaja menabraknya dan kami bertemu lagi kemarin di cafe." Jisoo selesai dengan buku-buku ditangannya, begitu pun dengan Soonyoung.

"Yang kemarin itu pacarmu?" Jisoo bertanya sembari memilah buku mana yang akan ia baca terlebih dahulu.

"Hmm ya begitulah."

"Siapa dia? Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya."

"Sudahlah jangan dibahas, fokus saja pada buku-bukumu." Soonyoung mengakhiri percakapan mereka. Sunyi menyergap saat keduanya sibuk membaca sembari sesekali menulis. Soonyoung beranjak dari duduknya untuk mengembalikan salah satu buku pada tempatnya. Keheningan itu pecah karena getar ponsel Soonyoung. Jisoo mengambil ponsel itu lalu melihat ada pesan dari 'Ancaman No.1'. Jisoo membukanya kemudian dengan wajah menahan tawa ia meletakan kembali ponsel itu. Ia mengingat persis apa yang dikatakan Soonyoung padanya dua minggu yang lalu.

[Flashback On]

"Ponselmu bergetar, Soonyoung." Jisoo bersuara karena risih dengan ponsel Soonyoung yang terus bergetar namun si pemilik tidak berniat menyentuh benda pipih itu. Jisoo pun mengambil ponsel itu lalu membaca pesan yang masuk. Lagi lagi pesan dari 'Ancaman No.1'

'Hyung:( aku merindukanmu. Kemarin aku ke taman tapi kau tidak juga muncul'

Jisoo menggeleng melihat pesan tersebut lalu kembali meletakan ponsel itu.

"Soonyoung, apa kau tidak kasihan melihatnya? Dia menunggumu semalam." Jisoo menatap temannya yang sibuk menonton. Soonyoung menoleh lalu dengan wajah kesal ia mematikan televisi itu.

"Kau tau? Aku benar-benar kesal! Dia terus mengirimiku pesan dan itu sangat menggangu! Aku bahkan tidak suka melihatnya! Ugh benar-benar menyebalkan! Aku benci dengannya dan semua tingkah lakunya!" Soonyoung dengan segera pergi meninggalkan Jisoo dan masuk ke kamarnya. Jisoo hanya menghela napas. Tidak biasanya Soonyoung kesal pada seseorang sampai seperti ini.

"Apa salah anak ini sampai Soonyoung sekesal itu?" Gumam Jisoo heran.

[Flashback off]

"Ada apa denganmu?" Jisoo bersuara setelah Soonyoung kembali. Soonyoung mengernyit, tidak mengerti maksud dari pertanyaan Jisoo.

"Apa? Aku tidak mengerti maksudmu."

"Jadi kau pacaran dengan 'Ancaman No.1'?" Jisoo bertanya sembari memasang wajah jahilnya dan setelah itu ekspresi terkejut Soonyoung menjawab semuanya.

"Kau memainkan ponselku?!" Soonyoung panik lalu mengambil ponselnya dan bingo! Pantas saja Jisoo tau. Pesan dari Seokmin telah dibacanya.

"Luar biasa, Kwon Soonyoung! Kemarin kau memakinya, sekarang kalian berpacaran." Jisoo tertawa puas melihat ekspresi kesal Soonyoung.

"Hentikan itu!"

"Ah tolong aku sulit untuk berhenti" Jisoo tertawa semakin keras. Soonyoung dengan teganya memukul lengan Jisoo dengan buku tebal yang baru ia dapat. Jadilah Jisoo semakin sulit menghentikan tawanya dan meringis karena pukulan dari Soonyoung.

.

.

.

.

Wonwoo duduk bersantai sembari menikmati hembusan angin. Istirahat makan siang akan segera berakhir namun ia masih menunggu Mingyu. Ia berjanji untuk membawakan makan siang buatannya sendiri untuk Wonwoo coba namun tiba-tiba saja Guru Olahraga mereka memanggil Mingyu, jadilah Wonwoo harus menunggui laki-laki bertubuh tinggi itu. Lama ia terdiam, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Wonwoo menoleh dan tersenyum mendapati Mingyu berdiri dibelakangnya.

"Maaf hyung, Lee saem membicarakan pertandingan bulan depan." Mingyu menjelaskan kemudian duduk di sisi kiri Wonwoo sembari membuka kotak makannya. "Cobalah"

"Kau buat tteok?" Wonwoo mengernyit. Mingyu sungguh membuatnya tidak mengerti. Tteok? Saat makan siang?

"Makan saja, hyung." Mingyu tersenyum lalu mengambil satu potong untuknya. Wonwoo yang tidak bisa lagi menahan lapar akhirnya ikut mengambil satu untuknya. Rasanya enak. Sungguh.

"Ini enak" Wonwoo bersuara sembari masih mengunyah tteok di mulutnya. "Aku akan mengontrakmu menjadi koki pribadiku." Mingyu tertawa pelan menanggapi ucapan Wonwoo.

"Bukan itu maksudku membuat tteok" Mingyu kembali bersuara setelah selesai dengan 2 potong tteok. "Aku hanya ingin membuktikan sesuatu."

"Membuktikan? Membuktian apa?" Wonwoo mengernyit. Laki-laki didepanya ini sudah cukup aneh sekarang. Mingyu menoleh lalu menyunggingkan senyum pada yang lebih tua, bersandar pada kursi kayu yang akhir-akhir ini sering ia kunjungi.

"Mijoo menyukai tteok sejak kecil. Setiap hari, saat kami kecil ia selalu minta ibu untuk membuat tteok." Wonwoo fokus mendengar cerita Mingyu. Melihat ekspresi wajah Wonwoo yang begitu serius, Mingyu menjadi gemas. Ia mengusak surai hitam legam itu lalu kembali bercerita. "Sampai suatu ketika Mijoo mengatakan sesuatu padaku. Ia bilang 'tteok adalah makanan termanis yang pernah ada!'. Aku menyetujuinya. Sungguh, makanan ini memang manis."

"Ya, aku rasa Mijoo benar. Aku juga sangat mengagumi rasa manis dari tteok." Wonwoo bergumam.

"Namun, sekarang aku akan membuktikan..." Mingyu menoleh, menatap intens pada yang lebih tua. "...ada sesuatu yang lebih dari sekedar manis."

"Kim Mingyu" Wonwoo berdesis saat ibu jari itu menyentuh bibirnya perlahan. Mengusapnya perlahan seakan takut sentuhan itu akan merusak pahatan indah sang Seniman.

"Aku mencintaimu."

Wonwoo membeku. Tidak tau apa yang harus dikatakannya. Matanya terperangkap dalam tatapan intens itu.

"Aku mencintaimu, Jeon Wonwoo."

Sungguh kali ini Wonwoo tidak dapat menahannya. Rasanya ada ribuan kupu-kupu yang mendesak keluar dari dadanya. Air matanya terjun bebas. Mingyu menghapusnya perlahan lalu membawa laki-laki bertubuh kurus itu dalam pelukannya.

"Hey jangan menangis." Mingyu mengusap punggung Wonwoo perlahan. Ia tau benar apa yang dirasakan Wonwoo sekarang. Ia hanya menunggu sampai Wonwoo mengatakannya.

"Kim Mingyu, bagaimana ini? Aku sulit menghentikannya." Wonwoo menyeka air matanya, berusaha berhenti menangis namun yang terjadi justru sebaliknya.

Mingyu tertawa melihat bagaimana Wonwoo berusaha menahan tangis yang semakin menjadi. Lalu setelahnya memberi jarak antara mereka agar ia dapat melihat wajah Wonwoo.

"Mingyu" Wonwoo berbisik namun sungguh suaranya lebih terdengar seperti merajuk ditelinga Mingyu. "Hentikan itu. Jangan menatapku terus." Mingyu tertawa lalu kembali bersandar pada kursi kayu itu, merangkul Wonwoo agar bersandar didekatnya.

"Kau menggemaskan, hyung."

"Aku tampan."

"Kau menggemaskan dan manis."

"Mingyuuu."

"Hyung, boleh aku menciumu?" Tepat setelahnya, Wonwoo menoleh bersamaan dengan Mingyu yang mendekatkan wajahnya. Hanya tinggal sedikit lagi keduanya akan bertemu dalam sebuah ciuman manis, namun hal tersebut dibatalkan oleh suara dering bel sekolah.

"Sial" Mingyu menggerutu namun masih enggan beranjak untuk memberi jarak. Wonwoo tersenyum geli lalu menepuk pelan pipi Mingyu.

"Saatnya kembali belajar, Kim Mingyu"

"Kau kekasihku mulai sekarang." Mingyu beranjak dari duduknya lalu kembali menunduk untuk mengecup kening Wonwoo. "Kita akan pulang bersama. Nanti aku akan ke kelasmu, hyung." Setelahnya Mingyu pergi ke kelasnya sementara Wonwoo masih duduk disana, kembali merasakan hembusan angin menyapanya, Ia tersenyum sembari perlahan menyentuh pipinya.

"Semoga ini bukan mimpi"

.

.

.

.

"Kenapa tidak bilang kalau ini jam kosong?" Mingyu menggerutu pada Jihoon yang sibuk menulis disebelahnnya. Mingyu jadi menyesal kembali ke kelas, padahal ia punya banyak waktu untuk berduaan dengan Wonwoo kalau saja ia tau sekarang adalah jam kosong.

"Berisik. Aku butuh konsentrasi." Jihoon bergumam tidak jelas masih sibuk dengan kegiatannya. Mingyu melirik sesaat pada temannya itu, lalu mengerti apa yang sedang dilakukannya.

"Kali ini event dimana?"

"Hanya event kecil tapi hadiahnya lumayan besar, akan kutabung untuk keperluan kuliahku."

"Jihoon, kenapa kau tidak coba masuk agency? Kau ini musisi yang cerdas." Mingyu jengah dengan sikap Jihoon. Jihoon adalah seorang musisi. Dia pandai bermain gitar dan piano. Dalam keadaan apapun ia bisa menulis sebuah lirik lagu dan menyulapnya menjadi sebuah lagu. Namun Jihoon tidak pernah mau untuk mengembangkan keahliannya dengan mengikuti sebuah audisi agency. Korea Selatan adalah negara yang maju dalam industri musik, dan keahlian Jihoon sebenarnya sangat menguntungkannya. Sayang, pikiran Jihoon tidak seperti apa yang Mingyu pikirkan.

"Jangan ceramahi aku, sana pergi." Selalu jawaban itu yang keluar dari mulut Jihoon saat Mingyu mulai membahas perihal bakat musiknya.

"Kalian sedang apa?" Minghao bersuara setelah sibuk dengan game kesayangan di ponselnya. Mingyu mendelik pada Jihoon yang masih menulis. Mengerti dengan maksud Mingyu, Minghao mengangguk.

"Sudah, jangan ganggu dia." Minghao berbisik lalu mengajak Mingyu keluar untuk sekedar menghirup udara segar.

"Seokmin dimana? Kalian tidak bersama?" Tanya Mingyu ketika sadar salah satu teman dekatnya belum terlihat.

"Dia sedang sibuk dengan pacarnya, aku tidak ingin menganggu." Minghao bersandar pada salah satu pilar besar dikoridor itu. Melihat wajah bingung Mingyu, Minghao melanjutkan ucapannya "Video call."

"Dimana dia?"

"Di depan gudang sekolah."

"Baiklah, aku ingin menemuinya. Kau tunggu saja disini." Dan setelahnya, Mingyu berlari menuju tempat eksekusi. Benar saja Seokmin tengah sibuk bicara dengan ponsel didepannya. Mingyu mengendap lalu muncul tepat dibelakang Seokmin tanpa bersuara.

"Astaga!" Jerit itu berasal dari Soonyoung didalam ponsel Seokmin. "Ada hantu dibelakangmu."

"Apa?!" Panik, Seokmin segera menoleh dan memukul apapun yang Soonyoung katakan sebagai hantu. Yang terdengar hanya suara Mingyu yang merasa sakit akibat pukulan sahabatnya.

"Hentikan! Ini aku!" Jerit Mingyu berhasil menghentikan aksi brutal Seokmin, sementara suara tawa Soonyoung menggema di koridor kosong itu.

"Mingyu? Sedang apa kau?" Mingyu dengan seenaknya merebut ponsel Seokmin yang masih terhubung dengan Soonyoung.

"Hyung! Bisa-bisanya kau tidak ceritakan ini padaku!" Mingyu menggerutu pada Soonyoung yang memasang wajah malasnya.

"Kau sendiri? Kau tidak katakan padaku kalau kau punya pacar!"

"Ba-bagaimana kau bisa-" Mingyu mendelik pada Seokmin yang tersenyum tanpa dosa, "Dasar tidak bisa dipercaya"

'Hey kau sedang apa, Soonyoung? Wah ternyata video call' Suara seseorang terdengar diseberang sana namun wujudnya belum tampak hingga Soonyoung menyuruhnya mendekat.

"Kau? Kau kan yang dicafe!" Kali suara Mingyu yang terdengar. Jisoo yang ternyata berada bersama Soonyoung akhirnya muncul.

"Oh kau lagi" Ucap Jisoo. "Bagaimana kabar Mijung noona?" Lanjutnya membuat Soonyoung mendelik, sejak kapan temannya jadi seperti itu.

"Hei kenapa tidak datang ke rumahku? 2 hari lagi Mijung noona akan kembali bekerja." Mingyu dan Jisoo mulai asik mengobrol hingga kedua pemilik ponsel kehilangan waktu 'berdua'nya.

"Hei! Kalian berdua, hentikan! Ini waktuku dan Soonyoung hyung!" Seokmin yang jengah kemudian merebut kembali ponselnya dari tangan Mingyu lalu dengan segera pergi menjauh.

"Anak itu kenapa jadi pelit" Mingyu menggerutu lalu perlahan berjalan kembali ke kelasnya, tidak berniat memanggil Minghao yang ia tinggalkan.

"Kim Mingyu, kau darimana saja?" Bagus. Minghao sudah lebih dulu sampai di kelas. Mingyu menghampiri tempatnya duduk dan mengernyit heran pada teman-teman di kelasnya yang mulai bergegas pulang.

"Ada apa ini? Kenapa semua orang pulang cepat?"

"Entahlah. Saat kau pergi Kang saem memberi pengumuman bahwa hari ini pulang cepat." Jawab Jihoon yang sudah siap pulang dengan tas di punggungnya.

"Benarkah?!" Jerit Mingyu lalu sejurus kemudian membereskan alat tulis dan buku-bukunya. "Sampai jumpa besok!" Lalu pergi meninggalkan Minghao dan Jihoon.

"Bagus sekali, semakin hari Kim Mingyu semakin aneh. Baru datang sudah mau pulang." Gerutu Jihoon sembari berjalan meninggalakan kelas.

"Itu karena kau belum jatuh cinta." Gumam Minghao yang pastinya tidak di dengar Jihoon karena laki-laki bertubuh pendek itu sudah keluar dari kelas. "Ah sudahlah, percuma saja."

Sementara itu Mingyu dan Wonwoo berjalan beriringan. Keduanya berjalan sembari mengobrol dan sesekali tertawa. Mingyu terkadang berjalan mundur hanya untuk memperhatikan wajah Wonwoo saat laki-laki bermarga Jeon itu tertawa. Sampailah mereka didepan rumah Wonwoo.

"Nanti malam kau bekerja, hyung?" Mingyu bertanya sembari tangannya merapikan surai hitam Wonwoo yang mulai tak beraturan tertiup angin.

"Tidak. Aku meminta libur pada manager karena ada tugas yang harus aku selesaikan." Jawab Wonwoo. Mingyu mengangguk mengerti.

"Baiklah. Sampai jumpa besok." Mingyu menoleh dan mendapati keadaan yang sepi. Bagus. Otaknya mesumnya bekerja. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Wonwoo dan tanpa diduga jemari Wonwoo menahan wajah tampan itu.

"Ini tempat umum, Kim Mingyu." Wonwoo tersenyum jahil. Kemudian memberikan ciuman virtual dengan menggunakan ibu jarinya yang ia kecup kemudian disentuhkan pada bibir Mingyu. "Kontrol jiwa mesummu itu." Mingyu mendengus namun sejurus kemudian tertawa dan mengusak surai hitam sang kekasih.

"Sampai jumpa besok!" Ucap Mingyu lalu perlahan berjalan mundur, lagi. "Aku mencintaimu." Wonwoo mengangguk lalu tersenyum pada Mingyu yang kemudian mulai berjalan dengan normal.

"Wonwoo!"

Suara itu berhasil menghentikan langkah kaki Mingyu. Laki-laki bertubuh tinggi itu menoleh,

"Sial"

.

.

.

.

.
[TBC]

HELLOOOOOO!

Akhirnya chapter 10 ini muncul(?) Maafkan jika menunggu terlalu lama huhu kwonhosh sedang berkutat dengan tugas laknat, mian teman.

Semoga fanfic yang membingungkan ini gak membuat kalian semakin bingung.

SALAM SUPER, KWONHOSH~