"Apa?" Mingyu melepaskan pelukannya. "Soonyoung hyung saudara kembarmu? Ta-tapi kau tidak pernah cerita tentang hal itu, Jihoon"
Jihoon tidak menjawab, ia hanya menangis lalu mengedarkan pandangannya pada pintu dibelakangnya. Ia berjalan ke depan pintu itu, melihat lewat sebuah kaca kecil dimana Soonyoung berbaring menutup matanya.
Jihoon makin terisak sambil terus menggumamkan nama 'Hoshi'. Ia lalu berbalik menghadap Mingyu yang masih memikirkan ucapan Jihoon.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Jihoon bergumam.
"Ini semua karena aku"
Mingyu menoleh pada Seokmin yang sedari tadi diam saja. Wajah sahabatnya itu muram, matanya memancarkan rasa kecewa. Mingyu mendesah lalu menepuk bahu Seokmin, menguatkan sahabatnya.
"Soonyoung hyung mengalami kecelakaan. Taxinya bertabrakan dengan mini truk" Mingyu menjelaskan.
Tangis Jihoon meledak lagi. Ia jatuh merosot ke lantai. Ia menutup wajahnya sambil menunduk.
Sementata itu Jisoo mendapat pesan dari adik Soonyoung segera pergi ke rumah sakit dan mendapati Mingyu bersama dua orang lainnya.
"B-bagaimana keadaannya?"
"Ia koma, hyung"
Jisoo menatap kosong pintu. Bagaimana bisa hal mengerikan ini terjadi pada sahabatnya? Ia merutuk dalam hati. Tak sengaja matanya melihat sosok yang duduk didepan pintu, Jisoo merasa familiar dengan sosok itu.
"Woozi?"
Jihoon mendongak. Jisoo menatap tak percaya pada orang itu. Ia berjongkok lalu memegang kedua bahu Jihoon.
"Woozi? Ini benar kau?"
"Ya. Ini aku, Jisoo" Jihoon menatap Jisoo, matanya berkaca.
"Akhirnya" Jisoo bergumam, wajahnya terlihat lega.
"Hyung, kau kenal Jihoon?" Mingyu semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi di depannya.
"Lebih baik kita mencari tempat untuk bicara. Biarkan Seokmin dan Woozi disini"
Mingyu dan Jisoo pergi ke sebuah taman di belakang rumah sakit.
"Woozi menghubungiku selama setahun terakhir ini. Dia tau Hoshi.. maksudku Soonyoung dekat denganku, dia selalu bertanya tentang Soonyoung padaku tapi dia tidak mau menemui Soonyoung." Jisoo membuka pembicaraan.
"Tapi kenapa?"
"Ia tau kehidupan Soonyoung dan keluarga angkatnya. Woozi hanya tidak ingin merusak kehidupan Soonyoung padahal sudah sering aku katakan padanya kalau Soonyoung juga mencarinya tapi dia tetap tidak mau menemui Soonyoung"
Mingyu diam. Ia tidak tau Jihoon punya kehidupan yang begitu kelam. Jisoo menghela napas lalu melanjutkan ceritanya.
"Yang aku tau mereka terpisah saat berumur 6 tahun."
"Orang tua Soonyoung hyung kenal dengan Jihoon?"
"Tentu. Mereka juga mencari Woozi selama ini, tapi dengan alasan yang sama Woozi minta orang tua Soonyoung untuk merahasiakan keberadaannya."
"Anak itu menahan sedih sendiri" Mingyu bergumam lalu mengusap kasar wajahnya. "Dia hidup sendirian selama ini. Jika aku dan teman-temanku menanyakan tentang kehidupan pribadinya ia tak pernah menjawab."
"Jisoo"
Kedua laki-laki itu menoleh pada sumber suara. Jihoon berdiri disana, nampak sudah lebih tenang.
"Bisa kau tinggal aku dan Mingyu?"
"Tentu saja" Jisoo tersenyum lalu beranjak dari duduknya. Kini tempatnya digantikan oleh Jihoon.
"Maaf, aku terlalu banyak menyimpan rahasia darimu, Mingyu."
"Apalagi? Ceritakan saja sekarang, Jihoon" Mingyu menatap langit yang gelap cenderung mendung.
"Aku dan Hoshi, kami hidup dalam keluarga yang miskin. Ayah kami suka bermain judi dan berhutang pada rentenir. Ia juga sering memukuli ibu dan kami berdua." Jihoon memberi jeda.
"Ibu akhirnya meninggal karena sakit hingga hanya tersisa ayah, Hoshi dan aku. Kupikir setelah ibu meninggal, ayah akan berubah tapi semua sama saja, malah lebih parah. Hoshi sering sekali dipukuli ayah dan dia juga harus melindungiku. Setiap kali ayah marah padaku, Hoshi akan dengan sengaja membiarkan dirinya dipukuli." Jihoon mulai terisak.
"Aku selalu menangis setelahnya, aku merasa takut dan juga marah. Tapi Hoshi akan memelukku dan berkata semua akan baik-baik saja. Jika sudah dipukuli seperti itu ia tidak akan bisa tidur, ia meringis sepanjang malam dan menjagaku, ia takut jika ia tidur dan ayah datang lalu aku juga terkena pukulan ayah." Jihoon benar-benar menangis sekarang, suaranya parau dan tubuhnya gemetar.
"Akhirnya suatu hari kami berniat untuk lari dari rumah, kami berlari jauh sekali. Sampai pada suatu ketika aku dan dia terpisah di terminal bus. Aku menangis mencarinya tapi aku tidak menemukannya. Hingga suatu saat setelah bertahun-tahun, aku melihatnya. Semuanya masih sama. Aku sangat mengenal rupa Hoshi, lalu aku mencoba mendekati Jisoo untuk mencari informasi dan ternyata benar." Jihoon tersenyum kecil.
"Soonyoung adalah Hoshi yang aku cari. Saat itu adalah waktu yang paling membahagiakan untukku, tapi aku tidak ingin mengganggunya karena aku dengar ia punya keluarga angkat. Aku datang pada orang tua angkatnya dan meminta mereka untuk menjaga Hoshi baik-baik."
Lama keduanya terdiam hingga akhirnya Mingyu buka suara.
"Jihoon"
Jihoon menoleh. Mingyu menggenggam tangannya, sahabatnya itu tersenyum.
"Mulai sekarang, jangan sembunyikan apa-apa lagi. Kau punya aku, Seokmin, dan Minghao jika kau merasa lelah dan tertekan."
Jihoon tersenyum.
"Terima kasih, Mingyu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Wonwoo berdiri dibelakang meja kasir. Hari ini ia harus bekerja seperti biasa. Di dalam cafe hanya ada dua orang pengunjung saja. Hingga pintu terbuka dan seorang pelanggan lagi datang.
"Hai, Jeonnie"
"Terdengar menjijikan, maaf saja." Wonwoo tersenyum miring.
Orang itu tertawa lalu memesan hot chocolate.
"Bagaimana kabarmu?" Wonwoo bertanya sembari membuatkan pesanan.
"Semakin hari semakin tidak sopan saja kau." Orang itu geleng kepala, "Kabarku baik."
"Bagus. Karena kalau buruk kau akan mulai sesi curhat panjang. Aku sedang ada masalah." Wonwoo memberikan pesanannya.
"Ada apa?"
"Woobin hyung datang dan mengajakku kembali ke Jepang."
"Kenapa tiba-tiba?"
"Alasan yang bagus, kuliah." Wonwoo tersenyum getir. "Aku tidak tau dia sepeduli itu padaku, biasanya kirim uang saja ia sudah merasa menjalankan tugasnya sebagai kakak."
"Hey mungkin kakakmu ada benarnya, Wonwoo"
"Dia memang merasa selalu benar"
"Bukan itu. Eih sejak kapan mulutmu jadi sepedas itu huh? Maksudku mungkin ia punya niat baik, ya semacam reuni keluarga."
"Kau terlalu banyak nonton drama, Sunbae"
"Hyung. Sudah berapa kali aku bilang panggil Seungcheol hyung."
"Protes terus. Sana cari tempat duduk, jangan menutup meja kasir." Wonwoo sedikit mendorong Seungcheol, yang dibalas cengiran.
"Omong-omong, kau sudah punya pacar?"
Wonwoo mengernyit.
"Kenapa tanya?"
"Kalau tidak mau jawab ya sudah."
"Sudah, memang aku sepertimu" Wonwoo tersenyum meledek.
"Junior sialan" Seungcheol tertawa sambil mengumpat.
Tak lama pintu cafe kembali terbuka. Wonwoo dan Seungcheol menoleh.
"Mingyu" Wonwoo bergumam.
"Kau kenal?" Seungcheol menoleh padanya.
"Tanyakan padanya saja."
Mingyu sampai didepan meja kasir dan memandang tak suka pada Seungcheol.
"Kau yang...tteokpokki!" Mata Seungcheol menatap Mingyu.
"Jangan dekat-dekat pacarku" Mingyu menatap balik.
"Sunbae" Wonwoo menegur, niatnya untuk memutus tatapan mematikan yang dilemparkan kedua mahluk di depannya. "Duduk sana"
Akhirnya Seungcheol duduk.
"Kau mau apa tengah malam begini?"
"Aku dari rumah sakit, hyung."
Wonwoo terkejut.
"Si-siapa yang sakit? Kau sakit?"
"Bukan. Sahabatku. Aku benar-benar akan jadi gila sekarang." Mingyu mendesah. Wonwoo keluar dari meja kasir dan membawa Mingyu ke salah satu meja.
"Kau mau sesuatu?"
"Tidak, hyung." Mingyu menatap Wonwoo yang duduk didepannya. "Aku merasa lebih baik setelah melihatmu. Kau seperti painkiller."
"Tidak. Jangan jadi puitis sekarang, Mingyu."
Mingyu tertawa sesaat.
"Kapan jam kerjamu habis?"
"Jam 4 pagi"
"Aku akan istirahat disini hingga kau selesai."
"Kim Mingyu, kuharap kau tidak lupa kalau besok kau masih punya pertandingan"
Mingyu mendesah. Ia lupa.
"Baiklah, aku akan pulang sekarang. Segeralah pulang setelah jam kerjamu habis."
Wonwoo tersenyum lalu mengangguk. Mingyu menggenggam tangan Wonwoo lalu menatapnya.
"Aku mencintaimu, hyung"
Wonwoo tersenyum lagi, semakin manis saja. Ia mengangguk lagi. Lalu Mingyu pulang untuk beristirahat.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi datang dengan cepat. Sekolah juga mulai ramai mendekati jam masuk. Jihoon duduk di bangkunya. Kepalanya ia sandarkan pada meja sementara matanya tertutup. Semalaman ia tidak tidur dan baru pulang setelah dipaksa oleh orang tua angkat Soonyoung. Minghao datang lalu duduk disebelahnya.
"Mingyu izin lagi ya?"
Jihoon tidak menjawab. Minghao pikir anak itu tidur. Ia menoleh pada Seokmin yang diam saja sedari tadi. Aneh, pikir Minghao.
"Seokmin, kau baik-baik saja?"
Seokmin menoleh, wajahnya muram. Minghao mendekati temannya itu lalu menepuk bahunya.
"Ada apa, Seokmin?" Minghao jadi khawatir.
"Soonyoung hyung..."
"Soonyoung hyung pacarmu? Kenapa?"
"Kecelakaan, Hao." Seokmin hampir berbisik.
Minghao terkejut.
"B-bagaimana bisa? Kuatkan dirimu, Seokmin."
"Tolong jangan bahas hal ini dulu."
Minghao menoleh pada Jihoon. Matanya sembab, wajahnya lelah. Minghao semakin bingung. Ia menatap kedua temannya itu.
"Kalian berhutang cerita padaku."
Tepat saat itu bel masuk berbunyi.
Sementara kelas Mijoo mendapat jam kosong untuk pelajaran pertama. Ia duduk bersandar sambil menatap ipod biru di tangannya.
Tadu pagi sebelum berangkat ke sekolah, Mingyu menceritakan semua. Tentang kecelakaan Soonyoung sampai fakta bahwa Soonyoung dan Jihoon adalah saudara kembar. Jujur saja Mijoo terkejut, namun sekarang ia merasa gelisah. Ini berhubungan dengan Jihoon. Mijoo yakin Jihoon pasti sangat terpukul, apalagi yang ia dengar sampai saat ini Soonyoung belum sadar.
"Mijoo!"
Mijoo tersentak karena melamun.
"Ponselmu, ada pesan masuk."
Mijoo melihat benda pipih itu. Benar saja, layarnya menyala dan ada satu pesan baru. Pesan dari Hansol.
From : Hansol
Kau pasti marah padaku. Aku akan liburan di Korea setelah ujian kenaikan kelas berakhir.
Mijoo menatap ponsel itu, tangannya kemudian mengetik pesan balasan.
From : Mijoo
Awas saja kalau kau bohong! Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan jadi cepatlah datang.
Mijoo menghela napas. Ia sudah menyerah dengan perasaannya pada Jihoon, ia pikir lebih baik jadi teman saja karena hubungannya dan Jihoon jadi sangat renggang setelah insiden pernyataan cintanya tempo hari.
Tak terasa bel istirahat berbunyi. Siswa memenuhi kantin dan lapangan outdoor. Jihoon dan Seokmin sedang duduk disebuah bangku taman dibawah pohon dengan Minghao di depan mereka.
"Jadi, sebenarnya apa yang terjadi?"
Jihoon diam saja, akhirnya Seokmin yang bicara.
"Soonyoung hyung semalam kecelakaan. Taxinya bertabrakan dengan mini truk tepat didepan cafe tempat kami akan bertemu."
Minghao menatap iba sahabatnya itu. Wajah Seokmin semakin muram saja.
"Soonyoung hyung itu saudara kembar Jihoon"
Minghao menganga. Ia menatap Jihoon yang diam saja masih tidak mau bicara.
"Jihoon kenapa kau tidak cerita pada kami kalau kau punya saudara kembar?"
"Maafkan aku" Jihoon bergumam.
"Oke. Apa Mingyu tau tentang hal ini?"
Jihoon dan Seokmin mengangguk bersamaan.
"Setelah pulang sekolah aku ingin menjenguk Soonyoung hyung. Kau mau ikut, Jihoon?" Seokmin buka suara.
"Ya aku juga akan kesana"
Minghao menatap kedua sahabatnya.
"Mulai sekarang jangan menahan sedih sendiri, kalian kan punya aku." Minghao tersenyum, dibalas senyum tipis dari kedua sahabatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kerja bagus! Kita akan kembali bertanding minggu depan untuk semi final. Kuberi kalian satu hari untuk istirahat dan lusa kalian harus latihan sampai semi final tiba. Sekarang kalian bisa pulang."
Lagi, tim sepak bola sekolah Mingyu lolos kualifikasi babak 2. Ia dan beberapa temannya pergi ke tempat parkir kendaraan untuk pulang. Mingyu berjalan bersama Junghan.
"Mingyu, bagaimana hubunganmu dengan Wonwoo?"
"Baik hyung" Mingyu tersenyum.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya"
"Omong-omong, ini akan jadi pertandingan terakhirmu kan hyung?"
"Ya, ujian kelulusan sebentar lagi."
Tiba-tiba Mingyu teringat Wonwoo.
"Semoga berhasil di ujianmu, hyung" Mingyu tersenyum.
"Terima kasih, Gyu" Junghan pun berpisah untuk mengambil motornya, begitupun Mingyu.
Mingyu keluar dari area parkir dan masuk ke jalan utama, tujuannya sekarang adalah pulang. Ia lelah dan ingin istirahat sebentar lalu pergi ke rumah Wonwoo untuk membicarakan masalah kepindahannya ke Jepang.
Mingyu sampai dirumah. Ia masuk dan mendapati rumah kosong. Ia duduk di sofa lalu melihat jam. Jam 5 sore. Jun hyung pasti masih kuliah, Mijoo ada latihan akustik hingga malam, Mijung sudah pasti ada di kantor, sementara ayah dan ibunya belum juga memberi tanda-tanda akan pulang.
Ponsel Mingyu berbunyi. Ada satu pesan masuk dari Wonwoo.
'Aku ingin bicara denganmu, kau dimana? Aku ada didepan rumahmu'
Mingyu segera keluar dan melihat Wonwoo ada diluar. Ia bergegas membuka pintu dan mengajak Wonwoo masuk.
"Bagaimana pertandingan hari ini?" Wonwoo duduk di seberang Mingyu.
"Kami lolos ke semi final" Mingyu tersenyum.
"Wah selamat!" Wonwoo juga ikut tersenyum.
"Kau ingin sesuatu, hyung?"
"Ah tidak. Aku langsung saja." Wonwoo berubah tegang, ia membenarkan letak kacamatanya lalu menatap ragu pada sang pacar.
"Ada apa hyung?" Mingyu menghampiri Wonwoo.
"Aku dan Woobin hyung sudah bicara masalah kepindahan ke Jepang."
Sekarang wajah Mingyu muram. Ia menatap Wonwoo. Wonwoo menggenggam tangan Mingyu yang bertautan.
"Mingyu, aku.." Wonwoo menghela napas.
"Kau akan pindah?" Suara Mingyu terdengar menggeram. Wonwoo yang tadi gelisah sekarang berubah takut.
"Ya, setelah ujian kelulusan. Aku akan meneruskan kuliah di Jepang." Wonwoo hampir berbisik mengatakannya.
Mingyu tidak menjawab. Ia diam saja tapi tangannya menggenggam erat tangan Wonwoo. Wonwoo sendiri mengelus lengan Mingyu, ia tau Mingyu pasti kecewa.
"Baiklah, tidak apa-apa."
Wonwoo menatap tak percaya pada sang pacar.
"Mingyu jika kau marah kau-"
"Aku memang marah, tapi akan lebih tidak adil jika aku marah dan membuatmu jadi sedih. Aku akan menunggumu sampai kau kembali, hyung." Mingyu tersenyum padanya.
Mata Wonwoo berkaca, lalu memeluk erat Mingyu.
"Kalau begini bagaimana aku bisa jauh darimu"
Mingyu tersenyum lalu mencium kening sang pacar lalu memeluknya.
"Aku menyayangimu"
"Aku juga, Mingyu"
Sementara itu di rumah sakit, Jihoon dan Seokmin datang tepat saat ayah Soonyoung akan pulang. Akhirnya mereka yang menjaga Soonyoung. Dan kabar baiknya adalah Soonyoung sudah melewati masa koma, namun ia belum sadar. Ruang rawatnya dipindah dan ini yang membuat Jihoon dan Seokmin diperbolehkan masuk ke dalam.
Seokmin masuk dan langsung duduk di sisi kanan Soonyoung. Dada Seokmin nyeri melihat perban yang melilit kepala Soonyoung. Perlahan ia menyentuh tangan Soonyoung, menggenggamnya seakan tangan itu porselen yang mudah pecah.
"Hyung, kau dengar aku?"
Seokmin tersenyum pada Soonyoung.
"Aku minta maaf, hyung. Seharusnya aku tidak memintamu ke cafe malam itu. Maafkan aku, hyung."
Seokmin menciumi tangan Soonyoung lalu mengelusnya perlahan.
"Hyung, cepatlah bangun. Banyak hal yang ingin kulakukan denganmu"
"Jangan tidur terus seperti ini, ujianmu sebentar lagi. Kau bilang ingin kuliah jadi cepatlah bangun dan mulai belajar."
Seokmin tersenyum lagi. Ia tidak pernah tau hanya mendengar Soonyoung bernapas dengan teratur seperti ini saja membuatnya benar-benar lega.
Lalu matanya terarah pada Jihoon yang masih diam di depan pintu. Ia memandang Soonyoung tidak berkedip. Tatapannya sendu tapi ia tidak kunjung mendekat.
"Hyung, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu"
Seokmin bicara pada Soonyoung. Ia beranjak dari duduknya lalu menghampiri Jihoon.
"Aku mau cari makanan, jaga Soonyoung hyung sebentar"
Setelah itu Seokmin pergi. Jihoon perlahan mendekati Soonyoung lalu duduk di tempat Seokmin. Lama ia diam, hanya menatap wajah Soonyoung. Tangannya terarah pada perban di kepala Soonyoung. Ia menyentuhnya perlahan.
"Apa dulu sesakit ini jika dipukul appa?"
Jihoon merasa tenggorokannya tercekat. Tiba-tiba kilas balik kehidupan masa kecilnya muncul. Ia ingat saat itu ia membuang semua botol alkohol ayahnya ke tempat sampah. Ayahnya mengamuk dan mau memukulnya dengan vas bunga, tapi Soonyoung melindunginya. Kepala Soonyoung berdarah dan setelah itu ia pingsan.
Jihoon terisak perlahan.
"Hoshi, ini aku. Rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu."
Jihoon tak henti menatap wajah Soonyoung.
"Dulu tinggi kita sama, sekarang kau jadi tinggi dan semakin tampan saja. Aku iri padamu"
Jihoon terkekeh dalam isakannya.
"Maafkan aku, jika saja waktu itu aku tidak melepaskan tanganmu, kita tidak akan terpisah selama ini."
Jihoon menunduk, ia menggigit bibirnya, tangisnya mungkin bisa mengganggu Soonyoung.
"Bagaimana ini, Hoshi, aku menangis lagi di depanmu. Padahal dulu aku janji padamu tidak akan menangis lagi."
Jihoon meremas seragamnya, tangisnya pilu.
"Dulu kau akan memelukku jika aku menangis, kenapa tidak kau lakukan sekarang? Hoshi, kumohon bangunlah. Katakan semuanya akan baik-baik saja seperti yang dulu kau katakan padaku."
Jihoon semakin terisak. Ia tidak tau harus bagaimana sekarang. Ia jadi berpikir apakah ini salahnya? Mungkin Tuhan menegurnya karena terus bersembunyi dari Soonyoung. Maka dengan cara ini akhirnya ia datang pada Soonyoung, tapi sayangnya saudara kembarnya itu tidak bisa memeluknya untuk melepas rindu bertahun-tahun.
"Maaf aku terus bersembunyi darimu"
Jihoon masih menunduk, tidak punya lagi keberanian untuk menatap wajah saudaranya.
"Aku tidak akan sembunyi lagi, Hoshi. Aku janji, tapi kau harus bangun. Aku, keluargamu, teman-temanmu, semuanya menunggumu bangun. Jangan tidur terlalu lama, Hoshi. Aku ingin memelukmu, aku ingin mengatakan bahwa aku sangat merindukanmu, a-aku ingin berterima kasih karena kau terus menjaga dan melindungiku saat kita kecil."
Jihoon merogoh sesuatu dari saku seragamnya, sebuah kalung dengan liontin berbentuk sayap kiri. Ia meletakan kalung itu di dalam genggaman tangan Hoshi.
"Aku masih menyimpannya. Sayap itu sekarang milikmu. Kau bisa gunakan keduanya, kiri dan kanan"
Seokmin menyaksikan semuanya. Baru kali ini ia melihat Jihoon begitu lemah, ia meringis. Mereka bersahabat tapi Jihoon selalu terlihat paling kuat dari mereka. Ia pendengar yang baik dan bisa memberi solusi kalau-kalau salah satu dari mereka punya masalah. Tidak di sangka, Jihoon punya masalah yang lebih berat.
"Kenapa kau simpan ini sendirian, Jihoon? Kenapa?" Seokmin bergumam masih memperhatikan Jihoon yang terisak disamping Soonyoung.
Seokmin masuk lalu Jihoon menoleh padanya. Cepat-cepat ia menghapus air matanya, lalu tersenyum pada sahabatnya itu.
"Jihoon..."
"Syukurlah kau sudah kembali, aku harus pulang karena harus bekerja nanti malam. Sampai besok, Seokmin!"
Jihoon langsung berlari keluar sebelum Seokmin mengatakan sesuatu. Seokmin menatap pintu yang tertutup lalu menghela napas. Ia menghampiri Soonyoung dan mengernyit. Ia yakin tadi ia melihat kelopak mata Soonyoung bergerak. Benar saja, tak lama mata Soonyoung perlahan terbuka.
Seokmin terkejut bukan main, ia langsung berlari menghampiri Soonyoung.
"Hyung, kau sudah sadar? Ini aku" tangis Seokmin pecah, Soonyoung tersenyum kecil.
"Kau membuatku hampi mati karena ketakutan, hyung. Jangan berdarah lagi atau aku akan mati" Seokmin terisak, tangannya menggenggam tangan Soonyoung. Ia merasa ada sesuatu dalam genggamannya. Benar saja, ada sebuah kalung. Ia menatap kalung itu dan mengingat Jihoon. Kalung itu milik Jihoon.
Seokmin berlari keluar kamar dan keberuntungan ternyata berpihak padanya, Jihoon masih berada di ujung koridor. Ia segera menarik tangan Jihoon. Jihoon yang terkejut hanya mengikuti Seokmin yang membawanya kembali ke kamar inap Soonyoung.
Dari ambang pintu kamar dimana Jihoon berdiri, ia dapat melihat Soonyoung. Tak terasa air matanya turun dan rasanya ada sesak yang hilang dari dadanya. Soonyoung menoleh, menatap matanya. Jihoon makin terisak. Rasanya bahagia sekali, Soonyoung menatapnya setelah bertahun-tahun.
"Woozi"
Jihoon membeku ditempatnya.
"Woozi"
Tidak. Ia tidak salah dengar. Ia benar-benar mendengarnya. Suara Soonyoung. Jihoon perlahan berjalan menghampiri Soonyoung.
"Woozi"
Jihoon tak lepas menatap Soonyoung, tangannya menggenggam tangan Soonyoung. Ia dapat merasakan Soonyoung juga menggenggam tangannya.
"Ini benar kau?"
Jihoon tidak dapat menjawab, ia hanya mengangguk dan saat itu juga Soonyoung menangis.
"Aku merindukanmu, Woozi"
.
.
.
.
.
.
TBC
Entahlah ini chapter gimana...baca saja dan tolong tinggalkan jejak hoho oh ya Baby Sitter sedang dalam proses.
Review go go go!
