CHAPTER 20 Out!
A Naruto Fanfiction
Disclaimer © Masashi Kishimoto
..:: The Chronicle Of Trio Uzumaki © Lompoberang ::...
Genre : Adventure - Romance – Family
Rate : T (Semi M).
Pair : Naruto X Kushina - Karin X ?
Warning : Typo bertebaran/ Alur Berantakan / Ide Pasaran / OOC / StrongNaru / GodlikeNaru /
.
Don't Like...Don't Read
.
..:: CHAPTER 20 ::..
Keesokan harinya seluruh penduduk Konoha tengah berduka cita atas kematian sang Hokage yaitu Sarutobi Hiruzen. Bukan hanya Hiruzen, Konoha juga kehilangan banyak Shinobi akibat Invasi Oto-Suna ditambah lagi dengan keaadan desa yang mengalami kerusakan parah.
Saat ini hampir seluruh penduduk Konoha berada di area pemakaman Konoha. Satu per satu shinobi Konoha berjalan ke depan foto Sarutobi Hiruzen dan memanjatkan doa. Di barisan paling depan berjejer para Genin kecuali Naruto dan juga Sasuke yang sedang dirawat di rumah sakit. Dan di belakang mereka para Jounin dan Chunin. Para penduduk berada di barisan belakang. Pakaian serba hitam pun dikenakan oleh seluruh pelayat yang berada di sana.
Langit di atas pemakaman mulai gelap dan akhirnya meneteskan hujan yang sangat deras.
"Bahkan langit pun meneteskan air." Gumam Kakashi. Gai dan Kurenai mengangguk pelan disampingnya.
"Oh iya Kakashi, dimana Naruto? Kenapa ia tidak berada di sini?" Tanya Gai.
"Kau tau sendiri alasannya kan, mengapa Naruto tidak berada disini. Itu karena jika ia berada di sini. Seluruh penduduk akan mencemoh dirinya." Jawab Kakashi dengan lirih.
Gai mengangguk pelan. "Benar juga. Bisa dibilang apa yang menimpa Naruto hampir sama dengan yang terjadi dengan ayahmu. Yaitu hampir seluruh penduduk menyalahkannya atas apa yang menimpa desa." Kata Gai.
"Hmm." Kakashi mengangguk mengiyakan. "Kuharap ia tidak mengakhiri hidupnya juga karena tidak tahan dengan cemohan serta tuduhan dari shinobi dan penduduk konoha." Kini giliran Kurenai yang menambahi sontak membuat Kakashi menundukan kepala.
"Oh maaf Kakashi." Kata Kurenai yang melihat Kakashi menunduk. "Tidak apa." Balas Kakashi lalu mengangkat kepalanya.
.
Sementara itu dibarisan para Genin terlihat beberapa dari mereka meneteskan air matanya.
"Jiji!" Lirih Kushina dan Karin bersamaan. Dan tidak lupa cairan bening yang mengalir di pipi mulus mereka.
"Oh iya dimana Naruto dan Sasuke?" Tanya Chouji.
"Kalau Sasuke-kun dirawat di rumah sakit sementara Naruto aku tidak tahu. Coba tanya ke Karin atau Kushina." Jawab Sakura lirih sambil mengusap air matanya.
"Apa kalian tahu dimana Naruto?" Tanya Chouji pada Karin dan Kushina yang berada di samping Sakura. "Kami tidak tahu. Bahkan semalam Nii-chan tidak pulang ke apartemen." Jawab Karin walaupun ia mengetahui dengan jelas apa yang sedang dialami Naruto.
"Dia pasti merasa sangat bersalah jika berada disini." Timpal Kiba membuat seluruh temannya menatapnya. "Apa maksudmu?" Tanya Neji.
"Sebelum aku kesini, tadi aku mendengar beberapa Jounin dan penduduk membicarakan mengenai Naruto." Jawan Kiba.
"Apa yang mereka bicarakan?" Kini giliran Kushina yang bertanya sambil mengusap air matanya. Sedangkan Karin hanya diam sambil menghapus air matanya.
"Aku mendengar bahwa Naruto adalah penyebab kematian Sandaime-Hokage. Mereka mengatakan bahwa Naruto bertarung bersama Sandaime-Hokage. Jadi sudah pasti Hokage-sama mati karena melindungi Naruto." Jelas Kiba membuat semuanya membelalakan mata mereka.
"Itu benar. Karena Naruto memang mengatakan bahwa ia akan membantu Hokage-sama." Tambah Sakura.
"Cih! Naruto itu. Apa yang sebenarnya ia pikirkan." Kiba mendecih tidak suka menandakan bahwa ia juga menyalahkan Naruto atas kematian Sandaime. "Apa kalian juga berpikir seperti yang aku pikirkan?" Tanya Kiba ke yang lain.
Beberapa dari mereka pun mengangguk mengiyakan kecuali Karin, Kushina dan Shikamaru. "Kalian ini merepotkan. Jangan asal menuduh tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya." Kata Shikamaru yang masih belum percaya bahwa Naruto bukanlah penyebab kematian Hiruzen.
"Shikamaru benar." Tambah Karin dan Kushina bersamaan. "Arigato Shikmaru telah membela Naruto-kun." Batin Kushina.
"Hei Shikamaru! Bukannya sudah jelas bahwa Naruto adalah penyebabnya." Balas Kiba tidak kalah sengit. "Kiba benar! Rasa hormatku pada Naruto pun kini menghilang setelah ia menyadarkanku mengenai takdir." Timpal Neji.
"Cih Mendokusai! Aku akan menanyakan langsung pada Naruto." Batin Shikamaru.
"Nii-chan/Naruto-kun." Lirih Karin dan Kushina pelan.
.
.
Pooft!
Tidak jauh dari area pemakan di atas sebuah dahan pohon yang cukup tinggi kepulan asap putih langsung muncul dan menampakkan Naruto, ia mengenakan pakaian hitam sama dengan yang digunakan oleh yang lain. Di pipi kanannya melekat sebuah perban untuk menutupi luka lebam yang didiritanya. Sementara untuk tangan yang terluka terbalut perban hingga menutupi seluruh bagian tangannya.
Naruto menolak untuk diobati oleh Kurama yang sontak membuat Kurama menggurutu tidak jelas. Jika Kurama menanyakan mengapa ia menolak untuk diobati, Naruto hanya menjawab.
"Walaupun luka di tubuhku disembuhkan. Aku pasti tetap merasa terluka di bagian dalam."
Walaupun berada jauh dari area pemakaman. Naruto tetap bisa melihat proses pemakaman Kakek angkatnya karena pohon yang ia tempati cukup tinggi.
"Jiji...Gomen." Lirih Naruto dengan pandangan sayu yang mengarah ke foto besar Hiruzen.
"Hontou ni Gomenassai...Karena aku terlambat Jiji." Gumam Naruto. Cairan bening pun mulai keluar dari kelopak matanya.
Setelah hampir satu jam akhirnya proses pemakan Hiruzen pun selesai. Para pelayat mulai beranjak dari area pemakaman. Hujan pun akhirnya reda dan perlahan cahaya matahari mulai menyinari makam Hiruzen. Sementara itu Naruto yang melihat cahaya matahari mulai menyinari makam Hiruzen pun mengukir sebuah senyum yang sangat dipaksakan lalu menghilang diikuti kilatan kuning.
.
.
.
Hari mulai beranjak sore. Saat ini Naruto tengah berbaring di atas rerumputan di dekat sebuah danau tidak jauh dari Konoha untuk menenangkan perasaaan di dalam hatinya.
"Go..Gomen..Na..Naruto!"
Deg!
Setelah beberapa menit berusaha untuk menenangkan perasaanya. Perkataan Hiruzen sebelum tewas langsung melintas di pikiran Naruto yang sontak membuatnya tersentak. Dengan cepat Naruto langsung bangkit dari posisinya.
"Cih Kuso!" Umpat Naruto. Perlahan pertarungannya bersama Hiruzen mulai menghiasi benaknya.
Perlahan Naruto bangkit dan berjalan ke sebuah batang pohon tidak jauh dari tempatnya. Menyesal dan kecewa dengan dirinya sendiri, itulah yang kini Naruto pikirkan.
Dugh! Brak! Dugh! Brak!
Sesampainya di depan pohon tersebut. Naruto langsung meninju batang pohon tersebut secara bertubi-tubi. Perban yang melilit salah tangannya pun mulai memerah menandakan bahwa lukanya kembali mengeluarkan darah.
Naruto memandang kedua tangannya dengan tatapan kecewa dan sedih. "Apa gunanya tangan ini! Yang bisa membentuk Handseal lalu mengeluarkan sebuah jutsu tetapi tidak bisa menyelamatkan Jiji." Naruto melanjutkan pukulan pada batang pohon tersebut.
Dugh! Dugh!
Kini giliran kepala Naruto yang dibenturkan secara bertubi-tubi ke batang pohon tersebut. Darah segar mulai mengalir dari kening Naruto.
Bruuk! Duar!
Pohon yang menjadi pelampiasan kekecewaan Naruto pun tumbang. Merasa belum cukup Naruto kemudian bersujud di depan sisa batang pohon tersebut. Iris Sapphire Naruto kini berganti menjadi pola riak air berwarna ungu.
"Apa gunanya Doujutsu yang dikatakan sebagai Doujutsu terkuat. Tetapi tidak dapat menyelamatkan Jiji." Ingin rasanya Naruto mencabut kedua bola matanya lalu menusukknya dengan kunai Hiraishin miliknya.
"AKU INI LEMAH!...APA GUNANYA LATIHANKU SELAMA INI...AKU BENAR-BENAR LEMAAAAAHHH!" Teriak Naruto sambil mendongakkan kepalanya ke atas.
Walaupun kemampuan Naruto bisa dibilang sudah hampir menyamai Rikudou Sennin. Tetapi ia tetap seorang bocah berumur 12-13 tahun yang masih rapuh. Ia memang sudah melupakan dan menerima kematian orang tuanya namun karena ia masih bisa bertemu dengan mereka karena chakra kedua orang tua ada di dalam tubuhnya. Sehingga membuatnya sedikit bahagia.
Tetapi berbeda dengan kematian Hiruzen. Naruto tidak bisa lagi bertemu dengan orang yang telah banyak membantu hidupnya di Konoha. Ditambah lagi hampir semua penduduk Konoha menyalahkan dirinya atas kematian Hiruzen yang belum mengetahui apa yang sebenarnya yang terjadi.
"Apa yang kau lakukan Baka! Kau hanya menyakiti dirimu sendiri. Kenapa malah menyalahkan Rinnegan milikmu itu. Bukannya kau memang tidak menggunakannya sewaktu melawan kedua Hokage itu. Dan keterlambatan itu terjadi karena kau efek dari Shiki Fujiin yang kau gunakan." Kurama yang melihat kelakuan Jinchuriki-nya pun berceramah lewat telepati.
"Kau benar Kurama. Seharusnya aku tidak menggunakan Shiki Fujiin agar aku tidak terlambat." Kata Naruto penuh nada penyesalan.
Dugh! Dugh!
Merasa belum puas dengan lukanya saat ini, Naruto pun mulai membentur-benturkan kepalanya pada permukaan tanah.
Naruto lalu berhenti sejenak. Beberapa tetes darah terlihat jatuh dari kening Naruto lalu diikuti air matanya. "Sial! Seandainya saja aku mendengarkanmu Kurama untuk menggunakan Fuinjutsu yang lain milikku. Pasti aku tidak akan terlambat." Kata Naruto.
Akhirnya Naruto menyesali keputusannya sewaktu ingin menggunakan Shiki Fujiin. Seandainya waktu dapat diputar kembali, Naruto akan mendengarkan Kurama dan menggunakan Fuinjutsu-nya lain miliknya.
"Persetan dengan keputusanku itu." Gumam Naruto lalu kembali membentur-benturkan kepalanya.
"Bukannya menyegel kedua Hokage dengan Shiki Fujiin adalah keputusanmu dengan alasan agar kedua Hokage tersebut tidak dapat dibangkitkan lagi . Kau tidak dapat memutar kembali waktu jadi kau tidak usah menyesali keputusanmu." Ceramah Kurama, tetapi Naruto masih melanjutkan acara membentur-benturkan kepalanya.
"Sebenarnya aku kecewa padamu Naruto, sewaktu kau memutuskan untuk menggunakan Shiki Fujiin, kau sangat yakin dengan keputusanmu itu tetapi saat ini kau malah menyesali keputusan itu yang mengira hal itulah yang membuat Hiruzen tewas. Lagipula Hiruzen tewas karena ia menggunakan Shiki Fujiin, jadi secara tidak langsung itu bukan kesalahanmu. Bukankah sudah kukatakan bahwa Hiruzen pasti mempunyai alasan mengapa ia menggunakan Shiki Fujiin." Ceramah Kurama yang sudah OOC.
Hilanglah sudah gambaran Kurama sebagai seekor Bijuu yang dikatakan sebagai Bijuu dengan kebencian terbesar. Kali ini gilirannya untuk membantu Naruto untuk melupakan kekecewaan terhadap dirinya sendiri serta penyesalan karena keputusan yang diambilnya.
"Atau jangan-jangan tuduhan yang dilayangkan para penduduk konoha yang membuatmu seperti ini Naruto."
.
.
Flashback
Siang harinya setelah menghadiri pemakan Hiruzen dari kejauhan. Naruto memutuskan untuk pergi kedai ke Ichiraku karena belum mengisi perutnya dari pagi hari. Walaupun ia bisa pergi ke dimensi miliknya lalu menciptakan sebuah ramen dan memakannya, tetapi alasannya ia malas untuk merapalkan Handseal jadi memutuskan untuk pergi ke Ichiraku.
Ketika Naruto berjalan melewati sebuah kedai yang ramai dikunjungi karena sesudah pemakaman Hiruzen seluruh penduduk Konoha mulai melanjutkan aktivitas mereka. Seluruh pelanggang dan beberapa penduduk langsung memandang Naruto dengan tatapan tajam dan benci.
"Jika aku jadi dia aku pasti sudah meninggalkan desa ini atau malah bunuh diri."
"Aku setuju denganmu."
Seorang Chunin langsung mengeluarkan sebuah kunai dan melemparnya ke arah Naruto.
Syuut!
Hanya dengan menundukan kepalanya, Naruto berhasil menghindari kunai tersebut. Membuat sang pelempar menjadi geram.
"Seharusnya kau tidak usah menampakkan batang hidungmu lagi bocah! Karenamu kita jadi kehilangan Sandaime-Hokage." Teriak sang pelempar kunai.
"Iya benar!" tambah seorang di samping sang pelempar.
"Dasar bocah tidak tau malu."
"Kenapa bukan kau saja yang tewas sehingga konoha tidak menderita kehilangan yang besar. Bukannya Sandaime-sama."
"Seseorang telah mengorbankannya nyawanya demi kau tetapi dilihat dari raut wajahmu kami sama sekali tidak melihat wajah seseorang yang merasa bersalah." Kata seorang lagi. Ia mengatakan hal ini tanpa melihat wajah Naruto.
Namun disisi Naruto, ternyata ia masih menundukan kepalanya sehingga orang-orang di sekitarnya tidak melihat raut wajah Naruto yang merasa sangat kehilangan.
"Cih! Kuso, apa aku harus memberitahukan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi di dalam Kekkai tersebut." Pikir Naruto tetapi ia jika ia memberitahukannya mereka pasti tidak akan percaya dan mengatakan bahwa itu hanya alasan yang Naruto buat-buat. Rasa laparnya pun hilang entah kemana dan ia langsung menghilang seberkah kilatan kuning.
.
Flashback Off
.
.
Sementara itu tidak jauh dari tempat Naruto. Kushina yang mengenakan sebuah Kimono biru memutusukan untuk mencari Naruto. Sedangkan Karin hanya berdiam diri di apartemen mereka. Langka Kushina tiba-tiba saja terhenti ketika mendengar teriakan Naruto.
"AKU INI LEMAH!...APA GUNANYA LATIHANKU SELAMA INI...AKU BENAR-BENAR LEMAAAAAHHH!"
"Suara ini? Naruto-kun." Gumam Kushina dan tanpa babibu ia langsung berlari ke arah teriakan.
Tidak lama kemudian ia akhirnya tiba di tempat Naruto. Dan alangkah terkejutnya Kushina melihat apa yang Naruto tengah lakukan. Di kedua tangan Naruto terlihat penuh dengan darah segar begitu pula dengan keningnya.
"Na..Na...Naru..to-kun!" Lirih Kushina melihat Naruto yang masih membentur-benturkan kepalanya di tanah.
"Kushi-chan!" gumam Naruto, ia lalu berhenti sejenak. Lalu menoleh ke Kushina yang berada tidak jauh darinya.
"Na..Na...Naru..to-kun!" Lirih Kushina kembali yang melihat dengan jelas darah yang mengalir dari kening Naruto. Cairan bening pun mengalir dengan jelas dari manik Violet Kushina. Kedua tangannya pun menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan isakan.
Naruto menghiraukan ekspresi Kushina lalu kembali membentur-membenturkan kepalanya.
Melihat Naruto melanjutkan acara membenturkan kepalanya membuat Kurama akhirnya menyerah. "Baiklah aku sudah menyerah. Benturkan saja kepalamu hingga hancur dan membuatmu tewas sehingga aku bisa bebas lalu menghancurkan konoha karena telah membuatmu seperti ini." Kata Kurama dengan nada mengancam. Namun Naruto kembali menghiraukan ancaman Kurama.
"Naru...hentikan..hikss..." Kushina tidak dapat lagi menahan isakannya dan langsung berlari ke Naruto lalu berlutut.
Greb!
Kushina langsung memeluk Naruto dengan erat, sehingga Naruto akhirnya berhenti membenturkan kepalanya di tanah.
"Naru...hiks...apa yang...kau...hiks...lakukan..hiks?" Tanya Kushina diriingi isakan. Ia lalu mengeratkan pelukannya dan meletakkan kepalanya di bahu Naruto. Sedangkan Naruto hanya diam dan tidak bergerak sama sekali.
"Cih! Akhirnya kau berhenti juga bocah bodoh." Gerutu Kurama.
"Naru...hiks...apa yang...kau...hiks...lakukan..hiks?...jangan bilang...hiks...hiks...kau menyalahkan...hiks...dirimu." Tanya Kushina kembali masih dengan isakan. Air matanya pun semakin deras karena tubuh Naruto tiba-tiba saja bergetar mendengar perkataan Kushina.
Naruto pun membalas pelukan Kushina, membuat bagian punggung baju Kushina langsung berwarna merah karena tangan Naruto yang berdarah. Kushina pun melihat reaksi Naruto yang ternyata mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan yang dilayangkannya.
"Wah rubah bodoh...ternyata kau dikalahkan oleh pacar Naruto yang berhasil menghentikan perbuatan Naruto." Ejek Isobu pada Kurama melalui telepati. Kenapa Isobu juga bisa melakukan komunikasi pada Naruto, itu karena Isobu pernah memberikan chakranya ke Naruto.
"Diam kau, Baka Kame!" Balas Kurama. Hingga akhirnya kedua Bijuu tersebut saling adu mulut di telepati Naruto.
"Bukan hanya Naru-kun yang semua orang juga merasakan hal yang sama." Kata Kushina yang kini telah berhenti menangis.
"Tetapi yang kurasakan berbeda dengan mereka. Jiji mati di depan mataku sambil meminta maaf, seharusnya aku yang meminta maaf karena terlambat, ditambah lagi-"
"Semua orang yang menyalahkan Naru-kun sebagai penyebab kematian Hokage-jiji. Dan asal Naru-kun tahu bahwa ada beberapa orang yang masih percaya bahwa dirimu bukan penyebab kematin Jiji." Balas Kushina.
"Ingatlah ini Naru-kun. Kau masih memiliki orang yang peduli bahkan menyayangimu, khususnya aku dan Karin-chan. Kalau kau bersikap seperti ini. Arwah Hokage-jiji pasti akan kecewa padamu. " Tambah Kushina. Naruto langsung tersentak mendengar perkataan Kushina.
.
Beberapa menit kemudian keduanya melepas pelukan mereka dan Naruto pun mulai tenang lalu memposisikan dirinya dengan duduk bersila. Melihat bekas darah yang mulai mengering di wajah dan kedua tangan Naruto, Kushina langsung mengambil sebuah sapu tangan dari saku Kimono miliknya dan mengelap seluruh darah kering di tubuh Naruto.
"Ne, Kushi-chan bagaimana kau bisa menemukannku disini? Dan kenapa Karin-chan tidak bersamamu, dimana ia?" Tanya Naruto pada Kushina yang sedang mengelap lengan kanannya.
"Sebenarnya aku sedang mencari Naru-kun, ketika sampai di area ini. Aku mendengar teriakanmu jadi aku langsung kesini." Kushina beralih ke wajah Naruto.
"Aw...aw...aw.." Rintih Naruto ketika Kushina menyentuh tepat di luka di keningnya. "Gomen...Karin-chan memutuskan untuk berdiam diri di apartemen." Jawab Kushina.
"Tak usah merintih kesakitan Baka, itu salahmu sendiri." Umpat Kurama pada telepati karena mendengar rintian Naruto. "Diam kau Kurama." Balas Naruto melalui telepati.
"Arigatou, Kushi-chan." Kata Naruto ketika Kushina telah selesai mengelap seluruh darah kering di tubuhnya.
Kushina mengangguk pelan lalu mengambil posisi duduk membuat rambut merahnya menyentuh permukaan tanah di depan Naruto.
"Kenapa Naru-kun tadi pagi tidak menghadiri pemakan Hokage-jiji?" Tanya Kushina.
"Kau tahu sendiri jika aku menghadirinya, kan." Jawab Naruto pelan.
"Aku mengerti." Balas Kushina sambil tersenyum tipis mencoba menghibur Naruto. "Ne..Naru-kun sebenarnya apa yang terjadi sewaktu pertarunganmu. Bukannya lawanmu cuma satu, setidaknya itu yang aku dengar?" Tanya Kushina.
Mendengar pertanyaan Kushina, Naruto langsung menunduk. "Tidak apa, tidak diceritakan juga tidak apa-apa." Kata Kushina.
Naruto lalu mengankat kepalanya dan memasang wajah serius. "Sebenarnya lawanku bukan hanya O-R-O-C-H-I-M-A-R-U." Kata Naruto penuh penekanan pada nama Orochimaru.
"Jadi lawan Naru-kun dua orang." Timpal Kushina. "Bukan dua tetapi tiga- ah lima karena aku juga melihat dua mayat lain di dekat tempat Jiji."
"Li...Li..Lima." terkejut Kushina mendengar jumlah lawan Naruto.
"Dan bukan hanya itu. Dua orang diantara adalah dua Hokage pendahulu." Tambah Naruto dan langsung Kushina membelalakan kaget.
"Ba..Bagaimana bisa?" Tanya Kushina.
"Mereka dibangkitkan dengan sebuah Tehnik terlarang..." Naruto pun mulai menceritakan jalannya pertarungannya kecuali dimana ia menggunakan Shiki Fujiin. Kushina yang mendengarnya hanya bisa diam tanpa bisa berkata-kata.
"Heheh...Kau mungkin tidak percaya dengan apa yang kuceritakan tadi." Kata Naruto setelah menceritakan pertarungannya sambil tertawa ringan.
"Tentu saja aku percaya. Apapun yang dikatakan Naru-kun pasti kupercayai." Balas Kushina. Ia lalu bangkit dari posisi duduknya lalu membersihkan debu yang menempul di Kimono-nya.
"Bagaimana kalau kita pulang Naru-kun. Karin-chan pasti sangat mengkhawatirkanmu." Ajak Kushina. Naruto menggeleng pelan menolak ajakan Kushina. "Aku masih mau berada disini. Mungkin besok saja aku pulang ke apartemen."Kata Naruto.
Kushina mengangguk pean lalu berjalan ke arah Naruto dan mencium lembut pipi Naruto hingga membuat sang empunya merona tipis. "Terserah tetapi jangan melakukan hal bodoh seperti tadi."
"Ehh...! Baiklah." Terkejut Naruto. "Jangan memberitahukan ke orang lain apa yang tadi aku ceritakan." Kata Naruto.
Kushina mengangguk pelan lalu berjalan menjauh dari Naruto. Setelah beberapa berjalan akhirnya ia menyadari apa yang baru saja ia lakukan. "Apa yang tadi aku lakukan." Pikir Kushina dengan rona tipis di kedua pipi putihnya.
Naruto yang bisa mengetahui apa yang dipikirkan Kushina yang bejalan tidak jauh darinya hanya tersenyum. "Arigatou..Kushi-chan."
"Untung kau mempunyai pacar seperti dia Gaki. Dan kau harus mengingat hal ini, kematian akan menimpa semua orang di dunia ini terutama kalian para shinobi. Jadi apa sekarang kau sudah bisa menerima kematian Hiruzen. ." Tiba-tiba Kurama langsung menceramahi Naruto melalui telepati.
"Kali ini aku setuju dengan Kurama, Naruto." Tambah Isobu melalui telepati. Naruto membalasnya dengan anggukan kecil.
"Aku juga berterimah kasih pada kalian. Mulai sekarang tidak akan kubiarkan orang kusayangngi terluka apalagi mati." Balas Naruto dengan ekspresi datar.
"Walaupun kau sudah sangat kuat, Mentalmu ternyata masih sangat rapuh, Naruto." Kata Kurama.
"Sudah cukup aku kehilangan Tou-chan dan Kaa-chan." Gumam Naruto lalu mengepalkan kedua tangannya yang diperban. "Sekarang ada dua orang yang akan kuhancurkan. Akan kuburu mereka berdua walaupun mereka bersembunyi di dasar nereka terdalam sekalipun." Gumam Naruto dingin.
"Wah..Wah! sepertinya Jinchurik-ku akan menjadi seorang Avenger. Pak Tua pasti sangat kecewa padamu." Ejek Kurama yang mendengar perkataan Naruto.
"Jangan asal menuduhku Kurama." Balas Naruto dingin.
"Bukannya kau ingin menghancurkan mereka berdua. Itu artinya kau ingin membalaskan dendam Minato, Ayuki dan Hiruzen." Kata Kurama.
"Menghancurkan mereka bukan berarti aku ingin membalas dendam." Naruto menghentikan kepalan tangannya sambil menghela nafas. "Mereka berdua adalah penghalang bagiku untuk menyelesaikan misi dari Jiji yaitu perdamaian." Sambung Naruto dengan mantab.
"Selama mereka berdua masih ada di dunia ini. Mereka akan terus menyebarkan kebencian." Tambah Naruto.
"Dasar. Kau benar-benar pintar mencari alasan untuk mengelak." Balas Kurama.
"Jika kuingat-ingat tadi kau benar-benar menceramahiku habis-habisan, itu bukan seperti sikapmu saja Kurama." Umpat Naruto.
"Cih dasar! Itu artinya aku peduli padamu Baka," Balas Kurama dengan nada kesal. "Dan satu lagi, sudah kukatakan agar tidak berterimah kasih padaku, itu membuatku rish." Tambahnya.
"Hn." Balas Naruto dingin lalu membaringkan tubuhnya kembali.
.
.
.
Keesokan harinya diatas salah satu bangunan yang berada di Konoha terlihat empat orang sedang berbicara. Yaitu Karin, Kushina, Kakashi dan Iruka.
"Kakashi-san apa kau juga menyalahkan Naruto sabagai penyebab kematina Hiruzen?" Tanya Iruka pelan. Karin dan Kushina langsung memandang penasaran Kakashi.
"Kalian tidak usah memandangku seperti itu. Aku sama sekali tidak menyalahkan Naruto. Bukannya kematian akan menimpa semua orang." Jawab Kakashi. Membuat Karin dan Kushina langsung tersenyum. "Bagaimana denganmu Iruka?" Tanya Kakashi.
"Pemikiran kita sama Kakashi-san. Aku tidak mungkin menyalahkan Naruto karena aku belum mengetahui kebenarannya." Jawab Iruka mantab. "Ngomong-ngomong dimana Naruto? Semenjak kematian Sandaime-sama aku tidak pernah melihatnya?" Tanya Iruka.
"Aku tidak tahu. Ia bahkan tidak menghadiri pemakaman kemarin. Setelah pertarungannya dengan Orochimaru selesai, ia langsung pergi begitu saja." Jawab Kakashi. "Kalau kalian apa melihat Naruto?" tanya Kakashi pada Karin dan Kushina.
Kushina menggeleng pelan karena diberitahu Naruto untuk tidak mengatakan ia sekarang berada diaman. "Sebenarnya saat acara pemakaman, aku keberadaan Nii-chan tidak jauh dari area pemakaman selama acara berlangsung. Dan ketika selesai ia kembali menghilang entah kemana." Jawab Karin.
"Syukurlah ternyata Naru-kun menghadiri pemakaman." Pikir Kushina.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Iruka.
"Sejenak aku merasakan aliran chakra Nii-chan sedikit kacau. Bahkan aku-" Karin menjeda kalimatnya sejenak. Raut wajahnya pun langsung berubah membuat Kakashi dan Iruka menjadi penasaran.
"Jangan bilang kalau kau merasakan aura kebencian dari Naruto." Timpal Kakashi. Sontak membuat Iruka dan Kushina langsung terkejut. Walaupun kemarin Kushina bertemu Naruto, ia tidak melihat ekspresi kebencian dari pacarnya.
"Tetapi beberapa menit kemudian aura kebencian itu menghilang. Aliran chakra Nii-chan pun kembali normal bersamaan dengan hilangnya aura kebencian itu." Ketiganya pun menghela nafas bersyukur karena Naruto tidak masuk ke lingkaran kebencian.
"Syukurlah. Aku mengira Naruto akan menjadi seorang-"
"Pembalas dendam!" Sebuah suara yang sangat mereka kenal langsung memotong perkataan Kakashi.
Keempatnya langsung menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari atas penampungan air tidak jauh dari mereka. Terlihat Naruto yang masih mengenakan pakaian yang sama. Sebuah sobekan bulat besar membuat perutnya terlihat. Kening dan keduang tangannya pun terlilit perban. Sontak ketiganya minus Kushina menatap khawatir Naruto.
Tap!
Naruto melompat dari atas penampungan air tersebut dan mendarat di samping Karin. Tanpa pikir panjang Karin langsung memeluk Naruto.
"Nii-chan." Kata Karin sambil memeluk Naruto yang masih memasang wajah datarnya.
Semenit kemudian Karin melepaskan pelukannya . Kakashi dan Iruka pun melihat perubahan pada Naruto yang terus memasang wajah datar.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Kakashi. Naruto mengangguk pelan.
"Jangan-jangan cemohan dari penduduk yang merubahmu menjadi seperti yang sekarang ini, Naruto?" Tanya Kakashi kembali.
"Menurutmu." Jawab Naruto singkat dan dingin.
"Dugaanku benar. Ia menjadi seorang yang sangat dingin. Bisa dikenali dari ekspresi dan perkataannya." Batin Kakashi dan Iruka mengenai perubahan sikap Naruto.
"Nii-chan." Kata Karin lirih sambil menatap sedih ke arah Naruto.
Melihat tatapan sedih dari adikknya serta pikiran Kakashi dan Iruka. Ekspresi datar nan dingin Naruto pun langsung berubah. "Haaaah..." Naruto menghela nafas lalu mengukir senyum di wajahnya.
"Ayo kita ke Ichiraku, Teuchi-ossan pasti sudah buka. Aku lapar." Kata Naruto yang sudah terdengar seperti biasanya. Karin dan Kushina mengangguk mengiyakan.
"Kalian duluan saja. Ada yang ingin kubicarakan dengan Kakashi-sensei dan Iruka-nii." Kata Naruto.
"Baik. Tapi jangan lama-lama." Balas Kushina lalu melompat turun dari bangunan diikuti Karin meninggalkan ketiganya.
.
Setelah Karin dan Kushina pergi, Naruto kembali memasang wajah datar nan dingin yang membuat Kakashi dan Iruka menghela nafas.
"Kami mengerti kenapa tiba-tiba kau menjadi sedingin ini Naruto. Tetapi jangan menunjukan sikap dinginmu itu pada kami. Seolah-olah kami juga menuduhmu sebagai penyebab kematian Sandaime-sama." Kata Kakashi diikuti anggukan oleh Iruka.
"Jadi kalian tidak mempunyai pikiran seperti yang lain." Kata Naruto.
"Itu benar. Kami tidak seperti para penduduk dan tetua yang langsung memutuskan tanpa mengetahui apa sebenarnya yang terjadi." Kata Iruka.
"Aku juga sudah berbicara ke Anbu yang membuatmu dituduh seperti sekarang. Aku benar-benar kecewa pada mereka yang langsung menuduh tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mereka sepatutnya bertanya padamu dulu baru mengatakan sesuatu." Tambah Kakashi.
"Jadi apa yang ingin kau katakan Naruto?" Tanya Iruka.
"Sebenarnya kalian sudah menjawabnya jadi aku tak sudah menayakannya lagi." Jawab Naruto.
"Oh begitu. Nah sekarang giliran kami yang bertanya." Balas Kakashi dengan wajah serius di balik maskernya. "Bisa kau ceritakan apa yang sebenarnya di pertarungan kalian bertiga!" Perintah Kakashi.
"Apakah harus?" Tanya Naruto datar. Kakashi dan Iruka pun mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, tetapi pertama-tama keluarlah Shikaku-san. Kau tak usah bersembunyi jika anda juga ingin mendengarnya." Kata Naruto sambil melirik ke arah bangunan yang lebih tinggi dari tempat mereka.
Dari atas bangunan tersebut seseorang dengan model rambut nanas dengan dua buah luka goresan di wajahnya a.k.a Shikaku melompat turun ke mereka.
Tap!
"Ketahuan ya, Mendokusai. Padahal aku sudah menekan chakraku hingga titik terendah." Umpat Shikaku malas.
"Walaupun anda menekan chakra anda di titik terendah. Aku tetap bisa mendeteksinya jika memasuki area sensorku." Balas Naruto.
"Jadi bisa kau mulai Naruto!" Perintah Kakashi.
Akhirnya Naruto memulai menceritakan jalannya pertarungan mereka hingga ia dan Hiruzen terpisah kecuali pada bagian ia menggunakan Shiki Fujiin. Setelah Naruto mengakhiri ceritanya, ketiga orang yang mendengarnya hanya bisa membeku.
"Pantas saja aku menemukan dua jasad di dekat Sandaime-sama. Dan lebih mengejutkan adalah kau bertarung melawan Shodaime dan Nidaime seorang diri." Kata Kakashi.
"Apa kau tahu apa yang terjadi ketika kau terpisah, Naruto?" Tanya Shikaku. Naruto menggeleng pelan membuat Shikaku ketiganya menghela nafas.
"Jika seperti itu kejadiannya. Jadi kematian Sandaime-sama murni karena keputusannya sendiri." Kata Shikaku.
"Aku asumsikan pasti Sandaime-sama menggunakan Shiki Fujiin mengingat Kakashi mengatakan bahwa terdapat Fuin tanda penggunaan Shiki Fujiin terdapat di perut Sandime-sama." Tambah Shikaku. Kakashi dan Iruka pun mengangguk pelan sedangkan Naruto hanya menundukan kepalanya.
"Jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan Naruto?" Tanya Kakashi menoleh arah Naruto.
"Entahlah. " Jawab Naruto datar. "Bisa kalian rahasiankan hal ini kepada yang lain." Pinta Naruto membuat yang lain menjadi tersentak.
"Bukannya bagus jika orang-orang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi." Umpat Shikaku.
"Tetapi apa mereka akan mempercayainya?" Tanya Naruto. Ketiganya langsung memasang pose berpikir. "Sudah pasti tidak. Ceritamu itu tidak mungkin diterima oleh otak pendek milik mereka." Jawab Shikaku diikuti anggukan oleh Kakashi dan Iruka.
"Jadi apa kalian bisa merahasiakannya?" Tanya Naruto kembali. "Kalau itu mauma." Balas ketiganya.
"Kalau begitu aku pamit dulu, Kushina-chan dan Karin-chan pasti sudah menungguku." Kata Naruto lalu menghilang diikuti kilatan kuning.
.
.
.
A WEEKS LATER
Seminggu kemudian para tetua Konoha pun mengadakan rapat untuk menentukan Hokage selanjutnya. Awalnya Jiraiya ditunjuk namun ia menolaknya dengan alasan bahwa ia mempunyai pekerjaan yang penting (ngintip mungkin). Membuat para Tetua menjadi kesal namun Jiraiya memberikan sebuah saran. Yaitu akan pergi mencari Tsunade yang akan dijadikan sebagai Godaime-Hokage. Dan hasilnya para Tetua pun menyetujuinya.
"Baiklah Jiraiya. Kami percayakan padamu untuk mencari Tsunade." Ucap Koharu.
"Aku mengerti, tetapi aku mempunyai syarat." Tawar Jiraiya.
"Apa itu, sebutkan?" Tanya Koharu.
"Aku akan mencari Tsunade bersama dengan Tim 11." Jawab Jiraiya sontak membuat beberapa Civilian Council tersentak.
"Konoha memiliki banyak Shinobi yang hebat. Kenapa kau malah ingin pergi bersama dengan Tim 11 yang didalamnya terdapat Genin yang menyebabkan kematian Hiruzen." Kata Koharu dengan nada keras.
"Kalau kalian tidak setuju. Maka cari sendiri kandidat Hokage yang layak." Perkataan Jiraiya pun membungkam semua yang menolak syarat Jiraiya.
"Baiklah terserah padamu." Dengan berat Koharu pun menyetujui syarat Jiraiya.
"Paling tidak jika aku dan Naruto berhasill membawa Tsunade, mungkin rasa benci penduduk Konoha pada Naruto sedikit berkurang." Pikir Jiraiya lalu menghilang diikuti kepulan asap putih.
.
.
Pooft!
Jiraiya muncul menggunakan Shunshin miliknya di depan pintu apartemen Trio Uzumaki. Ia lalu mengetuk pintu di depannya.
"Siapa?" Tanya seseorang di balik pintu tersebut.
Clek!
"Oh Ero-Sennin." Sapa sang pembuka pintu a.k.a Kushina. "Ada apa?" Tanya Kushina kemudian.
"Panggil Naruto, ada yang ingin aku bicarakan dengannya." Jawab Jiraiya.
"Naruto-kun sedang berlatih. Beritahukan saja pada kami, kami sendiri yang akan memberitahukannya ke Naruto-kun." Kata Kushina. "Tidak, Naruto harus mendengarnya langsung dariku. Kalau begitu kita ke tempatnya latihan." Balas Jiraiya.
Kushina mengangguk paham. Ia tahu kalau sensei-nya ini sedang ingin membicarakan sesautu yang penting dengan Naruto. Ia kembali masuk ke dalam apartemen memanggil Karin dan setelah itu mereka pun pergi ke tempat Naruto berlatih.
.
.
.
Naruto Place
Area tempat berlatih Naruto yang tadinya sebuah padang rumput dengan beberapa pohon kini berubah drastis. Beberapa pohon terlihat hangus terbakar dan di permukaan tanah beberapa berukuran sedang tercipta.
"Hoosh!..Hosh!...ternyata menggabungkan Rasengan dengan perubahan chakra milikku ternyata lumayan sulit." Kata Naruto dengan nafas memburu yang sedang duduk di dekat salah satu pohon yang masih utuh.
Pooft!
Sebuah kepulan asap muncul di depan Naruto dan dari kepulan asap itu terlihat tiga orang tepatnya Jiraiya, Karin dan Kushina.
"Oh Karin-chan, Kushi-chan dan Ero-Sennin." Sapa Naruto.
Bugh! Bugh!
Kushina dan Karin langsung menghampiri Naruto dan langsung menghadiahi sebuah bogem mentah. Sedangkan Jiraiya hanya menatap horor area di sekitarnya.
"Latihan apa yang dilakukan bocah ini sampai-sampai membuat area ini hancur berantakan." Batin Jiraiya.
"Hey! Apa yang kalian lakukan Haah!" Umpat Naruto kesal sambil mengelus kepalanya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya di letakkan di atas tanah dengan beberapa luka bakar dan sayatan.
"Cuma latihan ringan katamu." Umpat Karin tidak kalah kesal. "Jadi tiga hari ini Nii-chan melaku-"
Karin langsung menghentikan kalimatnya ketika melihat tangan kanan Naruto dan dengan cepat ia dan Kushina langsung mengobati tangan kanan Naruto. Sementara Jiraiya masih menatap horor area di sekitarnya.
"Jadi ada apa kalian berdua dan Ero-Sennin datang kemari?" Kata Naruto disela-sela Karin dan Kushina mengobati tangan kanannya.
Jiraiya yang mendengar pertanyaan Naruto langsung menghentikan kegiatannya menatap horor daerah di sekitarnya dan langsung memasang wajah serius ke Naruto.
"Begini, Aku, kau dan timmu akan pergi mencari seseorang untuk menjadi Hokage selanjutnya." Jawab Jiraiya To the point.
"Jadi Konoha memberikanku sebuah misi. Aku kira Konoha tidak akan peduli lagi denganku apalagi memberiku sebuah misi penting seperti ini." Kata Naruto tajam membuat Jiraiya tersentak.
Dari perkataan Naruto. Jiraiya dapat menyimpulkan bahwa perkataannya mengarah ke masalahnya dengan para penduduk Konoha. "Kenapa bukan kau yang menjadi Hokage selanjutnya?" Tanya Naruto datar ke Jiraiya.
"Ara..Ara...Menjadi Hokage hanya akan membuat penelitianku menjadi terganggu." Jawab Jiraiya enteng.
"Penelitian apanya." Umpat Karin dan Kushina bersamaan. "Lalu kenapa mereka menunjuk kau dan timku untuk mencari Hokage selanjutnya itu?" Tanya Naruto kembali.
"Aku sendiri yang memintanya. Dan awalnya mereka sempat menolaknya-". "Sudah kuduga." Potong Naruto.
"-Tetapi aku menyuruh mereka mencari sendiri kandidat Hokage selanjutnya jika mereka menolak syaratku." Jiraiya melanjutkan perkataannya yang sempat di potong Naruto.
"Hn. Begitu rupanya. Bukan ide yang buruk untuk orang hentai sepertimu." Timpal Naruto membuat beberapa persimpangan muncul di wajah Jiraiya.
"Hey Gaki, aku tidak mesum tetapi aku super mesum." Balas Jiraiya dengan percaya diri membuat Naruto sweatdrop.
"Huuft...Aku tidak mengerti mengapa Tou-chan dan Kaa-chan mempercayakan kami pada orang mesum tingkat dewa ini." Batin Naruto sweatdrop.
"Ngomong-ngomong siapa orang yang akan kita cari untuk menjadi kandidat Hokage selanjunya dan kenapa harus mencarinya? Apa dia tidak ada di Konoha?" Tanya Karin yang telah selesai memperban tangan kanan Naruto.
"Orang yang akan kita cari adalah Tsunade, salah satu legenda Sannin sepertiku dan ia sudah lama meninggalkan Konoha karena kebiasaan buruk." Jawab Jiraiya. Ketiganya pun hanya ber'oh'ria.
"Jadi kapan kita berangkat?" Tanya Naruto.
"Besok pagi." Jawab Jiraiya spontan dibalas anggukan oleh ketiganya. "Persiapkan segala keperluan kalian. Besok kutunggu di gerbang jam 7." Jawab Jiraiya lalu pergi menggunakan Shunshin miliknya.
Setalah Jiraiya pergi. Naruto pun menghela nafasnya. "Bukannya hal ini bagus Nii-chan. Jika kita berhasil membawa pulang orang bernama Tsunade itu. Mungkin rasa benci penduduk terhadapmu akan berkurang." Ucap Karin.
"Benar juga." Timpal Kushina.
"Hmmn. Benar juga." Umpat Naruto. "Ayo kita kembali. Aku lelah dan ingin beristirahat." Tambah Naruto lalu memegang tangan keduanya dan menghilang diikuti kilatan kuning.
.
.
.
Next Day
Pagi di gerbang Konoha terlihat beberapa orang yaitu. Tim 11, Jiraiya, Kakashi, Iruka serta Tim 9 dan 8 yang ternyata juga mempunyai sebuah misi yang belum diselesaikan karena Invasi Konoha.
Kali ini Naruto mengenakan kaos hitam berlengan pendek dengan gambar pusaran air di punggung serta di lengan kirinya. Celana standar Chunin hitam begitupula sepatunya. Sebuah Wristband putih untuk menutupi Fuin penyimpanan di lengan kirinya. Dan untuk Hitae-Atte miliknya terpasang di kening.
"Coba lihat, ternyata kau masih diberi misi rupanya Naruto." Ejek Kiba sambil menatap Naruto.
"Lain kali kita bertarung lagi Naruto." Kini Neji yang berucap dan dibalas anggukan oleh Naruto. "Aku penasaran seberapa kuat kau sehingga Sandaime-Hokage rela mengorbankan nyawanya untukmu." Tambah Neji.
Sontak beberapa diantara mereka langsung menatap Neji karena perkataannya kecuali Naruto yang hanya diam dan memasang wajah datar.
"Hey bocah, jaga omonganmu." Umpat Jiraiya dengan tajam ke arah Neji.
"Well Naruto, sepertinya kau mulai tidak disukai oleh mereka." Kata Kurama pada Naruto melalui telepati. "Aku tidak peduli." Balas Naruto dingin.
"Sudahlah Ero-Sennin. Ayo kita berangkat." Kata Naruto membuat Jiraiya hanya menghela nafasnya. "Baiklah ayo kita berangkat." Kata Jiraiya
Tim 11 dan Jiraiya pun meninggal gerbang Konoha meninggalkan Kakashi dan Iruka karena Tim 8 dan 9 juga telah berangkat.
"Aku khawatir pada Naruto, walaupun ia kuat tetapi ia masih berumur 13 tahun." Ujar Iruka.
"Kau benar, perlahan-lahan mentalnya akan rusak seiiring waktu karena hinaan penduduk dan bahkan teman seangkatanmu pun ikut menghinanya." Tambah Kakashi.
"Tapi aku berharap mereka berhasil membawa Tsunade. Mungkin hal itu akan menurunkan hinaan yang diterima Naruto." Kata Kakashi lagi.
"Benar." Balas Iruka.
.
.
.
~~~ TBC ~~~
#Akhirnya Chapter 19 selesai juga.
Kuharap Chapter ini cukup memuaskan.
Mohon maaf apabila chapter ini sedikit kacau.
Serta masih banyaknya Typo yang bertebaran, GaJe, Alur berantakan (Mungkin) dan lainnya.
Author dengan senang hati menerima Saran dan Kritikan
Jadi lebih dan kurang mohon di REVIEW.
Balasan beberapa Review :
R : bagus sih... tapi ada beberapa kezalahan. fatal... kenapa harus di buat 2 versi shiki fujin sedangkan salah satu sage of the six path itu ada yang bisa menggunakan salah satu kemampuannya... mencari informaasi n menarik jiwa secara paksa trus lempar tuh roh kepatung raja neraka atau apalah saya lupa ... salqh satu kemampuan pain... ok lanjut
B : Ya Autohr mengerti alasan... Tetapi disini kemampuan Rinnegan yang dikuasai Naruto masih Pain Tendou dan
R : sepertinya bakalan menjadi dark naruto
B : Mungkin ya mungkin tidak.
R : lanjut dechhh pokokx udch 19 chapter seharux di skip time ke shipuuden aja dan naru jadi uzukage tapi itu terserah penulis aq ikutin aja
B : Skipnya mugkin terjadi di chapter 22-23
R : wah...wah...wah...
Naru mulai di benci nih...
saya rasa yg mencari Tsunade bukan Naru neh(sudah di benci). dan apakah seperti di canon yg jd hokage atau yg lain?
saya menantikan trio Uzumaki pergi dr desa..
B : Sudah terjawab di chapter ini.
R : Ahh... Seperti biasa, para penduduk bodoh yang tak tahu apa-apa. Oke, nanti Jiraiya akan melatih ketiganya atau bagaimana? Semoga latihannya diceritakan juga di fic ini dan tidak diskip. Anggap saja sebagai filler kalo dalam canonnya hahaha. Setelah itu baru kembali mengikuti Canon sampai Arc Invasi Konoha. Dan untuk Sasuke nantinya, saran Saya agar dia masuk Akatsuki dan tidak keluar dari Akatsuki sampai PDS 4. Yang berarti tidak usah membentuk tim Taka lagi mengingat karakter Karin yang alih peran menjadi adik Naruto dalam fic ini. Jadi Anda tidak perlu memaksakan untuk merombak member tim Taka nantinya. Segitu saja dari Saya. Terimakasih telah mengupdate cerita ini.
B : Saran Senpai akan Author pikirkan
R : Lanjut... thor apa nanti saat naruto memanggil tsunade nenek " lagi atau julukan lain
Apa naruto akan pergi dari konoha untuk menenangkan diri bersama karin dan kushina atau sendiri
Itu aja thor
Pokok nya thor SEMANGAT
B Kita lihat saja nanti.
R : Bgus crita nya senpai,tpi knpa anda mmbuat naruto di slahkn, ,knpa bukan nuru yg jdi pahlawan, ,aq bner2 bingung dengan otak anda
B : Yah begitulah. Otak Author memang sedikit membingungkan.
R : Keren thor..
Apa disini ng' ada yg taw kejadian sebenarnya,sehingga semua orang nyalahin naruto yg bwat hiruzen meninggal...?
Ksiahan naruto kalau terus di siksa kayak gitu thor/bwat naruto skali2 marah k para anbu itu.
O,iya tmben lambat update nya thor..
Lanjut thor..
Terus perjuanganmu thor...
B : Cuman beberapa orang akan mengetahuinya dan sudah terjawab di chapter ini.
Maaf Laptop author sempat Blue Screen.
R : Ntar ada yg nhebersihin namanya Naruto ga?
Naruto kasian banget,kayanya dia tertekan tuh dah keilangan Hiruzen di tuduh pula!
lanjut dong and update kilat,,,
apa Naruto bakal pergi nyari Orochimaru wat balas dendam?
B : Kita lihat saja nanti.
R : Apa Naruto akan memberitahukan kepada Konoha apa yang terjadi sebenarnya atau malah sebaliknya.
"LANJUTT"
B : Sudah terjawab di chapter ini.
R : Bagus sih, tp agak kecewa jg sama shiki fujin kedua. Apa gak enteng bgt tuh tumbal jiwa bisa digantikan hanya dgn sejumlah cakra? Klo tumbalnya seluruh cakra yg dimiliki sih, menurutku itu memadai, karna bgmnpun cakra gak bisa disamain dgn jiwa, sebab kehabisan cakra blum tentu mati, tp kehilangan jiwa udah pasti mati. Trus efeknya yg cuma beberapa saat itu mnurutku terlalu ringan unt jutsu yg harusnya mengorbankan nyawa. Ada baiknya jika efeknya itu lebih fatal lg...
Trus mengenai pernyataan Naruto yg mengatakan 'jika jiwa seseorg disegel diperut dewa kematian tdk ada cara unt mengambilnya kembali, jadi tdk bisa dibangkitkan kembali', itu harusnya tdk perlu ada thor. Karna pernyataan itu sdh pasti terbantahkan. Kenyataannya, Hiruzen dan Minato yg tersegel diperut dewa kematian tetap bisa dibangkitkan dgn edo tensei oleh Orochimaru di PDS IV dgn cara mengambil topeng dewa kematian dan membatalkan kontrak org yg disegel diperut Shinigami...
Silahkan dilanjut!
B : Kan udah aja penjelasannya bahwa Klan Uzumaki ahli dalam Fuinjutsu makanya Author memciptakan shiki Fujiin milik Naruto dan. Dan untuk perkataan Naruto. Kejadian dimana Orochimaru mengeluarkan jiwa para hokage pendulu kan terjadi di masa depan. Jadi Naruto belum mengetahuinya.
R : kapan penduduk desa mengetahui kekuatan naruto yg sebenarnya.
B : Mungkin setelah meninggalkan Konoha.
Untuk Review yang tidak dibalas mungkin karena Review yang ada tanyakan hampir sama jadi author tidak usah menulisnya.
Dan untuk para readers yang mengingkan untuk dilanjut. Tentu saja akan dilanjutkan-ttbayooo
SEE YOU IN NEXT CHAPTER
..:: LOMPOBERANG ::..
..:: LOG OUT ::..
